Anda di halaman 1dari 86

1

PROYEK AKHIR
Pekerjaan
TAMBANG TERBUKA BATUBARA
PT. CIPTA KRIDATAMA-RBH RIAU

Studi Kasus :
"Evaluasi Kebutuhan dan Perencanaan Jumlah Pompa Pada Pit S4 di
PT. Cipta Kridatama
Di Ajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Dalam Menyelesaikan Program D-3 Teknik Pertambangan

Oleh :
AHLIZAR
BP/NIM. 2009/97976

Konsentarasi
Program Studi

: Tambang Umum
: D-3 Teknik Pertambangan

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Biodata

I.

Data Diri
Nama Lengkap

: AHLIZAR

No. Buku pokok

: 2009/97976

Tempat / Tanggal Lahir

: Ladang Panjang, 14 Mei 1991

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Nama Bapak

: Johor

Nama Ibu

: Pitmawati

Jumlah Bersaudara

: 4 (Empat)

Alamat Tetap

: Koto Sapan Jorong Kajai, Ladang Panjang,


Pasaman

II.

Data Pendidikan
Sekolah Dasar

: SDN 14 Kampung Kajai

Sekolah Lanjutan Pertama

: SLTPN 1 Tigo Nagari

Sekolah Lanjutan Atas

: Madrasah Aliah Kinali

Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Padang

III. Proyek Akhir


Tempat Kerja Praktek

: PT Cipta Kridatama

Tanggal kerja praktek

: 10 September- 17 Oktober 2012

Topik Studi Kasus

:Evaluasi

Kebutuhan

dan

Perencanaan

Jumlah pada Pit S4 di PT. Cipta Kridatama

Tanggal Sidang Proyek Akhir : 15 Januari 2013

RINGKASAN

PT. Cipta Kridatama merupakan anak dari perusahaan PT. Titra Marga
Trakindo yang bergerak dalam bidang pertambangan dan merupakan salah satu
kontraktor di perusahaan PT. Riau Baraharum yang lokasinya terletak pada 20 33
48 LU-10 7 37 LS 1000 3 36 BT-1030 48 31 BT dan 250 km sebelah
tenggara Pekanbaru.
Selama melakukan praktek lapangan di PT. Cipta Kridatama banyak temuan
menarik yang penulis temukan di lapangan salah satunya air pada sump yang
sangat banyak dan susah dikendalikan oleh sebab itu penulis tertarik untuk
mengkaji lebih dalam tentang kebutuhan pompa yang tepat digunakan perusahaan
untuk memindahkan air tersebut ke tempat yang telah disediakan.
Hasil perhitungan penulis peroleh, jumlah pompa yang dibutuhkan untuk
memindahkan air dari Pit S4 ke settling pond adalah 3 unit pompa, denan tipe
sykes FBP400.
Untuk mengeluarkan air di Pit S4 ini dengan rincian 2 unit pompa sykes
FBP400 untuk memindahkan air yang masuk ke dalam sump, 1 unit pompa sykes
FBP400 untuk memindahkan air yang sudah ada tergenang sebelumnya dan
membutuhkan waktu selama 3 hari.

vi

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah
SWT atas limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis masih diberi
kesempatan, kekuatan, dan kemampuan untuk dapat menyelesaikan penulisan
Tugas Akhir ini, Sholawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada
Rasullullah SAW. Yang terlah mengangkat derjat umat manusia dari zaman
kebodohan kezaman yang penuh berilmu pengetahuan. Penyelesaian Tugas
Akhir ini didasarkan atas pengalaman penulis pada Praktek Lapangan industri
di PT.CIPTA KRIDATAMA, Indragiri Hulu Balilas Riau.
Laporan Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat kurikulum
untuk menyelesaikan Program Diploma III pada Program Studi Teknik
Pertambangan di Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
atas semua fasilitas, bantuan, bimbingan dan saran yang telah diberikan,
terutama kepada:
1.

Ibu dan Bapak, yang senantiansa mendoakan supaya saya selamat dan
sukses dalam menjalankan Praktek Lapangan Industri.

2.

Bapak Drs. Murad MS, MT selaku pembimbing Praktek lapangan Industri.

3.

Bapak Drs. Bambang Heriyadi, MT selaku ketua Jurusan Teknik


Pertambangan FT UNP.

4.

Bapak Drs. Bahrul Amin ST, Mpd selaku kepala Unit Hubungan Industri
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
vii

5.

Seluruh Dosen Teknik Pertambangan FT UNP yang telah membagi ilmu


yang sangat bermanfaat bagi penulis yang tidak bisa di hargai dengan
uang.

6.

Seluruh Staf dan Karyawan PT. Cipta Kridatama yang telah memberikan
fasilitas dalam penyelesaian laporan ini.

7.

Semua pihak yang membantu penulis selama melakukan praktek di PT.


Cipta kridatama yang tidak bisa di sebutkan namanya satu persatu.
Penulis menyadari masih adanya kekurangan yang terdapat dalam

penyajian laporan ini, oleh sebab itu penulis mengharapkan bimbingan,


petunjuk, dan motivasi yang dapat membangun dan berguna untuk masa yang
akan datang.
Akhir kata penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat kiranya bagi
pembaca dan penulis sendiri.

Padang, 10 Januari 2013


Penulis.

AHLIZAR
2009/97976

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................

iii

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT .........................................

iv

BIODATA ..................................................................................................

ABSTRAK .................................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ...............................................................................

vii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ix

DAFTAR TABEL .....................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

xiv

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belekang Proyek ....................................................................1
B. Tujuan dan Manfaat Proyek .................................................... ......3
C. Sistematika Pembahasan .............................................................. 4
Bab II. LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN
A. Deskripsi Perusahaan ........................................................ ............6
1. Lokasi dan Kesampaian Daerah ......................................... 6
2. Iklim

................................................................................ 7

3. Morfologi

.................................................................... 8

4. Geomorfologi

.................................................................... 9
ix

10

5. Geologi..........................................................................

11

6. Statigrafi Regional

................................................

12

7. Kualitas dan Cadangan Batubara .................................

14

B. Proses Pelaksanaan Proyek

...............................................

1. Tahap Pembersihan Lahan

15

...................................

16

...............................................

17

3. Tahap Pemuatan............................................................

17

4. Tahap Pengangkutan

18

2. Tahap Pengupasan

...............................................

C. Pelaksanaan Kegiatan Lapangan ......................................

19

1. Survey dan Pemetaan ..................................................


2. Diposisi Posceker

19

...............................................

20

3. Diposisi Sump ...........................................................

21

D. Temuan menarik................................................................
1. Waktu Kerja Efektif

21

................................................

2. Posisi Pengangkut Batubara

21

....................................

21

3. Penyaliran......................................................................

22

BAB III. STUDI KASUS


A. Perumusan Masalah ................................................

23

B. Landasan Teori..................................................................
a. Penyaliran Tambang

24

...................................................

24

b. Pompa.............................................................................

36

c. Metode Pemecahan Masalah

45

C. Data dan Pengolahan Data

.....................................

....................................................
x

46

11

D. Analisa Hasil .........................................................

53

BAB IV. PENUTUP


A. Keimpulan

.....................................................................

B. Saran ....................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi

57

56

12

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

Tabel 1. Curah Hujan PT. Cipta Kridatama Site RBh Tahun 2008-2011 ..............8
Tabel 2. Kualitas Batubara.................................................................................... 14
Tabel 3. Harga Koefisien Lapisan pada Berbagai Kondisi.... ................................35
Tabel 4. Kondisi Pipa dan Harga C .......................................................................43
Tabel 5. Panjang pipa lurus dan ekuivalen Lf ........................................................44
Tabel 6. Hasil Pengolahan Data Curah Hujan.......................................................46
Tabel 7. Debit Air Tanah S4 .................................................................................51

xii

13

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

Gambar 1. Geological Map Of Kelesa Subdistrict................................................13


Gambar 2. Pemuatan Top Soil Di Area Land Clearing

................................15

Gambar 3. Loading Overburden Di Pit S5 Utara .................................................16


Gambar 4. Huoling Kedisposal Area S5 Utara

............................................17

Gambar 5. Survey Pemetaan ................................................................................18


Gambar 6. Poto Area Pit S5 Selatan Dari Posceker .............................................19
Gambar 7. Pompa yang Digunakan PT. Cipta kridatama ....................................20

xiii

14

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Pemberitahuan Selesai Praktek Kerja Lapangan


