Anda di halaman 1dari 82

1

MODUL

PELURUHAN RADIOAKTIF
FISIKA INTI

Oleh :
VIRGINIA MAHENDRA P. (130210102008)
NOVITA YULIANI

(130210102025)

IKA NUR AINI ALFIANTI (130210102047)


HALIMATUZ ZAHROK

(130210102075)

FIRDHA CHOIRUN NISA (130210102108)


ELLA YAUMIL AFIANA

(130210102117)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

PRAKATA
Alhamdulillahirabbil'aalamin, segala puja dan puji syukur penyusun
panjatkan kepada Allah Yang Maha Penyayang. Tanpa karunia-Nya, mustahillah
modul ini terselesaikan tepat waktu. Modul ini ditulis berdasarkan keinginan
penyusun untuk mempermudah mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan atau
informasi tentang peluruhan radioaktif. Para mahasiswa cenderung kesulitan
untuk mencari sumber belajar yang lengkap. Berdasarkan kondisi tersebut,
penyusun berusaha menyusun modul ini dengan memuat pembahansan materi
dengan lengkap yang disertai dengan contoh soal dan latihan-latihan yang disertai
kunci jawaban sehingga nantinya mahasiswa akan memperoleh pemahaman
konsep secara sempurna. Terselesaikannya penulisan modul ini juga tidak terlepas
dari bantuan beberapa pihak. Karena itu, penyusun menyampaikan terima kasih
kepada dosen mata kuliah fisika inti untuk semua bantuan, motivasi, dan saransarannya serta kepada teman-teman semua atas kerjasamanya. Meskipun telah
berusaha untuk menghindarkan kesalahan, penyusun menyadari juga bahwa
modul ini masih mempunyai kelemahan sebagai kekurangannya. Karena itu,
penyusun berharap agar pembaca berkenan menyampaikan kritikan. Dengan
segala pengharapan dan keterbukaan, penulis menyampaikan rasa terima kasih
dengan setulus-tulusnya. Kritik merupakan perhatian agar dapat menuju
kesempurnaan. Akhir kata, penyusun berharap agar modul ini dapat membawa
manfaat kepada pembaca. Secara khusus, penyusun berharap semoga modul ini
dapat menginspirasi generasi bangsa ini agar menjadi generasi yang tanggap dan
tangguh dan juga dapat dijadikan acuan untuk penulisan modul lainnya.

Jember, Mei 2016

Penyusun

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya
sehingga Modul Fisika Inti tentang peluruhan radioaktif ini dapat diselesaikan.
Modul ini memberikan uraian tentang peluruhan radioaktif, macam-macam
peluruhan dan disertai dengan contoh soal serta latihan dan kunci jawaban.
Terimakasih disampaikan kepada Bapak Drs. Bambang Supriyadi, M.Sc.
selaku dosen pengampu mata kuliah fisika inti. Terimakasih juga disampaikan
kepada teman-teman tim penyusun yang telah berkontribusi dalam pembuatan dan
editing modul ini serta semua pihak yang telah ikut membantu dalam
penyelesaian modul ini.
Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam modul ini untuk itu
kritik dan saran terhadap penyempurnaan bahan ajar ini sangat diharapkan.
Semoga modul ini dapat memberi maanfaat bagi siswa maupun mahasiwa
khususnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jember, Mei 2016

Penyusun

ANATOMI MODUL

Pendahuluan
Berisi materi yang akan
disajikan
serta
tujuan
pembelajaran instruksional
yang diharapkan setelah
mempelajari modul ini

Petunjuk Penggunaan
Berisi bagaimana cara
menggunakan modul ini
baik bagi dosen maupun
mahasiswa

Peta Konsep
Berisi peta tentang materi
apa saja yang akan dipelajari

Pengetahuan
Berisi uraian materi yang
akan
dipelajari
oleh
mahasiwa, disertai gambar
yang mandukung materi
tersebut

Contoh Soal
Berisi latihan soal pada tiap
sub pokok bahasan disertai
pembahasan yang mudah
dimengerti oleh mahasiwa.

Uji Pemahaman
Berisi soal-soal pada tiap
kegiatan
belajar
guna
mengetahui
tingkat
ketercapaian tujuan peserta
didik

Pembahasan
Berisi pembahasan dan
penyelesaian dari soal-soal
yang terdapat pada uji
kompetensi dan tes formatif

Glosarium
Berisi istilah-istilah penting
yang terdapat dalam modul

DAFTAR ISI
PRAKATA ............................................................................................................ 3
KATA PENGANTAR ........................................................................................... 4
ANATOMI MODUL ............................................................................................. 5
DAFTAR ISI .......................................................................................................... 7
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. 8
PENDAHULUAN .................................................................................................. 9
PETUNJUK PENGGUNAAN ............................................................................. 10
PETA KONSEP ................................................................................................... 22
KEGIATAN BELAJAR 1
A. Uraian Materi................................................................................................... 13
1. Peluruhan Radioaktif ................................................................................. 13
2. Hukum-Hukum Kekekalan dalam Peluruhan Radioaktif ......................... 18
B. Rangkuman ...................................................................................................... 21
C. Uji Pemahaman 1 ............................................................................................ 22
KEGIATAN BELAJAR 2
A. Uraian Materi .................................................................................................. 25
3. Peluruhan Alfa .......................................................................................... 25
4. Peluruhan Beta .......................................................................................... 30
5. Peluruhan Gamma...................................................................................... 37
B. Rangkuman ...................................................................................................... 41
C. Uji Pemahaman 2 ............................................................................................ 42
KEGIATAN BELAJAR 3
A. Uraian Materi .................................................................................................. 45
6. Reaksi Fisi ................................................................................................. 45
7. Reaksi Fusi ................................................................................................ 53
B. Rangkuman ..................................................................................................... 64
C. Uji Pemahaman 3 ........................................................................................... 65
UJI FORMATIF...... ............................................................................................ 67
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 69
PEMBAHASAN ................................................................................................. 70
GLOSARIUM ..................................................................................................... 80

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Jumlah inti radioaktif meluruh terhadap waktu


Gambar 1.2 Aktivitas suatu cuplikan radioaktif sebagai fungsi dari waktu
Gambar 1.3 Rajahan semilog aktivitas terhadap waktu
Gambar 2.1 Energi yang dibutuhkan alfa untuk lolos dari inti
Gambar 2.2 Ketergantungan usia paruh peluruhan alfa pada energy kinetic
partikel alfa
Gambar 2.3 Spektrum elektron yang dipancarkan dalam peluruhan beta
Gambar 2.4 Spektrum positron yang dipancarkan dalam peluruhan beta positif.
Gambar 2.5 Proses peluruhan atom Th menjadi Pb
Gambar 2.6 Beberapa sinar gamma yang dipancarkan menyusul peluruhan beta
Gambar 3.1 Bentuk lonjong sebuah inti
Gambar 3.2 Urutan perubahan bentuk inti dalam fisi
Gambar 3.3 Distribusi massa kedua pecahan
Gambar 3.4 Urutan proses fisik yang khas. Sebuah inti 235U menyerap sebuah
neutron dan mengalami fisi. Hasil fisi ini diantaranya adalah
pemancran dua neutron langsung dan satu nuetron tunda. Setelah
melewati moderator, kedua neutron langsung menyebabkan kedua
fisi baru, sedangkan neutron ketiga ditangkap oleh inti 238U yang
akhirnya menghasilkan inti 219Pb
Gambar 3.5 Reaktor air-didih
Gambar 3.6 Reaktor air tekan
Gambar 3.7 Fusi pengukungan lembam yang dipicu dengan laser
Gambar 3.8 Usul rancangan sebuah reactor fusi.

PENDAHULUAN
Di dalam modul ini, anda akan mempelajari mengenai peluruhan
radioaktivitas yang mencakup : peluruhan radioaktif, hukum-hukum kekekalan
dalam peluruhan radioaktif, peluruhan alfa, peluruhan beta, peluruhan gamma,
reaksi fisi dan reaksi fusi. Oleh karena itu, sebelum anda mempelajari modul ini
anda terlebih dahulu harus mempelajari modul mengenai model-model atom dari
mata kuliah fisika modern. Materi kuliah dalam modul ini merupakan pengayaan
atau kelanjutan dari meteri dalam mata kuliah fisika modern.
Pengetahuan yang akan anda peroleh dari modul ini akan bermanfaat untuk
memperdalam pengetahuan anda tentang peluruhan

radioaktivitas yang biasa

anda pelajari di bangku SMA/SMU serta reaksi inti yang akan anda pelajari pada
pertemuan selanjutnya. Setelah mempelaajri modul ini anda diharapkan dapat
mencapai beberapa tujuan instruksional khusus, sebagai berikut :
1. Menjelaskan pengertian peluruhan radioaktif
2. Menghitung ketetapan dan aktivitas peluruhan suatu atom
3. Menjelaskan hukum-hukum kekekalan dalam peluruhan radioaktif
4. Menjelaskan peluruhan alfa
5. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan alfa
6. Menjelaskan macam-macam peluruhan beta
7. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan beta
8. Menjelaskan peluruhan gamma
9. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan gamma
10. Menjelaskan reaksi fisi
11. Menjelaskan reaksi fusi
Materi kuliah dalam modul ini akan disajikan dalam urutan sebagai berikut :
1.

Kegiatan Belajar 1 (KB 1). Pada bagian ini anda akan mempelajari sub pokok
bahasan peluruhan radioaktif dan huku-hukum kekekalan dalam peluruhan
radioaktif

2.

Kegiatan belajar 2 (KB 2). Pada bagian ini anda akan mempelajari sub pokok
bahasan peluruhan alfa, peluruhan beta dan peluruhan gamma

3.

Kegiatan belajar 3 (KB 3). Pada bagian ini anda akan mempelajari sub pokok
bahasan reaksi fisi dan reaksi fusi.

PETUNJUK PENGGUNAAN

Bagi Dosen :
1.

Memberi tugas kepada mahasiswa untuk mempelajari modul di rumah (


waktu: di luar jam pelajaran ) untuk memperdalam pemahaman pokok
bahasan peluruhan radioaktivitas secara mandiri terkait materi peluruhan
radioaktif, hukum-hukum kekekalan dalam peluruhan radioaktif, peluruhan
alfa, peluruhan beta, peluruhan gamma, reaksi fisi dan rekasi fusi. Diharapkan
dengan adanya modul ini mahasiswa mampu memahami lebih jauh mengenal
peluruhan radioaktivitas.

Bagi Mahasiswa :
1.

Keberhasilan belajar dengan modul bergantung pada ketakunan masingmasing individu

2.

Belajar menggunakan modul dapat dilakukan sendiri atau kelompok

3.

Sebagian besar informasi yang terdapat dalam modul disertakan sumber yang
jelas sebagai referensi tambahan belajar

4.

Langkah yang perlu diikuti secara berurutan dalam mempelajari modul ini
adalah sebagai berikut :
1.

Baca dan pahami benar-benar tujuan dan uraian materi yang ada di dalam
modul ini

2.

Bila dalam mempelajari modul ini mengalami kesulitan, diskusikan


dengan teman-teman yang lain dan bila belum terpecahkan bertanyalah
pada dosen.

3.

Setelah kalian faham


pemahaman

dan

tes

dengan materi tersebut, kerjakanlah


formatif

untuk

memahami

uji

kemampuan

pengetahuan dan keterampilan kalian.


4.

Periksalah hasil penyelesaian latihan tersebut melalui kunci yang tersedia


dan bila ada jawaban yang belum benar pelajarilah sekali lagi materi
yang bersangkutan

5.

Bila dalam mengerjakan latihan, kalian dapat mencapai tingkat


penguasaan 80% maka kalian dapat memulai mempelajarinya kegiatan
belajar berikutnya.

10

PELURUHAN
RADIOAKTIF

Reaksi
Fisi

Reaksi
Fusi

Hukum
Kekekalan
Peluruhan

Peluruhan
Alfa

Peluruhan
Gamma

Peluruhan
Beta

11

KEGIATAN BELAJAR 1

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Kegiatan Belajar 1 mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan pengertian peluruhan radioaktif
2. Menghitung ketetapan dan aktivitas peluruhan suatu atom
3. Menjelaskan hukum-hukum kekekalan dalam peluruhan radioaktif

12

Mengapa Inti Atom Meluruh?


Jika jumlah proton lebih besar dari jumlah netron (N < P), maka gaya
elektrostatis akan lebih besar dari gaya inti, hal ini akan menyebabkan inti atom
berada dalam keadan tidak stabil. Jika jumlah netron yang lebih besar dari jumlah
protonnya (N = P) akan membuat inti berada dalam keadaan stabil. Inti yang tidak
stabil ini akan berusaha menjadi inti stabil dengan cara melepaskan partikel bisa
berupa proton murni

, partikel helium

yang memiliki 2 proton atau

partikel lainnya. Inti atom yang tidak stabil ini


memiliki sifat dapat melakukan radiasi spontan atau
mampu

melakukan

aktivitas

radiasi

Tahukah kamu???

sehingga

dinamakan inti radioaktif. Unsur yang inti atomnya


mampu melakukan aktivitas radiasi spontan berupa
pemancaran sinar-sinar radioaktif dinamakan unsur
(zat) radioaktif. Pemancaran sinar-sinar radioaktif
(berupa partikel atau gelombang elektromagnetik)
secara spontan oleh inti-inti berat yang tidak stabil
menjadi inti-inti yang stabil disebut Radioaktivitas.

Marie

Curie

(1867-1934

Poland-Perancis).

1. PELURUHAN RADIOAKTIF
Radioaktivitas berarti pemancaran partikel alfa
( ), partikel beta ( ) atau sinar gamma dari suatu inti

adalah

perintis dalam bidang radiologi


dan pemenang Hadiah Nobel
dua kali, yakni Fisika pada
1903 dan Kimia pada 1911. Ia

atom. Sehingga peluruhan radioaktif adalah proses

mendirikan

dimana inti dari nuklida yang memancarkan partikel

Bersama dengan suaminya,

alfa ( ), partikel beta ( ) atau sinar gamma dari

Pierre Curie, ia menemukan

suatu inti atom. Dalam proses radioaktif, nuklida


yang mengalami transmutasi berubah menjadi

Curie

Institute.

unsur radium. Pada tahun


1903

untukpenemuan

radioaktivitas(bersamadengan

nuklida lain (dari inti atom berat menjadi inti atom

Henri Becquerel dan dengan

yang lebih ringan).

suaminya , Pierre ). Pada

Aktivitas adalah laju peluruhan inti radioaktif.


