Anda di halaman 1dari 22

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

ANAMNESIS

Nama : An. S

NO RM : 344470

Umur : 5 tahun 9 bulan

Jenis Kelamin : Perempuan

Ruang : Melati
Kelas : III

Nama Lengkap

: An. S

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat dan Tanggal Lahir

: Karanganyar, 29-09-2010

Umur

: 5 tahun 9 bulan

Nama Ayah

: Tn. H

Umur Ayah

: 50 tahun

Pekerjaan Ayah

: Proyek

Pendidikan Ayah : SMA

Nama Ibu

: Ny. N

Umur Ibu

: 39 tahun

Pekerjaan Ibu

: Pabrik

Pendidikan Ibu

: SMA

Alamat

: Mojogedang, RT.1/RW.2, Mojogedang, Karanganyar

Masuk RS

: 3 Juni 2016 Jam 17.17

Diagnosis masuk

: febris H+5

Dokter yang merawat : dr. Septiarko, Sp.A.

Ko Asisten : Rezita Oktiana R., S.Ked

Tanggal : 3 April 2016 (Alloanamnesis) di Bangsal Melati


KELUHAN UTAMA

: Sesak nafas dan Panas

KELUHAN TAMBAHAN : Batuk


1. Riwayat penyakit sekarang
1 HSMRS Pasien mengeluh sesak nafas pada sore hari setelah minum es jus. Sesak yang
dirasakan makin lama makin berat, dan tidak makin berkurang meski sudah dipakai istirahat.
Pasien juga mengeluh batuk yang sering bersamaan dengan sesaknya. Lalu ibu pasien
membawa ke dokter dan sempat mendapatkan nebu. Malamnya pasien demam tinggi, dan ibu
pasien sudah memberikan obat paracetamol tetapi belum turun panasnya.
HMRS Pasien dibawa ke rumah sakit masuk IGD dengan keluhan sesak nafas dan panas.
Panas belum berkurang setelah diberikan obat paracetamol dari rumah. Pasien masih mengeluh
Sesak nafas dan batuknya semakin sering. Sebelumnya pasien sering diberikan nebu saat
asmanya kambuh dan diberikan obat minum. Pasien juga rewel dan tidak mau makan serta
minum. Pusing (+), Muntah (+) 1 kali saat pagi, sakit perut (-), BAB (+), BAK (-).
Riwayat penyakit dahulu

Riwayat Sakit Serupa

Riwayat Asma

: Diakui, 1 bulan yang lalu pasien dirawat karena asma


: Diakui, asma sejak usia 2 tahun 6 bulan, muncul asma
1

ILMU
NO RM : 344470
KESEHATAN
ANAK
tiap minum es dan saat malam hari serta
udara dingin. Frekuensi asma muncul lebih

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

dari 1 kali dalam 1 bulan sekali dan semakin sering 1 tahun terakhir ini.

Riwayat kejang demam

Riwayat batuk pilek sebelumnya: Disangkal

Riwayat batuk lama

Riwayat alergi

: Disangkal

: Disangkal
: Diakui, Alergi udara dingin dan minuman es

2. Riwayat penyakit pada keluarga

Riwayat sakit serupa

: Diakui (Ibu)

Riwayat batuk pilek

: Disangkal

Riwayat asma

: Diakui (Ibu)

Riwayat alergi

: Diakui, Ibu memiliki alergi terhadap udara dingin dan

minuman es
3. Riwayat penyakit pada lingkungan

Riwayat kontak dengan asap rokok

Riwayat kontak alergen di dalam ruangan: Disangkal

Riwayat kontak alergen di luar ruangan : Disangkal

Riwayat polusi udara

Riwayat kontak perubahan cuaca

Riwayat kontak makanan

Riwayat emosi

: Diakui (Kakek yang perokok aktif)

: Disangkal
: Diakui (Udara dingin)
: Diakui (Minuman es)
: Disangkal

Kesan: Riwayat dahulu ada yaitu riwayat sakit serupa karena asma, riwayat asma sejak usia 2 tahun
6 bulan, riwayat alergi udara dingin dan minuman es. Riwayat keluarga ada yaitu riwayat sakit
serupa dari ibu, riwayat asma dari ibu, riwayat alergi terhadap udara dingin dan minuman es dari ibu.
Riwayat lingkungan ada riwayat kontak dengan asap rokok dari kakek yang perokok aktif, riwayat
kontak perubahan cuaca saat udara dingin dan riwayat kontak makanan berupa minuman es.

