Anda di halaman 1dari 16

Pengertian Teori Arsitektur

Suatu teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang


sebenarnya harus dicapai dalam arsitektur dan bagaimana cara yang
baikuntuk merancang. Teori dalam arsitektur cenderung tidak seteliti dan
secermat dalam ilmu pengetahuan yang lain (obyektif), satu ciri penting
dari teori ilmiah yang tidak terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian
yang terperinci. Desain arsitektur sebagaian besar lebih merupakan
kegiatan merumuskan dari pada kegiatan menguraikan. Arsitektur tidak
memilahkan bagian-bagian, ia mencernakan dan memadukan bermacam
ramuan unsur dalam cara-cara baru dan keadaan baru. Sehingga hasil
seluruhnya tidak dapat diramalkan. Teori dalam arsitektur adalah
hipothesa, harapan dan dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi bila
semua unsur yang menjadikan bangunan dikumpulkan dalam suatu cara,
tempat, dan waktu tertentu.
Macam Teori Arsitektur
Teori Positif & Normatif
Teori positif merupakan suatu proses kreatif yang mencakup pembentukan
struktur konseptual, baik untuk menata maupun untuk menjelaskan hasil
suatu pengamatan. Tujuannya adalah agar struktur ini dapat digunakan
untuk menjelaskan apa yang terjadi dan membuat prediksi mengenai apa
yang mungkin terjadi.
Nilai dari teori positif ini bergantung pada kekuatan penjelasan dan
prediksinya. Teori-teori yang berhasil adalah teori yang sederhana,
tetapi mampu menggeneralisasikan fenomena dunia dan dalam
penggunaannya dapat membantu kita melakukan prediksi dengan akurat.
Hal ini memungkinkan seseorang mendapatkan sejumlah pernyataan
deskriptif dari sebuah pernyataan yang sederhana.
Dalam perancangan, salah satu fungsi teori positif adalah meningkatkan
kesadaran mengenai perilaku mana dalam lingkungan yang penting bagi
manusia sehingga dalam pengambilan keputusan desain, hal tersebut
tidak luput menjadi bahan pertimbangan. Oleh karena itu, dengan teori
positif berbagai isu ini dapat didiskusikan dengan jelas dan gamblang
sehingga dapat menjembatani celah yang ada antara rancangan yang
intuitif dan ketidaksadaran akan perilaku yang penting bagi manusia
karena berbagai aspek dalam desain dapat dijelaskan secara eksplisit.
Berbeda dengan Teori Normatif, yang berangkat dari konsensus tentang
segala sesuatu yang disepakati untuk waktu tertentu atau tentang
patokan apa yang disebut baik atau apa yang seharusnya dilakukan,

sebuah teori positif akan memperhitungkan adanya pengalaman dari


beragamnya karakter manusia yang mengakibatkan beragam pula bentuk
tuntutan akan lingkungan fisik.
Adapun sumber lain yang menjelaskan tentang Teori Positif dan Teori
Normatif :
Teori Positif adalah teori yang dibangun berdasarkan metode
ilmiah (rasional dan scientific), yaitu berdasarkan pengalaman dan
pengujian empirik, melalui pengamatan, penguraian, dan penjelasan atas
fenomena.
Teori Normatif adalah teori yang dibangun berdasarkan pandangan
dunia (paradigma, filosofi) dari para filsuf, politisi, perencana, dan arsitek.
Teori ini lebih berdasarkan ideologi daripada observasi dan pengalaman
empirik.
1.TEORI POSITIF
Teori Positif merupakan pernyataan yang tegas yang melukiskan,
menerangkan kenyataan dan mampu untuk memperluas prediksi
terhadap kenyataan-kenyataan di masa datang. Teori positif merupakan
pernyataan-pernyataan positif yaitu pernyataan tegas tentang realita
(sebagaimana adanya).
Teori positif pada hakekatnya bersifat empirik dan tentative. Teori positif
tidak akan menyiratkan bahwa sebenarnya teori-teori itu harus sesuai
dengan epistimologi para positifist yang berpedoman bahwa tidak ada
kebenaran sebelum ada tahap pembuktian sesuatu dan pembongkaran
kepalsuannya.
a.

