Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

TEOLOGI
A. Pengetian Teologi
Teologi berasal dari kata logos dan theos dan dijadikan Bahasa
Indonesia maka menjadi teologi. Logos berarti percakapan, pengkajian
dan penelitian. Sedangkan theos dalam bahasa Greek berarti Tuhan
dan/atau sesuatu yang berkenaan dengan Tuhan. Jadi, Teologi dalam bahasa
Greek adalah penelitian secara rasional segala sesuatu yang berkenaan dengan
ketuhanan. Teologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari
pengetahuan tentang hakekat Tuhan serta keberadaan-Nya. .
Oleh sebab itu berbicara tentang teologi maka dengan sendirinya kita
membicarakan tentang Tuhan yang dari dahulu sampai sekarang selalu aktual
untuk dibicarakan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memerlukan Tuhan
dalam menjawab dan memaknai segala aspek kehidupannya terutama yang
berhubungan dengan moral dan ilmu pengetahuan.
Sedangkan agama berasal dari kata Sanskrit yang terdiri dari dua kata
yaitu; a maknanya sama dengan tidak, sedangkan gam maknanya sama
dengan pergi. Jadi agama yang dimaksud disini adalah sesuatu yang tidak
pergi; tidak pergi dalam arti bersifat tetap, diwarisi secara turun temurun. Bisa
juga agama yang berarti penganut kepercayaan yang memiliki kitab suci. Ada
juga agama berarti tuntutan yang mengandung ajaran-ajaran yang menjadi
tuntutan penganutnya. Jadi agama adalah suatu aturan yang menjadi landasan
hukum agar dapat membawa kepada kepatuhan umatnya sebagai hutang yang
harus dibayar dengan melaksanakan kewajiban kepada tuhannya.
B. Sejarah Teologi
Jan Hendrik Rapar mengungkapkan bahwa teologi merupakan salah satu
cabang filsafat yang mempelajari dan mencari tahu tentang hakekat, makna,
dan eksistensi Tuhannya dalam kehidupan keseharian, oleh sebab itu
pembicaraan tentang Tuhan menjadi tetap aktual setiap waktu.
Adapun periode perkembangan ilmu teologi sebagaimana diungkapkan
Juhaya S. Praja dalam bukunya terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Orde pertama

Orde pertama, ahli teologi bertugas untuk menggambarkan Tuhan, manusia,


dan dunia sebagaimana apa adanya. Ketika muncul kesadaran konsepkonsep teologis secara fundamental adalah bangunan imaginatif, bukan
abtraksi atau generalisasi, atau deduksi dari persepsi-persepsi, maka masuk
ke dalam teologi orde kedua.
2. Orde kedua
Pada orde teologi kedua berupaya memberi jawaban atas orientasi dalam
kehidupan, bagaimana manusia menghadapi kebutuhan-kebutuhannya
dalam menghadapi kehidupan. Orde kedua ini meninggalkan suatu konflik
sehingga datang orde ketiga.
3. Orde ketiga
Pada orde ini teologi berupaya memberi jawaban atas orientasi dalam
kehidupan, bagaimana manusia menghadapi kebutuhan-kebutuhannya
dalam menghadapi kehidupan. Orde ini mendirikan bangunan yang dibuat
dengan hati-hati dalam upaya melayani kebutuhan manusia kontemporer.
Berdasarkan tiga periode sejarah perkembangan ilmu teologi ini meliputi
tiga unsur pokok, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Dimana ketiga komponen
ini saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan walaupun memiliki unsur-unsur
yang sangat berbeda. Berikut ini merupakan gambaran dari ketiga orde yang
diungkapkan Juhaya S. Praja:
1. Teologi orde pertama
Para ahli teologi pada orde pertama ini hanya mengambarkan tentang
hakekat Tuhan, manusia, dan alam dengan apa adanya sebagai berikut:
a. Tuhan
Pengenalan manusia dengan Tuhan melalui berbagai cara, ada yang
langsung bertemu dengan Tuhannya dan ada yang melalui pengembaraan
batin. Maka dalam pengembaraan dan pertemuan tersebut, manusia
mengenal tuhannya melalui dualisme teologi, yaitu: monotheisme dan
polytheisme.
Monotheisme adalah penganut paham bahwa Tuhan itu hanya satu
dan pholytheisme adalah penganut paham tuhan itu banyak. Adapun
penganut monotheisme yang menganggap bahwa Tuhan itu hanya satu,
sebagaimana yang dianut oleh agama-agama samawi (agama yang
berasal dari langit) merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT

