Anda di halaman 1dari 110

SKRIPSI

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP


TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL
TRESNA WERDHA KASIH SAYANG IBU
CUBADAK BATUSANGKAR
TAHUN 2016

YOHANA YEN SULASTRI


1205142010335

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI
TAHUN 2016

SKRIPSI
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP
TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL
TRESNA WERDHA KASIH SAYANG IBU
CUBADAK BATUSANGKAR
TAHUN 2016

Bidang Ilmu Keperawatan Gerontik

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S. Kep)


Pada Program Studi SI Ilmu Keperawatan
STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi

YOHANA YEN SULASTRI


1205142010335

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI
2016
2

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,


Dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya
Nyatakan dengan benar

Nama

: Yohana Yen Sulastri

NIM

: 1205142010335

Tanda Tangan

Tanggal

: Mei 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, karena telah memberi
nikmat kesehatan, kekuatan, pikiran yang jernih dan keterbukaan hati sehingga
peneliti dapat menyelesaikan skripsi penelitian ini yang berjudul Pengaruh
Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres pada Lansia di Panti Sosial
Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016.
Penelitian skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan
STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi. Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan
skripsi ini, sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh
karena itu, pada kesempatan kali ini izin kan peneliti mengucapkan terima kasih
kepada :
1.

Ibu Ns. Marlina Andriani, S.Kep, M.Kep selaku ketua STIKes Yarsi

2.

Sumbar Bukittinggi.
Ibu Ns. Ade Srywahyuni, S.Kep, MNS selaku ketua Program Studi

3.

Ilmu Keperawatan STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi.


Ibu Wisnatul Izzati, M. Kes selaku pembimbing I yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan fikiran untuk mengarahkan,
membimbing dan memberikan masukan sehingga peneliti dapat

4.

menyelesaikan skripsi ini.


Ibu Ns. Siska Damayanti, S. Kep selaku pembimbing II yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan fikiran untuk mengarahkan,
membimbing dan memberikan masukan sehingga peneliti dapat

5.

menyelesaikan skripsi ini.


Dosen dan Staf STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi yang telah banyak

6.

membantu dalam kelancaran penelitian skripsi ini.


Pimpinan Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar beserta Staf yang telah bersedia memberikan data-data

7.

yang peneliti butuhkan dalam menunjang kelancaran skripsi ini.


Teristimewa ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada Bapak
Syahril dan Ibu Yenni selaku orang tua dan Wiwit Yuni Safitri,
Yonaldi Ismail, Fitri Yanda Sari selaku adik yang tiada henti

mendoakan dan memberi dukungan serta motivasi dalam setiap


langkah peneliti. Teman-teman angkatan 2012 Program Studi S1
Keperawatan

STIKes

Yarsi

Sumbar

Bukittinggi

yang

telah

memberikan doa, dukungan dan masukan yang sangat berguna untuk


8.

skripsi ini.
Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penulisan skripsi ini.

Akhir kata, peneliti berharap Allah Yang Maha Esa berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Peneliti juga mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan dimasa yang akan datang.
Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi kita semua dan bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pendidikan.

Bukittinggi,

Mei 2016

Peneliti

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Stikes Yarsi Sumbar Bukittinggi, saya yang bertanda
tangan di bawah ini:
Nama

: Yohana Yen Sulastri

NIM

: 1205142010335

Program Studi

: S1 Keperawatan

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Stikes Yarsi Sumbar Bukittinggi Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Nonexclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul Pengaruh
Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres pada Lansia di Panti Sosial
Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Nonekslusif ini Stikes Yarsi Sumbar Bukittinggi berhak menyimpan, mengalih
media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat,
dan mempublikasikan skripsi saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Bukittinggi,

Mei 2016

Yang Menyatakan

Yohana Yen Sulastri


1205142010335
8

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI
SKRIPSI,

MEI 2016

Yohana Yen Sulastri


Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres pada Lansia di Panti
Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar 2016
xvi + 86 Halaman + 10 Tabel +1 Gambar + 2 Skema + 10 Lampiran

ABSTRAK
Data dari Departemen Sosial RI, pada tahun 2010 terdapat sebelas ribu
lansia yang terlantar. Lansia yang terlantar merupakan kelompok yang beresiko
tinggi mengalami masalah stres dan depresi. Stres pada lansia adalah suatu
gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh tuntutan kehidupan
(tekanan mental atau beban kehidupan) dan perubahan fisik, biologis, psikologis,
dan sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun individu didalam
lingkungan. Salah satu cara mengatasi stres pada lansia dengan terapi
nonfarmakologi adalah dengan teknik relaksasi Benson. Teknik relaksasi Benson
merupakan suatu teknik relaksasi pernafasan dengan memasukkan faktor
keyakinan agama yang dianut. Teknik ini merupakan upaya untuk memusatkan
perhatian pada suatu fokus dengan menyebut berulang-ulang kalimat keagamaan
dan menghilangkan berbagai pikiran yang menganggu. Penelitian ini dilakukan di
UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi Benson
terhadap tingkat stres pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Cubadak Batusangkar. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre
experiment yaitu one group prestest posttest design. Populasi dalam penelitian ini
berjumlah 70 lansia. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 responden. Sampel
diambil secara non probability sampling (purposive sampling). Instrumen
penelitian ini menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS).
Berdasarkan hasil uji paired sample t-test diperoleh nilai p value=0,000 (p<0,05)
yang berarti Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh yang signifikan penerapan teknik relaksasi Benson terhadap tingkat
stres pada lansia. Teknik relaksasi Benson diharapkan dapat dijadikan salah satu
terapi nonfarmakologi untuk mengatasi stres dan diterapkan dalam kehidupan
seharihari.
Kata Kunci
: relaksasi Benson, stres, lansia
Kepustakaan : 58 (1995-2014)
9

10

NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM


YARSI HEALTH HIGH INSTITUTION
BUKITTINGGI
THESIS,

MEI 2016

Yohana Yen Sulastri


The Effect Of Benson Relaxation Technique on Stress Level of Elderly in Panti
Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar 2016
xvi + 86 Pages + 10 Tables +1 Picture + 2 Schemes + 10 Appendixs
ABSTRACT
Data of the Social Department, RI, on 2010 there are eleven thousand
elderly are abandoned. The elderly displaced is a group at high risk of
experiencing problems stress and depression. Elderly stress is a disruption in the
body and mind which is caused by the demands of life (mental pressure or burden
of life) and physically, biologically, psychologically, and socially change that is
affected by the environment as well as individuals in the environment. One of the
ways to overcome the stress by non-pharmcologically is with Benson relaxation
technique. Benson relaxation technique is a breathing relaxation techniques by
incorporating factors embraced religious beliefs. Benson Relaxation Technique is
an attempt to focus attention on a focus by calling the religious repeated
sentences and eliminate disturbing thoughts. The research was conducted in
UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar. This
research purposed to know the the effect of Benson relaxation technique to reduce
stress level on elderly in UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Cubadak Batusangkar. Design used in this research were pre experiment that is
one group prestest posttest design. The quantity of research population is 70
elders. The quantity of research sample is 10 respondents. Samples taken in non
probability sampling (purposive sampling). Research instruments use Depression
Anxiety Stress Scale questionnaire. Based on the results of paired sample t-test
obtained p-value = 0.000 (p<0,05) which means that Ha is received. It can be
concluded that there was a significant effect of Benson relaxation technique on
the application of stress level in the elderly. Benson relaxation technique is
expected to be used as one of the non pharmacological therapy to cope with stress
and applied in the life.
Keyword
References

: Benson relaxation, stress, elderly


: 58 (1995-2014

10

11

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
PERNYATAAN ORISINALITAS..................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................iv
KATA PENGANTAR......................................................................................v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH....................vii
ABSTRAK

...............................................................................................viii

DAFTAR ISI....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xiii
DAFTAR SKEMA..........................................................................................xiv
DAFTAR TABEL............................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................................11
C. Tujuan Penelitian..................................................................................12
1. Tujuan Umum................................................................................12
2. Tujuan Khusus...............................................................................12
D. Manfaat Penelitian ...............................................................................13
1. Bagi Institusi Pendidikan...............................................................13
2. Bagi Institusi Pelayanan................................................................13
3. Bagi Peneliti...................................................................................13
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Lansia....................................................................................................14
1. Pengertian Lansia ..........................................................................14
2. Batasan Umur Lansia.....................................................................15
3. Klasifikikasi Lansia.......................................................................15
4. Karakteristik Lansia......................................................................16
5. Tipe Lansia....................................................................................16
6. Proses Penuaan..............................................................................17
7. Teori Proses Penuaan....................................................................17
8. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penuaan.............................22
11

12

9. Perubahan yang Terjadi pada Lansia.............................................23


10. Permasalahan pada Lansia............................................................25
B. Stres pada Lansia..................................................................................26
1. Pengertian Stres pada Lansia.........................................................26
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres pada Lansia.................27
3. Proses Terjadinya Stres.................................................................29
4. Gejala-Gejala Stres pada Lansia...................................................30
5. Macam-Macam Stres.....................................................................32
6. Tingkatan Stres..............................................................................32
7. Bahaya Stres bagi Kesehatan........................................................33
8. Alat Ukur Stres..............................................................................34
C. Relaksasi Benson..................................................................................38
1. Pengertian Relaksasi.....................................................................38
2. Relaksasi Benson...........................................................................39
3. Prosedur Teknik Telaksasi Benson................................................40
4. Cara Kerja Teknik Relaksasi Benson terhadap Stres....................42
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep.................................................................................46
B. Hipotesis ..............................................................................................47
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian....................................................................................48
B. Tempat dan Waktu Penelitian...............................................................48
1. Lokasi Penelitian..........................................................................48
2. Waktu Penelitian............................................................................49
C. Polulasi dan Sampel...............................................................................49
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi.................................................................51
E. Defenisi Operasional..............................................................................52
F. Instrumen Penelitian...............................................................................53
G. Etika Penelitian......................................................................................54
H. Pengumpulan dan Analisa Data.............................................................56
1. Pengumpulan Data........................................................................56
2. Analisa Data..................................................................................58
a. Analisa Univariat.......................................................................58
b. Analisa Bivariat.........................................................................59
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Penelitian..................................................................60
B. Analisa Univariat...................................................................................68
C. Analisa Bivariat......................................................................................67
BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisa Univariat...................................................................................68
B. Analisa Bivariat......................................................................................75

12

13

BAB VII PENUTUP


A. Kesimpulan............................................................................................79
B. Saran.......................................................................................................80
C. Keterbatasan Penelitian..........................................................................81
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................82
LAMPIRAN-LAMPIRAN

13

14

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

: Posisi Relaksasi Benson................................................ 42

14

15

DAFTAR SKEMA
Skema 3.1
Skema 4.1

: Kerangka Konsep..................................................................46
: Bagan Pengumpulan Data dengan Rancangan Penelitian One
Group Prestest Posttest Design............................................57

15

16

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tabel 2.2

: Kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS 42)............ 35


: Indikator Kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS 42)

Tabel 4.1
Tabel 5.1

.................................................................................................37
: Definisi Operasional................................................................52
: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di
Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak

Tabel 5.2

Batusangkar Tahun 2016.........................................................62


: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Panti Sosial
Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun

Tabel 5.3

2016.........................................................................................62
: Distribusi Frekuensi Responden dengan Tingkat Stres Sebelum
Diberikan Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016............

Tabel 5.4

.................................................................................................62
: Analisa Kuesioner DASS Berjumlah 14 Pernyataan tentang Stres

Tabel 5.5

Sebelum Diberikan Teknik Relaksasi Benson..........................63


: Distribusi Frekuensi Responden dengan Tingkat Stres Sesudah
Diberikan Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016............

Tabel 5.6

.................................................................................................65
: Analisa Kuesioner DASS Berjumlah 14 Pernyataan tentang Stres

Tabel 5.7

Sesudah Diberikan Teknik Relaksasi Benson.........................65


: Distribusi Rata-Rata Perbedaan Tingkat Stres pada Lansia Sebelum
dan Sesudah Diberikan Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial
Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun
2016..........................................................................................67

16

17

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Jadwal Kegiatan Penelitian

Lampiran 2

: Curriculum Vitae

Lampiran 3

: Lembar Konsultasi Proposal

Lampiran 4

: Surat Izin Pengambilan Data

Lampiran 5

: Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 6

: Informed Consent

Lampiran 7

: Kisi-Kisi Kuesioner

Lampiran 8

: Kuesioner Penelitian

Lampiran 9

: SOP Teknik Relaksasi Benson

Lampiran 10 : Dokumentasi Penelitian

17

18

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Demografi kependudukan dunia sedang mengalami perubahan, seiring
dengan meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH). Usia Harapan Hidup
(UHH) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai derajat
kesehatan penduduk, artinya jika angka harapan hidup meningkat, maka
derajat kesehatan penduduk juga meningkat. Fenomena peningkatan angka
harapan hidup di Indonesia yang terjadi menunjukkan bahwa tingkat
kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat (Kepmenkes RI Nomor 264,
2010). Di balik sisi positif meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia
ini,

ternyata

peningkatan

usia

harapan

hidup

dapat

menyebabkan

bertambahnya populasi penduduk lansia (Depkes RI, 2013).


Ahli demografi memperhitungkan populasi lansia akan terus meningkat
sampai abad selanjutnya. Global Health and Aging (2012) mencatat, jumlah
penduduk lanjut usia di dunia pada tahun 2010 ada sekitar 524 juta jiwa.
Tahun 2012 terdapat 600 juta lansia di seluruh dunia dan tahun 2025
diperkirakan akan mencapai 1.2 miliar jiwa. Jumlah ini diperkirakan akan
meningkat mencapai 1.5 sampai 2 miliar jiwa pada tahun 2050. Peningkatan
jumlah lansia ini terjadi di beberapa Negara ASEAN diantaranya Malaysia,
Thailand, Singapura dan Indonesia (Global Health and Aging, 2012).
Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2013 tercatat sebesar
248.422.956 jiwa dan 12.553.221 jiwa diantaranya adalah penduduk lansia.
Pada tahun 2020 diprediksi jumlah lansia akan meningkat menjadi 28.8 juta
jiwa dari total jumlah penduduk (Pusdatin, 2013).
18

19

Peningkatan jumlah lansia ini ditemukan dibeberapa provinsi di


Indonesia. Suatu wilayah disebut berstruktur tua jika persentase lanjut usianya
lebih dari 7% salah satunya provinsi Sumatera Barat. Tahun 2014 tercatat
jumlah lansia di Sumatera Barat sebanyak 427.570 jiwa (Estimasi Penduduk,
2014).
Lansia merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari dan akan
dialami oleh setiap orang. Lansia merupakan seseorang yang telah mencapai
usia 60 tahun ke atas yang mengalami perubahan biologi, fisik, sosial,
ekonomi, dan perubahan ini akan memberi pengaruh pada seluruh aspek
kehidupan termasuk kesehatannya yang mengalami proses penuaan (Wahyuni,
2008). WHO menjelaskan bahwa batasan umur pada lansia dikelompokkan
menjadi usia pertengahan (middle age) yaitu usia 45-59 tahun, lanjut usia
pertama (elderly) yaitu usia 60-74 tahun, lanjut usia tua kedua (old) yaitu usia
75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun.
Proses penuaan merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat
dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual) kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan struktur dan fungsi
secara normal, ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya infeksi. Tahap
dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang maksimal.
Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel
yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami
penurunan fungsi secara perlahan-lahan (Maryam dkk, 2008).
Penurunan fungsi yang terjadi pada lansia seperti menurunnya fungsi
panca indera (penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, penciuman),
osteoporosis, menurunnya fungsi sistem pencernaan (gigi, air ludah, lambung,