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

4. Pohon keluarga

NO RM : 344470

Laki laki
Perempu
an

RIWAYAT PRIBADI
1. Riwayat kehamilan dan persalinan
a. Riwayat kehamilan ibu pasien
Ibu G3P2A0 hamil saat usia 33 tahun. Ibu memeriksakan kehamilannya rutin ke dokter
kandungan. Ibu tidak pernah mual dan muntah berlebihan, tidak ada riwayat trauma
maupun infeksi saat hamil, sesak saat hamil (-), merokok saat hamil (-), kejang saat hamil
(-), asma (-). Ibu hanya minum obat penambah darah dan vitamin dari dokter kandungan.
Tekanan darah ibu dinyatakan normal. Berat badan ibu dinyatakan normal dan mengalami
kenaikan berat badan selama kehamilan. Perkembangan kehamilan dinyatakan normal.
b. Riwayat persalinan ibu pasien
Ibu melahirkan pasien ditolong oleh dokter kandungan, umur kehamilan 40 minggu,
persalinan normal, presentasi kepala, bayi menangis keras dengan berat lahir 3000 gram,
panjang badan 48 cm, tidak ditemukan cacat bawaan saat lahir.
c. Riwayat pasca lahir pasien
Bayi perempuan dengan BB 3000 gram, PB 48 cm, setelah lahir langsung menangis, gerak
aktif, warna kulit kemerahan, tidak ada demam atau kejang. ASI langsung keluar setelah
lahir
Kesan : Riwayat ANC baik, riwayat persalinan baik, riwayat PNC baik.
d. Riwayat makanan
ASI: 0 tahun sampai 2 tahun 6 bulan
Susu formula: (-)
Bubur susu: 2 bulan
Nasi tim: 2 bulan
Nasi sayur dan lauk: 6 bulan
3

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

e. Perkembangan dan kepandaian

NO RM : 344470

Motorik kasar
Motorik Halus
Bahasa
Personal Sosial
Duduk
sendiri, Menaruh benda di Menoleh ke sumber Tertawa dan menjerit
tengkurep

dan mulutnya (3 bulan)

suara (5 bulan)

berbalik sendiri

saat diajak bermain


(6 bulan)

(6 bulan)
Berdiri sendiri

Memindahkan benda Mengeluarkan kata- Bermain sendiri

(9 bulan)

dari satu tangan ke kata yang tanpa arti


tangan yang lain

(9 bulan)

(6 bulan)

Belajar Berjalan

(6 bulan)
Menyusun 2 atau 3 Menirukan suara

Berpartisipasi

(12 bulan)

kotak benda

(10 bulan)

permainan (1 tahun)

Berlari (2 tahun)

(1 tahun)
Makan sendiri

Menyusun kata-kata

Bermain

(1 tahun 6 bulan)

(1 tahun 6 bulan)

teman-teman (5 tahun)

dalam

dengan

f. Riwayat Vaksinasi
Vaksin
I
II
III
IV
V
Hepatitis B
0 hari
1 bulan
6 bulan
BCG
1 bulan
Pentabio
2 bulan
4 bulan
6 bulan
18 bulan
5 tahun
Polio
2 bulan
4 bulan
6 bulan
18 bulan
5 tahun
Campak
9 bulan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap berdasarkan PPI, sesuai usia pasien saat ini

VI
-

g. Sosial, ekonomi, dan lingkungan


Sosial dan ekonomi
Ayah (50 tahun, pekerja proyek) dan ibu (39 tahun, pekerja pabrik), penghasilan
keluarga 2.000.000/bulan (keluarga merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan seharihari).
Lingkungan
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, kakak, kakek, nenek dan buyut. 1 rumah berjumlah 7
anggota keluarga, berada di kawasan pedesaan di sekitar persawahan. Rumah terdiri dari 1
ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi dan 4 kamar tidur. Sumber air berasal dari sumur bor.
Rumah berlantai keramik, dinding semen, atap genteng dengan ventilasi yang cukup.
Sampah pembuangan berada di galian belakang rumah, setiap hari sampah langsung
dibakar. Kakek pasien sering mengonsumsi rokok di rumah.
4

ILMU
NO RM : 344470
KESEHATAN
Kesan : keadaan sosial ekonomi cukup, ANAK
kondisi hunian rumah yang cukup, kakek sering

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

merokok.
h. Anamnesis sistem
Cerebrospinal

: kejang fokal (-), delirium (-), demam (+)

Kardiovaskuler

: sianosis (-)

Respiratorius

: batuk (+), pilek (-), sesak (+)

Gastrointestinal

: muntah (-), BAB (+)

Urogenital

: BAK (+), bengkak kemaluan (-)

Muskuloskeletal

: deformitas (-), bengkak (-)

Integumentum

: bintik merah (-), ikterik (-)

Kesan : Terdapat gangguan respiratorius dan cerebrospinal

PEMERIKSAAN

Nama : An. S

JASMANI

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 5 tahun 9 bulan

PEMERIKSAAN OLEH : Rezita Oktiana Rahmawati, S.Ked

Ruang : melati
Kelas : 3
Tanggal 2 Juni 2016

Jam 18.00 WIB


PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Tampak gelisah

Tanda Vital :
HR

: 120x/menit

RR

: 40x/menit

Suhu

: 38,30C

Status Gizi :
BB

: 14 kg

TB

: 105 cm

BMI

: 14 / (1,05)2 : 12,69 Gizi Kurang (menurut WHO)

PEMERIKSAAN KHUSUS

Kepala

: ukuran normocephal, rambut warna hitam, lurus, jumlah cukup. Ubun- ubun
menonjol (-)

