Anda di halaman 1dari 58

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010, kejadian gizi buruk pada balita
masih tinggi. Indonesia termasuk posisi nomor 3 di dunia sebagai pemasok anak
pendek. Balita pendek di Indonesia sebanyak 36,8%.1 Dari data Departemen
Kesehatan menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena
masalah kekurangan gizi dan buruknya kualitas makanan, didukung pula oleh
kekurangan gizi selama masih didalam kandungan. Hal ini sangat memprihatinkan
karena dapat berdampak pada perkembangan anak dimasa yang akan mendatang.
Penyebab gizi buruk dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling terkait, antara
lain asupan makanan yang kurang disebabkan karena tidak tersedianya makanan
secara adekuat, anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, pola
makan yang salah, serta anak sering menderita sakit. Kekurangan konsumsi
makanan yang berlangsung lama, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
pemeliharaan gizi anak, serta rendahnya kondisi kesehatan lingkungan, selain itu
juga dipengaruhi oleh masalah ekonomi dan pelayanan kesehatan, serta pola asuh
yang kurang memadai sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah balita
dengan status gizi buruk.2
Dampak jangka panjang dari kasus gizi buruk adalah penurunan skor IQ,
penurunan perkembangan kognitif, gangguan pemusatan perhatian, serta
gangguan penurunan rasa percaya diri. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan
bahwa kasus gizi buruk apabila tidak dikelola dengan baik akan dapat mengancam
jiwa, dan pada jangka panjang akan mengancam hilangnya generasi penerus
bangsa.3
Untuk mengatasi masalah gizi buruk pemerintah telah melakukan berbagai
program dan salah satu program pemerintah tersebut adalah menurunkan angka
gizi buruk dari 8,5% menjadi 5% pada akhir tahun 2009. 1 dan juga tertuang dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2010-2014, yaitu
menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15% dan menurunnya prevalensi
balita pendek menjadi 32% pada tahun 2011.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kurang Energi Protein (KEP)
KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka
Kecukupan Gizi (AKG).4
Malnutrisi

adalah

suatu

keadaan

defisiensi,

kelebihan

atau

ketidakseimbangan protein energi dan nutrien lain yang dapat menyebabkan


gangguan fungsi pada tubuh.5
2.2 Epidemiologi
Menurut Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010, kejadian gizi buruk pada
balita masih tinggi. Indonesia termasuk posisi nomor 3 di dunia, sebagai pemasuk
anak pendek. Balita pendek di Indonesia sebanyak 36,8%.1 Prevalensi balita yang
mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi
selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalamigizi buruk dan data Susenas
tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8.8%.6
Prevalensi kurus menurut provinsi dan nasional. Salah satu indikator untuk
menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah
keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore <-3,0 SD. Prevalensi sangat
kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 persen, terdapat
penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2 %). Demikian
pula halnya dengan prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga menunjukkan adanya
penurunan dari 7,3 persen (tahun 2010) dan 7,4 persen (tahun 2007). Secara
keseluruhan prevalensi anak balita kurus dan sangat kurus menurun dari 13,6
persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada tahun 2013 (Gambar 1).10
Terdapat 17 provinsi dimana prevalensi kurus diatas angka nasional,
dengan urutan dari prevalensi tertinggi sampai terendah, adalah: Kalimantan
Barat, Maluku, Aceh, Riau, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sumatera Utara,
Bengkulu, Papua, Banten, Jambi, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau dan Maluku Utara.10

Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih
12,1 persen, yang artinya. masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang serius. Diantara 33 provinsi, terdapat 16 provinsi yang
masuk kategori serius, dan 4 provinsi termasuk kategori kritis, yaitu Kalimantan
Barat, Maluku, Aceh dan Riau.10

Gambar 1. Kecenderungan prevalensi status gizi BB/TB <-2 SD menurut provinsi,


Indonesia 2007, 2010, dan 2013.10
Tabel 1. Prevalensi status gizi balita BB/TB menurut kabupaten/kota, Riau 2013
Status gizi BB/TB.11
Kabupaten / Kota
Status gizi BB/TB
Sangat kurus Kurus
Normal
Gemuk
(%)
(%)
(%)
(%)
Kuantan Singingi
5,6
10,9
71,8
11,7
Indragiri Hulu
16,5
8,5
59,1
16,0
Indragiri Hilir
9,4
7,3
74,7
8,7
Pelalawan
6,1
5,0
65,9
23,0
Siak
7,0
13,2
68,5
11,3
Kampar
8,0
4,6
76,8
10,6
Rokan Hulu
7,0
8,3
60,3
24,4
Bengkalis
4,2
8,3
81,6
5,9
Rokan Hilir
4,8
10,7
75,8
8,7
Kepulauan Meranti
6,5
11,0
71,7
10,8
Kota Pekanbaru
4,2
11,7
59,2
24,9
Kota Dumai
5,5
7,5
71,9
15,2
Riau
6,9
8,7
70,2
14,3

2.3 Klasifikasi
Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi dan protein, malnutrisi
energi protein diklasifikasikan menjadi derajat ringan-sedang (gizi kurang), dan
malnutrisi energi protein derajar berat (gizi buruk). Gizi kurang belum
menunjukkan gejala klinis yang khas, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan
anak tampak kurus. Pada gizi buruk, disamping gejala klinis didapat kelainan
biokimia sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis
yaitu kwasiorkor, marasmus, dan marasmik-kwashiorkor, walaupun demikian
penatalaksanaannya sama.12
Terdapat 5 kondisi yang dapat ditemukan pada pasien dengan malnutrisi
energi protein yaitu: 13

Kondisi 1 : Jika ditemukan :


- Rejatan (syok)
- Latergis
- Muntah dan atau diare atau dehidrasi
Berikan cairan dan makanan menurut rencana I pada halaman 8-9
Kondisi 2 : Jika ditemukan :
- Latergis
- Muntah dan atau diare atau dehidrasi
Berikan cairan dan makanan menurut Rencana II
Kondisi 3 : Jika ditemukan :
- Muntah dan atau diare atau dehidrasi
Berikan cairan dan makanan menurut rencana III
Kondisi 4 : Jika ditemukan :
- Letargis
Berikan cairan dan makanan menurut rencana IV
Kondisi 5 : Jika tidak ditemukan :
- Rejatan (Syok)
- Latergis
- Muntah/diare/dehidrasi
Berikan cairan dan makanan menurut rencana V.

2.4 Etiologi
a. Marasmus8
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:
Pemasukan kalori yang tidak cukup. Marasmus terjadi akibat
masukan kaloriyang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai

dengan yang dianjurkanakibat dari ketidaktahuan orang tua si anak.


Kebiasaan makan yang tidak tepat. Seperti mereka yang mempunyai
hubunganorang tua -anak terganggu.

Kelainan

hypercalcemia,galactosemia, lactose intolerance.


Malformasi kongenital. Misalnya: penyakit jantung bawaan,

metabolik.

penyakitHirschprung,

Misalnya:

deformitas

renal

asidosis,

palatum,

idiopathic

palatoschizis,

micrognathia, stenosispilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic


fibrosis pankreas.
b. Kwashiorkor7
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein
yangberlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan kwashiorkor
antara lain.
1. Pola makanProtein (dan asam amino) adalah zat yang sangat
dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake
makanan mengandung kalori yangcukup, tidak semua makanan
mengandung protein/ asam amino yang memadai.Bayi yang masih menyusui
umumnya mendapatkan protein dari ASI yangdiberikan ibunya, namun
bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain
(susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan.Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperanpenting
terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI
kemakanan pengganti ASI.
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi,
keadaan sosialdan politik tidak stabil ataupun adanya pantangan
untuk menggunakanmakanan tertentu dan sudah berlangsung turunturun dapat menjadi hal yangmenyebabkan terjadinya kwashiorkor.
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat
memenuhikebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak
tidak terpenuhi, saatdimana ibunya pun tidak dapat mencukupi
kebutuhan proteinnya
4. Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP
dan infeksi.Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi.
Dan sebaliknya MEP,walaupun dalam derajat ringan akan
menurunkan imunitas tubuh terhadapinfeksi
c. Marasmik-kashiorkor7

