Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN TUBEX

Diagnosis Demam Tifoid dengan Pemeriksaan TUBEX.

autor: PRAMITA Lab, 9. jla 2009, 1:30


DIAGNOSIS DEMAM TIFOID.
Demam Tifoid merupakan penyakit endemik dengan salah satu tanda klinisnya adalah Diare.
Suatu epidemik demam tifoid yang multidrug resistant dan tanpa suatu pengobatan yang adekuat,
10 % penderitanya meninggal oleh penyakit tersebut.
Penyebab utama dan paling banyak adalah Salmonella typhi atau Salmonella enterica subsp,
Enterica serotype typhi.
CARA BARU DETEKSI DEMAM TIFOID
Berdasarkan prinsip deteksi antibodi IgM spesifik Salmonella typhi dalam serum dengan cara
Inhibition Magnetic Binding Immunoassay ( IMBI ) menggunakan V-Shape Reaction Wells,
TUBEX TF memberikan alternatif solusi deteksi dini Demam Tifoid kepada klinisi terutama
menghadapi masalah kecepatan, kehandalan dan kenyamanan diagnosis.
DEFENISI DAN PRINSIP TUBEX
TUBEX TF adalah sustu test diagnostic invitro semi kuantitatif 10 menit untuk deteksi Demam
Tifoid akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi, melalui deteksi spesifik adanya serum
antibodi Ig M tersebut dalam menghambat ( inhibisi ) reaksi antara antigen berlabel partikel latex
magnetic ( reagen warna coklat ) dan monoklonal antibodi berlabel latex warna ( reagen warna
biru ), selanjutnya ikatan inhibisi tersebut di sparasikan oleh suatu daya magnetic. Tingkat
inhibisi yang dihasilkan adalah setara dengan konsentrasi antibodi Ig M S. typhi dalam sampel.
Hasil dibaca secara visual dengan membandingkan warna akhir reaksi terhadap skala warna.
http://sk-sk.facebook.com/note.php?note_id=105955047142

EVALUASI PEMERIKSAAN TYPHUS MENGGUNAKAN TUBEX

Alhamdulillah, setelah menggunakan Tubex TF sebagai pemeriksaan Demam Tifoid (typhus)


sejak akhir September 2007 yang lalu di Rawat Inap Palaran (Samarinda), kami menyelesaikan
paket awal tersebut dan mencoba membuat rekapitulasi sebagai bahan evaluasi tahap pertama.
Masih sangat mentah, mungkin tidak ada apapun yang dapat dipetik darinya, namun kami
berharap adanya masukan dari berbagai pihak untuk pemakaian Tubex tahap berikutnya.
Saat meluncurkan posting Tubex, ada beberapa masukan diantaranya saran penting dari Mas
Rizal (dokterearekcilik dot wordpress dot com) tentang perlunya batasan (menggunakan EBM)
sebagai pendukung untuk bahan kajian. Namun karena berbagai kendala, saran beliau belum bisa
kami laksanakan. Untuk tahap berikutnya, niscaya kami akan melakukannya.
Selain itu, atas masukan mbak Shinta, kami juga tidak membatasi penggunaan Tubex untuk
warga miskin semata, melainkan untuk semua penderita yang dicurigai menderita Demam
Typhoid setelah demam hari ke 5. Pun demikian untuk golongan umur, pemeriksaan Tubex
berlaku untuk semua umur termasuk anak-anak sesuai saran Mas Rizal.
Berikut ini adalah Rekapitulasi:
Penggunaan Tubex TF di Puskesmas Rawat Inap Palaran, Kota Samarinda.
September 2007-Januari 2008
No

