Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TEORI PERUNDANG-UNDANGAN

PERMASALAHAN EKONOMI NASIONAL DAN KEMBALINYA


EKONOMI PANCASILA

PRASTA PRADANA
RADIFAN NAWIR

1206220434
1106073586

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA


PROGRAM SARJANA PARALEL
2016
Pendahuluan
Pada tanggal 29 September 2014 Mejelis Permusyarawatan Rakyat
Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor 4/MPR/2014 tentang Rekomendasi
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Masa Jabatan 2009-2014.
Keputusan tersebut dikeluarkan berdasarkan aspirasi-aspirasi masyarakat dan

daerah tentang permasalahan sistem ketatanegaraan Indonesia, dan berbagai


dimensi strategis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Keputusan tersebut terdapat beberapa hal
penting dalam sistem ketatanegaraan yang perlu untuk ditata kembali, salah
satunya mengenai penataan sistem perekonomian nasional yang berbasis
demokrasi Pancasila. Oleh karena hal itu penulis merasa penting untuk mengkaji
sekiranya apa permasalahan terkait perekonomian nasional saat ini sehingga
Majelis Permusyawaratan Rakyat merasa perlu dilakukan penataan kembali.
A. Sistem Ekonomi yang Berlandaskan Ideologi Pancasila
Perdebatan yang selalu menjadi isu yang tidak pernah ada habisnya adalah
permasalahan mengenai sistem ekonomi apa yang dianut oleh Indonesia, apakah
itu sistem ekonomi kapitalis dengan mekanisme pasarnya, atau sosialis dengan
kontrol yang begitu kuat dari negara. Sebelum Indonesia merdeka sudah dikenal
beberapa sistem ekonomi yang dianut oleh negara-negara di dunia. Sistem
ekonomi yang paling banyak digunakan pada saat itu adalah sistem ekonomi
kapitalis yang mengedepankan kekuatan pasar dan ekonomi sosialis yang menitik
beratkan kepada penguasaan faktor-faktor produksi oleh negara. Namun apakah
sistem ekonomi yang telah ada tepat untuk diterapkan di kondisi sosial
masyarakat Indonesia?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut para pendiri bangsa telah
memikirkan matang-matang apa sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia.
Menurut Josep E. Stiglitz1, problematika sosial suatu negara merupakan cerminan
dari paradigma ekonomi yang dianut dari negara tersebut. Masalah ketimpangan,
kemiskinan, minimnya kesempatan kerja, daya saing Indonesia yang lemah,
inefisiensi birokrasi, persoalan lingkungan hidup, adalah persoalan keseharian
yang di hadapi. Semua permasalahan tersebut adalah problem sosial yang harus
dipertimbangkan oleh Indonesia pada saat ini.
Sistem ekonomi yang ada dirasa tidak cukup untuk mengakomodir
permasalahan sosial yang dimiliki oleh Indonesia. Sistem ekonomi kapitalis dirasa
1Joseph E. Stiglitz. FreeFall: Free Markets and The Sinkingof The Global
Economy. )Great Britain: Allen Lane, 2010).