Penyebab

marasmic-kwashiorkor

dapat

dibagi

menjadi

dua

penyebabyaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi


primer adalahkeadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein
maupun energi yangtidak adekuat. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi
yang terjadi karenakebutuhan yang meningkat, menurunnya absorbsi
dan/atau peningkatankehilangan protein maupun energi dari tubuh.
2.5 Patofisiologi
Kekurangan energi protein (KEP) adalah manifestasi dari kurangnya asupan
protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka
kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari
beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat
kekuranganasupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial
ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi
sekunder bila kondisi masalahnutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya
penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan
pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat,
penyerapan nutrisi yang turun dan atau meningkatnya kehilangan nutrisi.
Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan
makanan untuk menghasilkan kaloridemi penyelamatan hidup, dimulai dengan
pembakaran cadangan karbohidratkemudian cadangan lemak serta protein dengan
melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan
akan protein akan meningkat,sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang
relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD-3SD),

maka

terjadilah

kwashiorkor

(malnutrisi

akut/

decompensated

malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan.
Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan
terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat
teradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisi
kronik/ compensated malnutrition). Dengan demikian pada malnutrisi dapat
terjadi : gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadaralbumin serum,
penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh,penurunan berbagai
sintesa enzim.7,8

2.6 Manifestasi Klinis


2.6.1 Malnutrisi Energi Protein Ringan12
Sering di temukan gangguan pertumbuhan
Anak tampak kurus
Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti
Berat badan tidak bertambah adakalanya turun
Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal
Maturasi tulang terlambat
Rasio berat badan terhadap tinggi badan normal/ menurun
Tebal lipatan kulit normal atau berkurang
Anemia ringan
Aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak
sehat

2.6.2 Malnutrisi Energi Protein Berat12


a. Kwasiorkor12
Perubahan mental sampai apatis
Anemia
Perubahan warna dan tekstur rambut, mudah dicabut / rontok
Gangguan sistem gastrointestinal
Pembesaran hati
Perubahan kulit (dermatosis)
Artrofi otot
Edema simetris pada kedua punggung kaki, dapat sampai
seluruh tubuh
b. Marasmus12
Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
Perubahan mental, cengeng
Kulit kering, dingin dan mengendor, keriput
Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang
Otot artrofi sehingga kontur tulang terlihat jelas
Kadang-kadang terdapat bradikardia
Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang
sebaya.
c. Marasmik-Kwashiorkor
Terdapat tanda dan gejala marasmik dan kwashiorkor secara
bersamaan

2.7 Pemeriksaan fisik12


Tabel 2. Penentuan status gizi anak secara klinis dan antropometri (BB/TB-PB)
Klinis
Antropometri (BB/TB-PB)*)
Gizi buruk
Tampak sangat kurus dan atau <-3SD **)
edema pada kedua punggung
kaki sampai seluruh tubuh
Gizi kurang Tampak kurus
-3 SD - <-2SD
Gizi baik
Tampak sehat
-2 SD 2 SD
Gizi lebih
Tampak gemuk
>2 SD
*) Tabel BB/TB-PB
**) mungkin BB/TB-PB >-3SD bila terdapat edema berat (seluruh tubuh)
Klasifikasi tanda bahaya14
Tabel 3. tanda bahaya berkaitan dengan denyut nadi, pernafasan dan suhu.14
Variabel
Hasil pengukuran
Klasifikasi
Denyut
Bila denyut nadi naik >25kali/menit Infeksi atau gagal jantung
nadi dan
Nadi cepat:
(kemungkinan
karena
pernafasan
Denyut
nadi
>160 overhidrasi
pada
saat
pemberian makanan atau
kali/menit (<1 tahun)
Denyut nadi >140kali/menit rehidrasi terlalu cepat)
(>1 tahun)
Disertai peningkatan laju nafas 5
kali/menit
Pernafasan Pernafasan cepat :
Pneumonia
>60 kali/menit untuk anak
usia <2 bulan
>50 kali/menit untuk anak
usia 2-12 bulan
>40 kali/menit untuk anak
usia 12 bulan sampai 5
tahun
Suhu
Setiap kenaikan atau penurunan Infeksi
secara tiba-tiba
Hipotermia (mungkin karena
0
Suhu aksiler <36 C atau teraba infeksi atau tidak makan
dingin
sama sekali atau anak tidak
diselimuti)
Bila terjadi peningkatan denyut nadi, pernafasan, dan suhu, lihat tanda lain
seperti: 14

Anoreksia (kehilangan nafsu makan)


Perubahan kondisi mental (jadi latergis)
Kuning pada kulit atau konjungtiva

Sianosis (lidah dan bibir berwarna biru karena kekurangan oksigen)


Sesak nafas, nafas cuping hidung dan retraksi otot-otot dada dan supra

eksternal
Perut kembung
Ada edema baru
Perubahan berat badan yang berlebihan (penutunan/peningkatan)
Muntah terus
Bercak merah pada kulit (ruam).

Hipoglikemia.14
Tanda-tanda

Adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa darah yang sangat rendah
Anak gizi buruk, dianggap hipoglikemia bila kadar glukosa darah

<3mmol/ liter atau <54 mg/dl


Hipoglikemia biasanya juga terjadi bersamaan dengan hiponatremia.
Tanda lain hipoglikemia adalah latergis, nadi lemah, dan kehilangan

kesadaran
Gejala hipoglikemia berupa berkeringat dan pucat, sangat jarang dijumpai

pada anak gizi buruk.


Kematian karena hipoglikemia pada anak gizi buruk, kadang-kadang

hanya didahului dengan tanda seperti mengantuk saja.


Diunit pelayanan kesehatan yang belum mampu memeriksa kadar glukosa
darah, setiap anak gizi buruk yang datang harus dianggap mengalami
hipoglikemia. Oleh karena itu harus segera mendapatkan perawatan dan
penanganan sebagai penderita hipoglikemia.

Tabel 4. Cara mengatasi hipoglikemia.14


Tanda
Cara mengatasi
Sadar (tidak
Berikan larutan glukosa 10% atau larutan gula pasir 10%
lateragis)
secara oral atau NGT (bolus) sebanyak 50 ml
Tidak sadar
Berikan larutan glukosa 10% IV (bolus) sebanyak 5 ml/kgBB
Selanjutnya berikan larutan Glukosa 10% atau larutan gula
(lateragis)
pasir 10% secara oral atau NGT (bolus) sebanyak 50ml
Rejatan (syok) Berikan cairan IV berupa Ringer Laktat dan
Dextrosa/Glukosa 10% dengan perbandingan 1:1 (=RLG 5%)
sebanyak 15 ml/kgBB selama 1 jam pertama atau 5
tetes/menit/kgBB
Selanjutnya berikan larutan glukosa 10% secara IV (bolus)

10

sebanyak 5 ml/KgBB
) 5 gram gula pasir (=1sendok teh munjung)+ air matang s/d 50 ml
) NGT : pipa untuk memberikan asupan makanan melalui sonde (hidung)

Cara mempertahankan suhu tubuh14


Tabel 5. Cara memepertahankan dan memulihkan suhu tubuh agar anak tidak
hipotermia:14
Suhu tubuh 36-37 0 C
Suhu tubuh <36 0 C
Keadaan ini pada anak gizi buruk dapat Cara untuk memulihkan penderita gizi
dengan mudah jatuh pada hipotermia, buruk yang mengalami hipotermia
cara untuk mempertahankan agar tidak adalah :
hipotermia adalah:
1. Tutuplah tubuh anak termasuk 1. Bila suhu < 36 o C harus dilakukan
kepalanya
tindakan
menghangati
untuk
2. Hindari adanya hembusan angin
mengembalikan kembali suhu tubuh
dalam ruang perawatan
anak
3. Pertahankan
suhu
ruangan 2. Pemanasan suhu tubuh anak yang
sekitar 20-30 0 C
hipotermia adalah dengan cara
4. Usahakan agar anak tetap di
kanguru yaitu dengan mengadalan
selimuti di malam hari
kontak langsung kulit ibu dan kulit
5. Jangan membiarkan anak tanpa
anak untuk memindahkan panas
baju terlalu lama pada saat
tubuh ibu kepada tubuh anak dan
tindakan
pemeriksaan
dan
anak digendong serta diselimuti
penimbangan
seluruh tubuhnya.
6. Usahakan tangan dari pemberi
3. Pemanasan tubuh anak juga dapat
perawatan pada saat menangani
dilakukan dengan menggunakan
anak gizi buruk dalam keadaan
lampu. Lampu harus diletakkan 50
hangat.
cm dari tubuh anak
7. Segeralah ganti baju atau
4. Suhu tubuh harus dimonitor setiap
peralatan tidur yang basah oleh
30 menit untuk memastikan bahwa
karena air kencing atau keringat
suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi
atau sebab-sebab yang lain
akibat pemanasan.
8. Bila anak baru saja dibersihkan
5. Hentikan pemanasan bila suhu
tuubuhnya dengan air segera
tubuh sudah mencapai 370C
keringkan
dengan
sebaikbaiknya
9. Jagan menghangati anak dengan

11

air panas dalam botol, hal ini


untuk menghindari bila ibu
anak/pengasuh
lupa
membungkus botol dengan kain
akan menyebabkan kulit anak
terbakar.

