Anda di halaman 1dari 36

jLaporanPelaksanaanKegiatan (Individu)

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN


(Individu)
KULIAH KERJA NYATA
PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
TAHUN : 2016
SUB UNIT

: KALIOMBO

UNIT

: KALIBOJA

KECAMATAN

: PANINGGARAN

KABUPATEN

: PEKALONGAN

PROVINSI

: JAWA TENGAH

Disusun Oleh

Nama Mahasiswa : Andrew Budiherlando


Nomor Mahasiswa : 13/347912/PN/13188

SUBDIREKTORAT KKN
DIREKTORAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

1.

PENDAHULUAN
Kuliah kerja nyata didasarkan pada falsafah pendidikan yang didasarkan pada

undang-undang dasar 1945 dan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan,
pengendalian dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara .
Tri Darma Perguruan Tinggi yang meliputi Pendidikan, Penelitian dan pengabdian
pada masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Kuliah
Kerja Nyata (KKN) merupakan suatu kegiatan yang sudah diprogramkan oleh suatu
lembaga perguruan tinggi.
Dengan demikian Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan implementasi dari salah
satu amanat Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian pada masyarakat serta
implementasi dari ilmu pengetahuan yang di dapat selama berada di meja kuliah. Karena
dimana kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memiliki manfaat dan tujuan yang sangat
besar bagi kelangsungan kehidupan masyarakat, sehingga program Kuliah Kerja Nyata
(KKN) akan mendapatkan pengetahuan serta pengalaman langsung yang di dapat oleh
mahasiswa selama mengikuti proses Kuliah Kerja Nyata (KKN) tersebut.
Di samping itu Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat memberikan kontribusi yang nyata
bagi masyarakat dalam berbagai bidang ilmu, seperti bidang sosial, budaya, bidang
keagamaan maupun dalam bidang-bidang yang lain sehingga program Kuliah Kerja
Nyata (KKN) dapat menyentuh langsung dengan masyarakat serta membantu program
pemerintah daerah.
Oleh sebab itu program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat memberikan manfaat yang
di rasakan secara langsung oleh masyarakat, sehingga program-program yang di lakukan
dalam proses Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat memberikan konstribusi dalam kehidupan
masyarakat setempat karena di mana dari berbagai program yang di laksanakan selama
menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah program yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat setempat, sehingga program tersebut dapat di rasakan secara langsung
hasilnya oleh masyarakat itu sendiri.
Hal ini berdasarkan materi pendidikan dan kebudayaan yang menyatakan bahwa:

1. Pendidikan tinggi harus merupakan bagian integral dari usaha-usaha pembangunan


nasional maupun regional.
2. Pendidikan tinggi harus merupakan penghubung antara dua yaitu ilmu pengetahuan dan
tekhnologi dengan masyarakat.
3. Menciptakan serta memadukan relevansi antara program studi, terutama perangkat
administrasi kurikulum dengan keadaan yang nyata.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan suatu program dari Universitas Gadjah
Mada yang membentuk mahasiswa untuk terbiasa dalam melakukan pengabdian kepada
masyarakat. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta masih mempertahankan
program KKN sebagai wujud pengabdian terhadap masyarakat. Dalam hal ini, visi KKN
adalah memasyarakatkan hasil pendidikan dan penelitian di universitas, sehingga terjadi
transfer ilmu, keterampilan, dan sikap dari universitas ke masyarakat. Keberhasilan suatu
program KKN tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, baik mahasiswa sendiri,
masyarakat Desa Kaliombo khususnya yang berada di Dusun Danasari, Dosen
Pembimbing Lapangan (DPL) Lembaga Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat
(LPPM), Pak Lurah dan Perangkat Desa, Karang Taruna, ibu PKK khususnya ibu Siti
Fatimah, guru serta murid TK Muslimat, SDN 1 Kaliombo, SMP Satap (Satu Atap)
Kaliombo, teman-teman KKN Tematik IPB, PPL dari BP3K Kec. Paninggaran, Pak
Wahid dan Bu Supri yang telah mengizinkan tempat tinggalnya menjadi pondokan
sementara mahasiswa KKN dan pihak lain yang memberikan kontribusi positif yang
dapat membantu keberhasilan program KKN serta mengatasi kendala-kendala yang
ditemui selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata.
Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas
Gadjah Mada 2013 ini dilaksanakan mulai tanggal 21 Juni sampai dengan 07 Agustus
yang berlokasi di Desa Kaliombo, Kecamatan Paningaran, Kabupaten Pekalongan. Tim
KKN PPM kami memiliki tema: Pengembangan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat
dengan Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berbasis Kearifan Lokal.
Setelah penerjunan KKN dilakukan, kegiatan KKN tidak serta merta langsung
dilakukan berhubung ketika KKN dimulai masih pada suasana puasa. Bapak Lurah dan
perangkat desa yang lain menyarankan untuk memulai kegiatan maupun programprogram KKN setelah Lebaran usai sehingga atas saran beliau selama 2-3 minggu
kegiatan KKN hanya berupa silaturahmi dan observasi guna mengidentifikasi
permasalahan yang ada di Desa Kaliombo. Program dan kegiatan KKN baru benar-benar

dimulai setelah Lebaran (10 Agustus 2016) sehingga kami memiliki 4 minggu untuk
menjalankan program KKN . Program-program tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengenalan dan Penyuluhan Pupuk Organik
2. Pengenalan dan Penyuluhan Penyakit Cacar Teh dan Tumor Sengon
3. Optimasi Penggunaan Lahan Pekarangan
4. Pengenalan Pentingnya Sektor Pertanian kepada Anak Usia Dini
5. Pengadaan Alat Media Penyuluhan Pertanian
6. Penyuluhan Pentingnya Konsumsi Susu dan Telur serta Pembagian Susu dan Telur
untuk Anak TK dan SD
7. Penyuluhan Penyakit Zoonosis, Macam Penyakit Ternak dan Obatnya, Manajemen
Kandang yang Baik, Manajemen Pemberian Pakan serta Fermentasi Pakan
8. Pengadaan Bak Minum Sapi
9. Pemberdayan Masyarakat Khususnya Aka Usia Dini
10. Revitalisasi Gapoktan serta Pembuatan Demplot (Demonstration Plot)
11. Pembinaan Teknis Budidaya Padi yang Baik dan Benar
Keseluruhan program tersebut secara umum telah dilaksanakan dengan baik,
memenuhi parameter target yang diinginkan dan diharapkan dapat memberikan dampak
positif bagi masyarakat.
Data-data kuantitatif yang diperoleh dari program-program yang telah dilaksanakan
antara lain:
Uraian jam kerja efektif mahasiswa:
a. Program pokok

206

b.

121.5 jam

Program bantu

c. Kegiatan non program =

59

jam
jam

Berikutini merupakan deskripsi beberapa program yang telah dilaksanakan dan


disusun berdasarkan hasil observasi yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat.

