Anda di halaman 1dari 22

TINJAUAN PELAKSANAAN PBM PENJASKES DI SEKOLAH DASAR NEGERI

KECAMATAN KOTO SALAK KABUPTEN DHAMASRAYA SESUAI KURIKULUM


KKN
SKRIPSI
Diajukan kepada Tim Penguji Skripsi Jurusan Penjaskesrek
sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh
DIDIK ROBY CAHYADI
2008/00735

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PENJASKESREK


JURUSAN PENJASKESREK
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014

DAFTAR ISI

ABSTRAK................................................................................................................

KATA PENGANTAR...............................................................................................

ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................

iii

DAFTAR TABEL.....................................................................................................

iv

DAFTAR GAMBAR................................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................

vi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................
.................................................................................................................
B. Variabel Yang Diteliti..............................................................................

1
4

1.Perencanaan PBM
2.Proses Pelaksaan PBM
3.Evaluasi PBM
C.
D.
E.
F.

Populasi atau Simple...............................................................................


Metode Bagi Peneliti...............................................................................
Instrumentasi...........................................................................................
Teknik Analisis Data...............................................................................

5
5
6
6

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN


A. Kajian Teori..............................................................................................
1. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan...................................................
2. Motivasi..............................................................................................
B. Kerangka Konseptual...............................................................................
C. Pertanyaan Penelitian...............................................................................

iii

7
7
8
21
22

BAB III METODELOGI PENELITIAN


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Jenis Penelitian.........................................................................................
Tempat dan Waktu Penelitian...................................................................
Definisi Operasional.................................................................................
Populasi dan Sampel................................................................................
Jenis, Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data........................................
Instrument Penelitian...............................................................................
Teknik Analisa Data.................................................................................

23
23
23
24
26
26
29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Verifikasi Data.........................................................................................
B. Deskriptif Data........................................................................................
1. Motivasi Instrinsik.............................................................................
2. Motivasi Ekstrinsik...........................................................................
C. Pembahasan.............................................................................................

31
31
31
33
34

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan........................................................................................
2. Saran..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

38
38

DAFTAR TABEL
\
Tabel
1. Populasi..........................................................................................................

25

2. Sampel............................................................................................................

25

3. Deskriptif Motivasi Instrinsik........................................................................

32

4. Deskriptif Motivasi Ekstrinsik.......................................................................

33

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem
pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk aspek kesehatan, kebugaran
jasmani, keterampilan berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial,
penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga. Rosdiani (2012
: 21) mengatakan bahwa :
Pendidikan
jasmani
merupakan
media
untuk
mendorong
perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan,
penalaran, penghayatan nilai (sikap-mental-emosional-spiritual-sosial),
dan pembiasan pola hidup sehat yang merangsang pertumbuhan
serta perkembangan yang seimbang.
Dengan pendidikan jasmani siswa akan memperoleh berbagai ungkapan
yang erat kaitannya dengan kesan pribadi yang menyenangkan serta berbagai
ungkapan yang kreatif, inovatif, terampil, memiliki kebugaran jasmani, kebiasaan
hidup sehat dan memilki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Pendidikan jasmani dan kesehatan merupakan bahagian dari keseluruhan
pendidikan, dengan arti mempunyai derajat dan kepentingan yang sama dengan
mata pelajaran lainnya. Hal itu tercantum dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab III pasal 6 ayat 5 dinyatakan semua
kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta
didik dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah. Dalam proses
pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan tidak terlepas dari kurikulum,
karena kurikulum sebagai acuan dalam program pengajaran yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas siswa.

Mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan diarahkan untuk


membekali siswa tentang dasar-dasar pendidikan jasmani dan kesehatan serta
memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas dan dapat
ditingkatkan

efektifitas

pembelajaran

pendidikan

jasmani

dan

kesehatan.

Pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah erat kaitannya dengan


pemahaman dan penguasaan materi serta mempraktikkan apa yang akan dilakukan
dalam mempelajari sesuatu. Dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan
sangat dibutuhkan partisipasi siswa secara penuh dan merata. Oleh karena itu, guru
pendidikan jasmani dan kesehatan harus memperhatikan kepentingan siswa.
Menurut Rink dalam Rosdiani (2012 : 48) memaparkan beberapa faktorfaktor yang mempengaruhi proses pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan,
yaitu motivasi belajar siswa, kemampuan siswa, kemampuan guru dan fasilitas
pembelajaran. Keempat faktor ini sangat dominan dalam menentukan keberhasilan
dalam proses maupun upaya mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik,

mengajar,

membimbing,

mengarahkan,

melatih,

menilai,

dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru yang profesional akan
tercermin dalam pelaksanaan tugas-tugas yang di tandai dengan keahlian baik
dalam materi maupun dalam metode. Selain itu juga ditunjukkan melalui tanggung
jawab dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional hendaknya mampu

memikul dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai guru kepada siswa, orang
tua, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
Sebagai guru yang profesional tentunya mampu menumbuhkembangkan
motivasi siswa dalam pembelajaran. Dengan motivasi yang tinggi dimiliki siswa
dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan dapat pula mendukung
prestasi belajar yang lebih baik lagi. Motivasi merupakan sesuatu hal yang sangat
penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Menurut Mc. Donald dalam Sardiman
(2009 : 73) Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya
tujuan. Tanpa motivasi sukar bagi siswa untuk berkembang dalam belajarnya.
Pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan hendaknya didukung oleh
berbagai fasilitas yang menunjang program aktivitas yang akan diajarkan guru.
Dengan tersedianya fasilitas pembelajaran yang memadai dapat membantu guru
dalam mengoptimalkan kemampuan guru untuk menunjang proses pembelajaran
yang efektif dan efisien pada pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien sangat diperlukan guru
yang profesional dalam mengelola pembelajaran sehingga siswa termotivasi untuk
mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
B. Variabel yang diteliti
1.Perencanaan PBM
Dalam pembahasan mengenai proses belajar mengajar, strategi berarti prosedur atau
langkah-langkah pelaksanaan mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sama halnya
dengan strategi mengajar, strategi proses belajar mengajar juga memerlukan alokasi
upaya kognitif (pertimbangan akal) secara cermat.

Para ahli pendidikan seperti Newman dan Legan (1977) mengemukakan empat langkah
besar sebagai prosedur penyusunan rencana pengelolaan proses belajar mengajar
yaitu:
1) Merumuskan dan menetapkan spesifikasi output (kekhususan dan tingkat keahlian
para lulusanya) yang menjadi target yang hendak dicapai dengan memperhatikan
aspirasi dan selera serta kebutuhan masyarakat yang memerlukan out put tersebut.
2) Mempertimbangkan dan memilih cara atau pendekatan dasar (basic way) proses
belajar mengajar yang dipandang paling efektif untuk mencapai target tadi.
3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah tepat yang akan ditempuh
sejak titik awal hingga titik akhir yakni tercapainya proses belajar mengajar.
4) Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria (ukuran yang menjadi dasar) dan
standart (tolak ukur atau patokan) yang akan dipergunakan untuk mengevaluasi taraf
keberhasilan proses belajar mengajar.
Selanjudnya untuk menjamin terlaksananya prosedur perencanaan tadi, guru
menyusun langkah-langkah kongkrit dan operasional untuk segera diimplikasikan
(dilaksanakan) dalam proses belajar mengajar. Langkah-langkah kongkrit ini meliputi
kegiatan-kegiatan pokok seperti tersebut dibawah ini.
1) Guru hendaknya merumuskan dan menetapkjan tujuan pembelajaran umum (TPU)
dan tujuan pembelajaran khusus (TPK) yang sesuai dengan pokok bahasan atau materi
bidang studi yang bakan diajarkan
2) Guru hendaknya memilih dan menetapkan sistem pendekatan belajar-mengajar yang
paling cocok dengan pokok bahasan yang akan disajikan sebagai pegangan dalam
merencanakan dan mengorganisasikan proses belajar mengajar dan pengalaman
belajar para siswa yang dibutuhkan sepertio tangguang jawab, berdikusi dan lain
sebagainya.
3) Menetapkan kriteria berupa norma atau batas tertentu sebagai tolak ukur
keberhasilan minimum yang dicapai para siswa .