terhadap umatnya melalui perantaraan para rasul-rasul-Nya seperti Islam,


Yahudi dan Nasrani.
Kedua, penganut paham polytheisme yang menganggap bahwa
tuhan itu banyak, sebagaimana yang dianut oleh agama-agama ardhi
(agama yang berasal dari bumi) merupakan hasil perpaduan pemikiran
dan meditasi manusia, perpaduan alam nyata dengan alam hayal untuk
mencari sebuah kebenaran yang hakiki. Dalam Agama Hindu atau Budha
menganggap tuhan adalah para dewa yang selalu menebarkan benihbenih kebaikan untuk umat manusia sebagaimana yang digambarkan
dalam cerita Dewa Shinta dan Brahmana. Dalam agama kongfuse juga
menganal tuhannya digambar dengan para dewa di langgit yang terdiri
dari unsur dewa hujan, dewa panas, dewa penebar bencana, dan dewa
kebaikan. Begitu juga, dengan paham animisme dan dinamisme juga
dianggap sebagai agama sebab mereka menyakini adanya kekuatan yang
lain selain manusia yang bernuansa mistik. Mereka berkeyakinan bahwa
roh nenek moyang mereka masih hidup di alam tidak nyata. Roh nenek
moyang ini bisa memberikan keselamatan bagi mereka jika mereka
berbuat baik pada hal-hal yang dianggap tabu. Akan tetapi, sebaliknya
roh tersebut juga bisa marah dan tersinggung jika mereka melanggar
sesuatu yang dianggap tabu, kemarahan tersebut mereka yakini melalui
terjadi musibah yang menimpanya seperti sakit, banjir, tanah longsor,
ribut dan lain sebagainya.
Para Filosof terdahulu menganggap tuhan sesuatu yang ada tidak
ada tapi ada dan yang ada tersebut tidak dapat didefenisikan hanya dapat
dirasakan. Hal tersebut seperti teori Aristoteles yang menyebutkan Tuhan
adalah sesuatu penggerak yang tidak bergerak, yaitu yang menjadi sebab
pertama bagi gerak seluruh alam. Sehingga sampai pada titik
kesimpulannya bahwa tuhan pasti ada sebab metafisiknya adalah
eksistensi. Begitu juga dengan Plato dan Neo-Plotinus yang memandang
Allah itu Esa termasuk dalam sebutan nama Allah dan asmaul HusnaNya.(Esa dalam pengertian metafisik disini berbeda dengan Esa dalam
pengertian metafisik Aristoteles).

b. Manusia
Kajian Ilmu tentang manusia disebut antropologi, antros yang
berasal dari Bahasa Yunani berarti orang atau manusia sedangkan logos
maknanya ilmu. Jadi antropologi membahas tentang manusia serta halhal yang berkaitan dengannya. Oleh sebab itu kajian tentang hakekat
manusia sejak dahulu hingga sekarang belum berakhir. Ini menunjukkan
bahwa manusia adalah salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang misterius.
Louis Leahy mencoba mengungkapkan manusia dalam bukunya
bahwa dilihat dari kajian keilmuan manusia terdiri dari sel-sel, daging,
tulang, saraf, darah, dan lain sebagainya sehingga membentuk fisik.yang
dibarengi dengan roh kemudian tumbuh dewasa sejalan dengan
perkembangnya akal dan budi sehingga ia dapat mengerti bahasa yang
dapat menyaluran apa saja yang ada dalam dirinya seperti perasaan,
pikiran, dan lain sebagainya terhadap lingkungannya. Akan tetapi
semuanya ini belum memberikan jawaban yang sesungguhnya tentang
hakekat inti manusia itu sendiri.
Oleh Aristoteles manusia disebut sebagai hewan yang berpikir atau
mahluk yang berpikir. Adapun kelemahan akal adalah dapat memutar
balikkan fakta antara yang hak dan batil. Sedangkan kebaikannya adalah
manusia dapat mengetahui suatu benar. Nafsu adalah hasrat atau
keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Adapun kekurangan nafsu ialah
menghalalkan