Mata

: mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor
5

Hidung

ILMU
KESEHATAN
: sekret (-/-), epistaksis (-/-), nafasANAK
cuping hidung (+/+)

Mulut

: mukosa bibir dan lidah kering (-), sianosis (-)

Leher

: pembesaran limfonodi leher (-), massa (-), kaku kuduk (-)

Kulit

: ikterik (-)

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

Cor

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi :

batas kanan atas

: SIC II linea parasternalis dextra

batas kanan bawah

: SIC IV linea parasternalis dextra

batas kiri ata

: SIC II linea parasternalis sinistra

batas kiri bawah

: SIC V linea midclavicula sinistra

Auskultasi

: BJ I-II intensitas reguler (+), bising jantung (-)

Paru
Pemeriksaan
Inspeksi
Depan
Palpasi

Perkusi
Auskultasi
Inspeksi
Palpasi

Kanan
Simetris (+)

Kiri
Simetris (+)

Retraksi dinding dada

Retraksi dinding dada

(+)
Ketinggalan gerak (-)

(+)
Ketinggalan gerak (-)

Fremitus (+)

Fremitus (+)

Massa (-)
Sonor (+)
SDV (+), Rh (-), Wh (+)
Simetris (+)
Ketinggalan gerak (-)

Massa (-)
Sonor (+)
SDV (+), Rh (-), Wh (+)
Simetris (+)
Ketinggalan gerak (-)

Fremitus (+)
Fremitus (+)
Perkusi
Sonor (+)
Sonor (+)
Auskultasi
SDV (+), Rh (+), Wh (-) SDV (+), Rh (+), Wh (-)
Kesan : terdapat nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan suara wheezing pada dada depan dan
Belakang

belakang
Abdomen

Inspeksi

: distended (-), sikatrik (-)

Auskultasi

: peristaltik (+)
6

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Perkusi

: timpani (+)

Palpasi

: turgor kulit normal

Hepar

: tidak teraba membesar

Lien

: tidak teraba membesar

Anogenital

: tidak ada kelainan

NO RM : 344470

Kesan : abdomen dalam batas normal.


Ekstremitas

: akral hangat (+), deformitas (-), sianosis (-), edema (-)


tungkai
kanan

lengan
kiri

kanan

kiri

Gerakan

: bebas

bebas

bebas

bebas

Tonus

: normal

normal

normal

normal

Trofi

: eutrofi

eutrofi

eutrofi

eutrofi

Klonus tungkai

: (-)

(-)

(-)

Reflek fisiologis

: reflek patella (+) normal, achiles (+) normal, triceps (+) normal

Refleks patologis

: babinski (-), chaddock (-), oppenheim (-), gordon (-), rosolimo (-)

Meningeal Sign

: kaku kuduk (-), brudzinski I (-), brudzinski II (-), brudzinski III (-)

(-)

brudzinski IV (-), kernig (-)


Sensibilitas

: dalam batas normal

Kesan : status neurologi dan extremitas superior et inferior dalam batas normal.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
2 Juni 2016
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Parameter
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Limfosit
Monosit
Granulosit

Jumlah
9,87
4,34
12,0
38,3
88,2
27,6
31,3
203.000
10,9
7,7
80,5

RINGKASAN ANAMNESIS
7

Satuan
uL
uL
Gr/dl
%
Femtoliter
Pikograms
g/dl
uL
%
%
%

Nilai Rujukan
5000-10000/uL
4,0-5,5 / uL
11,5-13,5 g/dl
40-48%
82-92 fl
27-31pg
32-36 g/dl
150.000-300.000/uL
25-40%
3.0-9.0%
50,0-70,0

34

ILMU
NO RM : 344470
KESEHATAN
ANAK
Pasien anak perempuan, 5 tahun 9 bulan, dibawa
ke IGD RSUD Karanganyar karena panas
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

(+), batuk (+), sesak (+) sejak 1 hari sebelumnya nafsu makan berkurang (+), minum (+),
mual (-), muntah (-), nyeri pada daerah perut (-), BAK (+), BAB (-)
Terdapat riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang. Terdapat
riawayat mondok 1 kali karena asma, riwayat asma (+), riwayat alergi (+) minum es dan udara
dingin
Terdapat riwayat penyakit pada keluarga

yang berhubungan dengan penyakit sekarang.