2.Proses Pelaksaan PBM


Pengertian Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Proses pembelajaran
merupakan suatu kegiatan intraksi antara guru dan murid dimana akan diakhiri
dengan proses evaluasi hasil belajar ( dimyati dan mudjiono, 2006 : 3 ). Proses
pembelajaran juga diartikan sebagai suatu proses terjadinya intraksi antara pelajar,
pengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu
lokasi tertentu dalam jangka satuan waktu tertentu pula ( hamalik, 2006 : 162 ).

Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa
proses pembelajaran sebagai suatu proses intraksi antara guru dan murid dimana akan
dikhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dalam upaya mencapai tujuan
pembelajaran yang berlangsung dalam suatu lokasi dan jangka waktu tertentu.
Menurut Adrian ( 2000 : 25 ) dalam artikelnya yang berjudul metode mengajar
berdasarkan tipologi belajar siswa, menjelaskan kegiatan belajar mengajar melibatkan
beberapa komponen yaitu guru (pendidik), peserta didik, tujuan pembelajaran, isi
pembelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi pembelajaran.
1. Guru(Pendidik)Sebagai dijelaskan oleh H.A.R Tilaar yang dikutip oleh Suyanto
( 2001 : 31 ), memberikan empat ciri utama agar seorang guru terkelompok dalam guru
yang professional, masing-masing itu adalah:

Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang ( mature and developing


personality ),

Mempunyai keterampilan membangkitkan minat peserta didik,

Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat dan

Sikap profesionalnya berkembang secara bersinambungan.

Sedangkan menurut wardiman djojonegoro yang dikutip oleh suyanto ( 2001 : 33 ).


Guru yang bermutu memiliki paling tidak empat kreteria utama, yaitu :

Kemampuan profesional, meliputi kemampuan intelegensi, sikap dan prestasi


kerja;

Upaya profesional adalah upaya seorang guru untuk mentranspormasikan


kemampuan professional yang dimilikinya kedalam tindakan mendidik dan
mengjar secara nyata,

Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan professional, menunjukan intensitas


waktu dari seorang guru yang dikonsentarsikan untuk tugas-tugas profesinya;
dan 4) kesesuaian antara keahlian dan pekerjaan, disini gur u dituntut untuk
dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil.

Terkait dengan hal tersebut, maka fungsi dan tugas guru dalam situasi pendidikan dan
pengajaran terjalin intraksi antara dan guru. Intraksi ini sesungguhnya merupakan
intraksi antara dua kepribadian yaitu kepribadian guru sebagai seorang dewasa dan
sedangkan berkembang mencari bentuk kedewasaan.
Sehubungan dengan itu sukmadinata ( 2004 : 252 ) menjelaskan fungsi / tugas seorang
guru dalam proses pembelajaran sebagai berikut :

1.
Guru
Sebagai
Pendidik
Dan
Pengajar
Tugas utama sebagai pendidik adalah membantu mendewasakan anak. Dewasa
secara psikologis, sosial, dan moral. Dewasa secara psikologis berarti individu telah
bisa berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain serta sudah mampu bertanggung
jawab atas segala perbuatan dan mampu bersikap obyektif. Dewasa secara sosial
berarti telah mampu menjalin hubungan sosial dan kerja sama dengan orang dewasa
lainnya. Dewasa secara moral yaitu telah memiliki seperangkat nilai yang ia akui
kebenarannya dan mampu berprilaku sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi
pegangannya.
Tugas utama guru sebagai pengajar adalah membantu perkembangan intelektual,
afektif dan psikomotorik, melalui penyampaian pengetahuan, pemecahan masalah,
latihan
afektif
dan
keterampilan.
2.
Guru
Sebagai
Pembimbing
Selain sebagai pendidik dan pengajar guru juga sebagai pembimbing. Perkembangan
anak tidak selalu mulus dan lancar, adakalanya lambat dan mungkin juga berhenti
sama sekali. Dalam kondisi dan situasi seperti ini mereka perlu mendapatkan bantuan
dan bimbingan. Sebagai upaya membantu anak mengatasi kesulitan atau hambatan
yang dihadapi dalam perkembangannya.
Sebagai pembimbing, guru perlu memiliki pemahaman yang seksama tentang para
siswanya, baik itu tentang segala potensi dan kelemahannya, masalah dan kesulitankesulitannya. Serta segala latar belakangnya agar tercapai kondisi seperti itu, guru
perlu banyak mendekati siswa, membina hubungan yang lebih dekat dan akrap,
melakukan pendekatan serta mengadakan dialog-dialog secara langsung.
Selain fungsi seorang guru/ pendidik dalam proses pembelajaran juga seorang guru
dituntu memiliki sifat dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru adlah sebagai
berikut :

