Anda di halaman 1dari 12

55

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH

4.1 Kondisi Fisik Dasar


Letak Geografis. Secara geografis Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan
berada di ketinggian sekitar 700-1200 meter di atas permukaan laut, luas total 94
kilometer persegi dengan jumlah 12 desa agraris. Berada di lereng sebelah barat
pegunungan Tengger dan merupakan salah satu daerah jalan pintas menuju
kawasan Gunung Bromo dan kawasan Gunung Semeru. Wilayah ini berada dalam
kawasan pegunungan dan berada di ketinggian lebih kurang 1000 m/dpl. Batasbatas administratif Kecamatan Tutur adalah sebagai berikut :
Sebelah Timur : Kecamatan Tosari
Sebelah Utara

: Kecamatan Puspo

Sebelah Barat

: Kecamatan Purwodadi

Sebelah Selatan : Kecamatan Jabung (Malang)


Secara lengkap, gambaran kondisi geografis tersebut dapat dilihat pada Gambar 8.

Penggunaan Lahan. Luas daratan yang mencakup seluruh wilayah


Kecamatan Tutur sebagian besar merupakan lahan persawahan dan pertanian.
Sampai saat ini luas lahan yang telah dipergunakan sebagai pembudidayaan
komoditas pertanian yang hampir tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Tutur
adalah komoditas apel, kopi, cengkeh dan sapi perah (susu) yaitu sekitar 933 Ha
untuk luas lahan apel; 985,604 Ha untuk luas lahan kopi; dan 262,787 Ha untuk
luas lahan cengkeh. Adapun pada tahun 2008 produktivitas komoditas buah dan
sayuran dapat dilihat pada Tabel 8.

56

Gambar 8. Peta wilayah agropolitan Kecamatan Tutur

57

Tabel 8. Produktivitas komoditi buah dan sayuran Kecamatan Tutur


No.

Komoditi

Luas Lahan (Ha)

Produktivitas
(ton/th)

1.

Apel

933

22850

2.

Kentang

644

1200

3.

Kubis

521

9000

4.

Wortel

307

5600

5.

Bunga Krisan

1320000

6.

Kopi

985,604

14975.59

7.

Cengkeh

262,787

10354,7

8.

Paprika

5,5

120

9.

Lombok

29

3600

10.

Durian

174

15000

11.

Pisang

99,911

14912

12.

Kelapa

44.5

13699,1

14.

Bunga segar

4000

13.

Susu

24639.46

1350960.5

1431897.1

Total

Sumber : BPS Kabupaten Pasuruan, 2009

Kondisi Hidrologis. Kondisi tata air di wilayah Kabupaten Pasuruan


(termasuk di Kecamata Tutur) secara umum sudah baik, hal ini disebabkan karena
banyak terdapat sungai-sungai yang melalui dan semuanya bermuara di Selat
Madura serta bermata air di bagian selatan wilayah Kabupaten Pasuruan. Adapun
sungai yang melewati Kecamatan Tutur sendiri yaitu Sungai Welang.
Penggunaan air bersih di kecamatan ini juga sudah merata, dan telah
dimanfaatkan oleh semua penduduk yang bertempat tinggal di lokasi tersebut.
Curah hujan di wilayah ini tergolong tinggi jika di bandingkan dengan
kecamatan lain di Kabupaten Pasuruan yaitu curah hujan mencapai 2.981 (Mm).
Hari hujan 141 (HH) pada tahun 2002 (Dinas Pengairan Kabupaten Pasuruan,
2002).

58

Kondisi Geologis. Secara umum kondisi geologis Kabupaten Pasuruan


termasuk di Kecamatan Tutur didominasi oleh jenis batuan alluvium yang
mencakup luasan 14.512 Ha dan tersebar di Kecamatan Gempol, Beji, Bangil,
Rembang, Kraton, Rejoso, Lekok dan Nguling. Sedangkan pada wilayah lain
sebagian besar didominasi oleh batuan young quarternary vulcanic seluas 77.287
Ha. Jenis batuan lainnya berdasarkan kondisi geologisnya antara lain adalah
pleistoce

