Anda di halaman 1dari 5

Desa dan Pulau Harapan

AHMAD ERANI YUSTIKA


Cetak | 11 Agustus 2015

561 dibaca

0 komentar

Pemerintah telah memberi identitas baru atas pilihan pembangunan ekonomi


yang harus diambil. Pada isi Nawacita, sekurangnya tafsir itu terpapar di tiga
cita, yakni membangun dari pinggiran, peningkatan produktivitas ekonomi
rakyat, dan kemandirian ekonomi.

Jika dibenturkan dengan konsep ekonomi pembangunan, Tricita tersebut berteduh


dalam pohon teori struktural. Istilah pinggiran (periphery) adalah frasa populer
untuk membenturkan dengan negara/wilayah pusat (center) dalam
tradisi Marxianeconomics. Demikian pula, terma ekonomi rakyat dan
kemandirian ekonomi lekat dengan konsep yang bersinggungan dengan mazhab
tersebut, seperti yang kerap diteriakkan oleh Samir Amin ataupun Fernando
Henrique Cardoso (tentu dengan istilah yang tak sepenuhnya persis). Inilah babak

baru yang secara sadar diayak pemerintah setelah mengamati secara jeli watak
pembangunan (ekonomi) Indonesia sepanjang 70 tahun seusai kemerdekaan.

Pasokan pengetahuan
Salah satu alas pokok yang dipakai untuk menjalankan Tricita di atas adalah
Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014. UU ini mendapatkan atensi yang luar
biasa dari khalayak karena dipandang sebagai horizon baru pembangunan. Desa
diletakkan sebagai pusat arena pembangunan, bukan lagi semata lokus keberadaan
sumber daya (ekonomi) yang dengan mudah disedot oleh wilayah lain (kota) untuk
beragam kepentingan.
Perhatian menjadi kian luar biasa begitu pemerintah meneruskannya dengan
membentuk kementerian yang khusus mengawal urusan desa, Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Dengan begitu, urusan desa
tak hanya disantuni secara legal (UU), tetapi secara politik dengan lugas afirmasi
telah ditunjukkan pemerintah via pembentukan kementerian baru itu (dan dana
desa) sehingga pada hari-hari mendatang pusat pertaruhannya adalah bagaimana
kekuatan legal dan politik itu menjelma dalam kerja teknokratis di lapangan.
Teknokratisme pembangunan desa itu berdiri tegak di atas tiga pilar (Desa
Berdikari). Pertama, mengarusutamakan penguatan kapabilitas manusia sebagai inti
pembangunan sehingga mereka menjadi subyek-berdaulat atas pilihan-pilihan yang
diambil. Kedua, mendorong geliat ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai
pemilik dan partisipan gerakan. Ketiga, mempromosikan pembangunan yang
meletakkan partisipasi warga dan komunitas sebagai akar gerakan sosial, ekonomi,
budaya, dan lain-lain.
Menyangkut kapabilitas manusia, penguatan pendidikan (pengetahuan) dan
kesehatan merupakan dua pilar pokok yang mesti dibangun. Pendidikan kerap
disederhanakan sebagai lama waktu sekolah untuk menunjukkan level keterampilan
seseorang. Parameter itu sebagian bisa diterima, tetapi jelas tak menggambarkan
seluruh tingkat pengetahuan individu. Di luar sekolah (formal), pilihan lain
peningkatan stok pengetahuan adalah penciptaan komunitas belajar dan balai
pencerahan dengan basis karakteristik sosial dan budaya setempat.
Pola semacam itu tidak sekadar menambah pengetahuan dan keterampilan (sesuai
dengan pilihan hidup yang telah ditetapkan), tetapi juga menegakkan matra
komunitas yang menjadi corak hidup warga desa. Berikutnya, perkara kesehatan
juga patut menjadi fokus pendalaman kapabilitas karena masih rendahnya daya