2. PEMBAHASAN
A. Penyuluhan dan Pengenalan Penggunaan Pupuk Organik
Nomor Sektor : 2.2.11
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Kurangnya kesadaran akan penggunaan pupuk organik membuat saya menilai
mengapa program ini perlu dilakukan. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, dapat
menimbulkan dampak yang justru merusak kesuburan tanah itu sendiri dan bukan
menjadikannya subur. Pupuk kimia adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk
dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi. Dalam jangka
pendek, pupuk kimia memang mampu mempercepat masa tanam karena kandungan
haranya bisa diserap langsung oleh tanah, namun di sisi lain dalam jangka panjang justru
akan menimbulkan dampak yang negatif. Selalu akan ada residua atau sisanya. Sisa-sisa
pupuk kimia yang tertinggal di dalam tanah ini, bila telah terkena air akan mengikat tanah
seperti lem/semen. Setelah kering, tanah akan lengket satu dengan lain (alias tidak
gembur lagi), dan keras. Selain keras, tanah juga menjadi masam. Kondisi ini membuat
organisme-organisme pembentuk unsur hara (organisme penyubur tanah) menjadi mati.
Bila ini terjadi, maka tanah tidak bisa menyediakan makanan secara mandiri lagi, dan
akhirnya menjadi sangat tergantung pada pupuk tambahan, khususnya pupuk kimia.
Selain itu penggunaan pupuk kimia juga berdampak pada lingkungan, penggunaan yang
terlalu banyak akan mengakibatkan eutrofikasi.
Petani padi desa Kaliombo pada umumnya masih bergantung pada pupuk kimia.
Pupuk yang biasa digunakan yaitu pupuk NPK dan urea. Tidak ada penggunaan pupuk
organik sama sekali dalam proses budidaya tanaman padi. Minimnya penggunaan pupuk
organik inilah yang justru dikhawatirkan dapat menurunkan produktivitas di masa yang
akan datang. Melalui program Pengenalan dan Penyuluhan Pupuk Organik ini
diharapkan masyarakat sadar akan pentingnya penggunaan pupuk organik khususnya
dalam kegiatan budidaya padi. Kegiatan ini diawali dengan persiapan materi pembuatan
pupk organik, yang diolah sedemikian sehingga mudah dicerna oleh audience saat
disampaikan. Kemudian dilakukan penyuluhan dengan merangkul BP3K (Balai
Penyuluhan Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan) sehingga dalam menyampaikan
materi saya tidak sendiri namun juga dibantu dengan para PPL (Penyuluh Pekerja
Lapangan). Kegiatan yang dilaksanakan berupa penyuluhan yang dilakukan di Balai Desa
Kaliombo dengan petani desa Kaliombo yang telah diundang sebelumnya dengan surat

undangan yang dibagikan satu persatu saat mendatangi rumah petani (door to door).
Penyuluhan yang diberikan berupa dampak penggunaan pupuk anorganik yang
berlebihan, pentingnya menggunakan pupuk organik bagi tanaman, serta demonstrasi
bagaimana membuat pupuk organik. Penyuluhan kemudian dilanjutkan dengan aplikasi
langsung saat tanam padi pada demplot (demonstration plot) milik bapak SyafiI yang
sudah ditetapkan sebagai lahan demonstrasi antara petani dan PPL.
Reaksi yang diberikan oleh petani saat diberikan materi mengenai pupuk organik
cukup baik meski menurut mereka materi yang diberikan sudah cukup sering diterima
oleh petani. Hal ini dikarenakan ada sedikit demonstrasi yang diberikan saat materi
disampaikan. Selain itu petani cukup terkesan dengan para mahasiswa yang mau langsung
terjun ke sawah saat mendemonstrasikan penggunaan pupuk organik tersebut. Menurut
petani kurang sampainya materi yang diberikan mengenai pupk organik selama ini
dikarenakan para penyuluh yang memberikan materi kurang memberikan praktek
langsung serta demonstrasi sehingga terkesan masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Dengan adanya demonstrasi yang diberikan mahasiswa diharapkan petani mau memulai
menggunakan pupuk organik untuk melestarikan tanah dan mengurangi residual pupuk
anorganik
Beberapa kendala yang dialami diantaranya kurangnya minat beberapa petani dalam
mempelajari pupuk organik sehingga tidak semua petani yang datang saat penyuluhan
diberikan. Selain itu juga banyak petani justru tidak memperhatikan dan malah ngobrol
sendiri. Hal ini dapat dimaklumi karena terkadang mahasiswa juga cukup sering tidak
mendengarkan dosen saat menjelaskan materi kuliah. Selain itu adanya PPL cukup
membantu dalam mengkondisikan peserta kembali kondusif lagi. Tidak terbiasanya
mahasiswa dalam mengolah lahan saat demonstrasi di demplot juga menyebabkan dalam
mengolah lahan dengan pupuk organik membutuhkan waktu lama. Kendala selebihnya
dapat ditangani oleh mahasiswa sendiri.
Penyuluhan tidak sepenuhnya terlaksana secara langsung saat disampaikan namun
memerlukan proses yang lama sehingga potensi pengembangan penggunaan pupuk
organik dalam teknik budidaya khususnya dalam budidaya padi masih memiliki
kesempatan yang besar untuk dikembangkan. Harapan saya pengaplikasian pupuk
organik tidak hanya berhenti saat materi penyuluhan, praktek pembuatan, dan
demonstrasi diberikan namun dapat berkelanjutan sehingga produktivitas padi di masa
mendatang menjadi meningkat dan optimal.

B.

Pengenalan dan Penyuluhan Penyakit Cacar Teh dan


Tumor Sengon
Nomor Sektor : 2.2.07
Sifat Program : Pokok

Deskripsi Program :
Dalam setiap kegiatan budidaya tanaman untuk mencapai hasil maksimal kendala
yang dihadapi pada umumnya yaitu serangan organism pengganggu tanaman (OPT).
Biasanya dapat berupa hama, virus, maupun bakteri yang dapat menghambat
pertumbuhan bahkan mematikan tanaman. Karna itu perlu dipahamai mengenai organism
yang bersangkutan. Termasuk cara pengendaliannya sehingga tidak merugikan.
Tujuan dari pengendalian penyakit tanaman adalah untuk mencegah terjadinya
kerugian ekonomis serta menaikkan nilai hasil produksi dari tanaman yang kita usahakan.
Oleh karena itu, pada umumnya kita perlu memperhatikan dan mengendalikan penyakit
tanaman yang dapat menimbulkan kerugian.
Pengendalian penyakit tanaman adalah salah satu aspek dari banyak hal yang perlu
diperhatikan dalam mengusahakan sesuatu tanaman. Oleh karena itu, kita perlu
memecahkan usaha pengendalian penyakitnya, dalam suatu program penanaman tanaman
yang kta usahakan, agar dapat memberikan hasil yang setinggi-tingginya, baik kuantitas
maupun kualitas dari hasil tersebut. Bahkan kalau mungkin didalam satu tindakan
tersebut secara operasionalnya dapat sekaligus dilakukan pengendalian terhadap beberapa
penyakit, hama dan gangguan lainnya.
Jelaslah bahwa maksud dan tujuan dari pengendalian penyakit tanaman tersebut ialah
untuk mempertahankan tingkat produksi yang tinggi, mantab dan berkesinambungan,
tetapi secara ekologis dan ekonomis dapat dipertanggung jawabkan; bahkan sekarang ini
perlu pertimbangan terhadap kelestarian lingkungan.
Banyaknya penyakit yang dihadapi oleh para petani membuat saya tertarik dalam
mengusung program ini, meski pada dasarnya saya mahasiswa dengan major pemuliaan
tanaman dan bukan proteksi tanaman namun demi rasa pengabdian kepada desa
Kaliombo saya bertekat tetap melakukannya. Toh saya nantinya lulus dengan gelar S.P
(Sarjana Pertanian bukan Sarjana Pemuliaan Tanaman).
Penyakit yang terdapat didusun Kaliombo umumnya menyerang tanaman utama
seperti cacar teh, tumor sengon, penyakit cengkeh, maupun serangan hama wereng pada
tanaman padi (penjelasan mengenai tanaman padi akan dibahas pada point berikutnya).
Dugaan awal daerah Kaliombo merupakan daerah endemic penyakit dan juga daerah
Kaliombo yang merupakan dataran tinggi dapat mendukung secara ekologi OPT
penyebab cacar teh maupun tumor sengon dapat berkembang dengan baik, sedangkan
ledakan hama wereng merupakan akibat dari populasi tanaman padi yang cukup besar
didesa Kaliombo. Karena itu diperlukan juga pengetahuan mengenai kultur teknis mupun