segala

cara

untuk

mendapat

sesuatu,

sedangkan

kelebihannya yaitu selalu ingin dan berani untuk berkembang dan maju.
Perasaan atau yang lebih dikenal dengan hati adalah sifat-sifat yang
mendasar diberikan Tuhan pada manusia tentang hakekat dan nilai-nilai
kemanusiaan itu sendiri seperti rasa kasihan, marah, benci, senang, rindu,
suka, takut, berani dan lain sebagainya. Kekurangannya adalah jika sudah
terbiasa berbuat jahat maka sifat-sifatnya juga jahat, sedangkan
kebaikannya adalah menemukan nilai dan etika kemanusia bahkan dapat
mencapai nilai-nilai kebenaran yang hakiki dalam dirinya sendiri.
Ketiga komponen ini (akal, nafsu, dan perasaan) harus selalu
seimbang, senada, dan seirama sebab dalam hubungan sesama manusia

kita akan dapat berkembang menjadi lebih baik dan maju serta dapat
mewujudkan rasa kasih sayang sesama manusia dan lingkungannya.
Bahkan dapat menemukan hakekat kebenaran yang mutlak dengan seizin
Tuhannya.
Akan tetapi jika ketiga komponen ini berjalan tidak seimbang,
maka akibat yang ditimbulkan juga besar sesama manusia terjadi konflik
kepentingan bisa berbentuk fisik atau psikis (perang, kerusuhan,
perkelahian, penipuan, dan lain sebagainya).
c. Alam
Ilmu tentang alam dikenal dengan istilah kosmologi yang
membahas tentang hekekat alam semesta serta menyikap tentang
eksistensinya yang tersembunyi disebalik bentuk fisiknya. Sesuatu yang
berkaitan dengan eksistensi alam, asalnya, tujuannya dan bagaimana ia
terjadi serta berevolusi.
Kehadiran alam semesta didunia ini memberikan inspirasi bagi
manusia itu sendiri tentang hakekat kebenaran Tuhannya. Oleh sebab itu
Ibnu Sina menyatakan tentang teori penciptaan alam ini dengan skema
teori Filsafat Emanasi, dinama akal manusia memperoleh derajat
perolehan (mustafid) dapat mengadakan hubungan dengan akal
kesepuluh yaitu jibril, komunikasi tersebut terjadi karena akal sudah
terlatih dan kuat daya tangkapnya sehingga dapat menangkap hal-hal
yang bersifat abstrak murni, jadi komunikasi antara manusia dengan
Tuhan terjadi dalam tingkat akal dalam derajat materil. melalui kekuatan
inilah Nabi dapat berkomunikasi dengan dan hanya akal ini dimiliki para
nabi.
Seorang ilmuan non muslim saja bernama Albert Ensim
menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah
bergerak menurut sistemnya. Hanya saja yang menjadi pertanyaan
besar adalah siapa yang menggerakan sistem itu. Oleh karena ia seorang
atheis maka tidak mampu menyebutkannya Tuhan, akan tetapi pada
hakekatnya ia menyadari adanya kebenaran Tuhan. Sebenarnya, sistem
yang dimaksudkan di atas adalah sesuatu yang terdapat di luar hukum
alam yang tidak dapat dijelaskan oleh akal manusia. Ahli tafsir

mengungkapkan bahwa sesuatu yang rasional adalah yang sesuai dengan


hukum alam dan yang tidak rasional adalah yang tidak sesuai dengan
hukum alam tersebut. Jadi kebenaran akal hanya dapat diukur dengan
hukum alam. Ini artinya akal sangat sempit, maka ia belum bisa dianggap
pemikiran tingkat tinggi.
Bagi penganut paham polytheisme, mereka beranggapan bahwa
alam adalah bagian dari Tuhan mereka. Maka lahirlah agama stoa yang
menyakini bahwa alam ini adalah Tuhannya mereka. Jika Tuhan lagi
marah pada umatnya ditimpakan musibah seperti gunung meletus, gempa
bumi, banjir dan lain sebaginya. Jika Tuhan lagi senang mereka
beranggapan maka diturunkanlah hujan dan sinar matahari sebagai
sumber kehidupan.
Sebagai bagian akhir dari teologi generasi pertama ini adalah
munculnya

kesadaran

konsep

tentang

keberadaan

Tuhan

yang

fundamental. Artinya adalah sudah muncul keyakinan yang kuat dari


setiap individu mengenal Tuhannya dan mengamalkan ajarannya masingmasing.

