Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi SSP sampai sekarang masih merupakan keadaan yang bisa
membahayakan kehidupan anak, dengan berpotensial untuk menyebabkan kerusakan
permanen pada pasien yang hidup. Penyebab infeksi SSP bisa karena virus, bakteri,
atau mikroorganisme yang lain. Diagnosis dini masih menjadi persoalan, karena
kadang sukar membedakan apakah penyebabnya virus atau bakteri, kalau hanya
dengan pemeriksaan fisis. 1
Ensefalitis merupakan radang parenkim otak yang dapat menimbulkan
disfungsi neuropsikologis difus dan/atau fokal. Ensefalitis pada umumnya melibatkan
parenkim otak, tetapi meningen atau selaput otak juga sering terlibat sehingga dikenal
istilah meningoensefalitis. 2,3
Insiden ensefalitis adalah 1 kasus per 200.000 populasi di Amerika Serikat,
dengan virus herpes simpleks (HSV) menjadi penyebab paling sering. Infeksi virus
merupakan bentuk infeksi system saraf pusat yang paling sering terjadi di dunia. 1,2,3
Di Indonesia penyakit infeksi masih merupakan problem kesehatan. Salah satu
diantara penyakit tersebut adalah infeksi SSP, yang menduduki urutan ke 10 dari
urutan prevalens penyakit di Indonesia. Angka mortalitas berkisar antara 18-40%
dengan angka morbiditas berkisar 30-50%. Kecacatan yang terjadi berupa gangguan

pendengaran yang bersifat sensoneural, gangguan penglihatan , retardasi mental,


gangguan bicara, gangguan belajar, kelainan saraf kranial, ataksia, kejang berulang,
dan paresis anggota gerak. 1
Diagnosis cepat dan terapi segera merupakan tindakan yang dapat
menyelamatkan nyawa. Dengan demikian penting untuk dokter umum sebagai
penyedia pelayanan kesehatan primer untuk dapat mendiagnosis meningoensefalitis
serta memberikan penanganan awal pada kasus-kasus yang membutuhkan rujukan.
Tujuan dari penulisan referat ini agar mampu menegakkan diagnosis serta
melakukan penatalaksanaan pada kasus meningoensefalitis dan mengetahui serta
mampu menjelaskan mengenai definisi, etiologi , patofisiologi, manifestasi klinis,
hingga komplikasi dan prognosis.