Terdapat riwayat asma pada ibu


Terdapat Riwayat lingkungan yang memengaruhi penyakit pasien yaitu riwayat merokok pada
kakek, riwayat kontak cuaca udara dingin, riwayat kontak minum es
Pasien mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun 6 bulan, susu formula (-), nasi tim sejak usia 2
bulan, bubur nasi sejak usia 2 bulan, makanan nasi kuah sayur lauk sejak usia 6 bulan
Riwayat ANC baik, riwayat persalinan baik, riwayat PNC baik.
Imunisasi dasar lengkap berdasarkan PPI, sesuai usia pasien saat ini
Keadaan sosial ekonomi cukup, kondisi hunian rumah yang cukup, kakek sering merokok.
RINGKASAN PEMERIKSAAN FISIK
KU

: tampak lemas

Vital sign HR: 120x/menit; RR : 40x/menit; S : 38,3C


Kepala

: CA (-/-), SI (-/-), lidah kotor (-), bibir kering (-),nafas cuping hidung (+/+)

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Pemeriksaan thorax : pemeriksaan pulmo: retraksi dinding dada (+/+), wheezing(+/+),


pemeriksaan cor dalam batas normal
Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan (-), pembesaran hepar (-), pembesaran lien (-)
Extremitas superior et inferior dalam batas normal
Status neurologi dalam batas normal
LABORATORIUM
2 Juni 2016
No
1
2

Parameter
Leukosit
Eritrosit

Jumlah
9,87
4,34
8

Satuan
uL
uL

Nilai Rujukan
5000-10000/uL
4,0-5,5 / uL

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK
12,0
Gr/dl

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

3
4
5
6
7
8
9
10
11

Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Limfosit
Monosit
Granulosit

38,3
88,2
27,6
31,3
203.000
10,9
7,7
80,5

%
Femtoliter
Pikograms
g/dl
uL
%
%
%

NO RM : 344470

11,5-13,5 g/dl
40-48%
82-92 fl
27-31pg
32-36 g/dl
150.000-300.000/uL
25-40%
3.0-9.0%
50,0-70,0

DAFTAR MASALAH AKTIF / INAKTIF


AKTIF
Panas 2 hari
Batuk
Sesek
Lemas
Susah makan dan minum
Hasil lab peningkatan Granulosit,penurunan MCHC dan penurunan limfosit
INAKTIF DIAGNOSA KERJA
Asma Bronkial persistensi sedang
DIAGNOSA BANDING
Bronkiolitis
Rhinitis
RENCANA PENGELOLAAN
Rencana Tindakan
Obsevasi keadaan umum dan vital sign
pemberian cairan intravena dan kecukupan cairan
penyesuaian suhu lingkungan
Pemeliharaan hidrasi dan nutrisi
Rencana Terapi
9

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Infus RL 16 TPM

NO RM : 344470

Inj ampisilin 100mg/8 jam


Inj dexametason 2mg/12 jam
Nebulizer/12 jam ventolin 0,5cc, flexotide 0,5 cc, Nacl 1cc
Paracetamol Syr 3xCth I
Rencana Edukasi
Menjelaskan kepada orangtua pasien mengenai penyakit yang diderita pasien.
Menjaga supaya mendapatkan makanan yang begizi dan cukup
Istirahat yang cukup atau tirah baring
PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : dubia ad bonam


Quo ad sanam
Hari/

: dubia ad bonam
S

tgl
I
2/6/16

RR: 40 x/m

Asma

Infus RL 16 TPM

17.17 karena sesak dan

HR: 120 x/m

Bronkial

Inj

batuk

S: 38,3C

Pasien

datang

pukul

sejak

kemarin
siang (+). Panas (+)

mendadak sejak kemarin

malam, makan susah,

minum (+), mual (-),


muntah (-), perut sakit

Wheezing (+/+)
BB: 14 kg

Sedang

Status

BAB (-)

Generalisata:
Kepala: CA(-/-),
SI (-/-)

Leher: P.KGB (-)

Thorax:

10

100mg/8 jam

Inj

dexametason

2mg/12 jam

Dd:

Status gizi: Gizi Bronkiolitis,


Kurang
Rhinitis

(-), pusing (-), BAK (+),

Persistensi

ampisilin

Paracetamol
3xCth I

Syr

ILMU
KESEHATAN
ANAK
Pulmo:SDV
(+/

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

+), Rh (-/-), Wh
(-/-)

Abd: distensi (-),


Nyeri tekan (-)

II
3/6/16

Ekstremitas:

Sesak (+), Batuk (+),

akral hangat
RR: 32 x/m

Asma

Infus RL 16 TPM

HR: 120 x/m

Bronkial

Inj

Panas (+), makan susah,


minum (+), mual (-),

muntah (-), perut sakit

(-), pusing (-), BAK (+),

BAB (-)

persistensi

S: 38C
Wheezing (+/+)

sedang

Status gizi: Gizi Bronkiolitis,


Kurang
Rhinitis

dexametason

Nebulizer/12 jam
ventolin 0,5cc,

flexotide 0,5 cc,


Nacl 1cc

Kepala: CA(-/-),

Leher: P.KGB (-)

Thorax:

Paracetamol

Syr

3xCth I

SI (-/-)

Pulmo:SDV

Inj

2mg/12 jam

Status
Generalisata:

100mg/8 jam

Dd:

BB: 14 kg

ampisilin

(+/

+), Rh (-/-), Wh
(-/-)

Abd: distensi (-),


Nyeri tekan (-)

III
4/6/16

Ekstremitas:

Sesak (+), Batuk (+),

akral hangat
RR: 40 x/m

Asma

Infus RL 16 TPM

Panas (-), susah tidur,

HR: 140 x/m

Bronkial

Inj

makan

S: 37,5C

susah,

minum
(+), mual (-), muntah (-),

perut sakit (-), pusing

Wheezing (+/+)

