Anda di halaman 1dari 85

1

KATA PENGANTAR

Alhamdullillah puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang


Maha Kuasa atas segala berkat dan anugrah yang telah diberikan
kepada

penyusun,

sehingga

Buku

Pedoman Pemberian Informasi,

Edukasi dan Pemasaran RSI.Assyifa Kota sukabumi ini dapat selesai


disusun.
Buku ini merupakan pedoman kerja bagi semua pihak yang terkait
dalam memberikan pelayanan kepada

pasien

di

RSI.Assyifa Kota

sukabumi. Dalam buku pedoman ini diuraikan tentang pengertian,


ruang

lingkup

dan

tatalaksana

dalam

memberikan

informasi,

edukasi atau pendidikan kesehatan kepada pasien dan pemasaran di


RSI.Assyifa Kota sukabumi.
Buku pedoman ini disusun atas kerjasama dan masukan berbagai
pihak, Oleh sebab itu pada kesempatan ini penyusun tidak lupa
menyampaikan

ucapan

kepada

semua

pihak

Buku

Pedoman

terima
yang

Pemberian

kasih

ikut

yang

sedalam- dalamnya

berkontribusi

Informasi,

Edukasi

atas
dan

tersusunnya
Pemasaran

RSI.Assyifa Kota sukabumi

Penyusun

BAB I

PENDAHULU
AN

1.1 LATAR BELAKANG


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dalam Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik, sejahtera, dan sehat, serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam
Pasal 3 menyatakan bahwa

Pembangunan

kesehatan

bertujuan

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup


sehat

bagi

setiap

masyarakat

orang

yang

agar

terwujud

setinggi-tingginya,

derajat

sebagai

kesehatan

investasi

bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan


ekonomis. Selanjutnya dalam Pasal 46 dinyatakan bahwa untuk
mewujudkan

derajat

kesehatan

yang

setinggi-tingginya

masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang


menyeluruh

dalam

upaya kesehatan

bentuk

upaya

masyarakat.

dalam

bentuk

kegiatan

kuratif,

dan

rehabilitatif

kesehatan

Upaya

yang

terpadu

dan

perseorangan

dan

kesehatan

dengan pendekatan

bagi

diselenggarakan

promotif,

dilaksanakan

preventif,

secara

terpadu,

2009,

merupakan

menyeluruh, dan berkesinambungan.


Dalam

Sistem

Kesehatan

Nasional

(SKN)

penyesuaian dari SKN 2004, yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri


Kesehatan Nomor 374/Menkes/SK/V/2009, dinyatakan

bahwa

salah

satu subsistem dari SKN adalah subsistem upaya kesehatan. Upaya


kesehatan

merupakan

salah

satu

unsur

kesehatan. Sedangkan pelayanan kesehatan

dalam

subsistem

upaya

yang

dimaksud

adalah

Pelayanan Kesehatan meliputi peningkatan pencegahan, pengobatan


3

dan

pemulihan,

baik

pelayanan

kesehatan

konvensional

maupun

pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan


komplementer

melalui

pendidikan

dan

pelatihan

dengan

selalu

upaya

yang

mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi.


Upaya

kesehatan

mempunyai

daya

diutamakan
ungkit

pada

tinggi

berbagai

dalam

pencapaian

sasaran

pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan, antara lain ibu,


bayi, anak, manusia usia lanjut, dan keluarga miskin.
Undang-Undang

Nomor

44

Tahun

Sakit dalam Pasal 1 menyebutkan


sakit

2009

tentang

pengertian

Rumah

rumah

yaitu institusi pelayanankesehatan

menyelenggarakan

pelayanan

kesehatan

yang

perorangan

secara

paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan


gawat darurat. Selanjutnya dikatakan bahwa Pelayanan Kesehatan
Paripurna

adalah

pelayanan

kesehatan

yang

meliputi

promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif.


Mengacu

kepada

peraturan

atas,

kiranya

harus

dilaksanakan

perundang-undangan

dapat dinyatakan
upaya

bahwa

peningkatan

di

tersebut

setiap

rumah

di

sakit

kesehatan, salah satunya

melalui kegiatan promosi kesehatan


1.2. PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN
Sebagaimana

tercantum
dalam
Menteri Kesehatan

1114/Menkes/SK/VIII/2005

tentang

Kesehatan di Daerah, promosi


meningkatkan

kemampuan

oleh,

dan

untuk,

menolong

diri

sendiri,

Pedoman

kesehatan

masyarakat

bersama

Keputusan
Nomor
adalah

Promosi

upaya

untuk

melalui pembelajaran dari,

masyarakat,

serta

Pelaksanaan

agar

mengembangkan

mereka
kegiatan

dapat
yang

bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan


4

didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong


diri sendiri artinya

masyarakat

mampu

kesehatan

potensial

masalah-masalah
dengan

cara

mencegahnya,

dan

menghadapi
(yang mengancam)

mengatasi

masalah-masalah

kesehatan yang sudah terjadi dengan cara menanganinya secara


efektif serta efisien. Jadi dengan kata lain, masyarakat mampu
berperilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka memecahkan
masalah- masalah kesehatan yang dihadapinya (problem solving), baik
masalah-masalah kesehatan yang sudah
potensial

(mengancam),

secara

diderita

mandiri

maupun

(dalam

yang

batas-batas

tertentu).
Jika definisi itu diterapkan di rumah sakit, maka dapat dibuat
rumusan sebagai berikut: Promosi Kesehatan oleh Rumah Sakit (PKRS)
adalah upaya rumah sakit untuk meningkatkan kemampuan pasien,
klien,

dan

kelompok-kelompok

mandiri dalam
klien

dan

mempercepat
kesehatan,

mengembangkan

masyarakat,
mereka,

kesembuhan

kelompok-kelompok masyarakat

meningkatkan
dan

masyarakat,

mencegah
upaya

agar
dan

dapat

pasien

dapat

rehabilitasinya,
mandiri

dalam

masalah-masalah kesehatan,

kesehatan

bersumber

daya

melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama

sesuai

sosial

budaya

mereka,

serta didukung kebijakan

publik yang berwawasan kesehatan.

1.3. BATASAN OPERASIONAL


Pelayanan Promosi Kesehatan Rumah Sakit merupakan upaya
pelayanan

kesehatan untuk

klien

kelompok-kelompok

dan

mandiri
klien

dalam

mempercepat

dan kelompok-kelompok

meningkatkan
masyarakat,
kesembuhan
masyarakat

kemampuan

pasien,

agar pasien

dapat

dan
dapat

rehabilitasinya,
mandiri

dalam

meningkatkan kesehatan, mencegah masalah-masalah kesehatan,


5

dan

mengembangkan

upaya

kesehatan bersumber

daya masyarakat, melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan


bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka

serta

didukung

kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Pelaksanan promosi


kesehatan

di

pemberdayaan,

rumah
bina

sakit

dengan

suasana

cara

menerapkan

strategi

dan advokasi yang efektif melalui

pendekatan individu, kelompok, dan massa.

1.4. RUANG LINGKUP PROMOSI KESEHATAN


Pada dasarnya banyak sekali tersedia peluang untuk melaksanakan
promosi kesehatan di rumah sakit. Secara umum peluang itu dapat
dikategorikan sebagai berikut.
a. Di dalam gedung
Di

dalam

dengan

gedung

rumah

pelayanan

sakit,

PKRS

yang diselenggarakan

dilaksanakan
rumah

seiring

sakit.

Oleh

karena itu dapat dikatakan bahwa di dalam gedung, terdapat


peluang-peluang:
1. PKRS di ruang pendaftaran/administrasi, yaitu di ruang di
mana pasien/klien harus melapor/mendaftar sebelum
mendapatkan pelayanan rumah sakit.
2.

PKRS dalam pelayanan rawat jalan bagi pasien, yaitu di


poliklinik-poliklinik

seperti'

poliklinik

kebidanan

dan

kandungan, poliklinik anak, poliklinik mata, poliklinik bedah,


poliklinik penyakit dalam, poliklinik THT, dan lain-lain.
3.

PKRS dalam pelayanan rawat inap bagi pasien, yaitu di


ruang-ruang rawat darurat, rawat intensif, dan rawat inap.

4.

PKRS
yaitu

dalam

pelayanan

terutama

laboratorium,

dan

di

penunjang

medik

bagi

pelayanan obat/apotik,

pelayanan

rehabilitasi

pasien,

pelayanan

medik,

bahkan

juga kamar mayat.


5. PKRS

dalam

pelayanan

bagi

klien

(orang

sehat),

yaitu

seperti di pelayanan KB, konseling gizi, bimbingan senam,


pemeriksaan

kesehatan

(check

up),

konseling kesehatan

jiwa, konseling kesehatan remaja, dan lain-lain.


6. PKRS di ruang pembayaran rawat inap, yaitu di ruang di mana
pasien rawat inap
Harus menyelesaikan pembayaran biaya rawat inap, sebelum
7

meninggalkan
rumah sakit.

b. Di luar gedung
Kawasan luar gedung rumah sakitpun dapat dimanfaatkan secara
maksimal untuk PKRS, yaitu:
1. PKRS di Tempat Parkir,

yaitu pemanfaatan ruang yang

ada di lapangan/gedung parkir sejak dari bangunan gardu


parkir sampai ke sudut-sudut lapangan gedung parkir.
2. PKRS di taman rumah sakit, yaitu baik taman-taman
yang ada di depan, samping/sekitar maupun di
dalam/halaman dalam rumah sakit.
3.

PKRS di dinding luar rumah sakit.

4.

PKRS di tempat-tempat umum di lingkungan rumah


sakit misalnya tempat ibadah yang tersedia di rumah
sakit

(misalnya

masjid

atau

musholla)

dan

di

kantin/toko-toko/kios-kios.
5. PKRS di pagar pembatas kawasan rumah sakit

1.5. MANFAAT
Sebagai
Kesehatan

pedoman
dan

penatalaksanaan

pelayanan

Promosi

pemasaran Rumah Sakit di RSI.Assyifa Kota

sukabumi dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang


berkualitas.
1.6. LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara
Nomor

144,

Republik

Indonesia

Tahun

2009

Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5063);


2. Undang-Undang

Nomor

Rumah Sakit (Lembaran

44

Tahun

Negara

2009 tentang
Republik

Indonesia
9

Tahun

2009

Nomor

153, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5072);


3.
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan.
4.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

RI

Nomor

1193/Menkes/SK/X/2004 tentang
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan;
5.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

1114/Menkes/SK/X/2004 tentang
Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah;
6.

Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 004

tahun
2012 tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit
7.
Surat
Keputusan
Nomor.267/Menkes/SK/II/2010

Menteri

Kesehatan

RI

tentang Penetapan Road Map Reformasi Kesehatan


Masyarakat.
8.

Surat

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RINomor.659/Menkes/Per/VIII/2009
tentang Rumah Sakit Indonesai Kelas Dunia( World Class
Hospital ).

10

BAB
II
STANDAR KETENAGAAN
2.1. KUALIFIKASI SDM.
Oleh karenan luasnya lingkup promosi kesehatan yang harus
dilaksanakan di RS, maka pelaksanaan PKRS bukanlah kegiatan yang
berdiri sendiri, melainkan kegiatan

terdepan yang harus

terpadu

dengan kegiatan-kegiatan lainnya ( terintegrasi ) pada setiap level


manajemen dan setiap program yang ada di RSI.Assyifa, Oleh sebab
itu maka kegiatan PKRS dilaksanakan oleh tenaga/petugas
sakit

yang

berkompetensi

di

bidangnya

rumah

masing-masing.

Sehingga dengan demikian tugas pokok dan fungsi ( Tupoksi )


PKRS

melekat

berkompetensi
Kesehatan dan
memfasilitasi

pada
di

rumah

bidangnya

masing-masing.

Pemasaran

bertugas

dan

penyelengaraan

tenaga/petugas

dan

mengkoordinasikan
pengembangan

sakit

Instalasi

yang
Promosi

mensosialisasikan,
serta mengevaluasi

promosi

kesehatan

di

RSI.Assyifa . Koordinasi pelaksanaan PKRS dapat dilakukan terutama


dengan DPJP/medical information, keperawatan ( bidan dan perawat ),
fisioterapi, Customer service (CS), gizi, farmasi, rekam medik, Panitia
Pengendali Infeksi (PPI), penunjang dan seluruh jajaran unit pelayanan
Rumah Sakit. Adapun pola dan kualifikasi minimal tenaga PKRS dapat
dilihat pada table berikut.
Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Tenaga Promosi Kesehatan
Rumah Sakit
No
1.
2.