dukung pada aspek ini. Kenaikan angka ibu yang meninggal saat melahirkan,
peningkatan bayi dengan ukuran tubuh tidak normal (stunting), gizi buruk,
ketersediaan sanitasi, pasokan air bersih, dan lain-lain masih merupakan kenyataan
pahit di pedesaan.
Perlu gerakan masif untuk memperbaiki aspek ini karena jumlahnya sangat banyak
dan tersebar secara geografis (yang sebagian sulit dijangkau). Di sini tidak hanya
perlu anggaran yang besar, tetapi juga pilihan program yang efektif untuk
mengatasinya. Perbaikan kualitas manusia merupakan misi yang harus dimenangi
karena hakikat pembangunan tak lain adalah ekspansi kapabilitas manusia.
Lumbung ekonomi rakyat
Kesejahteraan adalah salah isu mendesak di desa mengingat kantong-kantong
kemiskinan berada di sana (sekitar 65 persen penduduk miskin berdiam di desa).
Urbanisasi masif yang terjadi disebabkan oleh involusi desa tersebut, bukan karena
ada tarikan permintaan tenaga kerja di kota. Inilah yang membuat fenomena
urbanisasi prematur terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, gerakan lumbung
ekonomi rakyat merupakan palang pintu utama untuk mendongkrak kesejahteraan
ekonomi tersebut. Pokok soal yang utama adalah membekali aset produktif yang
memadai sehingga akses terhadap sumber daya ekonomi menjadi lebih besar.
Problemnya, sebagian besar kaum miskin itu tak memiliki aset produktif yang
mencukupi (khususnya lahan dan modal). Dengan begitu, kebijakan reformasi
agraria (yang juga menjadi salah satu komitmen pemerintah) menjadi sangat
strategis diimplementasikan dengan lokus penduduk desa yang tunaaset tersebut, di
samping kebijakan drastis terkait akses terhadap modal.
Berikutnya, menempatkan kegiatan ekonomi hanya pada hulu (misalnya produksi
komoditas pertanian atau eksplorasi sumber daya alam lain) terbukti hanya
meninggalkan desa dalam kubang keterbelakangan. Desa hanya dimanfaatkan
sebagai penyedia bahan baku dan pasar bagi komoditas olahan (yang dikerjakan
oleh pelaku dan di wilayah yang lain). Situasi ini harus dihentikan sehingga desa tak
lagi cuma memperoleh porsi di hulu, tetapi juga memasuki aktivitas di sektor hilir.
Sumber daya ekonomi sebanyak mungkin ditahan desa dan hanya keluar setelah
melalui proses penciptaan nilai tambah. Tentu saja proses ini tak mesti bertumpu
hanya di satu desa, tetapi bisa pada kawasan pedesaan karena harus disesuaikan
dengan skala ekonomi. Intervensi inovasi dan adopsi teknologi menjadi penting agar
proses ekonomi pengolahan itu bisa berjalan dengan layak. Jika hal ini berlangsung
dengan baik, urbanisasi dapat ditekan dan posisi desa tak lagi inferior.

