Anda di halaman 1dari 14

Tentang Amnesti Pajak

Amnesti pajak bukanlah hal yang baru dalam dunia perpajakan. Beberapa
Negara yang lain sudah pernah terlebih dahulu mempraktikkannya dengan
tingkat keberhasilan yang beragam. Kamus Besar Bahasa Indonesia
mengartikan amnesti (am.nes.ti/amnsti/ n) sebagai pengampunan atau
penghapusan hukuman yang diberikan kepala Negara kepada seseorang atau
sekelompok orang yang telah melakukan tindak pidana tertentu. Dengan
demikian amnesti pajak dapat kita artikan sebagai pengampunan atau
penghapusan hukuman dari Negara kepada Wajib Pajak. Lebih jelas Undangundang nomor 11 tahun 2016 tentang pengampunan pajak mendefinisikan
pengampunan/amnesti pajak sebagai penghapusan pajak yang seharusnya
terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di
bidang perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang
tebusan.
Beberapa Negara yang telah terlebih dahulu menerapkan amnesti pajak dalam
administrasi pajaknya diantaranya Belgia, Jerman, Yunani, Italia, Portugal, Rusia,
Afrika Selatan, Spanyol, Amerika dan Kanada. Masing-masing Negara memiliki
kekhas-an dalam pelaksanaan amnesti pajak, baik terkait subjek, objek, jangka
waktu, maupun tata caranya. Misalnya Afrika Selatan menerapkan kebijakan
amnesti pajak pada tahun 2006 untuk UMKM (pelaku bisnis dengan peredaran
usaha kurang dari R10 juta. Amnesti pajak diberlakukan bagi seluruh UMKM baik
yang belum terdaftar maupun sudah terdaftar namun tidak melaporkan
penghasilannya dengan benar. Dengan amnesti pajak UMKM berkesempatan
untuk memperbaiki pelaporan pajaknya tanpa dikenai sanksi atas pajak-pajak di
masa yang telah lalu.
Alink dan Kommer (2011:349) mengatakan bahwa kepatuhan sukarela
(voluntary compliance) merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam
mengumpulkan uang pajak dari masyarakat. Sayangnya tidak seluruh Wajib
Pajak patuh dan mau melaksanakan kewajiban perpajakannya. Permasalahan
mengenai banyaknya Wajib Pajak yang tidak patuh dan terlalu besarnya beban
pekerjaan terkait dengan peningkatan kepatuhan Wajib Pajak menjadi pekerjaan
rumah yang tidak pernah terselesaikan bagi aparat pajak. Dalam situasi seperti
itu amnesti pajak dapat menjadi solusi sementara, meskipun pelaksanaan
amnesti pajak dapat memberikan kesan lemahnya penegakan hukum yang
dilakukan oleh aparat pajak.
Amnesti pajak dilaksanakan dengan harapan bahwa dengan diberikan
pengampunan atas ketidakpatuhan di masa lampau, di masa mendatang
kepatuhan Wajib Pajak akan membaik. Meskipun pada umumnya kepatuhan

Wajib Pajak dan penerimaan pajak dipengaruhi oleh banyak faktor.


Kabar gembiranya adalah UU Pengampunan Pajak tidak menjadikan
penerimaan pajak sebagai tujuan utamanya. Apabila kita baca memori
penjelasan UU tersebut, disebutkan bahwa pengalihan harta dari luar negeri ke
Indonesia menjadi fokus utama amnesti pajak di Indonesia. Selain itu
pelaksanaan amnesti pajak dilatarbelakangi oleh;

a.

pertumbuhan ekonomi nasional yang dalam beberapa tahun terakhir


mengalami perlambatan sehingga berdampak pada turunnya penerimaan
pajak dan mengurangi ketersediaan likuiditas dalam negeri yang sangat
diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia; dan

b.

banyak harta Warga Negara Indonesia yang ditempatkan di luar negeri


baik dalam bentuk likuid maupun nonlikuid yang seharusnya dapat
dimanfaatkan untuk menambah likuiditas dalam negeri yang dapat
mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Tujuan pemberlakuan amnesti pajak di Indonesia adalah:


a.

mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui


pengalihan harta yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan
likuiditas domestic, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga,
dan peningkatan investasi;

b.

mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih


berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid,
komprehensif, dan terintegrasi; dan

c.

meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk


pembiayaan pembangunan.

