Anda di halaman 1dari 6

Rencana Studi

Negara Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia dan Lautan Hindia dan
Pasifik ini memiliki 17.508 pulau. Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar
di dunia. Wilayah yang juga terletak di antara benua Asia dan Australia dan Lautan Hindia
dan Pasifik ini memiliki 17.508 pulau. Meskipun tersimpan kekayaan alam dan keindahan
pulau-pulau yang luar biasa, bangsa Indonesia perlu menyadari bahwa wilayah nusantara ini
memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada
pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan
Pasifik.
Indonesia kini mengemban status salah satu daerah rawan bencana di Dunia. Mulai
dari banjir, tanah longsor, hingga gempa dan tsunami. Masing-masing bencana sudah
dipastikan menelan korban jiwa. Berdasarkan data statistik Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) Indonesia, bencana yang paling sering terjadi di Indonesia adalah Banjir,
puting beliung dan tanah longsor. Namun, yang paling banyak memakan korban jiwa adalah
gempa bumi dan tsunami.
Sebagai daerah rawan bencana, pemerintah Indonesia mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab dalam mengantisipasi terjadinya bencana tersebut sebelum atau setelah
terjadi yakni mitigasi, tanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksi. Sistem komunikasi pun
menjadi salah satu komponen penting dalam tahapannya. Banyaknya korban jiwa bejatuhan
akibat tak mampunya mereka menjalin komunikasi guna menyelamatkan diri sendiri maupun
orang lain.
Berdasarkan rekomendasi ITU-T SG2 pun, Emergency Telecommunication Service
(ETS) harus dilakukan dalam 4 skenario penting yakni komunikasi pemerintah ke
pemerintah, pemerintah ke masyarakat, masyarakat ke masyarakat dan masyarakat ke
pemerintah. Hal ini menyebabkan kebutuhan baik intra dan inter koordinasi yang baik antar
organisasi di beberapa tingkat hirarki. Informasi harus disebarkan dengan cepat guna
mendukung akses real-time pada saat bencana.
Komunikasi antar masyarakat pun menjadi fokus saya dalam rencana studi. Kedepan,
pemerintah tengah merancangkan pembangunan infrastruktur teknologi 4G di Indonesia. Hal
ini didasarkan oleh kebutuhan akses Internet yang cepat oleh masyarakat di Indonesia.
Bahkan, Maret 2014 lalu, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
menyatakan dalam website resminya bahwa pengguna Internet di Indonesia kini mencapai 82
juta, sedangkan pengguna smartphone mencapai 41 juta.
Hal ini akan menjadi sangat menarik bila perencanaan infrastruktur dengan teknologi
terbaru juga diimplementasikan pada sistem komunikasi bencana alam atau ETS. Jumlah
korban saat bencana dapat diminimallisir dengan adanya komunikasi yang baik, cepat dan
real-time. Hal ini dapat menjadi pengembangan yang lebih kompleks lagi dari tugas akhir
saya yang berjudul Perencanaan Sistem Komunikasi Wireless Berbasis Teknologi Satelit dan
Radio Trunking sebagai Infrastruktur Sistem Komunikasi Bencana Alam di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.

Dalam studi terakhir saya, selain fokus pada bencana alam, saya mengamati bahwa
berkembangnya teknologi broadband dan satelit sebenarnya memiliki peranan penting dalam
hal meningkatkan sektor perekonomian dan kehidupan social di Indonesia. Terlebih lagi kita
tahu bahwa Indonesia adalah Negara berkembang. Hanya saja, infrastruktur dan sumber daya
manusia yang masih belum mendukung. Padahal di sektor pertelevisian, kelautan, militer,
hingga bencana dan keadaan darurat, satelit bisa berperan lebih. Terutama memanjakan
masyarakat akan kebutuhan komunikasi dengan kanal akses berkecepatan tinggi atau
broadband.
Belajar, bagi saya, adalah proses kaderisasi yang tidak pernah berhenti. Terutama
dalam hal meningkatkan kualitas pribadi untuk dapat lebih baik lagi membangun negeri. Saya
kemudian tertarik untuk melanjutkan studi saya ke level master. Dengan background studi
yang sangat kuat, saya ingin melanjutkan studi untuk meneliti lebih dalam lagi tentang
teknologi 4G, satelit dan kebencanaan yang sedang berkembang di Indonesia. Saya melihat
sebuah kesempatan dan menaruh proyeksi yang baik agar hasil penelitian saya bisa berguna
untuk Indonesia tanggap bencana di masa depan.
Berdasarkan dasar-dasar tersebut, saya berencana mengerjakan penelitian di level
master (thesis) yang berkonsentrasi pada Penggunaan Teknologi Satelit sebagai Penyedia
Akses Broadband (4G dan 5G) Selular dalam Bidang Maritim dan Kondisi Darurat atau
Bencana Alam, guna sebagai patokan dan pemahaman implementasi teknologi broadband
dan satelit dan telekomunikasi di Indonesia.