cara penanganan yang mudah untuk dilaksanakan oleh petani sehingga serangan penyakit
dapat ditekan. Kurangnya informasi mengenai penyakit yang bersangkutan membuat
petani sangat antusias saat kegiatan ini dilaksanakan.
Kegiatan yang dilaksanakan berupa penyuluhan yang dilakukan di Balai Desa
Kaliombo dengan petani desa Kaliombo yang telah diundang sebelumnya dengan surat
undangan yang dibagikan satu persatu saat mendatangi rumah petani (door to door).
Sebelumnya dilakukan pendalaman materi dengan mempelajari tentang cacar teh dan
tumor sengon melalui pencarian di internet, literature berupa jurnal maupun bertanya
dengan rekan dengan major proteksi tanaman. Persiapan materi memerlukan waktu
yang lama. Hal ini dikarenakan diperlukan pemahaman yang cukup untuk disampaikan
kepada petani, sehingga materi yang disampaikan tepat guna serta tepat aplikasi. Materi
yang telah didapatkan dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dicerna oleh audience
saat disampaikan. Kemudian dilakukan penyuluhan dengan merangkul BP3K (Balai
Penyuluhan Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan) sehingga dalam menyampaikan
materi saya tidak sendiri namun juga dibantu dengan para PPL (Penyuluh Pekerja
Lapangan). Kehadiran PPL cukup membantu saat menyampaikan materi. Hal ini
dikarenakan beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada saya yang tidak bisa saya
jawab, dibantu oleh PPL yang bersangkutan.
Beberapa kendala yang dialami diantaranya kurangnya minat beberapa petani dalam
mempelajari pupuk organik sehingga tidak semua petani yang datang saat penyuluhan
diberikan. Selain itu juga banyak petani justru tidak memperhatikan dan malah ngobrol
sendiri. Hal ini dapat dimaklumi karena terkadang mahasiswa juga cukup sering tidak
mendengarkan dosen saat menjelaskan materi kuliah. Selain itu adanya PPL cukup
membantu dalam mengkondisikan peserta kembali kondusif lagi. Kurangnya pemahaman
dikarenakan materi yang diangkat bukan major saya juga menjadi faktor penghambat
dalam penyampaian materi ini. Namun dapat diatasi dengan bantuan dari PPL.
Demonstrasi yang minim diberikan karena serangan akibat penyakit merupakan efek yang
berkepanjangan juga menyulitkan saya dalam menyampaikan materi kepada petani.
Kendala selebihnya dapat ditangani oleh mahasiswa sendiri.
Serangan hama penyakit ini menyerang tanaman utama dan juga pengetahuan tentang
penanganan penyakit yang masih kurang membuat pengenalan tentang penanganan OPT
pada tanaman teh dan sengon masih memiliki kesempatan yang besar untuk
dikembangkan. Harapan saya materi tentang penanganan penyakit pada tanaman teh dan
sengon tidak hanya berhenti saat materi penyuluhan diberikan namun dapat dipraktekkan

dan menjadi proses berkelanjutan sehingga produktivitas teh dan sengon di masa
mendatang menjadi meningkat dan optimal.

C. Optimasi Penggunaan Lahan Pekarangan

Nomor Sektor : 2.2.09


Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Tanpa banyak disadari bahwa lahan pekarangan bila dikelola secara optimal dan
terencana dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi menunjang kebutuhan gizi
keluarga disamping sekaligus untuk keindahan (estetika). Lahan pekarangan dapat
dikembangkan sebagai sumber pangan, bahkan menambah nilai estetika dengan menanam
berbagai macam tanaman hias, buah-buahan dan sayuran.
Pekarangan adalah sebidang tanah disekitar rumah yang terbatas sering dipagari danada
juga yang tidak dipagari, biasanya ditanami dengan beranekaragam jenis tanaman yang
berumur panjang, berumur pendek, menjalar, memanjat, semak, pohon rendah dan tinggi
serta terdapat ternak. Pemanfaatan pekarangan sesungguhnya sangat menguntungkan,
karena dipekarangan dapat menciptakan lingkungan hidup yang nyaman, sehat dan estetis
karena dengan tanaman di lahan pekarangan akan dapat mengkreasikan seluruh aktifitas
secara maksimal setiap anggota keluarga.
Budidaya tanaman pangan di pekarangan bukan merupakan hal baru. Praktek
pemanfaatan demikian sudah lama dilakukan terutama di pedesaan. Namun demikian,
seiring berjalnnya waktu kebiasaan tersebut semakin ditiggalkan, dan banyak pekarangan
di pedesaan justru tidak dimanfaatkan, dibiarkan terlantar dan gersang.
Bertolak belakang dengan kecendrungan di atas, jumlah penduduk akhir-akhir ini terus
mengalami peningkatan sehingga kebutuhan bahan panganpun semakin bertambah.
Pemenuhan kebutuhan pangan tersebut banyak menemui permasalahan, diantaranya
adalah fenomena perubahan iklim global yang berpengaruh pada tingkat produksi dan
distribusi bahan pangan, penyempitan lahan pertanian akibat penggunaan di bidang non
pertanian, dan tingginya tingkat degradasi lahan sehingga menyebabkan berkurangnya
hasil panen.
Oleh sebab itu, strategi baru dalam pemenuhan bahan pangan, diantaranya melalui
pemanfaatan lahan pekarangan, perlu dikembangankan. Apabila dimanfaatkan secara
optimal maka permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan, sebagaimana disebutkan di
atas, kemungkinan besar dapat dikurangi. Hal ini sejalan dengan salah satu program
utama BP3K yaitu optimalnya penggunaan pekarangan untuk pemenuhan kebutuhan
pangan.
Masih terlantarnya pekarangan warga yang notabene sangat luas serta prospektif
untuk pemanfaatan tanaman khususnya tanaman pangan dan hortikultur membuat saya

tertarik untuk mengangkat program ini. Dalam pelaksanaan program ini saya dibantu oleh
rekan saya dari Institut Pertanian Bogor yang melakukan kegiatan KKN di desa yang
sama. Rekan saya bernama Novie Nabilla merupakan mahasiswa Arsitektur Lanskap
dimana pemanfaatan lahan pekarangan merupakan salah satu ilmu major yang ia pelajari
sehingga tak sulit untuk mengaplikasikan ilmunya dalam program ini. Saya bersama
dengan Novi menggunakan teknik vertikultur (vertical garden) dalam pemanfaatan
pekarangan. Komoditas yang digunakan merupakan komoditas hortikultura yang bukan
komoditas asing dan biasa dikonsumsi masyarakat yaitu bayam merah, selaba, kangkung,
dan cabai.
Vertikultur sendiri merupakan teknik bercocok tanam secara vertical dengan
menyusun tanaman secara bertingkat dari bawah ke atas. Teknik vertikultur adalah teknik
bercocok tanam yang dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan lahan terbatas/sempit
agar lebih optimal. Teknik vertikultur bisa dilakukan dengan berbagai macam wadah
(tempat media tanam) seperti pipa paralon, botol bekas, pot, polybag, atau wadah lainnya
sesuai kebutuhan serta kreatifitas masing-masing. Sekilas teknik ini nampaknya rumit
namun pada dasarnya teknik bercocok tanam secara vertikultur ini tidak jauh berbeda
dengan bercocok tanam secara konvensional, hanya saja cara menyusun/meletakkannya
saja yang berbeda. Tingkat kesulitannya tergantung pada teknik, system, dan model yang
digunakan. Pada program ini digunakan pralon dan botol bekas sebagai model
pertanamannya.
Persiapan yang dilakukan sebelum program ini dimulai yaitu dengan

membeli

peralatan untuk keperluan vertikultur yaitu berupa semen, ember bekas, botol bekas, tali
raffia, serta pralon. Sedangkan alat yang dibutuhkan yaitu solder, lilin, koerk api, serta
pengaduk semen. Pada dasarnya vertikultur dapat menggunakan barang-barang bekas
seperti botol bekas, ember bekas, dan pralon bekas. Namun sulit untuk menemukan
barang-barang bekas di desa Kaliombo dikarenakan masyarakatnya langsung membakar
sampah ketika tidak digunakan lagi sehingga penggunaan barang bekas dengan membeli
barang-barang bekas di tukang rosok. Namun demikian tidak mengurangi esensi
penggunaan barang bekas dalam pemakaian teknik vertikultur ini. Setelah bahan dan alat
sudah disiapkan kemudian dibuat wadah untuk media tanamnya. Untuk botol bekas
disambung dengan tali raffia dan disusun berjarak sedemikian rupa sehingga nampak
seperti pot-pot yang menggantung, sedangkan untuk pralon ditanam di ember berisi
semen dan pada badan pralon diberi lubang berjarak sebagai lubang tanam nantinya
sehingga pralon nampak seperti pot yang menjuntai ke atas. Pembuatan wadah vertikultur