Nama Ketenagaan

Kualifikasi Formal
(Minimal)
Medical Information
S1 Kedokteran
(DPJP
)
Umum/Spesialis
1
Keperawatan/Kebidanan
D3 Keperawatan/Kebidanan

Ket

11

3.

Fisioterapi

D3/D4 Rehabilitasi Medik

4.

Customer Service

S1 Komunikasi

5.

Gizi

D3/S1 Gizi

6.

Pelayanan Farmasi

S1 Farmasi

7.

Rekam Medik

D3 RM

8.

Panitia Pengendalian
Infeksi
RS
Marketing

S1 Kedokteran Umum/D3
Kep
S1 Marketing

9.

10 Penunjang

D3/D4 Analis/D3 Penata


Rontgen
S1 Kedokteran

2.2. DISTRIBUSI KETENAGAAN


Oleh karena kegiatan PKRS
lainnya(

terintegrasi)

pada

terpadu dengan

setiap

level

kegiatan-kegiatan

manajemen

dan

setiap

program yang ada di RSI.Assyifa, maka dalam pelaksanaan promosi


kesehatan rumah sakit, tenaga tersebut di atas akan terdistribusi
sesuai

dengan

unit

pelayanan

dimana

promosi

kesehatan

dilaksanakan atau dibutuhkan pasien antara lain:


a.

Dalam

RS:

penunjang:
Customer

Di
di

Rawat
ruangan

Service,

Jalan,

Rawat

Inap,

IGD

admission/ penerimaan

Marketing,

promkes, ruangan konsultasi,

Rekam

Medical

Medik,

dan

pasien,
ruangan

Information,

keperawatan/kebidanan, Fisisotherapi dan ruangan pelayanan


farmasi.
b.
Di luar RS: Tenaga akan terdistribusi sesuai kebutuhan dan
pelaksanaan
promkes luar RS.

12

BAB III
STANDAR
FASILITAS
3.1. DENAH RUANGAN
Pusat ruangan penyuluhan PKRS dapat digunakan oleh setiap
tenaga

yang

akan melaksanakan

PKRS

dan

terletak

disebelah

ruangan admission rawat jalan dan customer service unit. Suasana


dalam ruang PKRS dibuat sedemikian rupa sehingga tenang dan
kondusif
dalam menyampaikan informasi dan promosi kesehatan bagi pasien
dan klien.

13

3.2. STANDAR FASILITAS


Sesuai

dengan

standar

sarana

Rumah sakit yang dianjurkan oleh


Kemeterian Kesehatan RI,

peralatan
Pusat

promosi
Promosi

Kesehatan
Kesehatan

jenis sarana dan peralatan yang mesti

ada di Unit atau ruangan PKRS adalah sebagai berikut:

Tabel: Standar Sarana Peralatan Promosi Kesehatan Rumah


Sakit
NO

JENIS SARANA / PERALATAN

JUMLA KETERANG
H
AN
1
buah
1 set

Over Head Projector (OHP)

2
3

Ampifier & wireless microphone,speaker


(stp ruangan)
Layar yang dapat digulung

Kamera foto

Cassette recorder/player

TV ditiap ruang tunggu & ruang Promosi


Kesehatan *
VCD/DVD player ditiap ruang tunggu &
ruang promkes*
Computer/printer

1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
1 set

Laptop/LCD proyector untuk persentasi

1 set

10 Gadgets kelengkapan laptop untuk


persentasi
11 Public Address System (PSA/Megaphone)
Berbagai Media Promkes: Spanduk,
12 benner, liflet, lembar praga,
CD dll

1 set
1
buah
Sesuai
kebutu
han

10
Penyakit
Terbanya

14

BAB
IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
4.1. TEMPAT DAN JAM PELAYANAN.
4.1.1. Tempat Pelayanan
a.

Pelayanan Promosi Kesehatan dilakukan di Instalasi Rawat


Inap, Instalasi Rawat Jalan (Lantai 1, 2 dan 3 rawat jalan),
UGD dan penunjang

RSI.Assyifa pada saat jam pelayanan

berlangsung.
b. Selain itu apabila ada tenaga medis yang berkualifikasi
dan

terkait

maka

pelayanan

informasi

medis yang

dapat

dibutuhkan

diberikan

oleh

pasien,

tenaga

medis

tersebut dan diberikan pada saat dibutuhkan pasien.


4.1.2.

Jenis Pelayanan

Informasi

medis

(sepuluh)

tertulis

penyakit

yang

terbanyak

diberikan

meliputi 10

di RSI.Assyifa. Pemberian

promosi kesehatan dapat dilaksanakan di setiap Instalasi


pelayanan

di

rumah

sakit

oleh

personal

medis

yang

berkompetensi dibidang tersebut terutama rawat inap, rawat


jalan,

penunjang medis,

fisioterapi,

Informasi diluar kategori 10


disampaikan secara
lain

yang

(sepuluh)

lisan oleh

berkompeten

farmasi dan lain-lain.

tenaga

penyakit

terbanyak

medis atau

di bidangnya

baik

tenaga

diseluruh

instalasi rumah sakit maupun disuatu ruangan PKRS khusus.


4.2

Tatalaksana
Promosi

Kesehatan

Rumah

Sakit

dilaksanakan

oleh
15

tenaga

rumah

sakit

yang berkompeten di bidangnya terdiri dari; tim medis dan


non medis yang berperan dalam menyediakan, menyampaikan
informasi medis dan non medis serta mengedukasi pasien
rumah sakit mengenai kondisi yang berhubungan dengan
penyakit pasien di area rumah sakit, yaitu rawat inap (saat
dirawat dan sebelum pasien pulang), rawat jalan, IGD dan
penunjang medis.

Pelayanan PKRS terdiri dari pelayanan

promosi kesehatan dan informasi yang berhubungan dengan


pasien dari unit-unit PKRS yang terintegrasi. Unit- unit tersebut
adalah customer sevice (CS), Medical Information for patien
Care (MIPC), Gizi,

Keperawatan

(perawatan dan bidan),

Fisioterapi (Ft), Farmasi, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


(PPI), Rekam Medis (RM), dan Marketing.
4.3. Tujuan PKRS
a. Tujuan Umum
Terciptanya

masyarakat

rumah

sakit

yang

menerapkan

perilaku yang posistif di bidang kesehatan ( PHBS/Perilaku


Hidup Bersih dan Sehat ) melalui perubahan pengetahuan,
sikap

dan

rumah
rumah

tindakan

sakit
sakit

lainnya,
dan

perilaku

pasien

serta terpeliharanya

termanfaatkannya

dengan

atau

klien

lingkungan
baik

semua

pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit.


b. Tujuan Khusus.
1) Tujuan PKRS di Rawat Inap.
Memberikan edukasi dan informasi kepada pasien yang
perlu

penjelasan

lebih dalam

mengenai

penyakitnya

pada saat awal perawatan, selama perawatan dan ketika


pasien akan pulang.
2) Tujuan PKRS di Rawat Jalan.
16

a) Memberikan

edukasi

dan

pasein mengenai

informasi

kepada

kondisi penyakitnya dan

memberikan saran medis dan pemeriksaan


diagnostic ( laboratorium dan radiologi ) yang
menunjukan ketepatan diagnosa pada pasien tersebut.
b) Merujuk pasien kepada dokter spesialis yang berkompeten
menangani penyakit pasien tersebut.
c) Membuat resume medis pasien.
4.4. Alur
Pelayanan.
a. Rawat
Inap.
1) Apabila pasien baru masuk ke dalam kategori 10 penyakit
terbanyak di ruang rawat inap

RSI.Assyifa,

perawat

mengidentifikasi kebutuhan informasi dan edukasi yang


dibutuhkan oleh pasien sebagai edukasi kolaboratif yaitu
pemberian edukasi kepada pasien

yang

membutuhkan

informasi lebih dari satu sub unit PKRS yaitu customer


service,

medical

keperawatan,
memastikan

information,

PPI, dan Gizi.

farmasi,

fisioterapi,

Hal ini dimaksudkan untuk

informasi dan

edukasi

yang

kepada pasien secara baik di rawat inap,

diberikan

sesuai dengan

kondisi penyakitnya dan diberikan secara holistik. Maka


petugas

memberikan

edukasi

sesuai

SPO

pemberian

edukasi
koloboratif.
2) Apabila pasien baru tidak masuk kedalam kategori 10
penyakit
DPJP

terbanyak

atau

dokter

maka edukasi
ruangan

atau

diserahkan
petugas

kepada

PKRS

yang

terkait.
17

3)

Apabila
di

pasien

ruang

dan

rawat

keluarga

yang

sedang

dirawat

inap membutuhkan informasi yang lebih

dalam mengenai perjalanan penyakit, evaluasi, rencana


terapi

dan

bantuan

lain-lain,

maka

perawat

dapat

meminta

DPJP/dokter ruangan atau petugas PKRS yang

terkait.
4) Apabila pasien sudah diperbolehkan pulang oleh DPJP, maka
pemberian informasi akan diberikan sesuai dengan poin 1-3
diatas (apabila masih membutuhkan).
5)

Pemberi informasi medis dan edukasi yang berhubungan


dengan clinical pathway adalah dokter ruangan/DPJP dan
informasi pulang pasien dapat diberikan oleh perawat.

6) Setiap pasien yang diedukasi WAJIB di catat nama,


nomor rekam medik,
DPJP, diagnosa dan kode leaflet pemberian edukasi (bila
tersedia) atau
ringkasan poin- poin edukasi secara tertulis apabila tidak
terdapat dalam
leaflet yang tersedia.
7) Pemberian edukasi dan informasi dilaksanakan sesuai
dengan SPO
Pemberian Edukasi Koloboratif.
8) Pencatatan pasien yang tereduksi sesuai dengan SPO
pencatatan Logbook.
9) Pemberian edukasi harus dilakukan selambat-lambatnya
1x24 jam dari waktu
DPJP mendiagnosa pasien.
10) Apabila pertanyaan pasien tidak dapat dijawab saat itu
juga oleh

DPJP,

terkait,

maka

adalah

sebagai

dokter ruangan
jawaban
berikut:

atau

petugas

PKRS

standar

yang

akan

diberikan

Saya

belum

ada

jawaban
18

mengenai

pertanyaan

tersebut namun akan

saya

konfirmasikan kepada dokter spesialis yang merawat


anda dan akan

saya

sampaikan

pertanyaan

anda secepatnya.

jawaban
Mohon

memberikan nomor telepon yang dapat dihubungi.


11) Disetiap unit terkait akan disediakan 1 (satu) folder berisi
lembar edukasi dari unit yang bersangkutan, dijaga agar tetap
tersedia ( 50 lembar per materi/bulan ).
12) Setiap edukasi yang diberikan pada pasien dirawat inap
didokumentasikan
pada Form Catatan Edukasi dan Perencanaan Pasien
Pulang Terintegrasi A.
b.Rawat jalan.
1) Apabila

pasien

rawat

jalan

yang

datang

berobat

masuk kategori 10 penyakit terbanyak, maka di ruang


rawat

jalan

RSI.Assyifa,

perawat

mengidentifikasi

kebutuhan informasi dan edukasi yang dibutuhkan oleh


pasien

sebagai

edukasi

kepada

lebih

edukasi
pasien

koloboratif yaitu
yang

pemberian

membutuhkan

informasi

dari satu sub-unit PKRS yaitu custumer service,

medical informasi, farmasi, fisioterapi, keperawatan,

PPI

dan gizi. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan informasi


dan edukasi yang diberikan kepada pasien di jalan, sesuai
dengan kondisi penyakitnya dan diberikan secara holistik.
Maka

petugas

akan

memberikan

edukasi

sesuai

SPO

pemberian edukasi koloboratif.


2) Apabila pasien datang pada saat jam kerja ( Senin-Sabtu ),
Pukul 08.00-14-00 maka pasien dapat dijelaskan secara
verbal

dan

diberikan

leafleat

edukasi

sesuai

dengan

penyakit oleh petugas PKRS terkait.


