Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Sebelum tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia belum merdeka. Bangsa
Indonesia dijajah oleh bangsa lain. Banyak bangsa-bangsa lain yang menjajah
atau berkuasa di Indonesia, misalnya bangsa Belanda, Portugis, Inggris, dan
Jepang. Paling lama menjajah adalah bangsa Belanda. Penjajahan Belanda
berakhir pada tahun 1942, tepatnya tanggal 8 Maret. Sejak saat itu Indonesia
diduduki oleh bala tentara Jepang.
Namun Jepang tidak terlalu lama menduduki Indonesia. Mulai tahun
1944, tentara Jepang mulai kalah dalam melawan tentara Sekutu. Untuk menarik
simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam melawan
tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari.
Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944.
Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang
memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji
kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan
(Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura).
Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan
Penyelidik

Usaha-Usaha

Persiapan

Kemerdekaan

Indonesia

(BPUPKI).

Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan
sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 - 1 Juni 1945. Pada sidang pertama
itu, banyak anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah Muhammad Yamin
dan Bung Karno, yang masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk
Indonesia merdeka. Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para
anggota BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya
adalah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan
kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan
usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Panitia
Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan

sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang


kemudian lebih dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta. Dalam sidang
BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan
rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus
dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15
Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu
Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya

oleh

para

pemimpin

bangsa

Indonesia,

yaitu

dengan

memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945.


Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara
utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya
(Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang.
Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan
bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi
Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya.
Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat
preambul, di belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka
rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang
baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang
pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain
kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan.
Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan
kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi
persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya
tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di belakang kata Ketuhanan dan
diganti dengan Yang Maha Esa.
B.

Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan
dijabarkan dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimanakah hakikat Pancasila sebagai Dasar Negara?
2. Bagaimanakah Pancasila sebagai Dasar Negara?
3. Bagaimanakah Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara?
4. Bagaimanakah Pancasila sebagai Ideologi Terbuka?
5. Bagaimanakah Pancasila sebagai Ideologi Tertutup?
C.

Tujuan
Makalah ini disusun bertujuan agar para pembaca bisa mengetahui
tentang Pancasila sebagai ideologi negara dan Pancasila sebagai ideologi bangsa
Indonesia yang sesungguhnya, dan dengan adanya makalah ini juga di harapkan
dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Hakikat Pancasila Sebagai Dasar Negara


Setiap negara di dunia ini mempunyai dasar negara yang dijadikan
landasan dalam menyelenggarakan pemerintah negara. Seperti Indonesia,
Pancasila dijadikan sebagai dasar negara atau ideologi negara untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Hal tersebut sesuai dengan bunyi pembukaan UUD
1945 alenia ke-4 yang berbunyi : Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu UUD negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu
susunan negara. Dengan demikian kedudukan pancasila sebagai dasar negara
termaktub secara yuridis konstitusional dalam pembukaan UUD 1945, yang
merupakan cita-cita hukum dan norma hukum yang menguasai hukum dasar
negara RI dan dituangkan dalam pasal-pasal UUD 1945 dan diatur dalam
peraturan perundangan. Selain bersifat yuridis konstitusional, pancasila juga
bersifat yuridis ketata negaraan yang artinya pancasila sebagai dasar negara,
pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum. Artinya
segala peraturan perundangan secara material harus berdasar dan bersumber
pada pancasila. Apabila ada peraturan (termasuk di dalamnya UUD 1945) yang
bertentangan dengan nilai-nilai luhur pancasila, maka sudah sepatutnya
peraturan tersebut dicabut.
Berdasarkan uraian tersebut pancasila sebagai dasar negara mempunyai
sifat imperatif atau memaksa, artinya mengikat dan memaksa setiap warga
negara untuk tunduk kepada pancasila dan bagi siapa saja yang melakukan
pelanggaran harus ditindak sesuai hukum yang berlaku di Indonesia serta bagi
pelanggar dikenakan sanksi-sanksi hukum. Nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam pancasila memiliki sifat obyektif-subyektif. Sifat subyektif maksudnya
pancasila merupakan hasil perenungan dan pemikiran bangsa Indonesia,
sedangkan bersifat obyektif artinya nilai pancasila sesuai dengan kenyataan dan
bersifat universal yang diterima oleh bangsa-bangsa beradab. Oleh karena

memiliki nilai obyektif-universal dan diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa


Indonesia maka pancasila selalu dipertahankan sebagai dasar negara.
Jadi berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pancasila sebagai dasar negara memiliki peranan yang sangat penting dalam
mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga cita-cita para pendiri
bangsa Indonesi dapat terwujud. Bagi bangsa indonesia hakikat yang
sesungguhnya dari pancasila adalah sebagai pandangan hidup bangsa dan
sebagai dasar negara. Kedua pengertian tersebut sudah selayaknya kita pahami
akan hakikatnya. Selain dari pengertian tersebut, pancasila memiliki beberapa
sebutan berbeda, seperti :
1.

Pancasila sebagai jiwa negara,

2.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa,

3.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, dan lain-lain.


Walaupun begitu, banyaknya sebutan untuk pancasila bukanlah

merupakan suatu kesalahan atau pelanggaran melainkan dapat di jadikan sebagai


suatu kekayaan akan makna dari pancasila bagi bangsa indonesia. Karena hal
yang terpenting adalah perbedaan penyebutan itu tidak mengaburkan hakikat
pancasila yang sesungguhnya yaitu sebagai dasar negara. Tetapi pengertian
pancasila tidak dapat di tafsirkan oleh sembarangan orang karena akan dapat
mengaturkan maknanya dan pada akhirnya merongrong dasar negara.
B.

Pancasila Sebagai Dasar Negara


Pancasila dalam kedudukanya ini sering disebut sebagai dasar filsafat
atau dasar falsafah negara (Philosofische Gronslag) dari Negara, ideologi negara
atau Statsidee, dalam pengertian ini pancasila merupakan dasar nilai serta untuk
mengatur pemerintahan negara atau dengan kata lain perkataan. Konsekuensinya
seluruh pelaksanaan dan penyelenggara Negara terutama segala peraturan
perundang-undangan termasuk proses reformasi dalam segala bidang dewasa ini
dijabarkan dan diderivasikan dari nilai-nilai pancasila. Maka pancasila
merupakan sumber dari segala sumber hukum, pancasila merupakan sumber
kaidah hukum negara yang secara konstitusional mengatur negara Republik
Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat wilayah, beserta Negara.

Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan suatu asas kerokhanian yang


meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu
sumber nilai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum negara, dan
menguasai dasar baik yang tertulis atau Undang-Undang Dasar maupun yang
tidak tertulis atau dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pancasila
mempunyai kekuatan mengingat secara hukum.
Sebagai sumber dari segala hukum atau sumber tertib hukum Indonesia
maka pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu pembukaan UUD
1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok
pikiran, yang meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945, yang pada akhirnya
dikongritiskan atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok pikiran, yang
meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945, yang pada akhirnya dikongritiskan
atau dijabarkan dari UUD 1945 serta hukum positif lainya, kedudukan pancasila
sebagai dasar negara tersebut dapat dirincikan sebagai Pancasila sebagai dasar
negara adalah sumber dari segala sumber hukum (sumber tertib hukum)
Indonesia. Dengan demikian pancasila merupakan asas kerohanian tertib hukum
Indonesia yang dalam pembukaan UUD 1945 dijelmakan lebih lanjut ke dalam
empat pokok pikiran. Meliputi suasana kebatinan (Geistlichenhintergrud) dari
UUD 1945. Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara (baik hukum
yang tertulis maupun tidak tertulis). Mengandung norma yang mengharuskan
undang-undang dasar mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lainlain penyelenggara negara (termasuk penyelenggara partai dan golongan
fungsional). Memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.
Hal ini dapat dipahami karena semangat adalah penting bagi pelaksanaan
dan penyelenggara negara, karena masyarakat dan negara indonesia senantiasa
tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika
masyarakat dan negara akan tetap diliputi dan diarahkan asas kerohanian negara.
Dasar formal kedudukan pancasila dasar Negara Republik Indonesia tersimpul
dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi sebagai berikut: maka
disusunlah kemerdekaan kebangsaan indonesia itu dalam suatu Undang-Undang
Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat, yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang

dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan, serta dengan


mewujudkan suatu keadilan sosial seluruh rakyat indonesia.
Pengertian kata Dengan Berdasarkan Kepada Hal ini secara yuridis
memiliki makna sebagai dasar negara. Walaupun dalam kalimat terakhir
pembukaan UUD 1945 tidak tercantum kata pancasila secara eksplisit namun
anak kalimat dengan berdasar kepada ini memiliki makna dasar negara adalah
pancasila.Hal ini didasarkan atas interpretasi historis sebagaimana ditentukan
oleh BPUPKI bahwa dasar negara Indonesia itu disebut dengan istila pancasila.
Sebagaimana telah ditentukan oleh pembentukan negara bahwa tujuan utama
dirumuskannya pancasila adalah sebagai dasar negara Republik Indonesia. Oleh
karena itu fungsi pokok pancasila adalah sebagai dasar Negara Republik
Indonesia.
Hal ini sesuai dengan dasar yuridis sebagaimana tercantum dalam
pembukaan UUD 1945, ketetapan No. XX/MPRS/1966. (Jo ketetapan MPR No.
V/MPR/1973 dan ketetapan No. IX/MPR/1978). Dijelaskan bahwa pancasila
sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum indonesia
yang ada pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran
dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan serta
dari bangsa indonesia. Selanjutnya dikatakan bahwa cita-cita mengenai
kemerdekaan individu, kemerdekaan bangsa prikemanusiaan, keadilan sosial,
perdamaian nasional, cita-cita politik mengenai sifat, bentuk dan tujuan negara,
cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai
pengejawatan dari budi nurani manusia.
Dalam proses reformasi dewasa ini MPR melaui sidang istimewa tahun
1998, mengembalikan kedudukan pancasila sebagai dasar Negara Republik
Indonesia yang tertuang dalam Tap. No. XVIII/MPR/1998. Oleh karena itu
segala agenda dalam proses reformasi, meliputi berbagai bidang lain
mendasarkan pada kenyataan aspirasi rakyat (Sila IV) juga harus mendasarkan
nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.
C.

Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Negara


1.

Pancasila sebagai Ideologi Bangsa


Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah pancasila sebagai cita-cita
negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem

kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia Berdasarkan Tap.


MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan ketetapan MPR tentang P4.
Ditegaskan bahwa pancasila adalah dasar NKRI yang harus dilaksanakan
secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2.

Pancasila sebagai Ideologi Negara


Pengertian ideologi-ideologi berasal dari bahasa yunani yaitu iden
yang berarti melihat, atau idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan
buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran, dengan demikian ideologi
adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des
ideas (Marsudi, 2001). Puspowardoyo (1992) menyebutkan bahwa ideologi
dapat di rumuskan sebagai kompleks pengetahuan dan nilai secara
keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami
jagat raya dan bumi seisinya, serta menentukan sikap dasar untuk
mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat
menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar serta apa yang dinilai
baik dan tidak baik.
Menurut pendapat Harol H.Titus defenisi dari ideologi adalah suatu
istilah yang digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai berbagai
macam masalah politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan
bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan
oleh sekelompok atau lapisan masyarakat.
a.

Ciri-ciri ideologi adalah sebagai berikut :


1) Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan
dan kenegaraan
2) Mewujudkan suatu asaz kerohanian, pandangan-pandangan hidup,
pegangan hidup yang dipelihara diamalkan, dilestarikan kepada
generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan
kesediaan berkorban.

b.

