Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

HIDROSEFALUS

A. DEFINISI HIDROSEFALUS
Hidrosefalus merupakan

keadaan

yang

disebabkan

gangguan

keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinal dalam sistem


ventrikel otak. Jika produksi CSS lebih besar daripada absorpsi, CSS akan
terakumulasi dalam sistem ventrikel, dan biasanya peningkatan tekanan akan
menghasilkan dilatasi pasif ventrikel (Wong,2009).
Hidrocephalus adalah kelainan dimana terjadi peningkatan jumlah cairan
cerebrospinal dalam rongga otak dan atau spinal (Mansjoer, 2008).
Hidrosefalus merupakan keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertmbahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan
intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya cairan serebro spinal (Ngastiyah,2007).
Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi
yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari
jaringan jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang
meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arachnoid. Akibat berlebihannya
cairan serebrospinalis dan meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan
terjadinya peleburan ruang ruang tempat mengalirnya liquor (Mualim, 2010)
B. KLASIFIKASI HIDROSEFALUS
Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua.

Kongenital
Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan,
sehingga ;
-

Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil

Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan


intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu.

Didapat
Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan
penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang
menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di

dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh


sebab

adanya

peninggian

tekanan

intrakranial.Sehingga

perbedaan

hidrosefalus kongenital dengan di dapat terletak pada pembentukan otak dan


pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya.
Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi
dalam dua bagian yaitu:

Hydrocephalus komunikan
Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga
terdapat aliran bebas CSF dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan.
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid
untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau
malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan
karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya
hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala
gejala peningkatan ICP).
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus
arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat
sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya
disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah
terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan
gejala gejala peningkatan ICP).

Hydrocephalus non komunikan


Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel
sehingga menghambat aliran bebas dari CSF. Biasanya gangguan yang terjadi
pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi
bentuk hidrosefalus non komunikan.
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam sistem ventrikuler yang
mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang
lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system
saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas
luka. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada
sistem ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam

system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag
berfungsi atau pada anak anak dibawah usia 12 18 bulan dengan tekanan
intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda tanda dan gejala gejala
kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak anak yang garis suturanya tidak
bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

Hidrocephalus Bertekan Normal ( Normal Pressure Hidrocephalus )


Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan
kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial
biasanya normal, gejala gejala dan tanda tanda lainnya meliputi ;
dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan
cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada
beberapa kasus (Kelompok umur 60 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan
hubungan tersebut.

C. ETIOLOGI HIDROSEFALUS
Penyebab pasti terjadinya kelainan bawaan sampai sekarang masih
belum jelas. Biasanya terjadi pada kehamilan yang si ibu masih muda usianya,
dan disebabkan oleh:
1.

Kekurangan oksigen (hipoksia)

2.

Radiasi

3.

Kekurangan nutrisi

4.

Radang atau infeksi

5.

Cedera atau trauma

6.

Obat-obatan

7.

Hormonal
Pada hidrosefalus, pengumpulan cairan otak yang berlebihan dalam

ruangan otak dapat terjadi karena:


1. Produksi cairan otak yang berlebihan
2. Gangguan aliran cairan otak
3. Gangguan proses penyerapan (absorbsi) cairan otak
Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak
ialah:
1. Kelainan Bawaan (Kongenital)

a. Stenosis akuaduktus Sylvii


Merupakan penyebab yang terbanyak pada hidrosefalus bayi dan
anak (60-90%). Insidensinya berkisar antara 0,5-1 kasus/1000 kelahiran.
Stenosis ini bukan berasal dari tumor. Ada tiga tipe stenosis :

Gliosis akuaduktus: berupa pertumbuhan berlebihan dari glia fibriler


yang menyebabkan konstriksi lumen.

Akuaduktus yang berbilah (seperti garpu) menjadi kanal-kanal yang


kadang dapat tersumbat.