19

20

usus), menurunnya fungsi otot, menurunnya fungsi persendian, menurutnya


fungsi organ tubuh lain (hati, ginjal, jantung, paru-paru, kulit, pembuluh
darah, syaraf dan otak). Pada lansia bukan hanya terjadi perubahan pada fisik
nya saja tapi juga terjadi perubahan pada sosial dan psikologis (Mickey &
Patricia, 2006).
Perubahan sosial meliputi pada saat ini orang yang telah menjalani
kehidupannya dengan bekerja mendadak diharapkan untuk menyesuaikan
dirinya dengan masa pensiun, menimbulkan perasaan kesepian akibat
pengasingan dari lingkungan sosial, kehilangan hubungan teman dan keluarga,
perubahan dalam kehidupan membuat lansia merasa kurang melakukan
kegiatan yang berguna (Hurlock, 2006). Perubahan psikologis pada lansia
meliputi dimensia, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut
menghadapi kematian, mudah tersinggung, depresi, kecemasan dan stres
(Maryam, dkk, 2008).
Permasalahan yang ada pada lansia adalah kurangnya kemampuan dalam
beradaptasi secara psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya
seperti diketahui bahwa memasuki lansia identik dengan menurunnya daya
tahan tubuh dan mengalami berbagai penyakit degenerative yang menyerang.
Keadaan tersebut, berpengaruh pada permasalahan kondisi ketahanan tubuh
lansia yang diterimanya dari lingkungan sekitar, maka tekanan atau stresor
pada diri lansia berpengaruh pada rasa kecemasan dan stres. Secara umum
masalah yang dialami lansia yang berhubungan dengan kesehatan jiwa antara
lain gangguan proses fikir, demensia, gangguan perasaan seperti depresi, stres,
harga diri rendah, gangguan fisik, dan gangguan perilaku. Gangguan
psikologis yang paling banyak dialami oleh lansia adalah stres. Lansia mudah

20

21

mengalami stres karena fungsi dari kemampuan menyelesaikan masalah


(mekanisme koping) juga menurun (Anderson, 2008).
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap
tuntutan atau beban tugas. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan
stres apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang
tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan
berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang
tersebut dapat mengalami stres. Sebaliknya apabila seseorang yang dengan
beban tugas yang berat tetapi mampu mengatasi beban tersebut dengan tubuh
berespon dengan baik, maka orang tersebut tidak mengalami stres (Alimul,
2008). Secara sederhana stres adalah kondisi di mana adanya respons tubuh
terhadap perubahan untuk mencapai keadaan normal (Wartonah, 2006). Berat
atau tidaknya suatu stres tergantung dari penilaian seseorang terhadap stres
yang dialami. Seseorang yang mengalami stres apabila tidak teratasi dapat
menampilkan gejala-gejala fisik, emosi, intelektual dan interpersonal
(Prabowo, 2007). Stres pada lansia banyak di pengaruhi oleh beberapa faktor.
Hardjana

dalam

Puspasari

(2009)

menjelaskan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi stres pada lansia antara lain faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal stres bersumber dari diri sendiri yang dapat dialami
lewat penyakit dan pertentangan. Faktor eksternal stres bersumber dari
keluarga dan lingkungan.
Rumah tinggal dan lingkungan merupakan hal yang penting karena
mempunyai dampak utama pada kesehatan lansia. Lingkungan dapat
mendukung atau mengganggu fungsi fisik, sosial, psikologis lansia. Ada lansia
yang bertempat tinggal dengan anggota keluarga atau tinggal di rumah sendiri

21

22

ataupun diperumahan yang di subsidi pemerintah salah satunya Panti Sosial


Tresna Werdha (PSTW) (Potter dan Perry, 2005).
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) merupakan tempat penampungan
yang diperuntukkan bagi lansia yang dikelola oleh pemerintah yang bertujuan
untuk merawat lansia. Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) mempunyai tugas
pokok memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada lanjut usia terlantar
didalam panti berupa pelayanan dan perawatan, baik jasmani maupun rohani
agar para lanjut usia dapat hidup secara wajar. Panti Sosial Tresna Werdha
(PSTW) berfungsi sebagai pusat pelayanan pendampingan dan perlindungan
bagi lansia, kesejahteraan sosial lansia. Para lansia yang tinggal di panti
jompo, sering merasakan kesepian, merasa kurang diterima di lingkungan
panti, kurang dapat melaksanakan peran yang diinginkan, dan adanya tuntutan
dari lingkungan panti untuk dapat berperan sebagai orang mandiri tanpa
bantuan keluarga. Lansia mengalami kesedihan, merasa ditinggal oleh
keluarganya, sering terjadinya pertengkaran dan persaingan antara lansia yang
tinggal di panti jompo (Nurhayati, 2012).
Lingkungan lansia di panti dan di rumah jika tidak sesuai dengan
kebutuhan lansia dapat menimbulkan stres pada lansia sehingga dapat
berdampak pada kesehatan lansia. Kebutuhan tersebut diantaranya lansia
membutuhkan rasa nyaman bagi dirinya sendiri, serta rasa nyaman terhadap
lingkungan yang ada. Tingkat pemenuhan kebutuhan tersebut tergantung pada
diri lansia, keluarga dan lingkungannya (Suaib, 2007). Dampak stres pada
kesehatan lansia yaitu lansia mengalami insomnia, tekanan darah naik, mudah
tersinggung, cepat marah, mengalami ketakutan yang tidak jelas (Rahma,
2012).

22

23

Tempat tinggal memiliki pengaruh dan peranan penting terhadap


kehidupan lansia. Lansia yang tinggal di rumah bersama keluarga secara fisik,
psikologis, dan kepuasannya terhadap lingkungan lebih tinggi daripada lansia
yang tinggal di panti werdha. Keadaan ini dikarenakan lansia memiliki
keterikatan dengan rumahnya, sehingga lansia merasa memiliki kontrol, rasa
aman, memiliki identitas diri, konsep diri, self esteem, dan perasaan yang
positif. Lansia yang harus pindah ke tempat tinggal yang baru seperti panti
werdha, terdapat kemungkinan munculnya kesulitan beradaptasi sehingga
mereka merasa stres (Elvinia, 2006). Lansia yang berada dalam panti dengan
berbagai alasan akan merasa kesepian jika tidak ada kegiatan yang terorganisir
dan jarangnya kunjungan keluarga. Keadaan seperti ini dapat memicu
timbulnya stres pada lansia (Lueckenott, 2005).
Lansia biasanya lebih senang tinggal di rumah sendiri dengan anak
ataupun tinggal terpisah dengan anak. Penelitian di Negara Amerika
menunjukkan bahwa lansia merasa puas dan bahagia tinggal di rumah sendiri
dengan barang-barang miliknya dan mungkin akan mengalami gangguan
kerusakan fisik maupun mental jika berada pada suatu institusi seperti panti
werdha yang akan menghalangi gaya hidupnya yang telah dikenalnya sejak
lama (Stanley dan Beare, 2006).
Penelitian Rahma Dwi Putri (2012) tentang perbedaan tingkat stres pada
lansia yang bertempat tinggal di rumah dan di UPT pelayanan sosial lansia
menjelaskan bahwa lansia yang bertempat tinggal di rumah mayoritas
mengalami tingkat stres ringan dan hanya sebagian kecil lansia yang
mangalami stres berat. Lansia yang bertempat tinggal di panti cenderung
mengalami stres tingkat berat.

23

24

Tingginya insidensi stres di Indonesia juga merupakan alasan mengapa


stres harus diprioritaskan penanganannya sebab pada tahun 2008 tercatat
sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan mental atau
stres. Tingginya tingkat stres ini umumnya diakibatkan oleh tekanan ekonomi
atau kemiskinan. Departemen statistika menyatakan bahwa 31 juta jiwa atau
13,33% penduduk Indonesia berada pada garis kemiskinan dengan
pengeluaran perbulan dibawah Rp 211.726,00 (Depkes, 2009). Berdasarkan
Sakernas tahun 2009, hampir 11% lansia miskin. Menurut Departemen Sosial
RI, pada tahun 2010 terdapat sebelas ribu lansia yang terlantar. Lansia yang
terlantar merupakan kelompok yang beresiko tinggi mengalami masalah stres
dan depresi.
Menurut Yulianti (2004) dalam Isnaeni (2010) menejelaskan bahwa untuk
menghindari dampak dari stres, maka diperlukan adanya suatu pengelolaan
stres yang baik. Pengelolaan stres dapat dilakukan dengan terapi farmakologi
yang meliputi penggunaan obat cemas (axiolytic) dan anti depresi (anti
depressant), serta terapi nonfarmakologi yang meliputi pendekatan perilaku,
pendekatan kognitif, serta relaksasi.
Relaksasi adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran dan tubuh
menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan melepaskan
ketegangan otot di setiap tubuh. Melakukan relaksasi seperti ini dapat
menurunkan rasa lelah yang berlebihan dan menurunkan stres, insomnia, dan
depresi. Hal itu karena dalam relaksasi terkandung unsur penenangan diri
(Potter dan Perry 2005). Macam-macam teknik relaksasi adalah relaksasi otot
progresif, relaksasi dengan imajinasi terbimbing, terapi sentuhan, massage,
relaksasi Benson (Nurhayati, 2012).

24

25

Relaksasi Benson merupakan suatu teknik relaksasi pernafasan dengan


melibatkan faktor keyakinan pasien (Purwanto, 2007). Relaksasi Benson dapat
digunakan untuk penurunan ketegangan, atau mencapai kondisi tenang seperti
menghilangkan nyeri, stres, kecemasan, insomnia, penurunan tekanan darah,
dan depresi (Setyowati, 2004). Keuntungan dari relaksasi Benson ini selain
mendapatkan manfaat dari relaksasi juga mendapatkan manfaat dari
penggunaan keyakinan seperti menambah keimanan (Nur Inayati, 2012). Pada
teknik relaksasi ini sangat fleksibel dapat dilakukan dengan bimbingan
mentor, bersama-sama atau sendiri. Teknik ini merupakan upaya untuk
memusatkan perhatian pada suatu fokus dengan menyebut frase atau kalimat
sesuai

dengan

keyakinan

yang

dianut

secara

berulang-ulang

dan

menghilangkan berbagai pikiran yang mengganggu. Teknik relaksasi ini dapat


dilakukan setengah jam dua kali sehari (Setyowati, 2004).
Penelitian mengenai pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap
penurunan tingkat stres pada lansia pernah diteliti sebelumnya, yaitu
penelitian yang dilakukan oleh Kadek Oka Aryana (2013) pada lansia di Panti
Werdha Wening Wardoyo Ungaran, Jawa Tengah didapatkan hasil ada
pengaruh yang signifikan teknik relaksasi Benson terhadap penurunan tingkat
stres pada lansia dan penelitian pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap
penurunan tingkat stres juga pernah diteliti oleh Ike Novitasari (2014) di
dapatkan hasil ada pengaruh yang signifikan teknik relaksasi Benson
terhadap tingkat penurunan stres.
Ada dua Panti Sosial Tresna Werdha yang berada di bawah pengelolaan
Dinas Sosial Sumatera Barat, yaitu Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Sabai
Nan Aluih yang terletak di Sicincin dan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)

25

26

Kasih Sayang Ibu yang terletak di Cubadak, Batusangkar. Kedua Panti Sosial
Tresna Werdha (PSTW) berperan dalam menampung para lansia dititipkan
oleh pihak keluarga, lansia miskin dan terlantar yang diantarkan oleh Dinas
Sosial.
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Panti Sosial Tresna Werdha
(PSTW) Kasih Sayang Ibu Cubadak, Batusangkar adalah Unit Pelaksana
Teknis Dinas (UPTD) Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak,
Batusangkar Provinsi Sumatera Barat terletak di JL. Batusangkar, Padang
Panjang, Km. 7, Cubadak Lima Kaum. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu Cubadak, Batusangkar
mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada
lanjut usia terlantar didalam panti berupa pelayanan dan perawatan, baik
jasmani maupun rohani agar para lanjut usia dapat hidup secara wajar.
Kebanyakan dari lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)
Kasih Sayang Ibu adalah lansia yang sudah tinggal belasan tahun
dibandingkan dengan lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha
(PSTW) Sabai Nan Aluih. Selama belasan tahun tersebut jarangnya kunjungan
dari keluarga bahkan ada keluarga yang tidak mengunjungi lansia sejak
pertama kali lansia masuk ke Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih
Sayang Ibu. Adanya konflik antar lansia. Terapi yang pernah dilakukan di
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu adalah terapi tertawa,
terapi humoris, terapi memori, terapi musik dalam mengatasi depresi dan stres
pada lansia. Teknik relaksasi Benson belum pernah dilakukan di Panti Sosial
Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar. Keuntungan
dari relaksasi Benson ini selain mendapatkan manfaat dari relaksasi juga

26

27

mendapatkan manfaat dari penggunaan keyakinan seperti menambah


keimanan dan dapat dilakukan sendiri.
Berdasarkan Studi Pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 12 Februari
2016 di PSTW Cubadak, Batusangkar melalui wawancara terhadap petugas
mengatakan bahwa jumlah lansia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)
Kasih Sayang Ibu Cubadak, Batusangkar adalah sebanyak 70 orang
diantaranya laki-laki sebanyak 43 orang dan perempuan 27 orang. Petugas
mengatakan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu Cubadak,
Batusangkar dilengkapi dengan sarana dan prasarana seperti kantor, aula, 8
wisma/asrama, dapur, mushallah, poliklinik, workshop, rumah dinas dan tanah
pemakaman. Setiap wisma ada pengasuh dan pendamping pengasuh. Kegiatan
di panti meliputi senam pagi setiap hari Senin, pemeriksaan kesehatan lansia
setiap hari Selasa, kesenian setiap hari Rabu, bimbingan keagamaan setiap
hari Kamis dan Jumat, shalat berjamaah setiap waktu, gotong royong setiap
minggu. Petugas mengatakan lansia yang masuk ke PSTW ini adalah lansia
yang terlantar, lansia yang tidak mampu secara ekonomi, kebanyakan dari
lansia diantar oleh Dinas Sosial dan ada juga yang di antar oleh orang lain,
jarang lansia yang di antar oleh keluarga. Dari hasil observasi langsung dan
wawancara mendalam dengan panduan Depression Anxiety Stres Scale
(DASS) dengan 10 lansia diperoleh hasil sebanyak 3 lansia mengalami stres
ringan dan 4 lansia mengalami stres sedang.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres
pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar.

27

28

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin meneliti
Adakah pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia
di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun
2016 ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat
stres pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar Tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya distribusi karakteristik responden (jenis kelamin dan
umur) lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar Tahun 2016.
b. Diketahuinya distribusi frekuensi tingkat stres pada lansia sebelum
mendapatkan teknik relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016.
c. Diketahuinya distribusi frekuensi tingkat stres pada lansia sesudah
mendapatkan teknik relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016.
d. Diketahuinya perbedaan tingkat stres pada lansia sebelum dan sesudah
mendapatkan teknik relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016.

28

29

e. Diketahuinya pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres


pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar Tahun 2016.

D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat penelitian bagi institusi

pendidikan

adalah

untuk

mengembangkan pengetahuan dalam pembelajaran tentang stres, serta


pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Sebagai bahan informasi dalam mengelola stres dengan terapi
nonfarmakologi seperti teknik relaksasi Benson pada lansia serta
memberikan informasi kepada institusi pelayanan tentang pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap stres pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha.
3. Bagi Peneliti
a. Peneliti
Dapat menambah wawasan, pengetahuan, serta pemahaman dan
mengaplikasikan tentang teknik relaksasi Benson terhadap penurunan
stres pada lansia. Mengembangkan kemampuan peneliti dalam
menyusun suatu laporan penelitian dan menambah pengetahuan
peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan di lapang.
b. Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumber referensi
penelitian selanjutnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
stres pada lansia serta upaya untuk menangani stres tersebut.

