Anda di halaman 1dari 3

Cara Instan Membentuk Sekolah Favorit

OPINI | 02 July 2012 | 02:59

Dibaca: 1503

Komentar: 5

Hebat !, sebuah sekolah yang baru dua angkatan meluluskan siswanya sudah diminati para orang
tua untuk menyekolahkan putra-putrinya. Bagaimana tidak menarik ?, sekolah tersebut dalam
peringkat perolehan nilai UN masuk dalam sepuluh besar. Dalam beberapa even lomba
olimpiade mata pelajaran, beberapa siswanya sering memperoleh juara. Bahkan beberapa lulusan
sekolah tersebut diterima di PTN yang ternama. Dari ketiga hal tersebut tentunya cukup
membuat para orang tua melihat sekolah tersebut sebagai sekolah favorit, sekolah yang layak
untuk putra-putrinya, meskipun sekolah tersebut mematok biaya yang relatif tidak murah.
Tidak mudah menjadi sekolah favorit. Beberapa sekolah yang menyandang gelar favorit
membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menyandang gelar tersebut. Butuh proses dan budaya
prestasi yang dibangun secara kontinyu dan konsisten. Lalu bagaimana sekolah yang relatif baru
berdiri dapat dengan cepat menyandang gelar favorit ?.
Inilah rahasia sebuah sekolah yang baru berdiri dapat dengan cepat menjadi sekolah favorit.
Pertama, jaring calon siswa berprestasi Palimng tidak dua puluh persen dari jumlah siswa dalam
satu kelas.Agar siswa berprestasi tertarik masuk sekolah tersebut, maka perlu disediakan
beasiswa selama bersekolah tentu saja dengan perjanjian jika mengundurkan diri, mereka harus
mengembalikan beasiswa tersebut.
Kedua, siswa-siswa unggul harus diperlakukan secara istimewa, di samping beasiswa perlu
disediakan pembimbing khusus terutama saat mengikuti lomba. Bahkan kalau perlu mengundang
dosen yang sudah berpengalaman dalam membimbing lomba. Ingat, siswa unggul inilah adalah
aset yang dapat mendongkrak popularitas sekolah.
Bagaiman dengan siswa yang bukan unggul?. Siswa yang bukan siswa unggul diperlakukan
tidak terlalu istimewa. Tetapi mereka dikenai biaya cukup tinggi. Mengapa?, karena siswa non
unggulan mensubsidi biaya pendidikan siswa unggulan.
Ketiga, pada saat menjelang ujian kelas tingkat akhir diberikan jam khusus untuk mapel UN.
Bahkan kalau perlu pada akhir semester hanya mapel pelajaran mapel UN saja yang diajarakan.
Tentu saja dengan metode belajar drill. Untuk siswa non unggulan kalau perlu mengundang
tentor-tentor unggulan dari bimbingan belajar ternama. Untuk ini siswa non unggulan juga harus
membayar biaya ekstra. Ingat hasil UN adalah prestis sekolah.
Dan sudah dapat diperkirakan siswa-siswa unggul akan menjadi duta promosi bagi sekolah
tersbut. Lewat berbagai lomba yang dimenangi dan hasil UN yang dia atas rata membuat sekolah
menjadi terkenal sebagai gudangnya siswa berprestasi. Dampak langungnya adalah pada tahun

ajaran baru banyak orang tua yang mendaftrakan putranya ke sekolah tersebut tentu saja dengan
biaya yang tidak murah. Dan para orang tuapun memaklumi, memang tidak murah untk
membentuk siswa berpretasi.
Di era diamana pendidikan sudah terkapitalisasi sekolah tidak lagi berfungsi secara sosial tetapi
juga sebagai lahan bisnis.Para pemodal yang menanamkan modalnya di dunia pendidikan tentu
ingin segera memperoleh laba. Untuk itu sudah menjadi hal yang jamak jika cara-cara di atas
ditempuh oleh pengelola sekolah. Keinginanan untuk cepat kembali modal dan segera mendapat
untung menjadikan sekolah tak lagi merupakan wadah pembentukan karakter peserta didik.
Sekolah dipandang sebagai lahan bisnis pemodal.Ingat bisnis di bidang pendidikan adalah bisnis
yany tak ada matinya.
Tidak sedikit orang tua yang kecewa karena terlalu berharap anaknya menjadisuperboy ketika
menempuh pendidikan sekolah model di atas. Mereka yang menjadi superboy sebenarnya bukan
karena proses,kurikulum atau tenaga pendidik yang ada tetapi memang sejak awal direkrut
mereka adalah bibit unggul. Jadi yang bukan bibit unggul, ya prestasinya tetap standar saja.
Ada cerita seorang kenalan sangat kecewa terhadap suatu sekolah dengan label internasional
yang katanya cabang dari sekolah luar negeri. Dengan promosi yang cukup menarik, sperti
pembinaan 24 jam, tenaga pendidik yang profesional, pembelajran tiga bahasa dan jaminan
menjadi lulusan yang berperstasi membuat kenalan tersebut rela merogih koceknya lebih dalam.
Bayangan putranya menjadi siswa yang berebeda dengan sekolah reguler ada dalam benak sang
kenalan.
Namun setelah satu tahun ajaran, kenalan saya mencium ketidak beresan. Saat putranya pulang
dan ditanyakan materi ajar di ekolah tersebut ia kaget. Ternyata prestasi belajar putranya tidak
lebih bagus dari prestasi saudaranya yang bersekolah dengan standar nasional. Setelah
ditanyakan kepada sang putra, ternyata janji yang ada dalam brosur tidak sesuai dengan
kenyataan.Banyak tenaga pengajar yang baru lulus dan mengajar tidak sesuai dengan
bidangnya.Akibatnya teknik dan cara mengajarnya membuat siswa tidak mudah memahami
materi ajar. Belum lagi masalah terlalu longgarnya kedisiplinan. Mungkin karena talut banyak
siswa ynag tidak betah tingkat kedisiplinan dibuat longgar. Memang sekolah tersebut terkenal
sebagai sekolah yang beberapa siswanya sering memenangi lomba olimpiade berbagai pelajaran
sekolah.Adapun siswa yang berprestasi memang siswa yang di ambil juara olimpiade pelajaran
sekolah yang diselenggarakan oleh sekolah tersebut untuk menjaring siswa yang unggul, tentu
saja dengan iming-iming biaya sekolah gratis. Siswa yang unggul tersebut dijadikan satu kelas
dengan istilah kelas olompiade. Tentu saja pembinaan kelas tersebut lebih istimewa dibanding
siswa non unggulan.

Tampaknya selama pendidikan di Indonesai mengedeepankan hasil dan bukan proses maka caracara instan dalam membentuk sekolah favorit seperti di atas akan terus berlangsung. Bahkan saat
ini sekolah-sekolah negeripun juga memakai cara di atas guna mendongkarak popularitas
sekolah. Utuk itu sebagai orang tua yang akan memasukkan anaknya di sebuah sekolah
hendaknya jeli dalam memilih skeolah. Gali informasi tentang proses pembelajaran sekolah yang
akan dipilih. Apakah pembentukan karakter positif menjadi skala prioritas sekolah atau hanya
mengedepankan prestasi akedemik semata.