Semakin besar aktivitas, semakin banyak inti yang

tahun

1911

untuk

isolasiradium murni.

13

meluruh per satuan waktu. Aktivitas tidak berhubungan dengan jenis radiasi dan
energi radiasi, namun hanya berhubungan dengan jumlah peluruhan per satuan
waktu tertentu.
Satuan aktivitas dalam SI adalah Becquerel (Bq). Satu Becquerel sama
dengan satu peluruhan per detik. Satuan ini terlalu kecil dan sebagai gantinya
digunakan satuan Curie. Semula, Curie didefinisikan sebagai aktivitas dari satu
gram radium. Definisi ini kemudian diubah dengan yang lebih memudahkan,
yaitu:

1 Curie adalah satuan bilangan yang sangat besar, sehingga untuk


kepentingan praktis sering dipakai satuan milicurie (mCi) dan mikrocurie (Ci).
Satu cuplikan bahan radioaktif yang berorde beberapa gram, mengandung
atom dalam orde 1023. Jika cuplikan ini memiliki aktivitas 1 Ci, maka akan ada
sekitar 1010 inti yang meluruh setiap detiknya. Dapat juga dikatakan bahwa 1
inti atom sembarang memiliki probabilitas (1010/1023) atau 10-13 untuk meluruh
setiap detiknya. Besaran ini, yaitu probabilitas peluruhan per inti per detik, disebut
dengan tetapan peluruhan dan dinyatakan dengan .
Kita menganggap bahwa

adalah suatu bilangan kecil, dan suatu

tetapan probabilitas peluruhan inti yang tidak bergantung pada usia cuplikan
bahan radioaktifnya. Aktivitas

hanyalah bergantung pada jumlah inti radioaktif

dalam cuplikan dan juga pada probabilitas peluruhan :

Baik

(1.1)

maupun N adalah fungsi dari waktu t. ketika cuplikan meluruh,

jumlah intinya berkurang sebanyak N buah-lebih sedikit jumlah inti atom yang
tertinggal. Jika N berkurang dan tetap, maka

harus pula menurun terhadap

waktu. Jadi, jumlah peluruhan per detik makin lama makin berkurang.
Kita dapat memandang
satuan waktu-semakin besar

sebagai peluruhan jumlah inti radioaktif tiap


, semakin banyak inti atom yang meluruh setiap

detik.

(1.2)

14

(Kita telah mengikutsertakan tanda minus karena

mengingat

menurun terhadap bertambahnya waktu, sedangkan kita menginginkan

sebagai

suatu bilangan positif). Dari persamaan (1.1) dan (1.2) kita peroleh:

(1.3)

Atau

(1.4)

Persamaan ini dapat langsung diintegrasikan dengan hasil


(1.5)

c adalah tetapan integrasi. Hasil ini dapat ditulis kembali sebagai

(1.6)

Atau
(1.7)

Gambar 1.1 Jumlah inti radioaktif meluruh terhadap waktu


Disini kita telah mengganti

dengan

. Pada saat

jadi

adalah jumlah inti radioaktif semula. Persamaan (1.7) adalah hukum persamaan
radioaktif eksponensial, yang memberitahu kita bagaimana jumlah inti radioaktif

15

dalam suatu cuplikan meluruh terhadap waktu. Pada kenyataanya kita tidak dapat
mengukur

, tetapi kita dapat mengungkapkan persamaan ini dalam bentuk yang

lebih bermanfaat dengan mengalikan kedua belah ruas dengan

, yang

memberikan

(1.8)

adalah aktivitas awal.


Andaikanlah kita menghitung jumlah peluruhan cuplikan bahan radioaktif
kita dalam satu detik (dengan menghitung radiasi dari peluruhan dalam satu
detik). Kita menunggu sebentar, kemudian menghitung kembali. Dengan
melakukan proses ini berulang kali, kita dapat merajah aktivitas

sebagai fungsi

dari waktu, seperti yang diperlihatkan pada gambar 1.1. grafik rajahan ini
memperlihatkan ketergantungan eksponensial yang diperkirakan berdasarkan
persamaan (1.8).
Usia paruh peluruhan,

adalah waktu yang diperlukan aktivitas untuk

berkurang menjadi separuh, seperti yang diperlihatkan pada gambar 1.1. Jadi,
ketika

Dari sini kita peroleh:

Seringkali bermanfaat untuk merajah

sebagai fungsi dari

(1.9)
dengan

semilog, seperti diperlihatkan pada gambar 1.2. Pada jenis rajahan ini, persamaan
(1.8) berbentuk garis lurus; dengan mencocokkan suatu garis lurus melalui data
tersebut, kita dapat memperoleh nilai .

16

Gambar 1.2 Aktivitas suatu cuplikan radioaktif

Gambar 1.3 Rajahan semilog aktivitas terhadap

sebagai fungsi dari waktu

waktu

CONTOH 1.1
Diketahui usia paruh

adalah

hari. Berapakah:

a) Berapakah tetapan luruh


b) Berapakah probabilitas sebarang inti

untuk meluruh dalam satu detik

c) Andaikan kita mempunyai cuplikan

sebanyak

. Berapakah

aktivitasnya
d) Berapa jumlah peluruhan per detik yang terjadi apabila usia cuplikan ini satu
minggu?

Pemecahan
(a)

Jadi tetapan peluruhannya adalah

(b) Probabilitas peluruhan per detik adalah tetapan luruhan. Jadi, probabilitas
peluruhan sebarang inti

dalam satu detik adalah

(c) Jumlah atom dalam cuplikan adalah:

17

(d) Aktivitas meluruh menuntut Persamaan (1.8):

CONTOH 1.2
Usia paruh

adalah

dengan bumi
Berapa banyakkah atom

tahun. Secuplik batuan, yang memadat


tahun yang lalu, mengandung

buah atom

dikandungi batuan yang sama tadi pada saat ia

memadat?

Pemecahan
Usia batuan sesuai dengan

Karena tiap usia paruh memperkecil

dengan factor 2, maka faktor pengecilan

total adalah:

Oleh karena itu, batuan ini pada mulanya mengandung

atom

2. HUKUM-HUKUM KEKEKALAN DALAM PELURUHAN


RADIOAKTIF
Kajian kita tentang berbagai peluruhan radioaktif dan reaksi inti
memperlihatkan bahwa alam tidak memilih secara sembarang hasil peluruhan atau
reaksi yang terjadi, melainkan terdapat beberapa hukum tertentu hasil yang
mungkin terjadi. Hukum ini disebut hukum kekekalan yang diyakini memberi
wawasan penting terhadap perilaku dasar alam. Inilah hukum-hukum kekekalan
yang terjadi dalam suatu peluruhan radioaktif.

18

1. Kekekalan Energi
Energi dalam suatu reaksi inti pada umumnya ataupun peluruhan radioaktif
adalah kekal. Energi kinetik bisa dilepaskan (dalam reaksi eksotermik) dan bisa
juga harus diasup agar reaksi bisa terjadi (pada reaksi endotermik).Hukum
kekekalan energi memberitahu kita mengenai peluruhan mana yang paling
mungkin terjadi dan memungkinkan untuk dihitung energy diamnya atau kinetik
hasil peluruhan. Sebagai contoh, sebuah inti X hanya dapat meluruh menjadi
sebuah inti X yang lebih ringan. Selain itu ia juga memancarkan pula satu atau
lebih partikel yang secara bersama disebut x, jika massa diam X lebih besar
daripada massa diam total X + x. kelebihan energi massa ini disebut nilai Q
peluruhan, yaitu massa diam inti (nucleus).

mN(X)c2 mN(X)c2 + mN(X)c2 +Q


Q = [ mN(X) - mN(X) - mN(X) ] c2
(1.10)
Peluruhan ini hanya dapat terjadi jika Q bernilai positif. Kelebihan energi Q
ini muncul sebagai energi kinetik partikel-partikel hasil peluruhan ( dengan
anggapan X mula-mula diam ).

Q = KX + Kx

(1.11)

2. Kekekalan momentum linier


Hukum kekekalan momentum linier menyatakan bahwa momentum linier
sebelum suatu reaksi inti sama dengan momentum sesudahnya. Jika inti yang
meluruh pada awalnya diam, maka momentum toatal semua partikel hasil
peluruhannya haruslah nol.

PX + Px = 0

(1.12)

Biasanya massa partikel atau partikel-partikel x yang dipancarkan lebih


kecil dari pada massa inti sisa X, sehingga momentum pental Px menghasilkan
energy Kx yang kecil. Jika hanya satu partikel yang dipancarkan, persamaan
(1.11) dan (1.12) dapat dipecahkan secara serempak bagi Kx dan Kx. Jika x
menyatakan dua atau lebih partikel, maka kita memiliki jumlah besaran yang tidak

19

diketahui yang lebih banyak daripada jumlah persamaannya, sehingga tidak


mempunyai pemecahan tunggal, dalam kasus tersebut energi kinetik hasil
peluruhan dapat mengambil nilai sembarang dan suatu nilai minimum hingga
suatu nilai maksimum.

3. Kekekalan Momentum Sudut (Anguler)


Ada dua jenis momentum sudut yaitu momentum sudut spin s dan
momentum sudut gerak atau orbital I. Dalam setiap reaksi inti, momentum
anguler total ini adalah kekal, yaitu sama sebelum dan sesudah reaksi inti. Dalam
kerangka diam dari inti X, momentum sudut total sebelum peluruhan adalah sX.
Setelah peluruhan kita mempunyai sejumlah spin dari inti X dan partikel-partikel
x, dan juga sejumlah momentum sudut I = r x p dari x dan X yang bergerak
relative terhadap titik-titik dalam ruang yang semula ditempati oleh inti X. dengan
demikian hukum ini mensyaratkan

sX = sX' + sx + IX' + Ix

(1.13)

4. Kekekalan Muatan elektrik


Dalam tiap tipe reaksi inti, muatan total sebelum reaksi adalah sama dengan
muatan total sesudah reaksi. Karena muatan inti ditentukan oleh proton
(dinyatakan oleh nomor atom Z), maka hukum kekekalan ini dapat
direpresentasikan secara matematis sebagai: Z1 + Z2 = Z3 + Z4 dengan Z1 dan
Z2adalah muatan yang dimiliki inti-inti sebelum reaksi, sedangkan Z3 dan Z4
adalah muatan-muatan inti sesudahnya.

20

5. Hukum kekekalan nomor massa


Dalam beberapa proses peluruhan, kita dapat menciptakan beberapa partikel
(foton atau elektrom) yang tidak hadir sebelum terjadi peluruhan ( ini dapat terjadi
jika energi inti awal lebih besar daripada energy untuk menciptakan electron,
missal nilainya 0,511 MeV). Tetapi alam tidak memperkenankan menciptakan
atau memusnahkan proton dan neutron, meskipun dalam beberapa proses
peluruhan kita dapat mengubah neutron menjadi proton atau proton menjadi
neutron. Dengan demikian berlaku jumlah nomor massa A tidak berubah dalam
proses peluruhan atau reaksi. Dalam beberapa proses peluruhan, A tetap tidak
berubah karena baik Z maupun N keduanya berubah sedemikian rupa sehingga
mempertahankan jumlah keduanya tetap.

RANGKUMAN
Peluruhan Radioaktif

: 1 curie (Ci) = 3,7 x 10

10

peluruhan/detik

a = aktivitas peluruhan akhir a0 = aktivitas peluruhan awal


Hubungan antara tetapan peluruhan dan waktu paruh

ln

Hukum-hukum kekekalan yang berlaku dalam peluruhan radioaktif:


a) Hukum kekekalan energi
b) Hukum kekekalan momentum linear
c) Hukum kekekalan momentum sudut
d) Hukum kekekalan muatan elektrik
e) Hukum kekekalan nomor massa

21

Uji Pemahaman 1

1.

Jika suatu unsur radioaktif yang memiliki waktu paruh 9 hari meluruh
selama 36 hari sehingga unsur yang tersisa memiliki massa 4 gram,
berapakah massa awal unsure tersebut ?

2.

Suatu cuplikan bahan radioaktif tertentu meluruh dengan laju 548 cacah per
detik pada

. Pada

perhitungan lajunya menurun

menjadi 213 cacah per detik. (a) Berapakah usia paruh cuplikan tersebut ?
(b) Berapakah tetapan luruhannya? (c) Berapakah laju cacahnya pada
?
3.

Sebuah detektor radiasi berbentuk piringan bundar berdiameter 3 cm,


diletakkan sejauh 25 cm dari sumber radioaktif. Detektor itu mencatat 1250
cacahan per detik. Dengan menganggap bahwa detektor mencatat tiap
radiasi yang jatuh padanya, hitunglah aktivitas cuplikan (dalam curie) ?

4.

Berapakah fraksi dari jumlah semula inti dalam suatu cuplikan yang masih
tertinggal setelah (a) dua usia paruh (b) empat usia paruh, (c) 10 usia paruh?

5.

Andaikan kita mempunyai suatu cuplikan bahan yang mengandung inti


radioaktif

131

I (t1/2 = 8,04 hari) dengan aktivitas 2 mCi (a) Berapa banyak

peluruhan per detik yang terjadi dalam cuplikan itu ? (b) berapa banyak
peluruhan per detik yang akan terjadi dalam cuplikan itu selama empat
minggu ?

