Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN RDS

OLEH
I Kadek Mariadana
15.091.1167

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2016

I.

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. PENGERTIAN
Hyalin Membrane Desease ( HMD ) dikenal juga sebagai respiratory
distress sydrom yang idiopatik, hyaline membrane disease merupakan keadaan
akut yang terutama ditemukan pada bayi prematur saat lahir atau segera setelah
lahir, lebih sering pada bayi dengan usia gestasi dibawah 32 yang mempunyai
berat dibawah 1500 gram. Kira-kira 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 29
minggu mengalami RDS.
Bangunan paru janin dan produksi surfactan penting untuk fungsi respirasi
normal. Bangunan paru dari produksi surfaktan bervariasi pada masing-masing
bayi. Bayi prematur lahir sebelum produksi surfactan memadai. Surfactan, suatu
senyawa lipoprotein yang mengisi alveoli, mencegah alveolar colaps dan
menurunkan kerja respirasi dengan menurunkan tegangan permukaan. Pada
defisiensi surfactan, tegangan permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya
alveolar dan menurunnya komplians paru, yang mana akan mempengaruhi
ventilasi alveolar sehingga terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan acidosis
respiratory. Reduksi pada ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi
sirkulasi paru menjadi buruk, menyebabkan keadaan hipoksemia. Hipoksia
jaringan dan acidosis metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan
kegagalan pernafasan yang progresif.
RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi
prematur, biasanya setelah 3 5 hari. Prognosanya buruk jika support ventilasi
lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.
B. ETIOLOGY DAN FAKTOR PRESIPITASI
-

Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu) dan


tidak adanya, gangguan atau defisiensi surfactan

Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar

Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur atau prematur.

C. PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur

disebabkan

oleh

alveoli

masih

kecil

sehingga

kesulitan

berkembang,

pengembangan kurang sempurna kerana dinding thorax masih lemah, produksi


surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada
alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan
fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari
normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi
hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10%
protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga
agar alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak
berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru
memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara
histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bahagian distal
menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga
menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli,
tetapi

alveoli

menjadi

tertarik

karena

adanya

defisiensi

surfaktan

ini.
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau
volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan
epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi
matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli
dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan
surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini
adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan
bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi
Bronchopulmonal Displasia (BPD).

D. WOC
Bayi premature

Kemampuan paru mempertahankan


Stabilitasnya terganggu

Imaturitas sistem pencernaan

Motilitas usus menurun

Kolaps alveolar & paru


Kompensasi
menurun

tekanan

Kemampuan digesti &absorbs


makanan menurun

intratoraks

Usaha inspirasi lebih kuat


Ventilasi terganggu
RDS

Koping keluarga
tidak efektif

BB Turun
Diare
Anokresia

Gangguan
pemenuhan
nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b/d
imaturitas system pencernaan

asidosis respiratory

Hipoksia

transudasi

O2 jaringan menurun

Sianosis
dispneu

Penurunan aliran darah ke


paru

Gangguan
perfusi
jaringan b/d suplai
O2 ke jaringan

Hambatan pembntukan
surrfaktan

atelektasis

Pola napas tdk efektif


b/d defisiensi surfaktan

Edema interstitial
alveolar paru

Takipnea,bradikardi
grunting ekspirasi
pernapasan
cuping

Penggunaan
deuretik,perpindahan
cairan ke arealain

Resiko
kekurangan
volume cairan

E. MANIFESTASI KLINIK
1. Beberapa jam setelah kelahiran bayi menunjukkan pernafasan cepat dan
dangkal ( > 60x/menit )
2. Penggunaan asscessory neck muscle untuk bernafas
3. Mendengkur, Tachikardia dan sianosis
4. Terjadi retensi cairan, edema dan oliguria pada 48 jam pertama.

F. PENATA LAKSANAAN MEDIS


Tujuan Terapi :

Support pernapasan

Mencegah atau meminimalkan HMD pada bayi.

Mencegah komplikasi.