ini membutuhkan waktu yang lama karena diperlukan 5 unit untuk vertikultur dari botol
plastic dan 4 unit untuk vertikultur dari pralon dengan total dibutuhkan 30 botol plastic
dan 4 batang pralon. Namun kami tetap membuatnya dengan senang dan sukacita ^.^ .
Setelah selesai kemudian disosialisasikan ke masyarakat khususnya kepada anak SD dan
TK yang kemudian hasil dari vertikultur tersebut diletakkan di pekarangan TK, SD, dan
balai desa dengan tujuan menambah estetika pekarangan dan dapat dilihat dan dicontoh
oleh masyarakat, yang kemudian hasil dari vertikultur ini dapat dimanfaatkan langsung
sebagai bahan pangan maupun untuk keperluan lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang
baik dari vertikultur ini digunakan media tanam berupa pupuk, sekam padi, dan tanah
dengan perbandingan 1:1:1. Anak-anak baik TK dan SD diminta untuk mencapurkan
media tanam dan meletakkannya di dalam vertikultur, kemudian menanam benih dan
menyiramnya dengan teknik yang benar. Dengan demikian anak-anak juga diedukasi
mengenai cara bercocok tanam yang baik dan benar. Kemudian perawatan dan
pemeliharaannya diserahkan kepada anak-anak SD dan TK sementara vertikultur yang
ditempatkan dibalai desa disiapkan, ditanam, dan dirawat secara swadaya oleh mahasiswa
yang kemudian ditempatkan dibalai desa. Anak-anak TK dan SD yang diserahkan
tanggung jawab untuk merawat ini setidaknya dapat diedukasi untuk bagaimana
memelihara dan merawat tanamannya dengan baik sehingga dapat memotivasi untuk
menerima dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik.
Beberapa kendala yang dialami saat menjalani program yaitu minimnya tenaga yang
paham mengenai pembuatan vertikultur sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama
untuk membuat wadahnya. Pembuatan vertikultur tidak semata-mata hanya melubangi
botol dan menyambung dengan raffia, melubangi paralon dan menanamnya dalam semen
namun lebih dari itu melibatkan perasaan yang lebih dalam namun perlu memperhatikan
jarak antar lubang di pralon dan jarak antar botol saat digantung sehingga setiap tanaman
dapat terdistribusi cahaya dengan merata serta mendapat ruang untuk tumbuh dengan
optimal. Jarak antar lubang sepanjang 20 cm sedangkan antar botol sepanjang 15 cm
dengan presisi yang baik sehingga nampak sejajar saat digantungkan.
Tingginya antusias para murid serta guru TK dan SD serta tanggapan positif dari para
perangkat desa dan masyarakat membuat saya menarik kesimpulan bahwa vertikultur
merupakan teknik yang baru di masyarakat desa Kaliombo dan menarik perhatian untuk
dipraktekkan. Optimasi pekarangan melalui teknik vertikultur dengan hortikultura sebagai
komoditasnya masih memiliki peluang yang tinggi untuk dikembangkan di desa
Kaliombo. Harapan saya program ini tidak hanya berhenti pada saat materi dan

demonstrasi diberikan namun dapat ditindaklanjuti dan dapat menjadi proses


berkelanjutan

sehingga

pemanfaatan

pekarangan

untuk

kebutuhan

sehari-hari

terutamanya pangan dan obat menjadi lebih optimal dan dapat menambah estetika
pekarangan rumah.

D. Pengenalan Pentingnya Sektor Pertanian bagi Bangsa kepada Anak Usia Dini
Nomor Sektor : 2.2.19
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Di suatu Negara besar seperti Indonesia, di mana ekonomi dalam negerinya masih di
dominasi oleh ekonomi pedesaan sebagian besar dari jumlah penduduknya atau jumlah
tenaga kerjanya bekerja di pertanian. Di Indonesia daya serap sektor tersebut pada tahun
2000 mencapai 40,7 juta lebih. Jauh lebih besar dari sektor manufaktur. Ini berarti sektor
pertanian merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Pembangunan
pertanian di Indonesia pandang penting dari keseluruhan pembangunan nasional, hal ini
didasari atas peranan penting sektor ini, antara lain: potensi Sumber Daya Alam yang
besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya
pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan
hidupnya pada sektor ini, serta perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan
menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Banyak orang memperkirakan bahwa dengan
laju pertumbuhan penduduk di dunia yang tetap tinggi setiap tahun, sementara lahan-

lahan yang tersedia untuk kegiatan-kegiatan pertanian semakin sempit, maka pada suatu
saat dunia akan mengalami krisis pangan. Bukan hanya dialami oleh Indonesia tetapi
secara umum ketergantungan negara agraris terhadap impor pangan semakin besar.
Pendapatan sebagian besar rakyat Indonesia yang merupakan negara agraris ini
bergantung dari hasil pertanian dan sebagian dari mereka masih hidup di bawah garis
kemiskinan. Apabila hasil pertanian dapat ditingkatkan beberapa kali lipat saja, maka
daya serap tenaga kerja juga pasti akan menguat. Indonesia yang memang masih
mengalami beberapa masalah tentang ketenagakerjaan ini tidak memiliki pilihan lain
selain melakukan peningkatan pada sektor pertanian. Dengan kondisi alam yang begitu
menguntungkan, bukan tidak mungkin tingkat kemakmuran petani negara Indonesia dapat
mengimbangi bahkan melebihi petani-petani di negara-negara maju seperti Jepang, Korea
Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura dan negara lainnya.
Dengan potensi-potensi yang dimiliki oleh pertanian Indonesia tersebut, maka
dianggap penting untuk mengangkat progam ini. Seluruh penduduk desa Kaliombo
bermata pencaharian petani, baik petani padi, teh, maupun petani cengkeh. Minimnya
pekerja-pekerja dibidang pertanian membuat saya sebagai mahasiswa pertanian mengajak
untuk para anak-anak maupun remaja untuk tidak malu dan terus bergerak dibidang
pertanian. Banyak generasi muda yang masih beranggapan bahwa bidang pertanian masih
erat kaitannya dengan jorok, berlumpur, panas, bau, dan sebagainya. Padahal pertanian
sekarang tidak hanya berkutat dengan hal-hal semacam itu saja. Pertanian sekarang
apabila dikelola dengan teknik yang baik dan berorentasikan agribisnis dapat memberikan
keuntungan yang maksimal. Saya, melalui program ini, mengajak generasi muda
khususnya warga Kaliombo untuk menjadi agen pahlawan-pahlawan pangan terlebih
untuk daerahnya.
Program ini dibuat sedemikian rupa sehingga menarik dan dapat diserap oleh anakanak, khususnya anak TK dan SD. Berupa ajakan dan kalimat motivasi, program ini
diselipkan saat kegiatan Optimasi Pekarangan serta kegiatan Bagi Susu dan Telur
dilakukan. Audience diberikan informasi mengenai keadaan sector pertanian serta
peluang-peluang yang bisa diraih dari sector ini. Dengan kata lain, melalui program ini
memutar paradigm yang selama ini ada dan salah di bidang pertanian. Aaudience cukup
antusias saat materi ini disampaikan, bahkan ada yang ingin menjadi insinyur pertanian
saat materi ini disampaikan. Secara keseluruhan program ini berjalan sesuai yang
direncanakan.

Program ini juga tak luput dari kendala saat dilaksanakan yaitu diantaranya audience
yang masih berumur belia (antara TK dan SD) sehingga memerlukan tenaga, waktu, dan
kesabaran yang lebih dalam menyampaikan materi. Hiperaktifnya anak membuat
pemateri cukup kesulitan dalam menyampaikan materi. Namun hal ini dapat diatasi oleh
mahasiswa. Suasana cukup kondusif dan materi tersampaikan kepada audience. Harapan
saya melalui program ini mampu menggugah kembali insan-insan tani dengan gagah
berani memperjuangkan pertanian dimasa yang akan datang.