hanya akan menciptakan kesenjangan sosial yang semakin tajam. Disisi lain
negara-negara yang menganut sistem ekonomi sosiali mengalami stagnansi dalam
proses untuk mengantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan pada akhirnya
terbukti dari fakta dimana Uni Soviet sebagai kekuatan terbesar ekonomi sosialis
tidak dapat mempertahankan eksistensinya untuk melewati abad ke 20.
Sejarah mencatat, baik Soekarno maupun Hatta sangat membenci sistem
ekonomi kapitalis yang dianut oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa itu dan
negara-negara kolonial lainnya. Hal tersebut disampaikan oleh Soekarno dan
Hatta pada saat mereka sedang disidang oleh Pemerintah Hindia Belanda terkait
perlawanan mereka terhadap pemerintahan. Baik Soekarno maupun Hatta dengan
kompak menjawab bahwa mereka tidak membenci Pemerintah Negara Belanda,
namun mereka membenci kolonialisme dengan sistem ekonomi pasar mereka. Hal
ini disampaikan oleh mereka tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu,
pandangan itu pun juga dianut oleh para pendiri bangsa lainnya.
Berdasarkan hal tersebut para pendiri bangsa merasa perlunya sistem
ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai yang memang sudah dianut dan secara
turun menurun di praktekan oleh masyarakat Indonesia. Berangkat dari
pemahaman tersebut mucul suatu sistem ekonomi baru yaitu sistem ekonomi
pancasila yang merupakan solusi atau ideologi alternatif dari sistem ekonomi
kapitalis maupun sosialis.
Penyusunan konsep Ekonomi Pancasila pertama kali dilakukan oleh Emil
Salim2. Menurut Emil, berdasarkan sila ke-5 maka sudah sepatutnya sistem
ekonomi pancasila-lah yang digunakan oleh Indonesia. Namun pendapat lain
menurut Widjojo Nitisastro, jalan keluar dari kemerosotan ekonomi yang
disebabkan penyelewengan masa lampau yang menyampingkan seluruh prinsip
ekonomi hingga saat ini, adalah kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945.
Kemudian menurut Mubyarto, dalam Ekonomi Pancasila seluruh sila harus
menjadi acuan kebijakan dan perilaku ekonomi seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan kepada gagasan yang telah diungkapkan sebelumnya maka
dapat disimpulkan Ekonomi Pancasila adalah sistem pengaturan hubungan antar
negara dan warga negara yang ditujukan untuk memajukan kemanusiaan dan
peradaban,

memperkuat

persatuan

nasional

melalui

2Emil Salim, Ekonomi Pancasila, Kompas 30 Juni 1966.

proses

usaha

bersama/gotong royong, dengan melakukan distribusi akses ekonomi yang adil


bagi seluruh warga negara yang dilandasi oleh nilai-nilai etik pertanggungan
jawaban kepada Tuhan yang Maha Esa.3
Untuk dapat lebih memahami apa itu Ekonomi Pancasila, akan dijabarkan
keterkaitan Ekonomi Pancasila dengan Pancasila adalah sebagai berikut:4
1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sila pertama memberikan dasar akan pentingnya spirit teistik yang
menekankan etika dan moral bangsa dalam perekonomian. Dengan kata
lain, perekonomian harus memiliki landasan etis dan pertanggungjawaban
kepada Tuhan. Meski Indonesia bukan sebuah negara yang menetapkan
agama tertentu sebagai ideologi bangsa, namun nilai-nilai ketuhanan dan
spirit keagamaan telah menjadi landasan ideologi kita, Pancasila. Karena
itu, ekonomi Pancasila digagas dan dibangun berdasarkan pertimbangan
moral dan etika religius. Dengan demikian, ekonomi Pancasila
meniscayakan nilai-nilai kebaikan dan kedermawanan, serta hukum sipil
yang tegak untuk menindak ketidakadilan.
2. Sila Kedua. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Sila kedua merupakan konsekuensi logis dari sila pertama, sila kedua
menekankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam ekonomi
Pancasila, pembangunan ekonomi tidak sebatas mengejar prestasi atau
penilaian secara materi. Lebih dari itu, pembangunan ekonomi harus
berorientasi pada keadilan dan peradaban manusia, khususnya bangsa
Indonesia. Masalah kemiskinan, kesenjangan sosial yang begitu lebar, dan
lain sebagainya harus dientaskan untuk menuju keadilan dan kemajuan
(per)adab(an) bangsa dalam dimensi kemanusiaan.
Artinya dalam perspektif ini unsur manusia menjadi penting dan pelaku
aktif dalam menggerakkan roda perekonomian. Ekonomi Pancasila tidak
3Arif Budimanta, Ekonomi Pancasila, Ekonomi Kita, disampaikan pada
Seminar Sistem Perekonomian Nasional menurut pasal 33 UUD 1945.
4Ibid, hlm. 6-8.

