Anda di halaman 1dari 18

UNIVERSITAS PEMBAGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

REFERAT
TINEA KAPITIS
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Pembimbing:
dr. Hiendarto, Sp. KK
Disusun Oleh:
Wenny Hildasaraswaty Kawa
1420221101

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT

TINEA KAPITIS

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh:
Wenny Hildasaraswaty Kawa
1420221101
Telah Disetujui Oleh Pembimbing

dr. Hiendarto, Sp. KK


Tanggal

ii

KATA PENGANTAR
Puji Syukur Kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat dan ridhoNya penulis
dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Dermatitis Venenata. Laporan
kasus ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi penilaian pada
kepaniteraan klinik di bagian Kulit Dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah
Ambarawa. Terima kasih penulis sampaikan kepada dr.Hiendarto, Sp.KK, selaku
dokter pembimbing yang banyak memberikan masukan dan saran. Serta teman-teman
sejawat yang telah membantu dalam penyelesaian referat ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna, untuk
itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan berikutnya.
Akhir kata, semoga referat ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan
bagi penulis maupun pembaca.

Ambarawa,

Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI

iii

Halaman
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN .. ii
KATA PENGANTAR . iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi.. 2
2.2. Epidemiologi.......................................................................................... 2
2.3. Etiologi...... 2
2.4 Patogenesis .... 4
2.5. Manifestasi Klinis. 5
2.6. Pemeriksaan Penunjang 7
2.7. Diagnosis. 9
2.8. Diagnosis Banding .... 9
2.9. Komplikasi
9
2.10.Tatalaksana 9
2.11. Prognosis .. 12
BAB III. KESIMPULAN
Kesimpulan 13
DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi jamur dapat superfisial, subkutan dan sistemik, tergantung pada
karakteristik dari host. Dermatofita merupakan kelompok jamur yang terkait
secara taksonomi. Kemampuan mereka untuk membentuk lampiran molekul
kertatin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi memungkinkan mereka
untuk berkoloni pada jaringan keratin, masuk ke dalam stratum korneum dan
epidermis, rambut, kuku dan jaringan pada hewan. Infeksi superfisial yang
disebabkan oleh dermatofit yang disebut dermatofitosis dimana dermatimicosis
mengacu pada infeksi jamur .
Banyak cara untuk mengklasifikasikan jamur superfisial, tergantung habitat
dan pola infeksi. Organisme geofilik berasal dari tanah dan hanya sesekali
menyerang manusia,biasanya melalui kontak langsung dengan tanah. Tinea kapitis
adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofit.
Tinea Kapitis (Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes
tonsurans. adalah infeksi dermatofit pada kepala, alis mata dan bulu mata karena
spesiesMicrosporum dan Trichophyton1Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi
subklinis non inflamasi berskuama ringansampai penyakit yang beradang ditandai
dengan produksi lesi kemerahanberskuama dan alopesia (kebotakan) yang
mungkin menjadi beradang berat denganpembentukan erupsi kerion ulseratif
dalam. Ini sering menyebabkan pembentukankeloid dan skar dengan alopesia
permanen. Tipe timbulnya penyakit tergantung padainteraksi pejamu dan jamur
penyebab.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang
disebabkan oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi
bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang terjadi gambaran klinis yang
lebih berat, yang disebut kerion.1
Tinea kapitis merupakan penyakit dermatofitosis paling banyak pada anakanak, mengenai kulit dan rambut scalp, ditandai dengan skuama dan bercak
alopesia.2
2.2. Epidemiologi
Penularan penyakit dapat secara langsung atau tidak langsung misalnya
melalui sisr, topi, bantal, tempat duduk di bioskop. Rambut yang sudah
terlepas/rontok tetap infeksius selama bertahun-tahun. Penularan meningkat pada
higiene jelek, penduduk padat, dan kondisi sosial ekonomi rendah. Adanya
carrier asimtomatik menyebabkan tinea kapitis sulit diberantas.2
Pada umumnya mengenai anak prapubertas berusia antara 2-14 tahun,
paling sering pada anak usia antara 3-7 tahun. Tinea kapitis pada orang dewasa
dapat ditemui pada pasien AIDS. 2
Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada
anak-anak 3-14 tahun jarang pada dewasa. Transmisi meningkat karena
berkurangnya higiene sanitasi individu, kepadatan penduduk dan status sosial
ekonomi yang rendah. Penularan dapat terjadi melalui sisir, topi, sarung bantal,
dan kursi teater. Bahkan setelah rambur rontok, mungkin masih dapat menularkan
selama lebih dari satu tahun.2,3
2.3. Etiologi
Penyebab tinea capitis adalah semua dermatofita yang pathogen, kecuali
kecuali E. floccosum, T.concentricum.2,3

Penyebab yang paling umum di seluruh dunia adalah M. canis, dan di


Amerika Serikat adalah T. tonsurans (>90%), sisanya dapat disebabkan oleh T.
violaceum, M. canis dan T. audounii.