Fungsi Teori Positif

Fungsi utama dari teori ini adalah membuka jalan bagi peneliti untuk
memperoleh sesuatu yang bernilai besar dari beberapa pernyataan
deskriptif suatu pernyataan tertentu. Nilai besar dan murni itulah yang
menguatkan pendapat bahwa suatu teori positif berfungsi untuk semua
disiplin ilmu dimana kemudian memberikan batasan yang jelas dengan
tahapan seperti sistem control yang baik. Fungsi lain dari teori positif
adalah untuk meningkatkan kesadaran berperilaku dalam penciptaan
lingkungan yang penting bagi mausia dank area itu harus memiliki
dampak dalam keputusan perencanaan.
b.

Tujuan Teori Positif

Untuk menjelaskan fenomena maupun memprediksikan hasil-hasilnya


sehingga dapat diprediksikan langkah-langkah yang harus diambil.

Untuk memberikan kemungkinan masyarakat ilmuwan dalam


memperoleh banyak pernyataan deskriptif dari pernyataan tunggal (Alan
Johnson, 1994).
Untuk Menghindari bias, menghindari unsur subyektifitas dan melihat
pada alternatif.

2.TEORI NORMATIF
Teori normatif bagi Kevin Lynch dalam Good City Form menguraikan
hubungan-hubungan yang dapat digenerlisasi antara nilai-nilai manusia
dan bentuk tempat tinggal atau bagaimana mengetahui sebuah kota yang
baik dengan melihat kota lainnya (1984;37).
Tetapi berkembang menjadi tidak terkendali menjadi suatu kekeliruan
naturalistik. John Lang (1987) juga melihat teori normatif sebagai penentu
untuk kegiatan tetapi dalam bentuk yang prinsipil, standar-standar dan
manifesto yang menuntun kegiatan.
Teori normatif adalah teori yang berasal dari suatu ideology dan
bermacam-macam orientasi professional dengan membandingkan sesuatu
sehingga memunculkan suatu guidelines dan prinsip-prinip sampel dari
suatu proses keputusan dalam desain. Teori normatif berhubungan
dengan posisi prinsip dari sampel dari suatu proses keputusan dalam
desain. Teori normatif berhubungan dengan posisi dan kedudukan yang
berbeda mengenai apa yang telah dilakukan atau yang dapat dilakukan
pada lingkungan terbangun dan atau pada proses desain yang seharusnya
dilakukan designer atau arsitek.
b.

Teori Substantif

Berkaitan dengan kajian tentang fenomena lingkungan alam dan perilaku


manusia yang membantu memperkaya dan menjadi bahan pertimbangan
Arsitek atau Perancang dalam perancangan arsitektur.
Bidang Kajian Teori Substantif

Natural Environment Theory : Kajian yang berkaitan dengan


lingkungan fisik, kimiawi, dan geologi di sekitar manusia dan organisme
lain. Hal ini menjadi masukan dalam pengolahan material, geometri
bentuk, perhitungan struktur, pengaruh lingkungan alam (angin, matahari,
hujan, dll) dalam perancangan arsitektur.
Person Environment Theory : Kajian yang berkaitan dengan aspek
biologik, psikologik, sosial, dan kultural manusia. Hal ini akan menjadi
masukan dalam penataan pola aktivitas, organisasi, program ruang, serta
bentukan arsitektur berdasarkan karakteristik prilaku pemakai.

c.

Teori Metodologis (Prosedural)

Berkaitan dengan metode/prosedur dalam praktek perencanaan dan perancangan


arsitektur, yang mencakup proses perumusan gagasan/kreativitas, serta proses
analisis, sintesis, dan evaluasi.