Fungsi ideologi menurut pakar dibidangnya :


1) Sebagai sarana untuk memformulasikan dan mengisi kehidupan
manusia secara individual.
2) Sebagai jembatan pergeseran kendali kekuasaan dari generasi tua
dengan generasi muda.

3) Sebagai kekuatan yang mampu memberi semangat dan motivasi


individu, masyarakat,dan bangsa untuk menjalani kehidupan dalam
mencapai tujuan.
D.

Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka


Abdulkadir Besar dalam tulisanya tentang Pacasial Ideologi Terbuka,
antara lain menyebut bahwa pada umumnya khalayak memahami arti terbuka
dari pernyataan ideologi terbuka sebagai sifat keterbukaan ideology itu
sendiri. Pancasila sebagai ideologi terbuka sering dipahami sebagai harifah,
yaitu berbagai konsop dari ideologi lain, terutama ideologi leberalisme, seperti
hak asasi manusia, pasar bebas, mayoritas tunggal, dualisme pemerintahan, serta
konsekunsi logis system operasi liberal, tanpa pelarangan yang system
matis,nilai itu dianggap dan diberlakukan sebagai konsep yang inheren dalam
ideologi pancasiala.
Adanya anggapan umum yang demikian dapat dipahami karena adanya
sebab-sebab sebagai berikut:
1. Orang yang bersangkutan tidak atau belum memehami ideologi pancasila
secara mendalam.
2. Kebebasan individu yang menjadi nilai interinsik ideologi liberalisme
bukannya dipersepsikan sebagai konsep ideology,tetapi justru dipersiapkan
sebagai konsep nilai yang identik dengan konsep yang bersifat objektif
universal.
Semua konsep dari suatu ideologi niscaya terlahir secara deduktif logis dari nilai
intrinsi idologi yang bersangkutan, sebagai contoh ideologi libralisme yaitu
kebebasan individu.

1. Dimensi Ideologi Terbuka


a. Dimensi realistis
Bahwa nilai-nilai dasar ideologi bersumber dari nilai-nilai rill yang
hidup dalam masyarakat yang tertanam dan berakar di dalam masyarakat,
terutama pada waktu ideologi itu lahir. Dengan demikian, mereka betul-

betul merasakan dan menghayati bahwa dasar nilai-nilai dasar itu adalah
milik mereka bersama.
b. Dimensi idealisme
Bahwa nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme,
bukan anggapan-anggapan (utopia), yang harapan tentang masa depan
yang lebih baik dengan perujudan atau pengalamannya dalam praktik
kehidupan bersama sehari-hari dengan berbagai dimensinya. Ideologi
yang tangguh biasanya muncul dari pertautan erat, yang saling mengisi
yang saling memperkuat antara dimensi realitas dan dimensi idealisme
yang terkandung di dalamnya.
c. Dimensi fleksibilitas (pengembangan)
Bahwa ideologi tersebut memiliki tersebut memiliki keluesan yang
memungkinkan dan bahkan merangsang pengembangan pemikiranpemikiran baru relevan tentang dirinaya tanpan menghilangkan atau tanpa
mengngkari harkat (jati diri) yang terkandung dalam nila- nilai
dasarnya. Dimensi fleksibilitas atau dimensi pengembangan sangan
diperlukan oleh suatu ideologi guna memelihara dan memperkuat
relevansinya dari waktu ke waktu.
2. Gagasan Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Pemikiran pancasila sebagai ideology terbuka tersirat dalam
penjelasan UUD1945 dimana disebutkan maka telah cukup jika UUD hanya
membuat garis -garis besar sebagai intruksi kepada pemerintah pusat dan
lain-lain penyelengaraan kehidupan Negara dan kesejahtraan social terutama
bagi Negara baru atau Negara muda, lebih baik hokum dasar yang tertulis itu
hamya

memuat

aturan-aturan

pokok,

sedang

aturan-aturan

yang

menyelengarakan pokok diserahkan kepada undang-undang yang lebih


mudah caranya membuat, mengubah, dan mencabut. Beberapa hal yang
harus diperhatikan sehubungan dengan gagasan pancasila sebagai ideology
terbuka, yaitu:
a. Ideologi pancasila harus harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi
dankondisi zaman yang harus mengalami perubahan. Akan tetapi bukan

