Anda di halaman 1dari 4

PENYEBAB VIBRASI

Vibrasi ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:


A. Unbalance
Keadaan tak seimbang terjadi apabila pusat massa sistem berputar tidak berimpit
dengan titik pusat perputaran, hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab misalnya
bahan yangtidak homogen dan perubahan posisi ketidakseimbangan dapat terjadi
pada suatu bidang(disebut static unbalance)atau pada beberapa bidang (couple
unbalance). Gabungan keduanya disebut dinamic unbalance. Dalam keadaan
unbalance sebuah vektor gaya yangberputar dengan poros menimbulkan getaran
dengan frekuensi satu per putaran.
Karakteristik ini sangat penting untuk membedakan unbalance dengan cacat atau
kerusakan yang menghasilkan getaran serupa dengan getaran satu per putaran.
Kerusakan akibat cacat yang sering disangka dari rotor biasanya mempunyai
harmonik tingkat tinggi, tetapi perlu diingat bahwa bila gaya balansnya tak besar,
harmonik tingkat tinggi dapat terjadi. Halyang sama terjadi pula bila kekakuan
bantalan dalam arah vertikal dan horizontal jauh berbeda, karena gaya unbalance
merupakan vektor berputar maka fasa getarannya relatif terhadap keyphasior
tergantung pada lokasi transducernya. Amplitudo dalam hal ini berubah sedikit.
Kerusakan yang sering disangka unbalance
Kerusakan dibawah ini sering disangka unbalance karena amplitudonya naik bila
kecepatan

putar

meningkat,

namun

demikian,

masing-masing

mempunyai

karakteristik berbeda yang dapat digunakan untuk identifikasi:

Variasi beban, beban besar pada mesin dapat mempertinggi tingkat getaran.
Untuk menafsirkan dengan baik gejala ini maka karakteristik pengoperasian
mesin

harus

dipahami.

Dalam

mengukur

getaran

dasar

(baseline

vibration)sangat penting untuk diperhatikan variasi getaran terhadap beban,


tekanan, dan suhu.

Bagian-bagian yang kendor, spektrum getaran yang dihasilkan oleh bagianbagian mesin yang kendor hampir selalu mengandung harmonik tingkat

Catatan kecil
Seplika Marea
Har.Turbin #12 Sibalang

tinggi. Namun pada mesin tertentu, harmonik tingkat tinggi ini terendam,
karena getaran tersebut tersebar dalam arah tertentu, maka letak transducer
akan mempengaruhi intensitas gataran yang terukur, gejala ini dipakai untuk
mengidentifikasi adanya elemen mesin yang kendor.

Resonansi, pada kecepatan putar menghasilkan level getaran yang tinggi


dengan frekuensi sama dengan kecepatan putar (dalam hal ini sering dipakai
notasi 1x untuk menyatakan frekuensi sama dengan kecepatan putaran)
resonansi pada kecepatan putar akan teridentifikasi dengan mudah karena
adanya penambahan atau pengurangan rpm akan menurunkan intensitas
getaran, resonansi biasanya dihubungkan dengan kesalahan pemasangan.

Kelonggaran (over clereance)yang berlebih pada bantalan luncur.

B. Misalignment
Misalignment terjadi karena adanya pergeseran atau penyimpangan salah satu
bagian mesin dari garis pusatnya. Misalignment sendiri mengakibatkan getaran
dalam arah axial. Misalignment merupakan penyebab kedua terjadinya vibrasi
meskipun telah digunakan flexible couplings dan self aligning bearing.
Ciri misalignment:
1. Mempunyai komponen getaran pada frekuensi 2x putaran poros
2. Menyebabkan getaran dalam arah aksial
Misalignment berasal dari:
1. Preload dari poros bengkok atau bantalan yang tidak mapan
2. Sumbu poros pada kopling tidak segaris
C. Mechanical Looseness (kekendoran)
Komponen-komponen mesin yang dapat kendor antara lain bantalan (mount) atau
tutup bantalan (bearing cap). Kekendoran ini hampir selalu menghasilkan sejumlah
besar harmonik dalam spektrum frekuensinya, baik harmonik ganjil maupun tunggal.
Komponen getaran yang dengan frekuensi lebih kecil dari kecepatan putar juga
dapat terjadi. Teknik untuk mendeteksi kekendoran adalah dengan mengukur
Catatan kecil
Seplika Marea
Har.Turbin #12 Sibalang

