Anda di halaman 1dari 3

Bahaya Abu Vulkanik

Bagi Kesehatan, Transportasi, dan Lingkungan


Oleh: Taufiq Kurniawan H (Humas BMKG)
Bencana alam seperti meletusnya gunung berapi memang merupakan salah satu bencana alam yang
kerap kali terjadi di Indonesia. Letusan gunung berapi ini memang memiliki pengaruh sangat besar
bagi kehidupan manusia, baik dari segi finansial, ekonomi, sosial, sampai pada kesehatan yang
disebabkan oleh berbagai material seperti debu dan gas yang dikeluarkan dari dalam perut bumi.
Saat meletus, gunung berapi umumnya menyemburkan uap air (H 2O), karbon dioksida (CO2), sulfur
dioksida (SO2), asam klorida (HCl), asam fluorida (HF), dan abu vulkanik ke atmosfer. Abu vulkanik
yang dikeluarkan saat gunung berapi meletus memiliki kandungan seperti silika, mineral, dan
bebatuan. Unsur yang paling umum adalah sulfat, klorida, natrium, kalsium, kalium, magnesium, dan
fluorida. Ada juga unsur lain, seperti seng, kadmium, dan timah, tapi dalam konsentrasi yang lebih
rendah dalam abu vulkanik ini.
Tidak heran, abu vulkanik memiliki dampak negatif yang sangat luas bagi kita antara lain terhadap
kesehatan, transportasi, dan lingkungan. Penting bagi kita untuk mengenal potensi bahaya bencana
akibat sebaran abu vulkanik agar kita dapat mengambil tindakan yang tepat dalam mengurangi
dampak negatif yang ditimbulkan.
Dampak abu Vulkanik Bagi kesehatan
Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain
gangguan pernapasan akut, gangguan pada penglihatan, iritasi pada kulit, dan gangguan mekanikal
akibat abu vulkanik. Gejala gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dan tips mengatasinya dapat
dilihat pada rubik Sehat.
Dari semua gangguan yang ditimbulkan abu terhadap kesehatan, gangguan pernafasan merupakan
salah satu dampak yang paling utama dari abu vulkanik. Iritasi hidung dan tenggorokan, batuk,
bronkitis, sesak napas, hingga penyempitan saluran napas yang dapat menyebabkan kematian
sangat mungkin untuk terjadi. Gangguan pernafasan yang diakibatkan oleh abu vulkanik tentu harus
cepat ditangani, karena sistem pernapasan merupakan salah satu hal vital yang menunjang hidup
manusia.
Partikel abu yang sangat halus, tentu sangat mengganggu sistem pernafasan, khususnya bagi Anda
yang telah memiliki permasalahan paru-paru. Selain itu, paparan abu vulkanik juga sangat berbahaya
bagi bayi, anak-anak, warga usia lanjut dan orang dengan penyakit paru kronis seperti asma.
Selain menggangu sistem pernapasan, abu vulkanik juga dapat menggangu sistem penglihatan. Abu
vulkanik memiliki butiran yang tajam, sehingga dapat menimbulkan gangguan pada mata. Masuknya
benda asing pada mata seperti abu vulkanik dapat menyebabkan Anda mengalami iritasi,
konjungtivitas (radang pada konjungtiva), abrasi kornea (goresan pada kornea).
Abu Vulkanik juga dapat menimbulkan Iritasi pada kulit. Meskipun jarang ditemukan, kasus iritasi
pada kulit terkadang ditemukan sepanjang hujan abu, terutama ketika abu gunung berapi tersebut
bersifat asam.
Efek mekanikal yang ditimbulkan oleh abu vulkanik dapat berupa runtuhnya atap rumah atau
kecelakaan di jalan raya. Atap rumah dapat runtuh karena beban berat dari abu, apalagi jika abu
tersebut basah dan bangunan tidak dibangun untuk menyangga beban berat. Atap yang runtuh dapat

menyebabkan orang yang berada dalam rumah tersebut tertimpa sehingga mengalami luka, bahkan
meninggal seketika. Luka yang terjadi dapat berupa patah tulang, luka memar, luka robek, dan
perdarahan yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut.
Dampak Abu Vulkanik Bagi Transportasi
Abu Vulkanik dapat menurunkan jarak pandangan dan ketebalannya dapat menutupi jalan, rel kereta,
dan landasan pacu pesawat sehingga membahayakan aktivitas transportasi.
Bagi maskapai penerbangan, abu vulkanik merupakan ancaman serius. Ketika abu vulkanik berada
pada jalur penerbangan atau menutupi landasan pesawat biasanya banyak maskapai yang berhenti
beroperasi untuk sementara waktu.

