Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
REFERAT
27 juli 2016
KEJANG DEMAM PADA ANAK

DISUSUN OLEH :
Syahrir M.Pide (111 2016 0067)
PEMBIMBING :
Dr. dr.Burhanuddin Iskandar, Sp.A(K)
DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
BAB I
1

PENDAHULUAN

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) akibat suatu proses ekstra kranial. Dalam praktek
sehari-hari orang tua sering cemas bila anaknya mengalami kejang, karena setiap
kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsy dan trauma pada otak. Kejang
merupakan gangguan syaraf yang sering dijumpai pada anak. Insiden kejang demam
2,2-5% pada anak di bawah usia 5 tahun. Anak laki-laki lebih sering dari pada
perempuan dengan perbandingan 1,21,6: 1. Saing B (1999), menemukan 62,2%,
kemungkinan kejang demam berulang pada 90 anak yang mengalami kejang demam
sebelum usia 12 tahun, dan 45% pada 100 anak yang mengalami kejang setelah usia
12 tahun. Kejang demam kompleks dan khususnya kejang demam fokal merupakan
prediksi untuk terjadinya epilepsi. Sebagian besar peneliti melaporkan angka kejadian
epilepsi kemudian hari sekitar 2 5 %.1
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah
bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5
tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial
atau penyebab lain.1
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts
Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang
disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf
pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat
kejang sebelumnya.2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium, seperti infeksi susunan saraf pusat , gangguan elektrolit dan
gangguan metabolic lain. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6
bulan 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam,
kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.
Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk
dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5
tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain
misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.3
Terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab demam, yaitu (1)
imaturitas otak dan termuregulator, (2) demam, dimana kebutuhan oksigen
meningkat, dan (3) predisposisi genetik: >7 lokus kromosom (poligenik,
autosomal dominan).4
B. Etiologi
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang
paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan
atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi
saluran kemih.
C. Patofisiologi 5
keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh

tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik.
Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke
seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang
disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang
kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang
seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan inilah dapatlah disimpulkan bahwa
terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang
rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat
suhu berapa penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya
menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah
faktor

penyebab

hingga

terjadinya

kerusakan

neuron

otak

selama

berlangsungnya kejang lama.


Faktor

terpenting

adalah

gangguan

peredaran

darah

yang

mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan


4

timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan
pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi
serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama
dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.

D. Klasifikasi
Kejang demam terbagi atas 2, yakni:
1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
Kejang demam sederhana

Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan


umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau
klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.2
Kejang demam kompleks
Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar.
Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam.
Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului
kejang parsial.
Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2
bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak
yang mengalami kejang demam.3

Kejang Demam Sederhana

Kejang Demam Kompleks

kejang berlangsung < 15


menit , umumnya berhenti

sendiri
kejang umum tonik &/

klonik, tanpa gerakan fokal


Tidak
berulang
dalam

kejang lama >15 menit


kejang fokal atau parsial
sesisi , atau kejang umum

didahului kejang parsial


Kejang berulang atau > 1
kali dalam 24 jam

waktu 24 jam

E. Diagnosis 4
a. Anamnesis
1. Adanya kejang , jenis kejang, kesadaran, lama kejang
2. Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan
anak pasca kejang , penyebab demam diluar infeksi susunan saraf
pusat (gejala infeksi saluran napas akut/ ISPA, Infeksi Saluran
Kemih/ISK, Otitis Media Akut/OMA , dll)
3. Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsy dalam
keluarga.
4. Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare, muntah yang
mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang menyebabkan
hipoksemia, asupan kurang yang dapat meyebabkan hipoglikemia) .
b. Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran, apakah terdapat penurunan kesadaran. Suhu tubuh, apakah
terdapat demam
2. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, bruzinski I dan II, laseque
3. Pemeriksaan nerfus cranial
4. Tanda peningkatan tekanan intracranial : ubun ubun besar(UUB)
membonjol, papil edema
5. Tanda infeksi diluar SSP: ISPA, OMA, ISK, dll
6. Pemeriksaan neurologi: tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex
patologis.
c. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang


demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi
penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi
disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
2. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal

untuk

menegakkan

atau

menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis


bakterialis adalah 0,6-6,7%.
Pada

bayi

kecil

seringkali

sulit

untuk

menegakkan

atau

menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya


tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
a. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
b. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
c. Bayi > 18 bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan
pungsi lumbal.
3. Pemeriksaan elektoensefalogi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian
epilepsi pada

pasien kejang demam.