3) Apabila pasien datang diluar jam kerja seperti tertera
19

diatas, maka pasien akan mendapatkan informasi tertulis


(laeflet) dan verbal oleh perawat unit terkait (IGD).
4) Apabila pasien ingin dijelaskan lebih dalam mengenai
informasi terkait penyakitnya oleh petugas tertentu, maka
pasien pasien diharuskan membuat perjanjian pada jam
kerja berikutnya.
5) Apabila

pasien

terbanyak

maka

tidak

masuk

informasi

ke

akan

dalam

10

diberikan

penyakit

oleh

DPJP

terkait/dokter jaga atau dokter medical information (Pada


jam kerja).
6) Apabila pasien rawat
rencana

diagnosa

jalan datang untuk menanyakan

atau konsultasi awal mengenai kondisi

penyakitnya tanpa berobat, maka informasi akan diberikan


oleh

dokter

medical

information

sesuai

dengan

SPO

pemberian edukasi.
7) Setiap edukasi yang diberikan pada pasien dirawat inap
didokumentasikan
pada
Form Catatan Edukasi dan Perencanaan Pasien Pulang
Terintegrasi B.

20

ALUR PELAYANAN PROMOSI KESEHATAN


RUMAH SAKIT ISLAM ASSYIFA
KOTA SUKABUMI JAWA BARAT
Pasien Masuk

Penyakit Lainnya
10 Penyakit Terbanyak

Diagnosa DPJP
Diagnoa DPJP

Rawat Inap
Rawat Jalan

PROMOSI KESEHATAN

Unit
PKRS

DPJP

Ruangan

Terkait
Dokter
DPJP/Ruangan
Clinical

Materi
Edukasi

Pathway

Dokter

Unit
PKRS
terkait
Terkait

Edukasi
Pulang

Formulir
n
asi

Formulir
Pemberian
Edukasi
Terintegrasi
A
LOGBOOK
Unit
Terkait
LOGBOOK
Unit
Terkait

Pemberia
Edukasi
Terintegr
B

LOGBOOK
Unit
Terkait
A

L
O
G
B
O
O
K

21

U
n
i
t
T
e
r
4.5. Unit dan TenagaTerkait Promosi
Kesehatan RS
k
Unit dan tenaga terkait yang banyak
terlibat dalam alur pelayanan
a
i DPJP, dokter ruangan, customer
promosi kesehatan RS meliputi
t
O
service (CS), Medical information
for patien Care (MIPC), Gizi,
G
Keperawatan
(perawat Bdan bidan), Fisioterapi (Ft), dan
O
O
penunjang lainnya yang semuanya
ini saling bekerjasam demi
K
terciptanya alur pelayanan PKRS yang maksimal di RSI.Assyifa.
U
n
i
t
4.6. Panduan Pelayanan Medical
T
Information
e
r
a. Pengertian
k
Medical information for patient
care (informasi medis) adalah
a
i
suatu
tim
medis
yang
berperan dalam menyediakan,
t
menyampaikan informasi medis penyakit pasien (awal di rawat,
selama dirawat dan sebelum pasien pulang ). Tim tersebut
merupakan titik akhir pelayanan tim medis RSI.Assyifa.
b.

Ruang Lingkup
Instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, UGD, dan penunjang.

c.

Tujuan :
1) Memberikan edukasi dan informasi kepada pasien rawat
jalan dan pasien rawat inap yang perlu penjelasan lebih
dalam tentang penyakitnya dan pada saat pasien akan
pulang tentang tata
apa

yang

cara perawatan dirumah seperti :

harus dilakukan, apa yang harus dihindari,

jadwal kontrol kembali, tata cara minum obat, perubahan


prilaku dan gaya hidup, dan lain-lain.
2) Informasi yang disediakan oleh medical information dan
dapat diberikan
oleh DPJP/dokter jaga kepada pasien adalah sebagai berikut :
a) Daily plan Cedera Kepala dan Geger Otak (lihat MI.01)
b) Daily plan Kanker Payudara (lihat MI.02)

c) Daily plan Bronkopneumonia (lihat MI.03)


d) Daily plan Gagal Jantung Kongestive (lihat MI.04)
e) Daily plan Syndroma Nephritik (lihat MI.05)
f) Daily plan Demam typhoid (lihat MI.06)
g) Daily plan Demam berdarah (lihat MI.07)
h) Daily plan Diare dan gastroenteritis (lihat MI.08)
i) Daily plan Stroke iskemik (lihat MI.09)
j) Daily plan Asthma (lihat MI.010)
k) Daily plan Hipertensi (lihat MI.011)
l) Daily plan Dibetes Mellitus (lihat MI.012)
m) Daily plan caesarian section (lihat MI.013)
n) Daily plan Dyspepsia (lihat MI.014)
o) Daily plan Nyeri Abdomen (lihat MI.015)
p) Daily plan Tumor Jinak Payudara (lihat MI.016)
q) Daily plan Gagal Ginjal (lihat MI.017)
r) Daily Plan Chirosis Hati (lihat MI.018)
s) Daily Plan TBC (lihat MI.019)
t) Daily Plan Leukemia (lihat MI.020)
u) Daily Plan Penyakit Jantung Koroner (lihat MI.021)
v) Daily Plan Hemorrhoidectomy (lihat MI.022)
Informasi yang disediakan oleh medical information dan dapat
diberikan oleh perawat kepada pasien adalah sebagai berikut :
1) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Cedera Kepala
dan Geger
Otak (lihat EP.01)
2) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Kanker Payudara
(lihat EP.02)
3) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan
Bronkopneumonia(lihat EP.03)
4) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Gagal

Jantung Kongestive(lihat
EP.04)
5) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Syndroma
Nephritik(lihat EP.05)
6) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan demam tifoid
(lihat EP.06)
7) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan demam
dengue/dema berdarah dengue (lihat EP.07)
8) Panduan pasien pulang post perawatan diare (lihat EP.08)
9) Panduan pasien pulang post perawatan stroke iskemik (lihat
EP.09)
10) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Asthma lihat
EP.010)
11) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Hipertensi(lihat
EP.011)
12) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Dibetes
Mellitus(lihat EP.012)
13) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan operasi
besar(lihat EP.013)
14) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Dyspepsia(lihat
EP.014)
15) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Nyeri
Abdomen(lihat EP.015)
16) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Tumor jinak
payudara(lihat EP.016)
17) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan
Hemodialisa(lihat EP.017)
18) Panduan edukasi pasien pulang post perawatan Chirosis Hati (
(lihat EP.018)
19) Panduan edukasi pasien pulang TBC (lihat EP.019)
20) Panduan edukasi pasien pulang Lukemia (lihat EP.020)
21) Panduan edukasi pasien pulang post operasi pasang Stan
Jantung (lihat EP.021)
22) Panduan edukasi pasien pulang post hemorrhoidectomy (lihat
EP.022)

Medical information for patient care berperan sebagai perencana


program promosi kesehatan, melaksanakan serta memonitor dan
mengevaluasi pelaksanaannya.

4.7. Panduan Pelayanan Customer Service


Pelayanan informasi bagi pasien yang dilayani oleh customer
service terdiri dari 3 hal sebagai berikut :
4.7.1. Panduan
pelayananKerohanian
a.

Pengertian
Pelayanan
yang

kerohanian

diberikan

oleh

adalah

suatu

usaha

bimbingan

pihak RSI. Assyifa Sukabumi,

oleh petugas bimbingan rohani RS sendiri maupun


bekerja

sama

dengan

pihak

luar

kerohanian,

untuk mendampingi dan

rawat

inap,

agar

hidup

sesuai

mampu

di

baik
yang

bidang

menangani pasien

memahami arti dan makna

dengan keyakinan

agama

yang

dianut

masing-masing. Pelayanan ini sangat berarti sebagai upaya


meningkatkan rasa percaya diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa

yang

motivasi

ini

menentukan
dapat

kehidupan

menjadi

manusia,

pendorong

sehingga

dalam

proses

keTuhanan.
Pelayanan bimbingan rohani dilakukan oleh pihak RS
maupun pihak luar yang bekerja sama dengan RSI. Assyifa
Sukabumi dengan menggunakan tanda pengenal khusus.
Pelayanan bimbingan rohani dapat diselenggarakan atas
permintaan

pasien/keluarga

formulir yang diberikan

pasien

dengan

mengisi

dari rekam medik, dan ditindak

lanjuti oleh bagian customer service atau petugas ruangan.


b.

Ruang lingkup khusus


Ruang lingkup kegiatan pelayanan kerohanian hanya untuk
pasien rawat inap di rumah sakit RSI. Assyifa Sukabumi.

c.

Tujuan

1)

Tujuan umum
Agar pasien bisa mendapatkan pelayanan kerohanian
dirumah sakit RSI. Assyifa Sukabumi

2)

Tujuan Khusus
Agar pasien bisa mendapatkan ketenangan batin baik
dalam mempercepat proses kesembuhannya ataupun
menghadapai sakaratul maut.

d.

Tatalaksana Pelayanan Kerohanian


1) Perawat memberikan informasi kepada pasien tentang
pelayanan kerohanian di rumah
membantu

sakit

RSI. Assyifa

Sukabumi,

serta

mengisi

formulir

permintaan

pelayanan kerohanian tersebut ( Kode

Formulir di MR)
2) Pasien meminta pelayanan kerohanian kepada perawat
dan perawat mengisikan formulir
formulir

tersebut

diisi

oleh

tersebut.

perawat,

maka

Setelah
formulir

tersebut diberikan ke customer service untuk di tindak


lanjuti.
3) Customer service akan koordinasi dari daftar yang
tersedia berdasarkan request time di formulir tersebut.
4) Customer service akan mengkonfirmasi nama dan waktu
petugas

pelayanan

ini kepada pasien dan keluarga

penanggung jawab pasien. Setelah itu formulir akan


diserahkan ke nurse station.
5) Petugas kerohanian akan daftar ke security dan
security akan konfirmasi ke nurse station rawat inap
tentang permintaan pelayanan kerohanian.
6) Di nurse station petugas kerohanian akan tanda tangan di
formulir untuk
Diarsip di rekam medis pasien, setelah itu petugas

kerohanian akan
diantar oleh perawat ke kamar pasien.
4.7.2.

Panduan

ManajemenKonflik a.
Pengertian
Dalam memberikan pelayanan kesehatan dirumah sakit,
tidak terlepas adanya
konflik yang terjadi antara pasien dan rumah sakit.
Konflik merupakan akibat situasi dimana keinginan atau
kehendak berbeda atau berlawanan antara pasien dengan
pihak rumah sakit, sehingga keduanya saling terganggu.
Untuk konflik tersebut perlu diselesaikan dengan baik
sehingga tidak melebar terlau jauh dari pokok
permasalahannya.
Konflik ini terjadi karena ketidakcocokan antar nilai atau
tujuan-tujuan yang ingin diharapkan oleh pasien terhadap
pihak rumah sakit. Hal ini dapat mengganggu bahkan
membuat emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi
dan pruduktifitas kerja.
Untuk itu perlu dibuat suatu pedoman manajemen konflik
dalam mengatasi konflik tersebut
diatasi.

Pasien

yang

agar

semuanya

bisa

merasa tidak puas akan mengambil

sikap untuk komplain terhadap pihak rumah sakit atas


keluhannya, dan sudah menjadi kewajiban pihak rumah
sakit

utnuk

menjawab

dan

menjelaskan komplain

dari

pihak pasien. Dalam setiap komplain yang diberikan oleh


pasien terhadap pihak rumah sakit RSI. Assyifa Sukabumi,
selalu

ditanggapi dengan baik dan diselesaikan dengan

cepat,

hal

ini

memang

dilakukan

agar

tidak

sampai

terjadi

konflik

yang serius

terhadap

pasien.

Setiap

permasalah yang terjadi di usahakan diselesaikan dengan


standar pedoman ini.
b.

Ruang lingkup khusus


Ruang lingkup untuk konflik ini hanyadi wilayah rumah
sakit RSI. Assyifa Sukabumi dalam hal pelayanan terhadap
pasien.

c.

Tujuan
Tujuan Umum
Secara umum tujuannya adalah menangani semua keluhan
dari pasien agar bisa diselesaikan secara profesional dan
kekeluargaan.
Tujuan Khusus
Agar pasien yang tidak puas bisa mendapatkan
jawaban dan penjelasan dari pihak rumah sakit

d.

Tata laksana pelayanan manajemen konflik


1) Pasien akan mengisi formulir komplain dari customer
service
2) Customer service akan menyampaikan kepada pihak yang
terkait atas komplain tersebut dan meminta jawabannya
2x24 jam.
3) Apabila jawaban sudah diterima, akan disampaikan
kepada pasien langsung dengan didampingi oleh customer
service.
4) Komplain
kepada

yang

bersifat

medis,

akan

disampaikan

dokter medical information yang dimana akan

dirapatkan

dikomite

medik

(jika

perlu)

untuk

memberikan jawaban dan penjelasannya berdasarkan

standar rumah sakit RSI. Assyifa Sukabumi. Keluhan yang


bersifat medis,

akan diatasi oleh customer service

dengan pihak yang terkait berdasarkan standar Rumah


Sakit RSI. Assyifa Sukabumi.
5) Bila

komplain tidak ada SPO-nya,

customer service

akan melaporkan ke customer service manajer untuk


mengatasi

permasalahannya.

bila

perlu diskusikan

solusi dengan direktur RSI. Assyifa Sukabumi ).


6) Semua komplain yang terjadi akan didata oleh customer
service untuk
Direkap menjadi laporan bulanan customer service kepada
manajemen.
4.7.3. Panduan Pelayanan penanggulangan ancaman
pasien ke media
a.

Pengertian
Komitmen seluruh keluarga besar RSI. Assyifa Sukabumi
adalah

melayani

dengan

penuh kasih sayang dari sisi

pelayanan medis dan non medis, dari awal pasien masuk


ke pintu rumah sakit sampai pasien pulang. Semua masalah
harus diselesaikan dengan penuh kasih sayang.
Penting sekali untuk
langsung
(yang

customer

service

manager

(yang

menghadapi customer) dan marketing manager

langsung

berhubungan

dan menghadapi media)

untuk mengerti hak pasien dan rumah sakit sepenuhnya


sehingga

semua petugas dapat menghadapi masyarakat

dengan cara yang sesuai berdasarkan hukum undangundang rumah sakit di Republik Indonesia.
b.

Panduan penanggulangan ancaman pasien ke media


Cara mengatasi masalah dengan pasien dengan

komunikasi yang jelas dan transparan:


1) Customer service (staff atau manager)

mendengar

dengan baik dan


Mengerti hal yang dikeluhkan oleh paisen.
2) Mengulang kembali kepada pasien yang dikeluhkan
dan meminta tanda tangannya pada notulen pertemuan
tersebut, (Form CS?)
3) CS manager wajib untuk menyelesaikan semua poin
complainnya

semaksimal mungkin

melalui

pertemuan

dengan pasien, tanpa memberikan surat tertulis atau


e-mail kepada pasien.
4)

Bila

perlu,

manager

CS

manager

pelayanan

akan

koordinasi

untuk mengatasi

dengan

keluhan

medis

dan perlu didampingi DPJP ( dokter penanggung jawab


pelayanan) pada saat bertemu dengan pasien. Bila dokter
DPJP tidak ada
di tempat, medical information team akan mewakili untuk
sementara dan akan disarankan oleh manager pelayanan.
5)

Bila pasien ingin melibatkan media, CS manager dan


Marketing Manager harus bertemu

dengan

pasien,

mendengarkan keluhan dengan penuh perhatian dan


menjawab sebagai berikut:
Terima

kasih

informasinya

dan

mohon

atas

ketidaknyamanan Bpk/Ibu.Kami

tidak

mengharapkan

tentunya

kami

memberikan
Bpk/Ibu.

bertanggung

informasi

Sekiranya

lebih lanjut
keluhkan

akan

keterlibatan

hal

apa

ke media

saja

dapat
yang

sehingga

sangat

media
jawab

sepenuhnya

kami

maaf
tapi
untuk

kepada

mengetahui
Bapak&

kami juga

Ibu
bisa

memberikan
kepada

informasi secara

Bapak

& Ibu

jelas dan detail

mengenai Undang-Undang

rumah sakit tentang keterlibatan media . (Disini,


CS

manager

dan

Marketing

Manager

menyarankan

kepada pasien akan keluhan dan penjelasannya).


6) Bila pasien akan tetap ke media, marketing manager
harus mengkonfirmasikan mengenai Pasal 44 Undangundang Rumah Sakit :
a.

Ayat 1: Rumah sakit menolak mengungkapkan


segala informasi
kepada publik yang berkaitan dengan rahasia
kedokteran.

b.

Ayat

2: apabila

pasien

dan/atau

keluarga

yang

menuntut Rumah
sakit dan menginformasikannya melalui
media massa, dianggap telah melepaskan hak
rahasia kedokterannya kepada umum.
c.

Ayat 3: Menginformasikan kepada media massa

sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) memberikan
kewenangan kepada Rumah Sakit untuk
mengungkapkan rahasia kedokteran pasien
sebagai hak jawab rumah Sakit.

7) Dimana hal tersebut diatas adalah pilihan terakhir yang


akan dipilih oleh
Rumah Sakit untuk selalu dapat melayani dengan penuh
perhatian dan
profesional.

4.8.

Panduan

Komunkasi Efektif a.
Pengertian
Komunikasi
Sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari
seseorang

kepada

orang melalui

suatu

cara

tertentu

sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang


dimaksud

oleh

penyampaian

pikiran-pikiran

atau

informasi.(Komaruddin, 1994, Schermerhorn, Hunt & Osborn,


1994, Koontz & Weihrich, 1998)
b. Proses Komunikasi
Komunikasi
dimengerti
pesan

dapat

efektif

apabila

pesan

diterima

dan

sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan,

ditindaklanjuti

dengan

sebuah

perbuatan

oleh

penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu


(Hardjana, 2003)

Gambar; Proses Komunikasi

Ternyata Dia
mengerti baik

Baik
Oh,,,Begitu ya
Bu, Saya
Paham sekarang

Umpan

Gangguan
Komunikator

Pesan

Saluran

Komunikan

c. Unsur Komunikasi
1) Sumber/komunikasi ( dokter, perawat, admission,
administrasi, Kasir, dll)
2) Isi pesan.
3) Media/saluran ( Elektronik, Lisan dan Tulisan )
4) Penerima/komunikasi (pasien, keluarga pasien, perawat,
dokter, admission, adm, dll).
d. Sumber / komunikator
Sumber ( yang menyampaikan informasi ): adalah orang
yang menyampaikan isi pertanyaannya kepada penerima. Halhal yang menjadi tanggung jawab pengirim pesan adalah
mengirim pesan dengan jelas, memilih media yang sesuai, dan
meminta kejelasan apakah pesan tersebut sudah diterima
dengan baik. (konsil kedokteran indonesia, hal 8) Komunikator
yang

baik

adalah

komunikator

yang

menguasai

materi,

pengetahuannya yang
yang disampaikan,

luas

dan dalam

cara berbicaranya

tentang
jelas

informasi

dan menjadi

pendengar yang baik saat dikonfirmasi oleh si penerima pesan


(komunikasi)
e. Isi pesan (apa yang disampaikan)
Panjang pendeknya, kelengkapannya perlu disesuaikan
dengan tujuan komunikasi, media penyampaian, penerimanya.
f. Media
Media berperan sebagai jalan atau saluran yang dilalui isi
pernyataan yang disampaikan pengirim atau umpan balik yang
disampaikan penerima. Berita dapat berupa berita lisan, tertulis,
atau keduanya sekaligus. Pada kesempatan tertentu, media
dapat digunakan oleh pengirim
berlangsung atau

tatap muka

yaitu

saat

komunikasi

dengan efek yang mungkin

terjadi berupa perubahan sikap. (konsil kedokteran Indonesia,


hal 8)
Media yang digunakan: melalui telepon, menggunakan lembar
lipat, buklet,vcd, peraga
g. Penerima / komunikan
Penerima
komunikasi,
sepanjang

berfungsi
peran

sebagai
pengirim

pembicaraan.

penerima

berita.

dan penerima

Tanggung

Dalam

bergantian

jawab

penerima

adalah konsentrasi untuk menerima pesan dengan baik dan


memberikan

umpan balik

kepada pengirim.

Umpan

balik

sangat penting sehingga proses komunikasi berlangsung dua


arah (konsil kedokteran indonesia, hal.8)
h.

Pemberi / komunikator yang baik


Pada sata akan melakukan prose umpan balik, diperlukan

kemampuan dala hal-hal berikut (konsil kedokteran indonesia,


hal 42)
1) Cara berbicara (talking), termasuk cara bertanya ( kapan
menggunakan pertanyaan tertutup dan kapan
memnggunakan pertanyaan terbuka), menjelaskan,
klarifikasi, paraphrase, intonasi.
2) Mendengar (Listening), termasuk memotong
3) Cara
mengamati (observation) agar dapat
dibalik
kalimat.
tersurat yang
(bahasa
non verbal di balik ungkapan yang
memahami
tersirat
kata/kalimatnya,gerak tubuh).
4) Menjaga sikap selama berkomunikasi dengan komunikan
(bahasa

tubuh)

agar tidak

menggangu

misalnya

karna

komunikan

keliru

komunikasi,

mengartikan gerak

tubuh, raut tubuh, raut muka, dan sikap komunikator.


i. Sifat komunikasi
1) Komunikasi itu bisa bersifat informasi (asuhan) dan edukasi

(Pelayanan
Promosi) komunikasi yang bersifat informasi asuhan didalam
rumah sakit adalah:
a) Jam pelayanan
b) Pelayanan yang tersedia
c) Cara Mendapatkan pelayanan
d) Sumber alternative mengenai asuhan dan pelayanan
yang

diberikan

ketika kebutuhan

asuhan

pasien

melebihi kemampuan rumah sakit. Akses informasi ini


dapat diperoleh melalui Customer service , Admision, dan
Website
2) Komunikasi yang bersifat Edukasi ( Pelayanan Promosi)
a) Edukasi tentang obat (Lihat pedoman pelayanan farmasi)
b) Edukasi tentang penyakit (Lihat pedoman pelayanan
pasien)
c) Edukasi tentang manajemen nyeri (Lihat panduan

manajemen nyeri)
d) Edukasi tentang keamanan & efektifitas penggunaan
peralatan medis Lihat pedoman pelayanan pasien)
e) Edukasi pasien tentang apa yang harus dihindari (Lihat
pedoman
pelayanan, dan Pedoman fisioterapi)
f)

Edukasi tentang apa yang harus dilakukan pasien untuk


meningkatkan kualitas hidupnya psaca dari rumah sakit
(Lihat pedoman pelayanan pasien, Pedoman pelayanan
Gizi, Pedoman pelayanan fisioterapi, Pedoman pelayanan
Farmasi)

g) Edukasi tentang Gizi (Lihat Pedoman pelayanan Gizi)


Akses untuk mendapatkan edukasi ini bisa
melalui medical
information dan natinya akan menjadi sebuah unit
PKRS
j. Komunikasi yang Efektif
Komuniasi efektif adalah : tepat waktu, akurat, jelas dan
mudah dipahami oleh penerima, sehingga dapat mengurangi
tingkat kesalahan
( kesalah pahaman).
Prosesnya adalah :
a. Pemberi pesan secara lisan memberikan pesan, setelah
itu

dituliskan

secara lengkap isi pesan tersebut oleh si

penerima pesan.
b.
Isi pesan dibacakan kembali (Red back) secara lengkap
oleh penerima
pesan.
c. Penerima penerima mengkonfirmasi isi pesan kepada
pemberi pesan, seperti yang dilhatkan pada gambar berikut;

Komunikator
Komunikasikan

Isi Pesan

Ditulis

Dibacakan

Dalam menuliskan kalimat yang sulit, maka komunikasi harus


menjabarkan hurufnya satu persatu dengan menggunakan alfabet
internasional. Gambar: Kode Alfabet Internasional

h. Komunikasi saat memberikan edukasi kepada pasien &


keluarganya dengan kondisi kesehatannya.
Prosesnya:
1)

Tahap asesmen pasien


Sebelum malakukan edukasi, petugas menilai lebih dulu
kebutuhan edukasi pasien & keluarga berdasarkan (data berikut
ini diperoleh dari rekam medik):
a) Keyakinan dan nilai-nilai pasien dan keluarga.
b) Kemampuan membaca, tingkat pendidikan dan bahasa yang
digunakan.
c) Hambatan emosional dan motivasi
(emosional:depresi,senang dan marah).
d) Keterbatasan fisik dan kognitif.
e) Ketersediaan pasien untuk menerima informasi.

2)

Tahap cara menyampaikan informasi dan edukasi yang


efektif
Setelah melaui tahap asesmen pasien, ditemukan :
a) Pasien dalam kondisi baik semua dan emosionalnya
senang, maka proses komunikasinya mudah disampaikan.
b)

Jika pada tahap asasmen pasien ditemukan hambatan


fisik

(tuna

rungu

dan

tuna wicara)

maka

komunikasi

yang efektif adalah memberikan lefleat kepada pasien


keluarga

sebagai

seperti

ayah.