Fleksibel, seorang guru adalah seorang yang telah mempunyai pegangan hidup,
telah punya prinsip, pendirian dan keyakinan sendiri, baik dalam nilai-nilai
maupun dalam ilmu pengetahuan. Guru juga harus bisa bertindak bijaksana,
terhadap orang yang tepat dalam situasi yang tepat.

Bersikap terbuka, seorang guru hendaknya memiliki sifat terbuka baik untuk
menerima kedatangan siswa, untuk diminta bantuan, juga untuk mengoreksi diri.

Berdiri sendiri, seorang guru adlah seorang yang telah dewasa, ia telah sangup
berdiri sendiri baik secara intelektual, sosial maupun emosional. Berdiri sendiri
secara intelektual, berarti ia memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengajar
juga telah memberikan pertimbangan-pertimbangan rasional dan mengambil
suatu putusan atau pemecahan masalah.

Peka, seorang guru harus peka atau sensitif terhadap penampilan para
siswanya.

Tekun, pekerjaan seorang guru membutuhkan ketekunan, baik didalam


memrsiapkam, melaksankan, menilai maupun membina siswa sebagai generasi
penerus bagi kehidupan yang akan datang,

Melihat kedepan, tugas guru adalah membina siswa sebagai generasi penerus
bagi kehidupan yang akan dating.

Menerima diri, seorang guru selain bersikap realistis, ia juga harus mampu
menerima keadaan dan kondisi dirinya ( sukmandinata, 2004 : 256-258 ).

Dalam undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, seorang


guru tidak hanya dituntut pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran
tertentu, tetapi juga harus berperan sebagai pendidik. Dimyati dan mudjiono (2006 : 41 )
mengatakan tugas seorang guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu
saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus harus mengunakan teori-teori dan
prinsip-prinsip belajar, prisnsip-prinsip belajar sebagai berikut :

Perhatian dan motivasi, perhatian dan motivasi mempunyai peranan yang sangat
penting dalam kegiatan belajar.

Keaktifan, anak memupunyai dorongan untuk berbuat sesuatu

Ketertiban langsung / pengalaman, belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa.

Pengulangan, melatih daya-daya jiwa dan membentuk respon yang benar dan
bentuk kebiasaan-kebiasaan

Tantangan, dalam belajar siswa tentu memiliki hambatan yaitu mepelajari bahan
belajar, maka timbulah motif yang mengatasi hambatan itu dengan belajar.

2.
Peserta
Didik
Dimyati dan Mudjiono ( 2006 : 22 ) dalam bukunya belajar dan pembelajaran,
mendefenisikan peserta didik atau siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan
belajar mengajar disekolah. Sedangkan menurut Aminuddin Rasyad ( 2000 :105 ),
peserta didik (siswa) adalah seseorang atau sekelompok orang yang bertindak sebagai
pelaku, pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkannya untuk
mencapai tujuan.
3.
Tujuan
Pembelajaran
Pada hakekatnya tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku dan tingkah laku yang
positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti perubahan
secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku ( over behavior ) yang dapat diamati
melalui alat indra oleh orang lain baik tutur kata, motorik, dan gaya hidup.
4.
Gaya
Hidup
Untuk menjamin efektivitas pengembangan kurikulum dan program pembelajaran,

maka kepala sekolah beserta guru-guru lainya untuk menjabarkan isi kurikulum secara
lebih rinci dan oprasional kedalam program tahunan, semesteran, dan bulanan. Adapun
program mingguan atau program satuan pelajaran wajib di kembangkan guru sebelum
melakukan kegiatan belajar mengajar. Berikut prinsip-prinsip yang harus diperhatikan :

Tujuan yang dikehendaki harus jelas, oprasional mudah terlihat, ketepatan


program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan.