2. Teologi orde kedua


Setelah manusia mantap dalam keyakinannya masing-masing, maka
muncul orde kedua yaitu bagaimana peran keyakinan tersebut dapat
menjawab dan memenuhi orientasi kebutuhan hidupnya. Maka posisi
keyakinan keberagamaan tersebut melahirkan sikap primordialisme tinggi
sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi rawan konflik. Sebagaimana
yang terjadi di dunia Barat dalam tahap pertama dan kedua yang ditandai
dengan munculnya ortodoks modernisme yang hanya memberikan perhatian
kepada persoalan teologi. Pada fase ini dikenal dengan modernisme
tradisional dengan ciri utamanya ditandai dengan rasionalisme yang
menebarkan dokrin mazhabnya sebagaimana yang diwakili oleh Mu`tazilah,
Murji`ah, Syi`ah, dan berbagai aliran klasik lainnya terutama yang berasal
dari Yunani dengan melahirkan doktrin-doktrin mazhab.
3. Teologi orde ketiga

Pada zaman kontemporer aliran ortodoks modernisme di atas, berubah


menjadi fase neomodernisme dengan menjangkau persoalan keduniaan
dalam kehidupan berupa ekonomi, pendidikan, politik, dan sosial. Orde ini
ditandai dengan datangnya sikap kedewasaan untuk saling menghargai
perbedaan keyakinan. Usaha yang dilakukan dengan membangun pranata
sosial

dengan

hati-hati

pada

masyarakat

yang

kontemporer

agar

terwujudkan kedamain dan sikap toleransi antar keyakinan keberagamaan


serta aspek-aspek lainnya.
C. Model Pandangan Teologi Agama
Secara umum, ada tiga model pandangan teologi agama-agama:
eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.
1. Eksklusivisme
Pertama, pandangan eksklusivisme memiliki pandangan eksklusif
mengenai keselamatan. Eksklusivisme menegaskan bahwa hanya di
dalam agama Kristen ada kebenaran dan keselamatan, sedangkan diluar
agama Kristen sama sekali tidak ada keselamatan. Ayat yang digunakan
umumnya adalah kitab Kis 4:12 dan Yoh 14:6. Dalam Gereja Katolik,
Paus Bonifasius VIII merumuskan pandangan ini dalam semboyan
Extra ecclesia nulla salus yang berarti diluar gereja tidak ada
keselamatan.
Teolog yang mewakili pandangan eksklusif adalah Karl Barth dan
Hendrik

Kraemer.

Barth

berpendapat

bahwa

agama

adalah

ketidakpercayaan. Agama-agama merupakan upaya manusia yang siasia untuk mengenal Allah. Allah hanya bisa dikenal kalau Allah sendiri
yang memperkenalkan DiriNya. Allah sudah memperkenalkan diriNya
didalam dan melalui Yesus Kristus. Injil adalah anugerah Allah di
dalam Yesus Kristus, sedangkan agama-agama adalah upaya manusia
yang sia-sia. Sebab itu, tidak ada hubungan antara Injil dengan agamaagama. Tidak ada hubungan antara anugerah Allah di dalam Yesus
Kristus dengan upaya sia-sia manusia. Ini juga berlaku bagi agama
Kristen. Tetapi agama Kristen dibenarkan karena Injil anugerah yang
dipegangnya.