Lampiran 2. Surat Balasan untuk Praktek Kerja Lapangan
Lampiran 3. Struktur Organisasi PT . Cipta Kridatama
Lampiran 4. Peta Topografi Pit S4 dan S5
Lampiran 5. Peta Tangkapan Curah Hujan Pit S5 Utara
Lampiran 6. Peta Tangkapan Curah Hujan Pit S4
Lampiran 7. Gambar Pompa yang Digunakan pt. Cipta Kridatama
Lampiran 8. Gambar Pompa yang Disarankan Untuk PT. Cipta Kridatama
Lampiran 9. Faktor Frekuensi k
Lampiran 10. Lembaran Penilaian Supervisor Industri
Lampiran 11. Catatan Konsultasi dengan Supervisor Industri
Lampiran 12. Catatan Konsultasi dengan Pembimbing Proyek Akhir
Lampiran 13. Grafik pompa FBP400

xiv

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Proyek


Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya
alam yang beranekaragam. Batubara termasuk salah satu sumber daya alam
dengan jumlah cadangan yang melimpah. Dalam kehidupan sehari-hari,
batubara digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak bumi
yang semakin hari semangkin langka di samping harganya yang relatif lebih
murah, keuntungan lain dari jumlah cadangannya yang melimpah, batubara
Indonesia dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan devisa negara, karena
merupakan sumber komoditi ekspor dari sektor energi. Saat ini,
perdagangan batubara pada pasar internasional sedang mengalami
penurunan harga. Hal ini kesempatan bagi orang yang membutuhankan
energi dunia berpindah ke batubara dimana minyak dan gas bumi
semangkin hari semangkin menipis, maka batubara adalah alternanif yang
terbaik.
PT Cipta Kridatama merupakan perusahaan kontraktor site PT Riau
Baraharum yang bertanggungjawab mengupas overburden untuk semua
pitnya dengan menggunakan metode tambang terbuka. Pengupasan
overburden merupakan kegiatan yang penting dalam pertambang dan tidak
dapat dipisahkan dari proses kegiatan penambangan secara umum. Hal ini

dikarenakan batubara tidak dapat diambil dan ditambang tanpa mengupas


dan membongkar overburden dengan alat berat.
Analisa dan evaluasi dalam pemilihan alat sangat penting dilakukan
untuk mengetahui apakah pemilihan alat-alat tersebut benar-benar tepat
sehingga dapat menjamin pekerjaan yang dilakukan terlaksana dengan tepat
waktu serta dengan kualitas yang memadai. Untuk itu pekerjaan dengan
menggunakan alat berat harus dilakukan seoptimal mungkin, dengan
mengoptimalkan kemampuan masing-masing alat berat yang digunakan
maka produksi tercapai.
Dalam kegiatan pengupasan lapisan overburden di pit S5 utara, PT
Cipta Kridatama menggunakan 4 unit alat gali-muat yang terdiri dari 1 unit
backhoe hitachi 2500 dan 3 unit backheo hitaci 1200 yang melayani 4 unit
off highway truck (OHT) cat 777D, 8 unit OHT cat 775 dan 4 unit OHT cat
773. Rangkaian kerja alat gali-muat (excavator backhoe) dan alat angkut
(off highway truck) digunakan untuk memindahkan material dari loading
poin ke disposal area yang berjarak 1,1 km-1,7 km. Target produktivitas
excavator backhoe hitachi 2500 untuk pengupasan overburden pada area
Siambul site PT Riau Baraharum sebesar 868 BCM/jam.
Kemudian, kendala yang tidak dapat dihindari dalam kegiatan
penambangan PT Cipta Kridatama ini adalah faktor iklim, air hujan, air
limpasan dan air tanah. Oleh karena itu sistem penirisan tambang memiliki
peranan penting terutama pada musim penghujan. Sistem

penirisan

tambang merupakan suatu cara untuk mencegah atau mengatasi air tambang
masuk kedalam lokasi kegiatan penambangan, sebelum air tersebut
mempengaruhi kegiatan penambangan. Gangguan atau pengaruh terhadap
kegiatan penambangan, antara lain dikarenakan permukaan tambang
terendam air. Terendamnya permukaan tambang mengakibatkan tidak dapat
beroperasi peralatan tambang secara optimal. Akibatnya, target produksi
tidak dapat dipenuhi.
B.

Tujuan dan Manfaat Proyek


1. Tujuan proyek
Tujuan dilakukannya penambangan batubara oleh PT. Cipta
Kridatama ini adalah:
a. Menggali

dan

memanfaatkan

sumber

daya

alam

dengan

memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan kerja.


b. Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar tambang agar
dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
c. Memenuhi target yang telah di rencanakan dan disepakati dengan PT
Riau Baraharum sehingga kebutuhan batubara (ekspor) ke India dan
china tercapai.
2. Manfaat Proyek
Penambangan oleh PT. Cipta Kridatama dengan manfaat sebagai berikut:
a. Menambah pendapatan daerah Propinsi Riau melalui pajak yang
dikenakan kepada perusahaan.

b. Dengan adanya perusahaan tambang maka akan memberi pengaruh


terhadap kegiatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar
lingkungan Tambang.
c. Menambah devisa Negara dari sektor penerimaan pajak biaya dan
cukai.
C.

Sistematika Pembahasan
Penulisan Proyek Akhir ini terdiri dari empat bab yang saling
berhubungan satu sama lain. Disamping itu, pada bagian akhir Proyek Akhir
ini juga dilampirkan hal-hal yang berhubungan dengan topik pembahasan.
Secara garis besar masing-masing bab akan membahas hal-hal
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan ini terdiri dari latar belakang proyek,
tujuan dan manfaat proyek, serta sistematika penulisan.
BAB II LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN
Pada bab ini menerapkan tentang deskripsi perusahaan,
deskripsi pekerjaan, proses pelaksanaan pekerjaan, pelaksanaan
kegiatan lapangan, lokasi dan topografi, iklim dan cuaca,
geologi, cadangan, serta pengalaman lapangan
BAB III STUDI KASUS
Bab ini menjelaskan tentang perumusan masalah, batasan
masalah, landasan teori dan metodologi pemecahan masalah,

data dan pengolahan data, serta analisis atau pemecahan


masalah.
BAB IV PENUTUP
Bab ini merupakan penutup dari semua bab yang berisi tentang
kesimpulan dan saran dari permasalahan yang dibahas.

BAB II
KEGIATAN LAPANGAN
A.

Deskripsi Perusahaan
1. Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi
PT. Cipta Kridatama merupakan anak dari perusahaan PT. Titra
Marga Trakindo yang bergerak dalam pertambangan dan merupakan
kontraktor di perusahaan PT. Riau Baraharum yang terletak 250 km
sebelah tenggara Pekanbaru yang dilintasi oleh jalan lintas Sumatera
(Pekanbaru-Jambi). Daerah pengembangan terhadap prospek batubara
kemudian terletak di Kecamatan Seberida, Batang Gangsal dan Batang
Cenako, Kabupaten Indragirihulu dan Kecamatan Kemuning, Kabupaten
Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Setelah kegiatan explorasi dan diadakan
pelepasan/pengurangan areal, luas awal 97.968 ha menjadi 55.980
ha, dan terakhir menjadi 24.450 ha. secara administratif wilayah ini
termasuk di bagian desa Kelesa, Kecamatan Seberinda, Kabupaten
Indragiri Hulu, propinsi Riau dan secara geografis berada pada 20 33
48 LU-10 7 37 LS 1000 3 36 BT-1030 48 31 BT.
Untuk mencapai lokasi melalui jalan aspal dengan kendaraan roda
empat dan roda dua dari Kota Pakanbaru atau Kota yang terdekat yaitu
Rengat. Selain itu juga dapat dijangkau dari Propinsi Jambi menuju arah
utara melalui lintas timur sejauh 270 km.

2. Iklim
Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. Riau Baraharum
memiliki hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim
hujan dan musim kemarau. Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah
sampai tinggi dengan durasi waktu pendek-panjang. Perhitungan curah
hujan blok Kasai Kelesa mengunakan data Meterologi dan Geofisika
selama sepuluh tahun (2002-2012).
Berdasarkan data meteorologi, secara umum dapat diketahui suhu
rata-rata di Sumatera Bagian Tengah mempunyai temperatur rata-rata
tahunan berkisar antara 28o-31C dan Fluktuasi temperatur dan 3o-4C
dan kelembaban udara

rata-rata 80%. Sedangkan kelembaban pagi

sekitar 90% dan sore sekitar 70%.


Namun musim hujan pada daerah ini seringkali terjadi
penyimpangan dengan curah hujan termasuk cukup tinggi. Sebaliknya
pada musim kemarau, pada bulan-bulan lain juga sering menyimpang.
Curah hujan maksimum bulanan pertahun daerah penelitian dapat dilihat
pada tabel 1 di halaman 8.

