Anda di halaman 1dari 11

Sajak kebebasan

Cipt :Agung Ridhatullah (Anak Pena)


Merah putih dibawah benderamu
Terpampang Nama-nama Pahlawan
Dibawah benderamu
Tertumpah ribuan darah
17 Agustus 1945
Kata-kata mutiara diucapkan
Oleh sang putra fajar
Sebagai simbol negeri ini bebas
Tapi apakah kebebasan itu terwujud?
Apakah kemerdekaan itu dihargai?
Ternyata tidak!!!
Kita di tekan .. kita di kekang
Oleh orang-orang itu
Oleh orang-orang yang tak punya hati
Putra fajar menangis
Melihat merah putih sekarang
Ribuan darah takrela melihat kita sekarang
Kapan kebebasan terwujud?
Kapan kita berhenti di kekang?
Oleh orang-orang yang tak tau diri
Apakah perlu putra fajar bangkit?

Apakah perlu kata-kata mutiara itu di ucapkan lagi?


Agar kalian sadar!
Agar kalian berhenti menekan kami yang tak berdaya
Hey kau orang yang di atas
Hey kau orang yang tak punya hati
Dengarlah sajak kebebasan ini
Dengarlah suara dari kami yang tak berdaya
Anak-anak menahan lapar dibawah lampu merah
Ditepi jalan mencoba mengais sedikit rejeki darimu
Sadarlah lihatlah
Anak-anak itu
Lihatlah tubuh yang rentan itu
Lihatlah setiap tetes air mata itu
Lihatlah orang-orang yang ada di bawah mu
Lihatlah kaki-kaki mungil yang bekerja keras
Akankah kau sadar?
Akankah kau berpaling?
Akankah kau menghapus tetesan air mata itu?
Akankah kau membantu menahan rasa lapar mereka?
Sadarlah-sadarlah
Lihatlah-lihatlah
Kekejaman zaman yang kau buat
Hancur rusak berantakan

Itu itukah yang kau mau?


Rasa lapar itukah yang kau inginkan
Air mata merekakah yang kau harapkan
Keringat darah inikah yang kau butuhkan
Demi bertahan hidup di zamanmu
Demi hidup di negeri yang kau nahkodai
Demi mempertahankan merah putih
Demi kebebasan yang kau janjikan
Tolong hentikan penindasan ini
Hentikan tekanan ini
Berikan kami kebebasan yang kau janjikan
Tolong bebaskan kami dari belengguh ke sombonganmu
Mana bukti janji- janji yang mu yang dulu
Mana bukti semua kata-kata mutiaramu
Mana tanggung jawabmu sebagai pemimpin
Mana hak-hak kami yang kau renggut
Inikah arti pemimpin?
Inikah bukti pemimpin yang bijak?
Yang membiarkan kami kelaparan
Yang membiarkan kami takmampu bersuara
Katanya kami bebas
Katanya kami merdeka
Tapi dimana semua itu?

Dimana arti kebebasan dan kemerdekaan itu


Sampai kapan kami begini?
Sampai kapan kau kekang?
Sampai kapan kau renggut hak-hak kami?
Sampai kapan? Sampai kapan?
Kau tertawa di belakang meja
Kami menangis di bawah rumah kardus
Kau tertawa di depan ac
Kami menangis di depan kulkas yang tak mampu kamu buka
Kau tidur dengan selimut
Kami tidur dengan kain spanduk partaimu
Kau berjalan dengan mobil mu
Kami berjalan dengan grobak sampah
Inikah keadilan??
Inikah merdeka??
Kau bicara setiap hari di atas mimbar sambil menebar senyum
Kami mendengarkannya sambil merintih menahan lapar
Apakah ini hanya mimpi?
Apakah ini bualan semata?
Hidup dan bekerja keras demi masa depan
Demi menjahit Sang saka Merah Putih
Tak ada lagi rasa ibah
Tak ada lagi Bineka Tunggal ika

Pancasila hanya jadi pajangan dinding


Garuda hanya jadi burung pertkutut
Tak ada lagi arti pahlawan
Tak ada lagi arti Proklamasi
Tak ada lagi arti Merah putih
Bahkan Indonesia raya tak sakral lagi
Para pemimpin tak pantas lagi
Para penguasa tak berdaya lagi
Hanya amplop yang berkuasa
Hanya uang yang memimpin
Negeri ini hancur lebur
Bangsa ini tak ada harganya lagi
Kebebasan pun jtak dihiraukan lagi
Kami yang tertindas semakin tertidas
Kekuasaanmu menjadikan dirimu seorang iblis
Kekuatanmu menjadikan dirimu dictator
Kami hanya kurcaci yang dapat kau injak
Kami hanya hama yang dapat kau basmi kapan saja
Uang membutakan matamu
Dasi mengcongakkan wajahmu
Kacamata menutup mata hatimu
Gembok mengunci rasa ibahmu
Kau yang berkuasa

