Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

HASIL dan PEMBAHASAN


A. Data Komponen pada Panyulang Takalar
Pada penyulang Takalar disuplai dari trafo #2 GI Sungguminasa yang
terhubung pada bus 150 kV menuju bus 20 kV. Berikut ini data kompenen pada
Penyulang takalar :
1. Bus 150 KV
Busbar disini merupakan titik hubungan pertemuan (connecting) antara
transformator daya, SUTT dengan komponen listrik lainnya, untuk menerima dan
menyalurkan tenaga listrik. Pada GI Sungguminasa mempunyai dua (double)
busbar. Dimana keunggulan menggunakan dua (double) busbar untuk mengurangi
terjadinya pemadaman beban, khususnya pada saat melakukan perubahan sistem
(manuver sistem).

Gambar 4.1 Bus 150 kV


2. Trafo Daya #2 GI Sungguminasa
47

Transformator daya disini berfungsi untuk mentranformasikan daya listrik,


dengan merubah besarnya tegangan dari 150 kV menjadi 20 kV, sedangkan
frekuensinya tetap. Berikut spesifikasi Trafo #2 GI Sungguminasa :
Tabel 4. 1 Spesifikasi Trafo #2 GI Sungguminasa
MVA HUBUNG
SINGKAT :
Kapasitas
Reak X1
Teg. Prim
Teg. Sek.
Belitan D
Kap. D
Reak Xo
I nom
CT ratio
NGR

2376.12
60
12.5%
0.83
150
20
ADA
20
2.5
1732.1
2000
40

MVA
MVA
Ohm
kV
kV
MVA
Ohm
Ampere
5
Ohm

3. Kubikel 20 kV
Kubikel 20 kV yang dipakai pada Penyulang Takalar yakni
merk GEC ALSTHOM/UNINDO. Kubikel ini berfungsi sebagai
pembagi, pemutus, penghubung, pengontrol, dan proteksi sistem
penyaluran tenaga listrik tegangan 20 kV.

48

Gambar 4.2 Kubikel Penyulang Takalar


Didalam kubikel ini terdapat beberapa komponen seperti
dibawah ini :
a. Bus 20 KV
Sebagai rel/busbar penghubung antara kubikel yang satu dengan lainnya,
posisi rel umumnya terletak pada bagian atas kubikel. Busbar dibuat dari tembaga
atau aluminium dengan bentuk sesuai dengan desain dari masing-masing pabrik.
Busbar pada penyulang Takalar memiliki tegangan kerja 20 kV, namun dapat
diberi tegangan sampai 24 kV.
b. Pemutus tenaga (PMT)
Pemutus tenaga (PMT) disini berfungsi untuk membuka dan menutup
rangkaian listrik pada semua kondisi, termasuk arus hubung singkat, sesuai
49

dengan ratingnya baik pada kondisi tegangan yang normal ataupun tidak normal.
Berikut spesifikasi PMT Penyulang Takalar :
Tabel 4.2 Spesifikasi PMT Penyulang Takalar
SF6 GAS CIRCUIT BREAKER
Voltage

24 kV

Short time current

16 kA/1s

In

630 A

Frequency

50 Hz

Tekanan gas SF6 sudah

1.2 bar

terisi dari pabrik


c. Current transformer (CT)
CT disini berfungsi sebagai peralatan yang mengkonversi dari arus besar
menjadi arus kecil yang dipergunakan untuk pengukuran dan proteksi. Berikut
spesifikasi CT pada Penyulang Takalar :
Tabel 4. 3 Spesifikasi CT pada Penyulang Takalar
CURRENT TRANSFORMER
Ith

16 kA/1 s

Ratio CT

300/5 A

Frekuensi

50 Hz

d. Relai OCR/GFR

50

Relai OCR/GFR disini berfungsi untuk mengamankan peralatan dari


gangguan simetri maupun asismetri. Dimana relai OCR/GFR memiliki peran yang
berbeda. Relai arus lebih (OCR) adalah peralatan yang dapat merasakan adanya
arus lebih yang disebabkan karena adanya gangguan hubung singkat maupun
adanya beban berlebih (overload) yang dapat merusak peralatan yang berada di
wilayah proteksi dalam hal ini antara fasa ke fasa. Sedangkan, Relai GFR
mendeteksi adanya hubung singkat ke tanah. Berikut spesifikasi relai OCR/GFR
pada penyulang Takalar :
Tabel 4.3 Data Relai
No

Data Relai

OCR

GFR

Merek/Type

Set Relai

1A

0.1 A

Aktual (Batas Max)