Persistensi
Sedang

ampisilin

100mg/8 jam

Inj

dexametason

2mg/12 jam
11

34

ILMU
KESEHATAN
ANAKDd:
BB: 14 kg

Status gizi: Gizi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

(-), BAK (+), BAB (-)

Kurang

Nebulizer/12 jam
ventolin 0,5cc,

Bronkiolitis,

flexotide 0,5 cc,

Rhinitis

Nacl 1cc

Status

Generalisata:

NO RM : 344470

Paracetamol

Syr

3xCth I

Kepala: CA(-/-),
SI (-/-)

Leher: P.KGB (-)

Thorax:
Pulmo:SDV

(+/

+), Rh (-/-), Wh
(-/-)

Abd: distensi (-),


Nyeri tekan (-)

IV
5/6/16

Ekstremitas:

(-),

akral hangat
RR: 50 x/m

Asma

Infus RL 16 TPM

Panas (-), makan, minum

HR: 120 x/m

Bronkial

Inj

(+), mual (-), muntah (-),


perut sakit (-), pusing (-),

BAK (+), BAB (-)

S: 38C

Sesak

(-),

Batuk

persistensi

Wheezing (+/+)

100mg/8 jam

Status gizi: Gizi Bronkiolitis,


Kurang
Rhinitis

Nebulizer/12 jam
flexotide 0,5 cc,
Nacl 1cc

Kepala: CA(-/-),
SI (-/-)

Leher: P.KGB (-)

Thorax:
(+/

+), Rh (-/-), Wh
12

dexametason

ventolin 0,5cc,

Status

Pulmo:SDV

Inj

2mg/12 jam

Dd:

BB: 14 kg

Generalisata:

sedang

ampisilin

Paracetamol
3xCth I

BLPL

Syr

ILMU
KESEHATAN
ANAK
(-/-)

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

Abd: distensi (-),


Nyeri tekan (-)

Ekstremitas:
akral hangat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ASMA BRONKIAL
A. Definisi
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan sel dan elemennya, yang
menyebabkan peningkatan hipereponsif jalan napas, yang menimbulkan gejala episodic
beruluang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama pada malam hari atau
dini hari. Gejala episodic tersebut berupa obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi, reversible
dengan atau tanpa pengobatan. Faktor risiko meliputi:
1. Faktor Pejamu

Predisposisi genetic

Atopi

Hiperesponsif jalan napas

Jenis kelamin

Ras/etnik

2. Faktor Lingkungan

Alergen di dalam ruangan (alergen serangga, jamur)

Alergen di luar ruangan (Tepung sari bunga, jamur)

Bahan di lingkungan kerja

Asap rokok (perokok aktif, perokok pasif)

Polusi udara (Polusi di luar ruangan, polusi di dalam ruangan)

B. Klasifikasi

13

ILMU
KESEHATAN
Klasifikasi Asma berdasarkan gambaran klinis :ANAK

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

Asma
Intermitten

Bulanan:
<1x/minggu
Tanpa gejala
di

Gejala Bulanan:
- >1x/minggu,

luar

singkat
Gejala Malam:
2x/bulan
Faal paru:
- VEP180%

Persistensi Sedang

tetapi <1x/hari
Serangan dapat

serangan
Serangan

Gejala
-

Persisntensi Ringan

Gejala Bulanan:
- Setiap hari
- Serangan
aktivitas

aktivitas

tidur
Membutuhkan

dan

nilai prediksi
APE80%

nilai

prediksi
APE80%

nilai terbaik
Variabiliti

nilai terbaik
Variabiliti

APE 20-30%

mengganggu

mengganggu
tidur
Gejala Malam:
2x/bulan
Faal paru:
- VEP180%

Persistensi Berat

dan

bronkodilator

setiap hari
Gejala Malam:
>1x/seminggu
Faal paru:
- VEP1 60-80%
-

nilai prediksi
APE 60-80%

Gejala Bulanan:
- Gejala terus menerus
- Sering kambuh
- Aktivitas
fisik
terbatas
Gejala Malam:
Sering
Faal paru:
- VEP160%

nilai

prediksi
APE60%

nilai

terbaik
Variabiliti

APE

>30%

nilai terbaik
Variabiliti

APE <20%

APE >30%

C. Epidemiologi
Berdasarkan Studi Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai provinsi Indonesia,
asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Studi Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10
penyebab kematian (morbiditi) bersama-sama dengan bronchitis kronik dan emfisema. Pada
SKRT 1992, asma, bronchitis, emfisema, sebagai penyebab kematian (mortiliti) ke-4 di Indonesia
atau sebesar 5,6%. Tahun 1995, prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000,
dibandingkan bronchitis kronik 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000.
Woolcock dan Konthen pada tahun 1990 di Bali mendapatkan prevalensi asma pada anak dengan
hipereaktiviti bronkus 2,4% dan hipereaktiviti bronkus serta gangguan faal paru adalah 0,7%.
Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan kuesioner International Study of
Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan hasil dari 402 kuesioner yang kembali
14

