Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penulisan

1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah

Akuntansi Syariah yang terkait dengan Akuntansi Musyarakah. Ada pun tujuan
pembelajarannya untuk memahami akuntansi syariah di Indonesia, khususnya
mengenai musyarakah.
1.3.

Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini sebagai berikut.

BAB I
1.1.
1.2.
1.3.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Penulisan
Sistematika Penulisan

BAB II
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.

PEMBAHASAN
Karakteristik
Pengakuan dan Pengukuran Musyarakah
Akuntansi untuk Mitra Aktif
Akuntansi untuk Mitra Pasif
Penyajian
Soal-Soal

BAB
III
3.1.
3.2.

PENUTUP
Kesimpulan
Saran

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Karakteristik
Musyarakah sebenarnya hampir sama dengan mudharabah. Musyarakah

merupakan akad kerjasama diantara para pemilik modal yang mencampurkan


Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah2

modal mereka untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam musyarakah mitra dan
pemilik dana, missal bank, sama-sama menyediakan modal untuk membiayai
suatu usaha tertentu, baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya,
mitra dapat mengembalikan modal tersebut berikut bagi hasil yang telah
disepakati secara bertahap atau sekaligus kepada bank. Pembiayaan musyarakah
dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aset nonkas, termasuk aktiva
tidak berwujud seperti lisensi dan hak paten. Musyarakah dapat bersifat
musyarakah permanen maupun menurun. Dalam musyarakah permanen, bagian
modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa
akad, sedangkan dalam musyarakah menurun, bagian modal pemilik dana/bank
akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik usaha
tersebut.
Laba musyarakah dibagi diantara para mitra, baik secara proporsional
sesuai dengan modal yang disetorkan (baik berupa kas maupun aktiva lainnya)
atau sesuai dengan nasabah yang disepakati oleh semua mitra. Sedangkan rugi
dibebankan secara proporsional sesuai dengan modal yang disetorkan baik berupa
kas maupun aktiva lainnya. Karena setiap mitra tidak dapat menjamin dana mitra
lainnya, maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan
jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang
menunjukkan adanya kesalahan yang disengaja adalah:
a. Pelanggaran terhadap akad, antara lain, penyalahgunaan dana investasi,
manipulasi biaya dan pendapatan operasional; atau
b. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Jika tidak terdapat kesepakatan antara pihak yang bersengketa maka
kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan keputusan institusi yang
berwenang (seperti lembaga pengadilan atau lembaga arbitrase syariah).
Disamping itu, jika salah satu mitra memberikan kontribusi atau nilai lebih
dari mitra lainnya dalam akad musyarakah maka mitra tersebut dapat memperoleh
keuntungan lebih besar untuk dirinya. Bentuk keuntungan lebih tersebut dapat

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah3

berupa pemberian porsi keuntungan yang lebih besar dari porsi dananya atau
bentuk tambahan keuntungan lainnya.
Kaitannya dengan bagi hasil, porsi jumlah bagi hasil untuk para mitra
ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil usaha yang diperoleh
selama periode akad, bukan dari jumlah investasi yang disalurkan. Untuk
mengetahui hasil yang akan dibagihasilkan antar mitra, pengelola musyarakah
harus mengadministrasikan transaksi usaha yang terkait dengan investasi
musyarakah yang dikelola dalam catatan akuntansi tersendiri (Paragraf 5-12
PSAK 106, 2007).
2.2.

Pengakuan dan Pengukuran Musyarakah


Pengakuan dan pengukuran musyarakah telah diatur oleh PSAK 106

(2007) sebagai penyempurnaan PSAK 59 (2002). Berikut ini penjelasan


selengkapnya.
Untuk pertanggungjawaban pengelolaan usaha musyarakah dan sebagai dasar
penentuan bagi hasil, maka mitra aktif atau pihak yang mengelola usaha
musyarakah harus membuat catatan akuntansi yang terpisah untuk usaha
musyarakah tersebut. (paragraf 13 PSAK 106, 2007).
Untuk memperjelas ketentuan ini, sebagai contohnya sebagai berikut.
PT ABC memiliki usaha toko sembako sudah berjalan selama 5 tahun.
Kemudian PT ABC akan membuka usaha baru yaitu jasa air isi ulang. Untuk
pendirian unit usaha baru perusahaan ini meminta pembiayaan ke bank syariah
dengan akad musyarakah.
Modal pendirian usaha air isi ulang misalnya senilai Rp 100.000.000,-,
perusahaan ini menyertakan modal Rp 30.000.000,- dan modal dari bank syariah
Rp 70.000.000,- (porsi modal 30:70).
Kesepakatan

pembagian

hasil

usaha

berdasarkan

nisbah

misalnya,

mitra:bank=40:60 dan bila rugi pembagian rugi berdasarkan porsi modal masingmasing, yaitu 30:70.
Catatan akuntansi yang harus dibuat oleh PT ABC tersebut adalah hanya yang
berasal dari usaha air isi ulang saja, tidak termasuk hasil dari usaha sembako
Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah4

tersebut. Dengan demikian, laporan laba rugi yang akan digunakan dasar bagi
hasil adalah laba rugi dari usaha air isi ulang saja, tidak termasuk dari laba rugi
usaha sembako.
Untuk lebih rinci akan dijelaskan di topik selanjutnya dimana terdapat :
1) Akuntansi untuk Mitra Aktif (pihak yang mengelola usaha musyarakah).
2) Akuntansi untuk Mitra Pasif (misalnya bank syariah).
Bagaimana cara pengakuan dan pengukurannya pada saat akad, selama akad,
akhir akad, dan pengakuan hasil usaha.
2.3.