Nama

Umur

Hasil

Demam Hr Rawat Keterangan

01

Ny. Sun

24 Th

(+) 6

hr ke 10

07 hr

R.Inap Pal

02

An. Fat

06 Th

(+) 2

hr ke 05

05 hr

R.Inap Pal

03

An. Fat

06 Th

(+) 6

hr ke 08

06 hr

R.Inap Pal

04

An. Ria

09 Th

(+) 10

hr ke 07

04 hr

R.Inap Pal

05

An. Van

11 Th

(+) 4

hr ke 09

17 hr

R.Inap Pal

06

Tn. Nur

40 Th

(+) 6

hr ke 08

08 hr

R.Inap Pal

07

Tn. Nur

40 Th

(+) 2

hr ke 18

08 hr

R.Inap Pal 2

08

An. Ris

06 Th

(+) 6

hr ke 05

12 hr

R.Inap Pal

09

An. Adn

2,5 Th

(+) 5

hr ke 06

04 hr

R.Inap Pal

10

An. Cin

5,5 Th

(+) 6

hr ke 10

03 hr

R.Inap Pal

11

Tn. Gas

55 Th

(+) 6

hr ke 05

06 hr

R.Inap Pal

12

An. Ron

10 Th

(+) 2

hr ke 05

07 hr

R.Inap Pal

13

An. Ajs

07 Th

(+) 4

hr ke 06

07 hr

R.Inap Pal

14

An. Agg

10 Th

(+) 10

hr ke 15

RSD

RS. Dirgahayu

15

An. Agg

10 Th

(+) 6

hr ke 21

R Jalan

R. Jalan 1

16

An. Agg

10 Th

(+) 4

hr ke 28

R Jalan

R. Jalan 2

17

An. Fad

02 Th

(+) 6

hr ke 30 home care

18

An. Den

23 Bl

(+) 6

hr ke 21

19

An. Mar

07 Th

(+) 4

hr ke 04 home care

R.Inap Pal

20

Tn. Sut

46 Th

(+) 6

hr ke 30

R Jalan

R.Inap Pal

21

An. And

05 Th

(+) 6

hr ke 14

R Jalan

R.Inap Pal

22

An. Abr

02 Th

(+) 6

hr ke 07

RSD

Rever RS.D

23

An. Fit

07 Th

(+) 6

hr ke 30

RSI

Rever RSI

24

Tn. Alq

38 Th

(+) 6

hr ke 30

RSI

Rever RSI

25

An. Res

03 Th

(+) 4

hr ke 09

R Jalan

Rawat Jalan

RSD

Home Care
Rujuk

KETERANGAN:
1. Jumlah Pasien diperiksa: 25 orang pasien
2. Jumlah Kontrol pemeriksaan: 2 pemeriksaan
3. Pasien dirawat di Rawat Inap Palaran: 13 pasien
4. Reveral (pasien dirujuk): 4 orang pasien
5. Home care: 2 orang pasien
6. Pindahan dari RS: 1 orang pasien
Catatan Khusus:
1. Pasien no. 05 pada hari 6 dikonsulkan ke dr anak di RSUD Samarinda, diberikan
pengobatan sesuai protokol penatalaksanaan Tifoid, namun dalam perkembangannya
dirujuk ke dr anak di praktek dengan dugaan Gagal Ginjal Akut, dan oleh dr anak
disetujui diagnosa Gagal Ginjal Akut. Selanjutnya pasien dirawat dengan protokol Gagal
Ginjal Akut dan dinyatakan sembuh pada hari ke 17.

2. Pasien no. 06 adalah pindahan dari RSUD Tenggarong dengan pemeriksaan Widal
Negatif (-), dan pemeriksaan lain, termasuk Malaria Negatif, namun panas tidak kunjung
turun sehingga penderita pindah ke R. Inap Palaran (rumahnya di Palaran) dan ternyata
pada pemeriksaan Tubex menunjukkan positif 6. Selanjutnya penderita dirawat sesuai
tatalaksana perawatan Tifoid. Kontrol pada hari ke 18 setelah menjalani Rawat Jalan,
pemeriksaan Tubex menunjukkan positif 2 dengan kondisi klinis tanpa keluhan.
3. Pasien no. 14, sebelumnya dirawat di RS Swasta dengan hasil pemeriksaan
Laboratorium tidak menunjukkan kelainan. Pada hari ke 15 demam, keluarga pasien
(tinggal di Palaran) minta dilakukan pemeriksaan Tubex di Rawat Inap Palaran dan
menunjukkan hasil positif 10 (maksimal positif 12). Selanjutnya pasien menjalani Home
care hingga pada pemeriksaan ke 3 menunjukkan hasil positif 4 dengan kondisi tanpa
demam dan tanpa keluhan.
Dari ilustrasi di atas, kami belum dapat membuat kesimpulan apapun terkait akurasi pemeriksaan
tifoid menggunakan Tubex. Namun mengingat animo dan sambutan penderita yang antusias
maka kami akan melanjutkan penggunaan Tubex sebagai penunjang diagnostik penderita dengan
dugaan Demam Tifoid.
Melihat hasil pemeriksaan Tubex, nampaknya akan menunjukkan hasil yang dapat dipercaya jika
pemeriksaan dilakukan pada hari ke 6 demam dan seterusnya jika pada pemeriksaan klinis
diduga Demam Tifoid.
Bias pemeriksaan Tubex (false negatif maupun false positif) belum dapat kami evaluasi
mengingat sedikitnya sampel dan belum ditetapkannya alat pemeriksaan lain sebagai kontrol
maupun EBM.
Harga pemeriksaan yang relatif mahal (90 ribu) ternyata bukan kendala bagi warga Palaran,
untuk itu sesuai masukan beberapa keluarga pasien, maka pemakaian Tubex akan kami lanjutkan
menggunakan dana swakelola, sedangkan warga miskin akan dibiayai oleh dana Gakin (tanpa
melalui askeskin*halah*). Selanjutnya kami akan mengupayakan agar pemeriksaan Tubex
dapat lebih murah dari saat ini.