berarti bahwa nilai dasar pancasila dapat digantikan dengan nilai dasar
yang lain atau meniadakan jati diri bangsa Indonesia.
b. Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung makna bahwa nilai-nilai
dasar pancasila dapat dikemdangkan sesuai dinamika kehidupan bangsa
Indonesia dan tuntutan perkembangan jama secara kretif, dengan
mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat
Indonesia sendiri.
c. Sebagai ideologi terbuka, pancasila harus mampu memberikan orintasi
kedepan, mengharuskan bangsa Indonesia untuj selalu menyadari situasi
kehidupan yang sedang dan yang akan dihadapinya, terutama globalisasi
dan keterbukaan.
d. Ideologi

pancasila

menghendaki

agar

bangsa

Indonesia

tetap

bertahandalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam wadah dan


ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
e. Dalam pandangan Moerdino, beberapa paktor yang mendorong pemikiran
Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut;
1) Dalam

peruses

pembangunan

nasional

berencana,

dinamika

masyarakat Indonesia berkembang cepat. Dengan demikian tidak


semua persoalan hidup dapat ditempuh jawabannya secara ideologis
dalam pemikiran ideologi-ideologi sebelumnya.
2) Kenyataan bangkrutnya ideologi tertutup seperti Maxsime-Leninisme/
komunisme. Dewasa ini kabu komunisme dihadapkan pada pilihan
yang amat berat, nenjadi suatu ideology terbuka atau tetap
mempertahankan ideologiy yang lama.
3) Pengalaman politik kita sendiri dengan pengaruh komunisme sangat
penting. Karena pengaruh idologi komunisme yang pada dasarnya
bersipat tertutup pancasila pernah merosot menjadi ancama dogama
yang kaku. Pancasila tadak lagi sebagai acuan bersama, melainkan
enjadi senjata konseptual, untuk menyerang lawan-lawn politik.
Kebijakan

pemaeintah

pada

saat

itu

menjadi

absolute.

Konsekuensinya perbedaan-perbedan tersebut dapat secar langsung


dicap sebagai anti-Pancasila.

4) Tekat kita yang menjadikan pancasila sebagai satu-satunya asas-asas


kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai catatan
istilah pancasila sebagai satu-satunya asas telah dicabut berdasarkan
keputusa MPR tahu 1999.
Namun pencabutan ini kita artikan sebagai pengembalian fungsi
Pancasila uatama Pancasila menjadi Dasar Negara. Dalam kedudukannya
sebagai dasar Negara Pancasila harus menjadi jiwa bangsa Indonesia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam perkembangan pancasila
sebagai ideologi terbuka. Disamping itu ada faktor lain yaitu tekat bangsa
Indonesia untuk menjadikan sebagai alternative ideologi dunia.
3. Perwujudan Pancasila sebagai Ideologi terbuka
Sebagai ideologi terbuka, Pancasila bisa menyelesaikan persoalan
yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Namun demikian faktor manusia baik
pengusaha maupun rakyat, sangat mengutamakan mengukur kemampuan
sebuah ideologi dalam menyelesaikan berbagai masalah. Sebaik apa pun
ideologi tanpa dukungaan dukungan sumber daya manusia yang baik,
hanyalah sebagai atopia atau angan-angan belaka.
Ideologi Pancasila harus bersifat feleksibel karena mengandung
nilai- nilai sebagai berikut:
a. Nilai dasar
Merupakan nilai-nilai dasar yang relative tetap (tidak berubah)
yang terdapat pada pembukaan UUD 1945. Nilai-nilai dasar Pancasila
(ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosail) akan
dijabarkan lebih lanjut sebagai nilai instrumental dan nilai praksis yang
bersifat fleksibel, dalam bentuk norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b. Nilai instrumental
Merupakan nilai-nilai lebih lanjut dari nilai dasar yang dijabaraka
lebih kertif dan dinamis yang dijabarkan dalam bentuk UUD 1945, tap
MPR, dan peraturan perundang-undangan lainnya
c.