29

30

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia
1. Pengertian Lansia
Lansia adalah seseorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60
tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan (potensial)
maupun karena sesuatu hal tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam
pembangunan (tidak potensial) (Depkes RI. 2001). Lansia merupakan
seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas yang mengalami
perubahan biologi, fisik, sosial, ekonomi (proses aging), dan perubahan ini
akan member pengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk
kesehatannya (Wahyuni, 2008).
Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak
secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak,
dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik
dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang
pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan tertentu. Lansia
merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha
Esa, semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua
merupakan masa hidup. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran
fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah, 2011).

2. Batasan Umur Lansia


Menurut pendapat berbagai ahli dalam Nugroho (2008) batasanbatasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:

30

31

a. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam MenKes RI ada 4


tahap yaitu:
1) Usia pertengahan (middle age) usia antara 45-59 tahun.
2) Lanjut usia (elderly) usia antara 60-74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old) usia anatar 75-90 tahun.
4) Usia sangat tua (very old) berusia diatas 90 tahun.
b. Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang
menyatakan bahwa lansia atau seseorang yang mencapai usia 60 tahun.
c. Menurut Depkes dijelaskan bahwa pengelompokan lansia yaitu:
1) Menjelang usia lanjut meliputi 45-54 tahun sebagai masa vibrilitas.
2) Usia 55-64 tahun sebagai presenium.
3) Usia 65 tahun ke atas sebagai senium.
d. Menurut Hurlock lansia terbagi dalam dua tahap, yaitu:
1) Early old age atau lansia awal (usia 60-70 tahun).
2) Advanced old age atau lansia lanjut/akhir (usia 70 tahun ke atas).
3. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia berdasarkan
Maryam dkk (2008) yang terdiri dari :
a. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
b. Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi adalah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih
atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah
kesehatan.
d. Lansia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan
pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
e. Lansia tidak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari
nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada orang lain.
4. Karakteristik Lansia
Menurut Maryam dkk (2008) lansia memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13
tentang kesehatan).
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai
sakit.
c. Kebutuhan biopsikososial sampai spiritual.

31

32

d. Kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.


e. Lingkungan tempat tinggal bervariasi.
5. Tipe Lansia
Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman
hidup, lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya. Tipe
tersebut dijabarkan oleh Nugroho pada tahun 2000 dalam Maryam dkk
(2008) sebagai berikut :
a. Tipe Arif Bijaksana
Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati,
sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
b. Tipe Mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
c. Tipe Tidak Puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan
banyak menuntut.
d. Tipe Pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama,
dan melakukan pekerjaan apa saja.
e. Tipe Bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,
menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.
6. Proses Penuaan
Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka
mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan
suatu fenomena yang kompleks multi dimensional yang dapat diobservasi
di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem.
(Stanley, 2006).

32

33

Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan


yang maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan
berkurangnya jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya,
tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara perlahan-lahan.
Itulah yang dikatakan proses penuaan (Maryam dkk, 2008).
Aging process atau proses penuaan merupakan suatu proses biologis
yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua
adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual)
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti serta
mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahanan terhadap
cedera, termasuk adanya infeksi. Proses penuaan sudah mulai berlangsung
sejak seseorang mencapai dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan
jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati
sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia
berapa kondisi kesehatan seseorang mulai menurun. Setiap orang memiliki
fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal
pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya
fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun.
Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi
tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai
dengan bertambahnya usia (Mubarak, 2009).
Pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah, baik
secara biologis, mental, maupun ekonomi. Semakin lansia seseorang,

33

34

maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat


mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya (Tamher, 2009).
7. Teori Proses Penuaan
Menurut Maryam, dkk (2008) ada beberapa teori yang berkaitan
dengan proses penuaan, yaitu : teori biologi, teori psikologi, teori sosial,
dan teori spiritual.
a. Teori Biologis
Teori biologi adalah sebagai berikut :
1) Teori Genetik dan Mutasi
Menurut teori genetik dan mutasi, semua terprogram secara
genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat
dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul
DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
2) Immunology Slow Theory
Menurut immunology slow theory, sistem imun menjadi
efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam
tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
3) Teori Stres
Teori stres mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya
sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak
dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan
usaha, dan stres yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
4) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya
radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen
bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini
menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi.
5) Teori Rantai Silang
Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia selsel yang tua menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan

34

35

kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas kekacauan,


dan hilangnya fungsi sel.
b. Teori Psikologi
Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula dengan
keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya
penurunan dan intelektualitas yang meliputi persepsi, kemampuan
kognitif, memori, dan belajar pada usia lanjut menyebabkan mereka
sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Persepsi merupakan kemampuan
interpretasi pada lingkungan. Dengan adanya penurunan fungsi sistem
sensorik, maka akan terjadi pula penurunan kemampuan untuk
menerima, memproses, dan merespons stimulus sehingga terkadang
akan muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada.
c. Teori Sosial
Teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan adalah sebagai
berikut :
1) Teori Interaksi Social (Social Exchange Theory)
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada
suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai
masyarakat. Pada lansia, kekuasaan dan prestasinya berkurang
sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang,
yang tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan mereka untuk
mengikuti perintah.
2) Teori Penarikan Diri (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa kemiskinan yang diderita lansia
dan menurunnya derajat kesehatan mengakibatkan seorang lansia
secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan di sekitarnya.
3) Teori Aktivitas (Activity Theory)
Teori ini menyatakan bahwa penuaan yang sukses bergantung
bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam melakukan

35

36

aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting


dibandingkan kuantitas dan aktivitas yang dilakukan.
4) Teori Kesinambungan (Continuity Theory)
Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus
kehidupan lansia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu saat
merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lansia. Hal ini
dapat terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan seseorang
ternyata tidak berubah meskipun ia telah menjadi lansia.
5) Teori Perkembangan (Development Theory)
Teori perkembangan menjelaskan bagaimana proses menjadi
tua merupakan suatu tantangan dan bagaimana jawaban lansia
terhadap berbagai tantangan tersebut yang dapat bernilai positif
ataupun negatif. Akan tetapi, teori ini tidak menggariskan
bagaimana cara menjadi tua yang diinginkan atau yang seharusnya
diterapkan oleh lansia tersebut.
6) Teori Stratifikasi Usia (Age Stratification Theory)
Keunggulan teori stratifikasi usia adalah bahwa pendekatan
yang dilakukan bersifat deterministik dan dapat dipergunakan
untuk mempelajari sifat lansia secara kelompok dan bersifat
makro. Setiap kelompok dapat ditinjau dari sudut pandang
demografi dan keterkaitannya dengan kelompok usia lainnya.
Kelemahannya adalah teori ini tidak dapat dipergunakan untuk
menilai lansia secara perorangan, mengingat bahwa stratifikasi
sangat kompleks dan dinamis serta terkait dengan klasifikasi kelas
dan kelompok etnik
d. Teori Spiritual

36

37

Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada


pengertian hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi
individu tentang arti kehidupan.
8. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penuaan
Menurut Pujiastuti pada tahun 2003 mengatakan bahwa penuaan
dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Perlu hati-hati dalam
mengidentifikasi penuaan. Bila seseorang mengalami penuaan fisiologis
(fisiological Aging), di harapkan mereka tua dalam keadaan sehat (healthy
aging). Ada faktor-faktor resiko yang mempengaruhi penuaan seseorang,
yaitu : faktor endogen dan faktor eksogen.
a. Faktor Endogen
Faktor endogen yaitu faktor bawaan (faktor keturunan) yang
berbeda pada setiap individu. Faktor inilah yang mempengaruhi
perbedaan efek menua pada setiap ondividu, dapat lebih cepat atau
lebih lambat.
Perbedaan tipe kepribadian dapat juga memicu seseorang lebih
awal memasuki masa lansia. Kepribadian yang selalu ambisius,
senantiasa dikejar-kejar tugas, cepat gelisah, mudah tersinggung, cepat
kecewa dan sebagainya, akan mendorong seseorang cepat stres dan
frustasi. Akibatnya, orang tersebut mudah mengalami berbagai
penyakit.
b. Faktor Eksogen
Faktor eksogen yaitu faktor luar yang dapat mempengaruhi
penuaan. Biasanya faktor lingkungan, sosial budaya dan gaya hidup.
Misalnya diet atau asupan gizi, merokok, polusi, obat-obatan maupun
dukungan sosial. Faktor lingkungan dan gaya hidup berpengaruh luas
dalam menangkal proses penuaan.
9. Perubahan yang Terjadi pada Lansia

37

38

Menurut Santoso (2009) mengatakan bahwa perubahan yang terjadi


pada lansia diantaranya :
a. Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan pada kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari
tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem
pernafasan,

pendengaran,

pengaturan

tubuh,

penglihatan,

muskolosketal,

kardiovaskuler,

gastrointestinal,

sistem

urogenital,

endokrin, dan integumen. Masalah fisik sehari-hari yang sering


ditemukan pada lansia diantaranya lansia mudah jatuh, mudah lelah,
kekacuan mental akut, nyeri pada dada, berdebar-debar, sesak nafas,
pada saat melakukan aktifitas/kerja fisik, pembengkakan pada kaki
bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri sendi pinggul, sulit tidur,
sering pusing, berat badan menurun, gangguan pada fungsi
penglihatan, pendengaran, dan sulit menahan kencing.
b. Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunann fungsi kognitif dan
psikomotor. Perubahan-perubahan ini erat sekali kaitannya dengan
perubahan

fisik, keadaan

kesehatan,

tingkat

pendidikan

atau

pengetahuan, dan situasi lingkungan. Dari segi mental dan emosional


sering muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan
cemas. Adanya kekacauan mental akut, merasa terancam akan
timbulnya suatu penyakit atau takut ditelantarkan karena tidak berguna
lagi. Hal ini bisa meyebabkan lansia mengalami stres.

c. Perubahan Psikososial

38

39

Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap


perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu
yang bersangkuatan.
d. Perubahan Kognitif
Perubahan pada fungsi kognitif di antaranya adalah kemunduran
pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang
memerlukan memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak
mengalami kemunduran, dan kemampuan verbal akan menetap bila
tidak ada penyakit yang menyertai.
e. Perubahan Spiritual
Agama dan kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
10. Permasalahan pada Lansia
Permasalahan lansia terjadi karena secara fisik mengalami proses
penuaan yang disertai dengan kemunduran fungsi pada sistem tubuh
sehingga secara otomatis akan menurunkan pula keadaan psikologis dan
sosial

dari

puncak

pertumbuhan

dan

perkembangan.

Menurut

Mangoenprasodjo (2005) permasalahan-permasalahan yang dialami oleh


lansia, diantaranya:
a. Kondisi Mental
Secara psikologis, umumnya pada lansia terdapat penurunan baik
secara kognitif maupun psikomotorik. Masalah mental yang sering
dijumpai pada lansia adalah stres, depresi, dan kecemasan. Lansia yang
mengalami masalah mental mulai mengalami perasaan tidak berharga,
kesepian, dan kehilangan (Mangoenprasodjo, 2005, Stanley dan Beare
2006).
b. Keterasingan (Loneliness)
Terjadi penurunan kemampuan pada individu dalam mendengar,
melihat, dan aktivitas lainnya sehingga merasa tersisih dari
masyarakat.
c. Post Power Syndrome

39

40

Kondisi ini terjadi pada seseorang yang semula mempunyai


jabatan pada masa aktif bekerja. Setelah berhenti bekerja, orang
tersebut merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya
d. Masalah Penyakit
Proses fisiologis yang menuju ke arah degeneratif, juga banyak
ditemukan gangguan pada lansia, antara lain: infeksi, jantung dan
pembulu darah, penyakit metabolik, osteoporosis, kurang gizi,
penggunaan obat dan alkohol, penyakit syaraf (stroke), serta gangguan
jiwa terutama depresi dan kecemasan.
B. Konsep Stres pada Lansia
1. Pengertian Stres pada Lansia
Stres bisa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau
gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar
diri seseorang. Stres adalah peristiwa yang menekan
sehingga seseorang dalam keadaan tidak berdaya dan
biasanya menimbulkan dampak negatif, misalnya pusing,
tekanan

darah

tinggi,

mudah

marah,

sedih,

sulit

berkonsentrasi, nafsu makan berubah, tidak bisa tidur


ataupun merokok terus menerus (Helmi, 2000).
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang di sebabkan oleh
perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi oleh lingkungan
maupun penampilan individu didalam lingkungan. (Sunaryo, 2004).
Stres adalah sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar
terhadap bahaya ancaman. Stres memiliki dua komponen yakni perubahan
fisiologis dan psikogis. Perubahan keadaan fisik dan psikologis ini disebut
sebagai stresor (pengalaman yang menginduksi respon stres) (Pinel, 2009).
Jadi, dapat di simpulkan bahwa stres adalah suatu gangguan pada
tubuh dan pikiran yang di sebabkan oleh tuntutan kehidupan (tekanan
40

41

mental atau beban kehidupan) yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun


individu didalam lingkungan.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres pada Lansia
Stres pada lansia banyak di pengaruhi oleh beberapa faktor. Hardjana
dalam Puspasari (2009) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
stres pada lansia antara lain :
a. Faktor Internal
Faktor internal stres bersumber dari diri sendiri yang dapat dialami
lewat penyakit dan pertentangan, yaitu:
1) Penyakit (Illness)
Penyakit dapat mengakibatkan perubahan fungsi fisiologis
pada orang yang menderitanya. Perubahan fungsi tersebut dapat
mempengaruhi kehidupan seseorang sehingga dapat menyebabkan
stres pada lansia yang mengalaminya. Perubahan fungsi fisiologis
yang di alami seseorang tergantung pada penyakit yang
dideritanya.
2) Pertentangan (Konflik)
Hidup ini berupa berbagai pilihan, dalam proses memilih
itulah terjadi pertentangan (konflik) karena ada dua kekuatan
motivasi yang berbeda bahkan berlawanan. Berhadapan dengan
dorongan memilih yang berbeda dan berlawanan itu orang
mengalami stres. Saat membuat pilihan, ada dua dorongan yang
satu mendekat (approach) dan yang lain menghindar (avoidance).
Dari dorongan ini dapat tercipta tiga macam pertentangan
(konflik). Ada pertentangan antara mendekati dan mendekati
(approach-approach conflict), konflik ini terjadi bila kita
berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama baik. Bentuk
pertentangan yang ke dua adalah pilihan antara dua hal yang sama-

41

42

sama tidak diinginkan (avoidance conflict). Akhirnya bentuk


konflik yang ketiga adalah pendekatan dan penghindaran
(approach-avoidance conflict) yaitu pilihan antara yang diinginkan
dan yang tidak diinginkan
b. Faktor Eksternal
1) Keluarga
Keluarga dapat menjadi sumber stres tersendiri.
Stres dalam keluarga tersebut dapat disebabkan
karena

adanya

konflik

dalam

keluarga,

seperti

perilaku yang kurang terkendali adalah harapan,


keinginan dan cita-cita yang berlawanan, serta sifatsifat yang tidak dapat dipadukan. Keluarga juga
dapat

menjadi

peristiwa
keluarga

yang
yang

berkepanjangan,

sumber

stres

berkaitan
sakit,
dan

karena

dengan
apalagi

juga

para

peristiwaanggota

serius

kematian

dan

anggota

keluarga dapat mendatangkan stres berat bagi para


anggota keluarga yang ditinggalkan
2) Lingkungan
Lingkungan dibagi menjadi dua bagian yang pertama
lingkungan kerja dan yang kedua lingkungan hidup tempat tinggal.
Lingkungan kerja dapat menjadi sumber stres karena berbagai
alasan antara lain tuntutan kerja yang terlalu besar dan berat,
tanggung jawab atas keselamatan orang lain atau berkaitan dengan
orang lain, lingkungan fisik yang terlalu kotor dan berdebu, tidak
mempunyai rasa pengendalian kerja, hubungan antar manusia yang
buruk, serta kurang aman baik secara fisik maupaun psikis. Stres
42

43

dapat terjadi karena lingkungan tempat tinggal kita. Lingkungan


yang padat dapat menjadi sumber stres karena suara bising dan
keras.
3. Proses Terjadinya Stres
Epinefrin (adrenalin), suatu hormon stres, dilepaskan dari kelenjer
adrenal. Hormon ini beredar dalam tubuh untuk meningkatkan tekanan
darah dan denyut jantung, kecepatan pernafasan, dan mengubah proses
tubuh lainnya lainnya. Hasil respon stres adalah kewaspadaan, kesadaran,
keadaan tegang yang mempersiapkan seseorang untuk menghadapi
bahaya. Setelah kondisi stres terlewati, tubuh berelaksasi dan kembali
normal (Swarth, 2004).
Stres adalah reaksi dari tubuh (respon) terhadap lingkungan yang
dapat memproteksi diri kita yang juga merupakan bagian dari sistem
pertahanan yang membuat kita tetap hidup. Stres adalah kondisi yang tidak
menyenangkan dimana manusia melihat adanya tuntutan dalam suatu
situasi sebagai beban atau di luar batasan kemampuan mereka untuk
memenuhi tuntutan tersebut. Pandangan dari Patel (1996), stres merupakan
reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa di sebabkan oleh
berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi tantangantantangan (challenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman
(threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak
realistis dari lingkungan, dengan demikian, bisa di artikan bahwa stres
merupakan suatu sistem pertahanan tubuh dimana ada sesuatu yang
mengusik integritas diri, sehingga mengganggu ketentraman yang
dimaknai sebagai tuntutan yang luar biasa sehingga mengancam
keselamatan atau integritas seseorang (Nasir, 2011).