22

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokanlah jawaban kalian dengan kunci jawaban yang terdapat pada bagian
belakang modul ini. Hitunglah jawaban kalian yang benar dan kamudian gunakan
rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kalian terhadap materi
pada kegiatan belajar ini.
l

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90-100

= sangat baik

80-89

= baik

70-79

= cukup

60-69

= kurang

Dibawah 60

= sangat kurang

Jika tingkat penguasaan kalian mencapai 80-100,, SELAMAT, ANDA


BERHASIL!!!! Anda telah menguasai materi yang ada pada kegiatan belajar ini
dan siap untuk melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya yakni kegiatan belajar
2. Tetapi bila tingkat penguasaan kalian masih dibawah 80 maka kalian harus
mengulangi kegiatan belajar ini, terutama pada materi yang belum anda kuasai,
SELAMAT BERJUANG !!!!!!

23

KEGIATAN BELAJAR 2

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Kegiatan Belajar 1 mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan peluruhan alfa
2. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan alfa
3. Menjelaskan macam-macam peluruhan beta
4. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan beta
5. Menjelaskan peluruhan gamma
6. Menghitung energi kinetik dalam peluruhan gamma

24

3. PELURUHAN ALFA
Peluruhan alfa merupakan emisi partikel alfa ( inti helium) yang dapat
dituliskan sebagai

atau

. Ketika sebuah inti tak stabil mengeluarkan

sebuah partikel alfa maka nomor atom berkurang dua dan nomor massa berkurang
empat. Peluruhan alfa dapat ditulis sebagai berikut.

Peluruhan alfa ini diasumsikan dua neutron dan dua proton yang berada
dalam inti yang membentuk partikel alfa. Dua proton dan dua neutron ini bergerak
terus di dalam inti, yang kadang-kadang bergabung dan terkadang terpisah. Di
dalam inti partikel alfa terikat oleh gaya inti yang sangat kuat. Tetapi jika partikel
alfa inti bergerak lebih jauh dari jari-jari inti ia akan segera merasakan tolakan
gaya coulomb.
Jenis peluruhan seperti ini dapat membebaskan energi, karena inti hasil
peluruhan terikat lebih erat daripada inti semula. Energi yang terbebaskan dan
muncul sebagai energy kinetic partikel alfa dan inti anak, dapat dihitung dari
massa semua inti yang terlibat menurut persamaan di bawah ini

]c2

Q=[

Karena energi yang terbebaskan muncul sebagai energi kinetik, maka :

Q = Kx + K
Anggap kita telah memilih suatu kerangka acua di mana inti X diam.
Momentum linear juga kekal dalam proses peluruhan ini

Maka, P

= Px

Karena energi khas peluruhan partikel alfa adalah beberap MeV, maka
energi kinetik alfa dan inti anak kecil sekali dibandingkan terhadap energi diam

25

masing-masingnya. Jadi kita dapat menggunakan mekanika takrelativistik untuk


menghitung energy kinetic partikel alfa yang memberikan hasil
+

( +
(

Adapun tabel jangkauan energi waktu paruh dan konstanta peluruhan dari
pengemisi partikel
isotop

dapat dilihat pada tabel :

= (meV)
4,01

1,4 x

th

(
1,6 x

4,19

4,5 x

th

4,9 x

4,69

1,4 x

th

2,8 x

5,50

88th

2,5 x

5,89

20,8 d

3,9 x

6,29

56s

1,2 x

7,01

5s

8,05

45s

0,14
1,5 x

8,78
0,30s
2,3 x
Dari tabel di atas waktu paruh bervariasi dan konstanta peluruhan bervariasi.
Dengan kata lain konstanta peluruhan bervariasi sangat besar dengan sedikit
energi, dimana :

Nuklida berumur terpanjang memancarkan partikel alfa berenergi kecil

Nuklida berumur terpendek memancarkan partikel alfa berenergi besar


Peluruhan alfa merupakan salah satu contoh dari efek terobos halang.

Partikel alfa terikat dalam inti atom oleh gaya inti, ketika neutron dan proton
berada dalam inti, kadang-kadang berpadu dan bercerai kembali sehingga ketika
bergerak melewati jari-jari inti akan merasakan tolakan Coulomb dari inti anak.

26

Peluruhan alfa tak mungkin terjadi menurut fisika klasik. Namun


kenyataanya peluruhan alfa terjadi sebagai suatu cara untuk memperbesar
kemantapan suatu atom yang memiliki nucleon besar. Atom bernukleon besar
memiliki gaya tolak antar proton yang besar sehingga gaya nuklir berjangkau
pendek yang mengikatnya tak dapat mengimbangi. Maka terjadilah peluruhan
alfa. Partikel alfa memiliki massa yang cukup kecil ( jika dibandingkan nucleon
pembentuknya), dan memiliki energy kinetic yang cukup tinggi sehingga dapat
lolos dari sebuah atom. Lalu bagaiman penjelasan sebuah artikel alfa dapat lolos
dari inti ?

Gambar 2.1 Energi yang dibutuhkan alfa untuk lolos dari inti
Inti dari gambar diatas adalah agar partikel alfa dapat lolos dari inti, maka ia
harus memiliki energy minimal 25 MeV ( setara dengan energy untuk membawa
partikel alfa dari jarak tak hingga ke dekat inti tapi masih diluar jangkauan gaya
tarik inti). Namun peluruhan alfa hanya memiliki energi sekitar 4-9 MeV,
sehingga terjadi kekurangan energi sebesar 16-21 MeV untuk meloloskan diri dari
inti.
Persoalan kekurangan energi tersebut dapat dijawab secara mekanika
kuantum (oleh Gamow, Gurney, dan Condon). Ada tiga prinsip yang
dikemukakan untuk menjawabnya :
1. Partikel alfa bisa ada sebagai partikel di dalam inti
2. Partikel semacam ini terus menerus dalam keadaan gerak dan dibatas
geraknya hanya dalam inti oleh rintangan yang melingkupinya

27

3. Terdapat peluang kecil tetapi tertentu untuk partikel ini melewati rintangan
potensial ini(meski kecil) setiap kali terjadi tumbukan
Probabilitas persatuan waktu

bagi partikel alfa untuk muncul di

laboratorium adalah probabilitas menerobos potensial haling dikalikan dengan


banyaknya partikel alfa menumbuk penghalang per detik dalam usahanya untuk
keluar. Jika partikel alfa bergerak dengan laju v di dalam sebuah inti berjari-jari R,
maka selang waktu yang di perlukannya untuk menumbuk penghalang bolak-balik
di dalam inti adalah 2R/v. dalam inti beratdengan R = 6 fm, partikel alfa
menumbuk dinding inti sebanyak 1022 kali per detik.
Probabilitas P untuk menerobos potensial penghalang setinggi V0
e-2kL , dengan L adalah jarak terobos , dan k =

berbanding lurus dengan e yaitu P

Gambar 2.2 Ketergantungan usia paruh peluruhan alfa pada energy kinetic
partikel alfa
Kita memperkirakan bahwa probabilitas transmisi akan bergantung pada
tebal penghalang dan perbedaan antara tinggi penghalang dan energy partikel.
Tinggi maksimum penghalang VB adalah energy Coulomb partikel alfa pada
permukaan inti atom

VB =
R

= Jari-jari inti

Faktor 2

= muatan elektrik partikel alfa

28

Faktor (Z-2) terjadi karena

inti sisa yang bertanggung jawab bagi gaya

elektrostatis
Selisih antara tinggi penghalang dan energi kinetik partikel bervariasi dari
pada permukaan inti atom hingga 0 pada jari-jari R. karena pada jarak R

VB-K

partikel alfa meninggalkan penghalang, maka kita akan mengambil nilai rata-rata
(VB-K ) sebagai nilai wakil dari ( V0 E), yaitu tinggi penghalang datar di atas
energi kinetik partikel. Bagi ketebalan efektif L, kita akan pula mengambil nilai
rata-rata (R-R) . R adalah jari-jari inti (=

) sedangkan R merupakan

koordinat radial. Karena pada jarak R energi potensial V =


denga energi kinetik partikel alfa ,

sama

ketika ia berada jauh sekali dari inti atom ,

maka

Dengan demikian , taksiran kasar bagi probabilitas peluruhan alfa adalah :

Dengan k =

CONTOH 2.1
1. Hitunglah energi kinetik partikel alfa yang dipancarkan dalam peluruhan alfa
dari

Pemecahan
138

[ (

=
=

136

]
]

Q
4,871 MeV

= 4,785 MeV

29

Jadi, energi kinetik partikel alfa yang dipancarkan adalah 4,785 MeV

2. Jika Nitrogen ditembak dengan partikel alfa , maka dihasilkan sebuah inti
Oksigen dan sebuah proton seperti terlihat pada reaksi inti berikut ini:
4
2H

+ 7N14 8O17 + 1H1

Diketahui massa inti :


4
2H

= 4,00260 sma

14

7N

= 14,00307 sma

17
8O

= 16,99913 sma

1
1H

= 1,00783 sma

Jika 1 sma setara dengan energi 931 Mev, maka pada reaksi diatas....
A. dihasilkan energi 1,20099 Mev
B. diperlukan energi 1,20099 Mev
C. dihasilkan energi 1,10000 Mev
D. diperlukan energi 1,10000 Mev
E. diperlukan energi 1,00783 Mev
Pemecahan
E = = [(m 2H4 + m 7N14) (m 8O17 + m 1H1)] 931 MeV
E = [(4,00260 + 14,00307) (16,99913 + 1,00783)] 931 MeV
E = (18,00567 18,00696) 931 MeV
E = 1,20099 (memerlukan energi)
Jawaban: B

4. PELURUHAN BETA
Peluruhan beta merupakan proses sebuah neutron berubah menjadisebuah
proton atau sebuah proton menjadi sebuah neutron. Jadi, Z dan N masing-masing
berubah sebanyak satu-satuan, tetapi A tidak berubah. Pada peluruhan beta paling
utama, sebuah neutron berubah menjadi sebuah proton dan sebuah elaktron:

n p e . Ketika proses peluruhan ini pertama kali dipelajari, partikel yang


dipancarkan disebut partikel beta; kemudian baru diperlihatkan bahwa partikel itu
adalah elektron.

30

Elektron yang dipancarkan dalam peluruhan beta bukanlah elektron


orbital tetapi elektron itu diciptakan oleh inti atom dari energi yang ada.
Diketahui spin intrinsik proton, neutron dan elektron semuanya 1 .

Setelah neutron meluruh, spin proton dan neutron dapat sejajar (spin total = 1) atau
berlawanan (spin total = 0), tetapi tidak satupun dari kedua kasus ini yang
memberikan spin total 1 , spin neutron semula. Oleh karena itu, proses

peluruhan ini tampaknya melanggar hukum kekekalan momentum sudut.


Persoalan yang paling serius adalah yang berkaitan dengan pengukuran
energi elektron yang dipancarkan spektrum energi elektron kontinu. Dari nol suatu
nilai maksimum Kmaks, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.5.

Gambar 2.3 Spektrum elektron yang dipancarkan dalam peluruhan beta


meskipun kita ketahui bahwa elektron hanya menyerap atau memancarkan energi
secara diskrit ketika berpindah dari kulit satu ke kulit lainnya. Dalam peluruahan
neutron nilai Q adalah:

(1.14)
Dengan mengelompokkan mp dan me secara bersama untuk memberikan
massa atom m11 H 0 , sehingga

(1.15)
yang memberikan nilai 0,783 MeV.
Pemecahan terhadap kedua masalah di atas ditemukan oleh Wolfgang Pauli
pada tahun 1930. Ia mengusulkan bahwa terdapat pula partikel ketiga yang
dipancarkan dalam peluruhan beta karena amuatan elektrik telah dikekalkan oleh

31

muatan proton dan elektron, maka partikel baru ini tidak memiliki muatan elektrik.
Jika ia memiliki spin 1 , maka ia akan mengekalkan momentum sudut, karena

kita dapat menggabungkna spin ketiga partikel hasil hasil peluruhan akan
memberikan nilai 1 , sama seperti nilai spin awal yaitu spin neutron.

Untuk

masalah

mengenai

energi

APA PERBEDAANNYA??

kontinyu dipecahkan sebagai berikut, energi


kontinyu yang dipancarkan tidak lain adalah
energi yang diambil partikel baru tersebut.
Kenyataan

pengamatan

bahwa

rentang

spektrum energi menjangkau hingga nilai

Q mn m 11 H 0 c 2 menyarankan

bahwa

partikel ini memiliki massa diam nol, seperti


foton. (akan tetapi partikel tersebut bukanlah
foton, karena foton memiliki spin 1 ).
Partikel baru ini disebut

neutrino

(dalam bahas itali berarti neutral kecil) dan


diberi lambang v. Setiap partikel selalu
memiliki anti partikel , dan antipartikel dari
neutrino adalah antineutrino v .

(1.16)
Peluruhan beta dapat pula terjadi dala sebuah inti atom. Sebuah inti atom
dengan Z proton dan N neutron meluruh ke inti atom lain dengan Z+1 proton dan
N-1 neutron:

(1.17)
Nilai Q bagi peluruhan ini adalah

(1.18)

32

Energi yang dilepaskan dalam peluruhan ini (nilai Q) muncul sebagai energi
antineutrino, energi kinetik elektron, dan sejumlah kecil energi kinetik pental ini X
(biasanya dapat diabaikan karena bernilai sangat kecil).
Selain itu peluruhan beta juga terjadi ketika sebuah proton berubah menjadi
sebuah neutron yang digambarkan dalam persamaan sebagai berikut:
(1.19)
Pada proses ini dipancarkan sebuah elektronpositif atau yang disebut sebagai
positron. Positron merupakan antipartikel elektron; ia memiliki massa yang sama
dengan massa elektron, tetapi bermuatan elektrik yang berlawanan. Peluruhan ini
memiliki nilai negatif, sehingga tidak pernah teramati terjadi di alam bagi proton
bebas. Hanya proton dalam inti atomlah yang dapat mengalami proses peluruhan
ini:

(1.20)
Nilai Q bagi peluruhan ini adalah

(1.21)
Gambar 1.6 memperlihatkan distribusi energi positron yang dipancarkan
dalam suatu peluruhan beta positif tertentu.