2,3

Data penyebab tinea tinea kapitis di

Indonesia belum diteliti.


Dilihat dari tempat hidupnya jamur penyebab dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
a. Jamur antropofilik : tempat hidup sebenarnya adalah pada manusia seperti
T. tonsurans, T. violaceum. Jadi jamur kelompok ini menyebar dari
manusia ke manusia baik dengan cara langsung maupun tidak langsung.
b. Jamur zoofilik : tempat hidup sebenarnya adalah paa binatang seperti
kucing, anjing, kuda. Jamur ini menyebar dari binatang ke manusia.
Contohnya M. canis, M. audounii.
c. Jamur geofilik : tempat hidup sebenarnya adalah di tanah, menyebar dari
tanah ke manusia, contohnya M. gypseum, M. nanum.
Tabel 1. Habitat dermatofit
Jamur antropofilik
Trichophyton concentric

Jamur zoofilik
Microsporum canis

Jamur geofilik
Microsporum gypseum

T . tonsurans

M . equinum

M . fulvum

T . schoenleinii

M . gallinae

M . nanum

T . rubrum

M . persicolor

M . praecox

T . megninii

T . mentagrophytes

M . racemosum

T . mentagrophytes

T . verricosum

M . vanbreuseghemii

T . youndei

T . sarkisovii

M . cookie

T . soundanense

T . simii

T . longifusum

M . audouinii
M . ferrugineum
Epidermophyton floccosum

Tabel 2. Jamur penyebab tinea kapitis

Jamur ektotrik

Jamur endotrik

Berfluoresensi kuning kehijauan

Berfluoresensi dull gray-green

M. audouinii

T. schoenleinii

M. canis
M. ferrugineum
Tidak Berfluoresensi

Tidak Berfluoresensi

M. fulvum

T. gourvillii

M. gypseum

T. soundanense

T. megninii

T. tonsurans

T. mentagrophytes

T. violaceum

T. rubrum

T. yaoundei

t. verrucosum
2.4. Patogenesis 1,2,3
Dermatofit ektotrik tipikal menyerang perifolikuler stratum korneum,
meluas ke sekitarnya mengenai batang rambut mid to late-anagen sebelum turun
ke folikel untuk memasuki korteks rambut. Arthroconidia kemudian mencapai
korteks rambut dan di transport ke atas permukaan rambut.
Sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa
intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam
keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti.
Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari
sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai
kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan
patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat
rapuh sekali.Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada
rambut yang patah,walaupun hifa intrapilari ada juga.
Dermatofit endotrik sama dengan ektotrik tetapi arthroconidia tetap di
dalam batang rambut menggantikan keratin intrapapilar dan korteks tetap utuh
rambut sangat rapuh/dan mudah patah pada permukaan kulit skalp bintik-bintik
kecil hitam (tinea black dot). Infeksi endotrik juga lebih kronis karena
kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen.

2.5. Manifestasi Klinik 1,2,3,4


Secara garis besar dapat dikelompokkan dalam kelompok non-inflamasi
(gray patch ringworm & black dot ringworm) dan inflamasi (kerion celcii, favus).
Di dalam klinik tinea kapitis dapat dilihat sebagai 3 bentuk yang jelas :
1. Gray patch ringworm
Tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus Microsporum
dan sering ditemukan pada anak-anak. Umumnya disebabkan oleh jamur
antropofilik ektotrik seperti M. audouinii dan jamur zoofilik M. canis.
Peradangan bersifat minimal. Penyakit mulai dengan papul merah yang
kecil di sekitar rambut. mengelilingi satu batang rambut yang meluas
sentrifugal mengelilingi rambut-rambut sekitarnya Papul ini melebar dan
membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita
adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi.
Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut
dengan pinset tanpa rasa nyeri. Rambut putus kurang lebih 1 cm di aats
permukaan kulit sehingga tampak botak (alopesia) berbatas tegas. Semua
rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk
daerah alopesia setempat. 1,2,3
Pada daerah alopesia terdapat skuama abu-abu (grey patch). Grey
patch yang dilihat di dalam klinik tidak menunjukkan batas-batas daerah
sakit dengan pasti. Sisa rambut yang terputus jika di tes dengan Woods
light akan berfluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit
melampaui batas grey patch tersebut. Pada kasus-kasus tanpa keluhan,
pemeriksaan