Hal senada, namun beda argumen disampaikan Kraemer, yang


berpendapat bahwa penyataan di dalam Yesus Kristus merupakan
kriteria satu-satunya yang dengannya semua agama-agama, termasuk
agama Kristen, dapat dimengerti dan dinilai. Yesus Kristus ditempatkan
sebagai satu-satunya kriteria dalam memahami dan menilai agamaagama. Penyataan umum diakui keberadaannya, teologi naturalis, tetapi
tidak berdiri sendiri. Penyataan umum itu harus terkait dalam penyataan
diri Yesus. Titik tolak Kraemer adalah biblical realism (kenyataan
alkitabiah) yang mengandung dua hal: realitas alkitabiah menunjuk
pada kesaksian mendasar Alkitab tentang kemahakuasaan Allah dan
keberdosaan manusia yang diperhubungkan dengan inkarnasi Yesus
Kristus; dan pandangan mengenai agama-agama lain sebagai sistem
yang meliputi segalanya, yang masing-masing ditandai pemahamanpemahaman tersendiri akan totalitas eksistensi. Sebab itu, antara Injil
dan agama-agama tidak ada kesinambungan.
2. Inklusivisme
Kedua, Pandangan inklusivisme yang berkembang sejak Konsili
Vatikan II. Pandangan ini mengandung dialektika penerimaan dan
penolakan agama-agama lain. Pada satu sisi, inklusivisme menerima
adanya manifestasi rohani di dalam agama-agama lain, shingga dapat
disebut suatu tempat bagi kehadiran ilahi. Pada pihak lain, agamaagama ditolak sebagai yang tidak mencukupi bagi keselamatan, karena
hanya dalam krsitus saja ada keselamatan. Kitab yang dijadikan dasar
adalah kitab Lukas 4:21, 24:27, Kis 10:34-35, Yoh 1:1-4. Teologi
agama-agama berpandangan inklusivisme ini dianjurkan oleh Yustinus
Martir, Deklarasi Konsili Vatikan II, Karl Rahner danHans Kung.
Yustinus Martir, bapa gereja abad kedua, terkenal dengan istilahnya
Logos Spermatikos (benih-benih logos/firman). Martir, berdasarkan
Yoh 1:1-5, berpendapat bahwa di dalam dunia ada logos spermatikos
yang merupakan bagian dari kehadiran Allah memelihara ciptaanNya
yang telah dirusakkan oleh dosa. Sejajar dengan filsafat Stoa, iayakin
bahwa semua orang berpartisipasi dalam Akal kosmik universal, yaitu

Logos ilahi yang abadi, yang menjadi prinsip dari rasionalitas yang
terpadu merembesi kenyataan dasar alam semesta secara keseluruhan.
Yesus Kristus itulah Logos ilahi yang abadi. Teori Logos Spermatikos
menyatakan adanya kehadiran Kristus dalam dunia yang mengungkap
kebenaran dalam filsafat dan dalam agama-agama.
Pandangan inklusivisme lainnya, kita peroleh dari Konsili Vatikan
II (1962-1965) dalam dokumen Nostra Aetate (Dewasa`Kita), yaitu
Deklarasi tentang sikap gereja (Katolik) terhadap agama-agama bukan
Kristen. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa dalam agama-agama
lain, ada usaha menanggapi kegelisahan hati manusia dengan pelbagai
cara sambil menganjurkan jalan, yakni ajaran (kultus), peraturan (etis),
dan ibadat suci (ritus); gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar
dan suci dalam agama-agama, danmemandang dengan penghargaan
yang jujur bahwa tidak jarang itu memantulkan cahaya kebenaran, yang
menerangi semua masnusia. Terhadap Hindu, Konsili Vatikan II
memahami bahwa di dalam Hinduisme, manusia meneliti misteri ilahi
lalu mengungkapkannya dengan perbendaharaan mitos yang luar biasa
kaya dan dengan usaha-usaha filsafatnya yang tajam, dan mencari
pembebasan melalui bentuk-bentuk meditasi yang mendalam, atau pula
dengan berpaling kepada Allah dengan cita kasih dan pengharapan.
Terhadap Budhisme, ada diajarkan jalan, yang dengannya manusia
dapat mencapai tahap pembebasan sempurna atau atau dapat menggapai
pencerahan tertinggi dengan usaha-usaha sendiri atau dengan bantuan
dari atas. Terhadap Islam, yang menyembah Allah yang Mahaesa, Yang
hidup dan ada, Yang Mahapengasih dan Maha kuasa, Pencipta, Yang
berbicara kepada manusia. Terhadap Yahudi, gereja Katolik mendorong
persaudaraan dengan umat Yahudi, dan menentang antisemitisme, sikap
anti Yahudi oleh fasisme Hitler masa perang Dunia II yang menewaskan
enam juta orang Yahudi.
Penganjur Inklusivisme, Karl Rahner, menggabungkan suatu
teologi yang bersifat kristosentris dengan pengalaman keagamaan nonKristen. Kristus tetap pusat dan kriteria dari anugerah dan penyelamatan