Siapa yang Dapat Memanfaatkan Amnesti Pajak


Pada dasarnya setiap Wajib Pajak dapat memanfaatkan amnesti pajak, baik yang

sudah ber-NPWP maupun belum ber-NPWP. Dalam hal Wajib Pajak belum
memiliki NPWP namun ingin memanfaatkan amnesti pajak, Wajib Pajak terlebih
dahulu mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal
atau kedudukan Wajib Pajak. Apabila Wajib Pajak sudah pernah memiliki NPWP
namun telah dihapus, atau NWP berstatus non efektif, Wajib Pajak dapat
meminta KPP untuk mengaktifkan kembali NPWP tersebut. Wajib Pajak yang
dapat memanfaatkan amnesti pajak adalah Wajib Pajak yang mempunyai
kewajiban menyampaikan SPT Tahunan PPh. Sehingga sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan nomor 243/PMK.03/2014 Wajib Pajak Orang Pribadi yang
menerima atau memperoleh penghasilan neto di bawah PTKP tidak diwajibkan
memanfaatkan amnesti pajak.
Meski semua Wajib Pajak dapat memanfaatkan amnesti pajak, namun terdapat
3 (tiga) jenis Wajib Pajak yang tidak dapat memanfaatkan amnesti pajak ini,
yaitu:
a.

Wajib Pajak yang sedang dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya


telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan;

b.

Wajib Pajak yang sedang dalam proses peradilan; atau

c.

Menjalani hukuman pidana

Atas tindak pidana perpajakan.

Cara Memanfaatkan Amnesti Pajak


Seperti yang telah dinyatakan dalam pengertian amnesti pajak, amnesti pajak
dilakukan dengan cara Wajib Pajak mengungkapkan harta yang dimilikinya
dalam Surat Penyataan. Surat Pernyataan atau lengkapnya Surat Pernyataan
Harta Untuk Pengampunan Pajak adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak
untuk mengungkapkan harta, utang, nilai harta bersih, serta penghitungan dan
pembayaran uang tebusan. Dimana uang tebusan adalah sejumlah uang yang
dibayarkan ke kas Negara untuk mendapatkan amnesti pajak.
Bentuk dan format Surat Pernyataan tersebut adalah sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan nomor 118/PMK.03/2016 tentang Pelaksanaan UU
No 11 tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak.

Objek Amnesti Pajak


Pengampunan pajak yang diberikan berupa penghapusan pajak yang
seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi
pidana di bidang perpajakan sampai dengan akhir tahun pajak 2015 yang belum
atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh Wajib Pajak. Kewajiban perpajakan
tersebut berupa kewajiban atas PPh dan PPN dan PPn BM.

Uang Tebusan
Untuk mendapatkan amnesti, Wajib Pajak harus membayar sejumlah uang
tebusan yang dihitung dari besarnya harta yang diungkap dalam Surat
Pernyataan. Penentuan tariff uang tebusan dibagi ke dalam tiga periode, yaitu
periode pertama Juli-September 2016, periode kedua Oktober-Desember 2016
dan period ketiga/terakhir Januari-Maret 2017. Tarif uang sebagaimana diatur
dalam UU Pengampunan Pajak disajikan dalam tabel berikut:

Tata cara penghitungan uang tebusan dan contoh perhitungannya dapat dilihat
pada tulisan saya sebelumnya di link berikut ini: Cara Menghitung Uang Tebusan
bagi Wajib Pajak yang Akan Memanfaatkan Amnesti Pajak.
Uang Tebusan diadministrasikan sebagai PPh Non Migas Lainnya sehingga Wajib
Pajak membayar dengan kode akun pajak 411129 dan kode jenis setoran 512.

SPT Tahunan Terakhir


Untuk dapat memanfaatkan amnesti pajak, Wajib Pajak harus sudah
melaporkan SPT Tahunan PPh Terakhir, yaitu:
a.