Nilai praksis

Merupakan nilai yang sesungguhnya yang dipraktikan dalam


kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Nilai praktis yang abstrak diwujudkan dalam
siakap tingakah laku dan perbuatan sehari-hari. Dengan demikian nilai
tersebut dapat kita rasakan dan kita rasakan bersama.
4. Batas keterbukaan ideologi Pancasila
Suatu ideologi apapun namanya mempunyai nilai dasar intrinsik dan
instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang dirinya sendiri merupakan
tujuan. Seperangkat niali intrinsik (dasar) yang terkandung dalam setiap
ideologi terkandung aktif, artinya ia memeberi energi dan inspirasi kepada
setaiap penganutnya untuk menciptakan dan berbuat.
Dengan demikian niali intrinsik bersifat khas dan tiada duanya, dalam
ideolgi Pancasila yang dimaksud nilai intrinsik adalah ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan sosial. Sedangkan nilai
instrumental adalah penentu nilai amalan nilai intrinsik pada masa tertentu.
a. Batasan jenis pertama;
Bahwa yang boleh disesuaikan dan diganti hanyalah nilai instrumental,
sedangkan nilai dasar atau nilai intrinsiknya mutlak dilarang.
b. Batasan kedua, yang terdiri dari dua (2) norma:
1) Penyesuaian nilai instrumental pada kemajuan zaman harus dijaga
agar daya kerja nilai instrumental yang disesuaikan itu tetap memadai
untuk mengujutkan nilai intrinsik yang bersngkutan.
2) Nilai instrumental pengganti tidak boleh bertentangan dengan dengan
nilai recta nilai instrumental pengganti. Sebab bila bertentangan akan
bertentangan dengan nilai intrinsiknya.
E.

Pancasila Sebagai Ideologi Tertutup


Pancasila memberikan orientasi ke depan, mengharuskan bangsanya
untuk selalu menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya,
terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dunia dalam segala
bidang. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap bertahan
dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam ikatan Negara Kesatuan

Republik Indonesia, Berdasarkan hal tersebut Pancasila sebagai ideologi tertutup


pun tidak bisa diterapkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pengertian Ideologi tertutup adalah ideologi yang bersifat mutlak.
Dengan kata lain bahwa Ideologi tertutup merupakan ajaran atau pandangan
dunia atau filsafat yang menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma politik dan
sosial, yang ditasbihkan sebagai kebenaran yang tidak boleh dipersoalkan lagi,
melainkan harus diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus dipatuhi.
Adapun Ciri-ciri ideologi tertutup, adalah:
1. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan
cita-cita sebuah kelompok yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah
masyarakat.
2. Apabila kelompok tersebut berhasil menguasai Negara, ideologinya itu akan
dipaksakan pada masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma, dan berbagai segi
kehidupan masyarakat akan diubah sesuai dengan ideologi tersebut;
3. Bersifat totaliter, artinya mencakup/mengurusi semua bidang kehidupan.
Karena itu, ideologi tertutup ini cenderung cepat-cepat berusaha menguasai
bidang informasi dan pendidikan; sebab, kedua bidang tersebut merupakan
sarana efektif untuk mempengaruhi perilaku masyarakat.
4. Pluralisme pandagan dan kebudayaan ditiadakan, hak asasi tidak dihormati.
5. Menuntut masyarakat untuk memiliki kesetiaan total dan kesediaan untuk
berkorban bagi ideologi tersebut.
6. Isi ideologi tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita, tetapi tuntutan-tuntutan
konkret dan operasional yang keras, mutlak, dan total.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut pancasila sebagai dasar negara mempunyai
sifat imperatif atau memaksa serta memiliki nilai nilai luhur yang terkandung
dalam pancasila yang bersifat obyektif subyektif. Bagi bangsa indonesia
hakikat yang sesungguhnya dari pancasila adalah sebagai pandangan hidup
bangsa dan sebagai dasar negara. Kedua pengertian tersebut sudah selayaknya
kita pahami akan hakikatnya. Selain dari pengertian tersebut, pancasila memiliki
beberapa sebutan yang berbeda.
Defenisi dari ideologi adalah suatu istilah yang digunakan untuk
sekelompok cita-cita mengenai berbagai macam masalah politik ekonomi filsafat
sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu
cita-cita yang dijalankan oleh sekelompok atau lapisan masyarakat Pancasila
sebagai ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem pemikiran terbuka yang
dimana memiliki ciri-ciri ideologi dan fungsi ideologi sesuai bidangnya.
Pancasila sebagai ideologi memiliki dua ciri yaitu ideologi terbuka dan ideologi
tertutup.