Tabel 1
Curah Hujan Bulanan untuk PT Cipta Kridatama Site PT RBH
pada Tahun 2002-2011

sumber : Stasiun meterologi Rengat


Berdasarkan data curah hujan stasiun meterogi selama 10 tahun (20022011) curah hujan bulanan di PT. Riau Baraharum berkisar antara 1.634,702.732,60 mm, dari stasiun meterologi Rengat untuk PT. Riau Baraharum
3. Morfologi
Secara fisiografi

daerah

penelitian PT. Riau Baraharum

termasuk dalam wilayah Pegunungan Tiga puluh. Pegunungan Tiga


puluh merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah
timur dan utara dengan ketinggian bervariasi mulai dari 20-325 meter
dari permukaan air laut. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara
5%-50%. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa
dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur

perbukitan bergelombang. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran


sungai yang deras. Fenomena tersebut mencirikan sungai yang tua
dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal.
4. Geomorfologi
Di lokasi tambang PT. Riau Baraharum dikontrol oleh stuktur
geologi, litologi dan proses geomorfik yang terus terjadi hingga saat ini.
Pegunungan Tiga puluh merupakan suatu blok yang terangkat dalam
cekungan Tersier tersebut, sehingga tersingkaplah batuan Pra-Tersier
yang berupa batuan metamorf dan batuan metasedimen. Proses
terbentuknya batuan metamorf dan metasedimen karena

dipengaruhi

oleh intrusi batuan beku intermediet sampai asam (granit) yang


menerobos batuan Pra-Tersier (Pegunungan Tiga puluh). Selanjutnya
secara tidak selaras endapkan batuan Tersier yang selanjutnya secara
tektonik mengalami perlipatan dan pensesaran di beberapa tempat.
Batuan yang telah terbentuk oleh sedimentasi terpengaruh oleh
proses asal dalam (endogen) tersebut, kemudian dimodifikasi oleh proses
asal luar (eksogen) berupa pelapukan, erosi dan deposisi sehingga
menghasilkan kenampakan bentang alam seperti sekarang ini.
Pegunungan Tiga puluh mempunyai dua anak sungai yaitu sungai
Canako dan sungai Gangsal. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai
utama yaitu sungai Alin dan Antam. Sedangkan sungai Gansal
mempunyai empat anak sungai yaitu sungai Akar, sungai Kerintang,
sungai Renteh dan sungai Selesen. Pola aliran sungai umumnya dendritik

10

dibagian hulu anak sungainya. Pola anak sungai sejajar terlihat pada
anak sungai orde pertamanya. Arah umum sungai-sungainya adalah timur
laut, kecuali sungai Antam mempunyai arah barat laut. Sungai Alin dan
sungai bagian hulu sungai Gangsal mempunyai arah ke utara.
Perbandingan antara bentuk lahan dengan bentuk mulanya dapat
di simpulkan bahwa stadia bentang alam di daerah ini berumur muda
hingga dewasa. Sungai-sungai pada bagian utara daerah penelitian pada
umumnya masih berstadia muda. Hal ini terlihat dengan dominannya
erosi vertikal dari pada erosi lateral, serta bentuk lembah mirip huruf V
dan arus yang masih kuat. Sungai di daerah rencana penambangan
termasuk dalam bagian selatan daerah rencana penambangan termasuk
dalam stadia tua dengan ciri-ciri sungai meliuk-liuk (meandering),
banyak danau tapal kuda (oxbow lake), erosi lateral lebih dominan
daripada erosi vertikal, lembah-lembah sungai dengan bentuk U dan
dijumpainya dataran banjir (floodplain) yang cukup luas.
Pola aliran di daerah rencana penambangan bisa di kelompokan
menjadi tiga yakni pola aliran rektangular, dendritik, dan trellis. Pola
aliran rektangular berkembang di bagian barat daerah rencana tambang
dengan bentuk sungai patah-patah dan di jumpai beberapa kelurusan
dengan sungai Cenako sebagai sungai utamanya. Pola aliran dendritik
berkembang di sebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk
sungai menyerupai pohon, dimana sungai akar menjadi sungai utama.

11

Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan


Sungai Sekuyam sebagai sungai utama
5. Geologi
Wilayah PKP2B PT. Riau Baraharum terletak pada daerah
Pegunungan Tiga Puluh, Pegunungan Tiga puluh merupakan suatu blok
yang terangkat dalam cekungan Tersier sehingga tersingkaplah batuan
Pra-Tersier berupa batuan metamorf dan batuan metasedimen berumur
Permokarbon yang kemudian disebut kelompok Tiga Puluh. Lokasi
penambangan batubara tepat berada pada bekas cekungan Sumatera
Tengah dengan batas utara dan barat berupa dataran bergelombang, batas
Selatan berupa perbukitan Tiga puluh, sedangkan bagian timur terdiri
dari dataran rendah yang berupa rawa pasang surut. Bagian tengah daerah
rencana tambang terdiri dari batuan Pra-Tersier dengan intrusi batuan
granit, pada bagian atas secara selaras dijumpai batuan Tersier dengan
penyebaranya melalui bagian timur, utara, hingga ke barat melingkupi
batuan Pra-Tersier di bagian tengah daerah rencana tambang. Pada
bagian paling atas di jumpai batuan Kuarter hasil proses asal luar
(eksogen).
Proses pengendapan selanjutnya berlangsung pada Kala Tersier
yang berlangsung pada lingkungan laut dangkal sampai menjadi daratan,
di beberapa tempat terjadi akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang kemudian
membentuk batubara melalui proses pembentukan gambut dan batubara
(peatification dan coalification). Secara khusus untuk Formasi Lakat,

12

tektonik yang terjadi pada akhir Tersier mengakibatkan seluruh batuan


yang terbentuk terangkat, terlipat dan terpatahkan dengan arah
kemiringan ke timur dan barat.
Bentuk lipatan dan patahan kemudian mengalami proses denudasi
berupa pelapukan, erosi dan deposisi oleh proses-proses asal luar
(eksogen)

hingga saat ini. Apabila dibandingkan dengan bentuk

mulanya, stadia bentang alam di daerah penambangan telah mencapai


stadium dewasa.
6. Stratigrafi Regional
Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbhs
Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel,
Sumatera, 1994). Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian
dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra-Tersier, Tersier
hingga

Kuarter.

Terlihat

seperti

gambar

1.

13

Gambar 1
GEOLOGICAL MAP OF KELESA SUBDISTRICT DAN RBH s BLOCK CONCESSION (A PART OF
GELOGICAL MAP OF RENGAT QUADRANGEL, SUMATRA ,1994)

14

7. Kualitas dan Cadangan Batu Batubara


PT. Riau Baraharum memiliki variasi kualitas batubara. Batubara pada
masing-masing Pit terdiri atas tiga tipe, yaitu roof, middle dan floor. Roof dan
middle adalah batubara high calory sedangkan floor adalah batubara low
calory. Data-data analisis proksimat dari laboratorium dapat dilihat pada tabel
Tabel 2
Hasil Anaisis Proksimat

No

Parameter

Satuan

Rata-Rata

Total Moisture (AR)

16

Proximate Analisis (ADB) :


%

39-42

16-8

33,85

Inherent Moisture

Volatile Matter

Ash Content

Fixed Carbon

Caloric Value (ADB)

kal/gr

6000-6400

Total Sulphur

0,082-2,2

HGI

Coal Rank

Bituminus-Subbituminus

Sumber : Departemen Produksi PT. Riau Baraharum

15

Keterangan :

a. As Received (AR), yaitu batubara yang masih mengandung kandungan


air total.
b. Air Dried Base (ADB), yaitu kondisi batubara yang telah dikeringkan
dengan oven tetapi masih mengandung kandungan air bawaan (inherent
moisture).
c. Dry Base (db), yaitu kondisi batubara kering atau telah bebas dari
kandungan airnya
d. Dry Ash Free (daf), yaitu kondisi batubara yang hanya mengandung
volatile matter dan fixed carbon serta bebas dari kandungan air dan
kandungan abunya.
e. Dry Mineral Matter Free (dmmf), yaitu kondisi batubara yang bebas
dari total moisture dan bahan anorganik dalam batubara.
Jumlah cadangan batubara keseluruhan yang ditemukan dan
terbesar di dua blog potensial yaitu kesai-kelesa dan siambul-rantau
langsat serta daerah sekitar dengan cadangan terukur sebesar 14.646.037
ton.
B.

Proses Pelaksanaan Proyek


Proses pelaksanaan Penambangan di PT. Riau Baraharum yang
dilaksanakan oleh kontaraktor PT. Cipta Kridatama mine projet tambang
terbuka (surface mining) dengan sistem beck mining yaitu dengan cara tanah
dibuang ketempat yang batubaranya telah digali dimana hal ini untuk
menghemat tempat pembuangan lapisan tanah penutup dan memperpendek

16

jarak angkut. Metode ini dilaksanakan secara konvensional dengan


menggunakan alat mekanis antara alat muat dan alat angkut yaitu kombinasi
excavator backhoe dan dump truck.
Dalam kegitan penambangan batubara ini dibedakan menjadi dua
kegitan

yaitu

kegiatan

pertama

mengupas

lapisan

penutup,

(overburden/interburden) dan kegiatan kedua yaitu pengambilan lapisan


batubara yang dilakukan oleh PT. Cipta Kridatama selaku kontraktor.
Kegiatan penambangan ini terdiri dari kegiataan pembersihan lahan,
(land clearing) pengupasan lapisan tanah penutup (overburden dan
interburden) sampai pada lapisan batubara tersingkap kemudian dilanjutkan
dengan penggalian, pemuatan (loading), pengangkutan (houling), dan
penimbunan lapisan tanah penutup.
1. Tahap Pembersihan Lahan (Land clearing)
Sebelum dilakukan pengupasan lapisan tanah penutup terlebih
dahulu harus dilakukan pembersihan lahan (land clearing) pada daerah
yang akan ditambang dan kegitan ini sesuai dengan rencana
penambangan, agar lahan tidak terlalu lama terbuka. Peralatan yang
digunakan untuk pembersihan lahan adalah bulldozer caterpillar D7G,
kegiatan pemuatan top soil di daerah land clearing dapat dilihat pada
gambar 2 di bawah ini.