E. Pengadaan Alat Media Penyuluhan Pertanian


Nomor Sektor : 2.2.19
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah,
peantara, atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan
kepada penerima pesan. The Association for EducationalCommunications Technology
(AECT), menyebutkan media sebagai bentuk dan saluranyang digunakan orang untuk
menyalurkan pesan atau informasi. Gagne (1970), mengatakan bahwa media adalah
berbagai jenis komponen dalam lingkungan sasaran yang dapat merangsang untuk belajar.
Sedangkan penyuluhan berasal dari kata suluh yaitu sesuatu yang digunakan untuk
memberi penerang. Jadi media penyuluhan adalah suatu benda yang dikemas sedemikian
rupa untuk memudahkan penyampaian materi kepada sasaran, agar sasaran dapat
menyerap pesan dengan mudah dan jelas.

Demi keberhasilan tugas menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pertanian, para


penyuluh harus mampu melaksanakan secara teratur dan berkesinambungan dalam
memberikan penyuluhan kepada petani. Pada setiap kegiatan penyuluhan, para penyuluh
mengunjungi dan mengobservasi setiap permasalahan yang ada di daerah tertentu
kemudian dilakukan kegiatan penyuluhan, transfer materi yang dimiliki penyuluh kepada
petani untuk mengatasi permasalahan yang ada didaerah tersebut. Saya menempatkan diri
sebagai penyuluh telah melakukan observasi dan identifikasi permasalahan-permasalahan
yang ada di desa Kaliombo terkait dengan pertaniannya, baik serangan hama penyakit
maupun teknis budidaya yang selama ini keliru di masyarakat. Kemudian dilakukan
penyuluhan dan transfer materi yang diikuti dengan praktek dan demonstrasi. Namun ada
kalanya penerapan ilmu dan teknologi baru yang diberikan oleh penyuluh terhenti saat
para penyuluh mengakhiri kegiatan penyuluhannya. Tidak berkesinambungannya
penerapan ilmu dan teknologi baru ini disebabkan kurangnya monitoring maupun
keterbatasan akses informasi petani terhadap materi yang telah diberikan. Monitoring
dalam hal ini merupakan ranah kerja PPL, ranah kerja saya dalam kegiatan penyuluhan
ini ialah memberikan akses informasi yang cukup mudah diperoleh/diakses oleh petani.
Oleh karena itu penting bagi saya untuk mengangkat program ini untuk memenuhi
kebutuhan petani akan informasi terkait permasalahan pertanian di desa Kaliombo dan
penanganannya.
Program ini dilaksanakan dengan tujuan agar informasi tidak terhenti saat penyuluhan
selesai diberikan, namun dapat berkesinambungan meski saat penyuluhan telah selesai,
petani masih dapat mengakses informasi terkait melalui alat penyuluhan seperti poster,
leaflet, dan modul. Alat penyuluhan mengandung konten-konten yang relevan dengan
permasalahan pertanian yang ada di desa Kaliombo seperti penanganan penyakit cacar teh
dan tumor sengon, teknik pemupukan yang baik pada tanaman teh, pembuatan pupuk
organic, serta teknik budidaya tanaman padi yang baik untuk memperoleh hasil yang
maksimal. Alat penyuluh ini sebagai penunjang materi saat penyuluhan dilakukan.
Sehingga alat penyuluhan ini digunakan baik saat penyuluhan berlangsung maupun saat
penyuluhan usai. Alat penyuluhan berupa poster ditempatkan di papan pengumuman yang
telah disediakan sehingga petani dapat memperoleh informasi kapanpun sehingga
informasi yang diberikan dapat terserap oleh masyarakat secara maksimal. Sementara alat
penyuluhan berupa leaflet dibagikan kepada para petani dan modul penyuluhan berisi
rangkuman materi penyuluhan dititipkan dib alai desa untuk diperbanyak secara swadaya
sesuai dengan kebutuhan warga.

Melalui program ini diharapkan warga dapat menerima informasi dengan baik karena
dibaca dan dilihat secara terus menerus sehingga tidak dibingungkan lagi dengan
kurangnya informasi mengenai pertanian di desa Kaliombo. Kendala yang dihadapi saat
kegiatan ini dilaksanakan yaitu kurangnya orang yang paham mengenai desain grafis
untuk membuat poster dan leaflet nampak menarik sehingga dalam penyusunannya
memerlukan waktu yang cukup lama. Proses percetakan dan perbanyakan juga menjadi
kendala dikarenakan minimnya percetakan yang ada didaerah desa Kaliombo. Proses
percetakan harus dilakukan daerah Kalibening maupun Paninggaran yang cukup jauh dari
Kaliombo. Namun usaha yang harus dikeluarkan untuk mengatasi kendala tersebut
terbayarkan dengan antusias para warga Kaliombo. Para petani juga berharap juga adanya
follow-up setelah kegiatan penyuluhan selesai. Adanya pengadaan alat media penyuluhan
serta kedatangan PPL dirasa warga cukup untuk melengkapi materi penyuluhan yang
telah diberikan oleh mahasiswa. Harapan saya adanya alat media penyuluhan memacu
petani untuk selalu meningkatkan produktivitas dan semakin terpacu untuk menggali
informasi terkait dengan tanaman yang menjadi tanaman budidaya di daerah Kaliombo.

F. Penyuluhan Pentingnya Konsumsi Susu dan Telur serta Pembagian Susu dan Telur
untuk Anak TK dan SD
Nomor Sektor : 2.4.16

Sifat Program : Pokok


Deskripsi Program :
Protein hewani yang berasal dari daging, telur dan susu mampu membuat
pertumbuhan sel-sel organ tubuh dengan baik. Protein hewani ini juga membentuk otak
manusia dan sel darah merah lebih kuat sehingga tidak mudah pecah, karenanya membuat
otak

manusia

dan membuat

organ

bisa

cerdas,

meningkatkan

prestasi

dan

produkitivitasnya. Kekurangan kalori protein juga menjadikan seseorang peka terhadap


penyakit dan akan gampang sakit. Oleh karena itu dianjurkan agar daging telur dan susu
sudah diberikan sejak dini, agar lahir generasi yang tangguh, cerdas, sehat, produktif dan
penuh gairah. Protein hewani bermutu tinggi sangat vital untuk pembentukan otak sejak
anak masih janin sampai umur 2 tahun.
Telur adalah pangan padat gizi, karenanya telur merupakan sumber protein hewani,
sumber asam lemak tidak jenuh, sumber vitamin dan mineral. Telur sangat baik untuk
anak-anak dan orang dewasa, penderita diabetes (kencing manis) dan wanita yang ingin
sehat dan langsing. Tubuh kita sebenarnya butuh kolesterol cukup besar yaitu 1.000 s/d
1.500 gram sehari. Memakan telur dua butir sehari baru didapat 400 gram kolesterol,
lebih dari itu kolesterol dalam telur berguna untuk membentuk garam-garam empedu
yang diperlukan bagi pencernaan lemak yang berasal yang berasal dari pangan dan
diperlukan sebagai komponen pembentukan hormon seksual.
Susu adalah pangan yang paling padat gizi bila dibandingkan dengan bahan pangan
lainnya, baik ditinjau dari segi kandungan asam amino maupun vitamin dan mineral.
Demikian hebatnya kandungan gizi air susu maka minum susu secara teratur akan
mempercepat penyembuhan dan akan lancar berbicara, juga akan menyehatkan dan
mencerdaskan. Minum susu tidak menyebakan kegemukan, tetapi bagi anak malah
memperhalus kulit dan badan menjadi kebal terhadap penyakit.
Berdasarkan fakta tersebutlah saya dan rekan saya Endang Ayu Lestari, mahasiswi
Kedokteran Hewan mengangkat program ini untuk memberikan pemahaman kepada
masyarakat khususnya kepada orangtua pentingnya konsumsi susu dan telur bagi anak
usia dini, mematahkan paradigm bahwa susu dan telur masih menjadi barang mewah
sehingga konsumsi susu telur bagi anak yang masih pada usia emas menjadi optimal.
Anak dengan usia emas merupakan faktor penentu terhadap pertumbuhan dan kesehatan
anak kedepannya.
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan terlebih dahulu dipersiapkan alat dan bahan untuk
menunjang kegiatan ini. Saya dan Endang membeli susu dalam kemasan seharga Rp