Tanda-tanda dehidrasi.14
Tanda-tanda rejatan Syok.14
1. Adalah keadaan berbahaya yang ditandai dengan tubuh yang sangat lemah,
latergis, kehilangan kesadaran, tangan dan kalid dingin serta nadi yang
cepat dan lemah.
2. Penyebab dari rejatan yang paling sering adalah diare yang disertai dengan
dehidrasi, perdarahan, dan sepsis.
3. Bila sulit untuk mengukur nadi dapat digunakan pengukuran capilatory
reffil.
4. Pengukuran capilatory refill dilakukan dengan cara menekankan kuku
pada ibu jari tangan selama 2 detik, sehingga warna kuku menjadi putih,
selanjutnya tekanan dilepaskan sehingga warna kuku menjadi semula.
5. Bila perubahan warna putih menjadi merah kembali >3 detik, maka
capilary refill dianggap lambat dan ini adalah tanda rejatan/syok.
Tabel 6. Tanda-tanda dehidrasi.14
No Tanda
Cara melihat dan Menentukan
1
Latergis
Anak yang latergis tidak bisa bangun dan apatis. Dia tampak
mengantuk dan tidak menunjukkan ketertarikan terhadap
kejadian dikelilingnya
2
Anak
Anak selalu gelisah dan rewel terutama bila disentuh atau
gelisah dan dipegang untuk suatu tindakan
rewel
3
Tidak ada Lihat ada air matanya atau tidak pada saat anak menangis
air mata
4
Mata
Mata anak yang gizi buruk selalu tampak cekung, mirip tanda
cekung
anak dehidrasi. Tanya ibu apakah mata cekung tersebut sudah

12

5
6

ada seperti biasanya ataukah baru beberapa saat timbulnya


Mulut dan Raba dengan jari yang kering dan bersih untuk menentukan
lidah kering apakah lidah dan mulut kering
Haus
Lihat, apakah anak ingin meraih cangkir saat anak diberi
ReSoMal saat cangkir itu disingkirkan, lihat apakah anak
masih ingin minum lagi?
Kembalinya Gunakan ibu jari dan jari telunjuk saat mencubit kulit perut
cubitan/
bagian tengah antara umbilikus dan sisi perut. Posisikan
turgor kulit tangan anda sejajar/lurus dengan garis tubuh, bukan
lambat
melintang. Tarik lepasan kulit dan jaringan bawah pelanpelan. Cubit selama 1 detik dan lepaskan. Jika kulit masih
terlipat (belum balik rata selama >2 detik). Dikatakan cubitan
kulit / turgor kulit lambat.
(catatan: cubitan kulit biasanya lambat pada anak westing).

Hiponatremia.14

Adalah suatu keadaan tubuh dimana suhu aksiler < 360C


Cara mengukur suhu aksiler dengan meletakkan termometer selama 5 menit

di ketiak
Hipotermia biasanya terjadi bersama-sama dengan kejadian hipoglikemia
Hipotermia dan hipoglikemia pada gizi buruk biasanya merupakan tanda dari

adanya infeksi sistemik yang serius


Semua anak gizi buruk dengan hipotermia harus mendapat pengobatan untuk

mengatasi hipoglikemia dan infeksi


Cadangan energi anak gizi buruk sangat terbatas, sehingga tidak mampu

memproduksi panas untuk mempertahankan suhu tubuh


Setiap anak gizi buruk harus dipertahankan suhu tubuhnya dengan menurup

tubuhnya dengan penutup yang memadai


Tindakan menghangatkan tubuh, adalah usaha untuk menghemat penggunaan
cadangan energi pada anak tersebut.
2.8 Kriteria diagnosis.12
Terlihat sangat kurus
Edema nutrisional, simetris
BB/TB <-3 SD
Lingkar lengan atas < 11,5 cm

13

Jika anak diduga tersangka TB dapat dilakukan sistem skoring. 14


Tabel 7. Sistem skoring gejaa dan pemeriksaan penunjang TB. 14
Parameter
0
1
2
Kontak TB
Tidak jelas
Laporan
keluarga, BTA
negatif
atau
tidak
tahu,
BTA tidak jlas
Uji
Negatif
Tuberkulin

Status gizi

Demam
tanpa sebeb
jelas
Batuk
Pembesaran
kelenjar
limfe
koli,
aksila,
inguinal

Gizi baik
tampak
sehat
(BB/TB
antara
-2SD
+2SD)

Gizi
kurang
tampak
kurus
(BB/TB antara
-3SD -<-2SD)

>2 minggu

3 minggu
>1 cm, jumlah
>1, tidak nyeri

Gizi
buruk
tampak sangat
kurus (BB/TB
< - 3SD) dan
atau
edema
pada
kedua
punggung kaki
sampai seluruh
tubuh

3
BTA positif

Positif
(>10mm, atau
5 mm pada
keadaan
imunosupresi)

14

Pembengkak
an
tulang/
sendi
panggul,
lutut, falang
Foto thoraks Normal/
tidak jelas
Jumlah

Ada
pembengkakan

Sugestif TB

1. Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter


2. Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik
lainnya seperti asma, sinusitis dan lain-lain
3. Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien langsung
didiagnosis tuberkulosis
4. Status gizi (BB/TB) dinilai pada saat pasien datang.
5. Foto thorakx bukan alat diagnostik utama untuk TB pada anak
6. Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal <7 hari setelah
penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
7. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor 6 (skor maksimal 13)
8. Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi
lebih lanjut.
9. Uji tuberkulosis negatif (-) belum tentu anak tidak menderita TB karena
pada anak gizi buruk terjadi energi, sehingga tidak dapat membentuk anti
bodi.
Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan dibawah ini: 14
1. Tanda bahaya :
Kejang, kaku kuduk
Penurunan kesadaran
Kegawatan lain, misalnya sesak nafas
2. Foto thoraks menunjukkan gambaran milier, kavitas, efusi pleura
3. Gibus, koksitis
2.9 Pemeriksaan Penunjang. 12
Kadar gula darah, darah tepi lengkap, urin lengkap, feses lengkap, elektrolit

serum, protein serum (albumin, globulin), feritin.


Tes mantoux
Radiologi (dada AP dan Lateral)

15

EKG

2.10 Indikasi rawat inap. 15


Anoreksia menjadi indikasi raway untuk anak gizi buruk. Hal ini karena
anoreksia akan mempengaruhi asupan nutrisi, sehingga akan terjadi hipoglikemia
atau berdampak terhadap kesembuhan penderita. Kriteria atau indikasi rawat inap
tersebut bukanlah harga mati. Sebagai contoh, Departemen Kesehatan Kenya pada
tahun 2009 menambahkan beberapa hal diantaranya: 15
- Sering muntah
- Infeksi yang ekstensif/berat
- Semua keadaan yang memerlukan pemasangan infus atau pipa
nasogastrik (NGT)

Gambar 2. Alur tatalaksana gizi buruk. 14

16

2.11 Tatalaksana
Tatalaksana penderita gizi buruk terdiri dari dua fase yaitu fase stabilisasi
dan fase rehabilitasi yang terdiri dari 10 langkah utama: 13
Tabel 8. Sepuluh langkah tatalaksana gizi buruk

Langkah 1: Atasi/ cegah hipoglikemia


Semua anak gizi buruk beresiko untuk hipoglikemia (gula darah <3 mmol/dl
atau <54 mg/dl) yang sering menyebabkan kematian dalam 2 hari pertama.
Hipoglikemia dapat terjadi karena adanya infeksi atau anak tidak
mendapatkan makanan selama 4-6 jam. Hipoglikemia dan hipotermia
seringkali terjadi bersamaan dan merupakan tanda adanya infeksi. Carilah
tanda hipoglikemia bila ada tanda hipotermia (suhu aksila < 350C ; suhu
rektal <35,50C). Pemberian makanan dengan frekuensi sering (setiap 2-3
jam) sangat penting dalam mencegah dua kondisi tersebut. 15

Terapi :

17

Tabel 9. Terapi hipoglikemia. 15


Bila anak sadar dan dapat minum
Bila anak tidak sadar
Bolus 50 ml larutan glukosa 10%
Glukosa 10 % intra vena
atau sukrosa 10% (1 sendok teh
(5mg/ml), diikuti dengan 50 ml
penuh gula dengan 50ml air), baik
glukosa 10% atau sukrosa lewat
per oral maupun dengan pipa
pipa NGT. Kemudian mulai
nasogastrik. Kemudian mulai
pemberian F75 setiap 2 jam.
pemberian F75 setiap 2 jam, untuk
Untuk 2 jam pertama berikan
2 jam pertama berikan dosis dari
dari dosis makanan setiap 30
dosis makanan setiap 30 menit)
menit.
Antibiotik spektrum luas
Antibiotik spektrum luas
Pemberian makanan per 2 jam,
Pemberian makanan per 2 jam,
siang dan malam
siang dan malam.
Monitor :
- Kadar gula darah :setelah 2 jam: Jika kadar gula darah masih rendah,
ulangi pemberian 50 ml bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa,
kemudian lanjutkan pemberian makanan F 75 setiap 2 jam hingga anak
stabil. 15
- Jika suhu rectal <35,50C atau bila kesadaran memburuk, mungkin
hipoglikemia disebabkan oleh hiponatremia, ulangi pengukuran kadar
gula

darah

dan

tangani

sesuai

keadaan

(hiponatremia

dan

hipoglikemia). 15
Pencegahan :
-

Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin atau jika
perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap 2-

3 jam siang malam.