vulcanic,

pleistocena sedimen, pleistocene

sedimen,

dan

old

quarternary.
Kemampuan Tanah. Kemampuan tanah adalah identifikasi unsur-unsur
tanah yang sangat berpengaruh terutama menentukan jenis-jenis penggunaan
tanah yang ada di atasnya. Kemampuan tanah antara lain ditentukan oleh kondisi
lereng dan jenis tanah. Adapun rinciannya sebagai berikut :
a). Kondisi Lereng
Lereng adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang
horizontal dalam persen (%). Berikut luas kondisi lereng secara umum di
Kabupaten Pasuruan dapat dilihat pada Tabel 9.Luas wilayah Kecamatan
Tutur menurut kemiringan tanah yaitu untuk kemiringan 2-15 meter
seluas 3.081 Ha, untuk kemiringan 15 40 meter seluas 2.314 Ha , dan
untuk kemiringan > 40 meter seluas 3.235 Ha.
Tabel 9. Luas daerah berdasarkan kelerengan tanah tahun 2007
No. Lereng (%)

Luas (Ha)

1.

02

45.580

30,92

2.

2 15

52.970

35,93

3.

15 40

22.193

15,06

4.

> 40

26.193

18,09

Sumber : BPS Pasuruan Tahun 2008

Keterangan
Daerah yang lebih baik
dipergunakan untuk usaha
pertanian semusim
Daerah yang baik untuk
usaha pertanian dengan tetap
memperhatikan
usaha
pengawetan tanah dan air.
Daerah yang baik untuk
usaha
tanaman
tahunan
/tanaman keras
Berfungsi sebagai pelindung
tanah dan air serta menjaga
keseimbangan
ekosistem
lingkungan hidup

59

b). Jenis Tanah


Berdasarkan perkembangan jenis tanah yang ada, ternyata terdapat jenis
tanah alluvial yang cukup luas

(23.192,5 Ha) dan jenis tanah ini

mendominasi dataran rendah di wilayah Kabupaten Pasuruan yang sangat


memungkinkan dipergunakan sebagai lahan pertanian. Jenis tanah regosol
dan latosol memiliki luasan terbesar dibanding jenis tanah lainnya. Jenis
tanah ini cocok untuk perkebunan dan kehutanan. Seperti yang terdapat
pada Kecamatan Tutur yaitu 4.672,5 jenis tanah latosol dan 3.957,5 jenis
tanah androsol (BPS Kabupaten Pasuruan, 2007).

4.2

Kondisi Demografi
Aspek kependudukan di Kabupaten Pasuruan dapat dibedakan menjadi

dinamika/perubahan penduduk dan aspek ketenagakerjaan.


Dinamika Penduduk. Berdasarkan data akhir tahun 2007, jumlah penduduk
di Kecamatan Tutur sebanyak 51.507 jiwa, terdiri dari 25.772 laki laki dan
25.735 perempuan dengan kepadatan penduduk 596 km2/jiwa (Kabupaten
Pasuruan Dalam Angka, 2007).
Ketenagakerjaan. Komposisi dan Persebaran Tenaga Kerja di Kecamatan
Tutur dapat dilihat dari jumlah angkatan kerja di Kecamatan Tutur meliputi
17.939 orang laki-laki dan 11.086 orang perempuan. Komposisi tenaga kerja jika
dilihat persektor kegiatan, memperlihatkan bahwa sektor pertanian masih
mendominasi dengan jumlah tenaga kerja mencapai 9.522 jiwa atau sekitar 48,32
% dari total penduduk yang bekerja. Tenaga kerja terendah pada sektor lain
seperti jasa, hanya menyerap 664 orang (3,36 %) tenaga kerja pada tahun 2007.
Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 10. Sedangkan berdasarkan data survey
terakhir diketahui penduduk usia produktif (>15 tahun) yang bekerja di
Kecamatan Tutur sebanyak 12.098 jiwa dan yang tidak bekerja sebanyak 5.765
jiwa.

60

Tabel 10. Jumlah tenaga kerja berdasarkan jenis pekerjaan Kecamatan


Tutur pada tahun 2007
No.

Jenis Pekerjaan

Jumlah (jiwa)

1.

Pegawai Negeri

442

2.

Petani

9.522

3.

Buruh tani

3.686

4.

Pegawai Swasta

5.

Peternak

4.900

6.