1.200,- di pasar serta susu kental manis dalam kaleng. Sedangkan telur yang dipersiapkan
merupakan telur puyuh dengan gizi tak kalah lengkap dengan telur ayam pada umumnya.
Susu dalam kemasan diberikan kepada anak SD N 1 Kaliombo dari kelas 1 hingga kelas
6. Pembagian susu disertai dengan edukasi pentingnya makanan sehat khususnya susu
bagi tubuh sehingga diharapkan anak-anak menjadi sadar pentingnya konsumsi susu serta
dampak positifnya bagi tubuh. Edukasi tentang pentingnya susu juga di ikuti oleh orang
tua wali yang ikut mengantarkan anaknya ke sekolah sehingga selain anak-anak, orang
tua juga menjadi sadar dan mengerti akan pentingnya susu bagi tubuh. Sementara untuk
anak TK diberikan susu kaleng yang telah dikemas sedemikian sehingga siap minum serta
telur puyuh yang telah siap makan. Mengapa pada anak TK tidak diberikan susu dalam
kemasan seperti pada anak SD? Hal ini mengingat efisiensi waktu dan tenaga mengingat
anak SD memiliki massa lebih banyak sehingga cukup sulit dalam pengkondisiannya.
Selain itu biaya juga menjadi alas an mengapa anak SD hanya diberikan susu kemasan.
Namun perbedaan ini tidak mengurangi esensi pentingnya konsumsi susu dan telur bagi
anak TK dan SD. Materi yang diberikan tetap sama dan tidak ada pembeda-pembeda dan
materi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh anak TK dan anak SD. Wali murid
pada murid-murid TK hamper seluruhnya mengantarkan putra-putrinya ke sekolah
sehingga penyampaian materi tidak hanya diterima dengan baik tidak hanya oleh murid
tetapi juga diterima dengan baik oleh wali murid. Wali murid juga menjadi sadar akan
pentingnya konsumsi susu dan telur bagi anak usia dini. Anak-anak baik TK maupun SD
sangat antusias dengan program ini. Salah satu faktornya dikarenakan mereka mendapat
susu dan telur gratis.
Kendala yang dihadapi yaitu karena anak-anak yang terlalu antusias sehingga
pengkondisian menjadi sulit. Banyak anak-anak yang berebutan susu dan telur saat
hendak dibagikan. Anak-anak menjadi kurang focus saat materi disampaikan karena
mereka sudah terbayang akan susu dan telur gratis yang akan dibagikan. Namun kendalakendala tersebut dapat diatasi oleh mahasiswa dan materi tetap tersampaikan dengan baik.
Harapan saya melalui program ini semakin meningkatkan kesadaran para anak dan
orangtua bahwa anak usia dini merupakan fase yang penting dalam pertumbuhan anak
dan konsumsi susu dan telur merupakan hal yang penting bagi anak. Kesehatan anak
menjadi terjamin sehingga masa depan anak yang merupakan masa depan bangsa juga
semakin cerah.

G. Penyuluhan Penyakit Zoonosis, Macam Penyakit Ternak dan Obatnya, Manajemen


Kandang yang Baik, Manajemen Pemberian Pakan serta Fermentasi Pakan
Nomor Sektor : 2.4.20
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :

Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah
penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak
akibat adanya kematian pada ternaknya. Banyak penyakit ternak yang idak hanya
menyerang ternak tetapi juga dapat menular kepada manusia. Penyakit ini dikenal dengan
Zoonosis.
Secara umum penyakit hewan adalah segala sesuatu yang menyebabkan hewan
menjadi tidak sehat. Hewan sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan ciri-ciri (a) bebas
dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) tidak mengandung bahanbahan yang merugikan manusia sebagai konsumen, dan (c) mampu berproduksi secara
optimum.
Banyak sekali penyakit yang dapat menyerang sapi namun demikian yang terpenting
adalah mastitis, anthrax, PMK (penyakit mukut dan kuku), dan lainnya. Disamping itu
penyakit yang mungkin sehari-hari dapat dihadapi peternak khususnya peternak desa
Kaliombo seperti cacingan, gudik, kembung perut dan lain-lainnya. Oleh karena itu,
pengetahuan mengenai pentingnya beberapa jenis penyakit ternak yang sering terjadi
sekaligus upaya penanggulangannya perlu dimiliki para pengusaha ternak. Pencegahan
penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan perkandangan yang baik misalnya
ventilasi kandang, ketersediaan bak minum, kontak antar ternak, maupun manajemen
kotorannya. Kualitas dan kuantitas pakan juga merupakan salah satu faktor sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan. Pada usaha ternak ruminansia
hampir 70 persen komponen biaya produksi berasal dari pakan. Untuk itu perhatian
terhadap standar asupan nutrisi ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok
(maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan reproduksi dari ternak.
Melalui permasalahan-permasalahan tersebut kami mengangkat program ini
mengingat desa Kaliombo merupakan salah satu desa dengan jumlah ternak paling
banyak sekecamatan Paninggaran. Dalam mengusung program ini, kami ditemani oleh
rekan-rekan KKN Tematik dari IPB yaitu Dwi Pramono, Richard, dan Cahya yang
ketiganya adalah mahasiswa/I dari Fakultas Peternakan IPB yang kebetulan kegiatan
KKNnya berlokasi di desa Kaliombo. Minimnya pengetahuan tentang penyakit penyakit
yang dialami oleh ternak dan cara menanganinya, kurangnya manajemen kandang dan
pakan (kandang dan pakan yang disediakan terkesan aras-arasen) serta pengolahan
daging yang tidak memperhatikan dampaknya kepada manusia apabila diolah
sembarangan membuat kami berinisiatif untuk melaksanakan kegiatan ini. Peternak yang

kurang paham mengenai penanganan penyakit diberikan edukasi mengenai macammacam obat, kegunaan, serta dosis anjurannya sehingga obat yang diberikan kepada
ternak tepat guna, tepat dosis, tepat sasaran sehingga tidak menyebabkan keracunan
bahkan kematian pada ternak. Sebelum diberikan edukasi ini, disiapkan contoh obatnya.
Contoh obat didapatkan dari toko perlengkapan peternakan, selain obat juga dipersiapkan
permen sapi untuk meningkatkan nafsu makan, molase dan EM4 untuk fermentasi
pakan sapi. Setelah disiapkan contoh obatnya, kemudian diolah sedemikian rupa sehingga
dapat digunakan sebagai alat bantu penyuluh: macam penyakit ternak dan
penanganannya. Selain itu juga diberikan edukasi mengenai manajemen perkandangan
yang baik, manajemen pengolahan daging sapi seperti withdrawal antara sapi saat diobati
hingga sapi siap potong sehingga aman untuk dikonsumsi, penyakit apa saja yang
menular dari ternak ke manusia (zoonosis) serta cara memberikan pakan yang baik, tidak
hanya sekedar dipotong kemudian diberikan.
Kegiatan yang dilaksanakan berupa penyuluhan yang dilakukan di Balai Desa
Kaliombo dengan petani desa Kaliombo yang telah diundang sebelumnya dengan surat
undangan yang dibagikan satu persatu saat mendatangi rumah petani (door to door).
Sebelumnya dilakukan pendalaman materi dengan mempelajari tentang zoonosis,
withdrawal time yang dimiliki oleh sapi, penggunaan obat yang baik dan benar,
pembuatan fermentasi pakan (silase) serta manajemen pakan dan kandang yang baik.
Persiapan materi dilakukan bersama anak IPB guna menyamakan persepsi dan saling
melengkapi ilmu yang dimiliki. Materi yang telah didapatkan dikemas sedemikian rupa
sehingga mudah dicerna oleh audience saat disampaikan. Kemudian dilakukan
penyuluhan dengan merangkul BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian, Perkebunan dan
Kehutanan) sehingga dalam menyampaikan materi kami tidak sendiri namun juga dibantu
dengan para PPL (Penyuluh Pekerja Lapangan). Diakhir penyuluhan kemudian dilakukan
demonstrasi mengenai cara membuat silase yang baik.
Beberapa kendala yang dialami diantaranya kurangnya minat beberapa petani dalam
mempelajari pupuk organik sehingga tidak semua petani yang datang saat penyuluhan
diberikan. Selain itu juga banyak petani justru tidak memperhatikan dan malah ngobrol
sendiri. Hal ini dapat dimaklumi karena terkadang mahasiswa juga cukup sering tidak
mendengarkan dosen saat menjelaskan materi kuliah. Selain itu adanya PPL cukup
membantu dalam mengkondisikan peserta kembali kondusif lagi. Kurangnya pemahaman
dikarenakan materi yang diangkat bukan major saya juga menjadi faktor penghambat

dalam penyampaian materi ini. Namun dapat diatasi dengan bantuan dari PPL. Kendala
selebihnya dapat ditangani oleh mahasiswa sendiri.
Harapan kami melalui program ini masyarakat menjadi lebih tahu mengenai penyakit
yang menyerang ternak dan lebih disadarkan akan pentingnya manajemen kandang dan
pakan yang baik untuk menghindari penyakit serta menunjang pertumbuhan dan
perkembangan ternak

