Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PRAKTIKUM PENYEMPURNAAN I

Penyempurnaan Penganjian

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK

:I

NAMA

: Aditya Rizky P

13020002

Ferti Dian M

13020014

Tri Asih Widya A

13020019

Irvan Fauzi R

13020043

GROUP

: 3K1

DOSEN

: Wulan S.,S.ST,M.T.

ASISTEN

: Desiriana
Yayu E. Y., S.S.T.

POLITEKNIK STTT
BANDUNG

2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dewasa ini peningkatan fasilitas pembuatan kain terus dilakukan , dimana mesin

tenun makin cepat dan density yang makin rapat serta tuntutan kualitas kain yang makin
tinggi, sehingga proses penganjian perlu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan
lapisan film yang rata pada kain, menyempurnakan kenampakan kain, menambahkan
berat dan menstabilkan dimensi. Maka proses penganjian menjadi suatu hal yang
penting dilakukan pada proses penyempurnaan sebab apabila penganjian baik maka
hasil tenun pun akan baik. Penyempurnaan menggunakan campuran zat kanji
merupakan pelapisan serat dengan lapisan film pelindung yang pada akhirnya lapisan
tersebut harus mudah dihilangkan pada saat proses penghilangan kanji. Oleh sebab itu,
suatu ikatan yang terlalu kuat antara serat dan zat kanji bukan merupakan hal yang
utama. Lebih disukai ikatan tersebut berupa ikatan hydrogen atau van der waals atau
jenis ikatan elektrostatik yang relatif lemah, dan sifatnya fisik. Fiksasi tersebut dapat
berbentuk gaya-gaya dwikutub atau elektrolit. Finish kanji bersifat sementara dan
mempunyai daya tahan cuci yang sangat rendah. Finish kanji ditujukan untuk kain-kain
kapas putih, baik sebagai zat perekat maupun sebagai zat-zat perekat lain, misalnya
kaolin yang digunakan sebagai zat pemberat.Kain yang difinish dengan kanji mudah
diserang jamur apabila disimpan di tempat yang lembab.Demikian juga larutan kanji
yang disimpan, mudah rusak karena pengaruh jamur.Untuk menghalangi tumbuhnya
jamur perlu penambahan-penambahan zat antiseptik ke dalam larutan kanji. Zat-zat anti
septik yang biasa digunakan adalah : Magnesium klorida, Seng klorida, Seng sulfat,
Barium klorida, Fenol, Asam kresilat, Asam salisilat, Formaldehida, Salisil anilida dan
Tembaga sulfat.Pelemas perlu ditambahkan untuk mendapatkan hasil finish yang
mempunyai pegangan halus. Zat-zat pelemas yang biasa digunakan adalah gliserin,
TRO, minyak-minyak, gajih, Textile Finishing Oil. Tapi apabila lebih diperlukan kain
denga

efek

kaku

maka

tidak

perlu

ditambahkan

zat

pelemas.Untuk

proses

penyempurnaan kanji pada bahan selulosa dan sintetik, maka kanji yang digunakan pun
akan berbeda.

1.2.

Rumusan Masalah
A. Bagaimana mekanisme proses penyempurnaan penganjian?
B. Faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap proses penyempurnaan
penganjian?

1.3.

Tujuan
1.3.1. Mengetahui mekanisme proses penyempurnaan

penganjian

pada

selulosa dan sintetik.


1.3.2. Memahami faktor apa saja yang berpengaruh terhadap proses
penganjian.
1.3.3. Mengetahui pengaruh wpu, konsentrasi kanji, dan bahan pada
kekakuan dan penambahan berat kain setelah proses.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Serat Kapas
Penampang melintang dari serat berbahan kapas ini yang merupakan salah satu
serat alam yang paling banyak digunakan, memiliki bentuk yang tidak beraturan
yaitu seperti ginjal. Bentuk penampang melintang seperti itu membuat hasil
pencelupannya memiliki daya kilap yang kurang, akan tetapi bentuk seperti itu
memberikan daya penutup kain yang lebih besar.