Obstruksi akuaduktus oleh septum ependim yang tipis (biasanya pada


ujung kaudal).
Akuaduktus dapat merupakan saluran buntu sama sekali atau
abnormal lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hidrosefalus
terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan
pertama setelah lahir. Stenosis ini bisa disebabkan karena kelainan
metabolisme akibat ibu menggunakan isotretionin (Accutane) untuk
pengobatan acne vulgaris. Oleh karena itu penggunaan derivat retinol
(vitamin A) dilarang pada wanita hamil. Hidrosefalus iatrogenik ini
jarang sekali terjadi, hal ini dapat disebabkan oleh hipervitaminosis A
yang akut atau kronis, di mana keadaan tersebut dapat mengakibatkan
sekresi likuor menjadi meningkat atau meningkatnya permeabilitas
sawar darah otak. Stenosis ini biasanya dapat bersamaan dengan
malformasi lain seperti: malformasi Arnold chiari, ensefalokel
oksipital (Lott et al, 1984).

b. Spina bifida dan kranium bifida


Hidrosefalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan
sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula
oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen
magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian atau total. Anomali
Arnold-chiari ini dapat timbul bersama dengan suatu meningokel atau
suatu meningomielokel.
c. Sindrom Dandy-Walker
Malformasi ini melibatkan 2-4% bayi baru lahir dengan
hidrosefalus. Etiologinya tidak diketahui. Malformasi ini berupa ekspansi

kistik ventrikel IV dan hipoplasi vermis serebelum. Kelainan berupa


atresia kongenital foramen Luschka dan Magendie dengan akibat
hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama
ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya hingga merupakan suatu
kista yang besar di daerah fosa posterior. Hidrosefalus yang terjadi
diakibatkan oleh hubungan antara dilatasi ventrikel IV dan rongga
subarakhnoid yang tidak adekuat, dan hal ini dapat tampil pada saat lahir,
namun 80% kasusnya biasanya tampak dalam tiga bulan pertama. Kasus
semacam ini sering terjadi bersamaan dengan anomali lainnya seperti:
agenesis korpus kalosum, labiopalatoskisis, anomali okuler, anomali
jantung, dan sebagainya.
d. Kista araknoid
Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma
sekunder suatu hematoma.
e. Anomali pembuluh darah
Dalam kepustakaan dilaporkan terjadinya hidrosefalus akibat
aneurisma arterio-vena yang mengenai arteria serebralis posterior dengan
vena Galeni atau sinus transversus dengan akibat obstruksi akuaduktus.
2. Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat
terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut
meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik
eksudat purulen di akuaduktus Sylvii atau sisterna basalis. Lebih banyak
hidrosefalus terdapat pasca meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi
beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari meningitisnya.
Secara patologis terlihat penebalan jaringan piamater dan araknoid sekitar
sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa tuberkulosa,
perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sisterna
kiasmatika dan interpedunkularis, sedangkan pada meningitis purulenta
lokalisasinya lebih tersebar. Selain karena meningitis, penyebab lain infeksi
pada sistem saraf pusat adalah karena toxoplasmosis (Ngoerah, 1991). Infeksi
toxoplasmosis sering terjadi pada ibu yang hamil atau penderita dengan

imunokompeten (Pohan, 1996). Penularan toxoplasmosis kepada neonatus


didapat melalui penularan transplasenta dari ibu yang telah menderita infeksi
asimtomatik. Dalam bentuk infeksi subakut, tetrade yang menyolok adalah
perkapuran intraserebral, chorioretinitis, hidrosefalus atau mikrosefalus, dan
gangguan psikomotor dan kejang-kejang (Pribadi, 1983).
3. Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap
tempat aliran CSS. Pengobatan dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya
dan apabila tumor tidak mungkin dioperasi, maka dapat dilakukan tindakan
paliatif dengan mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau pirau. Pada
anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau
akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari
serebelum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya
disebabkan suatu kraniofaringioma.
4. Perdarahan
Telah banyak dibuktikan bahwa perdarahan sebelum dan sesudah lahir
dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah
basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu
sendiri. Hal tersebut juga dapat dipicu oleh karena adanya trauma kapitis
(Hassan et al, 1985).
Selanjutnya hidrosefalus dengan penyebab pertama tersebut diatas
dikelompokan sebagai hidrosefalus kongenitus, sedangkan penyebab kedua
sampai ke empat dikelompokkan sebagai hidrosefalus akuisita. Sebab-sebab
prenatal merupakan faktor yang bertanggung jawab atas terjadinya
hidrosefalus kongenital yang timbul in-utero dan kemudian bermanifestasi
baik in-utero ataupun setelah lahir. Sebab-sebab ini mencakup malformasi
(anomali perkembangan sporadis), infeksi atau kelainan vaskuler. Pada
sebagian besar pasien banyak yang etiologinya tidak dapat diketahui, dan
untuk ini diistilahkan sebagai hidrosefalus idiopatik. Dari bukti eksperimental
pada beberapa spesies hewan mengisyaratkan infeksi virus pada janin
terutama parotitis dapat sebagai faktor etiologi (Ngoerah, 1991).