Space & Place pada Arsitektur Nusantara


Manusia hidup berkelompok dan bersama berbaur dengan alam, baik
alam tersebut berupa daratan yang mereka tempati, sungai, langit
maupun alam semesta secara luas. Dalam menjalani kehidupan tersebut,
manusia berupaya untuk bisa tetap eksis mempertahankan keberadaan
mereka dan mewariskan kehidupannya kepada anak cucu di kemudian
hari. Untuk itu, manusia terus belajar untuk dapat bersahabat dengan
alam, makhluk-makhluk atau benda-benda lain yang berada di sekitar
mereka. Dalam menjalani kehidupannya, mereka terus berpindah dari
satu lokasi ke lokasi yang lain.
Awal Mula Space & Place
Ketika manusia nusantara menempati sebuah space/ruang yang belum
bernama, manusia tersebut membuat naungan untuk melindungi diri dari
hujan sesuai dengan iklim nusantara yang tropis. Selain itu manusia juga
melindungi api dari hujan, angin dan kelembaban tanah dengan membuat
shelter (pelindung). Mereka melindungi api karena api merupakan alat
bagi mereka agar bisa tetap hidup, untuk menghangatkan suhu di malam
hari dan mengolah makanan.
Dengan adanya perlindungan dan pernaungan terhadap manusia dan api,
maka manusia dapat menjalani kehidupannya di tengah alam yang
mereka diami, itulah yang kemudian dinamakan sebagai place/tempat

dalam arsitektur. Seorang geografer bernama Yi Fu Tuan menyebutkan


bahwa tempat menjadi eksis ketika manusia memberikan makna pada
sebagian dari ruang yang lebih besar. Ketika sebagian ruang dari ruang
yang lebih besar di sebuah lokasi diberi nama atau diidentifikasi, maka
ruang yang telah bernama itu menjadi sebuah tempat.

Place for Dwelling


Manusia mulai menetap di sebuah lokasi dan hidup di tempat tersebut di
waktu yang lama, konsep tempat untuk melindungi dan mengelola
kemudian berubah. Kelompok masyarakat mulai memaknai sebuah
tempat untuk dihuni atau ditinggali. Masyarakat yang mulai menghuni
sebuah tempat kemudian memiliki identitas sebagai masyarakat penghuni
tempat tersebut. Mereka sekarang memerlukan eksistensi sebagai sebuah
kelompok, juga bahasa dan simbol dari kelompok penghuni tersebut.
Konsep tempat sebagai perlindungan dan pernaungan terhadap api
menjadi terasa kurang pas karena mereka sekarang memerlukan tempat
lain untuk berkumpul. Karena itulah makna tempat menjadi lebih luas
menjadi:
1. Tempat mempertahankan api
2. Tempat untuk berkumpul dengan naungan
3. Tempat untuk berkumpul di luar bangunan/tanpa naungan
Hal inilah yang kemudian disebut sebagai konsep komposisi tertua dari
pembentukan ruang, tempat dan bentuk pada arsitektur nusantara.
Setelah menghuni sebuah tempat, maka manusia memiliki konsekuensi
sehubungan dengan tempat tersebut, yaitu:
1. Perlu memiliki ilmu tentang arah/orientasi sehingga mereka dapat
kembali pada tempat asal yang mereka huni.
2. Mereka menjadikan tempat hunian kelompok masyarakat mereka
sebagai titik nol atau titik awal dari aktivitas-aktivitas mereka. Mereka
telah memiliki tempat pulang karena memutuskan ntuk tidak lagi