Ibu,

atau

saudara

sekandung dan menjelaskannya kepada mereka.


c)

Jika pada tahap asesmen pasien ditemukan hambatan


emosional
komunikasi

pasien
yang

(pasien marah
efektif

adalah

atau

depresi),

memberikan

maka
materi

edukasi

dan

menyarankan

pasien

membaca

leafleat.

Apabila pasien tidak mengerti materi edukasi, pasien bisa


menghubungi medical information.
3)

Tahap cara verifikasi

Bahwa pasien dan keluarga menerima dan memahami edukasi yang


diberikan :
a)

Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan


informasi, kondisi pasien baik dan senang, maka verifikasi
yang dilakukan adalah : menanyakan kembali edukasi yang
telah diberikan
Pertanyaannya adalah:Dari materi edukasi yang
telah disampaikan, kira- kira apa yang Bapak/Ibu bisa
pelajari?.

b)

Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan


informasi, pasiennya mengalami hambatan fisik maka
verifikasinya adalah dengan pihak keluarganya dengan
pertanyaan yang sama :Dari materi edukasi yang telah
disampaikan, kira-kira apa yang Bapak/Ibu bisa pelajari?.

c)

Apabila pasien pada tahap

cara memberikan edukasi dan

informasi, ada hambatan emosional


maka

verifikasinya

adalah

(marah

dengan

atau

depresi),

tanyakan kembali

sejauh mana pasiennya mengerti tentang materi edukasi


yang diberikan dan dipahami. Proses pertanyaan ini bisa via
telepon atau datang langsung ke kamar pasien setelah pasien
tenang. Jadi
pasien,

diharapkan

dimengerti
demikian
sakit,

dengan

diberikannya

komunikasi yang

dan

diterapkan

pasien

mengikuti

diharapkan

informasi

oleh
semua

dan

disampaikan

pasien.
arahan

Jadi
dari

edukasi
dapat
dengan
rumah

dapat mempercepat proses penyembuhan

pasien.
Setiap petugas dalam memberikan informasi dan edukasi
pasien, wajib untuk mengisi formulir edukasi dan informasi,
dan ditandatangani kedua belah pihak antara dokter dan
pasien. Hal ini dilakukan sebagai bukti bahwa pasien dan
keluarga pasien sudah diberikan edukasi dan informasi yang
benar.

i. Komunikasi melalui telepon antara pemberi layanan


Dalam

memberikan

dirmah

sakit

komunikasi

antara

pemberi

layanan

RSI.Assyifa kota sukabumi menggunakan

SBAR.Apa yang dimaksud dengan SBAR itu?


SBAR merupakan kerangka acuan dalam pelaporan kondisi
pasien yang memerlukan perhatian dan tindakan segera :
SITUASION, yaitu kondisi terkini yang terjadi pada pasien.
BACKGROUND, informasi yang penting apa yang
berhubungan dengan
kondisi pasien terkini.
ASSESSMENT, hasil pengkajian kondisi pasien terkini.
RECOMENDATION, apa yang perlu dilakukan untuk
mengatasi masalah pasien saat ini.
Berikut ini merup akan salah satu contoh d alam pertanyaan
SBAR:
Situasion misalnya: jelaskan dengan singkat masalah
kesehatan pasien atau keluhan utama termasuk nyeri.
Background misalnya: sebutkan riwayat alergi obat-obatan
termasuk cairan infus yang digunakan.
Jelaskan hasil pemeriksaan yang mendukung dan
pemeriksaan laboratorium.
Asessment misalnya: Sampaikan diagnosa sementara.
Recomendation misalnya: Meminta pada dokter yang
bertanggung jawab langkah selanjutnya yang akan dilakukan.

4.9.

Panduan Pelayanan Informasi Gizi

Pelayanan gizi di RSI.Assyifa kota sukabumi merupakan suatu


penyelenggaraan makanan kepada masyarakat RSI.Assyifa kota
sukabumi

baik pasien,

karyawan maupun pengunjung cafe

yang diawali dari perencanaan


makanan

menu

kepada pasien/konsumen

sampai

pendistribusian

dalam rangka pencapaian

status gizi yang optimal melalui pemberian diet yang tepat.


Dalam keterlibtannya di panitia KRS, instalasi gizi bertujuan
untuk

menyampaikan

dengan

kondisi

informasi

informasi mengenai

penyakit

pemilihan

menu

pasien

serta

maupun

jawab

untuk

melakukan

assesmen

yang

sesuai

mengkomunikasikan

gizi

oleh dokter atau ahli gizi. Instalasi

diet

gizi

yang

diindikasikan

juga

bertanggung

nutrisi

pasien

dan

melaksanakan konsultasi gizi kepada pasien/klien rumah sakit.


Pelayanan informasi gizi yang tersedia b agi p asien terdiri dari
seb agai berikut:
1. Panduan Assesment nutrisi pasien (lihat pedoman assesment
nutrisi pasien)
2. Memberikan informasi gizi kepada pasien rawat inap bahwa
penyajian makanan adalah makanan nabati (lihat SPO
Pelayanan Gizi No.)
3. Menawarkan menu makanan ke pasien rawat inap bahwa ada
menu pengganti
apabila pasien tidak menyukai menu harian (Lihat SOP
Pelayanan Gizi No.)
4. Memberikan konsultasi gizi kepada pasien rawat inap dan
pasien rawat jalan
(Lihat SPO konsultasi gizi No..)
5. Memberikan pelayanan tata cara berkonsultasi gizi

kepada pasien (Lihat SPO No..)


6. Formulir pemberian makanan harian (Lihat SPO
Gz.No..)
7. Materi edukasi diet:
a. Diet cair / SONDE (Lihat SPO Gz.)
b. Diet jantung (Lihat SPO Gz..)
c. Diet rendah kalori (Lihat SPO Gz..)
d. Diet lambung (Lihat SPO Gz..)
e. Diet rendah protein (Lihat SPO Gz)
f. Perencanaan makanan untuk ibu hamil dengan diabetes
(Lihat SPO Gz..)
g. Diet diabetes melitus (Lihat SPO Gz..)
h. Diet Nefropati diabetes (Lihat SPO Gz..)
i. Diet Displidemia (Lihat SPO Gz.)
j. Hidup sehat dengan nabati (Lihat SPO Gz)
k. Perencanaan makanan bagi penyandang diabetes yang
berpuasa di bulan
ramadhan (Lihat SPO Gz. )
l. Diet rendah garam (Liaht SPO Gz.)
m. Diet Hati (Lihat SPO Gz.)
n. Diet rendah purin (Lihat SPO Gz..)
o. Pemantauan asuhan gizi (Lihat SPO Gz)
4.9.1.

Panduan assesment nutrisi pasien

Panduan assesment nutrisi pasien disebut juga dengan


program Nutrition Care
Process(NCP) atau Proses Asuhan Gizi (PAG).
a.

Definisi NCP
Suatu
dimana
dalam

metode pemecahan masalah


diet

yang sistematis,

pasien menggunakan cara berpikir kritis

membuat

suatu

keputusan

yang

tepat terkait

masalah gizi sehingga dapat memberikan asuhan gizi

yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.


b. LANGKAH-LANGKAH NCP
ADIME
1) Nutrition Assesment (Penilaian Gizi)
2) Nutrition Diagnosis (Diagnosa Gizi)
3) Nutrition Intervention (Intervensi Gizi)
4) Nutrition Monitoring and Evaluation ( Monitoring dan
Evaluasi Gizi )
Format yang dikenal dengan istilah ADIME mulai dicoba ditulis
pada dokumen medik pasien.
1.

ASSESMENT
GIZI Definisi
Proses pengumpulan data, verifikasi dan interprestasi data
secara sistematis dalam rangka membuat keputusan mengenai
penyebab masalah gizi.
Komponen Assesment Gizi:
a) Riwayat Gizi/Makanan
1) Asupan Makanan
Yaitu komposisi dan kecukupan gizi, pola makan dan
snack, kebiasaan makan
di rumah, pantangan/alergi makanan, diet yang pernah
dilakukan.
2) Kesadaran terhadap gizi dan kesehatan
Yaitu

pengetahuan

makanan,

dan

konsultasi

kepercayaan

terhadap

dan pendidikan gizi yang pernah

didapat.
3) Aktifitas fisik dan exercise
Yaitu status fungsional, pola aktifitas, jumlah waktu santai,
intensitas, frekwensi dan lamanya.
4) Ketersediaan makanan
Yaitu perencanaan

makanan,

pembelian,

kemampuan

dan

keterbatasan menyiapkan

makanan, keamanan makanan.


b) Data biokimia, pemeriksaan dan tindakan medik
1) Data laboratorium
Yaitu elektrolit, albumin, glukosa darah, Hb dll.
2) Pemeriksaan medik
Yaitu waktu pengosongan lambung, densitas mineral
tulang, adanya foto thorax, obat yang diberikan, tindakan
yang dilakukan, serta tujuan tindakan.
c)

Ukuran antropometri
1) Tinggi Badan
2) Berat Badan
3) Index Masa Tubuh
4) Perubahan Berat Badan
5) Pertumbuhan
6) Lingkar Lengan Atas
7) Massa Otot
8) Lingkar Perut/Pinggang
9) Tebal Lemak/Skinfold Thickness

d) Hasil pemeriksaan fisik


1) Kesehatan mu;lut : gigi, lidah, gusi
2) Penampilan Fisik Secara Umum
3) Otot dan Lemak Subkutan
4) Mata
5) Kulit
6) Kemampuan mengunyah dan menelan
7) Kebiasaan buang air
e)

Riwayat pasien
1) Riwayat sosial
Status ekonomi, budaya, kepercayaan, situasi rumah
2) Riwayat individu

Umur, pekerjaan, tingkat pendidikan, kedudukan dalam


keluarga
3) Riwayat kesehatan
Penyakit saat ini dan dulu, riwayat operasi, penyakit
keluarga
4) Riwayat
apakah

Pemakaian

obat

dan Suplemen

obat sesuai

resep dokter/suplemen

diet/herbal.
2.

DIAGNOSA GIZI
a. Tujuan
Identifikasi masalah gizi yang dapat diatasi atau
diperbaiki melalui intervensi gizi oleh seorang dietisien.
b.

Komponen Diagnosa Gizi


1) (P) Problem/Masalah
Yaitu Perubahan

meningkat/menurun,

kekurangan/kelebihan,

tidak seimbang, tidak

tepat, gangguan dan kesulitan.


2) (E) Etiology
Yaitu Penyebab atau factor yang berhubungan dengan
penyakit.
3) (S) Signs/Tanda dan gejala
Yaitu bukti dari adanya masalah dari data objektif
(pengukuran) dan dari data subjektif mengenai apa
yang dirasakan oleh pasien.
3.

INTERVENSI GIZI
a.

Tujuan
Mengatasi

atau

gizi dengan
mengimplementasikan

memperbaiki

masalah

merencanakan
intervensi

gizi

dan
yang

dengan

kebutuhan dengan kebutuhan dan keinginan pasien.

b.

Strategi Intervensi Gizi


1) Food and Nutritient Delivery
Menyediakan
sesuai

atau

merekomendasikan

makanan/gizi

ketentuan, termasuk makanan, snack, makanan

cair dana parenteral maupun suplemen.


2) Edukasi Gizi
Proses formal atau mengajari

dan

melatih

pasien mengenai mengelola/memodifikasi


makanan atau kebiasaan makan sehari-hari.
3) Konsultasi Gizi
Proses

dukungan pada pasien untuk menetapkan

prioritas, membuat tujuan, rencana


disetujui

serta

hendaknya

kegiatan

kegiatan
tersebut

yang
bisa

dilaksanakan.
4) Koordinasi Pelayanan Gizi
Merujuk atau mengkonsulkan dengan institusi pemberi
layanan kesehatan lainnya yang dapat mengatasi
masalah gizi.

4.

MONITORING DAN EVALUASI GIZI (MONEV)


a. Tujuan
Mengetahui seberapa jauh kemajuan serta
perkembangan pada penyakit yang diderita, yaitu dilihat
dari :
1) Kebiasaan dan kemampuan dari lingkungan yang
mempengaruhi asupan
gizi.
2) Asupan makanan dari semua sumber.
3) Tanda dan gejala fisi dari hasil pengukuran
antropometri, laboratorium dan fisik.
4) Persepsi pasien mengenai intervensi gizi jelas atau

tindaknya serta apakah dapat dijjalankan sesuai anjuran.


4.10.

Panduan pelayanan informasi kebidanan

Dalam Panitia PKRS peranan Kebidanan sangatlah penting


untuk meningkatkan standar yang mencakupi :
1. Masalah pada bayi dan solusinya (Lihat Bd. 01)
2. Inisisasi Menyusui Dini (IMD) (Lihat Bd. 02)
3. Tatacara pemberian ASI yang benar (Lihat Bd. 03)
4. Informasi rawat gabung/Rooming in (Lihat Bd. 04)
5. Perawatan Metode Kangguru (PMK) (Lihat Bd. 05)
6. Edukasi pasien sebelum pulang (Lihat Bd. 06)
7. Materi Kehamilan dan persalinan (Lihat Bd. 07)
8. Materi Penyuluhan Imunisasi (Lihat Bd. 08

4.11.

Panduan pelayanan unit fisioterapi

Unit

fisioterapi

adalah

unit

pelayanan

bertujuan pelayanan rehabilitasi medis


berkualitas

dan

mengurangi

impairment

yang

terjangkau(dengan
atau

medis

komprehensif,

cara

kelainan,

yang

mencegah,
dissability

ketidakmakpuan dan handicap / ketunaan) oleh masyarakat


luas sesuai dengan standar di rumah sakit RSI.Assyifa Kota
Sukabumi.
Adapun beberapa informasi yang diberikan bagi pasien yang
mendapatkan pelayanan
fisioterapi :
1. Informasi saat dilakukan assasment/pemeriksaan
Adalah
saat

informasi

awal

pasien

yang

diberikan

kepada

pasien

datang konsultasi sebelum dilakukan

tindakan atau treatment, dengan tujuan agar pasien


mengerti dan memahhami kondisi penyakit, diagnosa
maupun
apa

prognosa
yang

dari penyakitnya

diberikanuntuk

serta

tindakan

mengatasi

keluhan

keluhannya.
2. Informasi saat diberikan tindakan fisioterapi.
Adalah

informasi

fisioterapismengenai

yang diberikan
prosedur

oleh

pelaksanaan

tindakan

fisioterapi terhadap kondisi masing-masing pasien yang


meliputi

tujuan

sebelum
dilaksanakan,

diberikannya

treatment
maupun

selama
setelah

treatment,

persiapan

intervensi/treatment
treatment selesai

dilaksanakan.
3. Informasi pencegahan terjadinya cidera / keluhan
berulang.
Yakni

beberapa

informasi

yang

diberikan dalam

hal

upaya

dan

teknik pencegahan terhadap cedera atau

keluhan berulang yang kemungkinan setiap saat dapat


muncul seiring dengan aktifitas yang dilakukan.
4. Informasi berupa program di rumah / luar waktu terapi
diruma sakit/klinik

Informasi

ini

treatment

sederhana

pasien

berupa

guna

teknik-teknik
dan mudah

membantu

latihan

ataupun

dilaksanakan

meningkatkan

oleh

ataupun

mempercepat perbaikan kondisi.


Informasi

ini

memudahkan

diberikan

sedemikian

rupa

sehingga

mereka melakukannya kapanpun dan

dimanapun mereka berada.


4.11.1. INFORMASI SAAT ASSESMENT/PEMERIKSAAN
Adalah penyampaian informasi yang diperoleh terkait dengan
proses pengumpulan data dari pasien

yang bersangkutan

dengan tujuan agar pelaksanaan asuhan fisioterai dapat


diberikan secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil yang
optimal.
Adapun informasi yang diperoleh berupa :
a.

Anamnesa pasien secara umum.


Yang mliputi: nama, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan
dan hobi, alamt, agama dan pendidikan terakhir.

b. Anamnesa Khusus.
Yaitu informasi beru[pa keluhan utama, lokasi keluhan,
sifat keluhan dan berapa lama keluhan tersebut telah
berlangsung.
c.

Inspeksi.
Pemeriksaan dengan cara melihatkan kondisi pasien secara
keseluruhan.

d. Quick Test/Test Cepat


Pemeriksaan terhadap kondisi pasien secara cepat yang
mengarah langsung ke keluhan psien.
e.

Test Gerak Pasif, Aktif dan Isometric.


Test yang dilakukan untuk mendapatkan informasi

mengenai ada tidaknya gangguan gerak paad suatau


kondisi.
f. Test Spesifik
Adalah test yang dilakukan secara khusus terkait langsung
dengan kondisi pasien untuk lebih menegakkan diagnose
penyakit secara tepat.
g. Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan yang dapat menunjang suatu diagnosis yang
dapat berupa pemeriksaan laboratorium, radiologi ataupaun
pemeriksaan terkait lainnya.
h. List Of Problem
Adalah informasi yang terkumpul yang berupa beberapa
rincian permasalahan yang ditemukan sehubungan dengan
hasil pemeriksaan tersebut di atas.
i. Diagnosa Fisisoterapi dan Prognosa.
Merupakan informasi mengenai problematik pasien yang
disimpulkan dari hasil pemeriksaan.
Gambaran kondisi pasien setelah diberikan tindakan terkait
dengan patologi dan diagnosis penyakit.
j. Rencana Tindakan/Intervensi
Penjelasan tentang rencana tindakan dan hasil yang
diharapakan terkait dengan diagnose penyakit.
Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan prosedur
tindakan/intervensi.
k. Intervensi/Tindakan
Penerapan tindakan fisioterapi yang telah ditentukan sesuai
dengan perencanaan.
l. Rasional:
Informasi kepada pasien mengenai hasil dari
tindakan/intervensi fisisoterapi baik sebelum, selama dan
sesudah tindakan.

Menginformasikan rencana tindakan/intervensi secara


bertahap dan tindakan lebih lanjut.
4.11.2. INFORMASI SAAT PELAKSANAAN TINDAKAN
FISIOTERAPI
Merupakan informasi yang diberikan kepada pasien/klien
terkait dengan SPO
pelaksanaan tindakan fisisoterapi antara lain:
1. Pelaksanaan Breathing Exercise ( Lihat SPO rehab Medik-001
)
2. Pelaksanan Latihan Gerak Aktif ( Lihat SPO Rehab Medik
002 )
3. Pelaksanan Latihan Gerak Aktif ( Lihat SPO Rehab Medik
003 )
4. Pelaksanaan Latihan Jalan ( Lihat SPO Rehab Medik 004 )
5. Pelaksanaan Latihan Lingkup Gerak Sendi( Lihat SPO Rehab
Medik 005 )
6. Pelaksaaan Latihan Mc.Kenzie Exercise( Lihat SPO Rehab
Medik 006 )
7. Pelaksanaan Latihan Peregangan/Stretching( Lihat SPO
Rehab Medik 007 )
8. Pelaksanaan Latihan Gerak Axilla Crutches( Lihat SPO Rehab
Medik 008 )
9. Pelaksanaan Latihan dengsn Dumble( Lihat SPO Rehab
Medik 009 )
10. Pelaksanaan Latihan dengan Fisioball( Lihat SPO Rehab
Medik 010 )
11. Pelaksanaan Latihan dengan sand bag. ( Lihat SPO Rehab
Medik 011 )
12. Pelaksanaan latihan dengan tripod. ( Lihat SPO Rehab Medik
012 )
13. Pelaksanaan latihan dengan walker. ( Lihat SPO Rehab Medik
013 )
14. Pelaksanaan terapi dengan cold therapy( Lihat SPO Rehab
Medik 014 )
15. Pelaksanaan terapi dengan inframerah. ( Lihat SPO Rehab
Medik 015 )

16. Pelaksanaan terapi dengn faradisasi( Lihat SPO Rehab Medik


016 )
17. Pelaksanaan terapi dengan stimulasi interferensial( Lihat SPO
Rehab Medik 017 )
18. Pelaksanaan terapi dengan Micro Wave Diathermy (MWD) (
Lihat SPO Rehab
Medik 018 )
19. Pelaksanaan terapi dengan parafin Bath ( Lihat SPO Rehab
Medik 019 )
20. Pelaksanaan terapi dengan Short Wave Diathermy (SWD) (
Lihat SPO Rehab
Medik 019)
21. Pelaksanaan terapi dengan TENS( Lihat SPO Rehab Medik
020 )
22. Pelaksanaan terapi dengan traksi Cervical( Lihat SPO Rehab
Medik 021 )
23. Pelaksanaan terapi dengan traksi lumbal( Lihat SPO Rehab
Medik 022)
24. Pelaksanaan terapi dengan ultarsound( Lihat SPO Rehab
Medik 023 )
25. Pelaksanaan Terapi dengan Ultrasound ( Lihat SPO Rehab
Medik 029 )

4.11.3. INFORMASI PENCEGAHAN CIDERA/KELUHAN BERULANG


Yakni beberapa informasi yang diberikan dalam hal upaya
dan

teknik

berulang

pencegahan terhadap

yang

kemungkinan

cedera

setiap

saat

atau

keluhan

dapat

muncul

seiring dengan aktifitas yang dilakukan, seperti informasi


mengenai :
a.

Tenik mengangkat dengan benar.

b. Tehnik Pemindahan pasien


dengan
c.

Teknik duduk, tidur yang

cepat.
d. Teknik penanganan cidera awal dengan metode RICE.
e.

Teknik penggunaan dan manfaat alat bantu seperti splint,


support untuk ektremitas atas dan bawah, TLSO, alat bantu
jalan, dll.

1.

Pencegahan Cidera Berulang


Teknik pencegahan cidera dengan
metode RICE RICE :
Rest

Bahagian

yang

sakit

diistirahatkan
dariaktifitas.
Ice Pemberian es pada daerah cidera.
Compress Pemberian tekanan dengan elastic perban di area
cidera yang
bengkak
Elevate Meninggikan daerah tubuh yang cidera
Aplikasi : Kasus-kasus cidera akut 3x24 jam

2.

Koreksi Posture yang benar


Posture adalah posisi dimana kita menahan tubuh agar
tetap tegak melawan gravitasi sambil berdiri, duduk atau
berbaring.
Koreksi posture bertujuan untuk :
a.

Menjaga tulang dan sendi pada Alignmet yang benar


sehingga otot berfungsi dengan baik.

b. Membantu mengurangi kesalahan pemakaian pada


permukaan sendi yang mengakibatkan arthritis.
c. Mengurangi stress pada ligamen sebagai penyangga
sendi
d. Mencegah kelelahan otot sehingga otot yang digunakan
lebih efisien dan tubuh dapat menghemat energi.
e.

Mencegah sakit punggung dan nyeri otot.

f. Memberikan kontribusi untuk penampilan yang baik.

3.

Teknik Lifting (
Mengangkat )
Teknik yang benar :
a.

Hindari mengangkat beban > 30kg.

b. Sebelum mengangkat pastikan kedua kaki cukup kuat


menyangga tubuh.
c.

Saat mengangkat beban pada posisi lebih rendah dari


pinggang pertahankan tulang

belakang

tetap

lurus

dengan kaki menapak kuat dilantai, tekuk kedua lutut


dan pinggul.
d. Jika mengangkat objek dan meja, dekatkan objek
sedekat mungkin dengan tubuh, tekuk kedua lutut dan
gunakan tumpuan dkedua kaki untuk mengangkat
& kemudian berdiri.
e.

Untuk menurunkan benda/objek, posisikan kaki, tulang


belakang seperti awal saat mengangkat.

4.

Teknik Duduk & Tidur yang benar


Posisi duduk yang benar :
a.

Duduk dengan [unggung & bahu lurus serta rilex,


pinggul menyentuh bagian belakang kursi

b.

Duduk mempertahankan kelurusan tulang belakang,


dapat gunakan support pada area kelengkungan.

c.

Distribusikan berat badan secara pada kedua pinggul.

d. Tekuk lutut, jaga agar lutut dengan atau sedikit lebih


tinggi dari pinggul
(gunakan foot rest)
e.

Posisi kaki tidak menyilang, dan jaga kaki tetap rata di lantai.

f. Hindari posisi yang sama selama > 30 menit


g.

Di tempat kerja :

h. Sesuaikan tinggi kursi & meja sehingga posisi duduk dekat


dengan pekerjaan.

Istirahatkan siku & lengan pada lengan kursi atau di atas meja,
bahu rilex.

i. Posisi saat mengemudi :


j. Gunakan penyangga/batal kecil pada kurva
kelengkungan tulang belakang, posisi lutut pada level
yang sama atau lebih tinggi dari pinggul.
k.

Posisikan kursi dekat dengan setir, upayakan lutut


dapat menekuk & kaki menyentuh pedal.

5.