D. MANIFESTASI KLINIS HIDROSEFALUS (Mansjoer, 2008)

Masa bayi, tahap awal :


1. Pertumbuhan kepala cepat dan abnormal
2. Fontanela menonjol (terutama fontanela anterior) kadang-kadang
3.
4.
5.
6.

tanpa pembesaran kepala: tegang,tidak berdenyut


Dilatasi vena-vena kulit kepala
Sutura terpisah
Tanda macewen (bunyi perkusi seperti pot retak)
Penipisan tulang tengkorak

Masa bayi, tahap lanjut;


1. Pembesaran frontal atau penonjolan dahi
2. Mata yang masuk ke dalam
3. Tanda setting sun sklera terlihat di atas iris
4. Refleks pupil lamban, respon terhadap cahaya tidak sama
5. Mengalami kesulitan pergerakan
6. Kerusakan saraf yang memberikan gejala kelainan neurologis berupa
gangguan kesadaran, motoris atau kejang, kadang kadang gangguan
pusat vital, bergantung pada kemampuan kepala untuk membesar
dalam mengatasi tekanan intrakranial yang meninggi.
Masa bayi, Umum :
1. Iritabilitas
2. Letargi
3. Bayi menangis ketika digendong atau ditimang dan diam ketika
4.
5.

dibiarkan berbaring tenang


Refleks infantil awal mungkin masih ada
Respons yang normalnya terjadi

tidak

muncul,

dapat

memperlihatkan : perubahan tingkat kesadaran, opistotonos (sering


6.

berlebihan), spastisitas ekstremitas bawah, muntah


Kesulitan menghisap dan minum susu, tangisan yang melengking,

singkat, dan bernada tinggi, serta gangguan kardiopulmonal.


E. PALOGI HIDROSEFALUS
F. KOMPLIKASI HIDROSEFALUS
Komplikasi Hidrosefalus (Whaley and Wong, 2009)
1. Peningkatan TIK
2. Pembesaran kepala
3. kerusakan otak
4. Meningitis, ventrikularis, abses abdomen
5. Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit menurun
6. Kerusakan jaringan saraf
7. Proses aliran darah terganggu
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIDROSEFALUS (Wong, 2009)

Scan temografi komputer (CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel

dan

membantu

dalam

mengidentifikasi

kemungkinan

penyebabnya

(neoplasma, kista, malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial)

Pungsi ventrikel kadang digunakan untuk mengukur tekanan intra kranial,


mengambil cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk
pengulangan pengaliran).

EEG: untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik

Transluminasi: untuk mengetahui adanya kelainan dalam kepala

MRI (Magnetik Resonance Imaging): memberi informasi mengenai struktur


otak tanpa kena radiasi

H. PENATALAKSANAAN MEDIS HIDROSEFALUS (Layono, 2003)


1. Pencegahan
Untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu dilakukan
penyuluhan genetic, penerangan keluarga berencana serta menghindari
perkawinan antar keluarga dekat. Proses persalinan/kelahirandiusahakan
dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari trauma kepala bayi. Tindakan
pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih dari pada menanggung resiko
cedera kepala bayi sewaktu lahir.
2. Terapi

Terapi medikamentosa
Ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya
mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan
resorbsinya. Dapat dicoba pada pasien yang tidak gawat, terutama pada
pusat kesehatan dimana sarana bedah saraf tidak ada. Obat yang sering
digunakan adalah:
Asetasolamid
Cara pemberian dan dosis; Per oral 2-3 x 125 mg/hari, dosis
ini dapat ditingkatkan sampai maksimal 1.200 mg/hari
Furosemid
Cara pemberian dan dosis; Per oral, 1,2 mg/kgBB 1x/hari atau
injeksi iv 0,6 mg/kgBB/hari Bila tidak ada perubahan setelah satu
minggu pasien diprogramkan untuk operasi.