Essay 1 Peranku Bagi Indonesia

Bila di check-list, keinginan saya untuk bisa lebih berperan lebih bagi Indonesia
mungkin akan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Mulai dari keinginan menjadi bagian
dari perubahan sektor telekomunikasi Indonesia, menjadi pelopor perubahan sektor teknologi
telekomunikasi, keinginan menjadi pendidik, hingga menjadi menteri komunikasi dan
informatika Republik Indonesia. Asalkan saya bisa sukses, paling tidak berguna bagi orangorang di sekitar saya.
Tapi, sejak kecil, ibu selalu berpesan pada saya bahwa suksesnya saya kedepan adalah
tergantung bagaimana cara saya terdidik. Bagaimanapun, pendidikan merupakan bagian
terpenting dalam perjalanan sukses tiap individu. Sekecil apapun pendidikan yang dienyam,
pasti akan memberikan banyak pengetahun yang lebih bagi tiap individu.
Bagi saya, tidak ada negara yang sukses tanpa pondasi pendidikan yang baik. Hal ini
membuat saya tergerak untuk bisa menjadi bagian terbaik dari pendidikan untuk membangun
Indonesia menjadi lebih baik. Saya ingin menjadi pendidik, bukan pengajar. Mengajar hanya
terbatas pada penyampaian ilmu pengetahuan, sementara mendidik adalah proses
pembentukan karakter yang baik. Jadi, seorang guru sebagai orang tua anak didik di sekolah
memegang peran bukan hanya sebagai pengajar, namun juga harus menjadi pendidik.
Saya mulai tertarik dengan kegiatan mengajar karena saya melihat karakter kuat
seorang guru yang dimiliki oleh ibu saya. Ibu saya independen, mandiri, tegas, pintar, bijak
dan mampu disegani banyak orang, dicintai muridnya dan memberikan banyak prestasi untuk
bangsa, muridnya pun banyak yang sudah sukses.
Saya mulai tertarik kemudian untuk mencoba mengajar. Saatsaya duduk di bangku
SMA, saya mulai bekerja paruh waktu sebagai seorang guru privat salah satu murid SD. Saya
memahami bahwa mengajar, pada awalnya tidak mudah. Semua memang harus diawali
dengan mengajar dahulu, baru kemudin kita bisa mendidik. Saya mulai belajar bagaimana
mendidik itu, bagaimana proses transfer ilmu yang sesungguhnya hingga membentuk suatu
karakter di tiap individu.Atau kita lebih mengenalnya dengan kata pengkaderan.
Saat kuliah, saya masih melanjutkan kerja paruh waktu saya demi mengejar passion.
Bersama teman-teman saya, saya menggagas kegiatan pengabdian masyarakat yang bertujuan
mengajarkan akademik maupun non akademik pada suatu daerah dimana pendidikan masih
minim. Kegiatan itu pun berjalan dengan baik hingga detik ini. Sekiranya, sudah 3 tahun.
Keinginan saya untuk mengabdi sebagai pendidik di Indonesia semakin kuat ketika tau
bahwa siswa yang pernah saya ajar, kini telah sukses mengikuti beberapa olimpiade dan
kegiatan ilmiah, dan bahkan menjuarainya di tingkat Internasional. Sungguh saya memiliki
perasaan bangga tersendiri.
Saya pun mengepakkan sayap, berasama ibu saya, saya membangun sebuah Lembaga
Bimbingan Belajar yang bertempat di rumah saya. Saya dan ibu memiliki penghasilan pasif
karenanya dan kini kami sudah memiliki banyak staff. Kedepannya, saya ingin sekali
mengangkat level diri saya menjadi bagian dari pendidik di sebuah universitas atau institut di
Indonesia.

Dengan menjadi pendidik, setidaknya saya mejadi bagian penting dari negara
Indonesia. Dengan kontribusi berupa riset-riset ilmiah, saya berharap mampu memberikan
sumbangsih kepada Indonesia, sekaligus menikmati prosesnya. Peran sebagai pengajar dan
pendidik bersifat luas, bukan hanya di ranah formal dalam sebuah institusi pendidikan,
namun juga di tengah keluarga dan masyarakat. Hal tersebut harus dilaksanakan secara
kontinyu dan konsisten. Sebab, pendidikan adalah salah satu aspek fundamental bagi
majunya sebuah bangsa. Secara intelegensi, masyarakat Indonesia telah diakui memiliki level
yang tinggi. Dengan didukung pengembangan mental yang baik, semoga Indonesia dapat
berjalan menuju kea rah yang lebih baik.