Posisi tidur dan berbaring yang benar


a. Posisi bantal berada dibawah kepala & pastikan ketebalan
bantal memungkinkan kepala pada posisi normal.
b. Cobalah

untuk

tidur

dalam

posisi

yang

mempertahankan kelengkungan tulang belakang


tidur

telentang,

letakkan bantal

dibawah

tetap
(seperti

lutut

atau

bantalan tipis pada pinggang, atau lutut sedikit menekuk


pada posisi tidur miring).
c. Pilih jenis kasur yang nyaman, jika diperlukan letakkan papan
dibawah kasur.
d. Gunakan penyangga (humbar support ) pada malam hari
untuk kenyamanan

tidur.
e. Tirah baring lama changes position setiap 2 jam.
f. Ketika berdiri dari posisi berbaring, putar ke satu sisi,
tekuk kedua lutut & ayunkan kaki disisi tempat tidur,
lalu duduk dengan mendorong tubuh dengan bantuan
tangan.
g. Hindari bangun dengan posisi pinggang membungkuk
kedepan

6.

Teknik & Manfaat Penggunaan alat bantu ( support)


Teknik ini disesuaikan dengan problematik klien / pasien.
Misalnya :
a.

Back poin e.c HNP lumbal lumbosacral support

b. Fraktur os tibia post operasi crutch


4.11.4. INFORMASI PROGRAM DIRUMAH/DILUAR RUMAH
SAKIT/KLINIK
Informasi

ini

berupa

teknik

sederhana

dan

membantu

meningkatkan

latihan

mudah dilaksanakan
ataupun

ataupun
oleh

treatment

pasien

guna

mempercepat perbaikan

kondisi mereka.
Informasi ini diberikan sedemikian rupa sehingga memudahkan
mereka melakukannya kapanpun dan dinamapun mereka berada,
seperti diantaranya :
a. Aplikasi terapi panas dan dingin dengan teknik kompres,
perendamman.
(Lihat SPO Rehab Medik 017)

b. Breathing Exercise (Lihat SPO Rehab Medik 001)


c.

Latihan Peregangan/stretching (Lihat SPO Rehab Medik 007)

d. Latihan gerak aktif dengan ataupun tanpa beban (Lihat SPO


Rehab Medik 002)
e. Latihan jalan baik dengan alat bantu maupun tanpa alat
bantu (Lihat SPO
Rehab Medik 004)
f. Latihan lingkup gerak sendi, stabilisasi (Lihat SPO Rehab Medik
007)
g. Mc. Kenzie Exercise (Lihat SPO Rehab Medik 006)
4.12.

Panduan Pelayanan Informasi Farmasi

Pelayanan

farmasi

rumah

sakit

adalah

terpisahkan dari sistem pelayanan


yang

berorientasi

kepada

bagian

kesehatan

pelayanan

yang

tidak

rumah

sakit

pasien penyediaan

obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang


terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Sub-unit tersebut
bertujuan
profesional

untuk

menyelenggarakan

berdasarkan

prosedur

kegiatan

kefarmasian

pelayanan
dan

etik

profesi serta edukasi mengenai obat.


Pelayanan informasi farmasi terdiri atas:
1. Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling tatacara
minum obat bagi
Pasien (Lihat SPO farmasi 002/SPO/FARM/III/2011)
2. Informasi
inap

palayanan
(Lihat SPO

farmasi
farmasi

pasien

rawat

pelayanann farmasi
(Lihat SPO farmasi

pasien

akan

pasien

rawat

012/SPO/FARM/IX/2007)
3. Informasi
pulang

022/SPO/FARM/X/2007)
4. Informasi
jalan

pelayanan
(Lihat SPO

farmasi
farmasi

013/SPO/FARM/IX/2007)
4.13.
Panduan Pelayanan Informasi Pengendalian dan
Pencegahan Infeksi (PPI)
Pelayanan informasi unit PPI terdiri dari:
1. Informasi pembuangan sampah medis benda tajam (Lihat SPO
PPI PPI/001)
2. Informasi tata cara pembuangan sampah medis (Lihat SPO PPI
PPI/002)
3. Informasi tata cara pembuangan sampah non medis (Lihat SPO
PPI PPI/003)
4. Informasi etika batuk (Lihat SPO PPI PPI/004)
5. Informasi etika meludah (Lihat SPO PPI PPI/005)
6. Informasi mencuci tangan dengan air (Lihat SPO PPI PPI/006)
7. Informasi mencuci tangan dengan hand rub (Lihat SPO PPI
PPI/007)
8. Informasi

mengenai kewaspadaan

Pedomann

PPI

isolasi (Lihat

tentang kewaspadaan isolasi

PPI)
4.14.

Panduan Pelayanan Rekam Medis Pasien

Pelayanan

instalasi

Rekam

medis

bergerak sebagai penunjang dalam


dan informasi
dan

tertulis

pendidikan

pembuatan

pasien

kepanitiaan

bidang

penyediaan

PKRS
data

berhubungan dengan pelayanan


yang

termasuk

memfasiliasi

dan penyediaan formulir rumah sakit seperti

formulir

pemberian

formulir

persetujuan

medis

yang

dalam

edukasi,
tindakan

formulir
medis,

edukasi

kolaboratif,

penyusunan

rekam

yang meliputi data pengetahuan dan ketrampilan yang

menjadi kekuatan dan kekurangan diidentifikasi dan digunakan


untuk

membuat

perencanaan

pendidikan.

Variabel

yang

menentukan apakah pasien dan keluarga mau dan mampu untuk


belajar di-asses dengan menyertakan:
a. Keyakinan dan nilai-nilai pasien dan keluarga,

b. Kemampuan membaca, tingkat pendidikan dan bahasa yang


digunakan,
c. Hambatan emosional dan
motivasi, d.

Keterbatasan

fisik dan kognitif, dan


e. Kesediaan pasien untuk menerima informasi.

4.15. Panduan Pelayanan Marketing


4.15.1. Pengertian.
Marketing atau pemasaran adalah suatu proses sosial
manajerial di mana individu dan
kebutuhan dan

keinginan.

kelompok

mendapatkan

Definisi ini berdasarkan pada

konsep inti, yaitu : kebutuhan, keinginan dan permintaan;


pasar,

pemasaran

dan pemasar.

Selain

itu

pengertian

pemasaran oleh beberapa ahli adalah: keseluruhan intern


yang

berhubungan

yang

bertujuan

dengan

kegiatan-kegiatan

usaha

untuk merencanakan, menentukan harga,

mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa

yang

akan memuaskan kebutuhan pembeli baik pembeli

yang

ada maupun pembeli yang potensial.


Perkembangan

bisnis rumah

sakit

saat

ini disebabkan

oleh perubahan pola pikir konsumen yang dinamis. Dengan


dasar

inilah

pemasaran

maka

sangat

dapat

dikatakan

dibutuhkan

oleh

bahwa

setiap

kegiatan

rumah

sakit

sebagai ujung tombak bagi kehidupannya. Adanya kegiatan


pemasaran diharapkan dapat mendukung tercapainya
kemajuan dan tujuan rumah sakit itu sendiri. Walaupun
demikian, pentingnya arti
pemasaran bukan berarti mengabaikan fungsi-fungsi rumah
sakit lainnya, sebab tanpa adanya fungsi-fungsi lainya ini, maka
kegiatan tidak mungkin akan berjalan.
Dalam

kegiatan

pemasaran

konsumen

merupakan

unsur yang sangat penting diperhatikan. Rumah Sakit (RS)


dituntut untuk mempertimbangkan konsumen sebagai salah
satu

faktor

terpenting

dalam

pasar,

memperhatikan kebutuhan dan keinginan

karena

dengan

konsumen,

RS

dapat memenangkan persaingan pasar yang semakin fokus

terhadap

kepuasan

pelanggan.

Keberadaan

konsumen

sendiri mempunyai pengaruh pada pencapaian tujuan akhir


perusahaan, yaitu perolehan laba melalui pembelian jasa atau
pelayanan.

Oleh sebab

itu

tugas organisasi RS adalah

menentukan kebutuhan, keinginan,

dan

minat

dari

pasar

sasaran dan memberikan kepuasan yang diinginkan secara


lebih efektif dan efisien. RS harus dapat merumuskan bauran
pemasaran yang tepat. Organisasi RS harus mengetahui
faktor-faktor apa saja yang dapat mempengarui konsumen
dalam pengambilan keputusan pembelian produk, diantaranya
adalah

place

(lokasi),

price

(promosi),

people (orang

pelayanan),

physical

process (proses jasa

(harga),

yang

evidence

promotion

terkait

(bukti

dengan

fisik),

dan

diberikan ). Ketujuh unsur bauran

pemasaran jasa tersebut di atas pada RS dapat diuraikan


sebagai berikut :
a. Produk (Product); merupakan jasa atau pelayanan RS
yang ditawarkan kepada pasien atau konsumen.
b. Harga/tarif (Price)

merupakan sejumlah uang yang harus

dikeluarkan pelanggan untuk


RS.

Dalam

diperhatikan
biaya

memperoleh

mempertimbangkan
tingkat

pelayanan,

pelayanan

harga

permintaan pelayanan,

harus
perkiraan

harga pelayanan RS pesaing, situasi

dan kondisi persaingan serta pasar sasaran.


c.

Tempat (Place); merupakan perencanaaan dan

pelaksanaan program
penyaluran pelayanan melalui lokasi, tempat dan waktu
serta jumlah yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan konsumen.
d.

Promosi

(Promotion);

merupakan

kombinasi

dari

variabel-variabel

periklanan, penjualan

tatap

muka,

promosi penjualan, dan publisitas yang dilakukan oleh RS


dalam
kepada

upaya
para

mengimformasikan

produk

pelanggan (konsumen),

pelayanan

sehingga

pelanggan (konsumen) termotivasi/terdorong untuk


melakukan pembelian.

para

e. Orang

(People);

adalah

orang-orang

yang

terlibat

langsung dalam menjalankan segala aktifitas pelayanan


RS,

dan

merupakan

faktor

yang

memegang

peranan

penting bagi semua organisasi. Dalam perusahaan jasa


unsur

people

ini

penting

dalam

tetapi

juga

bukan hanya memainkan peranan

bidang
dalam

produksi atau
melakukan

operasional saja,

hubungan

langsung dengan konsumen. Perilaku


terlibat

langsung

ini

kontak

orang-orang yang

sangat

penting

dalam mempengaruhi mutu jasa yang ditawarkan dan


image RS.
f. Sarana Fisik (Physical Evidence); merupakan suatu hal
yang

secara

konsumen,
jasa

nyata turut mempengaruhi

untuk

membeli

yang ditawarkan.

dan

keputusan

menggunakan

Unsur-unsur

produk

yang termasuk di

dalam physical evidence antara lain lingkungan phisik,


dalam

hal

perlengkapan,
yang

ini

bangunan

logo,

disatukan

fisik,

perabot/peralatan,

warna dan barang-barang lainnya

dengan service yang diberikan seperti

karcis, sampul, label, dan lain sebagainya. Selain itu


atmosfir RS yang

menunjang seperti visual, aroma,

suara, tata ruang, lay out ruangan dan lain-lain.


g. Proses

(Process);

mempunyai

arti

suatu

dalam menjalankan dan melaksanakan


untukmemenuhi kebutuhan dan
Untuk

perusahaan

jasa

seperti

upaya

RS,

aktifitasnya

keinginan konsumennya.
RS,

kerjasama

antara

marketing dan operasional sangat penting dalam elemen


process ini, terutama dalam melayani segala kebutuhan
dan keinginan pelanggan (konsumen) secara cepat dan
tepat.

Sementara itu dalam PKRS sendiri peranan marketing sangatlah


penting

yaitu:

untuk melakukan

kajian

kebutuhan

promosi

kesehatan untuk pengunjung rumah sakit dan masyarakat sekitar


rumah

sakit.

Unit

ini

bertugas

untuk

menyediakan

instrument

kajian kebutuhan promosi kesehatan serta media komunikasi yang


sesuai untuk pengunjung dan masyarakat
serta

memiliki

rumusan

informasi

disekitar
yang

rumah

sakit

dibutuhkan untuk

menunjang promosi kesehatan tersebut.