Allah. Sebab itu, orang non-Kristen disebutnya sebagai orang Kristen


anonim. Gagasan ini dikemukakan dalam empat tesis: agama Kristen
ditujukan untuk semua orang, sehingga agama lain tak diakui; agama
nonkristen menjadi saluran anugerah Allah dalam Kristus, sebelum Injil
memasuki sejarah individunya; agama Kristen menghadapi agama lain
sebagai Kristen anonim; orang Kristen sebagai barisan terdepan yang
nyata dari harapan Kristen yang hadir sebagai realitas terselubung
dalam agama-agama lain. Tokoh inklusif lainnya, Hans Kung,
menyebut pendirian kritis-oikumenis, yang memandang agama dari luar
dan dari dalam. Dari luar dengan pengakuan akan kebenaran dalam
agama-agama, dan dari dalam, dengan kebenaran dalam agama sendiri.
3. Pluralisme
Ketiga, pandangan Pluralisme yang tergolong kontroversial dan
baru. Pandangan ini mengakui adanya kebenaran yang sama dalam
agama-agama, meskipun berbeda-beda. Dasarnya adalah pengkajian
kembali berita Alkitab, khususnya mengenai Kristologi. Pluralisme
menggeser Kristosentris ke Theosentris, dengan dasar kitab Yoh 14:28,
17:3, 1Kor 15:28, sikap teosentri Yesus, kitab Mazmur, nabi-nabi, dan
filsafat

agama.Penganjur

pluralisme,

E.Hocking,

menekankan

perubahan fungsi pekabaran Injil dari peran kristenisasi menjadi peran


kemitraan dalam mengembangkan agama lain; Arnold Toynbee
menganjurkan untuk mengakui agama-agama lain sambil berpegang
teguh pada keyakinan agama sendiri; Ernst Troeltsch berpendapat
bahwa kebenaran suatu agama terikat pada suatu kebudayaan tertentu,
dan Allah bekerja melalui seluruh agama; John Hick menganjurkan
revolusi Copernican dengan memindahkan pusat agama dari Kristus ke
Allah, sebagaimana Copernicus (matahari pusat) mengubah pandangan
geosentri Ptolemous (bumi pusat); Wilfred Cantwell Smith menekankan
penerimaan dan penghargaan pada agama-agama lain (moral dan
teologis), karena Allah yang memperkenalkan diri dalam Kristus penuh
kasih dan yang menyelamatkan, termasuk dalam agama lain, dan

agama/komunitas bersama-sama menuju pada satu tujuan akhir, yaitu


Allah sendiri; Wesley Ariarajah menggeser tekanan kristosentrisme ke
teosentrisme, dan mengusahakan dialog dalam penghargaan dan
keterbukaan kepada agama-agama lain, ayat-ayat eksklusif mestilah
dipahami dengan seluruh kesaksian Perjanjian Baru dan dipahami dari
sudut bahasa iman, bahasa cinta.
D. Pendekatan Teologis Dalam Studi Agama
Secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama
dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu
keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang
paling benar dibandingkan dengan yang lainnya. Dalam intern umat beragama
tertentu dijumpai berbagai paham atau sekte keagamaan, seperti teologi
Kristen-Katolik, teologi Kristen-Protestan dan lain sebagainya. Dalam Islam
sendiri, secara tradisional, dapat dijumpai teologi Mutazilah, teologi
Asyariyah, dan Maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang
bernama Khawarij dan Murjiah. Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr,
dalam era komtemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu
pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis.
Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak
mudah disatukan dengan begitu saja. Masing-masing mempunyai keyakinan
teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan. Mungkin kurang tepat
menggunakan istilah teologi di sini, tapi menunjuk pada gagasan pemikiran
keagamaan yang terinspirasi oleh paham ketuhanan dan pemahaman kitab suci
serta penafsiran ajaran agama tertentu adalah juga bentuk dari pemikiran
teologi dalam bentuk dan wajah yang baru.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi
dalam pemahaman kagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada
bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk
forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang
paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi yang satu
begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham

lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat, kafir,
murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat, dan
kafir itu pun menuduh bahwa lawannya sebagai yang sesat dan kafir. Dalam
keadaan demikian, maka terjadilah proses saling meng-kafirkan, salah
menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran
lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah
keterpurukan (eksklusifisme), sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan
terkotak-kotak.
Pendekatan teologi dalam memahami agama cenderung bersikap
tertutup, tidak ada dialog, parsial, saling menyalahkan, saling mengkafirkan,
yang pada akhirnya terjadi perkotakan-perkotakan umat, tidak ada kerjasama
dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Dengan pendekatan demikian,
agama cenderung hanya merupakan keyakinan dan pembentuk sikap keras dan
tampak asosial. Melalui pendekatan teologi ini agama menjadi buta terhadap
masalah-masalah sosial dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang
tidak memiliki makna. Dari uraian ini bukan berarti kita tidak memerlukan
pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa adanya pendekatan
teologi, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan
pelembagaannya. Proses pelembagaan perilaku keagamaan melalui mazhabmazhab sebagaimana halnya yang terdapat dalam teologi jelas diperlukan.
Antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi
sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun
masyarakat ideal menurut pesan dasar agama.
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara
berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini
benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti
benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari
keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Namun pendekatan teologis ini menunjukkan adanya kekurangan antara lain
berfiat eksklusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain, dan
sebagainya. Kekurangan ini dapat diatasi dengan cara melengkapinya dengan
pendekatan sosiologis.

Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan


normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya
yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran
pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu
kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak
bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan
seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara normatif
pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang sosial, agama tampil
menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, kesetiakawanan, tolong
menolong, tenggang rasa, persamaan derajat dan sebagainya. Untuk bidang
ekonomi, agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaan, kejujuran, dan
saling menguntungkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil
mendorong pemeluknya agar memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang
setinggi-tingginya,

menguasai

keterampilan,

keahlian

dan

sebagainya.

Demikian pula untuk bidang kesehatan, lingkungan hidup, kebudayaan, politik


dan sebagainya agama tampil sangat ideal dan yang dibangun berdasarkan
dalil-dalil yang terdapat dalam ajaran agama yang bersangkutan.
E. Sejarah Pemikiran Manusia Tentang Tuhan
Proses perkembangan pemikiran manusia tentang tuhan menurut teori
evolusionisme adalah sebagai berikut :
1. Dinamisme
Paham ini mengaku adanya kekuatan (maging power) yang
berpengaruh dalam kehidupan manusia, kekuatan ini terbentuk dalam
kepercayaan hayati yang ditunjukkan pada benda-benda (dianggap
keramat).
2. Animisme
Paham ini mempercayai adanya peranan roh dalam kehidupan
manusia, roh dianggap selalu aktif walaupun sudah mati. Paham ini
membagi roh atas dua yaitu roh baik dan roh jahat (nakal).
3. Politeisme
Paham ini mempercayai dan menganggap banyak dewa sebagai Tuhan
sehingga dewa tersebut dipuja dan disembah oleh manusia.
4. Henoteisme

Dari banyak dewa, selanjutnya manusia menyeleksi satu dewa yang


dianggap mempunyai kekuatan lebih yang kemudian mereka anggap
sebagai Tuhan.
5. Monoteisme
Paham ini menyertakan satu Tuhan untuk seluruh rakyat.
F. Ruang Lingkup Dan Kedudukan Filsafat Ketuhanan Dalam Sistem
Filsafat
Dalam bagan sistem kefilsafatan, filsafat ketuhanan dapat dikategorikan
sebagai cabang filsafat. Secara spesifik bisa dijelaskan bahwa Filsafat
Ketuhanan juga termasuk dalam bagian apa yang disebut cabang utama ilmu
filsafat, yaitu Metafisika. Metafisika yaitu ilmu perihal Yang Ada, dikenal
terbagi menjadi dua yakni Metafisika Umum (ontologi) dan Metafisika Khusus
(yang meliputi Kosmologi Metafisik, Antropologi Metafisik atau Filsafat
Manusia, dan Teologi Metafisik atau Filsafat Ketuhanan).
Ruang lingkup yang dikaji Filsafat Ketuhanan adalah masalah ketuhanan,
namun bukan dalam arti dzat Tuhan yang merupakan hal yang ghaib. Masalah
masalah itu antara lain:
Pengenalan terhadap Tuhan, Argumen keberadaan Tuhan, konsep
ketuhanan dalam sejarah pemikiran eksistensi Tuhan, identifikasi Tuhan (sifatsifat-Nya).
Objek material filsafat ketuhanan yang berada di seputar masalah
ketuhanan sering kemudian disamakan dengan filsafat agama. Oleh beberapa
pemikir sampai batas tertentu filsafat ketuhanan memang diidentikkan dengan
filsafat agama karena Tuhan sebagai objek kajian filsafat agama adalah salah
satu yang terpenting dalam ajaran-ajaran agama. Namun secara teoritis filsafat
agama lebih luas karena menyangkut juga tema mukjizat, dan lain-lain.
Pengidentikkan filsafat ketuhanan dengan filsafat agama seperti yang
dilakukan oleh Karl Rahner kurang mendapat tempat dalam pemikiran
kefilsafatan, dalam arti tertentu pembedaan di antara keduanya lebih banyak
diterima kalangan luas.
G. Istilah-istilah yang terkait dengan Filsafat Ketuhanan
Terdapat beberapa istilah yang sering disebut sebagai padanan dan istilah
filsafat ketuhanan, di antaranya adalah Teologi Metafisik, Teologi Naturalis,