SPT Tahunan PPh tahun pajak 2015 bagi Wajib Pajak yang akhir tahun
bukunya berakhir pada periode 1 Juli 2015 sampai dengan 31 Desember
2015; atau

b.

SPT Tahunan PPh tahun pajak 2014 bagi Wajib Pajak yang akhir tahun
bukunya berakhir pada periode 1 Januari 2015 sampai dengan 30 Juni 2015.

Dalam hal Wajib Pajak ingin memanfaatkan amnesti pajak, namun belum
melaporkan SPT Tahunan PPh terakhir, maka Wajib Pajak dapat melaporkan SPT
Tahunan tersebut.
Uang tebusan dihitung dengan cara mengalikan tariff uang tebusan dengan nilai
harta bersih yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan dalam SPT Tahunan
PPh terakhir. Dimana nilai harta bersih merupakan selisih antara nilai harta
dikurangi nilai utang.

Persyaratan Memanfaatkan Amnesti Pajak


Berikut ini disarikan persyaratan lengkap untuk memanfaatkan amnesti pajak
berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku:
a. Telah Memiliki NPWP

Dalam hal Wajib Pajak belum memiliki NPWP, Wajib Pajak dapat mengajukan pendaftaran N

dalam hal NPWP telah dihapus atau berstatus non efektif, Wajib Pajak dapat meminta kepad
mengaktifkan kembali NPWP tersebut;
b. Membayar Uang Tebusan

Uang tebusan dibayar lunas melalui bank persepsi dengan menggunakan SSP yang berfung
pembayaran uang tebusan setelah mendapatkan validasi
c. Melunasi Seluruh Tunggakan Pajak

1) Tunggakan pajak termasuk biaya penagihan pajak yang timbul sehubungan dengan adan
penagihan pajak kepada Wajib Pajak harus dilunasi oleh Wajib Pajak;

2) Dalam hal tunggakan pajak telah dibayar sebagian, penghitungan besarnya tunggakan p

proporsional antara besarnya pokok pajak dengan sanksi administrasi berdasarkan data
sistem administrasi Direktorat Jenderal Pajak;
Contoh:

a) Wajib Pajak badan mempunyai utang pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pa

dengan jumlah pokok pajak sebesar Rp10.000.000.000,- dan sanksi administrasi berup

Rp2.400.000.000,- dan Wajib Pajak telah melakukan pembayaran sebesar Rp6.200.000

penghitungan besarnya tunggakan pajak yang harus dilunasi oleh Wajib Pajak adalah:

Rp10.000.000.000 - ( Rp6.200.000.000 x Rp10.000.000.000 / Rp12.400.000.000 )= Rp5.

b) Wajib Pajak Orang Pribadi mempunyai utang pajak yang tercantum dalam Surat Ketet

sebesar Rp1.000.000.000 dan tidak terdapat data mengenai rincian besarnya pokok d

Wajib Pajak telah melakukan pembayaran sebesar Rp500.000.000. Maka tunggakan p


berikut:
Pokok Pajak

Rp1.000.000.000 x (100%)/(148%) = Rp675.675.675,68

Sanksi

Rp1.000.000.000 x (48%)/(148%) = Rp324.324.324,32

Sehingga tunggakan pajak yang masih harus dilunasi adalah:

Rp675.675.675,68 (Rp500.000.000 x Rp675.675.675,68 / Rp1.000.000.000 = Rp337.83

3) Dalam hal data yang terdapat pada sistem administrasi Direktorat Jenderal Pajak tidak m

penghitungan besarnya sanksi administrasi, besarnya sanksi administrasi dihitung sebes

yang masih harus dibayar dalam Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak.

d. Melunasi Pajak Yang Tidak Atau Kurang Dibayar Atau Melunasi Pajak Yang Seharusnya Tidak

Bagi Wajib Pajak Yang Sedang Dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan Dan/Atau Penyidika
e.