Gambar 2.4 Spektrum positron yang dipancarkan dalam peluruhan beta positif.
Salah satu proses peluruhan inti yang menyaingi pemancaran positron adalah
tangkapan elektron; proses dasar tangkapan elektron adalah:
(1.22)

33

Di sini sebuah proton menangkap sebuah elektron dari orbitnya dan beralih
menjadi sebuah neutron ditambah sebuah neutrino. Elektron yang diperlukan bagi
proses ini adalah elektron pada orbit terdalam sebuah atom, dan proses
penangkapan ini kita cirikan dengan kulit. Asal elektronnya: tangkapan kulit-K,
tangkapan kulit L, dan seterusnya. (Tentu saja, orbit elektron yang dekat, atau
bahkan menembus, inti atom memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk
ditangkap). Tangkapan elektron tidak terjadi bagi proto bebas, tetapi dalam inti
atom prosesnya adalah:

(1.23)
Nilai Q bagi proses ini, dengan menggunakan massa atom adalah

(1.24)
Berikut tabel beberapa proses peluruhan beta yang khas, bersama dengan
nilai Q dan usia-paruh yang bersangkutan.

34

Gambar 2.5 Proses peluruhan atom Th menjadi Pb

CONTOH 2.2
Inti

23

Ne meluruh ke inti

23

Na dengan memancarkan beta negatif. Berapakah

energi kinetik maksimum elektron yang dipancarkan?

Pemecahan
Bentuk peluruhan ini adalah yang diberikan oleh Persamaan (1.17):
23
10

23
Ne13 11
Na12 e v

Sedangkan nilai Q-nya dihitung dari Persamaan (1.18), dengan menggunakan


massa atom:

Q m( 23Ne) m 23 Na c 2
22,994466 u 22,989770 u 931,5MeV / u
4,374 MeV
Kecuali koreksi kecil dari energi kinetik inti yang terpental, energi kinetik
maksimum elektron yang sama dengan nilai ini. (Hal ini terjadi apabila energi
neutrino sedemikian kecilnya sehinga dapat diabaikan. Begitu pula, yang terjadi

35

adalah energi maksimum neutrino apabila elektron memiliki energi kinetik yang
sedemikian kecilnya sehingga dapat diabaikan).

CONTOH 2.3
40

K adalah suatu isotop tidak lazim, dalam arti bahwa ia mengalami peluruhan beta

positif, beta negatif, dan tangkapan elektron. Carilah nilai Q bagi masing-masing
peluruhan ini.

Pemecahan
Proses peluruhan beta negatif diberikan oleh Persamaan (1.17):
40
19

40
K 21 20
Ca20 e v

dan nilai Q yang bersangkutan didapat dari Persamaan (1.18) dengan


menggunakan massa atom:

K m

Q m

40

40

Ca c 2

39,963999 u 39,962591u 931,5MeV / u


1,312 MeV

Persamaan (1.19)memberikan proses peluruhan bagi pemancaran beta positif:


40
19

40
K 21 18
Ar22 e v

dan nilai Q yang bersangkutan diberikan oleh Persamaan (1.20)

K m

Q m

40

40

Ar 2me c 2

39,963999 u 39,962383 u 2 0,000549 u 931,5MeV / u


0,483MeV

Bagi penangkapan elektron:


40
19

Dan dari Persamaan (1.23)

K m

Qec m

40

40

40
K 21 e 18
Ar22 v

Ar c 2

39,963999 u 39,962383 u 931,5MeV / u


1,505 MeV

36

5. PELURUHAN GAMMA
Setelah peluruhan
alfa

atau

beta,

inti

JELASKAN PROSESNYA???

biasanya dalam keadaan


eksitasi. Seperti halnya
atom, inti akhir itu akan
mencapai keadaan dasar
setelah

memancarkan

satu atau lebih foton, yang dikenal sebagai sinar gamma inti. Dalam proses
pemancaran foton ini, baik nomor atom atau nomor massa inti tidak berubah.
Setelah inti meluruh menjadi inti baru biasanya terdapat energi kelebihan pada
ikatan intinya sehingga seringkali disebut inti dalam keadaan tereksitasi. Inti yang
kelebihan energinya ini biasanya akan melepaskan energinya dalam bentuk sinar
gamma yang dikenal dengan peluruhan gamma, sinarnya ini adalah foton dan
termasuk ke dalam gelombang elektromagnetik yang mempunyai energi yang
sangat besar melebihi sinar X.
Peluruhan

gamma

()

merupakan

radiasi gelombang elektromagnetik dengan


energi sangat tinggi sehingga memiliki daya
tembus yang sangat kuat. Sinar gamma
dihasilkan oleh transisi energi inti atomdari
suatu keadaan eksitasi ke keadaan dasar. Saat
transisi berlangsung terjadi radiasi energi
tinggi (sekitar 4,4 MeV) dalam bentuk
gelombang elektromagnetik. Sinar gamma
bukanlah partikel sehingga tidak memiliki
nomor atom (A=0) maka dalam peluruhan sinar- tidak dihasilkan inti atom baru.
Energi tiap foton adalah beda energi antara keadaan awal dan akhir inti,
dikurangi pula dengan sejumlah koreksi kecil bagi energi pental inti. Energienergi ini khasnya berada dalam rentang 100 keV hingga beberapa MeV. Inti
dapat pula di eksitasikan dari keadaan dasar ke suatu keadaan eksitasi dengan

37

menyerap foton dengan energi yang tepat, dalam proses serupa dengan
penyerapan resonans oleh keadaan-keadaan atom.

Gambar 2.6 Beberapa sinar gamma yang dipancarkan menyusul peluruhan beta
Gambar 2.6 menunjukkan suatu diagram tingkat energi yang khas dari
keadaan eksitasi inti dan beberapa transisi sinar gamma yang dapat dipancarkan.
Usia-paruh khas bagi tingkat eksitasi inti adalah 10

-9

hingga 10

-12

s; nilai pasti

usia-paruh ini (dan aturan selesi yang memperkenankan dan melarang tejadinya
suatu transisi) bergantung pada tinjauan terinci lanjut yang berada di luar
tingkatan buku ini. Adakalanya perhitungan terinci ini menghasilkan nilai usiaparuh yang sangat lama-beberapa jam atau bahkan hari. Keadaan inti yang bersifat
seperti ini dikenal sebagai keadaan isomerik atau isomer.
Sebagaimana penyelesaian persamaan gelombang yang menampilkan
persamaan Helmholtz, di dalam sistem koordinat sferis dapat dinyakan sebagai
superposisi atau jumlah gelombang-gelombang dari berbagai bilangan dalam
wujud fungsi harmonik sferis Y1,

m,

dimana dalam mekanika kuantum, itu

bersangkutan dengan momentum rotasi, maka sinar yang dipancarkan dari inti
yang tengah mengalami deexitas itu dikatakan membawa serta momentum rotasi
sedemikian hingga azas kekelan momentum rotasi dalam proses transisi keadaan
inti itu dipenuhi. Seandainya momentum rotasi inti mulamula adalah Li dan
kemudian menjadi Lf , maka momentum rotasi yang dibawa serta oleh sinar itu
adalah I= Li - Lf yang oleh adanya kaidah kuantisasi ruang, berlaku aturan pilih
Li - Lf 1 Li + Lf

38

Selanjutnya mengingat persamaan laplance di dalam sistem koordinat sferis,


terdefenisakanlah apa yang dinamakan multipol elektrik:
Q 1,m = r 1 Y*1,m d
Pada umumnya radiasi multipol hanya bersangkutan dengan nilai yang
kecil saja misalnya sampai = 3 saja, sebab berdasarkan analisa dengan mekanika
kuantum, dapat ditunjukkan bahwa kebolehjadian transisi akan sebanding dengan
( R/)21 dimana R adalah jari jari volume inti dan = 2 adalah panjang
gelombang sinar selaku gelombang elektromahnetik dibagi 2. Dengan
mengingat frekuensi sinar harus sama dengan frekuensi perputaran proton
didalam inti yang menimbulkan, maka tentulah c/ = v/2R dengan v adalah
kecepatan proton melingkari inti,
R/ = v/c << 1
Yang memperlihatkan bahwa ( R/ )21 cepat merosot terdapat naiknya nilai .
Selanjutnya tetapan peluruhan atau tepatnya tetapan transmisi keadaan yang
dalam hal ini berupa deexsitasi, sudah tentu sebanding dengan kebolehjadian
terjadinya transisi, sehingga umur keadaan terexsitasinya akan sebanding terbalik
dengan ( R/ )21 yang mengingat bilangan massa unsur yakni A menyatakan
banyaknya nukleon di dalam inti yang sebanding dengan volume inti, yang berarti
R sebanding dengan A , serta mengingat pula tenaga foton , E = hv = hc/ yakni
sebanding terbalik dengan , umur keadaan terexitasi itu akan berbanding terbalik
denangan E21 A21/3 yang memperlihatkan kepekaannya terhadap variasi tenaga
sinar yaitu E, bilangan massa unsur A, serta multipolaritas radiasi yang
dinyatakan oleh nilai 1.
Kajian pemancaran sinar gamma inti merupakan alat penting bagi para
fisikawan inti. Energi sinar gamma dapat diukur dengan ketelitian tinggi, yang
memberikan suatu cara ampuh bagi kita untuk menyimpulkan energi berbagai
keadaan eksitasi inti.
Dalam menghitung energi partikel alfa dan beta dipancarkan dalam
peluruhan radioaktif, kita telah menganggap bahwa tidak ada sinar gamma yang
dipancarkan. Jika ada sinar gamma yang dipancarkan, maka energi yang tersedia
(nilai Q) harus dibagi bersama antara partikel dan sinar gamma.

39

CONTOH 2.4
Inti 12N meluruh beta ke suatu keadaan eksitasi dari 12C, yang sesudah itu meluruh
ke keadaan dasarnya dengan dengan memancarkan sinar gamma 4,43 MeV.
Berapakah energi kinetik maksimum partikel beta yang dipancarkan?

Pemecahan
Untuk menentukan nilai Q bagi peluruhan ini, pertama-tama kita perlu mencari
massa inti

12

C yang dihasilkan dalam keadaan eksitasinya. Pada keadaan dasar,

12

C memiliki massa 12,000000 u, sehingga massanya dalam keadaan eksitasi

adalah
12,000000 u +

= 12,004756 u

Oleh karena itu, nilai Q-nya adalah


Q= (12,018613 u 12,004756 u 2 x 0,000549 u) 931,5 MeV/u = 11,89 MeV
(Perhatikan bahwa nilai Q ini dapat pula kita temukan secara mudah dengan
pertama-tama menghitung nilai Q bagi peluruhan keadaan dasar, 16,32 MeV, dan
kemudian mengurangkan energi eksitasi 4,43 MeV darinya, karena peluruhan ke
keadaan eksitasi memiliki energi sebanyak energi pertama dikurangi energi
kedua).
Dengan mengabaikan koreksi kecil energi kinetik pental dari inti

12

C, energi

kinetik maksimum elektron kita dapati sebesar 11,89 MeV.

40

RANGKUMAN
Peluruhan alfa melepaskan partikel alfa dengan nomor atom 2 dan nomor
massa 4.

Energi ikat inti peluruhan alfa

Energi kinetik partikel alfa

Peluruhan beta melepaskan partikel beta positif dengan muatan positif (+1)
atau melepaskan partikel beta negatif dengan muatan negatif (-1)

( )

=>> beta negatif


]

=>> beta positif

Peluruhan gamma melepaskan sinar gamma yang tidak bermuatan.


Atom memancarkan sinar gamma untuk mencapai keadaan dasar setelah
melakukan eksitasi

41

Uji Pemahaman 2

1.

40

K adalah suatu isotop tidak lazim, dalam arti bahwa ia mengalami

peluruhan beta positif, beta negatif, dan tangkapan elektron. Carilah nilai
Q bagi masing-masing peluruhan ini.
2. Hitunglah energi kinetik maksimum elektron yang dipancarkan dalam
peluruhan beta negatif dari 11Be !
3. Inti 15O meluruh ke 15N dengan peluruhan beta positron
a. Berapakah nilai Q bagi peluruhan ini ?
b. Berapakah energi kinetik maksimum positron ?
4. Suatu cuplikan gas karbon dioksida dari atmosfer mengisi sebuah bejana
bervolume 200 cm3 hingga mencapai tekanan 2 x

Pa (1 Pa=1 N/m2

sekitar 10-5 atm) pada suhu 295 K. Dengan menganggap bahwa peluruhan
beta dari isotop

dihitung, berapa banyakkah peluruhan peluruhan yang

terjadi dalam seminggu?


5. Deret peluruhan radioaktif 4n diawali dengan inti
dengan inti

dan berakhir

. (a) berapa banyak peluruhan alfa dalam rantai

radioaktif ini? (b) berapa banyak peluruhan beta? (c) berapa banyak energi
yang dilepaskan dalam sebuah rantai peluruhan ini? (d) berapa banyak
daya yang dihasilkan oleh 1,00 kg

)?

42

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokanlah jawaban kalian dengan kunci jawaban yang terdapat pada bagian
belakang modul ini. Hitunglah jawaban kalian yang benar dan kamudian gunakan
rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kalian terhadap materi
pada kegiatan belajar ini.
l

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90-100

= sangat baik

80-89

= baik

70-79

= cukup

60-69

= kurang

Dibawah 60

= sangat kurang

Jika tingkat penguasaan kalian mencapai 80-100,, SELAMAT, ANDA


BERHASIL!!!! Anda telah menguasai materi yang ada pada kegiatan belajar ini
dan siap untuk melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya yakni kegiatan belajar
3. Tetapi bila tingkat penguasaan kalian masih dibawah 80 maka kalian harus
mengulangi kegiatan belajar ini, terutama pada materi yang belum anda kuasai,
SELAMAT BERJUANG !!!!!!