Program ini harus sederhana atau fleksibel.

Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan


yang telah diterapkan

Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan jelas pencapaiannya

Harus ada koordinasi antara kompone pelaksana program disekolah ( Mulyasa,


2006 : 41 ).

5.
Metode
Mengajar
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena
keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya.
Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin,
antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi
peribahan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan
gaya hidup.
6.
Media
Pengajaran yang baik perlu ditunjang oleh pengunaan media pengajaran. Berkenaan
dengan media pengajaran ada yang mengartikan secara sempit, terbatas pada alat
bantu pengajaran atau alat peraga. Tapi ada pula yang mengartikan secara luas
termasuk juga sumber-sumber belajar selain buku, jurnal, adalah perpustakaan,
laboratorium, kebun sekolah, dan sebagainya.
3.Evaluasi PBM
Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional
sampai bentuk akuntabilitas penyelengaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan ( UU Sisdiknas 2003, pasal 57 ). Sedangkan evaluasi hasil belajar
peserta didik untuk membantu aktivitas, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta
didik secara berkesinambungan ( pasal 58).
C.Populasi atau Simple
Populasi target dalam peneltian ini adalah siswa. Sedangka populasi
terjangkau adalah seluruh siswa SD yang mengkuti kegiatan.pengambilan

sampel dilaksanakan secara Simple Random Sampling. Artunya setiap insir


dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terambil sebagai
unsure dalam sampel.
D,Metode Bagi Peneliti
prosedur analisis dan pengumpulan data. Tahap ini meliputi pula penentuan macam
data yang diperlukan untuk mencapai tujuan pokok penelitian. Tahap ini merupakan
tahap penyusunan usulan proyek penelitian.
c.
Pengambilan contoh (sampling).
Ini adalah proses pemilihan sejumlah unsur / bagian tertentu dari suatu populasi guna
mewakili seluruh populasi itu. Dalam tahap ini peneliti harus secara teliti membuat
definisi atau rumusan mengenai populasi yang akan dikaji. Rencana
pengambilan
contoh itu terdiri dari prosedur pemilihan unsurunsur populasi dan prosedur
menjadikan atau mengubah data dari hasil sampel untuk memperkirakan sifatsifat
seluruh populasi. Tantangan yang harus dihadapi dalam penyusunan rencana
pengambilan contoh ini adalah bagaimana kita dapat mengikuti sedemikian
rupa
prosedur yang kita miliki dengan keadaan setempat dan dengan sumber daya yang
tersedia sementara tetap mempertahankan kebaikan atau keuntungan dari
sample
survey.
d.
Penyusunan daftar pertanyaan.
Ini merupakan proses penterjemahan tujuantujuan studi ke dalam bentuk pertanyaan
untuk mendapatkan jawaban yang berupa informasi yang dibutuhkan. Sebenarnya ini
merupakan proses cobacoba (trial and error) yang membutuhkan waktu yang cukup
lama. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan macam pertanyaan serta urutan
dari masingmasing pertanyaan. Tidak ketinggalan pula adalah upaya bagaimana agar
orangorang yang diwawancarai (responden) dengan senang hati mau
menjawab
pertanyaanpertanyaan yang diajukan dan tetap senang dalam memberikan jawaban
jawaban.
e.
Kerja lapangan.
Tahap ini meliputi pemilihan dan latihan para pewawancara, bimbingan
dalam
wawancara serta pelaksanaan wawancara. Ini dapat meliputi pula berbagai tugas yang
berhubungan dengan pemilihan lokasi sampel dan pretesting daftar pertanyaan. Kerja
lapangan ini tidak akan diperlukan bila kita menggunakan cara wawancara
lewat
telepon atau surat.
f.