Gambar 3.1
Struktur molekul serat selulosa
(P. Soeprijono S.Teks, dkk, Serat Serat Tekstil, ITT, Bandung, 1974)

Gambar diatas merupakan skema dari strukur molekul serat selulosa.Struktur


molekul diatas tersusun dari molekul selulosa yang merupakan pengulangan dari anhidroglukosa.Pada serat kapas diatas memiliki gugus hidroksil (OH) yang
memberikan sifat kelarutan didalam air.Meskipun demikian, selulosa yang banyak
mengandung gugus hidroksil dapat bersifat tidak larut didalam air.Hal tersebut
dimungkinkan karena berat molekul selulosa yang sangat besar, juga karena
terjadinya ikatan hidrogen antar molekul selulosa yang mempersukar kelarutan
selulosa didalam air.Gugus hidroksil tersebut selain dapat menarik gugus hidroksil
dari molekul lainnya, juga dapat menarik gugus hidroksil air. Hal tersebut membuat
serat yang mengandung banyak gugus hidroksil akan mudah menyerap air sehingga
serat tersebut memiliki moisture regain yang tinggi. Dengan kemudahan molekul air
terserap kedalam serat, menyebabkan serat mudah dicelup. Pereaksi-pereaksi
oksidasi, asam dan alkali kuat dengan disertai oksigen dari udara pada umumnya

akan menyerang bagian atom oksigennya dan memutuskannya, sehingga panjang


molekulnya lebih pendek, yang berarti menurunkan kekuatan seratnya.

2.2 Serat Poliester

Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan
memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling
berdekatan, sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk
struktur yang teratur. Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.
Reaksi pembentukan polyester

2.2.1. Sifat fisika Serat Poliester


a

Berat jenis polyester adalah 1,38 g/cm3.

Kekuatan tarik serat polyester sekitar 4.5 7.5 g/denier, sedangkan mulurnya
berkisar antara 25 % sampai 75 %.

Serat poliester berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.

Pada kondisi standar, yaitu RH 65 2 % dan suhu 20 oC 1 % moisture


regain serat polyester hanya 0.4 % sedangkan RH 100 % moisture regainnya
mencapai 0.6 % - 0.8 %

Derajat kristalinitas adalah faktor penting untuk serat poliester, karena derajat
kristalinitas serat sangat berpengaruh pada serap zat warna ,mulur, kekuatan
tarik, stabilitas dimensi serta sifat-sifat lainya.

Serat poliester tahan terhadap panas sampai pada suhu 220 oC, diatas suhu
ini akan mempengaruhi kekuatan, mulur, dan warnanya menjadi kekuningan.
Suhu

230-240

menyebabkan

poliester

melunak,

suhu

260

menyebabkan poliester meleleh.


g

Poliester memiliki sifat elastisitas yang baik dan ketahanan kusut yang baik.

2.2.2. Sifat Kimia Serat Poliester


Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan
tahan asam kuat dingin. Poliester tahan basa lemah tapi kurang tahan basa

kuat.Poliester tahan zat oksidator, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk
pencucian

kering.Poliester

larut

dalam

meta-kresol

panas,

asam

trifouroasetat-orto-clorofenol.

2.3 Serat Rayon


Serat rayon merupakan serat selulosa yang diregenerasi sehingga
strukturnya sama dengan serat selulosa lain, kecuali derajat polimerisasinya
rendah karena terjadinya degradasi rantai polimer selama pembuatannya.
2.3.1. Sifat Fisika Serat Rayon

Kekuatan serat rayon 2,6 g/denier dalam keadaan kering dan


kekuatan basahnya 1,4 g/denier. Mulurnya 15 % dalam keadaan
kering dan 25 % dalam keadaan basah.

Moisture regain dalam kondisi standar 12-13 %

Elastisitasnya

jelek,

apabila

dalam

pertenunan

benangnya

mendapat suatu tarikan kemungkinan benangnya tetap mulur dan


tidak mudah kembali lagi.

Berat jenis serat rayon adalah 1,52

2.3.2.Sifat Kimia Serat Rayon

2.4.

Asam-asam mineral encer panas atau asam pekat dingin akan

merusak.
Rayon tahan pelarut-pelarut untuk pencucian kering.
Alkali kuat dapat menggelembungkan rayon dan menyebabkan

kekuatan turun.
Oksidator mempengaruhi serat rayon

Kanji
Kanji adalah simpanan atau timbunan makanan pada tumbuh-tumbuhan yang

tersimpan pada biji, batang, akar atau lainnya.Kanji ada dua macam, yakni kanji
alam dan kanji sintetik.Kanji merupakan butiran yang berbeda-beda bentuknya
tergantung pada asal kanjinya.
2.4.1. Kanji Alam