melakukan pengekangan terhadap kreativitas dan kebebasan individu


dalam mencapai peningkatan peradaban secara kolektif.
3. Sila ketiga, Persatuan Indonesia.
Sila ketiga menekankan persatuan Indonesia. Ekonomi Pancasila digagas
untuk mempersatukan bangsa. Apabila kemudian kebijakan ekonomi
justru memudarkan semangat persatuan bangsa maka kebijakan tersebut
pastilah bukan bercorak atau bercirikan Ekonomi Pancasila.
Dalam hal ini, usaha bersama/gotong royong menjadi kuncinya. Produksi
dan distribusi yang dikerjakan melalui mekanisme usaha bersama/Gotong
royong dalam peningkatan ekonomi memperkecil kesenjangan yang
berpotensi memecah belah bangsa. Dalam konteks ini, maka kemudian
negara mengambil peran strategis untuk melakukan proses distribusi akses
sumber daya ke wilayah-wilayah negara sesuai dengan prinsip keadilan
dan pemerataan.
4. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/perwakilan.
Sila keempat menekankan mekanisme kerja perekonomian yang
mendahulukan

kepentingan

rakyat

di

atas

kepentingan

individu/golongan/modal. Sila tersebut juga menuntut peran aktif dari


setiap perusahaan/badan usaha milik negara (BUMN) saat ini untuk
mensejahterakan rakyat. Salah satu caranya adalah dengan memberikan
akses yang besar kepada masyarakat terhadap kebutuhan dasarnya. Selain
itu, sila keempat menekankan demokrasi ekonomi yang digagas Bung
Hatta. Di dalam sistem ekonomi yang menjamin demokrasi ekonomi,
setiap warga memiliki hak atas pekerjaan dan penghidupan layak (pasal 27
UUD 1945). Dengan kata lain, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak tidak hanya berlaku bagi golongan-golongan tertentu. Tapi, hak
tersebut juga berlaku bagi setiap warga Indonesia. Semuanya berhak
mendapatkan kesempatan yang sama (equalopportunity).
5. Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sila kelima adalah sila pamungkas. Empat sila lain merupakan tahapantahapan untuk mencapai keadilan sosial yang tercatat dalam sila
pamungkas tersebut. Dengan prinsip keadilan sosial, ekonomi Pancasila
digagas untuk memberikan pemerataan pembangunan dan mendorong
terciptanya emansipasi sosial. Dalam konteks ini, spirit teistik atau etika
religius yang tercermin di sila pertama, peradaban manusia di sila kedua,
persatuan di sila ketiga, dan demokrasi ekonomi/equalopportunity di sila
keempat disusun untuk menegakkan keadilan. Sebab, keadilan adalah nilai
universal kemanusiaan. Dalam konteks ini juga, equalopportunity harus
mendapatkan

perhatian

khusus.

Setiap

warga

Indonesia

harus

mendapatkan kesempatan terbuka menuju kesejahteraan bersama.


Konsekuensi logisnya, negara harus melakukan pembagian hasil produksi
yang merata di seluruh pelosok negeri.
B. Sistem Ekonomi Indonesia Menurut Undang-Undang Dasar 1945
Sejalan dengan pancasila maka di dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar
1945 mengatur bahwa:
Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan;
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat idup orang banyak dikuasai oleh negara;
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.
Kemudian menurut Penjelasan Naskah Asli dari Pasal 33 UUD 1945 Asli
mengatakan bahwa:
Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi, ekonomi produksi
dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan
anggota-anggota

masyarakat.

Kemakmura

nmasyarakatlah

yang

diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian


disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun
perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.

Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi


semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh
negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ketangan orang seorang yang
berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya.
Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh
ada ditangan orang-seorang.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah
pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Berdasarkan penjelasan terhadap Pasal 33 UUD 1945 tersebut jelas tujuan
dari ketentuan tersebut adalah untuk menghapuskan kapitalisme liberal dan
mengantikannya dengan demokrasi ekonomi yang mewujudkan kesejahteraan
umum dan keadilan sosial. Namun apakah sampai saat ini sistem ekonomi
demokrasi telah diterpakna secara nyata dalam perekonomian Indonsia akan
menjadi pertanyaan lain dan menarik untuk dibahas secara lebih lanjut.
C. Hambatan Sistem Ekonomi Demokrasi dalam Penerapannya di Indonesia
Penulis akan mencoba membedah hal-hal apa saja yang sekiranya telah
mengalami pergeseran paradigma dari ideologi pancasila dan UUD 1945 menjadi
ideologi liberal atau kapitalisme.
Menurut UUD 45
Nasionalisme Ekonomi
Demokrasi Ekonomi
Gotong Royong
Pemerataan
Ekonomi Terencana