Akuntansi untuk Mitra Aktif

1. Pada saat akad


Akuntansi musyarakah untuk mitra aktif pada saat akad telah diatur dalam
PSAK 106 (2007). Berikut penjelasan selengkapnya dan bagaimana mitra
aktif mencatat dalam pembukuanya.
1) Investasi musyarakah diakui pada saat penyerahan kas atau aset nonkas
untuk usaha musyarakah.
2) Pengukuran investasi musyarakah:
a) dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang diserahkan; dan
b) dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terdapat
selisih antara nilai wajar dan nilai buku aset nonkas, maka selisih
tersebut diakui sebagai selisih penilaian aset musyarakah dalam ekuitas.
Selisih penilaian aset musyarakah tersebut diamortisasi selama masa
akad musyarakah.
3) Aset nonkas musyarakah yang telah dinilai sebesar nilai wajar disusutkan
dengan jumlah penyusutan yang mencerminkan:
a) penyusutan yang dihitung dengan model biaya historis; ditambah
dengan
b) penyusutan atas kenaikan nilai aset karena penilaian kembali saat
penyerahan aset nonkas untuk usaha musyarakah.

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah5

4) Jika proses penilaian pada nilai wajar menghasilkan penurunan nilai aset,
maka penurunan nilai ini langsung diakui sebagai kerugian. Aset nonkas
musyarakah yang telah dinilai sebesar nilai wajar disusutkan berdasarkan
nilai wajar yang baru.
5) Biaya yang terjadi akibat akad musyarakah (misalnya, biaya studi
kelayakan) tidak dapat diakui sebagai bagian investasi musyarakah kecuali
ada persetujuan dari seluruh mitra musyarakah.
6) Penerimaan dana musyarakah dari mitra pasif (misalnya, bank syariah)
diakui sebagai investasi musyarakah dan di sisi lain sebagai dana syirkah
temporer sebesar:
a) dana dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang diterima; dan
b) dana dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar dan disusutkan
selama masa akad atau selama umur ekonomis jika aset tersebut tidak
akan dikembalikan kepada mitra pasif.
Contoh :
1 Maret 2011, bank syariah menandatangai akad musyarakah dengan PT maju
untuk

mencampurkan

modalnya

dalam

usaha

garmen.

Banks

syariah

menyerahkan kas Rp 200.000.000.00 dan mesin produksisebanyak 10 unit. Nilai


buku mesin Rp. 9.000.000,00 per unit, sedangkan menurut penilaian yang wajar
mesin tersebut duinilai sebesar Rp. 10.000.000,00.- PT. maju menyerahkan
keahlian dan dana kas Rp. 200.000.000,00. Pembagaian hasil didasarkan pada
perbandingan/nisbah bank dan PT Maju = 40:60 atas dasar laba kotor sedangkan
untuk keruian berdasarkan setoran modal. Mitra Aktif PT maju akan mengakui
dan mengukur investasi musyarakah sebagai berikut.
Jurnal untuk Mitra Aktif :
1 Maret 2009

Investasi musyarakah Kas


Investasi musyarakah asset nonkas
Dana syirkah Temporer
Kas

Rp. 400.000.000
100.000.000
Rp. 300.000.000
200.000.000

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah6

2. Selama Akad
a. Bagian mitra aktif atas investasi musyarakah dengan pengembalian dana
mitra pasif di akhir akad dinilai sebesar:
a) jumlah kas yang diserahkan untuk usaha musyarakah pada awal akad
dikurangi dengan kerugian (jika ada); atau
b) nilai wajar aset musyarakah nonkas pada saat penyerahan untuk usaha
musyarakah setelah dikurangi penyusutan dan kerugian (jika ada).
b. Bagian

mitra

aktif

atas

investasi

musyarakah

menurun

(dengan

pengembalian dana mitra pasif secara bertahap) dinilai sebesar jumlah kas
atau nilai wajar asset nonkas yang diserahkan untuk usaha musyarakah pada
awal akad ditambah dengan jumlah dana syirkah temporer yang telah
dikembalikan kepada mitra pasif, dan dikurangi kerugian (jika ada).
3. Akhir Akad
Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang belum dikembalikan kepada
mitra pasif diakui sebagai kewajiban.
Jurnal yang dibuat:
Debit : Dana syirkah temporer
Kredit :

Rp. xx-

Utang kepada mitra pasif (bank syariah)

Rp. xx

4. Pengakuan Hasil Usaha


Pengakuan Hasil Usaha Musyarakah baik yang menguntungkan maupun yang
merugikan telah diatur PSAK 106 (2007) sebagai berikut :
a. Pendapatan usaha musyarakah yang menjadi hak mitra aktif diakui
sebesar haknya sesuai dengan kesepakatan atas pendapatan usaha
musyarakah. Sedangkan pendapatan usaha untuk mitra pasif diakui
sebagai hak pihak mitra pasif atas bagi hasil dan kewajiban.
b. Kerugian investasi musyarakah diakui sesuai dengan porsi dana masingmasing mitra dan mengurangi nilai aset musyarakah.