300 A

30 A

Waktu Kerja

0.15

0.1

In Relai

5A

5A

Kurva Karakteristik

SI

Rasio CT

300/5 A

GEC ALSTHOM / MCGG 82

4. Data jaringan distribusi


51

Pada penyulang Takalar menggunakan kabel AAAC 3x50 mm 2 dan 3x70


mm2 untuk menyalurkan tenaga listrik menuju konsumen yang dipakai sepanjang
12 Km. dimana pada pada kasus ini gangguan terjadi sekitar 9 Km dari
penyulang Takalar tepatnya di poros Takalar (depan terminal Cappa Bungaya)
menggunakan kabel AAAC 3x70 mm2.
Tabel 4.4 Data Jaringan Distribusi

B. Analisis

Sebab

PMT

Penyulang

Takalar

Meledak

pada

GI

Sungguminasa

1. Arus hubung singkat


Untuk menghitung arus hubung singkat pada sistem diatas, pertama tama
hitung impedansi sumber ( reaktansi ) dalam hal ini diambil dari data
hubung singkat pada bus 150 kV , kedua menghitung reaktansi trafo tenaga,
ketiga menghitung impedansi penyulang.
Menghitung impedansi sumber

52

Zs(sisi 150 kV) =

Zs(sisi 150 kV) =

1502
2376.12

Zs(sisi 20 kV) =

Zs(sisi 20 kV) =

kV 2
MVA hs
= 9.469

kV 2
MVA hs

202
2376.12

x Zs(sisi 150 kV)

x 9.469 = 1.594

Menghitung reaktansi trafo


2

Xt (pada 100%) =

Xt (pada 100%) =

20 2
60

kV
MVA trafo
= 6.667

Nilai reaktansi trafo tenaga :


-

Reaktansi urutan positif, negative (Xt1 = Xt2 )


Xt1 = Xt % x Xt (pada 100%)
Xt1 = 12.5 % x 6.667 = 0.833

Reaktansi urutan nol (Xt0)


Xt0=3Xt1 = 3(0.833) = 2.499
Menghitung impedansi penyulang
Z1 = Z2 = Panjang letak gangguan x (R1 + jX1)
53

Z1 = Z2 = 9 x (0.4608 + j0.3572)
Z1 = Z2 = 4.1472 + j3.2148
Z0 = Panjang letak gangguan x (R1 + jX1)
Z0 = 9 x (0.6088 + j1.6447)
Z0 = 5.4792 + j14.8023
Menghitung impedansi jaringan ekivalen
-

Perhitungan Z1eq dan Z2eq :


Z1eq = Z2eq = Zs1 + Zt1 + Z1penyulang
Z1eq = Z2eq = j1.594 + j0.833 + (4.1472 + j3.2148)
Z1eq = Z2eq= 4.1472 + j5.6148

Perhitungan Z0eq :
Z0eq = Zt0 + 3RN + Z0penyulang
Z0eq = j2.499 + 3(40) + (5.4792 + j14.8023)
Z0eq = 125.4792 + j17.3013
Menghitung arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah

I1fasa = 3xI0 =

3 x V ph
Z 1 eq + Z 2 eq +Z 0 eq

20000
3
Z 1 eq + Z 2 eq +Z 0 eq
3x

54

34641.061
Z 1 eq + Z 2 eq +Z 0 eq

34641.061
{2 x ( 4.1472+ j5.6148 ) }+125.4792+ j17.3013

34641.061
8.2944+ j 11.2296+125.4792+ j17.3013

34641.061
133.7736+ j 28.5309

34641.061
2 x Z 2 eq + Z 0 eq

34641.061
136.782<12.04

=253.26<-12.04A
Pada kasus ini terjadi gangguan hubung singkat satu fasa ketanah sebesar
253.26<-12.04A. Dimana arus hubung singkat tersebut melebihi I set(sekunder) = 30A
pada relai GFR. Sehingga relai GFR bekerja dan memerintahkan PMT Takalar
trip. Dibandingkan dengan hasil simulasi pada ETAP yakni sebesar 256A,
terlihat pada gambar dibawah:

Gambar 4.3 Simulasi ETAP

55

Perhitungan manual dan simulasi ETAP memiliki selisih sebesar 2.26A.


Semakin

besar

arus

gangguan

dan

seringnya

terjadi

gangguan

akan

mempengaruhi kinerja peralatan, yang mengakibatkan pendeknya umur peralatan.


Secara teori, jika lokasi gangguan semakin jauh dari sumber, maka impedansi
gangguan semakin besar dan akibatnya arus gangguan semakin kecil.