43

KEGIATAN BELAJAR 3

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Kegiatan Belajar 1 mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan reaksi fisi
2. Menjelaskan reaksi fusi

44

6. REAKSI FISI
Pada proses fisi, sebuah inti berat seperti uranium terbelah menjadi dua inti
yang lebih ringan. Karena energi ikat inti ringan adalah sekitar 1 MeV per
nukleon lebih kuat dari pada inti berat, maka dalam tiap proses fisi terjadi
pengubahan energi sekitar 200 MeV (200 nukleon x 1 MeV per nukleon).
Dalam inti, terjadi persaingan antara gaya inti, yang menyatukan inti, dan
tolakan elektrostatik antara berbagai proton dalam inti, yang menyatukan
cenderung memisahkan kesatuan inti.
Kita dapat membayangkan suatu inti berat stabil ibarat setetes air, dengan
bentuk keseimbangan yang agak sedikt melonjong, seperti tampak pada gambar
3.1.

Gambar 3.1 Bentuk lonjong sebuah inti


Apabila inti tersebut diganggu, seperti menyerap sebuah neutron atau proton
berenergi tinggi, tetesan inti bergetar. Bentuk inti berubah dengan cepat berulang
kali dari bentuk yang lebih lonjong ke yang agak bundar. Bila inti tertarik ke
bentuk yang sangat lonjong, energi Coulomb tolak tidaklah berubah banyak, tetapi
gaya inti melemah, karena bertambahnya luas permukaan inti (semua nukleon
pada permukaan inti berkurang kekuatan ikatannya). Dengan penarikan yang
cukup kuat, bagian tengah tetesan inti menjadi hampir copot sehingga inti
dengan mudah terbelah menjadi dua bangian, dan oleh tolakan Coulomb kedua
bagian ini saling terdorong jauh; prosesnya seperti pada gambar di bawah.

Gambar 3.2 Urutan perubahan bentuk inti dalam fisi

45

Energi yang diperlukan untuk fisi sekitar 5 hingga 6 MeV;


Ukuran kedua pecahan tidaklah tetap. Gambar 3 memperlihatkan distribusi
massa kedua pecahan dari fisi 235U. Tampak bahwa besar kemungkinan pecahan
yang satu memiliki nomor massa sekitar 90 dan lainnya sekitar 140.
Dari energi sekitar 200 MeV yang dibebaskan dalam fisi, sebagian besar
berubah menjadi energi kinetik kedua pecahan. Kita dapat memahami pernyataan
ini dengan suatu perhitungan kasar dari energi potensial Coulomb dua muatan
elektrik, Z1 40 dan , Z2 50 (sebagaimana diperkirakan bagi , A1 90 dan ,
A2 140). Kedua muatan elektrik ini yang terpisahkan oleh jarak R = R1 + R2,
dimana R1 dan R2 adalah jari-jari tiap pecahan (yang kedua permukaannya
dianggap hampir bersentuhan). Energi potensial Z1 Z2 e2 /40 R mudah dihitung
yang memberi hasil sekitar 200 MeV. Kedua pecahan lalu berpisah cepat, dengan
energi potensialnya di ubah menjadi energi kinetik sekitar 200 MeV. Sekitar 80
persen energi yang dilepaskan dalam fisi muncul sebagai energi kinetik kedua
pecahannya, sedangkan 20 persen sisanya muncul sebagai hasil peluruhan (beta
dan gamma) dan energi kinetik sejumlah neutron yang dipancarkan dalam proses
fisi. Energi khas neutron-neutron ini adalah dari satu hingga beberapa MeV.
Salah satu reaksi fisi yang khas adalah
+

Reaksi fisi lain yang berbeda dapat pula terjadi, dengan hasil akhir yang berbeda
pula; distribusi massa kedua pecahannyadiperlihatkan pada gambar 3.3.

Gambar 3.3 Distribusi massa kedua pecahan

46

Jumlah neutron yang dihasilkan dalam proses fisi juga tidak tetap, tetapi rata-rata
sekitar 2,5. Tiap neutron kemudian dapat menyebabkan proses fisi baru lagi,
dengan hasil pemancaran jumlah neutron yang makin banyak, disusuli lagi dengan
lebih bnayak fisi, dan seterusnya. Reaksi rantai dari peristiwa fisi ini, yang tiap
reaksinya membebaskan energi sekitar 200 MeV, dapat berlangsung sangat cepat
dalam keadaan tak terkendali, seperti dalam senjata nuklir, atau lebih lambat di
bawah keadaan yang terkendali, seperti dalam reaktor nuklir.
Diagram skema proses-proses yang dapat terjadi dalam berbagai reaksi fisi
diperlihatkan pada Gambar 3.4.
Ada tiga keistimewaan reaksi fisi yang bermanfaat sebagai suatu cara untuk
membangkitakan energi elektrik.
1. Sebagian besar energi dibebaskan adalah sebagai energi kinetik pecahan
fisi. Inti pecahan yang relatif berat ini tidak bergerak jauh dalam bahan
bakar reaktor, karena bertumbukan dengan atom-atom unsur bahan bakar
reaktor. Energi kinetik yang hilang ini berubah menjadi panas. Panas ini
kemudian dipakai untuk mendidihkan air, dan uap yang dihasilkan dapat
dipakai untuk mengerakkan turbin guna membangkitkan energi elektrik.
2. Jumlah nuetron yang dihasilkan lebih daripada satu, memungkinkan reaksi
beruntun. Seberapa pun besar jadinya, untuk mendapatkan reaksi
beruntun, tergantung pada konstruksi reaktornya.
3. Satu-satunya yang memungkinkan seorang operator atau sistem mekanis
mengontrol reaksinya dan menjaganya berlangsung terlalu cepat. Kedua
nuetron yang dipancarkan dalam proses pecahan fisi.

47

Gambar 3.4 Urutan proses fisik yang khas. Sebuah inti 235U menyerap sebuah
neutron dan mengalami fisi. Hasil fisi ini diantaranya adalah pemancran dua neutron
langsung dan satu nuetron tunda. Setelah melewati moderator, kedua neutron langsung
menyebabkan kedua fisi baru, sedangkan neutron ketiga ditangkap oleh inti 238U yang
akhirnya menghasilkan inti 219Pb.

Adalah neuton-neutron langsung keduanya harus dipancarkan pada saat


pemecahan fisi. Kira-kira 1 persen dari neutron-neutron dalam proses pemecahan
adalah neutron-neutron lambat (tertunda) yang dipancarkan setelah terjadinya
kerusakan pecahan-pecahan berat. Misalnya hasil belahan-belahan dalam reaksi
tersebut di atas tidak tetap, dan meluruh menurut deretan seperti berikut:

Sebagaimana yang dapat anda lihat,

93

Rb meluruh dengan usia paruh 6 s dan

memancarkan sebuah neutron dalam 1,4 persen peluruhannya,

141

Cs meluruh

dengan usia paruh 25 s dan memancarkan sebuah neutron dalam 0,03 persen
peluruhannya. Jika nuetron tunda ini tidak ada, pengendalian mekanik terhadap
laju reaksi tidak mungkn dilakukan. Dalam praktek, pengendalian ini dilakukan
dengan menyisipkan ke dalam teras reaktor sebatang bahan, seperti Cadmidium,
yang memilik penampang serap neutron yang tinggi. Dengan batang kendali
dalam keadaan tersisipkan penuh, cukup banyak neutron diserap sehingga ratarata jumlah neutron yang tersedia untuk menyebabkan fisi baru menjadi kurang
dari satu per reaksi fisi. Bila batang ditarik keluar secara perlahan, rata-rata
jumlah nuetron yang tersedia naik hingga menjadi sama dengan satu per reaksi,
dan pada saat itu reaktor dikatakan berada pada keadaan kritis. Selama beroperasi,

48

kedudukan batang pengendali dapat terus disesuaikan, sehingga laju reaksi rantai
dan tingkat daya dapat dipertahankan tetap. Tidak ada sistem mekanik yang
daopat memberi fluktuasi (turun-naik) laju reaksi yang disebabkan oleh neutronneutron langsung. Tetapi, jika reaktor dirancang secara saksama agar lebih kecil
daripada kritis bagi neutron langsung, dan kritis bagi neutron langsung tambah
neutron tunda, maka pengendalian mekanik menjadi mungkin dilaksanakan.
Namun demikan, masih ada persoalan teknologi yang perlu dipecahkan
terlebih dahulu sebelum reaktor nuklir berfungsi sebagai pembangkt energi yang
bermanfaat. Pertama, satu-satunnya bahan alam dengan penampang fisi yang
cukup besar adalah isotop

235

mengandung 0,7 persen isotop

U. Ternyata, batuan uranium di alam hanya

235

U; 99,3 persen sisanya adalah isotop

238

U, yang

secara praktis sama sekali tidak dapat mengalami fisi. Untuk dapat membangun
235

sebuah reaktor fisi atau sebuah senjata fisi, konsentrasi

U haruslah diperbesar

secara mencolok. Proses ini dikenal sebagai penyuburan (enrichment). Karena


235

U dan

238

U tidak berbeda secara kmia, maka satu-satunya penyuburan adalah

dengan memanfaatkan perbedaan massa mereka yang kecil. Ini adalah proses
yang relatif sulit, tetapi yang kini dapat menghasilkan jumlah uranium yang
besar. Sebagai contoh, pabrik difusi gas di Oak Ridge, Tennessee (Amerika
Serikat), bekerja berdasarkan asas bahwa isotop
mudah berdifusi melalui bahan daripada isotop
terfisikan adalah

235
238

U yang lebih ringan lebih

U. Bahan lain yang mudah

239

Pu. Bahan ini tidak terdapat di alam, tetapi dapat dihasilkan


238

melalui penangkapan neutron oleh bahan tidak terfisikan


239

dihasilkan kemudia mengalami peluruhan beta ke

U. Isotop

239

U yang

Np, yang selanjutnya

meluruh ke 239Pu:
+

+
+

Plutonium kemudian dapat dipisahkan dari uranium secara kimia. Proses


pembuatan bahan bakar plutonium dari uranium ini dikenal sebagai pebibitan
(breeding) dan reaktor yang dirancang untuk menghasilkan bahan bakar
plutonium disebut pembibit (breeder).
Kesulitan kedua dalam mencoba menghasilkan suatu reaksi rantai adalah
energi neutron-neutron yang dipancarkan dalam proses fisi. Energi knetik

49

neutron-neutron itu, khasnya beberapa MeV. Neutron yang sedemikian tinggi


energinya itu memiliki probabilitas yang relatif rendah untuk merangsang
terjadinya proses fisi baru, karena penampang fisi umumnya menurun secara cepat
dengan bertambahnya energi neutron. Oleh karena itu, kta harus memperlambat
nuetron-neutron itu agar memperbesar peluang mereka menghasilkan peristiwa
fisi. Untuk itu, bahan terfisikan dikelilingi dengan suatu moderator. Dalam
moderator itu, neutron kehilangan energi karena bertumbukan dengan atom-atom
moderator. Apabila sebuah neutron dihamburkan dari sebuah inti berat seperti
uranium, energi neutron hampir tidak berubah sama sekali, tetapi dalam tumbukan
dengan inti ringan, neutron dapat kehilangan energi cukup banyak. Dengan
demikian, moderator yang lebih efektif adalah yang massa tiap atomnya sama
dengan massa neutron; dengan demikan, hidrogen adalah pilihan pertama. Air
biasa seringkali dipakai pula sebagai moderator, karena tumbukan dengan proton
sangat efektif dalam memperlambat neutron; tetapi neutron mempunyai
probabilitas tinggi untuk diserap air menurut persamaan reaksi p + n
+

Air berat, yaitu air biasa yang hidrogennya diganti oleh deuterium,

lebih bermanfaat sebagai moderator, karena penampang penyerapan neutronnya


nol. Reaktor air berat, karena memilik jumlah neutron yang lebih banyak, dapat
menggunakan uranium biasa (tidak subur) sebagai bahan bakarnya. Reaktor yang
menggunakan air biasa sebagai moderator memiliki jumlah neutron yang lebih
sedikit untuk menghasilkan fisi, dan karena itu memiliki isotop

235

U yang lebih

banyak dalam terasnya.


Karbon adalah suatu bahan ringan berwujud padat, stabil dan melimpah,
dan memiliki penampang penyerapan neutron yang relatif kecil. Reaktor nuklir
yang pertama dibangun oleh Enrico Fermi bersama rekan sekerjanya pada tahun
1942 di University of Chicago (Amerika Serikat). Reaktor ini memakai karbon,
dalam bentuk batang-batang grafit, sebagai moderator.
Masih ada lagi persoalan lain dalam perancangan reaktor, yaitu yang
berkaitan dengan neutron yang tidak menghasilkan reaksi fisi. Jika setiap neutron
menghasilkan reaksi fisi, maka suatu reaksi rantai bertahan (self-sustaining) dapat
terjadi jika jumlah nuetron rata-rata yang dihasilkan per fisi tepat sama dengan 1.
Tetapi, banyak hal menyebabkan neutron dapat hilang sehingga mereka tidak

50

dapat menghasilkan reaksi fisi: (1) lolos dari permukaan reaktor; (2) diserap
moderator; (3) diserap isotop

238

U. Pelolosan dari permukaan reaktor dapat

diminimumkan dengan membuat teras reaktor sebesar mungkin sehingga nisbahpermukaan-terhadap-volume kecil, sedangkan penyerapan oleh moderator dapat
ditiadakan dengan menggunakan mederator air-berat.
Persoalan terakhir dalam perancangan reaktor adalah pengambilan energi
fisi untuk menghasilkan daya yang bermanfaat dalam bentuk energi elektrik.
Sebagian besar energi yang dibebaskan dalam fisi diambil oleh inti-inti pecahan
fisi, dan inti tersebut yang agak berat, begitu bertumbukan dengan atom unsur
bahan bakar reaktor, melepaskan ennergi knetiknya. Energi yang hilang tersebut
berubah menjadi panas dalam unsur bahan bakar dan harus diambil untuk
berperan sebagai sumberdaya, seperti untuk menggerakkan generator elektrik.
Dewasa ini ada sekurang-kurangnya tiga sistem yang telah digunakan
untuk mengambil enenrgi fisi dari teras reaktor.
1. Reaktor air-didih. Seperti dilihatkan pada gambar 5, air dialirkan
mengelilingi teras reaktor. Panas teras menubah air menjadi uap, yang
kemudian digunakan untuk membangkitkan tenaga elektrik. Kelemahan
sistem ini adalah bahwa air dapat menjadi radioaktif, sehingga kebocoran
pipa dekat turbin dapat menimbulkan bencana, karena tersebarnya bahan
radioaktif.