Selalu berikan makan pada malam hari

Langkah 2 : Pengobatan / Pencegahan Hipotermia. 16


1
2
3

Adalah suatu keadaan tubuh dimana suhu aksiler <360C


Hipetermia biasanya terjadi bersama-sama dengan kejadian hipoglikemia.
Hipoglikemia daan hipotermia pada anak gizi buruk biasanya merupakan

tanda dari adanya infeksi sistemik yang serius.


Semua anak gizi buruk dengan hiponatremia harus mendapat pengobatan
untuk mengatasi hipoglikemia dan infeksi.

18

Cadangan energi anak gizi buruk sangat terbatas, sehingga tidak mampu

memproduksi panas untuk mempertahankan suhu tubuh.


Setiap anak gizi buruk harus dipertahankan suhu tubuhnya dengan menutup

tubuhnya dengan penutup yang memadai.


Tindakan menghangatkan tubuh, adalah

usaha

untuk

menghemat

penggunaan cadangan energi pada anak tersebut.


Suhu tubuh 36-370C 16
Keadaan ini pada anak gizi buruk dapat dengan mudah jatuh pada hiponatremia,
cara untuk mempertahankan (pencegahan) agar tidak hipotermia adalah : 16
1
2
3
4

Tutuplah tubuh anak termasuk kepalanya


Hindari adanya hembusan angin dalam ruang perawatan
Petahankan suhu ruangan sekitar 25-300C.
Jangan membiarkan anak tanpa baju terlalu lama pada saat tindakan

pemeriksaan dan penimbangan.


Usahakan tangan dari pemberi perawatan pada saat menangani anak gizi

buruk dalam keadaan hangat.


Segeralah ganti baju atau peralatan tidur yang basah oleh karena air

kencing atau keringat atau sebab-sebab yang lain.


Bila anak baru saja dibersihkan tubuhnya dengan air, segera keringkan

dengan sebaik-baiknya.
Jangan menghangati anak dengan air panas dalam botol, hal ini untuk
menghindari ibu anak/pengasuh lupa membungkus botol dengan kain
akan menyebabkan kulit anak terbakar.

Suhu tubuh <360C (hipotermia)16


Cara untuk memulihkan penderita gizi buruk yang mengalami hipotermia adalah:
1

Bila suhu <360C harus dilakukan tindakan menghangati untuk

mengembalikan kembali suhu tubuh anak.


Pemanasan suhu tubuh anak yang hipotermia adalah dengan cara
kanguru, yaitu dengan mengadakan kontak langsung kulit ibu dan
kulit anak untuk memindahkan panas tubuh ibu kepada tubuh anak dan

anak digendong serta diselimuti seluruh tubuhnya.


Pemanasan tubuh anak juga dapat dilakukan dengan menggunakan

lampu. Lampu harus diletakkan 50cm dari tubuh anak.


Suhu tubuh harus dimonitor setiap 30 menit untuk memastikan bahwa

suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi akibat pemanasan.


Hentikan pemanasan bila suhu tubuh sudah mencapai 370C.

Pemantauan : 16

19

Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi
36,50C atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam.

Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36,50C.


Patikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada

malam hari.
Periksa kadar gula darah bila ditemukan hiponatremi.

Langkah Ke-3: Pengobatan/Pencegahan Dehidrasi. 16


Diagnosis :
Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang
berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Hal
ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada
anak dengan gizi buruk hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. Anak
gizi buruk dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas, anggap dehidrasi
ringan. 16
Catatan: hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya edema.
Tatalaksana
1

Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, keciali pada kasus dehidrasi

berat dengan/tanpa syok.


Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat
dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.
Beri 5ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama.
Setelah 2 jam, berikan ReSoMal 5-10 ml.kgBB/jam berselangseling dengan F-75 dengan jumlah yang sama setiap jam selama
10 jam.
Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau,
volume tinja yang keluar, dan apakah anak muntah.
Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa
digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium
rendah; cairan yang lebih tepat adalah ReSoMal.

Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam.


Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia
<1th: 50-100ml setiap buang air besar, usia 1 thL 100-200ml
setiap buang air besar.

20

Resep ReSoMal16
ReSoMal mengandung 37,5 mmol Na, 40 mmol K, 3 mmol Mg per liter
Tabel 10. Resep ReSoMal. 16
Bahan
Jumlah
Oralit WHO*
1 sachet (200ml)
Gula pasir
10 gr
Larutan mineral-mix**
8 ml
Ditambah air sampai menjadi
400
*2,6 g NaCl; 2,9 g trisodium citrate dehydrate, 1.5 g KCl, 13.5 g glukosa dalam
1L
**Lihat resep larutan mineral mix
Bila larutan mineral mix tidak tersedia, sebagai pengganti ReSoMal dapat
dibuat larutan sebagai berikut:
Tabel11. larutan engganti ReSoMal. 16
Bahan
Oralit
Gula pasir
Bubuk Kcl
Ditambah air sampai menjadi

Jumlah
1 sachet (200ml)
10 g
0,8 g
400 ml

Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg, Zn, dan Cu, maka
dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. Dapat pula
diberikan MgSO4 40% IM 1x/hari dengan dosis 0,3 ml.kgBB, maksimum 2
ml/hari. 16
Larutan Mineral-mix. 16
Larutan ini digunakan pada pembuatan F-75, F-100 dan ReSoMal.
Jika tidak tersedia larutan mineral-mix siap pakai, buatlah larutan dengan
menggunakan bahan berikut ini: 16
Tabel 12. Larutan mineral-mix16
Bahan
Kalium klorida (KCL)
Tripotassium citrate
Magnesium klorida (MgCl2, 6H2O)
Seng asetat (Zn asetat, 2H2O)
Tembaga sulfat (CuSO4, 5H2O)
Air tambahkan menjadi
Pemantauan

Jumlah (g)
89,5
32,4
30,5
3,3
0,56
1000 ml

21

Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap


setengah jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya.
Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya dan bias
mengakibatkan gagal jantung dan kematian. 16
Periksalah

Frekuensi napas
Frekuensi nadi
Frekuensi miksi dan jumlah produksi urin
Frekuensi buang air besar dan muntah

Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai
ada dieresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata dan fontanel
berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi,
tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun
rehidrasi penuh telah terjadi, sehingga sangat penting untuk memantau berat
badan. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat
5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal
segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam. 16
Pencegahan
Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak
dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan
oralit standar. 16

Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI


Pemberian F-75 sesegera mungkin
Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.

Langkah Ke-4: Koreksi Gangguan Keseimbangan Elektrolit


Pada semua KEP berat terjadi kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun
kadar Na plasma rendah. Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg) sering
terjadi dan paling sedikit perlu 2 minggu untuk pemulihan.Ketidakseimbangan
elektrolit ini ikut berperan pada terjadinya edema (jangan obati edema dengan
pemberian diuretikum). 16
Berikan :
-

Tambahan Kalium 2-4 mEq/kg BB/hari (= 150-300 mg KCl/kgBB/hari)

22

Tambahkan Mg 0.3-0.6 mEq/kg BB/hari (= 7.5-15 mg MgCl2

/kgBB/hari)
Untuk rehidrasi, berikan cairan rendah natrium (Resomal/pengganti)
Siapkan makanan tanpa diberi garam/rendah garam.