dengan

lampu

Woods

banyak

membantu

dalam

mendiagnosis tinea kapitis. Lesi paling sering di regio oksipital. Seringkali


lesinya tampak satu atau beberapa daerah yang berbatas jelas pada daerah
oksiput. 2,3
Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksi Microsporum.
Ini berhubungan dengan mulainya masa puber yang terjadi perubahan
komposisi sebum dengan meningkatnya asam lemak-lemak yang
fungistatik, bahkan asam lemak yang berantai medium mempunyai efek

fungistatik yang terbesar . Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo


merugikan jamur seperti M. audouinii. 4

2. Tinea Kapitis black dot


Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaitu T.
tonsurans atau T. violaceum. Peradangan kulit paling minimal. Pada
permulaan penyakit, gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang
disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terputus tepat di atas
permukaan kulit/ tepat pada muara folikel, dan yang tertinggal adalah
ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam di dalam folikel
rambut ini memberikan gambaran khas, yaitu black dot. Ujung rambut
yang patah, kalau tumbuh kadang-kadang masuk ke bawah permukaan
kulit. Dalam hal ini perlu dilakukan irisan kulit untuk mendapatkan bahan
biakan jamur. Ditemukan skuama pada daerah alopesia. Lesi biasanya
banyak, poligonal, dan batas kurang tegas. 1,2,3,4

3. Kerion celcii
Umumnya kerion celcii disebabkan oleh jamur zoofilik atau
geofilik seperti M. canis dan M. gypseum. Kerion celcii adalah reaksi
peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang
menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di

sekitarnya. Reaksi radamg disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas


terhadap infeksi, spectrum peradangan mulai dari ringan, yaitu eritema,
papula, krusta, pustular folikulitis sampai berat sebagai kerion berupa
massa yang menonjol dipenuhi potongan-potongan rambut yang terputus,
krusta dan pus. Pasien dapat mengalami limfadenopati di posterior
servikal, nyeri dan demam. Akibat radang yang hebat tersebut, jika
sembuh dapat meninggalkan jaringan parut permanen dan menimbulkan
alopesia menetap. Lesi dapat meluas mengenai daerah kulita glabrosa. 1,2,3,4

2.6. Pemeriksaan Penunjang 1,2,3,4


Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri
atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan
mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang dapat berupa
kerokan kulit, rambut dan kuku. Bahan untuk pemeriksaan miologik diambil dan
dikumpulkan sebagai berikut : terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan
dengan spiritus 70% kemudian untuk :
1. Bahan dari rambut :
Rambut yang terinfeksi jamur dicabut dengan pinset, diletakkan di atas
gelas alas, lalu ditetesi dengan larutan KOH 10-20%, untuk melihat
elemen jamur lebih nyata ditambahkan zat warna pada KOH, misalnya
tinta Parker super chroom blue black, ditutup dengan gelas penutup,
dilewatkan di atas api Bunsen 2-3 kali untuk melarutkan keratin dan
dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran rendah. Mula-mula
dengan pembesaran 10x10, kemudian dengan pembesaran 10x45. Hasil
yang positif ada 2 kemungkinan yang terlihat, yaitu :
a. Ektotrik : tampak arthroconidia kecil atau besar membentuk
lapisan mengelilingi bagian luar batang rambut.

b. Endotrik : tampak arthroconidia di dalam batang rambut.


