Anda di halaman 1dari 5

Di dalam KUHP pasal-pasal yang mengatur ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan

seksual terdapat pada Bab XIV yaitu bab tentang kejahatan kesusilaan. Bantuan ilmu kedokteran
dalam kasus kejahatan seksual dalam kaitannya dengan fungsi penyelidikan dujukan kepada:
Menentukan adanya tanda-tanda persetbuhan
Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
Memperkiraan umur
Menentukan pantas tidaknya dikawin
1. Menentukkan Adanya Tanda-tanda Persetubuhan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam
alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya
pancaran air mani.
Dengan demikian besarnya zakar dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh zakar
masuk, keadaan selaput dara serta posisi persetubuhan mampengaruhi hasil pemeriksaan.
Jika zakar masuk seluruhnya dan keadaan selaput dara masih cukup baik, maka pada
pemeriksaan dapat diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika selaput daranya
elastis tentu tidak aka nada robekan. Adanya robekan pada selaput dara hanya menunjukkan
adanya benda (padat/kenyal) yang masuk, dengan demikian bukan merupakan tanda pasti
dari adanya persetubuhan.
Adanya pancaran air mani (ejakulasi), pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan
sel mani/sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama (vagina) merupakan tanda pasti
akan adanya persetubuhan.
Adanya pancaran air mani (ejakulasi), pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan
sel mani/sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama (vagina) merupakan tanda pasti
akan adanya persetubuhan. Pada orang yang mandul akan jumlah spermanya sangat sedikit
sekali yang dikalangan medis dikenal dengan aspermia, dengan demikian pemeriksaan
ditujukan pada penentuan adanya zat-zat tertentu dalam air mani, seperti asam fosfatase,
spermin dan kholin; yang tentunya nilai pembuktian adanya persetubuhan lebih rendah oleh
karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas.
Jika si pelaku mempunyai penyakit kelamin dan penyakit ini ditularkan pada korban,
maka pemeriksaan bakteriologis misalnya untuk mencari kuman G.O atau sifilis perlu
dilakukan dengan catatan nilai pembuktiannya jauh lebih rendah lagi.
Jika pada korban terjadi kehamilan walaupun kehamilan itu jelas merupakan tanda
pasti telah terjadi persetubuhan, penilaiannya harus hati-hati, oleh karena sulit untuk dapat

menentukkan dengan pasti apakah kehamilan tersebut disebabkan oleh tersangka pelaku
kejahatan.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah: ditemukan sperma dalam vagina korban berarti
telah terjadi persetubuhan akan tetapi bila tidak didapatkan sperma hal ini tidak boleh
diartikan bahwa pada korban tidak terjadi persetubuhan.
2. Menentukan Adanya Tanda-tanda Kekerasan
Kekerasan tidak selamanya meninggalkan bekas/luka tergantung antara lain dari
penampang benda, daerah yang terkena kekerasan serta kekuatan dari kekerasan itu sendiri.
Oleh karena tindakan membius termasuk tindakan kekerasan juga maka perlu dicari adanya
racun serta gejala-gejala akibat obat bius/racun itu sendiri pada korban.
Dengan demikian adanya luka bearti ada kekerasan, akan tetapi tidak ditemukan luka
bukan berarti bahwa pada korban tidak ada kekerasan. Demikian pula halnya dengan hasil
pemeriksaan racun/obat bius pada korban.
Perlu diingat bahwa factor waktu amat berperan, dengan berlalunya waktu lukadapat
meneyembuh atau tidak dapat ditemukan, racun atau obat bius telah dikeluarkan dari tubuh.
Faktor waktu ini merupakan faktor yang penting dalam pemeriksaan untuk menemukan
sperma atau air mani.
Dengan demikian keaslian barang bukti/korban serta kecepatan pemeriksaan perlu
dijaga agar penyidik dapat memperoleh hasil/pembuktian seperti yang diharapkan.
3. Memperkirakan umur
Memperkirakan umur merupakan pekerjaan yang paling sulit, oleh karena tidak ada
satu metode apapun yang dapat memastikan umur seseorang dengan tepat, walaupun
pemeriksaan keadaan pertumbuhan gigi atau tulang dengan memakai alat rontgen.
Jika kasus kejahatan seksual yang diperiksa merupakan kasus perkosaan seperti yang
dimaksud dalam KUHP pasal 285 atau yang dilakukan pada seorang yang dalam keadaan
tidak berdaya (KUHP pasal 286), penentuan umur atau perkiraan umur tidak diharuskan.
Perkiraan umum umur diperlukan untuk menentukkan apakah seseorang itu sudah
dewasa (21 tahun ke atas), khusunya pada kasus homoseksual atau lesbian. Perkiraan umur
juga diperlukan pada kasus-kasus dimana pasal 287 KUHP dapat di kenakan pada pelaku
kejahatan.
4. Menentukkan Pantas Tidaknya Korban untuk dikawin
Penentuan sama sulitnya dengan memperkirakan umur seseorang. Oleh karena
manusia itu ingin dilihat dari segi yang mana, secara biologis, social atau dilihat sebagai
manusia seutuhnya serta berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.