Tambahan K dan Mg dapat disiapkan dalam bentuk larutan yang


ditambahkan langsung pada makanan. Penambahan 20 ml larutan tersebut pada 1
liter formula, dapat memenuhi kebutuhan K dan Mg. (Lihat lampiran 6 untuk cara
pembuatan larutan). 16
Langkah Ke-5: Pengobatan Dan Pencegahan Infeksi. 16
Pada KEP berat/gizi buruk, tanda yang biasanya menunjukkan adanya
infeksi seperti demam seringkali tidak tampak. 16
Karenanya pada semua KEP berat/gizi buruk beri secara rutin :
-

Antibiotik spektrum luas


Vaksinasi Campak bila umur anak >6 bulan dan belum pernah
diimunisasi (tunda bila ada syok). Ulangi pemberian vaksin setelah
keadaan gizi anak menjadi baik.9

Catatan:
Beberapa ahli memberikan metronidazol (7.5 mg/kg, setiap 8 jam selama 7 hari)
sebagai tambahan pada antibiotik spektrum luas guna mempercepat perbaikan
mucosa usus dan mengurangi resiko kerusakan oksidatif dan infeksi sistemik
akibat pertumbuhan bakteri anaerobik dalam usus halus. 16
Pilihan antibiotik spektrum luas:
Bila tanpa komplikasi:
Kotrimoksasol 5 ml suspensi pediatri secara oral, 2 x/hari selama 5 hari (2,5 ml
bila berat badan < 4 Kg)
Atau
Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi (hipoglikemia:
hipotermia, infeksi kulit, saluran nafas atau saluran kencing), beri :

Ampisilin 50 mg/kgBB/i.m./i.v. setiap 6 jam selama 2 hari,


dilanjutkan dengan Amoksisilin secara oral 15 mg/KgBB setiap 8 jam
selama 5 hari. Bila amoksisilin tidak ada, teruskan ampisilin 50
mg/kgBB setiap 6 jam secara oral.
Dan

23

Gentamicin 7.5 mg /Kg/BB/i.m./i.v. sekali sehari, selama 7 hari.


Bila dalam 48 jam tidak terdapat kemajuan klinis, tambahkan
kloramfenikol 25 mg/kg/BB/i.m./i.v. setiap 6 jam selama 5 hari.

Bila terdeteksi infeksi kuman yang spesifik, tambahkan antibiotik spesifik


yang sesuai. Tambahkan obat anti malaria bila pemeriksaan darah untuk malaria
positif.
Bila anoreksia menetap setelah 5 hari pengobatan antibiotik, lengkapi
pemberian hingga 10 hari.
Bila masih tetap ada, nilai kembali kadaan anak secara lengkap, termasuk
lokasi infeksi, kemungkinan adanya organisme yang resisten serta apakah vitamin
dan mineral telah diberikan dengan benar. 16
Langkah Ke-6: Koreksi Defisiensi Mikro Nutrien
Semua KEP berat menderita kekurangan vitamin dan mineral. Walaupun
anemia biasa dijumpai, jangan terburu-buru memberikan preparat besi (Fe), tetapi
tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya setelah
minggu ke-2). Pemberian besi pada masa awal dapat memperburuk keadaan
infeksinya. 16
Berikan setiap hari:
-

Suplementasi multivitamin
Asam folat 1 mg/hari (5 mg pada hari pertama)
Seng (Zn) 2 mg/kgBB/hari
Tembaga (Cu) 0.2 mg/kgBB/hari
Bila BB mulai naik: Fe 3 mg/kgBB/hari atau sulfas ferrosus 10

mg/kgBB/hari
Vitamin A oral pada hari I : umur > 1 tahun : 200.000 SI, 6-12 bulan :
100.000 SI,

< 6 bulan : 50.000 SI, kecuali bila dapat dipastikan anak

sudah mendapat suplementasi vit.A pada 1 bulan terakhir. Bila ada


tanda/gejala defisiensi vit.A, berikan vitamin dosis terapi.

24

Langkah Ke-7: Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi. 16


Pada masa rehabilitasi, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar
tercapai masukan makanan yang tinggi dan pertambahan berat badan 50
g/minggu.

Awal fase rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera makan,

biasanya 1-2 minggu setelah dirawat. Transisi secara perlahan dianjurkan untuk
menghindari risiko gagal jantung dan intoleransi saluran cerna yang dapat terjadi
bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak. 16
Pada periode transisi, dianjurkan untuk merubah secara perlahan-lahan
dari formula khusus awal ke formula khusus lanjutan: 16

Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per
100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein
2.9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi
bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengan kandungan
energi dan protein yang sama.
Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit

formula tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgBB/kali


(=200 ml/kgBB/hari).
Pemantauan pada masa transisi:

frekwensi nafas

frekwensi denyut nadi

Bila terjadi peningkatan detak nafas >5x/menit dan denyut nadi


>25x/menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume
pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di
atas. 16 Setelah periode transisi dilampaui, anak diberi:
-

Makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering.


Energi : 150-220 Kkal/kgBB/hari
Protein 4-6 gram/kgBB/hari
Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula,
karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuhkejar.

Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan berat badan :


-

Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.


Evaluasi kenaikan BB setiap minggu

Bila kenaikan BB:

25

kurang ( <50 g/minggu ), perlu re-evaluasi menyeluruh :


cek apakah asupan makanan mencapai target atau apakah infeksi telah
dapat diatasi.
Baik ( 50 g/minggu), lanjutkan pemberian makanan

Tabel 13. Resep formula WHO F-75 dan F-1006


Bahan makanan
Per 1000 ml
F-75
F-75 (=sereal)
Susu krim bubuk
gram
25
25
Gula pasir
gram
100
70
Tepung beras/maizena
gram
35
Minyak sayur
gram
27
27
Larutan elektrolit
ml
20
20
Tambahan air s/d
ml
1000
1000
Nilai gizi/1000ml
Energi
Kkal
750
750
Protein
gram
9
11
Laktosa
gram
13
13
Kalium
mmol
40
42
Natrium
mmol
6
6
Magnesium
mmol
4.3
4.6
Seng
mg
20
20
Tembaga
mg
2.5
2.5
% energi protein
5
6
% energi lemak
32
32
Osmolaritas
mOsm/l
413
334
Langkah Ke-8: Memberikan makanan untuk tumbuh kejar. 16
Pada awal fase stabilisasi, perlu pendekatan yang sangat berhati-nati
karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. 16
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan
dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi
metabolisme basal. 16
Prinsip pemberian nutrisi pada fase ini adalah :
Porsi kecil tapi sering dengan formula laktosa rendah dan hipo/iso-osmolar.
-

Berikan secara oral/nasogastrik


Energi : 80 100 kal/kgBB/hari
Protein : 1 1.5 g/kgBB/hari
Cairan : 130 ml/kgBB/hari (100 ml/kgBB/hari bila terdapat edema)
Bila masih mendapat ASI, tetap diberikan tetapi setelah pemberian
formula.

F-100
85
50
60
20
1000
1000
29
42
63
19
7.3
23
2.5
12
53
419

26

Formula khusus seperti F-75 yang dianjurkan dan jadwal pemberian


makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut di
atas: Berikan formula dengan cangkir/gelas. Bila anak terlalu lemah, berikan
dengan sendok / pipet. 16
Pada anak dengan selera makan baik dan tanpa edema, jadwal pemberian
makanan pada fase stabilisasi ini dapat diselesaikan dalam 2-3 hari saja (1 hari
untuk setiap tahap).

Bila asupan makanan tidak mencapai dari 80 Kkal/kg

BB/hari, berikan sisa formula melalui pipa nasogastrik. Jangan beri makanan
lebih 100 Kkal/kgBB/hari pada fase stabilisasi ini. 16
Pantau dan catat :
-

Jumlah yang diberikan dan sisanya


Muntah
Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja
BB (harian)
Selama fase stabilisasi, diare secara perlahan berkurang dan BB mulai

naik, tetapi pada penderita dengan edema BB-nya akan menurun dulu bersamaan
dengan menghilangnya edema, baru kemudian BB mulai naik.16
Langkah Ke-9: Berikan Stimulasi Sensorik Dan Dukungan Emosional. 16
Pada KEP berat terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku,
karenanya berikan: 16

Kasih sayang
Lingkungan yang ceria
Terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari
Aktifitas fisik segera setelah sembuh
Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb).

27

Langkah Ke-10: Tindak Lanjut Di Rumah


Bila gejala klinis sudah tidak ada dan BB anak sudah mencapai 80%
BB/U, dapat dikatakan anak sembuh.Pola pemberian makan yang baik dan
stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah penderita dipulangkan. 16
Peragakan kepada orangtua :
-

Pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien


yang padat

Terapi bermain terstruktur.

Sarankan:
-

Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur:

bulan I
: 1x/minggu
bulan II
: 1x/2 minggu
bulan III
: 1x/bulan
Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster)
Pemberian vitamin A setiap 6 bulan.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan:


1. Jangan berikan Fe sebelum minggu ke-2 (Fe diberikan pada fase
stabilisasi)
2. Jangan berikan cairan intravena kecuali syok atau dehidrasi berat
3. Jangan berikan protein terlalu tinggi pada fase stabilisasi
4. Jangan berikan diuretik pada penderita kwasiorkor.