Demikian hasil sementara Penggunaan Tibex sebagai penunjang diagnosa pasien dengan dugaan
Demam Tifoid.
http://cakmoki86.wordpress.com/2008/01/28/evaluasi-tubex-tahap-1/

Pemeriksaan Demam Tifoid Terkini

Diterbitkan September 23, 2007 Artikel , Blog , Health , Kedokteran , Kesehatan , Medical
Informatics , Opini , Reviews 34 Komentar - komentar
Tag:Artikel, Blog, Health, Kedokteran, Kesehatan, Medical Informatics, Opini, Reviews

Welcome: Pemeriksaan Terkini Demam Tifoid


Sebuah perjalanan panjang menuju akurasi Pemeriksaan penunjang Demam Tifoid menuai hasil.
Kendati belum sesuai harapan banyak pihak, sebuah inovasi telah lahir dengan hasil cukup
memuaskan. Betapa tidak, kesulitan menetapkan diagnosa pasti Demam Tifoid yang selama ini
sulit (terlebih di daerah perifer or pinggiran) terjawab sudah. Belum bisa merata memang, namun
setidaknya sudah bisa mulai menghentikan pro kontra diagnosa bias tentang Gejala Tifus .
Penulis sangat terlambat ( sekitar 3 tahun sejak diluncurkan) menulis review produk ini, yakni
sebuah terobosan pesat pemeriksaan terkini Demam Tifoid. Welcome: TUBEX TF.
Produk ini pertama dipublikasikan pertama tahun 1984, kemudian diluncurkan secara komersial
tahun 2004. Hingga kini belum banyak layanan kesehatan (RS) yang menggunakan produk ini.
Teman-teman dokter spesialis Penyakit Dalam di Surabaya tidak banyak memberikan informasi
tentang pemakaian Tubex TF. Bahkan dikatakan bahwa Tubex TF belum dijadikan pemeriksaan
standar dalam penunjang penegakan diagnosa Demam Tifoid. Di Samarinda sendiri, hanya
sebuah RS Swasta yang menggunakannya. Wajar, mengingat harganya yang cukup mahal dan
ada kemungkinan para dokter masih bersikap wait and see.
Kami, pelaksana pengadaan obat dan bahan habis pakai (Koperasi) Puskesmas Rawat Inap
Palaran, Samarinda memberanikan diri menggunakannya setelah mempelajari selama kurang
lebih 6 bulan. Ehm mo bergaya doang or arogan ? Bolehlah dianggap begitu, namun kami
sudah mempertimbangkannya masak-masak, lagipula kami tidak enggunakan dana negara.

