Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Memasuki era globalisasi ini, semakin marak terjadi kriminalitas, kecelakaan lalu lintas
dan bencana alam yang dirasakan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak akan
adanya catatan rekam medik gigi karena dari pengalaman pada saat bencana massal,
ternyataperan dokter gigi cukup penting dalam proses identifikasi korban mati. Seperti yang
diketahui bahwa bencana merupakan kejadian yang mendadak, tak terduga dapat terjadi pada
siapa saja, dimana saja, kapan saja serta mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta benda,
korban manusia yang relatif besar, baik mati maupun hidup.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, maka manusia dipaksa untuk
menyesuaikan. Dalam penyesuaian ini ada hal-hal yang baik maupun yang buruk. Untuk halhal yang baik tidak terlalu banyak masalah tetapi untuk yang merugikan menuntut perhatian
yang besar. Seperti misalnya adanya ancaman teroris beberapa waktu lalu.
Korban serangan ini sangat banyak dan umumnya sulit untuk dikenali secara visual.
Sehingga dapat menimbulkan kesulitan dalam identifikasi. Selain itu korban juga sulit
dikenali bisa timbul akibat faktor manusia maupun alam. Untuk mengatasi hal seperti ini
peran dokter gigi sangatlah penting dalam mengungkap jati diri korban sesungguhnya.
Perlu kita ketahui bahwa peran dokter gigi sangat besar sekali dalam mengidentifikasi baik
untuk korban yang tidak dikenal maupun yang bisa dikenali. Untuk korban yang bisa dikenali
secara visual bagaimanakah sebenarnya peran dokter gigi. Seperti pada kejahatan yang
meninggalkan bekas gigitan maka dituntut untuk bisa membantu mengungkap pelaku baik itu
karena gigitan manusia atau bukan.
Meskipun sebagai sarana identifikasi yang penting gigi juga memiliki kelemahan. Seperti
mayoritas masyarakat Indonesia jarang berobat ke dokter gigi dan dokter gigi pun belum
tentu melakukan pencatatan data gigi bahkan penyimpanan yang tertata baik. Akibatnya,
ketika diperlukan sebagai data pembanding jika terjadi suatu musibah, tidak dapat diperoleh
data gigi yang tepat.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa saja data-data yang termasuk data antemortem?
2. Apa saja data-data yang termasuk data postmortem?
3. Bagaimana prosedur identifikasi DVI?
4. Bagaimana kaitan antara bidang kedokteran gigi dengan ilmu forensic?
5. Apa saja kesulitan-kesulitan dalam identifikasi korban?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan data-data antemortmem
2. Mahasiwa mampu memahami dan menjelaskan data-data post mortem
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur DVI

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan odontology forensic


5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kesulitan dalam identifikasi korban

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 DATA ANTEMORTEM


Data antemortem erat kaitannya dengan ilmu forensik, dimana data antemortem
merupakan data yang dicatat semasa hidup. Data antemortem biasanya berisikan identitas pasien,
keadaan umum pasien, odontogram (data gigi yang menjadi keluhan), data perawatan kedokteran
gigi, dan nama dokter gigi yang merawat. Selain itu, roentgenogram juga sangat penting untuk
dimiliki baik intra oral maupun ekstra oral.
Selain itu, data antemortem dapat berupa dental record, rontgenologi gigi, foto close up muka
atau profil daerah mulut dan gigi, cetakan gigi, alat orthodonsi atau proteshis, pernyataan atau
keterangan dari orang terdekat dibawah sumpah.

3.2 DATA POSTMORTEM


A. Data Primer
1) Sidik jari,
2) Serologi,
3) Odontologi,
4) Antropologi
5) Biologi.
B. Data sekunder
1) Cara visual, dapat bermanfaat bila kondisi mayat masih baik, cara ini mudah
karena identitas dikenal melalui penampakan luar baik berupa profil tubuh atau muka.
Cara ini tidak dapat diterapkan bila mayat telah busuk, terbakar, mutilasi serta
harusmempertimbangkan faktor psikologi keluarga korban (sedang berduka, stress,
sedih, dll)
2) Melalui kepemilikan (property) identititas cukup dapat dipercaya terutama bila
kepemilikan tersebut (pakaian, perhiasan, surat jati diri) masih melekat pada tubuh
korban.
3) Dokumentasi, foto diri, foto keluarga, foto sekolah, KTP atau SIM dan lain
sebagainya.
Cara-cara ini sekarang berkembang dengan pesat berbagai disiplin ilmu ternyata
dapat dimanfaatkan untuk identifikasi korban tidak dikenal. Dengan metode ilmiah ini

didapatkan akurasi yang sangat tinggi dan juga dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum.
Metode ilmiah yang paling mutakhir saat ini adalah DNA Profiling (Sidik DNA). Cara ini
mempunyai banyak keunggulan tetapi memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih
dan mahal. Dalam melakukan identifikasi selalu diusahakan cara-cara yang mudah dan tidak
rumit. Apabila dengan cara yang mudah tidak bisa, baru meningkat ke cara yang lebih rumit.
Selanjutnya dalam identifikasi tidak hanya menggunakan satu cara saja, segala cara yang
mungkin harus dilakukan, hal ini penting oleh karena semakin banyak kesamaan yang
ditemukan akan semakin akurat. Identifikasi tersebut minimal harus menggunakan 2 cara
yang digunakan memberikan hasil yang positif (tidak meragukan). Prinsip dari proses
identifikasi adalah mudah yaitu dengan membandingkan data-data tersangka korban dengan
data dari korban yang tak dikenal, semakin banyak kecocokan semakin tinggi nilainya. Data
gigi, sidik jari, atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor determinan
primer, sedangkan data medis, property dan ciri fisik harus dikombinasikan setidaknya dua
jenis untuk dianggap sebagai ciri identitas yang pasti. gigi merupakan suatu cara identifikasi
yang dapat dipercaya, khususnya bila rekam dan foto gigi pada waktu masih hidup yang
pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. Pemeriksaan gigi ini menjadi amat penting
apabila mayat sudah dalam keadaan membusuk atau rusak, seperti halnya kebakaran.

3.3 PROSEDUR DVI


1. Initial Action at the Disaster Site
Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP) bencana.
Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas
jangkauan bencana. Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara
keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam
penanganan bencana. Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk
operasi secara keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli patologi forensik dan
petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi situasi berikut :

Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area
bencana.
Perkiraan jumlah korban.

Keadaan mayat.

Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI.

Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI.

Metode untuk menangani mayat.

Transportasi mayat.

Penyimpanan mayat.

Kerusakan properti yang terjadi.

Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana, ada tiga langkah
utama. Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan, langkah kedua adalah to
collect atau untuk mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau pelabelan.
Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus mengambil langkah
untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak. Langkah langkah tersebut antara lain
adalah :

Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak berkepentingan (penonton
yang penasaran, wakil wakil pers, dll), misalnya dengan memasang police line.
Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.

Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang berkepentingan.

Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa saja yang
memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana.

Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan kehaditan dan
otorisasi.

Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus meninggalkan area
bencana.

Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus mengumpulkan korban
korban bencana dan mengumpulkan properti yang terkait dengan korban yang mungkin dapat
digunakan untuk kepentingan identifikasi korban.
Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI mendokumentasikan
kejadian bencana dengan cara memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor
dan label pada korban.
Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi nomor dan label
dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk kemudian dievakuasi.
2. Collecting Post Mortem Data
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh
post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI. Pada

fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan
mencatat data selengkap lengkapnya mengenai korban. Pemeriksaan dan pencatatan data
jenazah yang dilakukan diantaranya meliputi :

Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban.


Pemeriksaan fisik, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika diperlukan.

Pemeriksaan sidik jari.

Pemeriksaan rontgen.

Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus tiap
orang ; tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda.

Pemeriksaan DNA.

Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk


tubuh, tinggi badan, berat badan, tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di
tubuh korban.

Data data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer dan data
sekunder sebagai berikut :

Primer : sidik jari, profil gigi, dna.


Secondary : visual, fotografi, properti jenazah, medik-antropologi (tinggi badan, ras, dll).

