Anda di halaman 1dari 4

Ulama Nusantara Dalam Wacana Dunia Keilmuwan Islam Abad 17- 19 M, Dan Biografi Syeikh

Ali bin Abdul Qadir, Kudus


Penulis Pesantren Pedia pada Februari 24, 2015
Semenjak abad 17 M, Nusantara bisa dibilang banyak melahirkan putra-putra terbaiknya dalam
bidang keilmuan islam. Beberapa diantaranya bahkan masyhur di dunia islam secara umum dan
menjadi tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam literatur keilmuan. Sebut saja semisal
Syeikh Abdur Rauf Singkili, Syeikh Nawawi bin Umar Banten, Syeikh Ahmad Khatib
Minangkabau, Syeikh Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Mannan Termas-Pacitan, dan masih
banyak lagi.
Para Ulama-Ulama tsb adalah orang yang membuka jendela keilmuan di Nusantara. Bisa
dikatakan, mereka ibarat jembatan awal yang menghubungkan mata rantai keilmuan (sanad)
antara Ulama Jawa dengan Ulama islam secara umum. Dari mereka pula transmisi madzhab dan
kitab-kitab islam ke Nusantara dimulai. Hal ini bisa kita baca dari biografi mereka yang bisa kita
baca dalam buku-buku sejarah dan buku tsabat mereka. (Tsabat : kumpulan Guru dan sanad
Ulama).
Sepanjang catatan sejarah, Hampir tak diketemukan fenomena keilmuan yang mencolok di
Nusantara sebelum abad-abad tersebut. Kalau-pun ada, mungkin gaungnya tak sekeras pada
masa berikutnya. Ambil contoh seperti dalam kerajaan Samudera Pasai. Ibnu Bathuthah, seorang
penglana muslim menulis dalam buju rihlah-nya : bahwa di era kerajaan Samudera Pasai, sudah
banyak Ulama Syafiiyah yang dikirim ke kerajaan.dan juga terdapat banyak tempat-tempat
kajian madzhab Syafii. Namun sekali lagi, mata rantai seperti yang kami maksudkan itu belum
terlihat coraknya.
Baru di abad ke 17, Transmisi keilmuan antar bangsa itu mulai terjalin secara lebih jelas.
Jaringan keilmuan dan genealogi sanad pun mulai terbentuk secara rapi. Hal ini bisa dibuktikan
dengan hadirnya Syeikh Nurud Din ar-Raniri (w. 1068 H / 1658 M), Hamzah Fanshuri, dan
Abdur Rauf Singkili (w. 1105 / 1693 M).
Di era sesudahnya, estafet keilmuan mereka berdua diteruskan oleh Syeikh Yusuf al-Makassari.
Murid dari Nurud Din ar-Raniri ini juga tecatat mempunya genealogi keilmuan dengan Ulama
islam di Dunia islam. Tercatat bahwa ia pernah belajar dengan Ali bin Muhammad as-Syaibani
az-Zabidi (w 1072 / 1661 M). Seorang ahli hadits kenamaan dari daratan Yaman. Ia juga pernah
belajar dengan Ibrahim al-Kurani, bahkan dipercaya untuk menyalin naskah Al-Durrat alFakhirah dan Risalah fi al-Wujud karya Nur al-Din al-Jami (w. 898 / 1492 M). Perlu
digarisbawahi, bahwa Ibrahim al-Kuani ini merupakan salah satu murid dari Nur al-Din Ali asSyibramilsi (w. 1082 M), salah satu tokoh kenamaan madzhab Syafii yang menulis Hasyiyah
dari Nihayah al-Muhtaj karya imam Muhammad Ramli (w. 1004 H).
Singkatnya, sebagaimana ditulis Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama Nusantara
abad 17, bahwa Abdur Rauf as-Sinkili, Nurud Din ar-Raniri dan Yusuf al-Makassari (w. 1111 H /
1699 M) merupakan tokoh terpenting dalam sanad keilmuan di Nusantara pada abad 17.