Sekali lagi ini dikelola oleh Koperasi (yang kebetulan penulis sebagai penasehatnya) setelah
melalui bincang lama dengan para anggota yang juga paramedis pelaksana harian perawatan.
Apa tidak memberatkan penderita ? Hmmmpertanyaan yang wajar dan inipula salah satu
pertimbangan kami.
Honestly, kami menggunakannya bukan sebagai pemeriksaan rutin, melainkan semacam uji
akurasi Tubex TF dikonfirmasi dengan dugaan klinis. Ini penting (menurut kami) agar
penggunaan obat lini pertama Demam Tifoid tidak salah sasaran dan pada gilirannya dapat
mencegah resistensi antibiotika karena over diagnosis Gejala Tifus . Tentu diagnosa klinis
tetap sebagai landasan utama sebelum pemeriksaan dengan Tubex TF.
Nah, mengingat tujuan penggunaan dan harganya yang cukup mahal, maka pemeriksaan Tubex
TF hanya digunakan bagi penderita Miskin yang dirawat di Puskesmas rawat Inap Palaran.
Koq ? ya iyalah, kan mereka dibiayai oleh negara, so gak perlu ngeluarin duwit sendiri betul
gak ? hehehe. Tosss.
So, Tubex TF yang menggunakan metode Inhibition Magnetic Binding Immunoassay (MBI) ini
resmi digunakan setelah review singkat kepada para awak Puskesmas Rawat Inap Palaran,
Samarinda pada hari Minggu, 23 September 2007.
Sasaran: penderita Warga Miskin (Gakin) dengan dugaan klinis Demam Tifoid pada hari kelima
demam.
Metode: diskriptif acak terbatas ( 30 penderita.
Waktu: 23 September 2007-23 September 2008.
Biaya: swakelola.
Harga: 2 juta lebih untuk 30 pemeriksaan
Klaim: 90 ribu per pemeriksaan, sudah termasuk jasa dan biaya bahan habis pakai.
BERSAMBUNG
Catatan:
Segala sesuatu terkait latar belakang, gambaran singkat Demam Tifoid dan sedikit uraian cara
kerja Tubex TF akan ditulis dalam serial selanjutnya.

Kendati memakai nama daggang ( Tubex tf), namun kami tidak terikat dengan pihak manapun.
http://cakmoki86.wordpress.com/2007/09/23/pemeriksaan-demam-tifoid-terkini/

tubex

Analisis realibilitas tes widal dan tubex untuk pemeriksaan serologi demam tifoid. Pendahuluan :
Gejala klinis demam typhoid sangat bervariasi dan tidak selalu spesifik. Pemeriksaan serologi
berguna untuk mendiagnosis demam tyfoid di daerah dengan keterbatasan kemampuan
laboratorium. Tubex adalah pemeriksaan serologi baru yang cepat dan mudah serta bersifat
spesifik dalam mendeteksi anti-Salmonella 09 IgM. Meski demikian Tubex lebih mahal daripada
Widal yang telah digunakan secara luas untuk mendiagnosa demam typhoid, walaupun di daerah
endemik reliabilitasnya kurang dapat dipercaya. Penelitian ini membandingkan antara Tubex
dengan Widal di RS tertier. Hasil penelitian diharapkan bergunan untuk mempertimbangkan
penggunaan tes serologi yang baru. Metode : Merupakan penelitian diagnostik, yaitu sample
darah dari 33 pasien dengan demam 3 hari atau lebih dilakukan pemeriksaan tes Widal dan
Tubex. Tes Kappa digunakan untuk mengukur reliabilitas antara ke2 metode tersebut. Hasil :
Penelitian ini menghasilkan nilai Kappa 0,60 pada perbandingan tes Tubex dengan tes Widal
yang menggunakan kriteria (+) anti-TO titer 1/160. Ketika menggunakan kriteria (+) dari tes
widal dengan anti-TO titer 1/80, maka nilai Kappa meningkat menjadi 0,69. Hal ini berarti
bahwa pada daerah endemik dimana digunakan kriteria (+) nila tes Widal anti TO titer >1/160
atau menunggu adanya kenaikan titer (paired sera), tes Tubex dapat mendeteksi demam tifoid
akut lebih awal daripada Widal. Simpulan : Tes Tubex tampaknya berguna untuk deteksi dini
infeksi akut demam tifoid. Oleh karena itu pengobatan antimikroba yang adekwat dapat segera
diberikan.
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=a&id=122628

Demam Typhoid dan Diagnosis Laboratorium (Invitro Diagnostik)

Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalisa, kimia klinik,


imunoreologi, mikrobiologi, dan biologi molekular. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu
menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis,
memantau

perjalanan

penyakit

dan

hasil

pengobatan

serta

timbulnya

penyulit.

Pemeriksaan

laoratorium

untuk

menunjang

diagonsis

demam

typhoid

a.

meliputi

Hematologi

Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun atau
meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit
bergeser ke kiri, mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase
lanjut. Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). Penelitian oleh beberapa
ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak
mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam
membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan
limfositosis

relatif

menjadi

dugaan

kuat

diagnosis

demam

b.

tifoid.
Urinalisa

Protein : bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam). Leukosit dan eritrosit normal;
bila

meningkat

kemungkinan

c.

terjadi

penyulit.