Tindakan pengobatan penyakit penyulit14


Tabel 14. Gangguan mata akibat kekurangan vitamin A. 14
Jika mata mengalami
Tindakan
Hanya bercak Bitot saja (tidak Tidak memerlukan obat tetes mata
ada gejala mata yang lain)
Nanah atau peradangan
Berikan tetes mata kloramfenikol
atau tetes tetrasiklin (1%)
Berikan kedua obat tersebut :
Kekeruhan pada kornea
Ulkus pada kornea
Tetes mata kloramfenikol 0,25% 1% atau tetes tetrasiklin (1%) dan
Tetes mata atropin (1%)

28

Segera rujuk ke dokter mata (jangan tambahkan preparat yang


mengandung kortikosteroid karena akan memperberat kelainan pada mata serta
jangan diberi salep supaya tidak ada perlengketan. 14
Teteskan obat kemata yang terganggu dengan dosis :

Tetes mata kloramfenikol 0,25%-1% atau tetes tetrasiklin (1%) : 1 tetes, 4

x sehari
Tetes mata atropin 1% : 1 tetes, 3 x sehari
Jika kedua jenis obat tetes mata tersebut diperlukan dapat diberikan secara

bersamaan,
Lakukan pengobatan sekurang-kurangnya 7 hari sampai semua gejala

pada masa menghilang.


Lakukan tindakan pemeriksaan dan pengobatan dengan sangat berhati-

hati dan lembut


Gunakan penetes dan botol yang terpisah untuk setiap anak
Lakukan selalu tindakan mencuci tangan sebelum dan sesudah mengobati

setiap anak.
Mata yang terganggu harus ditutup selama 3-5 hari hingga peradangan

dan iritasi mereda


Gunakan kasa penutup mata yang dicelupkan dalam larutan NaCL 0,9%
Gantikah kasa setiap kali dilakukan pengobatan
Bila anak tertidur dengan mata terbuka, katupkan lah dengan lambat
kelopak mata.

Jadwal dan dosis pemberian vitamin A. 14


Tabel 15. Jadwal dan dosis pemberian vitamin A. 14
Gejala
Hari ke-1
Hari ke-2
Tidak ada gejala mata atau Diberi kapsul Tidak
diberi
tidak pernah sakit campak dengan dosis kapsul
dalam 3 bulan terakhir
sesuai umur
Ada salah satu gejala :
Diberi kapsul Diberi kapsul
dengan dosis dengan
dosis
Buta senja
sesuai umur
sesuai umur
Bercak bitot
Nanah/Radang
Kornea keruh
Ulkus kornea
Pernah
sakit
Campak dalam 3
bulan terakhir

Hari ke-15
Tidak
diberi
kapsul
Diberi kapsul
dengan
dosis
sesuai umur

29

Tabel 16. Dosis Vitamin A. 14


Umur
< 6 bulan\
6 - 11 bulan
1 - 5 tahun

Dosis
50.000 SI (1/2 kapsul biru)
100.000 SI (1 kapsul biru)
200.000 SI (1 kapsul merah)

Pengobatan penyakit penyulit: gangguan pada kulit (Dermatosis)


Tabel 17. Gangguan kulit 14
Jika kulit mengalami
Tata laksana
Hipo/hiperpigmentasi
Kompres pada bagian yang terkena
Deskuamasi (kulit mengelupas)
dengan larutan KmnO4 L/10.000
Lesi ulserasi eksudatif menyerupai
selama 10 menit
luka bakar, sering disertai infeksi Beri salep/krim (Zn dengan minyak
sekunder, antara lain oleh candida
kastor)
Usahakan agar daerah perineum
tetap kering
Umunya terdapat defisiensi seng
(Zn): beri preparat Zn peroral
(sudah termasuk dalam larutan
mineral.

Pengobatan penyakit penyulit:Diare persisten. 14


Tabel 18. Pengobatan penyulit diare. 14
Jika anak mengalami
Tatalaksana
Diare
oleh
karena Berikan makanan secara berhati-hati,
mengkonsumsi makanan
yaitu makanan formula bebas yang
yang tinggi laktosa
rendah laktosa
Kerusakan mukosa usus Berikan
kotrimoksasol
5

8
dan giardiasis
mg/kgBB/hari, periksa dan ganti dengan
Pemeriksaan
tinja
metronidazol bila pemeriksaan +
Berikan
metronidazol
30-50
mikroskopis yang hasilnya
positif
mg/kgBB/hari selama 7-10 hari. (lihat
buku I, hal 15)

30

Pengobatan penyakit penyulit : anemia berat. 14


Tabel 19. Pengobatan anemia berat14
Jika hasil pemeriksaan Tata laksana
Hb atau Ht
Hb <4.0 g/dl , atau
Berikan transfusi darah segar sebanyak 10
Hb 4,0 6,0 g/dl
ml/kgBB dalam waktu 3 jam. Bila ada tanda
disertai
distres
gagal jantung. Gunakan paced red cell untuk
pernafasan atau tanda
transfusi dengan jumlah yang sama

Beri furosemid 1 mg/kgBB secara IV pada


gagal jantung
saat transfusi dimulai
Hentikan semua pemberian cairan lewat
oral/Naso Gastric Tube selama anak
ditransfusi.
Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam, gatal, Hb-uria, rejatan/
syok). Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau
antara 4-6 g/dl, jangan diulangi pemberian darah. 14
Pirantel pamoat. 14
Jika anak berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah mendapatkan
obat ini dalam 6 bulan terakhir dengan hasil pemeriksaan tinjanya positif, beri
pirantel pamoat di klinik sebagai dosis tunggal (DIBERIKAN PADA FASE
TRANSISI). 14
Tabel 20. Pemberian pirantel pamoat. 14
Umur
Berat badan
Pirantel pamoat (125mg/tab) (DOSIS TUNGGAL)
4-9 bln
(6 - <8 kg)
tablet
9-12 bln (8 - < 10 kg)
tablet
1-3 th
(10 - < 14 kg)
1 tablet
3-5 th
(14 - < 19 kg)
1 tablet
14
Cara penyelenggaraan :

Mulai 3 fase : fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi


Kebutuhan energi : 80 220 kkal/kg/BB/hr
Kebutuhan protein : 1-4 gram/kgBB/hr
Pemberian suplemen vitamin dan mineral khusu, bila tidak ada diberikan

makanan sumber mineral tertentu.


Jumlah cairan 130-200 ml/kgBB/hr, bila edema berat (+++) cairan yang
diberikan harus 100 ml/kgBB/hr

Kriteria edema : 14

31

+
: edema pada tangan dan kaki
++
: edema padatungkai dan lengan
+++ : edema pada seluruh tubuh (wajah dan perut)
Pemberian dapat peroral ataumelalui pipa nasogastrik.
Porsi makanan kecil dengan frekuensi makanan sering.
Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar, rendah laktosa dan rendah serat.
Asi diteruskan sampai usia 2 tahun
Makanan padat diberikan pada rehabilitasi dan berdasarkan berat badan,
yaitu : BB < 7 kg diberi makanan bayi / lumat, BB 7 kg diberi makanan
anak/ lunak.

Kebutuhan zat gizi (anak gizi menurut fase pemberian makanan )


Tabel 21. Kebutuhan zat gizi (anak gizi menurut fase pemberian makanan ). 14
Zat gizi
Stabilisasi
Transisi (hari ke 3-7)
Rehabilitasi
(hari ke 1-2)
(minggu ke 2-6)
Energi
80-100
100-150 kkal/kgBB/hr
150-220
kkal/kgBB/h
kkal/kgBB/hr
r
Protein
1-1,5
2-3 gram /kgBB/hr
4-6
gram
gram
/kgBB/hr
/kgBB/hr
Cairan
130ml/kgBB 150ml/kgBB/hr
150-200
/hr
atau
ml/kgBB/hr
100ml/kgBB
/hr bila ada
edema berat
Fe
Beri setiap hari
selama 4 minggu
Tablet besi /
untuk anak umur 6
folat (Fe SO4
bulan sampai 5
200mg
+
tahun
0,25mg asam
folat)
Sirup
besi
(Fe
SO4
Dosis lihat tabel
150ml) 1-3
dibawah :
mg elemental
Vitamin A
Umur
Dosis
Penderita
<6 bln
50.000 SI(1/2 kapsul xrophthalmia
biru)
lihat
terapi
6-11 bln
100.000 SI (1 kapsul xrophthalmia
biru)
1-5 tahun
200.000 SI (1 kapsul
merah)

32

Vitamin lain:
Vitamin C

BB < 5 kg: 50mg/hari (1 tablet)


BB 5 kg: 100 mg/hari (2 tablet)

Asam folat
5 mg/hari pada hari pertama, selanjutnya 1 mg/hari
Vitamin B, 1 tablet / hari
komplek
Mineral mix*
Zinc
Kalium
Natrium
Magnesium
Cuprum
*) Dosis lihat Buku
Diberikan dalam bentuk larutan elektrolit/mineral, pemberiannya dicampurkan
kedalam Resomal, F-75 dan F-100 (dosis pemberiannya lihat cara membuat
Cairan ReSoMal dan Cara membuat larutan mineral mix) 14
Fase