Secara biologis jika persetubuhan itu dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan,


pengertian pantas tidaknya tidaknya buat kawin tergantung dari: apakah korban telah siap
untuk dibuahi yang dimanifestasikan dengan sudah pernah mengalami menstruasi untuk ini
kadang-kadang korban perlu diisolir di observasi dalam rumah sakit dalam waktu cukup
lama.
Bila dilihat pada Undang-undang perkawinan, yaitu pada Bab II (syarat-syarat
perkawinan) pada pasal 7 ayat 1 berbunyi: perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah
mencapai umur 16 tahun. Dengan demikian terbentur lagi pada masalah penentuan umur
yang sulit untuk diketahui.
Yang perlu diketahui dalam kasus kejahatan seksual:
1. Sperma masih bisa diketemukan dalam keadaan bergerak dalam vagina sampai 4-5 jam
setelah persetubuhan.
2. Pada orang yang hidup sperma masih dapat diketemukan (tidak bergerak) sampai sekitar
24-36 jam setelah persetubuhan: sedangkan pada orang yang mati sperma masih dapat
diketemukan dalam vagina paling lama sampai 7-8hari setelah persetubuhan.
3. Pada laki-laki yang sehat air mani yang keluar setiap ejakulasi sebanyak 2-5ml, yang
mengandung sekitar 60 juta sperma setiap milimeternya dan sebanyak 90% dari jumlah
tersebut dalam keadaan bergerak.
4. Untuk menjaga keaslian barang bukti/korban tidak perkenakan untuk membersihkan diri
atau mengganti pakaian, hal ini dimaksudkan supaya bercak air mani atau air mani yang
tidak hilang demikian pula dengan barang bukti lainnya seperti bercak darah, rambut,
pasir dan lain sebagainya. Untuk maksud tersebut dan untuk memenuhi syarat yuridis
yang berlaku buat barang bukti maka korban harus diantar oleh petugas kepolisian atau
penyidik segera setelah korban melapor ke polisi.
5. Untuk mencari bercak air mani yang mungkin tercecer di TKP misalnya pada sprei atau
kain maka barang-barang tersebut disinari dengan cahaya ultra violet dimana bagian yang
mengandung bercak air mani akan berfluorosensi putih bagian ini harus diambil atau
dikirim kelaboratorium.
6. Jika pelaku kejahatan segera tertangkap tidak setelah kejadian kepala zakar harus (glans
penis) harus diperiksa, yaitu untuk mencari sel-sel epitel vagina yng melekat pada zakar.
Ini dikerjakan dengan menempelkan gelas objek pada glans penis tepatnya sekeliling
korona glandis dan segera dikirim untuk mikroskopis.