Selain mengumpulkan data paska kematian, pada fase ini juga ekaligus dilakukan tindakan untuk
mencegah perubahan perubahan paska kematian pada jenazah, misalnya dengan meletakkan
jenazah pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.
3. Collecting Ante Mortem Data
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian. Data ini
biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah. Data yang
diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo,
tindikan, bekas luka, dll), rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup,
sampel DNA orang tua maupun kerabat korban, serta informasi informasi lain yang relevan dan
dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi, misalnya informasi mengenai pakaian terakhir
yang dikenakan korban.
4. Reconciliation
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. Ahli
forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan

post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai sebagai
jenazah. Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau
telah tegak. Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap
negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang
sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
5. Returning to the Family
Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik
kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan. Apabila korban tidak
teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante
mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah, dan pemakaman jenazah menjadi
tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI. Sertifikasi jenazah dan kepentingan
mediko-legal serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab pihak yang
menguburkan jenazah.

3.4 ODONTOLOGI FORENSIK


Ilmu kedokteran gigi forensic memiliki beberapa nama-nama sesuai dengan sumber yang
didapat yaitu : Forensic Dentistry, Odontology Forensik, dan Forensik Odontology.
Pengertian ilmu kedokteran gigi forensic yaitu :
a. Menurut Arthur D. Goldman mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi forensic adalah
suatu ilmu yang berkaitan erat dengan hukum dalam penyidikan melalu gigi-geligi.
b. Menurut Dr. Robert Bj. Dorion mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi forensic
adalah suatu aplikasi semua ilmu pengantar tentang gigi yang terkait dalam
memecahkan hukum perdata dan pidana.
c. Menurut Djohansyah Lukman mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi forensic
adalah terapan dari semua disiplin ilmu kedokteran gigi yang berkaitan erat dalam
penyidikan demi terapan hukum dan proses peradilan.
Kegunaan dan aplikasi pada ruang lingkup kedokteran gigi forensic dalam pelayanan
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Sipil ialah berbagai kecelakaan massal baik didarat, laut, udara, maupun gempa bumi
membutuhkan identifikasi korban yang mengalami destruksi fisik tahap lanjut,
malpraktek dan berbagai jenis penggelapan.
2. Criminal ialah identifikasi individu dari berbagai barang bukti yang berasal dari gigi
dan rongga mulut, seperti barang bukti gigi sendiri pada kasus-kasus perkosaan,
bunuh diri, atau pembunuhan, melalui analisis tanda gigitan (bite mark), rugoscopy,
cheiloscopy.

3. Penelitian.
Penelitian dan pelatihan odontologi foresik bagi dokter gigi yang bekerja di
universitas, bagian kriminologi dan kepolisian.
Kedokteran gigi forensic banyak terlibat dalam berbagai macam pelayanan identifikasi
individu, baik pelaku kriminalitas maupun bencana missal. Pada umumnya identifikasi individu
dilakukan dengan membandingkan data gigi geligi antemortem dan postmortem pada korban
mati dengan keadaan degradasi lanjut, maupun terbakar. Juga dilakukan perbandingan cetakan
gigi tersangka, dengan data pada bekas gigitan (bite mark) yang tertinggal pada korban.
Kedokteran gigi forensic memiliki ruang lingkup yang tidak lepas dari kelengkapan visum
et repertum, yaitu identifikasi melalui gigi geligi dan rongga mulut dari semua disiplin ilmu
kedokteran gigi antara lain identifikasi korban dan pelaku kejahatan melalui :
a. Sarana gigi dan rongga mulut.
b. Pola gigitan.
c. Analisis air liur yang terdapat di sekitar pola gigitan, maupun sisa makanan yang dimakan
oleh pelaku.
d. Identifikasi semua jenis penganiayaan yang berkaitan dengan semua disiplin ilmu
kedokteran gigi dengan aspek hukum serta perundang-undangan.
Data gigi pra kematian (Ante Mortem) adalah keterangan tertulis dan catatan atau
gabungan dalam kartu perawatan gigi (Dental Record) dilengkapi dengan keterangan dari
keluarga atau orang terdekat dengan korban mengenai keadaan gigi geligi korban. Sedangkan
Data gigi Post Mortem adalah hal-hal mengenai gigi-geligi yang ditemukan pada jenazah
korban.4
A. IDENTIFIKASI
Adapun kegunaan dari identifikasi ialah kebutuhan etis dan kemanusiaan terhadap
keluarganya, pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis, pencatatan identitas untuk
keperluan administrative (akte kematian) dan pemakaman, untuk pengurusan klaim asuransi,
pension, deposito, dan sebagi upaya awal dari suatu penyelidikan criminal.
Identifikasi forensic pada dasarnya terdiri dari 2 metode utama yaitu :
1. Identifikasi komparatif, yaitu apabila tersedia data post-mortem (pemeriksaan jenazah)
dan ante-mortem (data sebelum meninggal, seperti cirri fisik,pakain, identitas khusus dan
lain-lain), dalam suatu komunikasi yang terbatas.
2. Identifikasi rekonstruksi, yaitu apabila tidak tersedia data ante-mortem dan dalam
komunikasi yang tidak terbatas.
B. ODONTOGRAM
Odontogram adalah pemeriksaan terhadap seluruh keadaan gigi dan mulut pasien
dilakukan dan dicacatkan pada kunjungan pertama atau kesempatan pertama sehingga
memeberikan gambaran keadaan secara keseluruhan. Data ini di simpan penting untuk membuat