43

44

4. Gejala-Gejala Stres pada Lansia


Gejala dari stres akan lebih kelihatan pada lansia karena lansia lebih
rentan terhadap stres. Hardjana dalam Puspasari (2009) menjelaskan
beberapa contoh dari gejala-gejala stres, yaitu:
a. Gejala Fisikal
Gejala stres yang berkaitan dengan kondisi dan fungsi fisik atau
tubuh dari seseorang. Beberapa gejala yang sering dialami oleh lansia,
yaitu:
1) Sakit kepala dan pusing
2) Tidur tidak teratur : Insomnia (susah tidur), bangun
terlalu awal
3) Urat tegang-tegang terutama pada leher dan bahu
4) Berubah selera makan
5) Mudah lelah atau kehilangan daya energi
b. Gejala Emosional
Gejala stres yang berkaitan emosional pada lansia,
yaitu :
1) Gelisah atau cemas
2) Sedih, depresi, menangis
3) Mood atau suasana hati sering berubah-ubah
4) Mudah panas atau cepat marah
5) Rasa harga diri menurun atau merasa tidak aman
6) Terlalu peka dan mudah tersinggung
c. Gejala Intelektual
Stres juga berdampak pada intelektual. Gejala yang
paling sering muncul pada lansia, yaitu:
1) Susah berkonsentrasi dan memusatkan pikiran
2) Sulit membuat keputusan
3) Mudah lupa (pikun)
4) Daya ingat menurun
5) Melamun secara berlebihan
d. Gejala Interpersonal
Gejala stres yang yang berhubungan dengan
interpersonal, yaitu:
1) Kehilangan kepercayaan pada orang lain
2) Mudah menyalahkan orang lain

44

45

3) Suka

mencari-cari

kesalahan

orang

lain

atau

menyerang orang dengan kata-kata


4) Mendiamkan atau memusuhi orang lain
5. Macam-Macam Stres
Menurut Hawari pada tahun 2001 mengatakan bahwa kondisi stres
seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu :
a. Kondisi Eustres
Seseorang yang dapat mengatasi stres dan tidak ada gangguan pada
fungsi organ tubuh.
e. Kondisi Distres
Seseorang menghadapi stres terjadi gangguan pada satu atau lebih
organ tubuh sehingga orang tersebut tidak dapat menjalankan
fungsinya dengan baik.
6. Tingkatan Stres
Menurut Rasmun (2004), stres dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a. Stres Ringan
Stres ringan adalah stres yang tidak merusak aspek fisiologis dari
seseorang. Stres ringan umumnya dirasakan oleh setiap orang misalnya
lupa, ketiduran, dikritik, dan kemacetan. Stres ringan biasanya hanya
terjadi dalam beberapa menit atau beberapa jam. Situasi ini tidak akan
menimbulkan penyakit kecuali jika dihadapi terus menerus.
b. Stres Sedang
Stres sedang terjadi lebih lama, dari beberapa jam hingga beberapa
hari. Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan stres sedang adalah
kesepakatan yang belum selesai, beban kerja yang berlebihan,
mengharapkan pekerjaan baru, dan anggota keluarga yang pergi dalam
waktu yang lama.
c. Stres Berat
Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu
sampai beberapa tahun. Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan
stres berat adalah hubungan suami istri yang tidak harmonis, kesulitan
finansial, dan penyakit fisik yang lama.
45

46

7. Bahaya Stres bagi Kesehatan


Stres normal sebenarnya merupakan reaksi alamiah yang berguna,
karena stres akan mendorong kemampuan seseorang untuk mengatasi
kesulitan atau problem kehidupan. Tetapi, dalam kehidupan dunia modern
ini, banyaknya persaingan, tuntutan, dan tantangan yang menumpuk,
menjadi tekanan dan beban stres (ketegangan) bagi semua orang. Jika
tekanan stres terlampau besar hingga melampaui daya tahan individu,
maka akan timbul gejala- gejala seperti sakit kepala, mudah marah, tidak
bisa tidur; gejala- gejala itu merupakan reaksi non-spesifik pertahanan diri,
dan ketegangan jiwa itu akan merangsang kelenjar anak ginjal (corfex)
untuk melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih
cepat serta lebih kuat, sehinnga tekanan darah menjadi naik dan aliran
darah ke otak, paru-paru, dan otot perifer, meningkat. Jika stres
berlangsung cukup lama, tubuh akan berusaha mengadaknan penyesuaian
sehingga timbul perubahan patologis ( Anggota IKAPI, 2007: 13- 14).
Mengurangi stres dan menambah kemampuan menangkal dampak
negatif stres adalah penting sebagai penunjang penyembuhan. Tanpa usaha
mengurangi stres dan menambah daya tahan terhadap stres, maka stres
akan mudah kambuh lagi (Anggota IKAPI, 2005: 17).
8. Alat Ukur Stres
Dalam melakukan penilaian terhadap stres dapat digunakan
instrument Depression Anxiety Stres Scale (DASS 42) yang berjumlah 14
pernyataan yang terdapat dalam tem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27,
29, 32, 33, 35 dan 39.

46

47

Tabel 2.1. Kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS 42)


NO

Aspek Penilaian

1.

Menjadi marah karena hal- hal kecil


atau sepele

2.

Mulut terasa kering

3.

Tidak dapat melihat hal yang positif


dari suatu kejadian

4.

Merasakan
gangguan
dalam
bernafas (nafas cepat, sulit bernafas)

5.

Merasa sepertinya tidak kuat lagi


untuk melakukan sesuatu

6.

Cenderung bereaksi berlebihan pada


situasi

7.

Kelemahan pada anggota tubuh

8.

Kesulitan
bersantai

9.

Cemas yang berlebihan dalam suatu


situasi namun bisa lega jika hal atau
situasi itu berakhir

10.

Pesimis

11.

Mudah merasa kesal

12.

Merasa
banyak
menghabiskan
energi karena cemas

13.

Merasa sedih dan depresi

14.

Tidak sabaran

15.

Kelelahan

16.

Kehilangan minat pada banyak hal


( makan, ambulasi, sosialisasi)

17.

Merasa diri tidak layak

18.

Mudah tersinggung

untuk

relaksasi

47

atau

48

19.

Berkeringat
(misal:
tangan
berkeringat) tanpa stimulasi atau
cuaca maupun latihan fisik

20.

Ketakutan tanpa alasan yang jelas

21.

Merasa hidup tidak berharga

22.

Sulit untuk beristirahat

23.

Kesulitan dalam menelan

24.

Tidak dapat menikmati hal- hal yang


dilakukan

25.

Perubahan kegiatan jantung denyut


nadi tanpa stimulasi oleh latihan
fisik

26.

Merasa hilang ingatan dan putus asa

27.

Mudah marah

28.

Mudah panik

29.

Kesulitan untuk tenang


sesuatu yang mengganggu

30.

Takut diri terhambat oleh tugastugas yang tidak bisa dilakukan

31.

Sulit untuk antusias pada banyak hal

32.

Sulit
mentoleransi
gangguangangguan terhadap hal yang sedang
dilakukan

33.

Berada dalam keadaan tegang

34.

Merasa tidak berharga

35.

Tidak dapat memaklumi hal apapun


yang menghalangi anda untuk
menyelesaikan hal yang sedang
dilakukan

36.

Ketakutan

37.

Tidak ada harapan untuk masa depan

38.

Merasa hidup tidak berarti

48

setelah

49

39.

Mudah gelisah

40.

Khawatir dengan situasi saat diri


anda mungkin menjadi panik dan
mempermalukan diri sendiri

41.

Gemetar

42.

Sulit untuk meningkatkan inisiatif


dalam melakukan sesuatu

Keterangan dari tabel 2.1


0: Tidak ada atau tidak pernah
1: Sesuai dengan yang dialami sampai tingkat tertentu (kadang- kadang)
2: Sering
3: Sangat sesuai dengan yang dialami, atau hampir setiap saat (sangat
Sering).
(Nursalam: 2008).
Berdasarkan jurnal internasional dari Crawford & Henry (2003) yang
berjudul DASS : Normative data & latent structure in large non-clinical
sample dan Sohall Imam (2005) yang berjudul DASS:Resivited, DASS
42 dijabarkan dengan indikator-indikator pada tabel 2.2 sebagai berikut.
Tabel 2.2 Indikator Kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS
42)
Indikator
- Tidak ada perasaan positif
- Tidak bisa berkembang
- Tidak ada harapan
- Sedih, murung, tertekan
- Tidak ada minat
Depression
- Orang yang tidak berharga
- Hidup tak berguna dan tidak berarti
- Tidak mendapat kesenangan
- Tidak antusias
- Sulit berinisiatif
Anxiety - Mulut kering
- Sesak nafas
- Serinng gemetar
- Berada di situasi cemas
49

No Soal
3
5
10, 37
13, 26
16
17
21, 34, 38
24
31
42
2
4
7, 41
9

50

Stress

- Pusing
- Berkeringat tanpa sebab
- Ketakutan
- Sulit menelan
- Sadar akan aksi gerak jantung
- Dekat dengan kepanikan
- Tidak berdaya
- Jengkel dengan hal yang kecil
- Reaksi berlebihan
- Sulit rileks
- Energi yang terbuang percuma
- Tidak sabaran
- Menjengkelkan bagi orang lain
- Sulit mentolelir gangguan
- Tegang
- Gelisah

15
19
20, 36
23
25
28, 40
30
1, 11, 18
6
8, 22, 29
12
14
27
32, 35
33
39

Kemudian mengkatagorikan menjadi tingkatan stres yaitu:


a. Stres normal dengan skor 0- 14
b. Stres ringan dengan skor 15- 18
c. Stres sedang dengan skor 19- 25
d. Stres berat dengan skor 26- 33
e. Stres sangat berat 34 ( Devilly, 2005).
C. Relaksasi Benson
1. Pengertian Relaksasi
Relaksasi adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran dan tubuh
menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan
melepaskan ketegangan otot di setiap tubuh. Melakukan relaksasi seperti
ini dapat menurunkan rasa lelah yang berlebihan dan menurunkan stres,
serta berbagai gejala yang berhubungan dengan stres, seperti sakit kepala,
migren, insomnia, dan depresi (Potter dan Perry 2005). Relaksasi
merupakan upaya pengurangan ketegangan sehingga orang yang
mengalami stres mampu beradaptasi dan mengendalikan stres yang
dialami (Chomaria, 2009).
Individu dapat mengubah persepsi kognitif dan motivasi-afektif
dengan melakukan relaksasi. Relaksasi merupakan upaya membebaskan

50

51

pikiran dan tubuh dari ketegangan melalui latihan dan upaya sadar. Teknik
relaksasi memberikan kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman, stres
fisik, dan emosi. Teknik relaksasi dapat digunakan pada individu dalam
kondisi sakit atau sehat. Teknik relaksasi merupakan upaya pencegahan
untuk membantu tubuh segar kembali dan beregenerasi setiap hari.
Individu yang menggunakan teknik relaksasi dengan benar akan
mengalami beberapa perubahan fisiologis dan perilaku. Relaksasi agar
dapat dilakukan dengan efektif, maka diperlukan partisipasi individu dan
kerja sama (Potter dan Perry 2005).
2. Relaksasi Benson
Relaksasi Benson merupakan suatu teknik relaksasi pernafasan
dengan melibatkan faktor keyakinan (Purwanto, 2007). Relaksasi Benson
dapat digunakan untuk penurunan ketegangan, atau mencapai kondisi
tenang seperti menghilangkan nyeri, stres, kecemasan, insomnia,
penurunan tekanan darah, dan depresi (Setyowati, 2004). Pada teknik
relaksasi ini sangat fleksibel dapat dilakukan dengan bimbingan mentor,
bersama-sama atau sendiri. Teknik ini merupakan upaya untuk
memusatkan perhatian pada suatu fokus dengan menyebut frase atau
kalimat sesuai dengan keyakinan yang di anut secara berulang-ulang dan
menghilangkan berbagai pikiran yang mengganggu. Teknik relaksasi ini
dapat dilakukan setengah jam dua kali sehari (Setyowati, 2004).
Keuntungan dari relaksasi Benson ini selain mendapatkan manfaat
dari relaksasi juga mendapatkan manfaat dari penggunaan keyakinan
seperti menambah keimanan. Hubungan antara religius atau keimanan
dengan penyembuhan telah dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan
oleh David B. Larson dan Mr. Constance P. B. menemukan bukti bahwa

51

52

faktor keimanan memiliki pengaruh yang luas dan kuat terhadap


kesehatan.
3. Prosedur Teknik Relaksasi Benson
Teknik relaksasi ini dapat dilakukan setengah jam dua kali sehari
(Setyowati, 2004). Langkah-langkah relaksasi Benson menurut Datak
(2008) adalah sebagai berikut:
a. Usahakan situasi dan lingkungan tenang dan nyaman.
b. Anjurkan memilih tempat yang disenangi.
c. Anjurkan mengambil posisi tidur terlentang atau duduk yang dirasakan
paling nyaman.
d. Anjurkan untuk memejamkan mata dengan pelan tidak perlu untuk
dipaksakan sehingga tidak ada ketegangan otot sekitar mata.
e. Anjurkan untuk mengendurkan otot serileks mungkin, mulai dari kaki,
betis, paha, perut, dan lanjutkan ke semua otot tubuh. Tangan dan
lengan diulurkan kemudian kendurkan dan biarkan terkulai di samping
tubuh dan usakan agar tetap rileks.
f. Mulai bernafas dengan lambat dan wajar, dan ucapkan dalam hati frase
atau kata sesuai dengan keyakinan anda. Sebagai contoh anda dapat
menggunakan frase yaa Allah. Pada saat mengambil nafas disertai
dengan mengucapkan kata yaa dalam hati, setelah selesai keluarkan
nafas dengan mengucapkan Allah dalam hati, sambil terus melakukan
langkah ini, lemaskan seluruh tubuh disertai dengan sikap pasrah
kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap pasif yang diperlukan
dalam relaksasi, dari sikap pasif akan muncul efek relaksasi yaitu
ketenangan. Kata atau kalimat yang akan diucapkan dapat diubah atau
disesuaikan dengan keyakinan klien.
g. Teruskan selama 15 menit, diperbolehkan membuka mata untuk
melihat waktu tetapi jangan menggunakan alarm. Bila sudah selesai

52

53

tetap berbaring dengan tenang beberapa menit, mula-mula mata


terpejam dan sesudah itu mata dibuka.
Contoh kata atau frase yang menjadi fokus sesuai dengan keyakinan
adalah Allah, atau nama-namaNya dalam Asmaul Husna, kalimat-kalimat
untuk berzikir seperti Alhamdulillah; Subhanallah; dan Allahu Akbar.