17

Gambar 2. Pemuatan Top Soil oleh excavator di Area Land Clearing


2. Tahap Pengupasan
Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) adalah
untuk mengupas tanah pucuk atau top soil ketebalan 0,5-1meter yang
berada pada bagian paling atas. Kemudian tahapan berikutnya adalah
pengupasan lapisan overburden, material tanah penutup dilokasi
penambangan PT. Cipta Kridatama terdiri dari beberapa lapisan,
berdasarkan kondisi lapangan material tanah penutup didominasi oleh top
soil clay, siltsone, sendtone, dimana kegiatan pengupasan dilakukan
perblok dengan mengikuti arah kemajuan penambangan.
3. Tahap pemuatan overburden (loading)
Kegiatan pemuatan tanah penutup merupakan kegiatan untuk
memuat material hasil pengupasan ke alat angkut (dump truck) dengan
alat mekanis excavator berfungsi sebagai alat gali-muat, kegiatan
pemuatan overburden di area tambang dapat dilihat pada gambar 3 di
bawah ini.

18

Gambar 3. Loading Overburden di Pit S5 Utara


4. Tahap pengangkutan (hauling) overburden
Kegitan pengangkutan tanah penutup (overburden/interburden)
dilakukan dengan menggunakan alat angkut dump truck type cat 77D,
775F, 777E dan caterpilar type 740 ADT, kegiatan pengangkutan
overburden ke disposal area.

Gambar 4. Hauling ke Disposal Area S5 Utara

19

C.

Pelaksanaan Kegiatan Lapangan


Selama melakukan kegiatan lapangan pada PT. Cipta Kridatama
penulis melakukan berbagai kegiatan dan aktifitas dengan diberikan masa
orientasi 7 hari. Setelah melakukan orientasi lapangan maka penulis
ditempatkan

pada tempat-tempat tertentu untuk mengambil data yang

diperlukan dalam proyek akhir.


Kegiatan yang penulis ikuti dilapangan antara lain :
1. Survey pemetaan

Gambar 5. Menstel alat total station


Kegiatan survey yang penulis ikuti di perusahaan suadah
menggunakan alat total station (TS) dengan tipe Theodolit Digital
(Sokia). Theodolit yang digunakan oleh perusahaan sudah menggunakan
sistem memory card. Dari hasil pengukuran di lapangan dibawa ke kantor
dan lansung ditranfer ke dalam komputer untuk di analisa secara otomatis
pada program minescape 4.16.
Selama kegiatan survey pemetaan penulis memperhatikan cara
menggunakan alat theodolit, ini hal yang baru bagi penulis karena di

20

kampus masih menggunakan alat yang manual untuk mencari luas area
dan pengolahan data yang bersangkutan dengan survey pemetaan.
2. Diposisi Posceker

Gambar 6. Pit S5 selatan dari posceker


Selama penulis di posisi posceker penulis membantu karyawan
untuk mencatat berapa unit alat berat yang beroperasi (excavator,
buldozer, greder, dll) pada Pit S5 selatan, serta penulis diberitahu
berapa BCM isi dalam satu unit dump truck tersebut. Diposisi posceker
ini penulis melihat suasana lapangan yang hiruk-pikuk suara alat berat
beroperasi. Posceker terletak diketinggian dengan tujuan semua
kegiatan pengangkutan overburden bisa terpantau oleh karyawan yang
bertugas diposcek.

21

3. Diposisi sump

Gambar 7. Pompa yang digunakan PT. Cipta Kridatama


Selama penulis berada di area sump, penulis diberitahu jenis
pompa yang digunakan untuk memindahkan air tambang ke settling
pond,

serta kapasitas bahan bakar, perawatan, dan jadwal-jadwal

untuk mengisi bahan bakarnya.


D.

Temuan Menarik
Hal-hal menarik yang penulis temukan selama berada di PT. Cipta
Kridatama site Riau Barahrum.
1. Waktu Kerja Efektif
Ditemukan seringkali pada saat awal mulai kerja yang terlambat,
di percepat mulai istirahat, jadwal makan siang dipercepat dan waktu
selesai kerja di percepat, ini sangat mempengaruhi produksi yang telah di
tetapkan oleh perusahaan.
2. Posisi Truck Mengangkut Batubara yang Tidak Teratur
Ditemukan beberapa truck pengangkuatan batubara memamasang
terpal penutup batubara pada area jalan tambang. Truck tersebut dapat

22

mengganggu kendaraan karyawan yang lewat ke area tambang untuk cek


kerja karyawan lainnya.
3. Penyaliran
Banyaknya air permukaan yang masuk ke area sump kemudian
adanya terjadi longsor beberapa bulan yang lalu, aktivitas pemompaan
juga terhenti selama 15 hari, ini menjadi kasus besar di PT. Cipta
Kridatama saat penulis melakukan praktek industri.
Dari temuan menarik di atas penulis tertarik untuk membahas
mengenai sistem penyaliran tambang khususnya evaluasi kebutuhan dan
perencanaan jumlah pompa pada Pit S4 sebagai studi kasus.

23

BAB III
STUDI KASUS

A.

Perumusan Masalah
Semakin banyak air yang ada di catchment area penambangan dapat
mengganggu kegiatan penggalian overburden dan proses pengambilan
batubara. Dengan banyaknya air pada area penambangan dapat
berpengaruh pada produksi dan jam kerja.
Pada penambangan

PT. Cipta Kridatama kegiatan penambangan

sering terganggu karena banyaknya air yang terdapat di front penambangan.


Disamping menggenangi lokasi kerja, juga menggenangi jalan kerja,
sehingga alat berat yang beroperasi menjadi terganggu dan produksi
penggalian overburden juga susah dikendalikan. Dengan terganggunya
aktifitas penambangan maka akan membuat target produksi tidak tercapai.
Sebelum melakukan kegiatan penggalian Overburden, air yang
menggenangi lokasi kerja harus dipindahkan ke tempat yang lebih aman,
sehingga aktifitas penggalian bisa berjalan dengan lancar. Adapun cara
untuk memindahkan air tesebut adalah dengan menggunakan pompa.
Di PT. Cipta Kridatama saat penulis melakukan praktek industri
jumlah air yang tergenang untuk S4 270010,04 M3. Untuk memindahkan air
ini sudah menggunakan 1 unit pompa type sykes H220i. Pada saat
operasional maksimal kerja pompa

sykes H220i sebesar 282 l/s belum

cukup untuk memindahkan air yang tergenang, namun hanya bisa untuk

23

24

mengatasi air limpasan saja, untuk mengatasi air yang tergenang disump
belum bisa dilakukan karena jumlah pompa 1 unit di S4.
Kemudian PT. Cipta Kridatama ingin menambah pompa untuk
memindahkan air yang tergenang pada S4 tersebut karena air yang masuk
dan keluar tidak seimbang.
Sehubungan dengan itu, pada saat ini penulis mencoba merancang
dan menganalisis kebutuhan pompa yang yang cocok digunakan untuk
memindahkan air, agar air yang ada pada sump tersebut dapat berkurang
dan aktifitas penggalian overburden berjalan sesuai dengan target yang telah
direncanakan. Sesuai dengan masalah tersebut, penulis mengangkat judul
tugas akhir dalam menyelesaikan kuliah program D3 Teknik Pertambangan
yaitu Evaluasi Kebutuhan dan Perencanaan Jumlah Pada Pit S4 di PT.
Cipta Kridatama. Sehingga nantinya dapat direncanakan jumlah pompa
yang digunakan oleh perusahaan untuk memindahkan air tambang pada
sump S4 tersebut.
B.

Landasan Teori dan Metedologi Pemecahan


1. Landasan Teori
a. Penyaliran Tambang
Penyaliran tambang merupakan penanganan masalah air yang
masuk kedalam daerah penambangan. Hal ini dilakukan untuk
menjaga kelangsungan aktifitas penambangan agar tidak terganggu
oleh air yang jumlahnya melebihi di front penambangan, apalagi

25

ketika musim hujan datang maka air semakin meningkat sehingga


sangat sangat susah dikendalikan.
Metode penyaliran tambang dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
1) Metode Penyaliran Langsung (Mine Dewatering)
Metode penyaliran langsung adalah suatu metode untuk
mengeringkan air di tambang dengan menggunakan pompa air,
dimana air sebelumnya dibiarkan saja masuk ke dalam front
penambangan kemudian baru dipompakan keluar.
Metode penyaliran langsung ini dapat pula dibedakan menjadi 2
yaitu:
(a) Sistem Kolam Terbuka (Open Sump Drainage)
Sistem kolam terbuka adalah suatu sistem penyaliran
dengan membentuk sumuran tempat penampungan air di
front penambangan kemudian baru dipompakan keluar
tambang.
(b) Sistem saluran langsung (System Tunneling Drainage)
Sistem saluran langsung adalah cara mengeluarkan air
dengan membuat saluran atau lubang bukaan dari sumuran
tempat penampungan menuju keluar tambang.
2) Metode Penyaliran Tidak Langsung (Mine Drainage)
Metode ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

26

(a) Sistem Drainage


Sistem drainage adalah suatu metode meminimalisir air
yang masuk ke dalam tambang dengan cara membuat saluran
drainase di luar atau di batas lokasi penambangan dan
dialirkan pada tempat yang telah disediakan, ini bertujuan
agar air yang dari luar tidak mengalir langsung ke front
penambangan.
(b) Metode Pemotongan Aliran Air Tanah
Metode pemotongan aliran air tanah adalah suatu cara
penyaliran tambang dimana lapisan tanah digali sampai batas
akuifer untuk mengamati kondisi air tanah. Dengan
terpotongnya aliran air tanah yang akan masuk ke daerah
penambangan maka air tidak akan jadi masuk ke daerah
penambangan.
faktor-faktor yang mempengaruhi sistem penyaliran tambang
1) Rencana Penambangan
Sistem penyaliran tambang yang diterapkan harus sesuai
dengan rencana penambangan yang dilakukan di lokasi
tersebut. Dengan diketahuinya rencana penambangan di lokasi
tersebut maka dapat dirancang penyaliran tambang yang akan
mendukung rencana kegiatan pengambangan di daerah tersebut,
sehingga proses penambangan berjalan dengan lancar.