B.

Saran
Makalah yang kami susun semoga bisa membantu kita lebih memahami
tentang pancasila sebagai ideologi negara yang lebih mendalam. Mohon
permakluman dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat banyak
kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu yang
sempurna yang bisa manusia ciptakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.negeripesona.com/2015/04/pengertian-ideologi-terbuka-dantertutup.html
http://www.academia.edu/6194372/MAKALAH_PANCASILA_SEBAGAI_IDEOL
OGI_TERBUKA
https://fixguy.wordpress.com/makalah-pancasila-sebagai-ideologi-terbuka-dankaitannya-dengan-penegakan-supremasi-hukum/
http://kehidupansaatini.blogspot.co.id/2015/08/hakikat-pancasila-sebagaiideologi.html
http://putriayumawarni.blogspot.co.id/2013/09/makalah-pkn-pancasila-sebagaiideologi.html
https://www.scribd.com/upload-document?archive_doc=293712087&escape=false&
metadata=%7B%22context%22%3A%22archive_view_restricted%22%2C
%22page%22%3A%22read%22%2C%22action%22%3A
%22toolbar_download%22%2C%22logged_in%22%3Atrue%2C
%22platform%22%3A%22web%22%7D

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas anugerah-Nya


sehingga penyusun dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Pancasila
Sebagai Ideologi Terbuka. Tak lupa pula sholawat dan salam tercurah untuk junjung
besar Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan kita ketenangan dan kedamaian
untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
Makalah ini berisi tentang penjelasan Ideologi Pancasila sebagai Dasar
Negara sebagai ideologi terbuka. Adapun tujuan dari penyusunan Makalah ini selain
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Guru Pembimbing Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan, juga untuk lebih memperluas pengetahuan para siswa
dan siswi khususnya bagi penulis. Tak lupa pula penyusun mengucapkan rasa terima
kasih yang sebesar-besar kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga
tersusunnya makalah ini.
Penulis telah berusaha untuk dapat menyusun Makalah ini dengan baik,
namun penulis pun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan kami
sebagai manusia biasa. Oleh karena itu jika didapati adanya kesalahan-kesalahan
baik dari segi teknik penulisan, maupun dari isi, maka kami memohon maaf dan
kritik serta saran dari dosen pengajar bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh
kami untuk dapat menyempurnakan makalah ini terlebih juga dalam pengetahuan
kita bersama. Harapan ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................

KATA PENGANTAR ..........................................................................................

ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

C. Tujuan .............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Hakikat Pancasila Sebagai Dasar Negara .......................................

B. Pancasila Sebagai Dasar Negara ....................................................

C. Pancasila Sebagai Ideologi Negara ................................................

D. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka ...............................................

E. Pancasila Sebagai Ideologi Tertutup ..............................................

14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................

15

B. Saran ...............................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA

TUGAS PKN
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

Disusun oleh :
NAM
A

KELA
S

: 1
.
2
.
3
.
4

AMINAH
EGA
GUSTIANA
MELSI
JANUARSI
HENGKI
SATRIA

.
: XII IPS2

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMAN 03 PONDOK KELAPA


Tahun Ajaran 2016-2017

Anda mungkin juga menyukai