Gambar 2.1 Posisi Relaksasi Benson

4. Cara Kerja Teknik Relaksasi Benson terhadap Stres


Proses pernafasan yang tepat merupakan penawar stres. Proses
pernafasan merupakan proses masuknya O2 melalui saluran nafas
kemudian masuk keparu dan diproses kedalam tubuh, kemudian
selanjutnya diproses dalam paru-paru tepatnya di bronkus dan diedarkan
keseluruh tubuh melalui pembuluh vena dan nadi untuk memenuhi
kebutuhan akan O2. Apabila O2 dalam otak tercukupi maka manusia
berada dalam kondisi seimbang (Risnas, 2005). Pengguanaan frase yang
bermakna dapat digunakan sebagai fokus keyakinan, sehingga dipilih kata

53

54

yang memiliki kedalaman keyakinan. Dengan menggunakan kata atau


frase dengan makna khusus akan mendorong efek yang menyehatkan.
Semakin kuat keyakinan seseorang bercampur dengan respon relaksasi,
maka semakin besar pula efek relaksasi yang didapat. Pilihan frase yang
dipilih sebaiknya singkat untuk diucapkan dalam hati saat mengambil dan
menghembuskan nafas secara normal. Frase tersebut mudah diucapkan dan
mudah diingat. Tujuan dari relaksasi secara umum adalah untuk
mengendurkan ketegangan, yaitu pertama-tama jasmaniah yang pada
akhirnya mengakibatkan mengendurnya ketegangan jiwa (Purwanto,
2007).
Relaksasi ini dapat menyebabkan pengaktifan dari saraf parasimpatis
dan penurunan aktifitas sistem saraf simpatis yang akhirnya dapat sedikit
melebarkan arteri dan melancarkan peredaran darah yang kemudian dapat
meningkatkan transport oksigen ke seluruh jaringan terutama ke perifer.
Masing-masing saraf parasimpatis dan simpatis saling berpengaruh, maka
dengan bertambahnya salah satu aktivitas sistem yang satu akan
menghambat atau menekan fungsi yang lain. Selama sistem-sistem
berfungsi normal dalam keseimbangan, bertambahnya aktivitas sistem
yang satu akan menghambat atau menekan efek sistem yang lain
(Purwanto, 2007).
Relaksasi ini dilakukan dengan melakukan inspirasi panjang yang
nantinya akan menstimulasi secara perlahan-lahan reseptor regang paru.
Keadaan ini mengakibatkan rangsang atau sinyal dikirimkan ke medula
yang memberikan informasi tentang peningkatan aliran darah. Informasi
ini akan diteruskan ke batang otak, akibatnya saraf parasimpatis

54

55

mengalami peningkatan aktifitas dan saraf simpatis mengalami penurunan


aktifitas pada kemoreseptor, sehingga respon akut peningkatan tekanan
darah akan menurunkan frekuensi denyut jantung dan terjadi vasodilatasi
pada sejumlah pembuluh darah (Rice, 2006).
HPA (Hypothalamus-Pituitari-Adrenal) merupakan pengatur sistem
neuendokrin, metabolisme serta gangguan perilaku. HPA terdiri dari 3
komponen

yaitu

Corticotropin

Releasing

Hormone

(CRH),

Adrenocorticotropin Hormone (ACTH), dan kortisol. Corticotropin


Releasing Hormone (CRH) menstimulasi Adrenocorticotropin Hormone
(ACTH),

selanjutnya

Adrenocorticotropin

Hormone

(ACTH)

menstimulasi korteks adrenal untuk menghasilkan kortisol untuk mengatur


keseimbangan sekresi Corticotropin Releasing Hormone (CRH) dan
Adrenocorticotropin

Hormone

(ACTH).

Hiperaktivitas

dari

HPH

merupakan akibat dari redusi baik jumlah maupun fungsi dari reseptor
kortisol pada lansia.
HPA dan serotonergik berkaitan erat dimana sistem limbik mengatur
bangun atau terjaga dari tidur, rasa lapar, dan dalam emosi atau pengaturan
mood (Purba, 2006). Orang mengalami ketegangan yang bekerja adalah
sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu rileks yang bekerja adalah
sistem saraf parasimpatetis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa
tegang sehingga timbul perasaan rileks dan penghilangan. Perasaan rileks
akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin
Releasing Hormone (CRH) dan Corticotropin Releasing Hormone (CRH)
mengaktifkan anterior pituitary untuk mensekresi enkephalin dan
endorphin yang berperan sebagai neotransmiter yang mempengaruhi

55

56

suasana hati menjadi rileks dan senang. Di samping itu, anterior pituitary
sekresi Adrenocorticotropic hormone (ACTH) menurun, kemudian
Adrenocorticotropic hormone (ACTH) mengontrol adrenal cortex untuk
mengendalikan sekresi kortisol. Menurunnya kadar Adrenocorticotropic
hormone (ACTH ) dan kortisol menyebabkan stres dan ketegangan
menurun (Sholeh, 2006).

56

57

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah hubungan antara konsep yang satu
dengan konsep yang lain dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang
telah diuraikan pada tinjauan pustaka. Konsep dalam hal ini adalah suatu
abstraksi atau gambaran yang dibangun guna menggeneralisasikan pengertian
(Notoadmodjo, 2002).
Berdasarkan hal di atas maka peneliti ingin meneliti pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia. Pada kerangka konsep
yang menjadi variabel independen adalah teknik relaksasi Benson, sedangkan
variabel dependen adalah stres pada lansia. Variabel di atas akan menjadi
dasar dalam pembuatan kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut.

Pretest
Stres

Skema : 3.1 Kerangka Konsep


Perlakuan
Teknik Relaksasi
Benson

57

Posttest
Stres

58

B. Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan sementara jawaban sementara dari suatu
penelitian yang akan dibuktikan dalam penelitian (Notoadmodjo, 2005).
Hipotesis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
Ha : Ada pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia
di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
tahun 2016.
Ho: Tidak ada pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada
lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar tahun 2016.

58

59

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment dengan pendekatan
one group prestest posttest design, suatu penelitian untuk menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara memberikan satu perlakuan
teknik

relaksasi

Benson

kepada

satu

kelompok

eksperimental

dan

membandingkan hasil sebelum diberikan perlakuan teknik relaksasi Benson.


Pengukuran dilakukan pada responden, sebelum dan sesudah perlakuan
sehingga diperoleh dua hasil pengukuran (Notoadmodjo, 2010).
Rancangan penelitian ini adalah :
R
O1
XI
O2
Keterangan :
R

= Responden penelitian

O1

= Pre test pada responden sebelum teknik relaksasi Benson


diberikan

X1

= Perlakuan teknik relaksasi Benson

O2

= Post test pada responden setelah teknik relaksasi Benson


diberikan

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PSTW Kasih Sayang Ibu Cubadak
Batusangkar.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Maret-April 2016.
C. Polulasi dan Sampel
1. Populasi

59

60

Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di Panti


Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar 2016 yang
berjumlah 70 orang.
2. Sampel
Pada penelitian ini peneliti menggunakan non probability sampling
(purposive sampling), yaitu metode penetapan responden untuk dijadikan
sampel berdasarkan kriteria inklusi (Siregar, 2013). Untuk menentukan
ukuran besar sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan rumus
menurut Sopiyudin (2010), yaitu:
Z Z S
n

x1 x 2

1,64 1,28 4

n 15,15

n 15

60

61

Keterangan :

= Besar sampel

= 1,64 (Deviat baku alfa, kesalahan tipe I ditetapkan


sebesar 5%)

= 1,28 (Deviat baku beta, kesalahan tipe II ditetapkan 10%)

x1 x 2

= 3 adalah selisih minimal yang dianggap bermakna

= 4 adalah simpang baku dari selisih nilai antar kelompok


Dari perhitungan diatas, besar sampel dalam penelitian ini adalah

15,15 orang yang dibulatkan menjadi 15 orang. Sampel dalam penelitian


ini adalah 15 orang berdasarkan keinginan dan kriteria inklusi. Dalam
penelitian ini peneliti juga menggunakan sistem drop out, artinya apabila
ada sampel yang drop out maka akan diganti dengan sampel yang sama
dan sesuai dengan kriteria inklusi dari sampel tersebut. Hal ini bertujuan
agar sampel yang dibutuhkan terpenuhi. Menurut Sastroasmoro & Ismael
(2008) adapun untuk rumus untuk penambahan subjek dalam penelitian ini
sebagai berikut:
n'

n
1 f

Keterangan:
n

= ukuran sampel

= ukuran sampel asli

1-f

= perkiraan porposi drop out, yang diperkirakan 10% (f=0,1)

Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah:


n'

15
16,7
1 0,1

61

62

n= 16,7 dibulatkan menjadi 17 responden


D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi merupakan karakteristik umum yang dimiliki subjek
penelitian pada populasi target dan populasi terjangkau (Sastroasmoro &
Ismael, 2008). Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
a. Lansia yang tinggal di PSTW Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
b. Lansia yang stres berdasarkan nilai DASS
c. Lansia yang sehat
d. Lansia yang beragama Islam
e. Lansia yang mampu berkomunikasi kooperatif.
f. Bersedia menjadi responden
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi (kriteria yang tidak layak

diteliti) adalah

menghilangkan/mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi


(Setiadi, 2013) dan merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak
dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel
penelitian (Hidayat, 2012). Adapun kriteria eksklusi dalam penelitian ini
adalah:
a. Lansia tidak berada di tempat saat pengambilan data
b. Lansia yang demensia
c. Lansia yang buta
d. Lansia yang memiliki gangguan pendengaran
E. Defenisi Operasional
Tabel 4.1. definisi operasional

62

63

Variabel
Karakteristik
responden

Definisi
Operasional
Jenis
kelamin,
umur

Cara Ukur

Alat Ukur

Wawancara Kuesioner
terpimpin

Skala
Ukur

Hasil Ukur

Nominal 1: Laki-laki
2: Perempuan
1 : Lansia
awal (6074)
2 : Lansia
akhir (
75)

Dependen
Tingkat Stres

Reaksi atau
respons tubuh
terhadap
stresor
psikososial
(tekanan
mental atau
beban
kehidupan)

Independen
Teknik

Suatu teknik Durasi


relaksasi
responden

Wawancara
sesuai
dengan
kuesioner

63

Kuesioner
Ordinal
DASS 42.
DASS
42
adalah
seperangkat
skala
subjektif
yang
dibentuk
untuk
mengukur
status
emosional
negatif dari
depresi,
kecemasan,
dan
stres.
Kuesioner
ini
terdiri
dari 42 butir
pernyataan
di
mana
kuesioner
stres DASS
42
berjumlah
14
pernyataan
yang
terdapat
dalam tem
nomor 1, 6,
8, 11, 12,
14, 18, 22,
27, 29, 32,
33, 35 dan
39.

Lembar
observasi

Nominal

Tingkat stres
dibagi
menjadi:
1. Normal
(0-14)
2. Ringan
(15-18)
3. Sedang
(19-25)

Berpengaruh
dengan
p

64

relaksasi
Benson

pernafasan
dengan
melibatkan
faktor
keyakinan

dalam
melakukan
teknik
relaksasi
Benson
selama

value= 0,000

setengah
jam
dua
kali sehari
(Setyowati,
2004)
F. Instrumen Penelitian
Instrumen memiliki peran penting dalam sebuah penelitian. Instrumen
berperan dalam memperoleh data yang digunakan dalam sebuah penelitian,
untuk selanjutnya diteliti dan ditarik kesimpulan sebagai hasil penelitian.
Dalam penelitian ini menggunakan instrumen atau alat mengumpul data
dengan alat ukur tingkat stres kuesioner yang sudah tervalidasi adalah
Depression Anxiety and Stres Scale (DASS) 42 yang disusun oleh Lovibond
dan Lovibond (1995). Kuesioner DASS 42 adalah Kuesioner ini terdiri dari
42 butir pernyataan di mana kuesioner stres berjumlah 14 pernyataan yang
terdapat dalam tem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35 dan
39. Peneliti menggunakan kuesioner DASS yang sudah diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia oleh Damanik (2006). Peneliti menggunakan skala
likert, untuk mengukur dengan nilai scoring jika jawaban tidak pernah
bernilai 0, kadang-kadang bernilai 1, sering bernilai 2 dan sangat sering
bernilai 3. Dari pernyataan kuesioner DASS 42 yang berjumlah 14 pernyataan
dengan keterangan 0: tidak pernah, 1: kadang-kadang, 2: sering, 3: sangat
sering (Nursalam: 2008). Kemudian mengakategorikan menjadi tingkatan
stres yaitu stres normal dengan skor 0-14, stres ringan dengan skor 15-18,

64

65

stres sedang dengan skor 19-25, stres berat dengan 26-33, stres sangat berat
34 (Devilly, 2005).
G. Etika Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian, peneliti mengurus proses penelitian dan
perizinan dari program Studi Ilmu Keperawatan Stikes yarsi Sumbar.
Kemudian mengunjungi PSTW Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar untuk
memperoleh izin melakukan penelitian dan mencari responden yang sesuai
dengan kriteria sampel. Sebelum penelitian dilakukan semua responden diberi
informasi tentang tujuan penelitian dan kerahasiaan data yang dijawab
sehingga terjadi kerjasama yang baik, setiap responden berhak untuk menolak
atau menyetujui sebagai objek penelitian. Setelah mendapatkan persetujuan,
peneliti memulai melakukan penelitian dengan menekankan etika penelitian
sebagai berikut :
1. Informed consent
2. Persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti dan
memenuhi kriteria sebagai responden, bila subjek menolak maka peneliti
tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.
3. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaa tidak mencatumkan nama responden di
lembaran tersebut tetapi hanya diberi kode atau inisial.
4. Confidentiality
Kerahasiaan

informasi responden di jamin peneliti dan hanya

digunakan untuk tujuan penelitian dan menjadi tanggung jawab peneliti.


5. Kejujuran
Jujur dalam pengumpulan bahan pustaka, pelaksanaan metode dan
prosedur penelitian, publikasi hasil, jujur pada kekurangan atau kegagalan
metode yang dilakukan. Hargai rekan peneliti, jangan mengklaim
pekerjaan yang bukan pekerjaan anda sebagai pekerjaan anda.
6. Objektivitas

65

66

Upaya minimalisasi kesalahan/ bias dalam rancangan percobaan


analisis dan interprestasi data, penilaian ahli/ rekan peneliti, keputusan
pribadi, pengaruh pemberi dana/ sponsor penelitian.
7. Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus,
upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.
8. Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidakpedulian secara
teratur catat pekerjaan yang anda rekan anda kerjakan.
9. Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya
penelitian terbuka terhadap kritik dan ide-ide yang baru.

H. Pengumpulan dan Analisa Data


1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dari data primer,
merupakan data yang diperoleh dari pengisian kuesioner oleh lansia yang
menjadi responden dalam penelitian. Untuk menyaring informasi yang
ingin diketahui sesuai dengan tujuan penelitian, alur pikir dan variabel
yang kan diukur dan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari
PSTW Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar tahun 2016.
Penelitian melakukan pengumpulan data dengan cara menyebarkan
kuesioner DASS 42 berjumlah 14 pernyataan yang terdapat dalam tem
nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35 dan 39 pada lansia
yang ada di PSTW, kemudian peneliti memilih sampel dengan cara
purposive sampling, setelah itu peneliti memberikan infrom concent, jika
sampel yang ditemukan lebih dari 17 orang, maka peneliti melakukan
simple random sampling, kemudian lansia akan diberikan intervensi teknik
relaksasi Benson dengan durasi 15 menit selama 2 kali setiap hari dalam

66

67

seminggu, setelah itu lansia diberikan lagi kuesioner DASS 42 berjumlah


14 pernyataan yang terdapat dalam tem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22,
27, 29, 32, 33, 35 dan 39 untuk mengetahui apakah ada pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia. Penelitian diakhiri
dengan mengucapkan terima kasih pada responden atas kerja samanya.

67

68

17 orang
lansia
stres

Teknik relaksasi
benson

17 orang
lansia
stres

Skema 4.1. Bagan Pengumpulan Data dengan Rancangan Penelitian


Ukur tingkat
Ukur tingkat
One Group Prestest Posttest Design stres
stres
Prosedur mengumpulkan data dalam penelitian ini sebagai berikut.
a. Prosedur Administratif
1) Mendapatkan surat permohonan izin penelitian dari pihak instansi
pendidikan Stikes Yarsi Sumbar Bukittinggi.
2) Mendapatkan izin penelitian dari kepala Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar.
b. Prosedur Teknis
1) Meminta izin kepada penanggung jawab di Panti Sosial Tresna
Werdha

Kasih

Sayang

Ibu

Cubadak

Batusangkar

untuk

mengsosialisasikan maksud dan tujuan penelitian.


2) Menentukan responden yang memenuhi kriteria inklusi sesuai dengan
teknik pengambilan sampel.
3) Meminta kesediaan responden untuk menjadi sampel dan terlebih
dahulu dan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian.
4) Meminta dengan sukarela kepada responden untuk menandatangani
lembar informed consent.
5) Melakukan pengukuran terhadap tingkat stres pada lansia dengan alat
ukur kuesioner DASS 42 berjumlah 14 pernyataan yang terdapat
dalam tem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35 dan
39.
6) Kemudian lansia akan diberikan intervensi teknik relaksasi Benson
dengan durasi 15 menit selama 2 kali setiap hari dalam seminggu.
7) Setelah itu lansia diberikan lagi kuesioner DASS 42 berjumlah 14
pernyataan yang terdapat dalam tem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18,

68

69

22, 27, 29, 32, 33, 35 dan 39 untuk mengetahui apakah ada pengaruh
teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia
8) Mengumpulkan hasil pengumpulan data untuk selanjutnya diolah
dan dianalisis.
2. Analisa Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis data unuvariat
dan bivariat. Untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis data maka
peneliti menggunakan program komputer.
a. Analisa Univariat
Analisa ini menggunakan uji statistik deskriptif untuk mengetahui
distribusi frekuensi atau tabel frekuensi. Pada penelitian ini variabel
bebas yaitu perlakuan intervensi dengan menggunakan teknik relaksasi
Benson. Hasil dari analisa ini berupa distribusi frekuensi dan
persentase dari masing-masing variabel maupun mean, median, modus,
varians, serta standar deviasi. Adapun gambaran dari bentuk distribusi
frekuensinya adalah karakteristik pasien yang meliputi: umur, jenis
kelamin, stres sebelum diberikan teknik relaksasi Benson dan stres
sesudah diberikan teknik relaksasi Benson.
b. Analisa Bivariat
Analisis ini dilakukan setelah karakteristik masing-masing
variabel diketahui. Data analisis untuk mengetahui apakah ada
pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel
dependen. Perhitungan bivariat pada penelitian ini menggunakan
dependent t-test (paired sample t-test). Pengujian ini dilakukan dengan
membuktikan hipotesis perbedaan rerata pengaruh teknik relaksasi
Benson terhadap tingkat stres pada lansia, dengan kepercayaan 95%
atau nilai p=0,05. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik
digunakan batasan kemaknaan =0,05 sehingga jika nilai p 0,05,

69

70

maka hasil uji statistik bermakna artinya Ha diterima dan Ho ditolak,


jika nilai p >0,05 maka secara statistik disebut tidak bermakna artinya
Ha ditolak dan Ho diterima. Pengolahan data dibantu dengan sistem
komputerisasi.

70

71

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penelitian


Bab ini akan menguraikan mengenai hasil dan pembahasan penelitian
mengenai pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada di
Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun
2016, dengan jumlah responden sebanyak 15 lansia. Penelitian ini dilakukan
di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)
Kasih Sayang Ibu Cubadak, Batusangkar terletak di JL. Batusangkar, Padang
Panjang, Km. 7, Cubadak Lima Kaum yang dilakukan sejak tanggal 21 Maret
sampai 4 April 2016. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Panti Sosial
Tresna Werdha (PSTW) Kasih

Sayang Ibu Cubadak, Batusangkar ini

merupakan salah satu milik Dinas Sosial Propinsi Sumatera Barat. Jumlah
penghuni di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu Cubadak,
Batusangkar ini sebanyak 70 lansia yang terdiri dari 43 lansia laki-laki dan 27
lansia perempuan. Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih Sayang Ibu
Cubadak, Batusangkar terdapat 8 wisma, kantor, aula, dapur, poliklinik,
workshop, rumah dinas, mushallah untuk berkumpul untuk kegiatan shalat,
mengaji, bimbingan keagamaan.
Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 21 Maret sampai 4 April 2016,
pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan
wawancara tersruktur untuk tingkat stres pada lansia dengan menggunakan
kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS) dengan penilaian: normal
(0- 14), ringan (15- 18), sedang (19- 25), berat (26- 33), sangat berat( 34).

71

72

Penelitian ini dengan melakukan pemberian teknik relaksasi Benson


dalam dua kali setiap hari selama seminggu dengan durasi lima belas menit.
Dari 70 lansia didapatkan yang memenuhi kriteria inklusi untuk diberikan
kuesioner DASS dengan 14 pernyataan adalah 45 lansia. Setelah diberikan
kuesioner DASS dengan 14 pernyataan kepada 45 lansia didapatkan 31 lansia
yang mengalami stres diantaranya 8 mengalami stres sedang dan 23 lansia
mengalami stres ringan. Minimal sampel dalam penelitian ini sebanyak 17
responden dimana dilakukan dengan purposive sampling yaitu responden yang
mengalami stres sedang sebanyak 8 orang 9 responden yang mengalami stres
ringan.
Hasil penelitian ini dikelompokkan menjadi dua yaitu data umum
mengenai karakteristik responden dan data khusus yaitu tingkat stres pada
lansia dan hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian yaitu hasil univariat
dan bivariat.

B. Analisa Univariat
1. Karakteristik Responden
Data umum menggambarkan karakteristik responden penelitian di
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kasih

Sayang Ibu Cubadak,

Batusangkar, yang meliputi umur dan jenis kelamin. Karakteristik


responden berdasarkan umur digolongkan yaitu pada umur 60-74 tahun
merupakan lansia awal dan 75 tahun merupakan lansia akhir. Jenis
kelamin dibedakan menjadi lansia laki-laki dan perempuan.
Penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 21 Maret sampai 4 April
2016 di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak

72

73

Batusangkar, maka karakteristik responden dapat tergambarkan pada tabel


dibawah ini.
a. Jenis Kelamin
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Panti
Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
Tahun 2016
Karakteristik Responden

Frekuensi (n)

Persentase (%)

9
6
15

60.0
40.0
100

Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa lebih dari separoh


responden 9 orang (60.0%) berjenis kelamin laki-laki.
b. Umur
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Panti Sosial
Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
Tahun 2016
Karakteristik Responden

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Umur
60-74 tahun : Lansia Awal
75 tahun : Lansia Akhir
Jumlah

7
8
15

46.7
53.3
100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa lebih dari separoh


responden 8 orang (53.3%) berusia 75 tahun dengan kategori lansia
akhir.
2. Tingkat Stres Sebelum Diberikan Teknik Relaksasi Benson
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden dengan Tingkat Stres Sebelum Diberikan
Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Cubadak Batusangkar Tahun 2016
Tingkat Stres

Frekuensi (n)

Persentase (%)

7
8
15

46.7
53.3
100

Ringan
Sedang
Jumlah

73

74

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa lebih dari separoh


responden 8 orang (53.3%) mengalami stres sedang sebelum diberikan
teknik relaksasi Benson.

74

75

Berikut adalah hasil kuesioner penelitian menurut pernyataan


penelitian.
Tabel 5.4
Analisa Kuesioner DASS Berjumlah 14 Pernyataan tentang Stres Sebelum
Diberikan Teknik Relaksasi Benson
NO

Pernyataan

Tidak
Pernah

KadangKadang

Sangat
Sering

Sering

Saya merasa bahwa diri saya menjadi


marah karena hal-hal sepele.
Saya cenderung bereaksi berlebihan
terhadap suatu situasi.

6.7

14

93.3

15

100

3.

Saya merasa sulit untuk bersantai.

6.7

60.0

33.3

4.

Saya menemukan diri saya mudah


merasa kesal.
Saya merasa telah menghabiskan
banyak energi untuk merasa cemas.

14

93.3

6.7

46.7

53.3

6.

Saya menemukan diri saya menjadi


tidak
sabar
ketika
mengalami
penundaan (misalnya: kemacetan lalu
lintas, menunggu sesuatu).

15

100

7.

Saya merasa bahwa saya mudah


tersinggung.

10

66.7

33.3

8.

Saya merasa sulit untuk beristirahat.

6.7

26.7

10

66.7

9.

Saya merasa saya hampir panik.

14

93.3

6.7

10.

Saya merasa sulit untuk tenang setelah


sesuatu membuat saya kesal.

46.7

53.3

11.

Saya sulit untuk sabar dalam


menghadapi gangguan terhadap hal
yang sedang saya lakukan.

12

80.0

20.0

12.

Saya sedang merasa gelisah.

14

93.3

6.7

13.

Saya tidak dapat memaklumi hal


apapun yang menghalangi saya untuk
menyelesaikan hal yang sedang saya
lakukan.

14

93.3

6.7

14.

Saya menemukan diri saya mudah


gelisah.

14

93.3

6.7

1.
2.

5.

75

76

Berdasarkan tabel diatas persentase tertinggi yang menjawab sering


terdapat pada pernyataan, saya sedang merasa gelisah dan saya
menemukan diri saya mudah gelisah (93.3%) sebelum diberikan teknik
relaksasi Benson.
3. Tingkat Stres Sesudah Diberikan Teknik Relaksasi Benson
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden dengan Tingkat Stres Sesudah Diberikan
Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Cubadak Batusangkar Tahun 2016
Tingkat Stres

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Normal
8
53.3
Ringan
6
40.0
Sedang
1
6.7
Jumlah
15
100
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian kecil
responden 1 orang (6.7%) mengalami stres sedang setelah diberikan teknik
relaksasi Benson.

76

77

Berikut adalah hasil kuesioner penelitian menurut pernyataan


penelitian.
Tabel 5.6
Analisa Kuesioner DASS Berjumlah 14 Pernyataan tentang Stres Sesudah
Diberikan Teknik Relaksasi Benson
NO

Pernyataan

Tidak
Pernah

KadangKadang

Sangat
Sering

Sering

Saya merasa bahwa diri saya menjadi


marah karena hal-hal sepele.
Saya cenderung bereaksi berlebihan
terhadap suatu situasi.

33.3

10

66.7

6.7

14

93.3

3.

Saya merasa sulit untuk bersantai.

13.3

12

80.0

6.7

4.

Saya menemukan diri saya mudah


merasa kesal.
Saya merasa telah menghabiskan
banyak energi untuk merasa cemas.

20.0

12

80.0

14

93.3

6.7

6.

Saya menemukan diri saya menjadi


tidak
sabar
ketika
mengalami
penundaan (misalnya: kemacetan lalu
lintas, menunggu sesuatu).

15

100

7.

Saya merasa bahwa saya mudah


tersinggung.

6.7

13

86.7

6.7

8.

Saya merasa sulit untuk beristirahat.

13.3

40.0

46.7

9.

Saya merasa saya hampir panik.

6.7

14

93.3

10.

Saya merasa sulit untuk tenang setelah


sesuatu membuat saya kesal.

14

93.3

6.7

11.

Saya sulit untuk sabar dalam


menghadapi gangguan terhadap hal
yang sedang saya lakukan.

6.7

14

93.3

12.

Saya sedang merasa gelisah.

13.3

53.3

33.3

13.

Saya tidak dapat memaklumi hal


apapun yang menghalangi saya untuk
menyelesaikan hal yang sedang saya
lakukan.

6.7

14

93.3

14.

Saya menemukan diri saya mudah


gelisah.

13.3

53.3

33.3

1.
2.

5.

77

78

Berdasarkan tabel diatas persentase tertinggi yang menjawab sering


terdapat pada pernyataan, saya merasa sulit untuk beristirahat (46.7%)
sesudah diberikan teknik relaksasi Benson.
C. Analisa Bivariat
1. Perbedaan Tingkat Stres Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik
Relaksasi Benson
Tabel 5.7
Distribusi Rata-Rata Perbedaan Tingkat Stres pada Lansia Sebelum dan
Sesudah Diberikan Teknik Relaksasi Benson di Panti Sosial Tresna
Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016
Stres
Pretest
Posttest

N
15
15

Mean
18.73
14.00

SD
2.154
2.673

t hitung

df

Pvalue

14.992

14

0.000

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa rata-rata perbedaan


sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi Benson adalah 4.73. Setelah
dilakukan uji paired sample t test didapatkan bahwa terdapat pengaruh
teknik relaksasi Benson terhadap penurunan stres pada lansia, dengan
dibuktikan nilai t hitung (14.992) dan nilai t tabel (2.145), jadi nilai t
hitung>dari t tabel. Hal ini juga diperkuat dengan nilai p=0,000. Hal ini
berarti p value < 0,05, sehingga Ha diterima, artinya bahwa teknik relaksasi
Benson berpengaruh terhadap penurunan stres pada lansia dan adanya
perbedaan rata-rata tingkat penurunan stres sebelum dan sesudah teknik
relaksasi Benson diberikan di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Cubadak Batusangkar Tahun 2016.

78

79

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Analisa Univariat
1. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separoh
responden 9 orang (60.0%) berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
sebanyak 6 orang (40%) di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang
Ibu Cubadak Batusangkar.
Hasil penelitian ini berbeda dengan Penelitian Putri (2012)
tentang gambaran lansia pada jenis kelamin di Panti Sosial Tresna
Werdha Bondowoso menunjukkan bahwa lebih dari separoh responden
10 orang (66.67%) berjenis kelamin perempuan dan laki-laki sebanyak
5 orang (33.33%).
Menurut peneliti bahwasanya banyaknya laki-laki dibandingkan
dengan perempuan pada penelitian ini disebabkan oleh banyaknya
jumlah laki-laki dibandingkan perempuan dimana laki-laki berjumlah
43 orang dan perempuan 27 orang. Melalui wawancara kepada lansia,
banyaknya lansia laki-laki yang tinggal di panti karena sudah tidak
memiliki pasangan lagi dan lebih memilih tinggal di panti karena tidak
ada yang mengurus. Para lansia laki-laki tidak mampu lagi untuk
bekerja dan tidak ada mempunyai pendapatan. Anak-anak mereka
sudah menika dan tidak tinggal bersama lansia lagi.
b. Umur
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separoh
responden 8 orang (53.3%) berusia 75 tahun dan 7 orang (46.7%)
berusia 60-74 tahun.
79

80

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri


(2012) tentang gambaran umur lansia di Panti Sosial Tresna Werdha
Bondowoso menunjukkan bahwa lebih dari separoh umur responden
diatas 70 tahun.
Menurut peneliti berdasarkan wawancara kepada petugas panti
mengatakan bahwasanya lansia yang masuk ke panti rata-rata di usia di
atas 65 tahun ke atas. Pada hasil penelitian didapatkan banyaknya
lansia yang berumur 75 tahun ke atas dikarenakan meningkatnya usia
harap hidup menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
meningkat. Salah satu program pemerintah untuk mengurangi para
lansia yang terlantar adalah dengan adanya Panti Sosial Tresna
Werdha.
2. Tingkat Stres Sebelum Diberikan Teknik Relaksasi Benson
Hasil penelitian ini menunjukkan lebih dari separoh responden 8
orang (53.3%) mengalami stres sedang dan 7 orang (46.7%) mengalami
stres ringan sebelum diberikan tehnik relaksasi Benson.
Berdasarkan data penelitian dari variabel stres didapatkan hasil
sebagai berikut : persentase yang menjawab sering terdapat pada
pernyataan lansia mudah merasa gelisah (93.3%) sebelum diberikan teknik
relaksasi Benson.
Semakin bertambahnya usia seseorang akan mengalami penurunan
dari semua sistem dalam tubuhnya. Mengingat lansia merupakan periode
dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi
yang telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Masa tua
banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan
dengan baik, seperti diketahui bahwa memasuki lansia identik dengan

80

81

menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai penyakit


degeneratif yang menyerang. Keadaan tersebut berpengaruh pada
permasalahan kondisi ketahanan tubuh lansia yang diterimanya dari
lingkungan sekitar, maka tekanan atau stressor pada diri lansia
berpengaruh pada rasa kecemasan dan stres. Lansia mudah mengalami
stres karena fungsi dari kemampuan menyelesaikan masalah (mekanisme
koping) juga menurun (Anderson, 2008 dalam Rosita 2012).
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap
setiap tuntutan atau beban tugas. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi
stres pada lansia antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal stres bersumber dari diri sendiri yang dapat dialami lewat penyakit
dan pertentangan. Faktor eksternal stres bersumber dari keluarga dan
lingkungan (Puspasari, 2009). Gejala dari stres akan lebih kelihatan pada
lansia karena lansia lebih rentan terhadap stres. Gejala tersebut meliputi
tidur tidak teratur, insomnia (susah tidur), bangun terlalu
awal, mudah lelah atau kehilangan daya energi, gelisah,
cemas, sedih, depresi, menangis, suasana hati sering
berubah-ubah, cepat marah, mudah tersinggung (Hardjana
dalam Puspasari, 2009).
Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Aryana
(2013) tentang Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Penurunan
Tingkat Stres pada Lansia di Panti Werdha Wening Wardoyo Ungaran
menunjukkan bahwa terdapat 2 orang (13,3%) mengalami stres ringan, 10
orang (66,7%) mengalami stres sedang, dan 3 orang (20%) mengalami
stres berat sebelum diberikan teknik relaksasi Benson.

81

82

Menurut peneliti lansia mengalami stres karena merasa jauh dari


keluarga, merasa kurang diterima di lingkungan panti, kurang dapat
melaksanakan peran yang diinginkan, dan adanya tuntutan dari lingkungan
panti untuk dapat berperan sebagai orang mandiri tanpa bantuan keluarga.
Lansia juga mengatakan bahwa dirinya merasa gelisah, gangguan tidur,
sedih, merasa ditinggal oleh keluarganya, sering terjadinya pertengkaran
dan persaingan antara lansia yang tinggal di panti jompo, yang akhirnya
dapat menimbulkan dampak stres bagi lansia. Jadi, dapat dilihat bahwa
stres yang terjadi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang
Ibu Cubadak Batusangkar disebabkan oleh faktor internal yang berasal
dari diri sendiri dan konflik yang terjadi di lingkungan panti sedangkan
faktor eksternal berasal dari keluarga dan lingkungan.
3. Tingkat Stres Sesudah Diberikan Teknik Relaksasi Benson
Hasil penelitian ini menunjukkan lebih dari separoh responden 8
orang (66.7%) tidak stres (normal), 6 orang (53.3%) mengalami stres
ringan dan 1 orang (6.7%) mengalami stres sedang setelah diberikan
teknik relaksasi Benson.
Berdasarkan data penelitian dari variabel stres didapatkan hasil
sebagai berikut : persentase yang menjawab sering terdapat pada
pernyataan lansia merasa sulit untuk beristirahat (46.7%) setelah diberikan
teknik relaksasi Benson.
Mekanisme terjadinya penurunan tingkat stres lansia dari stres sedang
menjadi stres ringan dan dari lansia yang mengalami stres ringan menjadi
normal sesuai dengan teori Sholeh (2006) yang menyatakan bahwa saat
orang mengalami ketegangan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis,
sedangkan pada waktu rileks yang bekerja adalah sistem saraf

82

83

parasimpatis. Pada saat melakukan relaksasi ini dilakukan dengan


melakukan inspirasi panjang yang nantinya akan menstimulasi secara
perlahan-lahan reseptor regang paru. Keadaan ini mengakibatkan rangsang
atau sinyal dikirimkan ke medula yang memberikan informasi tentang
peningkatan aliran darah. Informasi ini akan diteruskan ke batang otak,
akibatnya saraf parasimpatis mengalami peningkatan aktifitas dan saraf
simpatis mengalami penurunan aktifitas pada kemoreseptor, sehingga
respon ini akan menurunkan frekuensi denyut jantung dan terjadi
vasodilatasi pada sejumlah pembuluh darah (Rice, 2006).
Dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang sehingga
timbul perasaan rileks dan penghilangan. Perasaan rileks akan diteruskan
ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Hormone
(CRH) dan Corticotropin Releasing Hormone (CRH) mengaktifkan
anterior pituitary untuk mensekresi enkephalin dan endorphin yang
berperan sebagai neotransmiter yang mempengaruhi suasana hati menjadi
rileks

dan

senang.

Adrenocorticotropic

Di

samping

hormone

itu,

anterior

(ACTH)

pituitary

menurun,

sekresi

kemudian

Adrenocorticotropic hormone (ACTH) mengontrol korteks adrenal untuk


mengendalikan sekresi kortisol. Menurunnya kadar Adrenocorticotropic
hormone (ACTH) dan kortisol menyebabkan stres dan ketegangan
menurun (Sholeh, 2006).
Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Aryana
(2013) tentang Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Penurunan
Tingkat Stres pada Lansia di Panti Werdha Wening Wardoyo Ungaran
menunjukkan bahwa terdapat 9 orang (60%) mengalami stres ringan dan 6

83

84

orang (40%) mengalami stres sedang setelah diberikan teknik relaksasi


Benson.
Menurut peneliti terjadinya penurunan tingkat stres pada lansia di
Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
karena lansia melakukan teknik relaksasi Benson secara berulang-ulang
setiap dua kali sehari selama lima belas menit selama satu minggu
sehingga lansia mengalami penurunan tingkat stres, teknik relaksasi
Benson perlu diterapkan pada lansia yang mengalami stres. Teknik
relaksasi Benson ini merupakan sebagai sebuah terapi yang dapat menjadi
referensi untuk dapat menurunkan stres, terutama bagi mereka yang
memiliki keyakinan agama karena fokus dari relaksasi ini adalah nafas
dalam dan pengucapakan kata atau kalimat keagamaan. Keutamaan dari
relaksasi Benson yaitu prosedur mudah dilakukan, dapat dilakukan dengan
sendiri setiap waktu, tidak memerlukan biaya yang banyak, dan tidak
memerlukan waktu yang lama. Adanya 1 lansia yang masih mengalami
stres sedang setelah diberikan teknik relaksasi Benson dikarenakan lansia
tidak optimal melakukan teknik relaksasi Benson yang diberikan,
disebabkan teknik relaksasi Benson yang dilakukan terlalu lama sehingga
lansia berkurang fokusnya dalam melakukan teknik relaksasi Benson.
Lansia juga tidak melakukan teknik relaksasi Benson secara kontinyu
selama dua kali sehari selama satu minggu.

84

85

B. Analisa Bivariat
1. Perbedaan Tingkat Stres Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik
Relaksasi Benson
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata perbedaan sebelum
dan sesudah diberikan teknik relaksasi Benson adalah 4.73. Setelah
dilakukan uji paired sample t test didapatkan bahwa terdapat pengaruh
teknik relaksasi Benson terhadap penurunan stres pada lansia, dengan
dibuktikan dengan nilai t hitung (14.992) dan nilai t tabel (2.145), jadi
nilai t hitung > dari t tabel. Hal ini juga diperkuat dengan nilai p=0,000.
Hal ini berarti p value < 0,05, sehingga Ha diterima, artinya bahwa ada
pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap penurunan tingkat stres pada
lansia dan adanya perbedaan rata-rata tingkat penurunan stres sebelum dan
sesudah teknik relaksasi Benson diberikan di Panti Sosial Tresna Werdha
Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016.
Keadaan ini sesuai dengan teori Benson & Proctor (2000) relaksasi
Benson merupakan pengembangan metode respon relaksasi pernafasan
dengan melibatkan faktor keyakinan pasien. Teknik ini sudah digunakan
baik untuk penurunan ketegangan, atau mencapai kondisi tenang seperti
menghilangkan nyeri, stres, kecemasan, insomnia, penurunan tekanan
darah, dan depresi (Setyowati, 2004).
Hal ini juga sesuai dengan teori Sholeh (2006) yang menyatakan
bahwa saat orang mengalami ketegangan yang bekerja adalah sistem saraf
simpatis, sedangkan pada waktu rileks yang bekerja adalah sistem saraf
parasimpatis. Pada saat melakukan relaksasi ini dilakukan dengan
melakukan inspirasi panjang yang nantinya akan menstimulasi secara
perlahan-lahan reseptor regang paru karena inflamasi paru. Keadaan ini

85

86

mengakibatkan rangsang atau sinyal dikirimkan ke medulla yang


memberikan informasi tentang peningkatan aliran darah. Informasi ini
akan diteruskan ke batang otak, akibatnya saraf parasimpatis mengalami
peningkatan aktifitas dan saraf simpatis mengalami penurunan aktifitas
pada kemoreseptor, sehingga respon akut peningkatan tekanan darah dan
inflamasi paru ini akan menurunkan frekuensi denyut jantung dan terjadi
vasodilatasi pada sejumlah pembuluh darah (Rice, 2006). Dengan
demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang sehingga timbul perasaan
rileks dan penghilangan. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus
untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Hormone (CRH) dan
Corticotropin Releasing Hormone (CRH) mengaktifkan anterior pituitary
untuk mensekresi enkephalin dan endorphin yang berperan sebagai
neotransmiter yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks dan senang.
Di samping itu, anterior pituitary sekresi Adrenocorticotropic hormone
(ACTH) menurun, kemudian Adrenocorticotropic hormone (ACTH)
mengontrol adrenal cortex untuk mengendalikan sekresi kortisol.
Menurunnya kadar Adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan kortisol
menyebabkan stres dan ketegangan menurun yang akhirnya (Sholeh,
2006).
Relaksasi Benson ini ada dua hal yang dilakukan untuk menimbulkan
respon relaksasi adalah dengan pengucapan kata atau frase yang berulang
dan sikap pasif. Pikiran lain atau gangguan keributan dapat saja terjadi,
terapi benson menganjurkan untuk tidak melawan gangguan tersebut
namun hanya melanjutkan mengulang-ulang frase fokus. Relaksasi
diperlukan pengendoran fisik secara sengaja yang dalam relaksasi benson

86

87

akan digabungkan dengan sikap pasrah. Pengendoran merupakan aktivitas


fisik, sedangkan sikap pasrah merupakan aktivitas psikis yang akan
memperkuat kualitas pengendoran (Purwanto, 2007).
Sikap pasrah ini merupakan respon relaksasi yang tidak hanya terjadi
pada tataran fisik saja tetapi juga psikis yang lebih mendalam. Sikap
pasrah ini merupakan sikap menyerahkan atau menggantungkan diri secara
totalitas, sehingga ketegangan yang ditimbulkan oleh permasalahan hidup
dapat ditolelir dengan sikap ini. Menyebutkan pengulangan kata atau frase
secara

terus-menerus

dapat

menimbulkan

tubuh

menjadi

rileks.

Pengulangan tersebut harus disertai dengan sikap pasif terhadap rangsang


baik dari luar maupun dari dalam. Sikap pasif dalam konsep religius dapat
diidentikkan dengan sikap pasrah kepada Tuhan (Smeltzer dan Bare,
2002).
Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Yati (2012)
di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta tentang pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia mengemukakan bahwa
ada pengaruh intervensi teknik relaksasi Benson terhadap penurunan stres
pada lansia dengan rata-rata perbedaan sebelum dan sesudah diberikan
teknik relaksasi Benson adalah 8.61 dimana nilai p value = 0.000 berarti p
value < 0,05.
Menurut peneliti ada pengaruh teknik relaksasi Benson ini terhadap
penurunan tingkat stres dikarenakan lansia melakukan dengan tenang,
sungguh-sungguh tanpa ada tekanan. Relaksasi nafas dalam dan
pengucapkan kalimat keagamaan seperti menyangkut nama-nama Allah
dimana para lansia dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah dan disertai
dengan sikap pasrah sebagai stimulus untuk tenang sehingga muncul

87

88

respon

relaksasi

yang

meningkatkan

kenyamanan

dimana

dapat

menurunkan kadar Adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan kortisol


menyebabkan stres dan ketegangan menurun. Perasaan nyaman ini akan
menyebabkan lansia yang mengalami stres terbebas dari rasa cemas, rasa
gelisah, rileks, dan menjadi tenang.

88

89

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap penurunan stres pada lansia di Panti Sosial Tresna
Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar tahun 2016 dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. Lebih dari separoh responden (60.0%) berjenis kelamin laki-laki.
2. Lebih dari separoh responden (53.3%) berusia 75 tahun dengan kategori
lansia akhir.
3. Lebih dari separoh lansia (53.3%) mengalami stres sedang sebelum
diberikan teknik relaksasi Benson.
4. Lebih dari separoh lansia (66.7%) tidak stres (normal) sesudah diberikan
teknik relaksasi Benson.
5. Rata-rata tingkat stres sebelum diberikan teknik relaksasi Benson adalah
18.73.
6. Rata-rata tingkat stres sesudah diberikan teknik relaksasi Benson adalah
14.00.
7. Ada pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap penurunan tingkat stres
pada lansia dan adanya perbedaan rata-rata tingkat penurunan stres
sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi Benson dengan p value
0.000 (p<0.05) dan t hitung (14.992)>dari t tabel (2.145).

89

90

B. Saran

1. Bagi Petugas Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)


Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh teknik
relaksasi Benson terhadap tingkat stres pada lansia. Bagi Petugas Panti
Sosial Tresna Werdha (PSTW) dapat memberikan penyuluhan dan
pelatihan kepada lansia tentang manfaat dan cara melakukan teknik
relaksasi Benson dapat dijadikan sebagai terapi bagi lansia yang
mengalami stres.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dihadapkan penelitian ini menambah literatur di bidang ilmu
keperawatan

dan

menambah

pengetahuan

mahasiswa/mahasiswi

keperawatan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi dan


perbandingan bagi pihak yang akan melakukan penelitian selanjutnya yang
berkaitan dengan penurunan stres pada lansia.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti berharap bagi peneliti keperawatan selanjutnya, penelitian ini
dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang
pengaruh teknik relaksasi Benson dengan konsep teori yang lebih
sempurna, waktu intervensi yang lebih lama, lebih memperbanyak jumlah
sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang
kesalahan generalisasi dan sebaliknya semakin besar jumlah sampel
(semakin menjauhi populasi) maka semakin besar peluang kesalahan
generalisasi, agar penelitian menjadi lebih baik.

90

91

4. Bagi Lansia
Bagi para lansia mendapatkan informasi tentang pengaruh teknik
relaksasi Benson untuk membantu mengatasi stres. Teknik relaksasi
Benson dilakukan 2 kali sehari selama 15 menit. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi

Benson terhadap

penurunan stres pada lansia. Selain itu, dapat dijadikan salah satu terapi
untuk mengatasi stres dan diterapkan dalam kehidupan seharihari.
C. Keterbatasan Penelitian
1. Waktu
Peneliti sudah melakukan usaha yang maksimal tetapi masih ada
responden yang tidak melakukan teknik relaksasi Benson secara optimal
dikarenakan responden mengatakan relaksasi Benson yang dilakukan
terlalu lama menyebabkan responden berkurang fokusnya dalam
melakukan teknik relaksasi Benson.
2. Sampel
Jumlah responden 15 orang seharusnya lebih banyak karena semakin
besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil
peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya semakin kecil jumlah
sampel (semakin menjauhi populasi) maka semakin besar peluang
kesalahan generalisasi.

91

92

CURRICULUM VITAE

Nama Mahasiswa
Tempat/ Tanggal Lahir
Alamat
Agama

: Yohana Yen Sulastri


: Pekanbaru / 10 Juli 1993
: Sibiruang, Kec. Koto Kampar Hulu Kampar-Riau
: Islam

Nama Orang Tua


Ayah
Ibu
Anak ke
Riwayat Pendidikan
SD
SMP
SMA
PERGURUAN TINGGI

: Syahril
: Yenni
: 1 ( Kesatu ) dari 4 Bersaudara

:SDN 022 Sibiruang Kecamatan XIII Koto


Kampar (2000 -2006)
: SMPN 1 Bangkinang (2006 - 2009)
: SMAN 1 Bangkinang (2009 - 2012)
: STIKes YARSI SUMBAR Bukittinggi
Program Studi Ilmu Keperawatan
(Tahun 2012- sekarang)

92

93

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN


Kepada Yth:
Calon responden
Di Tempat
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama

: Yohana Yen Sulastri

NIM

: 120514201033

Program Studi : S1 Keperawatan


Adalah mahasiswa STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi yang bermaksud
mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Teknik Relaksasi Benson
terhadap Tingkat Stres pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang
Ibu Cubadak Batusangkar Tahun 2016
Penelitian ini tidak akan merugikan Bapak/Ibu, saudara/saudari. Karena
kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan
untuk kepentingan penelitian.
Apabila bapak/ibu menyetujui, maka dengan ini saya mohon kesediaannya
untuk menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dibawah ini.
Demikianlah, atas perhatian dan kesediaan bapak/ ibu sebagai responden
saya ucapkan terima kasih.
Bukittinggi ,

Maret 2016

Yohana Yen Sulastri

93

94

FORMAT PERSETUJUAN
(INFORMED CONCENT)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) YARSI
SUMBAR BUKITTINGGI

Judul

: Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres pada Lansia


di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar
Tahun 2016

Pembiayaan

: individu

Penanggung Jawab

: - Nama Mahasiswa : Yohana Yen Sulastri


- Telpon
- E-mail
- Alamat

1. Data Demografi
Nama Responden
TTL
Jenis Kelamin
Telpon
Alamat
2. Tujuan penulisan

: 082388182307
: : Asrama Kodim, Bukittinggi

:
:
:
:
:
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada

Pengaruh Teknik Relaksasi Benson Terhadap Tingkat Stres Pada Lansia Di


Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar.
3. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 17 sampel, dengan kriteria inklusi;
bersedia menjadi responden dengan menanda tangani informed consent, lansia
yang tinggal di PSTW Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar, lansia yang
sehat, lansia yang kooperatif lansia yang stres berdasarkan nilai DASS
4. Pengambilan data di mulai dari tanggal 14 Maret 2016 sampai 26 Maret 2016.
5. Dalam penelitian ini, prosedur penelitian adalah sebagai berikut:
6. Dalam penelitian ini resiko yang ditimbulkan sangat minimal karena hanya
menggunakan data dari PSTW sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah
untuk menambah wawasan bagi petugas dan lansia di PSTW dalam
menanmbah wawasan yang nantinya tentang teknik relaksasi benson dalam
mengatasi stres pada lansi lansia.
7. Data Preserving (Penggunaan Data)
Berisi :

94

95

Saya (responden) bersedia memberikan informasi yang berkaitan dengan


penelitian ini, dan memberikan izin untuk menggunakan informasi tersebut
untuk penelitian yang akan datang.
Jika informasi yang saya berikan ini akan digunakan untuk penelitian
selanjutnya, maka peneliti harus meminta izin terlebih dahulu, kecuali jika
data yang digunakan tidak berhubungan dengan informasi pribadi saya
(responden)
Saya (responden) bersedia memberikan informasi hanya dalam penelitian
ini saja. Jika setelah penelitian (tgl...bln..thn..), maka semua informasi
yang diberikan akan di musnahkan (baik dalam bentuk kertas dan
elektronik data)
8. Confidentiality/Kerahasiaan
Data dari responden akan dijamin kerahasiaannya dari pihak luar
Data dari responden akan disimpan dalam bentuk : berkas dan soft copy.
Data dari responden akan disimpan dalam 5 tahun ke depan yaitu mulai
tanggal........... sampai tanggal.......... setelah 5 tahun maka data akan

dimusnahkan untuk menjaga kerahasiaannya.


Data dari responden tidak akan menyebutkan nama responden tapi hanya

akan dituliskan dalam bentuk nomor kode/nomor kasus.


9. Selama penelitian ini berlangsung maka responden

berhak

untuk

mengundurkan diri kapanpun jika responden merasa tidak nyaman selama


penelitian, dan data yang didapatkan berhak juga untuk tidak digunakan dalam
penelitian ini. Jika responden mempunyai keluhan atau merasa dipaksa maka
responden dapat mengajukan komplain atau menghubungi (STIKes Yarsi,
075221169).
10. Jika dalam penelitian ini ada kerusakan atau kerugian yang dirasakan
responden, maka Stikes Yarsi Sumbar akan bertanggung jawab secara penuh.
11. Tidak ada konflik kepentingan selama penelitian dilakukan
12. Penelitian ini akan dilakukan di bawah bimbingan Ibu Wisnatul Izzati, M. Kes
dan Ibu Ns. Siska Damayanti, S. Kep dalam lingkup STIKes Yarsi Sumbar
Bukittinggi (Jln. Tan Malaka Belakang Balok Bukittinggi, 075221169).
13. Dengan ini saya (responden) menyatakan bahwa saya sudah mengerti dengan
isi Informed Consent dan bersedia dimasukkan sebagai salah satu partisipasi
dalam penelitian ini.
Nama Responden :
TTL
:

95

96

Bukittinggi,
TTD Saksi

Maret 2016

Responden

96

97

KISI-KISI KUISIONER
Pengaruh Teknik Relaksasi Benson terhadap Tingkat Stres pada Lansia di
Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Cubadak Batusangkar Tahun
2016
1.

Kuesioner Stres
Kuesioner stres menggunakan Depression Anxiety Stres Scale (DASS 42)
yang berjumlah 14 pernyataan yang terdapat dalam tem nomor 1, 6, 8, 11,
12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35 dan 39 di PSTW Kasih Sayang Ibu
Batusangkar tentang tingkat stresnya. Dengan menuliskan dan memberikan
tanda ceklist () pada kolom jawaban yang telah disediakan.
Hasil diperoleh dari jumlah skor secara keseluruhan dari pertanyaan yang
ada dengan tingkatan:
a.
b.
c.
d.
e.

No
1.

Stres normal dengan skor 0- 14


Stres ringan dengan skor 15- 18
Stres sedang dengan skor 19- 25
Stres berat dengan skor 26- 33
Stres sangat berat 34 ( Devilly, 2005).

Variabel
Tingkat Stres

No Item Kuesioner

Jumlah

1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22,

14

27, 29, 32, 33, 35 dan 39

97

98

KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP TINGKAT
STRES PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
KASIH SAYANG IBU CUBADAK BATUSANGKAR
TAHUN 2016
Kode Responden
(Diisi oleh peneliti)
I.

II.

DAFTAR IDENTITAS RESPONDEN


1. Nama (inisial)
: ...................................................................
2. Umur
: ...................................................................
3. Jenis Kelamin
: ...................................................................
KUISIONER DASS UNTUK MENGUKUR TINGKAT STRES
PADA LANSIA
Petunjuk pengisian kuesioner :
1. Bacalah daftar pernyataan satu per satu.
2. Beri tanda checklist ( ) pada kolom untuk setiap pernyataan.
TP = Tidak Pernah
KK = Kadang-Kadang
S = Sering
SS = Sangat Sering
3. Pernyataan yang kurang jelas dapat ditanyakan pada peneliti.
4. Setelah pengisian selesai maka kuesioner ini langsung diberikan
ada peneliti.
= Terima Kasih =

98

99

PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI BENSON


Teknik relaksasi ini dapat dilakukan setengah jam dua kali sehari (Setyowati,
2004). Langkah-langkah relaksasi Benson menurut Datak (2008) adalah sebagai
berikut:
h. Usahakan situasi dan lingkungan tenang dan nyaman.
i. Anjurkan memilih tempat yang disenangi.
j. Anjurkan mengambil posisi tidur terlentang atau duduk yang dirasakan paling
nyaman.
k. Anjurkan untuk memejamkan mata dengan pelan tidak perlu untuk dipaksakan
sehingga tidak ada ketegangan otot sekitar mata.
l. Anjurkan untuk mengendurkan otot serileks mungkin, mulai dari kaki, betis,
paha, perut, dan lanjutkan ke semua otot tubuh. Tangan dan lengan diulurkan
kemudian kendurkan dan biarkan terkulai di samping tubuh dan usakan agar
tetap rileks.
m. Mulai bernafas dengan lambat dan wajar, dan ucapkan dalam hati frase atau
kata sesuai dengan keyakinan anda. Sebagai contoh anda dapat menggunakan
frase yaa Allah. Pada saat mengambil nafas disertai dengan mengucapkan kata
yaa dalam hati, setelah selesai keluarkan nafas dengan mengucapkan Allah
dalam hati, sambil terus melakukan langkah ini, lemaskan seluruh tubuh
disertai dengan sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap
pasif yang diperlukan dalam relaksasi, dari sikap pasif akan muncul efek
relaksasi yaitu ketenangan. Kata atau kalimat yang akan diucapkan dapat
diubah atau disesuaikan dengan keyakinan klien.
n. Teruskan selama 15 menit, diperbolehkan membuka mata untuk melihat
waktu tetapi jangan menggunakan alarm. Bila sudah selesai tetap berbaring
dengan tenang beberapa menit, mula-mula mata terpejam dan sesudah itu mata
dibuka.

99

100

Contoh kata atau frase yang menjadi fokus sesuai dengan keyakinan adalah
Allah, atau nama-namaNya dalam Asmaul Husna, kalimat-kalimat untuk berzikir
seperti Alhamdulillah; Subhanallah; dan Allahu Akbar.

100

101

KUISIONER DASS UNTUK MENGUKUR TINGKAT STRES


NO
1.
2.

Pernyataan

TP

Saya merasa bahwa diri saya menjadi


marah karena hal-hal sepele.
Saya cenderung bereaksi berlebihan
terhadap suatu situasi.

3.

Saya merasa sulit untuk bersantai.

4.

Saya menemukan diri saya mudah


merasa kesal.
Saya merasa telah menghabiskan
banyak energi untuk merasa cemas.

5.
6.

Saya menemukan diri saya menjadi


tidak sabar ketika mengalami
penundaan (misalnya: kemacetan lalu
lintas, menunggu sesuatu).

7.

Saya merasa bahwa saya mudah


tersinggung.

8.

Saya merasa sulit untuk beristirahat.

9.

Saya merasa saya hampir panik.

10.

Saya merasa sulit untuk tenang setelah


sesuatu membuat saya kesal.

11.

Saya sulit untuk sabar dalam


menghadapi gangguan terhadap hal
yang sedang saya lakukan.

12.

Saya sedang merasa gelisah.

13.

Saya tidak dapat memaklumi hal


apapun yang menghalangi saya untuk
menyelesaikan hal yang sedang saya
lakukan.

14.

Saya menemukan diri saya mudah


gelisah.

101

KK

SS

102

PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI BENSON


Teknik relaksasi ini dapat dilakukan setengah jam dua kali sehari (Setyowati,
2004). Langkah-langkah relaksasi Benson menurut Datak (2008) adalah sebagai
berikut:
1. Usahakan situasi dan lingkungan tenang dan nyaman.
2. Anjurkan memilih tempat yang disenangi.\
3. Anjurkan mengambil posisi tidur terlentang atau duduk yang dirasakan paling
nyaman.
4. Anjurkan untuk memejamkan mata dengan pelan tidak perlu untuk dipaksakan
sehingga tidak ada ketegangan otot sekitar mata.
5. Anjurkan untuk mengendurkan otot serileks mungkin, mulai dari kaki, betis,
paha, perut, dan lanjutkan ke semua otot tubuh. Tangan dan lengan diulurkan
kemudian kendurkan dan biarkan terkulai di samping tubuh dan usakan agar
tetap rileks.
6. Mulai bernafas dengan lambat dan wajar, dan ucapkan dalam hati frase atau
kata sesuai dengan keyakinan anda. Sebagai contoh anda dapat menggunakan
frase yaa Allah. Pada saat mengambil nafas disertai dengan mengucapkan kata
yaa dalam hati, setelah selesai keluarkan nafas dengan mengucapkan Allah
dalam hati, sambil terus melakukan langkah ini, lemaskan seluruh tubuh
disertai dengan sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap
pasif yang diperlukan dalam relaksasi, dari sikap pasif akan muncul efek
relaksasi yaitu ketenangan. Kata atau kalimat yang akan diucapkan dapat
diubah atau disesuaikan dengan keyakinan klien.
7. Teruskan selama 15 menit, diperbolehkan membuka mata untuk melihat
waktu tetapi jangan menggunakan alarm. Bila sudah selesai tetap berbaring
dengan tenang beberapa menit, mula-mula mata terpejam dan sesudah itu mata
dibuka.

102

103

Contoh kata atau frase yang menjadi fokus sesuai dengan keyakinan
adalah Allah, atau nama-namaNya dalam Asmaul Husna, kalimat-kalimat
untuk berzikir seperti Alhamdulillah; Subhanallah; dan Allahu Akbar.

DOKUMENTASI PENELITIAN

103

104

104

105

105

106

106

107

107

108

108

109

109

110

110