27

2) Curah Hujan
Curah hujan merupakan suatu faktor yang sangat
mempengaruhi

sistem

penyaliran

tambang

yang

akan

diterapkan, karena curah hujan suatu daerah mempengaruhi


besar kecilnya air yang masuk ke dalam tambang. Air yang
masuk tersebut harus diatasi sehingga jumlah air yang
dikeluarkan relatif sama dengan yang jatuh pada daerah
tangkapan hujan.
Intensitas curah hujan adalah tebalnya hujan di suatu
tempat yang diukur

atau dicatat selama terjadi hujan, atau

derajat curah hujan persatuan waktu.


Satuan curah hujan adalah millimeter (mm) yang berarti
pada luas 1 m2 jumlah air yang jatuh sebanyak 1 liter.
3) Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)
Daerah tangkapan hujan (catchment area) adalah daerah
yang apabila terjadi hujan maka airnya akan masuk pada lokasi
penambangan. Hujan

yang terjadi di

permukaan bumi

merupakan hasil dari suatu daur air atau siklus hidrologi. Siklus
hidrologi adalah suatu proses perjalanan air dari laut, sungai,
danau, dan badan air yang lainnya, serta dari tanah menuju
atmosfer dalam bentuk uap air kemudian jatuh kembali ke bumi.
Secara umum daur air di muka bumi ini terdiri dari
penguapan, presipitasi, dan pengaliran. Air yang menguap

28

terutama air laut akan naik ke atmosfer berubah menjadi awan


dan setelah itu mengalami proses kondensasi kemudian jatuh
sebagai air hujan dan salju ke permukaan bumi, proses ini di
sebut presipitasi.
Air jatuh ke permukaan bumi sebagian meresap ke dalam
tanah (infiltrasi) sebagian ditahan tumbuh-tumbuhan (intersepsi)
dan sebagian lagi mengisi liku-liku permukaan bumi, kemudian
akan mengalir ketempat yang lebih rendah. Tidak semua air
yang mengalir menjadi sumber penyaliran. Kondisi ini
tergantung pada daerah tangkapan hujannya, yang dipengaruhi
beberapa faktor antara lain: keadaan topografi, kepadatan alur
penyaliran, rapat atau tidaknya tumbuh-tumbuhan serta keadaan
geologi permukaan tanah.
4) Air Limpasan (Run Off)
Air limpasan disebut juga dengan air permukaan, yaitu air
yang mengalir dari permukaan tanah. Limpasan akan terjadi
apabila laju hujan melebihi laju infiltrasi kedalam tanah. Setelah
laju infiltrasi dipenuhi, air akan mulai mengisi cekungancekungan pada permukaan tanah, setelah cekungan penuh maka
terjadilah limpasan.
Faktor yang mempengaruhi limpasan dibagi dua kelompok
yaitu, faktor meteorologi dan faktor fisik daerah panggalian.

29

a) Faktor Meteorologi meliputi:


(1) Jenis presipitasi
Proses maksudnya adalah peristiwa jatuhnya cairan
atmosfer ke permukaan bumi. Dapat berbentuk hujan,
salju, es, dan embun.
(2) Intensitas Hujan
Lamanya hujan adalah tebalnya hujan disuatu tempat
yang diukur atau dicatat selama terjadi hujan persatuan
waktu.
(3) Lamanya Hujan
Maksudnya adalah berapa lama hujan yang terjadi
persatuan waktu.
(4) Distribusi hujan daerah pengaliran
(5) Curah Hujan Terdahulu dan kelembaban Tanah
(6) Kondisi dan meteorology lainnya,
Seperti kecepatan angin, kelembapan relatif dan lain-lain.
b) Faktor Fisik meliputi:
(1) Tata guna lahan
(2) Luas daerah
(3) Keadaan topografi
Keadaan yang menggambarkan situasi dan kondisi
daerah tersebut.
(4) Jenis tanah

30

5) Air Tanah
Air tanah adalah semua air yang terdapat dibawah
permukaan tanah, dan berada dalam ruang antar butir atau
rekahan-rekahan serta celah-celah batuan pada zona jenuh air.
Adapun masalah yang biasa timbul akibat adanya air
tanah pada suatu tambang terbuka antara lain:
a) Masalah pada saat operasi penambangan
Air akan cenderung menyebabkan timbulnya
gerakan tanah, selain itu gerakan air tanah yang ada pada
jalan tambang menyebabkan jalan tambang menjadi
amblas sehingga mengganggu siklus alat berat yang
melewatinya.
b) Masalah ketidakstabilan lereng
Akibat adanya air tanah, maka terjadi tekanan air
dimana makin tinggi tekanan air kekuatan efektif
material dinding tambang semakin mengecil, sehingga
stabilitas bukaan dinding semakin mengecil pula.
Menurut Rudy Sayogya Gautama (1999:3-1) lapisan batuan
dibagi menjadi 4 jenis yaitu:
1. Aquifer
Adalah lapisan batuan atau tanah yang permeabel atau
lulus, sehingga dapat meluluskan air.

31

a. Aquifer pori
Aquifer pori adalah aquifer yang kelulusanya
disebabkan oleh pori-pori padatanya lapisan sedimen.
b. Aquifer rekahan
Aquifer rekahan adalah aquifer yang kelulusannya
dipengaruhi oleh rekahan-rekahan yang terdapat pada
lapisan batuan, misalnya batuan beku.
c. Karstaquifer
Karstaquifer merupakan lapisan batu gamping karst.
2. Aquifug
Aquifug adalah lapisan batuan atau tanah tidak lulus air
sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan dan
meluluskan air.
3. Aquiclude
Aquiclude adalah lapisan batuan atau tanah yang dapat
menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkannya.
4. Aquitar
Aquitar
mempengaruhi
dimanfaatkan.

merupakan

aquifer

neraca

tetapi

air

secara
tidak

cukup

regional
untuk

32

6) Curah Hujan
Untuk mengetahui debit air yang akan dipompakan maka
diperlukan data curah hujan. Curah hujan yang dipakai adalah
curah hujan rata-rata perbulan.
a) Menghitung Intensitas curah hujan (I).
Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan
yang terjadi pada suatu kurun waktu di mana air tersebut
berkonsentrasi. Analisis intensitas curah hujan ini dapat
diproses dari data curah hujan yang telah terjadi pada masa .
I=
Keterangan:
I

= Intensitas curah hujan (mm/jam)

= Curah hujan rancangan (mm)

tc

= Waktu konsentrasi (jam)

b) Menghitung tc dapat menggunakan rumus:


tc = 0,0195 x L0,77x S

-0,385

Rudy Sayogya Gautama

(1999:4-2)
Keterangan:
tc

= Waktu konsentrasi (jam)

= Panjang aliran (m)

= Kemiringan

c) Menghitung curah hujan rancangan (R).


R = antilog log xi- + (Gx x Si)

33

Keterangan:
R

= Curah hujan rancangan (mm/hari)

Log xi-

= log curah hujan rata-rata

Si

= Harga simpangan baku

Gx

= Nilai koefisien skew Cs untuk kala ulang 2

tahun
d) Menghitung curah hujan rata-rata
(log xi-) log xi- =
keterangan:
log xi-

= log rata-rata curah hujan

log xi-

= jumlah total log curah hujan

= banyak data curah hujan

e) Simpangan baku (Si)


Si =
f) Koefisien skew curah hujan (Cs).
Cs = n
g) Menghitung nilai koefisien skew curah hujan kala ulang 2
tahun (Gx).
Gx = X
a. Mencari nilai Gx dari koefisien skew yang besar
dari Cs.
Gx = Xa +

34

b. Mencari nilai Gx dari koefisien skew yang kecil dari


Cs.
Gx = Xb
Keterangan:
X

=Nilai koefisien skew yang mengapit nilai Cs untuk


kala ulang 2 tahun.