H. Pengadaan Bak Minum Sapi


Nomor Sektor : 2.4.18
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Kebutuhan ternak akan air sama pentingnya dengan ketersedian pakan. Selengkap apa
pun zat-zat makanan yang dikonsumsinya tidak akan terserap dan tersalurkan dengan baik
ke bagian tubuhnya tanpa adanya air. Jadi, air dalam kandang harus selalu ada sepanjang
hari.
Dengan fungsinya yang penting, hendaknya jangan sampai terjadi kekosongan air
minum. Kekosongan air dalam kandang dalam beberapa jam dapat membuat ternak
menjadi kurang bergairah dan lemas. Selain itu, anakan ternak bisa mati karena tidak
diloloh induknya. Selain selalu ada, kualitas dan kebersihan air yang diberikan harus
dijaga.
Karena itu penting untuk diedukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya
ketersediaan air minum bersih kepada masyarakat. Air minum harus tersedia setiap saat
mengantisipasi rasa haus ternak yang sewaktu-waktu terjadi. Namun peternak masih
enggan dan malas untuk membuatkan tempat minum disamping tempat makan. Hal ini
yang membuat kami terdorong untuk membuat bak minum sapi dan dibagikan kepada

peternak. Bak minum yang dibuat sebanyak 10 unit. Keterbatasan dana membuat kami
hanya mampu membuatkan 10 unit, dengan harapan setelah kami mengedukasi peternak,
para peternak dapat membuat secara swadaya tempat minum untuk sapi. Tempat minum
sapi sebanyak 10 unit hanya sebagai percontohan dan demonstrasi saja. Bak minum sapi
terbuat dari jirigen yang dibolong sedemikian rupa sehingga sapi bisa menggapai air
minum yang ditempatkan pada jirigen tersebut. Edukasi diberikan saat penyuluhan dibalai
desa maupun saat penyerahan bak minum sapi kepada peternak.
Masyarakat menyambut program ini dengan antusias karena pengenalan dan
pengadaan bak minum sapi masih merupakan hal yang baru di masyarakat. Selama ini
masyarakat masih malas dan belum rutin memberikan air minum secara kontinyu kepada
ternaknya. Kendala yang dihadapi yaitu kurangnya yaktu yang dibutuhkan saat
pengadaan bak air minum ini dikarenakan program ini berjalan diminggu-minggu terakhir
sebelum penarikan. Namun dengan kerjasama tim yang baik kami mampu mengatasi
permasalahan ini.
Harapan kami melalui program ini masyarakat disadarkan akan pentingnya
manajemen kandang yang baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan ternak
khususnya ketersediaan air minum sehingga ternak menjadi lebih sehat dan berdaya jual
tinggi

I.

Pemberdayan Masyarakat Khususnya Anak Usia Dini


Nomor Sektor : 3.9.04
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Ada beberapa alasan mengapa penting belajar berorganisasi yang bahkan sebaiknya
dibina dari sejak dini: 1).Melatih Anak Bersosialisasi. Organisasi membuat tidak kuper.
Akan akan terlatih untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Dan hal ini sangat
berguna bagi anak kedepannya. Contoh organisasi yang baik untuk bersosialisasi yaitu
OSIS, organisasi intra ini membuat anak dekat dengan siswa lain sekaligus dengan
banyak guru.; 2).Memberikan Pelajaran untuk meyakinkan orang lain. Belajar
berorganisasi melatih anak agar dapat melobi atau membuat proposal yang meyakinkan
untuk diakui dan diterima orang lain. Demikian pula ketika terjun ke dunia nyata kelak,
untuk memperoleh satu proyek besar, anak harus bisa mengajukan lobi yang
menyakinkan untuk menang.; 3).Merangsang Kreativitas. Manfaat berorganisasi yang
paling terasa adalah anak akan terlatih untuk menjadi pribadi yang kreatif, selalu
memiliki ide-ide, dan terangsang untuk berpikir di luar kerangka yang baku; 4).Membuat
anak menjadi pribadi yang menarik. Kalau anak aktif berinteraksi maupun berorganisasi,
setiap mata akan tertuju pada anak. Anak akan jadi idola dan terkenal di kalangan teman-

teman sekolah. Karena itu melatih anak untuk selalu tampil menawan dan menarik hati;
5).Mengajarkan kerja keras, tanggung jawab, pantang menyerah dan tidak suka
berpangku tangan. Manfaat berorganisasi yang paling dirasakan adalah anak akan
menjadi pribadi yang optimis, penuh tanggung jawab, tidak mudah menyerah, dan tekun.
Seandainya anak ditunjuk sebagai ketua panitia sebuah kegiatan, tentu anak harus
menyelesaikannya karena ada laporan pertanggungjawaban yang harus dibuat kemudian.
Hal-hal tersebutlah yang saya peroleh saat mengikuti berbagai macam kegiatan dan
keorganisasian. Meski saya mahasiswa dengan mayor pertanian namun dengan ilmu
keorganisasian yang saya peroleh, saya ingin membagikan ilmu tersebut dalam kegiatan
KKN kali ini. Beberapa kegiatan yang saya usung melalui program ini yaitu Kemah Bakti
Siswa (KBS) dan mengajar Pramuka. Saya yakin melalui Pramuka juga mampu
memberikan pembelajaran penting seperti bersosialisasi, manajemen tim dan softskill.
Pembelajaran Pramuka dilakukan kepada anak SD dan SMP. Pembelajaran Pramuka
untuk SD diberikan tiap hari pada jam 9 hingga 11, sedangkan untuk anak SMP dilakukan
tiap hari Jumat setelah melaksanakan ibadah Jumat. Kemah Bakti Siswa (KBS)
merupakan kegiatan yang diadakan oleh SMP Satap Kaliombo, diperuntukkan untuk
murid baru SMP Satu Atap (SATAP) Kaliombo. Kegiatan kali ini berkolaborasi dengan
mahasiswa/I KKN dengan beberapa konsep dikerjakan oleh mahasiswa KKN UGM
seperti renungan malam dan wisata medan/outbond. Mahasiswa merencanakan konsep
lalu dalam pengerjaannya mahasiswa merangkul teman-teman dari SMP sehingga temanteman SMP juga dapat belajar menjalankan suatu kegiatan, bekerja sama dalam suatu tim,
serta belajar manajemen diri serta tim. Siswa antusias saat mengikuti kegiatan ini baik
siswa SD maupun SMP. Bahkan ada siswa bertemu disana diluar jam kegiatan dan
bertanya: Mas kapan ngajar lagi?, Mas ayo ngajar lagi.
Berapa kendala yang saya hadapi yaitu sulit untuk mengendalikan massa khususnya
anak SD, ada beberapa siswa yang masih mengikuti kegiatan dengan ogah-ogahan,
kurang koordinasi antara mahasiswa dengan guru, mahasiswa dengan murid sehingga
beberapa kegiatan masih mengalami miss-communication. Sedangkan kegiatan KBS
sendiri kendala yang ditemui berupa masih pasifnya anak-anak saat diberi penjelasan dan
diberi tugas saat kegiatan berlangsung, kurang komunikasi sehingga menyebabkan misscommunication antara murid dan mahasiswa, kondisi medan yang berbeda dengan
rencana awal sehingga masih ada pergantian rencana yang mendadak sehingga
mahasiswa dituntut untuk berimprovisasi. Namun kendala tersebut masih dapat
dikendalikan oleh mahasiswa dan kegiatan dapat berjalan sesuai rencana. Harapan saya

melalui kegiatan ini mereka bisa menerima dan merasakan sensasi belajar berorganisasi
dan mendapatkan beberapa ilmu seperti yang pernah saya dapatkan sebelumnya

J.

