Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komplikasi dalam kasus kebidanan dapat terjadi di luar dugaan, meskipun
segala sesuatu yang telah dijalankan dengan rapih dan sempurna.dengan
pengetahuan yang baik, penanganan persalinan yang hati-hati disertai dengan
ketelatian dengan baik pula, diharapkan kematian dan kesakitan ibu hamil
dapat ditekan sekecil-kecilnya setiap tenaga kesehatan diharapkan mampu
menengani persalinan normal maupun patologi dan berupaya agar tidak terjadi
komplikasi.
Tenaga kesehatan khususnya bian harus mengetahui dan menguasai
tindakan-tindakan yang harus dilakukan apabila memberikan pertolongan baik
pada persalinan normal maupun patologi.pengetahuan tentang Tindakantindakan operatif kebidanan yaitu Ekstraksi Vakum, induksi persalinan,
Digital Curretase, persalinan sungsang, maupun manual plasenta harus di
miliki..
1.2 Tujuan

BAB II
ISI

2.1 Tindakan Operatif


Yang termasuk dalam tindakan operatif penanganan abortus adalah:
1.

Pengeluaran secara digital

2.

Kuretase (Kerokan)

3.

Vakum Kuretase

2.1.1 PENGELUARAN SECARA DIGITAL


Tindakan ini dilakukan untuk menolong penderita di tempat-tempat
yang tidak ada fasilitas kuretase, sekurang-kurangnya untuk menghentikan
perdarahan. Hal ini sering kita lakukan pada keguguran yang sedang
berlangsung

(Abortus

insipien)

dan

keguguran

bersisa

(Abortus

incompletus).
Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah ada
pembukaan serviks uteri yang dapat dilalui oleh saru jari longgar dan
kavum uteri cukup luas. Karena manipulasi ini akan menimbulkan rasa
nyeri, maka sebaiknya dilakukan dalam narkosa umum intravena (Ketalar)
atau anestesi blok para-servikal.
Caranya adalah dengan dua tangan (bimanual): jari telunjuk tangan
kanan dimasukan ke dalam jalan lahir untuk pengeluaran hasil konsepsi;
sedangkan tangan kiri memegang korpus uteri untuk memfiksasi melalui
dinding perut. Dengan menggunakan jari, kikislah hasil konsepsi sebanyak
mungkin atau sebersih mungkin.
2.1.2 KURETASE

Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat


kuretase (Sendok kerokan) sebelum melakukan kuretase, penolong harus
melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan
serviks dan besarnya uterus. Gunanya untuk mencegah terjadinya bahay
kecelakaan misalnya perporasi.
Persiapan sebelum kuretase
1. Persiapan penderita
a. Lakukan pemeriksaan umum: tekanan darah, nadi, keadaan
jantung, paru-paru dan sebagainya.
b. Pasang infuse cairan sebagai profilaksis
2. Persiapan alat-alat kuretase
a. Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia dalam bak alat dalam
keadaan aseptic (suci-hama) berisi:
Spekulum 2 buah
Sonde (penduga) uterus
Cunam muzeux atau cunam porsio
Berbagai ukuran busi (dilatator) hegar
Bermacam-macam ukuran sendok kerokan (kuret)
Cunam abortus, kecil dan besar
Pinset dan klem
Kain steril dan sarung tangan 2 pasang
b. Penderita ditidurkan dalam posisi litotomi
c. Pada umumnya diperlukan anestesi inpiltrasi local atau umum
secara intravena dengan ketalar.
Teknik Kuretase
1. Tentukan letak rahim yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam.
Alat-alat yang dipakai umumnya terbuat dari metal dan biasanya
melengkung karena itu memasukan alat-alat ini harus disesuaikan

dengan letak rahim. Gunanya supaya jangan terjadi salah arah (fase
route) dan perforasi.
2. Penduga rahim (Sondage). Masukan penduga rahim sesuai letak
rahim dan tentukan panjang atau dalamnya penduga rahim. Caranya
adalah setelah ujung sonde terasa membentur fundus uteri, telunjuk
tangan kanan diletakkan atau dipindahkan pada portio dan tariklah
sonde keluar, lalu baca berapa cm dalamnya rahim.
3. Dilatasi. Bila pembukaan serviks belum cukup untuk memasukan
sendok kuret, lakukanlah terlebih dahulu di dilatasi dengan dilatators
atau bougie hegar. Peganglah busi seperti memegang pensil dan
masukanlah hati-hati sesuai letak rahim. Untuk sendok kuret terkecil
biasanya diperlukan dilatasi sampai hegar no.7. Untuk mencegah
kemungkinan perforasi usahakanlah memakai sendok kuret yang agak
besar, dengan dilatasi yang lebih besar.
4. Kuretase. Seperti telah dikatakan, pakailah sendok kuret yang agak
besar. Memasukannya bukan dengan kekuatan dan melakukan
kerokan biasanya mulailah di bagian tengah. Pakailah sendok kuret
yang tajam (ada tanda bergerigi) karena lebih efektif dan lebih terasa
sewaktu melakukan kerokan pada dinding rahim dalam (seperti bunyi
mengukur kepala). Dengan demikian kita tahu bersih atau tidaknya
hasil kerokan.
5. Cunam abortus. Pada abortus insipient, dimana sudah kelihatan
jaringan, pakailah cunam abortus untuk mengeluarkannya yang
biasanya di ikuti oleh jaringan lainnya. Dengan demikian sendok
kuret hanya dipakai untuk membersihkan sisa-sisa yang ketinggalan.