Menyampaikan SPT Tahunan PPh Terakhir

Apabila Wajib Pajak belum menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun terakhir, berlaku ketentu
Wajib Pajak harus menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun terakhir yang mencerminkan
1)

dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh sebelum tahun pajak terakhir yang disampaikan seb

Pengampunan Pajak berlaku ditambah harta yang bersumber dari penghasilan pada tah
dan

2)

Harta yang dimiliki selain harta sebagaimana dimaksud pada angka 1) di atas harus diun
harta tambahan dalam Surat Pernyataan

f. Mencabut Permohonan-Permohonan di bawah ini Apabila Wajib Pajak sedang Mengajukan


Dikeluarkan Surat Keputusan atau Putusan:
1)
2)

Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak termasuk permohonan pemindahbukuan at


pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan SPT

Pengurangan Atau Penghapusan Sanksi Administrasi Perpajakan Dalam Surat Ketetapan


Surat Tagihan Pajak Yang Didalamnya Terdapat Pokok Pajak Yang Terutang

3) Pengurangan Atau Pembatalan Ketetapan Pajak Yang Tidak Benar


4) Keberatan
5) Pembetulan Atas Surat Ketetapan Pajak Dan Surat Keputusan
6) Banding
7) Gugatan Dan/Atau
8) Peninjauan Kembali

g Apabila Wajib Pajak bermaksud mengalihkan harta ke Indonesia, maka Wajib Pajak harus m
tersebut ke Indonesia dan menginvestasikannya di dalam wilayah Indonesia
Investasi tersebut dilakukan paling singkat selama 3 (tiga) tahun:
1)

sebelum 31 Desember 2016 bagi Wajib Pajak yang memilih memanfaatkan amnesti paja
atau

2) sebelum 31 Maret 2017 bagi Wajib Pajak yang memilih memanfaatkan amnesti pajak pad

h. Apabila harta yang diungkap dalam Surat Pernyataan adalah harta yang berada di Indonesia

tidak dapat mengalihkan harta tersebut ke luar negeri paling singkat sleama 3 (tiga) tahun te
diterbitkannya Surat Keterangan.

Surat Pernyataan
Untuk memperoleh amnesti pajak Wajib Pajak harus menyampaikan surat

pernyataan yang format dan bentuknya diatur dalam PER-07/PJ/2016. Surat


pernyataan harus ditandatangani oleh Wajib Pajak sendiri, pemimpin tertinggi
berdasarkan akta pendirian atau penerima kuasa apabila pemimpin tertinggi
berhalangan. Surat Pernyataan harus dilampiri dengan dokumen-dokumen
berupa:
a.

bukti pelunasan uang tebusan

b.

bukti pelunasan tunggakan pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki


tunggakan

c.

daftar rincian harta beserta informasi kepemilikan harta yang dilaporkan,


disampaikan dalam format softcopy dan hardcopy.

d.

daftar utang serta dokumen pendukung, disampaikan dalam format


softcopy dan hardcopy.

e.

bukti pelunasan pajak yang tidak atau kurang dibayar atau pajak yang
seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan
pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan

f.

fotokopi SPT Tahunan PPh Terakhir kecuali bagi Wajib Pajak yang
terdaftar setelah tahun 2015

g.

surat pernyataan mencabut permohonan-permohonan di atas

h.

surat pernyataan mengalihkan dan menginvestasikan harta ke Indonesia


paling singkat selama 3 (tiga) tahun terhitung sejak dialihkan bagi Wajib
Pajak yang bermaksud mengalihkan harta ke Indonesia

i.

surat pernyataan tidak mengalihkan harta ke luar negeri paling singkat


selama 3 (tiga) tahun terhitung sejak diterbitkannya Surat Keterangan bagi
Wajib Pajak yang mengungkapkan harta yang berada di Indonesia

j.

surat pernyataan mengenai besaran peredaran usaha bagi Wajib Pajak


yang peredaran usahanya sampai dengan Rp4,8 miliar kecuali Wajib Pajak
sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh terakhir

Wajib Pajak dapat menyampaikan Surat Pernyataan paling banyak 3 (tiga) kali

selama periode Juli 2016 hingga Maret 2017. Surat Pernyataan kedua atau ketiga
dapat disampaikan sebelum atau setelah Surat Keterangan atas Surat
Pernyataan yang pertama atau kedua diterbitkan.
a.