Kanji diperoleh dengan merendam, menumbuk dan ekstraksi untuk


pemurnian

perlu

diendapkan.Apabila

kanji

diberi

air

panas

butiran

kanji

mengembang menjadi gelatin. Pada suhu yang cukup tinggi akan berbentuk pasta
kental. Suhu pembentukan gelatin untuk tiap jenis kanji berbeda dan dapapt dipakai
untuk emmbedakan kanji yang satu terhadap yang lain.
Suhu pembentukan gelatin.
Kanji
Kentang
Tapioka
Sagu
Jagung
Beras

Suhu (O0)
65 68
70 74
72 74
75 77
80 83

Meskipun didalam hidrolisa kanji hanya menghasilkan D-glukosa sebenarnya kanji


terdiri dari dua polimer yang berbeda yakni : amilosa dan amilopektin. Kadar kedua
zat tersebut dalam kanji kira-kira 25 % : 75 %. Polimer amilosa bersifat larut
membentuk gel yang tidak stabil, viskositas rendah, pengaruh koloid rendah
sedangkan amolipektin larut setelah dipisahkan dari amilosa membentuk gel yang
lunak dan dapat larut kembali, viskositas tinggi dan pengaruh koloid tinggi. Kanji
yang terdegradasi dengan jalan pemanasan saja atau dengan hidrolisa ataupun
oksidasi akan menjadi dekstrin yang dapat digunakan sebagai pengental.
Larutan tapioka berbentuk gel yang transparan dan memberikan hasil finish yang
tipis, mengkilap dan fleksibel. Dalam penggunaannya sering dicampur dengan kanji
lain untuk mendapatkan modifikasi sifat sifat yang diinginkan.
2.4.2. Kanji Sintetik
Kanji sintetik yang paling banyak digunakan dalam industri tekstil adalah
Polivinil Alkohol (PVA).PVA terutama digunakan untuk penganjian benang dari serat
sintetik juga dapat untuk kapas dan rayon.PVA adalah polimer yang dibuat dari
asetilena dan asam asetat.
C2H2 + CH3COOH
Asetilena

CH3COOCH= CH2
asam asetat

vinil asetat

Vinil asetat dilarutkan dan dipolimerisasikan menjadi PVA dengan katalisator lalu
dengan penambahan NaOH untuk menyabunkan PVA menjadi PVA yang
mengendap.
(-CH2CH-OCOCH3)n + n NaOH
PVA

(CH2CHO)n + n CH2COONa
PVA

Serat sintetik mempunyai kemurnian lebih tinggi dibandingkan serat alam. Oleh
karena itu diperlukan kanji yang mudah dihilangkan dengan proses sederhana. PVA
merupakan kanji sintetik yang paling banyak digunakan karena mudah dihilangkan.

2.5.

Mekanisme Fiksasi Kanji


Penyempurnaan menggunakan campuran zat kanji merupakan pelapisan serat
dengan lapisan film pelindung yang pada akhirnya lapisan tersebut harus mudah
dihilangkan pada saat proses penghilangan kanji. Oleh sebab itu, suatu ikatan yang
terlalu kuat antara serat dan zat kanji bukan merupakan hal yang utama. Lebih
disukai ikatan tersebut berupa ikatan hydrogen atau van der waals atau jenis ikatan
elektrostatik yang relatif lemah, dan sifatnya fisik. Fiksasi tersebut dapat berbentuk
gaya-gaya dwikutub atau elektrolit. Suatu dwikutub listrik terdiri dari dua pusat
dengan muatan sama tapi berlawanan. + dan -, terpisahkan dengan jarak yang
kecil sekali.
Banyak molekul-molekul yang memperlihatkan sifat-sifat dwikutub karena bentuk
geometri dan distribusi dari muatan dalam ikatan intra-atomnya. Hal ini terlihat jelas
pada molekul air yang memperlihatkan karakter dwikutub yang kuat sekali :

Substansi kimia yang dikenal dengan elektrolit merupakan komposit ionic (asam,
basa, garam) dan disebut kation bila ionnya positif dan anion bila ionnya negatif.Zatzat tersebut bersama dalam bentuk terlarut dan mampu berlaku sebagai medium
konduktif.Hal penting pada elaktrolit adalah kelarutannya yang cepat berkat
afinitasnya yang tinggi terhadap air, sehingga mudah dihilangkan dalam pencucian.

