Anda di halaman 1dari 2

38

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Anatomi dan fisiologi sistem bilier meliputi empedu yang diproduksi oleh
sel-sel hati memasuki kanalikuli empedu yang kemudian menjadi duktus
hepatika kanan dan kiri, duktus hepatika menyatu untuk membentuk
duktus hepatik komunis yang kemudian menyatu dengan duktus sistikus
dari kandung empedu dan keluar dari hati sebagai duktus empedu
komunis, dan duktus empedu komunis, bersama dengan duktus pankreas.
Bermuara di duodenum atau dialihkan untuk penyimpanan di kandung
empedu (Sloane, 2004).
2. Definisi cholelitiasis adalah batu empedu, biasanya dibentuk di dalam
kandung empedu dari bahan bahan padat empedu dan sangat bervariasi
dalam hal bentuk, ukuran, dan komposisinya (Baradero et al, 2008).
3. Etiologi dari cholelitiasis adalah metabolic, stasis empedu dalam vesika
felea, dan inflamasi pada system bilier (Baradero et al., 2008).
4. Manifestasi klinis dari cholelitiasis adalah menunjukkan gejala gejala
gangguan pada gastrointestinal ringan, distress epigastrik, kandung
empedu mengalami distensi dan akhirnya terinfeksi, ikterik, urine
berwarna sangat gelap dan feses warna pucat, defisiensi vitamin A D E K
(Smeltzer & Bare, 2000).
5. Patofisiologi dari cholelitiasis adalah cholelitiasis mengacu pada batu
saluran empedu yang kebanyakan terbentuk dalam kandung empedu itu
sendiri.. Manifestasi klinis batu empedu bergerak dapat menyumbat duktus
biliaris

komunis. Obstruksi ini menimbulkan

nyeri

(kolik) dan

menghalangi empedu keluar (Tambayong, 2000).


6. Pemeriksaaan penunjang dari cholelitiasis adalah tes laboratorium (lekosit,
bilirubin, amylase serum, dan protrombin) dan tes radiologi (USG,
endoscopic,

PTC,

(Doengoes, 2000).

cholecystogram,

CT-scan,

dan

foto

abdomen)

39

7. Penatalaksanaan

dari

cholelitiasis

meliputi

penatalaksanaan

non-

pembedahan, diit dan suportif, farmakoterapi, lipotripsi, dan pembedahan


8. Komplikasi yang umum dijumpai pada kasus cholelitiasis adalah
kolesistitis akut, pankreatitis akut, emfiema dan perforasi kandung empedu
(Gustawan et al, 2007). Bilotta (2012) menambahkan bahwa komplikasi
dari cholelitiasis adalah kolangitis, kolesistitis, koledokolitiasis, dan ileus
batu empedu.
9. Prognosis dari cholelitiasis adalah untuk penderita dengan ukuran batu
yang kecil, pemeriksaan serial USG diperlukan untuk mengetahui
perkembangan dari batu tersebut. Batu bisa menghilang secara spontan.
Untuk batu besar masih merupakan masalah, karena merupakan risiko
terbentuknya karsinoma kandung empedu (ukuran lebih dari 2 cm). Pada
anak yang menderita penyakit hemolitik, pembentukan batu pigmen akan
semakin memburuk dengan bertambahnya umur penderita, dianjurkan
untuk melakukan kolesistektomi (Gustawan et al, 2007).
5.2 Saran
a. Bagi mahasiswa supaya memberikan asuhan keperawatan yang tepat
kepada pasien dengan cholelitiasis sesuai dengan perkembangan ilmu
b. Bagi institusi agar dapat mengembangkan konsep asuhan keperawatan
pada pasien dengan cholelitiasis.
c. Bagi tenaga kesehatan agar menerapkan asuhan keperawatan yang tepat
kepada pasien dengan cholelitiasis sesuai dengan perkembangan ilmu