1. Arus/tegangan transien
Pada

proses

pemutusan

dan

penyambungan

PMT, akan

selalu

mengakibatkan tegangan lebih yang sifatnya sesaat. Tingginya tegangan transien


pada dasarnya dapat ditahan oleh peralatan instalasi dikubikel, namun untuk
kondisi kubikel yang terpolusi, tegangan transien akibat pemutusan arus oleh
PMT atau kenaikan tegangan mendadak fasa sewaktu gangguan 1 fasa ke tanah,
bisa membuat flashover didalam kubikel.
Garis batas SPLN (Standart Perusahaan Listrik Negara) no 64 tahun 1985
Sebesar 3 x In selama 300 detik untuk arus transien. Dimana In pada PMT
Penyulang Takalar sebesar 630A, sehingga SPLN = 3 x 630 = 1890 Ampere.
Sedangkan, menurut simulasi ETAP arus transien yang didapat sebesar
2. Gas SF6 habis
Karena seringnya terjadi gangguan pada kubikel yang menyebabkan
pemutusan pada PMT, pemutusan dan kembalinya menutup PMT menyebab
peredam busur api dalam hal ini gas SF6 akan bekerja. Pada kasus ini gas SF6
56

memiliki tekanan 1,2 Bar dan mengalami ganggguan sebanyak 34 kali selama
bulan februari. Karena banyaknya terjadi gangguan menyebabkan berkurangnya
gas SF6 pada penyulang Takalar, namun dalam kasus ini pengukuran gas SF6
tidak dapat diketahui karena tidak PMT tidak dilengkapi dengan lampu indikator
jika gas SF6 sudah tidak mampu meredam busur api. Karena habisnya gas SF6
yang menyebabkan terjadinya flashover yang besar mengakibatkan PMT
penyulang Takalar meledak.
3. Analisis relai
Berikut perhitungan Arus setting GFR:
Iset = Set Relai x In Relai
= 0.1 x 5
= 0.5 A (pada sisi sekunder) = 30 A (pada sisi primer)
Gangguan terbagi atas dua jenis yaitu gangguan seimbang dan gangguan
tidak seimbang. Jenis gangguan yang terjadi pada penyulang Takalar GI
Sungguminasa yaitu gangguan tidak seimbang, Sebagaimana dijelaskan pada teori
bahwa gangguan tidak seimbang mendeteksi gangguan tanah atau Ground Fault
Relay (GFR) sehingga GFR yang akan bekerja. Batas arus maksimum yang dapat
dialiri arus ke tanah yaitu hanya sebesar 30 A (sesuai dengan settingan relai) arus
maksimum yang diberikan tidak sebesar settingan relai arus maksimum pada OCR
karena berbahaya jika fasa ketemu dengan netral yang dialiri arus yang besar
maka dapat merusak/meledaknya peralatan. Sedangkan arus yang mengalir

57

melewatinya melewati batas maksimum sehingga menyebabkan relai GFR


medeteksi dan bekerja yakni sebesar 253.26 A.
4. Tahanan isolasi
Pada kasus ini tahanan isolasi pada Panyulang Takalar sudah jelek
sehingga ada arus bocor yang melewati PMT. Menyebabkan relai Penyulang
Couple 1 ikut mendeteksi adanya gangguan, lalu PMT Couple 1 trip
menyebabkan Penyulang PS dan Parang Banua ikut trip. Sedangkan, standar
tahanan isolasi pada PLN sebesar 1kV/1M. Pada pengujian tahanan isolasi 4
bulan sebelum meledaknya PMT penyulang Takalar tahanan isolasinya mulai
kurang baik (nilai tahanan isolasi berubah-ubah)oleh karena itu dari pihak PLN
memutuskan untuk penyulang Takalar harus dipelihara. Pemeliharaan di lakukan
3x dalam setahun. Namun belum waktunya untuk di lakukan pemeliharaan pada
penyulang Takalar, PMT sudah meledak sehingga untuk tahun ini tidak dapat lagi
dilakukan pengujian karena PMT Takalar sudah meledak
C. Dampak Gangguan
Dampak yang ditimbulkan oleh gangguan pada tanggal 26 Februari 2016
yakni beberapa penyulang trip dan meledaknya PMT Penyulang Takalar sehingga
konsumen yang dilayani oleh penyulang Takalar mengalami pemadaman selama 4
menit.
D. Proses Pemulihan

58

Menyuplai tegangan ke Penyulang Couple 1 dengan cara memasukkan


PMS/PMT, disusul dengan PMS/PMT pada Penyulang PS dan Penyulang Parang
Banua. Sedangkan untuk beban pada Penyulang Takalar dimanuver oleh DCC.
Sehingga, beban yang mengalami pemadaman tersuplai kembali.

59