Lumbal pungsi berulang (serial lumbar puncture)


Mekanisme pungsi lumbal berulang dalam hal menghentikan
progresivitas hidrosefalus belum diketahui secara pasti. Pada pungsi
lumbal berulang akan terjadi penurunan tekanan CSS secara intermiten
yang memungkinkan absorpsi CSS oleh vili arakhnoidalis akan lebih
mudah.
Indikasi : umumnya dikerjakan pada hidrosefalus komunikan terutama
pada hidrosefalus yang terjadi setelah perdarahan subarakhnoid,
periventricular intraventrikular dan meningitis TBC. Diindikasikan juga
pada hidrosefalus komunikan dimana shunt tidak bisa dikerjakan atau
kemungkinan akan terjadi herniasi (impending herniation)

Cara:
a. LP dikerjakan dengan memakai jarum ukuran 22, pada interspace L23 atau L3-4 dan CSS dibiarkan mengalir di bawah pengaruh gaya
gravitasi.
b. LP dihentikan jika aliran CSS terhenti. Tetapi ada juga yang memakai
cara setiap LP CSS dikeluarkan 3-5 ml.
c. Mula-mula LP dilakukan setiap hari, jika CSS yang keluar kurang dari
5 ml, LP diperjarang (2-3 hari).Dilakukan evaluasi dengan
pemeriksaan CT scan kepala setiap minggu.
d. LP dihentikan jika ukuran ventrikel menetap pada pemeriksaan CT
scan 3 minggu berturut-turut.
e. Tindakan ini dianggap gagal jika :
-

Dilatasi ventrikel menetap

Cortical mantel makin tipis

Pada lokasi lumbal punksi terjadi sikatriks

Dilatasi ventrikel yang progresif

Komplikasi

herniasi

transtentorial

atau

tonsiler,

infeksi,

hipoproteinemia dan gangguan elektrolit.

Terapi Operasi
Operasi biasanya langsung dikerjakan pada penderita hidrosefalus.
Pada penderita gawat yang menunggu operasi biasanya diberikan :
Mannitol per infus 0,5-2 g/kgBB/hari yang diberikan dalam jangka waktu
10-30 menit.
1. Third Ventrikulostomi/Ventrikel III
Lewat kraniotom, ventrikel III dibuka melalui daerah khiasma
optikum, dengan bantuan endoskopi. Selanjutnya dibuat lubang
sehingga CSS dari ventrikel III dapat mengalir keluar.
2. Operasi pintas/Shunting
Ada 2 macam :
Eksternal
CSS dialirkan dari ventrikel ke luar tubuh, dan bersifat
hanya sementara. Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang
untuk terapi hidrosefalus tekanan normal.

Internal
a. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain.
- Ventrikulo-Sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna
(ThorKjeldsen)
- Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke atrium kanan.
- Ventrikulo-Sinus, CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior
- Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronkhus
- Ventrikulo-Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum
- Ventrikulo-Peritoneal, CSS dialirkan ke rongga
peritoneum
b. Lumbo Peritoneal Shunt
CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke
rongga peritoneum dengan operasi terbuka atau dengan jarum
Touhy secara perkutan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA HIDROSEFALUS


PENGKAJIAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS
1. Anamnesa
a. Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda,
perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
b. Riwayat Perkembangan
Kelahiran : Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau

2.

tidak.
Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.
Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
- Anak dapat melihat keatas atau tidak.
- Pembesaran kepala.
- Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.
b. Palpasi:
- Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
- Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga
fontanela
- Tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c. Pemeriksaan Mata:
- Akomodasi.
- Gerakan bola mata.
- Luas lapang pandang
- Konvergensi.
- Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat

keatas.
- Stabismus, nystaqmus, atropi optic.
3. Observasi Tanda-Tanda Vital
Didapatkan data data sebagai berikut :
-

Peningkatan tekanan darah.

Penurunan nadi / Bradicardia.

Peningkatan frekwensi pernapasan.

4. Diagnosa Klinis
Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari
pengumpulan cairan 12omputer. ( Transsimulasi terang )
-

Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi Crakedpot


(Mercewens Sign

Opthalmoscopy : Edema Pupil.

CT Scan Memperlihatkan (non invasive) type alus dengan nalisisi

Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

Diagnosa keperawatan, Intervensi dan Rasional.


No
1.

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan &
Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Risiko

Tidak terjadi

perubahan

gangguan

setiap 2 jam dan

keadaan

integritas kulit

integritas kulit.

monitor terhadap

kulit

kepala b/d
ketidakmampua

Kriteria:

Kaji kulit kepala Untuk

memantau
integumen

secara

dini.

area yang tertekan

n bayi dalam

Kulit utuh,

mengerakan

bersih dan

2 jam dapat di-

kepala akibat

kering.

pertimbangkan

Ubah posisi tiap Untuk meningkat-kan

peningkatan

untuk mengubah

ukuran dan berat

poisisi

kepala

setiap jam.
Hindari
adanya
pada

sirkulasi kulit.

kepala
tidak Linen
linen
tempat

dapat

menyerap

keringat

sehingga kulit tetap


kering

tidur

Untuk

Baringkan

mengurangi

tekanan

yang

bantal karet busa

menyebabkan

stres

atau

mekanik.

kepala

pada

menggunakan
tempat tidur air Jaringan
jika mungkin.
Berikan

nutrisi

mudah

nekrosis bila kalori


dan protein kurang.

sesuai
2.

Perubahan

Keluarga

kebutuhan.
Jelaskan secara Pengetahuan

dapat

fungsi keluarga

menerima

rinci

b/d situasi krisis

keadaan

kondisi

(anak dalam

anaknya,

prose-dur terapi

catat fisik)

mampu

dan

menjelaskan

prognosanya.

keadaan
penderita.
Kriteria:
- Keluarga
berpartisipasi
dalam
merawat
anaknya
- Secara verbal
keluarga
dapat

Resiko tinggi

klien,

dalam

merawat penderita.
dapat
seluruh

informasi agar tidak

tersebut

bila
dengan

contoh

menimbulkan

salah

persepsi

bila

keluarga belum Untuk menghindari


mengerti
salah persepsi
Klarifikasi
kesalahan asumsi
dan
misinterpretasi
Berikan
kesempatan

tentang penya-

keluarga

Tidak terjadi

keluarga

menerima

penjelasan
perlu

mempersiapkan

Keluarga

Ulangi

mengerti
kit anaknya.
3.

tentang

Keluarga

dapat

mengemukakan
perasaannya

untuk

bertanya.
Observasi ketat Untuk

mengetahui

terjadi cidera b/d peningkatan

tanda-tanda

secara

peningkatan

peningkatan TIK

peningkatan TIK

tekanan intra
kranial

TIK Kriteria:
Tanda vital
dalam batas

Tentukan

skala Penurunan kesadaran

coma

menandakakan
adanya

normal, pola
nafas efektif,

peningkatan

TIK

Hindari

reflek cahaya

pemasangan

positif, tidak

infus di kepala

tejadi gangguan Hindari sedasi


kesadaran,
tidak muntah
dan tidak

dini

Mencegah

terjadi

infeksi sistemik
Tingkat

kesadaran

merupakan indikator
Jangan

sekali-

kejang.

kali
atau

memijat

peningkatan TIK

memompa Dapat

shunt

untuk

mengakibat-

kan sumbatan sehing-

memeriksa

ga

fungsinya

katan

terjadi
CSS

peningatau

obtruksi pada ujung


Ajari

keluarga

kateter di peritonial.

mengenai tanda- Keluarga dapat bertanda

patisipasi dalam pe-

peningkatan TIK

rawatan klien anak


hidrosefalus.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges M.E. 1999. Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan
dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta:EGC
Lynda Juall Carpenito. 2000. Buku Saku : Diagnosa Keperawatan, Ed.8, EGC,
Jakarta
Mansjoer, A. 2008. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 jilid 2. Jakarta : Media
Aesculopius
Meddoy, R, and Newell,S. 2007. Lecture Note Pediatrik. Jakarta: EMS
Soetomenggolo,T.S . Imael .S. 1999. Neorologi anak, Ikatan Dokter Indonesia,
Jakarta
Whaley and Wong. 1995. Nursing Care of infants and children, St.Louis : Mosby
year Book
Wong, D. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Edisi 6 Vol 2. Jakarta: EGC