Untuk kopolimer-kopolimer tertentu, pertambahan sifat kelarutannya diperoleh


dengan konjugasi dua gugusan, yaitu gugus dwikutub dan elektrolit yang berada
pada molekul yang sama.

Fiksasi zat kanji pada serat adalah murni ikatan fisik dan contohnya adalah :

BAB III
PERCOBAAN
3.1.

Alat & Bahan

3.1.1 Alat
-

Piala Gelas 500 ml


Pengaduk
Kompor dan kasa
Nampan plastik
Timbangan digital
Mesin stenter

3.1.2 Bahan
3.2.

Kain kapas
Kain TC
Kanji Tapioka
Kanji PVA
Resep

3.2.1. Resep Penganjian


CuSO4
Sulfon
Temperature
WPU
Pengeringan

1 ml/L
0,5 ml/L
70oC
70%
100oC, 3

3.2.2. Variasi Resep

Resep

Jenis Kain

Jenis kanji

Kelompok 1

Kapas

Tapioka

Kelompok 2

Poliester

Konsentrasi
kanji (%)

2,5

Tapioka : PVA 1:3, 3:1 , 2:2

WPU

1.6,2.6,3.6,4.6

70 %

T/R,kapas,
Kelompok 4

Poliester,

Tapioka

70 %

Tapioka : PVA

2:5 ,3:5 ,

70 %

Rayon
Kelompok 5

Kapas

4:5,5;5
Ket :
Variainnnn : VARIASI
3.3.

Fungsi Zat
1. Tapioka :
Bahan utama proses penyempurnaan penganjian yangberasal dari alam
yang akan memberi lapisan film pada bahan sehingga membuat kain
menjadi lebih keras dan kaku.
2. CuSO4:
Zat pengawet yang akan mencegah timbulnya jamur dan bakteri pada
larutan kanji dan pada hasil penganjian yang dapat merusak serat pada
bahan.

3. Sunsoflon Tk-07 :
Bahan dari suatu senyawa silikon yang dapat memberikan pegangan
yang lembut pada kain sehingga dapat mengurangi kekakuan dari
penggunaan kanji yang terlalu banyak.

4. PVA :
Zat penyempurnaan kanji untuk penganjian serat sintetik dan alam
sehingga membersihkan efek penganjian yang diinginkan.
3.4. Diagram Alir

Ppp aeee dl r a s d
s e t
an png a k n
r i k
aped lr re a i o n t s g
a
dsnp age nm
k a i
bpas anae n hn ag
n
n j i a n
3.5.

Cara Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.

3.6.

ri i u t
a n j i
e a n
a n a
na

Alat dan bahan disiapkan


Pasta dibuat yang terdiri dari kanji tapioka dengan air
Kain direndam dengan larutan kanji
Kain dilakukan proses padding
Kemudian dikeringkan dengan menggunakan mesin stenter
Dilakukan evaluasi terhadap kaiN

Skema Proses

BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
4.1.

Hasil Percobaan

4.1.1. Hasil Percobaan Kel 1 ( Variasi WPU)

PARAMETER

WPU (kg/cm persegi)

Berat Awal (g)


Berat Akhir (g)
Pertambahan Berat (%)
p1
p3 (cm)
perhitungan nilai
kekakuan (0,1 x gramasi
kapas x p3)

1,6
4,16
4,26
2,40%
3,2
32,768

2,6
4,22
4,31
2,13%
3,1
29,791

3,6
4,12
4,2
1,94%
2,9
24,389

4,6
3,8
3,87
1,84%
2,7
19,683

294,912

268,119

219,501

177,147

Tabel & grafik 1. Presentase penambahan berat kain dan Kekakuan

Pengaruh wpu terhadap "Penambahan Berat" kain kapas


3.00%
2.50% 2.40%
2.00%
1.50%
1.00%
0.50%
0.00%

2.13%

penambahan berat %

WPU

1.94%

1.84%

PARAMETER

Konsentrasi Kanji (%)


TAPIOKA: PVA

Berat Awal (g)


Berat Akhir (g)
Pertambahan Berat (%)
p1
perhitungan nilai
kekakuan (0,1 x gramasi
kapas x p3)

1:3
4,0
4,2
4,70 %
3,35
225,57

3:1
4,0
4,1
2,40%
3,475
251,776

2:2
4,0
4,3
6,90 %
4,25
460,593

Pengaruh wpu terhadap " kekakuan kain"