2. Bahan dari skuama
Daerah lesi dibersihkan dengan kapas alcohol, setelah kering
skuama dikerok dengan menggunakan scalpel terutama pada tepi lesi,
diletakkan di atas gelas alas lalu ditetesi larutan KOH 10-20%, ditutup
dengan gelas alas, dilewatkan di aats api Bunsen beberapa kali untuk
melarutkan skuama/keratin, kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
Hasil positif akan tampak hifa bersepta dan bercabang.
3. Kultur
Untuk spesifikasi perlu dilakukan biakan pada media Sabouraud,
oleh karena semua spesies dermatofita tampak identik. Memakai swab
kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan di atas kepala yang
berskuama. Spesimen yang didapat dioleskan di media Mycosel atau
Mycobiotic (Sabourraud dextroseagar + khloramfenikol + sikloheksimid)
atau Dermatophyte test medium(DTM). Perlu 7 - 10 hari untuk mulai
tumbuh jamurnya. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 23 oleh karena ada bahan fenol dimedianya, walau belum tumbuh jamurnya
berarti jamur dematofit positif.7
4. Woods light
Dapat membantu menentukan batas lesi. Untuk jamur tertentu akan
memberikan fluoresensi karena adanya pteridine. Rambut yang tampak
dengan jamur M. canis, M. audouinii dan M.ferrugineum memberikan
fluoresen warna hijau terang oleh karena adanyabahan pteridin. 1Jamur
lain penyebab tinea kapitis pada manusia memberikan fluoresennegatif
artinya

warna

tetap

ungu

yaitu

M.

gypsium

dan

spesies

Trichophyton(kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa memberi


fluoresen hijau gelap).Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang
tumbuh aktif di rambut yangterinfeksi. 1,2,3

2.7. Diagnosis 2
Pada umumnya diagnosis dapat ditegakkan dengan melihat gambaran klinis, serta
dibantu dengan pemeriksaan laboratorik dan tes Woods light. Biakan biasanya
dilakukan untuk mengetahui spesies, pada umumnya untuk kepentingan
penelitian. Namun apabila pemeriksaan dari rambut dan kerokan kulit hasilnya
negative, maka baku emas prognosis adalah hasil biakan.
2.8. Diagnosis Banding 1,2,3
1. Dermatitis seboroik
2. Psoriasis
3. Alopesia areata
4. Trikotilomania
5. Impetigo, folikulitis bacterial
6. Sifilis
7. Lups eritematosus
8. Favus
2.9. Komplikasi
1. Infeksi sekunder
2. Alopesia sikatrik permanen
3. Kambuh
2.10. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Umum 2
a. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah
infeksi pada anak-anak lain.
b. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur
c. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi,
handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala.
d. Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke
dokter/rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang
disertaiskuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood.

e. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering


perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan
alopesiapermanen.
f. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka
dan pakaian pasien, dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun
atau lebik baik dibuang
2. Terapi Medis 1,2,3,4
a. Griseofulvin
Tinea kapitis memerlukan terapi sistemik karena obat harus
mengadakan penetrasi ke folikel rambut. Beberapa decade griseofulvin
merupakan obat pilihan (drug of choice) dan hanya obat ini yang disetujui
oleh Food Drug Adminstration (FDA) untuk mengobati tinea kapitis. Pada
anak, namun beberapa obat lain dievaluasi untuk pengobatan tinea kapitis
seperti flukonazol, itrakonazol, ketokonazol, dan terbinafin.
Griseofulvin ditolerasi dengan baik, aman dan dipakai di seluruh dunia.
Kesembuha rata-rata obat griseofulvin bergantung pada dosis. Dahulu
dosis yang digunakan adalah 10mg/kg/hari namun banyak kegagalan
dengan

dosis

tersebut.

Dosis

kemudian

dinaikkan

20mg/kg/hari

memberikan hasil lebih baik, tetapi trenyata dosis terbaik adalah


25mg/kg/hari. Obat dikonsumsi setelah makan atau setelah minum sus
oleh karena absorpsinya menjadi lebih baik.
Efek sampingnya jarang ditemukan.dapat berupa sakit kepala,
gangguan GIT, fotosensitivitas, dan reaksi obat morbiliformis.
Terapi

topical

dapat

digunakan

bersamaan,

yaitu

dengan

menggunakan shampoo anti jamur, seperti ketokonazole, selenium sulfide


2-3 kali sepekan. Shampoo ini hanya dapat menghilangkan skuama dan
eradikasi spora yang dapat menurunkan penyebaran penyakit ke orang
lian.
Kontraindikasi : pada kehamilan, gagal hepar, dan porfiria.
b. Kapsul Itrakonazol (100 mg) 1,2,3,6