Surat Pernyataan disampaikan secara langsung kepada Menteri Keuangan


melalui KPP tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat tertentu yang
meliputi:

b.

Konsulat Jenderal RI di Hongkong

c.

Kedutaan Besar RI di Singapura

d.

Kedutaan Besar RI di London

e.

Tempat lain yang ditentukan Menteri Keuangan.

Dalam hal Surat Pernyataan tidak disampaikan secara langsung ke KPP tempat
Wajib Pajak terdaftar atau tidak dilampiri surat kuasa atau dokumen yang telah
ditentukan, Surat Pernyataan dianggap tidak disampaikan dan dikembalikan
kepada Wajib Pajak.

Surat Keterangan
Surat Keterangan atau lengkapnya Surat Keterangan Pengampunan Pajak
adalah surat yang diterbitkan oleh Kepala Kanwil DJP atas nama Menteri sebagai
bukti pemberian pengampunan pajak. Surat Keterangan harus diterbitkan
paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak tanggal diterimanya Surat Pernyataan
beserta lampirannya. Apabila jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja tersebut tidak
terpenuhi, maka Surat Pernyataan dianggap sebagai Surat Keterangan.

Fasilitas Pengampunan Pajak


Wajib Pajak yang telah memperoleh tanda terima penyampaian Surat
Pernyataan tidak dilakukan pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan
dan/atau penyidikan tindak pidana perpajakan untuk masa pajak, bagian tahun
pajak, atau tahun pajak sampai dengan tahun pajak terakhir.
Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan memperoleh fasilitas
pengampunan pajak berupa:
a.

penghapusan pajak terutang yang belum diterbitkan ketetapan pajak,


tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan, dan tidak dikenai sanksi
pidana di bidang perpajakan;

b.

penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga, atau denda;

c.

tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan


penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;

d.

penghentian pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan dan


penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dalam hal Wajib Pajak
sedang dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan dan
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;

Untuk kewajiban perpajakan dalam masa pajak, bagian tahun pajak, dan tahun
pajak, sampai dengan akhir tahun pajak terakhir yang berkaitan dengan
kewajiban PPh, dan PPN dan PPn BM.

Konsekuensi Memanfaatkan Amnesti Pajak


Selain fasilitas-fasilitas, beberapa hal di bawah ini menjadi konsekuensi apabila
Wajib Pajak memanfaatkan amnesti pajak:
1. Investasi

Wajib Pajak yang akan mengalihkan hartanya ke Indonesia harus mengalihkan hartanya me
yang ditunjuk secara khusus. Investasi tersebut dilakukan dalam bentuk:
a.

surat berharga Negara Republik Indonesia;

b.

obligasi BUMN;

c.

obligasi lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah;

d.

investasi keuangan pada bank persepsi;

e.

obligasi perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh OJK;

f.

investasi infrastruktur melalui kerja sama Pemerintah dengan badan usaha;

g.

invetasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh Pemerintah; dan/atau

h.

bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Instrumen investasi untuk bentuk investasi sebagaimana disebutkan pada huruf a, b, c, d, d


1)

efek bersifat utang, termasuk medium term notes;

2)

sukuk;

3)

saham;

4)

unit penyertaan reksa dana;

5)

efek beragun asset;

6)

unit penyertaan dana investasi real estate;

7)

deposito;

8)

tabungan;

9)

giro; dan/atau

10) instrumen investasi pasar keuangan lainnya termasuk produk asuransi, perusahaan pe
pensiun atau modal ventura, yang mendapatkan persetujuan dari OJK
2. Pembukuan
a.

Bagi Wajib Pajak yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan harus membukukan

harta bersih yang disampaikan dalam Surat Pernyataan dikurangi dengan nilai harta be

dalam SPT Tahunan PPh Terakhir sebagai tambahan atas saldo laba ditahan dalam ner

b.

Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan yang berupa aktiva tidak b
diamortisasi untuk tujuan perpajakan

c.

Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan yang berupa aktiva berwu
disusutkan untuk tujuan perpajakan

3. Pengalihan Hak
a.

Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan dan membayar uang tebusan at

bergerak berupa tanah dan/atau bangunan dan/atau harta berupa saham yang belum
nama Wajib Pajak harus melakukan pengalihan hak menjadi nama Wajib Pajak
b.