= Selisih nilai koefisien skew yang mengapit nilai


Cs untuk kala ulang 2 tahun

Cs

= Koefisien skew curah hujan

= Koefisien skew yang mengapit Cs

= selisih koefisien skew yang mengapit Cs

= Za Zb

Za

= koefisien skew yang besar dari Cs

Zb

= Koefisien skew yang kecil dari Cs

= Xa Xb

Xa

= Nilai koefisien skew yang besar dari nilai Cs


untuk kala ulang 2 tahun

Xb

= Nilai koefisien skew yang kecil dari nilai Cs


untuk kala ulang 2 tahun

h) Menghitung Debit air hujan (Q)


Untuk menghitung jumlah air/limpasan permukaan dari
suatu daerah dapat digunakan rumus
Q = 0,00278 x C x I x A Rudy Sayogya Gautama (1999:4-1)

35

Keterangan:
Q

= Debit air (m3/s)

= Koefisien Limpasan

= Intensitas hujan (mm/jam)

= Luas catchment area (ha)


Tabel 3

Harga Koefisien Limpasan Pada Berbagai Kondisi


Kemiringan

Tata guna lahan

Harga C

< 3%

Sawah,rawa

0,2

Hutan, perkebunan

0,3

Perumahan dengan kebun

0,4

Hutan, perkebunan

0,4

Perumahan

0,5

Tumbuhan yang jarang

0,6

3% - 15%

Tanpa tumbuhan, daerah penimbunan 0,7


>15%

Hutan

0,6

Perumahan, kebun

0,7

Tumbuhan yang jarang

0,8

Tanpa tumbuhan, daerah tambang

0,9

Sumber : Rudy Sayogya Gautama (1999:4-2)


(a) Menghitung Debit Air Tanah (Q)
Q = Luas Sump x Tinggi Kenaikan Air
(b) Debit air masuk
Q = Debit air hujan + Debit mata air

36

(c) Volume air total = V air tergenang + V air masuk


b. Pompa
2) Pengertian Pompa
Pompa merupakan suatu alat untuk memindahakan fluida
dari suatu tempat ke tempat lain dengan jalan menghisap dari
sumber dan menekan ketempat pemindahan.
Dalam melaksanakan pekerjaan tambang , masalah air
tidak bisa dihindari, oleh karena itu persediaan pompa sangat
penting artinya demi kelancaran produksi sesuai dengan yang
diharapkan.
3) Kontruksi pompa

Gambar 8. Elevasi Pompa Dari Sump ke Settling Pond


Gambaran permukaan tambang jika di iris dan posisi
permukaan pompa di area tambang.
Pemakaian pompa dalam industri pertambangan tergantung
padakeadaan dan karakteristik air.

37

Menurut Sularso (2000:75) secara umum ada beberapa jenis


pompa yaitu:
(a) Mono pump
Mono pump mampu menghisap air sampai batasan 25 cm
ke arah pipa hisap pompa. Mono pump di lokasi tambang
digunakan untuk menghisap air dengan partikel yang kecil dan
sedikit berlumpur.
Pada mono pump, pompa bekerja akibat berputarnya rotor
terhadap karet strator sehingga mengakibatkan air terbawa
dicelah strator dan rotor keluar pompa.
Sebelum pengoperasian pompa terlebih dahulu diisi air
yang bertujuan untuk pelumas strator itu sendiri dimana pada
saat pompa dimatikan, maka air akan berada di antara strator
(b) Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal adalah pompa yang menggunakan
tenaga sentrifugal dalam pengoperasiannya. Tenaga ini bekerja
pada semua bagian yang berputar pada suatu sumbu.
Daya dari luar diberikan pada poros pompa untuk
memutar impeler akan ikut berputar oleh dorongan sudu-sudu.
Karena timbulnya gaya sentrifugal maka fluida akan mengalir
dari tengah impeler keluar melalui saluran diantara sudu-sudu.
Pirisip kerja pompa sentrifugal

38

(a) Dari bentuknya pompa sentrifugal terdiri dari kipas yang dapat
berputar dalam rumah pompa.
(b) Rumah pompa dihubungkan kesaluran hisap dan saluran tekan.
(c) Kipas disini terdiri dari dua buah cakra yang terdapat sudu-sudu
di dalamnya yang membengkak ke belakang.
(d) Sebelum pompa dijalankan rumah pompa diisi dengan zat cair.
(e) Pompa dihidupkan sudu memberikan gerak putar kepada zat cair
dan kipas.
(f) Gaya sentrifugal mendorong zat cair kesekeliling sebelah luar
kipas. Sehingga lubang aliran masuk timbul ruangan kosong
artinya terjadi hampa udara, keadaan ini menyebabkan
terjadinya perbedaan tekanan, sehingga air masuk melalui
saluran hisap dengan tekanan tertentu.
(g) Selanjutnya zat cair di rumah pompa sisalurkan sedemikian rupa
sehingga terdapat perubahan kecepatan ke dalam tekanan yang
sempurna sehingga zat cair disalurkan ke pipa tekan.
(h) Zat cair bergerakan sedemikian rupa dengan aliran yang tidak
terputus dari saluran hisap ke saluran tekan.
Dalam pekerjaan tambang, pompa digunakan untuk:
1. Penyaliran Tambang
(1) Tambang Terbuka
(2) Tambang Dalam
2. Kegiatan Pemboran

39

3. Kegiatan Pencucian Mineral Produksi Tambang


4. Kepentingan Operasi Mesin Tambang
5. Kegiatan Pengolahan Air Asam Tambang
Pemilihan pompa harus disesuaikan dengan:
1.

Debit atau volume air yang akan dipindahkan


Debit air adalah volume air yang akan dipindahkan
selama waktu tertentu, dengan satuan m3/jam atau m3/s. Jadi
pemilihan pompa disesuaikan dengan banyaknya air yang akan
dipindahkan.

2.

Jenis air yang akan dipindahkan


Air tambang umumnya berasal dari air resapan yang ada
pada lapisan permukaan tanah dan memiliki tingkat keasaman
yang tinggi.

3.

Lokasi pemindahan air


Keadaan atau lokasi tempat pemindahan air harus
diperhatikan untuk bisa disesuaikan pompa mana yang cocok
digunakan untuk keadaan tersebut. Lokasi pemindahan air bisa
berbentuk terjal, berbelok-belok, datar dan lain sebagainya.
Selain itu kita juga harus memperhatikan spesifikasi pompa
tersebut.

Hal-hal yang perlu kita ketahui dari suatu pompa sebagai berikut:
1.

Jenis pompa yang digunakan, nomor pompa, negara yang


memproduksinya

40

2.

Jumlah volume fluida yang dapat dialirkan melalui


pompa per satuan waktu m3/jam

3. Energi yang dikeluarkan pompa untuk mengalirkan air


3) Jumlah pompa
Menurut Sularso (2000:75) untuk menentukan jumlah
pompa dapat dilakukan dengan membandingkan antara
debit air yang masuk ke areal tambang dengan bebit
pemompaan. Kita juga perlu memperhatikan aspek-aspek
berikut:
a)

Kapasitas pompa
Kondisi yang harus diperhatikan dalam kapasitas pompa
sebagai berikut:
(1)

Lokasi

pemasangan

pompa

dan

transportasi

pengangkutan.
(2)

Jenis penggerak yang harus disesuaikan dengan


keadaan lokasi pemasangan pompa.

(3)

Pengadaan suku cadang pompa.

(4)

Resiko dan keselamatan kerja dalam pemasangan dan


pengangkutan pompa.

b)

Pertimbangan ekonomi
Dalam
dipergunakan,

menentukan
kita

harus

jumlah

pompa

yang

mempertimbangkan

akan

keadaan

perekonomian perusahaan untuk membeli perawatan pompa.

41

Perhitungan biaya dalam pemilihan pompa meliputi:


(1)

Biaya pemasangan instalasi


Pemasangan instalasi pompa membutuhkan
dana yang besar, mulai dari biaya pengangkutan sampai
biaya pembangunan fasilitas mekanik untuk perawatan
dan perbaikan pompa. Karena dalam pengangkutan
pompa tambang dilakukan dengan menggunakan alat
berat.