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah7

c. Jika kerugian akibat kelalaian atau kesalahan mitra aktif atau pengelola
usaha, maka kerugian tersebut ditanggung oleh mitra aktif atau pengelola
usaha musyarakah.
d.

Pengakuan pendapatan usaha musyarakah dalam praktik dapat diketahui


berdasarkan laporan bagi hasil atas realisasi pendapatan usaha dari catatan
akuntansi mitra aktif atau pengelola usaha yang dilakukan secara terpisah.

Berikut ini diberikan ilustrasi bagi hasil usaha.


Di bawah ini laporan laba rugi mitra aktif PT MAJU pada tahun 2011
Penjuaan

Rp. 500 juta

Harga pokok penjualan

Rp. 200 juta

Laba kotor

Rp. 300 juta

Biaya operasi

Rp. 150 juta

Laba operasi

Rp. 150 juta

Laba dibagi berasarkan nisbah bank PT maju + 40 : 60 atas dasar laba kotor.
Perhitungan bagi hasil :
Bank syariah : 40 % x Rp 300 juta

= Rp 120 juta

PT MAJU: 60 % x Rp. 300 juta

= Rp 180 juta

Misalnya Rugi Rp. 20 juta,- maka rugi dibagi berdasarkan setoran modal, missal
60 : 40, maka pembagian rugi adalah :
Bank Syariah 60 % X Rp. 20 juta

= Rp. 12 juta

PT MAJU: 40 % X Rp.20 juta

= Rp. 8 juta

Jurnal yang harus dibuat oleh mitra aktif PT MAJU :


BILA LABA :
Debit : Bagi Hasil Musyarakah

Rp 120 juta

Kredit : Utang bagi hasil Musyarakah


Debit : Dana Syariah dan temporer
Kredit : Transaksi musyarakah

Rp. 120 juta


Rp. 8 juta
Rp. 8 juta

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah8

BILA RUGI :
Untuk Bank Syariah :
Debit : Kerugian musyarakah

Rp 12 juta

Kredit : Investasi musyarakah

Rp. 12 juta

2.4.

Akuntansi untuk Mitra Pasif

2.5.

Penyajian
Pada akhir periode, investasi musyarakah disajikan dalam laporan

keuangan sesuai yang diatur oleh PSAK 106 (2007) sebagai berikut :
1.

Mitra aktif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha
musyarakah dalam laporan keuangan:
(a) kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan yang diterima
dari mitra pasifdisajikan sebagai investasi musyarakah;
(b) aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai unsur
dana syirkah temporer untuk;
(c) selisih penilaian aset musyarakah, bila ada, disajikan dalam unsur
ekuitas.

Berikut format Investasi musyarakah di neraca pengelola Aktif per 31


Desember 20XX:
PT MAJU
NERACA
PER 31 DESEMBER 20XX
--Investasi Musyarakah-kas

Dana sirkah temporer


Rp xxxxx,-

Investasi Musyarakah-aset

Ekuitas:
Modal disetor

Rp xxxxx,Rp xxxxx,-

Nonkas

Rp xxxxx,-

Saldo laba

Akumulasi penyusutan

(Rp xxxxx )

Selisih Penilaian Aset

Nilai Buku

Rp

Rp xxxxx,-

nonkas Musyarakah

Rp xxxxx,-

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah9

xxxxx,2.

Mitra pasif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha
musyarakah dalam laporan keuangan:
(a) Kas atau aset nonkas yang diserahkan kepada mitra aktif disajikan
sebagai investasi musyarakah;
(b)

Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian aset nonkas yang


diserahkan pada nilai wajar disajikan sebagai pos lawan (contra
account) dari investasi musyarakah.

Berikut format Investasi musyarakah di neraca pengelola Pasif per 31


Desember 20XX:
BANK SYARIAH ABC
NERACA
PER 31 DESEMBER 20XX
--Investasi Musyarakah-kas

Rp xxxxx,-

Investasi Musyarakah-aset
Nonkas

Rp xxxxx,-

Keuntungan Tangguhan

(Rp xxxxx )

Akumulasi Penyusutan

(Rp xxxxx )

Nilai Buku

Rp xxxxx,-

2.6.

Soal-Soal

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah


10

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan

3.2.

Saran
Untuk mempelajari dan memahami akuntansi syariah, khususnya

akuntansi musyarakah, kita harus mengetahui karakteristik, perkembangan atas


standar yang digunakan dan kesesuaian dengan ketentuan yang berlaku.

Tugas Makalah Akuntansi Syariah Kelompok 5 Akuntansi Musyarakah


11