Lawannya
Ekonomi Global
Pasar Bebas
Kebebasan Berusaha
Pertumbuhan
Ekonomi Pasar

Berdasarkan tabel diatas aspek pertama yang telah mengalami pergerseran


paradigma mengenai apa yang dimaksud dengan Nasionalisme Ekonomi dan
Ekonomi Global. Nasionalisme Ekonomi adalah negara dalam mengelola
perekonomiannya memperhatikan batas-batas teritorial nasional. Hal tersebut

tidak terbatas kepada penguasaan sumber-sumber daya nasional dan kepemilikan


nasional atas industri-industri yang berepranpentign dalam kesejahteraan rakyat.
Sementara itu di sisi lain Ekonomi Global merupakan pengelolaan perekonomian
nasional yang seringkali mengabaikan batas-batas kedaulatan nasional, contohnya
adalah menyerahkan industri strategis kepada pihak asing, misalkan tambang
freeport di tembagapura, disisi lain masyarakat papua sendiri belum
membutuhkan emas yang terkandung didalam gunung tersebut. Mengutip
perkataan Soekarno pada saat dimintakan oleh asing izin untuk mengelola emas
papua, Soekarno mengatakan biarkan emas tersebut tetap berada di perut bumi
sampai masyarakat papua sendiri baik dari segi sosial dan ekonomi membutuhkan
sumber daya tersebut.
Paradigma yang kedua adalah mengenai Demokrasi Ekonomi dan Pasar
Bebas. Demokrasi ekonomi menitik beratkan kepada kedaulatan rakyat atas
pekerjaan dan penghidupannya sendiri, rakyat berhak atas hak sumberdayasumberdaya ekonomi termasuk juga Sumber Daya Alam. Demokrasi Ekonomi
bertentangan dengan sistem ekonomi pasar bebas yang saat ini berkembang sangat
luas dan diterpakan hampir oleh sebagian besar negara di dunia. Pasar bebas
menganut paham bahwa pengelolaan ekonomi dapat dilakukan oleh pihak asing
yang memiliki modal besar dan penguasaan akan teknologi yang tinggi.
Kepentingan Internasional mengintrusi kebijakan pengelolaan ekonomi dalam
negeri.
Paradigma yang ketiga adalah mengenai Sistem Gotong Royong dan
Kebebasan Berusaha. Sistem gotong royong bernaggapan perekonomian negara
merupakan suatu hal yang harus diurus secara bersama-sama dan sumber daya
alam merupakan milik bersama dan dipergunakan untuk kepentingan bersama.
Perbedaan dari gotong royong adalah kebebasan berusaha. Kebebasan berusaha
menitik beratkan kepada pemilikan dan pengusahaan perorangan atas sumberdaya
dan perekonomian.
Paradigma keempat adalah mengenai Pemerataan dan Pertumbuhan.
Pemerataan paralel dengan keadilan, yaitu negara menjamin agar semua orang
memiliki pekerjaan dan penghidupan meski tidak efisien dan kontribusinya pada
total income ekonomi sangat tidak signifikan. Lawan dari pandangan ini adalah
Pertumbuhan.