Gambar 3.5 Reaktor air-didih


2. Reaktor air-tekan. Pada sistem ini, seperti dilihatkan pada gambar 6,
panas diambil melalui proses dua-tahap. Air yang dialirkan mengelilingi
teras diberi tekanan, agar tidak berubah menjadi uap. Air panas ini

51

kemudian memanasi sistem air kedua, yang melepaskan uapnya ke turbin.


Karena tidaak pernah memasuk terass, uap ini tidak bersifat radioaktif.
Jadi, dengan sistem ini tidak ada bahan radioaktif yang tersebar di sekitar
turbin.
3. Reaktor logam-cair. Kelemahan menggunakan air adalah bahwa
kapasitas panasnya kecil sehingga tidak efisien sebagai bahan untuk
mengambil panas dari teras. Bahan logamlah yang lebih baik bagi
perpindahan panas. Natrium cair, misalnya, dapat menggantikan air tekan
dari Gambar 3.5; karena titik didih natium berada di atas suhu operasi,
tekanan tinggi tidak diperlukan untuk mempertahankan natrium berwujud
cair.

Gambar 3.6 Reaktor air tekan


Masih ada persoalan teknologi lain yang berkaitan dengan energi nuklir
yaitu beberapa isotop radioaktif diantara berbagai pecahan fisi memilik usia paruh
yang sangat lama, dalam orde tahunan. Karena itu, sampah radioaktif dari reaktor
harus disimpan seaman mungkin agar tidak terjadi kebocoran bahan radioaktif ke
dalam lingkungan biologis. Banyak orang khawatir akan keamanan reaktor nuklir,
tidak hanya mengenai masalah perancangan dan pengendaliannyaa yang benar,
tetapi juga akan ancaman kekuatan luar seperti gamma bumi dan tindakan teror
atau sabotase. Terakhir, seperti halnya pada semua mesin panas, pembuangan
panas yang tidak terpakai (ketika uap diembunkan kembali menjadi air, misalnya)
menimbulkan cemaran termal luar biasa, yang dapat merugikan lingkungan.
Pabrik daya nuklir memang tidak menghasilkan cemaran termal per satuan daya
yang lebih besar dari pada yang dihasilkan oleh pabrik daya konvensional lewat
pembakaran batu-bara tau minyak bumi. Tetapi, segi ekonomis daya nuklir, dalam

52

rentang 1000-megawatt, menghendaki penggunaan bangunan pabrik yang besar.


Satu pabrik nulir 1000-MW memang dapat menghasilkan cemaran termal
sebanyak yang dihasilkan 10 buah pabrik konvensional 100-MW.

CONTOH 3.1
Hitunglah nilai Q ( dan dengan demikian energy yang dibebaskan ) dalam reaksi
fisi

235

93

U + n

Rb +

141

Cs + 2n. Gunakan m(93Rb)=92,92172u dan

m(141Cs)=140,91949u.

Pemecahan
Q

= [m(235U) + m(n) m(93Rb) m(141Cs) 2m(n)]c2

7. REAKSI FUSI
Reaksi fusi (nuclear fusion), yaitu penggabungan inti kecil menjadi inti yang
lebih besar. Fusi inti terjadi terus-menerus di matahari. Matahari terutama terdiri
atas Hidrogen dan Helium. Di bagian dalamnya, dimana suhu mencapai sekitar 15
juta derajat Celcius, reaksi fusi berikut ini terjadi:
+
+

Karena reaksi fusi hanya terjadi pada suhu yang sangat tinggi, reaksi ini sering
dinamakan reaksi termonuklir.
Pada reaksi fusi terjadi proses penggabungan dua atau beberapa inti ringan
menjadi inti yang lebih berat. Pada reaksi penggabungan inti dilepaskan energy
yang sangat besar. Contoh reaksi penggabungan inti :
41

+21

+ energi

+ energi

+ energi

+ energi

53

32
6

+ energi

+ energi

Reaksi penggabungan memiliki energi pengaktifan, yaitu terutama untuk


mengatasi gaya tolak menolak antara kedua inti yang akan bergabung. Maka
reaksi tersebut hanya mungkin terjadi pada suhu yang sangat tinggi, sekitar 100
juta derajat. Pada suhu ini tidak terdapat atom melainkan plasma dari inti dan
electron. Energy yang dihasilkan dari satu reaksi penggabungan cukup untuk
terjadinya reaksi penggabungan berikutnya sehingga akan terjadi reaksi
penggabungan inti secara berantai yang dapat menimbulkan ledakan termonuklir.
Energi yang dihasilkan pada reaksi fusi sangat besar, energy yang dihasilkan
dari satu Kg hydrogen pada reaksi fusi setara dengan energy yang dihasilkan pada
pembakaran 20.000 ton batubara. Penggunaan dari reaksi fusi yang terkontrol
adalah dalam reactor fusi dibandingkan dengan fisi adalah :
a. Energi yang dihasilkan lebih tinggi
b. Relative lebih bersih, karena hasil reaksi fusi adalah nuklida-nuklida yang
stabil.
Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, untuk berlangsungnya suatu
reaksi termonuklir, perlu dikondisikan suhu sangat tinggi yang memungkinkan
terbentuknya plasma sehingga jarak antar inti masuk kedalam jarak gaya tarikmenarik nuklir. Ditinjau dari pengkondisian tesebut, reaksi fusi tersederhana
adalah reaksi antar isotope hidrogen dan yang paling penting adalah reaksi antara
D-D dan D-T. kelimpahan Deuterium di bumi, adalah satu diantara 6700 isotop
hydrogen, dalam satu meter kubik air mengandung 1025 atom deuterium.
Kelimpahan alam tritium jauh lebih kecil dari pada deuterium, karenanya tritium
antara lain dibuat dengan reaksi 6Li (n, )T. 6Li diperoleh dari hasil pemisahan
isotop litium alam yang terdiri atas yang terdiri atas 92.6% 7Li dan 7.4% 6Li.
Pendekatan yang lebih memberi harapan adalah dengan memanaskan gas
deuterium hingga mencapai suhu yang cukup tinggi sehingga tiap atom deuterium
memiliki sekitar 0,25 MeV sebagai kinetik termal (karena itu dinamakan fusi
termonuklir). Maka dalam tumbrukan antara kedua atom deuterium panas ini,
energi kinetik sebesar 0,5 MeV sudah cukup untuk mengatasi tolakan Coulomb.
Jika kita dapat mengambil energi fusi dari deuterium dalam semangkuk air

54

berat (D2O), kita akan memperoleh energi sekitar 5 X 1012 J. Seandainya


pengubahan energi ini dilakukan selama satu hari pun, keluaran daya yang
dihasilkan sekitar 50 MW! Meskipun air biasa hanya mengandung sekitar 0,015
persen D2O, energi fusi dari deuterium dalam 1 liter air biasa setara dengan energi
kimia yang diperoleh dari pembakaran sekitar 300 liter bensin.
Kesulitan pendekatan ini adalah dalam pemanasan gas deuterium hingga
mencapai suhu yang memadai, dari pernyataan

3/2kT

bagi energi kinetik termal

sebuah molekul gas, kita dapat menghitung bahwa energi sebesar 0,25 MeV
berkaitan dengan suhu dalam orde 109 K. Meskipun anggapan penerobosan
penghalang (Pasal 5,7) dapat memberi probabilitas yang lumayan untuk
menerobosi halangan Coulomb pada energi kinetik yang lebih rendah (mungkin
berkaitan dengan sepersepuluh suhu yang dihitung), masih sulit dibayangkan
kondisi macam apakah yang memungkinkan suhu setinggi itu dapat dicapai.
Proses fusi tidak saja mendukung segala kehidupan di buni, karena menghasilkan
energi yang membuat matahari bersinar. Sejumlah ilmuan dan rekayasawan yakin
bahwa proses fusi menggam harapan masa depan guna menghasilkan daya
elektrik dalam jumlah yang tidak terbatas.
Marilah kita mulai dengan meninjau sejenak proses fusi didalam matahari.

Persamaan reaksi ada 3 tahap yaitu:

55

1.

2.

3.

+
+

+
+

Reaksi pertama dan kedua terjadi dua kali, kedua positron saling
menghilangkan

dengan

sebuah

elektron

dan

menghasilkan

radiasi

elektromagnet, reaksi di atas dapat ditulis:


+

Dari persamaan reaksi diatas dapat dijabarkan dalam proses fusi dasar, yang
dapat terjadi melalui beberapa cara, empat proton bergabung membentuk satu
4

He. Karena matahari tersusun dari hidrogen biasa, ketimbang deuterium, maka

hidrogen perlu diubah terlebih dahulu menjadi deuterium. Ini dilakukan menurut
reaksi
+

Proses ini melibatkan pengubahan sebuah proton menjadi sebuah neutron,


analog dengan proses perubahan beta yang telah kita pelajari sebelumnya. Begitu
kita memperoleh 2H (deuterium), reaksi berikutnya yang dapat terjadi adalah
+

Yang disusuli oleh


+

56

Perhatikan bahwa kedua reaksi yang pertama harus terjadi dua kali agar
dapat menghasilkan 3He yang kita perlukan bagi reaksi ketiga lihat skema proses
netonya dapat kita tulis sebagai
+

Agar perhitungan nilai Q dinyatakan dalam massa atom, kita harus


menambahkan empat elektron pada ruas kiri untk memperoleh empat atom
hidrogen netral. Untuk mengimbangi reaksinya kita harus menambahkan empat
elektron pada ruas kanan, dua diantaranya bekaitan dengan atom 4He, dan dua
yang lainnya akan bergabung dengan kedua positron menurut reaksi e++ e-2,
sehingga tambahan sinar gamma ini adalah energi yang tersedia dari reaksi.
Karena kedua positron termusnahkan dalam proses ini, satu-satunya massa yang
tertinggal adalah keempat atom hidrogen dan satu atom helium. Jadi,

Tiap reaksi fusi membebaskan energi sekitar 26,7 MeV. Marilah kita coba
menghitung laju reaksi ini di matahari. Daya matahari yang tiba di Bumi sekitar
1,4x103W/m2. Karena jarak di Bumi-Matahari sekitar 1,5x1011 m, maka energi
matahari tersebar pada seluruh permukaan bola seluas

m2. Jadi

keluaran energi dari matahari sekitar 4 x 1038 proton per detik.


Urutan reaksi fusi yang diberikan diatas disebut daur proton-proton dan
mungkin merupakan sumber energi matahari. Tetapi, mungkin bukan sebagai
sumber energi fusi utama bagi kebanyakan bintang. Alasannya karena reaksi
pertama (yang menggabungkan dua proton membentuk sebuah deuteron), yaitu
semacam peluruhan beta berlangsung sangat lama. Oleh karena itu, reaksi pertama
itu berpeluang kecil untuk terjadi. Urutan reaksi yang berpeluang besar terjadi
adalah daur karbon-karbon.
12

C + 1H

13
13

N+

13

C+e+ +

C+ H

14

13

N + 1H

14

N+

15

O+

57

15
15

15

N+ e+ +

N+ H

12

C + 1He

Yang kita hasilkan atau gunakan dalam reaksi-reaksi inti. Kehadiran karbon
disini memungkinkan deretan reaksi inti berlangsung pada tingkat laju yang lebih
besar daripada daur proton-proton yang dibahas sebelumnya. proses neto tetap
diberikan oleh 4 1H

He, dan tentu saja nilai Q-nya sama. Karena tolakan

Coulomb antara inti H dan C lebih besar daripada antara dua inti H, maka lebih
banyak energi termal dan suhu bersangkutan yang lebih tinggi diperlukan bagi
daur karbon. Daur karbon menjadi penting mungkin pada suhu sekitar 20 x106 K,
sedangkan suhu bagian dalam matahari hanyalah 15x106 K.
Apabila seluruh hidrogen telah habis diubah menjadi helium, matahari akan
menyusut dan bersamaan dengan itu memanas kembali sehingga menaikkan
suhunya mencapai tingkat yang memungkinkan terjadinya pembakaran helium,
menurut proses seperti
3 4He 12C
Karena dua inti He mengalami tolakan Coulomb yang lebih besar daripada
dua inti H, fusi helium membutuhkan energi termal yang lebih besar daripada fusi
hydrogen.
Apabila helium terpakai habis, suhu yang lebih tinggi akan memungkinkan
terjadinya fusi karbon membentuk unsur yang lebih berat seperti
seperti itu akan terus berlangsung hingga mencapai

56

24

Mg. proses

Fe; setelah inti ini (lihat

Gambar 9.4) taka da lagi energi yang disebabkan oleh proses fusi. Pembentukan
unsur dalam proses fusi dibahas secara terinci dalam Bab 15.
Bagi reaktor termonuklir, ada beberapa reaksi yang dapat digunakan. Seperti
2