7. Visum et repertum yang baik harus mencakup dan menjelaskan keempat hal seperti
diatas, dengan disertai perkiraan waktu kejadian persetubuhan. Hal ini dapat diketahui
dari keadaan sperma serta dari keadaan normal luka (penyembuhan luka) pada selaput
darah, yang pada keadaan normal luka akan seembuh dalam waktu sekitar 7-10 hari.
8. Dalam kesimpulan et repertum dokter tidak akan dan tidak boleh mencantumkan kata
pemerkosaan oleh karena kata tersebut mempunyai arti kata yuridis dalam hal paksaan
hal mana diluar jangkauan ilmu kedokteran.
9. Untuk mencegah hal-hal yang negatif, maka sewaktu pemeriksaan dilakukan pemeriksa
perlu didampingi orang ketiga, misalnya juru rawat atau polwan. Juga korban perlu apa
yang akan dilakukan selama pemeriksaan sedangkan dengan korban yang masih dibawah
umur izin dari wali atau orang tua diperlukan, demikian pula mengenai pemberitahuan
prosedur pemeriksaan.
10. Robekan baru pada selaput dara dapat diketahui jika pada daerah robekan tersebut masih
terlihat darah atau tampak kemerahan. Letak robekan pada selaput dara pada
persetubuhan pada umumnya di bagian belakang, letak robekan lama selaput dara dapat
diketahui jika robekan tersebut dapat diketahui jika robekan tersebut sampai ke dasar
(insertio) dari selaput dara.
Data statistik diperlukan agar penyidik dapat menjalankan tugas dengan baik, oleh
karena itu data tersebut diperoleh dari keterangan yang amat berharga khususnya dalam
kaitannya dengan penyidikan dan pencegahan kejahatan pada umumnya. Sebagai contoh
dikemukakan disini data dari dari dade country florida.
Wanita yang tidak menikah, berpisah atau bercerai mempunyai kemungkinan
diperkosa 5 kali lebih besar dari wanita yang menikah, yang selalu berdua di rumah atau
jika berpergian.
Hampir sepertiga dari para pelaku kejahatan sudah mengetahui perihal korban
sebelum perkosaan dilakukan.
Tiga puluh tujuh persen kejahatan seksual dilakukan dalam kendaraan atau mobil
atau tempat terbuka disekitarnya, 22% di dalam tempat tinggal korban atau sekitarnya,
11% dirumah pelaku kejahatan sedangkan 30% dilakukan dirumah atau bangunan yang
terbengkalai.
Dua puluh satu persen korban mendapat luka terutama pada daerah leher dan
kepala, 10% luka hanya di daerah kemaluan 7%mendapat luka di daerah kemaluan dan
lainnya.

11. Bite marks atau bekas gigitan jejas gigi sering di dapatkan pada tubuh korban kejahatan
seksual dan pada korban kejahatan lainnya. Pada pelaku kejahatan dapat pula ditemukan
bite maks yang berasal dari korban bila korban mengadakan perlawanan. Selain pada
tubuh manusia, bite marks juga dapat ditemukan pada barang bukti yaitu makanan,
khususnya makanan yang agak keras seperti buah apel, pear, jambu dan lainnya. Dengan
demikian adanya sisa-sisa makanan ditempat kejadian perlu diperiksa secara sesama.
Bite maks umumnya ditimbulkan akibat gigitan gigi bagian depan (gigi seri dan gigi
taring) sering di dapatkan pada kasus kejahatan seksual dan kasus penganiayaan serta
pembunuhan, khususnya bila korban mengadakan perlawanan.
Bite maks pada tubuh manusia dan pada makanan dapat mengalami dimensi. Oleh karena
terjadi pengeringan dan karena adanya pergerakan rahang sewaktu seorang menggigit.
Adanya air liur menunjukkan bite maks yang terdapat pada barang bukti berasal dari
manusia dan air liur tersebut dapat ditentukan golongan darah, bila orang yang menggigit
termasuk golongan sekretor.