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK
tahun didapatkan
prevalensi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

dengan rata-rata umur 13,8 0,8

NO RM : 344470

asma (gejala asma 12 bulan

terakhir/ recent asthma) 6,2% yang 64% di antaranya mempunyai gejala klasik. Bagian Anak
FKUI/ RSCM melakukan studi prevalensi asma pada anak usia SLTP di Jakarta Pusat pada 19951996 dengan menggunakan kuesioner modifikasi dari ATS 1978, ISAAC dan Robertson, serta
melakukan uji provokasi bronkus secara acak. Seluruhnya 1296 siswa dengan usia 11 tahun 5
bulan 18 tahun 4 bulan, didapatkan 14,7% dengan riwayat asma dan 5,8% dengan recent
asthma. Tahun 2001, Yunus dkk melakukan studi prevalensi asma pada siswa SLTP se Jakarta
Timur, sebanyak 2234 anak usia 13-14 tahun melalui kuesioner ISAAC (International Study of
Asthma and Allergies in Childhood), dan pemeriksaan spirometri dan uji provokasi bronkus pada
sebagian subjek yang dipilih secara acak. Dari studi tersebut didapatkan prevalensi asma (recent
asthma ) 8,9% dan prevalensi kumulatif (riwayat asma) 11,5%.
Prevalensi serangan asma pada anak berdasarkan klasifikasinya adalah sekitar 80-85% untuk
asma persistensi ringan, 10-15% untuk asma persistensi sedang, 3-5% untuk asma persistensi
berat.
D. Patogenesis
Asma terjadi suatu proses inflamasi kronik yang menimbulkan kerusakan jaringan secara
fisiologis diikuti oleh proses penyembuhan (healing process), yang menghasilkan perbaikan selsel baru (repair) dan pergantian sel-sel yang mati menjadi sel-sel yang baru. Proses penyembuhan
tersebut juga meninggalkan suatu jaringan skar. Pada asma, juga terjadi proses airway
remodeling berupa proses perubahan struktur yang komplek dan banyak belum diketahui, juga
sebagai akibat proses inflamasi yang terus menerus (longstanding inflammation). Bentuk klinis
airway remodeling berupa peningkatan gejala dan tanda asma seperti hipereaktiviti jalan napas,
masalah distensibiliti/regangan jalan napas dan obstruksi jalan napas. Antara airway remodeling
dan proses inflamasi terjadi suatu ketergantungan satu sama lain. Infiltrasi sel-sel inflamasi
terlibat dalam proses remodeling, juga komponen lainnya seperti matriks ekstraseluler,
membrane retikuler basal, matriks interstitial, fibrogenic growth factor, protease dan inhibitornya,
pembuluh darah, otot polos, kelenjar mucus.
Perubahan struktur yang terjadi meliputi:
Hipertrofi dan hiperplasia otot polos jalan napas
Hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus
15

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Penebalan membran reticular basal

NO RM : 344470

Pembuluh darah meningkat


Matriks ekstraselular fungsinya meningkat
Perubahan struktur parenkim
Peningkatan fibrogenic growth factor menjadikan fibrosis
Remodelling timbul karena adanya mekanisme aktivasi Th-2 (Sitokin Il3, Il-4).
Sitokin proinflamasi tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan remodeling tetapi
interaksinya dengan sel epitel dan mediatornya adalah mekanisme yang dapat menjelaskan
terjadinya airway remodeling pad aasma. Sehingga dirumuskan suatu postulat bahwa kerusakan
sel epitel dan sitokin-sitokin TH-2 beraksi bersama-sama dalam menimbulkan gangguan fungsi
EMTU yang menghasilkan aktivasi miofibroblas dan induksi respons inflamasi dan remodeling
sebagai karakteristik asma kronik.