G. Stadium
Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu :
a. Stadium 1
Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara
b. Stadium 2
Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran
airbronchogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer
menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
c. Stadium 3
Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru
terlihat lebih opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat,
bronchogram udara lebih luas.
d. Stadium 4
Seluruh thorax sangat opaque (white lung) sehingga jantung tak dapat
dilihat.

0
Frekuensi

< 60x/menit

60-80 x/menit

80 x/menit

Retraksi

Tidak ditemukan

Ringan

Berat

Sianosis

Tidak ditemukan

Sianosis hilang

Sianosis menetap meski

dengan O2

dg O2

nafas

Air Entry

Udara masuk

Penurunan ringan

Penurunan berat

Merintih

Tidak ditemukan

Terdengar dengan

Terdengar tanpa alat

stetoskop

bantu

Evaluasi Respiratory Distress Skor Downe


Kriteria:
Skor < 4
Skor 4 5
Skor > 6

II.

Gangguan pernafasan ringan


gangguan pernafasan sedang
gangguan pernafasan ringan (pemeriksaan gas darah harus dilakukan)

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Biodata Klien
Berisi identitas, nama, alamat, nama ibu, tanggal MRS dan nomor registrtasi

b. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Berupa keluhan klien ( dari penuturan ibu) saat klien dibawa kw rumah
sakit
b) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian terhadap status kesehatan ibu yang behubungan dengan faktor
pencetus terjadinya RDS pada bayi
c) Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian terhadap riwayat kesehatan dan kehamilan ibu yang dirasa
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, seperti konsumsi
obat, suplemen lain dan alkoholisme
d) Riwayat Penyakit Keluarga
Pengkajian status kesehatan pada silsilah anggota keluarga yang memiliki
riwayat sama dengan klien
e) Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
Personal sosial (kepribadian / tingkah laku sosial) : berhubungan
dengan reflek menangis, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan
koordinasi cepat, misalnya memegang jari ibu, memegang suatu
benda, dan merentangkan tangan.
Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh
Kognitif dan Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
c. Pola aktivitas Sehari-hari
Pengkajian terhadap Activity Daily Life klien yang meliputi pola nutrisi,
eleminasi, psikososial, spiritual, dan personal hygine
d. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum

Pada kasus RDS, kebanyaka klien memiliki keadaan umum yang apatis
dengan nilai GCS 234
b) Tanda-tanda Vital
Pemeriksaan TD, nadi, RR dan suhu.
c) Antropometri
Pengukuran terhadap BB, panjang badan klien, lingkar kepala, lingkar
lengan atas, lingkar dada, lingkar perut, lingkar paha dan lainnya.
d) Pemeriksaan Kepala dan Leher
Ada atau tidaknya lesi,
Palpasi permukaan kepala dan leher, ada nyeri tekan atau tidak
Perhatikan warna kulit, distribusi rambut, konjungtiva mata,turgor
kulit, dan kebersihan rambut kepala.
e) Pemeriksaan Thoraks
Bunyi nafas tambahan (wheezing dan mengi)
Frekuensi, kedalaman dan retraksi otot dada saat bayi melakukan
pernafasan
Bentuk lapang thoraks simetris atau tidak
f) Pemerikasaan Abdomen
Keadaan, kelembaban dan tingkat hygine tali pusat (bila belum lepas
semuanya)
g) Pemeriksaan Genetalia
Pemeriksaan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenosis meatus,
stirktur uretra, karsinoma maupun fimosis.
h) Pemeriksaan neurosensory
Pada pemeriksaan neurosensori, syaraf yang dijadikan titik utama
pemeriksaan antara lain 12 syaraf kranial dan bila perlu pungsi CSS
i) Pemeriksaan Integumen
Terdiri dari warna, kelembapan suhu, temperatur, turgor lesi atau tidak.
j) Pemeriksaan Muskulokeletal
Pada tahap pemeriksaan ini, yang diperiksa adalah kekuatan tonus otot.
x