Lain-lain

664

557

S
Sumber : BPS Pasuruan (2008)

Kesempatan Kerja. Jika dilihat berdasarkan kesempatan kerja yang ada di


Kecamatan Tutur pada tahun 2007 dapat diketahui bahwa prosentase penduduk
bekerja terhadap total penduduk dalam angkatan kerja yaitu 58 % untuk semua
tingkat pendidikan.

4.2 Sarana dan Prasarana Wilayah


Pemukiman. Penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Tutur tahun 2007
baik untuk lahan permukiman maupun pertanan mempunyai luasan sebesar
8958,47

Km2. Sebagian besar permukiman berupa rumah klenengan yaitu

sebanyak 3.122 buah dan berupa rumah bambo sebanyak 388 buah. Pola
permukiman di kecamatan Tutur sebagian besar linier, yakni mengikuti arah
jaringan jalan yang ada. Hal ini disebabkan antara lain oleh pola perkembangan
perdagangan dan jasa banyak berkembang di sepanjang ruas-ruas jalan sehingga
permukiman pun mengikuti pola tersebut.
Perdagangan dan Jasa. Fasilitas pasar yang ada di Kecamatan Tutur antara
lain Pasar Besar Nongkojajar, Pasar Tosari, dan Pasar Wonokitri. Pelayanan jasa
perbankan secara umum di Kabupaten Pasuruan didukung keberadaan Bank BNI,
Bank Jatim, Bank Mandiri, Bank BCA, Bank Bukopin, Bank ANK, dan beberapa
Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sedangkan untuk sarana koperasi di Kabupaten
Pasuruan terdiri dari Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Susu Sapi Perah,
Koperasi Perikanan, Koperasi Kerajinan, dan Koperasi Simpan Pinjam. Data

61

jumlah dan persebaran Koperasi untuk kecamatan Tutur yaitu sebanyak 1 buah
KUD, 1 buah KUD mandiri, 13 buah Non KUD dengan total jumlah sebanyak 15
buah (Dinas Koperasi Kabupaten Pasuruan, 2002).
Sistem Transportasi. Sistem transportasi baik sistem jaringan, sistem
pergerakan, maupun sistem kegiatan memiliki kaitan yang sangat erat dengan
proses perkembangan sebuah wilayah.

Faktor transportasi baik sarana

transportasi maupun prasarana pendukung seperti jalan merupakan faktor


pendukung terjalinnya network system yang baik antar wilayah dalam
pengembangan konsep agrowisata di Kecamatan Tutur.

Jaringan Jalan .Bentuk jalan yang terdapat di Kecamatan Tutur ada yang
sudah beraspal dan yang belum beraspal. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada
Tabel 11. Seluruh jalan utama hampir semuanya berupa aspal, namun demikian
jalan lokal dan lingkungan utama menuju ke lokasi yang potensial dijadikan
daerah wisata seperti petik apel, sudah beraspal, namun lebar jalannya masih
terlalu sempit untuk dilalui kendaraan wisata (bus wisata) dan ada beberapa yang
masih berupa jalan yang sudah mengalami pengerasan namun belum diaspal dan
masih ada jalan tanah biasa. Di bagian lain, kondisi jalan penghubung atau jalan
kolektor dengan kecamatan lain, seperti Kecamatan Puspo dengan Kecamatan
Tutur masih banyak bagian jalan yang rusak dan berlubang akibat terlalu sering
dilalui kendaraan berat seperti truk trailer dan puso. Data mengenai luas jaringan
jalan di Kabupaten Pasuruan sesuai dengan hirarkinya dapat dilihat pada Tabel 12.
Orbitrasi Kecamatan Tutur Nongkojajar adalah berjarak 2 km dari pusat
Pemerintahan Kecamatan, berjarak 7 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten, dan
berjarak 132 km dari Pemerintahan Propinsi. Atas hal ini, maka dapat dikatakan
bahwa objek studi adalah termasuk dalam golden distance dari pusat populasi.

62

Tabel 11. Bentuk jalan yang terdapat di Kecamatan Tutur


Desa
Ngadirejo
Blarang
Kayukebek
Andonosari
Wonosari
Gendro
Tlogosari
Tutur
Pungging
Kalipucung
Sumberpitu
Ngembal

Panjang Jalan
Aspal (km)
Tidak Aspal (km)
12
4.7
10.8
8.5
10.15
8.5
19.25
5.3
15.05
5.7
0.91
20.05
4.3
13.5
3.5
10.2
4.4
14.75
14.3
6.16
11
11.95
15

Sumber : Bappeda Kabupaten Pasuruan (2009)

Sistem Utilitas Air Bersih. Pelayanan air bersih di Kecamatan Tutur


sudah menjangkau keseluruh bagian desa.