Waktu
pemberian

Jenis makanan

Frekuensi

Stabilisasi

Hari 1-2

Transisi

Hari 3-7

12x
Bebas
8x
Bebas
6x
Bebas
6x
Bebas

Fase
Rehabili
tasi
BB< 7
kg

Waktu
pemberian
Minggu 2-6

F-75/modifikasi
ASI
F-75/modifikasi
ASI
F-75/modifikasi
ASI
F-100/modifikasi
ASI

Jenis
makanan

Frekuensi

3x
F-100,
modifikasi
Bebas
ASI
Ditambah
Makanan
3x1 porsi
bayi
/

Jumlah
cairan
(ml)
setiap
minum menurut
BB anak
Lihat
tabel
pedoman F-75
Lihat
tabel
pedoman F-75
Lihat
tabel
pedoman F-75
Lihat
tabel
pedoman F-100

Jumlah cairan (ml) setiap


minum menurut BB anak
4k 6kg 8kg 10k
g
g
90 100 -

33

BB7 kg

makanan
lumat
Sari buah
F-100,
modifikasi
ASI
Ditambah
Makanan
anak/makan
an lunak
Buah

1x

10
0
-

100

150

175

3x1 porsi

1-2x1buah

3x
Bebas

Contoh :
Kebutuhan energi seorang anak dengan berat badan 6 kg pada fase rehabilitasi
adalah : 6 kg x 200 Kkal/kgBB/hr = 1200 Kkal/hr Kebutuhan energi tersebut
dapat dipenuhi dengan : 14
F-100 : 4 x 100 cc

4 x 100 Kkal

= 400 Kkal

Makanan bayi/ lumat 3 x

3 x 250 Kkal

= 750 Kkal

Sari buah 1 x 100 cc

1 x 45 Kkal

= 45 Kkal

----------------------------------------- +
Total

= 1195 Kkal

Cara pembuatan formula rehidration solution for malnutrition (ReSoMal)


Cara membuat cairan ReSoMal. 14
Terdiri dari :

Bubuk WHO-ORS untuk 1 Liter *


: 1 pak
Gula pasier
: 50 gram
Larutan elektrolit/mineral **
: 40ml
Ditambah air matang sampai larutan menjadi : 2000 ml (2 liter)

Setiap 1 liter cairan ReSoMal ini mengandung 37,5 mEq Na, 40 mEq K dan 1,5
mEq Mg14
*: bubuk WHO ORS untul 1 liter mengandung 2,6 g NaCL, 2,9 g trisodium citrat
sesuai formula baru 1,5 KCL dan 13,5 gram glukosa
Cara membuat larutan mineral mix :
1 sachet mineral mix @ 8 gram dilarutkan dalam 20 ml air matang untuk bahan
pembuatan 1 liter F-75/F-100/ReSoMal

34

Cara membuat larutan pengganti ReSoMal


Bila laruta elektrolit atau mineral tidak tersedia, sebagai alternatif atau pengganti
ReSoMal dapat di buat larutan sebagai berikut: bahan yang dapat digunakan
terdiri dari: 14

Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter *


Gula pasier
Bubuk KCL
Ditambah air sampai larutan menjadi

: 1 pak
: 50 gram
: 4 gram
: 2000 ml (2 liter)

Atau bila sudah ada WHO-ORS yang siap pakai (sudah dilarutkan), dapat dibuat
larutan pengganti sebagai berikut: 14

Larutan WHO-ORS
Gula pasier
Bubuk KCL
Ditambah air sampai larutan menjadi

: 1 liter
: 50 gram
: 4 gram
: 2000 ml (2 liter)

Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg,Zn, dan Cu, maka
diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. Dapat pula
diberikan MgSO4 50% secara intramuscular1x dengan dosis 0,3 ml/kg BB dengan
maksimum 2 ml. 14

35

Gambar 3. Evaluasi pasien gizi buruk. 14


2.12 Komplikasi
Gizi buruk atau KEP berat seperti marasmus-kwashiorkor memiliki
komplikasi-komplikasi yaitu : 17

Perkembangan mental
Menurut Winick dan Rosso (1975) bahwa KEP yang diderita pada
masa dini perkembangan otak akan mengurangi sintesis protein DNA,
dengan akibat terdapatnya otak dengan jumlah sel yang kurang
walaupun besarnya otak normal. Jika KEP terjadi setelah masa divisi
otak berhenti, hambatan sintesis protein akan menghasilkan otak
dengan jumlah sel yang normal namun dengan ukuran yang lebih
kecil. Dari hasil penelitian Karyadi (1975) terhadap 90 anak yang
pernah menderita KEP bahwa terdapat deifisit IQ pada anak-anak
tersebut, deficit tersebut meningkat pada penderita KEP lebih dini.
Didapatkan juga hasil pemeriksaan EEG yang abnormal mencapai 30
persen pada pemeriksaan setelah 5 tahun lalu meningkat hinggal 65

persen pada pemeriksaan ulang 5 tahun setelahnya. 17


Noma
Noma atau stomatitis gangrenosa merupakan pembusukan mukosa
mulut yang bersifat prograsif hingga dapat menembus pipi, bibir, dan
dagu, biasanya disertai nekrosis sebagian tulang rahang yang
berdekatan dengan lokasi noma tersebut. Noma merupakan salah satu
penyakit yang menyertai KEP berat akibat imunitas tubuh yang

menurun, noma timbul umumnya pada tipe kwashiorkor. 17


Xeroftalmia
Merupakan penyakit penyerta KEP berat yang sering ditemui akibat
defisiensi dari vitamin A umumnya pada tipe kwashiorkor namun
dapat juga terjadi pada marasmus. Penyakit ini perlu diwaspadai pada

penderita KEP berat karena ditakutkan akan mengalami kebutaan. 17


Kematian
Kematian merupakan efek jangka panjang dari KEP berat. Pada
umumnya penderita KEP berat menderita pula penyakit infeksi seperti
tuberkulosa paru, radang paru lain, disentri, dan sebagainya. Tidak

36

jarang pula ditemukan tanda-tanda penyakit gizi lainnya. Maka dapat


dimengerti mengapa angka mortalitas pada KEP berat tinggi. Daya
tahan tubuh pada penderita KEP berat akan semakin menurun jika
disertai dengan infeksi, sehingga perjalanan penyakit infeksi juga akan
semakin berat. 17
2.13 Prognosis
Kriteria pemulangan anak gizi buruk dari ruang rawat inap : 15
Persiapan untuk tindak lanjut dirumah dapat dilakukan sejak anak dalam
perawatan, misalnya melibatkan ibu dalam kegiatan merawat anaknya, kriteria
sembuh bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan tidak ada gejala klinis. 15
Anak dapat dipulangkan bila memenuhi kriteria pulang sebagai berikut:

Edema sudah berkurang atau hilang, anak sadar dan aktif


BB/PB atau BB/TB >-3 SD
Komplikasi sudah teratasi
Ibu telah mendapat konseling gizi
Ada kenaikan BB sekitar 50g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut.
Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.
Prognosis pada penyakit ini buruk karena banyak menyebabkan kematian

dari penderitanya akibat infeksi yang menyertai penyakit tersebut, tetapi


prognosisnya dapat dikatakan baik apabila malnutrisi ditangani secara tepat dan
cepat. Kematian dapat dihindarkan apabila dehidrasi berat dan penyakit infeksi
kronis lain seperti tuberkulosis atau hepatitis yang menyebabkan terjadinya sirosis
hepatis dapat dihindari. Pada anak yang mendapatkan malnutrisi pada usia yang
lebih dewasa. Hal ini berbanding terbalik dengan psikomotor anak yang mendapat
penanganan malnutrisi lebih cepat menurut umurnya, anak yang lebih muda saat
mendapat perbaikan keadaan gizinya akan cenderung mendapatkan kesembuhan
psikomotornya lebih sempurna dibandingkan dengan anak yang lebih tua,
sekalipun telah mendapatkan penanganan yang sama. Hanya saja pertumbuhan
dan perkembangan anak yang pernah mengalami kondisi marasmus in cenderung
lebih lambat, terutama terlihat jelas dalam hal pertumbuhan tinggi badan anak dan
pertambahanan berat anak, walaupun jika dilihat secara ratio berat dan tinggi anak
berada dalam batas yang normal. 17, 18

37

BAB III
BEDSIDE TEACHING
Identitas Pasien

No. MR
Tanggal Masuk
Nama
Umur
Jenis kelamin
Anak ke
Agama
Alamat

: 167382
: 26 Juli 2016
: An. DHZ
: 1 tahun 1 bulan (01-07-2016)
: Laki-Laki
: 2 (Dua), Anak 1(pertama) dari istri ke 2
: Kristen
: Tumang Siak

Identitas Orang Tua


Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
Perkawinan

Ayah
Tn. JMZ
26 th
Kariawan PT
Kristen
Ke 2

Ibu
Ny. DMH
26 th
IRT
Kristen
Ke 1

ALLOANAMNESIS
Diberikan oleh

: Ibu kandung pasien & nenek (pengasuh)

38

Keluhan utama:
Bengkak pada kaki sejak 2 minggu
Riwayat Penyakit Sekarang:

Sejak 6 bulan yang lalu pasien sulit makan, makanan pasien berupa bubur
nasi yang dilumatkan, bubur jarang dicampur dengan sayur atau daging,
bubur lebih sering di capur kuah makanan yang di makan keluarga saat itu,
menyusui (-), ASI (-), susu formula (-), pasien diberi air yang dicampur
gula saja.