Editing dan coding.


Coding adalah proses memindahkan jawaban yang tertera dalam daftar pertanyaan ke
dalam berbagai kelompok jawaban yang dapat disusun dalam angka dan ditabulasi.
Editing biasanya dikerjakan sebelum coding agar pelaksanaan coding dapat
sesederhana mungkin. Editing juga meneliti lagi daftar pertanyaan yang telah diisi
apakah yang ditulis di sitibenar atau sudah sesuai dengan yang dimaksud.
g.
Analisis dan laporan.
Ini meliputi berbagai tugas yang saling berhubungan dan terpenting pula dalam suatu
proses penelitian. Suatu hasil penelitian yang tidak dilaporkan atau dilaporkan tetapi
dengan cara yang kurang baik tidak akan ada gunanya. Tugas yang dikerjakan pada
tahap ini ialah penyajian tabeltabel dalam bentuk frekuensi distribusi, tabulasi sialng
atau dapat pula berupa daftar yang memerlukan metode statistik yang
kompleks
kemudian interpretasi dari penemuanpenemuan itu atas dasar teori yang telah kita
ketahui.
E.Instrumentasi
Instrumentasi adalah alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan
pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih kompleks. Instrumentasi
bisa berarti alat untuk menghasilkan efek suara, seperti pada instrumen musik
misalnya, namun secara umum instrumentasi mempunyai 3 fungsi utama:

sebagai alat pengukuran

sebagai alat analisis, dan

sebagai alat kendali.

Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi survey/ statistik,


instrumentasi pengukuran suhu, dll. Contoh dari instrumentasi sebagai alat analisis
banyak dijumpai di bidang kimia dan kedokteran, misalnya, sementara contoh
instrumentasi sebagai alat kendali banyak ditemukan dalam bidang elektronika, industri
dan pabrik-pabrik. Sistem pengukuran, analisis dan kendali dalam instrumentasi ini
bisa dilakukan secara manual (hasilnya dibaca dan ditulis tangan), tetapi bisa juga
dilakukan secara otomatis dengan menggunakan komputer (sirkuit elektronik). Untuk
jenis yang kedua ini, instrumentasi tidak bisa dipisahkan dengan bidang elektronika dan
instrumentasi itu sendiri.
Instrumentasi sebagai alat pengukur sering kali merupakan bagian depan/ awal dari
bagian-bagian selanjutnya (bagian kendalinya), dan bisa berupa pengukur dari semua
jenis besaran fisis, kimia, mekanis, maupun besaran listrik. Beberapa contoh di
antaranya adalah pengukur: massa, waktu, panjang, luas, sudut, suhu, kelembaban,
tekanan, aliran, pH (keasaman), level, radiasi, suara, cahaya, kecepatan, torque, sifat
listrik (arus listrik, tegangan listrik, tahanan listrik), viskositas, density, dll.

F.Teknik Analisis Data


Analisis data adalah proses menyusun,
mengkategorikan data, mencari pola atau thema,
dengan maksud untuk memahami maknanya.

Menyusun data berarti menggolongkannya dalam pola,


thema atau kategori.

Tanpa kategorisasi atau klasifikasi data akan terjadi


chaos.

Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna


kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori,
mencari hubungan antara berbagai konsep.

Interpretasi menggambarkan perspektif atau


pandangan peneliti, bukan kebenaran.

Kebenaran hasil penelitian masih harus dinilai


orang lain dan diuji dalam berbagai situasi lain

Analisis data yang dilakukan bersifat induktif /


kualitatif berdasarkan fakta
fakta yang
ditemukan di lapangan dan kemudian
dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori.

Interpretasi menggambarkan perspektif atau


pandangan peneliti, bukan kebenaran.

Kebenaran hasil penelitian masih harus dinilai


orang lain dan diuji dalam berbagai situasi lain

Analisis data yang dilakukan bersifat induktif /


kualitatif berdasarkan fakta
fakta yang
ditemukan di lapangan dan kemudian
dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori.