Teologi Kefilsafatan, Teodise. Namun dari istilah-istilah tersebut dapat diurai


kekhasan yang dicakup olehnya yang membedakannya dalam hal-hal tertentu
dengan istilah Filsafat Ketuhanan.
1. Teologi Metafisik : bagian filsafat yang berbicara tentang Tuhan.
Sebagaimana diketahui metafisika adalah bagian dan filsafat yang
membahas hal-hal di belakang yang fisik, yang nampak oleh indera. Tuhan
dipandang sebagai hal yang keberadaannya di belakang yang nampak. Yang
ingin dibuktikan dalam Teologi Metafisik adalah bukti-bukti adanya Tuhan,
sifat-sifat-Nya, nama-namaNya, dan pembenaran adanya Tuhan didasarkan
atas pertimbangan atau analisa akal fikiran.
2. Teologi Naturalis ; teologi yang tidak mendasarkan pada wahyu, tetapi
berdasar pada pendapat akal dan tinjauannya selalu dikaitkan dengan alam
(nature). Dengan menganalisa tentang alam, baik mengenai adanya,
terjadinya, orang menyimpulkan keberadaan Tuhan.
3. Teologi Kefilsafatan: ini merupakan sebutan lain bagi teologi metafisik,
karena

berusaha

membahas

masalah-masalah

ketuhanan

secara

kefilsafatan. Pembicaraan tentang Tuhan yang lepas dan agama, artinya


tidak didasarkan atas wahyu. Dalam teologi kefilsafatan diajukan argumenargumen yang hanya berdasarkan pemakaian akal budi.
4. Teodise : dari kata Yunani teo Tuhan dan dike keadilan yang berarti
penelaahan

mengenai

masalah

keadilan

dan

pengetahuan

Tuhan

berdasarkan akal budi semata. Istilah ini mula pertama kali diajukan oleh
Leibniz (1646- 1716) dalam karyanya yang berjudul Essaise de theodicee
(1710). Teodise menjelaskan masalah ketuhanan mendasarkan analisanya
kepada kenyataan adanya kejahatan, penderitaan dan keserba-kurangsempurnaan kejadian ini. Lebih mudahnya teodise ingin mencari
pemecahan adanya pertentangan antara keyakinan bahwa Tuhan sebagai
yang tak terhingga baiknya dan kenyataan adanya kejahatan di dunia.
Kemudian dengan melihat adanya kekurang sempurnaan atau keburukan
dalam ciptaan ini dibuktikanlah adanya Tuhan. Pada abad ke-19 teodise
akhirnya menyamakan diri dengan telaah filsafati tentang Tuhan (filsafat
ketuhanan), namun di masa kini penggunaan nama teodise semakin

ditinggalkan, sebab problematika dan pendekatan masalah ketuhanan


sekarang jelas berbeda.
Di samping keempat istilah di atas terdapat lagi satu istilah yaitu teologi
kodrati yang biasanya dilawankan dengan teologi adikodrati. Hal ini karena
yang pertama menelaah Tuhan sebagaimana dikenal oleh akal sementara yang
kedua mendasarkan pengenalan dan wahyu (adikodrati).

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu (Mengurai Antologi, Epistimologi dan Aksiologi
Pengetahuan). Cetakan kedua. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 2006.
hlm. 205
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
2010.
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/23653/8dd18438bd6375a4b79de3bf
3bf6e681