Pertumbuhan

paralel

dengan

efisiensi,

sumberdaya-

dumberdayaekoomi termasuk Sumber Daya Alam harus dialokasikan bagi mereka


yang mampu mengusahakannya secara paling efisien sehingga menciptakan
perumbuhan ekonomi.
Paradigma kelima adalah mengenai Ekonomi Terencana dan Ekonomi
Pasar. Ekonomi Terencana menyerahkan wewenang perencanaan perekonomian
kepada negara. Berbeda dengan Ekonomi Pasar yang menyerahkan perekonomian
kepada pasar, yaitu perekonomian diatur oleh the invisible hands yang lebih
berpihak kepada pelaku usaha dengan modal terkuat.
Selain permasalahan paradigmatik diatas, hambatan berkembangnya teori
ekonomi pancasila juga diakibatkan oleh faktor eksternal dan faktor internal.
Hambatan faktor eksternal antara lain:5
1. Sifat masyarakat Indonesia yang cenderung lebih percaya pada orang
asing dan lebih bisa menerima sesuatu yang datang dari luar;
2. Kepercayaan berlebihan (over confidence) ekonom yang pada umumnya
mengira masalah ekonomi adalah urusan ekonomi an sich6, sehingga teoriteori ekonomi yang ada dipercayai cukup andal untuk mengatasi segala
masalah ekonomi;
3. Keyakinan sesat mengenai sifat bebas nilai dan universalitas ekonomi,
bahwa teori-teorinya tidak terpengaruh oleh perilaku dan budaya serta
pandangan hidup masyarakat dimana teori itu berakar, padahal ilmu
ekonomi adalah ilmu sosial bukan ilmu alam maupun ilmu pasti;
4. Tidak berimbangan (bias-bias) struktural dalam muatan ajar pendidikan
ekonomi di Indonesia.
Kemudian yang menjadi faktor internal dari terhambatnya perkembangan
teori ekonomi pancasila adalah:
1. Muatannya masih terlalu hipotesis-normatif, belom teruji dengan jabaran
praktis yang operasional;

5 Dumairy, Kendala Sosialisasi Konsep Ekonomi Pancasila: Beberapa


Catatan Untuk Pengemban Ekonomi Pancasila, diakses dari
http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/My%20Web/sembul02.htm
pada tanggal 31 Maret 2016 pukul 13.00 WIB.
6 Secara literer An Sich merupakan konsep yang dikenalkan oleh
Immanuel Kant yaitu secara literer merupakan segala hal yang muncul
dengan sendirinya dari dirinya, tanpa ada relasi atau hubungan
terhadap sesuatupun.

2. Pelekatan identitas Pancasila, ditengah masyarakat yang sedang dilanda


gejala Pancasila-phobia, justru menjadi perintang besar bagi upaya
sosialisasi konsep Ekonomi Pancasila.
D. Kesimpulan dan Saran
Sebagaimana yang telah diruikan oleh penulis, pada praktiknya Indonesia
dalam penyelenggaraan perekonomian nasional telah menyimpang dari apa
yang dikehendaki oleh para pendiri bangsa. Meskipun begitu desakan dari
arus globalisasi memang tidak mungkin dihindari, dan berujung pada urgensi
untuk menyesuaikan penyelenggaran ekonomi nasional, yang mungkin
menimbulkan kesenjangan ekonomi serta sosial di masayarakat. Penulis
berpendapat apa yang direkomendasikan oleh MPR dalam Keputusan MPR
No. 4/MPR/2014 terkait penataan kembali sistem perekonomian sosial adalah
hal yang tepat selama penataan tersebut mempertimbangkan kedua faktor
yang disebutkan di atas.
Menjadi suatu hal yang tepat apabila MPR berencana mengembalikan
tujuan penyelenggaran perekonomian nasional semata-mata demi menciptakan
kesejahteraan rakyat Indonesia, akan tetapi tentunya dengan memberikan
ruang bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam arus globalisasi. Hal ini demi
mencapai Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di kancah
internasional, dengan rakyatnya yang sejahtera dan mempunyai daya saing
yang tinggi.
Berdasarkan hal tersebut penulis merumuskan beberapa saran, yaitu:
1. Penegasan kembali penguasaan negara atas faktor-faktor produksi
yang penting bagi hajat hidup orang banyak dalam Undang-Undang
Dasar RI, dengan diikuti oleh penyesuaian terhadap peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan faktor-faktor produksi
tersebut.
2. Dimungkinkannya penguasan faktor-faktor produksi yang tidak
menyangkut hajat hidup rakyat Indonesia oleh sektor privat, dengan
didahuli oleh peningkatan daya saing masyarakat Indonesia melalui
sistem pendidikan yang berbasis Pancasila.
3. Penataan kembali pengaturan mengenai badan hukum koperasi yang
bertujuan mengingkatkan kesejahteraan bersama, dengan kebijakankebijakan yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan koperasi
di Indonesia.

4. Pengkajian kembali atas perjanjian-perjanjian antara pemerintah

Indonesia dengan pihak swasta terkait pengelolaan sumberdaya alam


yang penting bagi kehidupan rakyat, sehingga dapat dirumuskan
mekanisme pengelolaan sumberdaya alam yang mendahulukan
kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.