Kemudian di abad 18 M, jaringan keulamaan Nusantara dengan dunia islam itu terjalin semakin
erat. Tercatat ada ratusan Ulama-Ulama Nusantara yang berbondong-bondong belajar ke
Makkah-Madinah. Bahkan tak jarang, mereka juga menduduki staf pengajar dan imam di
Masjidil Haram. Serta menjadi tokoh kenamaan dalam lingkaran keilmuan di abad tsb. Semisal
Syeikh Arsyad Banjar (w. 1227 / 1812), Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani (w. 1203 H / 1789
M) , Abdul Wahhab al-Bughisi. Ketiganya adalah murid dari Syeikh Muhammad bin Sulaiman
al-Kurdi, mufti syafiiyah ternama di Madinah, serta penulis beberapa kitab penting seperti
Fawaid al-Madaniyah, Hasyiyah al-Madaniyah atas Mukhtashar Bafadhal dan banyak lagi.
Kemudian disusul dengan era Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 / 1916 M),
Syeikh Nawawi bin Umar al-Jawi (w. 1316 H / 1898 M, dan masih banyak lagi.
BIOGRAFI SYEIKH ALI KUDUS JAWA TENGAH (W. 1293 H / 1874 M).
Dari ratusan Ulama Nusantara yang masyhur di dunia islam di abad 18 M, setidak-nya terdapat 3
(tiga) tokoh Ulama yang berdarah Kudus. Ketiganya adalah satu silsilah keturunan. Yakni Syeikh
Ali bin Abdul Qadir Khatib bin Abdullah Qudus (w. 1293 H / 1874 M), kemudian puteranya,
Abdul Hamid bin Ali Qudus, dan cucunya yang bernama Ali bin Abdul Hamid bin Ali Qudus.
Keduanya merupakan Ulama masyhur yang banyak mendidik Ulama-Ulama kondang. Mereka
juga menyandang gelar sebagai pengajar di Masjidil Haram. Salah satu prestasi prestisius saat itu
yang tidak bisa disandang sembarangan orang.
Dalam tulisan di bawah ini, penulis akan mengupas biografi singkat tentang Syeikh Ali Qudus
terlebih dulu. Mengingat beliau-lah tokoh utama yang berasal dari Kudus dalam percaturan
Ulama Hijaz. Serta karena lahir dan masa kecilnya adalah Kudus itu sendiri.
Nama lengkap beliau adalah Ali bin Abdul Qadir bin Abdullah Qudus. Tak diketahui kapan ia
lahir, Hanya saja ia lahir di daerah Kudus-Jawa tengah. Nenek moyangnya sebenarnya berasal
dari Yaman, kemudian mereka hijrah ke Indonesia dan banyak mempunyai keturunan di sini.
Saat beranjak dewasa, Syeikh Ali Qudus melakukan rihlah ilmiah ke kota Makkah. Ia belajar dari
para Ulama-Ulama kondang saat itu. Diantaranya kepada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (w.
1304 / 1886 H), Syeikh Ahmad Nahrawi (w. 1291 H / 1872 M), Syeikh Yusuf as-Sunbulawini (w.
1285 H / 1866 M), dll.
Dari beberapa guru yang ia serap ilmunya, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan-lah yang paling lama ia
pelajari. Darinya ia belajar berbagai macam ilmu, dan akhirnya memperoleh seluruh sanad
keilmuan yang dimilikinya.
Puncak kelimuan Syeikh Ali Qudus terjadi saat ia mendapat restu dari syeikh Ahmad Zaini
Dahlan untuk mengajar di Masjidil Haram. Prestasi ini, menurut Abdul Wahab Abu Sulaiman
adalah merupakan gelar ilmiah yang prestisius. Karena menjadi staf pengajar di Masjidil Haram
memudahkan seseorang untuk menjadi Qadhi (Hakim), Mufti, Khatib, imam Masjidil Haram dan
Guru besar Islam.
Sesudah menjadi staf pengajar ini, Syeikh Ali Qudus mulai sibuk mengajar diri di Masjidil
Haram. Banyak orang-orang jawa yang datang ke halaqah-nya dan menjadi muridnya. Berbagai
kitab-kitab Ulama satu persatu dibaca. Puteranya, Abdul Hamid Qudus sempat mengatakan
bahwa ayah-nya pernah mengajar kitab Syarh Taqrib karangan Qadhi Abu Syuja, dan Syarh al-

Ajurumiyah satu tahun sebelum wafatnya.