Secara keseluruhan kebutuh-an air

bersih untuk penduduk Kabupaten Pasuruan diperoleh dari dua mata air di
Kecamatan Winongan (Umbulan dan Banyubiru) dengan debit air total 5.525
pada musim kemarau dan 11.070 pada musim penghujan (Bapedalda, 2002).

Tabel 12.

Panjang jalan menurut nama dan fungsi jalan di Kabupaten


Pasuruan tahun 2005

No.
1.

2.

Nama Jalan
Nama
Nasional
Provinsi
Kabupaten

Panjang (Km)
94.517
88.374

Fungsi Jalan
Arteri
94.517
Kolektor
52.884
Lokal
35.49
Sumber : Pembantu Balai Pemeliharan Jalan Malang di Kabupaten Pasuruan,
Tahun 2005

63

Listrik. Pelayanan listrik oleh PLN sudah dapat menjangkau sebagian


besar daerah di Kecamatan Tutur.

Hal ini terlihat dari sudah terpenuhinya

kebutuhan listrik penduduk di 15.162 keluarga, atau sudah 100%. Produksi listrik
sebesar 78.481 kwh sudah terdistribusikan sebesar 69.974 mwh (89,16%) dari
daya yang mampu disediakan dan dapat terdistribusikan secara merata untuk
kebutuhan penduduk yakni kebutuhan rumah tangga, industri, sosial dan lainnya.
Telekomunikasi. Sebagai jaringan komunikasi utama, pelayanan telepon
menjadi bagian penting dalam usaha pengembangan konsep kawasan agrowisata
di Kecamatan Tutur. Termasuk menunjang alat yang memperlancar proses
penyediaan bahan baku, percepatan informasi teknologi, dan perluasan jangkauan
pemasaran produk dari masing-masing kawasan agrowisata yang akan
dikembangkan serta hubungan antar kawasan tersebut dan antara kawasan
tersebut dengan wilayah pendukung di sekitarnya.

4.3. Profil Ekonomi dan Pertumbuhannya di Kabupaten Pasuruan


Profil Ekonomi Kabupaten Pasuruan. Melihat data PDRB, volume
ekonomi Kabupaten Pasuruan tahun 2007 sebesar 10,66 trilyun rupiah, dengan
penyumbang terbesar berasal dari industri pengolahan dengan 3,41 trilyun rupiah
atau sekitar 32,01 persen.

Sektor pertanian berada pada urutan kedua.

Perkembangan volume ekonomi terus mengalami penurunan dalam 3 tahun


terakhir selama kurun waktu tahun 2004-2007. Perkembangan volume ekonomi
pada tahun 2004-2005, tahun 2005-2006 dan 2006-2007 masing-masing sebesar
18,99 persen, 17,09 persen dan 13,75 persen. Dalam 3 kurun waktu tersebut
masing-masing mengalami penurunan sebesar 1,9 persen dan 3,34 persen.
Namun hal ini sangat berkebalikan jika dilihat dari perkembangan antara
sektor industri dengan sektor pertanian. Sebagaimana terlihat pada Gambar 8,
industri pengolahan menyumbang 32,01 terlihat kekontrasan antar sektor industri
pengolahan dengan sektor pertanian dalam interval tahun 2004-2007. Sektor
industri pengolahan selama tahun 2004-2007 terus mengalami kenaikan,
sedangkan pada sektor pertanian terus mengalami penurunan. Kondisi ini diduga
karena terjadi pergeseran dalam perekonomian masyarakat dengan mulai
menyusutnya lahan dan pembukaan industri baru terutama pada kawasan industri.