Revitalisasi
(Demonstration Plot)

Gapoktan

serta

Pembuatan

Demplot

Nomor Sektor : 2.2.14


Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Dalam upaya menuju pembangunan pertanian yang lebih maju, peran kelembagaan
pertanian perlu didorong untuk memberikan kontribusi terhadap hal tesebut.
Kelembagaan pertanian menjadi sebuah penggerak utama untuk mencapai kemajuan
pertanian. Kelompok tani menjadi salah satu kelembagaan pertanian yang berperan
penting dan menjadi ujung tombak karena kelompok tani merupakan pelaku utama dalam
pembangunan pertanian.
Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai
peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan
permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan.
Melihat potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut
agar dapat berkembang secara optimal dan mendukung pembangunan pertanian.
Berdasarkan uraian tersebut saya merasa tertarik untuk mengangkat program ini
mengingat kelompok tani di desa Kaliombo sebenarnya cukup berpotensi namun sudah
vakum cukup lama. Kelompok tani ini diketuai oleh bapak Sudigyo yang juga memiliki
jabatan sebagai sekretaris desa. Vakumnya kelompok tani ini disebabkan karena
anggotanya satu persatu mulai meninggalkan kelompok tani tersebut, tidak ada peraturan
maupun regulasi yang jelas dalam kelompok tani tersebut, dan kelompok tani yang
dibentuk oleh pabrik PT. Pagilaran lebih dominan dibanding dengan kelompok tani
swadaya masyarakat itu sendiri. Tantangan-tantangan tersebut yang membuat bapak
Sudigyo mulai enggan dan pasrah kelompok taninya mulai vakum. Selain itu PPL yang
kurang memperhatikan perkembangan Kelompok Tani juga dinilai menjadi salah satu
kemunduran Kelompok Tani ini. Kegiatan ini dikemas dengan mempertemukan kembali
PPL dengan Kelompok Tani Kaliombo yang kemudian Kelompok Tani diberikan
penyuluhan mengenai Kelompok Tani khususnya regulasi-regulasi dan kegiatan yang
seharusnya ada dalam kelompok tani tersebut. Setelah diberikan penyuluhan oleh
mahasiswa kemudian dibuka ruang untuk diskusi, diberikan sedikit materi dan sedikit
motivasi oleh PPL untuk membangkitkan kembali Kelompok Tani Kaliombo. Hasil
diskusi tersebut memutuskan untuk dibuatkan demonstration plot (demplot) yang untuk
sementara di sawah bp. SyafiI. Demplot merupakan salah satu sarana yang harus dimiliki
oleh Kelompok Tani sebagai tempat demonstarsi dan sharing ilmu antara PPL dengan
Kelompok Tani. Demplot juga sebagai lahan percontohan untuk mengaplikasikan

teknologi baru yang sudah teruji kepada petani sehingga petani bisa melihat, memahami,
dan menirunya. PPL juga turun kelahan dalam penyampaian materi mengenai Teknik
Budidaya Tanaman Padi yang Benar. Bersama dengan mahasiswa, PPL memberikan
materi mengenai penggunaan pupuk organik, jarak tanam, serta sistem Jajar Legowo yang
tidak semua petani mengetahuinya. Pengerjaan model budidaya tanaman padi ini juga
ditemani oleh rekan dari KKN IPB. Kendala yang ditemui saat program ini dijalankan
yaitu kurang antusiasnya Kelompok Tani dilihat dari sedikitnya peserta yang datang saat
materi diberikan, terbenturnya waktu tanam padi dengan demonstrasi dijalankan sehingga
hanya beberapa yang melihat proses penanaman padi yang benar, PPL yang datang tidak
tepat pada waktunya serta mahasiswa yang membantu masih terlalu awan untuk terjun
langsung kesawah sehingga membutuhkan waktu yang lama saat penanaman padi
dilaksanakan. Harapan saya melalui kegiatan ini serta inisiasi demplot pertama menjadi
batu loncatan untuk Kelompok Tani menjadi aktif kembali, para petani dapat dimanage
dengan baik, keserempakan dalam kegiatan budidaya, sehingga kualitas dan produktifitas
pertanian dapat meningkat.

K. Pembinaan Teknis Budidaya Padi yang Baik dan Benar


Nomor Sektor : 2.2.05
Sifat Program : Pokok
Deskripsi Program :
Padi merupakan salah satu komoditas utama di desa Kaliombo disamping teh sengon
dan cengkeh. Padi sudah mulai dibudidayakan sejak lama dan turun temurun demikian
juga ilmu mengenai teknik budidayanya. Hasil dari budidaya tanaman padi ini biasanya
dikonsumsi sendiri namun apabila ada kebutuhan mendesak maka hasilnya dijual.
Kepemilikan lahan juga beragam antara 0.3 hektar hingga 0.5 hektar. Petani padi didaerah
Kaliombo tergolong cukup banyak. Sekitar 55% warganya memiliki lahan padi disamping
lahan the dan cengkeh. Banyak kendala yang dihadapi oleh petani saat betanam padi
hingga panen, seperti serangan hama penyakit dan produktivitas yang tidak sesuai
harapan. Informasi yang diberikan turun temurun menjadi salah satu penyebabnya. Petani
masih minim informasi mengenai teknis budidaya padi yang benar seperti penggunaan
pupuk khususnya pupuk organik yang masih sangat minim, jarak tanam yang masih
terkesan asal-asalan, benih yang ditanam per lubang masih sangat banyak, kurangnya
pemeliharaan khususnya penyiangan gulma. Tak heran terkadang produktivitas padi tidak
sesuai harapan.
Berdasarkan fakta tersebut saya tertarik untuk mengulas mengenai teknik budidaya
padi yang baik sehingga dapat menolong petani padi Kaliombo untuk menaikkan
produktivitasnya. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk penyuluhan serta demonstrasi
langsung di demplot yang sudah disediakan oleh Kelompok Tani. Kegiatan ini juga
merangkul PPL dari BP3K untuk membantu berjalannya kegiatan ini. PPL menyambut
baik kegiatan ini karena focus untuk kegiatan dibidang Pertanian oleh kementrian yaitu
revitalisasi tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai. Selain itu BP3K juga ingin
membenahi Kelompok Tani yang ada di tiap desa di Kec Paninggaran ini. Program ini
disambut baik juga oleh masyarakat. Beberap kendala yang dihadapi yaitu petani masih
mempertahankan ilmu yang diterima secara turun temurun meski menurut ilmu pertanian
itu masih kurang sesuai, sehingga pada saat-saat tertentu penyampaian materi menjadi
alot. Namun kendala tersebut masih dapat dibantu oleh kehadiran PPL yang ikut
memberikan materi mengenai budidaya tanaman padi ini. Harapan saya melalui program
ini masyarakat menjadi lebih sadar akan teknis budidaya tanaman padi yang benar seperti

penggunaan pupuk organik, jarak tanam yang beraturan, jumlah benih yang ditanam
sesuai standart, dan sebagainya sehingga dapat memperbaiki produktivitas padi itu
sendiri.

II.

KESIMPULAN
KKN merupakan salah satu matakuliah penting yang harus dilewati oleh setiap
mahasiswa, mengajarkan pentingnya nilai-nilai pengabdian kepada masyarakat
melalui ilmu yang dimiliki. Keberadaannya harus melalui perencanaan yang baik
sehingga pengabdian yang diberikan benar benar bermanfaat baik bagi masyarakat
maupun bagi mahasiswa itu sendiri.

III.

SARAN
Kegiatan KKN sebaiknya memperhatikan waktu pelaksanaan juga. Kegiatan KKN
yang dilaksanakan bersamaan dengan jadwal ibadah puasa dinilai kurang efektif dan
efisien sehingga tak sedikit program yang dilaksanakan dengan waktu singkat bahkan
ada yang tidak terlaksana, mengingat bahwa jam kerja efektif mahasiswa benar-benar
dimulai setelah Lebaran usai.