H + 2H

H + 1H

Q = 4,0 MeV

H + 2H

He + n

Q = 3,3 MeV

He + n

Q = 17,6 MeV

H + 3H

58

Reaksi ketiga, yang dikenal sebagai reaksi D-T (deuterium-tritium),


membebaskan energi yang lebih besar dan mungkin merupakan calon terbaik bagi
suatu reactor fusi. Persoalan teknologi paling sulit yang dihadapi dalam
pengembangan reactor fusi adalah memperoleh suhu yang cukup tinggi (mungkin
108 K) sehingga tolakan Coulomb dapat diatasi, dan sekaligus mempertahankan
rapat massa yang tinggi sehingga probabilitas penumbukan dua partikel menjadi
cukup tinggi. Dewasa ini ada dua metode pemecahan bagi kedua persoalan ini
yang kini masih giat diteliti, yakni pengungkungan magnet (magnetic
confinement) dan pengungkungan lembam (inertial confinement).
Dalam pengungkungan magnet, gas deuterium dikungkung dalam suatu
bejana (chamber) luas pada suhu yang tinggi. Apabila gas atom gas dapat
membebaskan electron masing-masing atom, sehingga tinggal suatu gas panas
dari partikel-partikel terionkan yang dikenal sebagai plasma. Tolakan antar ion
cenderung mendesak ion-ion ke dinding kamar, dan mereka akan segera
kehilangan energi akibat bertumbukan dengan dinding kamar yang lebih dingin.
Dengan demikian, persoalan pengungkungan disini adalah mempertahankan
plasma tetap berada ditengah kamar, serta menaikkan kerapatan dan suhu plasma
secukup mungkin sehingga memperkenankan proses fusi terjadi. Geometri reactor
fusi dapat berbentuk linear atau toroidal. Piranti linear khas bekerja dengan
menggunakan asa cermin magnet. Karena atom bermuatan gasberspiral
mengelilingi garis-gharis gaya medan magnet pada bagian tengah piranti, mereka
akan selalu menjuhi dinding. Begitu partikel memasuki daerah bermedan magnet
tinggi, lintasan spiral mereka menjadi semakin sempit sehingga mereka terpantul
kembali. Salah satu contoh piranti yang bekerja dalam bentuk geometri toroida
diperlihatkan pada Gambar 10.18. arus elektrik yang dialirkan melalui plasma
membantu memanaskan plasma dan pada saat yang sama menciptakan suatu
medan magnet yang cenderung mengungkung plasma. Medan magnet lain
dihasilkan sepanjang sumbu toroida oleh kawat konduktor berarus elektrik.
Gabungan kedua medan magnet ini membantu mengungkung plasma. System ini
dikenal sebagai rancangan Tokamak.
Dalam metode pengungkungan lembam, sebuah butiran (pellet) kecil
(berdiameter sekitar 0,1 hingga 1 mm) dari deuterium dan tritium ditembaki

59

secara serempak dengan berkas laser kuat dari segala arah. Mula-mula berkas
laser ini menguapkan butiran itu dan mengubahnya menjadi plasma, dan setelah
itu memanaskan dan menekannya hingga mencapai suatu keadaan yang
memungkinkan terjadinya fusi. Penyerapan cahaya laser menimbulkan ledakan
dahsyat yang menekan butiran hingga kerapatannya menjadi sekitar 103 sampai
104 kali kerapatan biasa.

Pada kerapatan setinggi itu, partikel alfa yang dihasilkan dari reaksi D-T
tidak dapat meloloskan diri dari dalam butiran ; dalam tumbukan antara mereka,
seluruh energi kinetic diubah menjadi panas yang langsung memanaskan butiran.
Masukan energi dari laser haruslah dalam rentang 100.000 J, dan energi ini
harus dilepaskan dalam bentuk pulsa dengan selang waktu sekecil 10-9 s. tingkat
daya seperti itu, 1014 W, luar biasa besar, tetapi perlu dilepaskan dalam selang
waktu yang sangat singkat. Sebuah pabrik daya fusi dapat meledakkan 100
butiran per detik, yang dapat menghasilkan daya sebesar 1000 MW. Daya ratarata yang diperlukan bagi laser hanyalah 107 W, karena daya 1014 W itu hanya
dibutuhkannya dalam 10-7 (10-9 detik per pulsa x 100 pulsa per detik) waktu
bekerjanya. Jadi, daya yang dibangkitkan berlipat 100 kali. `namun, mengingat
pendayaan laser mungkin tidak efisien (mungkin efisiensi 10 persen adalah yang
terbaik yang dapat diperkirakan) dan pemulihan energi hasil fusi juga tidak
efisien, maka faktor kelipatan ini dapat turun cukup banyak.
Dalam reaksi fusi D-T, sebagian energi diambil oleh neutron (ingat bahwa
dalam reaksi fisi hanya sebagian kecil energi yang dibawa neutron). Ini
menimbulkan beberapa persoalan sulit bagi pemulihan energi dan pengubahannya
menjadi daya elektrik. Salah satu rancangan reactor fusi yang mungkin adalah
yang diperlihatkan pada Gambar 10.20. Penempatan litium di sekeliling daerah
reaksi berfungsi untuk menangkap neutron reaksi
6
3

Li3 n
24 He2 13H 2

60

GAMBAR 3.7 Fusi pengukungan lembam yang dipicu dengan laser

GAMBAR 3.8 Usul rancangan sebuah reactor fusi.


Energi kinetik partikel-partikel hasil reaksi dengan cepat terubahkan
menjadi panas, dan energi termal litium cair dapat digunakan untuk mengubah air
menjadi uap untuk membangkitkan tenaga elektrik. Reaksi ini mempunyai
keuntungan sampingan karena menghasilkan pula tritium (3H) , yang diperlukan
sebagai bahan bakar reactor fusi.
Salah satu kesulitan reaksi fusi D-T adalah bahwa jumlah neutron yang
dilepaskan dalam reaksinya adalah sangat besar. Meskipun reactor fusi tidak
menhasilkan sampah radioaktif seperti yang dihasilkan reactor fisi, neutron yang
dilepaskan pasti meradioaktifkan lingkungan disekitar reactor. Juga, penyinaran
bahan mekanik reactor dengan fluks neutron yang tinggi dapat menimbulkan
kerusakan yang melemahkan bagian-bagian kritis tangki reactor. Disini, sekali
lagilitium membantu, karena litium setebal 1m ternyata cukup untuk
menghentikan semua neutron.
Energi fusi hingga kini masih giat diteliti dalam banyak laboratorium di
Amerika Serikat dan dibeberapa tempat lain di dunia. Persoalan-persoalan

61

teknologinya sedang diterjang dengan berbagai ragam metode , dan para peneliti
berharap pemecahannya dapat ditemukan dalam awal tahun 2000, sehingga fusi
dapat membantu memasok kebutuhan kita akan daya elektrik.
Kelebihan Dan Kekurangan Reaksi Fusi Dan Fisi
Reaksi fusi dan fisi adalah termasuk dalam reaksi nuklir, yang tentunya
menghasilkan energi yang besar. Kegunaan keduanya sama yaitu sebagai sumber
energi yang sangat besar. Untuk saat ini reaksi fusi belum bisa dikendalikan,
hanya reaksi fisi saja yang bisa dimanfaatkan sebagai inti dari pembakit listrik
tenaga nuklir. Sedangakan reaksi fusi hanya baru bisa dimanfaatkan sebagai bom
hidrogen yang memiliki daya rusak yang lebih besar dari reaksi fisi. Untuk
kedepannya ilmuan memimpikan menggunakan reaksi fusi untuk pembangkit
tenaga listrik, dimana reaksi ini lebih menguntungkan karena sumbernya yang
melimpah dan bersih tanpa radioaktif
Fusi nuklir menawarkan kemungkinan pelepasan energi yang besar dengan
hanya sedikit limbah radioaktif yang dihasilkan serta dengan tingkat keamanan
yang lebih baik. Namun demikian, saat ini masih terdapat kendal-kendala bidang
keilmuan, teknik dan ekonomi yang menghambat penggunaan energi fusi guna
pembangkitan listrik.
Reaksi fusi menawarkan beberapa keuntungan dibandingkan dengan reaksi fisi
dalam hal konversi energi nuklirnya. Salah satu keuntungan dibandingkan dengan
fisi adalah bahwa cadangan isotop dapat-fusi yang diketahui adalah jauh lebiAh
banyak. Kenyataannya, terdapat persediaan bahan bakar yang pada dasarnya tak
terbatas. Isotop bahan bakar yang umum dipakai untuk reaksi fusi ialah deutrium,
hidrogen-2, dan isotop ini terdapat di alam sekitar satu diantara 6700 bagian
hidogen biasa. Dengan memperhatikan jumlah air yang tersedia di dunia, berarti
bahwa persediaan bahan bakar sangatlah banyak.
Keuntungan lain reaksi fusi ialah bahwa produk reaksi fusi tidaklah bersifat
radioaktif setinggi yang dipunyai oleh produk fisi. Di dalam produk reaksi fusi
yang lima itu (yang dikemukakan di muka), hanya hidrogen-3 dan neutron yang
bersifat radioaktif dan neutron juga akan meluluh menjadi atom hidrogen.
Radioaktifitas yang dihasilkan sebagai hasil pengaktifan neutron dari struktur
kemasan justru lebih menjadi masalah ketimbang produk fusi. Keuntungan besar

62

yang terakhir dari fusi terhadap fisi muncul dari kenyataan bahwa proses fusi
adalah sulit untuk dimulai dan diawasi. Kenyataannya, sedikit saja ada gangguan
terhadap sistem selalu akan mengakibatkan berhentinya reaksi Efek ini, bersama
dengan sangat kecilnya jumlah reaktan yang terdapat di sistem, mencegah
terjadinya kerugian daya yang besar akibat kerusakan peralatan.
Masalah utama yang berkaitan dengan pengembangan reaktor fusi timbul
dari kenyataan bahwa partikel-pertikel yang bereaksi keduanya adalah inti yang
bermuatan positif. Ini berarti bahwa partikel reaksi tersebut harus mempunyai
energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya tolak-menolak Coulomb. Untuk
mendapatkan energi kinetik yang minimum itu, kedua partikel harus mempunyai
massa partikel yang sama serta mempunyai angka perbandingan massa-muatan
(mass-to-charge ratio) yang tinggi.
Energi minimum atau energi ambang yang dibutuhkan untuk memulai
reaksi telah diberikan lebih dahulu berserta berbagai reaksi lain. Energi ini
umumnya dinyatakan dalam satuan temperatur, meskipun kerapatan partikel
sebenarnya adalah sangat kecil sehingga temperatur tidaklah memberi arti banyak.
Dengan energi kinetik yang setinggi ini, semua elektron dilucuti dari intinya dan
reaktan dikatakan berada dalam suatu keadaan yang diberi nama plasma. Kadangkadang dikatakan bahwa ini adalah tingkat ke-empat dari suatu zat. Pada bom
nuklir, energi penyalaan diperoleh pertama kali dari pendenotasian bom fisi.
Reaksi deutrium-tritium mempunyai energi ambang yang terendah (massa/muatan
= A/Z = 5/2) dan, karena alasan ini, reaktor fusi akan beroperasi dengan reaksi ini.
Kelemahan reaksi fusi sebagai sumber energi adalah dibutuhkan suhu yang
sangat tinggi, dan yang besar dan pengetahuan yang sangat tinggi untuk mengolah
sumber energi dari reaksi fusi, sedangkan kelebihan dari reaksi fusi adalah energi
yang dihasilkan lebih besar dan bahan bakar untuk reaktor fusi yaitu deuterium
sangat berlimpah tersedia dalam air laut.
Kekurangan reaksi fisi adalah limbah yang dihasilkan mengandung unsur
tidak stabil. Hal ini sangat berbahaya bagi lingkungan serta kesehatan manusia
dan akan tetap begitu selama ratusan tahun. Sehingga sangat sulit untuk
menyimpan elemen radioaktif dalam jangka waktu lama. Sedangkan kelebihan

63

adalah menggunakan bahan bakar yang sedikit berupa uranium namun


menghasilkan energi yang besar.

CONTOH 3.2
1
1H

+ 1H1 1d2 + 10e + E

Diketahui :
Massa 1H1 = 1,0078 sma
Massa 1d2 = 2,01410 sma
Massa = 0,00055 sma
1 sma = 931 MeV
Nilai E (energi yang dihasilkan) pada reaksi fusi tersebut adalah

Pemecahan
Massa reaktan dan produk :
Massa reaktan (mreaktan) = 1,0078 sma + 1,0078 sma = 2,0156 sma
Massa produk (mproduk) = 2,01410 sma + 0,00055 sma = 2,01465 sma
Massa yang hilang selama reaksi :
m = mreaktan mproduk
m = 2,01560 sma 2,01465 sma
m = 0,00095 sma
Massa yang hilang pada reaksi fusi adalah 0,00095 sma.
1 sma setara dengan energi sebanyak 931 MeV. 0,00095 sma setara dengan energi
sebanyak 0,00095 x 931 MeV = 0,88445 MeV.

RANGKUMAN
Reaksi fisi adalah pemisahan inti besar menjadi dua atom kecil
Q=

+ + +

Reaksi fusi adalah penggabungan inti kecil menjadi inti yang lebih
besar

64

Uji Pemahaman 3

1. Kita dapat memahami kenapa 235U mudah terfisikan, dan mengapa 238U tidak,
dengan perhitungan berikut,
a. Hitung beda energy antara

235

U + n dan

236

U. Ini dapat kita pandang

sebagai energy eksitasi dari semacam keadaan inti gabung dari 236U.
b. ulangi untuk 238U+n dan 239U
c. Bandingkan hasil perhitungan anda bagi a dan b , dan jelaskan
235

mengapa dengan neutron berenergi rendah sekali

U sudah dapat

befisi, sedangkan untuk fisi inti 238U dibutuhkan neutron cepat dengan
energy 1 hingga 2 MeV.
2. Dari perhitungan yang serupa, prakirakanlah apakah

239

Pu membutuhkan

neutron berenergi rendah ataukah berenergi tinggi untuk berfisi.


3. Hitung energy yang dibebaskan pada reaksi fisi 1 kg Uranium

+5

+ 5

4. Perhatikan reaksi fusi berikut:


2
1H

+ 1H2 1H3 + 1H1 + energi

Jika massa inti 1H2 = 2,0141 sma, 1H3 = 3,0160 sma dan 1H1 = 1,0078 sma,
maka energi yang dihasilkan pada reaksi fusi tersebut adalah...
+

5. Enerinya :

Berapakah besar energi yang dilepaskan ketika 1 kg hidrogen dikonsumsi?