Kau yang berencana


Kau yang menentukan segalanya
Bahkan kau yang membungkam mulut kami
Kami diam dan tak berdaya
Kami menunduk tak punya muka
Mimpi kami hanya dapat bertahan hidup
Cita-cita kami hanya dapat makan esok hari
Sekolah jadi tempat berkumpul orang-orang kaya
Seragam jadi pakaian raja yang tak mampu kami beli
Ijazah jadi harta karun yang amat mahal
Harga diri adalah alat tukar untuk semua itu
Begitu kejamnya negeri ini
Begitu edannya zaman ini
Begitu bobroknya negeri ini
Begitulah yang dapat kami lihat
Setiap malam kami berdoa
Agar esok masih ada sedikit sampah yang dapat kami makan
Makan dan sekolah jadi hal yang paling kami impikan
Sampai kapan kami seperti ini
Ditekan dan di kekang oleh aturanmu yang tak masuk akal
Di kuasai dalam genggaman tangan dewamu
Di cekik oleh jari-jari hukummu
Di adili oleh angka-angka hinamu

Aneh sungguh aneh


Negeriku jadi penjara yang begitu kejam
Bangsaku jadi arena perjuadian yang amat biadab
Rumahku jadi neraka yang amat panas
Itu semua karena keserakahanmu
Itu semua karena kesombonganmu
Kau anggap dirimu penguasa
Yang meguasai kebebasan kami
Bebas bersuara jadi hal yang tabuh
Komentar jadi hal yang najis
Diam jadi hal yang mulia
Tertindas jadi hal yang membanggakan
Huruf-huruf dari aturanmu membuatku sakit jiwa
Angka-angka dari pasalmu membuatku sesak nafas
Hanya kata-kata sampah yang selalu kau utarakan
Dan kami hanya bisa menundukan kepala menahan malu
Maling sandal di gantung
Maling mobil di tembak
Maling pulau di beri cuti
Maling uang rakyat diberi mobil mewah dan rumah mewah
Kau menebar dusta dimana-mana
Kau menebar luka dimana-mana\
Kau menebar air mata dimana-mana

Kau menebar racun dimana-mana


Begitu hina kelakuanmu
Begitu bobrok sikapmu
Begitu rancuh dirimu
Begitu rendah harga dirimu
Kau jual pulau kami demi dopetmu
Kau ratakan rumah kami demi kamar maksiatmu
Kau bungkam kami demi nyanyianmu
Kau usir kami demi kolega terhormatmu
Hey sadar tanpa kami kau hanya orang gila
Tanpa kami kau hanya sampah
Tanpa kami amplop mu hanya surat cinta
Tanpa kami tanahmu hanya kandang ayam
Sikapmu amat lucu
Kau tebar kepintaran bagi kami itu kebodohan yang amat tramat bodoh
Pidatomu bagai suara lolongan anjing di tengah malam
Rasa prihatinmu bagai racun yang membuat kami mual
Kau akui dirimu dermawan
Kau akui dirimu mengayomi
Kau akui dirimu bijaksana
Tapi semua itu membuat kami muak
Lucu teramat lucu
Parodi yang kau perankan amat menggelitik

Skenario apa lagi yang kau siapkan


Kami menunggu untuk menyaksikannya
Sebenarnya kau anggap kami ini apa??
Sampah dalam rumah atau kecoa dalam wc?
Kala kau butuh kau datang dang memelas
Kalau kau tak butuh kau tendang kami dari tempatmu
Sungguh aneh semua sikapmu
Kami diam kau tindas
Kami tunduk kau injak kami
Tapi ingat suatu saat nanti tuhan pasti membalasnya
Mungkin sekarang kami lapar
Mungkin sekarang kami kurus
Suatu saat nanti kami akan kenyang
Suatu saat nanti kami akan gemuk dan subur
Mungkin sebaliknya kau akan lapar
Dan kau akan kurus kerempeng bahkan kau mati kelaparan
Perasaan sakit yang teramat sakit yang kau beri
Perasaan kecewa yang teramat perih yang kau beri
Cukup semua kebohongan itu yang kami dapat
Kami sudah muak dengan semua itu
Rasa bosan sudah muncul melihat tingkahmu
Tingkahmu sungguh memuakkan
Kau bagaikan hantu

Kala datang membuat kami takut


Kala pergi membuat kami was-was
Bayangmu selalu datang membawa rasa takut
Manusia macam apakau?
Tak berhati yang taksuka melihat kami tertawa
Senyum kami bagai gendering perang bagimu
Tak ada rasa kedamaian dalam hati ini
Berbenalah Indonesia
Bangkitlah negaraku
Bangunlah bangsaku
Terbanglah sang garuda yang perkasa
Kepakkan sayapmu
Buktikan bahwa kau bukan burung perkutut
Kau adalah garuda yang perkasa gagah berani
Buktikan pada manusia penguasa itu
Indonesia bukan tanah jajahan lagi
Indonesia bukan tanah penindasan lagi
Indonesia bukan tanah peraduan kesombongan
Indonesia adalah tanah merdeka
Bebas bersuara
Bebas berkomentar
Bebas melangkah
Bebas bergerak

Merdeka merdeka dan merdeka


Bukan bualan semata
Berjuang berjuang dan berjuang
Bukan hanya cita cita
Keadilah kunci segalahnya
Rendah diri jalan menujuhnya
Bentakan bukan solusi
Kau bukan penguasa kau adalah pengayom
Buktikan kedermananmu
Buktikan kalau kau bijak
Jangan cuma celotah semata
Jangan cuma cerita semata
Bukalah pintu hatumu
Tanyakan pada dirimu
Kalau bukan karena kami
Kau jadi apa??
Ibu pertiwi menyanyilah
Macan asia mengaunglah
Garuda mengangkasalah
Merah putih berkibarlah
Amin..