getaran pada beberapa titik (transducer kecepatan dapat berfungsi baik). Sinyal
yang terukur akan mencapai maksimumnya pada arah getaran (biasanya arah
vertikalmemberikan getaranyang lebih besar dari arah horizontal), atau disekitar
lokasi kekendoran.
D. BEN SHAFT
Terjadinya bent shaft juga dapat menimbulkan vibrasi. Phase ketika diukur secara
axial disekeliling poros akan berubah kira-kira 180 o, terlebih ketika pembengkokan
yang terjadi dekat dengan bearing.
E. Eccentric Journal/Rotor
Gejala ini menunjukkan bahwa garis pusat dari poros mesin, journal, rotor atau
stator tidak konsentris. Vibrasinya terjadi pada sekali shaft rotational frequency.
Pada roda gigi, amplitude terbesar terjadi searah dengan garis pusat. Phase
menunjukkan single reference merk
F. Defective Antifriction Bearing
Vibrasi ditunjukkan dengan adanya frekuensi yang tinggi pada puncak vibrasi,
ditambah dengan frekuensi dari daerah yang berfluktuasi. Frekuensinya bukan
multiple shaft rotation frequency. Phase bersifat unsteady.
Bantalan gelinding(anti friction bearing), pada saat awal kerusakan, getaran yang
ditimbulkantidak dapat dideteksi. Frekuensi khusus yang ditimbulkan oleh bantalan
cacat tergantung pada sifat cacatnya, geometri bantalan, dan kecepatan putar.
Parameter bantalan(ukuran dan geometri)yang menentukan frekuensi tersebut
adalah, diameter bola, jumlah bola, diameter pitch, dan sudut kontak. Perlu
diperhatikan adalah bantalan dengan nomor seri sama dari suatu pabrik belum tentu
mempunyai ukuran dan geometri yang sama. Pabrik akan melakukan perubahan
parameter bantalan dari waktu ke waktu untuk memperbaiki mutunya.
G. Oil Whirl
Rotor yang ditumpu diatas bantalan luncur dapat mengalami ketidakstabilan, yang
tidak dijumpai pada bantalan gelinding. Bila ketidakstabilan ini terjadi pada
rotorfleksible pada kecepatan kritisnya, akibatnya sangatlah fatal. Ada beberapa hal
Catatan kecil
Seplika Marea
Har.Turbin #12 Sibalang

yang menyebabkan ketidakstabilan ini, antara lain histeristis, fluida terjebak, dan
lapisan pelumas yang tidak stabil.
Ketakstabilan bantalan luncur, terjadi karena penyimpangan terhadap operasi
normal,

fluida

diantara

poros

dan

bantalan

bergerak

dengan

kecepatan

setengahkali kecepatan poros. Karena efek viskositas fluida, maka tekanan fluida
didepan celah, tersempit lebih besar dari belakangnya. Perbandingan ini disamping
menimbulkangaya angkat sehingga poros mengambang, juga menimbulkan gaya
yang dapat menyebabkan whirl atau gerak asing dalam arah putaran poros dengan
kecepatan0,43-0,48 kecepata putar poros. Whirl mengakibatkan gaya sentrifugal
meningkat sehingga gaya penyebab whirl pun bertambah. Ketidak stabilan terjadi
bila fluida pelumas tidak mampumendukung poros, atau bila frekuensi whirl sama
dengan putaran kritis poros. Kemampuan fluida pelumas untuk mendukung poros
berkurang karenaperubahan viskositas, tekanan, atau beban luar.

Catatan kecil
Seplika Marea
Har.Turbin #12 Sibalang