Oleh karenanya

tidak

direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia
lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
4. Pemeriksaan Radiologi
Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan
(CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali
dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:
8

a. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) atau


kemungkiana adanya lesi structural di otak (mikrosefali,
spastisitas)
b. Terdapat tanda peningkatan intracranial (kesadaran menurun,
muntah berulang, UUB membonjol, paresisi nervus VI, edema
papil).
F. Penatalaksanaan Kejang Demam
a. Penatalaksanaan kejang akut dan status konvulsi 4
1. Di rumah/ prehospital
Penanganan kejang di rumah dapat dilakukan oleh orang tua dengan
pemberian diazepam per rectal dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg atau secara
sederhana bila berat badan <10 kg: 5 mg sedangkan jika >10 kg : 10
mg. pemberian di rumah maksimum 2 kali dengan interval 5 menit.
Bila kejang masih berlangsung bawalah pasien ke klinik/rumah sakit
terdekat.
2. Di rumah sakit
Saat tiba diklinik/ rumah sakit, bila belum terpasang cairan intravena,
dapat diberikan diazepam perrectal ulangan satu kali sambil mencari
akses vena. Sebelum dipasang cairan intravena, sebaiknya dilakukan
pengambilan darah untuk pemriksaan darah tepi, elektrolit, dan gula
darah sesuai indikasi.
Bila terpasang cairan intravena berikan fenitoin IV dengan dosis
20mg/kg dilarutkan dalam NaCl 0,9% diberikan perlahan-lahan
dengan kecepatan pemberian 50 mg/menit. Bila kejang belum teratasi,
dapat diberikan tambahan fenitoin IV 10 mg/kg. bila kejang teratasi,

lanjutkan pemberian fenitoin IV setelah 12 jam kemudian dengan


rumatan 5-7 mg/kg.
Bila kejang belum teratasi berikan fenobarbital IV dengan dosis
maximum 15-20 mg/kg dengan kecepatan pemberian 100 mg/menit.
Awasi dan atasi kelainan metabolic yang ada. Bila kejang berhenti,
lanjutkan dengan pemberian fenobarbital IV rumatan 4-5 mg/kg
setelah 12 jam kemudian.
3. Perawatan intensif (ICU)
Bila kejang belum berhenti, dilakukan intubasi dan perawatan diruang
intensif. Dapat diberikan salah satu dibawah ini:
a. Midazolam 0,2 mg/kg diberikan bolus perlahan- lahan , diikuti
infuse midazolam 0,01-0,02 mg/kg/menit seklama 12-24 jam.
b. Propofol 1mg/kg selama 5 menit, dilanjutkan dengan 1-5
mg/kg/jam dan diturunkan setelah 12-24 jam.
c. Fenobarbital 5-15 mg/kg dalam 1 jam, dilanjutkan dengan 0,5-5
mg/kg/jam.
Algoritma Penanganan Kejang Akut dan Status Konvulsif 6,7

10

11

Algoritma penanganan kejang akut dan status konvulsif terbaru

Hospital/

ICU

Refracter
>60 menit

dazolam 0,2 mg/Kg/IV


bolus Dilanjutkan
0,02-0,4 mg/kg/jam
Pentotal-tiopental
5-8infuse
mg/kg/IV
Propofol 3-5 mg/kg/infusion

b. Cara pemberian obat antikonvulsan pada tata laksanan kejang akut4


Diazepam
- Dosis maximum pemberian diazepam rectal 10mg, dapat diberikan 2
-

kali dengan interval 5-10 menit.


Sediaan IV tidak perlu diencerkan, maximum sekali pemberian 10mg
dengan kecepatan maximum 2 mg/menit dapat diberikan 2-3 kali
dengan interval 5 menit.

Fenitoin
- Dosis initial maximum adalah 1000 mg (30mg/kgBB)
- Sediaan IV diencerkan dengan NaCl 0,9%, 10 mg/l cc NaCl 0,9%.
- Kecepatan pemberian IV: 1 mg /kg/menit, maximum 50mg/menit
12

Jangan diencerkan dengan cairan yang megandung dextrose, karna

akan menggumpal.
Sebagian besar kejang berhenti dalam waktu 15-20 menit stelah

pemberian.
Dosis rumat: 12-24 jam setelah dosisi inisial.
Efek samping aritmia, hipotensi, colaps kardiovaskuler pada pemberia
IV yang terlalu cepat.

Fenobarbital
- Sudah ada sediaan IV, sediaan IM tidak boleh diberikan
- Dosis inisial maximum 600 mg (20 mg /kgBB)
- Kecepatan pemberian 1mg/kg/mnit, maximum 100 mg/menit.
- Dosis rumat: 12-24 jam setelah dosis inisial.
- Efek samping : hipotensi dan depresi napas, terutama jika diberikan
setelah obat golongan benzodiazepim.