Massa 1H adalah 1,007825 u; 4He adalah 4,002604 u; dan

adalah

0,000549 u.
6. Massa atom

adalah 15, 995 sma; hidrogen 1,0078 sma, dan neutron

1,0087 sma. Tentukan :


a. Massa total partikel pembentuk
b. Defek massa
c. Energi ikat inti oksigen
d. Energi ikat rata-rata per nukleon

65

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokanlah jawaban kalian dengan kunci jawaban yang terdapat pada bagian
belakang modul ini. Hitunglah jawaban kalian yang benar dan kamudian gunakan
rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kalian terhadap materi
pada kegiatan belajar ini.
l

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90-100

= sangat baik

80-89

= baik

70-79

= cukup

60-69

= kurang

Dibawah 60

= sangat kurang

Jika tingkat penguasaan kalian mencapai 80-100,, SELAMAT, ANDA


BERHASIL!!!! Anda telah menguasai materi yang ada pada kegiatan belajar ini
dan siap untuk melanjutkan ke tes formatif. Tetapi bila tingkat penguasaan kalian
masih dibawah 80 maka kalian harus mengulangi kegiatan belajar ini, terutama
pada materi yang belum anda kuasai, SELAMAT BERJUANG !!!!!!

66

TES FORMATIF

1.

Suatu cuplikan bahan radioaktif tertentu meluruh dengan laju 548 cacah
perdetik pada t = 0. Pada t = 30 menit, perhitungan lajunya menjadi 213
cacah perdetik. (a) Berapakah usia-paruh cuplikan tersebut? (b) Berapakah
tetapan luruhnya? (c) Berapakah laju cacahannya pada t=125 menit?

2.

Berapakah probabilitas peluruhan per detik per inti dari suatu bahan
radioaktif dengan usia paruh 5,0 jam?

3.

Kalium bisa mengandung 0,012 persen isotop radioaktif alam

40

K, yang

memiliki usia-paruh 1,3 x 10 tahun. (a) Berapakah aktivitas 1,0 kg kalium?


(b)Berapakah besar fraksi 40K dalam kalium alam pada 4,5 x 109 tahun yang
lalu?
4.

Hitunglah energi kinetik partikel alfa yang dipancarkan dalam 234U.

5.

Inti

75

Se meluruh dengan penangkapan elektron ke

75

As. Hitunglah energi

neutrino yang dipancarkan.


6.

Dalam 6 jam

memancarkan sinar

hingga menjadi

jika waktu

paruh 1,5 jam, berapa persen yang masih tinggal selama waktu itu?
7.

Keadaan ekstasi pertama dari inti

57

Fe meluruh ke keadaan dasar dengan

memancarkan sebuah foton 14,4 keV dengan usia-hidup rata-rata 141 ns. (a)
Berapa besar lebar E ke keadaan ini? (b) Berapakah energi kinetik pental
sebuah atom

57

Fe memancarkan sebuah foton 14,4 keV (c) Jika energi

kinetik pental dibuat terabaikan dengan menempatkan atom-atom dalam kisi


kristal, maka akan terjadi penyerapan resonansi. Kelajuan berapakah yang
diperlukan untuk menggeser Dopplerkan energi foton yang dipancarkan
agar tidak terjadi resonansi?
8.

Inti

198

Hg memiliki keadaan tereksitasi di 0.412 dan 1,088 MeV. Setelah

terjadi peluruhan beta dari

198

Au untuk

198

Hg, tiga sinar gamma

terpancarkan . Tentukan tiga energi pada sinar gamma tersebut!

67

9. Hitung energi kinetic partikel alfa dari peluruhan alfa


10. Hitnglah energy yang dilepaskan dalam fisi 1,00 kg uranium yang telah
dilimpahi dengan isotop 235U hingga 3 persen.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokanlah jawaban kalian dengan kunci jawaban yang terdapat pada bagian
belakang modul ini. Hitunglah jawaban kalian yang benar dan kamudian gunakan
rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kalian terhadap materi
pada kegiatan belajar ini.
l

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90-100

= sangat baik

80-89

= baik

70-79

= cukup

60-69

= kurang

Dibawah 60

= sangat kurang

Jika tingkat penguasaan kalian mencapai 80-100,, SELAMAT ,ANDA


BERHASIL!!!! Anda telah menguasai materi yang ada pada modul ini dan siap
untuk melanjutkan ke modul selanjutnya yakni MEKANIKA KUANTUM
INTI
Tetapi bila tingkat penguasaan kalian masih dibawah 80 maka kalian harus
mengulangi kegiatan belajar ini, terutama pada materi yang belum anda kuasai,
SELAMAT BERJUANG !!!!!!

68

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. 1981. Konsep Fisika Modern Jilid 3, Terjemahan The HouwLiong.
Jakarta: Erlangga.
Jannah, dkk. 2013. Makalah Reaksi Inti. Palembang
Krane, Kenneth. 2008. Fisika Modern. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mariati. 2013. Konsep dan Aplikasi IPTEK Nuklir Di Sekolah Menengah Atas.
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol. 19, No.1.
Purnomo, Agus. Presentase Fisika-Inti-dan-Radioaktivitas.ppt. Diunduh tanggal
15 Mei 2016.

69

PEMBAHASAN

UJI PEMAHAMAN 1
1.

Diketahui :
T = 9 hari,
m = 4 gram,
t = 36 hari,
n = 369 = 4.
Rumus jumlah unsur yang tersisa juga berlaku untuk massa yang tersisa.
Jumlah massa yang tersisa setelah meluruh selama kurun waktu tertentu dapat
dihitung dengan rumus :
m = mo()n
Dengan n = tT
Keterangan :
m = besar massa unsur yang tersisa
No = massa mula-mula
t = lamanya peluruhan
T = waktu paruh.
Berdasarkan rumus di atas :
m = mo()n 4 = mo()4 4 = mo(116) mo = 64 gram.

2.
a)

b)

ln

ln

70

c)

3.

4.

5.

UJI PEMAHAMAN 2
1.

Bentuk peluruhan beta negatif :


+

Maka
[
(

Bentuk peluruhan beta positif :


+

Maka

71

Bagi penangkapan elektron


+

Maka
[

2.

Dik : Bentuk peluruhan :


+

Dit : Kmaks ?
Jawab
[

Kmaks = Q=
3.

MeV

Dik : Bentuk peluruhan :


+

Dit : Kmaks ?
Jawab
[

Kmaks = Q=
4.

MeV

Pertama-tama kita hitung dahulu jumlah mol yang terdapat dalam bejana,
dengan menggunakan hukum gas ideal:
(

)(
(

Karena tiap mol CO2 mengandung 6.02 x 1023 molekul, maka jumlah molekul
N adalah

72

Tiap molekul karbon memiliki satu atom karbon, jadi N adalah jumlah atom
adalah 10-17, maka ada sebanyak

karbon dalam cuplikan. Jika fraksi atom


9,82 x 108 buah atom dari

yang terdapat dalam bejana. Oleh karena itu,

aktivitasnya adalah

Jadi, jumlah peluruhan dalam seminggu adalah 2280


5. Deret peluruhan radioaktif
+

a) Banyak peluruhan alfa


232 = 208 + 4N

=>>> N =6

b) Banyak peluruhan beta


90 = 82 + 2Ne Ne

=>>> Ne = 4

c) Energi yang dilepaskan:


[

d) Daya yang dihasilkan:

(
(

)
)

UJI PEMAHAMAN 3
1) Diketahui : 235U mudah terfisikan, sedangkan 238U tidak
Ditanya :
a. beda energy antara 235U + n dan 236U ?
b. beda energy antara 238U+n dan 239U
c. perbandingan antara a dan b?
Jawab :
a. beda energy antara 235U + n dan 236U

73

= [m(235U) + m(n) m(236U)]c2


= (235.043930 u +1.008665 u 236.045568 u)(931.50 MeV/u)
= 6.546 MeV

b. E = [m(238U) +m(n) m(239U)]c2


= (238.050788 u +1.008665 u 239.054293 u)(931.50 MeV/u)
= 4.807 MeV
c. jika
236

235

U + n memberikan energi eksitasi yang lebih tinggi untuk fisi menjadi

U, sedangkan

238

U + n membutuhkan energi lebih kecil dengan selisih

sekitar 1.7 MeV dengan 236U untuk melakukan eksitasi. Jadi,

238

U sudah dapat

berfisi dengan neutron berenergi rendah sedangkan 238U membutuhkan neutron


cepat dengan energi 1 sampai 2 MeV
2) E = [m(239Pu) +m(n) m(240Pu)]c2
= (239.052163 u +1.008665 u 240.053814 u)(931.50 MeV/u) = 6.534 MeV
Karena

239

Pu + n mempunyai energy eksitasi yang sama dengan

dapat kita simpulkan bahwa

239

Pu (seperti halnya

235

235

U + n, maka

U) dapat berfisi dengan

neutron berenergi rendah.


3) Diketahui :
+

+5

+ 5

= 235,0439
= 1,0087
= 137,9050
= 92,9060
= 0,00055
Ditanya : Energi yang dilepaskan pada reaksi fisi 1 kg uranium ?
Jawab :
Q=

+
+

+
+

1 kg atom =
= 4,66

MeV

4) E = (m 1H2 + m 1H2 ) - (m 1H3 + m 1H1 ) 931 MeV


E = (2,0141 + 2,0141) - (3,0160 + 1,0078) 931 MeV

74

E = (4,0282 - 4,0238) 931 MeV


E = 4,0964 MeV

5) Diket : mH=1,007825 u

mHe=4,002604 u

adalah 0,000549 u
Ditanya : Energi?
Jawab : Q = {(4mH)-(mHe)+2me)} x 931 MeV/sma
= {(4 x 1,007825)- (4,002604+(2 x 0,000549))} x 931 MeV
= 24,872596 MeV
4 atom H = 4 x 1,007825 = 4,0313 sma
Energi =
1 Kg

6) mi = 15,995 sma

Z= 8

mp = mH = 1,0078 sma

neutron = A - Z = 16 - 8 = 8

A = 16

mn = 1,0087 sma
a. Massa total nukleon = massa total proton + massa total neutron
= 8 mp + 8 mn
= 8 (mp+mn)
= 8 (1,0078 + 1,0087)
= 16,132 sma
b. m = Z. mp + (A Z) mn - mi
= 8. (1,0078) + (16-8) (1,0087) 15.995
= 0,137 SMA
c. E = m (931 MeV/sma)
= (0,137 sma) (931,5 MeV/sma)
= 127,62 MeV
d. En =
=
= 7,97625 MeV/nukleon

75

TES FORMATIF
1) a)

b)

ln

ln

c)

2)

3) a)

b)

4)

142

[ (
[

140

+
(

]
]

76

4,8559 MeV

= 4,7729 MeV

5) Diket

75
34

75
Se41 e 33
As 42 v

mSe = 74,922524u
mAs = 74,921596u
Dit: Ek neutrino (Ek v)?
Jawab:

Q m 75 Se m 75 As c 2
74,922524 u 74,921596 u 931,5MeV / u
0,864 MeV
Energi neutrino sama dengan nilai Q sebesar 0,864 MeV

6) Diket : unsur

Ditanya :
Jawab :
+

Misal

N yang tertinggal:

77

7) Diketahui:

E = 14,4 keV
= 141 ns =141.10-9 s
a. E?

Ditanya:

b. K?
c. v?
Jawab:

a.

Mencari besarnya lebar E

b.

Mencari besarnya energi kinetik yang memancarkan foton

c. Mencari besarnya kelajuan yang diperlukan untuk menggeser energi foton


yang dipancarkan

8) E1 = 0,000 MeV (keadaan dasar)


E2 = 0,412 MeV, E3 = 1,088 MeV (keadaan tereksitasi)
Energy lompatan kecil diabaikan, energi dari sinar gamma yang dipancarkan pada
tingkatan yang berbeda yaitu:

9)

+
[ (
[

]
]

78

=
= 5.12

MeV

10) Diketahui : m uranium


3% m uranium

= 1,00 kg = 1000 g
= 1000 x

= 30 g

Ditanya : Energi yang dilepaskan ?


Dijawab :

=5,9 1022 atom

Jika setiap proses fisi melepaskan energy sebesar 200 MeV, maka total energy
yang dilepaskan adalah

79

GLOSARIUM

Radioaktivitas

pemancaran partikel alfa ( ), partikel beta ( ) atau sinar


gamma secara spontan oleh inti-inti berat yang tidak stabil
menjadi inti-inti yang stabil

Peluruhan Radioaktif

proses dimana inti dari nuklida yang memancarkan partikel


alfa ( ), partikel beta ( ) atau sinar gamma dari suatu inti
atom

Aktivitas

laju peluruhan inti radioaktif

Peluruhan Alfa

emisi partikel alfa ( inti helium)

Peluruhan Beta

merupakan proses sebuah neutron berubah menjadisebuah


proton atau sebuah proton menjadi sebuah neutron

Peluruhan Gamma

pemancaran foton berupa sinar gamma untuk mencapai


keadaan dasar setelah melakukan eksitasi.

Reaksi Fisi

Pembelahan inti atom bermassa atom berat menjadi dua


inti atom yang bermassa atom lebih ringan

Reaksi Fusi

Penggabungan dua inti atom dengan massa atom ringan


menjadi satu inti atom dengan massa atom yang lebih berat

80

BIODATA PENYUSUN

NAMA : VIRGINIA MAHENDRA P.


NIM : 130210102008
ASAL : KERTOSONO, NGANJUK
TTL : Nganjuk, 10 Maret 1995

NAMA : NOVITA YULIANI


NIM : 130210102025
ASAL : JEMBER
TTL : Jember, 14 Juli 1994

NAMA : IKA NUR AINI ALFIANTI


NIM : 130210102047
ASAL : LUMAJANG
TTL : Lumajang, 14 Desember 1994

NAMA : HALIMATUZ ZAHROK


NIM : 130210102075
ASAL : TULUNGAGUNG
TTL : Tulungagung, 9 Juni 1994

NAMA : FIRDHA CHOIRUN NISA


NIM : 130210102108
ASAL : LUMAJANG
TTL :Lumajang, 26 Mei 1995

NAMA : ELLA YAUMIL AFIANA


NIM : 130210102117
ASAL : LUMAJANG
TTL : Lumajang, 19 Juni 1995

81

82

Anda mungkin juga menyukai