nomaden.
3. Tempat yang satu dengan tempat yang lain dapat digunakan untuk
mengidentifikasi di sini dan di sana sehingga memerlukan atribut
untuk mengenali tempat yang satu dan yang lain.
Sense of Place
Sekelompok masyarakat yang telah menetap berarti juga mulai memiliki
berbagai macam jenis tempat di dalam lingkungan kelompoknya. Selain
itu, mereka kini juga harus hidup berdampingan dengan lingkungan
sekitarnya dengan lebih permanen. Artinya mereka harus mengenali ciriciri dari lingkungan tempat mereka tinggal. Panas, hujan, badai, atau
gempa adalah sesuatu yang harus mereka hadapi karena mereka memilih
untuk menetap. Selain dengan pengetahuan, mereka mulai mengerti
bahwa ada peran Yang Maha Kuasa pada fenomena-fenomena alam yang
mereka hadapi. Pada awalnya mereka mempersepsikan bahwa badai
muncul karena Dewa marah dan musim panen muncul karana Dewa
bermurah hati. Karena itulah manusia melakukan upacara-upacara
sebagai upaya unuk menyenangkan hati Dewa. Mereka mulai memiliki
tempat untuk berkumpul dan melakukan upacara tersebut.
Manusia mulai memiliki berbagai jenis tempat untuk berbagai aktivitas.
Karena itulah manusia mulai bisa memberikan nilai pada tempat yang
satu dan juga tempat yang lain. Tempat yang digunakan untuk beribadah
dianggap sebagai tempat yang bernilai tinggi/suci. Kemampuan untuk
merasakan nilai dari sebuah tempat itulah yang disebut sebagai Sense of
Place.

Gambar di atas adalah contoh pembagian tempat pada masyarakat

tradisional Bali. Terdapat halaman tengah yang terbebas dari tumbuhan


kecuali bunga kamboja. Ada Pura keluarga di pojok timur komplek
bangunan, menunjukkan tempat paling tinggi, dengan tempat tidur utama
di sebelahnya agar manusia dekat dengan tempat ibadah.
Penyatuan dengan Alam
Konsep space & place pada arsitektur nusantara terus berkembang secara
alamiah seiring dengan kebutuhan hidup manusia nusantara untuk bisa
eksis hidup menyatu dengan alam semesta. Manusia menjalani hidup
sehari-hari bersama alam sehingga perkembangan space & place akan
dapat terus berlangsung secara bersamaan dengan keberlangsungan
alam semesta baik secara lokal maupun secara keseluruhan.

Teori Vitruvius

Memperbincangkan teori arsitektur Barat, sulit kiranya meninggalkan


nama besar yang legendaris Marcus Pollio Vitruvius. Dia adalah arsitek
dan insinyur Romawi yang hidup pada abad I dan berperan besar karena
menulis buku arsitektur tertua yang sempat ditemukan oleh pakar Barat.
Dalam buku A History of Architecture Theory (Hanno-Walter Kruff, 1994;
21), diuraikan bahwa sebenarnya sebelum Vitruvius, teori arsitektur Barat
telah pernah terungkap yaitu pada zaman Yunani dan Romawi namun
karena karakteristik data yang bersifat fana maka Dunia Barat
menetapkan era Vitruvius-lah yang dianggap sebagai cikal bakalnya Teori
Arsitektur Barat.

Karya tulis Vitruvius terbagi dalam sepuluh buku sehingga diberi


tajuk Sepuluh Buku Arsitektur (The Ten Books on Architecture). Terdapat
tiga teori dari Vitruvius yang sering digunakan dalam dunia arsitektur
yaitu: firmitas, utilitas, dan Venustas.
Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan
sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan
yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan
(Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan
sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan
tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern,
arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis.
Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya
sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang


merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang),
bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas),
Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat
dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur
tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam
definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika,
dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu
sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun
psikologis.

Firmitas
Durability will be assured when foundations are carried down to the
solid ground and materials wisely and liberally selected; (Vitruvius :
Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)
Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang
baik dari bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat.
Vitruvius menjelaskan setiap material yang ia pakai dalam
bangunannya, seperti batu bata, pasir, kapur, pozzolana, batu dan
kayu. Setiap material dijelaskan mulai dari karakteristik dari tiap jenisjenisnya hingga cara mendapatkanya/membuatnya. Kemudian, ia
menjelaskan metode membangunnya (konstruksi).