350
300
250
200
150
100
50
0

294.91 268.12

219.5

Axis Title

177.15
WPU (kg/cm persegi)

WPU kg/cm persegi

4.1.2. Hasil Percobaan Kel 2 ( Variasi Konsentrasi kanji terhadap jenis kanji Tapioka
: PVA )

Tabel & grafik 2. Presentase penambahan berat kain dan Kekakuan

Pengaruh konsentrasi tapioka + pva terhadap penambahan berat kain poliester


8.00%
7.00%

6.90%

6.00%
5.00%

4.70%

4.00%
3.00%

2.40%

2.00%
1.00%
0.00%

PARAMETER

Bahan
Kapas
3,70
3,80
2,70%
2,8

Berat Awal (g)


Berat Akhir (g)
Pertambahan Berat (%)
Kekakuan

Poliester
3,10
3,20
3,22%
2,7

Rayon
7,80
7,87
0,89%
3,4

Pengaruh konsentrasi tapioka + pva terhadap kekakuan kain poliester


500
450
400
350
300
Axis Title 250 225.57
200
150
100
50
0
1

460.59

251.78

4.1.3. Hasil Percobaan Kel 4 Variasi Bahan

T/R
3,8
3,87
1%
3

Tabel & grafik 3. Presentase penambahan berat kain dan Kekakuan

Pengaruh Bahan Terhadap Penambahan Berat


3.50%
3.00%
2.50%
2.00%
Axis Title 1.50%
1.00%
0.50%
0.00%

Kain Kapas Kain Poliester Kain Rayon


Axis Title

Kain T/R

PARAMETER

Berat Awal (g)


Berat Akhir (g)
Pertambahan Berat
(%)
p1
perhitungan nilai
kekakuan (0,1 x
gramasi kapas x p3)

Konsentrasi Kanji (%)


TAPIOKA: PVA
2;5
3,8
3,9
2,56%
2,35
116,80087
5

3:5
3,8
4,0
5,26%

4:5
4,0
4,1
2%

5:5
4,0
4,2
5%

2,6
158,184

3,35
338,3583
75

3,775
484,164984
4

Pengaruh Bahan Terhadap Kekakuan


4
3.5
3.4

3
2.5

2.8

2.7

Kain Kapas

Kain Poliester

2
1.5
1
0.5
0

Kain Rayon

Kain T/R

3.1.1. Hasil Percobaan Kel 5 (Variasi Konsentrasi kanji terhadap jenis kanji
TAPIOKA : PVA )

Pengaruh konsentrasi tapioka terhadap penambahan berat kain kapas


6.00%
5.00%
4.00%
3.00% 2.56%
2.00%
1.00%
0.00%

5.26%

5.00%
2.00%

Pengaruh konsentrasi tapioka terhadap kekakuan kain kapas


600
500
400
300
200
100 116.8
0

4.2.

338.36

484.16

158.18

Pembahasan

Dari praktikum penganjian ini banyak faktor yang berpengaruh, seperti jenis kanji,
konsentrasi kanji, WPU dan jenis bahan terhadap penambahan berat dan kekakuan
kain. Variasi WPU dilakukan pada bahan kapas dan pengaruh nya terhadap
penambahan berat yakni seiring dengan bertambah nya tekanan rol padder yang
digunakan maka penambahan berat pada kain hasil uji semakin sedikit. Hal tersebut
dikarenakan semakin besar tekanan rol maka akan semakin besar pula efek
pemerasan nya, alhasil penambahan berat nya pun akan sedikit . Semakin banyak
atau sedikitnya kanji yang berada dalam serat akan berpengaruh pula terhadap

kekakuan kain. Semakin banyak kanji yang berpenetrasi terhadap serat maka bahan
akan semakin kaku.