Essay 2 - Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Bagi saya, sukses itu berarti saya sudah bisa melakukan ibadah dengan baik, dan
pastinya bisa berguna bagi orang lain, khususnya orang-orang di sekitar saya. Ya, setiap
orang berhak memiliki parameter suksesnya masing-masing. Entah sukses dari segi materi,
sukses berumah tangga, sukses secara akademis ataupun yang lainnya. Tapi menurut saya,
bila kita menargetkan sukses itu pada tujuan akhirat, saya pastikan sukses di dunia pun akan
terbawa. Prinsip ini saya bawa hingga mati.
Ibu, dalam hidup saya, menjadi sosok panutan dalam hidup saya. Beliau adalah
seorang guru, baik di sekolah maupun di hidup saya. Karena ibu seorang guru, sudahlah biasa
beliau mendidik murid-muridnya. Kedisiplinan, kesantunan, kecerdasan dan kasih sayang
menjadi nilai-nilai yang beliau tanamkan kepada saya. Nasihatnya tak pernah luput dari
telinga saya. Sejak saya kecil, ibu selalu mengajarkan betapa penting arti sebuah mimpi. Ibu
selalu mengatakan, kalau mau bermimpi, mimpi saja yang tinggi sekalian. Mimpi saja jadi
presiden. Mimpi saja bisa berjalan-jalan mengelilingi dunia. Mimpi saja bisa menjadi
astronot kemudian datang ke bulan, begitu kata beliau. Kerap kali saya pernah bermimpi
menjadi presiden. Tapi seiring jalannya waktu, saya pun juga menjadi sadar, mimpi harus
paham realita. Tak usahlah jadi presiden, tak usah jauh-jauh ke negeri orang atau ke angkasa.
Hey, tanah air masih butuh saya, masih menunggu saya agar bisa membesarkannya. Toh,
dengan membesarkan tanah air, siapa yang ikut senang dan bangga? Teman, kolega, kerabat
dan sahabat pun ikut bangga, bukan?
Setidaknya, di didik di keluarga ini bisa membuat saya berjanji dalam hati,
setidaknya, sebelum saya mati, selagi bisa, saya akan berkontribusi untuk tanah air, entah
apapun itu dan bagaimanapun caranya.
Ada pepatah mengatakan, Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan
emas di negeri asing. Artinya, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak berjuang
membangun negeri ini. Barangkali, setetes keringat yang menitik di tanah kelahiran, akan
lebih berharga sebagai perekat negeri, daripada keringat yang tertumpah di negeri asing.
Hingga pada tahun 2014 lalu, saya mendapatkan sebuah kehormatan untuk menjadi
delegasi Indonesia dalam sebuah ajang pertukaran budaya dan konferensi pemuda di Seoul,
Korea Selatan. Acara tersebut bernama Youth Camp for Asias Future. Disana saya
mempresentasikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, keragaman
suku, adat dan budaya, keindahan alam dan kuliner yang lezat.
Saya sangat bersyukur sekali, kesempatan untuk mempromosikan Indonesia tidak
akan saya lewatkan begitu saja. Rupanya pemuda Asia juga banyak yang belum terlalu
mengenal Indonesia. Dengan bangga kuceritakan, kugambarkan dan kemudian kuajak
mereka untuk mengunjungi Indonesia. Tak satupun hari disana yang kulewatkan tanpa
mempromosikan Indonesia, dengan cara apapun. Saat nongkrong di cafe dengan temanteman, saat belanja, setiap momen disana menggerakkan bibirku untuk mempromosikan
Indonesia. Ah, korea terlalu indah memang untuk dibandingkan dengan Indonesia. Tapi,
dimana kalian bisa temukan banyak makanan halal? Dimana kalian bisa temukan ribuan
masjid? Dimana kalian bisa makan masakan dengan cita rasa tinggi? Dimana kalian bisa
temukan pantai dengan pasir warna pink? Cuma di Indonesia!

Akhirnya, saya pun kembali Indonesia dengan bangga. Mengapa? Karena setelah
program itu selesai, banyak sekali teman dari belahan Asia, yang memberi saya kabar bahwa
mereka tengah menyusun rencana perjalanan mereka untuk mengunjungi Indonesia. Bahkan,
beberapa juga sudah ada yang sampai di Indonesia. Saya pun membuktikan apa yang pernah
saya bicarakan. Saya kenalkan mereka dengan keluarga saya, saya ajak mereka rasakan
rendang dan nasi goreng, saya tunjukkan mereka Candi Borobudur, dan yang akan segera
terwujud adalah, saya akan tunjukkan mahkota Indonesia, yakni Bali.
Sekali lagi, takaran sukses memang tergantung pada individu. Tapi, inilah sukses
terbesar saya hingga detik ini. Setidaknya bisa berguna bagi Indonesia walaupun dengan hal
kecil, bisa melihat senyum bangga kedua orang tua saya, sahabat dan semua orang di
sekitarku. Terutama, bisa menepati janji kepada diri sendiri.
Kini, pergi ke negeri asing, bagi saya, hanyalah agar saya bisa lebih bersyukur dan
bangga bahwa saya memiliki Indonesia. Saya ingin Mencuri ilmu dan belajar memahami
keberagaman manusia, atau bahkan, menjalankan misi berbagi keindahan Indonesia bersama
warga negara asing di belahan dunia, menunjukkan betapa Indahnya bumi pertiwi ini.
Kemudian kembali ke Indonesia untuk membangun negeri menjadi lebih baik.