Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
REFERAT
27 juli 2016
KEJANG DEMAM PADA ANAK
DISUSUN OLEH :
Syahrir M.Pide (111 2016 0067)
PEMBIMBING :
Dr. dr.Burhanuddin Iskandar, Sp.A(K)
DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
BAB I
1
PENDAHULUAN
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) akibat suatu proses ekstra kranial. Dalam praktek
sehari-hari orang tua sering cemas bila anaknya mengalami kejang, karena setiap
kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsy dan trauma pada otak. Kejang
merupakan gangguan syaraf yang sering dijumpai pada anak. Insiden kejang demam
2,2-5% pada anak di bawah usia 5 tahun. Anak laki-laki lebih sering dari pada
perempuan dengan perbandingan 1,21,6: 1. Saing B (1999), menemukan 62,2%,
kemungkinan kejang demam berulang pada 90 anak yang mengalami kejang demam
sebelum usia 12 tahun, dan 45% pada 100 anak yang mengalami kejang setelah usia
12 tahun. Kejang demam kompleks dan khususnya kejang demam fokal merupakan
prediksi untuk terjadinya epilepsi. Sebagian besar peneliti melaporkan angka kejadian
epilepsi kemudian hari sekitar 2 5 %.1
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah
bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5
tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial
atau penyebab lain.1
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts
Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang
disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf
pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat
kejang sebelumnya.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium, seperti infeksi susunan saraf pusat , gangguan elektrolit dan
gangguan metabolic lain. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6
bulan 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam,
kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.
Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk
dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5
tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain
misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.3
Terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab demam, yaitu (1)
imaturitas otak dan termuregulator, (2) demam, dimana kebutuhan oksigen
meningkat, dan (3) predisposisi genetik: >7 lokus kromosom (poligenik,
autosomal dominan).4
B. Etiologi
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang
paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan
atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi
saluran kemih.
C. Patofisiologi 5
keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh
tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik.
Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke
seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang
disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang
kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang
seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan inilah dapatlah disimpulkan bahwa
terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang
rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat
suhu berapa penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya
menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah
faktor
penyebab
hingga
terjadinya
kerusakan
neuron
otak
selama
terpenting
adalah
gangguan
peredaran
darah
yang
timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan
pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi
serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama
dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.
D. Klasifikasi
Kejang demam terbagi atas 2, yakni:
1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
Kejang demam sederhana
sendiri
kejang umum tonik &/
waktu 24 jam
E. Diagnosis 4
a. Anamnesis
1. Adanya kejang , jenis kejang, kesadaran, lama kejang
2. Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan
anak pasca kejang , penyebab demam diluar infeksi susunan saraf
pusat (gejala infeksi saluran napas akut/ ISPA, Infeksi Saluran
Kemih/ISK, Otitis Media Akut/OMA , dll)
3. Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsy dalam
keluarga.
4. Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare, muntah yang
mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang menyebabkan
hipoksemia, asupan kurang yang dapat meyebabkan hipoglikemia) .
b. Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran, apakah terdapat penurunan kesadaran. Suhu tubuh, apakah
terdapat demam
2. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, bruzinski I dan II, laseque
3. Pemeriksaan nerfus cranial
4. Tanda peningkatan tekanan intracranial : ubun ubun besar(UUB)
membonjol, papil edema
5. Tanda infeksi diluar SSP: ISPA, OMA, ISK, dll
6. Pemeriksaan neurologi: tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex
patologis.
c. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
untuk
menegakkan
atau
bayi
kecil
seringkali
sulit
untuk
menegakkan
atau
Oleh karenanya
tidak
direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia
lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
4. Pemeriksaan Radiologi
Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan
(CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali
dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:
8
10
11
Hospital/
ICU
Refracter
>60 menit
Fenitoin
- Dosis initial maximum adalah 1000 mg (30mg/kgBB)
- Sediaan IV diencerkan dengan NaCl 0,9%, 10 mg/l cc NaCl 0,9%.
- Kecepatan pemberian IV: 1 mg /kg/menit, maximum 50mg/menit
12
akan menggumpal.
Sebagian besar kejang berhenti dalam waktu 15-20 menit stelah
pemberian.
Dosis rumat: 12-24 jam setelah dosisi inisial.
Efek samping aritmia, hipotensi, colaps kardiovaskuler pada pemberia
IV yang terlalu cepat.
Fenobarbital
- Sudah ada sediaan IV, sediaan IM tidak boleh diberikan
- Dosis inisial maximum 600 mg (20 mg /kgBB)
- Kecepatan pemberian 1mg/kg/mnit, maximum 100 mg/menit.
- Dosis rumat: 12-24 jam setelah dosis inisial.
- Efek samping : hipotensi dan depresi napas, terutama jika diberikan
setelah obat golongan benzodiazepim.
14
elektrocardiografi
pemantauan tekanan intracranial : kesdaran, Dolls Eye movement,
H. Vaksinasi
Sejauh ini tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak
yang mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi
sangat jarang. Angka kejadian pasca vaksinasi DPT adalah 6-9 kasus per
100.000 anak yang divaksinasi sedangkan setelah vaksinasi MMR 25-34 per
100.000. Dianjurkan untuk memberikan diazepam oral atau rektal bila anak
demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa dokter anak
merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.8
I. Prognosis
Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis. Kejadian
kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan
kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya
terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau
fokal.3
J. Komplikasi
Kejang yang tidak dapat teratasi, dapat menyebabkan hiperpireksia,
mioglobinuria, dan peningkatan kreatinin fosfokinase akibat rabdomiolisis.
Komplikasi tersering adalah hipoksia, asidosis laktat, hiperkalemia,
hipoglikemia, syok, hiperpireksia, gagal ginjal, dan gagal napas.Pada status
epileptikus yang berlangsung lama terjadi kehilangan inhibisi reseptor GABA
dan perubahan fungsi reseptor GABA.Pada kerusakan jaringan otak, kematian
disebabkan gagalnya mekanisme kompensasi.9
DAFTAR PUSTAKA
1. Melda Deliana, Tata Laksana Kejang Demam Pada Anak. Sari pediatric, vol.4,
No.2, Medan 2002
17
2.
3.
4.
5.
18