Pada April 1982, pesawat milik British Airways dengan rute penerbangan London
Inggris -Auckland New Zealand, terkena debu vulkanik Gunung Galunggung
sehingga musti mendarat darurat di Jakarta.
"Para penumpang, ini adalah kapten pesawat. Kita memiliki sedikit masalah,
semua empat mesin pesawat kita mati," kata Kapten Eric Moody, kepada para
penumpang, saat itu. Untungnya pesawat Boeing 747 - 200 itu bisa melewati
kawasan abu vulkanik dan berhasil menghidupkan kembali tiga mesinnya.
Selain British Airway, pada Desember 1989, penerbangan maskapai KLM Flight
867 (Anchorage Alaska - Amsterdam Belanda) juga sempat disergap abu
vulkanik Gunung Redoubt, di wilayar Aleutian.
Keempat mesin pesawat Boeing 747-400 itu juga sempat mengalami mesin mati.
Untungnya, dua mesin bisa dihidupkan kembali sehingga pesawat bisa mendarat
dengan selamat di Anchorage.
Kenapa demikian? Paling tidak ada tiga alasan bagi pilot pesawat dan maskapai
penerbangan menghindari abu vulkanik, yakni: pertama, Abu vulkanik dapat
menurunkan kinerja mesin dan bisa menyebabkan gagal mesin. Kedua, Abu
vulkanik dapat mengabrasi komponen luar peswat. Ketiga, Abu vulkanik juga
dapat mengkontaminasi interior pesawat.
Abu yang masuk ke dalam mesin jet bisa menyebabkan penurunan kinerja dan
kerusakan yang tiba-tiba pada mesin. Endapan debu di bagian mesin yang
panas, membuat unsur kaca dari debu vulkanik itu lumer dan menyelubungi
bagian nozzle, pembakar, serta turbin. Ini jelas bisa mengurangi efisiensi
pencampuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam mesin.
Akibatnya, mesin akan mengalami kehilangan daya dorong, jalannya tersentaksentak alias ngadat. Abu vulkanik juga bisa mengikis komponen bergerak
pesawat seperti kompresor dan baling-baling turbin.

Abu vulkanik mengandung elemen yang keras seperti fragmun batu-batuan yang
tajam, sehingga bersifat sangat abrasif. Ia dengan mudahnya menggerus
komponen pesawat yang terbuat dari plastik, kaca, dan logam. Biasanya, sisi
muka pesawat juga bisa rusak oleh debu vulkanik ini, termasuk kokpit, kaca
kabin depan, pelindung lampu pendaratan, pinggiran sayap depan dan

sayap rudder ekor, penutup mesin, dan bagian radar. Kaca kokpit juga bisa
sangat terabrasi sehingga pilot mengalami kesuliatn untuk melihat
jalur runway saat pendaratan.
Udara yang memasuki pesawat awalnya memasuki mesin. Namun abu lainnya
juga bisa masuk melalui ventilasi dan masuk ke dalam pesawat. Abu ini bisa
membuat sistem filter udara macet, menyebar ke seluruh kabin,
mengkontaminasi peralatan kabin, karpet, penutup kursi, dan bantal. Bahkan,
abu juga bisa mengakibatkan kerusakan sistem elektronik pesawat, termasuk
sistem pembangkit listrik dan instrumen-instrumen navigasi.

Dampak Abu Vulkanik Bagi lingkungan


Komposisi kimia dari Abu Vulkanik yang bersifat asam dapat mencemari air tanah, merusak tumbuhtumbuhan, dan apabila bersenyawa dengan air hujan dapat menyebabkan hujan asam yang bersifat
korosif. Sifat koresif inilah yang menyebabkan rusaknya berbagai jenis infrastruktur dan utilitas, tidak
hanya yang mengandung logam, seperti jembatan, perumahan dan pemukiman, tetapi juga berbagai
bangunan peninggalan sejarah seperti candi-candi.
Selain itu, abu vulkanik juga dapat mengakibatkan terkontaminasinya air bersih, tersumbatnnya
saluran air, serta rusaknya fasilitas air bersih. Sungai, danau, atau tangki air terancam tercemar atau
rusak akibat abu vulkanik.
Tanaman pertanian pun tidak luput dari ancaman abu vulkanik. Sifat asam abu vulkanik dapat
membakar jaringan tanaman. Konsentrasi ketebalan abu yang tinggi dapat menyebabkan kematian
pada beberapa tanaman. Demikian pasokan air untuk pertanian menjadi tercermar, sehingga resiko
gagal panen menjadi semakin besar.