Dalam penelitian naturalistik analisis dilakukan sejak awal


pengumpulan data.

Data harus dianalisis dalam usaha untuk mencari maknanya,


walaupun masih bersifat sementara.

Analisis akan mendorong merumuskan pertanyaan baru yang


memerlukan data baru yang dapat lebih memantapkan tafsiran atau
justru membantah tafsiran itu.

Analisis dilakukan untuk mengetahui hubungan antara data yang


tadinya lepas
lepas.

Hubungan yang sering tampil menunjukkan adanya suatu pola yang


dapat merupakan petunjuk ke arah suatu teori.

Dalam penelitian naturalistik analisis dilakukan sejak awal


pengumpulan data.

Data harus dianalisis dalam usaha untuk mencari maknanya,


walaupun masih bersifat sementara.

Analisis akan mendorong merumuskan pertanyaan baru yang


memerlukan data baru yang dapat lebih memantapkan tafsiran atau
justru membantah tafsiran itu.

Analisis dilakukan untuk mengetahui hubungan antara data yang


tadinya lepas
lepas.

Hubungan yang sering tampil menunjukkan adanya suatu pola yang


dapat merupakan petunjuk ke arah suatu teori.

Analisis data adalah kegiatan kreatif. Tidak ada


langkah
langkah yang terinci, sehingga tiap
peneliti harus mencari caranya sendiri.

Analisis data telah dilakukan sejak awal


penelitian.

Sejak mulanya peneliti telah membentuk


hipotesis
kerja yang diuji kebenarannya dengan

memperoleh data melalui observasi, wawancara


dan dokumen.

Analisis data adalah kegiatan kreatif. Tidak ada


langkah
langkah yang terinci, sehingga tiap
peneliti harus mencari caranya sendiri.

Analisis data telah dilakukan sejak awal


penelitian.

Sejak mulanya peneliti telah membentuk


hipotesis
kerja yang diuji kebenarannya dengan
memperoleh data melalui observasi, wawancara
dan dokumen.

Analisis data senantiasa bertalian dengan


pengumpulan data.

Melalui analisis diketahui data apa yang masih


harus dicari berhubung dengan pertanyaan
atau hipotesis tertentu.

Analisis data membantu pemberian kode serta


penulisan lembar rangkuman dan laporan
berkala.

Analisis data senantiasa bertalian dengan


pengumpulan data.

Melalui analisis diketahui data apa yang masih


harus dicari berhubung dengan pertanyaan
atau hipotesis tertentu.

Analisis data membantu pemberian kode serta


penulisan lembar rangkuman dan laporan
berkala.

Tujuan analisis pada pokoknya ialah menemukan suatu teori


yang didasarkan, "grounded" atas data dari lapangan.

Itu sebabnya maka pengumpulan data harus berpedoman pada


usaha mengembangkan suatu teori.


Dalam garis besarnya, analisis berlangsung dari penguasaan
data

meningkat dengan pembentukan konsep, mencari


hubungan antara konsep
konsep, mengadakan "the constant
comparative method",

menuju ke arah pembentukan teori,


menguji teori itu pada kasus negatif, sampai tercapai ketuntasan
bila telah tercakup semua kasus negatif yang ditemui.

Dengan demikian penelitian naturalistik sebenarnya tak kunjung


berakhir.

Tujuan analisis pada pokoknya ialah menemukan suatu teori


yang didasarkan, "grounded" atas data dari lapangan.

Itu sebabnya maka pengumpulan data harus berpedoman pada


usaha mengembangkan suatu teori.

Dalam garis besarnya, analisis berlangsung dari penguasaan


data

meningkat dengan pembentukan konsep, mencari


hubungan antara konsep
konsep, mengadakan "the constant
comparative method",

menuju ke arah pembentukan teori,


menguji teori itu pada kasus negatif, sampai tercapai ketuntasan
bila telah tercakup semua kasus negatif yang ditemui.