Pekerjaan rumah setelahnya adalah menyusun organisasi ekonomi di desa. Tentu ini
mandat yang rumit, tetapi niscaya harus dijalankan. Organisasi ekonomi yang
berbasis persaingan dengan meletakkan individu sebagai pusaran aktivitas ekonomi
terbukti menciptakan luka pembangunan, salah satunya berwujud dalam
ketimpangan (pendapatan) ekonomi yang makin parah. Realitas itu harus dimaknai
sebagai sinyal kebutuhan kembali pada penataan organisasi ekonomi yang
menyantuni semangat kolektivitas, pemerataan, dan solidaritas sosial. Apa pun
pilihan aktivitas ekonomi yang dikerjakan mesti paralel dengan kebutuhan tersebut
agar pembangunan tak menciptakan paradoks: pertumbuhan berbarengan dengan
kesenjangan. Konstitusi dengan tepat telah memberikan panduan pada Pasal 33
Ayat (1) UUD 1945. Desain Pasal 33 adalah bangun usaha yang bersemangat
koperasi. Pengambil kebijakan ekonomi mesti punya keberanian moral untuk
menjalankan misi daulat ekonomi rakyat ini.
Menumbuhkan daya hidup
Pembangunan yang secara sengaja meretakkan relasi manusia dan pilihan yang
akan diambilnya dipastikan justru menciptakan keterasingan, di samping
ketergantungan. Pembangunan menjadi ritus berjarak jika program yang dijalankan
tidak menyertakan rakyat sebagai partisipan gerakan, mulai dari perumusan
masalah, desain, implementasi, hingga monitoring program. Pembangunan menjadi
proses mematikan, bukan menumbuhkan daya hidup rakyat.
Proses itulah yang sebagian terjadi atas kebijakan yang diambil selama ini sehingga
terjadi mekanisme keterasingan dan ketergantungan secara sistematis. Dana desa
mesti dicegah tidak mengulang pengalaman itu (dan tak seharusnya perhatian
hanya fokus pada dana desa) sehingga anggaran yang digelontorkan harus
dimaknai sebatas afirmasi pemerintah untuk menjadikan desa sebagai arena
pembangunan tanpa merebut hak (warga) desa menyusun masa depannya sendiri.
Ruang harus dibuka selebar-lebarnya bagi warga desa untuk menentukan hajat
hidupnya lewat program yang digagas secara partisipatoris.
Jika pilihan itu yang diambil, modal (finansial) bukanlah amunisi utama
pembangunan. Modal yang terpenting adalah kapabilitas manusia yang telah
terberdayakan dan gerak sosial yang emansipatoris. Modal finansial hanyalah
instrumen sekunder karena kebutuhan primer adalah manusia tercerahkan dan
otentisitas jaringan sosial yang tersambung secara pekat. Proses inilah yang
sebetulnya menjadi jantung perubahan paradigma pembangunan agar geraknya
tidak ditindih oleh modal finansial yang kemudian justru mengisolasi sebagian
(besar) kaum dari berkah pembangunan itu sendiri.

Jika kemudian para pendamping desa diturunkan ke segala penjuru, fungsinya yang
pokok adalah menjadi aktor pemberdaya yang menumbuhkan daya hidup warga
tersebut, bukan mengambil alih hak warga merumuskan jalan hidupnya. Ujung dari
proses ini adalah lenyapnya praktik ekonomi subordinatif yang menempatkan pemilik
modal sebagai tuan ekonomi.
Penting pula dipahami bahwa seluruh cakupan di atas harus sensitif terhadap
kesinambungan lingkungan dan partisipasi perempuan. Pembangunan yang terlalu
memberi bobot pada aspek ekonomi mungkin menjadi eskalator untuk mempercepat
pencapaian ketinggian kesejahteraan, tetapi juga punya risiko terhadap destruksi
lingkungan. Keduanya tentu tak boleh dikorbankan meski kerap kali tak mudah
mencapainya secara bersamaan. Demikian pula, banyak kasus inisiasi
pembangunan yang dilakukan dan menyertakan kaum perempuan secara eksesif
lebih punya potensi keberhasilan, seperti dalam model pengelolaan lembaga
keuangan. Ekspansi kapabilitas manusia/komunitas harus menyasar perempuan
sebagai target utama akibat warisan konstruksi sosial yang tak berpihak kepada
mereka selama ini.
Pada akhirnya, seluruh urusan ini harus dipayungi oleh kebijakan makroekonomi,
politik fiskal, moneter, keuangan, perdagangan, investasi, dan lain sebagainya yang
memihak dan menjadikan desa sebagai arus utama pembangunan. Jika kita bisa
merawat konsistensi keseluruhan bangunan ini, paras desa akan berubah menjadi
pulau-pulau harapan yang laik dijadikan sandaran masa depan.
AHMAD ERANI YUSTIKA, DIRJEN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT DESA KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI