Anda di halaman 1dari 1120

LO-RUPTL Awal ok.

indd i

04/02/2013 14:15:53

LO-RUPTL Awal ok.indd ii

04/02/2013 14:16:12

iii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd iii

04/02/2013 14:16:12

iv
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd iv

04/02/2013 14:16:12

v
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd v

04/02/2013 14:16:13

LO-RUPTL Awal ok.indd vi

04/02/2013 14:16:14

vii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd vii

04/02/2013 14:16:14

viii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd viii

04/02/2013 14:16:15

KATA PENGANTAR

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2012-2021 ini disusun untuk memenuhi amanat
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik yang
menyatakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dilaksanakan sesuai dengan
Rencana Umum Ketenagalistrikan dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
RUPTL ini memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 2682.K/21/MEM/2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 20082027 dan
draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 20122031 yang telah disusun oleh Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral.
RUPTL ini disusun untuk menjadi pedoman pengembangan sarana ketenagalistrikan di seluruh Indonesia
bagi PT PLN (Persero) pada kurun waktu 2012 2021, yang akan digunakan dalam penyusunan rencana
jangka panjang perusahaan dan penyusunan rencana kerja dan anggaran perusahaan tahunan.
Sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi industri kelistrikan di Indonesia, RUPTL ini akan
dievaluasi secara berkala dan diubah seperlunya agar rencana pengembangan sistem kelistrikan lebih
sesuai dengan kondisi terkini.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kontribusi semua pihak sehingga RUPTL
ini dapat diselesaikan.
Jakarta, Desember 2012

DIREKTUR UTAMA

NUR PAMUDJI

ix
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd ix

04/02/2013 14:16:16

Daftar Isi
KEPUTUSAN MENTERI ESDM
KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO)
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
SINGKATAN DAN KOSAKATA

iii
vii
ix
x
xiii
xiv
xvi
xix

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Landasan Hukum
1.3. Visi dan Misi Perusahaan
1.4. Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL
1.5. Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya
1.6. Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha
1.7. Sistematika Dokumen RUPTL

1
2
3
3
3
4
6
7

BAB 2 KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA


2.1. Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik untuk Melayani
Pertumbuhan Kebutuhan Tenaga Listrik
2.2. Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit
2.3. Kebijakan Pengembangan Transmisi
2.4. Kebijakan Pengembangan Distribusi
2.5. Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan
2.6. Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan
2.7. Kebijakan Mitigasi Perubahan Iklim

9
10
10
13
14
14
15
.16

BAB 3 KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI


3.1. Penjualan Tenaga Listrik
3.1.1. Jumlah Pelanggan
3.1.2. Rasio Elektrifikasi
3.1.3. Pertumbuhan Beban Puncak
3.2. Kondisi Sistem Pembangkitan
3.2.1. Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
3.2.2. Wilayah Operasi Jawa-Bali
3.3. Kondisi Sistem Transmisi
3.3.1. Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur
3.3.2. Sistem Transmisi Jawa-Bali
3.4. Kondisi Sistem Distribusi
3.4.1. Susut Jaringan Distribusi
3.4.2. Keandalan Pasokan
3.5. Masalah-Masalah yang Mendesak
3.5.1. Upaya Penanggulangan Jangka Pendek

17
18
19
19
19
20
20
22
22
22
23
24
24
24
24
25

x
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd x

04/02/2013 14:16:16

3.5.2. Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
3.5.3. Masalah Mendesak Sistem JawaBali

26
27

BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER


4.1. Batubara
4.2. Gas Alam
4.2.1 LNG (Liquified Natural Gas) dan Mini-LNG
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)
4.2.3. Coal Bed Methane (CBM)
4.3. Panas Bumi
4.4. Tenaga Air
4.5. Energi Baru dan Terbarukan Lainnya
4.6. Nuklir

29
30
30
33
33
34
34
34
36
37

BAB 5 RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 20122021


5.1. Kriteria Perencanaan
5.1.1. Perencanaan Pembangkit
5.1.2. Perencanaan Transmisi
5.1.3. Perencanaan Distribusi
5.2
Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik
5.2.1. Pertumbuhan Ekonomi
5.2.2. Pertumbuhan Penduduk
5.3
Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2012-2021
5.4
Rencana Pengembangan Pembangkit
5.4.1. Kategorisasi Kandidat Pembangkit
5.4.2. Program Percepatan Pembangkit Berbahan bakar Batubara
(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No. 59/2009)
5.4.3. Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Tahap 2
5.4.4. Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS)
berdasarkan Perpres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010
5.4.5. Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang
5.4.6. Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)
5.4.7. Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur
5.4.8. Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa-Bali
5.4.9. Partisipasi Listrik Swasta
5.5
Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar
5.5.1. Sasaran Fuel Mix Indonesia
5.5.2. Sasaran Fuel Mix Jawa-Bali
5.5.3. Sasaran Fuel Mix Indonesia Barat
5.5.4. Sasaran Fuel Mix Indonesia Timur
5.6
Proyeksi Emisi CO2
5.7
Proyek Pendanaan Karbon
5.8
Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk
5.8.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat
5.8.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
5.8.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali
5.9
Pengembangan Sistem Distribusi
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
5.9.2 Sistem Jawa-Bali
5.10 Pengembangan Listrik Perdesaan
5.11 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan
5.12 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar

39
40
40
41
42
43
44
45
45
48
48
49
50
51
51
52
53
55
59
63
63
64
66
67
68
71
71
72
74
75
76
76
77
78
79
80

xi
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xi

04/02/2013 14:16:16

BAB 6 KEBUTUHAN DANA INVESTASI


6.1. Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia
6.2. Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali
6.3. Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
6.4. Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP
6.5. Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN

83
84
85
86
87
88

BAB 7 ANALISIS RISIKO RUPTL 2012-2021


7.1. Identifikasi Risiko
7.2. Pemetaan Risiko
7.3. Program Mitigasi Risiko

91
92
93
94

BAB 8 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

95
97

xii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xii

04/02/2013 14:16:17

Daftar Gambar
GAMBAR BAB 1
Gambar 1.1. Proses Penyusunan RUPTL
Gambar 1.2. Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero)

5
7

GAMBAR BAB 5
Gambar 5.1. Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2012 dan 2021
Gambar 5.2. Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2012-2021
Gambar 5.3. Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN
Gambar 5.4. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Gabungan Indonesia (GWh)
Gambar 5.5. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem
Jawa-Bali
Gambar 5.6. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)
Gambar 5.7. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh)
Gambar 5.8. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia)
Gambar 5.9. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa-Bali
Gambar 5.10. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat
Gambar 5.11. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur

67
68
69
70
70

GAMBAR BAB 6
Gambar 6.1. Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)
Gambar 6.2. Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa-Bali
Gambar 6.3. Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Gambar 6.4. Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
Gambar 6.5. Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

84
85
86
87
88

GAMBAR BAB 7
Gambar 7.1. Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL

93

47
47
48
63
65
66

xiii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xiii

04/02/2013 14:16:17

Daftar Tabel
TABEL BAB 1
Tabel 1.1.
Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL

TABEL BAB 3
Tabel 3.1.
Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh)
Tabel 3.2.
Perkembangan Jumlah Pelanggan (Ribu Unit)
Tabel 3.3.
Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%)
Tabel 3.4.
Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa-Bali 2007-2011
Tabel 3.5.
Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) Tahun 2011
Tabel 3.6.
Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur Tahun 2011
Tabel 3.7.
Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali
Tabel 3.8.
Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA)
Tabel 3.9.
Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (kms)
Tabel 3.10. Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali
Tabel 3.11. Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali
Tabel 3.12. Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)
Tabel 3.13. Rugi Jaringan Distribusi (%)
Tabel 3.14. SAIDI dan SAIFI PLN

23
23
23
24
24
24

TABEL BAB 4
Tabel 4.1.
Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa-Bali
Tabel 4.2.
Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Luar Jawa Bali
Tabel 4.3.
Potensi Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
Tabel 4.4.
Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan

31
32
35
37

TABEL BAB 5
Tabel 5.1.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Tabel 5.2.
Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Tabel 5.3.
Pertumbuhan Penduduk (%)
Tabel 5.4.
Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
dan Beban Puncak Periode 2011-2021
Tabel 5.5.
Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan
dan Rasio Elektrifikasi Periode 2011-2021
Tabel 5.6.
Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi
Tabel 5.7.
Asumsi Harga Bahan Bakar
Tabel 5.8.
Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW
(Peraturan Presiden No. 71/2000 jo Perpres No. 59/209)
Status September 2012

18
19
19
20
20
21
22
22

44
45
45
45
46
46
49

49

xiv
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xiv

04/02/2013 14:16:17

Tabel 5.9
Tabel 5.10
Tabel 5.11
Tabel 5.12
Tabel 5.13
Tabel 5.14
Tabel 5.15
Tabel 5.16
Tabel 5.17
Tabel 5.18
Tabel 5.19
Tabel 5.20
Tabel 5.21
Tabel 5.22
Tabel 5.23
Tabel 5.24
Tabel 5.25
Tabel 5.26
Tabel 5.27
Tabel 5.28
Tabel 5.29
Tabel 5.30
Tabel 5.31
Tabel 5.32
Tabel 5.33
Tabel 5.34
Tabel 5.35
Tabel 5.36
Tabel 5.37
Tabel 5.38
Tabel 5.39
Tabel 5.40
Tabel 5.41
Tabel 5.42
Tabel 5.43
Tabel 5.44

Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2


Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2012 Bappenas
Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW)
Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW)
Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW)
Rencana Penumbuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW)
Regional Balance Sistem Jawa-Bali Tahun 2011
Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Indonesia Timur
Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Indonesia Barat
Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Jawa-Bali
Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Gabungan Indonesia (GWh)
Kebutuhan Bahan Bakar Gabungan Indonesia
Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan
Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh)
Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali
Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)
Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat
Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Indonesia Timur (GWh)
Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur
Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia
Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia
Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Kebutuhan Saluran Transmisi Indonesia Timur
Kebutuhan Trafo Indonesia Timur
Kebutuhan Saluran Transmisi Sistem Jawa-Bali
Kebutuhan Trafo Sistem Jawa-Bali
Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia
Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat
Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur
Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali
Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2012-2021
Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2012-2021
(Juta Rp)
Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil
Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil
Proyek PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Proyek PLTGB Tersebar di Indonesia

TABEL BAB 6
Tabel 6.1
Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)
Tabel 6.2
Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem JawaBali
Tabel 6.3
Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Tabel 6.4
Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
Tabel 6.5
Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

50
51
52
53
54
56
58
59
61
62
63
64
64
66
66
67
67
68
71
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
80
80
80
82

84
85
86
87
88

xv
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xv

04/02/2013 14:16:17

Daftar Lampiran
LAMPIRAN A WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

101

A1. SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA


A1.1
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
A1.2
Neraca Daya
A1.3
Neraca Energi
A1.4
Capacity Balance Gardu Induk
A1.5
Rencana Pengembangan Penyaluran
A1.6
Peta Pengembangan Penyaluran
A1.7
Analisis Aliran Daya
A1.8
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
A1.9
Program Listrik Perdesaan
A1.10
Proyeksi Kebutuhan Investasi
PENJELASAN LAMPIRAN A1

103
105
107
113
115
147
173
183
193
195
197
199

A2. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT


A2.1
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
A2.2
Neraca Daya
A2.3
Neraca Energi
A2.4
Capacity Balance Gardu Induk
A2.5
Rencana Pengembangan Penyaluran
A2.6
Peta Pengembangan Penyaluran
A2.7
Analisis Aliran Daya
A2.8
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
A2.9
Program Listrik Perdesaan
A2.10
Proyeksi Kebutuhan Investasi
PENJELASAN LAMPIRAN A2

207
209
211
215
217
221
225
227
235
237
239
241

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI


WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
A3. PROVINSI ACEH
A4. PROVINSI SUMATERA UTARA
A5. PROVINSI RIAU
A6. PROVINSI KEPULAUAN RIAU
A7. PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
A8. PROVINSI SUMATERA BARAT
A9. PROVINSI JAMBI
A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN
A11. PROVINSI BENGKULU
A12. PROVINSI LAMPUNG
A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

247
249
257
269
277
283
291
301
307
315
321
329

xvi
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xvi

04/02/2013 14:16:17

A14.
A14.1.
A14.2.
A14.3.
A14.4.
A14.5.
A14.6.

NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED


WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
Sistem Isolated Provinsi Aceh
Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara
Sistem Isolated Provinsi Riau
Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau
Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

337
339
349
351
359
367
371

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

381

B1.

SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH


DAN TIMUR (KALSELTENGTIM)
B1.1.
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
B1.2.
Neraca Daya
B1.3.
Neraca Energi
B1.4.
Capacity Balance Gardu Induk
B1.5.
Rencana Pengembangan Penyaluran
B1.6.
Peta Pengembangan Penyaluran
B1.7.
Analisis Aliran Daya
B1.8.
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
B1.9.
Program Listrik Perdesaan
B1.10.
Proyeksi Kebutuhan Investasi
PENJELASAN LAMPIRAN B1

383
385
389
393
395
403
411
415
421
423
425
427

B2.

SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI BAGIAN UTARA (SULBAGUT)


DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI BAGIAN SELATAN (SULBAGSEL)
B2.1.
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
B2.2.
Neraca Daya
B2.3.
Neraca Energi
B2.4.
Capacity Balance Gardu Induk
B2.5.
Rencana Pengembangan Penyaluran
B2.6.
Peta Pengembangan Penyaluran
B2.7.
Analisis Aliran Daya
B2.8.
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
B2.9.
Program Listrik Perdesaan
B2.10.
Proyeksi Kebutuhan Investasi
PENJELASAN LAMPIRAN B2

435
437
441
447
451
469
479
487
497
499
501
503

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH


OPERASI INDONESIA TIMUR
B3.
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
B4.
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
B5.
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
B6.
PROVINSI SULAWESI UTARA
B7.
PROVINSI SULAWESI TENGAH
B8.
PROVINSI GORONTALO
B9.
PROVINSI SULAWESI SELATAN
B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA
B11. PROVINSI SULAWESI BARAT

519
521
531
541
553
565
573
581
591
599

xvii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xvii

04/02/2013 14:16:17

B12.
B13.
B14.
B15.
B16.
B17.
B18.
B18.1.
B18.2.
B18.3.
B18.4.
B18.5.
B18.6.
B18.7.
B18.8.
B18.9.
B18.10.
B18.11.
B18.12.
B18.13.

PROVINSI MALUKU
PROVINSI MALUKU UTARA
PROVINSI PAPUA
PROVINSI PAPUA BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI
INDONESIA TIMUR
Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan
Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah
Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur
Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara
Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah
Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan
Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara
Sistem Isolated Provinsi Maluku
Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara
Sistem Isolated Provinsi Papua
Sistem Isolated Provinsi Papua Barat
Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB
Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

605
613
621
631
639
649

659
661
665
677
693
699
709
711
717
725
731
739
743
757

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI

769

LAMPIRAN C. SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI


C1.1.
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
C1.2.
Neraca Daya
C1.3.
Neraca Energi
C1.4.
Capacity Balance Gardu Induk
C1.5.
Rencana Pengembangan Penyaluran
C1.6.
Peta Pengembangan Penyaluran
C1.7.
Analisis Aliran Daya
C1.8.
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
C1.9.
Program Listrik Pedesaan
C1.10.
Proyeksi Kebutuhan Investasi
PENJELASAN LAMPIRAN C1

771
773
781
795
799
861
921
933
959
963
967
978

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI


WILAYAH OPERASI JAWA BALI
C2. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
C3. PROVINSI BANTEN
C4. PROVINSI JAWA BARAT
C5. PROVINSI JAWA TENGAH
C6. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
C7. PROVINSI JAWA TIMUR
C8. PROVINSI BALI

1001
1003
1017
1027
1049
1061
1067
1081

LAMPIRAN D. ANALISIS RISIKO

1089

xviii
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xviii

04/02/2013 14:16:17

SINGKATAN DAN KOSAKATA


ADB

Air Dried Basis, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja

ASEAN Power Grid

Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN

Aturan Distribusi

Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan


dan persyaratan untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam
memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik

Aturan Jaringan

Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan, persyaratan dan


standar untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian
dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi
peningkatan kebutuhan tenaga listrik

Beban

Sering disebut sebagai demand, merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA tergantung kepada konteksnya

Beban puncak

Atau peak load / peak demand, adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW

bcf
BPP

:
:

Billion cubic feet


Biaya Pokok Penyediaan

BTU

British Thermal Unit

Capacity balance

Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu


induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk
tersebut, dinyatakan dalam MVA

Captive power

Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan, umumnya


pelanggan industri dan komersial

CCS

Carbon Capture and Storage

CCT

Clean Coal Technology

CDM

CNG

Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan


Bersih
Compressed Natural Gas

COD

Commercial Operating Date

Daya mampu

Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW

Daya terpasang

Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate

DAS

Daerah Aliran Sungai

DMO

Domestic Market Obligation

EBITDA

Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization

ERPA

Emission Reduction Purchase Agreement

Excess power

Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh
PLN

FSRU

Floating Storage and Regasification Unit

xix
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xix

04/02/2013 14:16:17

GAR

Gross As Received, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture

GRK

Gas Rumah Kaca

HRSG

Heat Recovery Steam Generator

HSD

High Speed Diesel Oil

HVDC

High Voltage Direct Current

IBT

Interbus Transformer, yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi


yang berbeda tegangan, seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV

IGCC

Integrated Gasification Combined Cycle

IPP

Independent Power Producer

JTM

Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV

JTR

Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V

kmr

kilometer-route, menyatakan panjang jalur saluran transmisi

kms

kilometer-sirkuit, menyatakan panjang konduktor saluran transmisi

Life Extension

Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir

LNG

Liquified Natural Gas

LOLP

Loss of Load Probability, suatu indeks keandalan sistem pembangkitan


yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit

Loadfactor

Faktor beban, merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW puncak

MFO

Marine Fuel Oil

MMBTU

Million Metric BTU, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas

Mothballed

Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara, tidak diperhitungkan dalam reserve margin

MP3EI

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

MMSCF

Million Metric Standard Cubic Foot, satuan yang biasa digunakan untuk
mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu

MMSCFD

Million Metric Standard Cubic Foot per Day

Neraca daya

Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan


kapasitas pembangkit

Non Coincident Peak Load

Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak

Peaking

Pembangkit pemikul beban puncak

Prakiraan beban

Demand forecast, prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan

Reserve margin

Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak, dinyatakan dalam


%

xx
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd xx

04/02/2013 14:16:17

Bab

Pendahuluan

1
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 1

04/02/2013 14:16:17

1.1.

Latar Belakang

PT PLN (Persero), selanjutnya disebut PLN, sebagai sebuah perusahaan listrik merencanakan dan
melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang leadtime-nya relatif panjang, sehingga PLN secara alamiah
perlu mempunyai sebuah rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang1. Dengan
demikian rencana pengembangan sistem kelistrikan yang diperlukan PLN harus berjangka cukup panjang,
yaitu 10 tahun, agar dapat mengakomodasi leadtime yang panjang dari proyek-proyek kelistrikan.
Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang juga didorong oleh
keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi yang efisien, dalam arti PLN tidak melaksanakan
sebuah proyek kelistrikan tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. Hal ini penting dilakukan
karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya dalam jangka panjang2. Untuk
mencapai hal tersebut PLN menyusun sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang
disebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, atau RUPTL.
RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi PLN sepuluh tahun mendatang
yang optimal, disusun untuk mencapai tujuan tertentu serta berdasarkan pada kebijakan dan kriteria
perencanaan tertentu. Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang dapat
menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan.
Selain didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL, dokumen perencanaan ini
juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan.
Penyusunan RUPTL tahun 2012-2021 ini untuk memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun
2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan didorong oleh timbulnya kebutuhan untuk
memperbaharui RUPTL 2011-2020 setelah memperhatikan adanya keterlambatan beberapa proyek
pembangkit tenaga listrik seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi, beberapa pembangkit listrik
tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara, baik proyek PLN maupun proyek listrik swasta
atau IPP (independent power producer).
Selanjutnya sejalan dengan UU No.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan juga pemerintah kabupaten/
kota) wajib membuat Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD, maka dalam RUPTL 20122021 ini juga terdapat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. Namun demikian proses optimisasi
perencanaan tetap dilakukan per sistem kelistrikan apabila telah ada jaringan interkoneksi untuk
mengoptimalkan pemanfaatan dan alokasi sumber daya. RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat
untuk memperlihatkan apa yang telah direncanakan oleh PLN pada setiap provinsi.
Dalam RUPTL ini terdapat beberapa proyek pembangkit yang telah committed akan dilaksanakan oleh
PLN dan beberapa proyek yang telah committed akan dilaksanakan oleh swasta sebagai IPP. Kebutuhan
tambahan kapasitas yang belum committed akan disebut sebagai tambahan kapasitas yang belum
dialokasikan sebagai proyek PLN atau IPP.
Proyek transmisi dan distribusi pada dasarnya akan dilaksanakan oleh PLN. Namun khusus untuk beberapa
ruas transmisi yang menghubungkan suatu pembangkit IPP ke jaringan terdekat dapat dibangun oleh
pengembang IPP.

1
2

Sebagai contoh, diperlukan waktu 8-9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara kelas 1.000 MW sejak dari rencana awal
hingga beroperasi
Sebuah PLTU batubara diharapkan beroperasi komersial selama 25 30 tahun.

2
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 2

04/02/2013 14:16:18

Sesuai dengan regulasi yang ada, RUPTL akan selalu dievaluasi secara berkala untuk disesuaikan dengan
perubahan beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem
kelistrikan. Dengan demikian RUPTL selalu dapat menyajikan rencana pengembangan sistem yang
mutakhir dan dapat dijadikan sebagai pedoman implementasi proyek-proyek kelistrikan.

1.2.

Landasan Hukum

1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan


2. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik,
khususnya pasal berikut :
(1)
Pasal 8 yang menyatakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum
dilaksanakan sesuai Rencana Umum Ketenagalistrikan dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik.
(2)
Pasal 14 ayat 1 yang menyatakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik disusun dengan
memperhatikan Rencana Umum Ketenagalistrikan.
3. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 2682 K/21/MEM/2008 tanggal 13 November
2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.

1.3.

Visi dan Misi Perusahaan

Pada Anggaran Dasar PLN Tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapangan usaha PLN
adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan
mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang
ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan
terbatas.
Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas, maka visi PLN adalah sebagai berikut:
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang, Unggul dan Terpercaya dengan
bertumpu pada Potensi Insani.
Selain visi tersebut, saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi perusahaan kelas dunia, bebas
subsidi, menguntungkan, ramah lingkungan dan dicintai pelanggan.
Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu
kepada visi tersebut, maka PLN akan:

1.4.

Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan,
anggota perusahaan, dan pemegang saham.
Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan

Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL

Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sarana
kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan
lebih terencana, sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan.

3
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 3

04/02/2013 14:16:18

Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan
kapasitas dan energi listrik, peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap
perencanaan yang meliputi:

Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa daerah.


Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat
keandalan3 yang diinginkan secara least-cost.
Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan
yang dicerminkan oleh pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi
pembangkit berbahan bakar minyak menjadi kurang dari 1% persen terhadap total produksi energi
listrik pada tahun 2021.
Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan terutama panas bumi sesuai dengan program
pemerintah, dan juga energi terbarukan lain seperti tenaga air.
Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN.
Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin baik.
Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi yang makin baik.

1.5.

Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya

Penyusunan RUPTL 2012-2021 di PLN dibuat dengan proses sebagai berikut:

3
4
5

RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2012-2031 digunakan sebagai pertimbangan, khususnya mengenai
kebijakan Pemerintah tentang perencanaan ketenagalistrikan, kebijakan pemanfaatan energi primer
untuk pembangkit tenaga listrik, kebijakan perlindungan lingkungan, kebijakan tingkat cadangan
(reserve margin), asumsi pertumbuhan ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik.
PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar setelah memperhatikan RUKN dan
kebijakan Pemerintah lainnya, seperti pengembangan panas bumi yang semakin besar.
Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda
sebelumnya dalam Forum Perencanaan, yaitu sebuah forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis
PLN dan PLN Kantor Pusat untuk membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun
prakiraan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik.
Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar, terutama pertumbuhan ekonomi, selanjutnya disusun
prakiraan beban (demand forecast), rencana pembangkitan, rencana transmisi dan gardu induk
(GI), rencana distribusi dan rencana pengembangan sistem kelistrikan yang isolated. Penyusunan
ini dilakukan oleh Unit-unit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing.
Demand forecast, perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/ Wilayah.
Perencanaan transmisi dibuat oleh PLNPenyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh
PLN Wilayah yang mengelola transmisi. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem interkoneksi
yang cukup besar dilakukan oleh PLN Kantor Pusat.
Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan metoda regresi ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi listrik, pertumbuhan ekonomi, daya
tersambung dan jumlah pelanggan. Selanjutnya dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan
ekonomi dan populasi, dibentuk model yang valid4.
Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat dilaksanakan
minimal 1 kali dalam setahun, dimaksudkan untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast,
capacity balance dan rencana gardu induk, rencana transmisi dan rencana pembangkit sistem isolated
yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Pada workshop perencanaan juga dilakukan verifikasi
jadwal COD5 proyek-proyek pembangkit PLN dan IPP, estimasi pasokan gas alam dan LNG/CNG, serta
kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik jangka pendek.

Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin.


Khusus untuk RUPTL 2012-2021 ini, demand forecast dilakukan secara pendekatan top-down karena mengacu pada draft Service
Level Agreement (SLA) 2012-2016 yang disiapkan oleh PLN untuk Pemerintah.
COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan secara komersial.

4
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 4

04/02/2013 14:16:18

Konsolidasi produk perencanaan sistem dalam seluruh wilayah usaha PLN menjadi draft RUPTL
dan pengusulan pengesahan RUPTL oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dilakukan oleh
PLN Kantor Pusat. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi referensi untuk pembuatan Rencana Jangka
Panjang Perusahaan (RJPP) lima tahunan, serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN
dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1.1.

Konsolidasi dan cek konsistensi


rencana pengembangan sistem.

RUPTL

RUKN

Asumsi dasar dan


kebijakan, proyeksi
kebutuhan tenaga listrik

Rencana pengembangan pembangkit (neraca


daya, neraca energi dan kebutuhan bahan
bakar).

Workshop
Perencanaan

Rencana pengembangan transmisi dan


distribusi.
Workshop
Demand Forecast

Demand forecast per Wilayah dan


per Provinsi

Gambar 1.1. Proses Penyusunan RUPTL

Pada workshop demand forecast, PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/Wilayah membahas dan menyepakati
asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan demand forecast di setiap wilayah, dilanjutkan dengan menyusun
demand forecast secara agregat, namun belum dibuat secara spasial6. Berbekal hasil kerja pada workshop
demand forecast tersebut, setiap unit PLN Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan
membuat capacity balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan
kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau gardu induk baru, yang harus
diselesaikan dalam waktu dua bulan.
Pada saat yang sama, PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan pembangkit pada sistem
interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah.
Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel1.1.

Tabel 1.1. Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL


Kegiatan Pokok
Kebijakan Umum
dan Asumsi

P3B

Kitlur

Wilayah

Kit

Distr

Pusat

E
E

P, E*)
P
P
P

Demand forecasting
Perencanaan Pembangkitan
Perencanaan Transmisi
Perencanaan Distribusi
Perencanaan GI
Perencanaan Pembangkitan
Isolated
Konsolidasi

E
S
E

S
E

S
E
E
E
E

Keterangan:
E: Pelaksana (Executor); P: Pembinaan (Parenting); U: Pengguna (User); S: Pendukung (Supporting),*)
untuk Sistem Besar
6

Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan terdistribusi pada daerah-daerah/locality.

5
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 5

04/02/2013 14:16:18

1.6.

Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha

Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral sesuai Surat Keputusan No. 634-12/20/600.3/2011 tanggal 30 September 2011. Surat keputusan
tersebut menetapkan Wilayah Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali yang
ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik Negara lainnya, Badan Usaha
Milik Daerah, Badan Usaha Swasta atau Koperasi.
Ruang Lingkup RUPTL 2012-2021 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN yang ditetapkan dengan Surat
Keputusan Menteri ESDM tersebut, yaitu tidak termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional
Batam dan PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, walaupun keduanya merupakan anak perusahaan PLN.
Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga wilayah operasi, yaitu
Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Jawa-Bali, maka RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan
sistem pada tiga wilayah operasi tersebut. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana pengembangan
sistem per provinsi.
Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini.

Wilayah Operasi Indonesia Barat


Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan Provinsi Kalimantan Barat.
Sumatera
Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau, Bangka, Belitung, Nias, dilayani
oleh PLN Wilayah Aceh, PLN Wilayah Sumatera Utara, PLN Wilayah Sumatera Barat, PLN Wilayah Riau dan
Kepri, PLN Wilayah Sumatera Selatan Jambi Bengkulu, PLN Distribusi Lampung, PLN Wilayah Bangka
Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera.
Pembangkit tenaga listrik di Pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera
Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan, kecuali beberapa pembangkit skala kecil
di sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah
usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam, sehingga tidak tercakup dalam
RUPTL PT PLN (Persero).
Kalimantan Barat
Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat.

Wilayah Operasi Indonesia Timur


Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali Provinsi Kalimantan Barat, Sulawesi,
Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Papua, dan Nusa Tenggara. Khusus untuk Pulau Tarakan merupakan
wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, sehingga tidak tercakup
dalam RUPTL PT PLN (Persero).
Kalimantan
Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia Timur dilayani oleh PLN
Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah Kalimantan Timur.
Sulawesi
Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi Utara-Tengah-Gorontalo dan PLN
Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat.

6
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 6

04/02/2013 14:16:18

Nusa Tenggara
Pelayanan kelistrikan di Kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat
dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur.
Maluku dan Maluku Utara serta Papua
Wilayah usaha PLN di Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara dilayani oleh PLN Wilayah Maluku &
Maluku Utara, dan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua.

Wilayah Operasi Jawa-Bali


Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten, PLN Distribusi
Jakarta Raya & Tangerang, PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi Jawa Timur
dan PLN Distribusi Bali. Di wilayah ini terdapat unit operasi dan pemeliharaan pembangkitan, yaitu
PLN Pembangkitan Tanjung Jati B, PLN Pembangkitan Lontar dan PLN Pembangkitan Jawa Bali. Selain
itu terdapat PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali dan anak perusahaan PLN di bidang
pembangkitan, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali, serta beberapa listrik swasta.
Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2. Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero)

1.7.

Sistematika Dokumen RUPTL

Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab I menjelaskan latar belakang,
landasan hukum, visi dan misi perusahaan, tujuan dan sasaran, dan sistematika dokumen. Bab II
menjelaskan kebijakan umum pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan
sistem. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini, Bab IV menjelaskan ketersediaan energi primer. Bab
V menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik, meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan, asumsi
dasar, prakiraan kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi, serta
neraca energi dan kebutuhan bahan bakar. BabVImenjelaskan kebutuhan investasi. Bab VII menjelaskan
analisis risiko dan langkah mitigasinya. Bab VIII memberikan kesimpulan.
Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam lampiranlampiran yang
menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem kelistrikan dan setiap provinsi.

7
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 7

04/02/2013 14:16:18

LO-RUPTL Awal ok.indd 8

04/02/2013 14:16:18

9
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 9

04/02/2013 14:16:19

Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2012-2021 ini dibuat dengan memperhatikan RUKN
2008-2027 dan draft RUKN 2012-2031 serta kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan
penjualan, pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi. Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud.

2.1.

Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik untuk Melayani


Pertumbuhan Kebutuhan Tenaga Listrik

Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan PLN yang juga dihadiri oleh
anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram pada tanggal 27 Juli 2010, PLN diminta mempertahankan
bebas pemadaman listrik. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan tenaga listrik
dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh Indonesia secara terus menerus, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani kebutuhan
tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas karena proyek-proyek
pembangkit belum sepenuhnya selesai, PLN telah dan akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan
menyewa pembangkit sebagai solusi interim. Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas
pembangkit dan transmisi diharapkan telah selesai7 dan reserve margin telah mencukupi, maka penjualan
akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit listrik.
RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik dalam RUKN 2008-2027 yang
diperbaharui dengan draft RUKN 2012-2031 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral pada tahun 2012.
RUPTL ini juga disusun untuk mempercepat peningkatan rasio elektrifikasi secara signifikan dengan
menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup tinggi setiap tahun, dan melayani semua
daftar tunggu yang ada. Pada daerah-daerah tertentu RUPTL ini telah mempertimbangkan permintaan
listrik yang tinggi karena pelaksanaan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara.
Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2012-2021 ini adalah belum diperhitungkannya dampak program
demand side management (DSM) dan program energy eciency dalam membuat prakiraan demand.
Kebijakan ini diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman, disamping karena
implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif.
Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan cukup tinggi sehingga
diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan
ekonomi sebagaimana direncanakan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI).

2.2.

Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang
direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan
tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan
pasokan yang diinginkan, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi
terbarukan.

Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2, proyek pembangkit PLN dan IPP lainnya

10
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 10

04/02/2013 14:16:20

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan secara optimal dengan
prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost), dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang
wajar dalam industri tenaga listrik. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present
value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi, biaya bahan bakar, biaya operasi
dan pemeliharaan, dan biaya energy not served8. Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan
kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan cadangan daya (reserve margin)9. Pembangkit sewa dan excess
power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana pengembangan kapasitas jangka panjang, namun
dalam jangka pendek diperhitungkan untuk menggambarkan upaya PLN dalam mengatasi kondisi krisis
kelistrikan.
Namun demikian, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan
memanfaatkan energi terbarukan, pengembangan panas bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria
least cost, sehingga dalam proses perencanaan mereka diperlakukan sebagai fixed plant10. Namun
demikian perencanaan pembangkit panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan
supply demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan, serta status kesiapan pengembangannya.
Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional namun telah lama
menderita kekurangan pasokan tenaga listrik, yaitu Sumatera dan Kalimantan, PLN mempunyai kebijakan
untuk membolehkan rencana reserve margin yang tinggi. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan
pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan dan Sumatera seringkali mengalami keterlambatan,
pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya
tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh
lebih cepat11.
Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi, PLN akan memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari
tahun ke tahun. Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik, maka PLN akan mengimbanginya
dengan mitigasi tertentu. Mitigasi tersebut misalnya pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan
dengan pasokan, memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat dilakukan power
exchange, dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan berikutnya.
Pemilihan lokasi pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi primer
setempat atau kemudahan pasokan energi primer, kedekatan dengan pusat beban, prinsip regional
balance topologi jaringan transmisi yang dikehendaki, kendala pada sistem transmisi12, dan kendalakendala teknis, lingkungan dan sosial13.
Untuk memenuhi kebutuhan beban puncak, pembangkit berbahan bakar BBM tidak direncanakan lagi.
Untuk selanjutnya PLN hanya merencanakan pembangkit beban puncak yang beroperasi dengan gas
(LNG, mini LNG, CNG). Apabila ada potensi, PLN lebih mengutamakan pembangkit hidro, seperti pumped
storage, PLTA peaking dengan reservoir.
Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan apabila terdapat kepastian
pasokan gas.

8
9
10
11
12
13

Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat
dinikmati konsumen akibat padam listrik
LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV.
Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa menjalani proses optimisasi keekonomian.
PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya dengan metoda regresi berdasar data historis.
Pembebanan lebih, tegangan rendah, arus hubung singkat terlalu tinggi, stabilitas tidak baik.
Antara lain kondisi tanah, bathymetry, hutan lindung, pemukiman.

11
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 11

04/02/2013 14:16:20

Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan, maka PLTGU sebagai pembangkit medium (pemikul beban
menengah) menjadi tidak dapat direncanakan. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar, yaitu
PLTU batubara, dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang relatif
rendah, walaupun untuk fungsi tersebut PLTU batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang
mempunyai ramping rate14 tinggi seperti PLTG.
Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara) skala
kecil merupakan program untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem
kelistrikan skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup dekat.
Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali, PLN telah merencanakan PLTU batubara kelas 1.000 MW dengan
teknologi ultra super critical15 untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih
rendah. Penggunaan ukuran unit sebesar ini dimotivasi oleh manfaat economies of scale dan didorong
oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di Pulau Jawa.
Pertimbangan lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah cukup besar untuk mengakomodasi unit
pembangkit kelas 1.000 MW.
Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan untuk memenuhi prinsip regional balance. Regional
balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit
yang berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada transfer daya dari region lain melalui
saluran transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini, kebutuhan transmisi interkoneksi antar region akan
minimal.
Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit
di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi, sepanjang hal tersebut layak
secara teknis dan ekonomis. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut
tambang skala besar di Sumatera Selatan dan menyalurkan sebagian besar energi listriknya ke pulau Jawa
melalui transmisi arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)16. Situasi
yang sama juga terjadi di sistem Sumatera, dimana sumber daya energi (batubara, panas bumi dan gas)
lebih banyak tersedia di Sumbagsel, sehingga di wilayah ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP
yang sebagian energinya akan ditransfer ke Sumbagut melalui sistem transmisi tegangan ekstra tinggi.
Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL disesuaikan dengan
kemampuan pendanaan PLN. Mengingat kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar,
PLN tidak dapat secara sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. Dengan demikian
sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP).
Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan:

Proyek pembangkit direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah mendapat pendanaan dari
lender, telah mempunyai kontrak EPC/penunjukan pemenang lelang EPC, atau ditugaskan oleh
pemerintah untuk melaksanakan sebuah proyek pembangkit.
Proyek pembangkit direncanakan sebagai proyek IPP apabila PLN telah menandatangani PPA/Letter
of Intent, PLN telah menyampaikan usulan kepada pemerintah bahwa suatu proyek dikerjakan oleh
IPP, atau pengembang swasta telah memperoleh IUPTL dari Pemerintah.
Proyek pembangkit yang belum direncanakan sebagai proyek PLN atau IPP dimasukkan dalam
kelompok proyek unallocated.
PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi, pengembangan PLTP pada
umumnya didorong untuk dikembangkan oleh swasta dengan proses pemenangan WKP melalui

14 Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah output-nya, dinyatakan dalam % per menit, atau MW per menit.
15 PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang secara komersial. Jenis CCT lainnya, yaitu
Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC) diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024.
16 Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera Jawa ini adalah kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera
telah terpenuhi dengan cukup.

12
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 12

04/02/2013 14:16:20

tender oleh Pemda sebagai total project 17. Sedangkan potensi panas bumi yang WKP-nya dimiliki oleh
Pertamina berdasar regulasi terdahulu, Pertamina dan PLN dapat bekerja sama mengembangkan
PLTP 18. Beberapa WKP PLTP di Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya
sebagai proyek PLN.

2.3.

Kebijakan Pengembangan Transmisi

Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara
kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien dengan memenuhi
kriteria keandalan tertentu. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai
usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.
Proyek transmisi pada dasarnya dilaksanakan oleh PLN, kecuali beberapa transmisi terkait dengan
pembangkit milik IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan oleh pengembang IPP. Namun demikian,
terbuka opsi proyek transmisi untuk juga dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu,
misalnya build lease transfer (BLT)19. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan keterbatasan
kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam
hal mengurus perizinan dan pembebasan lahan.
Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer energi listrik dari wilayah yang
mempunyai sumber energi primer tinggi ke wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas,
maka sistem Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan interkoneksi
utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang sangat luas. Sebagai dampak dari kebijakan
tersebut, dalam RUPTL ini direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC
pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat diperlukan di koridor timur
Sumatera.
Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh, melalui laut dan berkapasitas besar memerlukan
teknologi transmisi daya arus searah (HVDC). Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC
adalah mengadopsi tegangan yang banyak digunakan di negara lain, yaitu 500 kV DC dan 250 kV DC20.
Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan dengan mempertimbangkan
pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.
Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar sub-sistem dengan pola operasi
terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan.
Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N1 akan dilaksanakan reconductoring dan
uprating.
Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem isolated yang masih dilayani
PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis.

17 Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik) dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya
membeli listrik.
18 Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant, atau Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total
project dan PLN membeli listriknya.
19 Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta, termasuk pembebasan lahan dan perizinan
ROW, dan PLN mengoperasikan serta membayar sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan ditransfer menjadi milik PLN.
20 Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan nasional, teknologi HVDC tidak mempunyai
standar tegangan. Pemilihan tegangan HVDC disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut)
yang banyak digunakan di dunia, misalnya 500 kV DC (India, Kanada), 250 kV DC (Jepang, Swedia).

13
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 13

04/02/2013 14:16:20

Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya pembangunan fasilitas


sistem transmisi tegangan tinggi, biaya pembebasan tanah, biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi
tegangan menengah dan harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola
sistem transmisi.
Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi, penggunaan tiang, jenis saluran (saluran udara, kabel
bawah tanah, kabel laut) dan perlengkapannya (pemutus, pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan
aspek keekonomian jangka panjang, dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik, dengan
memenuhi standar SNI, SPLN atau standar internasional yang berlaku.
Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai berikut:
a. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan, kapasitas
transmisi dan jumlah penyulang (feeder) keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan
kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GIGI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.
b. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan
tegangan menengah.
c. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas sampai dengan 60 MVA.
d. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit per GITET dengan pola
operasi terpisah dan dengan 2 unit per sub-sistem.
e. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS, dan 1 fasa per tipe per provinsi
untuk GITET jenis konvensional.
f. Untuk melistriki komunitas dengan kebutuhan listrik yang dalam jangka panjang diperkirakan akan
tumbuh lambat, dapat dibangun gardu induk dengan desain minimalis.
Untuk meningkatkan pelayanan dan mengantisipasi kebutuhan tenaga listrik yang semakin besar di
kabupaten-kabupaten yang tersebar dan belum dilayani dari jaringan tegangan tinggi, dalam RUPTL ini
terdapat rencana pembangunan GI-GI baru di beberapa kabupaten. Perencanaan GI-GI baru tersebut
tetap mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.

2.4.

Kebijakan Pengembangan Distribusi

Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal, yaitu: perbaikan
tegangan pelayanan, perbaikan SAIDI dan SAIFI, penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan
yang tua. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan
perbaikan sarana pelayanan.
Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton, besi atau kayu), jenis saluran (saluran udara, kabel bawah
tanah), sistem jaringan (radial, loop atau spindle), perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak),
termasuk penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar, ditentukan oleh
manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat
mutu pelayanan yang lebih baik, dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku.

2.5.

Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan

Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki
masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN, dan diutamakan pada provinsi dengan
rasio elektrifikasi yang masih rendah. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan
(DJK) dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi 80% dan desa berlistrik
98,9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 20102014 adalah:

14
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 14

04/02/2013 14:16:21

2.6.

Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek GI Baru
atau Extension Trafo GI yang pendanaannya diperoleh dari APBN.
Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU
skala kecil tersebar dan pembangkit mikro/mini tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari
APBN.
Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU
skala kecil tersebar yang pendanaannya dari APLN, dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi
tersebut belum disediakan dari APLN.
Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut belum berlistrik, daerah
terpencil dan daerah perbatasan.
Dimungkinkan pemasangan load break switch untuk menunjang perbaikan keandalan jaringan
tegangan menengah dan tiang 14 meter serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan
pengembangan sistem.
Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTS dan hybrid PLTB21 yang sistemnya terhubung dengan grid
PLN.
Melaksanakan program Listrik Murah dan Hemat dengan target masyarakat nelayan, daerah
tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi.

Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan

Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk lebih optimal lagi dalam memanfaatkan energi baru dan
terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2010 mengenai penugasan
Pemerintah kepada PLN untuk melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan
menggunakan energi terbarukan, batubara dan gas serta Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral No. 02/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 15/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 01/2012,
maka PLN akan memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. Kedua jenis energi baru ini
dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap, walaupun dengan tetap memperhatikan
kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain.
Kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek PLTA tanpa menganut prinsip
demand driven22 demi mencapai suatu tujuan khusus tertentu, walaupun hal ini hanya dilakukan
secara sangat terbatas dan selektif. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem
berkapasitas 50 MW23 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi Pegunungan Tengah yang sama
sekali belum memiliki listrik. Proyek ini diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut
untuk pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua Maluku.
Berdasar kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan panas bumi yang sangat
besar, pembangkit tenaga air skala besar, menengah dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa
PLTS, PLTB, biomasa, biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). PLN juga mendorong penelitian dan
pengembangan EBT lain seperti thermal solar power, arus laut, OTEC (ocean thermal energy conversion),
dan fuel cell.
Khusus mengenai PLTS, PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan centralized PV untuk melistriki
banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal, pulau-pulau terdepan yang
berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya. Hal ini didorong oleh semangat PLN
untuk memberi akses ke tenaga listrik yang lebih cepat kepada masyarakat di daerah terpencil. Lokasi
centralized PV/PLTS komunal dipilih setelah mempertimbangkan faktor tekno-ekonomi seperti biaya

21 PLTS: Pembangkit Listrik Tenaga Surya, PLTB: Pembangkit Listrik Tenaga Bayu
22 Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit.
23 Dapat dikembangkan menjadi 100 MW.

15
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 15

04/02/2013 14:16:21

transportasi BBM ke lokasi dan mengoperasikan PV secara hybrid dengan PLTD yang telah ada sehinggga
mengurangi pemakaian BBM. Selain itu PLN juga memperhatikan, alternatif sumber energi primer/EBT
yang tersedia setempat dan tingkat pelayanan24 yang akan disediakan pada lokasi tersebut.

2.7.

Kebijakan Mitigasi Perubahan Iklim

Sesuai misi PLN menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan, dan sejalan dengan komitmen
nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PLN akan melakukan upaya pengurangan
emisi GRK dari semua kegiatan ketenagalistrikan.
Kebijakan PLN untuk mitigasi perubahan iklim adalah sebagai berikut.
1.

Memprioritaskan pengembangan energi terbarukan


PLN memprioritaskan pemanfaatan PLTA dan PLTP untuk masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja
mereka siap25. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai keekonomian PLTP dan PLTA tidak menjadi faktor
utama dalam proses pemilihan kandidat pembangkit. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah adanya
peningkatan biaya investasi PLN, sehingga pemanfaatan insentif dari pendanaan karbon (carbon
finance) menjadi penting bagi PLN.
PLN telah berpengalaman mengembangkan proyek yang dapat menghasilkan kredit karbon, baik
dalam kerangka UNFCCC maupun di luar kerangka UNFCCC. Oleh karena itu kebijakan PLN terkait
mitigasi perubahan iklim adalah untuk terus memanfaatkan pendanaan karbon guna mendukung
kelayakan ekonomi proyek-proyek rendah karbon, terutama PLTP dan PLTA.

2.

Menggunakan teknologi rendah karbon


Penyediaan tenaga listrik PLN hingga tahun 2021 masih akan didominasi oleh pembangkit berbahan
bakar fosil, terutama batubara. PLN menyadari bahwa pembakaran batubara menghasilkan emisi
GRK yang relatif besar, sehingga diperlukan upaya mitigasi emisi GRK yang bersumber dari PLTU.
Kebijakan PLN terkait terkait hal ini adalah PLN hanya akan menggunakan ultra-supercritical boiler
untuk PLTU batubara yang akan dikembangkan di pulau Jawa.

3.

Pengalihan bahan bakar (fuel switching)


Dengan motif untuk mengurangi pemakaian BBM, PLN berencana mengalihkan pemakaian BBM ke
gas pada PLTG, PLTGU dan PLTMG (gas engine). Langkah fuel switching secara langsung juga akan
mengurangi emisi GRK karena faktor emisi gas lebih rendah daripada faktor emisi BBM.

4.

Efisiensi energi di pusat pembangkit


Efisiensi termal pembangkit yang mengalami penurunan sejalan dengan umurnya akan mengkonsumsi
bahan bakar lebih banyak untuk memproduksi satu kWh listrik. PLN selalu berupaya menjaga efisiensi
pembangkitnya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan sekaligus menurunkan emisi GRK.

24 Jam nyala per hari


25 Kebijakan ini disertai dengan kajian bahwa ada kebutuhan beban dan tetap memperhatikan rencana pembangkit lain

16
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 16

04/02/2013 14:16:21

17
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 17

04/02/2013 14:16:21

3.1.

Penjualan Tenaga Listrik

Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 8,5% per tahun sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh)
Wilayah

2007

2008

2009

2010

2011

120,0

127,6

133,1

145,7

158

7,6

6,4

9,4

10,7

8,5

95,6

100,8

104,1

113,4

120,8

7,4

5,4

3,3

8,9

6,5

14,7

16,4

17,6

19,7

21,5

7,9

11,9

7,2

11,6

9,3

3,9

4,2

4,7

5,1

5,7

7,6

8,2

9,6

10,3

10,1

3,9

4,2

4,6

5,1

5,6

10,2

7,3

8,8

10,7

11,0

1,8

2,0

2,2

2,4

2,7

12,3

8,3

9,9

10,7

13,0

Indonesia
Pertumbuhan (%)
Jawa - Bali
%
Sumatera
Kalimantan
Sulawesi
%
Maluku, Papua dan Nusa Tenggara
%

Rata-rata
8,5
6,3
9,6
9,2
9,6
10,8

Pada Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan rata-rata penjualan listrik di Jawa Bali (6,3% per tahun)
relatif lebih rendah daripada pertumbuhan rata-rata di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua
dan Nusa Tenggara.
Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2007 disebabkan oleh adanya pengendalian
penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit pada tahun tersebut26. Selanjutnya pada tahun 2008
mulai terjadi krisis finansial global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik
tahun 2009 hanya tumbuh 3,3%. Pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak krisis keuangan global
mulai tahun 2010.
Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi, yaitu rata-rata 9,6% per tahun. Pertumbuhan
ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5,2% per
tahun, sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi dengan
sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.
Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 9,2% per tahun, sedangkan penambahan kapasitas
pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun, sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan
dibatasi.
Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 9,6% per tahun, sementara penambahan kapasitas
pembangkit rata-rata hanya 2,7% per tahun. Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik
yang cukup parah hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan, dan pada tahun 2010 diatasi dengan
sewa pembangkit.
Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya, yaitu Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.
Pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur diperkirakan masih berpotensi
untuk meningkat lebih tinggi karena daftar tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio
elektrifikasi yang akan terus ditingkatkan.

26 Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2006.

18
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 18

04/02/2013 14:16:22

3.1.1

Jumlah Pelanggan

Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 20072011 mengalami peningkatan dari 37,2 juta menjadi 45,6
juta atau bertambah rata-rata 1,68 juta tiap tahunnya. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi
pada sektor rumah tangga, yaitu rata-rata 1,6 juta per tahun, diikuti sektor bisnis dengan rata-rata 87 ribu
pelanggan per tahun, sektor publik rata-rata 45 ribu pelanggan per tahun, dan terakhir sektor industri
rata-rata 700 pelanggan per tahun. Tabel 3.2 menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut
sektor pelanggan dalam lima tahun terakhir.
Tabel 3.2. Perkembangan Jumlah Pelanggan (Ribu Unit)
Jenis Pelanggan
Rumah Tangga
Komersial
Publik
Industri
Total

3.1.2

2007

2008

34.508,1

35.835,1

2009

2010

36.897

39.108,5

2011
42.348,312

1.585,1

1.687,3

1.770,4

1.877,6

2.019,03

988,8

1.052,2

1.164,7

1.147,8

1.213,69

46,6

46,3
38.620,9

47,6
39.879,7

48,4
42.182,4

50,027
45.631,059

37.128,6

Rasio Elektrifikasi

Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah
rumah tangga yang ada. Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami
kenaikan, yaitu dari 60,8% pada tahun 2007 menjadi 71,2% pada tahun 2011.
Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%)
Wilayah
Indonesia

2007
60,8

2008

2009

62,3

2010
65

2011

67,5

71,23

Jawa-Bali

66,3

68

69,8

71,4

72,325

Sumatera

56,8

60,2

60,9

67,1

69,38

Kalimantan
Sulawesi
Indonesia Bagian Timur

54,5
53,6
30,6

53,9
54,1
30,6

55,1
54,4
31,8

62,3
62,7
35,7

64,25
66,63
44,24

*) Termasuk pelanggan non PLN

Pada Tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak merata pada masingmasing daerah, dengan rincian sebagai berikut:
Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 2,5% per tahun.
Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya sekitar 2,6% per tahun. Rasio elektrifikasi naik cukup
tajam pada tahun 2010 karena adanya pembangkit sewa.
Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1,2% per tahun.
Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun 2009 karena
teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa pembangkit sewa.
Indonesia bagian Timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan 2,7% per tahun. Kesulitan utama
adalah keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.

3.1.3

Pertumbuhan Beban Puncak

Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.4. Dari
Tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah, yaitu rata-rata 5,2%, dengan
loadfactor cenderung meningkat, hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi,

19
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 19

04/02/2013 14:16:22

yaitu rata-rata 8,5% (lihat Tabel 3.1). Perbaikan loadfactor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan
penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk
mengendalikan pelanggan baru27.
Tabel 3.4. Pertumbuhan Beban Puncak Sistem JawaBali 20062010
Deskripsi

Satuan

2007

2008

2009

2010

2011
26.664

Kapasitas Pembangkit

MW

22.236

22.296

22.906

23.206

Daya Mampu

MW

20.309

20.369

21.784

21.596

23.865

Beban Puncak Bruto

MW

16.840

16.892

17.835

18.756

20.439

Beban Puncak Netto


Pertumbuhan

MW
%

16.251
5,6

16.301
0,3

17.211
5,6

18.100
5,2

19.739
9,05

76

78,7

77,7

79,5

77,76

Faktor Beban

Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem kelistrikan di luar Jawa Bali
tidak dapat disajikan seperti di atas karena sistem kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa
subsistem yang beban puncaknya noncoincident.

3.2.

Kondisi Sistem Pembangkitan

Pada tahun 2011 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 34.329 MW yang terdiri
dari 26.664 MW di sistem Jawa-Bali dan 7.665MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia
Barat dan Indonesia Timur. Pembangkit sewa tidak termasuk dalam angka tersebut.

3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistem- sistem Indonesia Barat dan
Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.611 MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.5. Kapasitas
pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan kapasitas 1.007 MW. Walaupun kapasitas terpasang
pembangkit adalah 7.611 MW, kemampuan netto dari pembangkit tersebut lebih rendah dari angka
tersebut karena banyak PLTD yang telah berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating28.
Tabel 3.5. Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) Tahun 2011 29
PLN (MW)

Provinsi
PLTD
Aceh
Sumatera Utara

PLTG

PLTGU

PLTU

PLTA/M

PLTP

Jumlah
PLN

217,5

0,0

0,0

0,0

1,8

0,0

219,0

37,6

203,5

203,5

0,0

490,0

140,0

871,0

IPP (MW)
PLTD

PLTG

PLTGU

Jumlah
IPP

PLTU

Jumlah

PLTP

183,0

0,0

219,0

11,0

1.065,0

0,0

1.359,0

Sumatera Barat

32,8

54,0

817,9

200,0

254,2

0,0

1.359,0

Riau

86,7

59,7

59,7

0,0

0,0

114,0

260,0

Kep. Riau

81,6

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

82,0

82,0

Bengkulu

21,6

0,0

0,0

0,0

0,0

233,9

256,0

256,0

Sumatera Selatan

30,9

175,5

175,5

40,0

285,0

0,0

531,0

Jambi

49,4

78,0

78,0

0,0

0,0

0,0

127,0

127,0

Bangka Belitung

91,8

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

92,0

92,0

Lampung

260,0

230,0

227,0

988,0

65,8

18,0

18,0

0,0

200,0

119,6

403,0

403,0

Kalimantan Barat

194,8

34,0

34,0

0,0

0,0

1,6

230,0

230,0

Kalimantan
Selatan

125,8

21,0

21,0

0,0

130,0

30,0

307,0

307,0

27 Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010


28 Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.
29 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011 untuk kapasitas pembangkit PLN, dan Laporan Keuangan PLN tahun 2011 untuk
data IPP.

20
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 20

04/02/2013 14:16:22

Tabel 3.5. Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) Tahun 2011
PLN (MW)

Provinsi
PLTD
Kalimantan
Tengah
Kalimantan Timur

PLTG

PLTGU

PLTU

78,1

0,0

0,0

0,0

PLTA/M
0,0

PLTP
0,0

Jumlah
PLN

PLTGU

PLTU

38,4

60,0

0,0

0,0

322,0

0,0

0,0

0,0

10,0

55,4

199,0

Gorontalo

31,7

0,0

0,0

0,0

0,0

1,5

33,0

Sulawesi Tengah

110,2

0,0

0,0

0,0

30,0

8,6

149,0

Sulawesi Selatan

72,7

122,72

122,7

0,0

12,5

151,1

359,0

6,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

11,0

3,0

27,0
60,0

60,0

Jumlah

PLTP

45,0

38,4

73,3

Maluku

PLTG

11,0

223,9

Sulawesi Tenggara

PLTD

Jumlah
IPP

78,0

Sulawesi Utara

Sulawesi Barat

IPP (MW)

Lanjutan

135,0

89,0

45,0

367,0

3,0

202,0

0,0

33,0

3,0

30,0

179,0

12,0

267,0

626,0
6,0

89,7

0,0

0,0

0,0

0,0

1,6

91,0

91,0

134,6

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

135,0

135,0
62,0

Maluku Utara

62,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

62,0

Papua

89,6

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

92,0

Papua Barat

53,7

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

56,0

0,0

56,0

144,8

0,0

0,0

0,0

0,9

0,0

146,0

0,0

146,0

NTB
NTT
TOTAL

137,5

0,0

0,0

0,0

1,1

0,0

139,0

2.344,5

804,9

917,9

1.357,5

1.119,2

60,0

6.604,0

92,0

60,0

365,0

310,0

201,0

11,0

0,0

139,0

1.007,0

7.611,0

Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur mencapai 6.620 MW pada tahun
2011. Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila
menerapkan kriteria cadangan 40%, maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 2.000 MW.
Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut, hampir seluruh unit usaha PLN di Indonesia barat
dan Timur telah melakukan sewa pembangkit. Kapasitas pembangkit sewa yang ada di Wilayah Operasi
Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun 2011 mencapai 3.031 MW sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2011
No

PLN Wilayah

PLTD

PLTG

PLTMG

Kapasitas (MW)

Aceh

Sumut

12

12

Sumbar

29

29

4
5

Riau dan Kepri


Babel

113
77

113
77

S2JB

22

22

Kit Sumbagsel

135

424

Kit Sumbagut

407

46

Kalbar

235

235

10

Kalselteng

205

205

11

Kaltim

138

12

Sulselrabar

352

352

13

Sulutenggo

184

184

14

Maluku

80

80

15

Papua

90

90

16

NTB

147

147

17

NTT

59

59

Jumlah

194

2.477

194

20

490

51

610
453

13

64

171

3.031

21
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 21

04/02/2013 14:16:22

3.2.2. Wilayah Operasi JawaBali


Pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2011 adalah PLTU Indramayu Unit 1-3
(3x300 MW), PLTU Suralaya Unit 8 (625 MW), PLTU Tanjung Jati B Unit 3 (660 MW), PLTD Pesanggaran
BOT (50 MW) dan PLTG Cikarang Listrindo (150 MW), dengan kapasitas tambahan total sebesar 2.385MW.
Penambahan pasokan daya pembangkit tersebut membantu meningkatkan kemampuan pasokan sistem
Jawa Bali menjadi total sebesar 26.664 MW.
Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dapat dilihat pada Tabel
3.7.
Tabel 3.7. Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 201130
PLN

Jumlah

No

Jenis Pembangkit

IPP

PLTA

2.392

150

2.542

10%

PLTU

107

3.012

137

51%

MW

PLTG

2.035

300

2.335

9%

4
5

PLTGU
PLTP

6.916
375

0
685

6.916
1.060

26%
4%

PLTD
Jumlah

3.3.

105

105

0%

22.517

4.147

26.664

100%

Kondisi Sistem Transmisi

3.3.1. Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur


Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir
menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi
dengan selesainya beberapa proyek transmisi. Sedangkan pulau lainnya, yaitu Nusa Tenggara Timur,
Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.
Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 6,5% per tahun dalam periode 20072011, dimana
kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2007 sekitar 7.916 MVA meningkat menjadi 10.502 MVA pada
tahun 2011.
Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk di sistem Indonesia Barat
dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3.8. Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) 31
Region

2007

2008

2009

2010

2011

Sumatera
275/150 kV

160

160

160

160

410

150/20 kV

4.474

4.804

5.170

5.920

6.215

70/20 kV

360

360

350

335

395

150/20 kV

1.174

1.174

1.383

1.453

1.553

70/20 kV

157

157

153

187

148

Kalimantan

30 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011.


31 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011 untuk kapasitas pembangkit PLN.

22
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 22

04/02/2013 14:16:22

Tabel 3.8. Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi


Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MVA)31
Region

2007

2008

2009

lanjutan
2011

2010

Sulawesi
150/20 kV

1.045

1.074

1.064

1.064

1.267

70/20 kV

546

606

546

560

514

Sub-Total
275/150 kV

160

160

160

160

410

150/20 kV

6.693

7.052

7.617

8.437

9.035

70/20 kV

1.063

1.123

1.049

1.082

1.057

Tabel 3.9. Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat


dan Indonesia Timur (kms) 32
Region
Sumatera

2007

2008

2009

2010

2011

275 kV
150 kV
70 kV

781
7.739
334

781
8.423
334

1.011
8.221
334

1.011
8.224
331

1.028
8.439
332

150 kV
70 kV

1.305
123

1.429
123

1.429
123

1.567
123

1.680
123

150 kV
70 kV

1.839
505

1.957
505

1.957
519

2.304
528

2.988
528

275 kV
150 kV
70 kV

781
1.0883
962

781
1.1809
962

1.011
11.607
976

1.011
12.095
982

1.028
13.107
983

Kalimantan

Sulawesi

Sub-Total

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat rata-rata 3,9% per tahun dalam
kurun waktu 2007-2011, dimana panjang saluran transmisi pada tahun 2007 sekitar 12.626 kms meningkat
menjadi 15.118 kms pada tahun 2011.

3.3.2. Sistem Transmisi JawaBali


Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa Bali untuk 5 tahun terakhir
ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3.10. Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali33
Level Tegangan

Unit

2007

2008

2009

2010

2011

150/20 kV

MVA

26.070

26.150

27.080

28.440

33.720

70/20 kV

MVA

2.800

2.750

2.740

2.750

2.727

Jumlah

MVA

28.870

28.900

29.820

31.190

36.447

Beban Puncak

MW

16.260

16.310

17.210

18.100

19.739

Tabel 3.11. Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali34


Level Tegangan

Unit

2007

2008

2009

2010

2011

500 kV

kms

5.050

5.090

5.110

5.050

5.052

150 kV

kms

11.610

11.850

11.970

12.370

12.906

70 kV

kms

3.580

3.610

3.610

3.610

3.474

32 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011 untuk kapasitas pembangkit PLN.
33 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011 untuk kapasitas pembangkit PLN.
34 Sumber: Statistik PT PLN (Persero) tahun 2011 untuk kapasitas pembangkit PLN.

23
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 23

04/02/2013 14:16:22

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak bertambah, bahkan sedikit
berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi 150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan
perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan trafo GI per sistem
tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu 5tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.
Tabel 3.12. Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)35
Level Tegangan

Satuan

2007

2008

2009

2010

2011

Kit. Sistem 500 kV

MW

12.970

12.970

12.970

12.970

Trf. 500/150 kV

MVA

17.000

17.000

17.500

19.500

14.221
24.000

Kit. Sistem 150 kV

MW

8.990

9.010

10.110

10.410

11.480

Trf. 150/70 kV

MVA

3.580

3.580

3.820

3.820

3.820

Kit. Sistem 70 kV

MW

270

270

270

270

270

Trf. 150/20 kV

MVA

26.070

26.150

26.330

28.440

29.660

Trf. 70/20 kV

MVA

2.800

2.750

2.740

2.750

2.750

3.4.

Kondisi Sistem Distribusi

Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi pada lima tahun terakhir.

3.4.1. Susut Jaringan Distribusi


Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2007 cenderung menurun sejalan dengan usaha-usaha
menekan susut jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3.13. Rugi Jaringan Distribusi (%)
Tahun
Susut Distribusi

2007

2008

8,84

2009

8,29

7,93

2010
7,09

2011
7,34

3.4.2. Keandalan Pasokan


Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan indikator SAIDI dan SAIFI36
jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.14.
Tabel 3.14. SAIDI dan SAIFI PLN
Tahun

2007

2008

2009

2010

2011

SAIDI (jam/pelanggan/tahun)

28,94

80,90

16,70

7,00

4,71

SAIFI (kali/pelanggan/tahun)

12,77

13,33

10,78

6,85

4,90

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat pada Lampiran A, B dan C
yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5.

Masalah-Masalah yang Mendesak

Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi daerah-daerah yang kekurangan
pasokan listrik dan mengganti pembangkit berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta
melistriki daerah yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan dan
terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
35 Sumber : Laporan Evaluasi Operasi Tahunan P3B Jawa Bali tahun 2011
36 SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average Interruption Frequency Index

24
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 24

04/02/2013 14:16:22

Pada tahun 2011 sistem kelistrikan Sumatera pada dasarnya mengalami kekurangan pasokan daya.
Sistem Sumbagut hampir sepanjang tahun tidak mempunyai cadangan operasi, sering mengalami defisit
dan mengoperasikan banyak pembangkit berbahanbakar BBM (lebih dari 60%). Sistem Sumbagsel juga
mengalami hal yang sama, yaitu hampir sepanjang tahun tidak mempunyai cadangan operasi yang
cukup, bahkan kira-kira 4 bulan dalam setahun dalam kondisi defisit daya. Gas, batubara dan hidro sudah
mengambil peran besar dalam pembangkitan di Sumbagsel.
Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan
BBM. Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah dengan cadangan pembangkitan yang tidak
memadai. Kebutuhan listrik untuk daerah perdesaan di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak
juga masih belum tercukupi.
Sistem kelistrikan di wilayah operasi Indonesia Timur tahun 2011 banyak yang dalam kondisi krisis termasuk
pada sistem-sistem yang melayani ibukota Provinsi yaitu sistem Barito dan Mahakam di Kalimantan, sistem
Sulsel, Kendari, Minahasa-Gorontalo dan Palu di Sulawesi, sistem Lombok, Ambon, Ternate dan sistem
Jayapura. Sistem-sistem tersebut beroperasi dalam kondisi tanpa cadangan yang cukup sehingga apabila
terjadi gangguan pada salah satu pembangkit akan mengakibatkan pemadaman.
Demikian juga dengan kondisi sistem kecil yang melayani ibukota kabupaten, beberapa diantaranya
mengalami krisis dan bahkan sebagian diantaranya sudah mengalami defisit daya sehingga sering terjadi
pemadaman.
Realisasi operasi sistem kelistrikan Jawa Bali sepanjang tahun 2011 pada umumnya berjalan normal dan
aman, namun selama perioda beban puncak mengalami defisit daya sebanyak 165 kali sehingga dilakukan
load curtailment, dan 104 kali dalam kondisi kurang cadangan operasi. Hidrologi waduk kaskade Citarum
selama tahun 2011 termasuk kategori kering, sehingga hanya berpoduksi 75% dari rencana. Transfer
listrik dari region timur/tengah ke region barat masih dalam batas termal dan stabilitas. Sebagian besar
GITET 500 kV mengalami tegangan di bawah standar37, demikian juga dengan GI 150 kV. Namun demikian
masih terdapat banyak ruas transmisi 150 kV yang pembebannya telah melampaui kriteria keadalan N-1,
terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pembebanan sebagian besar trafo IBT 500/150 kV telah sangat
tinggi, yaitu mendekati 80%-100%, demikian pula halnya dengan pembebanan trafo 150/20kV.

3.5.1. Upaya Penanggulangan Jangka Pendek


Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat
Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi Indonesia Barat dan Timur pada
dasarnya disebabkan oleh keterlambatan penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN
maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan pasokan dan menggantikan
pembangkit BBM eksisting yang tidak efisien serta menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah
yang elektrifikasinya tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut meliputi sewa pembangkit,
pembelian energi listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan Pemda
setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU batubara PerPres 71/2006,
membangun saluran transmisi, mengamankan kontinuitas pasokan energi primer dan memasang
beberapa PLTS centralized dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli semua potensi excess
power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu
menambahnya dengan menyewa pembangkit sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.6.
37 GITET Bekasi pernah mencapai tegangan terendah hingga 439 kV.

25
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 25

04/02/2013 14:16:22

Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut: (i) memenuhi
kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan bersifat sementara sebelum pembangkit utama nonBBM beroperasi; (ii) menggantikan pembangkit BBM eksisting yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada
daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak tersedia sumber daya EBT lainnya. Sewa pembangkit
tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG (gas engine) dan PLTGB.

Wilayah Operasi Jawa Bali


Upaya jangka pendek yang dilakukan PLN di Jawa Bali adalah mempercepat pengadaan trafo 150/20 kV
dan trafo IBT 500/150 kV, menambah kapasitas pembangkit di Bali, mempecepat pembangunan kabel laut
Jawa-Bali 150 kV sirkit 3 dan 4, memasang kapasitor di sistem Jakarta untuk perbaikan tegangan.

3.5.2. Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Hal hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur adalah sebagai berikut.
Pembangkitan

Mempercepat penyelesaian proyek-proyek PLTU batubara dalam program FTP1 10.000MW.


Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti PLTA Asahan III 174
MW, PLTA Peusangan 88 MW, PLTU Pangkalan Susu #3,4 2x200 MW, PLTG Kaltim Peaking 2x50 MW,
PLTG/MG Bangkanai 4x70 MW, PLTU Punagaya 2x100 MW38, PLTG/MG Makassar 150MW, PLTG/MG
Minahasa 50 MW dan PLTG/MG Lombok 60 MW serta banyak PLTU batubara skala kecil dan PLTGB
tersebar.
Mempercepat pembangunan proyek-proyek pembangkit lainnya yang terdapat dalam neraca daya
pada Lampiran A1.2, Lampiran A2.2 dan Lampiran B1.2 dan Lampiran B2.2.
Secara khusus berikut ini disebutkan proyek-proyek pembangkit peaker untuk memenuhi kebutuhan
sistem kelistrikan: i) PLTG/MG Arun 200 MW dan PLTG/MG Pangkalan Brandan 200 MW yang keduanya
direncanakan beroperasi dengan gas yang akan dipasok dari regasifikasi LNG di Arun. ii) PLTMG Sei
Gelam 104 MW yang akan dipasok dari gas CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. iii) PLTG/MG Jaka
Baring 50 MW yang akan dipasok dari gas CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. iv) PLTG/MG Riau 200
MW yang direncanakan akan dipasok dari gas Jambi Merang sebesar 10 bbtud dan disimpan sebagai
CNG. v) PLTG/MG Jambi 100 MW yang diharapkan dapat memperoleh gas dari Jambi Merang dan
disimpan sebagai CNG. vi)PLTG/MG Lampung 100 MW yang diharapkan akan mendapatkan gas dari
beberapa alternatif sumber gas, juga perlu disimpan sebagai CNG. vii)PLTG/MG Bangkanai 280 MW
yang akan beroperasi dengan gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas CNG. viii) PLTG/
MG Makassar 150 MW dan PLTG/MG Minahasa 50 MW direncanakan akan dipasok dari mini LNG. ix)
PLTG/MG Lombok 60 MW direncanakan akan dipasok dengan gas CNG marine.

Transmisi dan Gardu Induk

Mempercepat pembangunan gardu induk dan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275kV di jalur
barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau Bangko - Muara Bungo Kiliranjao).
Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao Payakumbuh Padang Sidempuan dan
Payakumbuh - Garuda Sakti.
Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok Galang dan IBT 275/150 kV di
Galang.
Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu Binjai dan IBT 275/150 kV di Binjai
yang harus dapat beroperasi seiring dengan beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada tahun 2014.
Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari Betung New Aur Dur.

38 Sebelumnya bernama PLTU Takalar.

26
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 26

04/02/2013 14:16:22

Mempercepat proyek transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar-Serawak agar dapat beroperasi pada
akhir tahun 2014 untuk memenuhi kebutuhan sistem Kalbar, mengurangi ketidak-pastian kecukupan
daya, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keandalan.
Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut untuk memenuhi kebutuhan
sistem Bintan dan menurunkan biaya produksi di pulau Bintan.
Mempercepat interkoneksi 150 kV Sumatera-Bangka melalui kabel laut. Tujuan interkoneksi adalah
untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Bangka karena ketidak-pastian penyelesaian proyek PLTU
disana, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keandalam sistem kelistrikan di pulau Bangka.
Interkoneksi dengan kabel laut ini diharapkan dapat beroperasi pada 2015.
Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng - Kaltim dan sistem
interkoneksi 150 kV Sulut Gorontalo.
Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso Palu, transmisi 70 kV sistem
Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel
bawah tanah 150 kV Tanjung Bunga Bontoala.
Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Bangkanai Muara Teweh Buntok Tanjung.

3.5.3. Masalah Mendesak Sistem JawaBali


Hal hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi antara lain:

Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program:


Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu: Durikosambi 2x500MVA
(2015) dan Muaratawar 2x500 MVA (2015).
Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx Ungaran, SUTET Suralaya Baru
Balaraja, SUTET Balaraja Kembangan (2015), dan Kembangan Durikosambi (2015).
Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar Cibinong Bekasi Cawang (2013).
Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:
Penambahan IBT 500/150 kV 1x500 MVA di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon, IBT-4 Balaraja, IBT-3
Cawang (GIS), IBT-2 Tasikmalaya, IBT-4 Krian, IBT-2 Ngimbang dan IBT-3 Kediri.
Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung 1x500 MVA (2013),
Rawalo/Kesugihan 1x500 MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2013).
Mempercepat penyelesaian SUTET Grati Surabaya Selatan (2013).
Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:
Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (2013).
Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal (2015).
Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130MW + 2x125MW (2014).

27
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 27

04/02/2013 14:16:22

LO-RUPTL Awal ok.indd 28

04/02/2013 14:16:22

29
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 29

04/02/2013 14:16:23

4.1.

Batubara

Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya batubara Indonesia adalah
104,8 milyar ton yang tersebar terutama di Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton),
namun cadangan batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton, Sumatera 11,2
milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan kandungan panas kurang dari
5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit
(12%) yang berkualitas tinggi (61007100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)39. Walaupun
cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat produksi batubara sangat tinggi, yaitu
mencapai 370 juta ton pada tahun 201140. Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke
China, India, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan dan negara lain41. Produksi pada tahun-tahun mendatang
diperkirakan akan meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton, maka seluruh cadangan
batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton diatas akan habis dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak
dilakukan eksplorasi baru. Untuk menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat,
Pemerintah telah menerapkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan produsen
batubara untuk menjual sebagian produksinya ke pemakai dalam negeri.
PLN pada saat ini telah dapat mengelola pasokan batubara dengan lebih baik dari aspek kecukupan
dan kualitas. Harga batubara di pasar internasional yang cenderung turun sepanjang tahun 2012 akibat
melemahnya demand batubara global telah membuat ketersediaan batubara untuk pasar domestik
meningkat.
Dalam RUPTL tahun 2012-2021 ini terdapat rencana pengembangan beberapa PLTU mulut tambang di
Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang di sini adalah PLTU batubara yang berlokasi di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi yang memungkinkan batubara
diangkut ke pasar secara besar-besaran, sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya
menjadi tidak tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut tambang diharapkan
ditetapkan dengan formula cost plus.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga batubara yang relatif
rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya. Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi
karbon dioksida yang menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel dan
limbah kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan lokal. Dengan demikian
pengembangan pembangkit listrik berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi perhatian PLN dalam
merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa. Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya,
yaitu IGCC (integrated gasification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage) belum direncanakan
dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang secara teknis dan komersial.

4.2. Gas Alam


Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang terbesar dalam skala dunia, namun
cadangan gas alam di Indonesia cukup besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di
kepulauan Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur (21,49 Tscf) serta
Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan cadangan di Natuna.
39 Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah menggunakan standar GAR (gross as received).
Perbedaan antara adb dan GAR dapat dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.
40 Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dalam Indonesia Finance Today, tanggal 7 Februari 2012.
41 Website Indoanalisis pada tanggal 9 Juni 2012, http://www.indoanalisis.com/2012/06/tren-ekspor-batubara-semakin-tinggi-dansulit-di-stop/

30
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 30

04/02/2013 14:16:24

Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga listrik di Indonesia tidak selalu
tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan pasokan gas di hampir seluruh pembangkitnya yang
berbahan bakar gas. Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN pada kenyataannya mengalami penurunan,
ketidakpastian bahkan kelangkaan pasokan dalam beberapa tahun terakhir ini sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2. Disamping cadangan gas lapangan terus mengalami depletion, PLN juga
menghadapi kesulitan dalam memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar, karena sumbersumber gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka panjang dengan
pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya untuk memperoleh pasokan gas dari sumbersumber tersebut dan mulai menunjukkan hasil. Sebagai contoh, PLN telah memperoleh pasokan LNG dari
Bontang untuk FSRU Jakarta yang memasok Muara Karang dan Priok, dan PLN telah memperoleh indikasi
pasokan LNG dari Tangguh untuk dikirim ke Arun.
Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di JawaBali
No

Pembangkit

Pemasok
PHE ONWJ (GSA)

Muara Karang
dan Priok

2 Muara Tawar

2012
100

PHE ONWJ (Excess capacity)

20

PGN - Priok (GSA-IP)

27

2013
100

2014
80

100

167

167

167

133

133

247

267

247

217

174

133

PERTAMINA - P Tengah (GSA)

25

25

25

25

25

PGN (GSA)

79

79

79

79

79

MEDCO Eks Keramasan

20

20

20

Ex kontrak PLN Jambi Merang*)

33

25

Jumlah

PGN (GSA)
Jumlah

Kodeco (GSA)*
Hess (GSA)

2019

2020

2021

133
133

133
133

133
133

133
133

79

15

15

15

15

149

131

126

126

101

22

80

80

80

80

80

80

80

80

80

80

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

110

110

110

110

110

110

110

110

110

110
116

111

116

116

116

116

116

116

25

50

50

50

50

50

50

50

50

25

161

166

166

166

166

166

166

166

110

110

SPP (GSA-IP)
Jumlah

2018

157

Petronas (Approval GSA)

5 Gresik

2017

41

Jumlah

CNOOC (GSA)

4 Tambaklorok

2016

50

FSRU PT NR (proses GSA)

PHE ONWJ

3 Cilegon

2015

50

50

50

50

50

50

50

50

50

50

KEI (GSA)

110

130

130

60

60

60

60

60

60

60

MKS (GSA)

22

22

100

100

100

100

100

100

100

100

292

312

280

210

210

210

210

210

210

210

Santos Oyong (GSA-IP)

30

30

30

30

Santos Wortel (GSA-IP)

30

30

30

30

30

30

20

20

20

20

Sampang Mandiri Perkasa (GSA-IP)

17

17

17

17

17

17

17

WNE (GSA)
Petronas-Bukit Tua (potensi-PJB)
Ext Kodeco
Jumlah

6 Grati

Pasuruan Migas (GSA-IP)


Jumlah
Jumlah Pasokan Gas di Jawa

80

80

80

80

50

50

40

20

20

20

886

943

1.009

909

836

770

681

639

639

639

Berikut ini situasi pasokan gas untuk pembangkit utama PLN di sistem Jawa Bali.
Muara Karang dan Priok
Dibandingkan dengan RUPTL tahun sebelumnya, pasokan gas untuk Muara Karang dan Priok pada RUPTL
2012-2021 mengalami penurunan menjadi sebagai berikut.

31
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 31

04/02/2013 14:16:24

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

RUPTL 2011-2020

295

295

295

240

140

140

140

140

RUPTL 2012-2020

267

247

217

174

133

133

133

133

Mengingat peran Muara Karang dan Priok sangat strategis dalam memasok kota Jakarta dan peran
tersebut tidak dapat digantikan oleh pembangkit lain di luar area Jakarta, maka hingga tahun 2021 kedua
pembangkit tersebut harus senantiasa dioperasikan dengan output yang tinggi (bersifat must run). Untuk
mengoperasikan kedua pusat pembangkit tersebut akan dibutuhkan gas dalam jumlah yang lebih besar
daripada yang ditunjukkan dalam Tabel 4.1. Defisit pasokan gas ini akan dijelaskan lebih lanjut pada
Lampiran C1.4 mengenai Neraca Energi.
Muara Tawar
Pasokan gas untuk Muara Tawar dalam RUPTL ini diperkirakan lebih tinggi dari RUPTL sebelumnya karena
diharapkan akan tersedia tambahan pasokan gas dari perpanjangan kontrak yang sudah ada. Pembangkit
Muara Tawar ini juga bersifat must run dengan tingkat produksi yang tinggi, sehingga diperkirakan akan
terjadi defisit gas sebagaimana akan dijelaskan pada Lampiran C1.4.
Tambak Lorok
Pada tahun 2013 akan ada pasokan gas untuk Tambak Lorok dari lapangan Gundih sebesar 50 bbtud.
PLN sangat berharap untuk mendapatkan tambahan pasokan dari lapangan Kepodang (116 bbtud) yang
telah sangat lama menunggu dibangunnya pipa transmisi dari Kepodang ke Tambak Lorok oleh sebuah
perusahaan swasta.
Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Luar Jawa Bali
No
1

Power Plants
Aceh Timur
Belawan, P. Pasir,

Gas Supplier
Medco Blok A
Kambuna

P. Brandan dan

FSRU LNG Tangguh

3
4
5
6

Arun
Teluk Lembu
PLTG sewa Bentu
PLTG sewa Melibur
PLTG sewa Jabung
Sungai Gelam

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

2012
13,0

2013
5,0

2014
15,0
-

2015 2016
15,0
15,0
-

2017
15,0
-

2018
15,0
-

2019
15,0
-

2020 2021
15,0 15,0
-

110,0

110,0

110,0

110,0

110,0

110,0 110,0

40,0
30,0
3,0
0,6
30,0
2,0
2,5
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
15,0
25,0
10,0
5,0
5,0
7,0
18,0
2,5
0,5
2,0
54,0
20,0
5,0

40,0
30,0
3,0
0,6
30,0
2,0
2,5
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
15,0
25,0
10,0
5,0
5,0
7,0
18,0
2,5
0,5
2,0
54,0
20,0
5,0

40,0
30,0
3,0

40,0
30,0

40,0
30,0

40,0
30,0

40,0
30,0

2,0
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
25,0
10,0
5,0
5,0
2,0
5,0
-

25,0
3,0
25,0
10,0
5,0
5,0
2,0
5,0
-

2,0
5,0
-

2,0
5,0
-

2,5

2,5
2,0
54,0
20,0

41,5

352,6

500,6

41,5
8,0
3,0
511,6

2,0
54,0
20,0
5,0
20,0
41,5
8,0
3,0
431,0

2,0
54,0
20,0

41,5

2,0
54,0
20,0
5,0
20,0
41,5
8,0
3,0
462,0

Anggor (Potensi)
Kalila
9,0
Kalila Bentu (Potensi)
3,0
Kondur (Potensi)
0,6
Petro China (Potensi)
30,0
EMP Sungai Gelam
2,0
PEP - TAC Sungai Gelam
2,5
Simpang Tuan
Perusda Jambi
Payo Selincah
Energasindo
18,0
Jambi Merang
25,0
Jakabaring (CNG)
PDPDE Sumsel
3,0
Indralaya
Medco E&P Indonesia
24,0
Talang Duku
PGN
8,0
Borang
Medco E&P Indonesia
15,0
Keramasan
Medco E&P Indonesia
22,0
Pertamina EP
15,0
Jambi Merang
PLTMG Duri
PLTG Duri Relokasi Jambi Merang
10,0
Rengat
Jambi Merang
5,0
Bangka Peaker
PLN Batam (mini LNG)
5,0
Kalbar
PLN Batam (mini LNG)
Kalbar
PLN Batam (mini LNG)
Tanjung Batu
TAC Semco
7,0
Sambera
TAC Semco
Tarakan
Lap Bangkudulis (Potensi)
18,0
Nunukan
Medco
2,5
CBM Sangata
VICO
0,5
PLTG Kolonedale
Job PTM-Medco Tiaka (Potensi)
Sengkang
EEES
39,0
Bangkanai
Salamander
Luwuk
Job PTM-Medco Senoro (Potensi)
Gas Tersebar
Pertamina EP Matindok (Potensi)
KTI Tersebar
Bontang (Potensi)
Makassar Peaker
Sengkang (Wasambo)
Minahasa Peaker
Senoro (Potensi)
Jumlah
277,1

30,0
3,0
0,6
30,0
2,0
2,5
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
15,0
22,0
15,0
25,0
10,0
5,0
5,0
7,0
18,0
2,5
0,5
2,0
54,0

110,0
40,0
30,0
3,0
30,0
2,0
2,5
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
25,0
10,0
5,0
5,0
18,0
2,5

30,0
2,0
2,5
3,0
18,0
25,0
3,0
8,0
25,0
10,0
5,0
5,0
2,0
5,0
18,0
2,5

2,0
54,0
20,0
5,0
20,0
41,5
8,0
3,0
508,5

2,0
54,0
20,0
5,0
20,0
41,5
8,0
3,0
510,5

20,0 20,0
41,5 41,5
8,0
8,0
3,0
3,0
350,5 350,5

32
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 32

04/02/2013 14:16:24

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk pembangkit PLN di Jawa Bali
dan di luar Jawa Bali.
Pada tahun 2012 telah mulai beroperasi FSRU Jakarta untuk memasok pembangkit Muara Karang dan
Priok. Rencana FSRU Belawan telah dibatalkan oleh Pemerintah dan sebagai gantinya Pemerintah akan
merevitalisasi fasilitas LNG Arun sebagai storage dan regasifikasi LNG. Sumber LNG untuk FSRU Jakarta
pada saat ini berasal dari Bontang, dan sumber LNG untuk Arun direncanakan dari Tangguh. Pada saat ini
terdapat rencana Pemerintah cq PGN untuk membangun FSRU Lampung, namun PLN belum memperoleh
informasi yang cukup mengenai rencana tersebut.
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit beban puncak dengan beralih
ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1. LNG (Liquified Natural Gas) dan Mini-LNG


Mengingat harga gas dari LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya ekonomis untuk dipakai di pembangkit
peaking, bukan pembangkit beban dasar. PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatera. Sedangkan di
Indonesia Timur dan Barat, PLN merencanakan pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak.
Beberapa proyek pembangkit di Indonesia Barat yang akan menggunakan LNG adalah sebagai berikut.

Arun: Sejalan dengan rencana pemerintah untuk merevitalisasi Arun, maka akan tersedia fasilitas
storage dan regasifikasi LNG di Arun. PLN bermaksud memanfaatkan gas dari Arun untuk pembangkit
peaker di Arun sebesar 200 MW dan di Pangkalan Brandan sebesar 200 MW. Gas dari Arun juga
akan disalurkan ke Belawan melalui pipa untuk mengoperasikan PLTGU Belawan yang telah ada dan
beberapa PLTG di Paya Pasir. Kebutuhan gas tersebut adalah sebanyak 12,5 bbtud untuk Arun, 12,5
bbtud untuk Pangkalan Brandan, 75 bbtud untuk Belawan dan 10 bbtud untuk Paya Pasir, sehingga
total gas yang dibutuhkan adalah 110 bbtud.
Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari lapangan Jabung untuk jangka
waktu 7 tahun. PLN menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk memenuhi
kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel sebesar 500 MW pada tahun 2015.

Adapun rencana pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah sebagai berikut.

Simenggaris: PLN akan mengambil gas dari Simenggaris yang dijadikan LNG untuk memasok
pembangkit peaker di Kalimantan Timur, yaitu Tanjung Batu, Sambera dan Batakan.
Untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit peaker di Indonesia Timur lainnya, PLN
memerlukan gas dalam bentuk miniLNG dari lapangan Sengkang (Wasambo) atau Pagerungan
atau KEI (Kangean) untuk dikirim ke pembangkit peaking di Makasar 150 MW, Manado 50 MW dan
Pesanggaran Bali 250 MW.

4.2.2. CNG (Compressed Natural Gas)


CNG pada mulanya dimaksudkan untuk memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif
kecil maupun sumur gas marginal, namun kemudian PLN juga memutuskan untuk menggunakan CNG skala
besar untuk pembangkit di Jawa. PLN telah memetakan potensi pemanfaatan CNG untuk pembangkit
peaking di Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Jawa.
Saat ini sedang dibangun CNG storage oleh pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan
dimanfaatkan untuk PLTG peaker Jaka Baring (50 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada akhir tahun
2012.

33
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 33

04/02/2013 14:16:24

Rencana pemanfaatan CNG lainnya di Indonesia Barat adalah: (i) CNG Sungai Gelam dengan kapasitas
sebesar 4,5 bbtud akan digunakan untuk pembangkit peaker 104 MW. (ii) CNG dari gas Jambi Merang
sebesar 15 bbtud akan dialokasikan untuk pembangkit peaker di Duri dengan kapasitas sekitar 312 MW.
(iii) CNG untuk pembangkit peaker di Jambi dengan kapasitas sebesar 100 MW. (iv) CNG untuk pembangkit
peaker di Lampung dengan kapasitas sebesar 200 MW.
Rencana pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah pembangkit peaker Bangkanai di Kalimantan Tengah
(CNG stationary) dan Lombok (CNG marine).
Untuk pulau Jawa, kebutuhan gas dalam bentuk CNG adalah sebagai berikut: i) Grati sebanyak 30 bbtud
untuk PLTG peaking Grati, (ii) Tambak Lorok sebanyak 16 bbtud untuk mengoperasikan sebagian dari
PLTGU sebagai pembangkit peaking, (iii) Gresik sebanyak 20 bbtud untuk mengoperasikan pembangkit
peaking dan sebagian CNG untuk dikirim ke Lombok, (iv) Muara Tawar sebanyak 30 bbtud untuk memenuhi
kebutuhan operasi peaking.

4.2.3. Coal Bed Methane (CBM)


Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas konvensional, terutama di South Sumatera
Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin. PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional ini apabila
telah tersedia dalam jumlah yang cukup. Studi yang telah dilakukan oleh PLN bersama Exxon-Mobil
mengenai pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia telah memberikan
pemahaman mengenai keekonomian gas CBM ini.

4.3. Panas Bumi


Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas bumi di Indonesia yang
menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun
2007 Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah 9.000MW, tersebar di 50 lapangan,
dengan potensi minimal 12.000MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek PLTP, terutama di Sumatera,
Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah
kepada PLN untuk mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi terbarukan
sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM No. 02/2010 jo Peraturan Menteri
ESDM No. 15/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 01/201242 terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP.
Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan, dan PLN berharap
masalah-masalah yang menghambat pengembangan panas bumi dapat segera diatasi.

4.4. Tenaga Air


Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS) pada tahun 1983 adalah
75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro Power Inventory Study pada tahun 1993. Namun
pada laporan Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut43 adalah 26.321 MW, yang terdiri dari
proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi
(5.956 MW) dan potensi baru (16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak begitu sulit hingga sangat
sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada
Tabel 4.3.
42 Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track program phase 2 (FTP2).
43 Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial (resettlement), luas reservoir.

34
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 34

04/02/2013 14:16:24

Tabel 4.3. Potensi Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan of Hydro Power Development
NO

NAMA

TIPE

PROVINSI

KAP. (MW)

COD

PLN/ IPP

Peusangan 1-2

ROR

Aceh

86

2015

PLN

Jambo Papeun-3

ROR

Aceh

25

2019

PLN

Kluet-1

ROR

Aceh

41

2019

PLN

Meulaboh-5

ROR

Aceh

43

2019

PLN

Peusangan-4

ROR

Aceh

31

2019

PLN

Kluet-3

ROR

Aceh

24

2021

PLN

Sibubung-1

ROR

Aceh

32

2021

PLN

Seunangan-3

ROR

Aceh

31

2021

PLN

Teunom-1

RES

Aceh

24

2023

PLN

10

Woyla-2

RES

Aceh

242

2024

PLN

11

Ramasan-1

RES

Aceh

119

2024

PLN

12

Teripa-4

RES

Aceh

185

2024

PLN

13

Teunom-3

RES

Aceh

102

2024

PLN

14

Tampur-1

RES

Aceh

330

2025

PLN

15

Teunom-2

RES

Aceh

230

2026

PLN

16

Padang Guci-2

ROR

Bengkulu

21

2020

PLN

17

Warsamson

RES

Irian Jaya

49

2019

PLN

18

Jatigede

RES

Jabar

175

2014

PLN

19

Upper Cisokan-PS

PST

Jabar

1.000

2015

PLN

20

Matenggeng

PST

Jabar

887

2020

PLN

21

Merangin-2

ROR

Jambi

350

2016

PLN

22

Merangin-5

RES

Jambi

24

2024

PLN

23

Maung

RES

Jateng

360

2028

PLN

24

Kalikonto-2

Jatim

62

2016

PLN

25

Karangkates Ext.

RES

Jatim

100

2018

PLN

26

Grindulu-PS-3

PST

Jatim

1.000

2021

PLN

27

K. Konto-PS

PST

Jatim

1.000

2027

PLN

28

Pinoh

RES

Kalbar

198

2020

PLN

29

Kelai-2

RES

Kaltim

168

2020

PLN

30

Besai-2

ROR

Lampung

44

2020

PLN

31

Semung-3

ROR

Lampung

21

2020

PLN

32

Isal-2

RES

Maluku

60

2019

PLN

33

Tina

ROR

Maluku

12

2020

PLN

34

Tala

RES

Maluku

54

2021

PLN

35

Wai Rantjang

ROR

NTT

11

2020

PLN

36

Bakaru (2nd)

ROR

Sulsel

126

2016

PLN

37

Poko

RES

Sulsel

233

2020

PLN

38

Masuni

RES

Sulsel

400

2023

PLN

39

Mong

RES

Sulsel

256

2024

PLN

40

Batu

RES

Sulsel

271

2027

PLN

41

Poso-2

ROR

Sulteng

133

2018

PLN

42

Lariang-6

RES

Sulteng

209

2024

PLN

43

Konaweha-3

RES

Sulteng

24

2026

PLN

44

Lasolo-4

RES

Sulteng

100

2026

PLN

45

Watunohu-1

ROR

Sultra

57

2020

PLN

46

Tamboli

ROR

Sultra

26

2020

PLN

47

Sawangan

ROR

Sulut

16

2014

PLN

48

Poigar-3

ROR

Sulut

14

2018

PLN

49

Masang-2

ROR

Sumbar

40

2018

PLN

35
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 35

04/02/2013 14:16:24

Tabel 4.3. Potensi Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
lanjutan
NO

NAMA

TIPE

PROVINSI

KAP. (MW)

COD

PLN/ IPP

50

Sinamar-2

ROR

Sumbar

26

2020

PLN

51

Sinamar-1

ROR

Sumbar

37

2020

PLN

52

Anai-1

ROR

Sumbar

19

2020

PLN

53

Batang Hari-4

RES

Sumbar

216

2027

PLN

54

Kuantan-2

RES

Sumbar

272

2028

PLN

55

Endikat-2

ROR

Sumsel

22

2019

PLN

56

Asahan 3

ROR

Sumut

174

2015

PLN

57

Asahan 4-5

RES

Sumut

60

2017

PLN

58

Simanggo-2

ROR

Sumut

59

2018

PLN

59

Kumbih-3

ROR

Sumut

42

2019

PLN

60

Sibundong-4

ROR

Sumut

32

2019

PLN

61

Bila-2

ROR

Sumut

42

2019

PLN

62

Raisan-1

ROR

Sumut

26

2020

PLN

63

Toru-2

ROR

Sumut

34

2020

PLN

64

Ordi-5

ROR

Sumut

27

2020

PLN

65

Ordi-3

ROR

Sumut

18

2020

PLN

66

Siria

ROR

Sumut

17

2020

PLN

67

Lake Toba

PST

Sumut

400

2020

PLN

68

Toru-3

RES

Sumut

228

2026

PLN

69

Lawe Mamas

ROR

Aceh

50

2016

IPP

70

Simpang Aur

ROR

Bengkulu

29

2014

IPP

71

Rajamandala

ROR

Jabar

58

2014

IPP

72

Cibareno-1

ROR

Jabar

18

2020

IPP

73

Mala-2

ROR

Maluku

30

2020

IPP

74

Malea

ROR

Sulsel

182

2017

IPP

75

Bonto Batu

ROR

Sulsel

100

2017

IPP

76

Karama-1

RES

Sulsel

800

2022

IPP

77

Poso-1

ROR

Sulteng

204

2011

IPP

78

Gumanti-1

ROR

Sumbar

16

2020

IPP

79

Wampu

ROR

Sumut

84

2016

IPP

COD yang dimaksud pada Tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan namun dapat diubah sesuai
kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air tersebut sebagai proyek
PLN.

4.5. Energi Baru dan Terbarukan Lainnya


Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi matahari dan energi kelautan.
Besarnya potensi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.

36
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 36

04/02/2013 14:16:24

Tabel 4.4. Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan


Energi Baru dan
No

Terbarukan
1

Mini/Mikrohidro

Biomass

Sumber Daya

Kapasitas Terpasang

Rasio
(%)
4 = 3/2

500 MWe

86,1 MWe

17,22

49.810 Mwe

445,0 MWe

0,89

Tenaga Surya

4,80 kWh/m /hari

12,1 MWe

Tenaga Angin

9.290 MWe

1,1 MWe

0,01

Kelautan

240 GWe

1,1 MWe

0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6.

Nuklir

Dalam RUPTL ini tidak terdapat program pengembangan tenaga nuklir untuk kelistrikan. Hal ini
terjadi karena dalam RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2012-2031 tidak diindikasikan adanya rencana
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Selain itu perencanaan sistem
pembangkit yang dilakukan oleh PLN menunjukkan keekonomian PLTN tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra super-critical44.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya kapital, biaya radioactive waste
management & decommisioning serta biaya terkait nuclear liability45. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah
studi bersama antara PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri pada tahun 2006 mengindikasikan
biaya pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah memperhitungkan
biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut kini dipandang terlalu rendah, karena menurut
berbagai laporan yang lebih baru, biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai angka
yang jauh lebih tinggi.
Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi fosil lainnya dan
dengan semakin nyatanya ancaman perubahan iklim global sebagai akibat dari emisi karbon dioksida
dari pembakaran batubara atau energi fosil lainnya, sebetulnya telah membuat PLTN menjadi sebuah
opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan listrik di masa
depan. Apalagi apabila biaya proyek, biaya pengelolaan waste dan biaya decommisioning telah menjadi
semakin jelas.
Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak semata-mata didasarkan pada
pertimbangan keekonomian dan profitability, namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik,
kebijakan energi, keselamatan nuklir, penerimaan sosial, budaya, perubahan iklim dan perlindungan
lingkungan. Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut, program pembangunan
PLTN hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah.

44 Proses optimisasi keekonomian tidak memperhitungkan externality dari pembangkit batubara.


45 Kecelakaan PLTN Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 telah menunjukkan biaya nuclear liability penting untuk diperhitungkan.

37
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 37

04/02/2013 14:16:24

LO-RUPTL Awal ok.indd 38

04/02/2013 14:16:24

39
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 39

04/02/2013 14:16:24

5.1.

Kriteria Perencanaan

5.1.1. Perencanaan Pembangkit


Sistem Interkoneksi
Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit
yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu
periode perencanaan, dan memenuhi kriteria keandalan tertentu. Konfigurasi termurah diperoleh melalui
proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital, biaya bahan bakar, biaya
operasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage
value) dari pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. Simulasi dan optimisasi dilakukan
dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning).
Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0,274%46.
Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang
tersedia adalah lebih kecil dari 0,274%.
Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu yang
nilainya tergantung pada ukuran unit pembangkit (unit size), tingkat ketersediaan (availability) setiap unit
pembangkit, jumlah unit, dan jenis unit47.
Pada sistem Jawa Bali, kriteria LOLP<0.274% adalah setara dengan reserve margin > 25-30% dengan basis
daya mampu netto48. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan
adalah sekitar 35%49.
Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat, reserve margin ditetapkan
sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih sedikit, unit size yang relatif besar
dibandingkan beban puncak, derating yang prosentasenya lebih besar, dan pertumbuhan yang lebih tinggi
dibanding Jawa Bali.
Pembangkit energi terbarukan, khususnya panas bumi dan tenaga air, dalam proses optimisasi diperlakukan
sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan
proyek tersebut.
Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan proyek-proyek yang
sedang berjalan dan yang telah committed50, baik proyek PLN maupun IPP, dan tidak memperhitungkan
semua pembangkit sewa serta excess power. Selain itu beberapa pembangkit berbahan bakar minyak
yang sudah tua, tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara, diasumsikan akan
dihapuskan (retired) atau dijadikan sebagai pembangkit stand-by yang tidak dioperasikan tetapi tetap
dipelihara (mothballed).
Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit
berbahan bakar batubara, dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air tertentu).

46 LOLP 0,274% adalah ekivalen dengan probabilitas 1 hari dalam setahun beban puncak tidak dapat dipenuhi oleh kapasitas sistem
pembangkit yang ada.
47 Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim akan mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang
berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi.
48 Reserve margin (RM) didefinisikan sebagai kapasitas pembangkit (G) dibagi beban puncak (D) sesuai persamaan RM = (G/D -1) x
100%.
49 Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.
50 Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya, dan proyek IPP yang telah
mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA).

40
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 40

04/02/2013 14:16:25

Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang, simulasi produksi dilakukan dengan
menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit
yang realisasinya diperkirakan tidak pasti.

Sistem Kecil Tidak Interkoneksi/Isolated


Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum interkoneksi (isolated) tidak
menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian, namun menggunakan metoda
determinisitik. Pada metoda ini, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu cadangan minimum harus
lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua. Definisi cadangan disini adalah selisih
antara daya mampu total pembangkit yang ada dan beban puncak.

Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Eksisting


Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis selama umur teknoekonomisnya (economic life). Sebuah unit pembangkit dapat menjalani mid-life refurbishment untuk
mempertahankan kapasitas, efisiensi, menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus
dipelihara dan dilakukan penggantian parts yang aus. Kemudian, pada akhir umurnya sebuah pembangkit
masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan melakukan rehabilitasi/refurbishment pada
komponen-komponen tertentu.
Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu pembangkit memerlukan
kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life extension dan membangun pembangkit baru.

5.1.2. Perencanaan Transmisi


Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1, baik statis maupun dinamis.
Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam, baik karena mengalami gangguan
maupun dalam pemeliharaan, maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan
keseluruhan arus beban, sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. Kriteria N-1 dinamis
mensyaratkan apabila terjadi gangguan hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit
transmisi, maka tidak boleh menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator
dan kelompok generator lainnya.
Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas
pembangkitan dan kebutuhan beban, disamping untuk mengatasi bottleneck, meningkatkan keandalan
sistem, dan memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.
Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan penambahan kapasitas trafo
di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%.
Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan, kapasitas transmisi
dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI
dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak
dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.
Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan
tegangan menengah.
Pada RUPTL 2012-2021 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis, yaitu sebuah GI dengan
spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau bahkan tanpa busbar; peralatan proteksi & kontrol,
supply AC/DC & battery dikemas dalam kontainer; tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi atau

41
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 41

04/02/2013 14:16:25

T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang lengkap/sempurna. Penerapan GI
minimalis hanya dilakukan pada daerah yang sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. Tujuan pembangunan
GI minimalis ini adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat dari timing
normal kebutuhan GI, pada sistem yang selama ini masih dioperasikan dengan PLTD. GI minimalis juga
dapat diterapkan untuk memasok lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang
dan mengalami drop tegangan yang besar.

5.1.3. Perencanaan Distribusi


Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut:

Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan
pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987.
Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti
spindle, sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat
dipasok dari 2 sumber.
Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal.
Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh
dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok penyediaan.

Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada
pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya:

Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2
Gardu Induk dan 15 feeder.
Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM, dikoordinasikan dengan
reclosing relay penyulang di GI. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS, dan menyempurnakan
metode pemeliharaan-periodiknya.
Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada daerah yang sangat padat
beban dan potensi pendapatan tinggi.

Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang
cukup, andal, berkualitas, efisien, dan susut teknis wajar.
Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua kegiatan, yaitu penyambungan
pelanggan dan perkuatan distribusi dengan perincian sebagai berikut:

Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik.


Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) dan kualitas pelayanan tenaga listrik pada
pelanggan (power quality).
Menurunkan susut teknis jaringan.
Rehabilitasi jaringan tua.
Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan.

Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi
pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari
beberapa variabel yaitu antara lain:

42
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 42

04/02/2013 14:16:25

Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR),
Luas area yang dilayani,
Distribusi beban (tersebar merata, terkonsentrasi, dsb),
Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan,
Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan,
Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM, gardu distribusi/GD, jaringan
tegangan rendah/JTR, automatic voltage regulator/AVR dsb).

Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti dimaksud dalam
Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009, maka pembangkit energi terbarukan sampai dengan
10 MW dapat tersambung langsung ke jaringan distribusi. Penyambungan pembangkit tersebut harus
memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code).

5.2.

Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik

Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan,
PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk kepentingan umum wajib menyediakan
tenaga listrik secara terus-menerus, dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang baik.
Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik saat ini maupun di masa yang
akan datang agar PLN dapat memenuhi kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. Sebagai
langkah awal PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga 10 tahun ke
depan.
Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama, yaitu pertumbuhan ekonomi,
program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN.
Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan
jasa. Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, disamping
input-input barang dan jasa lainnya. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan
pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang/peralatan listrik seperti
televisi, pendingin ruangan, lemari es dan lainnya. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat.
Faktor kedua adalah program elektrifikasi. Sebagai upaya PLN untuk mendukung program pemerintah
dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam
wilayah usahanya. Hal ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus
meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya pada daerah-daerah yang telah menjadi wilayah
usaha PLN.
PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang besar, yaitu rata-rata 2,5 juta per
tahun, sehingga rasio elektrifikasi akan mencapai 92,3% pada tahun 2021. Penambahan pelanggan baru
tersebut tidak hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga mencakup
mereka yang berada di luar wilayah usaha.
Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan
dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN.
Captive power ini timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan
di suatu daerah, terutama pelanggan industri dan bisnis. Bilamana kemampuan PLN untuk melayani di
daerah tersebut telah meningkat, maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya akan beralih
menjadi pelanggan PLN. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM untuk
membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri/bisnis, sementara harga jual listrik PLN relatif lebih

43
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 43

04/02/2013 14:16:25

murah. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem
kelistrikan dan skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power, jadi tidak berlaku umum.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah kemampuan finansial
perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka melayani pertumbuhan kebutuhan pelanggan dan
masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang cukup dan andal. Penyambungan pelanggan baru
tergantung dari ketersediaan pendanaan.
Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah model prakiraan beban
yang disebut Simple-E. Model ini menggunakan metoda regresi yang menggunakan data historis dari
penjualan energi listrik, daya tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan populasi
untuk membentuk persamaan yang fit. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan listrik ke depan
dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar (korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik,
yaitu pertumbuhan ekonomi dan populasi. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar, maka
digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Aplikasi ini dilengkapi juga dengan fasilitas melihat
tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti parameter tingkat korelasi, dan uji statistik.

5.2.1. Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik
bruto (PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5,3% per tahun, atau lebih
rendah dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 4,5%6,5% seperti diperlihatkan
pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
PDB
PDB (Triliun RP)
Harga konstan
Growth PDB (%)

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

1,39

1,44

1,50

1,57

1,66

1,75

1,85 1,96

2,08

2,17

2,22

2,46

4,90

3,83

4,31

4,78

5,05

5,67

5,50 6,32

6,06

4,50

6,08

6,50

Sumber: Statistik Indonesia, BPS.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4,5%) sebagaimana terlihat pada Tabel 5.1
disebabkan oleh imbas krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009.
Perekonomian Indonesia kembali pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6,1% dan menguat pada
tahun 2011 dengan pertumbuhan 6,5%. Pemerintah memandang pertumbuhan ekonomi akan semakin
membaik sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN,
Perpres No.5 tahun 2010) 2010-2014.
Memperhatikan pertumbuhan ekonomi tersebut diatas, maka RUPTL ini untuk perioda tahun 2011-2014
mengadopsi angka pertumbuhan ekonomi nasional dari RPJMN 2010-2014, yaitu antara 6,37%.
Untuk periode tahun 2015 2021, RUPTL ini mengadopsi angka pertumbuhan ekonomi yang ada pada
draft RUKN 2010-2029, yaitu rata-rata 6,9% per tahun, walaupun draft RUKN 2012-2031 mengasumsikan
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Adanya perbedaan asumsi pertumbuhan ekonomi ini akan
membuat proyeksi demand listrik dalam RUPTL sedikit lebih rendah dari pada proyeksi demand dalam
draft RUKN 2012-2031, khsusnya setalah tahun 2016. Hal ini adalah sesuatu yang wajar, karena penyediaan
tenaga listrik di Indonesia selain dipenuhi oleh PLN juga akan dipenuhi oleh entitas lain51 dalam rangka
mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam RUPTL ini diperlihatkan pada
Tabel 5.2.
51 Entitas lain tersebut misalnya sektor industri yang mempunyai pembangkit sendiri, atau sebuah pembangkit swasta yang memasok suatu kawasan industri eksklusif.

44
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 44

04/02/2013 14:16:25

Tabel 5.2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Wilayah

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Indonesia

6,5

6,5

7,0

7,0

6,9

6,9

6,9

6,9

6,9

6,9

6,9

Jawa Bali

6,1

6,3

7,0

7,2

6,7

6,7

6,7

6,7

6,7

6,7,

6,7

Luar Jawa Bali

6,8

6,9

7,4

7,7

7,3

7,3

7,3

7,3

7,3

7,3

7,3

5.2.2. Pertumbuhan Penduduk


Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237,6 juta orang dan jumlah rumah tangga 61,2 juta
KK berdasar sensus penduduk tahun 2010. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga
tahun 2021 PLN menggunakan laju pertumbuhan penduduk dari Buku Statistik Idonesia oleh Badan Pusat
Statistik edisi Agustus 2012.
Pada Tabel 5.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali, luar Jawa-Bali dan
Indonesia sepuluh tahun mendatang.
Tabel 5.3 Pertumbuhan Penduduk (%)
Tahun

Indonesia

Jawa - Bali

Luar Jawa Bali

2011

1,6

1,3

2,0

2012

1,6

1,3

2,0

2013

1,6

1,3

2,0

2014

1,6

1,3

2,0

2015

1,6

1,3

2,0

2016

1,6

1,3

2,1

2017

1,6

1,3

2,1

2018

1,6

1,3

2,1

2019

1,6

1,3

2,1

2020

1,6

1,3

2,1

2021

1,7

1,3

2,1

Sumber: Satistik Indonesia BPS, Agustus 2012

5.3.

Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2012-2021

Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.2, kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan hasilnya
diberikan pada Tabel 5.4. Dari Tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun
2021 akan menjadi 358 TWh, atau tumbuh rata-rata 8,65% per tahun. Sedangkan beban puncak non
coincident pada tahun 2020 akan menjadi 61.750 MW atau tumbuh rata-rata 8,5% per tahun.
Tabel 5.4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan
Beban Puncak Periode 20122021
Tahun

Pertumbuhan
Ekonomi
%

Jumlah Beban Puncak


(non-coincident)
MW

Sales
TWh

2012

6,5

172,3

30.237

2013

7,2

187,8

32.770

2014

7,4

205,8

35.872

2015

6,9

225,1

39.209

2016

6,9

246,2

42.796

2017

6,9

266,8

46.291

2018

6,9

287,3

49.891

2019

6,9

309,4

53.611

45
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 45

04/02/2013 14:16:25

Tabel 5.4. Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan


Beban Puncak Periode 20122021
Pertumbuhan
Ekonomi
%

Tahun

lanjutan
Jumlah Beban Puncak
(non-coincident)
MW

Sales
TWh

2020

6,9

333,0

57.606

2021

6,9

358,3

61.752

Jumlah pelanggan pada tahun 2012 sebesar 48,2 juta akan bertambah menjadi 70,6 juta pada tahun 2021
atau bertambah rata-rata 2,5 juta per tahun. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio
elektrifikasi dari 74,4% pada tahun 2012 menjadi 92,3% pada tahun 2021. Proyeksi jumlah penduduk,
pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 5.5.
Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan
Rasio Elektrifikasi Periode 20122021
Tahun

Penduduk Juta

Pelanggan Juta

RE (%)

RE RUKN
08-27 (%)

RE Draft RUKN
12-31 (%)

2011

241,4

45,6

71,8

73,0

2012

245,1

48,2

74,4

75,3

2013

249,0

51,3

77,7

77,7

2014

253,0

54,3

80,7

2015

257,0

57,1

83,3

2016

261,1

59,6

85,3

86,4

2017

265,4

62,0

87,1

89,6

2018

269,7

64,3

88,6

92,8

2019

274,1

66,5

90,0

2020

278,6

68,7

91,2

2021

283,2

70,6

92,3

80,0
79,2

83,2

96,0
90,4

99,2
99,3

Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam RUKN tahun 2008-2027, rasio
elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN
(0,3%) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6. Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi
URAIAN
1. Energi Demand

Satuan

2011*

2012**

2014**

2016

2018

2020

2021

Twh

- Indonesia

156,3

172,3

205,8

246,2

287,3

333,0

358,3

- Jawa Bali

120,8

132,4

156,4

185,8

212,6

242,9

259,4

- Indonesia Timur

12,5

14,2

18,1

22,4

28,4

33,7

36,7

- Indonesia Barat

22,9

25,7

31,3

38,1

46,3

56,4

62,2

- Indonesia

7,3

10,2

9,6

9,4

7,7

7,6

7,6

- Jawa Bali

6,5

9,6

9,0

9,0

7,0

6,8

6,8

- Indonesia Timur

11,0

13,3

12,9

11,3

8,9

8,8

8,9

- Indonesia Barat

9,4

12,0

10,4

10,3

10,3

10,1

10,2

2. Pertumbuhan

3. Rasio Elektrifikasi

- Indonesia

71,8

74,4

85,3

88,6

88,6

91,2

92,3

- Jawa Bali

74,0

75,9

80,4

86,6

86,6

89,5

90,9

- Indonesia Timur

61,2

65,5

78,1

89,9

89,9

92,5

93,6

- Indonesia Barat

73,5

76,6

83,6

93,0

93,0

94,8

95,2

* Realisasi
** Estimasi

46

Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 20122021 ditunjukkan pada Tabel 5.6 dan Gambar5.1. Pada
periode 2012-2021 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 132,4 TWh pada
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 46

04/02/2013 14:16:25

tahun 2012 menjadi 259,4 TWh pada tahun 2021, atau tumbuh rata-rata 7,9% per tahun. Untuk Indonesia
Timur pada periode yang sama, kebutuhan listrik akan meningkat dari 14,2 TWh menjadi 36,7 TWh atau
tumbuh rata-rata 11,4% per tahun. Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 25,7 TWh pada tahun 2012
menjadi 62,2TWh pada tahun 2021 atau tumbuh rata-rata 10,5% per tahun.

62
26 TWh
TWh
2012 2021

IB : 10,5%

37
14 TWh
TWh

IT : 11,4%
132 259
TWh TWh

JB : 7,9%
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2012 dan 2021

Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada Gambar 5.2. Gambar
tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali kelompok pelanggan industri mempunyai porsi
yang sangat besar, yaitu 39% dari total penjualan. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi
pelanggan industri adalah cukup kecil, yaitu masing-masing hanya 15% dan 17%. Pelanggan residensial
masih mendominasi penjualan hingga tahun 2021, yaitu 55% untuk Indonesia Timur dan 56% untuk
Indonesia Barat.
400,0

300,0

Indonesia

350,0

Jawa Bali

250,0

300,0
200,0

250,0

Industri
Publik
Komersial

200,0
150,0

150,0

Industri
Publik
Komersial

100,0

100,0

Residensial

Residensial

50,0

50,0
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

70,0

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2020

2021

40,0

Indonesia Barat

Indonesia Timur
35,0

60,0

30,0

50,0

25,0
40,0

Industri
Publik
Komersial

30,0

Industri
Publik
Komersial

20,0
15,0

20,0

10,0

10,0

Residensial

Residensial

5,0

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2012-2021

47
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 47

04/02/2013 14:16:25

Hingga tahun 2017 proyeksi penjualan pada RUPTL 2012-2021 hampir sama dengan proyeksi pada draft
RUKN 2012-2031 dan mulai tahun 2018 hingga 2021 RUPTL 2012-2021 lebih rendah dari Draft RUKN
2012-2031, dan juga lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.3.

500

TWh

450

400
350
300
250

200
150
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Gambar 5.3. Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN

5.4.

Rencana Pengembangan Pembangkit

5.4.1. Kategorisasi Kandidat Pembangkit


Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di Indonesia Barat dan
Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya, kandidat
PLTU batubara adalah 100MW, 200 MW, 300 MW dan 400 MW. PLTG pemikul beban puncak 100 MW. Untuk
sistem Kalimantan dan Sulawesi, kandidat PLTU batubara adalah 25 MW, 50 MW dan 100MW dengan PLTG
pemikul beban puncak 25-30 MW dan 50 MW. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang
lebih kecil.

Sistem Jawa-Bali
Pada sistem Jawa-Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah
PLTU batubara ultra supercritical kelas 1.000 MW dan supercritical 600 MW, PLTGU LNG/gas alam 750
MW, PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW52. Selain itu terdapat
beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110MW, serta PLTA. PLTN jenis pressurised water reactor kelas 1.000 MW
juga disertakan sebagai kandidat dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan.
Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar 1.000 MW per unit didasarkan
pada pertimbangan efisiensi53 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban
puncaknya sudah akan melampaui 25.000 MW.

52 Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan


53 Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai

efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical.

48
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 48

04/02/2013 14:16:25

Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5.7.


Tabel 5.7 Asumsi Harga Bahan Bakar
Jenis Energi Primer

Harga

Nilai Kalor

Batubara - Sub Bituminous

USD 80/Ton

5.100 kcal/kg

Batubara - Lignite

USD 50/Ton

4.200 kcal/kg

Batubara - Lignite di Mulut Tambang

USD 35/Ton

4.200 kcal/kg

Gas Alam

USD 6/MMBTU

252.000 kcal/Mscf

LNG

USD 16/MMBTU

252.000 kcal/Mscf

HSD*)

USD 0,78/Liter

9.070 kcal/l

MFO*)

USD 0,62/Liter

9.370 kcal/l

Uap Panas Bumi

(tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan karena diperlakukan sebagai fixed plant)

Bahan Bakar Nuklir

USD 1400/kg

*) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel

5.4.2. Program Percepatan Pembangkit Berbahan Bakar Batubara (Perpres No. 71/2006 jo
Perpres No.59/2009)
Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No. 59 tahun
2009, Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan
bakar batubara sebanyak kurang lebih 10.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga
memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Program ini dikenal sebagai Proyek Percepatan
Pembangkit 10.000 MW. Berdasar penugasan tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah
proyek pembangkit dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.8.
Tabel 5.8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW
(Peraturan Presiden No.71/2006 jo Perpres No.59/2009) Status September 2012
Nama Pembangkit

Kapasitas (MW)

COD

PLTU 2 di Banten (Labuan)

2x300

2009-2010

PLTU di Jabar Utara (Indramayu)

3x330

2011

PLTU 1 di Banten (Suralaya Unit 8)

1x625

2011

PLTU 3 di Banten (Lontar)

3x315

2011-2012

PLTU di Jabar Selatan (Pelabuhan Ratu)

3x350

2013

PLTU 1 di Jateng (Rembang)

2x315

2011

PLTU 2 di Jateng (PLTU Adipala)

1x660

2014

PLTU 1 di Jatim (Pacitan)

2x315

2012-2013

PLTU 2 di Jatim (Paiton Unit 9)

1x660

2012

PLTU 3 di Jatim (Tanjung Awar-awar)

2x350

2013

PLTU di Aceh (Meulaboh/Nagan Raya)

2x110

2013

PLTU 2 di Sumut (Pangkalan Susu)

2x220

2014

PLTU 1 di Riau (Bengkalis)

2x10

Batal

PLTU Tenayan di Riau

2x110

2014

2x7

2012-2013

PLTU 4 di Babel (Belitung)

2x16,5

2013

PLTU 3 di Babel (Air Anyer)

2x30

2013

PLTU 2 di Riau (Selat Panjang)

2x7

Batal

PLTU 2 di Kalbar (Pantai Kura-Kura)

2x27,5

2014

PLTU di Sumbar (Teluk Sirih)

2x112

2013

PLTU di Lampung (Tarahan Baru)

2x100

2012

PLTU 1 di Kalbar (Parit Baru)

2x50

2014

PLTU di Kepri (Tanjung Balai)

49
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 49

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.8. Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW


(Peraturan Presiden No.71/2006 jo Perpres No.59/2009) Status September 2012
Nama Pembangkit

lanjutan

Kapasitas (MW)

COD

PLTU di Kaltim (Kariangau)

2x110

2014

PLTU 1 di Kalteng (Pulang Pisau)

2x60

2014

PLTU di Kalsel (Asam-Asam)

2x65

2013

PLTU 2 di Sulut (Amurang)

2x25

2012

PLTU di Gorontalo

2x25

2014

PLTU di Maluku Utara (Tidore)

2x7

2013

PLTU 2 di Papua (Jayapura)

2x10

2013

PLTU 1 di Papua (Timika)

2x7

Batal

PLTU di Maluku (Ambon)

2x15

2013-2014

PLTU di Sultra (Kendari)

2x10

2012

PLTU di Sulsel (Barru)

2x50

2012-2013

PLTU 2 di NTB (Lombok)

2x25

2013

PLTU 1 di NTT (Ende)

2x7

2013

PLTU 2 di NTT (Kupang)

2x16,5

2013

PLTU 1 di NTB (Bima)

2x10

2014

PLTU 1 Sulut

2x25

2014

PLTU 2 di Kalteng

2x7

Batal

Sampai dengan September 2012 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah selesai dan beroperasi
komersial adalah PLTU Labuan (2x300 MW), Suralaya Unit 8 (625 MW), Indramayu (3x330 MW), Lontar
(3x315 MW), Rembang (2x315 MW) dan Paiton Unit 9 (660MW). Untuk Indonesia Barat dan Timur belum
ada proyek PLTU batubara yang beroperasi komersial per September 2012.

5.4.3. Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Tahap 2


Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan Peraturan
Presiden No. 4 tahun 2010 jo Peraturan Presiden No. 48 tahun 2011 dan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No. 02/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 15/2010 jo Peraturan Menteri ESDM
No. 01/2012 mempunyai kapasitas total 10.047 MW yang terdiri dari PLTU batubara 3.025 MW, PLTP 4.925
MW, PLTGB 64 MW, PLTG 280 MW dan PLTA 1.753 MW, dengan rincian pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9. Rekap Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tahap 2
Pemilik
PLN

Satuan
MW

PLTA
1.269

PLTG
280

PLTGB

PLTP

PLTU

Jumlah

64

340

1.804

3.757

IPP

MW

484

4.585

1.221

6.290

Jumlah

MW

1.753

280

64

4.925

3.025

10.047

Proyek-proyek berikut telah dibatalkan dari FTP2: PLTGU Muara Tawar add-on Blok 3-4, PLTU Bali Timur,
PLTP Darajat, PLTP Salak, PLTGU Senoro, PLTU Masohi, PLTU Waingapu, PLTU Moutong. Selain itu juga
terdapat proyek yang dikeluarkan dari FTP2 karena telah didanai dengan APBN yaitu PLTU Sampit, PLTU
Kotabaru, PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking).
Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang telah berubah status, yaitu PLTGU Bangkanai (IPP)
menjadi PLTG/PLTMG Bangkanai (PLN), dan beberapa PLTU kecil menjadi PLTGB.

50
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 50

04/02/2013 14:16:26

Beberapa proyek pembangkit EBT khususnya PLTA dan PLTP telah ditambahkan dalam FTP2, yaitu
PLTA Rajamandala, PLTA Bonto Batu, PLTA Malea, PLTA Wampu, PLTA Semangka, PLTA Hasang dan PLTA
Peusangan-4. Sedangkan proyek PLTP tambahan adalah PLTP Gunung Endut, PLTP Gunung Ciremai, PLTP
Suoh Sekincau, PLTP Wai Ratai, PLTP Danau Ranau, PLTP Simbolon Samosir, PLTP Sipoholon Ria-Ria, PLTP
Bonjol dan PLTP Mataloko.
Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5.9 akan menjadi 66%. Pengembangan
ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL yang mencapai 12.126 MW hingga
tahun 2020. Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Tahap 2 sebesar 10.047 MW tersebut terdiri
atas 3.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.290 MW sebagai proyek IPP.

5.4.4. Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No. 67/2005
jo Perpres No. 13/2010
Pada saat ini terdapat 7 proyek kelistrikan dalam buku KPS 2012 yang diterbitkan oleh Bappenas seperti
ditunjukkan pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10. Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2012 Bappenas
No

Nama Proyek

Kapasitas

Provinsi

Status

Keterangan

PLTU Jateng

2x1000 MW

Jateng

Sudah PPA

Proses financial closing

PLTU Jambi

2x400 MW

Jambi

Prioritas

Sebetulnya merupakan proyek solicited karena


telah direncanakan dalam RUPTL 2010-2019

PLTU Sumsel-9

2x600 MW

Sumsel

Prioritas

Solicited

PLTU Sumsel-10

1x600 MW

Sumsel

Prioritas

Solicited

PLTA Karama

450 MW

Sulbar

Prioritas

Unsolicited

PLTA Batang
Toru - Tapsel

510 MW

Sumut

Potensial

Unsolicited

PLTA Merangin

350 MW

Jambi

Potensial

Solicited

Khusus untuk proyek PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, PLN telah mengusulkan kepada Bappenas
pada akhir Oktober 2012 untuk mengeluarkannya dari Buku KPS tahun 2013.

5.4.5. Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang


Dalam RUPTL ini terdapat rencana pembangunan 7.482 MW PLTU batubara yang berlokasi di dekat
tambang batubara di Sumatera. Keekonomian PLTU batubara mulut tambang diharapkan dapat diperoleh
dari adanya perbedaan yang signifikan antara harga batubara kalori rendah yang dipakai PLTU mulut
tambang dan harga batubara yang digunakan PLTU pantai. Perbedaan harga batubara tersebut sangat
diperlukan mengingat biaya proyek PLTU mulut tambang lebih tinggi daripada biaya proyek PLTU pantai54
dan diperlukan investasi transmisi untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang ke pusat beban.
Untuk menjamin economic sustainability suatu PLTU mulut tambang, diperlukan adanya kebijakan
Pemerintah yang menetapkan harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak mengikuti harga pasar
internasional. PLN telah mengusulkan kepada Pemerintah agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang
ditetapkan berdasarkan cost plus.

54 PLTU mulut tambang lebih mahal karena dimensi boiler lebih besar dan sistem pendingin membutuhkan cooling tower.

51
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 51

04/02/2013 14:16:26

5.4.6. Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)


Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel 5.11.
Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkitpembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem
besar (interkoneksi), dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2.
Tabel 5.11. Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW)
Tahun

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021 Jumlah

PLTU

2.617

3.050

2.262

1.425

1.004

1.227

3.303

1.130

1.110

2.000

19.128

PLTP

110

57

75

110

40

300

710

PLTGU

740

70

40

500

250

750

2.350

PLTG /MG

244

330

652

1.963

138

125

181

180

30

85

3.928

PLTD

49

PLTM

17

35

4.5

5.4

86

PLTA

20

10

443

454

77

126

482

183

1.795

PLN

PS

1040

450

450

1.940

PLT lain

20

55

17

13

15

132

Jumlah

3.719

3.516

3.055

3.988

1.929

2.974

3.595

1.494

2.379

3.471

30.119

PLTU

1.687

48

443

774

3.703

4.425

3.910

1.500

1.840

240

18.569

PLTP

55

130

585

1.265

1.255

1.548

745

55

5.638

IPP

PLTGU

90

50

50

190

PLTG /MG

60

82

148

PLTD

PLTM

14

141

114

194

23

489

PLTA

130

65

68

103

240

583

810

1.999

PS

PLT lain

90

98

Jumlah

1.891

431

7.521

1.216

4.414

5.940

5.749

3.858

2.585

295

27.131

4.304

3.098

2.705

2.199

4.706

5.652

7.213

2.630

2.950

2.240

37.697

PLN+IPP
PLTU

PLTP

110

63

188

660

1.375

1.260

1.588

1.045

55

6.348

PLTGU

740

160

90

550

250

750

2.540

PLTG /MG

304

412

652

1.963

138

131

181

180

30

85

4076

10

49

PLTM

18

158

150

201

32

575

PLTA

130

85

78

546

694

660

936

482

183

3.795

PLTD

PS

1.040

450

450

1.940

PLT lain

25

145

17

15

15

230

Jumlah

5.610

3.947

3.807

5.203

6.342

8.914

9.344

5.352

4.964

3.766

57.250

Tabel 5.11. menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode 20122021) untuk seluruh
Indonesia adalah 57,3 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 5,7 GW per tahun.
Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 29,5 GW atau 51,5% dari tambahan kapasitas
keseluruhan. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 27,8 GW atau 48,4%.
PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 37,7 GW
atau 65,9%, sementara PLTGU gas dengan kapasitas 2,5 GW atau 4,4%. Untuk energi terbarukan,
yang terbesar adalah panas bumi sebesar 6,3 GW atau 11,1% dari kapasitas total, disusul oleh PLTA
sebesar 5,7 GW atau 10,0%.

52
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 52

04/02/2013 14:16:26

5.4.7. Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur
Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari 5 sistem interkoneksi, yaitu:
(1) Sistem Sumatera, (2) Sistem Kalimantan Barat, (3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur, (4) Sistem
Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawesi Selatan.
Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated yang cukup besar dengan
beban puncak di atas 50 MW, yaitu Bangka, Lombok, Tanjung Pinang dan Palu, dan terdapat beberapa
sistem isolated dengan beban puncak di atas 10 MW, yaitu Jayapura, Sorong, Ambon, Ternate, Kupang,
Sumbawa, Bima, Luwuk, Gorontalo, Kendari, Kolaka, Bau-Bau, Bontang, Sampit, Pangkalan Bun, Sintang,
Ketapang, Belitung, Rengat, Tanjung Balai Karimun, Sungai Penuh, Takengon, Meulaboh.

Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2021 diperlukan tambahan kapasitas
pembangkit sebesar 15.299 MW di Indonesia Barat dan 9.364 MW di Indonesia Timur, termasuk committed
dan ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5.12 dan Tabel 5.13.
Dari Tabel 5.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2021 di Indonesia Barat
yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 7,4 GW (48,1%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP
sebanyak 7,9 GW (51,8%). Sedangkan pada Tabel 5.13 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit
hingga tahun 2021 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 5,3 GW (57,0%). Selebihnya
akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 4,0 GW (42,0%), lebih kecil dibandingkan pembangkit yang
dibangun oleh PLN.
Pengembangan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur untuk PLTP diproyeksikan cukup besar,
yaitu 3.523 MW dan juga PLTA sebesar 3.845 MW. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk
mengembangkan energi terbarukan.
Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2012-2021 ini adalah
PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam skala relatif kecil.
PLTA Batang Toru dengan total kapasitas 510 MW merupakan proyek unsolicited yang diusulkan oleh
investor swasta dan telah dapat dimasukkan dalam neraca daya sistem Sumatera karena investor telah
menyampaikan laporan feasibility study walaupun masih memerlukan penyempurnaan. PLTA Batang Toru
didisain sebagai pembangkit peaking untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking di Sumatera.
Tabel 5.12. Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW)
Tahun

2012

2013

2014

PLTU

207

581

889

PLTP

110

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021 Jumlah

1.079

415

917

917

50

60

5.115

55

55

110

220

550

PLN

PLTGU

70

40

110

244

204

470

520

10

120

10

1.578

PLTD

PLTM

PLTA

0.2

262

141

61

98

562

PLT lain

20

25

67

Jumlah

56

875

1.424

1.660

732

1.174

931

237

388

7.982

PLTG /MG

53
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 53

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.12. Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW)


Lanjutan
Tahun

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021 Jumlah

12

28

44

527

562

1.200

400

465

65

3.304

IPP
PLTU

PLTP

110

275

825

570

415

330

2.525

PLTGU

30

50

50

130

PLTG /MG

PLTD

PLTM

4.2

45

54

91

195

PLTA

68

56

40

433

510

1.107

PLT lain

Jumlah

16

108

148

847

893

865

220

132

795

65

7266

PLN+IPP

PLTU

219

609

933

1.606

977

917

2.117

450

525

65

8.419

PLTP

110

165

330

935

570

415

550

3.075

100

90

50

240

244

204

470

520

10

120

10

1.578

PLTGU
PLTG /MG
PLTD

PLTM

45

55

91

195

PLTA

0.2

68

318

181

433

571

98

1.670

PLT lain

25

25

72

Jumlah

577

983

1.572

2.507

1.625

2.039

3.134

1.562

1.183

65

15.248

Tabel 5.13. Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW)


Tahun

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

PLTU

145

404

713

346

274

310

386

80

50

2.708

PLTP

20

40

80

160

PLN

PLTGU

PLTG /MG

126

182

443

138

125

171

60

20

85

1.350

PLTD

10

49

PLTM

17

35

86

PLTA

20

10

71

114

77

65

384

183

924

PLT lain

27

11

59

Jumlah

152

576

968

825

522

561

664

257

541

271

5.337

IPP

PLTU

200

20

19

246

915

265

250

100

375

175

2.565

PLTP

20

15

50

60

78

30

253

PLTGU

60

60

60

82

148

PLTG /MG
PLTD

PLTM

10

38

29

23

11

113

PLTA

845

130

65

200

150

300

PLT lain

40

43

Jumlah

400

266

88

289

941

525

461

478

405

175

4.027

PLN+IPP

PLTU

345

424

732

592

1.189

575

636

180

425

175

5.273

PLTP

23

35

50

65

118

110

413

PLTGU

60

60

60

208

182

443

138

131

171

60

20

85

1.498

PLTG /MG

54
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 54

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.13. Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW)


Lanjutan
Tahun

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

PLTD

10

Jumlah
49

PLTM

14

56

65

30

20

200

PLTA

130

85

10

71

314

227

365

384

183

1.769

PLT lain

67

10

11

102

Jumlah

553

842

1.056

1.113

1.463

1.086

1.125

735

946

446

9.364

Neraca Daya
Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran A dan
Lampiran B.

Proyek Proyek Strategis


Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat meliputi antara lain:

Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang mengalami kekurangan pasokan
tenaga listrik dan untuk mengurangi pemakaian BBM.
Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi.
Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua
yang menjadi andalan pasokan listrik setempat.
PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat dioperasikan sebagai pembangkit
peaking, pembangunan PLTG peaking di Kaltim dan Sulsel.
PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan tujuh Kabupaten Baru di
Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum dilayani listrik PLN.
Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan pembangkit kecil tersebar di
wilayah operasi Indonesia Timur.
PLTA Asahan III berkapasitas 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2016, sangat strategis
untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara.
PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus
menurunkan BPP.
PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke
sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC.
Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.

5.4.8. Penambahan Kapasitas Pada Sistem JawaBali


Garis Besar Penambahan Pembangkit
Pada Tabel 5.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu
2012-2021 untuk wilayah Jawa-Bali.
Tabel 5.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Tambahan kapasitas pembangkit tahun 2012-2021 adalah 32,6 GW atau penambahan kapasitas ratarata 3,3 GW per tahun, termasuk PLTM skala kecil tersebar sebesar 180 MW dan PLT Bayu 50 MW.
Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 16,8 GW atau 51% dari tambahan kapasitas
keseluruhan. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 15,8 GW atau 49%.
PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 24,0 GW
atau 73,6%, disusul oleh PLTGU gas dengan kapasitas 2,2 GW atau 6,9% dan PLTG 1 GW atau 3,1%.
Sementara untuk energi terbarukan khususnya panas bumi sebesar 2,9 GW atau 8,8%, PLTA/PLTM/
pumped storage sebesar 2,5 GW atau 7,6%, dan pembangkit lainnya 0,05 GW atau 0,2%.

55
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 55

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.14. Rencana Penambahan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW)


Tahun

2012

2013

2014

2.265

2.065

660

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021 Jumlah

2.000

1.000

1.000

2.000

11.305

750

2.240

PLN
PLTU

315

PLTP

PLTGU

740

500

PLTG /MG

250

1.000

1.000

PLTM

PLTA

110

PS

309

1.040

PLT lain
Jumlah

199

3.005

2.065

663

1.503

450

450

1.940

3.200

16.800

6
675

1.239

2.000

1.000

1.450

380

2.225

4.160

2.460

1.000

1.000

55

295

390

625

1.055

385

IPP
PLTU

0
1.475

PLTP

12.700
55

2.860

PLTGU

PLTG /MG

PLTM

57

31

80

PLTA

12

180.354

47

47

PS

PLT lain
Jumlah

50

50

1.475

57

516

80.034

2.579

4.550

3.085

2.055

1.385

55 15.837.354

PLTU

3.740

2.065

1.040

2.540

4.160

4.460

2.000

2.000

2.000

24.005

PLTP

55

295

390

625

1.055

385

55

2.860

PLN+IPP

PLTGU

740

500

250

750

2.240

PLTG /MG

1.000

1.000

PLTM

57

31

80.034

12

180

PLTA

157

199

356

PS

1.040

450

450

1.940

PLT lain

53

56

Jumlah

4.480

2.122

1.179

1.583.034

3.254

5.789

5.085

3055

2.835

3.255

32.637

Neraca Daya
Neraca daya sistem Jawa-Bali dapat dilihat pada Lampiran C.
Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 20% karena beberapa proyek pembangkit skala besar
yang dalam RUPTL direncanakan beroperasi pada tahun 2015 diperkirakan akan terlambat. Pembangkit
dimaksud adalah PLTA Pumped Storage Upper Cisokan 1.000 MW dan PLTU Lontar unit-4 660 MW yang
merupakan proyek PLN, serta proyek PLTU IPP Cirebon unit-2 660 MW, Cilacap unit-3 600 MW, Madura
2x200 MW dan PLTP Kamojang, Wayang Windu, Karaha, Dieng, Tangkuban Perahu sebesar 350 MW.
Untuk memperbaiki reserve margin menjadi minimum 25% pada tahun 2015, PLN berupaya untuk menambah
kapasitas pembangkit tenaga listrik sekitar 1.500 MW secara cepat. Mengingat jenis pembangkit yang
dapat diimplementasikan secara cepat adalah pembangkit listrik berbahan bakar gas seperti PLTG dan
PLTGU, maka PLN akan mempercepat pembangunan PLTG 800 MW dan PLTGU 750 MW yang memang
telah direncanakan dalam RUPTL 2011-202055. PLTG tersebut akan dipasang di Muara Karang 400 MW dan
Pesanggaran 150 MW yang akan dioperasikan dengan LNG, serta di Grati 300MW yang akan dioperasikan
dengan CNG. PLN mempunyai opsi PLTG Grati dapat diganti dengan PLTG di lokasi lain yang mempunyai
pasokan gas lebih secure. PLN juga sedang meninjau kembali kelayakan proyek Muara Tawar add-on blok
55 Namun dijadwalkan pada tahun 2017-2019

56
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 56

04/02/2013 14:16:26

3-4 yang menambahkan HRSG dan ST 2x250 MW sehubungan dengan adanya rencana pembangunan pipa
yang menghubungkan FSRU Jakarta dengan pipa SSWJ II untuk memasok Muara Tawar.
Sedangkan 1 blok PLTGU 750 MW akan dibangun di Gresik untuk dioperasikan dengan gas lapangan yang
ada, namun dengan capacity factor rendah sehingga diperlukan tambahan pasokan gas baru. PLN berharap
akan mendapatkan alokasi gas dari blok Cepu.
Dalam RUPTL ini terdapat beberapa proyek yang mengalami perubahan unit size, yaitu:
-

PLTU Jawa-1 semula 1x660 MW menjadi 1x1.000 MW. PLTU ini dapat dilaksanakan sebagai proyek
IPP atau PLN. Apabila akan dilaksanakan sebagai proyek IPP, proyek ini dapat berupa ekspansi PLTU
IPP yag telah beroperasi. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Peraturan Dirjen Ketenagalistrikan No.
50/2012 yang menyebutkan penambahan kapasitas pembangkit ekspansi boleh lebih besar daripada
kapasitas pembangkit yang telah beroperasi, apabila menggunakan teknologi yang lebih efisien,
lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan sistem penyediaan tenaga listrik setempat.
Dengan adanya perubahan unit size ini, diperkirakan COD akan mundur ke tahun 2017.
PLTU Jawa Tengah semula 2x1.000 MW menjadi 2x950 MW, kapasitas ini sesuai dengan kontrak PPA.
Financial closing diperkirakan mundur 12 bulan dari rencana semula, sehingga COD diperkirakan
mundur ke tahun 2017-2018.
PLTU Banten semua 1x660 MW menjadi 1x625 MW, kapasitas ini sesuai dengan kontrak PPA.
PLTU Lontar Unit 4 semula 1x660 MW menjadi 1x315 MW. Perubahan kapasitas ini dilakukan agar
proyek dapat dieksekusi dengan lebih cepat. Proyek EPC PLN ini apabila tetap berkapasitas 660
MW akan terhambat oleh masalah teknis56, memerlukan tambahan lahan yang cukup luas (38 Ha)
dan memerlukan pembangunan beberapa fasilitas baru seperti coal yard, jetty, intake & discharge
channels. Perubahan kapasitas menjadi kelas 315 MW dapat menggunakan lahan dan semua fasilitas
yag telah ada, sehinggga dapat mempercepat penyelesaian proyek ini, walaupun penyelesaiannya
akan tetap meluncur ke tahun 2016.
PLTGU Jawa-5 semula 2 blok @750 MW menjadi hanya 1 blok karena keterbatasan pasokan gas.
Pada awal beroperasinya PLTGU tersebut, yaitu tahun 2015/2016, pembangkit baru tersebut akan
dioperasikan dengan gas eksisting di Gresik. PLN berharap akan memperoleh alokasi gas dari blok
Cepu untuk mengoperasikan PLTGU tersebut mulai tahun 2017. Berdasarkan informasi yang diperoleh
PLN blok Cepu dapat menghasilkan gas sekitar 190 mmscfd, namun tidak semua gas tersebut dapat
dialokasikan ke sektor listrik. Lokasi semula direncanakan di daerah Tuban/Cepu, namun dipindah ke
komplek pembangkitan Gresik sesuai dengan rencana Pertamina/ExxonMobil untuk mengalirkan gas
ke konsumen gas lainnya di daerah Gresik/Surabaya.
PLTP Patuha semula 3x60 MW menjadi 3x55 MW, kapasitas ini sesuai dengan kontrak PPA.

Selain proyek-proyek yang mengalami perubahan unit size, dalam RUPTL ini juga terdapat proyek baru
yang belum ada di RUPTL sebelumnya, yaitu:
-

PLTU Jawa-4 berkapasitas 2x1.000 MW dapat dilaksanaan sebagai proyek PLN atau IPP untuk
memenuhi kebutuhan listrik di tahun 2019-2020. Apabila dilaksanakan sebagai proyek IPP, PLTU ini
dapat berupa ekspansi dari IPP yang telah beroperasi atau BLT (Build Lease Transfer) atau PPP (Public
Private Partnership).
PLTU Jawa-6 berkapasitas 2x1.000 MW tahun 2021.
PLTGU Jawa-7 berkapasitas 1x750 MW untuk memenuhi kebutuhan pembangkit pemikul beban
menengah tahun 2021 apabila dapat disediakan pasokan gas lapangan (bukan LNG).
PLT Bayu Samas (50 MW), berlokasi di Yogyakarta, merupakan proposal unsolicited dari sebuah
perusahaan swasta.

56 PLTU klas 600 MW memerlukan cerobong asap yang tinggi, dan karena proyek berlokasi dalam koridor penerbangan bandara Sukarno Hatta maka tidak diperkenankan.

57
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 57

04/02/2013 14:16:26

Sebuah proyek PLTU yang juga telah direncanakan pada RUPTL 2011-2020 adalah PLTU Jawa-3. PLTU
ini dapat dialokasikan sebagai PLTU IPP Tanjung Jati A yang akan dikembangkan oleh PT TJPC, atau
dikembangkan sebagai PLTU baru oleh IPP atau PLN.
Pembangkit yang dikeluarkan dari RUPTL adalah PLTA Grindulu (pumped storage) unit 1-2 500 MW, karena
penyelesaian proyek diperkirakan setelah tahun 2021.

Proyek-Proyek Strategis
Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut:
-

PLTU IPP Jawa Tengah (2x950 MW). Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun
2017 dan 2018, serta merupakan proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama
PemerintahdanSwasta (KPS) dengan PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010.
PLTU Indramayu (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun
2018/2020, dan berlokasi relatif dekat dengan pusat beban di Jabodetabek. Karena proyek ini
menghadapi ketidakpastian perizinan dari Pemda, PLN mempunyai opsi untuk memajukan jadwal
PLTU Jawa-6 yang berlokasi di Bojonegara dari tahun 2021 menjadi 2018. Keputusan untuk melakukan
opsi tersebut akan diambil PLN setelah ada kepastian perizinan dari Pemda.
PLTA Pompa Upper Cisokan (1.040 MW). Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan
biaya operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik, antara
lain berfungsi sebagai pembangkit beban puncak, pengatur frekuensi, sebagai spinning reserve
(cadangan putar), memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban dasar dan memperbaiki load factor
sistem.
PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC SumateraJawa dengan kapasitas
3.000 MW. Proyek ini sangat strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi
kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatra Selatan.
Proyek ini hanya dilaksanakan setelah kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan
cadangan yang cukup banyak. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin sulitnya mendapatkan
lokasi baru untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa.
PLTU Bekasi 2x1000 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya berada dekat Jakarta dan
dapat memasok langsung pusat beban Jakarta melalui transmisi SUTET yang pendek, sehingga dapat
mendukung tegangan sistem 500 kV di Jakarta, dan pada akhirnya dapat mengurangi pemakaian
BBM/LNG di Muara Karang, Priok dan Muara Tawar.

Regional Balance Sistem Jawa Bali


Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat, Jawa Tengah dan
Jawa Timur & Bali pada saat ini sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.15, maka dapat dimengerti apabila
PLN merencanakan lokasi pembangkit baru di Jawa bagian barat agar dapat diperoleh regional balance.
Tabel 5.15. Regional Balance Sistem JawaBali Tahun 2011
Regional Balance

Jawa Bagian Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur dan Bali

Kapasitas Terpasang (MW)

14.661

4.810

6.901

Beban Puncak (MW)


Reserve (%)

12.638
16,0

3.021
59,2

4.758
45,0

Kandidat lokasi untuk membangun pembangkit baru tersebut adalah Bekasi, Indramayu, Cirebon, Banten,
Lontar dan Muara Karang.
Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran
C1.2.

58
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 58

04/02/2013 14:16:26

5.4.9. Partisipasi Listrik Swasta


Proyek-proyek pembangkit yang ditunjukkan pada Tabel 5.16, 5.17 dan 5.18 adalah proyek pembangkit
yang dilaksanakan oleh swasta dan diasumsikan akan dilaksanakan oleh swasta. Pada situasi dan asumsi
tersebut, partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang
cukup besar, yaitu mencapai sekitar 37% dari total kapasitas terpasang.
Pada Tabel 5.16, 5.17 dan 5.18 yang dimaksud dengan proyek on going adalah proyek IPP yang telah
memasuki tahap konstruksi karena mendapat pendanaan (financial closure), sedangkan proyek IPP dalam
kategori committed adalah mereka yang telah mempunyai PPA atau LOI dari PLN. Selain itu proyek-proyek
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai proyek IPP dalam Program Percepatan Pembangunan
Pembangkit Tahap 2 dan Program Kerjasama Pemerintah Swasta dikategorikan sebagai proyek IPP
committed.
Proyek-proyek pembangkit lainnya di luar Tabel 5.16, 5.17 dan 5.18 merupakan proyek PLN atau yang
diasumsikan akan dilaksanakan oleh PLN.
Tabel 5.16. Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Indonesia Timur
Nama Pembangkit

Kapasitas (MW)

COD

Proyek IPP (On Going & Committed)


PLTU Jeneponto Bosowa

2x100

PLTG Sengkang, Op. Cycle - Unit 2

1x60

2012
2012

PLTA Poso Energy

3x65

2012-2013

PLTG Senipah

2x41

2013

PLTM Kokok Putih

1x4

2013

PLTM Wawopada

1x4

2013

PLTM Taludaa 2

1x2

2013

PLTU Molotabu

2x10

2013

PLTU Tanah Grogot

2x7

2014

PLTM Taludaa 1

1x3

2014

PLTU Sumbawa (FTP 2)

2x10

2014-2015

PLTU Luwuk (FTP 2)

2x10

2015-2016

PLTU Nabire (FTP 2)

2x7

2016

PLTU Biak (FTP 2)

2x7

2016

PLTU Andai/Manokwari (FTP 2)

2x7

2016

PLTU Merauke (FTP 2)

2x7

2016

PLTU Gorontalo Energi

2x6

2015

PLTU Kaltim (MT)

2x2,75

2015

PLTU Senipah (ST)

1x35

2015

PLTU Embalut (Ekspansi)

1x50

2015

PLTU Bau-Bau

2x7

2015

PLTU Sulut I - Kema

2x25

2015

PLTU Tawaeli (Ekspansi)

2x15

2015

PLTP Lahendong 5 dan 6 (FTP 2)

2x20

2015-2017

PLTU Kalsel 1 (FTP 2)

2x100

2016-2017

PLTU Kaltim 2 (FTP 2)

2x100

2016

PLTU Jayapura (FTP 2)

2x15

2016

PLTU Kendari (FTP 2)

2x25

2016

PLTU Kolaka

2x10

2016

59
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 59

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.16. Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Indonesia Timur
Lanjutan
Nama Pembangkit

Kapasitas (MW)

COD

PLTU Mamuju

2x25

2016

PLTU Klalin/Sorong (FTP 2)

2x15

2016

PLTU Jeneponto 2

2x100

2016

PLTP Jailolo (FTP 2)

2x5

2016

PLTP Atadei (FTP 2)

1x5

2016

PLTP Mataloko (FTP 2)

1x5

2018

PLTU Kupang

2x15

2016-2017

PLTA Malea (FTP 2)

2x45

2017

PLTA Bontobatu (FTP 2)

110

2017

PLTP Sokoria (FTP 2)

3x5

2017-2019

PLTP Huu (FTP 2)

1x20

2017

PLTP Songa Wayaua (FTP 2)

1x5

2017

PLTP Marana/Masaingi (FTP 2)

1x20

2018

PLTP Bora (FTP 2)

1x5

2018

Proyek yang Diasumsikan sebagai IPP


PLTM Tersebar NTT

14

2012-2016

PLTM Tersebar Sulsel

13

2012-2013

PLTM Tersebar Sulteng

25

2013-2014

PLTM Tersebar NTB

28

2013-2015

PLTM Tersebar Maluku

19

2014-2017

PLTM Maluku Utara

2014-2015

PLTM Tersebar Papua


PLTU Lati 2

2014

1x5

2014

PLTU Merauke 2

2x7

2016

PLTU Lombok TImur

2x25

2016

PLTU Kalselteng 3

2x50

2016

PLTU Kalselteng 1

2x100

2017-2018

PLTU Sulut 3

2x55

2017-2018

PLTA Karama (Unsolicited)

3x150

2018-2019

PLTP Huu 2

2x20

2018-2019

PLTP Mataloko 3

1x5

2018

PLTU Kaltim 3

2x100

2018-2019

PLTP Borapulu

2x20

2019-2020

PLTP Mataloko 4

1x5

2019

PLTP Lainea

2x10

2019

PLTP Ulumbu 3

1x5

2019

PLTP Oka Larantuka

1x3

2019

PLTU Lombok 3

2x25

2020-2021

PLTU Sulsel 3/Takalar

2x100

2020

PLTP Sokoria 4

1x5

2020

PLTP Jailolo 2

1x5

2020

PLTU Kaltim 4

2x150

2020-2021

60
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 60

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.17. Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Indonesia Barat
Nama Pembangkit

Kapasitas (MW)

COD

Proyek IPP (On Going & Committed)


PLTU Sarolangun

2x6

2012

PLTMTersebar Sumut

195

2012-2015

PLTGU Gunung Megang ST

1x30

2013

PLTU Baturaja

2x10

2013

PLTU Ketapang (IPP)

2x7

2016

PLTU Muko-muko

2x4

2013

PLTU Nias (FTP 2)

3x7

2014-2015

PLTA Wampu (FTP 2)

45

2015

PLTA Simpang Aur (FTP 2)

23

2015

PLTA Semangka (FTP 2)

56

2016

2x115

2015

PLT Banjarsari
PLTP Lumut Balai (fTP 2)

4x55

2015-2016

PLTU Sumsel 5

2x150

2015-2016

PLTU Keban Agung

2x113

2015-2016

PLTU Sumsel 7

2x150

2016

PLTP Sarulla I (FTP 2)

3x110

2106-2017

PLTP Ulubelu 3 dan 4 (FTP 2)

2x55

2016-2017

PLTP Muara Laboh (FTP 2)

2x110

2016-2017

PLTP Rajabasa (FTP 2)

2x110

2017

PLTP Sarulla II (FTP 2)

1x110

2017

PLTA Hasang (FTP 2)

40

2017

PLTA Peusangan 4 (FTP 2)

83

2018

PLTU Riau Kemitraan

1200

2018

PLTP Seulawah Agam (FTP 2)

2x55

2018

PLTP Sorik Marapi (FTP 2)

240

2018

PLPT Suoh Sekincau (FTP 2)

2x110

2018-2019

PLTP Rantau Dadap (FTP 2)

2x110

2018-2019

PLTA Batang Tour (Tapsel)

510

2019

PLTP G. Talang (FTP 2)

1x20

2019

2019

PLTP Wai Ratai (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Sipholon Ria-ria (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Simbolon Samosir (FTP 2)

2x55

2019-2020

PLTU Jambi (KPS)

2x400

2019-2020

165

2020

PLTP Jaboi (FTP 2)

PLTP Bonjol (FTP 2)


PLTP Danau Ranau (FTP 2)

1x110

2020

PLTU Bangka 1 (FTP 2)

2x65

2020-2021

Proyek yang Diasumsikan sebagai IPP


PLTGB Beliung 2/Tj Pandan

2014

PLTU Tanjung Pinang 1 (TLB)

2x15

2014

PLTGU Duri

100

2014-2015

PLTU Rengat (IPP)

2x7

2015

PLTA Merangin

350

2018

61
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 61

04/02/2013 14:16:26

Tabel 5.18. Daftar Proyek IPP dan Proyek yang Diasumsikan Akan Dilaksanakan oleh IPP
di Wilayah Operasi Jawa Bali
Nama Pembangkit

Kapasitas (MW)

COD

Proyek IPP (On Going & Committed)


PLTU Paiton 3

1x815

2012

PLTU Cirebon

1x660

2012

PLTU Celukan Bawang

1x130 + 2x125

2014

PLTU Banten

1x625

2016

PLTU Cilacap Ekspansi

1x600

2016

PLTU Madura (FTP 2)

2x200

2016

PLTU MT Sumsel 8

2x600

2016-2017

PLTU Jawa Tengah

2x950

2017-2018

PLTU MT Sumsel 9

2x600

2018

PLTU MT Sumsel 10

1x600

2018

PLTP Patuha 1-2 (FTP 2)

2x55

2014-2017

PLTP Kamojang 5-6 (FTP 2)

1x30 + 1x60

2016-2019

PLTP Karaha Bodas (FTP 2)

1x30 + 2x55

2016-2017

PLTA Rajamandala (FTP 2)

1x47

2016

PLTP Cibuni (FTP 2)

10

2016

PLTP Dieng (FTP 2)

1x55 + 1x60

2016

PLTP Ungaran (FTP 2)

1x55

2018

PLTP Rawa Dano (FTP 2)

1x110

2018

PLTP Tangkuban Perahu 1 (FTP 2)

2x55

2018

PLTP Tangkuban Perahu 2 (FTP 2)

2x30

2018-2019

PLTP Umbul Telumoyo (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Wayang Windu 3-4 (FTP 2)

2x110

2016-2017

PLTP Guci (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Ijen (FTP 2)

2x55

2019

PLTP Wilis/Ngebel (FTP 2)

3x55

2018-2019

PLTP Gn. Ciremai (FTP 2)

2x55

2019

PLTP Gn. Endut (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Baturaden (FTP 2)

2x110

2018-2019

PLTP Iyang Argopuro (FTP 2)

1x55

2019

PLTP Tampomas (FTP 2)

1x45

2018

PLTP Cisolok-Cisukarame (FTP 2)

1x50

2017

Proyek yang Diasumsikan sebagai IPP


PLTU Jawa 1

1x1000

2017

PLTU Jawa 3

2x660

2017-2018

PLTU Jawa 4

2x100

2019-2020

PLTP Dieng

2x55

2018-2019

PLTP Ungaran

1x30 + 1x55

2019

PLTP Ungaran

1x55

2021

50

2014

1x55

2018

PLT Bayu Samas


PLTP Patuha
PLTP Bedugul

1x10

2017

PLTP G. Lawu

3x55

2019-2021

PLTP Arjuno Welirang

2x55

2019-2020

PLTP Iyang Argopuro

2x110

2020

PLTP Cisolok-Cisukarame

2x55

2018-2019

62
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 62

04/02/2013 14:16:26

5.5.

Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar

5.5.1. Sasaran Fuel Mix Indonesia


Fuel Mix 2012-2021
Komposisi produksi listrik per jenis energi primer untuk gabungan Indonesia diproyeksikan pada tahun
2021 akan menjadi 60,7% batubara, 19,7% gas alam (termasuk LNG), 11,8% panas bumi, 6,8% tenaga air,
1% minyak dan bahan bakar lainnya seperti diperlihatkan pada Tabel 5.19 dan Gambar 5.4.

Tabel 5.19. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Gabungan Indonesia (GWh)
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD

22.040

17.126

7.035

3.295

3.455

2.184

2.431

2.819

3.141

3.419

MFO

7.082

6.347

5.340

1.226

16

26

40

61

42

42

Gas

43.359

46.540

60.558

59.767

54.648

39.113

38.328

37.367

36.891

41.491

LNG

5.636

7.065

16.956

19.914

23.079

32.241

31.233

31.691

35.368

35.604

Batubara

101.414

118.595

125.394

150.927

170.923

190.494

205.247

218.890

236.196

258.022

Hydro

10.586

10.865

11.133

11.733

13.930

16.818

19.671

22.706

24.988

26.689

Surya/Hybrid

Biomass

Impor

10

Geothermal
Total

93

93

93

94

94

94

94

94

63

63

63

63

63

63

63

63

63

63

733

727

737

738

227

142

317

8.946

9.357

9.920

10.940

16.015

24.473

32.252

41.521

45.402

45.421

199.130

215.962

236.492

258.693

282.950

306.244

330.097

355.439

382.345

411.162

450.000
400.000

350.000
300.000

GWh

250.000

200.000
150.000
100.000

50.000
2012
Impor

Biomass

2013

2014

Surya/Hybrid

2015
HSD

2016
MFO

LNG

2017
Gas

2018
Batubara

2019
Geothermal

2020

2021

Hydro

Gambar 5.4. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Gabungan Indonesia (GWh)

63
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 63

04/02/2013 14:16:27

Kebutuhan bahan bakar gabungan Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2021 diberikan pada
Tabel 5.20.
Tabel 5.20. Kebutuhan Bahan Bakar Gabungan Indonesia
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015
957,7

2016
1.041,0

2017

2018

6.268,9

4.784,5

1.986,9

MFO (x 10^3 kl)

2.787,8

2.826,4

2.347,7

376,9

12,9

22,0

36,1

56,7

37,3

37,3

Gas (bcf)

388,0

406,7

533,6

515,5

465,0

321,1

311,8

303,7

299,1

333,6

LNG (bcf)

46,0

52,9

92,8

121,4

146,1

236,5

229,5

232,2

263,5

265,1

Batubara (10^3 ton)

Biomass (10^3 ton)

49,0

49,0

49,0

817,4

2021

HSD ( x 10^3 kl)

49,0

703,5

2020

51.226,3 60.832,4 65.667,2 79.451,9 90.981,1

625,2

2019

898,3

973,3

100.925,9 107.781,1 114.358,1 123.251,2 134.400,4

49,0

49,0

49,0

49,0

49,0

49.,0

5.5.2. Sasaran Fuel Mix Jawa-Bali


Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2012-2021 berdasarkan
jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.21 dan Gambar 5.5.
Dalam kurun waktu 2012-2021, kebutuhan batubara meningkat lebih dari 2 kali dan kebutuhan gas alam
meningkat hampir 1,5 kali lipat, sedangkan kebutuhan BBM menurun drastis karena digantikan oleh LNG/
CNG.
Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan Pemerintah
mengenai diversifikasi energi, yaitu mengurangi pemakaian BBM dan mengoptimalkan pemakaian
batubara dan gas.
Tabel 5.21. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem Jawa-Bali (GWh)
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD

7.655

5.590

1.828

1.004

1.813

419

428

539

650

650

MFO

1.864

1.482

1.482

Gas

33.537

35.422

48.227

49.109

43.843

28.829

28.947

28.116

27.638

31.901

LNG

Batubara

Hydro

Surya/Bayu/
Hybrid

Geothermal
Total

5.636

7.065

12.929

15.041

17.982

27.088

26.435

27.002

30.442

30,.442

89.601

100.868

100.425

115.322

130.919

148.060

157.044

167.204

179.779

193.795

5.273

5.273

5.273

5.273

5.807

7.000

7.891

7.734

8.425

9.162

88

88

88

88

88

88

88

88

7.953

7.950

8.401

8.886

11.651

15,.172

21.948

29.027

30.371

30.371

151,.519

163.649

178.652

194.723

212.102

226.655

242.781

259.710

277.393

296.408

64
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 64

04/02/2013 14:16:27

300,000

250,000

GWh

200,000

150,000

100,000

50,000

2012
HSD

2013
MFO

2014

2015
LNG

2016
Gas

2017
Batubara

2018
Geothermal

2019

2020

2021

Hydro

Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh)

Pada Tabel 5.21 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya, yaitu 194 TWh dari total
produksi 296 TWh (66%) pada tahun 2021. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 7,9
TWh pada tahun 2012 menjadi 30,4 TWh pada tahun 2021, atau meningkat hampir 4 kali lipat. Sedangkan
pangsa tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk
dikembangkan. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG) mengalami peningkatan sejak tahun 2012
menjadi hampir 1,5 kali lipat pada tahun 2021.
Neraca energi pada Gambar 5.5 merefleksikan produksi energi setiap pembangkit, termasuk pembangkit
Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang menggunakan gas. Situasi pada gambar 5.5. tersebut adalah
untuk memenuhi tuntutan kebutuhan operasi sistem tenaga listrik dimana ketiga pembangkit berbahan
bakar gas tersebut harus beroperasi dengan output yang tinggi (must run) sebagaimana dijelaskan pada
butir 4.2 dan lampiran C1.4.
Sebagai dampak dari produksi yang tinggi pada ketiga pembangkit tersebut, akan diperlukan pasokan gas
yang cukup besar yang pada saat ini masih belum terpenuhi, sehingga diperkirakan akan terjadi defisit
pasokan gas seperti ditunjukkan pada Tabel C1.4.2. Apabila kebutuhan gas tersebut tidak dapat dipenuhi
secukupnya, maka kebutuhan ini harus disubstitusi dengan bahan bakar lain, yaitu BBM.
Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 5.22.
Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2021. Hal ini merupakan konsekuensi dari
rencana pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.

65
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 65

04/02/2013 14:16:27

Tabel 5.22. Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali


No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD ( x 10^3 kl)

2.184,4

1.600,5

535,4

281,3

575,7

117,5

126,7

159,9

192,7

192,7

MFO (x 10^3 kl)

462,4

367,6

367,5

Gas (bcf)

295,1

308,4

424,3

429,9

378,2

239,2

240,2

234,0

229,7

261,7

LNG (bcf)

46,0

52,9

60,9

82,9

105,9

195,9

191,5

195,6

225,6

225,6

Batubara (10^3 ton)

43.857,5

49.797,1

49.888,3

56.919,7

65.630,7

73.345,3

77.755,7

82.160,7

88.088,6

94.677,1

Biomass (10^3 ton)

5.5.3. Sasaran Fuel Mix Indonesia Barat


Komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat diproyeksikan pada tahun 2021
akan menjadi 58% batubara, 12% gas alam, 12% tenaga air, 4% minyak dan 16% panas bumi seperti
diperlihatkan pada Tabel 5.23 dan Gambar 5.6.
Tabel 5.23. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD

8.242

6.837

1.109

795

715

760

881

967

1.015

1.108

MFO

2.699

2.868

1.732

43

12

21

35

55

35

35

Gas

7.966

8.322

8.786

6.646

6.781

6.376

5.458

5.290

5.258

5.434

LNG

4.027

3.946

4.116

4.203

3.709

3.565

3.720

3.857

Batubara

8.363

11.351

16.798

23.158

24.051

23.867

28.841

31.728

36.004

42.131

Hydro

3.436

3.576

3.743

4.261

5.348

5.928

6.949

8.503

8.503

8.503

Biomass

63

63

63

63

63

63

63

63

63

63

Impor

Geothermal
Total

733

727

737

738

227

142

317

547

801

815

1.206

3.178

7.685

8.072

9.960

11.806

11.806

31.317

33.818

37.073

40.851

44.991

49.640

54.745

60.358

66.548

73.255

80,000

70,000

60,000

GWh

50,000

40,000

30,000

20,000

10,000

2012

2013
Impor

2014

Biomass

2015
HSD

MFO

2016
LNG

2017
Gas

2018
Batubara

2019
Geothermal

2020

2021

Hydro

Gambar 5.6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)

57 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guideliness for National Greenhouse Gas Inventories.

66
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 66

04/02/2013 14:16:27

Kebutuhan bahan bakar di Indonesia Barat dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2021 diberikan pada
Tabel 5.24.
Tabel 5.24. Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD ( x 10^3 kl)

2.424,8

1.914,1

344,2

269,0

214,9

236,1

273,5

303,0

307,0

331,8

MFO (x 10^3 kl)

1.614,5

1.895,1

1.380,3

43,1

11,5

20,6

34,6

55,0

35,5

35,5

Gas (bcf)

86,6

88,8

97,3

72,0

73,2

68,6

58,3

56,3

55,9

57,9

LNG (bcf)

31,9

31,3

32,6

33,2

29,5

27,9

28,4

29,4

Batubara (10^3 ton)

5.142,2

6.920,5

10.506,5

14.500,1

15.055,6

15.598,6

17.531,1

19.319,0

21.989,9

25.464,0

Biomass (10^3 ton)

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

49,1

5.5.4. Sasaran Fuel Mix Indonesia Timur


Komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur diproyeksikan pada tahun 2021 akan
menjadi 53% batubara, 22% tenaga air, 13% gas alam, 8% panas bumi dan 4% minyak seperti diperlihatkan
pada Tabel 5.25 dan Gambar 5.7.
Tabel 5.25. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh)
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

HSD

6.142

4.700

4.098

1.496

927

1.005

1.122

1.312

1.475

1.661

MFO

2.519

1.998

2.126

1.183

Gas

1.857

2.795

3.545

4.012

4.023

3.908

3.923

3.962

3.994

4.156

LNG

927

982

950

1.089

1.124

1.224

1.305

Batubara

3.450

6.376

8.170

12.447

15.953

18.568

19.362

19.957

20.413

22.097

Hydro

1.876

2.016

2.118

2.200

2.775

3.890

4.830

6.469

8.060

9.024

Surya/Hybrid

Geothermal
Total

445

606

704

848

1.186

1.617

2.232

2.534

3.224

3.244

16.293

18.495

20.766

23.119

25.857

29.949

32.571

35.371

38.404

41.499

45.000

40.000

35.000

30.000

GWh

25.000

20.000

15.000

10.000

5.000

2012

2013

Surya/Hybrid

2014
HSD

2015
MFO

2016
LNG

2017
Gas

2018
Batubara

2019
Geothermal

2020

2021

Hydro

Gambar 5.7. Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh)

67
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 67

04/02/2013 14:16:27

Kebutuhan bahan bakar di Indonesia Timur dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2021 diberikan pada
Tabel 5.26.
Tabel 5.26. Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur
No.

Fuel Type

2012

2013

2014

2015

2016

2017

1.269,9

1.107,4

404,4

MFO (x 10^3 kl)

710,9

563,6

599,8

333,8

1,3

1,4

1,5

1,7

1,9

1,9

Gas (bcf)

6,3

9,4

12,0

13,6

13,6

13,2

13,3

13,4

13,5

14,0

LNG (bcf)

7,2

7,6

7,4

8,5

8,7

9,5

10,1

Batubara (10^3 ton)

Biomass (10^3 ton)

5.6.

5,.272,4

354,6

2021

1.659,7

4.114,7

303,3

2020

HSD ( x 10^3 kl)

271,5

2019

2.226.,6

250,5

2018

398,7

448,8

8.032,2 10.294,8 11.982,0 12.494,3 12.878,3 13.172,8 14.259,3


-

Proyeksi Emisi CO2

Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2012-2021 belum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai
salah satu variabel biaya. Namun demikian RUPTL ini tidak mengabaikan upaya pengurangan emisi CO2. Hal
ini dapat dilihat dari banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam sistem kelistrikan
walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah. Penggunaan teknologi boiler supercritical dan
ultra-supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya pengurangan emisi
CO2 dari pembangkitan tenaga listrik.
Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2
(dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC57.
Pemerintah telah menetapkan Perpres No. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No. 15 tahun 2010 mengenai
Program Percepatan Pembangkit Tahap 2. Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan
menggunakan energi terbarukan, khususnya panas bumi. Dengan adanya intervensi kebijakan pemerintah
mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan
pembangkit yang sedikit berbeda dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2. Emisi
CO2 Indonesia
Juta
CO2
Juta tCO2
300
275
250
225
200
175
150
125
100
75
50
25
0
2012

2013

2014
Biomass

2015

2016

2017

2018

2019

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

2020

2021

Gambar 5.8. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia)

68
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 68

04/02/2013 14:16:27

Gambar 5.8 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan
dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.4. Dari Gambar 5.8 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia
akan meningkat dari 151 juta ton pada 2012 menjadi 283 juta ton pada tahun 2021. Dari 284 juta ton emisi
tersebut, 247 juta ton (87%) berasal dari pembakaran batubara.
Average grid emission factor58 untuk Indonesia pada tahun 2012 adalah 0,762kgCO2/kWh, akan menurun
sampai dengan tahun 2015 namun meningkat menjadi 0,763kgCO2/kWh pada 2016 dan selanjutnya akan
menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan PLTA sehingga average grid emission factor pada
tahun 2021 menjadi 0,724 kgCO2/kWh.

Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali


Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.9. Emisi naik dari 113 juta ton pada
2012 menjadi 214 juta ton pada 2021, atau naik sekitar 2 kali lipat. Grid emission factor akan meningkat
dari 0,746 kgCO2/kWh pada 2012 menjadi 0,758 kgCO2/kWh pada 2013 karena banyak beroperasinya
PLTU FTP-1 dan PLTU IPP, namun selanjutnya akan membaik hingga menjadi 0,723 kgCO2/kWh pada 2021.
Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam, panas bumi dan penggunaan
teknologi supercritical.
JutatCO2
CO2
Juta

225
200
175
150
125
100
75

50
25
0
2012

2013

2014
Biomass

2015

2016

2017

2018

HSD

MFO

LNG

Gas

2019

2020

2021

Batubara

Gambar 5.9. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa-Bali

Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat


Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan pada gambar 5.10. Emisi
diproyeksikan akan naik dari 27 juta ton menjadi 49 juta ton, atau naik hamir 2 kali lipat. Grid emission
factor menurun dari 0,857 kgCO2/kWh pada 2012 menjadi 0,725kgCO2/kWh pada 2019 namun meningkat
kembali menjadi 0,845 kgCO2/kWh pada 2021 dengan asumsi produksi listrik dari panas bumi terkendala
oleh keterlambatan konstruksi.

58 Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh]

69
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 69

04/02/2013 14:16:27

Juta
Juta CO
tCO2
2
60
50
40
30
20
10
0
2012

2013

2014

Biomass

2015
HSD

2016
MFO

2017
LNG

2018

2019
Gas

2020

2021

Batubara

Gambar 5.10. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat

Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur


Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan pada Gambar 5.11. Emisi
naik dari 12 juta ton pada 2012 menjadi 28 juta ton pada 2021, atau naik lebih dari 2 kali lipat. Grid emission
factor meningkat dari 0,698 kgCO2/kWh pada 2012 menjadi 0,852kgCO2/kWh pada 2016 dengan masuknya
PLTU skala kecil, dan berangsur-angsur menurun menjadi 0,733 kgCO2/kWh pada 2021. Faktor emisi yang
membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
Juta CO
Juta
tCO2
2
30
25
20
15
10
5
0
2012

2013

2014

Biomass

2015
HSD

2016
MFO

2017
LNG

2018
Gas

2019

2020

2021

Batubara

Gambar 5.11. Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur
57 IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guideliness for National Greenhouse Gias Inventories

70
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 70

04/02/2013 14:16:27

5.7.

Proyek Pendanaan Karbon

PLN akan memanfaatkan peluang pendanaan karbon baik melalui kerangka UNFCCC maupun diluar
kerangka UNFCCC. Implementasi proyek pendanaan karbon akan diterapkan untuk semua kegiatan di
lingkungan PLN yang berpotensi untuk memperoleh pendanaan karbon.
Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan peluang pendanaan karbon melalui Clean Development
Mechanism (CDM) dan melakukan pengkajian beberapa potensi proyek CDM, dan hasilnya hingga saat ini
PLN telah menandatangani bebarapa ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements). Selain itu PLN juga
mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM (Voluntary Carbon Mechanism).
Berkenaan dengan akan berakhirnya komitmen pertama Protokol Kyoto pada akhir tahun 2012, maka
pemanfaatan pendanaan karbon akan disesuaikan dengan mekanisme baru pendanaan karbon, baik
dalam kerangka UNFCCC maupun di luar kerangka UNFCCC.

5.8.

Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk

Pada periode 2012-2021 pengembangan sistem penyaluran berupa pengembangan sistem transmisi
dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali serta tegangan 500 kV, 275kV, 150kV dan 70kV
di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan
kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir
secara efisien. Disamping itu juga sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan
tegangan pelayanan.
Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari
pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan untuk menjaga kriteria security N-1, baik statik
maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria
security N-1 dan sebagai transmisi yang terkait dengan gardu induk 150 kV baru.
Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk membentuk transmisi back-bone yang
menyatukan sistem interkoneksi Sumatera pada koridor timur. Pusat-pusat pembangkit skala besar dan
pusat-pusat beban yang besar di Sumatera akan tersambung ke sistem transmmisi 500 kV ini. Transmisi
ini juga akan mentransfer tenaga listrik dari pembangkit listrik di daerah yang kaya sumber energi primer
murah (Sumbagsel dan Riau) ke daerah yang kurang memiliki sumber energi primer murah (Sumbagut).
Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di Sumatera Selatan sebagai feeder pemasok listrik dari
PLTU mulut tambang ke stasiun konverter transmisi HVDC yang akan menghubungkan pulau Sumatera
dan pulau Jawa.
Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2021 diproyeksikan sebesar
122.331 MVA untuk pengembangan gardu induk serta 55.234 kms pengembangan jaringan transmisi
dengan perincian pada Tabel 5.27 dan Tabel 5.28.
Tabel 5.27. Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia
Transmisi
500 kV AC
500 kV DC
275 kV
250 kV DC
150 kV
70 kV
Jumlah

2012

2013
2

2014

352

2015

224

2016

2017

711

1.712

2018

818

2019

2020

2021

Jumlah

762

20

640

5.241

1.100

1.100

482

160

2.271

1.012

812

580

890

6.207

462

462

2.918

7.867

7.230

6.961

4.495

4.616

1.529

1.306

1.542

200

38.665

493

812

1.189

516

217,8

332

38.665

3.895

9.191

1.0915

9.200

8.337

6.808

3.181

1.326

2.182

200

55.234

71
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 71

04/02/2013 14:16:28

Tabel 5.28. Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia

5
Trafo

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

500/275 kV

1.500

1.000

1.000

3.500

500/150 kV

6.336

4.836

4.503

4.000

7.500

3.500

2.500

1.000

1.000

35.175

3.000

3.000

270

590

6.500

750

1.250

1.250

500

250

11.360

600

600

500 kV DC
275/150 kV
250 kV DC
150/70 kV

60

220

150

60

30

520

150/20 kV

9.686

10.680

7.650

4.830

7.895

4.920

4.890

4.720

5.120

4.320

64.711

70/20 kV
Jumlah

635

840

360

300

90

160

330

280

150

300

3.445

16.987

17.166

19.013

10.030

21.235

11.490

9.250

6.000

6.520

4620

12.2311

5.8.1. Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat


Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2021 akan banyak mengubah topologi
jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi 275 kV dan 500 kV di Sumatera. Pengembangan juga
banyak dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.
Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga terdapat di beberapa
sistem, antara lain rencana pembangunan sirkit kedua dan reconductoring beberapa ruas transmisi di
sistem Sumbagut dan Sumbagsel.
Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan untuk terlaksana seluruhnya
pada tahun 2015. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan transmisi 150 kV untuk
mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi), yaitu di sistem
Sumbagut, Sumbagsel dan Kalbar.
Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat hingga tahun 2021
diproyeksikan sebesar 33.180 MVA untuk pengembangan gardu induk (500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV)
serta 24.237 kms pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.29 dan Tabel 5.30.
Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain:

Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumbagsel dan Sumbagut.

Transmisi back-bone 500 kV Sumatera dengan prioritas pertama segmen New Aur DuriRengat

New Garuda Sakti yang diharapkan dapat beroperasi pada 2016 sehingga dapat mulai berfungsi
untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang seperti PLTU Sumsel-5 dan Sumsel-7.

Interkoneksi Batam Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga listrik dari Batam59 dengan mempertimbangkan
rencana pengembangan pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian Bintan60. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya dengan perluasan wilayah
usaha PLN Batam.

Interkoneksi 150 kV SumateraBangka dengan kapasitas 200 MW pada kondisi N-1 dengan perkiraan
COD tahun 2015. Dengan adanya interkoneksi tersebut, maka di Bangka dapat dibangun PLTU dengan kelas yang lebih besar dibandingkan jika seandainya tidak ada interkoneksi, yaitu kelas 65 MW.

59 Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih banyak menggunakan pembangkit BBM.
60 Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN Batam.

72
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 72

04/02/2013 14:16:28

Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga, meliputi interkoneksi Sumatera-Malaysia (HVDC 250 kV) dan Kalimantan
Barat-Sarawak (275kV HVAC). Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan ASEAN
Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh
pemerintah Indonesia dengan Perpres No. 77/2008.
1.

2.

Interkoneksi SumateraMalaysia direncanakan beroperasi 2017. Proyek ini terkait dengan


rencana pembangunan PLTU Riau Kemitraan dengan kapasitas 1200 MW. Pada saat peak
load di Sumatera (malam hari) daya dari PLTU Riau Kemitraan yang dikirim ke Malaysia
dapat dikurangi, sehingga sebagian besar daya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan
Sumatera. Sebaliknya pada saat off peak di Sumatera (siang hari) daya yang dikirim ke Malaysia
dapat lebih besar.
Interkoneksi KalbarSerawak direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2014 dimaksudkan
untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN khususnya pada waktu beban puncak
sampai dengan tahun 2019 untuk menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak.
Selain itu terbuka kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban
puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat terlambat. Setelah tahun
2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli tenaga listrik selama waktu beban puncak karena
semua pembangunan pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.

Tabel 5.29. Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat


Transmisi

2012

500 kV AC

2013
0

2014
0

2015
0

2016
0

2017

2018

860

350

2019

2020

2021

Jumlah

722

600

2.532

500 kV DC

800

800

275 kV

160

2.271

1.012

812

300

4.555

250 kV DC
150 kV

462

462

1.042

2.175

4.311

3.556

968

1.738

279

382

740

140

15.331

70 kV
Jumlah

170

387

557

1.042

2.505

6.969

4.568

3.440

2.550

1.301

382

1340

140

24.237

Tabel 5.30. Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Trafo
500/275 kV

2012

2013
0

2014
0

2015
0

2016
0

2017

1.500

2018

2019

1.000

1.000

2020
0

2021
0

Jumlah
0

3.500

500/150 kV

500

1.000

1.500

500 kV DC

3.000

3.000

275/150 kV

500

6.500

750

1.250

250

500

250

10.000

250 kV DC

600

600

150/20 kV

2.110

2.200

2.480

1.320

1.200

1.050

810

660

990

1.200

14.020

30

340

80

30

30

30

540

2.140

3.040

9.060

2.070

7.480

2.900

3.340

690

1.240

1.200

33.160

70/20 kV
Jumlah

73
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 73

04/02/2013 14:16:28

5.8.2. Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur


Pada Tabel 5.31 dan Tabel 5.32 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di
sistem Indonesia Timur.
Tabel 5.31. Kebutuhan Saluran Transmisi Indonesia Timur
Transmisi

2012

2013

275 kV

482

150 kV

1.262

70 kV
Jumlah

2014

3.010

2015

1.124

488

638

620

2.232

3.648

1.744

2016

2017

2018

2019

2020

580

590

2.474

618

522

1.208

522

2.264

2.564

516

168

332

2.780 2.731,64

3.386

2021

Jumlah
0

1.652

696

14.534

2.762

696

18.947

2021

Jumlah

Tabel 5.32. Kebutuhan Trafo Indonesia Timur


TRAFO
275/150 kV

2012

2013

270

90

150/70 kV

60

150/20 kV

580

70/20 kV
Jumlah

2014

2015

2016

2017
0

1.000

2018

2019
0

2020

430

120

150

60

30

420

860

1.750

810

875

540

450

760

620

240

7.485

75

390

250

300

60

130

210

100

90

210

1.815

985

1.460

2.000

1.260

935

1.730

690

860

710

450

11.080

Sebagaimana diperlihatkan didalam Tabel 5.31 dan 5.32 terdapat rencana pembangunan transmisi 275 kV
di Sulawesi dan merupakan proyek yang strategis. Transmisi 275 kV antara PosoPalopo adalah merupakan
transmisi yang dibangun dan dimiliki oleh PT Poso Energi yang diperuntukkan untuk menyalurkan daya
dari PLTA Poso ke pusat beban.
Selain itu telah direncanakan pula pembangunan transmisi 275 kV dari PLTA Karama ke pusat beban
di Makassar melalui Mamuju, Enrekang dan Sidrap untuk menyalurkan daya dari PLTA Karama. Sejalan
dengan rencana pembangunan transmisi tersebut, dibangun pula GITET 275/150 kV di Mamuju, Enrekang,
Sidrap dan Daya Baru (Makassar). Proyek-proyek tersebut dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2018
seiring dengan pelaksanaan proyek PLTA Karama. Sebagai antisipasi bila di masa yang akan datang PLTA
Poso akan dikembangkan, direncanakan pula pembangunan transmisi 275 kV EnrekangPalopo untuk
menghubungkan transmisi 275 kV eksisting milik PT Poso Energi di Palopo dengan transmisi 275 kV jalur
barat KaramaMamujuEnrekangMakassar. Hubungan antara kedua transmisi 275 kV tersebut juga
bermanfaat untuk meningkatkan stabilitas sistem serta menambah fleksibilitas operasi.
Keberadaan GITET 275/150 kV Enrekang selain sebagai titik koneksi transmisi 275 kV jalur Barat dengan
transmisi 275 kV milik PT Poso Energi, juga dimaksudkan untuk menyalurkan daya dari PLTA Bonto Batu,
Poko dan PLTA lainnya ke pusat beban.
Proyek transmisi strategis lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus agar dapat diselesaikan tepat
waktu adalah :

Transmisi 150 kV Tanah Grogot (Kuaro)PetungKarangjoang untuk menghubungkan sistem


Kalselteng dengan sistem Kaltim.
Transmisi 150 kV BangkanaiMuara TewehBuntokTanjung untuk menyalurkan daya dari PLTG/MG
Bangkanai 280 MW.

74
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 74

04/02/2013 14:16:28

5.8.3. Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali


Pada Tabel 5.33 dan Tabel 5.34 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di
sistem Jawa-Bali.
Tabel 5.33. Kebutuhan Saluran Transmisi Sistem Jawa-Bali
Satuan kms
Transmisi

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

500 kV AC

352

224

710,8

852

468

40

20

40

2.709

500 kV DC

300

300

614

2.683

1.795

1.141

963

404

632

402

106

60

8.800

182

50

241

621

3.039

2.201

1.852

2.165

872

672

422

146

60

12.050

150 kV
70 kV
Jumlah

Tabel 5.34. Kebutuhan Trafo Sistem Jawa-Bali


MVA
Trafo

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

500/150 kV

6.336

4.836

4.503

4.000

7.000

3.500

1.500

1.000

1.000

33.675

150/20 kV

6.996

7.620

3.420

2.700

5.820

3.330

3.630

3.300

3.510

2.880

43.206

70/20 kV
Jumlah

530

110

30

30

90

150

60

90

1.090

13.862

12.666

7.953

6.700

12.820

6.860

5.220

4.450

4.570

2.970

78.071

Dari Tabel 5.33 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2021 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang 2.709 kms. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit
PLTU Suralaya Baru, PLTU Adipala, PLTU Paiton Unit 3, PLTU IPP Tanjung Jati Unit 3 dan 4, PLTU IPP Jawa
Tengah, PLTU Indramayu Unit 4 dan 5, Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali, PLTA
pumped storage Upper Cisokan dan Matenggeng, dan beberapa PLTU baru lainnya. Selain itu dibangun
juga transmisi 500kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan Jakarta, yaitu Balaraja-Kembangan dan
Kembangan-Durikosambi-Muara Karang-Priok-Muara Tawar.
Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada Tabel 5.34 merupakan perkuatan grid yang tersebar di
Jawa, utamanya seputar Jabotabek.
Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.33 adalah transmisi HVDC interkoneksi SumateraJawa, di sini hanya
diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa, selebihnya diperhitungkan
sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatera.
Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi, bahkan di sistem 70 kV di Jawa
Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10.000
MW. Rencana pada Tabel 5.33 hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok
konsumen besar dan saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafo-trafo 150/70 kV dan 70/20kV
pada Tabel tersebut juga hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur.
Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain:

Proyek transmisi SUTET 500 kV Tx Ungaran-Pemalang-Mandirancan-Indramayu tahun 201661.


Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3,000 MW Sumatera-Jawa berikut GITET XBogor-Incomer (Tasik - Depok dan CilegonCibinong) untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di
Sumatera Selatan ke sistem Jawa Bali tahun 2016.

61 Transmisi 500 kV ini tidak connect ke GITET Mandirancan, hanya melintas di dekatnya.

75
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 75

04/02/2013 14:16:28

Pembangunan SUTET 500 kV PaitonNew Kapal termasuk overhead line 500kV menyeberangi Selat
Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali. Tahap pertama
pada tahun 2015 akan beroperasi dengan tegangan 150 kV dulu, kemudian mulai tahun 2016 akan
beroperasi penuh dengan tegangan 500 kV.
Pembangunan kabel laut Jawa-Bali 150 kV sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat menekan pemakaian
BBM di Bali dalam jangka pendek.
SUTET 500 kV Kembangan-DurikosambiMuara KarangPriokMuara Tawar.

5.9.

Pengembangan Sistem Distribusi

Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.35. Kebutuhan fisik
sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2021 adalah sebesar 208 ribu kms jaringan tegangan menengah,
218 ribu kms jaringan tegangan rendah, 34 ribu MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan
fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar
25 juta pelanggan.
Tabel 5.35. Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

Indonesia
Jaringan TM

kms

16.633

15.900

17.355

17.495

19.562

20.979

22.158

23.964

25.634

27.859 207.540

Jaringan TR

kms

18.273

18.844

20.390

19.227

20.443

21.384

22.685

24.140

25.376

27.493 218.255

Trafo Distribusi

MVA

2.883

2.804

2.828

2.934

3.246

3.342

3.596

3.848

4.183

4.317

33.948

ribu plgn

2.533

3.152

2.947

2.811

2.572

2.327

2.312

2.237

2.202

2.199

25.290

Tambahan
Pelanggan

5.9.1. Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat dapat dilihat pada Tabel
5.36. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia Barat hingga tahun 2021 adalah sebesar 55 ribu kms
jaringan tegangan menengah 54 ribu kms jaringan tegangan rendah 10 ribu MVA tambahan kebutuhan
trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk
menampung tambahan sekitar 6,4 juta pelanggan.
Tabel 5.36. Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

Indonesia Barat
Jaringan TM

kms

4.468

4.530

4.804

4.729

5.183

5.356

5.801

6.178

6.526

7.193

54.768

Jaringan TR

kms

4.415

4.567

4.852

4.870

5.269

5.308

5.697

5.915

6.130

6.747

53.770

Trafo Distribusi

MVA

842

884

874

914

951

996

1.037

1.103

1.240

1.302

10.141

ribu plgn

681

764

786

816

717

647

594

528

472

422

6.427

Tambahan
Pelanggan

Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur dapat dilihat pada Tabel
5.37. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2021 adalah sebesar
81 ribu kms jaringan tegangan menengah 70 ribu kms jaringan tegangan rendah 8 ribu MVA tambahan
kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta
untuk menampung tambahan sekitar 6,4 juta pelanggan.

76
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 76

04/02/2013 14:16:28

Tabel 5.37. Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur


2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

Indonesia Timur
Jaringan TM

kms

5.227

6.042

6.932

6.607

7.042

8.021

8.607

9.837

11.034

12.042

81.389

Jaringan TR

kms

5.469

6.789

7.701

5.876

5.936

6.538

6.935

7.631

8.087

8.825

69.785

Trafo Distribusi

MVA

564

720

726

702

721

774

823

885

1.011

1.030

7.958

ribu plgn

628

1.002

805

739

690

506

518

505

493

575

6.462

Tambahan
Pelanggan

Interkoneksi Antarpulau
Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan daratan pulau besar dan
sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM, direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut
20 kV atau 70 kV, yaitu:

Pulau Laut (Kotabaru)-Batulicin dengan kabel laut 20 kV


Kaltim-Pulau Nunukan-Sebatik dengan kabel laut 20 kV
Kendari-Pulau Muna-Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150 kV.
Bitung-Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV
Ambon-Haruku-Seram dengan kabel laut 70 kV, Haruku-Saparua KL 20 kV
Pulau Ternate -Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV
Lombok-Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV
Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV
Bali -Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV

Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan meliputi
keekonomian, enjiniring dan studi dasar laut (seabed study) meliputi: route, peletakan kabel, lingkungan,
struktur dasar laut, dan lain sebagainya.

5.9.2 Sistem Jawa-Bali


Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat
diproyeksikan seperti pada Tabel 5.38.
Tabel 5.38. Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Jumlah

Jawa-Bali
Jaringan TM

kms

6.939

5.327

5.619

6.159

7.338

7.602

7.751

7.950

8.074

8.625

71.382

Jaringan TR

kms

8.389

7.488

7.837

8.481

9.238

9.537

10.053

10.594

11.160

11.921

94.700

Trafo Distribusi

MVA

1.477

1.202

1.228

1.318

1.574

1.571

1.736

1.861

1.932

1.985

15.884

ribu plgn

1.223

1.386

1.355

1.255

1.165

1.174

1.200

1.203

1.237

1.201

12.401

Tambahan
Pelanggan

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2012 sampai dengan 2021 untuk sistem Jawa Bali
diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 71 ribu kms, jaringan tegangan rendah 95
ribu kms, kapasitas trafo distribusi 16 ribu MVA dan jumlah pelanggan 12,4 juta.

77
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 77

04/02/2013 14:16:28

5.10.

Pengembangan Listrik Perdesaan

Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh 31 Satuan Kerja Listrik
Desa/Satker Lisdes, dimana untuk 30 Satker Lisdes tersebut berada pada masing-masing provinsi, kecuali
untuk 1 Satker Lisdes merupakan gabungan dua provinsi yaitu Jateng dan DIY.
Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan rasio elektrifikasi dan rasio
desa berlistrik. Rekap program listrik perdesaan 2012-2021 dan investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.39
dan Tabel 5.40.
Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas, juga bertujuan untuk:

Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan.


Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan.
Mendorong produktivitas ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pedesaan.
Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya.
Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga akan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa.
Tabel 5.39. Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2012-2021
Tahun

JTM
kms

Trafo

JTR
kms

MVA

Unit

Jumlah
pelanggan PLN

Listrik Murah &


Hemat
RTS

2012*

4.168

4.465

226

3.349

236.788

83.478

2013

6.345

4.736

398

3.446

220.170

95.227

2014

6.659

5.373

545

3.848

243.957

95.227

2015

6.863

4.964

632

3.576

223.404

2016

7.177

5.056

690

3.611

228.000

2017

7.417

5.112

729

3.635

230.493

2018

7.340

5.080

762

3.563

227.966

2019

7.532

5.143

807

3.524

230.679

2020

7.644

5.161

851

3.444

226.182

2021

7.303

4.481

882

2.979

170.617

Total

68.449

49.571

6.522

34.973

2.238.257

273.932

*) DIPA
Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sekitar 83.500
RTS (rumah tangga sasaran).

Tabel 5.40. Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2012-2021 (Juta Rp)
Tahun

JTM

JTR

Trafo

Lisdes
Reguler

Listrik Murah
& Hemat

Total Biaya

2012*

1.242.285

636.569

381.346

2.260.199

288.000

2.629.448

2013

1.514.989

769.606

418.384

2.702.976

200.010

2.902.986

2014

1.598.368

833.676

437.955

2.870.000

200.010

3.070.010

2015

1.514.129

776.319

409.553

2.700.000

2.700.000

2016

1.501.356

788.920

409.724

2.700.000

2.700.000

2017

1.497.996

793.068

408.936

2.700.000

2.700.000

2018

1.479.102

806.870

414.028

2.700.000

2.700.000

2019

1.462.869

821.825

415.306

2.700.000

2.700.000

2020

1.446.037

835.161

418.802

2.700.000

2.700.000

2021

1.420.269

859.389

420.342

2.700.000

2.700.000

Total

14.677.400

7.921.403

4.134.372

26.733.175

688.020

27.502.444

78
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 78

04/02/2013 14:16:28

5.11.

Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan

Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA telah dibahas dalam
pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.4. Butir ini hanya membahas pengembangan EBT skala
kecil.
PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau masyarakat untuk melistriki
kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke grid atau sistem kelistrikan PLN.
PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas, maka pengembangannya akan terbatas
di daerah yang memiliki potensi.
Biomassa: PLN bermaksud untuk membangun pembangkit listrik tenaga biomassa apabila PLN dapat
mempunyai kendali atas pasokan biomassanya. Karena itu PLN sedang menjalin kerjasama dengan
bebeapa Pemerintah Kabupaten untuk merintis industri biomasa.
Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar, namun mengingat teknologi dan
keekonomiannya masih belum diketahui, PLN baru akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek
penelitian dan pengembangan.
Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel, PLN siap untuk memanfaatkan biofuel apabila tersedia.
Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi baru yang dapat diterapkan
pada sistem kelistrikan isolated skala kecil.
Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya ditunjukkan pada Tabel 5.41
dan Tabel 5.42.

Pembangunan PLTS
Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan sulitnya menjangkau daerah
terpencil, PLN merencanakan untuk membangun PLTS sebagai berikut:

PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan kapasitas diberikan pada Tabel 5.41.
SHS (panel surya + lampu LED dengan baterai di dalamnya) skala kecil tersebar, namun terbatas di
provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum
akan mendapatkan listrik konvensional.

Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil secepatnya, mencegah
penambahan penggunaan BBM kalau seandainya dilayani dengan diesel, dan menurunkan BPP pada
daerah tertentu yang ongkos angkut BBM sangat mahal, seperti daerah sekitar puncak pegunungan
Jayawijaya Papua.
Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera super hemat energi (SEHEN) bukan merupakan program
pengembangan kapasitas sistem kelistrikan. Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih
bersifat sementara dan hanya diterapkan secara terbatas di provinsi-provinsi yang rasio elektrifikasinya
masih rendah, yaitu NTB, NTT dan Papua dengan terlebih daulu dibuat kajian kelayakannya. Program
SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS terpusat/komunal (centralized PV).
Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan proyek.

79
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 79

04/02/2013 14:16:28

Tabel 5.41. Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil


No

Pembangkit Ebt

Tahun

Satuan

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total

PLTMH

MW

40

99

113

112

101

185

188

201

189

260

1.488

PLT SURYA

MWp*)

84

125

150

100

75

75

80

80

80

855

PLT BAYU

MW

10

50

50

15

15

20

20

25

25

230

PLT BIOMASS

MW

22

40

90

35

40

40

45

45

50

40

447

PLT KELAUTAN

PLT BIO-FUEL

PLT GAS-BATUBARA
Total

MW

27

54

MW**)

10

15

15

14

101

MW

32

81

43

22

22

14

10

10

247

MW

110

331

436

383

276

349

354

365

368

450

3.422

*) Rencana PLTS sd 2015 adalah program 1.000 pulau, sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi
**) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel

Tabel 5.42. Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil


No

Pembangkit EBT

Tahun

Satuan

Total

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

MW

99

245

279

277

250

457

465

497

467

643

3.678

PLTMH

PLT SURYA

MWp*)

31

433

644

779

515

386

386

412

412

412

4.403

PLT BAYU

MW

31

155

155

46

46

62

62

77

77

711

PLT BIOMASS

MW

57

103

232

90

103

103

116

116

129

103

1.151

PLT KELAUTAN

MW

12

31

21

31

31

31

167

334

PLT BIO-FUEL

26

39

39

37

21

18

18

21

24

21

266

PLT GAS-BATUBARA

MW**)

Total

MW

66

167

89

45

14

45

29

12

21

21

509

MW

279

1.030

1.437

1.376

980

1.088

1.107

1.151

1.160

1.443

11.052

5.12. Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar


Tabel 5.43 dan 5.44 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana pengembangan pembangkit PLTU batubara
skala kecil dan PLTGB lokasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur.
Tabel 5.43. Proyek PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
No

Nama Proyek

Kapasitas (MW)

COD Estimasi

2 x 10

2015

I. Indonesia Barat
a. FTP-2
- IPP
1

PLTU Ketapang Kalbar

PLTU Nias Sumut

3x7

2014-15

PLTU Tanjung Pinang Riau

2 x 15

2014

PLTU Ipuh Bengkulu

2x3

2013

PLTU Natuna Riau

2x7

2014

PLTU Sanggau Kalbar

2x7

2014

PLTU Sintang Kalbar

3x7

2014

b. Reguler
- PLN

80
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 80

04/02/2013 14:16:28

Tabel 5.43. Proyek PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Lanjutan
No

Nama Proyek

Kapasitas (MW)

COD Estimasi

PLTU TB. Karimun #3,4 (eks Tj. Uban)

2x7

2014

PLTU Sinabang (eks Tapak Tuan)

2x7

2014

10

PLTU Tebo Jambi

2x7

2013

11

PLTU Tembilahan Riau

2x7

2013

12

PLTU Dabo Singkep Kepri

2x4

2014

13

PLTU Kuala Tungkal Jambi

2x3

2013-2014

14

PLTU Baturaja Sumsel

2 x 10

2013

15

PLTU Muko Muko Jambi

2x4

2013

16

PLTU Ketapang Kalbar

2x7

2013

17

PLTU Rengat Riau

2x7

2015

18

PLTU Sarolangun Jambi

2x6

2013

- IPP

II. Indonesia Timur


a. FTP-2
- PLN
19

PLTU Bau Bau Sultra

2 x 10

2014

20

PLTU Sumbawa NTB

2 x 10

2014-2015

21

PLTU Luwuk Sulteng

2 x 10

2015-2016

22

PLTU Melak Kaltim

2x7

2015

23

PLTU Biak Papua

2x7

2014

24

PLTU Merauke Papua

2x7

2014

25

PLTU Andai (Manokwari) Papua

2x7

2014

26

PLTU Nabire Papua

2x7

2014

27

PLTU Kolaka Sulsel

2 x 10

2016

28

PLTU Jayapura Papua

2 x 15

2016

29

PLTU Klalin (Sorong) Papua

2 x 15

2016

2013

- IPP

b. Reguler
- PLN
30

PLTU Ampana Sulteng

2x3

31

PLTU Kendari Sultra

1 x 10

2013

32

PLTU Rote NTT

2x3

2013

33

PLTU Kotabaru Kalsel

2x7

2014

34

PLTU Kuala Pambuang Kalteng

2x3

2014

35

PLTU Tanjung Redep Kaltim

2x7

2014

36

PLTU Tanjung Selor Kaltim

2x7

2014

37

PLTU Malinau Kaltim

2x3

2014

38

PLTU Talaud Sulut

2x3

2014

39

PLTU Raha Sultra

2x3

2014

40

PLTU Alor NTT

2x3

2014

41

PLTU Sofifi Maluku Utara

2x3

2014

42

PLTU Sangatta Kaltim

2x7

2014-2015

43

PLTU Toli-Toli Sulteng

3 x 15

2014-2015

44

PLTU Wangi Wangi Sultra

2x3

2014-2015

45

PLTU Sumbawa Barat NTB

2x7

2014-2015

46

PLTU Palu 2 Sulteng

2 x 15

2015

47

PLTU Tidore 2 Maluku Utara

2x7

2015

48

PLTU Timika Papua

4x7

2015

81
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 81

04/02/2013 14:16:28

Tabel 5.43. Proyek PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Lanjutan
No

Nama Proyek

Kapasitas (MW)

COD Estimasi

49

PLTU Bima 2 NTB

2 x 10

2015-2016

50

PLTU Tanjung Redep 2 Kaltim

2x7

2016

51

PLTU Waai 3 Maluku

1 x 15

2016

52

PLTU Atambua 2 NTT

2x3

2017

53

PLTU Malinau 2 Kaltim

2x3

2018

54

PLTU Kupang 2 NTT

2 x 15

2018

55

PLTU Jayapura 2 Papua

2 x 15

2018-2019

56

PLTU Tawaeli Ekspansi Sulteng

2 x 15

2015

57

PLTU Bau-Bau Sultra

2x7

2015

58

PLTU Lati (Ekspansi) Kaltim

1x5

2015

59

PLTU Merauke 2 Papua

1x7

2016

60

PLTU Kupang NTT

2 x 15

2016-2017

- IPP

Tabel 5.44. Proyek PLTGB Tersebar di Indonesia


No

Nama Proyek

Kapasitas (MW)

Pemilik

COD Estimasi

PLN

2014

2014

Jawa-Bali
- Reguler
1

PLTGB Bawean Jatim

Indonesia Barat
- FTP-2
1

PLTGB Putusibau Kalbar

PLN

PLTGB Tanjung Batu Kepri

PLN

2014

PLTGB Sabang NAD

PLN

2013

PLTGB Bengkalis Riau

PLN

2013

PLTGB Nanga Pingoh Kalbar

PLN

2013

PLTGB Nias Sumut

PLN

2014

PLTGB Tanjung Pandan Babel

IPP

2013

PLTGB Selat Panjang Kepri

PLN

2014

- Reguler

Indonesia Timur
- FTP-2
9

PLTGB Larantuka NTT

PLN

2014

10

PLTGB Selayar Sulsel

PLN

2014

11

PLTGB Tahuna Sulut

PLN

2014

12

PLTGB Tobelo Malut

PLN

2014

13

PLTGB Tual Maluku

PLN

2014

14

PLTGB Buru Maluku

PLN

2014

15

PLTGB Manokwari Papua

2x3

PLN

2014-2015

16

PLTGB Langgur Maluku

PLN

2014

17

PLTGB Timika

PLN

2014

18

PLTGB Kurik Papua

2x5

PLN

2015-2016

19

PLTGB Biak Papua

2x6

PLN

2017-2018

- Reguler

82
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 82

04/02/2013 14:16:28

83
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 83

04/02/2013 14:16:29

6.1.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia

Untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan
pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar US$64,9 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana
diperlihatkan pada Tabel 6.1 dan Gambar 6.1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja
dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik yang diasumsikan akan dilaksanakan oleh swasta/
IPP.
Tabel 6.1. Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)
Item

Juta US$

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Fc

1206,38

2010,418

2927,56

2518,979

2855,989

3041,581

2306,031

1979,042

1888,739

2243,195

Pembangkit Lc

1342,197

1771,213

1344,97

1015,611

1384,263

1409,105

1049,449

939,2513

938,1241

1035,617

12229,8

Total

2548,577

3781,631

4272,53

3534,59

4240,252

4450,686

3355,48

2918,294

2826,864

3278,811

35207,71

Fc

1953,023

1977,171

2106,532

2810,05

1797,272

955,179

564,6848

489,7843

235,9742

37,57712

12927,25

Penyaluran

Distribusi

Total

2021 Total
22977,91

Lc

517,7202

550,2153

561,3482

530,5412

385,1881

221,4965

138,833

106,7337

32,60538

3,058721

3047,74

Total

2470,743

2527,387

2667,881

3340,591

2182,46

1176,676

703,5178

596,5181

268,5796

40,63584

15974,99

Fc

Lc

1214,924

1158,929

1194,127

1206,478

1337,145

1384,823

1452,011

1529,156

1594,208

1694,654

13766,45

Total

1214,924

1158,929

1194,127

1206,478

1337,145

1384,823

1452,011

1529,156

1594,208

1694,654

13766,45

Fc

3159,403

3987,589

5034,093

5329,029

4653,261

3996,76

2870,716

2468,827

2124,714

2280,772

35905,16

Lc

3074,842

3480,357

3100,445

2752,63

3106,596

3015,424

2640,293

2575,141

2564,937

2733,329

29043,99

Total

6234,245

7467,946

8134,538

8081,659

7759,857

7012,184

5511,009

5043,968

4689,651

5014,101

64949,16

Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya tantangan yang sangat besar
dalam menyediakan dana tersebut.
Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari
luar negeri (two step loan), namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang
dan sebaliknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat, baik obligasi lokal maupun global. Proyek
percepatan pembangkit 10.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri
oleh PLN dengan garansi Pemerintah. Akhir-akhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari
lembaga keuangan multilateral (IBRD, ADB) dan bilateral (JICA, AFD) untuk mendanai proyek-proyek
kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC SumateraJawa dengan
skema two step loan.
Juta USD
9000
8000
7000
6000

Total Investasi

5000

Pembangkit
4000

Penyaluran

3000

Distribusi

2000
1000
0
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)

84
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 84

04/02/2013 14:16:29

6.2.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali

Pengembangan pembangkitan, transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2021 di sistem Jawa
Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 34,7 miliar dengan disbrusement tahunan sebagaimana
deiperlihatkan pada Tabel 6.2 dan Gambar 6.2.
Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2021 adalah sebesar US$ 20,2 miliar atau
sekitar US$ 2,0 miliar per tahun.
Tabel 6.2. Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem JawaBali
Item

2012
Fc

Pembangkit Lc

Penyaluran

992,1

975,1

1170,7

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

1.433,0

1.602,3

1.444,6

1.553,1

1.532,3

1.318,3

1.743,2 12.612,8

607,0

653,1

734,5

670,6

700,3

698,8

627,4

1.445,2

1.728,4 1.582,0

2.086,1

2.336,8

2,115,2

2.253,4

2.231,1

1.945,7

Fc

1.159,3

893,4 1.007,7

Lc

206,2
1.365,4

Total

782,2

7.636,5

2.525,4 20.249,2

1.556,8

871,3

423,2

319,7

269,5

140,1

26,2

6.667,3

192,2

185,3

117,0

68,2

52,8

39,0

15,1

2,0

1.052,9

1.068,6 1.200,0

1.742,2

988,3

491,4

372,5

308,5

155,2

28,2

7.720,2

175,2

Fc

Lc

663,7

533,8

538,5

582,4

688,3

706,9

731,5

756,6

765,9

801,7

6.769,2

533,8

801,7

6.769,2

Total
Total

2014

557,7

Total

Total
Distribusi

2013

453,1

538,5

582,4

688,3

706,9

731,5

756,6

765,9

Fc

1.612,4

663,7

1.451,1 1.982,8

2.989,8

2.473,6

1.867,9

1.872,8

1.801,9

1.458,4

1.769,4 19.280,1

Lc

1.862,0

1.879,8 1.337,7

1.420,8

1.539,7

1.445,6

1.484,6

1.494,4

1.408,4

1.585,8 15.458,6

Total

3.474,3

3.330,8 3.320,5

4.410,6

4.013,3

3.313,4

3.357,4

3.296,2

2.866,8

3.355,2 34,738,6

Juta USD
5,000.0

Total Investasi

4,500.0

Pembangkit

4,000.0
3,500.0
3,000.0
2,500.0

Penyaluran

2,000.0
1,500.0
1,000.0

Distribusi

500.0
-

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Gambar 6.2. Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem JawaBali

Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. Proyek percepatan pembangkit
Perpres No.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan
jaminan Pemerintah. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$ 800 juta telah diusulkan
pendanaannya ke lender multilateral, sedangkan PLTU Indramayu 1x1.000 MW senilai US$ 2.000 juta
diusulkan pendanaannya ke lender bilateral.
Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 7,7 miliar dan US$
6,7 miliar. Proyek penyaluran pada tahun 2012-2013 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek
percepatan pembangkit. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN, APBN, pinjaman luar
negeri (two step loan) dan kredit ekspor.
85
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 85

04/02/2013 14:16:29

6.3.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur

Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 20122021 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah sebesar US$17,8 miliar atau rata-rata US$ 1,8 miliar
per tahun dan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 12,4 miliar atau rata-rata US$
1,2 miliar, tidak termasuk proyek IPP, dengan disbursement tahunan seperti pada Tabel 6.3 dan Tabel 6.4.
Tabel 6.3. Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Item

2012
Fc

Pembangkit Lc
Total
Penyaluran

Total

2014

848,2

2015

1.150,1

2016

415,7

2017

723,6

2018

1.075,1

2019

292,0

2020

159,1

2021

397,8

Total

445,9

5.872,4

147,5

322,2

430,9

120,9

394,3

504,0

122,4

74,0

200,9

225,6

2.542,8

512,5

1.170,4

1.581,0

536,6

1.117,9

1.579,1

414,4

233,1

598,8

671,5

8.415,2

Fc

459,1

811,9

834,4

934,4

564,9

322,9

152,0

158,7

68,8

7,1

4.314,2

Lc

217,6

300,5

288,7

235,3

153,5

91,6

60,9

54,5

13,8

0,7

1.417,0

Total

676,7

1.112,4

1.123,1

1.169,7

718,4

414,5

212,9

213,2

82,5

7,8

5.731,2

Fc
Distribusi

2013

364,9

Lc

307,5

317,4

333,5

334,8

354,3

362,6

386,4

403,3

424,3

457,4

3.681,4

Total

307,5

317,4

333,5

334,8

354,3

362,6

386,4

403,3

424,3

457,4

3.681,4

Fc

824,1

1.660,1

1.984,5

1.350,1

1.288,4

1.398,0

444,0

317,8

466,6

453,0 10.186,6

Lc
Total

672,6

940,1

1.053,0

391,0

902,2

958,2

569,7

531,7

639,0

683,7

1.496,7

2.600,2

3.037,5

2.041,1

2.190,6

2.356,2

1.013,7

849,6

1.105,6

1.136,7

7.641,2

Juta USD
3,250.0
3,000.0
2,750.0
2,500.0

Total Investasi

2,250.0

Pembangkit

2,000.0
1,750.0
1,500.0
1,250.0

Penyaluran

1,000.0
750.0

Distribusi

500.0
250.0
-

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Gambar 6.3. Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat

86
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 86

04/02/2013 14:16:29

Tabel 6.4. Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
Item

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total

Fc

388,3

604,6

802,4

670,3

530,1

521,9

460,9

287,6

172,6

54,1

4.492,8

Pembangkit Lc

202,6

278,3

307,1

241,6

255,5

234,5

226,8

166,5

109,8

27,8

2.050,5

Total

590,9

882,9

1.109,5

911,9

785,6

756,4

687,7

454,1

282,4

81,9

6.543,3

Fc

334,7

271,8

264,4

318,8

361,1

209,0

92,9

61,5

27,1

4,3

1.945,7

Lc

94,0

74,6

80,5

109,9

114,7

61,8

25,2

13,2

3,8

0,4

577,9

428,6

346,4

344,9

428,8

475,8

270,8

118,1

74,7

30,9

4,7

2.523,6

Penyaluran

Total
Distribusi

Total

Fc

Lc

243,7

307,7

322,1

289,3

294,6

315,4

334,1

369,3

404,0

435,6

3.315,9

Total

243,7

307,7

322,1

289,3

294,6

315,4

334,1

369,3

404,0

435,6

3.315,9

Fc

723,0

876,4

1.066,8

989,1

891,2

730,9

553,8

349,1

199,7

58,4

6.438,5
5.944,3

Lc
Total

540,3

660,5

709,7

640,8

664,8

611,6

586,1

549,0

517,6

463,8

1.263,2

1.537,0

1.776,5

1.630,0

1.556,0

1.342,6

1.139,9

898,1

717,3

522,5 12.382,8

Juta USD
2100

1800

Total
Investasi

1500

1200
900

Pembangkit

600

Penyaluran

Distribusi

300

0
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Gambar 6.4 .Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur

Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2021
adalah sebesar US$ 8,4 miliar, sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar
US$ 6,3 miliar. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 2012-2014 dan
2015 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No. 71/2006. Sedangkan disbursement
proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin
mendominasi sistem-sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat, terutama di sistem Sumatera. Proyek
transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh pengembangan transmisi 275kV untuk
interkoneksi seluruh Sumatera, di samping pengembangan transmisi 150kV di Sumatera, Sulawesi dan
Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.

6.4.

Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP

Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara
keseluruhan, termasuk proyek-proyek kelistrikan yang diasumsikan akan dibangun oleh swasta/IPP, adalah
US$ 107,1 miliar selama tahun 2012-2021. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada Tabel 6.5.

87
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 87

04/02/2013 14:16:30

Tabel 6.5. Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP


Item

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total
52.045,3

Fc

2.042,9

3.502,9

6.407,3

7.530,3

8.510,1

8.125,6

6.265,8

4.225,8

2.895,5

2.539,0

Pembangkit Lc

1.788,7

2.637,7

3.086,6

3.159,1

3.740,7

3.645,0

2.847,0

1.959,9

1.335,0

1.137,8

25.330,5

Total 3.831,6

6.140,6

9.493,8

10.689,5 12.250,8 11.770,6

9.112,8

6.178,7

4.230,6

3.676,7

77.375,8

Fc

1.953,0

1.977,2

2.106,5

564,7

489,8

236,0

37,6

12.927,2

Lc

517,7

550,2

561,3

530,5

385,2

221,5

138,8

106,7

32,6

3,1

3.047,7

Total 2.470,7

2.527,4

2.667,9

3.340,6

2.182,5

1.176,7

703,5

596,5

268,6

40,6

15.975,0

Penyaluran

Distribusi

Total

2810,0

1.797,3

955,2

Fc

Lc

1.214,9

1.158,9

1.194,1

1.206,5

1.337,1

1.384,8

1.452,0

1.529,2

1.594,2

1.694,7

13.766,5

Total 1.214,9

1.158,9

1.194,1

1.206,5

1.337,1

1.384,8

1.452,0

1.529,2

1.594,2

1.694,7

13.766,5

Fc

3.995,9

5.480,1

8.513,8

10.340,4 10.307,4

9.080,8

6.830,5

4.715,6

3.13,5

2.576,5

64.972,6

Lc

3.521,4

4.346,8

4.842,0

5.251,3

4.437,9

3.588,8

2.961,8

2.835,5

42.144,7

15.236,6 15.770,4 14.332,1

11.268,3

8.304,4

6.093,4

5.412,0

107.117,3

Total 7.517,3

9.826,9 13.355,8

4.896,2

5.463,0

Juta USD
16000

Total Investasi
14000
12000
10000

Pembangkit
8000
6000
4000

Penyaluiran
Distribusi

2000
0
2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Gambar 6.5. Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

Tabel 6.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan dana
investasi yang sangat besar, yaitu rata-rata hampir US$ 10,7 miliar per tahun.

6.5.

Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN

Butir 6.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan
dipenuhi, dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).
Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan.
Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 64,7 miliar62 sampai dengan tahun 2021 akan dipenuhi dari berbagai
sumber pendanaan, yaitu APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti), pinjaman baru, dan dana
internal. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap, sedangkan dana
pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA, sub-loan agreement), pinjaman pemerintah melalui
rekening dana investasi, obligasi nasional maupun internasional, pinjaman komersial perbankan lainnya
serta hibah luar negeri.
62 Hanya mencakup base cost, tidak termasuk financing cost.

88
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 88

04/02/2013 14:16:30

a. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN)


Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah karena sebelum tahun 2009 PLN
tidak memperoleh marjin PSO, sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal
(seluruh investasi didanai dengan hutang). Rasio hutang terhadap aset PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 (fast track 1) adalah sekitar 30%, namun kemudian meningkat menjadi 53% pada tahun 2010 akibat seluruh pendanaan proyek fast track 1 berasal dari pinjaman komersial
dan obligasi. Rasio ini akan semakin besar apabila pendapatan PLN tidak meningkat.
Kebutuhan investasi PLN harus ditunjang dengan meningkatnya kemampuan Pendanaan Sendiri, dan
menjaga rasio hutang terhadap aset PLN sehingga dapat secara terus menerus mendukung perkembangan penyediaan listrik .
Peningkatan pendanaan sendirinya, tentunya harus dilakukan dengan peningkatan pendapatan PLN
akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik.

b. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi


Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi dan (iii) pinjaman. APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba
operasi yang sangat terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. APLN hanya didapat dari selisih
antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan pokok.
PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena dibatasi oleh covenant pinjaman
yang disyaratkan oleh lender dan bond holder. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat ditingkatkan jika revenue PLN meningkat, baik dari tarif maupun marjin PSO.
Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas, maka peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang
ditargetkan oleh Pemerintah. Hal ini menjadi semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh
Pemerintah, maka harus dilakukan perbaikan antara lain sebagai berikut:
-

Peningkatan pendapatan PLN.


Peningkatan dana dari APBN.

89
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 89

04/02/2013 14:16:30

LO-RUPTL Awal ok.indd 90

04/02/2013 14:16:30

91
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 91

04/02/2013 14:16:30

Analisis risiko RUPTL 2012-2021 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan
yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa
yang akan datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL.
Analisis risiko mencakup identifikasi risiko, pemetaan risiko, dan rekomendasi program mitigasi untuk
risiko-risiko tersebut. Bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan
pemetaan risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Bagian
kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko
yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut.
Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri, uraian analisis risiko pada bab ini akan dilakukan berdasarkan
isu-isu utama RUPTL, yaitu proyeksi kebutuhan/permintaan tenaga listrik, pengembangan pembangkit,
transmisi dan distribusi, serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi, baik oleh PLN
maupun oleh swasta.

7.1.

Identifikasi Risiko

Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut:

A. Risiko Regulasi
Risiko terkait perubahan regulasi Pemerintah, diantaranya meliputi risiko tarif listrik, risiko kepastian
subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan.

B. Risiko Proyek pengembangan ketenagalistrikan


1.

Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN


Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan, pendanaan, pembangunan, keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek, cost over-run, kesalahan desain, keselamatan ketenagalistrikan, performance instalasi, dampak lingkungan dan sosial.

2.

Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP


Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN.

3.

Risiko permintaan listrik


Risiko terkait akurasi prediksi pertumbuhan permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko
pertumbuhan ekonomi).

C. Risiko Keuangan
1.
2.

Risiko Pendanaan, yaitu risiko terkait penyediaan sumber pendanaan untuk membiayai proyek/investasi pembangunan infrastruktur kelistrikan.
Risiko likuiditas, meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran penerimaan subsidi, risiko pencairan
dana pinjaman untuk investasi dan risiko likuiditas aset.

D. Risiko Operasional
1.
2.
3.

Risiko produksi/operasi, seperti kerusakan peralatan/fasilitas operasi, kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan, risiko akibat kesalahan manusia.
Risiko bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a.l. sabotase).
Risiko lingkungan, berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada kesehatan, juga limbah, polusi dan kebisingan.

92
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 92

04/02/2013 14:16:30

E. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi


1.

2.

7.2.

Risiko ketersediaan dan harga energi primer.


Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan batubara, gas) dan risiko harga energi
primer.
Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi dan energi terbarukan lainnya.
Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

Pemetaan Risiko

Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi, kesembilan risiko tersebut
memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. Penetapan probabilitas dan dampak
dilakukan dengan metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di
masa lalu, dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu.
Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran
operasional perusahaan.

Gambar 7.1. Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL


Keterangan:
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP
3. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik
4. Risiko ketersediaan dan harga energi primer
5. Risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi

6. Risiko likuiditas
7. Risiko produksi/operasi
8. Risiko bencana
9. Risiko lingkungan dan sosial
10.Risiko regulasi
11. Risiko Pendanaan

93
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 93

04/02/2013 14:16:30

Berdasarkan pemetaan risiko di atas, risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat
probabilitas dan dampaknya, yaitu:
-

7.3.

Risiko pada level EKSTREM meliputi risiko keterlambatan proyek-proyek PLN, keterlambatan
proyek-proyek IPP, risiko Pendanaan dan risiko likuiditas.
Risiko pada level TINGGI meliputi ketersediaan dan harga energi primer, risiko permintaan tenaga
listrik, risiko pendanaan serta risiko bencana.
Risiko pada level MODERAT adalah risiko produksi/operasi, merencanakan reserve margin terlalu
tinggi, risiko regulasi dan risiko lingkungan.

Program Mitigasi Risiko

Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan guna menurunkan
level risiko secara jangka panjang.
Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

94
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 94

04/02/2013 14:16:31

95
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 95

04/02/2013 14:16:31

Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6,9% per tahun
dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2011, proyeksi penjualan tenaga listrik pada
tahun 2021 diperkirakan akan mencapai 358 TWh, atau mengalami pertumbuhan rata-rata 8,7% selama
10tahun mendatang. Beban puncak pada tahun 2021 diproyeksikan akan mencapai 62 ribuMW. Untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk
periode 2012-2021 sebesar 57 ribu MW.
Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini, diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 55 ribu
kms, yang terdiri atas 5.241 kms SUTET 500 kV AC, 1.100 kms transmisi 500 kV HVDC, 462 kms transmisi
250 kV HVDC, 6.207 kms transmisi 275kV AC, 38.665 kms SUTT 150 kV, 3.560 kms SUTT 70 kV. Penambahan
trafo yang diperlukan adalah sebesar 122 ribu MVA yang terdiri atas 64.631 MVA trafo 150/20 kV, 5.353
MVA 70/20 kV dan 35.175 MVA trafo interbus IBT 500/150 kV, 11.360 MVA IBT 275/150 kV, IBT 460 MVA
IBT 150/70 kV, 3.500 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. Untuk mengantisipasi pertumbuhan
penjualan energi listrik untuk periode 2012-2021 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah
71.382 kms, tegangan rendah 94.700 kms dan kapasitas trafo distribusi 15.884 MVA.
Kebutuhan investasi pembangkit, penyaluran dan distribusi selama periode 20122021 untuk memenuhi
kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 107,1 milyar yang terdiri
dari investasi pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 77,4 milyar, investasi penyaluran sebesar US$ 16,0
milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13,7 milyar.
Kebutuhan investasi PLN akan dipenuhi dari APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti),
pinjaman baru, dan dana internal. Kemampuan pendanaan internal PLN sangat rendah sehingga seluruh
investasi didanai dengan hutang. Kebutuhan investasi PLN harus ditunjang dengan meningkatnya
kemampuan Pendanaan Sendiri, dan menjaga rasio hutang terhadap aset PLN agar dapat secara terus
menerus mendukung perkembangan penyediaan listrik. Peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting
karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu
dekat.

96
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 96

04/02/2013 14:16:31

Daftar Pustaka

97
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 97

04/02/2013 14:16:31

1.

Undang-undang No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

2.

Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik

3.

Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional

4.

Peraturan Presiden No. 71/2006 jo No. 59/2009 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk
Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara

5.

Peraturan Presiden No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of Understanding on the ASEAN
Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN)

6.

Peraturan Presiden No. 4/2010 jo No. 48/2011 tentang Perubahan atas Penugasan kepada PT PLN
(Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan
Energi Terbarukan, Batubara dan Gas

7.

Peraturan Menteri ESDM No. 2/2010 jo No. 15/2010 tentang Daftar Proyek-proyek Percepatan
Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas
Serta Transmisi Terkait

8.

Peraturan Menteri ESDM No. 1/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri ESDM No.
15/2010 tentang Daftar Proyek-proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang
Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait

9.

Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-46951.AH.01.02.Tahun 2008 tentang Persetujuan
Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan

10. Keputusan Menteri ESDM No. 634-12/20/600.3/2011 tentang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
PT PLN (Persero)
11. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025,
Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta 2011
12. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 20082027, Departemen Energi Dan Sumber
Daya Mineral, 2008
13. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 20102029, Departemen Energi Dan
Sumber Daya Mineral, 2011
14. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 20122031, Departemen Energi Dan
Sumber Daya Mineral, 2012
15. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik
Bergilir, Mataram, 27 Juli 2010
16. Draft Laporan Studi Penghematan Listrik dan Load Forecasting, Konsorsium LEMTEK UI dan Tim
Nano UI, November 2012
17. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 2025, Bappenas, BPS, UN Population Fund, 2005
18. Pendapatan Nasional Indonesia 20012005, BPS, 2008 dan update dari website BPS
19. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 2018, PT PLN (Persero), 2009
20. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 2019, PT PLN (Persero), 2010
21. Draft Energy Outlook 2008, Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008
22. Statistik 2007, PT PLN (Persero), 2008

98
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 98

04/02/2013 14:16:32

23. Statistik 2008, PT PLN (Persero), 2009


24. Statistik 2009, PT PLN (Persero), 2010
25. Statistik 2010, PT PLN (Persero), 2011
26. Statistik 2011, PT PLN (Persero), 2012
27. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006, Pengkajian Energi UI, 2006
28. Berita Resmi Statistik, BPS, Februari 2008
29. Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik, Agustus 2012.
30. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 20112015, PT PLN (Persero), 2011
31. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010 mengenai Sumber Daya dan
Cadangan Batubara.
32. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam Mendukung Ketahanan Energi, 2010
33. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia, WestJec, 2007
34. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia, Nippon Koei, 2011
35. Draft Kebijakan Energi Nasional, DEN, 2010
36. Website Kementerian ESDM, Pemerintah Daerah
37. Public Private Partnerships Infrastructure Projects Plan in Indonesia 2012, Bappenas, Jakarta 2012
38. Sistem Informasi Laporan Manajemen, PT PLN (Persero), Oktober 2012
39. Evaluasi Operasi Tahun 2011, PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali, 2012
40. Evaluasi Operasi Tahun 2011, PT PLN (Persero) P3B Sumatera, 2012

99
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Awal ok.indd 99

04/02/2013 14:16:32

LO-RUPTL Awal ok.indd 100

04/02/2013 14:16:32

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 101

04/02/2013 14:17:08

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 102

04/02/2013 14:18:24

A1
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

A1.1

PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK

A1.2

NERACA DAYA

A1.3

NERACA ENERGI

A1.4

CAPACITY BALANCE GARDU INDUK

A1.5

RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN

A1.6

PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN

A1.7

ANALISIS ALIRAN DAYA

A1.8

KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI

A1.9

PROGRAM LISTRIK PERDESAAN

A1.10 PROGRAM ENERGI BARU DAN TERBARUKAN


A1.11 PROYEKSI KEBUTHAN INVESTASI

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 103

04/02/2013 14:18:24

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 104

04/02/2013 14:18:24

Lampiran A1.1
PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 105

04/02/2013 14:18:24

106

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 106

04/02/2013 14:18:24

Tahun

78,9

-- Industrial

1.478

0,10
72,0
4.464

Load Factor (%)

Peak Load (MW)

14,5%

D Losses (%)

PS GI&Dis (%)

4,74
3,70

T Losses (%)

26.813

Energy Requirement (GWh)

Station Use (%)

28.153

Total Production (GWh)

242.347

-- Public
6.433

439.435

-- Industrial

8.417.594

-- Commercial

9.105.809

-- Residential

Number of Customer

729

1.855

-- Public

6.786

-- Commercial

4.758

4.374
10.848

-- Industrial

Power Contracted (MVA)

-- Residential

2.230

2.046

-- Public

4.798

72,0

0,10

11,9%

3,70

5,40

28.629

30.261

6.867

261.793

477.505

8.990.213

9.736.378

1.561

778

1.987

7.312

11.638

4.495

4.047

-- Commercial

10
13.733

12.449

12

25.216

82,1

73,2

-- Residential

- Energy Growth Rate (%)

22.916

Electrification Ratio PLN+NonPLN (%)

Energy Sales (GWh)

69,8

Electrification Ratio (%)

7,2

1,8

1,8
6,6

50.340

2013

49.451

2012

Growth of Total GDP (%)

- Growth Rate (%)

Total Population (10^3)

5.319

71,0

0,10

10,6%

3,39

6,04

31.095

33.082

7.309

281.228

515.528

9.584.066

10.388.131

1.646

827

2.118

7.931

12.522

5.207

2.445

4.943

15.203

10

27.799

85,4

76,7

7,5

1,8

51.248

2014

5.938

70,0

0,10

10,2%

3,39

6,35

34.105

36.414

7.774

301.588

554.653

10.210.816

11.074.831

1.744

884

2.256

8.374

13.257

5.703

2.686

5.454

16.768

10

30.611

88,8

80,2

7,0

1,8

52.176

2015

6.533

70,0

0,10

10,2%

3,39

6,19

37.584

40.060

8.238

321.883

593.644

10.760.119

11.683.884

1.868

951

2.433

8.853

14.105

6.287

2.967

6.077

18.402

10

33.733

91,5

83,0

7,0

1,8

53.124

2016

7.210

70,0

0,10

10,2%

3,39

6,25

41.455

44.213

8.680

341.597

631.488

11.259.440

12.241.205

1.997

1.022

2.614

9.324

14.957

6.933

3.279

6.736

20.259

10

37.208

93,6

85,3

7,0

1,8

54.093

2017

7.955

70,0

0,10

10,2%

3,39

6,28

45.725

48.783

9.122

361.311

669.331

11.694.862

12.734.627

2.140

1.100

2.810

9.821

15.871

7.647

3.628

7.479

22.286

10

41.040

95,2

87,0

7,0

1,8

55.084

2018

8.768

70,0

0,10

10,2%

3,39

6,12

50.480

53.768

9.564

381.026

707.175

12.080.453

13.178.218

2.296

1.184

3.011

10.329

16.821

8.434

4.015

8.318

24.541

10

45.308

96,3

88,3

7,0

1,8

56.096

2019

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi Sumatera

9.674

70,0

0,10

10,2%

3,39

5,98

55.781

59.324

10.006

400.740

745.018

12.441.785

13.597.550

2.470

1.276

3.241

10.853

17.839

9.306

4.445

9.252

27.062

11

50.066

97,2

89,3

7,0

1,8

57.130

2020

10.516

71,0

0,10

10,2%

3,39

5,43

61.582

65.405

10.310

417.230

777.951

12.749.974

13.955.465

2.592

1.341

3.408

11.370

18.711

10.269

4.906

10.212

29.868

10

55.272

97,6

89,9

7,0

1,9

58.188

2021

Lampiran A1.2
NERACA DAYA
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 107

04/02/2013 14:18:24

108

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 108

04/02/2013 14:18:24

MW

2.000

4.000

6.000

8.000

10.000

12.000

14.000

16.000

18.000

2012

2013

IPP dan sewa

2014

2015

2016

2017

Pembangki Eksisng PLN

PLTU & PLTG Sewa

Pembangkit Eksisting PLN

Pembangkit IPP & Sewa


Beban Puncak

PLTU & PLTG Sewa

PLTU IPP

PLTU
PLTU PLN

PLTP

PLTA PLN

PLTA IPP
PLTGU

PLTA

PLTG/MG

2018

2019

PLTA PLN & IPP

Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera

2020

2021

Tahun

PLTU PLN

PLTU IPP

PLTU

PLTP

PLTA

PLTG/MG

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

109

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 109

04/02/2013 14:18:24

No.

MW

Beban Puncak Bruto

MW
MW
MW
MW
MW

PLTMH

PLTU

PLTG

PLTGU

MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW

IPP

PLTA

PLTMH

PLTU

PLTG

PLTGU

PLTMG

PLTP

Retired & Mothballed (PLN)

Sewa

Swasta
MW

87

MW

PLTA

PLTD

831

MW

114

10

12

150

80

227

16

180

674

1.135

608

1.012

847

3.393

MW

PLN

5.202

4.464

72

28.153

2012

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Satuan

Faktor Beban

Produksi

Kebutuhan

Pasokan dan kebutuhan

18

10

12

150

80

227

16

180

674

1.135

87

831

590

1.012

847

3.375

5.184

4.800

72

30.275

2013

36

10

12

150

80

227

16

180

674

617

51

831

590

1.012

847

3.339

4.630

5.322

71

33.098

2014

232

10

12

150

80

227

16

180

674

72

51

831

317

780

847

2.834

3.580

5.968

70

36.414

2015

60

10

12

150

80

227

16

180

674

72

831

317

780

847

2.783

3.529

6.603

69

40.060

2016

Neraca Daya Sistem Sumatera (1/4)

130

10

12

150

80

227

16

180

674

831

317

660

847

2.663

3.337

7.310

69

44.213

2017

10

12

150

80

227

16

180

674

831

317

660

847

2.663

3.337

8.105

69

48.783

2018

10

12

150

80

227

16

180

674

831

317

660

847

2.663

3.337

8.968

68

53.768

2019

10

12

150

80

227

16

180

674

831

317

660

847

2.663

3.337

9.874

69

59.324

2020

10

12

150

80

227

16

180

674

831

317

660

847

2.663

3.337

10.716

70

65.405

2021

110

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 110

04/02/2013 14:18:24

No.

PLTMG
PLTMG

Jaka Baring (CNG/Peaker)

Duri

PLTGU
PLTGU
PLTP
PLTP
PLTP
PLTA
PLTA

Batanghari

Keramasan

Ulubelu #1,2

Hululais (FTP2)

Sungai Penuh (FTP2)

Peusangan 1-2

Masang-2 (FTP2)

PLTG/MG

PLTMG

Sungai Gelam (CNG/Peaker)

Arun

PLTG

Duri 1 (Ex Relokasi Jawa)

PLTG/MG

PLTU

Pangkalan Susu #3,4 (FTP2)

P. Brandan

PLTU
PLTU

PLTU

Pangkalan Susu #1,2 (FTP1)

Riau (Amandemen FTP1)

PLTU

Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1)

PLTU

Meulaboh (Nagan Raya) #1,2 (FTP1)

Satuan

Tarahan (FTP1)

PLN ON-GOING & COMMITTED

Tambahan Kapasitas

Pasokan dan kebutuhan

110

50

12

32

200

2012

40

30

112

92

224

220

2013

40

200

200

220

440

2014

2015

88

110

400

2016

Neraca Daya Sistem Sumatera (2/4)

55

110

2017

2018

2019

2020

2021

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

111

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 111

04/02/2013 14:18:24

No.

PLTU
PLTU

Tarahan #5,6

Dumai

Sumbagut

PLTP
PLTP
PLTP

Sipoholon Ria-Ria (FTP2)

Danau Ranau (FTP2)

Bonjol (FTP2)

PLTP

PLTP

Suoh Sekincau (FTP2)


PLTP

PLTP

Sorik Marapi (FTP2)

Wai Ratai (FTP2)

PLTP

Seulawah Agam (FTP2)

Simbolon Samosir (FTP2)

PLTP
PLTP

Sarulla II (FTP2)

PLTP

Rantau Dadap (FTP2)

PLTP

Lumut Balai (FTP2)

Muara Laboh (FTP2)

PLTP

Gunung Megang, ST Cycle

Rajabasa (FTP2)

PLTGU

Jambi KPS

PLTP

PLTU

Riau Kemitraan (PLN-TNB-PTBA)

PLTP

PLTU

Sumsel - 7

Sarulla I (FTP2)

PLTU

Sumsel - 5

Ulubelu #3,4 (FTP2)

PLTU
PLTU

Keban Agung

PLTU

Banjarsari

IPP ON-GOING & COMMITTED

PLTG
PLTU

Payo Selincah

PLTG

PLTA

Satuan

Borang

SEWA

Asahan III (FTP2)

Pasokan dan kebutuhan

100

30

2012

30

2013

2014

110

150

113

230

360

240

240

2015

110

110

55

110

300

150

113

174

2016

Neraca Daya Sistem Sumatera (3/4)

110

110

220

220

55

2017

110

240

110

110

1.200

-30

2018

55

55

55

110

110

400

*)

2019

165

110

55

400

2020

2021

Lanjutan

112

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 112

04/02/2013 14:18:24

No.
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTM
PLTA

Hasang (FTP2)

Peusangan-4 (FTP2)

Merangin (PPP)

Wampu (FTP2)

PLTM Tersebar Sumut

Batang Toru (Tapsel)

PLTP
PLTA
PLTA

Kepahiyang

Simonggo-2

Ketahun-3
MW

PLTP

G. Talang

Jumlah Pasokan

PLTGU

PLTG/MG

Riau Peaker

Duri

PLTG/MG

PLTG

Aceh Timur
PLTG/MG

PLTU

Sumsel - 6

Jambi Peaker

PLTU

PLTU Mulut Tambang Sumsel-1

Lampung Peaker

PLTU

Meulaboh (Nagan Raya) #3,4

RENCANA TAMBAHAN KAPASITAS

PLTA

Semangka (FTP2)

Satuan

Simpang Aur (FTP2)

Pasokan dan kebutuhan

5.740

2012

6.515

45

2013

7.236

50

70

55

2014

8.237

50

200

100

100

91

45

23

2015

9.962

56

2016

Neraca Daya Sistem Sumatera (4/4)

11.576

86

600

200

40

2017

13.949

600

200

350

83

2018

15.325

61

20

510

2019

16.275

220

2020

16.275

2021

Lanjutan

Lampiran A1.3
NERACA ENERGI
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 113

04/02/2013 14:18:24

114

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 114

04/02/2013 14:18:24

1.413

MFO

28.045

Total

10^3 kl
bcf
bcf

Gas

LNG
10^3 ton

10^3 kl

MFO

Satuan

HSD

Batubara

2013

30.324

3.549

801

1.303

5.644

8.322

10.706

2014

33.248

3.715

815

456

236

4.027

8.786

15.212

2015

36.414

4.233

1.206

236

3.946

6.557

20.235

2016

40.060

5.321

3.178

237

4.116

6.678

20.531

2017

44.213

5.900

7.685

236

4.203

6.258

19.930

2018

48.783

6.922

8.072

236

3.709

5.323

24.521

2019

53.768

8.176

9.960

4.955

87

404

1.717

2012

6.496

89

371

1.389

2013

9.213

32

97

136

63

2014

12.129

31

71

63

2015

12.196

33

72

63

2016

11.460

33

67

63

2017

14.100

30

57

63

2018

236

3.478

5.133

26.786

15.402

28

54

63

2019

Neraca Energi
Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Interkoneksi Sumatera

3.409

Hydro

JENIS

6.606

HSD
547

LNG

Geothermal

7.966

Gas

2012
8.105

JENIS

Batubara

Neraca Energi
Sistem Interkoneksi Sumatera
2020

17.525

28

54

63

2020

59.324

8.176

11.806

236

3.545

5.082

30.478

20.847

29

56

63

2021

65.405

8.176

11.806

236

3.682

5.249

36.255

2021

(GWh)

Lampiran A1.4
CAPACITY BALANCE GARDU INDUK
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 115

04/02/2013 14:18:25

116

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 116

04/02/2013 14:18:25

GI LHOKSEUMAWE

GI ALUE
BATEE/ IDI

PLTD SEWA

GI SIGLI

PLTD SEWA

GI BIREUEN

PLTD SEWA

GI TUALANG
CUT

PLTD SEWA

GI ALUE DUA/
LANGSA

SISTEM ACEH

Gardu Induk

No.

1x20

150/20

Total

1x10

150/20

30

20

10

60

Total

30

30

30

2x30

150/20

150/20

60

Total

30

30

30

30

30

30

30

MVA

30

2x30

1x30

3x10

1x30

JML

150/20

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

TEG

Trafo MVA

Kapasitas

35%

28,2

36%

38,0

47%

20

30

57%

34,0

57%

44,0

46%

47,1

62%

65%

42,8

15,8

16,5

25,2
74%

72%

22,2

40

10

18,5

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

65%

51%

18,2

(MVA)

Add
Trafo

2012

(MW)

Peak
Load

64%

38,0

55%

41,7

51%

51,8

68%

17,4

55%

27,8

39%

19,9

(MW)

Peak
Load

20

UP
30-10

30

(MVA)

Add
Trafo

2014

43%

43,5

62%

47,5

46%

46,9

38%

19,5

62%

31,4

43%

21,9

(MW)

Peak
Load

50

UP
60-10

30

(MVA)

Add
Trafo

2015

48%

48,6

52%

53,0

51%

51,6

42%

21,5

68%

34,8

47%

23,7

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

53%

54,1

58%

58,8

55%

56,4

46%

23,5

75%

38,3

50%

25,6

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Aceh

59%

59,8

64%

64,9

60%

61,4

50%

25,7

62%

42,0

36%

27,4

(MW)

20

UP
30-10

30

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

66%

67,6

72%

73,1

67%

68,4

56%

28,7

69%

47,0

39%

30,1

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

72%

73,9

63%

79,9

72%

73,8

61%

31,0

60%

51,0

42%

32,1

(MW)

30

UP
60-30

20

UP
30-10

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

63%

80,9

68%

87,2

63%

79,7

66%

33,5

65%

55,4

45%

34,2

(MW)

30

UP
60-30

30

UP
60-30

(MVA)

Add
Trafo

2021
Peak
Load

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

117

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 117

04/02/2013 14:18:25

GI KRUENG
RAYA

GI BLANG
PIDIE

17

GI KUTA CANE

13

16

GI MEULABOH

12

GI PANTONLABU

GI SUBULUSSALAM

11

15

GI TAKENGON

10

GI JANTHO

LAM PISANG/
LHOKNGA

14

ULEE KARENG

PLTD SEWA

GI BANDA
ACEH I /
LAMBAROE

Gardu Induk

No.

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

TEG

1x30

2x30

1x30

1x30

1x30

2x30

1x30

2x30

2x60

2x60

60

1x60

120

60

MVA

2x30

JML

Trafo MVA

Kapasitas

32%

8,1

37%

9,5

53%

26,8

43%

88,0

30

30

60

50

(MVA)

Add
Trafo

2012

(MW)

Peak
Load

37%

9,4

43%

10,9

54%

13,7

45%

11,4

63%

32,2

53%

13,6

39%

19,8

70%

106,6

(MW)

30

30

30

60

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

38%

9,8

28%

14,3

47%

12,0

62%

15,8

47%

12,0

66%

33,6

57%

14,4

41%

20,7

30%

31,0

51%

78,2

(MW)

Peak
Load

60

120

(MVA)

Add
Trafo

2014

40%

10,1

33%

16,8

53%

13,4

73%

18,5

49%

12,6

69%

34,9

60%

15,3

42%

21,7

44%

45

49%

87,9

(MW)

Peak
Load

30

UP
60-30

(MVA)

Add
Trafo

2015

41%

10,5

38%

19,3

58%

14,7

42%

21,2

51%

13,1

71%

36,3

63%

16,1

44%

22,6

49%

50

57%

102,2

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

43%

10,9

43%

21,9

63%

16,1

47%

24,1

54%

13,7

49%

37,7

67%

17,0

46%

23,5

54%

55

66%

117,8

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Aceh

44%

11,2

48%

24,7

69%

17,5

53%

27,1

56%

14,3

51%

39,1

70%

17,8

48%

24,4

29%

30

60%

61

58%

103,8

(MW)

120

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

45%

11,6

57%

29,0

38%

19,5

63%

32,0

58%

14,8

53%

40,4

73%

18,6

50%

25,3

34%

35

64%

65

68%

122,3

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

47%

12,0

69%

35,0

41%

21,1

69%

35,0

60%

15,4

55%

41,8

38%

19,5

51%

26,2

49%

50

69%

70

70%

124,8

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

48%

12,3

83%

42,2

45%

22,8

50%

38,3

63%

16,0

57%

43,2

40%

20,3

53%

27,2

70%

71

49%

75

71%

127,3

(MW)

Peak
Load

30,0

60

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

118

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 118

04/02/2013 14:18:25

GI TAPAK
TUAN

GI COT
TRUENG

GI BLANG
KJEREN

GI SAMALANGA

18

19

20

21

1,07

DIVERSITY FACTOR

298

(MW)

278

360

MVA

TOTAL PEAK
SISTEM

1x30

1x30

2x30

1x30

JML

Peak
Load

298

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

Total

150/20

TEG

Trafo MVA

270

(MVA)

Add
Trafo

2012

TOTAL PEAK GI

Konsumen Besar

Total Beban GI

Gardu Induk

No.

Kapasitas

1,07

381

409

409

25%

6,4

(MW)

Peak
Load

240

30

(MVA)

Add
Trafo

2013

1,07

431

461

461

46%

11,8

18%

4,6

26%

6,6

(MW)

Peak
Load

290

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2014

1,07

489

526

526

53%

13,4

19%

4,9

53%

13,4

27%

6,9

(MW)

Peak
Load

140

30

(MVA)

Add
Trafo

2015

1,06

549

581

581

59%

15,0

20%

5,1

58%

14,7

28%

7,1

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2016

1,04

612

640

640

65%

16,6

21%

5,4

63%

16,1

29%

7,4

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Aceh

1,03

681

701

701

72%

18,3

22%

5,6

69%

17,5

30%

7,6

(MW)

Peak
Load

170

(MVA)

Add
Trafo

2018

1,04

755

782

782

40%

20,6

23%

5,8

38%

19,5

31%

7,8

(MW)

Peak
Load

90

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2019

1,02

833

850

850

44%

22,5

24%

6,1

41%

21,1

32%

8,1

(MW)

Peak
Load

80

(MVA)

Add
Trafo

2020

1,01

920

929

929

48%

24,6

25%

6,3

45%

22,8

33%

8,3

(MW)

Peak
Load

150

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

119

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 119

04/02/2013 14:18:25

MABAR

TITI KUNING

PAYA PASIR

GIS LISTRIK

GLUGUR

SISTEM SUMUT

Gardu Induk

No.

87,5 *

60 *

60

120,0

150/20

150/20

150/20

Total

60

180

Total

Total

60

150/20

60

60

150/20

150/20

60

120

Total

150/20

60

150/20

120.0

Total

60

60

150/20

150/20

60

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

33,68
33%

42%

40%

42,43

40,93

75%

65%

75%

38,25

99,86

114,48

60%

63%

62%

95,43

(MW)

Peak
Load

61,67

60

ADD

(MVA)

Add
Trafo

60

ADD

(MVA)

Add
Trafo

2013

64,72

64%

97,77

(MW)

Peak
Load

2012

35%

35,71

43%

43,80

69%

105,86

65%

65,99

66%

101,15

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

37%

37,85

46%

46,86

73%

112,21

69%

70,61

70%

107,22

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

39%

40,12

49%

50,14

78%

118,94

74%

75,55

59%

90,92

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

42%

42,53

53%

53,65

62%

126,08

53%

80,84

63%

96,38

(MW)

60

GI

60

ADD

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Sumut

44%

45,08

56%

57,41

66%

133,64

57%

86,49

67%

102,16

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

47%

47,78

60%

61,43

69%

141,66

60%

92,55

71%

108,29

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

50%

50,65

64%

65,73

74%

150,16

65%

99,03

75%

114,79

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

53%

53,69

69%

70,33

78%

159,17

69%

105,96

60%

91,26

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

120

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 120

04/02/2013 14:18:25

KIM

LABUHAN

LAMHOTMA

DENAI

NAMURAMBE

SEI ROTAN

10

11

Gardu Induk

No.

60

31.5

150/20

60

Total

150/20

60

60

150/20

60

Total

20

Total

150/20

20

91.5

Total

150/20

60

180

Total

31.5

60

150/20

150/20

60

150/20

150/20

60

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

48%

48,53

UAI

60

UAI

37%

37,65

38%

45%

42%

21,22

39,13

ADD

40

20%

20,73

45,85

29%

14,68

UAI

19%

UP &

30

49%

19,93

75,62

(MW)

Peak
Load

53%

UP

(MVA)

Add
Trafo
(MVA)

Add
Trafo

2013

81,05

(MW)

Peak
Load

2012

39%

39,91

41%

41,87

32%

16,50

21%

21,56

52%

80,16

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

41%

42,30

44%

44,80

34%

17,49

22%

22,42

56%

84,97

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

44%

44,84

47%

47,93

36%

18,53

23%

23,32

59%

90,06

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

47%

47,53

50%

51,29

39%

19,65

23%

24,25

62%

95,47

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Sumut

49%

50,38

54%

54,88

41%

20,83

24%

25,22

66%

101,19

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

52%

53,40

58%

58,72

43%

22,07

25%

26,23

70%

107,27

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

55%

56,61

62%

62,83

46%

23,40

26%

27,28

74%

113,70

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

59%

60,01

66%

67,23

49%

24,80

27%

28,37

79%

120,52

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

121

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 121

04/02/2013 14:18:25

TEBING TINGGI

PERBAUNGAN

15

17

P. BRANDAN

14

T. MORAWA

BINJAI

13

16

PAYA GELI

Gardu Induk

12

No.

60

60

150/20

60

150/20

60

Total

61.5

Total

150/20

30

150/20

Total

31.5

30

60

150/20

150/20

30

120

Total

150/20

60

180

Total

60

60

150/20

150/20

60

150/20

150/20

60

91.5

150/20

Total

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

13,12
13%

39%

33%

34,09

40,11

31%

60

41%

49%

32,37

20,98

55%

59%

25,14

83,42

64%

89,51

97,86

42%

54,68

(MW)

Peak
Load

64%

ADD

60

(MVA)

Add
Trafo
(MVA)

Add
Trafo

2013

98,26

60,00

48%

61,98

(MW)

Peak
Load

2012

34%

35,08

35%

35,90

44%

22,24

58%

88,26

68%

104,71

45%

57,97

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

36%

37,18

37%

37,80

46%

23,57

61%

93,38

73%

112,04

48%

61,44

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

39%

39,42

39%

39,80

49%

24,98

58%

88,92

78%

119,88

51%

65,13

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

41%

41,78

41%

41,91

52%

26,48

61%

94,07

84%

128,28

54%

69,04

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Sumut

43%

44,29

43%

44,13

55%

28,07

65%

99,53

67%

137,26

57%

73,18

(MW)

Peak
Load

60

GI

(MVA)

Add
Trafo

2018

46%

46,94

45%

46,47

58%

29,76

69%

105,30

72%

146,86

60%

77,57

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

49%

49,76

47%

48,93

62%

31,54

73%

111,41

77%

157,14

64%

82,22

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

52%

52,75

50%

51,53

66%

33,43

69%

106,08

66%

168,14

68%

87,16

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

122

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 122

04/02/2013 14:18:26

Gardu Induk

KUALA TANJUNG

PEMATANG
SIANTAR

GUNUNG PARA

KISARAN

AEK KANOPAN

R, PRAPAT

No.

18

19

20

21

22

23

150/20

30

20

Total

122

Total

20

30,0

150/20

150/20

60

31,5

150/20

10

Total

150/20

10

90

Total

150/20

60

150/20

Total

30

60

120

150/20

150/20

60

120

150/20

Total

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

30%

12,74

49%

30

ADD

30,0

31%

13,12

51%

65,69

49%

62,56

12,58

61%

77,82

47%

UP

60

11,98

58%

74,47

46%

44%

37%

57,18

(MW)

47,06

UAI

60

UAI

(MVA)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

44,82

36%

55,31

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

32%

13,51

54%

68,98

52%

13,21

52%

66,93

42%

43,06

40%

61,18

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

33%

13,92

56%

72,43

54%

13,87

55%

69,94

44%

45,21

43%

65,46

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

34%

14,34

59%

76,05

57%

14,56

57%

73,09

47%

47,47

46%

70,05

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

35%

14,77

62%

79,85

60%

15,29

60%

76,37

49%

49,84

49%

74,95

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Sumut

36%

15,21

65%

83,84

63%

16,05

63%

79,81

51%

52,34

52%

80,20

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

37%

15,67

68%

88,03

66%

16,85

65%

83,40

54%

54,95

56%

85,81

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

38%

16,14

72%

92,44

69%

17,70

68%

87,16

57%

57,70

60%

91,82

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

39%

16,62

54%

97,06

73%

18,58

71%

91,08

59%

60,59

64%

98,24

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

123

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 123

04/02/2013 14:18:26

PORSEA

28

SIDIKALANG

26

TELE

BRASTAGI

25

27

KOTA PINANG

Gardu Induk

24

No.

50

Total

20

20

Total

10

150/20

10

Total

20

150/20

Total

20

20

150/20

150/20

30

150/20

30

Total

Total

30

61,5

150/20

150/20

31,5

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

UAI

43%

14,48

20
44%

14,91

9%

9%

37%

15,53

2,41

ADD

30

UAI

52%

39,52

2,32

42%

17,65

49%

40

83%

79%

37,28

21,22

47%

48,36

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2013

20,02

UP

28,5

45%

UP

(MVA)

Add
Trafo

45,63

(MW)

Peak
Load

2012

45%

15,36

10%

2,51

38%

16,31

55%

41,89

44%

22,50

50%

51,26

(MW)

Peak
Load

30

ADD

(MVA)

Add
Trafo

2014

47%

15,82

10%

2,61

40%

17,12

58%

44,40

47%

23,85

53%

54,34

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

48%

16,30

11%

2,71

42%

17,98

62%

47,06

50%

25,28

56%

57,60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

49%

16,79

11%

2,82

44%

18,88

65%

49,89

53%

26,79

60%

61,06

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Sumut

51%

17,29

12%

2,94

47%

19,82

69%

52,88

56%

28,40

63%

64,72

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

52%

17,81

12%

3,05

49%

20,81

73%

56,05

59%

30,10

67%

68,60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

54%

18,34

12%

3,18

51%

21,85

78%

59,42

63%

31,91

71%

72,72

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

56%

18,89

13%

3,30

54%

22,95

49%

62,98

66%

33,83

50%

77,08

(MW)

Peak
Load

60

60

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

124

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 124

04/02/2013 14:18:26

P. SIDIMPUAN

GUNUNG TUA

TANJUNG PURA

31

32

33

34

SIBOLGA

30

PANYABUNGAN

COD 2013

TARUTUNG

Gardu Induk

29

No.

30

30

150/20

150/20

30

150/20

Total

30

150/20

10

Total

62

Total

10

31.5

150/20

150/20

30

40

Total

150/20

10

150/20

20

Total

30

10

150/20

150/20

10

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

26%

8,85

10

71%

67%

29%

9,76

31%

24,42

37%

31,43

37%

15,82

(MW)

Peak
Load

18,19

(MVA)

Add
Trafo
(MVA)

Add
Trafo

2014

17,0

27%

9,29

30%

48%

35%

29,93

36%

15,36

(MW)

Peak
Load

23,71

ADD

60

ADD

30

ADD

(MVA)

Add
Trafo

2013

37,69

34%

28,51

35%

14,91

(MW)

Peak
Load

2012

76%

19,46

30%

10,25

32%

25,15

39%

33,00

38%

16,29

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

82%

20,83

32%

10,76

33%

25,91

41%

34,65

39%

16,78

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

44%

22,28

33%

11,30

34%

26,68

43%

36,38

41%

17,28

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Sumut

47%

23,84

35%

11,86

35%

27,49

45%

38,20

42%

17,80

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

50%

25,51

37%

12,46

36%

28,31

47%

40,11

43%

18,34

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

54%

27,30

38%

13,08

37%

29,16

50%

42,12

44%

18,89

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

57%

29,21

40%

13,73

39%

30,03

52%

44,22

46%

19,45

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

125

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 125

04/02/2013 14:18:26

PANGURURAN

39

NEGERI DOLOK
(Untuk menyerap
energi PLTM)
COD 2013

37

KUALA NAMU
COD 2013

SALAK
(Untuk menyerap
energi PLTM)
COD 2013

36

38

PARLILITAN
COD 2012

COD 2013

Gardu Induk

35

No.

30

30

60

Total

Total

30

150/20

30

150/20

60

Total

150/20

60

60

Total

150/20

60

10

Total

150/20

10

60

150/20

Total

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

2,00
8%

6%

8%

2,08

67%

63%

1,50

34,25

4%

32,31

2,06

4%

6%

6%

2,00

3,12

18%

3,00

18%

18%

1,56

31%

30%

(MW)

16,01

(MVA)

(MVA)

Add
Trafo

2014
Peak
Load

15,10

(MW)

1,53

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

1,50

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

8%

2,16

71%

36,30

4%

2,12

6%

3,24

19%

1,59

33%

16,97

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

9%

2,25

38%

38,48

4%

2,19

7%

3,37

19%

1,62

35%

17,98

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2016

9%

2,34

40%

40,79

4%

2,25

7%

3,51

19%

1,66

37%

19,06

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Sumut

10%

2,43

42%

43,24

5%

2,32

7%

3,65

20%

1,69

40%

20,21

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

10%

2,53

45%

45,83

5%

2,39

7%

3,80

20%

1,72

42%

21,42

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

10%

2,63

48%

48,58

5%

2,46

8%

3,95

21%

1,76

45%

22,70

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

11%

2,74

50%

51,50

5%

2,53

8%

4,11

21%

1,79

47%

24,07

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

126

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 126

04/02/2013 14:18:26

LABUHAN BILIK

KIM 2

SELAYANG

PANCING

GI/GIS KOTA
MEDAN

40

41

42

43

44

30

60

Total

1.473
1.014

TOTAL PEAK

DIVERSITY

TOTAL PEAK GI

150/20

- PT Gunung

34,0

44,0

150/20

- PT Grouth

1.494

1.001

1.482

34,0

44,0

78

1.484

18%

17%

(MW)

9,33

(MVA)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

8,8

(MW)

78

2.519

30

150/20

60

150/20

60

60

Total

Total

30

150/20

30

150/20

60

Total

150/20

60

60

Total

150/20

60

150/20

MVA

Trafo MVA

Add
Trafo

2012

Peak
Load

Peak Load Big

TOTAL PEAK GI

Gardu Induk

No.

Kapasitas

1.012

1.541

34,0

44,0

78

1.560

19%

9,89

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

1.012

1.646

34,0

44,0

78

1.666

21%

10,48

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

1.011

1.766

34,0

44,0

78

1.012

1.866

34,0

44,0

78

1.888

64%

1.785

32,82

57%

47%

45%

29,31

24,09

63%

22,73

32,07

59%

54%

29,97

27,65

23%

11,78

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

51%

(MVA)

Add
Trafo

26,08

22%

11,11

(MW)

Peak
Load

2016

Capacity Balance GI Sumut

1.011

1.978

34,0

44,0

78

1.999

72%

36,76

50%

25,54

67%

34,31

57%

29,31

24%

12,48

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

1.011

2.092

34,0

44,0

78

2.116

40%

41,17

53%

27,07

72%

36,72

61%

31,07

26%

13,23

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

1.017

2.206

34,0

44,0

78

2.242

45%

46,12

56%

28,70

39%

39,29

65%

32,93

28%

14,03

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

1.003

2.327

34,0

44,0

78

2.335

51%

51,65

60%

30,42

41%

42,04

68%

34,91

29%

14,87

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

127

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 127

04/02/2013 14:18:27

BUNGUS (NEW)

PARIAMAN (NEW)

KAMBANG (NEW)

INDARUNG

SIMPANG HARU

LUBUK ALUNG

PAUH LIMO

PIP

CABANG PADANG

Gardu Induk

No.

84

Total

50

Total

150/20

150/20

30

30

30

30

150/20

150/20

20

150/20

150

42

Total

42

150/20

90

Total

150/20

30

150/20

50

Total

60

30

150/20

150/20

20

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

13,5
53%

12,2
48%

10,3
40%

9,3
36%

12,5
49%

11,1

50%

45%

44%

21,3

64%

64%

19,3

82,0

82,0

44,8
63%

57%

58,3

48%

32,8

(MW)

40,7

30

UP

30

(MVA)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

57%

52%

52,8

44%

29,7

(MW)

Add
Trafo

2012
Peak
Load

59%

15,1

45%

11,4

55%

14,0

55%

23,6

64%

82,0

69%

49,3

63%

64,5

53%

36,4

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

66%

16,7

50%

12,7

62%

15,7

61%

26,1

64%

82,0

76%

54,3

70%

71,1

59%

40,2

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

74%

18,8

56%

14,3

70%

17,9

69%

29,2

64%

82,0

51%

36,6

51%

52,2

51%

34,8

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

41%

20,9

62%

15,8

39%

20,0

76%

32,2

64%

82,0

56%

40,1

56%

57,4

56%

38,3

(MW)

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Sumbar

45%

23,0

69%

17,5

44%

22,3

52%

35,3

64%

82,0

61%

43,8

62%

62,9

62%

42,1

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

50%

25,4

38%

19,3

49%

24,8

57%

38,7

64%

82,0

67%

47,8

67%

68,8

68%

46,2

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

55%

27,9

42%

21,2

54%

27,6

62%

42,4

64%

82,0

73%

52,0

74%

75,1

42%

50,5

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

60%

30,6

46%

23,3

60%

30,6

68%

46,3

64%

82,0

73%

52,0

54%

81,9

46%

55,2

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2021
Peak
Load

128

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 128

04/02/2013 14:18:27

GI SUNGAI PENUH (NEW)

10

PADANG LUAR

SIMPANG EMPAT

BATANG AGAM

GI PADANG PANJANG
(NEW)

12

13

14

15

SOLOK

SALAK

KILIRAN JAO

16

17

18

CABANG SOLOK

MANINJAU

11

CABANG BUKIT TINGGI

GI/GIS KOTA PADANG


(NEW)

Gardu Induk

No.

Total

40

Total

150/20

20

20

20

150/20

150/20

20

10

20

150/20

150/20

0,4/20

30

30

50

150/20

150/20

20

20

30

120

MVA

150/20

150/20

150/20

150/20

Trafo MVA

Kapasitas

36%

81%

52%

35,4

32%

11,0

52%

26,5

37%

15,4

40

UP

30

30

NEW

28,1

13,8

47%

32,2

29%

9,9

47%

24,0

33%

40

70%

63%

25,3

11,9

10,7

18,6
73%

(MW)

Peak
Load

16,9

UP

(MVA)

Add
Trafo

30

(MVA)

Add
Trafo

2013

66%

(MW)

Peak
Load

2012

40%

17,1

57%

39,0

36%

12,2

58%

29,4

41%

31,3

31%

13,2

40%

20,5

(MW)

Peak
Load

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2014

45%

19,0

63%

42,9

40%

13,6

64%

32,5

45%

34,7

35%

14,7

44%

22,6

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

50%

21,4

70%

47,8

45%

15,3

71%

36,3

51%

39,1

39%

16,5

49%

25,2

56%

23,7

56%

52,4

50%

16,9

39%

40,1

57%

43,3

43%

18,3

54%

27,6

57%

52%

(MW)

Peak
Load

58,0

(MVA)

Add
Trafo

30

60

(MVA)

Add
Trafo

2017

52,9

(MW)

Peak
Load

2016

Capacity Balance GI Riau

62%

26,1

61%

57,3

55%

18,7

43%

44,0

62%

47,8

48%

20,2

59%

30,3

62%

63,5

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

68%

28,8

67%

62,5

61%

20,6

47%

48,2

69%

52,6

52%

22,3

65%

33,0

68%

69,3

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

74%

31,6

73%

68,0

66%

22,6

52%

52,7

57%

57,8

58%

24,5

71%

36,0

49%

75,4

(MW)

Peak
Load

30

60

(MVA)

Add
Trafo

2020

37%

34,8

79%

73,9

73%

24,8

57%

57,7

62%

63,5

63%

26,9

51%

39,2

54%

82,1

(MW)

Peak
Load

60

30

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

129

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 129

04/02/2013 14:18:27

GI S.RUMBAI/GNG.
MEDAN (NEW)

19

MUARA LABUH

22

30

1,03

DIVERSITY FACTOR
1,03

472,7

486,9

41%

37%

434,8

10,4

55%

28,1

9,4

50%

25,5

1,03

515,4

530,8

45%

11,5

61%

31,0

14,0
55%

61%

15,4

(MW)

Peak
Load

12,6

(MVA)

Add
Trafo
(MVA)

Add
Trafo

2014

50%

13,6
53%

(MW)

Peak
Load

23,1

447,8

30

30

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2013

91%

(MW)

Peak
Load

TOTAL PEAK SISTEM

150/20

150/20

150/20

150/20

30

30

Total

150/20

10

150/20

MVA

Trafo MVA

2012

TOTAL PEAK GI

PASAMAN

BATUSANGKAR

21

22

PAYAKUMBUH

20

CABANG PAYAKUMBUH

Gardu Induk

No.

Kapasitas

1,03

561,5

578,4

50%

12,6

67%

34,1

61%

15,5

69%

17,5

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

1,03

611,5

629,8

55%

14,1

50%

38,1

68%

17,3

39%

20,1

(MW)

Peak
Load

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

1,03

680,5

701,0

8,0

7,0

61%

15,5

55%

41,8

75%

19,1

44%

22,7

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Riau

1,03

724,4

746,1

8,8

7,7

66%

16,9

60%

45,7

41%

21,0

50%

25,5

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2018

1,03

804,4

828,6

9,7

8,5

72%

18,5

65%

49,9

45%

23,0

56%

28,7

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

1,03

853,3

878,9

10,6

9,3

39%

20,1

71%

54,3

49%

25,1

63%

32,1

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2020

1,03

947,5

971,3

11,7

10,2

43%

21,9

77%

59,2

54%

27,5

71%

36,0

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

130

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 130

04/02/2013 14:18:27

TJG PINANG / AIR RAJA

KIJANG

TANJUNG UBAN

SRI BINTAN

DIVERSITY FACTOR

TOTAL PEAK SISTEM

TOTAL PEAK GI

Gardu Induk

No.

150/20

150/20

150/20

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2012

1,01

54,5

55,0

57%

14,49

42%

21,23

28%

14,49

38%

19,32

(MW)

Peak
Load

180

30

60

60

60

(MVA)

Add
Trafo

2013

1,00

71,5

71,9

59%

15,14

43%

22,07

30%

15,14

40%

20,19

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2014

1,00

103,9

103,9

62%

15,87

50%

51,05

31%

15,87

41%

21,16

(MW)

Peak
Load

60

60

(MVA)

Add
Trafo

2015

1,00

107,6

107,6

65%

16,63

51%

52,15

33%

16,63

43%

22,18

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2016

1,00

111,5

111,5

68%

17,44

52%

53,38

34%

17,44

46%

23,25

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2017
Peak
Load

Capacity Balance GI Bintan

1,00

115,7

115,7

72%

18,28

54%

54,77

36%

18,28

48%

24,37

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2018

1,00

120,2

120,2

75%

19,17

55%

56,33

38%

19,17

50%

25,56

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2019

1,00

125,2

125,2

39%

20,13

57%

58,09

39%

20,13

53%

26,83

(MW)

Peak
Load

30,00

(MVA)

Add
Trafo

2020

1,00

130,3

130,3

41%

21,13

59%

59,90

41%

21,13

55%

28,17

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

131

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 131

04/02/2013 14:18:27

BUNGARAN
PTM di
2012

SUNGAI
JUARO

SEDUDUK
PUTIH
PTM 2012

BOOM
BARU 70
kV

TALANG
RATU
PTM 2012

BUKITSIGUNTANG
PTM 2012

Gardu
Induk

No.

30

Total

30

Total

15

10

35

70/12

70/20

70/20

Total

30

70/20

70/12

15

35

Total

70/20

20

70/20

45

Total

15

30

70/12

15

30

Total

70/20

10

70/20

70/12

10

70/20

70/12

10

15

70/20

70/12

15

70/12

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

73%

21,79

67%

33,97

86%

14,67

64%

27,32

40%

16,95

59%

30,13

(MW)

Peak
Load

30

-15

20

15

(MVA)

Add
Trafo

2012

19%

11,26

38%

19,16

12%

5,20

41%

21,13

37%

15,61

46%

29,27

(MW)

Peak
Load

Add
Trafo

35

30

10

15

(MVA)

2013

22%

13,05

45%

23,09

13%

5,49

25%

12,83

28%

11,87

42%

26,92

(MW)

Peak
Load

2014

(MVA)

Add
Trafo

24%

14,54

53%

26,80

13%

5,66

31%

15,81

31%

13,29

47%

30,03

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

27%

15,90

60%

30,52

14%

5,75

37%

18,81

35%

14,69

52%

33,25

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

30%

17,73

69%

35,07

14%

5,87

41%

20,89

39%

16,44

58%

37,10

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

(MVA)

Add
Trafo

33%

19,77

79%

40,11

14%

5,96

46%

23,21

43%

18,39

65%

41,39

(MW)

Peak
Load

2018

(MVA)

Add
Trafo

38%

22,47

59%

30,08

14%

6,06

38%

19,53

30%

12,72

56%

35,79

(MW)

Peak
Load

2019

(MVA)

Add
Trafo

43%

25,54

69%

35,02

14%

6,12

43%

21,92

34%

14,45

63%

40,22

(MW)

Peak
Load

2020

(MVA)

Add
Trafo

48%

28,75

79%

40,31

14%

6,09

48%

24,47

38%

16,31

71%

45,05

(MW)

Peak
Load

2021

(MVA)

Add
Trafo

132

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 132

04/02/2013 14:18:27

BORANG

MARIANA

SIMPANG
TIGA

10

11

12

16

32

150/20

150/20

60

60

150/20

Total

150/20

16

30

120

60

60

150/20

Total

150/20

150/20

85

Total

TALANG
KELAPA

60

150/20

PTM di
2012

10

70/12

15

25

15

Sudah

Total

70/12

70/20

(Step up :
Pertamina)

10

KERAMASAN

70/12

Trafo

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

SUNGAI

No.

Gardu
Induk

63,17
62%

51,14

50%

50%

82%

82%

29,24

34%

51,78

67%

34,25

52%

13,18

(MW)

26,34

12

20

(25)

(MVA)

Add
Trafo

30

Add

40

(MVA)

2013
Peak
Load

22,26

61%

21,94

41%

49,03

40%

20,50

61%

15,66

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

2014

57%

58,42

56%

29,75

44%

33,81

39%

59,25

76%

38,56

28%

14,49

(MW)

Peak
Load

48

30

(MVA)

Add
Trafo

63%

64,70

63%

33,33

52%

39,48

43%

66,22

42%

42,57

31%

15,58

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2015

69%

70,79

71%

37,25

61%

47,03

48%

73,16

46%

46,53

33%

16,58

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

77%

78,40

54%

41,91

72%

55,20

53%

81,74

50%

51,37

35%

17,83

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

30

(MVA)

Add
Trafo

2018

57%

86,94

60%

47,24

85%

64,79

60%

91,31

56%

56,70

38%

19,17

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2019

64%

97,54

69%

53,57

54%

41,37

51%

103,11

62%

63,22

41%

20,84

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2020

72%

109,40

78%

60,86

60%

45,97

57%

116,41

69%

70,48

44%

22,65

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

79%

120,20

79%

62,00

67%

51,08

51%

130,65

77%

78,19

45%

23,14

(MW)

Peak
Load

2021

60

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

133

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 133

04/02/2013 14:18:28

LUBUKLINGGAU

LAHAT

16

18

BATURAJA

15

PAGAR
ALAM

BUKIT
ASAM

14

17

PRABUMULIH

13

No.

Gardu
Induk

25

Total

50

20

30

15

150/20

10

30

Total

150/20

20

150/20

10

Total

150/20

30

60

150/20

150/20

30

Total

150/20

60

120

150/20

45

Total

60

30

150/20

150/20

15

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

20
65%

27,83

Uprate 10->30

50%

76,97

75%

61%

49%

18,57

57,64

20

46,95

40%

15,43

Uprate 10-30 (IBRD)

54%

23,00

63%

30

60

60

Add

(MVA)

Add
Trafo

Uprate 30-60 (UAI)

33%

27%

64,32

33,66

27,97

44%

84%

(MW)

39,17

(MVA)

2013
Peak
Load

32,10

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

2014

44%

56,30

42%

16,13

57%

24,34

50%

76,34

36%

36,93

49%

43,57

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

49%

62,46

46%

17,42

39%

16,48

46%

70,18

39%

39,72

53%

47,53

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

54%

68,45

49%

18,57

43%

18,43

49%

74,92

41%

42,30

58%

51,33

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

49%

62,76

52%

20,05

49%

20,91

53%

80,91

45%

45,50

63%

55,99

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

(MVA)

Add
Trafo

2018

55%

69,94

42%

21,65

Uprate

56%

23,60

57%

87,36

48%

48,95

68%

61,08

(MW)

Peak
Load

15

(MVA)

Add
Trafo

2019

62%

78,87

46%

23,66

63%

26,96

62%

95,42

52%

53,17

75%

67,28

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

70%

88,81

51%

25,85

72%

30,65

67%

102,81

57%

57,76

53%

74,12

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

78%

99,27

55%

28,07

76%

32,44

72%

110,89

61%

62,44

58%

81,25

(MW)

Peak
Load

2021

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

134

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 134

04/02/2013 14:18:28

Gardu
Induk

BETUNG

GUMAWANG

GUNUNG
MEGANG

GI Kenten

GIS KOTA
Usulan
Terbaru

JAKABARING

KAYU
AGUNG

TANJUNG
API-API

No.

19

20

21

30

30

60

150/20

Total

30

30

120

60

60

150/20

150/20

150/20

150/20

60

45,53
89%

37,66

74%

63%

76%

(MW)

31,96

(MVA)

Add
Trafo
(MVA)

2013
Peak
Load

38,91

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

0%

0%

0%

0%

22%

11,45

0%

49%

12,59

0%

27%

0%

33%

16,89

27,1

30

0,0

27%

13,97

Relokasi 30 MVA ex BaturajaBaturaja

120

60

150/20

30

60

30

30

150/20

150/20

150/20

30

150/20

50

20

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

2014

24%

12,25

50%

12,69

54%

13,85

0%

43%

44,3

37%

18,62

56%

42,65

65%

32,96

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

26%

13,11

54%

13,81

60%

15,23

0%

48%

49,3

39%

20,12

60%

46,09

38%

39,10

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2015

28%

14,03

59%

15,01

66%

16,75

0%

53%

54,2

23%

11,53

46%

34,81

45%

45,94

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

29%

15,01

64%

16,32

36%

18,43

0%

59%

60,2

18%

9,22

49%

37,62

53%

54,28

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

30

(MVA)

Add
Trafo

2018

31%

16,06

69%

17,63

40%

20,27

0%

66%

66,9

18%

9,22

53%

40,66

63%

64,01

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

34%

17,18

37%

19,04

44%

22,30

61%

61,91

59%

60,0

19%

9,90

58%

44,38

59%

75,82

(MW)

Peak
Load

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2020

36%

18,38

40%

20,56

48%

24,53

67%

68,83

66%

67,4

21%

10,81

63%

48,43

70%

89,62

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

39%

19,67

47%

23,99

53%

26,98

75%

76,26

74%

75,2

23%

11,86

69%

52,72

69%

105,86

(MW)

Peak
Load

2021

30

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

135

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 135

04/02/2013 14:18:28

MVA

MW

30

30

30

120

60

60

30

30

30

30

30

TOTAL PEAK GI

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

MVA

Trafo MVA

Total Kap.

TUGU
MULYO
(LUBUK

GANDUS

11

14

TEBING
TINGGI

10

PENDOPO

SEKAYU

13

MUARA
RUPIT

MARTAPURA

MUARA
DUA

12

SUNGAI
LILIN

Gardu
Induk

No.

Kapasitas

625,65

1.304

0%

0%

0%

752,85

1.914

0%

0%

0%

19%

0%

0%

59%

15,0

0%

0%

0%

(MW)

Peak
Load

18,9

167

(MVA)

Add
Trafo

Add
Trafo

610

(MVA)

2013

0,0

0%

0%

0%

0%

0%

(MW)

Peak
Load

2012

(MVA)

Add
Trafo

34%

35,1

53%

13,5

67%

17,2

0%

43%

10,98

62%

15,75

(MW)

Peak
Load

16,1

849,84

2.202

0%

0%

63%

288

17,4

928,37

2.352

0%

0%

68%

150

(MVA)

Add
Trafo

2015

Beban GI Gumawang & Baturaja

31%

31,5

50%

12,7

63%

16,1

0%

0%

59%

15,00

(MW)

Peak
Load

2014

1.019,62

2.412

57%

14,5

39%

10,0

73%

18,6

38%

38,7

56%

14,3

72%

18,4

0%

47%

12,08

65%

16,54

(MW)

Peak
Load

2016

60

(MVA)

Add
Trafo

1.128,15

2.562

61%

15,7

55%

14,0

39%

20,1

42%

43,0

59%

15,1

77%

19,7

51%

13,05

52%

13,29

34%

17,36

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

150

30,0

30

(MVA)

Add
Trafo

1.248,72

2.637

66%

16,9

62%

15,9

43%

21,7

47%

47,9

63%

16,1

83%

21,0

55%

13,97

57%

14,62

36%

18,23

(MW)

Peak
Load

2018

75

(MVA)

Add
Trafo

1.360,12

2.877

73%

18,5

69%

17,5

47%

23,7

47%

48,4

67%

17,0

88%

22,5

59%

14,94

63%

16,08

38%

19,14

(MW)

Peak
Load

2019

240

(MVA)

Add
Trafo

1.513,06

3.057

40%

20,2

38%

19,1

51%

25,9

53%

54,4

35%

18,0

47%

24,1

63%

15,99

69%

17,68

39%

20,10

(MW)

Peak
Load

2020

180

30

30

30

30

(MVA)

Add
Trafo

1.673,14

3.207

43%

22,0

41%

20,7

69%

35,0

60%

60,8

25%

19,1

34%

25,8

67%

17,11

76%

19,45

39%

20,10

(MW)

Peak
Load

2021

150

30

30

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

136

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 136

04/02/2013 14:18:28

TES

MANNA/
MASSOD

GI ARGA
MAKMUR

Menunggu GI
Pulau

PULAU
BAAI

Ditarik

MukoMuko

RENCANA

PEKALO
NGAN

OPERASI

SUKA MERINDU

No.

Gardu
Induk

30

75

70/20

Total

30

Total

Total

30

60

120

150/20

150/20

60

30

30

150/20

150/20

150/20

15

30

70/20

10

70/20

150/20

30

70/20

70/20

15

70/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

0%

0%

0%

47%

12,00

30

(MVA)

Add
Trafo

0%

0%

Beban dari GI

0%

57%

14,49

8,3
65%

6,9

54%

48%

78%

73%

74,82

(MW)

24,60

45,00

(MVA)

2013
Peak
Load

19,99

62%

63,06

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

0%

57%

58,15

0%

61%

15,67

70%

9,0

53%

27,11

24%

24,92

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

61%

15,47

7%

0,84

53%

27,27

17%

17,43

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2015
Peak
Load

34%

8,71

60%

60,99

30%

7,60

Beban dari Pembangkit Isolated

2014
Peak
Load

36%

9,09

62%

63,61

32%

8,13

59%

15,10

5%

0,64

53%

27,14

18%

18,17

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

60

(MVA)

Add
Trafo

Beban dari GI

41%

10,38

47%

72,66

34%

8,70

67%

17,13

14%

1,79

61%

31,36

20%

20,76

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB


2018

44%

11,17

51%

78,22

36%

9,31

69%

17,62

16%

2,08

64%

32,88

22%

22,35

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

47%

11,96

55%

83,69

39%

9,96

70%

17,95

18%

2,26

67%

34,13

23%

23,91

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

50%

12,80

59%

89,57

42%

10,65

72%

18,28

19%

2,45

69%

35,42

25%

25,59

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

53%

13,53

62%

94,71

45%

11,40

72%

18,24

19%

2,43

47%

36,01

31%

31,12

(MW)

Peak
Load

2021

30

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

137

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 137

04/02/2013 14:18:28

GI SABAK

USULAN
GI BARU
150/20

MUARA
BULIAN

MUARA
BUNGO

BANGKO

PAYO
SELINCAH

AUR DURI

150/20

150/20

150/20

30

30

30

60

30

30

120

Total

150/20

60

60

Total

150/20

30

150/20

60

30

150/20

150/20

30

150/20

MW

MW

TOTAL PEAK GI

30

Total Kap.

150/20

MVA

GI BINTUHAN

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

Total Kap.

No.

Gardu
Induk

31%

8,00

31%

0%

23,38

76%

39%

19,50

32%

29,81

55%

24,70

56,21

53%

80,99

47%

47,88

122,19

235

0%

(MW)

91%
60

60

60

75

(MVA)

Add
Trafo

60

60

30

(MVA)

2013
Peak
Load

46,59

45%

69,58

45%

45,76

101,91

205

0%

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

2014

34%

8,64

35%

26,51

37%

28,02

63%

64,15

58%

88,62

55%

55,90

134,82

355

0%

(MW)

Peak
Load

120

(MVA)

Add
Trafo

37%

9,33

37%

28,63

36%

27,60

68%

69,74

64%

97,83

60%

61,66

138,30

415

0%

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2015

40%

10,08

41%

31,23

35%

27,15

75%

76,56

71%

109,11

67%

68,79

141,88

415

0%

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

43%

10,88

45%

34,40

35%

26,67

55%

84,89

60%

122,92

76%

77,61

172,68

505

39%

9,90

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

60

60

90

(MVA)

Add
Trafo

2018

46%

11,75

50%

38,27

34%

26,16

62%

95,04

69%

139,87

58%

88,51

184,23

505

42%

10,60

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2019

50%

12,69

54%

41,33

25%

25,61

68%

103,31

76%

154,29

64%

97,59

195,20

505

44%

11,34

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2020

54%

13,71

58%

44,19

25%

25,02

73%

111,17

69%

175,92

70%

106,39

206,90

505

48%

12,13

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

58%

14,81

63%

48,20

24%

24,39

68%

122,05

64%

194,70

78%

118,63

220,41

535

51%

12,98

(MW)

Peak
Load

2021

30

60

30

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

138

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 138

04/02/2013 14:18:28

MVA

MW

MW

Kapasitas terpasang GI

PEAK GI WS2JB

PEAK SISTEM

PLN S2JB

MW

30

TOTAL PEAK GI

150/20

30

MVA

GI KUALA
TUNGKAL

150/20

MVA

Trafo MVA

Kapasitas

Total Kap terpasang GI

GI SARO
LANGUN

No.

Gardu
Induk

996,3

998,7

1.311

206,1

480

0%

1.116,9

1.121,3

2.779

246,3

630

0%

0
0%

(MW)

180

(MVA)

Add
Trafo

150

(MVA)

2013
Peak
Load

0%

(MW)

Add
Trafo

2012

Peak
Load

2014

1.252,3

1.268,5

3.217

283,8

660

0%

47%

12,00

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

1.360,9

1.374,3

3.427

307,6

660

0%

50%

12,84

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2015

1.480,0

1.498,1

3.487

336,7

660

0%

54%

13,74

(MW)

Peak
Load

2016

(MVA)

Add
Trafo

1.637,8

1.672,9

3.847

372,1

780

0%

58%

14,70

(MW)

Peak
Load

2017

Capacity Balance GI S2JB

120

(MVA)

Add
Trafo

2018

(MVA)

Add
Trafo

2019

66%

16,83

(MW)

Peak
Load

1.812

1.860

4.012

427,1

870

46%

11,77

90

1.991

2.020

4.282

464,4

900

50%

12,71

Beban Pembangkit Isolated

62%

15,73

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2020

2.191

2.228,1

4.552

508,1

990

54%

13,73

35%

18,00

(MW)

Peak
Load

90

30

(MVA)

Add
Trafo

2.433

2.450

4.822

556,9

1,080

58%

14,82

38%

19,26

(MW)

Peak
Load

2021

90

(MVA)

Add
Trafo

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

139

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 139

04/02/2013 14:18:28

No.

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

MW

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Terpasang

MW

Beban Puncak

Total

MW

Terpasang

GI TEGINENENG

150/20

KALIANDA

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

SUTAMI

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

NATAR

MW

Terpasang

150/20

MW

TELUK BETUNG

150/20

Terpasang

(1x30)

(2x20)

70

(1x30)

30

(2x30)

60

(2x30)

60

(1x60)

(1x60)

120

(2x30)

60

MVA

Trafo MVA

TARAHAN

Gardu Induk

Kapasitas

2012

92,1%

54,79

59,5

70

52,3%

26,67

51,0

60

66,8%

34,06

51,0

60

48,1%

49,06

102,0

120

84,5%

86,18

102,0

120

82,1%

41,88

51,0

60

(MW)

Peak
Load

30

60

(MVA)

Add
Trafo

99,3%

59,08

59,5

70

56,3%

28,73

51,0

60

71,6%

36,53

51,0

60

51,8%

52,87

102,0

120

84,7%

86,40

102,0

120

84,91%

43,30

51,0

60

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

68,0%

63,56

93,5

110

60,6%

30,89

51,0

60

76,7%

39,10

51,0

60

55,7%

56,86

102,0

120

87,6%

89,32

102,0

120

80,5%

41,04

51,0

60

(MW)

Peak
Load

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2014

72,4%

67,71

93,5

110

43,4%

22,15

51,0

60

81,4%

41,49

51,0

60

48,8%

49,79

102,0

120

75,9%

77,38

102,0

120

81,1%

41,37

51,0

60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

76,5%

71,49

93,5

110

45,8%

23,38

51,0

60

57,1%

43,66

76,5

90

39,1%

39,91

102,0

120

79,8%

81,37

102,0

120

80,6%

41,09

51,0

60

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

80,5%

75,31

93,5

110

57,0%

29,09

51,0

60

59,9%

45,86

76,5

90

39,0%

39,74

102,0

120

65,8%

67,07

102,0

120

79,2%

40,41

51,0

60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Lampung

62,1%

79,16

127,5

150

59,9%

30,57

51,0

60

62,8%

48,08

76,5

90

40,1%

40,87

102,0

120

68,9%

70,26

102,0

120

77,0%

39,27

51,0

60

(MW)

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

65,2%

83,13

127,5

150

62,9%

32,09

51,0

60

65,8%

50,36

76,5

90

41,4%

42,26

102,0

120

72,1%

73,56

102,0

120

73,8%

37,65

51,0

60

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

68,3%

87,12

127,5

150

65,9%

33,61

51,0

60

68,8%

52,65

76,5

90

42,9%

43,74

102,0

120

75,4%

76,86

102,0

120

69,5%

35,43

51,0

60

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

71,6%

91,29

127,5

150

69,0%

35,21

51,0

60

72,0%

55,05

76,5

90

44,4%

45,27

102,0

120

75,4%

76,86

102,0

120

75,2%

38,34

51,0

60

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2021
Peak
Load

140

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 140

04/02/2013 14:18:29

12

11

10

No.

Pembebanan Trafo

MW

MW

Terpasang

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Total

MW

PAGELARAN

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Terpasang

MW

Beban Puncak

Total

MW

KOTABUMI

Total

Pembebanan Trafo

Terpasang

MW

Beban Puncak

BUKIT KEMUNING

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI SRIBAWONO

MW

Pembebanan Trafo

Total

MW

Beban Puncak

Terpasang

MW

Terpasang

GI MENGGALA

Total

(1x30)

(1x20)

50

(2x20)

40

(1x30)

30

(1x30)

(1x20)

50

(1x30)

(1x20)

50

(1x30)

30

MVA

Trafo MVA

GI ADIJAYA

Gardu Induk

Kapasitas

58,8%

44,95

76,5

90

100,3%

68,20

68,0

80

53,1%

40,65

76,5

90

97,2%

41,30

42,5

50

67,0%

28,49

42,5

50

67,4%

34,37

51,0

60

(MW)

Peak
Load

2012

*2)

40

60

30

(MVA)

Add
Trafo

63,1%

48,25

76,5

90

104,6%

71,13

68,0

80

63,9%

48,86

76,5

90

58,9%

45,07

76,5

90

74,1%

31,50

42,5

50

73,0%

37,23

51,0

60

(MW)

Peak
Load

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2013

53,6%

41,01

76,5

90

72,2%

73,61

102,0

120

53,6%

40,98

76,5

90

64,1%

49,00

76,5

90

81,5%

34,66

42,5

50

78,8%

40,21

51,0

60

(MW)

Peak
Load

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2014

50,6%

38,67

76,5

90

78,6%

80,14

102,0

120

57,5%

43,99

76,5

90

64,9%

49,66

76,5

90

88,4%

37,58

42,5

50

56,2%

42,98

76,5

90

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2015

53,2%

40,72

76,5

90

67,7%

69,09

102,0

120

60,5%

46,26

76,5

90

69,0%

52,80

76,5

90

52,1%

39,88

76,5

90

59,5%

45,50

76,5

90

(MW)

Peak
Load

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2016

55,9%

42,79

76,5

90

72,5%

73,93

102,0

120

64,1%

49,00

76,5

90

73,2%

55,96

76,5

90

55,6%

42,54

76,5

90

62,8%

48,05

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Lampung

58,7%

44,88

76,5

90

77,3%

78,81

102,0

120

67,7%

51,76

76,5

90

77,3%

59,15

76,5

90

59,1%

45,23

76,5

90

66,2%

50,62

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2018

61,5%

47,04

76,5

90

82,2%

83,85

102,0

120

71,4%

54,62

76,5

90

81,6%

62,45

76,5

90

62,7%

48,00

76,5

90

69,6%

53,27

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2019

64,3%

49,20

76,5

90

58,1%

88,90

153,0

180

75,1%

57,48

76,5

90

64,5%

65,75

102,0

120

66,4%

50,78

76,5

90

73,1%

55,92

76,5

90

(MW)

Peak
Load

60

*3)

30

(MVA)

Add
Trafo

2020

67,3%

51,46

76,5

90

61,6%

94,25

153,0

180

47,4%

60,49

127,5

150

67,9%

69,23

102,0

120

70,2%

53,72

76,5

90

46,0%

58,71

127,5

150

(MW)

Peak
Load

60,00

60,00

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

141

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 141

04/02/2013 14:18:29

19

18

17

16

15

14

13

No.

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Terpasang

MW

150/20

MW

Beban Puncak

GI LIWA

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI KOTA AGUNG

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI SEPUTIH BANYAK

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI BLAMBANGAN

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI SUKARAME

MW

Terpasang

150/20

MW

GI NEW TARAHAN

Total

Terpasang

30

30

30

(1x30)

30

(1x30)

30

(1x30)

30

(1x20)

(1x30)

50

MVA

Trafo MVA

GI METRO

Gardu Induk

Kapasitas

2012

92,0%

23,47

25,5

30

32,8%

8,37

25,5

30

98,6%

25,14

25,5

30

45,9%

23,39

51,0

60

75,4%

32,07

42,5

50

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

99,8%

25,45

25,5

30

35,8%

9,12

25,5

30

66,3%

33,82

51,0

60

50,2%

25,63

51,0

60

43,9%

33,56

76,5

90

(MW)

30

*2)

40

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

25,5

30

41,9%

10,69

25,5

30

54,0%

27,53

51,0

60

38,9%

9,91

25,5

30

79,2%

40,39

51,0

60

71,9%

36,67

51,0

60

45,9%

35,13

76,5

90

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2014

25,5

30

44,5%

11,36

25,5

30

57,7%

29,45

51,0

60

41,7%

10,63

25,5

30

86,6%

44,16

51,0

60

41,7%

42,49

102,0

120

47,8%

36,58

76,5

90

(MW)

Peak
Load

60

(MVA)

Add
Trafo

2015

25,5

30

46,9%

11,96

25,5

30

61,2%

31,20

51,0

60

44,3%

11,30

25,5

30

85,4%

43,53

51,0

60

46,8%

47,70

102,0

120

49,5%

37,90

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

25,5

30

49,3%

12,57

25,5

30

64,6%

32,96

51,0

60

46,9%

11,97

25,5

30

67,7%

34,51

51,0

60

52,0%

53,07

102,0

120

51,3%

39,23

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Lampung

25,5

30

51,7%

13,18

25,5

30

68,1%

34,74

51,0

60

49,6%

12,64

25,5

30

74,9%

38,20

51,0

60

57,4%

58,59

102,0

120

53,0%

40,58

76,5

90

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

25,5

30

54,2%

13,81

25,5

30

71,7%

36,58

51,0

60

52,3%

13,34

25,5

30

41,5%

42,36

102,0

120

63,1%

64,37

102,0

120

54,9%

41,97

76,5

90

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

25,5

30

56,7%

14,45

25,5

30

75,3%

38,43

51,0

60

55,0%

14,04

25,5

30

46,1%

46,99

102,0

120

68,9%

70,29

102,0

120

56,7%

43,36

76,5

90

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

25,5

30

59,3%

15,11

25,5

30

39,6%

40,36

102,0

120

57,9%

14,77

25,5

30

51,1%

52,13

102,0

120

75,3%

76,76

102,0

120

58,6%

44,80

76,5

90

(MW)

Peak
Load

60,00

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

142

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 142

04/02/2013 14:18:29

25

24

23

22

21

20

No.

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

MW

MW

Terpasang

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

150/20

MW

Beban Puncak

GI JATI AGUNG

MW

Terpasang

Pembebanan Trafo

150/20

MW

Beban Puncak

GI MESUJI

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI KETAPANG

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI TELUK RATAI

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI GEDONG TATAAN

MW

Terpasang

150/20

Pembebanan Trafo

GI ULU BELU

MW

30

30

30

30

60

20

MVA

Trafo MVA

Beban Puncak

Gardu Induk

Kapasitas

33,3%

8,49

25,5

30

(MW)

Peak
Load

2012

(MVA)

Add
Trafo

35,7%

9,11

25,5

30

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2013

38,3%

9,76

25,5

30

66,8%

17,03

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

66,1%

16,84

25,5

30

53,8%

13,72

25,5

30

50,6%

12,91

25,5

30

45,7%

23,30

51,0

60

40,6%

10,36

25,5

30

71,7%

18,29

(MW)

Peak
Load

2 x 30

(MVA)

Add
Trafo

2015

67,1%

17,11

25,5

30

70,7%

18,04

25,5

30

62,5%

15,95

25,5

30

53,2%

13,58

25,5

30

48,1%

24,55

51,0

60

42,8%

10,91

25,5

30

76,2%

19,43

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

73,7%

18,80

25,5

30

75,5%

19,24

25,5

30

70,8%

18,04

25,5

30

55,9%

14,25

25,5

30

50,6%

25,82

51,0

60

45,0%

11,47

25,5

30

80,7%

20,58

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Lampung

80,9%

20,63

25,5

30

40,1%

20,46

51,0

60

78,9%

20,11

25,5

30

58,6%

14,94

25,5

30

53,1%

27,09

51,0

60

47,2%

12,03

25,5

30

85,2%

21,74

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2018

43,7%

22,31

51,0

60

42,6%

21,71

51,0

60

43,1%

21,98

51,0

60

61,3%

15,64

25,5

30

55,7%

28,41

51,0

60

49,4%

12,61

25,5

30

46,4%

11,82

(MW)

Peak
Load

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2019

46,9%

23,90

51,0

60

45,0%

22,97

51,0

60

45,2%

23,05

51,0

60

64,1%

16,35

25,5

30

58,3%

29,73

51,0

60

51,7%

13,19

25,5

30

48,8%

12,44

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

50,2%

25,60

51,0

60

47,6%

24,30

51,0

60

47,4%

24,18

51,0

60

67,0%

17,09

25,5

30

61,0%

31,11

51,0

60

54,1%

13,79

25,5

30

51,3%

13,09

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

143

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 143

04/02/2013 14:18:29

Pembebanan Trafo

DIVERSITY FACTOR

MW

Pembebanan Trafo

MW

MW

Beban Puncak

PEAK SYSTEM

MW

Terpasang

150/20

Pembebanan Trafo

GI DIPASENA

MW

MW

Beban Puncak

Terpasang

Pembebanan Trafo

70/20

MW

Beban Puncak

GI DIPASENA

MW

Terpasang

150/20

MW

Beban Puncak

GI BENGKUNAT

MW

150/20

Terpasang

GI PAKUAN RATU

Pembebanan Trafo

PEAK GI

28

28

27

MW

Beban Puncak

150/20

MW

GI LANGKAPURA

26

120

90

30

60

60

MVA

Trafo MVA

Terpasang

Gardu Induk

No.

Kapasitas

2012

1,05

693

727

73,1%

55,95

76,5

90

(MW)

Peak
Load

3 x 30

(MVA)

Add
Trafo

1,04

749

782

74,2%

56,79

76,5

90

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

1,04

809

845

75,4%

57,67

76,5

90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

1,06

931

989

65,9%

67,22

102,0

120

76,4%

58,48

76,5

90

(MW)

Peak
Load

2X60

(MVA)

Add
Trafo

2015

1,06

981

1.035

65,9%

67,22

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

69,9%

17,82

25,5

30

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

1,06

1.033

1.097

66,6%

67,97

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

74,6%

19,03

25,5

30

70,0%

35,69

51,0

60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Lampung

1,06

1.084

1.152

67,4%

68,73

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

79,4%

20,26

25,5

30

73,4%

37,44

51,0

60

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

1,06

1.138

1.209

68,1%

69,51

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

43,6%

11,12

25,5

30

42,2%

21,52

51,0

60

77,0%

39,25

51,0

60

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

1,06

1.192

1.264

68,9%

70,29

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

45,9%

11,70

25,5

30

44,7%

22,79

51,0

60

40,3%

41,06

102,0

120

(MW)

60

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

1,01

1.189

1.202

69,7%

71,08

102,0

120

68,0%

52,00

76,5

90

48,3%

12,31

25,5

30

47,3%

24,14

51,0

60

42,1%

42,96

102,0

120

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

144

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 144

04/02/2013 14:18:29

No.

MW

Pembebanan Trafo

MW

MW

Terpasang

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

Pembebanan Trafo

MW

MW

Terpasang

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

KOBA

150/20

MW

Beban Puncak

Supply 20 kV

MW

Terpasang

KELAPA

150/20

MW

Terpasang

Supply 20 kV

150/20

AIR ANYIR

Supply 20 kV

150/20

SUNGAILIAT

Supply 20 kV

MW

Beban Puncak

150/20

(1x30)

30

(1x30)

30

(1x20)

20

(1X30)

30

(2x30)

MVA

Trafo MVA

Terpasang

PANGKALPINANG

Gardu Induk

Kapasitas

39,4%

10,04

61,3%

15,62

15

52,4%

26,74

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2012

10

26,7%

6,80

10

52,0%

13,27

20

41,0%

20,90

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2013

61,2%
52%

15,60

35,6%

9,07

10

38,4%

9,80

10

35,3%

18,02

20

64,4%

32,85

(MW)

Peak
Load

49%

30

30

(MVA)

Add
Trafo

30

(MVA)

Add
Trafo

2015

57,3%

14,62

33,1%

8,44

10

33,6%

8,56

10

62,7%

15,99

20

53,6%

27,33

(MW)

Peak
Load

2014

56%

66,1%

16,85

38,8%

9,88

10

44,6%

11,37

10

40,3%

20,58

20

77,8%

39,68

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2016

61%

72,3%

18,43

42,8%

10,90

15

32,7%

8,35

15

36,8%

18,79

30

74,9%

38,20

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Bangka

34%

40,1%

20,46

47,9%

12,22

15

42,7%

10,90

15

44,9%

22,92

30

48,1%

49,08

(MW)

Peak
Load

30

60

(MVA)

Add
Trafo

2018

38%

45,2%

23,03

54,5%

13,89

15

27,7%

14,12

15

55,2%

28,16

30

61,7%

62,93

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2019

35%

41,7%

21,29

62,7%

15,99

15

35,7%

18,21

15

68,3%

34,81

30

79,1%

80,69

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2020

51%

59,8%

30,50

51,0

60

72,2%

18,41

25,5

30

54,4%

27,73

51,0

60

56,3%

43,04

76,5

90

63,4%

97,04

153,0

180

(MW)

Peak
Load

30

60

(MVA)

Add
Trafo

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

145

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 145

04/02/2013 14:18:29

No.

MW

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

MW

Terpasang

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

PEAK SYSTEM

DIVERSITY FACTOR

MW

PEAK GI

Suplai 20 kV

150/20

TOBOALI

Suplai 20 kV

150/20

MENTOK

(1x30)

30

(1x30)

30

MVA

Trafo MVA

Terpasang

Gardu Induk

Kapasitas

1,00

52,4

52,4

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2012
Peak
Load

1,00

41,0

41,0

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

1,00

74,9

74,9

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

1,00

85,3

85,3

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

1,00

102,0

102,0

14,4%

3,68

30,3%

7,74

(MW)

Peak
Load

30

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

1,00

99,4

99,4

18,3%

4,67

35,2%

8,97

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Bangka

1,00

121,5

121,5

23,3%

5,95

41,5%

10,57

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

1,00

149,7

149,7

29,7%

7,56

49,4%

12,59

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

1,00

180,6

180,6

37,7%

9,60

59,4%

15,14

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

1,00

246,0

246,0

43,5%

11,09

25,5

30

71,4%

18,20

25,5

30

(MW)

Peak
Load

(MVA)

Add
Trafo

2021

(lanjutan)

146

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 146

04/02/2013 14:18:29

MW

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

MW

DIVERSITY FACTOR

MW

PEAK SYSTEM

Supply 20 kV

MW

Pembebanan Trafo

70/20

MW

Beban Puncak

Terpasang

MW

Terpasang

SUGE

70/20

MANGGAR

Supply 20 kV

70/20

(1x30)

(1x20)

(1x30)

22,4

22,4

15,5%

3,96

25,5

30

29,8%

5,06

17,0

20

10

52,5%

13,37

25,5

30

MVA

Terpasang

(MW)

Trafo MVA

DUKONG

Gardu Induk

PEAK GI

No.

30

20

30

(MVA)

Add
Trafo

2012
Peak
Load

Kapasitas

22,3

22,3

17,5%

4,45

25,5

30

36,7%

6,24

17,0

20

15

45,6%

11,62

25,5

30

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2013
Peak
Load

27,4

27,4

19,4%

4,95

25,5

30

43,8%

7,45

17,0

20

15

58,9%

15,01

25,5

30

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2014

31,3

31,3

20,8%

5,31

25,5

30

49,2%

8,36

17,0

20

15

69,3%

17,66

25,5

30

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2015

36,3

36,3

22,6%

5,77

25,5

30

55,9%

9,51

17,0

20

15

41,1%

20,98

51,0

60

(MW)

Peak
Load

30

(MVA)

Add
Trafo

2016

42,4

42,4

24,9%

6,35

25,5

30

64,4%

10,95

17,0

20

15

49,3%

25,14

51,0

60

(MW)

Peak
Load
(MVA)

Add
Trafo

2017

Capacity Balance GI Belitung

50,4

50,4

27,8%

7,09

25,5

30

30,1%

12,80

42,5

50

15

59,8%

30,48

51,0

60

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2018
Peak
Load

60,4

60,4

31,5%

8,03

25,5

30

35,6%

15,15

42,5

50

15

48,7%

37,25

76,5

90

(MW)

30

(MVA)

Add
Trafo

2019
Peak
Load

73,2

73,2

36,2%

9,22

25,5

30

42,7%

18,14

42,5

50

15

60,0%

45,88

76,5

90

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2020
Peak
Load

37

37

55,8%

14,23

25,5

30

33,5%

14,23

42,5

50

48,4%

36,99

76,5

90

(MW)

(MVA)

Add
Trafo

2021
Peak
Load

Lampiran A1.5
RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 147

04/02/2013 14:18:30

148

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 148

04/02/2013 14:18:30

250 kV DC

1.002

Total

1.960

500 kV DC

275/150 kV

250 kV DC

150/20 kV

Total
1.990

30

500/150 kV

70/20 kV

500/275 kV

2012

70 kV

Trafo

275 kV
1.002

150 kV

500 kV DC

2012

500 kV AC

Transmisi
-

6.639

387

3.561

2.691

2014
-

3.968

3.556

412

2015

3.080

608

812

800

860

2016

1.690

878

462

350

2017

1.241

2.950

340

2.110

500

2013

8.540

80

2.210

6.250

2014

2.040

1.290

750

2015

7.300

30

1.020

1.250

3.000

500

1.500

2016

2.120

870

250

1.000

2017

279

300

662

2018

3.910

30

780

600

500

1.000

1.000

2018

Proyeksi Kebutuhan Fisik GI Sumatera

2.003

170

1.673

160

2013

630

30

600

2019

442

382

60

2019

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sumatera


-

1.180

930

250

2020

440

440

2020

1.200

1.200

2021

600

600

2021

31.860

540

12.970

600

9.750

3.000

1.500

3.500

Total

21.105

557

12.379

462

4.375

800

2.532

Total

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

149

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 149

04/02/2013 14:18:30

PLTU Meulaboh

Blang Pidie

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

Tele

Sidikalang

Galang

Padang Sidempuan

Rantau prapat

Dolok Sanggul/Parlilitan

Tanjung Morawa

Lamhotma

Galang

Galang

Banda Aceh

Takengon

PLTP Seulawah

Subulussalam

Takengon

Samalanga

Cot Trueng

PLTA Peusangan-1

PLTA Peusangan-2

Krueng Raya

Ulee Kareng

Brastagi

Sidikalang

Bireun

Panton Labu

Meulaboh

Jantho

Aceh

Dari

Sigli

Provinsi

Aceh

No

Ke

Pangururan

Salak

Negeri Dolok

Penyabungan

Labuhan Bilik

Inc. 1 Pi (Tele-Tarutung)

Kuala Namu

Belawan

Tanjung Morawa

Namurambe

Lam Pisang

PLTA Peusangan-4

2 Pi Inc. (Sigli-Banda Aceh)

Singkil

Blang Kjeren

Inc. 1 Pi (Bireun-Sigli)

Inc. 2 Pi (Bireun-Lhokseumawe)

PLTA Peusangan-2

Takengon

Ulee Kareng

Banda Aceh

Tapak Tuan

Blang Pidie

Kutacane

Subulussalam

Takengon

Inc. 1 Pi (Idi-Lhokseumawe)

PLTU Meulaboh

Inc. 1 Pi (Sigli-B. Aceh)

PLTU Meulaboh

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

Konduktor
cct, 2 Zebra
cct, 1 Hawk
cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

2nd cct, 2 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

4 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

Pengembangan Penyaluran Sumatera

26

60

66

140

130

76

34

20

80

30

20

32

120

174

14

22

60

40

130

190

290

111

126

60

333

kms

1,44

3,32

3,66

7,76

7,20

4,21

2,60

0,28

4,50

18,01

2,29

1,11

3,55

6,65

9,64

0,22

0,33

1,07

1,68

4,58

9,00

7,20

10,53

16,07

6,16

9,62

0,11

3,32

0,06

74,95

Juta USD

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2012

2012

2012

2018

2018

2018

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2012

COD

150

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 150

04/02/2013 14:18:30

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Riau

Riau

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

Provinsi

31

No

Teluk Kuantan

Garuda Sakti (up rate)

GI PLTMH 2

PLTP Sipoholon Ria-Ria

Tarutung

PLTA Hasang

Penyabungan

Tele (uprate)

Porsea (uprate)

GI PLTMH 2

GI PLTMH 1

GI/GIS Kota Medan

Selayang

Pancing

KIM 2

Simangkok

Pangkalan Susu

Tele (uprate)

Tarutung (uprate)

Perdagangan

GIS Listrik

GIS Mabar

PLTA Wampu

PLTU Sewa Sumbagut

Sibolga (uprate)

Sibolga (uprate)

PLTG P. Brandan

PLTU Nias

Teluk Dalam

Tanjung Pura

Dari

Rengat

Duri (up rate)

Singkil

Inc. 2 Pi (Tarutung-Porsea)

PLTP Simbolon Samosir

Inc. 1 pi (R. Prapat - Kisaran)

PLTP Sorik Marapi (FTP 2)

Sidikalan (uprate)

P. Siantar (uprate)

Sibolga

Dolok Sanggul

Paya Geli

Inc. 2 Pi (Paya Geli - Namurambe)

KIM 2

Inc. 2 Pi (KIM - Sei Rotan)

PLTA Asahan III(FTP 2)

Pangkalan Brandan

Tarutung (uprate)

Porsea (uprate)

Inc. 2 Pi (Kisaran-K. Tanjung)

GIS Glugur

KIM

Brastagi

Sibolga

Tarutung (uprate)

P. Sidempuan (uprate)

Pangkalan Brandan

Gunung Sitoli

PLTU Nias

Inc. 1 Pi (P.Brandan-Binjai)

Ke

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

70 kV

70 kV

150 kV

Tegangan
cct, 1 Hawk

cct, ACCC 310 mm2

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, CU 1000 mm

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, ACCC 310 mm2

cct, ACCC 310 mm2

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, ACSR 300 mm2

cct, ACSR 2x400 mm2

cct, ACSR 2x400 mm2

cct, 2 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, ACCC 310 mm


2

cct, ACCC 310 mm

cct, 1 Hawk

cct, CU 1000 mm2

cct, CU 1000 mm2

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

2 cct, ACCC 310 mm2

2 cct, ACCC 310 mm2

2 cct, 1 Hawk

Konduktor

Pengembangan Penyaluran Sumatera

110

194

230

140

50

50

46

80

150

14,81

30,77

10,69

0,44

2,77

2,77

2,55

10,70

20,07

8,40

3,88

22,20

10
70

0,28

3,36

0,84

1,68

4,95

20

22

22

21,41

16,59

124
160

2,22

11,10

11,10

4,43

2,29

13,38

19,00

0,76

1,11

12,19

1,66

Juta USD

40

80

30

100

142

10

20

220

30

kms

Lanjutan

2014

2013

2021

2019

2018

2017

2017

2017

2017

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

COD

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

151

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 151

04/02/2013 14:18:30

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

88

89

90

Provinsi

Riau

61

No

Dari

Padang Luar

Maninjau

Kiliranjao

Bungus

PLTU Sumbar Pesisir

Indarung

Air Raja

Sri Bintan

Tanjung Uban

Tanjung Taluk

Pulau Ngenang

Tanjung Sauh

Tanjung Kasam

Bangkinang

Kandis

Rengat

Tenayan/PLTU Riau

Pasir Putih

Garuda Sakti

Duri (up rate)

Rengat

PLTU Sewa Dumai

Tenayan / PLTU Riau

New Garuda Sakti

Pasir Putih

Dumai

Dumai

Tenayan / PLTU Riau

Pasir Putih

Bangkinang

Payakumbuh

Padang Luar

Teluk Kuantan

Kambang

Inc. 2 Pi (Bungus-Kambang)

Bungus

Kijang

Air Raja

Sri Bintan

Tanjung Uban

Tanjung Taluk

Pulau Ngenang

Tanjung Sauh

Lipat Kain

Inc. ( New G.Sakti - Duri)

Tembilahan

Siak Sri Indra Pura

Teluk Lembu

GIS Kota Pekan Baru

Dumai (up rate)

Pangkalan Kerinci

Dumai

Perawang

Inc. 2 Pi ( G.Sakti - Duri)

Pangkalan Kerinci

Bagan Siapi api

KID Dumai

Pasir Putih

Garuda Sakti

Pasir Pangarayan

Ke

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

Konduktor

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, ACCC 310 mm2

cct, 2 Hawk

cct, CU 1000 mm2

cct, ACCC 310 mm2

cct, ACCC 310 mm2

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 3 x 300 mm2

cct, 1 Hawk

cct, 3 x 300 mm2

2nd cct, 1 Hawk

2nd cct, 1 Hawk

2nd cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

Pengembangan Penyaluran Sumatera

32

42

52

180

20

35

40

70

60

60

12

10

70

10

120

100

40

14

118

220

14

50

12

134

228

56

35

55

220

kms

1,04

1,36

1,69

13,74

0,76

2,67

2,22

3,88

3,32

3,32

4,84

1,11

2,42

3,88

2,68

6,65

5,54

3,05

31,08

15,79

16,79

1,07

2,77

1,61

10,23

12,63

3,10

7,88

12,38

12,19

Juta USD

2014

2014

2014

2013

2012

2012

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

COD

Lanjutan

152

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 152

04/02/2013 14:18:30

Payakumbuh

Bangko

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Sumsel

Sumsel

Sumsel

94

95

96

97

98

99

100

101

102

103

104

105

106

107

108

109

110

111

112

113

114

115

116

117

118

119

120

Tanjung Api-Api

PLTU Simpang Belimbing

Lahat

PLTP Kepahiyang

Muko-muko/Bantal/Ipoh

Manna

PLTA Ketahun

Pekalongan

Kambang

Pulau Baai

PLTA Simpang Aur 1

PLTA Simpang Aur 1

Pekalongan

Pagar Alam

Muara Sabak

Sarolangun

PLTP Sungai Penuh

Muara Bulian

Muara Sabak

PLTG CNG Sei Gelam

PLTA Merangin

Solok

Pasaman

Simpang Empat

Muara Labuh/Batang Sangir

Sungai Rumbai

PIP/S Haru/Pauh Limo

Sumbar

Dari

93

Singkarak

92

Provinsi

Sumbar

91

No

Ke

Inc. 1 Pi (T. Kelapa-Borang)/Kenten

Lahat

Pagar Alam

Inc. 2 Pi (Pekalongan-Pulau Baai)

Arga Makmur

Bintuhan

Arga Makmur

PLTP Hululais

Muko-muko/Bantal/Ipoh

Arga Makmur

PLTA Simpang Aur 2

Inc. 1 Pi (Pekalongan-Pulau Baai)

Pulo Baai

Manna

Kuala Tungkal

Muara Rupit

Sungai Penuh

Sarolangun

Inc. 1 Pi ( Payo Selincah - Aur Duri )

Aur Duri

Sungai Penuh

PLTA Merangin

PLTP Bonjol

PLTP Gunung Talang

Simpang Empat

Masang-2

PLTP Muara Labuh

PLTP Muara Labuh

GI/GIS Kota Padang

Batusangkar

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

Konduktor

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

2nd cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 x 340 mm2

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

2 cct, 2 x 330 mm2

2 cct, 2 x 330 mm

2 2nd cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

Pengembangan Penyaluran Sumatera

40

120

95

80

360

140

60

120

220

180

12

20

90

96

109

80

84

130

122

60

110

136

104

20

60

30

60

160

16

25

kms

3,62

10,86

5,24

6,11

27,48

7,76

4,58

9,16

16,79

13,74

0,66

1,53

6,87

5,32

6,03

4,43

4,65

7,20

3,64

3,32

24,76

30,61

7,94

1,11

3,32

1,66

4,58

12,21

0,89

0,81

Juta USD

2013

2012

2012

2020

2020

2017

2017

2016

2015

2015

2015

2015

2013

2012

2018

2015

2015

2014

2013

2013

2013

2013

2019

2019

2017

2017

2017

2017

2016

2014

COD

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

153

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 153

04/02/2013 14:18:30

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

122

123

124

125

126

127

128

129

130

131

132

133

134

135

136

137

138

139

140

141

142

143

144

145

146

147

148

149

150

Provinsi

Sumsel

No

121

Dari

Kalianda

Gedon Tataan

Pagelaran

PLTP Ulubelu #3,4

Bukit Kemuning

Pagelaran

Menggala

Sutami (uprate)

Seputih Banyak

Bukit Kemuning (uprate)

Ulubelu

PLTU Tarahan (FTP1)

Muara Dua

Martapura

Lahat

Lahat

Muara Dua

Lubuk Linggau

Sungai Lilin

Tugumulyo

Baturaja (uprate)

Kayu Agung

Mariana

Jakabaring

Borang (uprate)

Bukit Asam (uprate)

Gandus

Betung

Betung

Kenten

Ketapang

Teluk Ratai

Gedong Tataan

Ulubelu

Liwa

Kota Agung

Seputih Banyak

Natar (uprate)

Dipasena

Kotabumi (uprate)

Inc. 1 Pi (Batutegi - Pagelaran)

Inc. 2 Pi (New Tarahan - Kalianda)

PLTP Danau Ranau

Inc. 2 pi (Baturaja-B. Kemuning)

PLTU Keban Agung

PLTU Banjar Sari

Martapura

Tebing Tinggi

Betung

Inc. 2 Pi (Kayu Agung - Gumawang)

Bukit Kemuning (uprate)

Gumawang

Kayu Agung

Inc. 2 Pi (Keramasan - Mariana)

Seduduk Putih (uprate)

Baturaja (uprate)

Inc. 2 Pi (Keramasan - Talang Kelapa)

Talang Kelapa

Sekayu

Inc. 2 Pi ( Talang Kelapa - Borang )

Ke

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

70 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

70 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

Konduktor

cct, CU 1000 mm2

2nd cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 x 330 mm2

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, ACCC 310 mm2

cct, 1 Hawk

cct, ACCC 310 mm2

cct, 2 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, 2 x 330 mm2

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, ACCC 310 mm2

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 x 330 mm

2 cct, ACCC

2 cct, ACCC 310 mm2

Pengembangan Penyaluran Sumatera

0,09

90
40

96

90

60

60

20

80

80

120

60

120

68

40

90

120

70

40

92

150

6,87

3,32

4,58

1,11

4,43

4,43

27,01

8,08

9,16

9,04

3,05

0,23

6,87

6,65

15,76

3,62

7,02

8,31

6,65

9,00

12,84

20,26

13,50

1
60

0,70

10,44

44,40

8,43

3,88

0,09

Juta USD

78

20

55

70

120

kms

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2012

2012

2019

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

COD

Lanjutan

154

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 154

04/02/2013 14:18:30

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Aceh

Aceh

Aceh

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

156

157

158

159

160

161

162

163

164

165

166

167

168

169

10

Lampung

155

Lampung

153

154

Lampung

152

Provinsi

151

No

PLTA Batang Toru

Sumut-2 (Rantau Prapat)

Padang Sidempuan

Sumut-4 (Sarulla)

Sumut-3 (Galang)

Simangkok

Pangkalan Susu

Sigli

Pangkalan Susu

Sigli

Tanjung Api-Api

Koba

Kelapa

Pangkal Pinang

Pangkal Pinang

Dukong

Suge

Air Anyir

Air Anyir

Teluk Ratai

Liwa

Besai

Kalianda

Langkapura

Pakuan Ratu

Sukarame

PLTA Semangka

Mesuji

Gumawang

Dari

Sumut-4 (Sarulla)

Sumut-4 (Sarulla)

Sumut-4 (Sarulla)

Simangkok

Binjai

Sumut-3 (Galang)

Binjai

Ulee Kareng

Lhokseumawe

Lhokseumawe

Mentok

Toboali

Mentok

Koba

Kelapa

Manggar

Dukong

Sungai Liat

Pangkal Pinang

PLTP Wai Ratai

Bengkunat

PLTP Suoh sekincau

PLTP Rajabasa

Inc. 2 Pi (Natar - Teluk Betung)

Blambangan Umpu

Jatiagung

Kota Agung

Dipasena

Mesuji

Ke

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

70 kV

70 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, Under Sea Cable XLPE 300

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 1 Hawk

cct, 2 Zebra

cct, CU 1000 mm

cct, 1 Hawk

cct, 2 Hawk

cct, 2 Hawk

Konduktor

Pengembangan Penyaluran Sumatera

40

220

138

194

160

318

160

130

360

322

120

120

140

120

120

140

50

112

44

40

120

38

40

30

16

60

152

160

kms

9,00

49,52

31,06

43,67

36,01

71,57

36,01

0,99

81,03

72,47

126,32

6,65

10,69

6,65

6,65

7,76

2,77

6,20

2,44

2,22

6,65

2,11

3,05

0,11

6,75

35,52

3,32

11,60

12,21

Juta USD

Lanjutan

2018

2018

2014

2014

2014

2014

2013

2016

2016

2016

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2013

2012

2012

2019

2019

2018

2017

2017

2016

2016

2016

2015

2015

COD

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

155

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 155

04/02/2013 14:18:30

Lampung

Sumsel

26

Sumsel

Jambi

25

34

Jambi

24

33

Jambi

23

Sumsel

Sumbar

22

Sumsel

Sumbar

21

32

Sumbar

20

Sumsel

Riau

19

31

Riau

18

30

Riau

17

Sumsel

Riau

16

Sumsel

Riau

15

29

Riau

14

28

Riau

13

Sumsel

Sumut

27

Sumut

12

Provinsi

11

No

Ketapang

PLTU Jambi (KPS)

PLTP Rantau Dedap

Muara Enim

Muara Enim

Muara Enim

Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5

Lumut Balai

Lahat

Muara Enim

New Aur Duri

Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5

Sungai Rumbai

Padang Sidempuan

Kiliranjao

Sumatera Landing Point

P. Rupat Selatan

Pulau Rupat Utara

Border

Rengat

Rengat

Payakumbuh

Sumut-2 (Rantau Prapat)

Sumut-2 (Rantau Prapat)

Dari

perbatasan Sumsel/Lampung

Inc. 2 pi (Muara Enim - New Aur Duri)

Lumut Balai

perbatasan Sumsel/Lampung

Betung

Inc. 2 Pi (Gumawang-Lumut Balai)

Sungai Lilin/PLTU Sumsel-7

Gumawang

Lumut Balai

New Aur Duri

Rengat

New Aur Duri

Inc. 2 pi (Muara Bungo - Kiliranjao)

Payakumbuh

Payakumbuh

New Garuda Sakti

Sumatra Landing Point

Pulau Rupat Selatan

Pulau Rupat

PLTU Riau Kemitraan

New Garuda Sakti

New Garuda Sakti

New Garuda Sakti

Sumut-1 (Sei Rotan)

Ke

500 kV DC

500 kV

275 kV

500 kV DC

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

500 kV

500 kV

275 kV

275 kV

275 kV

275 kV

250 kV DC

250 kV DC

250 kV DC

250 kV DC

500 kV

500 kV

275 kV

500 kV

500 kV

Tegangan

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2xCardinal 548 mm2

Cable MI with IRC

cct, 2xCardinal 548 mm2

Cable MI with IRC

cct, 2 Zebra

cct, 4 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 4 Zebra

cct, 4 Zebra

cct, 2 Zebra

cct 4 Falcon

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct, 2 Zebra

cct 4 Falcon

4 cct, 4 Zebra

2 cct, 2 Zebra

2 cct, 2 Zebra

2 cct, 4 Zebra

2 cct, 2 Zebra

2 cct, 4 Zebra

Konduktor

Pengembangan Penyaluran Sumatera

600

60

40

200

350

60

124

405

50

240

420

120

600

282

340

10

60

52

110

440

300

600

662

kms

6,23

24,00

9,00

2,50

78,78

13,50

27,91

91,16

11,25

21,60

168,00

27,01

0,15

135,05

63,47

5,80

1,50

1,97

0,39

44,00

176,00

67,52

240,00

264,80

Juta USD

2016

2018

2018

2016

2015

2015

2014

2014

2014

2017

2016

2014

2015

2015

2014

2017

2017

2017

2017

2017

2016

2014

2020

2018

COD

Lanjutan

156

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 156

04/02/2013 14:18:30

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

Provinsi

Aceh

No

Nama Gardu Induk

Jantho

Bireuen

Singkil

Takengon

Banda Aceh

Sigli

Blang Kjeren

Samalanga

Bireun

PLTA Peusangan

Ulee Kareng

Banda Aceh

Blang Pidie

PLTU Meulaboh

Ulee Kareng

Lhokseumawe

Krueng Raya

Takengon

Idi

Cot Trueng

Langsa

Tapak Tuan

Blang Pidie

Kutacane

Subulussalam

PLTU Meulaboh

Meulaboh

Tualang Cut

Panton Labu

Jantho

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 4 LB, 1 BC

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 6 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Scope Proyek

30

30

30

2 LB

60

60

30

30

2 LB

4 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

120

60

60

60

30

30

30

30

30

30

30

2 LB

60

30

30

30

MVA/LB

1,27

1,27

3,06

1,23

1,37

1,37

3,06

3,06

1,23

3,03

1,23

1,23

1,23

1,23

4,54

1,37

4,33

4,33

1,27

5,53

1,27

3,06

3,06

3,06

3,06

1,23

4,33

1,27

3,06

3,06

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2016

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2013

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Arah Blang Kjeren

Uprating 30 MVA

Uprating trafo 10 MVA

GI baru

GI baru

Arah PLTA Peusangan

Arah Takengon dan Bireun

Arah Krueng Raya

Arah Ulee Kareng

Arah Tapak Tuan

Arah Blang Pidie

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Arah Lhokseumawe, Bireun & PLTG

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Meulaboh

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

157

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 157

04/02/2013 14:18:30

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Aceh

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

Provinsi

Aceh

31

No

Nama Gardu Induk

Glugur

Sei Rotan

Pematang Siantar

Denai

Binjai

Tanjung Morawa

Kuala Namu

Labuhan

Lamhotma

Aek Kanopan

Tarutung

Sidikalang

Padang Sidempuan

Gunung Tua

Porsea

Ulee Kareng

Sigli

Lhokseumawe

Jantho

Subulussalam

Bireun

Tualang Cut

Samalanga

Cot Trueng

Panton labu

Banda Aceh

Lam Pisang

Tualang Cut

Meulaboh

Subulussalam

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 TB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Scope Proyek

60

60

60

60

60

60

60

30

30

30

30

30

30

30

20

60

60

60

30

30

30

30

30

30

30

2 TB

120

30

30

2 LB

MVA/LB

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

4,33

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

1,02

1,37

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

3,06

1,04

4,54

1,27

1,27

1,23

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2021

2021

2021

2021

2020

2020

2020

2019

2019

2019

2018

2018

2018

2017

2016

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 10 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 30 MVA

Uprating trafo 30 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Arah Lam Pisang

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah Singkil

Lanjutan

158

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 158

04/02/2013 14:18:30

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

88

89

90

Provinsi

61

No

Padang Sidempuan

Labuhan Bilik

Negeri Dolok

Salak

Penyabungan

Teluk Dalam

Gunung Sitoli

Kota Pinang

Tanjung Pura

Pangururan

Brastagi

Sidikalang

Tanjung Marowa

Galang

Dolok Sanggul/Parlilitan

Paya Pasir

Kisaran

Lamhotma

Tele

Gunung Para

Denai

Namurambe

Belawan

Lamhotma

Tebing Tinggi

Namurambe

Perbaungan

Sibolga

Brastagi

Rantau Prapat

Nama Gardu Induk

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 4 LB

New, 2 LB, 3 TB, 1 BC, 3 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 2 TB, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

2 LB

60

60

60

60

30

30

30

30

30

2 LB

2 LB

2 LB

4 LB

90

60

60

30

30

30

2 LB

2 LB

1 LB

1 LB

120

60

60

60

60

60

MVA/LB

1,23

3,17

4,33

4,33

4,33

2,41

2,41

1,27

3,06

3,06

1,23

1,23

1,23

2,47

5,59

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,23

1,23

0,62

0,62

2,75

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

2012

COD

Lanjutan

Arah Penyabungan

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

ke Kuta Cane

ke Subulussalam

Arah Kuala Namu

Arah Namurambe dan

GI baru

Ekstensien trafo

Uprating trafo 30 MVA

Uprating trafo 20 MVA

Uprating trafo 10 MVA

Uprating trafo 10 MVA

Arah Galang

Arah Galang

Sirkit kedua Arah Lamhotma

Sirkit kedua Arah Belawan

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 20 MVA

Uprating trafo 30 MVA

Keterangan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

159

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 159

04/02/2013 14:18:30

Mabar

GIS Listrik

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

94

95

96

97

98

99

100

101

102

103

104

105

106

107

108

109

110

111

112

113

114

115

116

117

118

119

120

Selayang

Tarutung

GI/GIS Kota Medan

Perdagangan

Penyabungan

Paya Geli

Sei Rotan

Rantauprapat

GIS Listrik

Titi Kuning

Tanjung Pura

Simangkok

GI/GIS Kota Medan

GI PLTMH 2

GI PLTMH 1

Selayang

Pancing

KIM 2

Rantau Prapat

Brastagi

Glugur

KIM

Pangkalan Susu

Pangkalan Brandan

Perdagangan

Tele

Galang

Sumut

93

Nama Gardu Induk

Sidikalang

92

Provinsi

Sumut

91

No

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 TB

Ext, 2 TB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC

Ext, 2 LB

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Scope Proyek

60

2 LB

60

60

2 LB

60

2 TB

2 TB

60

60

30

2 LB

120

60

60

60

60

60

2 LB

2 LB

1 LB

1 LB

1 LB

1 LB

2 LB

2 LB

60

2 LB

2 LB

2 LB

MVA/LB

1,37

1,23

1,37

1,37

1,23

1,37

1,04

1,04

1,37

1,37

1,27

1,23

5,77

4,33

4,33

4,40

3,17

3,17

1,23

1,23

0,62

0,62

0,62

0,62

2,31

1,23

5,56

1,23

1,23

1,23

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2020

2019

2019

2019

2018

2018

2018

2018

2017

2017

2017

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Arah PLTP Pusuk Bukit

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah PLTP Sorik Merapi

Ekstensien trafo

Untuk IBT 500/150 kV

Untuk IBT 500/150 kV

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ke arah PLTA Asahan III

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Labuhan Bilik

Arah PLTA Wampu

Arah GIS Listrik

Arah Glugur

Arah KIM

Arah Mabar

1 TB untuk IBT, Arah P.vBrandan

Arah PLTU Pangkalan Susu

GI baru

Arah Pangururan

Arah Negeri Dolok

Arah Salak

Lanjutan

160

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 160

04/02/2013 14:18:31

Sumut

Sumut

Sumut

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

122

123

124

125

126

127

128

129

130

131

132

133

134

135

136

137

138

139

140

141

142

143

144

145

146

147

148

149

150

Provinsi

Sumut

No

121

Nama Gardu Induk

Kandis

Siak Sri Indra Pura

Tembilahan

Pasir Putih

Dumai

Dumai

Teluk Kuantan

Bangkinang

Garuda Sakti

Teluk Kuantan

New Garuda Sakti

Garuda Sakti

Rengat

Pasir Putih

Perawang

Pangkalan Kerinci

Bagan Siapiapi

Kawasan Industri Dumai (KID)

Kawasa Industri Tenayan (KIT)

Pasir Pangaraian

Dumai

Teluk Lembu

Duri

PLTG Duri

Bagan Batu

Bangkinang

Brastagi

Paya Geli

Rantau Prapat

Kisaran

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 LB

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 2 TB, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

30

30

30

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

1 LB

120

80

60

60

30

30

30

30

30

30

60

60

60

60

30

30

60

60

60

60

MVA/LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

4,29

3.06

3,06

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

0,62

5,77

2,75

4,33

5,56

3,06

3,06

3,06

3,06

3,06

3,06

1,37

1,37

1,37

4,40

1,27

1,27

1,37

1,37

1,37

1,37

Juta USD

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2012

2012

2012

2012

2012

2021

2021

2021

2021

COD

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Pangkalan Kerinci

Arah Bagan Siapiapi

Arah KID Dumai

Arah Rengat

Arah Pasir Pangaraian

Arah Pasir Putih

Sirkit kedua arah Kiliranjao

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Uprating trafo 30 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Keterangan

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

161

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 161

04/02/2013 14:18:31

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Kepri

Sumbar

Sumbar

Sumbar

152

153

154

155

156

157

158

159

160

161

162

163

164

165

166

167

168

169

170

171

172

173

174

175

176

177

178

179

180

Provinsi

Riau

No

151

Nama Gardu Induk

Pauh Limo

Bungus

Simpang Empat

Sri Bintan

Tanjung Uban

Tanjung Uban

Kijang

Air Raja

Sri Bintan

Pulau Ngenang

KIT Tenayan

Bangkinang

Teluk Kuantan

Bagan Batu

KID Dumai

Tembilahan

Duri

KIT Tenayan

Teluk Kuantan

Pasir Putih

Bangkinang

Bangkinang

Tenayan

Rengat

Tenayan

Pasir Putih

Teluk Lembu

Garuda Sakti

GI/GIS Kota Pekanbaru

Lipat Kain

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 TB, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Scope Proyek

60

30

20

60

60

60

60

60

30

10

60

60

30

30

30

30

60

30

30

120

60

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

60

30

MVA/LB

1,37

4,29

0,52

1,37

1,37

4,40

4,33

5,56

4,29

4,05

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,27

1,37

1,27

1,27

2,75

1,37

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

3,17

3,06

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatra

2012

2012

2012

2021

2015

2013

2013

2013

2013

2013

2021

2021

2021

2020

2019

2019

2017

2017

2017

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

COD

Keterangan

Uprating trafo 30 MVA

GI baru

Relokasi trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah Lipat Kain

Arah Siak Sri Indra Pura

Arah Tembilahan

Arah Perawang

Arah Teluk Lembu

Arah Pasir Putih

Arah GI/GIS Kota Pekanbaru

GI baru

GI baru

Lanjutan

162

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 162

04/02/2013 14:18:31

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

182

183

184

185

186

187

188

189

190

191

192

193

194

195

196

197

198

199

200

201

202

203

204

205

206

207

208

209

210

Provinsi

Sumbar

No

181

Nama Gardu Induk

Lubuk Alung

Simpang Empat

PLTP Muara Labuh

Sungai Rumbai

Simpang Empat

Pasaman

Muara Labuh/Batang Sangir

Solok

Kambang

Bungus

PIP

GI/GIS Kota Padang

Payakumbuh

Kiliranjao

Kambang

Sungai Rumbai

Singkarak

Batusangkar

Payakumbuh

Padang Luar

Maninjau

Kiliranjao

Padang Luar

Maninjau

Payakumbuh

Salak

Padang Panjang

Simpang Empat

Kambang

Solok

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 2 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

30

2 LB

2 LB

2 LB

60

60

60

30

30

30

2 LB

120

30

30

2 LB

30

1 LB

1 LB

1 LB

2 LB

1 LB

1 LB

60

30

30

30

30

30

30

60

MVA/LB

1,27

1,23

1,23

1,23

1,37

4,33

4,33

1,27

1,27

1,27

1,23

4,54

1,27

1,27

1,23

2,35

0,62

0,62

0,62

1,23

0,62

0,62

1,37

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

3,06

1,37

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2018

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2016

2016

2016

2016

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2012

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Arah Pasaman

Arah Muara Labuh/Batang Sangir

Arah PLTP Muara Labuh

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah GI/GIS Kota Padang

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah Muko-Muko/Bantal/Ipuh

1 TB untuk IBT 275/150 kV, GI baru

Sirkit kedua arah Batusangkar

Sirkit kedua arah Singkarak

Sirkit kedua arah Padang Luar

Arah Maninjau & Payakumbuh

Sirkit kedua arah Padang Luar

Sirkit kedua arah Teluk Kuantan

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Uprating trafo 20 MVA

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

163

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 163

04/02/2013 14:18:31

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

212

213

214

215

216

217

218

219

220

221

222

223

224

225

226

227

228

229

230

231

232

233

234

235

236

237

238

239

240

Provinsi

Sumbar

No

211

Nama Gardu Induk

Muara Sabak

PLTA Merangin

Muaro Bungo

Aurduri

Kuala Tungkal

Payoselincah

Sungai Penuh

PLTP Sungai Penuh

Sarolangun

Sungai Penuh

Muara Bulian

Bangko

Muaro Bungo

Sarolangun

Sungai Penuh

Muaro Bulian

Bangko

Payoselincah

Muara Sabak

Payoselincah

Aurduri

Pauh Limo

Salak

Indarung

GIS Kota Padang

PIP

Batusangkar

Padang Luar

Pariaman

Sungai Rumbai

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 2 LB

Ext, 4 LB, 1 BC

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 BC

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 4 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

2 LB

4 LB

60

60

30

60

2 LB

2 LB

2 LB

30

2 LB

2 LB

60

30

30

60

60

60

30

4 LB

60

60

60

30

60

60

30

30

30

30

MVA/LB

1,23

3,03

1,37

1,37

3,06

1,37

1,23

1,79

1,23

1,27

1,23

1,23

1,37

3,06

3,06

1,37

1,37

1,37

3,06

2,47

1,37

1,37

1,37

1,27

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,27

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2018

2018

2018

2018

2018

2017

2016

2016

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2012

2012

2021

2021

2021

2020

2020

2020

2019

2019

2018

COD

Keterangan

Arah Kuala Tungkal

Arah Bangko dan Sungai Penuh

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Ekstensien trafo

Arah PLTP Sungai Penuh

Arah Sungai Penuh

Arah Muara Rupit

Ekstensien trafo

Arah Sarolangun

Arah Sungai penuh

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Arah PLTG & PLTMG

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Lanjutan

164

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 164

04/02/2013 14:18:31

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

242

243

244

245

246

247

248

249

250

251

252

253

254

255

256

257

258

259

260

261

262

263

264

265

266

267

268

269

270

Provinsi

Jambi

No

241

Nama Gardu Induk

Kenten

Lubuk Linggau

Baturaja

Talang Kelapa

Tanjung Api-Api

Bukit Siguntang

Sekayu

Bungaran

Bungaran

Pagar Alam

Lubuk Linggau

Bukit Siguntang

Muko-muko/Bantal/Ipuh

Manna

Pulau Baai

Bintuhan

Pekalongan

Pulau Baai

Argamakmur

Muko-muko/Bantal/Ipuh

Manna

Pekalongan

Pulau Baai

Pekalongan

Manna

Sungai Penuh

Payoselincah

Sarolangun

Bangko

Muara Sabak

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

New, 6 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

120

60

60

60

60

30

30

30

30

2 LB

60

30

2 LB

2 LB

60

30

2 LB

2 LB

30

30

30

2 LB

120

30

30

30

60

30

30

30

MVA/LB

7,01

1,37

1,37

1,37

4,33

1,05

3,06

1,05

1,05

1,23

1,37

1,05

1,23

1,23

1,37

3,06

1,23

1,23

3,06

3,06

1,27

1,23

4,54

1,27

3,06

1,27

1,37

1,27

1,27

1,27

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2012

2012

2012

2020

2017

2017

2017

2016

2015

2015

2015

2015

2013

2013

2013

2012

2021

2020

2020

2020

2019

COD

Keterangan

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Uprating trafo 15 MVA

GI baru

Uprating trafo 10 MVA

Uprating trafo 15 MVA

Arah Manna

Uprating trafo 20 MVA

Uprating trafo 15 MVA

Arah Argamakmur

Arah Bintuhan

Ekstensien trafo

GI baru

Arah Hululais

Arah Argamakmur

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Arah Pulo Baai

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

165

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 165

04/02/2013 14:18:31

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

272

273

274

275

276

277

278

279

280

281

282

283

284

285

286

287

288

289

290

291

292

293

294

295

296

297

298

299

300

Provinsi

Sumsel

No

271

Nama Gardu Induk

Sungai Lilin

Prabumulih

Pendopo

Lahat

Martapura

Betung

Lubuk Linggau

Tugumulyo

Muara Rupit

Martapura

Mariana

Muara dua

Sungai Lilin

Tebing Tinggi

Gumawang

Keramasan

Gumawang

Mariana

Bukit Asam

Keramasan

Jakabaring

Baturaja

Prabumulih

Kayu Agung

Pagar Alam

Lahat

Betung

Pagar Alam

Lahat

Gandus

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 4 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 LB

Ext, 1 LB

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Scope Proyek

30

2 LB

30

4 LB

2 LB

2 LB

2 LB

30

30

30

30

30

30

30

30

2 LB

2 LB

2 LB

60

60

60

60

60

30

30

30

2 LB

1 LB

1 LB

120

MVA/LB

1,27

1,23

3,06

2,47

1,23

1,23

1,23

4,29

3,06

4,29

1,27

3,06

3,06

3,06

1,27

1,23

1,23

1,23

1,37

1,37

4,40

1,37

1,37

4,29

1,27

1,27

1,23

0,62

0,62

5,77

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2017

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Arah Prabumulih

GI baru

Arah Banjar Sari & Keban Agung

Arah Muara dua

Arah Sungai Lilin

Arah Tebing Tinggi

GI baru

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Untuk PLTGU Keramasan

Arah Kayu Agung

Arah Kayu Agung

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Uprating trafo 10 MVA

Uprating trafo 10 MVA

Arah Sekayu

Sirkit kedua arah Lahat

Sirkit kedua arah Pagar Alam

GI baru

Lanjutan

166

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 166

04/02/2013 14:18:31

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

302

303

304

305

306

307

308

309

310

311

312

313

314

315

316

317

318

319

320

321

322

323

324

325

326

327

328

329

330

Provinsi

Sumsel

No

301

Nama Gardu Induk

Dipasena

Sribawono

Metro

New Tarahan

Pagelaran

Natar

Menggala

Sukarame

New Tarahan

Bukit Kemuning

Kotabumi

Adijaya

Kalianda

Ulubelu

Talang Kelapa

Tebing Tinggi

Sekayu

Betung

Simpang Tiga

Gandus

Pendopo

Tebing Tinggi

Sekayu

Kayu Agung

Betung

Bukit Asam

Talang Kelapa

Kenten

Pagar Alam

Keramasan

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

New, 2 LB, 3 TB, 1 BC, 3 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

90

60

60

60

60

60

30

30

30

60

60

30

30

30

60

30

30

30

60

60

30

30

30

30

30

60

60

60

30

60

MVA/LB

4,51

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,37

1,37

1,27

1,27

3,06

1,37

1,27

1,27

1,27

1,37

1,37

1,27

1,27

1,27

1,27

1,27

1,37

1,37

1,37

1,27

1,37

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2013

2012

2012

2012

2012

2012

2021

2021

2021

2021

2020

2020

2020

2020

2020

2020

2019

2018

2018

2018

2018

2017

COD

Keterangan

GI baru

Uprating trafo 20 MVA

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 15 MVA

Ekstensien trafo

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

167

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 167

04/02/2013 14:18:31

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

332

333

334

335

336

337

338

339

340

341

342

343

344

345

346

347

348

349

350

351

352

353

354

355

356

357

358

359

360

Provinsi

Lampung

No

331

Nama Gardu Induk

Kalianda

Langkapura

Sukarame

Menggala

New Tarahan

Jati Agung

Pakuan Ratu

Sutami

Adijaya

Blambangan Umpu

Mesuji

Gedong Tataan

Gumawang

Pagelaran

Kalianda

Dipasena

Gedong Tataan

Teluk Ratai

Mesuji

Ketapang

Bukit Kemuning

Pagelaran

Kotabumi

Tegineneng

Seputih Banyak

Liwa

Kota Agung

Menggala

Sribawono

Seputih Banyak

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

Tegangan

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Scope Proyek

2 LB

60

2 LB

60

60

30

30

30

30

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

2 LB

120

60

30

30

30

2 LB

2 LB

60

60

30

30

30

2 LB

2 LB

100

MVA/LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

1,23

3,17

1,23

1,37

1,37

3,06

3,06

1,27

1,27

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

1,23

4,54

4,33

3,06

3,06

3,06

1,23

1,23

1,37

1,37

1,27

3,06

3,06

1,23

1,23

2,41

Juta USD

2017

2017

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2016

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

COD

Keterangan

Arah PLTP Raja Basa

GI baru

Arah Jati Agung

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah Pakuan Ratu

Arah Dipasena

Arah Teluk Ratai

Arah Mesuji

Arah Gedon Tataan

Arah Ketapang

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Liwa

Arah Kota Agung

Uprating trafo 20 MVA

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Arah Seputih Banyak

Arah Seputih Banyak

GI baru

Lanjutan

168

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 168

04/02/2013 14:18:31

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Lampung

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

362

363

364

365

366

367

368

369

370

371

372

373

374

375

376

377

378

379

380

381

382

383

384

385

386

387

388

389

390

Provinsi

361

No

Kelapa

Koba

Toboali

Mentok

Sungai Liat

Koba

Kelapa

Manggar

Pangkal Pinang

Suge

Dukong

Pangkal Pinang

Air Anyir

Sungai Liat

Adijaya

Bukit Kemuning

Seputih Banyak

Langkapura

Sribawono

Kotabumi

Teluk Ratai

Liwa

Sukarame

Ketapang

Jati Agung

Pakuan Ratu

Bengkunat

Besai

Tegineneng

Mesuji

Nama Gardu Induk

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 4 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

2 LB

30

30

30

30

30

30

20

4 LB

30

30

60

30

30

60

60

60

60

60

60

2 LB

2 LB

60

30

30

30

30

2 LB

60

30

MVA/LB

1,23

3,06

3,06

3,06

1,27

3,06

3,06

2,18

2,47

2,41

3,34

4,33

4,29

3,06

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

1,37

1,23

1,23

1,37

1,27

1,27

1,27

3,06

1,23

1,37

1,27

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2013

2013

2013

2012

2012

2012

2021

2021

2021

2020

2020

2020

2019

2019

2019

2019

2019

2019

2019

2018

2018

2018

COD

Arah Mentok

Arah Toboali

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Kelapa dan Koba

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Uprating trafo 30 MVA

Ekstensien trafo

Arah PLTP Wai Ratai

Arah Bengkunat

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

Arah PLTP Suoh Sekincau

Uprating trafo 20 MVA

Ekstensien trafo

Keterangan

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

169

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 169

04/02/2013 14:18:31

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

Babel

392

393

394

395

396

397

398

Provinsi

Babel

No

391

Nama Gardu Induk

Sungai Liat

Pangkal Pinang

Dukong

Air Anyir

Manggar

Koba

Pangkal Pinang

Dukong

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

70/20 kV

Tegangan

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Scope Proyek

30

60

30

30

30

30

30

30

MVA/LB

1,27

1,37

1,05

1,27

1,05

1,27

1,27

1,05

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2021

2020

2019

2019

2018

2018

2018

2016

COD

Keterangan

Ekstensien trafo

Uprating trafo 30 MVA

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Lanjutan

170

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 170

04/02/2013 14:18:31

Sumut-3

Sumut-4

Aceh

Aceh

Aceh

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Sumut

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Riau

Sumbar

Sumbar

Sumbar

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

Jambi

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

Nama Gardu Induk

PLTU Jambi

New Aur Duri

New Aur Duri

New Aur Duri

Muara Bungo

Bangko

Sungai Rumbai

Payakumbuh

Kiliranjao

HVDC Switching Station

New Garuda Sakti HVDC Sta. Converter

PLTU Riau Kemitraan

Rengat

Rengat

New Garuda Sakti

New Garuda Sakti

Sumut-1

Sumut-2

Sumut-4

Pangkalan Susu

Padang Sidempuan

Pangkalan Susu

Binjai

Sigli

PLTU Meulaboh

Ulee Kareng

Lhokseumawe

Aceh

Sigli

Provinsi

Aceh

No

500 kV

500/275 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

250 kV DC

250 kV DC

500 kV

500 kV

500/150 kV

500/275 kV

275/150 kV

500/150 kV

500/275 kV

275 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

Tegangan

New

New

Ext

New

New

New

New

New

New

New

New

New

Ext

New

New

New

New

New

Ext

Ext

New

New

New

New

New

Ext

New

New

New

New

Scope Proyek

500

500

250

250

250

250

250

600

500

1000

500

1000

1000

250

500

500

1000

500

250

500

250

250

MVA/LB

9,82

25,77

7,45

25,98

20,08

21,08

20,17

20,17

19,66

16,68

19,95

9,82

3,12

25,77

36,22

24,28

40,54

40,54

4,32

21,03

21,88

24,00

35,13

9,11

31,83

7,45

20,08

25,98

20,08

25,98

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2018

2016

2016

2014

2014

2014

2015

2014

2014

2017

2017

2017

2017

2016

2016

2014

2018

2018

2018

2016

2014

2014

2014

2013

2013

2017

2017

2016

2016

2016

COD

Keterangan

GITET baru

GITET baru

Untuk IBT 500/275 kV

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

HVDC Sumatera - Peninsula

HVDC Sumatera - Peninsula

GITET baru

Arah PLTU Riau Kemitraan

GITET baru

GITET baru

GITET baru

Lokasi tentatif di Sei Rotan

Lokasi tentatif di Rantau Prapat

Arah PLTA dan Rantau Prapat

Ekstensien trafo

GITET baru

Lokasi tentatif di Sarulla

Lokasi tentatif di Galang

GITET baru

GITET baru

Arah PLTU Meulaboh

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

Lanjutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

171

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 171

04/02/2013 14:18:31

Jambi

Jambi

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Sumsel

Lampung

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

Provinsi

31

No

Ketapang Switching Station

Lubuk Linggau

Muara Enim

Muara Enim

Sungai Lilin/PLTU Sumsel - 7

Bayung Lincir/PLTU Sumsel - 5

Betung

Muara Enim

Lumut Balai

Gumawang

Lubuk Linggau

Lahat

Bangko

New Aur Duri

Nama Gardu Induk

500 kV DC

275/150 kV

500/275 kV

500 kV DC

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

275/150 kV

500 kV

Tegangan

New

Ext

Ext

New

New

New

New

New

New

New

New

New

Ext

Ext

Scope Proyek

250

1000

3000

500

500

500

250

1000

500

MVA/LB

1,47

7,45

54,31

324,00

12,08

12,08

24,00

12,21

24,28

21,03

20,32

35,50

17,92

9,82

Juta USD

Pengembangan Gardu Induk Sumatera

2016

2020

2017

2016

2015

2015

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2018

2018

COD

HVDC Sumatera - Jawa

Ekstensien trafo

Arah New Aur Duri

HVDC Sumatera - Jawa

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

GITET baru

Ekstensien trafo

Arah PLTU Jambi

Keterangan

Lanjutan

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 172

04/02/2013 14:18:31

Lampiran A1.6
PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 173

04/02/2013 14:18:31

174

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 174

04/02/2013 14:18:31

Lawe Mamas
HEPP
Lawe Mamas
HEPP

Tapak Tuan
Tapak Tuan

Kisaran

G.Tua
G.Tua

PLTP
PLTP
S. Merapi
S. Merapi

Pauh
Pauh
Limo
Limo

Pd. Panjang
Pd. Panjang

Batusangkar
Batusangkar

Ombilin
Ombilin

T. Kuantan
T. Kuantan

Teluk
Teluk
Lembu
Lembu

Pasir Putih
Pasir Putih

Indra Pura

P. Kerinci
P. Kerinci

Kulim
Kulim

Tenayan
Tenayan

Rengat
Rengat

S.Haru
S.Haru

GIS Kota
GIS Kota

Mukomuko
Mukomuko

P.Baai
P.Baai

Musi
MusiHEPP
HEPP

Manna
Manna

Pagar
Pagar
Alam
Alam

Lahat
Lahat

Besai
BesaiHEPP
HEPP

44

66

55

Menggala
Menggala
Kotabumi
Kotabumi

Mesuji
Mesuji

Mariana
Mariana
Kayu
Kayu
Agung
Agung

77

Sp.Banyak
Sp.Banyak

Dipasena
Dipasena

11 .. PLTG
PLTG Apung
Apung
2.
2. PLTG
PLTG Ex
Ex Pulo
Pulo Gadung
Gadung
33 .. IPP
IPP Palembang
Palembang Timur
Timur
Borang
Borang

PLTP
PLTP Wai
Wai
Ratai
Ratai

Tlk.
Tlk. Ratai
Ratai

PLTP
PLTP
Rajabasa
Rajabasa

Tarahan
Tarahan

Kalianda

Metro
Metro
Sribawono
Adijaya
Adijaya
Tegineneng
Tegineneng
B.
Natar
B. Tegi
Tegi
Gd.
Tataan
Gd.
Tataan
PLTP
PLTP
HEPP
HEPP
SS. .Sekincau
Sekincau
Sutami
Langkapura
Pagelaran
Pagelaran Langkapura
Liwa
Liwa
PLTP
PLTP
Suka
Suka
UluBelu
UluBelu
New
Tlk
Tlk.. rame
rame
Tarahan
K.
Betung
K. Agung
Agung
Betung
Bengkunat
Bengkunat

PLTP
PLTP
D.D. Ranau
Ranau

Bukit
Bukit
Kemuning
Kemuning

P.
P. Ratu
Ratu

Gumawang
Gumawang

Simpang
Simpang33
Prabumulih
Prabumulih

21
1

GIS Kota I
GIS Kota2 I

33

T.Api-api
T.Api-api
Tl.
Tl.Kelapa
Kelapa

PLTG
PLTG Kaji
Kaji
Keramasan
Keramasan

PLTG
PLTG
G.
G.Megang
Megang

..

Baturaja
Baturaja
PLTP
PLTP
R.R.Dedap
Dedap
Muara
Muara
Dua
BB..Umpu
Umpu
Dua

PLTP
PLTP
L.L.Balai
Balai

M
. .ENIM
M
ENIM

Bukit
Bukit
Asam
Asam

Betung
Betung

S.
Lilin
S. Lilin

B. Lincir
B. Lincir

Payo
Selincah
Payo
Selincah

Sekayu
Sekayu
PLTU
PLTU
S.S.Belimbing
Belimbing

PLTU
PLTU
Banjarsari
Banjarsari

PLTU
PLTU
K.K.Agung
Agung

T.T.Tinggi
Tinggi

Lubuk
Lubuk
Linggau
Linggau
Pekalongan
Pekalongan

Sukamerindu
Sukamerindu

Argamakmur
Argamakmur

Tes
Tes HEPP
HEPP

PLTP
PLTP
Hulu
HuluLais
Lais

PLTU
PLTU
Jambi
Jambi
(KPS)
(KPS)

Aur Duri
Aur Duri

K. Tungkal
K. Tungkal

Tembilahan
Tembilahan

PLTU Riau
PLTU Riau
Salak
Kiliranjao Kemitraan
Salak
Kiliranjao Kemitraan
Indarung Solok
Indarung Solok
PLTP
PLTP
G. Talang
Bungus
G. Talang
Bungus
PLTP
PLTP
Muara Bulian
M. Laboh
Muara Bulian
M. Laboh
Muara
Sumbar Pessel
Muara
Sarolangun
Sumbar Pessel
Bungo
Sarolangun
Bungo
Kambang
Kambang
PLTU
PLTU
S. Penuh
Bangko
S. Penuh
Bangko
Sumbar-1
Sumbar-1
Muara
Muara
Merangin
Merangin
Rupit
Rupit
HEPP
HEPP

PIP
PIP

Singkarak
Singkarak
HEPP
HEPP

Kt. Panjang
Kt. Panjang
HEPP
HEPP

KID
KID

TNB
TNB
Malaysia
Malaysia

Malaka
Malaka

New
New
G.Sakti
Perawang Siak Sri
G.Sakti Perawang Indra
Siak
Sri
Pura

Dumai
Dumai

Kandis
Kandis
Minas
Garuda
Minas

Duri
Duri

Bagan
Bagan
Siapiapi
Siapi- api

Garuda
Sakti
Sakti
Bangkinang
Bangkinang

Payakumbuh
Payakumbuh

P. Pangarayan
P. Pangarayan

Bagan Batu
Bagan Batu

K. Pinang
K. Pinang

Pd. Luar
Pd. Luar

Lubuk
Alung
Alung

Pariaman
Pariaman
Lubuk

Maninjau
Maninjau
HEPP
HEPP

Simpang4
Simpang4

Panyabungan
Panyabungan

Pd. Sidempuan
Pd. Sidempuan

PLTA
PLTA
B. Toru
B. Toru

Sibolga
Sibolga

PLTP
Sarulla
&
Sarulla&
Sipaholon
Sipaholon

Aek Kanopan
Aek Kanopan

Asahan I R. Prapat
Asahan I R. Prapat
HEPP
HEPP

Asahan III
Asahan III
HEPP
HEPP
Asahan
Asahan
IV&V
IV&V
HEPP
HEPP

Porsea
Porsea

G.Para
G.Para
P. Siantar
P. Siantar

Tarutung
TarutungSimangkok
Simangkok
PLTP

Tele
Tele

PLTA
PLTA
Sipan
Sipan

PLTU
PLTU
L. Angin
L. Angin

PLTP
PLTP
P. Bukit
P. Bukit

D. Sanggul
D. Sanggul

Galang

Mabar
Belawan
Mabar
P. Pasir
P. Geli
Labuhan
P. Pasir
P. Geli
KIM
Lamhotma
PLTU
Labuhan
Namorambe Glugur
Wampu
KIM
Sei
Lamhotma
PLTU
Sei.
Sumut
-2
Namorambe Glugur
HEPP
WampuP. Batu
Rotan
Sei
Denai Sei.
Sumut-2
HEPP P. Batu
Titi Kuning
RotanDenai
K. Namu Perbaungan
Titi Kuning
Perbaungan K. Tanjung
K. Namu
T. Tinggi
K. Tanjung
T . Morawa
T. Tinggi
Kisaran
T . Morawa
Galang
Brastagi

Brastagi
Renun HEPP
Renun HEPP
Sidikalang
Sidikalang
Sabulusalam
Sabulusalam

Kuta Cane
Kuta Cane

Tualang Cut
Tualang Cut PLTU
PLTU
Langsa
LangsaP. Brandan P. Susu
P.
Brandan P. Susu
T. Pura
PLTU/GU
Binjai T. Pura
PLTU/GU
Belawan
Binjai

Idie
Idie

Eksisting 70 kV
Eksisting 150 kV
Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV)
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV AC
Rencana 250 kV DC
Rencana 500 kV AC
Rencana 500 kV DC

Blang Pidie
Blang Pidie

Blangkjeren
Blangkjeren

Takengon
Takengon

C. Trueng
Bireun C. Trueng
Lhokseumawe
Bireun
Lhokseumawe
P. Labu
P. Labu

Peusangan1-2
HEPP
Peusangan
1-2
HEPP

Samalanga

Sigli
SigliSamalanga

Meulaboh
U
Meulaboh
PLTU U
PLTU
Meulaboh
Meulaboh

P
Seulawah
Seulawah

Jantho

Ulee
Kareng
Ulee
Kareng

Banda Aceh
Banda Aceh
Jantho

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera

Sistem
Sistem
JAWA
JAWA

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

175

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 175

04/02/2013 14:18:33

Kit Rencana

Kit Eksisting
GU

U
G

Rencana 500 kV HVDC

PLTU

PLTGU

PLTG
P

Sigli

PLTP

PLTA

PLTD

GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

ACSR 1 x 240 mm2


95 km - 2014

Tapaktuan

ACSR 1 x 240 mm2


65 km 2014

Idie

Rekonduktoring
ACCC 1 x 310 mm2
128,5 km 2015

Singkil

ACSR 1 x 240 mm2


60 km 2015

Sabulussalam

Kuta Cane

ACSR 1 x 240 mm2


55,6 km 2014

ACSR 1 x 240 mm2


178 km 2014

ke
GI Pangkalan Brandan
(Sumatera Utara)

ke
GI Brastagi
(Sumatera Utara)

ke
GI Sidikalang
(Sumatera Utara)

Tualang
Cut

ke
GI PLTU
Pangkalan Susu
(Sumatera Utara)

ACSR 1 x 240 mm2


24,1 km, 2 nd cct 2014

ACSR 1 x 240 mm2


24,1 km

Langsa

ACSR 1 x 240 mm2


46,3 km

ACSR 1 x 240 mm2


78,3 km

ACSR 1 x 240 mm2


128,5 km

Blang Kejeren

ACSR 1 x 240 mm2


99 km 2015

Blangpidie

ACSR 1 x 240 mm2


8 km 2014

Panton
Labu
ACSR 1 x 240 mm2
8 km 2013

ACSR 2 x 430 mm2


210 km 2016

PLTD Cot Trueng


9,4 MW

ACSR 1 x 240 mm2


82,2 km

PLTG Aceh Timur


70 MW 2014

Lhokseumawe

PLTG Arun
60 MW 2014

Takengon

ACSR 1 x 240 mm2


13 km 2016

ACSR 1 x 240 mm2


65 km 2014

PLTA Peusangan 1-2


(2x22.1 MW) dan
(2x21.1 MW) 2016

ACSR 1 x 240 mm2


10 km 2018

PLTA
Peusangan 4
83 MW 2018

(Sumatera GIBarat)
Rencana

GI Eksisting
150 kV

mm2

Bireun

Cot
Trueng

ACSR 1 x 240 mm2


61,3 km

ACSR 2 x 240 mm2


2 km 2014

PLTG Peaker Arun


200 MW 2014

Samalanga

ACSR 1 x 240 mm2


2 km 2015

ACSR 2 x 430
161 km 2016

R1x
240
mm 2
99,2
km

PERENCANAAN
GI SISTEM
Kiliranjao
BIDANG PERENCANAAN

Edit
Oktober 2012

ke

Meulaboh

ACSR 1 x 240 mm2


30 km 2013

(Konstruksi 275 kV)


Operasi 275 kV 2016

ACS

ACSR 1 x 240 mm2


6 km - 2018

ACSR 2 x 435 mm2


166,5 km 2013

Jantho

ACSR 1 x 240 mm2


0,5 km - 2013

ACSR 2 x 435 mm2


53 km 2016

PLTP Seulawah Agam


2x55 MW 2018

PLTU Meulaboh/Nagan Raya


2 x 110 MW 2013
2 x 200 MW 2017/2018

Rencana 275 kV HVDC

PETA JARINGAN
PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

Ulee
Kareng

ACSR 1 x 240 mm2


6 km - 2014
ACSR 1 x 240 mm2
91,9 km

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

PLTD Sewa Wilayah NAD (s/d 2014):


- Lambaroe 1 :
30 MW
- Lhokseumawe 1 :
30 MW
- Langsa :
10 MW
- Sigli 1 :
10 MW
- Bireun :
30 MW
- Sigli 2 :
10 MW
- Idie :
5 MW
- Lambaroe 2 :
15 MW
- Lhokseumawe 2 :
10 MW

Krueng
Raya

ACSR 1 x 240 mm2


14 km - 2015

Banda Aceh

Lam Pisang

ACSR 1 x 240 mm2


8 km - 2018

PLTD Lueng Bata


60,17 MW

Sistem Aceh

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 176

Kit Rencana

GU

Rencana 500 kV HVDC

Kit Eksisting

U
G

Rencana 275 kV HVDC


PLTGU

PLTG

PLTU

PLTP

PLTA

PLTD

GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

GI Eksisting
150 kV

150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

ke
PERENCANAAN
GI SISTEM
Kiliranjao
BIDANG PERENCANAAN
(Sumatera GIBarat)
Rencana

Edit
Oktober 2012

PLTU Sewa
Sumbagut
3x120 MW 2015

Sibolga
A

Padang
Sidempuan

m
m
0 8
24 1
x 20
2
SR k m
AC 23

Panyabungan

PLTP Sipaholon
55 MW 2019

PLTP Sarulla 2
110 MW 2017

PLTP Sarulla 1
110 MW 2016
220 MW 2017

Kota
Pinang

ke
GI Payakumbuh
(Sumatera Barat)

ACSR 2 x 430 mm2


300 km 2015

m2
2m
28 020
4x 2
SR km
AC 175

Gunung
Tua

ACSR 2 x 430 mm2


69 km 2015

Labuhan
Bilik

ACSR 1 x 240 mm2


65 km 2015

Rantau
Prapat

Aek
Kanopan

ACSR 1 x 240 mm2


25 km - 2017

PLTD Titi Kuning


6 x 4,14 MW

ke
GI Rantau Prapat

ke
GI Tebing Tinggi

PLTMH Tersebar III : 32,2 MW


Karai-1(2x5) Karai-7(2x3,2) Karai12(2x3,7) Karai-13(2x4,2)
2014

PLTMH tersebar I : 54,5 M


Parlilitan (3x2,5), Hutaraja(2x2,5),
Pakkat(2x5), TaraBintang(2x5),
Simonggo(3x3), Rahu-1(2x4),
Rahu-2(2x2,5)
2013
PLTMH tersebar II : 28 MW
Lae-Ordi-1(2x2,5),Lae-Ordi2(2x5),Lae-Kombih2(2x4)
2014

ACSR 2 x 430 mm2


16 km 2013

ke
GI New Garuda Sakti
(Riau)

ACSR 4 x 430 mm2


331 km 2024

Kuala
Namu

Perbaungan

PLTU Belawan
4 x 65 MW

ACSR 2 x 240 mm2


14 km Feb 2012 (100%)

T.Morawa

Denai

Galang

Titi
D Kuning

Sei Rotan

Lamhotma

ACSR 1 x 240 mm2


6,3 km 2013

GIS Listrik

KI
M

Paya Pasir

Labuhan

Mabar

GU

Belawan

ke
GI Bagan Batu
(Riau)

Namurambe

Paya Geli

Glugur

CU 1000
10 km 2015

ACSR 2 x 430 mm2


24 km 2013

Binjai

PLTA Hasang
38 MW 2017

ACSR 4 x 430 mm2


110 km 2018

Sarulla

PLTA Asahan III


174 MW - 2016

ACSR 2 x 430 mm2


97 km 2015

PLTP Sorik Merapi


240 MW 2018

PLTA Batang Toru


510 MW 2020

Simangkok

Asahan III

ACSR 2 x 240 mm2


11 km - 2016

Tarutung

Agincourt

ACSR 1 x 240 mm2


7 km - 2013

ACSR 1 x 240 mm2


30 km - 2020

Asahan I

PLTA Sipan
17 MW & 33 MW

Labuhan
Angin

Parlilitan

13 km 2014

Perdagangan
ACSR 1 x 240 mm2
30 km - 2015

Kisaran

PLTA Asahan I
180 MW

Pematang
Siantar

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

PLTP Simbolon Samosir


2 x 55 MW 2019/2020

PLTU Labuhan Angin


2 x 115 MW

PLTA Simonggo 2
86 MW 2017

PLTMH Tersebar I
54,5 MW 2013

Salak

ACSR 1 x 240 mm2


30 km 2014

G.Para

Kualatanjung

PLTG Glugur
19,85 MW & 12,85 MW

PLTMH
Tersebar III
32,2 MW
2014

Tebing
Tinggi
Negeri
Dolok

ACSR 2 x 430 mm2


159 km 2014

Perbaungan

Sidikalang
Pangururan
Porsea
Tele
ACSR 1 x 240 mm

Renun

mm2

ACSR 1 x 240
33 km - 2014

Brastagi

15

5 6

Galang

12

11

PLTG Paya Pasir


26,5 MW (DMN)

PLTGU Belawan
395,3 MW & 422,5 MW

m
0m
24 14
2 x 20
SR m
AC 7 0 k

PETA JARINGAN
PROPINSI SUMATERA UTARA

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

DPM

ACSR 1 x 240 mm2


25 km 2014

ACSR 1 x 240 mm2


55,6 km 2014

mm2

ACSR 1 x 240
40 km 2015

PLTP Sibayak
10 MW

PLTMH Tersebar II
28 MW 2014

to
GI Sabussalam
(NAD)

PLTA Renun
2 x 41 MW

PLTA Wampu
45 MW 2015

ACSR 2 x 430 mm2


80 km 2014

PLTU P.SUSU
2 x 220 MW 2014
2 x 200 MW 2016
ACSR 2 x 430 mm2
70 km 2013

T. Pura

Binjai 13

ACSR 1 x 240 mm2


15 km - 2014

P. Brandan

ACSR 1 x 240 mm2


178 km 2014

to
GI Kuta Cane
(NAD)

ACSR 2 x 240 mm2


11 km 2015

PLTG P. Brandan
(Peaker)
200 MW 2014

ke
GI Langsa
(NAD)

ke
GI Lhokseumawe
(NAD)

Sistem Sumatera Utara

m2
0m
43 018
4x 2
SR km
A C 2 48

176

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

04/02/2013 14:18:34

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

Kit Rencana

Kit Eksisting
GU

U
G

Rencana 500 kV HVDC

PLTU

PLTGU

PLTG

ACSR 1 x 240 mm
0.5 km 2013

ke

PLTP

A PLTA
GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

GI Eksisting
150 kV
150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

(Sumatera GIBarat)
Rencana

PERENCANAAN
GI SISTEM
Kiliranjao
BIDANG PERENCANAAN

Teluk
Lembu

Siak Sri Indra Pura

ACSR 1 x 240 mm2


52 km 2014 ( 2 nd cct )

ACSR 4 x 430 mm2


55 km 2017

Rengat

MALAYSIA

PLTD Sewa Kit SBU:


- Teluk Lembu :

Tembilahan

JAMBI

ke
GI Aur Duri
(Jambi)

ACSR 4 x 430 mm2


210 km 2016

ACSR 1 x 240 mm2


60 km 2015

40 MW

PLTD Sewa Wilayah Riau:


- Teluk Lembu :
40 MW
- Bagan Besar (Duri) :
10 MW
- Purnama Dumai :
30 MW

ACSR 4 x 430 mm2


220 km 2016

PLTU Riau Kemitraan


(PLN TNB - PTBA
1200 MW 2018

ACSR 2 x 240 mm2


97 km 2014

ACSR 2 x240 mm2


110 km - 2015

Pangkalan
Kerinci

PLTU Riau
2x110 MW 2014

ACSR 1 x 240 mm2


50 km - 2015

ACSR 2 x 240 mm2


67 km 2014 G

ACSR 2 x 430 mm2


27,5 km 2014

ACSR 2 x 240 mm2


20 km 2015

Tenayan

PLTG/MG Peaker
Riau
200 MW 2015

Pasir
Putih

GIS

ACSR 1 x 240 mm2


25 km - 2014

PLTG Teluk Lembu


2 x 21,6 MW
PLTG Riau Power 20 MW

Perawang

PLTU Sewa Dumai


2x120 MW 2015

(Uprate) ACCC 1 x 310 mm2


117.68 km 2013

(Uprate) ACCC 1 x 310 mm2


59 km 2015

ACSR 1 x 240 mm2


28 km 2014

KID

ACSR 2 x 240 mm2


7 km 2015

Sistem Riau

Teluk
Kuantan

ACSR 1 x 240 mm2


35 km 2015

Lipat Kain

Edit
Desember 2012

Koto Panjang

D PLTD

CU 1000
7 km - 2015

Garuda
Sakti

New
Garuda
Sakti

Bangkinang

ACSR 2 x 430 mm2


150 km 2015

Duri

Dumai

ACSR 2 x 240 mm2 Kandis


2 km
ACCC 1 x 310 mm2
5 km - 2015

ke
GI Payakumbuh
(Sumatera Barat)

Rencana 275 kV HVDC

PETA JARINGAN
PROPINSI RIAU

ACSR 1 x 240 mm
110 km 2014

PLTG Duri
2x20 MW
(Ex Gili Timur &
Sunyaragi)

PLTMG Duri
112 MW 2013
GU

ACSR 1 x 240 mm2


114 km 2014

Bagan
Siapi - Api

PLTGU Duri
2 x 50 MW 2014/2015

Bagan
Batu

PLTA Koto Panjang


3 x 38 MW

Pasir
Pangaraian

ACSR 4 x 430 mm2


331 km 2018

SUMATERA
BARAT

SUMATERA
UTARA

ke
GI Rantau Prapat
(Sumatera Utara)

ke
GI Kota Pinang
(Sumatera Utara)

Pada Kondisi Pembangkitan


SBS-SBT Bagus:
T/L 150 kV Kota Pinang
Bagan Batu Normally Open

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 177


2

mm
430 14
2 x 20
SR
AC 28 km

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

177

04/02/2013 14:18:35

SINGAPURA

178

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 178

04/02/2013 14:18:35

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

Kit Rencana

Kit Eksisting
GU

U
G

Rencana 500 kV HVDC


PLTGU

PLTG

PLTU

40 MW

Rencana 275 kV HVDC

PETA JARINGAN
PROPINSI SUMATERA BARAT

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

- Pauh Limo :

PLTD Sewa Wilayah Sumbar:

PLTP

A PLTA

D PLTD

GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

GI Eksisting
150 kV
150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

(Sumatera GIBarat)
Rencana

PERENCANAAN
GI SISTEM
Kiliranjao
BIDANG PERENCANAAN

ke

Edit Desember 2012

Kiliranjao

ACSR 2 x 430 mm2


141 km 2015

S.Rumbai

BENGKULU

ke
GI Muko-muko
(Bengkulu)

Sungai
Penuh

RIAU

ke
GI Bangko
(JAMBI)

ke
GI Muara Bungo
(Jambi)

ACSR 2 x 430 mm2


117 km
(Operasi 150 kV)

ACSR 1 x 240 mm2


52 km, 2 nd cct 2014

ke
GI Teluk Kuantan
(Riau)

PLTP Muara Laboh


2 x 110 MW 2017

ACSR 2 x 240 mm2


80 km 2017

ACSR 2 x 240 mm2


182 km - 2020

ACSR 1 x 240 mm2


30 km 2016

PLTP G.Talang
20 MW 2019

ACSR 2 x 240 mm2


90 km 2013

Muara
Laboh

Kambang

ACSR 2 x 240 mm2


17,5 km Okt 2012

Solok

Salak

ACSR 1 x 240 mm2


18 km 2019

Pauh Limo

Ombilin

ACSR 1 x 240 mm2


25 km, 2nd cct 2014

Batusangkar

ke
GI Koto Panjang
(Riau)

Koto
Panjang

PLTU Ombilin
2 x 100 MW

Payakumbuh
ACSR 1 x 240 mm2
22 km, 2nd cct 2014

Indarung

ACSR 2 x 240 mm2


5 km 2012

Bungus

Simpang
Haru

PLTU Sumbar Pesisir


2 x 112 MW 2013

PLTG Pauh Limo


3 x 21,35 MW

Bingkuang

PIP

ACSR 1 x 240 mm2


5 km 2018

Singkarak

Padang
Luar
Padang
Panjang

Lubuk Alung

Pariaman

ACSR 1 x 240 mm2


32 km, 2nd cct 2014

ACSR 2 x 240 mm2


52 km 2019

New
Garuda
Sakti

Ke
GI New Garuda Sakti
(Riau)
ACSR 2 x 430 mm2
150 km 2014

PLTA Batang Agam


3 x 3,5 MW

ACSR 2 x 430 mm2


300 km 2014

ACSR 1 x 240 mm2


42 km, 2nd cct 2014

PLTP Bonjol
165 MW 2020

Maninjau

PLTA Singkarak
4 x 43,75 MW

PLTA Maninjau
4 x 17 MW

Simpang
Empat

ACSR 1 x 240 mm2


30 km 2016

Pasaman

ke
GI Padang Sidempuan
(Sumatera Utara)

PLTA Masang 2
55 MW 2017

SUMATERA
UTARA

Sistem Sumatera Barat

JAMBI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

179

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 179

04/02/2013 14:18:35

BENGKULU

PLTP Sungai Penuh


2 x 55 MW 2017

ACSR 1 x 240 mm2


42 km 2015

Sungai
Penuh

ACSR 2 x 430 mm
55 km 2013

SUMATERA
BARAT

Ke
GI Kiliran Jao
(Sumatera Barat)

PLTA Merangin
2 x 175 MW 2018

Bangko

ACSR 2 x 430 mm2


73 km
(Operasi 150 kV)

Sarolangun

GU

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

Kit Rencana

GU

Rencana 500 kV HVDC


Kit Eksisting

Rencana 275 kV HVDC

PETA JARINGAN
PROPINSI JAMBI

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

PLTGU

PLTG

PLTU

PLTP

A PLTA

D PLTD

GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

GI Eksisting
150 kV

PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN
GI Rencana
150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

Edit
Desember 2012

SUMATERA
SELATAN

PLTGU Batanghari
30 MW 2013

ke
GI Bayung Lincir
(Sumatera Selatan)

Sewa-Beli PLTG Payo


Selincah
1 x 100 MW 2012

Sewa PLTG Payo Selincah


2 x 50 MW

PLTG Batang Hari : 2 x 30 MW


PLTG Eks Sunyaragi : 18 MW
PLTMG Sewa Sei Gelam : 15 MW

PLTD Py.Selincah : 6 x 5,2 MW

Payo Selincah

C
S
60 R 2
km x
4
2
ACSR 1 x 240 mm
- 2 30
30 km 2013
01 m
4 m

New
Aur Duri

Sabak

ACSR 2 x 340 mm2


60,8 km 2013

ACSR 2 x 340 mm2


20,5 km

PLTG/MG Peaker
Jambi
100 MW 2015
PLTMG Sungai Gelam
Peaker CNG
12 MW -2012
92 MW 2013

ACSR 4 x 430 mm2


200 km 2020

ke
GI Muara Enim
(Sumatera Selatan)

ACSR 1 x 240 mm2


40 km - 2015

Aur Duri

ACSR 1 x 240 mm2


54,4 km - 2018

Kuala Tungkal

ACSR 1 x 240 mm2


2
30 km 2012

m
0m
43 19
4 x 20
R
S m
A C 80 k

Muara Bulian

ACSR 2 x 340 mm2


1 km

PLTU Jambi KPS


2 x 400 MW 2019/2020

ACSR 1 x 240 mm2


65 km 2014

ACSR 2 x 330 mm2


195 km

ACSR 4 x 430 mm2


210 km 2016

ke
GI Rengat
(Riau)

ke
GI Lubuk Linggau
(Sumatera Selatan)

Muara Rupit

ACSR 2 x 430 mm2


195 km
(Operasi 150 kV)

Muarabungo

ACSR 2 x 430 mm2


68 km 2013

ACSR 2 x 430 mm2


117 km
(Operasi 150 kV)

RIAU

Sistem Bengkulu

Sistem Sumatera Selatan


180
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 180

04/02/2013 14:18:36

50 MW

Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV
G

Rencana 500 kV HVDC

Kit Rencana

GU

Rencana 275 kV HVDC

Kit Eksisting

PETA JARINGAN
PROPINSI LAMPUNG

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

PLTD Sewa Kit SBS:


- Sutami :

PLTD Sewa Wilayah Lampung:


- Tarahan (sewa Tama) : 10 MW
- Talang Padang :
10 MW
- Wonosobo :
5 MW
- Krui :
5 MW
- Pengalihan Riau :
30 MW
- Tegineneng :
20 MW

BENGKULU

PLTGU

PLTG

PLTU

PLTP Ulubelu #1 & #2


2 x 55 MW 2012

PLTP

A PLTA
GI Eksisting
150/70 kV

GI Eksisting
70 kV

GI Eksisting
150 kV

PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN

GI Rencana
150 kV
GI Rencana
150/70 kV
GI Rencana
275/150 kV
GI Rencana
500/275/150 kV

Edit
Desember 2012

PLTP Ulubelu #3 dan #4


2 x 55 MW 2016/2017

D PLTD

ACSR 1 x 240 mm
60 km - 2019

PLTP Suoh Sekincau


2 x 110 MW
2018/2019

Liwa

ke
GI Gumawang
(Sumatera Selatan)

P
ACSR 1 x 240 mm2
10 km - 2015

Ulubelu

Bengkunat

Metro

Teluk
Betung

Sutami

CU 1000 mm2
8 km - 2016

Dipasena

1 km - 2012

PLTP Rajabasa
2 x 110 MW 2017

Ketapang

ACSR 2 x 240 mm2


45 km - 2015

Kalianda

ACSR 2 x 240 mm2


20 km - 2017

PLTU Tarahan Perpres


2x100 MW Des 2012

PLTU Sewa Tarahan


2x120 MW 2015

Sribawono

Seputih
Banyak

ACSR 1 x 120 mm2


60 km 2013

UACSR 2 x 430 mm

Sebalang

PLTU Tarahan #3 & #4


2 x 100 MW

PLTG Tarahan : 21,35 MW


PLTD Tarahan : 48,54 MW (Total)

PLTD Teluk Betung


18,18 MW (Total)

ACSR 1 x 240 mm2


20 km - 2019

PLTD Metro
3,75 MW (Total)

(Uprate) ACCC 2 x 310 mm2


30 km 2013 Jatiagung

Adijaya

ACSR 2 x 430 mm2


60 km 2014

Menggala

D Sukarame
Langka
G
pura
New
Tarahan
Tarahan
U
Teluk
D
Ratai
U
ACSR 1 x 240 mm2
30 km - 2015

Gedong
Tataan

Mesuji

ACSR 2 x 240 mm2


76 km 2015

ACSR 2 x 240 mm2


80 km 2015

Natar
ACSR 2 x 240 mm2
30 km - 2015

PLTP Wai Ratai


55 MW 2019

PLTD Talang Padang


12,5 MW

ACSR 1 x 240 mm2


30 km - 2016

Kota
Agung

ACSR 1 x 240 mm2


40 km - 2014

ACSR 2 x 240 mm2


36 km - 2015

Pagelaran

Tegineneng
PLTG/MG Peaker Lampung
100 MW 2015

PLTA Semangka
56 MW 2016

ACSR 2 x 240 mm2


20 km, 2012

Batutegi

Kotabumi

PLTD Tegineneng
3 x 9,4 MW

(Uprate) ACCC 2 x 310 mm2


34 km 2013

PLTA Besai
2 x 45 MW

Besai

PLTA Batutegi
2 x 14,8 MW

Bukit
Kemuning

ACSR 4 x 282 mm2


300 km - 2016

Blambangan
Umpu

ACSR 2 x 430 mm2


15 km - 2016

Pakuan Ratu

SUMATERA
SELATAN

ACSR 1 x 240 mm2


19 km - 2018

ACSR 1 x 240 mm
40 km - 2014

ke
GI Muara Enim
(Sumatera Selatan)

Baturaja

ke
GI Bukit Asam
(Sumatera Selatan)

Sistem Lampung

ACSR 1 x 240 mm2


1 km - 2017

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 181


P

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

181

04/02/2013 14:18:39

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 182

04/02/2013 14:18:39

Lampiran A1.7
ANALISA ALIRAN DAYA
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 183

04/02/2013 14:18:39

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2012
184
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 184

04/02/2013 14:18:39

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2013

185
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 185

04/02/2013 14:18:39

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2014
186
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 186

04/02/2013 14:18:39

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2015

187
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 187

04/02/2013 14:18:40

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2016
188
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 188

04/02/2013 14:18:40

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2017

189
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 189

04/02/2013 14:18:40

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2018
190
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 190

04/02/2013 14:18:40

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2019

191
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 191

04/02/2013 14:18:40

Prakiraan Aliran Daya Sistem Sumatera


Tahun 2020-2021
192
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 192

04/02/2013 14:18:40

Lampiran A1.8
KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 193

04/02/2013 14:18:40

194

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 194

04/02/2013 14:18:40

5.398
5.958

4.406
4.393
4.816
4.986
5.429
5.818
6.166
6.806
51.101

2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021

2012-2021

959

926

867

831

791

761

733

725

685

8.287

1.011

Trafo MVA

5.439.713

360.280

419.332

443.592

493.422

557.321

609.053

686.700

651.753

630.569

587.692

Pelanggan

101,5
112,0

127,5
127,1
139,7
145,0
158,0
169,6
180,1
198,8
1.485,2

2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021

2012-2021

883,5

97,9

94,0

87,3

86,7

80,4

78,6

74,2

120,3

70,9

119,1

JTR

2013

JTM

2012

Tahun

700,7

88,2

83,9

77,8

72,7

68,3

64,1

63,0

63,2

61,0

58,6

Trafo

253,8

16,9

19,9

21,8

25,1

26,6

28,6

30,8

29,6

28,4

26,1

Pelanggan

3.323,1

415,9

385,3

367,2

349,8

327,2

319,0

301,4

299,0

283,8

274,7

Total

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Regional Sumatera

47.039

5.203

4.987

4.621

4.604

4.273

4.207

3.969

4.161

2013

3.819

JTR kms

4.119

JTM kms

2012

Tahun

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Rgional Sumatera

Lampiran A1.9
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 195

04/02/2013 14:18:40

196

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 196

04/02/2013 14:18:40

1.622
1.068
1.006
966
878
833
676
14
10.231

2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
Total
11.205

14

843

974

1.001

1.052

1.105

1.156

1.796

1.704

366

28

32

34

36

37

38

60

57

44

453

541

586

622

648

678

747

Unit

Trafo
MVA

683.287

727

58.809

66.473

66.158

67.985

70.519

71.191

101.644

100.298

79.484

PLG

Jumlah Pelanggan

14.744

14.744

16.440

45.928

RTS

Listrik Murah &

JTM
370.420
431.720
446.882
295.949
278.724
267.329
262.059
252.508
234.441
217.599
3.057.630

Tahun
2012*
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
Total

1.665.764

126.759

129.190

140.731

143.240

144.023

153.759

162.116

246.550

242.602

176.795

JTR

822.281

62.995

65.826

68.644

71.882

71.895

75.639

79.315

124.160

122.419

79.507

Trafo

5.545.675

407.354

429.456

461.882

477.181

483.246

508.122

537.380

817.592

796.741

626.721

Lisdes Reguler

118.668

30.975

30.975

56.718

Listrik Murah
& Hemat

5.598.481

407.354

429.456

461.882

477.181

483.246

508.122

537.380

848.567

827.716

617.577

Total Biaya

Juta Rupiah

Proyeksi Kebutuhan Investasi Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera

1.551

2013

1.560

kms
1.617

JTR
kms

JTM

2012*

Tahun

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera

Lampiran A1.10
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI
SITEM INTERKONEKSI SUMATERA

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 197

04/02/2013 14:18:41

198

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 198

04/02/2013 14:18:41

310
43

1.534
1.752
2.627
3.325
3.474
2.424
1.806
878
19.678

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total
5.320

55

534

321

1.228

892

1.272

446

1.310

2014

218

548

T/L dan GI

2013

Pembangkit

2012

Tahun

Investasi

3.648

456

423

399

383

359

350

331

330

314

304

Distribusi

28.645

1.376

2.539

2.879

4.391

4.005

4.206

2.975

3.136

2.070

1.070

Total

(Juta US$)

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi


dan Distribusi (Fixed Asset Addition) Sumatera

PENJELASAN LAMPIRAN A1
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
A1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 9,8% per tahun antara tahun 2012
hingga 2021, yaitu meningkat dari 28,2 TWh pada tahun 2012 menjadi 65,4 TWh pada tahun 2021. Sekitar
40% dari produksi tersebut adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian Utara (Aceh dan
Sumut) dan selebihnya untuk Sumatera bagian Selatan. Faktor beban diperkirakan antara 70% sampai
72%.
Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2012 diperkirakan 4.460 MW dan akan tumbuh rata-rata 10,0%
per tahun, sehingga menjadi 10.520 MW pada tahun 2021. Dengan adanya interkoneksi Sumatera-Bangka
mulai 2015 yang mentransfer pembangkit base load ke Bangka sebesar 200 MW secara bertahap maka
beban puncak sistem Sumatera akan menjadi 10.720 MW pada 2021.
Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2012-2021 ditunjukkan pada Lampiran A1.1.

A1.2. Neraca Daya


Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.2.
Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin (RM) yang tinggi, yaitu
mencapai 65% pada tahun 2018-2019. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan RUPTL 2011-2020 yang
mencapai 78% pada tahun 2017.
Rencana pengembangan pembangkit yang baru pada sistem Sumatera meliputi sebagai berikut:
1) PLTU Mulut Tambang Riau Kemitraan
Total kapasitas sekitar 1.200 MW dan rencana beroperasi pada tahun 2018. Proyek PLTU ini bekaitan dengan rencana interkoneksi antara Sumatera dan Semenanjung Malaysia melalui transmisi HVDC 250 kV
sebagai realisasi ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. Proyek PLTU ini juga
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan Sumatera sendiri. PLTU ini 204 direncanakan akan beroperasi sebagai berikut: pada saat o peak di Sumatera memasok ke Malaysia sekitar 600 MW, sedangkan
pada saat peak di Sumatera pasokan ke Malaysia dapat dikurangi.
2) PLTA Batang Toru
PLTA Batang Toru yang berkapasitas 510 MW merupakan proyek unsolicited yang diusulkan oleh investor
swasta dan telah dapat dimasukkan dalam rencana PLN1 karena investor telah menyampaikan laporan
feasibility study walaupun masih memerlukan penyempurnaan. PLTA Batang Toru didisain sebagai pembangkit peaking untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking di Sumatera.
3) PLTA Ketahun 3
PreFS telah dilakukan oleh PLN dengan kapasitas 61 MW. Proyek ini direncanakan untuk beroperasi pada
tahun 2018 untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking di Provinsi Bengkulu.

Masuk dalam Neraca Daya Sistem Sumatera

199
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 199

04/02/2013 14:18:41

4) PLTP Seulawah Agam


PLTP Seulawah Agam kapasitasnya dinaikkan dari 55 MW menjadi 110 MW. Penambahan kapasitas ini dilakukan mengingat potensi panas bumi Seulawah Agam lebih besar dari 55 MW berdasarkan studi yang
dilakukan sebagai bantuan teknis dari Pemerintah New Zealand. Peningkatan kapasitas menjadi 110 MW
juga dimaksudkan untuk lebih meningkatkan daya tarik proyek bagi pengembang.

A1.3. Neraca Energi


Produksi energi per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.3. Lampiran tersebut menunjukkan peranan masing-masing energi primer di Sumatera sebagai berikut:
a.

b.
c.

d.
e.

f.

Peranan minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2012 masih tinggi, yaitu sekitar 8,0 TWh, akan sangat berkurang menjadi sekitar 236 GWh pada tahun 2021. Hal ini terjadi karena penggunaan BBM
untuk pembangkit peaker diganti dengan LNG/CNG.
Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014, yaitu sekitar 4.027 GWh dan cenderung konstan
berdasarkan sumber pasokan LNG Arun.
Peranan pembangkit gas yang semula 7,9 TWh pada tahun 2012 akan naik menjadi 8,7 TWh pada
tahun 2014, dan secara bertahap akan menurun kembali menjadi 5.249 GWh pada tahun 2021. Hal ini
karena pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari kontrak yang ada.
Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Pada tahun 2012 hanya 8,1 TWh akan naik 4
kali lipat menjadi 36,3 TWh pada tahun 2021.
Peranan pembangkit hidro pada tahun 2011 semula 4,6 TWh dan akan semakin besar dengan masuknya PLTA Asahan 3, PLTA Peusangan 1-2 pada tahun 2016 dan PLTA Merangin pada tahun 2018
serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017, PLTA Ketahun-3 dan PLTA Batang Toru
pada tahun 2019. Peranan hydro pada tahun 2021 akan mencapai 8,2 TWh.
Kontribusi pembangkit panas bumi akan meningkat luar biasa besar pada tahun 2021 dengan
produksi 11,8 TWh, atau 18% dari produksi total. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP yang pada tahun 2009 hanya 10 MW akan meningkat menjadi hampir 2.500 MW pada tahun
2021. Banyaknya kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor pembangkit
beban dasar lainnya, yaitu PLTU batubara, menjadi rendah jika semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai jadwal. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian
implementasinya masih rendah2 akan membuat situasi yang cukup rawan bagi Sumatera mengingat
ketidakpastian pelaksanaan beberapa PLTU IPP lain juga tinggi.

Kebutuhan Bahan Bakar


Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2021 dapat dilihat
pada Lampiran A1.3.
Kebutuhan HSD pada tahun 2012 sebesar 2,1 juta liter dan semakin turun menjadi 63 ribu liter pada tahun
2021. Sedangkan MFO sudah tidak diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya PLTU Belawan
1-4 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara.
Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami depletion, namun sejalan dengan rencana revitalisasi LNG Arun maka PLTGU Belawan akan dijalankan dengan LNG. Volume pemakaian
batubara meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 4,9 juta ton pada tahun 2012 menjadi 20,8 juta ton pada
tahun 2021 atau meningkat 4 kali lipat lebih.

Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan eksplorasi.

200
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 200

04/02/2013 14:18:41

A1.4. Capacity Balance Gardu Induk


Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan memasukkan GI existing
dan GI ongoing project. Selanjutnya dari capacity balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing
masing GI. Trafo yang telah berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan
trafo. Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan dan de-dieselisasi
serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru.
Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan, selanjutnya disusun kembali capacity balance yang baru
setelah mempertimbangkan penambahan GI baru tersebut. Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI, dimana hasil pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan
sistem penyaluran.
Dengan kriteria di atas kebutuhan pembangunan GI baru dan penambahan trafo di GI eksisting sampai
tahun 2021 adalah sebesar 31.860 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1.4.

A1.5 Rencana Pengembangan Penyaluran


Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera meliputi proyek berikut:

3
4

Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTA,
PLTU IPP dan PLTP IPP.
Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait proyek pembangkit PLTU percepatan dan IPP.
Pengembangan transmisi 150 kV tersebar di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria
keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan
fleksibilitas operasi.
Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber
energi primer ke demand di Sumatera bagian utara.
Pembangunan transmisi dan kabel laut 250 kV HVDC Sumatera - Peninsular Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem tersebut.
Rencana pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV yang mengalami perubahan dari RUPTL 20112020 adalah sebagai berikut
Topologi transmisi 275 kV Lahat - Gumawang diubah menjadi Lumut Balai - Gumawang, karena rute
transmisi Lahat - Gumawang banyak melewati WKP batubara. Setelah dilakukan survei ulang untuk
menghindari WKP-WKP tersebut, ternyata jalur baru lebih mendekati GI 275 kV Lumut Balai.
Transmisi 275 kV New Aur Duri - Rengat diubah menjadi transmisi 500 kV New Aur Duri - Rengat
karena diperlukan untuk membentuk transmisi back-bone 500 kV Sumatera yang akan menyalurkan
tenaga listrik dari pembangkit listrik di Sumbasel ke pusat-pusat beban. Ruas New Aur Duri - Rengat juga dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari PLTU Sumsel-5, Sumsel-7 dan PLTU Jambi
KPS.
Transmisi 275 kV Rengat - New Garuda Sakti diubah menjadi transmisi 500 kV Rengat - New Garuda
Sakti karena diperlukan untuk membentuk transmisi back- bone 500 kV Sumatera. Transmisi ini juga
akan menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Sumsel-5, Sumsel-7, PLTU Jambi KPS dan PLTU Riau Kemitraan.
Transmisi 500 kV dari GITET 500kV Sumut-2 (Rantau Prapat3 ) - GITET 500kV Sumut-1 Sei Rotan4)
adalah bagian dari transmis back-bone Sumatera.
Transmisi 275 kV Sumut-4 - Sumut-2 diperlukan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit skala besar di Tapsel ke pusat beban.

Lokasi tentatif, keputusan akan diambil setelah studi kelayakan.


Ditto

201
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 201

04/02/2013 14:18:41

Transmisi 500 kV Muara Enim - Jambi (KPS) untuk membentuk back bone 500 kV Sumatera dan menjemput daya dari pembangkit mulut tambang di Muara Enim untuk disalurkan menuju Sumbagteng
dan Sumbagut.
Transmisi 275 kV Pangkalan Susu-Lhokseumawe untuk membentuk back bone 275 kV Sumatera bagian utara, yaitu menghubungkan sistem 275 kV Sumatera Utara dan Aceh.

Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera selengkapnya diberikan pada Lampiran
A1.5.

A1.6 Peta Pengembangan Penyaluran


Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran A1.6.

A1.7 Analisis Aliran Daya


Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh pembangkit dan beban
yang ada pada neraca daya, meliputi sistem 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV. Namun pada RUPTL 20122021 ini hanya ditunjukkan hasil analisa aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja.
Prakiraan aliran daya di sistem 500 kV dan 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai tahun 2012 sampai dengan 2021 pada beban puncak malam hari, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Analisa Aliran Daya Tahun 2012


Sistem Sumatera masih dioperasikan dalam dua sistem, yaitu sistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut)
dan sistem Sumatera Bagian Selatan Tengah (Sumbagselteng), karena konstruksi transmisi back-bone
yang mengintegrasikan antar sistem belum selesai. Transmisi yang ada masih memiliki batasan transfer.
Pembangkit baru yang masuk pada tahun 2012 adalah PLTU Tarahan 2x100 MW, PLTP Ulubelu #1,2 2x55
MW, PLTG Duri 2x20 MW, PLTMG Sei Gelam CNG 90 MW, PLTMG Jakabaring CNG 50 MW, PLTG Sewa Borang #2 30 MW, dan PLTG Payoselincah Sewa-Beli #2 50 MW. Tegangan masih dalam batasan operasi

2. Analisa Aliran Daya Tahun 2013


Kondisi tahun 2013 tidak jauh berbeda dibanding tahun 2012 dimana sistem Sumatera masih dioperasikan terpisah dua dan belum ada tambahan trasmisi 275 kV baru. Tambahan pembangkit pada tahun 2013
adalah PLTU Meulaboh (Nagan Raya) 2x110 MW, PLTU Sumbar pesisir 2x112 MW, PLTGU Keramasan #1 40
209 MW, PLTGU Batanghari 30 MW, PLTMG Duri 112 MW, Steam Turbin Unit PLTG Gunung Megang 30 MW,
dan PLTMH tersebar di Sumut sebesar 45 MW. Profil tegangan masih dalam batasan operasi.

3. Analisa Aliran Daya Tahun 2014


Transmisi back-bone 275 kV sistem Sumatera telah selesai, yaitu transmisi 275 kV Lahat-Lubuk LinggauBangko - Muara Bungo - Kiliranjao - Payakumbuh di SBST dan transmisi 275 kV Pangkalan Susu - Binjai - Sumut-3 - Simangkok di SBU. Transmisi 275 kV Padang Sidempuan - Payakumbuh yang menjadi penghubung
antara sistem Sumbagut dan Sumbagselteng pada tahun 2014 diperkirakan masih belum selesai sehingga sistem Sumatera masih terpisah dua. Tambahan pembangkit pada tahun 2014 adalah PLTU Pangkalan
Susu #1,2 2x220MW, PLTGU Keramasan Unit #2 40 MW, PLTG/MG Arun 200 MW, PLTG/MG Pangkalan
Brandan 200 MW, PLTU Riau 2x110 MW, PLTG Aceh Timur 70 MW, PLTGU Duri 50 MW, dan PLTMH di Sumut
sebesar 55 MW. Profil tegangan masih dalam batasan operasi.

202
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 202

04/02/2013 14:18:41

4. Analisa Aliran Daya Tahun 2015


Transmisi 275 kV baru yang beroperasi adalah transmisi 275 kV Simangkok - Sumut-4 - Padang SidempuanPayakumbuh - New Garuda Sakti, transmisi 275 kV Betung - Bayung Lencir - Aurduri dan transmisi 275 kV
Lahat - Lumut Balai - Gumawang. Dengan beroperasinya transmisi 275 kV tersebut, maka back bone sistem
Sumatera sudah tersambung dari Utara sampai Selatan.
Sistem Sumatera setelah back bone 275 kV terbentuk akan terdiri dari beberapa pulau kelistrikan dengan
transmisi 275 kV sebagai penghubungnya. Transmisi 150 kV akan berfungsi menyalurkan listrik ke beban,
bukan lagi untuk mentransfer daya dalam jumlah besar dan jarak yang jauh. Pulau kelistrikan yang mengalami surplus daya akan mensuplai pulau kelistrikan lain yang mengalami defisit daya melalui transmisi
275 kV. Pulau kelistrikan yang mengalami surplus daya adalah Sumsel dan Riau, pulau kelistrikan yang
seimbang adalah Lampung, Jambi dan Sumbar. Pulau kelistrikan yang lain mengalami defisit. Aliran daya
sistem Sumatera tahun 2015 adalah dari selatan menuju utara, yaitu sebesar 310 MW.
Tambahan pembangkit pada tahun 2015 adalah PLTG/MG Lampung Peaker 100 MW, PLTG/MG Jambi Peaker 100 MW, PLTG/MG Riau Peaker 2x100 MW, PLTU Sewa 7x120 MW (total), PLTGU Duri #2 50 MW, PLTU
Banjar Sari 2x115 MW, PLTU Keban Agung #1 112,5 MW, PLTU Sumsel-5 #1 150 210 MW, PLTP Lumut Balai
110 MW, PLTA Wampu 45 MW, PLTA Simpang Aur 23 MW, dan PLTMH di Sumut sebesar 91 MW.
Kondisi tegangan pada tahun 2015 ini masih memenuhi kriteria operasi, karena pembangkit baru yang
beroperasi tersebar di hampir setiap daerah.

5. Analisa Aliran Daya Tahun 2016


Transmisi 275 kV baru yang beroperasi adalah Ulle Kareeng - Sigli - Lhokseumawe - Panglan Susu. Sedangkan transmisi 500 kV yang beroperasi adalah New Aur Duri - Rengat - New Garuda Sakti. Transmisi 500 kV
ini merupakan awal terbentuknya back bone 500 kV Sumatera yang pada akhirnya akan menghubungkan
Sumbagselteng dan Sumbagut. Tambahan pembangkit pada tahun 2016 adalah PLTU Pangkalan Susu #3,4
2x200 MW, PLTU Keban Agung Unit #2 112,5 MW, PLTU Sumsel-5 Unit #2 150 MW, PLTU Sumsel-7 300 MW,
PLTP Hululais 110 MW, PLTP Lumut Balai 110 MW, PLTP Sarulla I 110 MW, PLTA Peusangan 88 MW, PLTA
Asahan III 174 MW dan PLTA Semangka 56 MW.
Aliran daya tahun 2016 masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu dari Selatan ke Utara. Pulau kelistrikan yang mengalami surplus daya adalah Sumsel, Riau dan Sumut. Pulau kelistrikan yang menerima suplai
daya terbesar adalah Lampung dan NAD.
GI yang diperkirakan bertegangan rendah (kurang dari 90%) adalah GI yang berada di sisi Timur Sumatera
Utara, karena di daerah tersebut tidak terdapat sumber daya reaktif atau pembangkit. GI tersebut adalah
Tebing Tinggi, Kuala Tanjung, Gunung Para, Kisaran, Aek Kanopan, dan Labuhan Bilik. Kondisi ini akan terus
terjadi sampai beroperasinya sistem 500 kV di Sumut pada tahun 2018. Untuk mengantisipasi hal tersebut
perlu dipasang kapasitor 2x25 MVar di GI Kisaran.

6. Analisa Aliran Daya Tahun 2017


Transmisi 275 kV baru yang beroperasi adalah Muara Enim - incomer double pi (transmisi Lumut Balai Gumawang), dan Muara Enim - Betung. Sedangkan transmisi 500 kV yang beroperasi adalah Muara EnimNew Aur Duri dan PLTU Riau Kemitraan - Rengat. Pembangkit baru yang dioperasikan pada tahun ini
adalah PLTA Peusangan I & II 88 MW, PLTA Asahan III 174 MW, PLTU Sumsel 7 2x150 MW, PLTU Riau Kemitraan 600 MW, PLTP Ulubelu Unit #3 55 MW, PLTP Lumut Balai unit #3&4 211 2x55 MW, PLTP Sarulla I Unit
#3-#6 4x55 MW, PLTP Muaralaboh 4x55 MW.

203
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 203

04/02/2013 14:18:41

Pada simulasi aliran daya diketahui bahwa dengan beroperasinya pembangkit-pembangkit besar di jalur
back bone, maka daya dapat disebarkan dengan optimum. Arah aliran daya pada tahun 2017 sama seperti
tahun sebelumnya, yaitu dari selatan ke utara. Transfer terbesar adalah sekitar 390 MW pada transmisi
Payakumbuh - Padang Sidempuan.
Pada tahun 2017 meskipun sudah dioperasikan kapasitor 2x25 MVar di Kisaran, tetapi diperkirakan masih
terdapat beberapa GI yang bertegangan rendah di sisi timur Sumatera Utara. Untuk mengantisipasi hal
tersebut perlu dipasang tambahan kapasitor 2x25 MVar di GI Aek Kanopan.

7. Analisa Aliran Daya Tahun 2018


Transmisi 500 kV baru yang beroperasi adalah Muara Enim-New Aur Duri dan PLTU Riau Kemitraan-Rengat.
Tambahan pembangkit baru di tahun 2018 ini adalah PLTU Meulaboh (Nagan Raya) #3,4 2x200 MW, PLTP
Hulu Lais 2x55 MW, PLTU Riau Kemitraan 1200 MW, PLTP Ulubelu #4 55 MW, PLTP Seulawah Agam 110
MW, PLTP Sarulla II 110 MW, PLTP Rajabasa 220 MW, PLTP Rantau Dedap #1 110 MW, PLTP Sorik Merapi
240 MW, PLTA Merangin 350 MW, PLTA Peusangan-4 83 MW dan PLTU Sumsel-6 600 MW.
Simulasi aliran daya mengasumsikan PLTU Riau Kemitraan 1200 MW hanya memasok 600 MW ke Sumatera
dan selebihnya diekspor ke Malaysia.
Kapasitor di GI Kisaran dan GI Aek Kanopan masing-masing 2x25 Mvar masih dioperasikan untuk menjaga
agar tegangan di sistem Sumatera.

8. Analisa Aliran Daya Tahun 2019


Transmisi 275 kV baru yang beroperasi adalah Batang Toru - Sumut-4 dan Sumut-4 - Sumut-2. Sedangkan
transmisi 500 kV yang beroperasi adalah New Garuda Sakti - Rantau Prapat - Sei Rotan. Tambahan pembangkit baru di tahun 2019 adalah PLTU Jambi KPS #1 400 MW, PLTP Rantau Dedap #2 110 MW, PLTP Suoh
Sekincau 110 MW, PLTP Wai Ratai 55 MW, PLTP Simbolon Samosir 55 MW, PLTP Sipoholon Ria-ria 55 MW,
PLTP G. Talang 20 MW, PLTA Ketahun-3 61 MW dan PLTA Batang Toru 510 MW.
Pada tahun 2019 banyak pembangkit yang tersambung langsung ke transmisi 275 kV dan 500 kV, sehingga arah aliran daya IBT 275/150 kV di 212 setiap pulau kelistrikan adalah menuju ke sistem 150 kV.
Agar transfer daya optimal, maka segmen transmisi Payakumbuh - Padang Sidempuan dibuka. Dari simulasi
diketahui transfer daya terbesar adalah pada transmisi 500 kV Rantau Prapat - Sei Rotan sebesar 450 MW.
Untuk menjaga tegangan di kota Medan, pembangkit di Belawan masih perlu dioperasikan meskipun sudah beroperasi sistem 275 kV dan 500 kV.

9. Analisa Aliran Daya Tahun 2020 dan 2021


Tambahan pembangkit pada tahun 2020 dan 2021 adalah PLTU Jambi KPS#2 400 MW, PLTP Simbolon
Samosir 55 MW, PLTP Danau Ranau 110 MW, PLTP Bonjol 165 MW, PLTP Kepahiyang 220 MW dan PLTU
Sumsel-6.
Aliran daya tahun 2020 dan 2021 tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 2019. Profil tegangan di sistem
Sumatera masih dalam batasan operasi.

A1.8 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk, meningkatkan keandalan dan mutu
tegangan pelayanan, memperbaiki SAIDI dan SAIFI, menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi
jaringan yang tua dan meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan.
204
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 204

04/02/2013 14:18:41

Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1.8.
Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2012-2021 dapat dijelaskan sebagai
berikut:
-

Selama kurun waktu tahun 2012-2021 direncanakan pembangunan jaringan tegangan menengah 51
ribu kms, jaringan tegangan rendah 47 ribu kms, gardu distribusi 8.287 MVA untuk menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 5,4 juta.
Pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total USD 3.323 juta atau USD 330
juta per tahun.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 78,9% pada tahun 2012 menjadi
97,6% pada tahun 2021 untuk regional Sumatera.

A1.9. Program Listrik Perdesaan


Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Sumatera tahun 2012-2021 seperti dalam lampiran A1.9.dapat dijelaskan sebagai berikut:

Selama kurun waktu tahun 2012-2021 direncanakan membangun JTM 10.231 kms, JTR 11.205 kms,
Kapasitas gardu distribusi 366 MVA.
Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan
tersebut sebesar Rp 5,6 triliun (JTM Rp 3,1 triliun, JTR Rp 1,7 triliun, gardu Rp 0,8 triliun, pembangkit
dan pelanggan Rp 5,7 triliun

A1.10. Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 5.11, halaman 79.

A1.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem Sumatera diberikan pada
Lampiran A1.11.

205
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 205

04/02/2013 14:18:41

LO-RUPTL Lampiran A ok.indd 206

04/02/2013 14:18:41

A2
Sistem Interkoneksi Kalimantan Barat
A2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
A2.2. Neraca Daya
A2.3. Neraca Energi
A2.4. Capacity Balance Gardu Induk
A2.5. Rencana Pengembangan Penyaluran
A2.6. Peta Pengembangan Penyaluran
A2.7. Analisis Aliran Daya
A2.8. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
A2.9. Program Listrik Perdesaan
A2.10. Program Energi Baru dan Terbarukan
A2.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 207

04/02/2013 14:19:18

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 208

04/02/2013 14:19:36

Lampiran A2.1
PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 209

04/02/2013 14:19:36

210

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 210

04/02/2013 14:19:36

Tahun

853

Power Contracted (MVA)

62,8
335,0

Peak Load (MW)

- D Losses (%)

Load Factor (%)

- T Losses (%)

9,98

T & D Losses (%)

+)

4,34

1.764

Energy Requirement (GWh)

Station Use (%)

362
1.844

20.645

-- Public

-- Industrial

49.140

-- Commercial

Total Production (GWh)

636.277

-- Residential

706.424

361,5

63,0

8,36

0,29

8,63

4,34

1.910

1.996

388

22.730

52.643

688.317

764.078

36.973

40.543

Number of Customer

49

47

-- Industrial

83

78

206

568

907

144

150

431

1.020

10

1.745

73,6

65,5

-- Public

194

114

-- Industrial

-- Commercial

137

-- Public

535

411

-- Commercial

-- Residential

926

11

-- Residential

- Energy Growth Rate (%)

1.588

69.3

RE (%) PLN + Non PLN

Energy Sales (GWh)

61.1

6,5

0,91

0.91
6.0

4.517,1

2013

4.476,4

2012

Electrification Ratio (%) PLN

Growth of Total GDP (%)

- Growth Rate (%)

Total Population (10^3)

397,3

63,2

7,73

0,29

8,00

6,00

2.069

2.201

414

24.873

56.117

743.138

824.541

38.980

52

87

216

597

953

164

165

451

1.124

1.904

78,1

70,1

6,7

0,91

4.558,2

2014

429,1

63,4

7,46

0,29

7,73

6,00

2.242

2.385

438

26.984

59.426

794.075

880.923

41.105

54

91

226

624

996

179

181

471

1.237

2.068

82,2

74,2

6,4

0,91

4.599,7

2015

463,9

63,6

7,31

0,29

7,59

6,00

2.431

2.586

466

29.463

63.190

846.317

939.436

46.655

57

96

238

655

1.046

195

198

491

1.362

2.246

86,3

78,3

6,4

0,91

4.641,5

2016

501,8

63,8

7,26

0,29

7,55

6,00

2.638

2.806

493

32.009

66.922

898.559

997.983

49.419

60

101

250

688

1.099

213

215

512

1.499

2.439

90,3

82,4

6,4

0,91

4.683,8

2017

542,7

64,0

7,21

0,29

7,50

6,00

2.862

3.044

520

34.620

70.624

950.801

1.056.565

52.353

63

106

262

724

1.155

231

234

533

1.650

2.647

94,2

86,4

6,4

0,91

4.726,4

2018

586,8

64,2

7,16

0,29

7,45

6,00

3.104

3.302

548

37.296

74.297

1.003.043

1.115.183

55.467

66

111

276

761

1.214

250

254

554

1.815

2.873

98,1

90,4

6,4

0,91

4.769,4

2019

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Wilayah Kalimantan Barat

634,4

64,4

7,11

0,29

7,40

6,00

3.366

3.581

574

40.036

77.941

1.022.087

1.140.639

58.773

70

117

290

800

1.276

271

275

575

1.996

3.117

98,9

91,2

6,4

0,91

4.812,8

2020

686,1

64,6

7,06

0,29

7,38

6,00

3.652

3.885

601

42.841

81.556

1.043.514

1.168.512

71

120

297

819

1.307

294

298

624

2.166

3.382

99,9

92,3

6,4

0,91

4.856,6

2021

Lampiran A2.2
NERACA DAYA
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 211

04/02/2013 14:19:36

212

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 212

04/02/2013 14:19:36

MW

100

200

300

400

500

600

700

800

900

1.000

2012

2013

2014

2015

Pembangkit Eksisting

Pembangkit Sewa

Beban Puncak

PLTA

Power Purchase (Sesco)

PLTG/MG

PLTU

PLTU IPP

PLTU PLN

Pembangkit Sewa

Pembangkit Eksisting PLN

2016

2017

2018

PLTA

2019

PLTU PLN

PLTU IPP

PLTU

2020

PLTG/MG

Tahun

2021

Impor dari (Sesco)

Grafik Neraca Daya Sistem Kalimantan Barat

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

213

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 213

04/02/2013 14:19:36

No

Kebutuhan dan Pasokan

MW

Beban Puncak

MW
MW
MW
MW

PLN

Interkoneksi sistem-sistem isolated

Sewa

Retired & Mothballed (PLN)

PLTU

Parit Baru - Loan China (FTP2)

MW

275 KV

Power Purchase dgn SESCo (Baseload)

Jumlah Pasokan

275 KV

PLTA

PLTG/MG

Power Purchase dgn SESCo (Peaking)

Nanga Pinoh

Pontianak Peaker *)

Kalbar-1

RENCANA TAMBAHAN KAPASITAS


PLTU

PLTU

Parit Baru (FTP1)

IPP ON-GOING DAN COMMITTED

PLTU

Pantai Kura-Kura (FTP1)

PLN ON-GOING DAN COMMITTED

Tambahan Kapasitas

MW

Daya Mampu Netto

Pasokan

GWh

Satuan

Faktor Beban

Produksi

Kebutuhan

252

200

52

252

219

72

1.374

2012

339

275

12

52

339

262

75

1.725

2013

439

100

55

185

47

52

284

346

66

1.993

2014

519

50

120

100

153

42

52

94

371

67

2.176

2015

527

50

52

102

405

66

2.525

2016

Neraca Daya Sistem Kalimantan

600

100

75

75

472

65

2.707

2017

686

100

61

61

501

66

2.879

2018

736

-50

100

61

61

532

66

3.060

2019

842

98

69

69

564

67

3.304

2020

892

50

69

69

609

67

3.567

2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 214

04/02/2013 14:19:36

Lampiran A2.3
NERACA ENERGI
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 215

04/02/2013 14:19:36

216

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 216

04/02/2013 14:19:36

GWh

GWh

Hydro

SESCO

bcf

10^3 kl

10^3 kl

HSD

MFO

10^3 ton

LNG

Batubara

Satuan

GWh

MFO

Jenis

GWh

HSD

Total

GWh

LNG

Satuan

GWh

Jenis

Batubara

1.725

1.494

231

2013

1.993

1.234

12

747

2014

2015

2.176

733

43

1.395

2016

2.525

727

12

1.779

2017

2.707

737

21

1.943

2018

2.879

738

35

10

2.097

2019

3.060

227

300

280

91

2012
-

374

83

2013

309

456

2014

11

851

2015

1.085

2016

1.185

2017

1.279

2018

55

14

88

2.377

14

1.450

2019

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalimantan Barat

1.374

1.121

252

2012

Proyeksi Neraca Energi Kalimantan Barat


2020

1.611

2020

3.304

142

300

35

10

175

2.641

1.665

2021

3.567

317

300

35

10

175

2.729

2021

GWh

Lampiran A2.4
CAPACITY BALANCE GARDU INDUK
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 217

04/02/2013 14:19:36

218

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 218

04/02/2013 14:19:36

16

15

14

13

12

11

10

No.

GI KETAPANG

GI
NANGA

GI SINTANG

GI SEKADAU

GI NGABANG

GI BENGKAYANG

GI TAYAN

GI SANGGAU

GI SAMBAS

GI PLTU
KURA-

GI. KOTA
BARU

GI. SINGKAWANG

GI. MEMPAWAH

GI. PARIT
BARU

GI SEI
RAYA

GI SIANTAN

NAMA GI

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

MVA

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

(KV)

TEG.

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

MVA

CAPACITY

60

30

60

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

60

60

MVA

8,04

30,98
60,74%

44,46%

11,34

51,69%

26,36

36,09%

9,20

54,22%

13,83

38,73%

9,88

41,04%

10,46

46,17%

23,55

46,33%

23,63

69,54%

17,73

62,01%

15,81

56,32%

28,72

56,94%

29,04

64,08%

32,68

34,44%

52,69

55,05%

56,15

Peak
MW

2018

28,53

30

Add
Trf
MVA

55,95%

10,34
40,56%

9,43
36,99%

23,82
46,70%

32,93%

8,40

49,46%

12,61

35,33%

9,01

37,08%

9,45

42,12%

21,48

67,29%

17,16

64,70%

16,50

59,97%

15,29

42,85%

21,85

66,17%

33,75

44,22%

22,55

34,39%

52,62

52,59%

53,64

Peak
MW

2017

21,51

30

Add
Trf
MVA

42,18%

7,66
30,03%

45,10%

11,50

32,22%

8,21

33,48%

8,54

38,41%

19,59

61,96%

15,80

60,17%

15,34

54,40%

13,87

39,45%

20,12

60,06%

30,63

61,40%

15,66

32,75%

50,10

50,81%

51,82

Peak
MW

2016

10,28

30

Add
Trf
MVA

40,33%

10,94
42,91%

10,01

30,65%

7,82

31,55%

39,24%

7,15
28,03%

6,48
25,41%

7,29
28,57%

15,63
61,31%

59,53%

15,18

58,37%

14,88

52,19%

13,31

37,90%

19,33

46,40%

23,66

67,98%

17,33

30,07%

46,01

47,10%

48,04

Peak
MW

2015

17,04

30

60

Add
Trf
MVA

66,82%

62,81%

16,02

54,44%

13,88

66,96%

17,07

62,16%

15,85

42,84%

21,85

62,19%

15,86

26,73%

40,90

39,34%

40,13

Peak
MW

2014

6,54

Add
Trf
MVA

25,66%

12,83
50,33%

12,02
47,13%

12,83
50,33%

12,14
47,60%

15,79
61,91%

16,93
66,39%

16,34
64,09%

15,30
60,01%

15,00
58,84%

17,55
68,84%

67,98%

61,17%

25,49%

39,00

17,34

120

15,60

23,37%

35,75

34,04
66,75%

Peak
MW

2013

29,33

Add
Trf
MVA

57,50%

Peak
MW

2012

Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat

30

Add
Trf
MVA

65,92%

33,62

36,97%

9,43

63,08%

32,17

39,56%

10,09

59,42%

15,15

42,44%

10,82

45,41%

11,58

50,60%

25,80

33,76%

17,22

55,13%

14,06

68,40%

17,44

66,17%

33,74

61,79%

31,51

64,83%

33,06

45,17%

69,12

60,61%

61,82

Peak
MW

2019

30

Add
Trf
MVA

65,01%

33,15

52,92%

13,49

62,72%

31,99

42,96%

10,95

64,53%

16,45

46,09%

11,75

49,79%

12,70

54,95%

28,02

42,63%

21,74

59,98%

15,29

48,95%

24,96

64,09%

32,69

66,45%

33,89

69,24%

35,31

45,36%

69,40

65,82%

67,13

Peak
MW

2020

30

Add
Trf
MVA

64,11%

32,70

67,92%

17,32

62,36%

31,80

46,65%

11,90

70,07%

17,87

50,05%

12,76

54,60%

13,92

59,67%

30,43

53,83%

27,46

65,25%

16,64

70,05%

35,73

62,08%

31,66

71,47%

36,45

73,95%

37,71

45,55%

69,69

71,47%

72,90

Peak
MW

2021
Add
Trf
MVA

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

219

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 219

04/02/2013 14:19:36

GI PUTUSIBAU

GI SUKADANA

GI KOTA
BARU 2

GI SANDAI

NAMA GI

150/20

150/20

150/20

150/20

(KV)

154,61

Peak
MW

1,01

192,33

Total Beban Sistem

Diversity Factor

194,61

Total Beban Gardu Induk & PLTD

20,00

720

30

30

30

30

MVA

20,00

30

30

30

30

MVA

2012

Beban Pembangkit Sei Raya

MVA

CAPACITY

Beban Pembangkit Siantan

Total Beban Gardu Induk

Penambahan Trafo (MVA)

20

19

18

17

No.

TEG.

120

Add
Trf
MVA

1,00

215,20

216,20

20,00

20,00

176,20

Peak
MW

2013

Add
Trf
MVA

1,00

262,04

263,04

20,00

20,00

223,04

Peak
MW

2014

90

Add
Trf
MVA

1,00

289,47

290,47

20,00

20,00

250,47

Peak
MW

2015

30

Add
Trf
MVA

30

1,00

361,08

361,91

20,00

20,00

30

10,73

1,03

410,28

421,61

20,00

20,00

381,61

1,03

445,11

459,11

20,00

20,00

419,11

12,30
48,22%

11,22

42,10%

44,00%

9,70
38,03%

8,76

10,12
39,70%

15,83%

4,04

Peak
MW

9,42

34,35%

321,91

Add
Trf
MVA

2018

36,93%

3,68
14,44%

Peak
MW

3,36

Add
Trf
MVA

2017

13,17%

Peak
MW

2016

Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat

30

Add
Trf
MVA

1,03

482,82

496,41

20,00

20,00

456,41

52,85%

13,48

46,58%

11,88

42,67%

10,88

17,35%

4,42

Peak
MW

2019

30

Add
Trf
MVA

1,00

533,53

534,54

20,00

20,00

494,54

57,92%

14,77

51,08%

13,02

45,43%

11,59

30,60%

7,80

Peak
MW

2020

30

Add
Trf
MVA

1,01

574,01

581,17

20,00

20,00

541,17

63,47%

16,19

56,01%

14,28

48,38%

12,34

53,99%

13,77

Peak
MW

2021

Add
Trf
MVA

Lanjutan

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 220

04/02/2013 14:19:37

Lampiran A2.5
RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 221

04/02/2013 14:19:37

222

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 222

04/02/2013 14:19:37

502

2013

40

2012

150

150

Total

Trafo

275/150 kV

150/20 kV

Total

90

90

502

40

150 kV

2013

275 kV

2012

Transmisi

520

270

250

2014

930

750

180

2014

30

30

2015

2015

60

60

2016

180

180

2016

180

180

2017

860

860

2017

30

30

2018

2018

60

60

2019

2019

60

60

2020

300

300

2020

Poryeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan Gi Kalimantan Barat

2021

2021

1,180

930

250

Total

2,812

2,632

180

Total

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

223

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 223

04/02/2013 14:19:37

Bengkayang

Ngabang

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Bengkayang

Nanga Pinoh

Sandai

Sukadana

Ketapang

Sintang

Sintang

Sintang

Sanggau

Tayan

Singkawang

Siantan

Singkawang

Sei Raya

Parit Baru

Kalbar

Dari

PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2

Kalbar

Provinsi

No

Perbatasan

Kota Baru 2

Tayan

Sandai

Sukadana

Putusibau

Nanga Pinoh

Sekadau

Sekadau

Tayan

Ngabang

Sanggau

Bengkayang

Tayan

Sambas

Kota Baru

Kota Baru

Inc. 2 pi (Singkawang-Mempawah)

Ke

275 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

150 kV

Tegangan

2 cct, 2 Zebra

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 2 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

2 cct, 1 Hawk

Konduktor

Rencana Pengembangan Transmisi Kalimantan Barat

180

180

300

180

200

300

180

180

100

110

180

180

120

184

126

32

40

40

kms

28,36

9,97

22,90

13,74

15,27

22,90

9,97

9,97

5,54

6,09

9,97

9,97

6,65

10,19

6,98

1,77

2,22

2,22

Juta USD

2014

2017

2017

2017

2017

2017

2016

2016

2015

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2013

2012

COD

224

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 224

04/02/2013 14:19:37

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Kalbar

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

Kalbar

Kalbar

Kalbar

Provinsi

No

Bengkayang

Kota Baru

Siantan

Sambas

Nanga Pinoh

Sintang

Putussibau

Ketapang

Parit Baru

Kota Baru 2

Sandai

Sukadana

Sintang

Sanggau

Nanga Pinoh

Sintang

Singkawang

Sekadau

Tayan

Tayan

Siantan

Mempawah

Sanggau

Bengkayang

Ngabang

Siantan

Singkawang

Tayan

Sambas

PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2

Sei Raya

Parit Baru

Sei Raya

Kota Baru

Nama Gardu Induk

275/150 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

150/20 kV

Tegangan

New

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 2 TB, 1 BC, 2 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 4 LB

Ext, 1 TB, 1 TRF

Ext, 1 TB, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 3 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

New, 4 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Ext, 2 LB

Ext, 2 LB

Ext, 2 TB, 2 TRF

New, 2 LB, 1 TB, 1 BC, 1 TRF

Scope Proyek

250

30

60

30

2 LB

2 LB

30

60

30

30

30

30

2 LB

30

30

60

30

30

2 LB

4 LB

60

30

30

30

30

2 LB

2 LB

30

30

30

2 LB

2 LB

120

30

MVA/LB

25.98

1.27

1.37

1.27

1,23

1,23

3,06

5,56

1,27

3,06

4,29

4,29

1,23

1,27

3,06

4,33

1,27

4,29

1,23

2,47

1,37

1,27

4,29

5,33

4,29

1,23

1,23

3,06

3,06

4,29

1,23

1,23

2,75

3,06

Juta USD

2014

2020

2019

2018

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2017

2016

2016

2016

2016

2015

2015

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2014

2013

2013

2013

2013

2013

2012

2012

2012

2012

COD

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Barat


GI baru

GITET baru

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

Arah Kota Baru 2

Arah Putussibau

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Nanga Pinoh

Ekstensien trafo

GI baru

GI baru

Ekstensien trafo

GI baru

Arah Sanggau

Arah Ngabang dan Sanggau

Ekstensien trafo

Ekstensien trafo

GI baru

2 TB untuk IBT 275/150 kV, GI baru

GI baru

Arah Tayan

Arah Sambas

GI baru

GI baru

GI baru

Arah Kota Baru

Arah Kota Baru

Ekstensien trafo

Keterangan

Lampiran A2.6
PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 225

04/02/2013 14:19:37

226

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 226

04/02/2013 14:19:37

Transmisi 150 kV Eksisting


Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

Gardu Induk 275 kV Rencana


Transmisi 275 kV Rencana

KETERANGAN :
PLTU Rencana

Listrik Perbatasan Rencana

Listrik Perbatasan Eksisting

PLTMH Rencana

GI. SANDAI
Thn 2017
GI. KETAPANG
Thn2017

GI. SUKADANA
Thn2017

GI. K0TA
BARU22017

GI. PUTUSIBAU
Thn 2017

PLTGB (IPP) 8 MW (2015)

PLTGB NANGAPINOH (PLN);


(PLN);6
6 (2013)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2019

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW 2014)


(

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

GI. NANGA PINOH


Thn2016

BADAU

BATU KAYA

GI. SINTANG
Thn 2016

GI. SEKADAU
Thn2015

GI SANGGAU
Thn 2014

PLTU SANGGAU (PLN); 2 X


7 MW (2014)

GI. NGABANG
Thn2014
55 km
GI. SIANTAN

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X7 MW (2012)

PLTU KETAPANG (PLN) ;


2 X 10 MW (2013)

TEBEDU
ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2014

GI TAYAN
GI.
GI. SEI RAYA Thn2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011

PLTU PARIT BARU; 2 X 50 MW


(2014)

PLTG/MG PONTIANAK
0 9)
00 MW ((2019)
100

GI. PARIT BARU

GI. PLTU KURA-KURA


Thn
2011
GI. MEMPAWAH

KUCHING

PLTM MERASAP-BENGKAYANG (PLN);


2 x 750 KW (2010)

GI MAMBONG (MATANG)

SERIKIN

BIAWAK

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
your computer,
and then open theBARAT
file again. If 2011
the red x still
appears, you

KALIMANTAN
- 2020

JAGOI BABANG

ARUK
GI. SAMBAS
Thn2013

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

PLTU 2 PANTAI KURA-KURA


(PLN);
2 x 27,5 MW (2 014)
PLTU PARIT BARU Loan China
2 X 50 MW (2015)

PLTM PANCAREK-SAJINGAN (IPP);


2 x 400 KW (2012)

Lampiran A2.7
ANALISIS ALIRAN DAYA
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 227

04/02/2013 14:19:37

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2014


228
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 228

04/02/2013 14:19:37

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015

229
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 229

04/02/2013 14:19:38

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2016


230
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 230

04/02/2013 14:19:38

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2016

231
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 231

04/02/2013 14:19:38

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018


232
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 232

04/02/2013 14:19:38

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2020

233
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 233

04/02/2013 14:19:38

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 234

04/02/2013 14:19:38

Lampiran A2.8
KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 235

04/02/2013 14:19:38

236

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 236

04/02/2013 14:19:38

111
117
124
141
149
158
167
177
192
1.458

2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021

2012-2021

JTR
kms

4.166

549

506

477

451

425

401

354

335

318

349

Trafo
MVA

643

75

74

70

67

64

62

59

52

56

65

515,129

27.873

25.456

58.618

58.582

58.547

58.512

56.382

60.464

57.653

53.041

Pelanggan

2,9
2,6
2,7
2,9
3,3
3,5
3,7
3,9
4,1
4,5
34,1

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2012-2021

JTM

2012

Tahun

9,9

9,4

8,9

8,4

7,4

7,0

6,6

7,3

86,7

11,4

10,5

JTR

7,9

7,7

7,4

7,0

6,7

6,5

6,1

5,4

5,8

6,8

67,3

Trafo

33,6

1,8

1,7

3,8

3,8

3,8

3,8

3,7

3,9

3,8

3,5

Pelanggan

221,8

25,6

24,0

25,0

23,9

22,9

21,9

20,1

19,1

18,8

20,3

Total

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Barat

122

2013

JTM
kms

2012

Tahun

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Barat

Lampiran A2.9
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 237

04/02/2013 14:19:38

238

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 238

04/02/2013 14:19:38

211
202
190
158
111
44
30
4
1.263

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total

929

22

32

81

116

139

148

155

110

124

2.462
295

73.625
70.382
66.173
55.026
38.552
15.191
10.344
1.238
437.125

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

Total

107.545

3.616

9.176

13.096

15.749

16.751

17.523

12.456

52.334

2014

16.421

2013

JTR

54.259

JTM

2012*

Tahun

150

JTR
kms
MVA

23

Trafo
Unit

423

10

15

37

53

63

67

70

50

57

62.778

177

1.482

2.177

5.525

7.886

9.483

10.086

10.551

7.500

7.910

Jumlah Pelanggan
PLG

140

1.173

1.723

4.373

6.241

7.506

7.983

8.351

5.936

5.712

49.139

Trafo

593.808

1.673

13.980

20.529

52.101

74.364

89.428

95.117

99.499

70.726

76.392

Lisdes Reguler

18.227

6.195

6.195

5.837

Listrik Murah & Hemat

612.036

1.673

13.980

20.529

52.101

74.364

89.428

95.117

105.694

76.921

82.229

Total Biaya

Juta Rupiah

7.592

2.950

2.950

1.692

Listrik Murah & Hemat


RTS

Perkiraan Kebutuhan Investasi Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalbar

163

2013

JTM
kms

2012*

Tahun

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalbar

Lampiran A2.11
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 239

04/02/2013 14:19:38

240

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 240

04/02/2013 14:19:38

1.120

2020

34

147

2019

82

50

2018

305

140

2017

1
16

2021

140

2016

Total

88

2015

125

150

2014

Distribusi

28

85
320

2013

41

T/L dan GI
10

Pembangkit

Investasi

2012

Tahun

Total

1.459

177

55

145

225

107

155

449

129

14

(Juta US$)

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi &


Distribusi (Fixed Asset Addition) Kalimantan Barat

PENJELASAN LAMPIRAN A2
SISTEM KALIMANTAN BARAT

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 241

04/02/2013 14:19:38

A2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Produksi energi listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 11.2% per tahun, yaitu meningkat dari
1.374 GWh pada tahun 2012 menjadi 3.567 GWh pada tahun 2021. Faktor beban diperkirakan akan menurun sejalan dengan masuknya sistem isolated ke grid.
Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2012 sebesar 219 MW akan meningkat menjadi 609 MW pada
tahun 2021 termasuk dengan tersambungnya beberapa sistem isolated yaitu sistem Singkawang, Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Ngabang, Ketapang dan Putussibau. Sistem-sistem kecil
lainnya masih beroperasi isolated.
Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2012 - 2021 diberikan pada Lampiran A2.1.

A2.2. Neraca Daya


Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 252 MW (termasuk sewa), dimana semua pembangkit
di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga biaya operasi sangat tinggi. Tambahan pembangkit pada
sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap rencana, kecuali PLTU Percepatan Tahap 1, yaitu PLTU
Parit Baru (2x50 MW) dan PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang sedang konstruksi dan direncanakan
beroperasi pada tahun 2014.
PLN dan perusahaan listrik Sarawak (Sesco) telah menandatangani PEA (power exchange agreement)
yang berisi rencana PLN membeli listrik untuk memasok sistem Kalimantan Barat dari Serawak sebesar
50 MW flat (sebagai baseload) dan pada beban puncak dapat membeli hingga 230 MW mulai awal tahun
2015 hingga tahun 20191. Dalam jangka panjang dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari
Serawak adalah hanya selama beban puncak. Hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang berbahan bakar mahal. Namun untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap
pasokan dari Sarawak, maka direncanakan pembangunan PLTG/MG 100 MW di tahun 2019, yaitu pada
saat berakhirnya perjanjian impor energi dari Serawak.
Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan mencapai 58% pada tahun
2020. Namun hal ini masih dapat diterima dengan pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbagai sebab, interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasis
power pada waktu beban puncak.
PLTU Batubara
Pantai Kura-kura FTP1 (2x27,5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50) diharapkan beroperasi pada tahun
2014. PLTU batubara yang didanai dengan pinjaman dari Pemerintah China (2x50 MW) di Parit Baru
juga diharapkan beroperasi pada tahun 2015.
Di RUPTL ini PLN merencanakan PLTU batubarra dengan unit size yang lebih besar, yaitu 100 MW. Hal-hal
yang mendasari pemilihan unit size 100 MW adalah adanya interkoneksi ke sistem kelistrikan Sarawak yang
lebih besar sehinggga memungkinkan penggunaan unit size yang lebih besar tanpa menimbulkan masalah
operasi. Unit yang lebih besar juga dimaksudkan untuk mengambil manfaat economy of scale serta mempertimbangkan semakin sulitnya mendapatkan lahan yang cocok untuk pembangunan PLTU batubara di Kalbar.
Interkoneksi Kalbar - Sarawak
Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan biaya pokok produksi dengan menggantikan pembangkit BBM, meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan mengantisipasi keterlambatan
pembangunan proyek PLTU. Proyek ini diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2014.

242
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 242

04/02/2013 14:19:38

Proyek-proyek strategis:

Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai Kura-Kura) merupakan proyek
strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini
sudah terjadi, juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting.

PLTU Parit Baru dengan pendanaan dari Pemerintah China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Kalbar-1 diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem Kalbar sebagai pembangkit
base load.

PLTG/MG Pontianak Peaker dan PLTA Nanga Pinoh diharapkan dapat beroperasi tahun 2019 dan
2020 untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaker di Sistem Kalbar.

Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.2.

A2.3. Neraca Energi


Produksi energi per jenis energi primer di sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.3.
Peranan masing-masing energi primer tersebut Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.3.
a.

Pada tahun 2012 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru berbahan bakar selain BBM,
maka produksi dengan BBM untuk sistem interkoneksi akan mencapai 1.374 GWh.

b.

Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU batubara dan impor lstrik dari
Sarawak, maka penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar dapat
jauh dikurangi.

c.

Sumber energi air terdapat di daerah Nanga Pinoh sehingga direncanakan PLTA Nanga Pinoh 98 MW
yang direncanakan beroperasi pada tahun 2019.

d.

Terdapat rencana pengiriman LNG dari Batam ke Kalbar yang akan dimanfaatkan untk pembangkit peaker 100 MW dengan kebutuhan gas 5 bbtud.

e.

Peranan HSD hingga tahun 2021 tetap penting namun dalam volume yang lebih kecil untuk melistriki
sistem-sistem kecil terisolasi.

Kebutuhan Bahan Bakar


Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2012 hingga tahun 2021. Pada
tahun 2012 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem interkoneksi sebesar 371 juta liter dan pada tahun
2021 menurun menjadi hanya 13 juta liter. Pemakaian batubara meningkat dari 0,456 juta ton pada tahun
2014 menjadi 1,66 juta ton pada tahun 2021.
Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2021 dapat dilihat pada
Lampiran A2.3.

243
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 243

04/02/2013 14:19:38

A2.4. Capacity Balance Gardu Induk


Capacity balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2021 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan
Barat sampai dengan tahun 2021 sebesar 1.180 MVA.
Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada Lampiran A2.4.

A2.5. Rencana Pengembangan Penyaluran


Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar sampai dengan tahun
2021 adalah sepanjang 2.812 kms, meliputi:
-

Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTU IPP
dan PLTA.

Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTU IPP
dan PLTA.

Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan
pelayanan dan fleksibilitas operasi

Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar - Sarawak untuk mendapatkan benefit ekonomi
dari energy exchange pada saat terjadi perbedaan marginal cost antara kedua sistem. Interkoneksi
ini juga bermanfat sebagai contingency apabila konstruksi penbangkit baru terlambat.

Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.5.

A2.6. Peta Pengembangan Penyaluran


Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2.6.

A2.7. Analisis Aliran Daya


Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan
beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 2012-2021 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012,
2014, 2015, 2016, 2018 dan 2020.
Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.

Tahun 2012
Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. Tegangan terendah terjadi di GI Sintang
namun masih baik (148,5 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1.

2.

Tahun 2014
PLTU Parit Baru (FTP1) 100 MW dan PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 55 MW sudah beroperasi dan bisa
mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit BBM. Beberapa sistem isolated juga sudah mu-

244
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 244

04/02/2013 14:19:39

lai bergabung dengan grid Kalbar seiring dengan selesainya pembangunan transmisi terkait. Profil
tegangan di sistem Kalbar di semua GI adalah baik. Semua ruas transmisi masih memenuhi kriteria N-1.
3.

Tahun 2015
Transmisi 275 kV Bengkayang - Jagoi Babang (Serawak) sudah beroperasi sehingga sistem Kalbar
terinterkoneksi dengan Serawak. Sistem Kalbar akan mengimpor dari Serawak sebesar minimal 50
MW untuk memikul beban dasar dan pada saat beban puncak dapat ditingkatkan hingga 230 MW.
Aliran daya menunjukkan bahwa impor dari Serawak pada beban puncak dapat mencapai 200 MW.
Pada saat kondisi beban rendah, impor dari Serawak hanya sebesar 50 MW. Kebutuhan listrik di
Kalbar sebagian besar dapat dipasok dari PLTU FTP1 155 MW dan PLTU skala kecil 35 MW (total).
Profil tegangan di sistem Kalbar baik di semua GI. Semua ruas transmisi masih memenuhi kriteria
N-1.

4.

Tahun 2016
Tambahan di tahun 2016 adalah bergabungnya sistem isolated Sintang dan Nanga Pinoh ke grid
Kalbar. Pada kondisi beban puncak dan pembangkitan di Kalbar yang normal, impor dari Serawak
adalah sekitar 120 MW. Profil tegangan masih memenuhi standar dan semua transmisi memenuhi
kriteria N-1.
Pada waktu beban puncak dan pembangkitan di Kalbar minimal, impor dari Serawak bisa mencapai
220-230 MW. Pada kondisi ini, pembangkit yang beroperasi adalah PLTU FTP1 155 MW, PLTU Sanggau 14 MW dan PLTU Sintang 21 MW. Profil tegangan masih memenuhi standar. Tegangan GI terendah akan terjadi di kota Pontianak (135 kV). Sedangkan pada luar waktu beban puncak, impor dari
Sesco adalah sekitar 70 MW. Profil tegangan pada kondisi ini jauh lebih baik. Semua ruas transmisi
masih memenuhi kriteria N-1.

5.

Tahun 2018
Tambahan di tahun 2018 adalah beroperasinya PLTU Kalbar-1 2x100 MW dan bergabungnya sistem
isolated Sandai, Sukadana, Ketapang, Putussibau dan Kota Baru-2 ke grid Kalbar. Impor dari Serawak
pada waktu beban puncak sebesar 190 MW. Sedangkan pada waktu luar beban puncak impor dari
Serawak hanya 50 MW atau sama dengan impor minimal. Profil tegangan pada waktu beban puncak
di semua GI adalah baik. Semua ruas transmisi masih memenuhi kriteria N-1.

6.

Tahun 2020/2021
Tambahan di tahun 2020/2021 adalah beroperasinya PLTG/MG Pontianak Peaker 100 MW (yang siap
beroperasi pada tahun 2019) dan PLTA Nanga Pinoh 98 MW. Perjanjian impor energi dari Serawak
di tahun ini berakhir namun dapat diperpanjang. Impor dari Serawak hanya selama beban puncak
yaitu sekitar 100 MW. Profil tegangan pada kondisi beban puncak dan beban rendah adalah lebih
dari 140 kV di semua GI. Semua ruas transmisi masih memenuhi kriteria N-1.

A2.8. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk meningkatkan keandalan dan mutu
tegangan pelayanan, memperbaiki SAIDI dan SAIFI, menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi
jaringan yang tua dan meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan. Proyeksi
kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran A2.8.

245
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 245

04/02/2013 14:19:39

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 20122021 dapat dijelaskan
sebagai berikut :

Selama tahun 2012-2021 direncanakan membangun jaringan tegangan menengah 1.458 kms, jaringan tegangan rendah 4.166 kms, gardu distribusi 643 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 515 ribu pelanggan.

Untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut dibutuhkan biaya sebesar USD 222
juta atau USD 22 juta per tahun.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 69,3% tahun 2012, menjadi 99,9% di tahun 2021.

A2.9. Program Listrik Perdesaan


Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Barat tahun 20122021 seperti dalam lampiran A2.9, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Selama kurun waktu tahun 2012-2021 direncanakan membangun JTM 1.263 kms, JTR 929 kms,
Kapasitas gardu distribusi 23 MVA.

Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan
tersebut sebesar Rp 612 milyar (dengan rincian JTM Rp 437 milyar, JTR Rp 108 milyar, gardu distribusi Rp 49 milyar, pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 593 milyar).

A2.10. Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 5.11, halaman 98.

A2.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.11.

246
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 246

04/02/2013 14:19:39

Rencana Pengembangan Sistem Kelistrikan


Per Provinsi Wilayah Operasi Indonesia Barat

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 247

A3.

Provinsi Aceh

A4.

Provinsi Sumatera Utara

A5.

Provinsi Riau

A6.

Provinsi Kepulauan Riau

A7.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

A8.

Provinsi Sumatera Barat

A9.

Provinsi Jambi

A10.

Provinsi Sumatera Selatan

A11.

Provinsi Bengkulu

A12.

Provinsi Lampung

A13.

Provinsi Kalimantan Barat

04/02/2013 14:19:39

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 248

04/02/2013 14:19:39

LAMPIRAN A.3
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI ACEH
A3.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini
Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Sekitar 71% dari sistem kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi
150 kV Sumbagut dan sisanya 29% dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar. Saat ini daerah yang
sudah dipasok sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Aceh melalui 7 gardu induk
yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie dan Pidie
Jaya, Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan posisi pembangkit sebagian besar berada di Sumut. Peta sistem kelistrikan Provinsi Aceh ditunjukkan pada Gambar A3.1.

SISTEM 150 kV Sumut-Aceh


BebanPuncak: 233 MW
Genset Sewa: 150 MW

SISTEM SABANG
Beban Puncak: 3.5 MW
Genset Sewa: 2 MW
SISTEM CALANG
Beban Puncak: 4,2 MW
Genset Sewa: 4 MW

SISTEM TAKENGON
BebanPuncak: 13.8 MW
Genset Sewa: 10 MW

SISTEM MEULABOH
Beban Puncak: 25.3 MW
Genset Sewa: 15 MW

SISTEM BLANGKEJEREN
BebanPuncak: 3,1 MW
Genset Sewa: 2 MW

SISTEM BLANGPIDIE
Beban Puncak: 9.8 MW
Genset Sewa: 4 MW

SISTEM KUTACANE
BebanPuncak: 9.7MW
Genset Sewa: 6 MW

SISTEM TAPAKTUAN
Beban Puncak: 4.5 MW
Genset Sewa: 2 MW
SISTEM KutaFajar
Beban Puncak: 4.2 MW
Genset Sewa: 2 MW

SISTEM SUBULUSSALAM
(RIMO)
Beban Puncak: 9.7 MW
Genset Sewa: 10MW

SISTEM SINABANG
Beban Puncak: 3.7 MW
Genset Sewa: 3 MW

Gambar A3.1. Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Aceh

Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok oleh PLTD berbahan
bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV
Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan pemadaman karena jumlah
kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai cadangan daya yang cukup. Pemadaman dalam
skala besar bisa terjadi apabila ada gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit pembangkit berkapasitas besar. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa
genset sebesar 150 MW di 9 lokasi.
Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya,
Aceh Selatan, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Kota Sabang dan Simeulu terdapat sewa genset dengan kapasitas total 59 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut.

249
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 249

04/02/2013 14:19:39

Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Aceh adalah 390 MVA. Rincian kapasitas pembangkit dan GI
Provinsi Aceh masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3.1 dan Tabel A3.2.

Tabel A3.1. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2011


No

Nama Pembangkit

Sistem Interkoneksi 150 KV

Banda Aceh

Jenis

Bahan Bakar

PLTD

HSD

Genset Sewa
2

Lhokseumawe

PLTD

HSD

Genset Sewa
3

Sigli

PLTD

HSD

Genset Sewa
4

Langsa

PLTD

HSD

Genset Sewa

Daya Mampu
(MW)

Pemilik

PLN

22

Swasta

45

PLN

14

Swasta

70

PLN

Swasta

20

PLN

Swasta

15

Total A

Beban Puncak
(MW)
86
81
28
44

194

240

PLN

13

13

PLN

PLN

14

PLN

HSD

PLN

46

23

HSD

PLN

HSD

PLN

HSD

PLN

16

Sistem Isolated

Takengon

PLTD

HSD

Sabang

PLTD

HSD

Kutacane

PLTD,
PLTM

HSD, Air

Blangkejeren

PLTD

HSD

Meulaboh

PLTD

Calang

PLTD

Sinabang

PLTD

Blang Pidie

PLTD

Tapaktuan

PLTD

HSD

PLN

Subulussalam

PLTD

HSD

PLN

19

12

10

Isolated Kepulauan

PLTD

HSD

PLN

Total B

282

172

Tabel A3.2. Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2011


No
1

Nama Gardu Induk

Kapasitas Trafo (MVA)


#1
30

30

60

30

10

20

a. Bayu

30

30

b. Juli Bireun

30

30

Sigli
a. Tijue

#3

Banda Aceh
a. Lambaro

#2

Lhokseumawe

Langsa
a. Alur Dua

30

b. Tualang Cut

10

c. Alur Bate, Idi

30

Jumlah

10
390

Peak Load
(MW)

Keterangan

85,9

KIT-PLTD // 20 KV= 57,9 MW

28,4

KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW

81,2

KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW

44,2

KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW

10
239,7

Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Aceh yang telah mencapai sekitar 325 MW sebagian besar
dipasok dari pembangkit-pembangkit yang berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan
Brandan - Langsa - Idie - hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 233 MW dan sistem isolated tersebar rata-rata 92 MW.

250
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 250

04/02/2013 14:19:39

Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Aceh masih tinggi, yaitu Rp 2.197/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD, baik di sistem interkoneksi maupun sistem isolated.

A3.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Di Provinsi Aceh


Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Hal tersebut
sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan
Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi Aceh Nias pada tahun 2006 s/d 2010. Kondisi keamanan yang kian
membaik setelah penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal
penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan
konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik. Penjualan pada tahun 2011 tumbuh
hinggga 6,6% dan tahun 2012 akan tumbuh sekitar 12,2%. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga
naik dari 299 MW pada tahun 2010 menjadi 325 MW pada tahun 2011.
Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 13 % per tahun, dimana penjualan pada tahun 2007 sebesar 997,36 GWh telah meningkat menjadi 1.579,8 GWh pada tahun 2011.
Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 1.016,07 GWh (64,3%), kemudian sektor
bisnis sebesar 278,5 GWh (17,63%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.3.

Tabel A3.3. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No

Kelompok Tarif

Energi Jual (GWh)

Porsi (%)

Rumah Tangga

1.016,07

64,32

2
3

Komersil

278,50

17,63

Publik

231,33

Industri

53,87

14,64
3,41

Jumlah

1.579,77

100,0

Dari realisasi pengusahaan lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan
ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 diberikan pada Tabel A3.4.

Tabel A3.4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(Gwh)

Produksi
(Gwh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

1.784

2.035

369

1.092.463

2013

1.962

2.197

397

1.144.466

2014

2.160

2.400

434

1.198.567

2015

2.375

2.632

475

1.248.541

2016

2.616

2.894

521

1.299.897

2017

2.884

3.187

573

1.350.753

2018

3.180

3.511

630

1.401.609

2019

3.511

3.872

694

1.450.941

2020

3.882

4.276

765

1.488.990

2021

4.285

4.716

843

1.527.038

Growth

11,2%

10,1%

11,0%

4,5%

251
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 251

04/02/2013 14:19:39

A3.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.

Potensi Sumber Energi


Potensi sumber energi di Provinsi Aceh tersedia cukup besar, yaitu panas bumi 589 MW, tenaga air 1.482
MW dan cadangan batubara 1,7 miliar ton. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.2.
Disamping itu di Provinsi Aceh juga terdapat cadangan gas, namun sudah dieksploitasi dan saat ini sudah
jauh berkurang.

Gambar A3.2. Peta Sumber Energi di Provinsi Aceh

Pengembangan Pembangkit di Provinsi Aceh


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2021 diperlukan pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Aceh yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya
sebesar 1.200 MW dengan rincian diberikan pada Tabel A3.5.
Pembangunan PLTP Seulawah 110 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Aceh dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 7 MW sudah dilelang oleh
Pemko Sabang.

252
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 252

04/02/2013 14:19:39

Tabel A3.5. Rencana Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Meulaboh #1,2 (FTP1)

Sabang (FTP2)

Aceh Timur

Arun

5
6

Asumsi
Pengembang

Jenis

Kapasitas
(MW)

COD

PLTU

PLN

220

2013

PLTGB

PLN

2013

PLTG

PLN

70

2014

PLTG/MG

PLN

200

2014

Sinabang (eks Tapaktuan)

PLTU

PLN

14

2014

Peusangan 1-2

PLTA

PLN

88

2016

Meulaboh #3,4

PLTU

PLN

400

2017/18

Peusangan-4 (FTP2)

PLTA

Swasta

83

2018
2018

Seulawah

PLTP

Swasta

55

10

Seulawah (FTP2)

PLTP

Swasta

55

2018

11

Jaboi (FTP2)

PLTP

Swasta

10

2019

Jumlah

1.203

Beroperasinya PLTA Peusangan 83 MW, dan PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW sangat penting untuk
memperbaiki sistem kelistrikan Aceh, mengingat saat ini daya pembangkit dari Sumut yang memasok
demand di Aceh masih sangat terbatas. Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini, sampai dengan beroperasinya PLTU Nagan Raya 2x110 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV.
Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok penyediaan listrik baik
di sistem interkoneksi maupun sistem isolated akan dibangun PLTU Meulaboh #3 dan 4 (400 MW) serta
beberapa PLTU skala kecil di Sinabang 2 x 7 MW, Sabang 8 MW dan PLTP Jaboi 10 MW.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk
Pembangunan GI baru dan tambahan trafo (extension) sampai dengan tahun 2021 berjumlah 1500 MVA
dan 1250 MVA masing-masing untuk GI 150 kV dan 275 kV seperti yang ditunjukan pada tabel A3.6 dan
A3.7.

Tabel A3.6. Pengembangan GI


No

Gardu Induk

Tegangan

New/Extension

Kapasitas
(MvA/Bay)

Juta USD

COD

Jantho

150/20 kV

New

30

3 ,06

2013

Meulaboh

150/20 kV

New

60

4 ,33

2013

Panton Labu

150/20 kV

New

30

3 ,06

2013

PLTU Meulaboh

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2013

Tualang Cut

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2013

Banda Aceh

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

Bireun

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

Blang Pidie

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

Blang Pidie

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

10

Cot Trueng

150/20 kV

New

30

5 ,53

2014

11

Idi

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2014

253
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 253

04/02/2013 14:19:39

Tabel A3.6. Pengembangan GI


Lanjutan
No

Gardu Induk

Tegangan

New/Extension

Kapasitas
(Mva/Bay)

Juta USD

COD

12

Krueng Raya

150/20 kV

New

60

4 ,33

2014

13

Kutacane

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

14

Langsa

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2014

15

Lhokseumawe

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2014

16

PLTA Peusangan

150/20 kV

New

4 LB

3 ,03

2014

17

PLTU Meulaboh

150/20 kV

Extension

2 LB

18

Subulussalam

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

19

Takengon

150/20 kV

New

60

4 ,33

2014

20

Tapak Tuan

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

21

Ulee Kareng

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

22

Ulee Kareng

150/20 kV

New

120

4 ,54

2014

23

Banda Aceh

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2015

24

Blang Kjeren

150/20 kV

New

30

3 ,06

2015

25

Samalanga

150/20 kV

New

30

3 ,06

2015

26

Sigli

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2015

27

Takengon

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2015

28

Bireuen

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2016

29

Jantho

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2016

30

Singkil

150/20 kV

New

30

3 ,06

2016

31

Subulussalam

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2016

32

Meulaboh

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2017

33

Banda Aceh

150/20 kV

Extension

2 TB

1 ,04

2018

34

Lam Pisang

150/20 kV

New

120

4 ,54

2018

35

Tualang Cut

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2018

36

Cot Trueng

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2019

37

Panton Labu

150/20 kV

Extension

30

3 ,06

2019

38

Samalanga

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2019

39

Bireun

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2020

40

Subulussalam

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2020

41

Tualang Cut

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2020

42

Jantho

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2021

43

Lhokseumawe

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

44

Sigli

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

45

Ulee Kareng

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

1.500

56 ,04

Jumlah

2014

Tabel A3.7. Pengembangan GI 275 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

COD

Lhokseumawe

275/150 kV

New

250

20,08

2016

Sigli

275/150 kV

New

250

25,98

2016

Ulee Kareng

275/150 kV

New

500

25,98

2016

PLTU Meulaboh

275/150 kV

New

250

20,08

2017

Sigli

275/150 kV

Extension

7,45

2017

1.203

99,56

Jumlah

254
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 254

04/02/2013 14:19:39

Pengembangan Transmisi
Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2021 adalah 1.765 kms (150 kV) dan 812 kms
(275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 323 juta seperti yang ditampilkan dalam Tabel A3.8 dan
Tabel A3.9.

Tabel A3.8. Pembangunan Transmisi 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

Juta
USD

Kms

COD

Sigli

PLTU Meulaboh

150 kV

2 cct, 2 Zebra

333

74,95

2012

Jantho

Inc. 1 Pi (Sigli-B. Aceh)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

0,06

2013

Meulaboh

PLTU Meulaboh

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3,32

2013

Panton Labu

Inc. 1 Pi (Idi-Lhokseumawe)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

0,11

2013

Bireun

Takengon

150 kV

2 cct, 2 Hawk

126

9,62

2014

Blang Pidie

Tapak Tuan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

130

7,20

2014

Brastagi

Kutacane

150 kV

2 cct, 1 Hawk

290

16,07

2014

Cot Trueng

Inc. 2 Pi (Bireun-Lhokseumawe)

150 kV

4 cct, 1 Hawk

0,33

2014
2014

Krueng Raya

Ulee Kareng

150 kV

2 cct, 2 Hawk

60

4,58

10

PLTA Peusangan-1

PLTA Peusangan-2

150 kV

2 cct, 2 Hawk

14

1,07

2014

11

PLTA Peusangan-2

Takengon

150 kV

2 cct, 2 Hawk

22

1,68

2014

12

PLTU Meulaboh

Blang Pidie

150 kV

2 cct, 1 Hawk

190

10,53

2014

13

Sidikalang

Subulussalam

150 kV

2 cct, 1 Hawk

111

6,16

2014

14

Ulee Kareng

Banda Aceh

150 kV

2 cct, 2 Zebra

40

9,00

2014

15

Samalanga

Inc. 1 Pi (Bireun-Sigli)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

0,22

2015

16

Subulussalam

Singkil

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2015

17

Takengon

Blang Kjeren

150 kV

2 cct, 1 Hawk

174

9,64

2015

18

Banda Aceh

Lam Pisang

150 kV

2 cct, 2 Hawk

30

2,29

2018

19

PLTP Seulawah

2 Pi Inc. (Sigli-Banda Aceh)

150 kV

4 cct, 1 Hawk

32

3,55

2018

20

Takengon

PLTA Peusangan-4

150 kV

2 cct, 1 Hawk

20

1,11

2018

1.765

168,13

Jumlah

Tabel A3.9. Pembangunan Transmisi 275 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

Kms

Juta
USD

COD

Pangkalan Susu

Lhokseumawe

275 kV

2 cct, 2 Zebra

360

81,03

2016

Sigli

Lhokseumawe

275 kV

2 cct, 2 Zebra

322

72,47

2016

Sigli

Ulee Kareng

275 kV

2 cct, 2 Zebra

130

0,99

2016

812

154,49

Jumlah

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan listrik pada butir 3.2 di atas, diperlukan tambahan pelanggan baru
477 ribu pelanggan atau rata-rata 47.700 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan, diperlukan pembangunan jaringan tegangan menengah 10.458 kms, jaringan tegangan rendah
sekitar 11.837 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 727 MVA, seperti ditampilkan dalam
Tabel A3.10.

255
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 255

04/02/2013 14:19:39

Tabel A3.10. Rincian Pengembangan Distribusi


JTM
kms

Tahun

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

864

978

52

42.324

2013

890

1.007

56

52.003

2014

920

1.041

59

54.101

2015

952

1.078

63

49.974

2016

991

1.122

68

51.356

2017

1.037

1.174

72

50.856

2018

1.089

1.233

77

50.856

2019

1.150

1.301

82

49.332

2020

1.219

1.380

95

38.049

2021

1.346

1.523

102

38.049

2012-2021

10.458

11.837

727

476.899

A3.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai dengan tahun 2021 adalah seperti tersebut dalam Tabel A3.11.

Tabel A3.11. Rangkuman


Energy
Sales
(Gwh)

Produksi
Energi
(Gwh)

Beban
Puncak
(MW)

2012

1.784

2.035

369

333

118

2013

1.962

2.197

397

228

150

63

378

2014

2.160

2.400

434

284

510

989

323

2015

2.375

2.632

475

180

298

78

2016

2.616

2.894

521

88

1.090

812

419

2017

2.884

3.187

573

200

280

346

2018

3.180

3.511

630

393

150

82

723

2019

3.511

3.872

694

10

90

90

2020

3.882

4.276

765

90

73

2021

4.285

4.716

843

210

79

Growth/
Jumlah

11,2%

10,1%

11,0%

1.203

2.750

2.577

2.628

Tahun

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

256
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 256

04/02/2013 14:19:39

LAMPIRAN A.4
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
A4.1. Kondisi Saat Ini
Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem transmisi 150 kV
(tidak termasuk Pulau Nias/Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Pulau Tello dan Pulau Sembilan yang masih
beroperasi secara isolated). Saat ini beban puncak terlayani sekitar 1.270 MW dan dipasok oleh Sektor
Pembangkitan Belawan, Sektor Pembangkitan Medan, Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum untuk ikut
membantu memenuhi kebutuhan beban puncak.
Disamping pusat-pusat pembangkit di atas, ada beberapa PLTMH yang memasok listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW.
Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban, maka pada saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Untuk menanggulangi pemadaman yang berkepanjangan, PLN Wilayah Sumatera
Utara melakukan demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban, yaitu
membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru.
Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2.146 MVA. Peta kelistrikan sistem
Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4.1.

Gambar A4.1. Peta Kelistrikan Sumatera Utara

257
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 257

04/02/2013 14:19:40

Penjualan tenaga listrik di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan sejalan dengan pertumbuhan ekonominya. Namun pasokan tenaga listrik (pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu
(derating capacity) karena umur pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit
baru yang relatif kecil. Secara lebih rinci, kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.1.
Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari seluruh demand di
provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi. Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang bertegangan rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang. Situasi ini telah direncanakan penanggulangannya dalam RUPTL.

Tabel A4.1. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2011


No.

Pembangkit

Kapasitas Terpasang (MW)

Daya Mampu (MW)

Sektor Pembangkitan Belawan

1.183

1.033

PLTU Belawan

260

195

PLTGU Belawan

818

733

PLTG Belawan TTF

105

105

Sektor Pembangkitan Medan

300

213

PLTG Glugur

33

PLTG Glugur TTF

12

11

PLTG Paya Pasir

90

49

PLTG Paya Pasir TTF

56

52

PLTD Titi Kuning

25

18

PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta)

20

18

PLTD Sewa Belawan (AKE)

Sektor Pembangkitan Pandan

65

65

139,5

136,3

1
8

PLTMH Batang Gadis

7,5

6,3

PLTMH Aek Sibundong

0,8

0,7

PLTA Sipansihaporas

50,0

50,0

10

PLTA Lau Renun

82,0

80,0

Sektor Pembangkitan Labuhan Angin

230

210

PLTU Labuhan Angin

230

210

IPP

206

205

PLTP Sibayak

11

10

PLTA Asahan I

180

180

PLTMH Parlilitan

PLTMH Silau II

Excess Power

25

25

PT Growt Sum.#1

PT Growt Sum.#2

PT Growt Asia
TOTAL

10

10

2.084

1.822

Kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung Sitoli, Teluk Dalam (Pulau Nias), Pulau
Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4.2.

258
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 258

04/02/2013 14:19:40

Tabel A4.2. Pembangkit Sistem Isolated per 2011


Daya
No
1

Lokasi PLTD

Terpasang
(kW)

Gunung Sitoli
- PLTD PLN

12.178

4.650

- PLTD Sewa

5.920

4.700

- PLTD Sewa

6.500

4.650

24.598

14.000

- PLTD PLN

3.380

1.850

- PLTD Sewa

5.225

4.070

Total PLTD Teluk Dalam

8.605

5.920

700

400

Total PLTD Gunung Sitoli


2

Mampu
(kW)

Teluk Dalam

Pulau Tello
- PLTD PLN
Total PLTD Pulau Tello
Total PLTD Cabang Nias

700

400

33.903

20.320

A4.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa mendatang,
maka proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 diberikan pada Tabel A4.3.

Tabel A4.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga listrik


Tahun

Sales
(GWh)

2012

7.749

2013
2014

Produksi
(GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

8.859

1.508

2.678.497

8.530

9.232

1.566

2.772.051

9.393

10.130

1.714

2.870.261

2015

10.329

11.109

1.874

2.976.607

2016

11.374

12.214

2.054

3.088.945

2017

12.540

13.465

2.258

3.203.020

2018

13.828

14.847

2.482

3.316.345

2019

15.268

16.391

2.732

3.429.670

2020

16.879

18.119

3.011

3.509.769

2021

18.635

20.001

3.315

3.576.753

Growth

10,9%

10,4%

10,4%

3,4%

A4.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi proyeksi kebutuhan tenaga listrik tersebut pada butir A4.2., diperlukan pembangunan
sarana pembangkit, transmisi, GI dan distribusi sebagai berikut.

259
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 259

04/02/2013 14:19:40

Potensi Sumber Energi


Sumber energi yang cukup besar tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik adalah
tenaga air dan panas bumi. Namun provinsi ini tidak mempunyai potensi batubara sedangkan sumber
gas alam telah mengalami penurunan. Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.4 dan Tabel A4.5.

Tabel A4.4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW


No

Nama

Perkiraan
COD

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)

PLN

174
84

Asahan 3

2015

Wampu

2016

IPP

Asahan 4-5

2017

PLN

60

Hasang

2017

IPP

40

Simanggo-2

2018

PLN

59

Bila-2

2019

PLN

42

Kumbih-3

2019

PLN

42

Sibundong-4

2019

PLN

32

Batang Toru (Tapsel)

2019

IPP

510

10

Lake Toba

2020

PLN

400

11

Ordi-3

2020

PLN

18

12

Ordi-5

2020

PLN

27

13

Raisan-1

2020

PLN

26

14

Siria

2020

PLN

17

15

Toru-2 (Tapanuli Utara)

2020

PLN

34

16

Toru-3 (Tapanuli Utara)

2026

PLN

228

Tabel A4.5. Daftar Potensi PLTM < 10 MW


No

Nama Pembangkit

Daya
(MW)

Lokasi

Cod

IPP

Parluasan

4,2

Tobasa

2012

Huta Raja

5,0

Humbahas

2012

Pakkat 1

10,0

Humbahas

2012

Lau Gunung

10,0

Dairi

2013

Lae Ordi

10,0

Pakpak Barat

2013

Lae Kombih 3

8,0

Pakpak Barat

2013

Batang Toru

7,5

Taput

2013

Karai 1

10,0

Simalungun

2013

Karai 7

6,7

Simalungun

2013

10

Karai 12

6,0

Simalungun

2013

11

Karai 13

8,3

Simalungun

2013

12

Lae Ordi 2

10,0

Pakpak Barat

2013

13

Tara Bintang

10,0

Humbahas

2013

14

Raisan Huta Dolok

7,0

Tapteng

2014

15

Raisan Naga Timbul

7,0

Tapteng

2014

16

Sei Wampu 1

9,0

Langkat

2014

17

Rahu 1

9,2

Humbahas

2014

18

Rahu 2

5,0

Humbahas

2014

19

Sidikalang 1

8,6

Dairi

2014

260
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 260

04/02/2013 14:19:40

Lanjutan
No

Nama Pembangkit

20

Sidikalang 1

21

Sidikalang 2

22

Daya
(Mw)

Lokasi

Cod

8,6

Dairi

2014

7,4

Dairi

2014

Simbelin 1

6,0

Dairi

2014

23

Simonggo

7,0

Humbahas

2015

24

Sei Wampu 2

9,0

Langkat

2015

25

Lae Kombih 4

10,0

Pakpak Barat

2015

26

Aek Sisiran

7,0

Humbahas

2015

25

Lae Kombih 4

10,0

Pakpak Barat

2015

26

Aek Sisiran

7,0

Humbahas

2015

28

Batang Toru 3

10,0

Taput

2015

29

Batang Toru 4

10,0

Taput

2015

II

EXCESS POWER

PT.Evergreen Paper Int

2,0

Deli Serdang

2012

PTPN III Sei Mangkei

3,5

Simalungun

2012

PT Nubika Jaya

15,0

Labuhan Batu

2012

PT Victorindo Alam Lestari

8,0

Padang Lawas

2012

PLTU Nias

31,0

Gunung Sitoli

2014

Total IPP

78,0

Total Excess Power

59,5

Total

137,5

Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007, potensi panas bumi yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara
adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.6.

Tabel A4.6. Daftar Potensi Panas Bumi

Lokasi Panas Bumi

Keterangan

Dibatasi oleh

Potensi
(MW)

Taman Nasional
(MW)

Demand
(MW)

Sarulla & Sibual Buali

Existing / Expansion

660

630

Sibayak/Lau Debuk-Debuk

Existing / Expansion

160

40

630
40

Sorik Merapi

High Possibility

500

100

100

Sipaholon

Low Possibility

50

50

50

G. Sinabung

Tidak cukup data

Pusuk Bukit

Tidak cukup data

Simbolon

Tidak cukup data

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2021 diperlukan pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4.7.

261
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 261

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.7. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)
195

COD

PLTM Tersebar Sumut

PLTM

Swasta

Nias

PLTGB

PLN

2012-15
2014

Nias

PLTS

PLN

2014

P. Brandan

PLTG/MG

PLN

200

2014

Pangkalan Susu #1,2 (FTP1)

PLTU

PLN

440

2014

Nias (FTP2)

PLTU

Swasta

21

2014/15

Sumbagut

PLTU

Sewa

360

2015

Wampu

PLTA

Swasta

45

2015
2016

Asahan III (FTP2)

PLTA

PLN

174

10

Pangkalan Susu #3,4 (FTP2)

PLTU

PLN

400

2016

11

Sarulla I (FTP2)

PLTP

Swasta

330

2016/17

12

Hasang (FTP2)

PLTA

Swasta

40

2017

13

Sarulla II (FTP2)

PLTP

Swasta

110

2017

14

Simonggo-2

PLTA

PLN

86

2017

15

Sorik Marapi (FTP2)

PLTP

Swasta

240

2018

16

Batang Toru (Tapsel)

PLTA

Swasta

510

2019

17

Sipoholon Ria-Ria

PLTP

Swasta

55

2019

18

Simbolon Samosir

PLTP

Swasta

110

2019/20

19

Nias-2

PLTU

PLN

10

2020

Jumlah

3.335

Pengembangan Transmisi
Dalam waktu dekat sistem Sumatera akan mengoperasikan transmisi 275 kV sebagai tulang punggung
sistem interkoneksi Sumatera 1. Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan energi listrik antar provinsi di
Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit utama seperti PLTU batubara, PLTP dan PLTA skala besar. Disamping itu direncanakan pula pengembangan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET)
500 kV sebagai tulang punggung utama system interkoneksi Sumatera yang akan memasok energi listrik
dalam jumlah yang besar dari Sumatera bagian Selatan yang kaya akan sumber energy (khususnya batu
bara) ke Sumatera bagian Utara yang merupakan pusat beban terbesar di Sumatera. Transmisi 150 kV
yang merupakan jaringan regional juga dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan
yang lebih terbatas.
Sampai dengan tahun 2021 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 4.882 kms guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan, yaitu untuk mengatasi bottleneck
penyaluran daya, mengevakuasi daya dari pusat pembangkit, mendapatkan tegangan pelayanan yang
baik dengan membatasi panjang JTM, menurunkan losses transmisi dan distribusi, serta meningkatkan
keandalan sistem tenaga listrik.
Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4.8 dan Tabel A4.9.

Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sumatera pada koridor
timur. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera Utara setelah tahun 2020.

262
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 262

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.8. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV dan 500


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Pangkalan Susu

Binjai

275 kV

2 cct, 2 Zebra

160

36,01

2013

Sumut-3 (Galang)

Binjai

275 kV

2 cct, 2 Zebra

160

36,01

2014

Padang Sidempuan

Sumut-4 (Sarulla)

275 kV

2 cct, 2 Zebra

138

31,06

2014

Sumut-4 (Sarulla)

Simangkok

275 kV

2 cct, 2 Zebra

194

43,67

2014

Simangkok

Sumut-3 (Galang)

275 kV

2 cct, 2 Zebra

318

71,57

2014

PLTA Batang Toru

Sumut-4 (Sarulla)

275 kV

2 cct, 2 Zebra

40

9,00

2018

Sumut-2 (Rantau Prapat)

Sumut-4 (Sarulla)

275 kV

2 cct, 2 Zebra

220

49,52

2018

Sumut-2 (Rantau Prapat)

Sumut-1 (Sei
Rotan)

500 kV

2 cct, 4 Zebra

662

264,80

2018

Sumut-2 (Rantau Prapat)

New Garuda Sakti

500 kV

2 cct, 4 Zebra

240,00

2020

8
9

Jumlah

600
2.492

781,65

Tabel A4.9. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Galang

Namurambe

150 kV

2 cct, 2 Zebra

80

18 ,01

2012

Galang

Tanjung Morawa

150 kV

2 cct, 2 Zebra

20

4 ,50

2012

Lamhotma

Belawan

150 kV

1 2nd cct, 2 Hawk

0 ,28

2012

Dolok Sanggul/
Parlilitan

Inc. 1 Pi (Tele-Tarutung)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

76

4 ,21

2013

Tanjung Morawa

Kuala Namu

150 kV

2 cct, 2 Hawk

34

2 ,60

2013

Galang

Negeri Dolok

150 kV

2 cct, 1 Hawk

66

3 ,66

2014

Padang Sidempuan

Penyabungan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

140

7 ,76

2014

PLTG P. Brandan

Pangkalan Brandan

150 kV

2 cct, 2 Hawk

10

0 ,76

2014

PLTU Nias

Gunung Sitoli

70 kV

2 cct, 1 Hawk

20

1 ,11

2014

10

Rantau prapat

Labuhan Bilik

150 kV

2 cct, 1 Hawk

130

7 ,20

2014

11

Sidikalang

Salak

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3 ,32

2014

Tanjung Pura

Inc. 1 Pi (P.BrandanBinjai)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

30

1 ,66

2014

13

Tele

Pangururan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

26

1 ,44

2014

14

Teluk Dalam

PLTU Nias

70 kV

2 cct, 1 Hawk

220

12 ,19

2014

11 ,10

2015

12

15

GIS Listrik

GIS Glugur

150 kV

2 cct, CU 1000
mm2

GIS Mabar

KIM

150 kV

1 cct, CU 1000
mm2

11 ,10

2015

Perdagangan

Inc. 2 Pi (KisaranK. Tanjung)

150 kV

4 cct, 1 Hawk

40

2 ,22

2015

18

PLTA Wampu

Brastagi

150 kV

2 cct, 1 Hawk

80

4 ,43

2015

19

PLTU Sewa Sumbagut

Sibolga

150 kV

2 cct, 2 Hawk

30

2 ,29

2015

Sibolga (uprate)

P. Sidempuan (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

142

19 ,00

2015

Sibolga (uprate)

Tarutung (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

100

13 ,38

2015

22

GI PLTMH 1

Dolok Sanggul

150 kV

2 cct, 1 Hawk

70

3 ,88

2016

23

GI PLTMH 2

Labuhan Angin

150 kV

2 cct, 2 Hawk

110

8 ,40

2016

GI/GIS Kota Medan

Paya Geli

150 kV

2 cct, CU 1000
mm2

10

22 ,20

2016

KIM 2

Inc. 2 Pi (KIM-Sei
Rotan)

150 kV

4 cct, ACSR 2x400


mm2

0 ,84

2016

16
17

20
21

24
25

263
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 263

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.9. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV


Lanjutan
No
26
27
28
29
30

Dari

KMS

Juta
USD

Tegangan

Konduktor

KIM 2

150 kV

2 cct, ACSR 2x400


mm2

20

3 ,36

2016

Pangkalan Susu

Pangkalan Brandan

150 kV

2 cct, 2 Zebra

22

4 ,95

2016

Selayang

Inc. 2 Pi (Paya GeliNamurambe)

150 kV

4 cct, ACSR 300


mm2

0 ,28

2016

Simangkok

PLTA Asahan III(FTP 2)

150 kV

2 cct, 2 Hawk

22

1 ,68

2016

124

16 ,59

2016

160

21 ,41

2016

Pancing

Ke

COD

Tarutung (uprate)

Porsea (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

Tele (uprate)

Tarutung (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

Penyabungan

PLTP Sorik Marapi


(FTP 2)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

46

2 ,55

2017

PLTA Hasang

Inc. 1 pi (R. PrapatKisaran)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

50

2 ,77

2017

Porsea (uprate)

P. Siantar (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

150

20 ,07

2017

Tele (uprate)

Sidikalan (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

80

10 ,70

2017

Tarutung

PLTP Simbolon
Samosir

150 kV

2 cct, 1 Hawk

50

2 ,77

2018

37

PLTP Sipoholon
Ria-Ria

Inc. 2 Pi (TarutungPorsea)

150 kV

4 cct, 1 Hawk

0 ,44

2019

38

GI PLTMH 2

Singkil

150 kV

2 cct, 2 Hawk

140

10 ,69

2021

2.390

265 ,78

31
32
33
34
35
36

Jumlah

Pembangunan Gardu Induk


Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani pertumbuhan beban, meningkatkan keandalan pasokan, memperbaiki mutu tegangan, mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu jauh dari konsumen. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.10 berikut.

Tabel A4.10. Pembangunan GI


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY

Juta
USD

COD

Aek Kanopan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Belawan

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2012

Binjai

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Brastagi

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Denai

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Denai

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2012

Glugur

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Gunung Tua

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Kuala Namu

150/20 kV

New

60

4,33

2012

10

Labuhan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

11

Lamhotma

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

12

Lamhotma

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2012

13

Namurambe

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

14

Namurambe

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2012

264
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 264

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.10. Pembangunan GI


Lanjutan
No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY

Juta
USD

COD

15

Padang Sidempuan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

16

Pematang Siantar

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

17

Perbaungan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

18

Porsea

150/20 kV

Extension

20

1,02

2012

19

Rantau Prapat

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

20

Sei Rotan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

21

Sibolga

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

22

Sidikalang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

23

Tanjung Morawa

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

24

Tarutung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

25

Tebing Tinggi

150/20 kV

Extension

120

2,75

2012

26

Brastagi

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

27

Dolok Sanggul/Parlilitan

150/20 kV

New

90

5,59

2013

28

Galang

150/20 kV

New

4 LB

2,47

2013

29

Gunung Para

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

30

Kisaran

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

31

Lamhotma

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

32

Paya Pasir

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

33

Sidikalang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

34

Tanjung Marowa

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

35

Tele

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

36

Galang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

37

Gunung Sitoli

70/20 kV

New

30

2,41

2014

38

Kota Pinang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

39

Labuhan Bilik

150/20 kV

New

60

3,17

2014

40

Negeri Dolok

150/20 kV

New

60

4,33

2014

41

Padang Sidempuan

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

42

Pangururan

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

43

Penyabungan

150/20 kV

New

60

4 ,33

2014

44

Salak

150/20 kV

New

60

4 ,33

2014

45

Sidikalang

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

46

Tanjung Pura

150/20 kV

New

30

3 ,06

2014

47

Tele

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2014

48

Teluk Dalam

70/20 kV

New

30

2 ,41

2014

49

Brastagi

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2015

50

GIS Listrik

150/20 kV

Extension

1 LB

0 ,62

2015

51

Glugur

150/20 kV

Extension

1 LB

0 ,62

2015

52

KIM

150/20 kV

Extension

1 LB

0 ,62

2015

53

Mabar

150/20 kV

Extension

1 LB

0 ,62

2015

54

Pangkalan Brandan

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2015

55

Pangkalan Susu

150/20 kV

Extension

2 LB

2 ,31

2015

56

Perdagangan

150/20 kV

New

60

5 ,56

2015

57

Rantau Prapat

150/20 kV

New

2 LB

1 ,23

2015

58

GI/GIS Kota Medan

150/20 kV

Extension

120

5 ,77

2016

59

KIM 2

150/20 kV

Extension

60

3 ,17

2016

60

Pancing

150/20 kV

Extension

60

3 ,17

2016

61

Selayang

150/20 kV

Extension

60

4 ,40

2016

62

Simangkok

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2016

265
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 265

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.10. Pembangunan GI


Lanjutan
No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY

Juta
USD

COD

63

GI PLTMH 1

150/20 kV

New

60

4 ,33

2016

64

GI PLTMH 2

150/20 kV

New

60

4 ,33

2016

65

GIS Listrik

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2017

66

Tanjung Pura

150/20 kV

Extension

30

1 ,27

2017

67

Titi Kuning

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2017

68

Paya Geli

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2018

69

Penyabungan

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2018

70

Rantauprapat

150/20 kV

Extension

2 TB

1 ,04

2018

71

Sei Rotan

150/20 kV

Extension

2 TB

1 ,04

2018

72

GI/GIS Kota Medan

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2019

73

Perdagangan

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2019

74

Tarutung

150/20 kV

Extension

2 LB

1 ,23

2019

75

Selayang

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2020

76

Brastagi

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

77

Kisaran

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

78

Paya Geli

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

79

Rantau Prapat

150/20 kV

Extension

60

1 ,37

2021

2.870

147 ,35

Jumlah

Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan pada Tabel A4.11.

Tabel A4.11. Rencana Pembangunan GI 275


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

COD

Binjai

275/150 kV

New

500

31 ,83

Pangkalan Susu

275/150 kV

New

9 ,11

2013

Sumut-3 (Galang)

275/150 kV

New

1.000

35 ,13

2014

Padang Sidempuan

275/150 kV

New

500

21 ,88

2014

Sumut-4 (Sarulla)

275/150 kV

New

500

24 ,00

2014

Pangkalan Susu

275/150 kV

Extension

250

21 ,03

2016

Sumut-2 (Rantau Prapat)

500/275 kV

New

1.000

40 ,54

2018

Sumut-4 (Sarulla)

275 kV

Extension

4 ,32

2018

Sumut-1 (Sei Rotan)

500/150 kV

New

1000

40 ,54

2018

4.750

228 ,37

Jumlah

2013

Pengembangan Distribusi
Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2021 adalah sekitar 940 ribu pelanggan atau rata-rata
94.000 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 19.634 kms, JTR sekitar 12.608 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.344
MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A4.12.

266
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 266

04/02/2013 14:19:41

Tabel A4.12. Pengembangan Sistem Dsitribusi


JTM
kms

Tahun

JTR
kms

2012

1.429

2013
2014

Trafo
MVA

Pelanggan

898

153

93.554

1.419

983

166

98.210

1.533

1.075

180

106.346

2015

1.548

1.166

193

112.338

2016

1.743

1.236

220

114.075

2017

1.948

1.290

240

113.325

2018

2.144

1.383

263

113.325

2019

2.391

1.439

287

80.099

2020

2.604

1.492

314

66.984

2021

2.874

1.647

329

42.251

2012-2021

19.634

12.608

2.344

940.507

A4.4. Sistem Isolated Nias Dan Teluk Dalam


Pulau Nias yang terletak di sebelah Barat pulau Sumatera mempunyai kondisi sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera, (ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan
1 kota, (iii) Rawan gempa dan rawan longsor, (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit
dijangkau, (v) Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan.
Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias, terdiri dari Ranting Gunung Sitoli dan Ranting
Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello. Pasokan listrik untuk sistem kelistrikan dipasok
dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk Dalam. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu, daya tersambung 35 MVA dengan penjualan mencapai 52 GWh. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya
terpasang 28.904 kW, daya mampu 12.960 kW, beban puncak 9.858 kW, dan mengingat kondisi pembangkitan sudah tua, maka telah diambil langkah-langkah sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan
pembangunan PLTU 3x7 MW (IPP), PLTGB 8 MW (PLN) dan PLTGasifikasi Biomass sebesar 1 MW.

A4.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan tahun 2021 adalah seperti Tabel A4.13 berikut:

Tabel A4.13. Rangkuman


Tahun

Energy
Sales
(Gwh)

2012

7.749

2013
2014

Produksi
Energi
(Gwh)

Beban
Puncak
(MW)

Pembangkit
(MW)
4

GI
(MVA)
1.070

Transmisi
(kms)
106

Investasi
(juta US$)

8.859

1.508

118

8.530

9.232

1.566

45

800

270

259

9.393

10.130

1.714

718

2.390

1.512

1.230

2015

10.329

11.109

1.874

503

60

402

431

2016

11.374

12.214

2.054

684

670

546

1.206

2017

12.540

13.465

2.258

456

150

326

1.012

2018

13.828

14.847

2.482

240

2.060

972

720

2019

15.268

16.391

2.732

620

120

1.100

2020

16.879

18.119

3.011

65

60

225

2021

18.635

20.001

3.315

240

600

322

Growth/Jumlah

10,9%

10,4%

10,4%

3.335

7.620

4.742

6.622

267
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 267

04/02/2013 14:19:41

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 268

04/02/2013 14:19:41

LAMPIRAN A.5
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI RIAU
A5.1. Kondisi Saat Ini
Sistem Interkoneksi
Sistem kelistrikan Provinsi Riau saat ini memiliki 8 gardu induk (GI) 150 kV, yaitu Koto Panjang, Bangkinang, Garuda Sakti, Teluk Lembu, Duri, Dumai, Bagan Batu dan Taluk Kuantan. Sebagian GI tersebut
sudah mengalami overload dan perlu segera diatasi.
Sistem kelistrikan Riau sebagian besar dipasok dari grid Sumatera dengan beban puncak per akhir 2011
mencapai 382 MW. Kapasitas pembangkit yang tersambung ke grid sebesar 267 MW, dimana 43% dari
kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang, dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan Riau masih
diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara.
Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit, dimana 30% (711 MW) berupa
PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan kapasitas. Dengan demikian sistem Riau
ikut mengalami defisit daya.
Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5.1.

Gambar A5.1. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau

269
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 269

04/02/2013 14:19:41

Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV ditunjukkan pada
Tabel A5.1.

Tabel A5.1. Kapasitas Pembangkit per 2011


No.

Nama Pembangkit

Jenis

B. Bakar

Kapasitas Terpasang
(MW)

Pemilik

PLTA Koto Panjang

PLTA

Air

PLN

114

PLTG Teluk Lembu

PLTG

Gas/HSD

PLN

43

PLTD Teluk Lembu

PLTD

HSD

PLN

PLTD Dumai/Bg Besar

PLTD

HSD

PLN

12

PLTG Riau Power

PLTG

Gas

PT Riau- Power

20

PLTD Sewa Teluk Lembu

PLTD

HSD

Sewa

40

PLTD Sewa Dumai

PLTD

HSD

Sewa

30

Jumlah

267

Sistem Isolated
Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kabupaten Bengkalis
dan Meranti. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan
daya mampu 44 MW.
Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan, sehingga PLN menyewa pembangkit
diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek. Daftar pembangkit pada sistem isolated
diberikan pada Tabel A5.2.

Tabel A5.2. Pembangkit Isolated per 2011

UNIT

Daya

Jumlah
(unit)

Terpasang
(MW)

Beban
Puncak (MW)

Mampu
(MW)

MESIN PLN
1. Cab. Pekanbaru

42

7,6

4,6

4,6
16,1

2. Cab. Dumai

80

37

21,6

3. Cab. Rengat

115

38,6

18,1

17,0

Jumlah

237

83,2

44,3

37,7

2,5

1,5

1,8

23

32

13

12,5

MESIN PEMDA
1. Cab. Pekanbaru
2. Cab. Dumai
3. Cab. Rengat

13

7,3

4,2

4,6

Jumlah

33

41,8

18,7

18,9

MESIN SEWA
1. Cab. Pekanbaru

1,2

1,1

1,2

2. Cab. Dumai

2,4

2,1

3. Cab. Rengat
Jumlah

10

5,6

3,1

5,3

Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh menurunnya daya mampu
pembangkit, meningkatnya konsusmsi listrik oleh pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan
baru) dan kebutuhan sistem isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual beli (kontrak).

270
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 270

04/02/2013 14:19:41

A5.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6,6-8,7% pada tahun 2006-2010 (tidak termasuk migas) dan
kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target pertumbuhan
ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Riau. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila ada
dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau.
Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat, ditandai oleh adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten yang telah dicanangkan sebagai Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK), seperti Kawasan Industri Khusus Dumai, Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura, Kawasan Kuala Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru. Dari
realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan
ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 dapat dilihat pada Tabel A5.3.

Tabel A5.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi (GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

2.701

3.035

501

837.833

2013

2.973

3.262

537

893.984

2014

3.274

3.562

585

974.247

2015

3.600

3.906

640

1.083.435

2016

3.965

4.294

701

1.140.423

2017

4.371

4.729

770

1.227.423

2018

4.820

5.209

846

1.314.423

2019

5.322

5.745

930

1.401.423

2020

5.883

6.344

1.024

1.488.423

2021

6.495

6.987

1.112

1.575.423

Growth

12,3%

11,7%

11,2%

109%

Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi, pertumbuhan listrik di Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi, karena seiring dengan perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai, Buton, Kuala Enok
dan Tenayan-Pekanbaru.

A5.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit baik yang terhubung
pada sistem interkoneksi maupun pada sistem isolated serta pengembangan jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan, antara lain Seng, Segat di kabupaten Pelalawan, Bento dan Baru di
Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk
Lembu. Disamping itu terdapat potensi batubara yang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan
Singingi dengan cadangan 1,55 juta metrik ton2.
2

Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau

271
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 271

04/02/2013 14:19:41

Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi. Menurut pra
studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai
Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air yang cukup besar, yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170
MW. Namun perlu dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan
dapat mempengaruhi potensi debit air.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2021 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV
yang memasok sistem Riau. Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas
sekitar 2.176 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5.4.

Tabel A5.4. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(Mw)

COD
2012

Duri

PLTG

Relokasi

32

Rengat

PLTG

PLN

20

2012

Bengkalis

PLTGB

PLN

2013

Duri

PLTMG

PLN

112

2013

Tembilahan

PLTU

PLN

14

2013

Riau (Amandemen FTP1)

PLTU

PLN

220

2014

Duri

PLTGU

Swasta

100

2014/15

Bengkalis

PLTGB

PLN

2015
2015

Dumai

PLTU

Sewa

240

10

IPP Rengat

PLTU

Swasta

14

2015

11

Riau Peaker

PLTG/MG

PLN

200

2015

12

Bengkalis

PLTGB

PLN

2017

13

Riau Kemitraan (PLN-TNB-PTBA)

PLTU

Swasta

14

Bengkalis

PLTGB

PLN

Jumlah

1200

2018

2019

2.176

PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan salah satu proyek percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 yang saat ini sedang tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi
pada tahun 2013. PLTG Duri dengan kapasitas total 144 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya
mengurangi kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi Merang.
Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). PLTU
Riau Mulut Tambang 4x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun
2018. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik, termasuk gas skala kecil, seperti di Melibur Kabupaten Meranti, Selat Kabupaten Inhil, Bentu Kabupaten Kampar, Tembilahan Kabupaten Inhil, Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa
Minyak Kabupaten Siak Sri Indrapura.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem interkoneksi 150
kV, hingga tahun 2021 diperlukan pengembangan GI150 kV baru dan ekstension dengan kapasitas total
1.520 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5.5.

272
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 272

04/02/2013 14:19:42

Tabel A5.5. Pembangunan GI


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MvA/Bay)

Juta
USD

COD

Bagan Batu

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Bangkinang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Duri

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

PLTG Duri

150/20 kV

Extension

60

4,40

2012

Teluk Lembu

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Dumai

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

Bagan Siapiapi

150/20 kV

New

30

3,06

2014

Bangkinang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

Dumai

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

10

Garuda Sakti

150/20 kV

Extension

80

2,75

2014

11

Garuda Sakti

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

12

Kawasa Industri Tenayan (KIT)

150/20 kV

New

30

3,06

2014

13

Kawasan Industri Dumai (KID)

150/20 kV

New

30

3,06

2014

14

New Garuda Sakti

150/20 kV

New

120

5,77

2014

15

Pangkalan Kerinci

150/20 kV

New

30

3,06

2014

16

Pasir Pangaraian

150/20 kV

New

30

3,06

2014

17

Pasir Putih

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

18

Pasir Putih

150/20 kV

New

60

5,56

2014

19

Perawang

150/20 kV

New

30

3,06

2014

20

Rengat

150/20 kV

New

60

4,33

2014

21

Teluk Kuantan

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

22

Teluk Kuantan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

23

Bangkinang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

24

Garuda Sakti

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

25

GI/GIS Kota Pekanbaru

150/20 kV

New

60

3,17

2015

26

Kandis

150/20 kV

New

30

4,29

2015

27

Lipat Kain

150/20 kV

New

30

3,06

2015

28

Pasir Putih

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

29

Rengat

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

30

Siak Sri Indra Pura

150/20 kV

New

31

Teluk Lembu

150/20 kV

Extension

32

Tembilahan

150/20 kV

New

33

Tenayan

150/20 kV

Extension

34

Bangkinang

150/20 kV

35

Pasir Putih

150/20 kV

36

Duri

37

KIT Tenayan

38

Teluk Kuantan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

39

KID Dumai

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

40

Tembilahan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

41

Bagan Batu

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

42

Bangkinang

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

43

KIT Tenayan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

44

Teluk Kuantan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

1.520

94,50

Jumlah

30

3,06

2015

2 LB

1,23

2015

30

3,06

2015

2 LB

1,23

2015

Extension

60

1,37

2016

Extension

120

2,75

2016

150/20 kV

Extension

60

1,37

2017

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

273
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 273

04/02/2013 14:19:42

Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi 275 kV dan 500 kV,
serta konverter transmisi HVDC 250 kVDC yang merupakan bagian dari link interkoneksi SumateraMalaysia seperti pada Tabel A5.6.

Tabel A5.6. Pembangunan GI 275 kV, 550kV dan HVDC +250 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(Mva)

Juta
USD

COD

New Garuda Sakti

275/150 kV

New

500

24,28

2014

New Garuda Sakti 500 kV

500/275 kV

New

1.000

36,22

2016

Rengat 500 kV

500/150 kV

New

500

25,77

2016

HVDC Switching Station

250 kV DC

New

16,68

2017

New G. Sakti HVDC Sta. Converter

250 kV DC

New

600

19,95

2017

PLTU Riau Kemitraan

500 kV

New

9,82

2017

Rengat 500 kV

500 kV

Extension

3,12

2017

2.600

135,84

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2021 adalah sepanjang 1.920 kms (150 kV) dan
1.312 kms (275 kV, 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana UD$ 492 juta seperti ditampilkan
dalam Tabel A5.7 dan Tabel A5.8.

Tabel A5.7. Pembangunan Transmisi 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Garuda Sakti (up


rate)

Duri (up rate)

150 kV

2 cct, ACCC 310 mm2

230

30,77

2013

Bangkinang

Pasir Pangarayan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

220

12,19

2014

Dumai

Bagan Siapi api

150 kV

2 cct, 1 Hawk

228

12,63

2014

Dumai

KID Dumai

150 kV

2 cct, 1 Hawk

56

3,10

2014

New Garuda Sakti

Inc. 2 Pi ( G.SaktiDuri)

150 kV

4 cct, ACCC 310 mm2

12

1,61

2014

Pasir Putih

Garuda Sakti

150 kV

2 cct, 2 Zebra

55

12,38

2014

Pasir Putih

Pangkalan Kerinci

150 kV

2 cct, 2 Hawk

134

10,23

2014

Teluk Kuantan

Rengat

150 kV

2 cct, 2 Hawk

194

14,81

2014

Tenayan / PLTU Riau

Pasir Putih

150 kV

2 cct, 2 Zebra

35

7,88

2014

10

Tenayan / PLTU Riau

Perawang

150 kV

2 cct, 1 Hawk

50

2,77

2014

11

Bangkinang

Lipat Kain

150 kV

2 cct, 1 Hawk

70

3,88

2015

12

Duri (up rate)

Dumai (up rate)

150 kV

2 cct, ACCC 310 mm2

118

15,79

2015

Garuda Sakti

GIS Kota Pekan


Baru

150 kV

2 cct, CU 1000 mm2

14

31,08

2015

Kandis

Inc. ( New G. SaktiDuri)

150 kV

2 cct, ACCC 310 mm2

10

2,68

2015

13
14
15

Pasir Putih

Teluk Lembu

150 kV

2 cct, 2 Hawk

40

3,05

2015

16

PLTU Sewa Dumai

Dumai

150 kV

2 cct, 2 Hawk

14

1,07

2015

17

Rengat

Pangkalan Kerinci

150 kV

2 cct, 2 Hawk

220

16,79

2015

18

Rengat

Tembilahan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2015

19

Tenayan / PLTU Riau

Siak Sri Indra Pura

150 kV

2 cct, 1 Hawk

100

5,54

2015

1.920

194,89

Jumlah

274
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 274

04/02/2013 14:19:42

Tabel A5.8. Pembangunan Transmisi 275 kV, 500 kV dan HVDC +250 kV
No

Dari

Payakumbuh

2
3

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

New Garuda Sakti

275 kV

2 cct, 2 Zebra

300

67,52

Rengat

New Garuda Sakti

500 kV

2 cct, 4 Zebra

440

176,00

2016

Border

Pulau Rupat

250 kV DC

2 Cable MI with IRC

52

0,39

2017

P. Rupat Selatan

Sumatra Landing
Point

250 kV DC

2 Cable MI with IRC

10

1,50

2017

Pulau Rupat Utara

Pulau Rupat Selatan

250 kV DC

2 cct, 2xCardinal 548


mm2

60

1,97

2017

Rengat

PLTU Riau Kemitraan

500 kV

2 cct, 2 Zebra

110

44,00

2017

Sumatera Landing
Point

250 kV DC

2 cct, 2xCardinal 548


mm2

340

5,80

2017

1.312

297,19

4
5

New Garuda Sakti

Jumlah

2014

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 832 ribu
pelanggan sampai dengan 2021 atau rata-rata 83 ribu pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan jaringan tegangan menengah 5.482 kms, jaringan
tegangan rendah sekitar 6.326 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.986 MVA, seperti
ditampilkan dalam Tabel A5.9.

Tabel A5.9. Pengembangan Distribusi


Tahun

JTM
kms

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

479

553

271

94.313

2013

494

570

287

56.151

2014

476

549

275

80.263

2015

519

599

296

109.188

2016

542

625

304

56.988

2017

556

642

306

87.000

2018

578

667

309

87.000

2019

611

705

319

87.000

2020

583

673

300

87.000

2021
2012-2021

644

743

318

87.000

5.482

6.326

2.986

831.903

A5.4. Sistem Kelistrikan Pulau Rupat


Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang istimewa karena
kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia. Pulau ini sangat indah dan berpotensi menjadi
tujuan wisata yang akan sangat diminati. Pulau ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai
yang telah dirancang sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau Sumatera. Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. Peta Pulau Rupat ditampilkan
pada Gambar A5.2.

275
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 275

04/02/2013 14:19:42

Gambar A5.2. Peta Pulau Rupat

Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 3.600 kW namun
daya mampunya hanya 1.195 kW dengan beban puncak 841 kW. Sistem distribusi listrik berupa JTM
sepanjang 69 kms, JTR 92 kms, gardu distribusi 36 unit, 878 kVA. Rencana pengembangan kelistrikan di
Pulau Rupat adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.
Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera dan Malaysia.

A5.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
hingga tahun 2021 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5.10.

Tabel A5.10. Rangkuman


Tahun

Energy Sales
(Gwh)

Produksi
Energi
(Gwh)

Beban Puncak (MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

2.701

3,035

501

52

240

91

2013

2.973

3,262

537

132

60

230

156

2014

3.274

3,562

585

270

1.000

1.284

609

2015

3.600

3,906

640

510

180

706

335

2016

3.965

4,294

701

1.680

440

275

2017

4.371

4,729

770

120

572

98

2018

4.820

5,209

846

1.200

600

1.643

2019

5.322

5,745

930

60

43

2020

5.883

6,344

1.024

30

36

2021

6.495

6,987

1.112

150

35

Growth/
Jumlah

12,3%

11,7%

11.2%

2.176

4.120

3.232

3.321

276
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 276

04/02/2013 14:19:42

LAMPIRAN A.6
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM)
A6.1. Kondisi Saat Ini
Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena berada pada pintu
masuk Selat Malaka dari sebelah Timur dan juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah
Asia Tenggara. Provinsi Kepulauan Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan
ekonomi bagi Republik Indonesia di masa depan. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di Kepulauan
Riau (Batam, Bintan, dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot project pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan Pemerintah Singapura.
Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang, Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun,
Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari 2.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk, dengan 95% dari wilayahnya merupakan lautan.

Gambar A6.1. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama yang erat antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia usaha. KEK ini nantinya merupakan
simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang
berdaya saing internasional. Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup
dan andal terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang yang melayani 3 daerah administrasi, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kotamadya Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan.
Sistem Tanjung Pinang dipasok dari PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang
43 MW dan untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan 20 kV.

277
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 277

04/02/2013 14:19:42

Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit kecil tersebar dengan kapasitas total 90,7 MW dan daya mampu 65,9 MW seperti terlihat pada Tabel A6.1.

Tabel A6.1. Pembangkit Isolated per 2011


Pemilik

Jumlah
(Unit)

PLN

Daya Terpasang
(MW)

Daya Mampu
(MW)

Beban Puncak
(MW)

136

80,9

55,3

Pemda

0,8

0,6

53,4
0,7

Sewa

9,0

10

11,4

Total

144

90,7

65,9

65,5

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah berlangsung beberapa
tahun terakhir. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya
mampu mesin pembangkit, baik karena gangguan mesin pembangkit maupun usia, meningkatnya pertumbuhan pemakaian tenaga listrik alami. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem
isolated dalam jangka pendek dilakukan dengan sewa pembangkit.

A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Perekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7,53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas) dan diperkirakan
masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan
modalnya di Kepulauan Riau. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat, ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.
Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2012-2021
Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan
pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang,
maka proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 seperti pada Tabel A6.2.

Tabel A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

530

579

109

158.175

2013

592

646

121

200.288

2014

676

736

137

243.987

2015

768

836

156

291.010

2016

860

935

173

314.132

2017

925

1.005

186

332.524

2018

987

1.071

197

351.915

2019

1.045

1.134

208

372.385

2020

1.101

1.194

218

394.014

2021

1.161

1.257

230

422.163

Growth

10,1%

10,1%

9,9%

14,2%

278
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 278

04/02/2013 14:19:42

A6.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan
distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, di West Natuna Basin terdapat potensi gas alam sebesar
51,46 TCF. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat cadangan gas yang sangat besar, yaitu 222
TCF dan 500 juga barel minyak. Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.

Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2021 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem isolated. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.3.

Tabel A6.3. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

PLTU

PLN

Kapasitas
(MW)
14

COD

TB. Karimun #1,2 (FTP1)

Dabo Singkep

PLTU

PLN

2014

Natuna

PLTU

PLN

14

2014

Tanjung Batu (FTP2)

PLTGB

PLN

2014

Tanjung Pinang 1 (TLB)

PLTU

Swasta

30

2014

Tanjung Batu Baru

PLTU

PLN

14

2015

Tanjung Pinang 2 (FTP2)

PLTU

PLN

30

2015

TB. Karimun (FTP2)

PLTU

PLN

30

2015/16

Dabo Singkep

PLTGB

PLN

2018

10

TB. Karimun Peakaer

PLTU

PLN

20

2018/19

11

Tanjung Pinang 3

PLTU

PLN

100

2019/20

Jumlah

2012/13

272

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2021 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi di Pulau Ngenang
seperti diperlihatkan pada Tabel A6.4.

Tabel A6.4. Pengembangan GI 150 kV Baru


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY)

Juta
USD

COD

Air Raja

150/20 kV

New

60

5,56

2013

Kijang

150/20 kV

New

60

4,33

2013

Pulau Ngenang

150/20 kV

New

10

4,05

2013

Sri Bintan

150/20 kV

New

30

4,29

2013

Tanjung Uban

150/20 kV

New

60

4,40

2013

Tanjung Uban

150/20 kV

Extension

60

1,37

2015

Sri Bintan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

340

25,37

Jumlah

279
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 279

04/02/2013 14:19:42

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150 kV sepanjang 258
kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21,1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A6.5.

Tabel A6.5. Pembangunan SUTT 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

Kms

Juta
Usd

Cod

Air Raja

Kijang

150 kV

2 cct, 1 Hawk

40

2,22

2013

Pulau Ngenang

Tanjung Taluk

150 kV

2 cct, 3 x 300 mm2

12

4,84

2013

Sri Bintan

Air Raja

150 kV

2 cct, 1 Hawk

70

3,88

2013

Tanjung Kasam

Tanjung Sauh

150 kV

2 cct, 3 x 300 mm2

2,42

2013

Tanjung Sauh

Pulau Ngenang

150 kV

2 cct, 1 Hawk

10

1,11

2013

Tanjung Taluk

Tanjung Uban

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3,32

2013

Tanjung Uban

Sri Bintan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3,32

2013

258

21,11

Jumlah

Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup banyak seperti pada
tabel A6.3, sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan sistem Batam melalui kabel laut 150 kV.
Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk menggantikan peran PLTD di sistem Bintan, baik peak maupun baseload, dengan transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah. Interkoneksi ini
juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi dengan sistem
kelistrikan yang jauh lebih besar.

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 279
ribu pelanggan sampai dengan 2021 atau rata-rata 28 ribu pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan
penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 1,548 kms, JTR sekitar 1.877 kms dan
tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 906 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A6.6 berikut.

Tabel A6.6. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun

JTM
kms

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

92

108

61

15.501

2013

115

131

76

42.113

2014

162

187

82

43.699

2015

179

208

87

47.023

2016

191

226

91

23.122

2017

184

223

94

18.392

2018

176

219

96

19.391

2019

153

194

101

20.469

2020

144

185

105

21.629

2021

151

195

113

28.149

2017

184

223

94

18.392

1.548

1.877

906

279.489

2012-2021

280
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 280

04/02/2013 14:19:42

A6.4. Sistem Kelistrikan Natuna


Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan
seperti terlihat pada Gambar A6.2.

Gambar A6.2. Peta Pulau Natuna

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea dan Taiwan. Kabupaten ini
terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir
A6.3.
Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.080 kW, daya mampu 2.845 kW
dan beban puncak 2.355 kW. Sistem distribusi berupa SUTM sepanjang 57,4 kms dengan jumlah gardu
29 unit dan kapasitas terpasang 2.450 kVA. Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna
berupa penambahan PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.

Tabel A6.7. Rangkuman

Tahun

Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

530

579

109

2013

592

646

121

220

258

30
64

2014

676

736

137

74

151

2015

768

836

156

44

60

98

2016

860

935

173

10

30

2017

925

1.005

186

10

31

2018

987

1.071

197

15

2019

1.045

1.134

208

60

105

2020

1.101

1.194

218

60

104

2021

1.161

1.257

230

60

10

Growth/Jumlah

10,1%

10,1%

9,9%

276

340

258

638

281
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 281

04/02/2013 14:19:42

A6.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai dengan tahun 2021 adalah seperti tersebut dalam Tabel A6.7.

Tabel A6.7. Rangkuman


Tahun

Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

530

579

109

2013

592

646

121

220

258

30
64

2014

676

736

137

74

151

2015

768

836

156

44

60

98

2016

860

935

173

10

30

2017

925

1.005

186

10

31

2018

987

1.071

197

15

2019

1.045

1.134

208

60

105

2020

1.101

1.194

218

60

104

2021

1.161

1.257

230

60

10

Growth/Jumlah

10,1%

10,1%

9,9%

276

340

258

638

282
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 282

04/02/2013 14:19:42

LAMPIRAN A.7
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
A7.1. Kondisi Saat Ini
Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu:
1.

Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP, yaitu: PLTD Merawang,
PLTD Mentok, PLTD Koba, PLTD Toboali, dan PLTU Listrindo (Biomassa). Pembangkit-pembangkit
tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV.

2.

Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa, yaitu: PLTD Pilang, PLTD
Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). Pembangkitpembangkit tersebut terinterkoneksi melalui
jaringan distribusi 20 kV.

Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan pada Gambar A7.1.

Gambar A7.1. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Babel Saat ini

Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh dari pembangkit
dengan bahan bakar HSD. Total kapasitas terpasang adalah 201,18 MW dengan daya mampu sebesar
131,82 MW, termasuk pembangkit rental dan IPP dengan daya mampu sebesar 75,75 MW. Tabel A7.1
memperlihatkan komposisi sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung.

283
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 283

04/02/2013 14:19:42

Tabel A7.1. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2011
No

Nama Pembangkit

Tipe

Jenis
Bahan
Bakar

Pemilik

Daya (MW) 2011


Terpasang

Kontrak

Mampu

Bangka (Sistem Merawang, Koba, Mentok dan Toboali sudah terhubung oleh Jaringan 20 kV)

Sistem Merawang - Koba


(Interkoneksi)

PLTD Merawang

PLTD

HSD

PLN

42,29

PLTD Koba

PLTD

HSD

PLN

2,50

Sewatama - 1, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

10,30

7,00

7,00

Sewatama - 2, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

8,00

5,00

5,00

Altrak 1, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

6,00

4,05

4,05

Altrak 2, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

4,32

2,20

2,20

Kaltimex, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

10,50

7,00

7,00

Prastiwahyu, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

8,00

5,00

5,00

Sinarindo, Merawang

PLTD

HSD

Sewa

17,00

11,00

11,00

10

Tiga Bintang Mas Abadi, Koba

PLTD

HSD

Sewa

9,00

5,00

5,00

11

PLTU Listrindo Kencana

PLTU

Biomass

IPP

6,00

5,00

2,00

123,91

51,25

76,58

II

Sistem Isolated Mentok

PLTD Mentok

PLTD

HSD

PLN

10,10

Mega Power, Mentok

PLTD

HSD

Sewa

2,88

2,00

2,30

12,98

2,00

8,40

III

Sistem Isolated Toboali

PLTD Toboali

PLTD

HSD

PLN

3,90

Mega Power 1

PLTD

HSD

Sewa

2,88

2,00

Mega Power 2

PLTD

HSD

Sewa

2,88

2,00

2,50

9,66

4,00

7,10

IV

Isolated Terseba

PLTD Tanjung Labu

PLTD

HSD

PLN

26,30
2,03

6,10

2,40

0,72
147,27

2,20

0,52
57,25

92,60

Belitung

Sistem Pilang - Padang


(Interkoneksi)

PLTD Pilang

PLTD Padang

PLTD

HSD

PLN

5,50

Sewatama 2, Pilang

PLTD

HSD

Sewa

7,30

4,00

4,00

Altrak, Pilang

PLTD

HSD

Sewa

8,04

5,00

6,00

Sinarindo, Padang

7,00

5,00

5,00

PLTU Belitung Energi

PLTD

PLTU

HSD

Biomass

PLN

IPP

18,40

14,40
3,70

7,00

7,00

5,50

53,24

21,00

38,60

II

Isolated Tersebar

PLTD Selat Nasik

PLTD

HSD

PLN

0,55

0,50

PLTD Pulau Seliu

PLTD

HSD

PLN

0,12

0,12

Jumlah

53,91

21,00

39,22

284
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 284

04/02/2013 14:19:43

A7.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Provinsi Kep. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan terutama untuk menarik investasi ke Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung. Salah satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik, sehingga sangat
diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban, menggantikan mesin-mesin yang sudah tua, meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga listrik.
Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 15,4 % per tahun, dimana
penjualan pada tahun 2007 sebesar 331,40 GWh telah meningkat menjadi 535,61 GWh pada tahun 2011

Tabel A7.2. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
Kelompok
Tarif

No.

Energi Jual
(GWh)

Porsi
(%)

Rumah Tangga

384,04

71,7

Komersil

84,01

15,68

Publik

38,45

7,18

Industri

29,11

5,44

535,61

100

Jumlah

Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi dan industri, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang,
maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung pada tahun 2012-2021 dapat dilihat pada Tabel A7.3

Tabel A7.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
(GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

664

741

136

2013

778

915

167

242.997
276.661

2014

912

1.054

191

306.513

2015

1.061

1.216

219

332.618

2016

1.229

1.409

252

358.457

2017

1.417

1.615

287

371.602

2018

1.628

1.847

326

394.362

2019

1.867

2.155

378

399.849

2020

2.137

2.449

427

405.413

2021

2.374

2.708

470

410.978

Growth

18,9%

18,9%

19,1%

11,6%

A7.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Pengembangan sarana untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kep. Bangka Belitung yaitu
pengembangan sarana pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi.

285
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 285

04/02/2013 14:19:43

Potensi Sumber Energi


Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas. Oleh sebab
itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari luar
wilayah berupa batubara, gas dan BBM.

Pengembangan Pembangkit
Selama ini Sistem Kelistrikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki 2 sistem Isolated Besar yaitu
Sistem Bangka dan Sistem Belitung. Dengan mempertimbangkan antara lain :
1.

Sumber Energi di Prov. Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas. Dimana kebutuhan energy primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari
luar wilayah berupa batubara, gas dan BBM.

2.

Perlunya peningkatan kepastian tambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik di Prov. Bangka Belitung sebagaimana yang sudah direncanakan.

3.

Secara Geografis, Prov. Bangka Belitung dekat dengan Pulau Sumatera, yang merupakan lumbung
energi primer untuk Pembangkit Listrik dengan biaya operasi murah, terutama batubara. Selain
itu, Pulau Sumatera juga mempunyai surplus energi listrik.

Maka berdasarkan ketiga hal mendasar di atas, pendekatan pengembangan Sistem Kelistrikan Prov.
Bangka Belitung tidak lagi menggunakan pendekatan Sistem Isolated Besar terutama Pulau Bangka, di
mana nantinya Sistem Bangka akan dihubungkan dengan sistem Sumatera seperti pada Gambar A7.2.

Gambar A7.2. Rencana Sistem Kelistrikan Bangka

286
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 286

04/02/2013 14:19:43

Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Bangka Belitung sampai dengan tahun 2021 adalah seperti ditampilkan pada Tabel A7.4. berikut.

Tabel A7.4. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)

COD

Air Anyer (FTP1)

PLTU

PLN

60

2013

Belitung Baru (FTP1)

PLTU

PLN

33

2013

Belitung-2 / Tanjung Pandan

PLTGB

Swasta

2014

Belitung-3

PLTG/MG

PLN

20

2015

Bangka Peaker

PLTG/MG

PLN

100

2015

Sewa PLTU

PLTU

Sewa

60

2015

Belitung-4

PLTU

PLN

34

2017/18

Belitung Peaker

PLTG/MG

PLN

20

2019/20

Bangka-1

PLTU

Swasta

130

2020/21

Jumlah

462

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2021 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV seperti diperlihatkan pada
Tabel A7.4.

Tabel A7.5. Pembangunan GI 150 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/Extension

Kapasitas
(MVA/BAY)

Juta
USD

COD

Air Anyir

150/20 kV

New

30

4,29

Pangkal Pinang

150/20 kV

New

60

4,33

2012
2012

Sungai Liat

150/20 kV

New

30

3,06

2012

Dukong

70/20 kV

New

2013

Pangkal Pinang

150/20 kV

Extension

Suge

70/20 kV

Kelapa

8
9

30

3,34

4 LB

2,47

2013

New

30

2,41

2013

150/20 kV

New

30

3,06

2014

Manggar

70/20 kV

New

20

2,18

2014

Kelapa

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

10

Koba

150/20 kV

Extension

30

3,06

2015

11

Koba

150/20 kV

New

30

3,06

2015

12

Mentok

150/20 kV

New

30

3,06

2015

13

Sungai Liat

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

14

Toboali

150/20 kV

New

30

3,06

2015

15

Dukong

70/20 kV

Extension

30

1,05

2016

16

Koba

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

17

Manggar

70/20 kV

Extension

30

1,05

2018

18

Pangkal Pinang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

19

Air Anyir

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

20

Dukong

70/20 kV

Extension

30

1,05

2019

21

Pangkal Pinang

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

22

Sungai Liat

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

650

49,47

Jumlah

287
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 287

04/02/2013 14:19:43

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150 kV dan
70 kV sepanjang 966 kms dengan kebutuhan dana sekitar 176 juta USD seperti ditampilkan pada Tabel
A7.6.

Tabel A7.6. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV


No

Dari

Ke

Tegangan
150 kV

Konduktor

KMS

2 cct, 1 Hawk

44

JUTA
USD

Air Anyir

Pangkal Pinang

Air Anyir

Sungai Liat

150 kV

2 cct, 1 Hawk

112

6,20

2012

Dukong

Manggar

70 kV

2 cct, 1 Hawk

140

7,76

2014

Kelapa

Mentok

150 kV

2 cct, 2 Hawk

140

10,69

2015

Koba

Toboali

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2015

Pangkal Pinang

Kelapa

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2014

Pangkal Pinang

Koba

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2014

Suge

Dukong

70 kV

2 cct, 1 Hawk

50

2,77

2013

Tanjung Api-Api

Mentok

150 kV

2 cct, XLPE 300

120

126,32

2015

966

176,11

Jumlah

2,44

COD
2012

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 193 ribu
pelanggan sampai dengan 2021 atau rata-rata 19 ribu pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan
pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 662 kms, JTR sepanjang 689 kms, Gardu Distribus
305 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A7.8 berikut.

Tabel A7.8. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun

JTM

JTR

Trafo

Pelanggan

2013

142

148

26

33.664

2014

118

123

29.852

2015

33

35

26.105

2016

36

37

25.839

2017

37

39

13.145

2018

39

40

22.759

2019

39

41

5.487

2020

39

41

101

5.564

2021

44

45

103

5.564

2012-2021

662

689

305

193.138

A7.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.8.

288
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 288

04/02/2013 14:19:43

Tabel A7.8. Rangkuman


Tahun

Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

664

741

136

120

156

33

2013

778

915

167

93

60

50

226

2014

912

1.054

191

50

380

36

2015

1.061

1.216

219

180

150

380

223

2016

1.229

1.409

252

30

2017

1.417

1.615

287

17

2018

1.628

1.847

326

17

90

13

2019

1.867

2.155

378

10

60

12

2020

2.137

2.449

427

75

60

109

2021

2.374

2.708

470

65

30

105

Growth/
Jumlah

18,9%

18,9%

19,1%

462

650

966

772

289
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 289

04/02/2013 14:19:43

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 290

04/02/2013 14:19:43

LAMPIRAN A.8
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA BARAT
A8.1. Kondisi Saat Ini
Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (di luar Kepulauan Mentawai) berasal dari sistem
interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-Sumbar Riau) melalui 15 gardu induk dengan kapasitas total 684 MVA dan beban puncak sebesar 403 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.1.

Gambar A8.1. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat

Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8.1.

Tabel A8.1. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2011


No

Nama Pembangkit

Jenis

Bahan Bakar

Pemilik
PLN

Kapasitas
Terpasang
(MW)

Ombilin

PLTU

Batubara

Pauh Limo

PLTG

HSD

PLN

64

Maninjau

PLTA

Air

PLN

68

Singkarak

PLTA

Air

PLN

131

Batang Agam

PLTA

Air

PLN

11

Total

200

474

291
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 291

04/02/2013 14:19:43

Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 403 MW, maka Provinsi Sumbar pada saat
musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi
Riau sebesar 150 MW. Namun pada musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan
kapasitas, Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar 100 MW.
Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang, sebagian Balai Selasa,
sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk sistem-sistem isolated sendiri dengan beban
puncak total sebesar 4,2 MW. Hal tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat
rendah akibat jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir Selatan
(260 km).
Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai, saat ini mempunyai beban puncak 2,1 MW yang dipasok
dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2,9 MW. Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut mengingat
jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah tersebut. Pembangkit isolated di
Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8.2.

Tabel A8.2. Pembangkit di Sistem Isolated Per 2011


No

Nama Pembangkit

Jenis

Bahan Bakar

Pemilik

Kepulauan Mentawai

Kapasitas
Terpasang
(MW)
2,8

Sikabaluan

PLTD

HSD

PLN

0,1

Sikakap

PLTD

HSD

PLN

0,4

Sipora

PLTD

HSD

PLN

0,1

Seay Baru

PLTD

HSD

PLN

0,1

Saumangayak

PLTD

HSD

PLN

0,2

Simalakopa

PLTD

HSD

PLN

0,0

Simalepet

PLTD

HSD

PLN

0,2

Tua Pejat

PLTD

HSD

PLN

Pesisir Selatan

1,6
7,3

Lakuak

PLTD

HSD

PLN

1,9

Balai Selasa

PLTD

HSD

PLN

0,6

Indra Pura

PLTD

HSD

PLN

1,3

Tapan

PLTD

HSD

PLN

0,9

Lunang

PLTD

HSD

PLN

2,2

Salido Kecil

PLTMH

Air

Swasta

0,3

PLTM

Air

PLN

Solok Selatan
1

Pinang Awan

0,4
Total Isolated

0,4
10,5

A8.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir di Provinsi Sumatera Barat adalah
9,29 % per tahun, dimana penjualan pada tahun 2007 sebesar 1.729,78 GWh telah meningkat menjadi
2.335,4 GWh pada tahun 2011.

292
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 292

04/02/2013 14:19:43

Tabel A8.3. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No

Kelompok Tarif

Energi Jual (GWh)

Porsi (%)

Rumah Tangga

1.072,61

45,93

Komersial

356,45

15,26

Publik

184,76

7,91

Industri

721,63

30,90

2.335,45

100,00

Jumlah

Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan
ekonomi dan industri, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung pada tahun 2012-2021 dapat dilihat pada Tabel A8.4

Tabel A8.4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produks
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

2.563

2.764

447

937.614

2013

2.833

3.025

487

962.115

2014

3.142

3.325

534

1.003.743

2015

3.483

3.680

589

1.038.530

2016

3.859

4.073

651

1.072.869

2017

4.271

4.507

718

1.098.154

2018

4.719

4.981

791

1.126.268

2019

5.206

5.494

870

1.164.641

2020

5.731

6.048

956

1.203.460

2021

6.310

6.656

1.046

1.242.278

Growth

11,5%

11,3%

11,0%

4,0%

A8.3. Tenaga Listrik


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan
distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara, panas bumi dan tenaga air. Menurut
informasi dari Bapeda Sumatera Barat, potensi batubara tersebar di Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan. Menurut informasi dari Kementerian ESDM, potensi panas bumi di Sumatera Barat adalah sekitar
908 MW dan berada di Muaralabuh - Kabupaten Solok Selatan dan di Talang - Kabupaten Solok.
Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti terlihat pada Tabel
A8.5.

293
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 293

04/02/2013 14:19:44

Tabel A8.5. Potensi Tenaga Air


No

Lokasi

DAS

Type

Kapasitas
(MW)

Kabupaten/
Kecamatan

Pasaman

Bt. Pasaman

ROR

21,2

Sangir-2

Bt. Sangir

ROR

2,2

Pasaman
Solok

Sangir-3

Bt. Sangir

ROR

7,8

Solok

Sinamar-2

Bt. Sinamar

ROR

13,1

Tanah Datar

Masang-2

Bt. Masang

ROR

14,5

Agam

Tuik

Bt. Tuik

ROR

3,9

Pessel

Lanajan-2

Bt. Lengayang

ROR

3,1

Pessel

Lubuk-2

Bt. Rokan

ROR

4,6

Pasaman

Asik

Bt. Asik

RSV

1,7

Pasaman

10

Lubuk-4U

Bt. Lubuk

ROR

4,8

Pasaman

11

Sumpur-1U

Bt.Sumpur

RSV

2,7

Pasaman

12

Kampar KN-1

Bt. Kampar Kanan

RSV

29,4

50 Kota

13

Kampar KN-2

Bt. Kampar Kanan

RSV

8,6

50 Kota

14

Kapur-1

Bt. Kapur

RSV

10,6

50 Kota

15

Mahat-10

Bt. Mahat

RSV

12,6

50 Kota

16

Mahat-2U

Bt. Mahat

RSV

2,2

50 Kota

17

Sumpur-K1

Bt. Sumpur

RSV

8,1

S. Sijunjung

18

Palangki-1

Bt. Palangki

RSV

11,8

S. Sijunjung

19

Palangki-2

Bt. Palangki

RSV

17,9

S. Sijunjung

20

Sibakur

Bt. Sibakur

RSV

5,5

21

Sibayang

Bt.Sibayang

RSV

15,0

Agam

22

Sukam

Bt. Sukam

RSV

19,4

S. Sijunjung

23

Kuantan-1

Bt. Kuantan

ROR

3,4

S. Sijunjung

24

Batanghari-2

Batanghari

RSV

22,2

Slk Selatan

25

Batanghari-3

Batanghari

RSV

34,8

Slk Selatan

26

Batanghari-5

Batanghari

ROR

6,7

Slk Selatan

27

Batanghari-6

Batanghari

ROR

10,1

Slk Selatan

28

Batanghari-7

Batanghari

ROR

6,9

29

Fatimah

Fatimah

ROR

0,8

Pasbar

30

Sikarbau

Sikarbau

ROR

0,7

Pasbar

31

Balangir

Balangir

ROR

0,4

Slk Selatan

32

Landai-1

Bt. Langir

ROR

6,8

Pessel

33

Sumani

Bt. Sumani

ROR

0,6

Solok

34

Guntung

Bt. Guntung

ROR

0,6

Agam

35

Sungai Putih

Bt. Lumpo

ROR

1,7

Pessel

36

Kerambil

Bt. Bayang Janiah

ROR

1,6

Pessel

37

Muaro Sako

Bt. Muaro Sako

ROR

2,4

Pessel

38

Induring

Bt. Jalamu

ROR

2,2

Pessel

39

Palangai-3

Bt. Palangai

ROR

4,1

Pessel

40

Kambang-1

Bt. Kambang

ROR

5,5

Pessel

41

Kapas-1

Bt. Tumpatih

ROR

8,1

Pessel

42

Landai-2

Bt. Air Haji

ROR

7,1

Pessel

43

Sumpur-K2

Bt. Sumpur

ROR

4,2

Tanah Datar

44

Lawas-1D

Bt. Lawas

RSV

11,2

S. Sijunjung

45

Gumanti-1

Bt. Gumanti

ROR

5,9

Solok

46

Sikiah-1

Bt.Gumanti

RSV

30,4

Solok

47

Sikiah-2

Bt Sikiah

RSV

18,0

Solok

S. Sijunjung

Dhamasraya

294
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 294

04/02/2013 14:19:44

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2021 direncanakan pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan transfer energi dengan sistem interkoneksi
Sumatera. Untuk Kepulauan Mentawai direncanakan pembangkit yaitu PLTS 0,2 MW (2012). Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel A8.6.

Tabel A8.6. Pengembangan Pembangkit di Sitem Interkoneksi


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)

PLTS

PLN

0,04

COD

Simalepet - P. Siberut

Tua Pejat - P. Sipora

PLTS

PLN

0,15

2012

Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1)

PLTU

PLN

224

2013

Masang-2

PLTA

PLN

55

2017

Muara Laboh (FTP2)

PLTP

Swasta

220

2017

G. Talang

PLTP

Swasta

20

2019

Bonjol

PLTP

Swasta

165

2020

Jumlah

2012

684,19

Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada Tabel A8.7.

Tabel A8.7. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil


No

Lokasi

Kabupaten/
Kecamtan

Kapasitas
(MW)

COD

Status

Salido Kecil

Pessel

0,60

2012

Operasi

Mangani

50 kota

1,17

2013

Konstruksi

Napal Melintang

Kerinci

0,58

2013

Konstruksi

Lubuk Gadang

Solok Selatan

7,50

2013

Konstruksi

Guntung

Agam

4,00

2015

Konstruksi

Lubuk Sao II

Agam

2,60

2015

Konstruksi

Bayang

Pessel

4,50

2015

Sudah PPA

Tarusan

Pessel

3,20

2015

Sudah PPA

Lintau 1

Tanah Datar

9,00

2015

Sudah PPA

10

Gumanti-3

Solok

6,45

2015

Sudah PPA

11

Induning

Pessel

1,20

2015

Sudah PPA

12

Batang Sumpur

Pasaman

8,00

2016

Proses PL

13

Bukit Cubadak

50 kota

9,21

2016

Proses PL

14

Patimah

Pasaman

2,80

2016

Proses PL

15

Sianok Duku

Agam

6,60

2016

Proses PL

16

Laruang Gosan

50 kota

4,00

2016

Proses PL

17

Siamang Bunyi

50 kota

1,70

2016

Proses PL

18

Pinti Kayu

Solok

10,00

2016

Proses PPA

19

Batang Anai

Pd Pariaman

3,20

2016

Proses PPA

20

Batang Sangir

Solok Selatan

10,00

2017

Proses PPA

21

Hydro power

Slok Selatan

10,00

2017

Proses PPA

22

Sangir 1

Solok Selatan

10,00

2017

Proses PPA

295
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 295

04/02/2013 14:19:44

Lanjutan: Tabel A8.7. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil


Kabupaten/
Kecamatan

Kapasitas
(MW)

No

Lokasi

COD

Status

23

Sungai Garam
Hydro

Solok Sltn

24

Gunung Tujuh

Kerinci

25

Tuik

Pessel

6,42

2016

Proses PPA

26

Muara Sako

Pessel

3,00

2016

Proses PPA

27

Kerambil

Pessel

1,40

2016

Proses PPA

28

Gumanti 1

Solok

4,00

2016

Proses PPA

29

Batang Samo

50 kota

7,00

2016

Proses PPA

30

Alahan Panjang

Pasaman

3,00

2016

Proses PPA

31

Kambahan

Pasaman

3,00

2016

Proses PPA

32

Rabi Jonggor

Pasaman Barat

9,50

2016

Proses PPA

33

Sungai Aur

Pasaman Barat

2,30

2016

Proses PPA

34

Sikarbau

Pasaman Barat

2,40

2016

Proses PPA

10,00

2017

Proses PPA

8,00

2017

Proses PPA

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2021 berupa GI 275 kV dan GI 150 kV
yang diperlihatkan pada Tabel A8.8 dan Tabel A8.9

Tabel A8.8. Pembangunan GI 275 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

275/150 kV

New

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

250

COD

Kiliranjao

Payakumbuh

275/150 kV

New

250

20,17

2014

Sungai Rumbai

275/150 kV

New

250

20,17

2015

750

59,99

Jumlah

19,66

2014

Tabel A8.9. Pembangunan GI 150 kV Baru


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

COD

Bungus

150/20 kV

New

30

4,29

Pauh Limo

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012
2012

Simpang Empat

150/20 kV

Extension

20

0,52

2012

Solok

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Kambang

150/20 kV

New

30

3,06

2013

Padang Panjang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

Salak

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

Simpang Empat

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

Batusangkar

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

10

Kiliranjao

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

11

Maninjau

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

12

Maninjau

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

13

Padang Luar

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

14

Padang Luar

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

296
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 296

04/02/2013 14:19:44

Tabel A8.9. Pembangunan GI 150 kV Baru


Lanjutan
No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(Mva)

Juta
USD

COD

15

Payakumbuh

150/20 kV

Extension

30

1,27

16

Payakumbuh

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

17

Singkarak

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2014

18

Kambang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

19

Sungai Rumbai

150/20 kV

New

30

2,35

2015

20

GI/GIS Kota Padang

150/20 kV

New

120

4,54

2016

21

Kiliranjao

150/20 kV

Extension

30

1,27

2016

22

Payakumbuh

150/20 kV

Extension

30

1,27

2016

23

PIP

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2016

24

Bungus

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

25

Kambang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

26

Muara Labuh/Batang Sangir

150/20 kV

New

60

4,33

2017

27

Pasaman

150/20 kV

New

60

4,33

2017

28

PLTP Muara Labuh

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2017

29

Simpang Empat

150/20 kV

Extension

60

1,37

2017

30

Simpang Empat

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2017

31

Solok

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

32

Sungai Rumbai

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2017

33

Lubuk Alung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

34

Sungai Rumbai

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

35

Padang Luar

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

36

Pariaman

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

37

Batusangkar

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

38

GIS Kota Padang

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

39

PIP

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

40

Indarung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

41

Pauh Limo

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

42

Salak

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

1.310

65,16

Jumlah

2014

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV, diperlukan juga pengembangan transmisi 275 kV sepanjang 884 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 836 kms dengan kebutuhan dana investasi USD 252 juta
seperti ditampilkan dalam Tabel A8.10 dan Tabel A8.11.

Tabel A8.10. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Kiliranjao

Payakumbuh

275 kV

2 cct, 2 Zebra

282

63,47

2014

Padang Sidempuan

Payakumbuh

275 kV

2 cct, 2 Zebra

600

135,05

2015

Sungai Rumbai

Inc. 2 pi (M. BungoKiliranjao)

275 kV

2 cct, 2 Zebra

0,15

2015

884

198,66

Jumlah

297
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 297

04/02/2013 14:19:44

Tabel A8.11. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru


No
1

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Indarung

Bungus

150 kV

2 cct, 2 Hawk

35

2,67

2012

PLTU Sumbar Pesisir

Inc. 2 Pi (BungusKambang)

150 kV

4 cct, 2 Hawk

20

0,76

2012

Bungus

Kambang

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

13,74

2013

Kiliranjao

Teluk Kuantan

150 kV

1 2nd cct, 1 Hawk

52

1,69

2014

Maninjau

Padang Luar

150 kV

1 2nd cct, 1 Hawk

42

1,36

2014

Padang Luar

Payakumbuh

150 kV

1 2nd cct, 1 Hawk

32

1,04

2014

Singkarak

Batusangkar

150 kV

1 2nd cct, 1 Hawk

25

0,81

2014

PIP/S Haru/Pauh
Limo

GI/GIS Kota Padang

150 kV

2 cct, 2 Hawk

16

0,89

2016

Muara Labuh/
Batang Sangir

PLTP Muara Labuh

150 kV

2 cct, 2 Hawk

60

4,58

2017

10

Pasaman

Simpang Empat

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3,32

2017

11

Simpang Empat

Masang-2

150 kV

2 cct, 1 Hawk

30

1,66

2017

12

Sungai Rumbai

PLTP Muara Labuh

150 kV

2 cct, 2 Hawk

160

12,21

2017

13

Payakumbuh

PLTP Bonjol

150 kV

2 cct, 2 Hawk

104

7,94

2019

Solok

PLTP Gunung
Talang

150 kV

2 cct, 1 Hawk

20

1,11

2019

836

53,78

14

Jumlah

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diproyeksikan akan terjadi penambahan pelanggan
baru sekitar 450 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2021, atau rata-rata 45 ribu pelanggan per tahun.
Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 3.565 kms, JTR sekitar
4.205 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 492 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel
A8.12.

Tabel A8.12. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun

JTM
kms

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

305

360

43

42.610

2013

326

385

46

51.151

2014

328

387

46

50.637

2015

335

395

47

51.817

2016

347

410

48

50.488

2017

357

421

49

40.610

2018

362

426

50

40.610

2019

372

439

51

40.610

2020

397

468

54

40.610

2021

437

515

59

40.610

3.565

4.205

492

449.753

2012-2021

298
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 298

04/02/2013 14:19:44

A8.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2021 diberikan pada Tabel A8.13.

Tabel A8.13. Rangkuman


Tahun

Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

2012

2.563

2.764

447

170

2013

2.833

3.025

487

224

2014

3.142

3.325

534

2015

3.483

3.680

589

2016

3.859

4.073

651

2017

4.271

4.507

718

2018

4.719

4.981

791

2019

5.206

5.494

870

2020

5.731

6.048

956

Investasi
(juta US$)

55

34

120

180

359

620

1.033

278

280

50

180

16

36

275

270

310

634

60

31

20

60

124

97

165

150

397

2021

6.310

6.656

1.046

150

35

Growth

11,5%

11,3%

11,0%

684

2.060

1.720

1.951

299
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 299

04/02/2013 14:19:44

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 300

04/02/2013 14:19:44

LAMPIRAN A.9
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI JAMBI
A9.1. Kondisi Saat Ini
Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi dan isolated) saat
ini sebesar 231 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui saluran transmisi
150 kV dengan 5 GI, yaitu GI Aur Duri (2x30 MVA), GI Payo Selincah (2x60 MVA), GI Muara Bulian (30 MVA),
GI Muara Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA). Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi seperti ditunjukkan pada Gambar A9.1.

Gambar A9.1. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi

Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222,9 MW seperti ditunjukkan pada Tabel A9.1.

Tabel A9.1 Kapasitas Pembangkit per 2011


No

Nama Pembangkit

Jenis

Bahan Bakar

Pemilik

Kapasitas
(MW)

PLTD Payo Selincah

PLTD

Gas Alam+HSD

PLN

31

PLTG Payo Selincah

PLTG

Gas Alam

Sewa

100

PLTG Batang Hari

PLTG

Gas Alam

PLN

62

PLTG Eks Sunyarangi

PLTG

Gas Alam

Sewa

18

PLTD Isolated Tersebar

PLTD

HSD

PLN

30,7

PLTMG Tanjung Jabung Power

PLTMG

Gas Alam

IPP

7,2

PLTU Sarolangun

PLTU

Batubara

PLTD Sewa Tersebar

PLTD

HSD

IPP
Sewa

12
15,1

301
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 301

04/02/2013 14:19:44

A9.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 12,9 % per tahun, dimana
penjualan pada tahun 2007 sebesar 692,2 GWh telah meningkat menjadi 1.125,1 GWh pada tahun 2011.

Tabel A9.2 Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No

Energi Jual
(GWh)

Kelompok Tarif

Porsi
(%)

Rumah Tangga

743,59

66%

Komersil

225,63

20%

Publik

81,07

7%

Industri

74,78

7%

1.125,07

100%

Jumlah

Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 dapat dilihat pada Tabel A9.3.

Tabel A9.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

1.316

1.485

227

568.632

2013

1.445

1.603

256

648.756

2014

1.593

1.725

281

728.721

2015

1.754

1.892

315

810.312

2016

1.931

2.080

334

886.263

2017

2.128

2.291

355

930.876

2018

2.346

2.525

377

976.379

2019

2.590

2.785

402

1.018.067

2020

2.846

3.059

426

1.059.011

2021

3.137

3.372

459

1.100.324

Growth

11,9%

11,7%

9,6%

9,9%

A9.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi
dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara, gas dan tenaga air. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi, potensi batubara yang layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.715 kkal/kg yang tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten
Kerinci. Potensi gas terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi
tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air Batu).

302
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 302

04/02/2013 14:19:44

Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2021 di Jambi direncanakan akan dipenuhi dengan
mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada sistem interkoneksi Sumatera. Adapun
pembangkit yang direncanakan berada di Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1.626 MW seperti
ditampilkan pada Tabel A9.4.

Tabel A9.4 Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Asumsi
Pengembang

Jenis

Payo Selincah

PLTG

Sewa Beli

Sarolangun

PLTU

Swasta

Sungai Gelam (CNG/Peaker)

PLTMG

Kuala Tungkal

5
6

Kapasitas
(MW)
100

COD
2012

12

2012

PLN

104

2012/13

PLTU

PLN

2013/14

Batanghari

PLTGU

PLN

30

2013

Tebo

PLTU

PLN

14

2013

Jambi Peaker

PLTG/MG

PLN

100

2015

Sungai Penuh (FTP2)

PLTP

PLN

110

2017

Merangin

PLTA

Swasta

350

2018

10

Jambi (KPS)

PLTU

Swasta

800

2019/20

Jumlah

1.626

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2021 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension GI existing sebesar
810 MVA dan GITET sebesar 2.000 MVA seperti pada Tabel A9.5 dan Tabel A9.6.

Tabel A9.5 Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

COD

Bangko

275/150 kV

New

250

21,08

2014

Muara Bungo

275/150 kV

New

250

20,08

2014

New Aur Duri

275/150 kV

New

500

25,98

2014

New Aur Duri

275/150 kV

Extension

7,45

2016

New Aur Duri 500 kV

500/275 kV

New

500

25,77

2016

Bangko

275/150 kV

Extension

500

17,92

2018

New Aur Duri 500 kV

500 kV

Extension

9,82

2018

PLTU Jambi 500 kV

500 kV

New

9,82

2018

2.000

137,91

Jumlah

303
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 303

04/02/2013 14:19:44

Tabel A9.6 Pengembangan GI 150 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/Bay)

Juta
USD

COD

Aurduri

150/20 kV

Extension

60

1,37

Payoselincah

150/20 kV

Extension

4 LB

2,47

2012
2012

Bangko

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

Muara Sabak

150/20 kV

New

30

3,06

2013

Muaro Bulian

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

Payoselincah

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

Bangko

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

Muara Bulian

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

Muaro Bungo

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

10

Sarolangun

150/20 kV

New

30

3,06

2014

11

Sungai Penuh

150/20 kV

New

30

3,06

2014

12

Sarolangun

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

13

Sungai Penuh

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

14

PLTP Sungai Penuh

150/20 kV

New

2 LB

1,79

2016

15

Sungai Penuh

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2016

16

Payoselincah

150/20 kV

Extension

60

1,37

2017

17

Aurduri

150/20 kV

Extension

60

1,37

2018

18

Kuala Tungkal

150/20 kV

New

30

3,06

2018

19

Muara Sabak

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2018

20

Muaro Bungo

150/20 kV

Extension

60

1,37

2018

21

PLTA Merangin

150/20 kV

Extension

4 LB

3,03

2018

22

Muara Sabak

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

23

Bangko

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

24

Payoselincah

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

25

Sarolangun

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

26

Sungai Penuh

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

810

44,39

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera, diperlukan pengembangan transmisi 150 kV, 275 kV
dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.7 dan Tabel A9.8.

Tabel A9.7. Pembangunan Transmisi 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

Bangko

150 kV

2 cct, 2 Zebra

Muara Sabak

PLTA Merangin

150 kV

Inc. 1 Pi ( Payo
Selincah Aur Duri )

PLTA Merangin

150 kV

PLTG CNG Sei Gelam

Sungai Penuh

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Muara Bulian

Aur Duri

150 kV

2 cct, 1 Hawk

PLTP Sungai Penuh

Sarolangun

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Sarolangun

Sungai Penuh

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Muara Sabak

Muara Rupit

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Jumlah

KMS

Juta
USD

COD

36

30,61

2013

2 cct, 2 x 340 mm

22

3,64

2013

2 cct, 2 Zebra

10

24,76

2013

3,32

2013

30

7,20

2014

4,65

2015

4,43

2015

09

6,03

2018

30

84,65

304
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 304

04/02/2013 14:19:44

Tabel A9.8. Pembangunan Transmisi 275 dan 500 kV


No

Dari

PLTU Sumsel-5

2
3

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

New Aur Duri

275 kV

2 cct, 2 Zebra

20

27,01

2014

New Aur Duri

Rengat

500 kV

2 cct, 4 Zebra

20

168,00

2016

Muara Enim

New Aur Duri

500 kV

2 cct, 4 Zebra

40

21,60

2017

780

216,61

Jumlah

Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9.2.

Gambar A9.2. Peta Jaringan Provinsi Jambi

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan pelanggan baru sebanyak 533 ribu sambungan sampai dengan tahun 2021 atau rata-rata 53 ribu pelanggan per tahun. Selaras
dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 2.726 kms, JTR sekitar 2.565
kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 251 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A9.9.

Tabel A9.9. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun

JTM kms

JTR kms

Trafo MVA

Pelanggan

2012

222

222

20

53.508

2013

226

226

20

75.825

2014

227

227

21

74.890

2015

241

241

22

76.174

2016

253

253

23

70.685

2017

270

270

25

39.026

2018

291

291

28

39.026

2019

311

311

30

34.800

2020

325

359

31

34.800

2021

359

337

32

34.800

2.726

2.565

25

533.534

2012-2021

305
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 305

04/02/2013 14:19:44

A9.4. Sistem Isolated


Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak, yaitu PLTD Pelabuhan Dagang, PLTD
Sungai Lokan, PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala Tungkal, PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun
dengan total kapasitas terpasang 12,85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi
di Kabupaten Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7,2 MW.

Tabel A9.10. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2011


No.

Nama Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Jenis

Pemilik

Pelabuhan Dagang

PLTD

3,15

PLN

Sungai Lokan

PLTD

0,82

PLN

Mendahara Tengah

PLTD

0,43

PLN

Kuala Tungkal

PLTD

4,91

PLN

Batang Asai

PLTD

0,55

PLN

Sarolangun

PLTD

3,00

PLN

Tanjung Jabung Power

PLTMG

7,20

Swasta

Total

20,05

A9.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.11.

Tabel A9.11. Rangkuman


Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

2012

1.316

1.485

227

124

60

63

2013

1.445

1.603

256

139

210

428

193

2014

1.593

1.725

281

1.120

250

133

2015

1.754

1.892

315

100

30

164

80

2016

1.931

2.080

334

500

420

220

2017

2.128

2.291

355

110

60

240

217

2018

2.346

2.525

377

350

650

109

596

2019

2.590

2.785

402

400

30

543

2020

2.846

3.059

426

400

120

549

2021

3.137

3.372

459

30

27

Growth/
Jumlah

11,9%

11,7%

9,6%

1.626

2.810

966

2.620

Tahun

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

306
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 306

04/02/2013 14:19:45

LAMPIRAN A.10
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA SELATAN
A10.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini
Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dipasok dari pembangkit
yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV. Untuk sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.

Gambar A10.1. Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan

Pembangkit yang memasok Provinsi Sumatera Selatan diberikan pada Tabel A10.1

Tabel A10.1 Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2011


No

Nama

Kapasitas
(MW)

PLN (Interkoneksi)

PLTU Keramasan #1,2

829,1
25,0

PLTG Keramasan #1,2,3,4

64,9

PLTG Indralaya GT # 1.1

50,0

PLTG Indralaya GT # 1.2

40,0

PLTGU Indralaya ST # 1.0

40,0

PLTG Truck Mounted #1,2

40,0

PLTD Sungai Juaro #1,2

25,2

307
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 307

04/02/2013 14:19:45

Tabel A10.1 Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2011


Lanjutan
No

Kapasitas
(GW)

Nama

PLTG Borang

14,0

PLTG Talang Duku

20,0

10

PLTG Sewa Beli Tl. Duku

60,0

11

PLTG Sewa Beli Borang

12

PLTG Keramasan AKE #1,2

13

PLTMG Rental Borang

14

PLTU Bukit Asam # 1,2,3,4

60,0
100,0
30,0
260,0

PLN (Isolated)

6,6

15

PLTD Makarti Jaya

1,4

16

PLTD Sungsang

1,7

17

PLTD Air Saleh

1,1

18

PLTD Simpang Sender

1,9

19

PLTD Teluk Agung

IPP

43,8

20

PLTMG Sako Kenten

12,0

21

PLTMG Musi II

19,8

22

PLTMG Prabumulih

0,5

12,0
Total

879,4

Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV, dengan 4 trafo IBT 150/70 kV
yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas 400 MVA. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI dengan total kapasitas trafo 932 MVA, terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV
dan 13 GI 150/20 kV.

A10.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Di Sumatera Selatan


Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 10.88 % per tahun, dimana
penjualan pada tahun 2007 sebesar 1,972.5 GWh telah meningkat menjadi 2,981.6 GWh pada tahun 2011.

Tabel A10.2. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No.

Kelompok Tarif

Energi Jual (GWh)

Porsi (%)

Rumah Tangga

Komersil

1.661,5

56%

541,4

18%

Publik

230,9

8%

Industri

547,8

18%

Jumlah

2.981,6

100%

Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 seperti pada Tabel A10.3.

308
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 308

04/02/2013 14:19:47

Tabel A10.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
(GWh)

Beban Puncak
(MW)

2012

3.460

3.911

698

1.221.656

2013

3.809

4.217

769

1.353.333

2014

4.194

4.533

845

1.481.381

2015

4.612

4.970

931

1.606.763

2016

5.078

5.465

998

1.732.561

2017

5.599

6.022

1.070

1.823.500

2018

6.174

6.637

1.147

1.914.438

2019

6.817

7.324

1.238

2.005.377

2020

7.537

8.093

1.335

2.096.315

2021

8.320

8.935

1.335

2.166.089

Growth

11,8%

11,6%

9,5%

Pelanggan

8,9%

A10.3. Pengembangan Sarana


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan
distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara, gas bumi, minyak bumi, panas
bumi dan gas metan batubara (CBM), sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A10.4.

Tabel A10.4. Potensi Sumber Energi


Sumber Daya

Potensi

Produksi

Minyak Bumi (Oil)

757,6 MMSTB

27.933,07 ribu BBL

Gas Bumi

24179,5 BSCF

434.108,64 ribu MMBTU

Batubara

47,1 Milyar Ton

9.276.361 ton

Coal Bed Methane

183,00 TCF

Belum dimanfaatkan

Panas Bumi (Geothermal)

1.911 MW

Belum dimanfaatkan

Gambut

64.200 Ha

Belum dimanfaatkan

Potensi Air (Mini/Mikro Hidro)

9.385,728 kW

Sebagian dimanfaatkan

Energi Surya

53,85 x 10 MW

Telah dimanfaatkan

Biomassa

16.034,24 GWh

Sebagian dimanfaatkan

Biogas

235,01 kWh

Belum dimanfaatkan

Sumber : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov. Sumatera Selatan 2008

309
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 309

04/02/2013 14:19:47

P_57
18

P_57
P_55

18
3

P_56
P_55

3 4
17

P_56

11
5

17
712

11
15

13

01-074-27

10

12
13

01-074-27

10

1615
8

P_59

PLTU 2 x 113 MW
Simpang Belimbing
PLTU
2 x 113 MW
9
Simpang
PLTU 2 x 135 MW Belimbing
9
Keban Agung
PLTU 2 x 135 MW
20 Agung
Keban
16

P_59
19

19

14
20

01-074-15

14
01-074-14

01-074-15
P_53
PLTP 4 x 55 MW
01-074-14
1

Lumut Balai
P_53
PLTP 4 x 55 MW

01-074-07
01-074-02
01-074-07
PLTM 2 x 2,29 MW
01-074-02
Telanai Banding Agung

Lumut Balai

PLTM 2 x 2,29 MW
Telanai Banding Agung

Gambar A10.2. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2021, diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 3.015 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A10.5.

Tabel A10.5. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembangan

Kapasitas
(MW)

COD

Borang

PLTG

Sewa

30

2012

Jaka Baring (CNG/Peaker)

PLTG

PLN

50

2012

Baturaja

PLTU

Swasta

20

2013

Gunung Megang, ST Cycle

PLTGU

Swasta

30

2013

Keramasan

PLTGU

PLN

80

2013/14

Banjarsari

PLTU

Swasta

230

2015

Keban Agung

PLTU

Swasta

225

2015/16

Lumut Balai (FTP2)

PLTP

Swasta

220

2015/16

Sumsel - 5

PLTU

Swasta

300

2015/16

10

Sumsel - 7

PLTU

Swasta

300

2016

11

Mulut Tambang Sumsel-1

PLTU

PLN

600

2017

12

Sumsel - 6

PLTU

PLN

600

2018

13

Rantau Dedap (FTP2)

PLTP

Swasta

220

2018/19

14

Danau Ranau

PLTP

Swasta

110

2020

Jumlah

3.015

310
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 310

04/02/2013 14:19:47

Pengembangan PLTU Sumsel-8, PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan kapasitas total 3.000 MW
merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low
rank di Sumatera Selatan. Listrik dari ketiga PLTU tersebut akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera. Rencana ini dilakukan dengan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan
tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan Sumatera pada umumnya melalui pengembangan
banyak pembangkit batubara, panas bumi dan gas.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk
Provinsi Sumsel memerlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV dengan kapasitas sebesar 2.040 MVA
sampai dengan tahun 2021 seperti pada Tabel A10.5.

Tabel A10.5. Pengembangan GI 150 kV dan 70 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY)

Juta
USD

COD

Bukit Siguntang

70/20 kV

Extension

30

1,05

2012

Lubuk Linggau

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Pagar Alam

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2012

Baturaja

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

Betung

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

Bukit Siguntang

70/20 kV

Extension

30

1,05

2013

Bungaran

70/20 kV

Extension

30

1,05

2013

Gandus

150/20 kV

New

120

5,77

2013

Kenten

150/20 kV

New

120

7,01

2013

10

Lahat

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2013

11

Lubuk Linggau

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

12

Pagar Alam

150/20 kV

Extension

1 LB

0,62

2013

13

Sekayu

150/20 kV

New

30

3,06

2013

14

Talang Kelapa

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

15

Tanjung Ap-Api

150/20 kV

New

60

4,33

2013

16

Baturaja

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

17

Bukit Asam

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

18

Gumawang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

19

Jakabaring

150/20 kV

New

60

4,40

2014

20

Kayu Agung

150/20 kV

New

30

4,29

2014

21

Keramasan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

22

Keramasan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

23

Lahat

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

24

Mariana

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

25

Pagar Alam

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

26

Prabumulih

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

27

Betung

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

28

Gumawang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

29

Lahat

150/20 kV

Extension

4 LB

2,47

2015

30

Lubuk Linggau

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

31

Mariana

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

32

Martapura

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

33

Martapura

150/20 kV

New

30

4,29

2015

34

Muara dua

150/20 kV

New

30

3,06

2015

311
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 311

04/02/2013 14:19:48

Tabel A10.5. Pengembangan GI 150 kV dan 70 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(Mva)

Lanjutan
Juta
USD

COD

35

Muara Rupit

150/20 kV

New

30

3,06

2015

36

Sungai Lilin

150/20 kV

New

30

3,06

2015

37

Tebing Tinggi

150/20 kV

New

30

3,06

2015

38

Tugumulyo

150/20 kV

Extension

30

4,29

2015

39

Pendopo

150/20 kV

Extension

30

3,06

2016

40

Prabumulih

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2016

41

Keramasan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2017

42

Sungai Lilin

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

43

Bukit Asam

150/20 kV

Extension

60

1,37

2018

44

Kenten

150/20 kV

Extension

60

1,37

2018

45

Pagar Alam

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

46

Talang Kelapa

150/20 kV

Extension

60

1,37

2018

47

Betung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

48

Gandus

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

49

Kayu Agung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

50

Pendopo

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

51

Sekayu

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

52

Simpang Tiga

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

53

Tebing Tinggi

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

54

Betung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

55

Sekayu

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

56

Talang Kelapa

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

57

Tebing Tinggi

150/20 kV

Extension

30

1,27

2021

2.040

109,06

Jumlah

Dari Provinsi Sumatera Selatan juga banyak dikembangkan proyek-proyek GI 275 kV, GI 500 kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.6.

Tabel A10.6. Pengembangan GI 275 kV, 500 kV dan 500 kV HVDC


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA)

Juta
USD

COD

Gumawang

275/150 kV

New

500

21,03

2014

Lahat

275/150 kV

New

1.000

35,50

2014

Lubuk Linggau

275/150 kV

New

250

20,32

2014

Lumut Balai

275/150 kV

New

500

24,28

2014

Bayung Lincir/PLTU Sumsel 5

275/150 kV

New

12,08

2015

Betung

275/150 kV

New

500

24,00

2015

Muara Enim

275/150 kV

New

12,21

2015

Sungai Lilin/PLTU Sumsel 7

275/150 kV

New

12,08

2015

Muara Enim 500 kV

500 kV DC

New

3.000

324,00

2016

10

Muara Enim 500 kV

500/275 kV

Extension

1.000

54,31

2017

11

Lubuk Linggau

275/150 kV

Extension

250

7,45

2020

7.000

547,24

Jumlah

312
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 312

04/02/2013 14:19:48

Pengembangan Transmisi
Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV, 275 kV, 500 kV dan 500 kV DC
sepanjang 2.743 kms sampai dengan tahun 2021 dengan kebutuhan dana sekitar USD 456 juta seperti
ditampilkan dalam Tabel A10.7. dan Tabel A10.8.

Tabel 10.7. Pembangunan Transmisi 150 kV


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Lahat

Pagar Alam

150 kV

2 2nd cct, 1 Hawk

95

5,24

2012

PLTU Simpang
Belimbing

Lahat

150 kV

2 cct, 2 x 330 mm2

120

10,86

2012

Betung

Sekayu

150 kV

2 cct, 1 Hawk

70

3,88

2013

Betung

Talang Kelapa

150 kV

1 2nd cct, 2 Hawk

55

8,43

2013

Gandus

Inc. 2 Pi (Keramasan-T.
Kelapa)

150 kV

2 cct, CU 1000
mm2

20

44,40

2013

Kenten

Inc. 2 Pi (T. KelapaBorang )

150 kV

2 cct, 2 x 330 mm2

0,09

2013

Tanjung Api-Api

Inc. 1 Pi (T. KelapaBorang)

150 kV

2 cct, 2 x 330 mm2

40

3,62

2013

Baturaja (uprate)

Bukit Kemuning
(uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

96

12,84

2014

Borang (uprate)

Seduduk Putih (uprate)

70 kV

2 cct, ACCC

0,70

2014

Bukit Asam (uprate)

Baturaja (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310


mm2

78

10,44

2014

Jakabaring

Inc. 2 Pi (KeramasanMariana)

150 kV

2 cct, 2 x 330 mm2

0,09

2014

5
6
7
8
9
10
11
12

Kayu Agung

Gumawang

150 kV

2 cct, 2 Zebra

90

20,26

2014

13

Mariana

Kayu Agung

150 kV

2 cct, 2 Zebra

60

13,50

2014

14

Lahat

PLTU Banjar Sari

150 kV

2 cct, 2 x 330 mm2

70

3,62

2015

15

Lahat

PLTU Keban Agung

150 kV

2 cct, 2 Zebra

150

15,76

2015

16

Lubuk Linggau

Tebing Tinggi

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

8,31

2015

Martapura

Inc. 2 pi (Baturaja-B.
Kemuning)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

92

6,65

2015

18

Muara Dua

Martapura

150 kV

2 cct, 2 Hawk

120

7,02

2015

19

Sungai Lilin

Betung

150 kV

2 cct, 1 Hawk

20

6,65

2015

Tugumulyo

Inc. 2 Pi (Kayu AgungGumawang)

150 kV

4 cct, 2 Zebra

40

9,00

2015

Muara Dua

PLTP Danau Ranau

150 kV

2 cct, 2 Hawk

90

6,87

2019

17

20
21

Jumlah

1.455

198,22

Tabel 10.8. Pembangunan Transmisi 275 kV, 500 kV dan 500 kV DC


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

PLTU Sumsel-5

PLTU Sumsel-7

275 kV

2 cct, 2 Zebra

1 24

27,91

Lahat

Lumut Balai

275 kV

2 cct, 2 Zebra

50

11,25

2014

Lumut Balai

Gumawang

275 kV

2 cct, 2 Zebra

405

91,16

2014

Muara Enim

Betung

275 kV

2 cct, 2 Zebra

350

78,78

2015

Muara Enim

Inc. 2 Pi (Gumawang-L.
Balai)

275 kV

4 cct, 2 Zebra

60

13,50

2015

Muara Enim

Perbatasan Sumsel/
Lampung

500 kV DC

2 cct 4 Falcon

200

2,50

2016

PLTP Rantau Dedap

Lumut Balai

275 kV

2 cct, 2 Zebra

40

9,00

2018

PLTU Jambi (KPS)

Inc. 2 pi (M. Enim-New


Aur Duri)

500 kV

4 cct, 4 Zebra

60

24,00

2018

1.289

258,11

5
6
7
8

Jumlah

313
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 313

04/02/2013 14:19:49

Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.7 dan tabel A10.8 terdapat pula ruas
transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang Sumsel-8, Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke
GI 500 kV Muara Enim. Panjang dan rute transmisi 500 kV tersebut akan diketahui setelah ditetapkannya
pemenang lelang ketiga PLTU mulut tambang tersebut.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan sebesar 1,06 juta pelanggan atau
rata-rata 106 ribu pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan, diperlukan pembangunan JTM 5.163 kms, JTR sekitar 5.352 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 674 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A10.9.

Tabel A10.9. Rincian Pengembangan Distribusi


Tahun

JTM

JTR (kms)

Trafo

Pelanggan

2012

394

396

44

115.246

2013

410

417

53

131.677

2014

430

439

49

128.048

2015

448

460

60

125.382

2016

481

496

57

125.798

2017

517

536

71

90.939

2018

555

579

68

90.939

2019

593

622

84

90.939

2020

635

669

92

90.939

2021

701

739

95

69.774

5.163

5.352

647

1.059.679

2012-2021

A10.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 diperlihatkan pada Tabel A10.10.

Tabel A10.10. Rangkuman


Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

2012

3.460

3.911

698

80

2013

3.809

4.217

769

2014

4.194

4.533

845

2015

4.612

4.970

2016

5.078

2017
2018

Tahun

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

90

215

81

90

600

186

225

40

2.640

911

384

931

603

740

1.042

1.234

5.465

998

673

3.030

200

1.416

5.599

6.022

1.070

600

1.090

876

6.174

6.637

1.147

710

210

40

1.081

2019

6.817

7.324

1.238

110

30

150

325

2020

7.537

8.093

1.335

110

490

317

2021

8.320

8.935

1.335

150

74

11,89%

11,6%

9,5%

3.015

9.070

2.744

6.012

Growth/
Jumlah

314
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 314

04/02/2013 14:19:49

LAMPIRAN A.11
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI BENGKULU
A11.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini
Beban puncak pada sistem kelistrikan Provinsi Bengkulu saat ini mencapai sekitar 123 MW, terdiri dari
101 MW beban puncak interkoneksi dan 22 MW beban puncak sistem isolated. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui transmisi 150 kV dan 70 kV. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan PLTMH. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11.1.

Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.1.


Gambar A11.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu

Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.1.

Tabel A11.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2011


No.

Nama Pembangkit

Bahan Bakar

Pemilik

Air

PLN

Kapasita Terpasang
(MW)

PLTA Musi

PLTA Tes

Air

PLN

17,6

PLTD Isolated

HSD

PLN

17,6

PLTD Isolated

HSD

Sewa

8,8

PLTM Isolated

Air

PLN

1,6

Jumlah

210,0

255,6

315
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 315

04/02/2013 14:19:49

A11.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Di Bengkulu


Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 12% per tahun, dimana penjualan pada tahun 2007 sebesar 310,1 GWh telah meningkat menjadi 493,2 GWh pada tahun 2011.

Tabel A11.2. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No.

Kelompok Tarif

Energi Jual (GWh)

Porsi (%)

Rumah Tangga

357,1

72%

Komersil

71,5

15%

Publik

41,7

8%

Industri

22,8

5%

Jumlah

493,2

100%

Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik 2012 - 2021 dapat dilihat pada Tabel A11.3.

Tabel A11.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

567

641

120

319.801

2013

624

691

133

359.249

2014

688

743

146

397.766

2015

756

815

154

433.416

2016

833

896

162

456.182

2017

918

987

172

474.850

2018

1.012

1.088

181

484.568

2019

1.118

1.201

192

494.422

2020

1.235

1.327

229

504.413

2021

1.364

1.465

253

514.545

Growth

12,0%

11,3%

10,3%

8,0%

A11.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan
distribusi sebagai berikut.

Potensi Sumber Energi


Menurut informasi dari Kementerian ESDM, sumber energi yang tersedia di Bengkulu untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi dengan perkiraan potensi mencapai
400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP. Selain itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Gambar A11.2 memperlihatkan sebaran dan jumlah potensi energi tersebut.

316
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 316

04/02/2013 14:19:49

Gambar A11.2. Peta Potensi Energi Primer

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2021, diperlukan tambahan kapasitas pembangkit
sebesar 428 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A11.4.

Tabel A11.4. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)

COD

Ipuh

PLTU

PLN

2013

Muko Muko

PLTU

Swasta

2013

Simpang Aur (FTP2)

PLTA

Swasta

23

2015

Hululais (FTP2)

PLTP

PLN

110

2016

Ketahun-3

PLTA

PLN

61

2019

Kepahiyang

PLTP

PLN

220

2020

Jumlah

428

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk
Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2021 yaitu penambahan GI baru
pengembangan GI existing dengan total kapasitas mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti
pada Tabel A11.5.

317
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 317

04/02/2013 14:19:49

Tabel A11.5. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/Bay)

Juta
USD

COD

Manna

150/20 kV

New

30

3,06

2012

Pekalongan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

Pekalongan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

Pulau Baai

150/20 kV

New

120

4,54

2013

Argamakmur

150/20 kV

New

30

3,06

2015

Manna

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

Muko-muko/Bantal/Ipuh

150/20 kV

New

30

3,06

2015

Pulau Baai

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

Pekalongan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2016

10

Bintuhan

150/20 kV

New

30

3,06

2017

11

Manna

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2017

12

Pulau Baai

150/20 kV

Extension

60

1,37

2017

13

Muko-muko/Bantal/Ipuh

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2020

360

26,86

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit, dibutuhkan juga pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1.378 kms dengan biaya sebesar US$ 100 juta. Rincian kegiatan terdapat pada
Tabel A11.6.

Tabel A11.6. Pembangunan Transmisi


No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Pagar Alam

Manna

150 kV

2 cct, 1 Hawk

96

5,32

2012

Pekalongan

Pulo Baai

150 kV

2 cct, 2 Hawk

90

6,87

2013

Kambang

Muko-Muko/Bantal/
Ipoh

150 kV

2 cct, 2 Hawk

220

16,79

2015

PLTA Simpang Aur 1

Inc. 1 Pi (PekalonganPulau Baai)

150 kV

2 cct, 2 Hawk

20

1,53

2015

PLTA Simpang Aur 1

PLTA Simpang Aur 2

150 kV

2 cct, 1 Hawk

12

0,66

2015

Pulau Baai

Arga Makmur

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

13,74

2015

Pekalongan

PLTP Hululais

150 kV

2 cct, 2 Hawk

140

9,16

2016

Manna

Bintuhan

150 kV

2 cct, 1 Hawk

09

7,76

2017

PLTA Ketahun

Arga Makmur

150 kV

2 cct, 2 Hawk

60

4,58

2017

10

Muko-Muko/Bantal/
Ipoh

Arga Makmur

150 kV

2 cct, 2 Hawk

360

27,48

2020

11

PLTP Kepahiyang

Inc. 2 Pi (PekalonganPulau Baai)

150 kV

4 cct, 2 Hawk

80

6,11

2020

1.378

99,99

Jumlah

Pengembangan Distribusi
Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 224 ribu sambungan untuk kurun waktu 2012-2021
atau rata-rata 22 ribu pelanggan per tahun, dengan kebutuhan pertambahan JTM sebanyak 2.135 kms,
JTR sepanjang 2.323 kms dan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada
Tabel A11.7.

318
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 318

04/02/2013 14:19:49

Tabel A11.7. Rincian Pengembangan Distribusi


JTM
kms

Tahun

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

192

208

13

29.728

2013

173

188

12

39.448

2014

263

286

18

38.517

2015

132

144

35.650

2016

313

340

17

22.766

2017

147

160

13

18.668

2018

246

268

17

9.718

2019

216

235

15

9.854

2020

216

235

15

9.991

2021

239

260

15

10.132

2.135

2.323

140

224.472

Growth

A11.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 diperlihatkan pada Tabel A11.8.

Tabel A11.8. Rangkuman


Energy
Sales
(GWh)

Produksi
Energi
(GWh)

Beban
Puncak
(MW)

2012

567

641

120

30

96

21

2013

624

691

133

14

150

90

55

2014

688

743

146

2015

756

815

154

23

90

432

92

2016

833

896

162

110

120

195

2017

918

987

172

90

200

39

2018

1.012

1.088

181

11

2019

1.118

1.201

192

61

111

2020

1.235

1.327

229

220

440

405

2021

1.364

1.465

253

19

Growth/
Jumlah

12,0%

11,3%

10,3%

428

360

1.378

958

Tahun

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

319
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 319

04/02/2013 14:19:49

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 320

04/02/2013 14:19:49

LAMPIRAN A.12
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI LAMPUNG
A12.1. Kondisi Saat Ini
Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi Sumatera seperti
ditunjukkan pada Gambar A12.1.

Gambar A12.1. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated

Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi, meliputi sistem
tersebar yang kecil (< 0,5 MW) yang pada umumnya merupakan PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan, Pugung
Tampak dan Bengkunat di Lampung Barat.
Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah sebagai berikut: Kota
Agung di Kabupaten Tanggamus, Liwa dan Ulubelu di Kabupaten Lampung Barat, Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji. Peta kelistrikan Provinsi
Lampung diperlihatkan pada Gambar A12.2.

321
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 321

04/02/2013 14:19:49

Gambar A12.2. Peta Kelistrikan Provinsi Lampung

Beban puncak Lampung pada tahun 2011 adalah 525,80 MW dengan produksi energi 2.970 GWh.
Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.1.

Tabel A12.1. Kapasitas Pembangkit per 2011


No.

Pembangkit

Daya Terpasang (MW)

Daya Mampu (MW)

PLTA Besai #1,2

90

89

PLTA Batutegi #1,2

30

28

PLTU Tarahan #3,4

200

200

PLTD Tarahan #2,4

15

12

PLTD Teluk Betung #7,8,10

14

11

PLTD Tegineneng #1,2,3

28

20

337

361

Jumlah

A12.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya Provinsi Lampung dalam lima tahun terakhir sangat
tinggi, yaitu mencapai 15,2% pada tahun 2010. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi, karena pada tahun 2011 baru mencapai 62,8 %.
Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 10,5 % per tahun, dimana
penjualan pada tahun 2007 sebesar 1.627,1 GWh telah meningkat menjadi 2.425,9 GWh pada tahun 2011.

322
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 322

04/02/2013 14:19:49

Tabel A12.2. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2011
No.

Kelompok Tarif

Rumah Tangga

2
3
4

Energi Jual (GWh)

Porsi (%)

1.456,77

60,05

Komersil

407,50

16,80

Publik

166,69

6,87

Industri

394,98

16,28

Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik 2012-2021 dapat dilihat pada Tabel A12.3.

Tabel A12.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sales
(GWh)

Tahun

Produksi
(GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

2.777

3.142

570

1.357.433

2013

3.057

3.399

616

1.483.537

2014

3.366

3.684

666

1.602.488

2015

3.702

4.038

729

1.728.665

2016

4.076

4.439

800

1.845.562

2017

4.494

4.889

880

1.962.459

2018

4.956

5.386

968

2.024.408

2019

5.472

5.940

1.066

2.075.366

2020

6.049

6.560

1.175

2.126.325

2021

6.679

7.313

1.308

2.163.990

Growth

11,5%

10,9%

10,1%

7,9%

A12.3. Pengembangan Ketenagalistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan
distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung, potensi sumber energi
utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel
A12.4 dan Tabel A12.5. Selain itu juga terdapat potensi biomassa dan batubara.

Tabel A12.4. Potensi Panas Bumi


Potency (Mwe)
No.

Area

Way Umpu

Danau Ranau

Purunan

Gn. Sekincau

Regency
Way Kanan

Speculative

Reserve (Mwe)

Hipothetic

Possible

Probable

Proven

100

Lampung Barat

185

222

37

Lampung Barat

25

Lampung Barat

100

130

Bacingot

Lampung Barat

225

Suoh Antata

Lampung Barat

163

300

Pajar Bulan

Lampung Barat

100

323
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 323

04/02/2013 14:19:50

Tabel A12.4. Potensi Panas Bumi


Lanjutan
Potency (Mwe)
No.

Area

Regency

Ulu Belu

Tanggamus

10

Lempasing

Lampung selatan

11

Way Ratai

Lampung selatan

12

Kalianda

13

Pmt. Belirang

Speculative

Hipothetic

Possible

Probable

Proven

156

380

110

225

194

Lampung selatan

40

40

Lampung selatan

225

925

838

1.072

37

110

Total Potency 2.855 Mwe

Reserve (Mwe)

Tabel A12.5. Potensi Tenaga Air


No

Lokasi

Kapasitas
(MW)

Mesuji Tulang bawang

Besai / Umpu

16,00

7,50

Giham Pukau

80,00

Giham Aringik

1,60

Tangkas

Campang Limau

978,00

Sinar Mulia

600,00

Way Abung

600,00

Way Umpu

II

Seputih / Sekampung

Bumiayu

1,00

III

Semangka

39,20

Semangka Atas I

39,20

Semangka Atas II

26,8

Semangka Atas III

28,2

Semangka Bawah I

35,5

Semangka Bawah II

40,4

Semung I

23,8

Semung II

38,7

Semung III

11,6

Manula I

5,7

10

Manula II

8,4

11

Simpang Lunik I

6,1

12

Simpang Lunik II

3,8

13

Simpang Lunik III

3,9

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2021, diperlukan tambahan kapasitas pembangkit
sekitar 1.311 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A12.6.

324
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 324

04/02/2013 14:19:50

Tabel A12.6. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Asumsi
Pengembang

Jenis

Kapasitas
(MW)

COD

Tarahan (FTP1)

PLTU

PLN

200

2012

Ulubelu #1,2

PLTP

PLN

110

2012

Lampung Peaker

PLTG/MG

PLN

100

2015

Tarahan #5,6

PLTU

Sewa

240

2015

Semangka (FTP2)

PLTA

Swasta

56

2016

Ulubelu #3,4 (FTP2)

PLTP

Swasta

110

2016/17

Rajabasa (FTP2)

PLTP

Swasta

220

2017

Suoh Sekincau

PLTP

Swasta

220

2018/19

Wai Ratai

PLTP

Swasta

55

2019

Jumlah

1.311

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan GI
Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan GI baru dan pengembangan GI existing sampai dengan
tahun 2021 seperti diperlihatkan pada Tabel A12.7.

Tabel A12.7. Rencana GI Baru 150 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(MVA/BAY)

Juta
USD

COD

Adijaya

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Bukit Kemuning

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Kalianda

150/20 kV

Extension

30

1,27

2012

Kotabumi

150/20 kV

Extension

60

1,37

2012

Ulubelu

150/20 kV

New

30

3,06

2012

Dipasena

70/20 kV

New

90

4,51

2013

Menggala

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

Menggala

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

Metro

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

10

Natar

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

11

New Tarahan

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

12

New Tarahan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

13

Pagelaran

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

14

Seputih Banyak

70/20 kV

New

100

2,41

2013

15

Sribawono

150/20 kV

Extension

60

1,37

2013

16

Sribawono

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

17

Sukarame

150/20 kV

Extension

30

1,27

2013

18

Bukit Kemuning

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

19

Kota Agung

150/20 kV

New

30

3,06

2014

20

Kotabumi

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

21

Liwa

150/20 kV

New

30

3,06

2014

22

Pagelaran

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

23

Seputih Banyak

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

24

Tegineneng

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

25

Blambangan Umpu

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

26

Dipasena

150/20 kV

New

120

4,54

2015

27

Gedong Tataan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

28

Gedong Tataan

150/20 kV

New

60

4,33

2015

325
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 325

04/02/2013 14:19:50

Tabel A12.7. Rencana GI Baru 150 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

Kapasitas
(Mva)

Lanjutan
Juta
USD

COD

29

Gumawang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

30

Kalianda

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

31

Ketapang

150/20 kV

New

30

3,06

2015

32

Mesuji

150/20 kV

New

30

3,06

2015

33

Mesuji

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

34

Pagelaran

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2015

35

Teluk Ratai

150/20 kV

New

30

3,06

2015

36

Adijaya

150/20 kV

Extension

30

1,27

2016

37

Jati Agung

150/20 kV

New

30

3,06

2016

38

Menggala

150/20 kV

Extension

60

1,37

2016

39

New Tarahan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2016

40

Pakuan Ratu

150/20 kV

New

41

Sukarame

150/20 kV

Extension

42

Sutami

150/20 kV

43

Kalianda

150/20 kV

44

Langkapura

150/20 kV

New

45

Besai

150/20 kV

Extension

46

Mesuji

150/20 kV

Extension

47

Tegineneng

150/20 kV

Extension

48

Bengkunat

150/20 kV

New

30

3,06

2019

49

Jati Agung

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

50

Ketapang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

51

Liwa

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2019

52

Pakuan Ratu

150/20 kV

Extension

30

1,27

2019

53

Sukarame

150/20 kV

Extension

60

1,37

2019

54

Teluk Ratai

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2019

55

Kotabumi

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

56

Langkapura

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

57

Sribawono

150/20 kV

Extension

60

1,37

2020

58

Adijaya

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

59

Bukit Kemuning

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

60

Seputih Banyak

150/20 kV

Extension

60

1,37

2021

2.200

106,30

30

3,06

2016

2 LB

1,23

2016

Extension

30

1,27

2016

Extension

2 LB

1,23

2017

60

3,17

2017

2 LB

1,23

2018

30

1,27

2018

60

1,37

2018

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2021 sepanjang 1.457 kms diperlihatkan
pada Tabel A12.8.

Tabel A12.8. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 70 kV


No
1
2
3

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

PLTU Tarahan
(FTP1)

Inc. 2 Pi (New
Tarahan-Kalianda)

150 kV

2 cct, 2 Zebra

0,23

2012

Ulubelu

Inc. 1 Pi (BatutegiPagelaran)

150 kV

2 cct, 2 Hawk

40

3,05

2012

Bukit Kemuning
(uprate)

Kotabumi (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310 mm2

68

9,04

2013

326
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 326

04/02/2013 14:19:50

Tabel A12.8. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 70 kV


Lanjutan
No

Dari

Ke

Tegangan

Konduktor

KMS

Juta
USD

COD

Seputih Banyak

Dipasena

70 kV

2 cct, 1 Hawk

Sutami (uprate)

Natar (uprate)

150 kV

2 cct, ACCC 310 mm2

Bukit Kemuning

Liwa

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Menggala

Seputih Banyak

150 kV

2 cct, 2 Zebra

Pagelaran

Kota Agung

150 kV

2 cct, 1 Hawk

Gedon Tataan

Teluk Ratai

150 kV

2 cct, 1 Hawk

10

Gumawang

Mesuji

150 kV

11

Kalianda

Ketapang

150 kV

12

Mesuji

Dipasena

13

Pagelaran

Gedong Tataan

14

PLTP Ulubelu #3,4

Ulubelu

15

Pakuan Ratu

Blambangan Umpu

16

PLTA Semangka

Kota Agung

150 kV

2 cct, 1 Hawk

60

3,32

2016

17

Sukarame

Jatiagung

150 kV

2 cct, CU 1000 mm2

16

35,52

2016

18

Kalianda

PLTP Rajabasa

150 kV

2 cct, 2 Hawk

40

3,05

2017

Langkapura

Inc. 2 Pi (Natar-Teluk
Betung)

150 kV

2 cct, 1 Hawk

0,11

2017

19

120

9,16

2013

60

8,08

2013

80

4,43

2014

120

27,01

2014

80

4,43

2014

60

3,32

2015

2 cct, 2 Hawk

160

12,21

2015

2 cct, 2 Hawk

90

6,87

2015

150 kV

2 cct, 2 Hawk

152

11,60

2015

150 kV

2 cct, 2 Hawk

60

4,58

2015

150 kV

2 cct, 1 Hawk

20

1,11

2015

150 kV

2 cct, 2 Zebra

30

6,75

2016

20

Besai

PLTP Suoh sekincau

150 kV

2 cct, 1 Hawk

38

2,11

2018

21

Liwa

Bengkunat

150 kV

2 cct, 1 Hawk

120

6,65

2019

22

Teluk Ratai

PLTP Wai Ratai

150 kV

2 cct, 1 Hawk

40

2,22

2019

1.457

164,86

Jumlah

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, penambahan pelanggan baru sampai dengan 2021 adalah 923 ribu pelanggan atau rata-rata 92 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan
tersebut, diperlukan pembangunan JTM 1.937 kms, JTR sekitar 1.823 kms dan tambahan kapasitas trafo
distribusi sekitar 672 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A12.9.

Tabel A12.9. Pengembangan Distribusi


Tahun

JTM
kms

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

235

221

89

116.409

2013

224

211

86

126.104

2014

231

217

85

118.951

2015

217

204

71

126.177

2016

145

137

54

116.897

2017

154

145

55

116.897

2018

164

154

56

61.949

2019

175

164

57

50.959

2020

187

176

59

50.959

2021
2012-2021

206

194

60

37.664

1.937

1,823

672

922.966

327
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 327

04/02/2013 14:19:50

A12.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 diberikan pada Tabel A12.10.

Tabel A12.10. Rangkuman


Tahun

Energy Sales
(GWh)

Produksi Energi
(GWh)

Beban Puncak (MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

2.777

570

570

310

210

41

517

2013

3.057

616

616

580

248

90

2014

3.366

666

666

210

280

91

2015

3.702

729

729

340

270

542

160

2016

4.076

800

800

111

240

706

318

2017

4.494

880

880

275

60

42

653

2018

4.956

968

968

110

90

38

280

2019

5.472

1.066

1.066

165

180

160

427

2020

6.049

1.175

1.175

180

41

2021

6.679

1.308

1.308

180

43

Growth/
Jumlah

11,5%

10,9%

10,1%

1.311

2,200

2.057

2.621

328
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 328

04/02/2013 14:19:50

LAMPIRAN A.13
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO)
DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT
A13.1. Kondisi Saat Ini
Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem
isolated. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga Singkawang. Sistem isolated terdiri atas
sistem Sambas, Bengkayang, Ngabang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, Ketapang,
Sukadana dan sistem tersebar.
Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2011 adalah 286 MW dengan produksi
1.616 GWh. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Tabel A13.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat.

Tabel A13.1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat


Sistem

Produksi
GWh

Beban Puncak
(MW)

Faktor Beban
(%)

Interkoneksi

1.182

67,9

202

70,7

Bengkayang

21

1,4

1,5

Sambas

68

4,1

14

4,9

Ngabang

22

1,3

1,6

Sanggau

65

3,7

14

4,9

Sekadau

16

1,0

1,2

Sintang

73

4,3

14

4,9

Putusibau

24

1,5

1,6

Nangapinoh

26

1,5

1,6

119

7,4

20

7,0

1.616

100,0

286

100,0

Ketapang
Total

Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi, yaitu rata-rata 9,1% per tahun. Penjualan tenaga
listrik diserap oleh konsumen rumah tangga dan sosial (61%), konsumen komersil (28%), konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%).
Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak. Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel
sudah tua dan cadangan pembangkitan tidak memadai.
Kapasitas pembangkit adalah 415 MW dengan daya mampu 355 MW seperti diperlihatkan pada Tabel
A13.2.

329
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 329

04/02/2013 14:19:50

Tabel A13.2. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2011
Daya Terpasang
(MW)

Sistem
Interkoneksi

Daya Mampu
(MW)
259

Bengkayang
Sambas

219

15

15

Ngabang

Sanggau

17

16

Sekadau

Sintang

20

18

Putusibau

Nangapinoh

Ketapang

27

24

Tersebar

50

37

415

355

Total

A13.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata 9,1% per tahun, dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi selama 20062010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5.2% per tahun. Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58.3%. Untuk terus
meningkatkan rasio elektrifikasi dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal.
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka
proyeksi kebutuhan listrik 2012-2021 dapat dilihat pada Tabel A13.3.

Tabel A13.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated)
Tahun

Sales
(GWh)

Produksi
(GWh)

Beban Puncak
(MW)

Pelanggan

2012

1.588

1.844

335

706.424

2013

1.745

1.996

362

764.078

2014

1.904

2.201

397

824.541

2015

2.068

2.385

429

880.923

2016

2.246

2.586

464

939.436

2017

2.439

2.806

502

997.983

2018

2.647

3.044

543

1.056.565

2019

2.873

3.302

587

1.115.183

2020

3.117

3.581

634

1.140.639

2021

3.382

3.885

686

1.168.512

Growth

10,2%

10,2%

10,1%

7,4%

Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 202 MW, dan sejalan dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada sistem-sistem isolated (Sistem Sambas,
Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada
tahun 2021 menjadi 609 MW atau tumbuh rata-rata 12,1% per tahun. Sedangkan sistem-sistem isolated
kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.

330
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 330

04/02/2013 14:19:50

A13.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air, gambut dan batubara.
Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului dengan survei dan
studi yang mendalam. Pada saat ini potensi yang dapat dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW. Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten
Mempawah. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek lingkungan.
Potensi batubara terdapat di daerah Sintang, berupa batubara dengan kandungan kalori yang tinggi,
namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala infrastruktur transportasi. Sumber
batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU/PLTGB di Sanggau, Sintang, Nanga Pinoh
dan Putusibau.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2021 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13.4.

Tabel A13.4. Pengembangan Pembangkit


No

Proyek

Jenis

Asumsi
Pengembang

Kapasitas
(MW)

COD

Nanga Pinoh

PLTGB

PLN

2013

Putussibau (FTP2)

PLTGB

PLN

2013

Riam Badau

PLTA

PLN

0,2

2013

Pantai Kura-Kura (FTP1)

PLTU

PLN

55

2014

Parit Baru (FTP1)

PLTU

PLN

100

2014

Sanggau

PLTU

PLN

14

2014

Sintang

PLTU

PLN

21

2014

Ketapang (FTP2)

PLTU

PLN

20

2015

Ketapang (FTP2)

PLTU

Swasta

14

2015

10

Parit Baru - Loan China (FTP2)

PLTU

PLN

100

2015

11

Kalbar-1

PLTU

PLN

200

2017/18

12

Pontianak Peaker

PLTG/MG

PLN

100

2019

13

Nanga Pinoh

PLTA

PLN

98

2020

Jumlah

736,2

Pembelian Tenaga Listrik dari Sarawak


Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat, PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi 275 kV yang berkapasitas lebih dari 200
MW. PLN bermaksud mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga
180 MW dalam kurun waktu 5 tahun (2015-2019) dan dapat diperpanjang lagi berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak. Rencana impor baseload sebesar 50 MW adalah untuk mengantisipasi ketidakpastian
penyediaan pembangkit baseload di sistem Kalimantan Barat, sedangkan impor peakload sebesar hingga
180 MW adalah untuk menggantikan pemakaian BBM di sistem Kalbar. Tidak ada take or pay daya (MW)
dalam perjanjian jual beli tenaga listrik ini.

331
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 331

04/02/2013 14:19:50

Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM untuk pembangkit beban puncak dalam periode sampai dengan tahun 2019, namun untuk mengurangi ketergantungan yang
sangat besar terhadap pasokan/impor dari Sarawak, maka direncanakan pula pembangunan pembangkit peaker (PLTG/PLTMG) dengan kapasitas 100 MW yang akan beroperasi pada tahun 2019 dan menggunakan bahan bakar LNG.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Di Provinsi Kalimantan Barat akan akan dikembangkan GI 150 kV baru dan pengembangan trafo GI
existing sebesar 930 MVA. Selain itu akan dibangun pula GI 275 kV sebagai simpul interkoneksi antara
Kalimantan Barat dan Serawak. Rencana pembangunan GI diberikan pada Tabel A13.5 dan Tabel A13.6.

Tabel A13.5. Pengembangan GI 150 kV


No

Gardu Induk

Tegangan

New/
Extension

150/20 kV

New

Kapasitas
(MVA/BAY)

3,06

COD

Kota Baru

Parit Baru

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2012

Sei Raya

150/20 kV

Extension

120

2,75

2012

Sei Raya

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2012

PLTU Pantai Kura2

150/20 kV

New

30

4,29

2013

Sambas

150/20 kV

New

30

3,06

2013

Siantan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

Singkawang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2013

Tayan

150/20 kV

New

30

3,06

2013

10

Bengkayang

150/20 kV

New

30

5,33

2014

11

Mempawah

150/20 kV

Extension

30

1,27

2014

12

Ngabang

150/20 kV

New

30

4,29

2014

13

Sanggau

150/20 kV

New

30

4,29

2014

14

Siantan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2014

15

Tayan

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2014

16

Tayan

150/20 kV

Extension

4 LB

2,47

2014

17

Sekadau

150/20 kV

New

30

4,29

2015

18

Singkawang

150/20 kV

Extension

30

1,27

2015

19

Sintang

150/20 kV

New

60

4,33

2016

20

Nanga Pinoh

150/20 kV

New

30

3,06

2016

21

Sanggau

150/20 kV

Extension

30

1,27

2016

22

Sintang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2016

23

Ketapang

150/20 kV

New

60

5,56

2017

24

Kota Baru 2

150/20 kV

New

30

3,06

2017

25

Nanga Pinoh

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2017

26

Parit Baru

150/20 kV

Extension

30

1,27

2017

27

Sandai

150/20 kV

New

30

4,29

2017

28

Sukadana

150/20 kV

New

30

4,29

2017

29

Putussibau

150/20 kV

New

30

3,06

2017

30

Sintang

150/20 kV

Extension

2 LB

1,23

2020

31

Sambas

150/20 kV

Extension

30

1,27

2018

32

Siantan

150/20 kV

Extension

60

1,37

2019

33

Kota Baru

150/20 kV

Extension

30

1,27

2020

930

84,78

Jumlah

30

Juta
USD

2012

332
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 332

04/02/2013 14:19:50

Tabel A13.6. Pengembangan GI 275 kV


No
1

Tegangan

New/
Extension

275/150 kV

New

Gardu Induk
Bengkayang
Jumlah

Kapasitas
(Mva)

Juta
USD

250

25,98

250

25,98

COD
2014

Pengembangan Transmisi
Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2021 di Kalimantan Barat adalah seperti terlihat
pada Tabel A13.7.

Tabel A13.7. Pengembangan Transmisi 150 kV


Dari

PLTU Pantai Kura2

Parit Baru

Kota Baru

150 kV

2 cct, 1 Hawk

40

2,22

2013

Sei Raya

Kota Baru

150 kV

2 cct, 1 Hawk

32

1,77

2013

Siantan

Tayan

150 kV

2 cct, 2 Hawk

184

10,19

2013

Singkawang

Bengkayang

150 kV

2 cct, 2 Hawk

120

6,65

2013

Singkawang

Sambas

150 kV

2 cct, 1 Hawk

126

6,98

2013

Bengkayang

Ngabang

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

9,97

2014

Ngabang

Tayan

150 kV

2 cct, 2 Hawk

110

6,09

2014

Tayan

Sanggau

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

9,97

2014

10

Sanggau

Sekadau

150 kV

2 cct, 2 Hawk

100

5,54

2015

11

Sintang

Sekadau

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

9,97

2016

12

Sintang

Nanga Pinoh

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

9,97

2016

13

Ketapang

Sukadana

150 kV

2 cct, 2 Hawk

200

15,27

2017

14

Nanga Pinoh

Kota Baru 2

150 kV

2 cct, 1 Hawk

1 80

9,97

2017

15

Sandai

Tayan

150 kV

2 cct, 2 Hawk

300

22,90

2017

16

Sukadana

Sandai

150 kV

2 cct, 2 Hawk

180

13,74

2017

17

Sintang

Putusibau

150 kV

2 cct, 2 Hawk

300

22,90

2017

2.632

166,33

Jumlah

Ke
Inc. 2 pi (SingkawangMempawah)

Tegangan
150 kV

Konduktor
2 cct, 1 Hawk

KMS

Juta
USD

No

40

2,22

COD
2012

Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut, PLN berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke perbatasan negara dan trafo IBT
berkapasitas 250 MVA.

333
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 333

04/02/2013 14:19:50

Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.1.

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
your computer,
and then open theBARAT
file again. If 2011
the red x still
appears, you

KALIMANTAN
- 2020

PLTM PANCAREK-SAJINGAN (IPP);


2 x 400 KW (2012)
ARUK
PLTU 2 PANTAI KURA-KURA
(PLN);
2 x 27,5 MW (2014)
PLTU PARIT BARU Loan China
2 X 50 MW (2015)

PLTM MERASAP-BENGKAYANG (PLN);


2 x 750 KW (2010)

BIAWAK

GI. SAMBAS
Thn2013

SERIKIN

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)

JAGOI BABANG

BATU KAYA

PLTGB (IPP) 8 MW (2015)

TEBEDU
GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. PLTU KURA-KURA


Thn
2011
GI. MEMPAWAH

GI. NGABANG
Thn2014

GI. PARIT BARU


PLTG/MG PONTIANAK
100 MW (2019)

55 km
GI. SIANTAN

GI. TAYAN
GI. SEI RAYA Thn2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011
PLTU PONTIANAK-3
2X25 MW (2016)

PLTU PARIT BARU; 2 X 50 MW


(2014)

GI. PUTUSIBAU
Thn 2017

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2014

GI SANGGAU
Thn 2014

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW 2014)


(

GI. SINTANG
Thn 2016

GI. SEKADAU
Thn 2015
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X
7 MW (2014)

PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)


PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2019
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

GI. K0TA
BARU22017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (PLN) ;


2 X 10 MW (2013)

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

GI. KETAPANG
Thn 2017
PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X7 MW (2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

Gambar A13.1. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan sebanyak 52 ribu
sambungan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut diperlukan pembangunan JTM
1.458 kms, JTR sekitar 4.166 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi 643 MVA sampai dengan tahun
2021 seperti ditampilkan dalam Tabel A13.8.

Tabel A13.8. Pengembangan Distribusi


Tahun

JTM
kms

JTR
kms

Trafo
MVA

Pelanggan

2012

122

349

65

53.041

2013

111

318

56

57.653

2014

117

335

52

60.464

2015

124

354

59

56.382

2016

141

401

62

58.512

2017

149

425

64

58.547

2018

158

451

67

58.582

2019

167

477

70

58.618

2020

177

506

74

25.456

2021

192

549

75

27.873

1.458

4.166

643

515.129

2012-2021

334
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 334

04/02/2013 14:19:51

A13.4. Elektrifikasi Daerah Perbatasan Antar Negara


Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak
masih belum tercukupi, sementara kondisi kelistrikan di wilayah Sarawak lebih baik. Hal ini menimbulkan
terjadinya kesenjangan pada daerah perbatasan. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem isolated di daerah perbatasan, yaitu di Sajingan dan Badau. Berikutnya akan dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya, yaitu Entikong sebesar 150
kVA dan Seluas sebesar 100 kVA. Peta kelistrikan di daerah perbatasan diberikan pada Gambar A13.2.

Gambar A13.2. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan

A13.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi
sampai tahun 2021 diberikan pada Tabel A13.9.

Tabel A13.9. Rangkuman


Tahun

Energy Sales
(GWh)

Produksi Energi
(GWh)

Beban Puncak (MW)

Pembangkit
(MW)

GI
(MVA)

Transmisi
(kms)

Investasi
(juta US$)

2012

1.588

1.844

335

150

40

36

2013

1.745

1.996

362

48

90

502

160

2014

1.904

2.201

397

190

520

930

482

2015

2.068

2.385

429

100

30

190

2016

2.246

2.586

464

60

180

42

2017

2.439

2.806

502

100

180

860

260

2018

2.647

3.044

543

100

30

183

2019

2.873

3.302

587

100

60

96

2020

3.117

3.581

634

98

60

300

208

2021

3.382

3.885

686

45

Growth/
Jumlah

10,2%

10,2%

10,1%

736

1.180

2.812

1.701

335
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 335

04/02/2013 14:19:51

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 336

04/02/2013 14:19:51

A14
Neraca Daya Sistem-Sistem Isolated
Wilayah Operasi Indonesia Barat

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 337

A14.1.

Sistem Isolated Provinsi Aceh

A14.2.

Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara

A14.3.

Sistem Isolated Provinsi Riau

A14.4.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau

A14.5.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

A14.6.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

04/02/2013 14:19:51

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 338

04/02/2013 14:19:51

Lampiran A14.1
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED
PROVINSI ACEH

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 339

04/02/2013 14:19:51

340

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 340

04/02/2013 14:19:51

MW
%

Beban Puncak

Load Faktor

MW
MW

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

Marcedes MTU

Caterpillar

Caterpillar

Caterpillar

PLTP
MW
MW
MW
MW
MW

Jaboi (FTP2)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

0,4

1,0

1,4

2,4

6,7

1,3

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

6,68

0,7

7,4

65,2

3,8

21,9

2012

2,3

1,4

4,0

5,4

11,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

65,5

4,0

23,0

2013

Catatan: Tahun 2012 Pembangkit Diesel menjadi Unit Emergency

PLTP

Lho Pria Laot

Rencana Tambahan Kapasitas

Sabang (FTP2)

PLN Ongoing & Committed


PLTGB

PLTD

Genset BPKS

Tambahan Kapasitas

PLTD

Sewa Diesel

PLTD Sewa

PLTD

Marcedes MTU

PLTD Aneuk Loat

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

2,1

1,4

4,0

5,4

11,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

65,7

4,2

24,1

2014

1,9

1,4

4,0

5,4

11,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

66,0

4,4

25,2

2015

1,7

1,4

4,0

5,4

11,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

66,2

4,5

26,3

2016

2,5

3,5

4,0

7,5

14,7

1,3

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

6,68

0,7

7,4

66,4

4,7

27,4

2017

Neraca Daya Sistem Sabang

2,3

3,5

4,0

7,5

14,7

1,3

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

6,68

0,7

7,4

66,6

4,9

28,5

2018

9,2

3,5

4,0

7,5

21,7

10

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

66,8

5,1

29,6

2019

9,0

3,5

4,0

7,5

21,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

3,71

0,4

4,1

67,0

5,2

30,7

2020

8,7

3,5

4,0

7,5

21,7

1,4

0,9

0,9

0,7

0,2

9,62

1,1

10,7

67,0

5,4

31,9

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

341

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 341

04/02/2013 14:19:51

MW
%

Load Faktor

MW

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

Cummins

Caterpillar

Caterpillar

Caterpillar

Relokasi dari Lampung

MW
MW
MW
MW
MW

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

6,2

2,4

4,5

6,9

22,1

2,0

9,0

0,2

0,5

0,9

0,7

3,0

4,8

1,0

1,3

22,1

1,2

23,3

56,7

9,1

45,0

2012

5,7

2,4

4,5

6,9

22,1

2,0

9,0

0,2

0,5

0,9

0,7

3,0

4,8

1,0

1,3

22,1

1,2

23,3

56,7

9,5

47,3

2013

2014

Catatan: Surplus/Defisit dapat disupply dari/ke Subsistem Tapaktuan/Meulaboh

PLTD

Sewa Diesel

Sewa

PLTD
PLTD

MTU

PLTD

Merrless

MAK

PLTD

SWD 6 FG

PLTD Suak

MW
MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

2015

2017

2018

2019

Rencana masuk grid 150 kV thn 2014

Rencana masuk grid 150 kV thn 2014

2016

Neraca Daya Sistem Blangpidie


2020

2021

342

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 342

04/02/2013 14:19:52

MW
%
MW

Load Faktor

Kapasitas Terpasang

PLTD
PLTD

SWD 6FG

SWD 9F

MTU 12V 2000

Surplus/Defisit

1,0
1,5

1,2

1,0

1,1

2,1

9,7

4,0

1,5

2,2

0,7

2,0

9,7

0,6

10,4

60,2

6,5

34

2013

2014

2015

Catatan: Surplus/Defisit dapat di supplay dari Sistem Blangpidre dan Sistem Kuta Fajar

MW
MW

Operasi

1,1

2,1

MW
MW

Cadangan

MW

Pemeliharaan

9,7

PLTD

Jumlah Kapasitas

4,0

1,5

2,2

0,7

Sewa Diesel

Sewa

PLTD
PLTD

MTU 12V 4000

2,0

9,73

Pembangkit PLN

PLTD Tapaktuan

0,6

10,4

60,2

6,2

32,5

2012

Derating Kapasitas

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

2017

2018

2019

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

Rencana masuk grid 150 kV thn 2014

2016

Neraca Daya Sistem Tapaktuan


2020

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

343

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 343

04/02/2013 14:19:52

MW
%

Load Faktor

MW

Derating Capacity

PLTD
PLTD
PLTD

PLTD Singkil

PLTD Kuta Fajar

PLTD Sewa

PLTB
MW
MW
MW
MW
MW

PLTBayu PT. GLA

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

9,1

0,9

1,0

1,9

23,8

10

9,0

1,2

0,0

4,5

12,8

1,9

14,7

54

13

60

2012

Catatan: Defisit dipasok dari SUTM 20 kV GI Sidikalang

PLTU

PLTU PT. GSS

IPP Ongoing & Committed

Tambahan Kapasitas

PLTD

PLTD Rimo

Pembangkit PLN

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

8,1

0,9

1,0

1,9

23,8

9,0

1,2

0,0

4,5

12,8

1,9

14,7

54

14

65

2013

2014

2017

2018

2019

Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV

2016

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2015

Neraca Daya Sistem Subulussalam


2020

2021

344

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 344

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

Load Faktor

PLTD
PLTD

SWD 8FG

Cummins

MW
MW
MW
MW

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

0,9

0,9

2,0

2,8

14,6

2,0

5,0

1,5

1,7

0,6

2,0

2,6

14,57

0,8

15,3

55,4

10,8

52,6

2012

0,2

0,9

2,0

2,8

14,6

2,0

5,0

1,5

1,7

0,6

2,0

2,6

14,57

0,8

15,3

55,4

11,6

56,3

2013

2014

2015

Catatan: Defisit disupplay dari SUTM 20 kV GI Brastagi/Sidikalang via Wilayah Sumatera

MW
MW

Suplai dari jaringan 20 kV

PLTD

Rental genset HSD

PLTD Sewa

Turbin WKC

PLTD

PLTD

SWD 6TM

PLTM Sepakat

PLTD

MTU

PLTD Kuning

Pembangkit PLN

Derating Capacity

Kapasitas Terpasang

MW

MW

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

2017

2018

2019

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV

2016

Neraca Daya Sistem Kutacane


2020

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

345

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 345

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

MW
%

Load Faktor

MW
MW
PLTD
PLTM

Pembangkit PLN

PLTD Rema

Rel. dari PLTD L. Bata

Rerebe (Beli Energi)

PLTM
MW
MW
MW
MW
MW

Putri Betung

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

IPP Ongoing Committed

Tambahan Kapasitas

Rental genset HSD

PLTD

MW

Derating Capacity

Sewa

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

1,1

0,8

1,0

1,8

7,0

0,3

2,0

0,2

1,4

3,6

6,7

0,5

7,2

43

16

2012

0,8

0,8

1,0

1,8

7,0

2,0

0,2

1,4

3,6

6,7

0,5

7,2

43

17

2013

0,6

0,8

1,0

1,8

7,0

2,0

0,2

1,4

3,6

6,7

0,5

7,2

43

18

2014

2015

2017

2018

2019

2020

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

Rencana tahun 2015 masuk Grid 150 kV

2016

Neraca Daya Sistem Blangkejeren


2021

346

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 346

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

MW
%

Load Faktor

Derating Capacity

PLTD
PLTMH
PLTD

PLTD Jagong Jeget

PLTMH Angkup

PLTD Sewa

MW
MW
MW
MW

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

0,0

1,4

2,8

4,2

23,1

1,5

7,5

6,0

0,6

0,4

0,3

9,1

2,4

24,0

36,5

18,9

60,4

2012

Catatan: Defisit disuplai dari SUTM 20 kV GI Juli, Bireuen

MW

Jumlah Kapasitas

Cadangan

KERPAP

IPP/Beli Energi

Tambahan Pembangkit
PLTMH

PLTD

PLTD Janarata

Suplai dari 20 kV GI Bireun

PLTD

PLTD Ayangan

Pembangkit PLN

MW
MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Beban Puncak

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

0,3

1,4

2,8

4,2

24,4

9,0

6,0

0,6

0,4

0,3

9,1

2,5

25,5

36,5

20

64

2013

2014

2015

2017

2018

2019

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV

2016

Neraca Daya Sistem Takengon


2020

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

347

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 347

04/02/2013 14:19:52

MW
%

Beban Puncak

Load Faktor

MW
MW

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

MTU

Caterpillar

Caterpillar

Wartsilla

MW
MW
MW

Surplus/Defisit

MW

Cadangan

Operasi

MW

Jumlah Kapasitas

Pemeliharaan

PLTU

Sinabang (Eks Tapaktuan)

PLN Ongoing & Committed

Tambahan Kapasitas

Rental genset HSD

PLTD

PLTD

MTU

PLTD Sewa

PLTD

MTU

PLTD Lasikin

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Unit

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

0,7

1,1

1,1

2,2

6,3

2,0

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

6,3

0,7

7,0

64

20

2012

0,4

1,1

1,1

2,2

6,3

2,0

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

6,3

0,7

7,0

64

21

2013

6,5

1,1

7,0

8,1

18,5

14

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

22

2014

6,3

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

23

2015

6,1

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

24

2016

5,9

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

25

2017

Neraca Daya Sistem Sinabang

5,7

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

27

2018

5,5

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

28

2019

5,3

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

29

2020

5,0

1,1

7,0

8,1

18,5

2,2

0,9

0,6

0,6

0,5

0,4

4,5

0,5

5,0

64

30

2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 348

04/02/2013 14:19:52

Lampiran A14.2
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED
PROVINSI SUMATERA UTARA

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 349

04/02/2013 14:19:52

350

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 350

04/02/2013 14:19:52

MW

Derating Kapasitas

MW
MW
MW

Surplus/Defisit (N-1)

MW

Cadangan

Operasi

MW

Jumlah Kapasitas

Pemeliharaan

PLTU
PLTU

Nias-2

MW

Nias (FTP2)

IPP Ongoing & Committed

Nias (PLTGasifikasi Biomass)

Nias

PLN Ongoing & Committed


PLTGB

PLTD

Teluk Dalam

Tambahan Kapasitas

MW
PLTD

Gunung Sitoli

PLTD Teluk Dalam

PLTD Sewa

MW
MW

PLTD Gunung Sitoli

Pembangkit PLN

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

%
MW

Beban Puncak

GWh

Unit

Load Faktor

Produksi Energi

Kebutuhan

Pasokan/Kebutuhan

5,1

1,1

1,5

2,6

24,0

3,0

5,0

8,0

3,4

12,2

7,6

23,6

16

43

61

2012

4,1

1,1

1,5

2,6

24,0

3,0

5,0

8,0

3,4

12,2

7,6

23,6

17

43

65

2013

4,1

1,5

7,0

8,5

31,0

14

3,4

12,2

7,6

15,6

18

43

69

2014

10,2

1,5

7,0

8,5

38,0

3,4

12,2

7,6

15,6

19

43

73

2015

9,1

1,5

7,0

8,5

38,0

3,4

12,2

7,6

15,6

20

43

77

2016

5,5

4,0

7,0

11,0

38,0

3,4

12,2

7,6

15,6

22

43

82

2017

4,2

4,0

7,0

11,0

38,0

3,4

12,2

7,6

15,6

23

44

87

2018

3,0

4,0

7,0

11,0

38,0

3,4

12,2

7,6

15,6

24

44

92

2019

Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara


Neraca Daya Sistem Nias

5,6

7,0

10,0

17,0

48,0

10

3,4

12,2

7,6

15,6

25

44

98

2020

4,1

7,0

10,0

17,0

48,0

3,4

12,2

7,6

15,6

27

44

104

2021

Lampiran A14.3
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED
PROVINSI RIAU

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 351

04/02/2013 14:19:52

352

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 352

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

MW

Beban Puncak

MW

Derating Capacity

PLTD
PLTD

Deutz F10 L

MTU M.D

PLTD

Sewa MFO

PLTD
MW
MW
MW
MW
MW

MTU (Pemda)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

IPP Ongoing & Committed

Tambahan Kapasitas

PLTU

Sewa Pemda

Sewa

PLTD

Deutz

Pembangkit PLN

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

GWh

Unit

Load Faktor

Produksi Energi

Kebutuhan

1,9

0,3

0,8

1,0

10,8

0,6

3,0

6,0

0,6

0,2

0,3

0,0

1,2

69

47

2012

1,0

0,3

0,8

1,0

10,8

3,0

6,0

0,6

0,2

0,3

0,0

1,2

69

53

2013

0,1

0,3

0,8

1,0

10,8

3,0

6,0

0,6

2,0

1,0

0,0

1,2

10

69

60

2014

11

69

67

2015

14

69

84

2017

15

69

94

2018

17

62

102

2019

Disupplai dari grid 150 kV SIS, Tahun 2014

12

69

75

2016

Neraca Daya Sistem Siak

19

62

110

2020

20

62

117

2021

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

353

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 353

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

MW

Derating Capacity

PLTD

Deutz

PLTMG
PLTMG
PLTU
MW
MW
MW
MW
MW

Rawa Minyak (Kabel Laut)

Al Selat

Selat Panjang Baru #1,2

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Sewa

Selat Panjang

PLN Ongoing & Committed


PLTGB

PLTD

Sewa Mesin (HSD)

Tambahan Kapasitas

PLTD

Sewa Genset MFO

Sewa Pembangkit

PLTD

BWSC

Pembangkit PLN

MW

Kapasitas Terpasang

Pasokan

%
MW

Beban Puncak

GWh

Unit

Load Faktor

Produksi Energi

Kebutuhan

1,5

1,2

6,0

7,2

16,3

2,4

2,0

0,1

4,4

7,6

66,6

53,5

2012

0,5

1,2

6,0

7,2

16,3

2,4

2,0

0,1

4,4

8,5

66,8

60,4

2013

11,5

1,2

7,0

8,2

29,3

2,4

2,0

0,1

4,4

9,6

66,9

66,1

2014

10,4

1,2

7,0

8,2

29,3

2,4

2,0

0,1

4,4

10,7

67,1

71,9

2015

14,1

1,2

7,0

8,2

34,3

2,4

2,0

0,1

4,4

12,0

67,2

78,1

2016

12,6

1,2

7,0

8,2

34,3

2,4

2,0

0,1

4,4

13,4

67,4

84,3

2017

Neraca Daya Sistem Selat Panjang

14,0

1,2

7,0

8,2

37,3

2,4

2,0

0,1

4,4

15,1

67,5

90,9

2018

12,2

1,2

7,0

8,2

37,3

2,4

2,0

0,1

4,4

16,9

67,7

98,3

2019

10,2

1,2

7,0

8,2

37,3

2,4

2,0

0,1

4,4

18,9

67,8

107,3

2020

7,9

1,2

7,0

8,2

37,3

2,4

2,0

0,1

4,4

21,2

67,8

117,2

2021

354

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021

LO-RUPTL Lamp A2-B2.1.indd 354

04/02/2013 14:19:52

Pasokan/Kebutuhan

MW

Beban Puncak

Derating Capacity

PLTD