Pengalihan hak atas harta berupa tanah dan/atau bangunan dibebaskan dari pengenaa

permohonan pengalihan hak atau penandatanganan surat pernyataan oleh kedua bela

notaris dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember 2017. Pembebasan dilakukan den
Keterangan Bebas PPh dari Kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.
c.

Pengalihan hak atas harta berupa saham dibebaskan dari pengenaan PPh apabila perja

hak dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember 2017. Pembebasan dilakukan denga
Bebas PPh dari Kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.
d.

Apabila sampai dengan tanggal 31 Desember 2017 Wajib Pajak tidak melakukan penga
pengalihan hak yang dilakukan dikenai pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4. Kompensasi Kerugian Fiskal dan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak


Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan tidak berhak:
a.. mengompensasikan kerugian fiskal dalam SPT sampai dengan tahun pajak terakhir ke
berikutnya;
b.

mengompensasikan kelebihan pembayaran pajak PPh dan PPN atau PPn BM untuk ma
tahun pajak terakhir ke masa pajak berikutnya;

c.

mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dalam SPT PPh

dan PPn BM untuk masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak, sampai dengan a
terakhir;
d.

melakukan pembetulan SPT PPh dan PPN dan PPn BM untuk masa pajak, bagian tahun

pajak, sampai dengan akhir tahun pajak terakhir, setelah UU Pengampunan Pajak berla
5. Pembetulan SPT

Setelah UU Pengampunan Pajak berlaku, pembetulan SPT sampai dengan akhir tahun paja

disampaikan oleh Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan dianggap tidak disam

Harta yang Belum atau Kurang Diungkap

Apabila setelah Wajib Pajak memperoleh Surat Keterangan ditemukan data


dan/atau informasi mengenai harta yang belum atau kurang diungkap dalam
Surat Pernyataan, atas harta tersebut dianggap sebagai tambahan penghasilan
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data
dan/atau informasi mengenai harta dimaksud. Atas harta tersebut dikenai PPh
sesuai dengan UU PPh ditambah dengan sanksi administrasi perpajakan berupa
kenaikan sebesar 200% dari PPh yang tidak atau kurang dibayar

Wajib Pajak yang Tidak Memanfaatkan Amnesti Pajak


Apabila Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pernyataan sampai dengan 31
Maret 2017 dan Dirjen Pajak menemukan data dan/atau informasi mengenai
harta Wajib Pajak yang diperoleh sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan 31
Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh, atas harta
tersebut dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima oleh Wajib
Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi paling lama 3 (tiga)
tahun terhitung sejak UU Pengampunan Pajak berlaku. Atas harta tersebut
dikenai pajak-pajak dan sanksi-sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal di atas, untuk dapat memanfaatkan amnesti pajak, langkahlangkah yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak diantaranya:
1.

Memastikan bahwa Wajib Pajak telah memiliki NPWP dan memastikan


status NPWP tersebut

2.

Telah melaporkan SPT Tahunan PPh terakhir

3.

Membuat daftar harta dan hutang yang belum dilaporkan dalam SPT
Tahunan PPh terakhir

4.

Menghitung besarnya uang tebusan dan membayarnya dengan


menggunakan e-billing pajak

5.

Meminta daftar tunggakan pajak ke KPP dan melunasinya

6.

Meminta pajak yang tidak atau kurang dibayar atau pajak yang
seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan
pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan dan melunasinya

7.

Mencabut permohonan-permohonan sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat


(3) huruf f UU No 11 tahun 2016

8.

Mengisi Surat Pernyataan dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang


wajib dilampirkan

9.

Menyampaikan Surat Pernyataan langsung ke KPP tempat Wajib Pajak


terdaftar atau ke tempat tertentu

10.

Mengalihkan harta dari luar negeri ke Indonesia dan


menginvestasikannya dalam bentuk dan instrument investasi yang telah
ditentukan

11.

Menerima Surat Keterangan sebagai bukti telah memanfaatkan amnesti


pajak