Protocol pengunaan midazolam pada kejang refracter


- Rawat ICU, intubasi, dan berikan ventilasi. Midazolam bolus 0,2
mg/kg (perlahan), kemudian drips 0,02 -0,4 mg/kg jam. Rumatan
fenitoin dan fenobarbital tetap diberikan. Dosis midazolam diturunkan
jika terdapat gangguan kardiovaskular. Infus midazolam diturunkan
secara betahap jiak dalam 12 jam tidak terdapat kejang.
c. Pemberian obat rumatan
Indikasi pemberian obat rumat 3
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri
sebagai berikut (salah satu):
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
a. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
b. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
13

c. Kejang demam 4 kali setahun


Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat: 3
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan risiko berulangnya kejang Berdasarkan bukti ilmiah bahwa
kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan
efek samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus
selektif dan dalam jangka pendek.
Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku
dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus.
Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus,
terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat
menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40
mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 12 dosis.
Jika pada tata laksana kejang akut, kejang berhenti dengan diazepam,
tergantung dari etiologi. Jika penyebab kejang suatu hal yang dapat
dikoreksi secar cepat (hipoglikemi, kelainan elektrolit, hipoksia) mungkin
tidak diperlukan terapi rumatan selama pasien dirawat.
Jika penyebab infeksi SSP (encephalitis, meningitis) , perdarahan
intracranial, mungkin diperlukan terapi rumatan selama perawatan. Dapat
diberikan fenobarbital dengan dosis awal 8-10 mg/KgBB/Hari dibagi
dalam 2 dosis selama 2 hari, dilanjutkan dengan dosis 4-5 mg/kgBB/ hari
sampai resiko untuk berulangnya kejang tidak ada. Jika etiologi adalah
epilepsy, lanjutkan obat anti epilepsy dengan menaikkan dosis. Jika pada
tatalaksana kejang akut, kejang berhenti dengan fenitoin, lanjutkan
rumatan dengan dosis 5-7 mhg/kgBB/ hari dibagi dalam 2 dosis. Jika pada

14

tatalaksana kejang akut, kejang berhenti dengan fenobarbital, lanjutkan


rumatan dengan dosis 4-5mg/kgBb/hari dibagi dalam 2 dosis. 4
Lama pengobatan rumat: 3
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.
d. Tatalaksana Umum4
- pemantauan
tekanana darah/ laju napas/ laju nadi/ suhu/
-

elektrocardiografi
pemantauan tekanan intracranial : kesdaran, Dolls Eye movement,

pupil, pola pernapasan, dan edema papil


analisis gas darah, darah tepi, pembekuan darah, elektrolit, fungsi hati

dan ginjal, bila dijumpai kelainan lakukan koreksi


balance cairan input/output
Tatalaksana Etiologi
Edema cerebri kurang dapat diberikan manitol 0,5-1,0 mg/kg/8jam

e. Edukasi pada orang tua 3


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada
saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah
meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya:
1. Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis
baik.
2. Memberitahukan cara penanganan kejang
3. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi
harus diingat adanya efek samping
f. Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang 3
1. Tetap tenang dan tidak panic
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam
mulut.
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
5. Tetap bersama pasien selama kejang
15

6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah


berhenti.
7. Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih

G. Kemungkinan berulangnya kejang demam


Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah :
1.
2.
3.
4.

Riwayat kejang demam dalam keluarga


Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam

Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam


adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan
berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya
kejang demam paling besar pada tahun pertama.
Faktor risiko terjadinya epilepsy:
Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko
menjadi epilepsi adalah :
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang
demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi
sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan
kemungkinan epilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi
tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam.3,4
16

H. Vaksinasi
Sejauh ini tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak
yang mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi
sangat jarang. Angka kejadian pasca vaksinasi DPT adalah 6-9 kasus per
100.000 anak yang divaksinasi sedangkan setelah vaksinasi MMR 25-34 per
100.000. Dianjurkan untuk memberikan diazepam oral atau rektal bila anak
demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa dokter anak
merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.8
I. Prognosis
Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis. Kejadian
kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan
kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya
terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau
fokal.3
J. Komplikasi
Kejang yang tidak dapat teratasi, dapat menyebabkan hiperpireksia,
mioglobinuria, dan peningkatan kreatinin fosfokinase akibat rabdomiolisis.
Komplikasi tersering adalah hipoksia, asidosis laktat, hiperkalemia,
hipoglikemia, syok, hiperpireksia, gagal ginjal, dan gagal napas.Pada status
epileptikus yang berlangsung lama terjadi kehilangan inhibisi reseptor GABA
dan perubahan fungsi reseptor GABA.Pada kerusakan jaringan otak, kematian
disebabkan gagalnya mekanisme kompensasi.9

DAFTAR PUSTAKA
1. Melda Deliana, Tata Laksana Kejang Demam Pada Anak. Sari pediatric, vol.4,
No.2, Medan 2002

17

2.
3.
4.
5.

Buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI jilid II tahun 2011


Konsensus penatalaksanaan kejang demam UKK neurologi IDAI 2006
Buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI jilid I tahun 2009
Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topic In Pediatric II: Kejang

Pada Anak. Cetakan ke 2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2002


6. Buku symposium Tatalaksana Praktis Kesehatan Bayi & Anak di Layanan
Primer oleh Makassar Pediatric Update III tahun 2015.
7. Jadwal Imunisasi IDAI 2014 dikutip dari www.idai.or.id
8. Kejang Demam,Guideline
http://www.sehatgroup.web.id/artikel/1089.asp?FNM=10899.
9. Marik PE, Varon J. The management of status epilepticus. Chest 2004;
126:582- 91.

18