Gambar 1 . Interaksi Th-2 dan EMTU

E. Diagnosis
Menegakkan diagnosis ASMA adalah dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
16

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

1. Anamnesis

NO RM : 344470

Anak dikatakan menderita serangan asma apabila terdapat beberapa gejala klinis,
diantaranya:
Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan
Gejala berupa batuk , sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak
Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari
Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu
Respons terhadap pemberian bronkodilator
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit :
Riwayat keluarga (atopi)
Riwayat alergi / atopi
Penyakit lain yang memberatkan
Perkembangan penyakit dan pengobatan
Pada serangan asma, gejala yang timbul bergantung pada derajat serangannya. Pada serangan
ringan, gejala yang timbul tidak terlalu berat. Pasien masih lancar berbicara dan aktivitasnya
tidak terganggu. Pada serangan sedang, gejala bertambah berat. Anak sampai sulit
mengungkapkan kalimat. Pada serangan asma berat, gejala sesak dan sianosis dapat dijumpai,
pasien berbicara terputus-putus saat mengucapkan kata-kata.
2. Pemeriksaan Fisik
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan jasmani dapat normal. Kelainan
pemeriksaan jasmani yang paling sering ditemukan adalah mengi pada auskultasi. Pada
sebagian penderita, auskultasi dapat terdengar normal walaupun pada pengukuran objektif
(faal paru) telah terdapat penyempitan jalan napas. Pada keadaan serangan, kontraksi otot
polos saluran napas, edema dan hipersekresi dapat menyumbat saluran napas; maka sebagai
kompensasi penderita bernapas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi
menutupnya saluran napas. Hal itu meningkatkan kerja pernapasan dan menimbulkan tanda
klinis berupa sesak napas, mengi dan hiperinflasi. Pada serangan ringan, mengi hanya
terdengar pada waktu ekspirasi paksa. Walaupun demikian mengi dapat tidak terdengar (silent
chest) pada serangan yang sangat berat, tetapi biasanya disertai gejala lain misalnya sianosis,
gelisah, sukar bicara, takikardi, hiperinflasi dan penggunaan otot bantu napas. Pada serangan
sedang dan berat dapat dijumpai adanya wheezing terutama saat ekspirasi, retraksi dan
peningkatan frekuensi napas dan denyut nadi, bahkan dapat dijumpai sianosis.
3. Pemeriksaan Penunjang
17

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Spirometri

NO RM : 344470

Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa (KVP)
dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui prosedur yang standar. Pemeriksaan itu
sangat bergantung kepada kemampuan penderita sehingga dibutuhkan instruksi operator yang
jelas dan kooperasi penderita. Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari
2-3 nilai yang reproducible dan acceptable. Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio
VEP1/ KVP < 75% atau VEP1 < 80% nilai prediksi.
Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma :
Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75% atau VEP1 < 80% nilai
prediksi.
Reversibiliti, yaitu perbaikan VEP1 15% secara spontan, atau setelah inhalasi
bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau
setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu. Reversibiliti ini dapat
membantu diagnosis asma
Menilai derajat berat asma

Arus Puncak Ekspirasi (APE)

Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri atau pemeriksaan yang lebih
sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow meter (PEF meter) yang relatif sangat murah,
mudah dibawa, terbuat dari plastik dan mungkin tersedia di berbagai tingkat layanan kesehatan
termasuk puskesmas ataupun instalasi gawat darurat. Alat PEF meter relatif mudah digunakan/
dipahami baik oleh dokter maupun penderita, sebaiknya digunakan penderita di rumah seharihari
untuk memantau kondisi asmanya. Manuver pemeriksaan APE dengan ekspirasi paksa
membutuhkan koperasi penderita dan instruksi yang jelas.
Manfaat APE dalam diagnosis asma
Reversibiliti, yaitu perbaikan nilai APE 15% setelah inhalasi bronkodilator (uji
bronkodilator), atau bronkodilator oral 10-14 hari, atau respons terapi kortikosteroid
(inhalasi/ oral , 2 minggu)
Variabiliti, menilai variasi diurnal APE yang dikenal dengan variabiliti APE harian selama
1-2 minggu. Variabiliti juga dapat digunakan menilai derajat berat penyakit (lihat
klasifikasi)
Pada serangan asma berat, pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah analisis gas darah
(AGD) dan foto rontgen toraks proyeksi anterior-posterior (AP). Pada AGD dapat dijumpai
adanya penigkatan pCO2 dan rendahnya pO2 (hipoksemia).
18

ILMU
KESEHATAN
ANAK

34

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

F. Penatalaksanaan

Pada serangan asma ringan, diberikan obat pereda (reliever) berupa agonis secara
inhalasi/oral, atau adrenalin 1/1000 subkutan 0,01 ml/kgBB/kali dengan dosis maksimal 0,3

ml/kali
Pada serangan asma sedang, diberikan obat seperti di atas ditambah dengan pemberian
oksigen, cairan intravena, kortikosteroid oral dan dirawat di ODC (one day care=ruang rawat

sehari)
Pada serangan asma berat, selain obat di atas, dilakukan pemberian aminofilin secara inisial
dan rumatan. Kortikosteroid dapat diberikan secara intravena. Steroid oral dengan dosis 1-2
mg/kgBB/hari dibagi 3 diberikan selama 3-5 hari. Steroid yang dianjurkan adalah prednisone

dan prednisolon.
Terdapat terapi jangka panjang asma yang kronik tergantung pada derajat atau klasifikasi
asma. Pada asma episodic jarang, tidak diberikan obat pengendali, sedangkan pada asma
episodic sering dan peristen, harus diberikan obat pengendali. Pada tahap awal biasanya
diberikan steroid hirupan dosis rendah setara dengan budesonide 100-<400 g
dinaikkan bertahap dengan dosis menengah 400-<800 g atau

dan

dosis tinggi (800 g )

sesuai dengan gejala yang terjadi/terpantau saat pemberian obat-obatan. Pada tahap tertentu,
sebelum menentukan apakah steroid dosis tinggi perlu digunakan, perlu dipertimbangkan
pemberian obat kombinasi baik dengan agonis kerja panjang maupun leukotrien. Obat
pengendali dapat diberikan jangka lama bahkan dapat seumur hidup, tetapi apabila diberikan
pada tahap awal dan tepat, penggunaanya mungkin dapat lebih singkat.