Praktikum penganjian pada bahan polyester dilakukan dengan menggunakan


campuran kanji alam (tapioka) dan kanji modifikasi (PVA) pada kain poliester, dapat
diamati dari data percobaan bahwa presentase nilai penambahan berat kain pada
literature yaitu maksimal 5%, nilai presentase kenaikan berat bahan yang di bawah
5% yaitu pada kain dengan tapioka : PVA (1% : 3%) dan kain dengan tapioka : PVA
(3% : 1%) sedangkan penambahan berat bahan di atas 5% yaitu pada kain dengan
tapioca : PVA (2% : 2%). Poliester akan lebih cocok pada kanji PVA, dimana kanji
PVA adalah kanji modifikasi yang dibuat untuk serat-serat buatan, Sedangkan kanji
tapioca dibuat untuk melapisi serat-serat alam sehingga tidak menempel terlalu
banyak pada seratpoliester. Hal ini yang menyebabkan kain dengan perbandingan
tapioka : PVA (1% : 3%) mendapatkan nilai presentase yang paling baik yaitu 4,7%,
hal ini menunjuk kan bahwa penambahan berat kain tersebut cukup tinggi tanpa
melebihi batas maksimal penambahan berat.Untuk kekakuan, seperti yang dibahas
pada paragraph sebelumnya bahwa semakin besar pertambahan berat kain maka
kanji yang berpenetrasi pada kain semakin banyak sehingga kain menjadi lebih kaku.

Variasi konsentrasi kanji juga dilakukan pada kain kapas, dimana kanji yang dipakai
adalah campuran kanji PVA 5g/l dan tapioka (2%; 3%; 4% dan 5%).Kanji tapioca
adalah kanji alam sehingga cocok untuk dipakai pada bahan kapas yang merupakan
serat alam.Pada penyempurnaan penganjian, terjadi penambahan berat pada setiap
bahan, hal ini dikarenakan kanji mengisi bagian antar benang yang kosong, sehingga
menjadi penuh dengan otomatis terjadi penambahan berat pada bahan.Semakin
tinggi konsentrasi kanji tapioka yang dipakai maka semakin besar penambahan berat
kain, namun hal tersebut tidak sesuai dengan hasil percobaan yang tidak
menunjukkan hubungan antara banyaknya kanji yang dipakai dan penambahan
berat.Namun untuk hasil uji kekakuan didapat bahwa semakin tinggi konsentrasi
tapioka yang dipakai maka semakin tinggi nilai kekakuannya.

Percobaan penyempurnaan penganjian ini juga dilakukan dengan variasi bahan


menggunakan kanji tapioka. Berdasarkan hasil persentase pertambahan berat bahan
didapat bahwa penambahan berat bahan poliester > kapas > t/c > rayon. Hal ini
kurang sesuai dengan hipotesa awal, dimana jenis kain sintetis akan sulit apabila
dilakukan proses penyempurnaan penganjian dengan menggunakan kanji tapioka

yang merupakan kanji alam. Namun, dalam hal ini, presentase penambahan berat
kain poliester yang besar bisa dikarenakan oleh serat poliester yang masih mampu
berikatan dengan kanji secara lemah dengan ikatan fisika atau elektrostatik.
Sehingga, viskositas larutan kanji yang tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental,
membuat kanji masih bisa menempel pada permukaan serat poliester dengan baik.
Ditambah dengan WPU sebesar 70%, perendaman dalam pasta kanji sebelum
padding pada suhu kurang lebih 70oC, dan proses pengeringan serta penyetrikaan
membuat kanji yang berada pada permukaan serat poliester pun menjadi semakin
kuat menempel. Kain rayon memiliki persentase pertambahan berat paling sedikit
walaupun kain rayon termasuk jenis kain selulosa yang memiliki struktur yang hampir
sama dengan kain kapas, tetapi rayon memiliki tingkat elastisitas yang jelek. Hal ini
yang membuat pada saat kain rayon diproses padding dengan pasta kanji, kemudian
dilakukan pengeringan terjadi adanya penarikan yang membuat kain rayon tidak
berbentuk seperti awal, sehingga mempengaruhi ikatan dengan kanji.
Sebaliknya, pada uji kekakuan kain rayon memiliki tingkat kekakuan yang paling
besar, dibanding dengan kain poliester yang memiliki tingkat kekakuan yang paling
kecil. Hal ini dikarenakan oleh sifat fisika, serta struktur molekul antara serat rayon
dan poliester yang berbeda, kemudian adanya perlakuan kain sebelum proses
penyempurnaan penganjian (pre treatment) yang juga berbeda (seperti pada
poliester yang mengalami proses pengurangan berat agar lebih langsai) membuat
hasil uji kekakuannya juga relatif jauh berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Hendroyantopo S, S.Teks.MM, Dkk, 1998.Teknologi penyempurnaan, Sekolah

Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung.


P. Soeprijono S.Teks, dkk, 1973.Serat-serat

Tekstil.Bandung
Susyami,N.M, dkk. 2005. Teknologi Penyempurnaan Kimia. Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil: Bandung.

Tekstil,

Institut

Teknologi

Anda mungkin juga menyukai