Syeikh Ali Qudus terhitung sukses dalam mendidik murid-muridnya. Banyak para Ulama yang
lahir dari hasil didikannya tsb. Diantaranya adalah putranya sendiri, Syeikh Abdul Hamid bin Ali
Qudus. Sebagaimana ayahnya, Syeikh Abdul Hamid Qudus juga menjadi pengajar di Masjidil
Haram. Bahkan ia sempat ditunjuk Syarif Ali Pasya untuk menjadi imam madzhab Syafii di
Masjidil Haram.
Syeikh Abdul Hamid Qudus juga sangat produktif dalam menulis. Tak kurang ia menghasilkan
21 karya ilmiah dalam berbagai disiplim ilmu. Menurut Abdul Wahab Abu Sulaiman, Karya
Syeikh Abdul Hamid Qudus ini merupakan salah karya-karyanya paling ditunggu oleh para
penerbit kitab saat itu.
Syeikh Ali bin Abdul Qadir Qudus wafat di Makkah pada tahun 1293 H / 1875 M. Dan
meninggalkan 3 orang putera. Syeikh Ali Qudus dmakamkan di pemakaman Mala.
Gelar Qudus dalam nama Ali Qudus dan Abdul Hamid Qudus.
Banyak pihak yang meragukan bahwa nama Qudus dalam gelar Syeikh Ali Qudus dan Abdul
Hamid Qudus merujuk kepada kota kudus Jawa tengah. Sebagian pihak mengatakan bahwa
Qudus di situ yang dimaksud adalah Qudus-Palestina. Sementara pihak lain mengatakan, Qudus
di situ berasal dari Yaman.
Hal ini janggal. Sebab Abdullah Mirdad Abu al-Khair (w. 1343 H) yang notabene semasa dengan
Syeikh Abdul Hamid Qudus menulis dalam Mukhtashar Nasyr an-Nur wa az-Zuhr (cetakan 1986
M) bahwa gelar Qudus menunjuk kepada kota Kudus di Jawa yang merupakan tempat lahir
Syeikh Ali Qudus. Demikian pula yang dikatakan Abdullah bin Abdur Rahman al-Muallimi
dalam Alam al-Makkiyin.
Lebih jelas lagi, Abu Bakar Badzaib dalam tahqiq-nya terhadap buku Dzakhair al-Qudsiyah,
mengutip keterangan langsung dari Ali bin Abdul Hamid bin Ali Qudus (cucu Syeikh Ali
Qudus), bahwa Qudus yang dimaksud adalah daerah yang dekat dengan Semarang.
Hemat penulis, faktor yang menyebabkan sebagian pihak mengatakan bahwa Qudus di sini
merujuk kepada Qudus di Palestina, adalah karena adanya keserupaan dengan istilah Quds yang
biasa merujuk kepada Palestina.
Sedangkan dugaan kedua, bahwa Kudus yang dimaksud adalah berasal dari Yaman, memang
sedikit bisa dibenarkan. Hal ini karena memang Nenek moyang Syeikh Ali Qudus berasal dari
Yaman. Namun perlu digaris bawahi, bahwa mereka itu sempat hijrah ke Indonesia, dan
melahirkan keturunan-keturunan di sini. Diantaranya adalah Syeikh Ali Qudus yang lahir di
Kudus-Jawa tengah.
Rereferensi :
Jaringan Ulama Nusantara abad 17, karya Azyumardi Azra.
Mukhtashar Nasyr an-Nur wa al-Zuhr Hal 369, Abdullah Mirdad Abu al-Khair (w. 1343 H)
Alam al-Makkiyin hal 758, karya Abdullah bin Abdur Rahman al-Mualimi.
Tahqiq Dzakhair al-Qudsiyah, hal 11 23, Muhammad Abu Bakar Badzaib

*Mumahamad Machin, Kudus