Dengan ketentuan nilai pada x:


x
x penuh
5
= normal/kekuatan
4
=mampu mengangkat benda namun tidak mampu melawan
3
2
1
0

tahan yang diberikan pemeriksa


= mampu mengangkat berlawanan gaya gravitasi
= hanya mampu bergerak
= hanya telihat kedutan- kedutan otot
= paralisis

e. Dampak Hospitalisasi
Karena berada dalam perawatan di rumah sakit, maka akan timbul efek
hospitalisasi pada klient antara lain:

Perubahan peran keluarga b.d terganngunya fungsi anggota keluarga lain

seperti ayah dan ibu klien sebagai tulang belakang dan IRT.
Ansietas (orang tua) berhubungan dengan perubahan status kesehatan bayi

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola napas tidak efektif b/d defisiensi surfaktan


2. Gangguan perfusi jaringan b/d suplai oksigen ke jaringan menurun
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang adri kebutuhan tubuh b/d imaturitas
sistem pencernaan
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
sensible dan insesible
5. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas, perasaan bersalah,
dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis

C.

INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
1.

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Pola napas tidak

TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL
Tujuan :

INTERVENSI
1. 1. Posisikan untuk

RASIONAL

1. 1.Karena posisi in

efektif berhubungan Setelah dilakukan

pertukaran

dengan defisiensi

asuhan keperawatan

optimal:

surfaktan

selama...x.... diharapkan -Tempatkan pada

mengatur pola tidu

bayi mampu:

posisitelungkup bila

atau istirahat dan

mungkin

mencegah adanya

1. menunjukan pola napas


yang adekuat.
2. Menunjukan frekuensi

udara yang

- Tempatkan pada posisi

menghasilkan

perbaikan oksigen

penyempitan jalan

napas.
2. 2.Karena akan
dan pola napas dalm
mengendus dengan leher
mengurangi diame
batas yang sesuai usia
sedikit ekstensi dan
trachea
dan BB dengan kriteria hidung menghadap
3. 3.Untuk mengenal
hasil:
keatas.
tanda-tanda disetre
- BBL frek napas 30- 2. 2. Hindari heperektensi 4. 4. Untuk
60x/menit

terlentang pada posisi

leher

-Frek napas saat tidur 3. 3. Observasi adanya


35x/menit

menghilangkan
mukus yang

penyimpangan dari

terakumulasi dari

fungsi pernapasan misal

nasofaraing trache

mengorok, sianosis,

dan selang

pernapasan cuping

hidung,apnea.
4. 4.Lakukan penghisapan
5.

Penghisapan
endotracheal sebelum
pemberian surfaktan
5.Petahankan suhu

endotracheal
5. 5.Untuk memastik

jalan napas bersih


6. 6.Untuk menghem

penggunaan O2
7.
8. KOLABORASI
9. 1.Untuk menurunk

lingkungan yang netral


K KOLABORASI

tegangan permuka
alveolar
10. 2. Untuk

1.Beri surfaktan sesuai

meningkatkan

petunjuk pabrik.

absorbsi kedalam

2.Hindari penghisapan

alveolar
11. 3.Untuk
sedikitnya 1 jam setelah
mempertahankan
pemberian surfaktan
konsentrasi O2
3.Lakukan regimen yang
12. 4.Untuk memanta
diresepkan untuk terapi
respon bayi terhad
suplemental
terapi
4.Pantau pertukaran gas
2.