(2)

Biaya pengoperasian pompa


Biaya

operasi

menyangkut

biaya

untuk

menyediakan energi atau daya, biaya perawatan pompa,


uang lelah untuk mekanik pompa. Oleh karena itu
pompa yang digunakan harus ekonomis dan tepat
sasaran sesuai dengan penambangan yang ditetapkan.
(3)

Perhitungan jumlah pompa


Untuk mencari kebutuhan dan perencanaan
jumlah pompa dapat dicari dengan rumus di bawah ini
1. Perhitungan jumlah pompa yang dibutuhkan
Jumlah pompa =
2. Rumus menghitung head total pompa (H)
Head total pada pompa merupakan penjumlahan
dari head angkat (statis) dan berapa kerugian dengan
kondisi yang direncanakan

42

H = hs + hp + hf + hsv + hv

Sularso (2000:26)

Keterangan:
H

= Head total pompa (m)

hs

= Head statis merupakan perbedaan tinggi antara tinggi air

di sump dengan titik buangan (m)


hp

= Perbedaan head tekan bekerja pada permukaan air (m)

hf

= kerugian pada jalur pipa yang sangat panjang (m)

hsv

= kerugian akibat fiting-fiting (belokan) pada pipa (m)

hv

= Head kecepatan pada ujung pipa keluar (m)


Untuk menentukan head total pompa terlebih
dahulu harus ditentukan kerugian yang terjadi pada
instalasi pompa yangdigunakan
3. Head statis (hs)
Haed statis merupakan perbedaan elevasi
muka air di sisi keluar dan di sisi isap.
hs = elevasi sisi keluar elevasi sisi isap
b. Perbedaan tekanan atmosfir pada permukaan air
(hp)
hp

= hpa hpb

hpa

= 10,33 (1-0,0065 x ha/288)5,256

hpb

= 10,33 (1-0,0065 x hb/288)5,256

Sularso (2000:26)

Keterangan:
hp = perbedaan tekanan pada permukaan air (m)

43

hpa

= tekanan pada permukaan air yang akan

dipindahkan
hpb

= tekanan pada permukaan air buangan

ha

= elevasi sisi isap (m)

hb

= elevasi sisi keluar (m)

10,33 = tekanan udara pada ketinggian 0 m


c. Head kerugian head oleh pipa yang sangat panjang
(hf)
Rumus

ini umumnya

digunakan untuk

menghitung ulang kerugian pada pipa yang sangat


panjang, dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
hf =

L Sularso (2000:31)

keterangan:
hf = kerugian head (m)
Q = laju aliran (m3/s)
C = koefisien
D = diameter pompa (m)
L = panjang pipa (m)

44

Tabel 4
Kondisi pipa dan harga C

Jenis & kondisi pipa

Pipa besi cor baru

130

Pipa besi cor tua

100

Pipa baja baru

120-130

Pipa baja tua

80-100

Pipa dengan lapisan semen

130-140

Pipa dengan lapisan ter arang batu

140

Sumber: Rudy Sayoga Gautama (1999:5-4)


4) Kerugian head pada belokan (fiting-fiting) (hv).
hv =

Rudy Sayoga Gautama (1999:5-9)

Keterangan:
hv = kerugian head (m)
Le = panjang ekuivalen
L = panjang pipa (m)
hf = head kerugian pada pipa yang sangat panjang
(m)

45

Tabel 5
Panjang Pipa Lurus dan Ekuivalen Lf
Nama Peralatan Pipa

Panjang Pipa Lurus


Ekuivalen Lf

Belokan 45 (1 3 )

15 20 D

Belokan 900 (jari-jari lengkung standar)

32 D

Belokan (R/D = 3 )

24 D

90 (R/D = 4)

10 D

75 D

Belokan 180

Sambungan Silang

50 D

Sambungan T

40 80 D

Meteran Air Jenis Torak

600 D

Meteran Air

135 400 D

: Jenis Cakram

200 300 D

: Jenis Turbin

07D

Katub Sorong : Terbuka Penuh


: Terbuka

10 40 D

: Terbuka

100 200 D

: Terbuka

800 D

1 - 2

45 D

3 6

60 D

7 10

75 D

Katub Bola

Sumber: Rudy Sayoga Gautama (1999:5-10)


e) Kerugian head kecepatan ujung keluar (hv)
hv =

Sularso (2000:35)

Keterangan:
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)
v = kecepatan aliran rata-rata di dalam pipa (m/s)
2.

Metode Pemecahan Masalah


Tempat pengambilan data lapangan adalah pada pit S5 utara dan
S4 kemudian didua tempat ini pompa masih beroperasi memindahkan

46

air dari sump ke settling pond, maka alat yang akan di analisa di dua pit
tersebut.
Pengamatan langsung penulis lakukan di lapangan dan data yang
dibutuhkan dalam pembahasan masalah ini penulis dapatkan langsung
dari lapangan dan instansi-instansi lain yang terkait.
C.

Data dan Analisa Data


a. Data
Data yang dibutuhkan dalam menghitung kebutuhan pompa pada
lokasi penambangan PT. Cipta Kridatama.
a.

Luas catchment area Pit S4

= 45,03 ha

b.

Jarak terjauh aliran S4

= 270 m

c.

Elevasi titik tertinggi S4

= 30 mdpl

d.

Elevasi muka air di sump S4

= 8,9 mdpl

e.

Data curah hujan selama 10 tahun belakang.

f.

Kala ulang

= 2 tahun

g.

Jam kerja pompa

= 24 jam

h.

Luas front yang tergenang air S4

= 3,71 ha

47

2. Analisa Data
a.

Perhitungan Curah Hujan Rancangan


Tabel 6
Hasil Pengolahan Data Curah Hujan

Log rata-rata (log xi)


log xi- =

= 2,035

1) Simpangan baku (Si)


Si

= 0,174

2) Koefisien Skew (Cs)


Cs = n
= 10

= 1,55

48

Karena nilai koefisien skewnya 1,55 dimana 1,55


terletak diantara 1,6 dan 1,5 maka dapat kita lihat tabel
koefisien skew kala ulang 2 tahun pada lampiran, dengan
nilai 0,254 dan 0,240
1,6 = 0,254
1,5 = 0,240 _
0,1 = 0,014
Gx dicari dari nilai koefisien di atasnya
Gx = Xa +
= 0,240+

= 0,0174

Gx dicari dari nilai koefisien di bawahnya


Gx = Xb +
= 0,254 +
3) log R2

= 0,0176

= log xi- + (Gx x Si)


= 2,035+ (0,0176 x 0,174) = 2,038

= 109,14 mm

4) tc= 0,0195 (L0,77 x S-0,385)


S

= beda elevasi /panjang aliran ke titik pengendapan

= 21,1/270 = 0,078

tc

= 0,0195 (L0,77 x S-0,385)


= 0,0195 (2700,77 x 0,078-0,385)
= 3,879 jam

49

5) Perhitungan Intensitas Curah Hujan (I)


I

=
= 15,419 mm/jam
6) Debit air hajan
Q

= 0,00278 x 0,9 x 15,419 x 45,03 ha


= 1,737 m3/s

7) Debit air tanah


Tabel 7
Debit mata air

= 0,248m3/s

8) Debit air yang masuk


Q

= Debit air hujan + Debit mata air


= 1,737 m3/s + 0,248 m3/s
= 1,985 m3/s

50

9) Volume total air dalam sump


V

= volume air tergenang + volume air masuk


=

m3 + 171504 m3/hari

= 441514,04 m3
10) Head Pompa sykes FBP400
Pompa sykes pada pit S4
Htotal = hs + hp + hf + hsv + hv
11) Perhitungan Head Statis Pompa (hs)
hs

= Elevasi sisi buang elevasi sisi isap


= 30 mka 8,9 mka
= 21,1 mka

12) Perhitungan perbedaan tekanan pada permukaan air


hp

= hpa hpb

hpa

1 0,0065ha
= 10,33 x

288

5, 256

1 0.0065 x(8,9)
= 10,33 x

288

hpb

1 0,0065hb
=10,33 x

288

= 10,32 m

5, 256

1 0,0065 x30
= 10,33 x

288

hp

5, 256

5, 256

= 10,293 m

= 10,32 m 10,29 m = 0,03 m

51

13) Kerugian head oleh pipa yang sangat panjang (hf)


hf

=f
f = 0,020 x
= 0,0283
Q = 1,130

V=4

A=
A=
D2 =

= 0,6

hf = 0,02833 x
= 0,02833 x 450 x 0,816
= 10,41

14) Kerugian head pada belokan 900(hsv)


hsv

=
=

= 0,740 m
15) Kerugian head kecepatan ujung keluar (hv)
hv

=
=

= 0,816 m

52

Jadi head total pompa sykes adalah:


H

= hs + hp + hf + hsv + hv
= 21,1 m + 0,03 m + 10,41 m + 0,740 m + 0,816m
= 33,096m

16) Jumlah pompa yang dibutuhkan


Jumlah pompa

=
=

= 1,909 unit 2 unit

17) Jumlah pompa untuk memompakan air yang tergenang

=
= 1,0 unit 1 unit

53

D.

Analisa Hasil
Perencanaan sistem pemompaan air

tambang pada PT. Cipta

Kridatama tidak lepas dari perhitungan besarnya debit air limpasan dan air
tanah yang masuk ke dalam lokasi penambangan dan perencanaan sistem
pemompaan. Hal utama yang menjadi objek penelitian dan perhatian penulis
adalah banyaknya air yang tergenang di lokasi penambangan yang
mengakibatkan terganggunya kegiatan penggalian overburden dan batubara
pada kegiatan penambangan.
a. Debit Air yang Masuk ke Pit S4
Lokasi tambang PT. Cipta Kridatama memiliki topografi yang
berbukit-bukit. Titik penggalian terendah di PT. Cipta Kridatama adalah
+ 8,9 mdpl terdapat pada Pit S4 yang menyebabkan air akan mengalir
pada lokasi titik terendah tersebut. Kemajuan penggalian penambangan
yang semakin meningkat menyebabkan penambahan volume air pada Pit
S4.
Kondisi daerah penambangan sampai pada tanpa tumbuhan, daerah
tambang 0,9 dan kemiringan >15% mengakibatkan air limpasan langsung
mengalir menuju Pit yang yang mempunyai elevasi terendah yaitu Pit S4
catchment area Pit S4 adalah 45,03 Ha. Debit air hujan + air tanah yang
masuk adalah 1,985 m3/s

54

b.