Kimia

Klinik

Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis
Akut.
d.

Imunologi

1)

Widal

Slide

Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160, bahkan mungkin sekali
nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia.
Titer
2)

O
ELISA

meningkat
Salmonella

setelah
typhi/

akhir

paratyphi

lgG

minggu.
dan

lgM

Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang dianggap lebih sensitif dan
spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid atau Paratifoid. Sebagai tes
cepat (Rapid Test) hasilnya juga dapat segera di ketahui. Diagnosis Demam Typhoid/
Paratyphoid dinyatakan : bila lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif
menandakan
3)

pernah

kontak/

pernah
Tes

terinfeksi/

reinfeksi/

daerah

endemik.
Tubex

Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat
(kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan
sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik

yang ditemukan pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi akut
karena hanya mendeteksi antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa
menit.
Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada uji Widal. Penelitian oleh Lim
dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%. Penelitian lain
mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%. Tes ini dapat menjadi
pemeriksaan ideal, dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan
sederhana,

terutama

di

e.

Mikrobiologi

negara

berkembang.

Gall

Culture

Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid/ paratyphoid.
Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid.
Sebalikanya jika hasil negati, belum tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid, karena hasil biakan
negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit
kurang dari 2mL, darah tidak segera dimasukan ke dalam media Gall (darah dibiarkan membeku
dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan), saat pengambilan darah masih
dalam minggu 1 sakit, sudah mendapatkan terapi antibiotika, dan sudah mendapat vaksinasi.
Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk
pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7hari, bila belum ada pertumbuhan koloni
ditunggu sampai 7 hari). Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah,
kemudian

untuk

stadium

lanjut/

f.

carrier

digunakan

urin

dan

Biologi

tinja.

molekular

PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan. Pada cara ini di
lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang
spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit
(sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. Spesimen yang digunakan dapat
berupa
Saran

darah,

urin,

cairan

tubuh

lainnya

serta

jaringan

biopsi.
:

1. Kepada Teman-teman di RS, cobalah untuk berpindah pemeriksaan widal slide yang tidak
spesifik dan sensitif ke Tubex Test. Hal ini karena Widal merupakan pemeriksaan yang banyak
sekali menyebabkan false positif. Contohnya saja saat demam, maka titer akan positif walaupun

belum mencapai 1/80 ke atas. mungkin saja disebabkan oleh bakteri lain dalam satu famili
Enterobacteriaceae. Hal berhubungan dengan terapi yang diberikan oleh dokter, misal hasil lab
titer 1/20 atau 1/40, mungkin dikira dokter infeksi akut, apabila petugas lab yang kena maka
akan diberi antibiotika tingkat tinggi seperti kuinolon (cyprofloxacin) atau golongan sefalosporin
(cefotaksim). Toleransi tubuh terhadap antibiotik dan reaksi plasmid bakteri akan menyebabkan
antibiotik tersebut nantinya akan resisten atau dosis naik. padahal belum tentu demam typhoid.
2. Mungkin saat ini dalam tahap penelitian oleh mahasiswa TLK unhas atas bimbingan
Prof.Hatta dari FK unhas secara PCR, tentang antigen lokal Salmonella isolat makassar dan
papua, hal ini untuk melihat gen yang mengalami mutasi, resisten obat dan hubungannya dengan
antigen penanda infeksi yang dapat dideteksi secara Stick Rapid Test. Ke depannya akan di
produksi Rapid Test untuk mendeteksi Salmonella penyebab Demam Typhoid.
http://teknologilaboratoriumkesehatan.blogspot.com/2010/04/demam-typhoid-dandiagnosis.html
WASPADAI GEJALA TIFUS, SEGERA PERIKSAKAN DIRI ANDA - 23/12/2006
Penyakit tifus sering menjadi wabah ketika musim penghujan atau pergantian musim tiba.
Penyakit ini sangat rentan terjadi pada balita, anak-anak dan remaja, dan bila tidak segera
ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat mengakibatkan masalah serius yang berakibat fatal.
Oleh karena itu, deteksi dini terhadap penyakit ini sangat perlu untuk dilakukan untuk mencegah
terjadinya kondisi yang lebih buruk.