Gangguan

perfusi Setelah dilakukan

1.1. Auskultasi frek dan 1. 1 .Takikardia sebag

jaringan b/d suplai asuhan keperawatan

irama dan irama

akibat hipoksemia

oksigen ke jaringan selama...x....diharapkan

jantung , catat terjadinya

dan kompensasi

menurun

bayi dapat

irama jantung ekstra.

upaya

menunujukan:

2. Observasi perubahan

peningkatan alira

status mental.

darah dan perfusi

sesuai misal status

3. Observasi warna dan

jaringan.Gangguan

mental normal, irama

suhu kulit atau membran

irama berhubunga

jantung dan frekkuensi

mukosa.

dengan hipoksemi

Tingkat perfusi yang

nadi normal,dengan KH 4. Ukur haluaran urin


tidak terjadi sianosis,
kulit hangat dan kering,

dan catat BJ urin

2.2. Gelisah dan

perubahan sensori

atau motorik dapa

mukosa normal,

K KOLABORASI

menunjukan

haluaran urin normal. 1.1. Berikan cairan IV atau


oral sesuai indikasi

gangguan aliran

darah, dan hipoksi

2. Pantau pemerikasaan 3.3. Kulit pucat atau


diagnostik misal EKG,

sianosis, kuku

elektrolit, dan GDA.

membran bibir ata

lidah menunjukan

vasokontriksi atau
syok.

4.4. Penurunan curah

jantung menimbul

penurunan perfusi
ginjal yang

dimanifestasikan o

penurunan haluara
urin dengan BJ

normal/ meningka
KOLABORASI

1. 1. Untuk menurunk

hiperviskositas da

atau perfusi jaring


2. 2. Mengevaluasi
perubahan fungsi

organ dan mengaw


efek terapi.

3.

Gangguan

Setelah dilakukan

pemenuhan nutrisi

asuhan keperawatan

dimulai pd waktu abyi

terjadinya

kurang dari

selama...x...diharapkan

berumur 3 jam dengan

hipoglikemi dan

kebutuhan

bayi mendapat nutrisi

jumlah cairan pertama

hiperbilirubinme.

berhubungan

yang adekuat dan

kali 1-5 ml/jam dan

2. Untuk mengetah

dengan imaturitas

menunujukan

jumlahnya dapat

ada tidaknya atres

sistem pencernaan

pertambahan BB yang

ditambah sedikit-demi

esophagus dan

tepat dengan kriteria

sedikit setiap 12 jam.

mencegah muntah

2.Sebelum pemberian

3. Untuk menghind

hasil:

Bayi menunjukan

minuman pertama harus

bayi tersedak.

penambahah BB yang

dilakukan penghisapan

4.Untuk menjaga

mantap (20-30 gram)

cairan lambung.

nutrisi yang ade ku

per hari

3.Pemberian minuman

Otot kuat

sebaiknya sedikit demi

mengalami diare d

Lingkar lengan > 9,5

sedikit tapi frekuensinya

susu bisa lebih

lebih sering .

dicerna.

Lingkar dada > 33 cm

4.Banyaknya cairan yang 6.Untuk menjaga


diberikan 60

nutrisi dan cairan

ml/kg/BB/hari sampai

bayi yang ade kua

akhir minggu kedua.

7. Agar susu lebih

5.Bila bayi belum dapat


Resiko kekurangan
volume

cairan

berhubungan
dengan kehilangan
cairan sensible dan
insesible

5.Agar bayi tidak

cm

4.

1. 1.Pemberian minuman 1.1.Menghindari

ASI, ASI dipompa dan


dimasukan kedalam
botol steril.
6.Bila ASI tidak ada
maka diganti dengan
susu buatan yang
mengandung lemak dan
mudah dicerna yang
mengandung 0 kalori /
30ml air atau 110

mudah dicerna.

kkal/kg/BB/hari.
Jj

7.Gunakan makanan
nasogastrik bila bayi
mudah lelah, mengalami

5.

penyakit hisapan, reflek


muntah dan menelan
yang lemah.
Setelah dilakukan

Koping keluarga
inefektif
berhubungan
dengan ansietas,
dan perpisahan
dengan bayi
sebagai akibat
situasi krisis

N1. Penggantian cai

asuhan keperawatan

pemberian infus Dex

secara adekuat

selama ...x...diharapkan

10% W 60 100

untuk mencegah

mampu

ml/kg bb/hari

ketidakseimbang

mempertahankam

perasaan bersalah,

Jj 1. Pertahankan

D. Tingkatkan cairan

2.