Peranan
membina

lain

yang

suasana

tidak

kalah

penting

adalah

untuk

yang mendukung kegiatan promosi maupun

pemberdayaan dengan memanfaatkan ruangan dan halaman

rumah

sakit

media

untuk

memasang/menayangkan

berbagai

komunikasi, memanfaatkan

individu,

sakit

dan memanfaatkan media masa untuk

untuk

bina

suasana

kelompok

di

luar

rumah

bina suasana. Hal lainnya yang berhubungan dengan


peranmarketing
mitraterkait
PKRS

seperti

menggalang

adalah

untuk

menjalin kerjasama dengan

mengoptimalisasikan

mengidentifikasi
kemitraan

untuk
mitra

berkaitan

pelaksanaan

pontensial

dengan

dalam

pelaksanaan

kegiatan
rangka
promosi

kesehatan mempunyai jejaring kemitraan diberbagai sektor, dunia


usaha dan swasta lainnya serta melaksanakan program kerjasama
kemitraan dengan sektor lain, organisasi kemasyarakatan, swasta dan
dunia usaha lainnya (Lihat SPO/Marketing).
4.15.2. Ruang Lingkup
Kegiatan pemasaran dilaksanakan baik pada pengunjung
maupun terhadap masyarakat luar RS yang akan membutuhkan
pelayanan RSI.Assyifa antara lain berupa:
1. Informasi produk layanan dan harga
2. Informasi fasilitas, pelayanan unggulan dan dan ahlinya

3. Penawaran kerjasama pelayanan, ahli, pemanfaatan jasa,


fasiltas dan tempat.
4.15.3. Tujuan
1. Tujuan Umum:
Tujuan
dan

Umum

Pemasaran

memahami

RSI.Assyifa

adalah

mengenal

pelanggan sedemikian rupa sehingga

produk yang di jual akan cocok dan sesuai dengan keinginan


pelanggan, sehingga jasa pelayanan RS dapat terjual dengan
sendirinya.
2. Tujuan Khusus:
a. Untuk memberikan informasi tentang jasa pelayanan yang
dijual di
RSI.Assyifa.
b. Untuk mempengaruhi keputusan membeli konsumen
terhadap jasa pelayanan yang ada di RSI.Assyifa.
c. Untuk menciptakan nilai ekonomis suatu jasa yang dijual di
RSI.Assyifa.
d. Melakukan kerjasama pelayanan ahli, pemanfaatan
jasa, fasiltas dan tempat dengan pihak kedua.
4.15.4. Tata Laksana Pemasaran
1. Memberikan informasi produk layanan dan harga bagi
setiap pengunjung yang datang ke RSI.Assyifa maupun
masyarakat luar yang membutuhkan layanan.
2. Informasi dapat diberikan secara lisan maupun tertulis dalam
bentuk liflet, benner ataupun media pemasaran lainnya.
3. Untuk seluruh proses kerjasama melalui prosedur berikut (
Lihat SPO
Pemasaran )

a. Seluruh usulan kerjasama


dan
perpanjangan)

(pembentukan,

perubahan

disampaikan secara tertulis dan ditujukan kepada Direktur


Utama.
b. Analisa usulan Kerjasama dilakukan oleh Tim Ikatan
Kerjasama dalam bentuk rekomendasi dan tindak lanjut
Kerjasama.
c.

Rekomendasi
selanjutnya

usulan

kejasama

yang

diterima

dibuatkan draft perjanjian kerjasamanya,

sedangkan yang direkomendasikan tidak diterima atau


ditolak

disampaikan

yang

secara

mengusulkan

tertulis

dengan

kepada

pihak

memberikan

alasan

penolakan.
d.

Apabila

diperlukan

pertimbangan

lain

atas

pertimbangan

hukum

draft perjanjian

atau

kerjasama

yang telah disusun, maka draft tersebut disampaikan


ke suatu

badan

profesional

pertimbangan

untuk

hukum

atau

memperoleh gambaran atau

pendapat terbaru.
e.

Tim
Ikatan
pelaksanaan

Kerjasama
kerjasama,

mempersiapkan teknis

mengkoordinasikan ke bagian atau unit terkait.


f. Waktu dan tempat penandatanganan perjanjian
kerjasama oleh pihak-pihak terkait ditentukan sesuai
dengan kesepakatan.
g.

Sebelum
seluruh

penandatangan
biaya

pembentukan,

perjanjian

kerjasama,

administrasi berkaitan
perubahan

atau

dengan

perpanjangan

perjanjian kerjasama harus dibayarkan sesuai dengan


tarif yang berlaku.
h. Mendistribusikan dan mensosialisasikan ke bagian atau

unit terkait

BAB V
MONITORINGDAN
EVALUASI
A. MONITORING DAN EVALUASI PKRS.
Monitoring atau pemantauan dan Evaluasi ( monev) kegiatan
PKRS dilakukan terhadap perkembangan dari masukan ( Input
), proses dan keluaran atau output serta terhadap dampak
dari pelaksanaan PKRS yang telah diselenggarakan.
1.

Indikator Masukan ( Input ) Masukan


mendapatkan

perhatian

pimpinan, ketersediaan

adalah

sumber

yang

berupa

daya

perlu

komitmen

manusia

(SDM),

sarana/prasarana serta dukungan dana dalam pelaksanaan


kegiatan.
Evaluasi

kualitas

dilakukan

sumberdaya

dengan

manusia

dan

fasilitas

survey lapangan setiap bulan dan

pelatihan mengenai materi edukasi unit-unit PKRS setiap 6


bulan sekali. Evaluasi kinerja panitia PKRS dilakukan dengan
pelaporan dari setiap unit PKRS, laporan Instalasi Promkes
dan Pemasaran dan survey kepuasan pelanggan minimal
setiap 6 bulan.
2. Indikator Proses.
Monitoring

dan

evaluasi

proses

yang

terhadap pelaksanaan kegiatan PKRS


untuk

pasien

petugas
maupun

dan

rumah

keluarga,

sakit

kelompok,

adalah

yang

meliputi

PKRS

pengunjung

lainnya,

serta

sendiri
dan

dilakukan

baik

secara

perorangan

juga terhadap kegiatan yang

dilaksanakan di luar gedung maupun di dalam gedung.


Untuk pasien rawat jalan dan rawat inap monitoring kinerja
PKRS dilakukan dengan pemantauan setiap hari oleh setiap
Penanggung

Jawab

unit

terkait,

dokumentasi permintaan

PKRS di status pasien, pencatatan pasien yang teredukasi di


LOGBOOK (unit

dan

edukasi

pemberian

informasi

kolaboratif.

Monitoring

dan

kolaboratif)

dan

formulir

formulir pemberian

jumlah

leaflet

yang

edukasi
tersedia

dilakukan dengan penyediaan 50 lembar untuk setiap topik


materi edukasi disetiap unit terkait setiap
dilakukan

refill

atau

pengisian

ulang

bulannya

setiap

dan

bulannya.

Apabila leaflet habis sebelum sebulan, maka peermintaan


leaflet dapat dilakukan ke Instalasi Promkes dan Pemasaran.
3. Indikator Keluaran ( Output )
Keluaran yang dipantau adalah keluaran dari kegiatankegiatan yang dilaksanakan baik secara umum maupun secara
khusus.
4. Indikator Dampak.
Indikator

dampak

mangacu

kepada

PKRS yaitu berubahnya pengetahuan,


pasien

dan

keluarganya,

rumah

sakit

dan

serta

tujuan
sikap

dilaksanakan
dan

perilaku

terpeliharanya lingkungan

dimanfaatkannya

dengan

baik

semua

pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit. Oleh sebab


itu kondisi ini sebaiknya dinilai setelah PKRS berjalan secara
maksimal disemua unit RS.
B. MONITORING DAN EVALUASI PEMASARAN.
Tidak

terkecuali

monev

pemasaran

juga

dilaksanakan

berdasarkan indikator masukan, proses, output dan dampak.


Secara garis besar
pelaksanaan pemasaran

evaluasi
dapat

berupa:

dan

monitroring

dukungan

dan

komitment pimpinan, kecukupan SDM, sarana dan prasarana


pemasaran, hasil survey kepuasan pelanggan, penambahan
jumlah PKS, dan kepatuhan terhadap SPO, dampak terhadap
peningkatan

pendapatan

RS.

Monev

dapat dilaksanakan

berupa bulanan dan tahunan.

BAB VI
DOKUMEN
BUKTI
6.1. Dokumen bukti PKRS
Dokumen bukti adalah segala bentuk informasi tertulis dalam
rangka promosi kesehatan yang dibuat oleh dan dari unit-unit
PKRS yang meliputi:
1. Materi edukasi
2. Standard Prosedure Operasional (SPO)
3. Leaflet
4. Pengisian formulir pelaksanaan edukasi kolaborasi
5. Laporan pelaksanaan kegiatan edukasi dalam dan luar RS
6. Dan lain sebagainya
Semua

dokumen

digunakan

untuk

ini

disertakan

dalam

appendix

dan

meningkatkan kualitas pelayanan PKRS dan

penerapan pelayanan PKRS bagi setiap pasien.


6.2. Dokumen Pemasaran.
Dokumen pemasaran berupa Perjanjian Kerjasama dan segala
berkas terkait termasuk laporan evaluasi pelaksanaan
kerjasama.

BAB VII
PENUT
UP
Pedoman Pemberian
disusun

agar

Informasi,

menjadi acuan

pemberian informasi,

Edukasi

dalam

dan

Pemasaran

pelaksananaan

ini

kegiatan

edukasi dan pemasaran serta kegiatan PKRS

dan pengembangan akreditasi Rumah Sakit yang berhubungan dengan


promosi kesehatan dan pemasaran. Pedoman ini merupakan bagian
yang

tidak

terpisahkan

dengan upaya meningkatkan mutu dan

kualitas pelayanan Rumah Sakit.


Sebagai

penutup

kiranya

dapat

diingatkan

kembali

bahwa

PKRS bukanlah usrusan mereka yang bertugas di unit PKRS saja.


PKRS adalah tanggung jawab bersama mulai dari Direksi RS, dan
menjadi urusan atau tugas bagi hampir seluruh jajaran RS. Selain
itu

yang

lebih

pemberdayaan,

penting

dalam

terhadap pasien (

PKRS
rawat

adalah

upaya-upaya

jalan dan rawat inap )

maupun terhadap klien sehat lainnya.


Namun

demikian

uapaya-upaya

pemberdayaan

ini

akan

berhasil jika didukung oleh upaya-upaya bina suasana dan advokasi.


Bina suasana dilakukan terhadap mereka yang paling berpengaruh
terhadap pasien/klien. Sedangkan advoksi dilakukan terhadap mereka
yang dapat mendukung dan membantu RS dari segi kebijakan (
Peraturan

perundang-undangan

dan sumber daya dalam rangka

memberdayakan pasien/klein.
Banyak sekali peluang untuk melaksanakan PKRS dan peluang
tersebut harus dapat dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan fungsi
dari peluang yang bersangkutan.
Begitu juga dari sisi pemasaran, yang paling baik adalah semua
staf RS berperan

sebagai
masing-masing,
sehinga

pemasar

yang

baik

dengan

memanfaatkan

diri

melaksanakan komunikasi yang efektif, terapeutik

berkesan bagi pelanggan yang menyebabkan pelanggan

menjadi setia dan tetap mempertahankan RS sebagai salah satu


tempat

yang

dapat

mereka

percaya

sebagai

pemberi

layanan

kesehatan mereka. Oleh sebab itu diharapakn semua petugas


ada

di

RSI.Assyifa kota sukabumi

diharapkan

dapat

yang

berperan

menjadi pemasar yang baik dengan jalan memberikan pelayanan


yang ramah, komunikatif, care, empati dan penuh perhatian serta
memberikan senyum dan kasih sayang kesemua pelanggan baik
internal maupun eksternal.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2009.
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2009.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktek
kedokteran. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2004
4. Keputusan

menteri

Kesehatan

1114/MENKES/SK/VII/2005
Promosi

Kesehatan

di

Republik

tentang
Daerah.

Indonesia

Pedoman
Pusat

Nomo

Pelaksanaan

Promosi

Kesehatan

Departemen Kesehatan RI Tahun 2005.


5. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

1193/Menkes/SK/X/2004

tentang
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan;
6. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

1114/Menkes/SK/X/2004

tentang

Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah;


7. Keputusan Mentri Kesehatan Nomor.267/Menkes/SK/II/2010
tentang Penetapan
Road Map Reformasi Kesehatan Masyarakat.
8. Keputusan Mentri Kesehatan nomor.659/Menkes/Per/VIII/2009
tentang Rumah
Sakit Indonesai Kelas Dunia ( World Class Hospital ).
9. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 004 tahun
2012 tentang

Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit


10. Peraturan menterei Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/MENKES/PR/III/2008 tentang Rekam Medis . Kementrian
Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 2008.
11. Peraturan Meneteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran. Kementrian Kesehatan Reublik
Indonesia Tahun
2008
12. Standar Promosi Kesehatan Rumah Sakit. Kementrian
Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 2011.
13. Pedoman Etika Promosi Rumah Sakit. Perhimpunan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia
Tahun 2006