Bangunan dapat dikatakan kokoh apabila dapat menyalurkan beban


dengan baik.Firmitas meliputi bagian utama, struktur, dan
potongan.Perkembangan konstruksi berkaitan dengan perkembangan
teknologi dan ilmu pengetahuan baik dalam material ataupun teknik
pembangunannya (proses). Selain itu perkembangan sistem yang ada
juga mempengaruhi karena sistem yang ada mempengaruhi kebutuhan
perawatan bangunan untuk menjaga kekokohan.Selain itu struktur
disesuaikan dengan kebutuhan (lokasi, iklim, tradisi, dll).Zaman dahulu
konstruksi hanya dibuat ala kadarnya, tanpa pengetahuan memadai.
Sedangkan sekarang konstruksi merupakan perhitungan yang harus
dipertanggungjawabkan.

sumber : google.com
Gambar 2.1 Perkembangan Teknologi pada Kualitas Semen yang
Berpengaruh dalam Kekuatan Bangunan

sumber : google.com
Gambar 2.2 Inovasi Manusia dengan Mengembangkan Ilmu
Pengetahuan

Utilitas
convenience, when the arrangement of the apartments is
faultless and presents no hindrance to use, and when each class of

building is assigned to its suitable and appropriate exposure;..


(Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)
Sedangkan, pada utilitas yang ditekankan adalah pengaturan
ruang yang baik, didasarkan pada fungsi, hubungan antar ruang, dan
teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain
sebagainya). Pengaturan seperti ini juga berlaku untuk penataan kota.
Misalnya : dimana kita harus menempatkan kuil, benteng, dan lainlainya di ruang kota.
Utilitas meliputi kebutuhan, fungsi dan denah. Arsitektur mewadahi
kegiatan, oleh karena itu fungsi merupakan salah satuhal utama yang
diperhatikan. Pada zaman dahulu manusia hanya membangun untuk
kebutuhan seperlunya saja, Semakin berkembangnya zaman, kegiatankegiatan lain pun diwadahi sebagai penunjang kegiatan utama.Suatu
kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk menunjang
tercapainya unsur-unsur kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan
dalam bangunan. Arsitektur mempunyai fungsi yang tidak hanya
menaungi dan mewadahi manusia dengan segala aktivitas dan segala
perabot yang dibutuhkan dalam aktivitas itu, melainkan juga
memberikan suasana, image, dan mengarahkan pikiran dan perasaan
serta perilaku dari para penggunanya.Hal ini mempengaruhi bentuk
denah bangunan, semakin kompleks. Sedangkan hal yang ditekankan
pada utilitas adalah mengatur ruang yang baik didasarkan pada fungsi
hubungan antar ruang dan teknologi.

sumber :
google.com

Gambar 2.3
Denah Perbandingan Bangunan Zaman Dahulu (sederhana) dan
Sekarang (kompleks)
Venustas
and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in
good taste, and when its members are in due proportion according to
correct principles of symmetry. (Vitruvius : Ten Books on Architecture.
Book I. Chapter III.)

Proporsi dan simetri merupakan faktor yang dianggap Vitruvius


mempengaruhi keindahan. Hal ini ia dasarkan pada tubuh manusia
yang setiap anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap
keseluruhan tubuh dan hubungan yang simetrikal dari beberapa
anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh. Hal ini, kemudian,
diilustrasikan oleh Leonardo daVinci pada Vitruvian Man.
Venustas meliputi seni, keindahan, dan tampak. Dahulu venustas
merupakan hal yang terakhir difikirkan, sekarang seorang arsitek
berupaya mentranformasikan utilitas dan firmitas sebagai bagian dari
venustas. Utilitas dan firmitas menghasilkan bentuk dasar, yang
kemudian diperindah sesuai tujuannya ataupun hanya ekspresi
saja.Keindahan didapat berdasarkan dari pengalaman dan juga
budaya. Keindahan juga bisa dilihat dari berdasarkan zaman dan juga
seimbang dan selaras dengan alam.Venustas dilihat dari kriterianya,
yaitu:

Unsur desain
: material
Asas desain
: berdasarkan teori teori arsitektur
Prinsip desain : keselarasan, keseimbangan, irama, dan
kesebandingan

sumber : google.com
Gambar 2.4 Masjid Al-Irsyad Memperhitungkan Keindahan Setelah
Kekuatan Konstruksi dan Fungsi

Dimension Ergonomic
Ergonomi merupakan ilmu yang menitik beratkan pada pembahasan
manusia sebagai elemen utama. Terdapat banyak definisi tentang
ergonomi menurut para ahli, antara lain sebagai berikut:

International Ergonimocs Association


Ergonomi dapat di artikan sebagai studi tentang aspek manusia
dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi,
psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan untuk
mendapatkan suasana kerja yang sesuai dengan manusianya
(Nurmianto, 2003).