Dengan demikian penelitian naturalistik sebenarnya tak kunjung


berakhir.
LANGKAH
LANGKAH ANALISIS
DATA KUALITATIF
(1) Reduksi data
(2) Display" data
(3) Kesimpulan dan verifikasi.
(1) Reduksi data

(2) Display" data


(3) Kesimpulan dan verifikasi.

Reduksi data, pada tahap ini dilakukan


pemilihan tentang relevan tidaknya antara
data dengan tujuan penelitian

Informasi dari lapangan sebagai bahan


mentah diringkas, disusun lebih
sistematis, serta ditonjolkan pokok
pokok
yang penting sehingga lebih mudah
dikendalikan

Reduksi data, pada tahap ini dilakukan


pemilihan tentang relevan tidaknya antara
data dengan tujuan penelitian

Informasi dari lapangan sebagai bahan


mentah diringkas, disusun lebih
sistematis, serta ditonjolkan pokok
pokok
yang penting sehingga lebih mudah
dikendalikan

Display data

untuk dapat melihat gambaran


keseluruhan atau bagian
bagian tertentu dari
gambaran keseluruhan

Pada tahap ini peneliti berupaya


mengklasifikasikan dan menyajikan data sesuai
dengan pokok permasalahan yang diawali
dengan pengkodean pada setiap subpokok
permasalahan

Untuk memudahkan memperoleh kesimpulan


dari lapangan, maka dibuat matrik atau bagan

Display data

untuk dapat melihat gambaran


keseluruhan atau bagian
bagian tertentu dari
gambaran keseluruhan

Pada tahap ini peneliti berupaya


mengklasifikasikan dan menyajikan data sesuai
dengan pokok permasalahan yang diawali
dengan pengkodean pada setiap subpokok
permasalahan

Untuk memudahkan memperoleh kesimpulan


dari lapangan, maka dibuat matrik atau bagan

Matriks sangat berguna untuk melihat hubungan


antara data.

Kode digunakan agar data yang banyak dapat


dikendalikan.

Ada kode deskriptif dan kode inferensial.

Kode dapat lebih dahulu disusun secara sistematis


dalam sejumlah kategori, subkategori dan sub
subkategori dan dapat juga disusun dan
dikembangkan sesuai dengan data yang masuk sejak
awal.

Tiap kode harus jelas definisinya dan semua kode


harus dihafal.

Matriks sangat berguna untuk melihat hubungan


antara data.

Kode digunakan agar data yang banyak dapat


dikendalikan.

Ada kode deskriptif dan kode inferensial.

Kode dapat lebih dahulu disusun secara sistematis


dalam sejumlah kategori, subkategori dan sub
subkategori dan dapat juga disusun dan
dikembangkan sesuai dengan data yang masuk sejak

awal.

Tiap kode harus jelas definisinya dan semua kode


harus dihafal.

Penarikan kesimpulan dan verifikasi data,


kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari
makna data yang dikumpulkan dengan
mencari hubungan, persamaan, atau
perbedaan

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan


jalan membandingkan kesesuaian
pernyataan dari subyek penelitian dengan
makna yang terkandung dengan konsep
konsep dasar dalam penelitian tersebut

Penarikan kesimpulan dan verifikasi data,


kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari
makna data yang dikumpulkan dengan
mencari hubungan, persamaan, atau
perbedaan

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan


jalan membandingkan kesesuaian
pernyataan dari subyek penelitian dengan
makna yang terkandung dengan konsep
konsep dasar dalam penelitian tersebut

Verifikasi dimaksudkan agar penilaian


tentang kesesuaian data dengan maksud
yang terkandung dalam konsep
konsep
dasar dalam penelitian tersebut lebih
tepat dan obyektif

Salah satu cara dapat dilakukan Peer de


briefing dengan teman sebaya posisinya
dengan peneliti

Verifikasi dimaksudkan agar penilaian


tentang kesesuaian data dengan maksud
yang terkandung dalam konsep

konsep
dasar dalam penelitian tersebut lebih
tepat dan obyektif

Salah satu cara dapat dilakukan Peer de


briefing dengan teman se baya posisinya dengan peneliti