rencana perawatan kedokteran gigi secara menyeluruh, juga sangat berharga sebagai data untuk
keperluan identifikasi jika diperlukan sewaktu-waktu.
Odontogram selalu di tempatkan pada bagian awal dari lembar rekam medik gigi.
Setelah data identitas pasian dan data keadaan umum pasien. Selanjutnya baru diikuti oleh
lembar data perawatan kedokteran gigi yang dilakukan.
Setelah pengisian pertama maka pembuatan odontogram diulangi atau dilengkapi :
a.
b.
c.
d.

Setiap satu tahun


Setiap kedatangan untuk control
Jika pasien akan pindah kota / dokter gigi, atau
Jika sebelum satu tahun sudah sangat banyak restorasi permanen yang dilakukan.
Pada odontogram berisi data :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tanggal pemeriksaan untuk odontogram


Gambar denah gigi ( odontogram)
Hubungan oklusi
Ada atau tidaknya torus palatines, Torus mandibularis
Type langit langit-langit mulut ( palatum ) : Dalam/Sedang/Rendah
Ada atau tidaknya gigi berlebih (super numerary)
Ada atau tidaknya Diastem Sentral
Adakah anomali atau ciri-cirinya.

Untuk mendukung Departemen Kesehatan RI dalam hal ini Direktorat Jendral


Pelayanan Medik bersama-sama dengan Fakultas Kedokteran Gigi baik Swasta maupun
pemerintah di seluruh Indonesia serta profesi-profesi terkait dan kepolisian Negara RI menyusun
Standar Nasional Rekam Medik Kedokteran gigi dimana di dalamnya terdapat Odontogram.
Setelah pengisian pertama, maka pembuatan odontogram ini dapat di ulangi atau di
lengkapi setiap satu tahun, setiap kedatangan atau control atau jika pasien akan pindah kota atau
dokter gigi serta dapat dierbaharui sebelum satu tahun apabila sudah sangat banyak restorasi
permanen yang dilakukan.
Adapun pelaksanaan sosialisasi dilakukan melalui fakultas kedokteran gigi dan dalam
hal ini Rumah Sakit Gigi dan Mulut pendidikan yangmenwajibkan mahasiswa membuat rekam
medic sebelum mengerjakan pasien.

3.5 KESULITAN IDENTIFIKASI

TINJAUAN PUSTAKA

1. Gardo, sara afari. Peran odontology forensic sebagai salah satu sarana
pemeriksaan identifikasi jenazah tak dikenal. Jurnal berkala kedokteran vol 31,
September 1999.
2. Wahjuningsih E, Sucahyo B. Peran Dokter Gigi Dalam Identifikasi Forensik.
Jurnal kedokteran Gigi Agu 2006.(1);1-5.
3.

Quendangen A, Hamurwono BG, Sahelangi P, Rosita R, Suseno U, Lebang Y.


Standar rekam medic kedokteran gigi. Ed 2. Jakarta: Departemen kesehatan;
2007.

4. Interpol
dead
victim
identification
guideline,
diunduh
dari
http://www.interpol.int/Public/DisasterVictim/Guide/Guide.pdf pada 26
Juni 2016.