Rencana Sistem Pemompaan


Pemompaan bertujuan untuk mengeluarkan air dari dalam
front tambang menuju settling pond setelah di netralisir dengan
pupuk sulfur baru di alirkan ke sungai.
Rencana sistem pemompaan pada Pit S4 adalah sistem tunggal
dimana air yang dikeluarkan dengan elevasi Pit S4 8,9 mka,
langsung dialirkan ke settling pond dengan elevasi 30 mka.
Dalam pengoperasian pompa, terjadi head loss akibat gesekan
air dengan pipa, akibat beda elevasi dan akibat oleh belokan pipa.
Spesifikasi pompa maksimum dari pabrik adalah 1,130 m3/s
sehingga jumlah pompa yang dibutuhkan untuk mengeringkan air
yang masuk ke dalam Pit S4 adalah 2 unit pompa sykes FBP400 dan
jumlah pompa untuk mengeringkan air yang tergenang adalah 1 unit
pompa tipe sykes FBP400 dengan waktu 3 hari, jadi PT. Cipta
Kridatama sebaiknya memilih pompa sykes FBP400 untuk
mempercepat pengeringan air dalam sump tersebut.

c.

Perencanaan Sistem Penirisan Tambang


Sistem penambangan yang dipakai oleh PT. Cipta Kridatama
adalah metode open pit. Cara yang dapat digunakan untuk
merencanakan sistem penirisan tambang adalah dengan metode
sistem drainage, pada sistem drainage ini dapat meminimalisir air
yang masuk ke dalam tambang dengan cara membuat saluran
drainase di luar atau di batas lokasi penambangan dan dialirkan pada

55

tempat yang telah disediakan, ini bertujuan agar air hujan dan air
dari luar tidak mengalir langsung ke front penambangan.
Sistem lain yang dapat diterapkan adalah dengan metode
pemotongan aliran air tanah, suatu cara dimana lapis tanah digali
sampai batas akuifer untuk mengamati kondisi air tanah. Dengan
terpotongnya aliran air tanah yang akan masuk ke daerah
penambangan maka air tidak akan masuk ke daerah penambangan.

56

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1.

Penambangan batubara di PT. Cipta Kridatama dilakukan dengan


sistem Tambang Terbuka dengan metoda open pit, khususnya untuk
menggali overburden.

2.

Untuk menangani masalah air yang tergenang di front penambangan


PT. Cipta Kridatama sudah menggunakan pompa sebanyak 1 unit
Sykes HH220i di S4.

3.

Dari hasil perhitungan penulis dibutuhkan 3 unit pompa sykes


FBP400 untuk mengeluarkan air di Pit S4 dengan rincian 2 unit
pompa sykes FBP400 untuk memindahkan air yang masuk ke dalam
sump, 1 unit pompa sykes FBP400 untuk memindahkan air yang
sudah

ada

tergenang

sebelumnya.

Pompa

sykes

FBP400

membutuhkan waktu selama 3 hari untuk mengeringkan air yang


tergenang. Jadi PT. Cipta Kridatama harus menambah minimal 3 unit
pompa lagi agar aktifitas penambangan berjalan sesuai target produksi
yang diinginkan dan disepakati.

54

57

B.

Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan untuk PT. Cipta Kridatama
agar produksi batubara yang diinginkan mencapai target produksi.
1.

Dalam menangani masalah air di front penambangan, pilihlah pompa


yang sesuai dengan kapasitas air yang akan dipindahkan.

2.

Pihak Sewatama harus memonitoring terhadap penggunaan pompa


yang digunakan agar segala kerusakan atau hambatan pada pompa
dapat segera ditanggulangi.

3.

Perusahaan harus memperhatikan luas tangkapan curah hujan, dengan


itu bisa dirancang supaya air hujan datang bisa di alirkan ketempat
lain tanpa melalui sump. Cara ini dengan membuat bandar dititik-titik
tertentu supaya ketika hujan datang air hujan tidak lansung ke area
Sump.

58

DAFTAR PUSTAKA

Remon kopa. 2008. Panduan pelaksanaan proyek akhir. Padang: Universitas


Negeri Padang
Rudy Sayoga Gautama. 1999. Sistem penyaliran tambang. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Sulastri. 2007. Proyek akhir: Padang. Universitas Negeri Padang.
Sularso. 2000. Pompa dan kompresor. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Shayanto. 1991. Parameter akuifer dan aliran air tanah. Bandung: Departemen
Pertambangan dan Energi.
Tamrin Kasim. 2009. Pompa dan kompresor. Padang: Universitas Negeri Padang.
........................, 2009. Penyaliran tambang. Padang: Universitas Negeri Padang.
......................., 2012. Data Lapangan dan Arsip Perusahaan. Riau: PT Cipta
Kridatama
......................., 2012. Arsip Perusahaan. Riau: PT. Riau Bara Harum

59

60

61

62

63

64

Lampiran 7

Pompa yang Digunakan Oleh PT. Cipta Kridatama

65

Lampiran 8
Pompa yang Disarankan untuk PT Cipta Kridatama

Pump at a glance
Maximum Suction:
9m
Connections: 400x350
Max Flow l/sec:1130
Maximum Head:55
Solids Handling:178

Pump Casting: High


Chromium Steel ASTM
A532
Suction Cover: S.G.
IRON 400/12
Air Seperation Tank:
Carbon Steel ANSI
B36.10M
Bearing Bracking: CAST
IRON AS1831

Priming System:
Compressor

Pump Shaft: 4140 STEEL

Pumpset dimensions

Impeller: Ni Cr Mo
ALLOY

Width: 2300mm
Length: 8100mm

Wear Plates: High


Chromium Steel ASTM
A532

Height: 3980mm
Dry weight:

Mechanical Seal:
GLAND PACKED

Centrifugal single stage


Volute 4 Bladed Closed
Suction Flange mm: 400
Delivery Flange mm: 350
Nominal Casting
Thickness mm:
Solids Handling Size mm:
178
Operating Speed:
MIN: 450rpm
MAX: 50rpm
Maximum Head m: 55
Maximum Capacity l/sec:
1130 L/Sec
Engine:
Caterpillar C-27

Materials of
construction

N.R.V:
Design details
Pump Description:

66

Lampiran
TabelFaktorFrekuensi K untukagihan Log-Person
Tipe III dengan SkewnessPositif

Koef
Skew
3,0
2,9
2,8
2,7
2,6
2,5
2,4
2,3
2,2
2,1
2,0
1,9
1,8
1,7
1,6
1,5
1,4
1,3
1,2
1,1
1,0
0,9
0,8
0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0,0

1,01
0,667
0,690
0,714
0,740
0,769
0,799
0,832
0,867
0,905
0,946
0,990
1,037
1,087
1,140
1,197
1,256
1,318
1,383
1,449
1,518
1,588
1,660
1,773
1,806
1,880
1,955
2,029
2,104
2,178
2,252
2,326

2
0,396
0,390
0,384
0,376
0,368
0,360
0,351
0,341
0,330
0,319
0,307
0,294
0,282
0,268
0,254
0,240
0,225
0,210
0,195
0,180
0,164
0,148
0,132
0,116
0,099
0,083
0,066
0,050
0,033
0,017
0

5
0,420
0,440
0,460
0,479
0,499
0,518
0,537
0,555
0,574
0,592
0,609
0,627
0,643
0,660
0,675
0,690
0,705
0,719
0,732
0,745
0,758
0,769
0,780
0,790
0,800
0,808
0,816
0,824
0,830
0,836
0,842

Kala Ulang
10
25
2,278
1,180
1,195
2,227
1,210
2,275
1,224
2,272
1,238
2,267
1,250
2,262
1,262
2,256
1,274
2,248
1,284
2,240
1,294
2,230
1,302
2,219
1,310
2,207
1,318
2,193
1,324
2,179
1,329
2,163
1,333
1,146
1,337
2,128
1,339
2,108
1,340
2,087
1,341
2,066
1,340
2,043
1,339
2,018
1,336
1,993
1,333
1,967
1,328
1,939
1,323
1,910
1,317
1,880
1,309
1,849
1,301
1,818
1,292
1,785
1,282
1,751

50
3,152
3,134
3,114
3,093
3,071
3,048
3,023
2,997
2,970
2,942
2,912
2,881
2,848
2,815
2,780
2,743
2,706
2,666
2,626
2,585
2,542
2,498
2,453
2,407
2,359
2,231
2,261
2,211
2,159
2,107
2,054

100
4,051
4,013
3,973
3,932
3,889
3,845
3,800
3,753
3,705
3,656
3,605
3,559
3,499
3,444
3,388
3,330
3,271
3,211
3,149
3,087
3,022
2,957
2,891
2,824
2,755
2,686
2,615
2,544
2,472
2,400
2,326

200
4,970
4,904
4,847
4,783
4,718
4,652
4,584
4,515
4,444
4,372
4,298
4,223
4,147
4,069
3,990
3,910
3,828
3,745
3,661
3,575
3,489
3,401
3,312
3,223
3,132
3,041
2,949
2,856
2,763
2,670
2,576

67

68

69

70

71

72