Penyakit tifus (demam tifoid) masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara berkembang,
umumnya di daerah tropis dan khususnya di Indonesia. Angka kejadiannya akan meningkat pada
musim kemarau panjang dan di awal musim penghujan. Selain memerlukan perawatan dan masa
pemulihan yang cukup lama, tidak jarang penyakit ini disertai dengan komplikasi yang dapat
berakhir pada kematian.
Angka kejadian penyakit tifus di Indonesia rata-rata 900.000 kasus/tahun dengan angka kematian
lebih dari 20.000 , dan 91% dari kasus tersebut terjadi pada usia 3-19 tahun.

Apakah Penyakit Tifus itu ?


Penyakit tifus merupakan infeksi berat pada usus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.
Penularannya dapat terjadi melalui kontak antar manusia atau melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi karena penanganannya yang tidak bersih.

Kapan Penyakit Tifus Menimbulkan Gejala ?


Selang waktu antara infeksi dan permulaan sakit (masa inkubasi) bergantung dari banyaknya
bakteri yang masuk ke tubuh. Masa inkubasi berkisar antara 8-14 hari.

Apa Saja Gejala Penyakit Tifus ?


-

Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya
seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare pada
anak-anak atau sulit buang air pada orang dewasa, dan suhu tubuh meningkat terutama sore
dan malam hari.

Setelah minggu ke dua, gejala menjadi lebih jelas yaitu demam yang tinggi terus-menerus,
nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecah-pecah, lidah ditutupi
selaput putih kotor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, dan perut
kembung. Anak nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan, acuh tak
acuh (apatis), sampai berat (koma).

Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi perdarahan, kebocoran usus, infeksi
selaput usus, renjatan bronkopneumonia (peradangan paru) dan kelainan di otak.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Gejala Penyakit Tifus ?

Jika terdapat gejala penyakit tifus, segeralah lakukan pemeriksaan laboratorium untuk
menegakkan diagnosis penyakit tifus. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi
yang berakibat pada kematian.

Pemeriksaan Laboratorium Apa Sajakah Yang Dapat Dilakukan ?

Kultur Gal
Diagnosis definitif penyakit tifus dengan isolasi bakteri Salmonella typhi dari spesimen yang
berasal dari darah penderita.
Pengambilan spesimen darah sebaiknya dilakukan pada minggu pertama timbulnya penyakit,
karena kemungkinan untuk positif mencapai 80-90%, khususnya pada pasien yang belum
mendapat terapi antibiotika. Pada minggu ke-3 kemungkinan untuk positif menjadi 20-25% dan
minggu ke-4 hanya 10-15%.

Widal
Penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah (antigen O muncul
pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12).
Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit
tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi.
Pemeriksaan tunggal penyakit tifus dengan tes Widal kurang baik karena akan memberikan hasil
positif bila terjadi :

Infeksi berulang karena bakteri Salmonella lainnya

Imunisasi penyakit tifus sebelumnya

Infeksi lainnya seperti malaria dan lain-lain

Apakah Pemeriksaan Dengan Kultur Gal dan Widal Sudah Cukup Untuk Mendeteksi
Penyakit Tifus ?
Tidak, karena pemeriksaan Kultur Gal sensitivitasnya rendah, dan hasilnya memerlukan waktu
berhari-hari, sedangkan pemeriksaan Widal tunggal memberikan hasil yang kurang bermakna
untuk mendeteksi penyakit tifus.
Tidak, karena melihat pengalaman selama ini, banyak sekali kasus infeksi dengan diagnosis
positif penyakit tifus yang dihasilkan dari pemeriksaan Kultur Gal dan Widal, sudah mulai
diberikan obat antibiotika. Namun, ternyata pasien menderita demam karena virus, misalnya
dengue.

Pemeriksan Apakah Yang Dapat Dijadikan Alternatif Untuk Mendeteksi Penyakit Tifus ?
Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexTF sebagai solusi pemeriksaan
yang sensitif, spesifik dan praktis untuk mendeteksi penyebab demam akibat infeksi bakteri
Salmonella typhi.

Apakah Yang Dimaksud Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Reagen
TubexTF ?
Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexTF dilakukan untuk mendeteksi

antibodi terhadap antigen lipopolisakarida O9 yang sangat spesifik terhadap bakteri Salmonella
typhi.