6. Perhatian: Memegang atau memasukan dan menarik alat-alat haruslah


hati-hati; lakukanlah dengan lembut (with ladys hand) sesuai dengan
arah dan letak rahim.
2.1.3 KURETASE VAKUM
Adalah cara mengeluarkan hasil konsepsi dengan alat vakum. Alat
ini terdiri dari kanul kuret berbagai ukuran yang dihubungkan dengan
pompa vakum atau sumber vakum lainnya. Untuk vakum kuretase ini
diperlukan tekanan negative sekitar 700 mmHg.
Teknik Kuretase Vakum
1.

Kanul ukuran sesuai dengan pembukaan dimasukkan ke dalam

2.

kavum uteri
Kanul dihubungkan dengan sumber vakum, baik yang elektrik

3.

ataupun berupa semprit besar


Kanul digerakkan pelan-pelan dari atas ke bawah kemudian diputar
sampai 180 derajat sehingga rahim seluruhnya keluar dalam suatu
penampungan atau dalam semprit.

Kelebihan Cara Kuretase Vakum


i. Kurang menimbulkan trauma, rasa nyeri dan perdarahan
ii. Jarang terjadi perforasi karena yang dipakai adalah kanul plastic
dibandingkan sendok kuret dari logam
iii. Waktu yang dipergunakan begitu pula dilatasi serviks lebih singkat
dan dapat dipakai pada pembukaan kecil.

2.1.4 Abortus Buatan

Abortus buatan adalah mengeluarkan hasil konsepsi sebelum


kehamilan 28 minggu atau berat badan janin kurang dari 1000 gram
dimana janin tidak dapat hidup diluar rahim.
Umumnya setiap negara ada undang-undang yang melarang
abortus buatan, tetapi larangan ini tidaklah mutlak sifatnya. Di indonesia
berdasarkan undang-undang, melakukan abortus buatan di anggap suatu
kejahatan, jadi tindak pidana yang dilarang. Akan tetapi abortus buatan
sebagai tindakan pengobatan, apabila itu satu-satunya jalan untuk
menolong jiwa dan kesehatan ibu serta sungguh-sungguh dapat di
pertanggungjawabkan dapat di benarkan dan biasanya tidak dituntut
Menurut beberapa penelitian, abortus buatan paling banyak di
lakukan oleh golongan perempuan yang bersuami, disebabkan karena
banyak anak, tekanan ekonomi dan sebagainya.
Keputusan untuk melakukan abortus buatan harus di ambil
sekurang-kurangnyadua orang dokter dengan persetujuan tertulis dari
perempuan hamil atau suaminya dan dilakukan di suatu rumah sakit yang
mempunyai cukup fasilitas untuk mengerjakannya.
Cara-cara melakukan abortus buatan :

dilatasi dan kuretase (D dan K)


penyedotan (saction curettage)
dilatasi bertahap
penggaraman (cairan garam hipertonik)
pemberian prostaglandin (PG)
histerotomi

Dilatasi dan Kuretase ( D& K)


Cara melakukan dilatasi dan kuretase abortus buatan sama saja
dengan melakukan terapi abortus dengan cara yang sama. Hanya pada
abortus buatan sama sekali belum ada pembukaan kanalis servikalis.
Karena itu terlebih dahulu dilakukan dilatasi serviks.
Komplikasi
a) perforasi : dapat terjadi bila melakukannya kurang hati-hati, baik pada
waktu memasukan sonde rahim, dilatasi dengan busi hegar, maupun
sewaktu memasukan dan melakukan kuretase. Apabila terjadi perforasi
bahaya yang akan timbul adalah perdarahan dan infeksi (peritonitis).
Perforasi dengan infeksi karena abortus buatan yang dilakukan di luar
rumah sakit dan oleh orang yang kurang berpengalaman berakibat
fatal.
b) Perdarahan: biasanya terjadi pada abortus buatan padakehamilan yang
agak besar dimana kontraksi rahim kurang sempurna. Bila ini terjadi
berikanlah oksitosin, transfusi darah, dan kalau perlu pasanglah
pampon uterovaginal.
c) Infeksi : apabila bekerja tidak suci hama
d) Robekan pada serviks : terjadi bila serviks terlalu keras, dilatasi dan
pegangan klem pada serviks terlalu di paksakan. Sering terjadi robekan
serviks kalau dipakai klem serviks gigi satu.
Penyedotan (Saction Curettage)
Bila pada penyedotan diperkirakan masih ada sisa-sisa yang
teringgal, maka bersihkanlah dengan kuret biasa.
Dilatasi Bertahap