10

Dosis 5 mg/Kg BB/hari selama 2-4 minggu3,6


Terapi dosis denyut 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu dalam 1 bulan,
istirahat 2 minggu/siklus bila belum sembuh diulang dapat sampai 2-3
siklus.
Bersifat fungisidal sekunder oleh karena terjadi fungitoksik.
Minumnya kapsul bersama mentega kacang, atau saus apel dan dilanjutkan
dengan jus buah. Sama efektifnya untuk karena Microsporum canis
maupun Trichophyton.Tidak boleh diminum bersama antasida atau H2
blocker oleh karena absorbsinya perlu suasana asam. 7 Bila diberikan
bersama phenytoin dan H2 antagonis akan meningkatkan kadar kedua obat
tersebut. Sedang kadar Itrakonazol akan lebih rendah bila diberikan
bersamaan rifampisin, isoniasid, phenytoin dan karbamazepin.
Monitor laboratorium fungsi hepar dan darah lengkap bila
pemakaian lebih 4 minggu.6
c. Tablet Terbinafin (tablet 250 mg) 1,2,3,6
Bersifat fungisidal primer terhadap dermatofit. Dosis 3-6mg/KgBB/ hari
selama 4 minggu :
< 20 mg : 62,5 mg (1/4 tablet)/ hari
20-40 mg : 125 mg (1/2 tablet)/ hari
> 40 mg : 250 mg/ hari
Bila karena M. canis perlu 6-8 minggu, lebih sukar untuk
dibasmidaripada karena Trichophyton oleh karena virulensinya atau
karenainfeksi ektotriknya masih belum diketahui. Diberikan untuk anak
umur > 2 tahun4. Monitor laboratorium fungsiliver dan darah lengkap
diperiksa bila pemakaian lebih 6 minggu3.
d. Shampo
Mencuci kepala dan rambut dengan shampoo desinfektan antimikotik
seperti larutan asam salisilat, asam benzoate, dan sulfur presipitatum. Obat-obat
derivate midazol 1-2%dalam krim atau larutan dapat menyembuhkan, demikian
pula ketokonazol krim atau larutan 2%.9

11

4.Terapi Kerion 1,2,3,6


Pengobatan optimal kerion tidak jelas apakah perlu dengan obat oral
antibiotika dan kortikosteroid sebagai terapi ajuvan dengangriseofulvin 7. Beberapa
penelitian menyatakan :
1. Kerion lebih cepat kempes dengan kelompok yang menerima griseofulvin
saja
2. Sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih / hilang dengan kelompok
yang menerima ke 3 obat yaitu griseofuvin, antibiotika dan kortikosteroid
oral
3. Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik. Juga
bermanfaat menyembuhkan nyeri dan pembengkakan 3. Dosis prednison 1
mg/Kg BB/hari untuk 1-2 minggu.
4. Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama biladijumpai
banyak krusta
2.11. Prognosis 9
Jika penyembuhan telah dicapai dan faktor-faktor infeksi dapat dihindari,
prognosis umumnya baik.

BAB III
KESIMPULAN
Tinea kapitis adalah infeksi yang sering terjadi pada anak-anak dengan
bermacam macam gejala klinis. Keadaan penduduk yang padat menyimpan jamur

12

penyebab dan adanya karier asimtomatis yang tidak diketahui menyebabkan


prevalensi penyakit.
Tablet griseofulvin adalah pengobatan yang efektif dan aman, sebagai obat
linipertama (gold standard). Obat lini kedua yaitu Itrakonazol, terbinafin atau
kalauterpaksa dengan flukonazol diberikan untuk pasien yang tidak sembuh
dengan griseofuvin, atau dapat sebagai obat jamur lini pertama. Terapi ajuvan
dengan shampo anti jamur untuk membasmi serpihan (fomites) yang terinfeksi,
mengevaluasi serta penanganan kontak yang dekat dengan pasie

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Kartowigono soenarto, SpKK(K) . Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit.
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.2012
2. Adhi Juanda, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5. Bagian Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008.
3. Nelson MM; Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal infection :
Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg
IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks
Dermatologyin General Medicine 6th ed. New York Mc Graw Hill, 2005.
4. Rippon JW. Medical Mycology 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 2005
5. Schroeder TL, Levy ML. Treatment of hair loss disorders in children.
DermatolTher 2007; 2 : 84-92.
6. Hebert AA. Diagnosis and treatment of tinea capitis in children. Dermatol
Ther 2008; 2 : 78-83
7. Dawber RPR, de Becker D, Wojnarowska F, Disorder of Hair. Dalam :
Champion

RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors.

Rook/Wilkinson/EblingTextbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell


Science, 2006 : p 2869-973
8. Rowell NR, Goodfield MJD. The Connective Tissue diseases. Dalam :
Champion

RH,

Burton

JZ,

Burns

DA,

Breatnach

SDM,

editors.

Rook/Wilkinson/EblingTextbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell


Science, 2008 : p 2437-575.
9. Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.