Anda di halaman 1dari 2

Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh

Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT
atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian. Kita harus mensyukuri pula atas
berbagai nikmat, diantaranya berupa kekayaan sumberdaya alam yang dilimpahkan-Nya serta atas
kesempatan dan kemampuan yang kita peroleh untuk mengelola dan memanfaatkannya, walaupun
hingga saat ini masih belum mencapai hasil yang optimal. Salam dan salawat kepada junjungan nabi
besar Muhammad SAW
Para hadirin yang saya hormati
Pertama-tama marilah kita bandingkan dua model pertanian dari aspek keberlanjutan sistem yang
pernah ada di Indonesia yaitu :
Sistem tradisional (Pertanian alami) : Kenyataan mengungkapkan bahwa nenek moyang bangsa
Indonesia telah bercocok tanam sejak jaman dulu pada saat jumlah manusia sedikit, lahan luas, air
cukup ,varietas unggul (lokal) berlimpah, tahan hama/penyakit, tidak pernah ada pemupukan dan
pemberantasan hama, produksi mencukupi, petani sejahtera dengan umur yang panjang.
Sistem Modern (Revolusi Hijau): Diawali dari Eropah, dan Indonesia dimulai pada tahun 1970-an
hingga saat ini, melalui program Padi-Sentra,Bimas, Inmas, Insus, Supra-Insus, Gema-Palagung,
Ketahanan Pangan. Konsep awal adalah untuk mengatasi masalah pertambahan penduduk yang
berlangsung seperti deret ukur, sementara pertambahan pangan seperti deret hitung, diperlukan revolusi
melalui rekayasa genetika, melalui varietas unggul berumur pendek dengan produktivitas tinggi.
Varietas ini respon pupuk tetapi peka terhadap hama/penyakit, lalu berkembanglah industri pupuk dan
pestisida. Penggunaan pupuk dan pestisida secara tidak rasional berdampak pada produktivitas
mengalami levelling off dan serangan hama sulit dikendalikan, terjadi kerusakan lingkungan karena
tercemar.
Konsep dan Prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)
Pengelolaan Hama terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan, cara berfikir atau falsafah
pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka
pengelolaan agroekosistem yang bertanggung jawab ( Untung, 1993). Konsep Pengelolaan Hama
Terpadu (PHT) merupakan suatu pemikiran atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara
prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama secara konvensional yang sangat tergantung pada
penggunaan pestisida. Konsep PHT timbul dan berkembang di seluruh dunia karena kesadaran manusia
terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi kesejahteraan masyarakat dan
lingkungan hidup. Kesadaran global akan pentingnya kualitas lingkungan hidup sebagai bagian
pemenuhan kesejahteraan hidup telah mendesak akan perlunya diadakan perubahan mendasar tentang
berbagai penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida. Apabila penggunaan pestisida harus
dikurangi maka masalah yang kemudian muncul dan dihadapi oleh petani adalah bagaimana cara
penggunaan pestisida dapat dikurangi tetapi kehilangan atau kerugian hasil akibat serangan hama dapat
dihindari. Konsep PHT merupakan alternatif yang tepat untuk menjawab dilema tersebut, karena PHT
bertujuan membatasi penggunaan pestisida sesedikit mungkin tetapi sasaran kualitas dan kuantitas
produksi pertanian masih dapat dicapai (Luna and Garfield, 1990) .
Melalui kesempatan yang berbahagia ini saya menggugah hadirin agar memanfatkan potensi yang kita
miliki untuk memajukan sektor pertanian terutama berdasarkan kaedah sistem pembangunan pertanian
berkelanjutan. Dalam konteks Pengelolaan Hama Terpadu keanekaragaman hayati yang kita miliki
dapat dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati maupun hayati, demikian juga dengan kekayaan
spesies serangga baik sebagai parasitoid maupun predator dapat dioptimalkan fungsinya sebagai
pengendali alami untuk mendukung pembangunan sistem pertanian berkelanjutan. Kita seharusnya bisa
hidup berdampingan dengan serangga, kelompok binatang yang merupakan bagian dari komunitas
ekosistem bumi yang telah menjadi penentu keberadaan dan perkembangan ekosistem di muka bumi,
karena interaksi antara serangga dan manusia telah berlangsung sejak manusia ada. Keberadaan dan
kemampuan hidup manusia sampai saat ini sangat dibantu dan didukung oleh keberadaan serangga.

Kaitannya dengan keanekaragaman sumberdaya alam yang kita miliki, peluang lainnya yang sangat
penting diperhatikan adalah melimpahnya bahan organik di Indonesia yang sekaligus dapat
dimanfaatkan sebagai modal berharga dalam praktik pertanian organik yang juga sekaligus mendukung
pembangunan sistem pertanian berkelanjutan.