keseimbangan cairan

infus 10 ml/kg/hari,

Mempertahank

dan elektrolit dengan

tergantung dari urine

asupan cairan se

KH :

output, penggunaan

kebutuhan pasien

- kebutuhan cairan bayi

pemanas dan jumlah

Takipnea dan

feedings

penggunaan

terpenuhi

E. Pertahankan tetesan
Jj

infus secara stabil,

meningkatkan

gunakan infusion

kebutuhan cairan

pump.
F. Monitor intake
cairan dan output
dengan cara :
-

Timbang berat
badan bayi setiap 8
jam

pemanas tubuh a

Timbang popok
bayi untuk
menentukan urine

3. Untuk mencega
kelebihan atau

kekurangan cair

Kelebihan cairan
dapat menjadi
keadaan fatal.

4. Catatan intake d
output cairan
penting untuk

output

menentukan keti

seimbangan cair
-

Tentukan jumlah
BAB

Monitor jumlah

kecemasan dan rasa


bersalah, dan
mendukung bounding

ss

5. Peningkatan

tingkat sodium d

setiap hari

potassium

mengindikasikan

pemeriksaan sodium

terjadinya dehid

dan potassium setiap

dan potensial

12 atau 24 jam

ketidakseimbang

Setelah dilakukan
selama ...x... diharapkan

penggantian cair

asupan cairan infus


G. Lakukan

asuhan keperawatan

sebagai dasar un

elektrolit
1. Kaji respon verbal
dan non verbal orangtua
terhadap kecemasan dan
penggunaan koping

1 Hal ini akan


membantu

mengidentifikas

dan membangun
strategi koping

antara orang tua dan

mekanisme
2 Bantu orangtua

infant dengan KH

mengungkapkan

- keluarga mampu

perasaannya secara

bebas

mengatasi perasaan

verbal tentang kondisi

mengekpresikan

bersalah dan

sakit anaknya,

perasaannya

perpisahan dengan bayi

perawatan yang lama

sehingga memba

pada unit intensive,

menjalin rasa sa

prosedur dan

percaya, serta

pengobatan infant
3 Berikan informasi

mengurangi ting

yang akurat dan


konsisten tentang
kondisi perkembangan
infant
4 Bila mungkin,

yang efektif

2. Membuat orang

kecemasan

3 Informasi dapat
mengurangi
kecemasan

anjurkan orangtua untuk


mengunjungi dan ikut
terlibat dalam perawatan
anaknya
5 Rujuk pasien pada
perawat keluarga atau
komunitas

4 Memfasilitasi

proses bounding
5 Rujukan untuk

mempertahankan
informasi yang
adekuat, serta

membantu orang
menghadapi
keadaan sakit
kronis pada
anaknya.

D. IMPLEMENTASI
Sesuai dengan intervensi

E. Evaluasi
Dx 1 : - BBL frek napas 30-60x/menit

- Frek napas saat tidur 35x/menit

Dx 2: - tidak terjadi sianosis,


-

kulit hangat dan kering,

mukosa normal,

haluaran urin normal

DX 3: -

Bayi menunjukan penambahah BB yang mantap (20-30 gram) per hari

Otot kuat

Lingkar lengan > 9,5 cm

Lingkar dada > 33 cm

DX 4; -

kebutuhan cairan bayi terpenuhi

DX 5 : -

keluarga mampu mengatasi perasaan bersalah dan perpisahan dengan


bayi

DAFTAR PUSTAKA
Melson, A. Kathryn & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning,
Second Edition, Springhouse Corporation, Pennsylvania, 1994
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Arif, mansjoer (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC.
Behrman (2000). Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC.
http://adoen-berbagiilme.blogspot.com/2012/04/rds-respiratiry-distresssyndrome.html?m=1
http://urangcijati.blogspot.com/2009/06/respirasi-distresssyndrome.html?m=1
http://bernarsimatipang.wordpress.com/2012/27/askep-respiratoridistress-sindrom/

http://emedicine.medscape.com/article/976034-overview#showall