Apakah Kelebihan Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Reagen TubexTF ?
-

Deteksi infeksi akut lebih dini dan sensitif, karena antibodi IgM muncul paling awal yaitu
setelah 3-4 hari terjadinya demam (sensitivitas > 95%).

Lebih spesifik mendeteksi bakteri Salmonella typhi dibandingkan dengan pemeriksaan Widal,
sehingga mampu membedakan secara tepat berbagai infeksi dengan gejala klinis demam
(spesifisitas > 93%).

Memberikan gambaran diagnosis yang lebih pasti karena tidak hanya sekedar hasil positif dan
negatif saja, tetapi juga dapat menentukan tingkat fase akut infeksi.

Diagnosis lebih cepat, sehingga keputusan pengobatan dapat segera diberikan.

Hanya memerlukan pemeriksaan tunggl dengan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan Widal
serta sudah diuji di beberapa daerah endemik penyakit tifus.

Terjadinya peningkatan angka kejadian penyakit tifus disebakan oleh beberapa hal, yaitu sanitasi
yang buruk, pasien carrier yang tidak terdeteksi dan keterlambatan diagnosis.
Penyebab keterlambatan diagnosis penyakit tifus, antara lain : selang waktu antara infeksi dan
permulaan sakit yang terlalu lama (berkisar 8-14 hari) dan metode pemeriksaan yang digunakan
tidak dapat mendeteksi secara cepat dan tepat.

Makin cepat penyakit tifus dapat dideteksi, maka pengobatan yang tepat
dapat segera diberikan sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi

bahkan kematian, karena mekanisme kerja daya tahan tubuh masih cukup
baik dan bakteri masih terlokalisasi hanya di beberapa tempat saja.
http://prodia.meta-technology.net/populer_detail.php?id=90&pagenum=1&lang=ina

W IDAL VS TUBEX

Widal sulit intepretasi hasil


Belum ada standart aglutinasi cut off point- baseline
standart
Kombinasi widal dan tubex?
LATAR BELAKANG
Gambaran klinis demam Tifoid tidak spesifik,terutama
pada anak (tidak ditemukan gejala klinis yang spesifik/
gejala yang sama pada penyakit yang lain)
Memerlukan pemeriksaan penunjang untuk konfirmasi
Pemeriksaan penunjang : darah tepi,isolasi/biakan
kuman,uji serologis dan identifikasi molekuler
GAMBARAN KLINIS DEMAM
TYPHOID
Manifestasi klinis spektrum demam Typhoid tidak khas
dan sangat lebar (asimptomatik -> berat)
Gejala klinis pada penderita: panas (100%),anoreksia
(88%),nyeri perut (49%),muntah (46%),obstipasi
(43%),dan diare (31%)
Pemeriksaan fisik : Kesadaran delirium
(16%),somnolen(5%),sopor (1%)),,lidah
kotor(54%),meteorismus (66%),hepatomegali (67%)
,splenomegali (7%)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah tepi
leukopenia dan limfositosis relatif pada fase

lanjut,hitung jenis dan dan ,LED tidak memiliki


nilai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
Identifikasi kuman melalui biakan
Darah dan sumsum tulang di awal penyakit,stadium
berikut di dalam urine/feses
Media empedu (gall) sapi hanya Salmonela thypi
dan parathypi yang dapat tumbuh
Diagnostik pasti
Uji serologis:
Mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen
antigen s thypi/ mendeteksi antigen itu sendiri
1. Uji Widal
2.Tubex
3.Metode enzyme immunoassyay
4.Metode ELISA
TUBEX TF

aglutinasi kompetitif semi kualitatif yang sederhana (kurang

lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel berwarna untuk


meningkatkan sensitifitas, ditingkatkan menggunakan
antigen 09 yang spesifik pada salmonela serogrup D

Akurat infeksi akut -> hanya mendeteksi IgM

Spesifik mendeteksi IgM antibodi S thypii 09 LPS antigen S

thypii dan salmonella serogroup D bakteri

IgM anti 09 antibodi secara normal tidak terdapat pada

orang yang sehat

Tidak ada cross reaksi pada antibodi yang lain

Sensitivitas dan spesifitas lebih baik dari Wida

KESIMPULAN
Tubex TF memiliki sensitifitas dan spesifisitas

yang lebih tinggi di banding widal


Mudah digunakan dan terjangkau
http://www.scribd.com/doc/39876203/TUBEX-TF