Pada beberapa kasus diperlukan pembukaan kanalis servikalis yang


lebih besar (misalnya pada primigravida) untuk mengeluarkan hasil
konsepsi.
Cara ;
a) Tahap pertama; pasanglah gagang laminaria.masukkan 2-3 gagang
laminaria kedalam kanalis servikalis dengan ujung atas masuk dalam
cavum uteri dan ujung bawah dalam vagina, lalu masukkan tampon
kasa dalam vagina. Sifat alat ini adalah hidroskopis, yaitu perlahanlahan menarik air menjadi gembung sehingga membuka kanalis
servikalis. Gagang ini sebaiknya di pasang dari jam 6 atau 7, malam
hari dan setelah 12 jam, jadi pada besok pagi hari jam 6 atau 7,
laminaria dapat di keluarkan .
b) Tahap kedua; bila pembukaan belum cukup besar dapat dilakukan
dilatasi dengan busi Hegar sampai pembukaan yang dihendaki
tercapai.
c) Tahap selanjutnya adalah melakukan pengeluaran isi kavum uteri
dengan cunam abortus atau dengan alat kuret. Bahaya yang mungkin
mengancamadalah infeksi dan perdarahan. Karena itu bekerjalah
secara asepsis. Kalau rahim agak besar berikan terlebih dahulu uterus
tonika untuk mencegah perdarahan.
Penggaraman (Salting Out)
Cara ini biasanya dilakukan pada kehamilan di atas 16 minggu
dimana rahim sudah cukup besar. Secara transuterin atau amniosentesis,
kedalam kantong amnion (yang sebelumnya cairan amnionnya telah di

keluarkan terlebih dahulu dengan semprit) di masukan larutan garam


hipertonik atau larutan gula hipertonik (larutan garam 20% atau larutan
glukosa 50%) sebagai iritan pada amnion, dengan harapan akan terjadi his.
Sebaiknyadi berikan oksitosin drip yaitu 10-20 satuan oksitosin dalam 500
cc larutan dekstrosa 5%dengan tetesa 15-25 tetes permenit. penderita
diobservasi baik-baik. Diharapkan dalam waktu 24 jam abortus akan
berlangsung. Bila belum terjadi abortus, infus di stop dan penderita tetap
diawasi dengan baik.
Indikasi
a. abortus buatan
b. kematian janin dalam rahim (KJDR)
c. missed abirtion
komplikasi
i. larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau pembuluh
darah, gejala-gejala yang timbul adalahkerja jantung berhenti (cardiac
arrest)

sesak

nafas

sampai

pernafasan

berhenti

dan hipofibrinogenemia.
ii. Trauma pada organ-organ perut lainnya
iii. Perdarahan
iv. Infeksi

Prosedur Kuretase
1. Pasien ditidurkan dalam posisi litotomi (posisi seperti sedang mau
melahirkan)
2. Infus cairan dng drips oksitosin 10 IU Mengurangi kemungkinan
perforasi

3. Anestesi Blok paraservikal atau Total Intavenous Anestesi


4. Kateterisasi urin
5. Pemeriksaan bimanual ulang untuk menentukan besar & arah uterus
6. Bersihkan vulva & vagina dengan larutan antiseptik
7. Pasang spekulum vagina
8. Jepit dinding depan porsio uteri dengan tenakulum atau klem ovum
9. Masukkan sonde uterus Letak & panjang kavum uteri
10. Dilatasi kanalis servikalis dengan busi

Hegar (bila perlu)

11. Pada UK 6 atau 7 mgg pengeluaran isi rahim dilakukan dengan kuret
tajam
12. Pada UK > 6 atau 7 mgg gunakan kuret tumpul, setelah sebagian besar
hasil konsepsi lepas dari dinding uterus maka dikeluarkan dengan cunam
abortus dan dilanjutkan kerokan dengan kuret tajam
Komplikasi
1) Perforasi uterus Penting untuk mengetahui arah dan besar uterus
2) Luka pada serviks uteri Terjadi bila jaringan serviks keras & dilatasi
dipaksakan
3) Perlekatan dalam kavum uteri Hindari miometrium terkerok, kerokan
dihentikan pada suatu tempat bila dirasakan jaringan tidak lembut lagi
4) Perdarahan terutama pada kehamilan yang agak tua atau
molahidatidosa
5) Infeksi Bila syarat asepsis dan antisepsis tidak diperhatikan
6) Syok neurogenik
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

10

11