Iftikar Z. Sutalaksana
Ergonomi adalah cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia
untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup
dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan
yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan
nyaman (Sutalaksana, 1979)

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pusat ergonomi


adalah manusia, sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera,
meningkatkan produktifitas, efisiensi, dan kenyamanan dibutuhkan
penyerasian antara lingkunfa kerja, dan manusia yang terlibat dengan
pekerjaan tersebut. Penerapan ergonomi umumnya meliputi: design,
tools, benches, workholders, controls, displays, acces ways, doors,

window, dan lain lain. Ergonomi dapat berperan pula sebagai desain
pekerjaan pada suatu organisasi, desain perangkat lunak, meningkatkan
faktor keselamatan dan kesehatan kerja, serta desain dan evaluasi produk
(Nurmanto, 2003). Ergonomi dan ruang dalam arsitektur meliputi
jangkauan serta jarak ruangan dan kesesuaian, posisi kerja, proses kerja,
tata letak tempat kerja, mengankgat beban, dan kenyamanan fisik
maupun psikis.

Programing
Bangunan direncanakan dengan menyusun program persyaratan
persyaratan analisa agar dapat memenuhi kebutuhan manusia. Dalam
meyusun program dalam membuat sebuah design, terdapat beberapa
teori yang dapat digunakan antara lain:

Teori pemrograman William Pena, 1995.


Menurut William Pena, 1995. Penyusunan pemrograman melibatkan
lima langkah yaitu: menetapkan sasaran, mengumpulkan dan
menganalisis fakta, ungkapkan dan uji konsep, tentukan kebutuhan,
nyatakan masalah. Dalam membuat sebuah design arsitektur
terdapat beberapa faktor pertimbangan yang digunakan menurut
William Pena. Faktor tersebut adalah: fungsi, bentuk, ekonomi,
waktu.

Teori Pemrograman Katharina H. Anthony


Terdapat sembilan poin utama yang digunakan dalam teori pemrograman
dari Katharina H. Anthony yaitu:
1. Block Plan

Land use
Circulation and parking
Building form
Open space
Pedesterian ways

2. Site Development

Building and compotition on site


Exterior space
Easy identification of entry
Drop off and parking
Service

Pedesterian path

3. Functional Planning

Organization
Activity zoning
Circulation
Flow
Level changes

Entry

4. Spatial Quality

Hirarki

5. Building Form
6. Aesthetic Design
7. Structural System
8. Use Of Material
9. Environmental Control System.

Sumber:
Ching, Francis DK, 1987, Architecture: From, Space and Order, Van Nostrand
Reinhold.
Funk dan Wagnalls, 1990, New Encyclopedia, vol 22.
Klassen, Winand, 1992, Architecture and Philosophy, Philipines: Calvano Printers
Cebu City.
Kruf, Hanno-Walter, 1994, A History of Architectural Theory, Princenton
Architectural Press.
Mangunwijaya, YB, 1987, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta.
Meiss, Pierre von, 1985, Elements of Architecture, Van Nostrand Reinhold.
Soger, Smith T., 1987, An Ilustrated of History Architecture Style, Omega Books.
Soger, Smith T., 1989, An Ilustrated of History Architecture Style, Omega Books.
Sumalyo, Yulianto, 1997, Arsitektur Moder Akhir Abad XIX dan Abad XX.
Gajahmada University Press, Yagyakarta.

SEJARAH DAN TEORI ARSITEKTUR NUSANTARA

TEORI ARSITEKTUR

Oleh :

RIZKI ADHI WIGUNA


NIM : 052.12.102

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
2016