G. Pencegahan
Langkah preventif pada asma dapat dibedakan menjadi preventif primer, preventif sekunder,
preventif tersier. Pencegahan primer (prenatal) dilakukan pada ibu hamil yang mempunyai
riwayat atopi pada dirinya, keluarga, anak sebelumnya atau pada suami. Pencegahan primer
bertujuan mencegah terjadinya sesitisasi pada janin intrauterine dan dilakukan saat janin dalam
keadaan menyusui. Untuk melakukan pencegahan primer ibu hamil dan ibu menyusui harus
menghindari factor pemicu (inducer) seperti asap rokok atau makanan yang alenergik.
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mencegah terjadinya inflamasi pada bayi/anak yang sudah
tersensitisasi. Target pencegahan sekunder adalah bayi/anak yang mempunyai orang tua dengan
riwayat atopi. Antihistamin diberikan selama 18 bulan pada anak dengan dermatitis atopi dan
19

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

riwayat atopi pada orang tua.

NO RM : 344470

Pencegahan tersier bertujuan mencegah terjadinya serangan asma pada anak yang sudah
menderita asma. Pencegahan dapat berupa penghindaran terhadap pencetus maupun pemberian
obat-obat pengendali (controller).

BAB III
20

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK
DISKUSI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien An. S usia 5 tahun 9 bulan datang ke IGD RSUD
Karanganyar karena panas, batuk, sesak sejak 1 hari sebelumnya, nafsu makan berkurang . Sesak
dan batuk timbul setelah pasien minum es jus.

Terdapat riwayat penyakit dahulu yang

berhubungan dengan penyakit sekarang. Terdapat riawayat mondok 1 kali karena asma, riwayat
asma, riwayat alergi minum es dan udara dingin. Terdapat riwayat penyakit pada keluarga yang
berhubungan dengan penyakit sekarang. Terdapat riwayat asma pada ibu. Terdapat Riwayat
lingkungan yang memengaruhi penyakit pasien yaitu riwayat merokok pada kakek, riwayat kontak
cuaca udara dingin, riwayat kontak minum es.
Berdasarkan pemeriksaan fisik keadaan umum pasien tampak gelisah, HR: 120x/menit, RR :
40x/menit, Suhu: 38,30C, BB: 14kg, TB: 105cm, BMI: 12,69, Gizi Kurang. Terdapat nafas cuping
hidung dan retraksi dinding dada. Pemeriksaan auskultasi didapatkan suara Wheezing dada depan
dan dada belakang. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan Granulosit,penurunan
MCHC dan penurunan limfosit
Berdasarkan kasus tersebut maka didapatkan diagnosa kerja pasien Asma Bronkial
Persistensi Sedang. Asma Bronkial adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang
melibatkan sel dan elemennya, yang menyebabkan peningkatan hipereponsif jalan napas, yang
menimbulkan gejala episodik beruluang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk
terutama pada malam hari atau dini hari. Pada Pemeriksaan yang paling sering ditemukan adalah
mengi pada auskultasi. Prinsip dasar penanganan Asma Bronkial ada 2 jenis terapi obat berupa
pereda (reliever) dan pengendali (controller). Obat pereda untuk meredakan gejala asma berupa
beta agonis dan ipratropium bromide. Obat pengendali untuk mengendalikan asma agar tidak
mudah tercetus misalnya disodium cromoglicate, antileukotrien, steroid hirupan. Masing-masing
pemberian obat tergantung pada derajat serangan asma.
Pada kasus ini terapi yang diusulkan adalah Infus RL 16 TPM, Inj ampisilin 100mg/8 jam, Inj
dexametason 2mg/12 jam, Nebulizer/12 jam ventolin 0,5cc, flexotide 0,5 cc, Nacl 1cc,
Paracetamol Syr 3xCth I
Pemeriksaan penunjang yang diusulkan pada pasien ini adalah pemeriksaan darah rutin, jika perlu
dan tersedia fasilitas diperiksa analisa gas darah, foto thoraks, histopatologi.

21

34

ILMU
KESEHATAN
ANAK
DAFTAR PUSTAKA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 344470

1. Rahajoe, Nastiti., Bambang Supriyatno., Darmawan Budi Setyawan. 2005. Buku Ajar
Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
2. Pusponegoro Hardiono D, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi
Pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Hal: 335-347
3. Mereinstein Gerald B., David W Kaplan., Adam A Rosenberg. 2002. Buku Pegangan
Pediatri. Edisi 17. Jakarta: Penerbit Widya Medika.
4. Garna H Herry. 2005. Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak. Bandun: FK Unpad.
5. Ilmu Kesehatan Anak RSCM. 2004. Pedoman Pelayanan Medis RSCM. Jakarta: penerbit
Buku IDAI
6. Maranatha, Daniel. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. SurabayaL Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK Unair, RSUD Dr. Soetomo

22