64

Sektor-sektor lapangan usaha selain dikelompokkan dalam sembilan


sektor lapangan usaha, pengelompokan juga dapat didasarkan atas penggunaan
bahan baku dan produknya yang terbagi atas tiga kelompok di bawah ini:
a). Kelompok Primer, yaitu

kelompok sektor-sektor yang sepenuhnya

tergantung kepada hasil bumi; dimana sektor-sektor yang termasuk


dalam kelompok ini adalah sektor pertanian dan sektor pertambangan
dan penggalian.
b). Kelompok Sekunder, yaitu: kelompok sektor-sektor yang produknya
merupakan hasil pengolahan; dimana

sektor-sektor yang termasuk

dalam kelompok ini adalahsektor industri pengolahan, sektor listrik,


gas, dan air minum serta dan sektor bangunan.

3500000
3000000
2500000
2000000
1500000
1000000
500000
0
2007
Pertanian

Pertambangan & Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas dan Air Minum

Bangunan

Perdagangan, Hotel & Restoran

Angkutan & Komunikasi

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Jasa- jasa

Gambar 9. Volume ekonomi Kabupaten Pasuruan tahun 2007


c). Kelompok Tersier, yang terdiri kelompok sektor-sektor yang produknya
berupa jasa; dimana sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok ini
adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor angkutan dan
komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan serta dan
jasa-jasa.

65

Pada Gambar 10 digambarkan struktur perekonomian dalam kurun waktu


2005-2007 lebih didominasi kelompok sekunder dan tersier. Kedua kelompok
tersebut saling bersaing dengan komposisi yang tidak berbeda jauh.

Gambar 10. Struktur perekonomian Kabupaten Pasuruan tahun 2005-2007


Kesimpulan yang dapat diambil dari Gambar 10 di atas sebagai berikut :
a). Kelompok sekunder dan tersier mempunyai kontribusi yang relatif
berimbang
b). Penurunan pada kelompok primer diasumsikan bahwa ketergantungan
terhadap hasil bumi semakin berkurang,
c). Pergeseran kelompok primer tersebar secara merata pada kelompok
sekunder dan tersier
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pasuruan. Pertumbuhan berpengaruh
pada roda perekonomian pada suatu daerah. Apabila ada suatu sektor yang
mempunyai struktur besar dengan pertumbuhan ekonomi lambat, maka hal
tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada suatu
daerah (Tabel 13).
Di lain sisi, apabila didapati suatu sektor yang mempunyai struktur
ekonomi besar didukung dengan pertumbuhan yang tinggi, maka sektor ini dapat
menjadi tumpuan atau roda penggerak perekonomian di derah tersebut.
Pertumbuhan ekonomi dapat diperoleh melalui angka Produk Domestik Regional
Bruto atas dasar harga kostan 2000 (merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat
pertumbuhan).

66

Tabel 13. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasuruan tahun 2002 2007
Sektor

Tahun
2002 2003 2004 2005 2006 2007

Pertanian

2,51

2,42

2,16

1,9

3,05

3,07

Pertambangan & Penggalian

8,23

9,51

5,13

9,09

8,3

8,10

Industri Pengolahan

3,25

5,03

6,9

7,06

7,14

7,20

Listrik, Gas dan Air Minum

11,78 4,59

8,25

8,03

7,91

7,92

Bangunan

8,44

9,69 11,13 11,64 11,9 11,45

Perdagangan, Hotel & Restoran

5,58

5,55

6,29

6,17

7,35

7,58

Angkutan & Komunikasi

9,43

4,48

2,41

4,17

4,85

5,23

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 5,35

5,46

5,89

6,16

6,28

6,82

Jasa- jasa

2,59

2,96

2,67

4,08

4,77

5,87

3,98

4,32

4,98

5,23

5,94

6,17

Kabupaten Pasuruan
Sumber : Bappeda Kab. Pasuruan 2007

Pada Tabel 13 di atas bahwa sektor pertanian mengalami pertumbuhan


yang fluktuatif sampai dengan tahun 2007, walaupun tetap memberikan kontribusi
angka positif pada pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasuruan. Kestabilan laju
pertumbuhan pada sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, persewaan
dan jasa perusahaan di Kabupaten Pasuruan semakin terlihat dengan melihat
perbandingan pada angka pertumbuhan ekonomi secara kumulatif. Padal data
series tahun 2002-2007, jelas terlihat laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Pasuruan yang terus menanjak sehingga pada tahun 2007 dapat menembus angka
5,97 persen. Data series inipun menunjukkan kecenderungan yang semakin baik
dalam interval tahun 2002-2007.