Sejak 3 bulan pasien terlihat 39


semakin kurus, rambut mudah rontok dan
terlihat kemerahan.

2 bulan yang lalu kaki pasien pernah bengkak namun hilang timbul, kepala
tidak bisa di angkat, lalu pasien di bawa berobat kampung dan kepala
kemudian bisa diangkat.

Riwayat diare berulang atau diare lama di

sangkal, riwayat muntah lama di sangkal.

Sejak 1 bulan pasien sering batuk berdahak dan demam hilang timbul,
keringat malam (-), berat badan menurun (+), pasien terlihat sangat kurus,
nafsu makan menurun (+), muntah (-), diare berulang (-), BAB cair (-),
BAB lunak sering (+), BAK baik.

Sejak 2 minggu yang lalu batuk semakin berat, tidak hilang, batuk
berdahak (+), dahak berwarna putih kekuningan, sesak (-), demam (+)
disertai bisul, keringat malam (-), pilek (+), kaki bengkak (+), perut buncit
(+), muntah (-), BAB lunak (+), masih terdapat ampas, BAB 5 kali
sehari, warna kuning, BAB berlendir (-), BAB berdarah (-), BAB
kehitaman (-), BAK (+), BAK sering (+), warna kuning jernih, BAK
merah (-), selera makan berkurang (+), makanan pasien berupa nasi yang
dijadikan bubur.

1 hari yang lalu pasien semakin lemas, rewel, tidak bisa duduk, demam
(-), BAB lunak 6 kali sehari, BAB cair (-), BAB berlendir (-), BAB
berdarah (-), BAB kehitaman (-), muntah 1 kali, muntah berupa air

39

bercampur makanan, makan hanya 2-3 sendok, minum masih mau, pasien
di beri minum air putih.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat Diare lama (-)


Riwayat Muntah lama (-)
Riwayat alergi makanan & obat (-)
Riwayat alergi sisi (-)
Riwayat Asma (-)
Riwayat kuning (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Tidak ada anggota keluarga yang batuk lama, batuk berulang, batuk

berdarah, atau mengkonsumsi obat 6 bulan


Tidak ada anggota keluarga yang diare

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien tidak tinggal bersama ibu kandungnya, pasien dirawat oleh neneknya.
Pasien tinggal di lingkungan tidak padat penduduk, pasien tinggal di daerah
perkebunan sawit, akses pasar dekat, jarak rumah dengan puskesmas sekitar 3

kilo, dapat ditempuh menggunakan sepeda motor, sulit di tempuh jika hujan.
Jika ada kegiatan dari posyandu pasien tidak pernah di bawa.
Sumber air minum dari air hujan dan di masak sampai mendidih, sayuran

dicuci sebelum dimasak.


Sampah : dibakar
Makan buah jarang (+), makan daging jarang (+)
Susu formula tidak diberikan lagi karena keterbatasan biaya

Kesan : higiene dan sanitasi lingkungan kurang baik dan sosial ekonomi pasien
juga kurang baik
Riwayat Kehamilan

Ibu pasien periksa kehamilan tidak rutin, periksa kehamilan di bidan


Imunisasi selama kehamilan tidak pernah
Lama hamil 9 bulan

Riwayat Kelahiran

40

Pasien lahir spontan pervaginam dibantu bidan, langsung menangis,


BB lahir3000 gram, panjang lupa, lingkar kepala lupa, lingkar dada
lupa.

Riwayat Makan dan Minum

Asi (+), 6 bulan di campur air putih, saat usia 2 bulan pasien sudah di
beri bubur nasi, pasien berhenti minum ASI sejak 6 bulan yang lalu
karena ibu pasien sakit hamil anggur dan di kuret, lalu pasien di beri
susu formula sementara, namun karena keterbatasan biaya susu diganti

air gula.
Makanan berupa bubur nasi yang di lumatkan, jarang di campur sayur,
makan 3 kali sehari 2-3 sendok

Kesan : Asi tidak eksklusif & asupan nutrisi kurang


Riwayat Imunisasi
Menurut keterangan ibu pasien:

Pasien tidak pernah di imunisasi, scar BCG (-)


Tidak pernah dibawa ke posyiandu

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan:


Menurut Ibu pasien tumbuh kembang pasien sesuai dengan tumbuh kembang anak
lain seusianya.
Tertawa
Miring
Tengkurap
Duduk
Merangkak

Lupa
Lupa
Lupa
6 bulan
8 bulan

Mengangkat kepala
Gigi pertama tumbuh
Berdiri
Bicara kata

Kesan perkembangan : perkembangan sesuai usia


Riwayat Keluarga:

3 bulan
Lupa
10 bulan
1 tahun

41

Saudara pasien : An.EEZ ( saudara tiri), Umur 3 tahun, sehat, tidak


tinggal 1 rumah
Penykit yang pernah diderita orang tua:
- Ayah : tidak pernah sakit
- Ibu : hamil anggur bulan februri 2016

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan Umum :
Kesadaran
:
Tekanan Darah :
Nadi
:
Pernafasan
:
Suhu
:

Tampaksakit sedang
Komposmentis
90/60 mmHg
110 kali/menit
22 kali/menit
36,4 oC

BB sebelum sakit

: lupa

Edema tungkai
Ikterus
Sianosis

:
:
:

Ada
Tidak ada
Tidak ada

Lingkar lengan atas

: 8 cm

BB terakhir saat usia 6 bulan : 7 kg

Lingkar pinggang

: 37 cm

BB di IGD

: 6,5 kg

Lingkar perut berdiri : 41 cm

Tinggi badan

: 75 cm

Lingkar perut duduk : 42 cm

Lingkar kepala

: 41 cm

Lingkar perut berbaring: 42,5 cm

Status gizi

: Gizi Buruk

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
: Normocephal, ubun-ubun belum menutup, ubun-ubun cekung (+)
Rambut
: kemerahan dan mudah rontok
Mata
: Cekung (-), sklera ikterik (-), conjungtiva pucat (+/+), pupil
isokor, refleks cahaya bercak bitot (-/-), air mata saat menangis
Telinga
Hidung
Mulut
Tenggorok
Leher
Kulit

(?)
: Bentuk normal, sekret pada liang telinga (-), darah (-)
: deviasi septum (-), sekret (+), napas cuping hidung (-)
: Mukosa bibir kering (+), pucat (-), sianosis (-), Lidah kotor (-)
: Tonsil T1-T1, hiperemis (-)
: Pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-)
: Turgor kembali cepat, Deskuamasi (+), Dermatosis (+), ikterik (-),
pucat (-)

Thorax (cor)

Inspeksi : Ictus cordis terlihat di SIC V midclavicularis sinistra


Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V linea midclavicularis sinistra
Perkusi :

42

- Batas jantung kanan atas di SIC II linea parasternalis dextra


- Batas jantung kanan bawah di SIC IV linea parasternalis dextra
- Pinggang jantung di SIC III sinistra
- Batas jantung kiri bawah di SIC V linea midclavicularis sinistra
Auskultasi
: Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Thorax (pulmo)

Inspeksi : tulang iga terlihat, bentuk thoraks normal, retraksi dinding dada (-)
Palpasi : gerakan dinding dada simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi: Suara nafas vesikular (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

Abdomen

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

Ekstremitas

:
: Tampak cembung (+), distensi (-)
: BU (+) normal
: Turgor kembali cepat, hepar dan lien tidak teraba
: Timpani
:

Superior : Akral hangat, edema (-), CRT <2 detik


Inferior : Akral hangat, edema (-), CRT <2 detik, edema tungkai (+/+)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan Darah
Hemoglobin : 11,4 gr/dl
Leukosit
: 16.300 / mm3
Eritrosit
: 4, 66 juta / mm3
Trombosit
: 268.000 / mm3
Hematokrit
: 31,8 %
LED
: 5 mm/jam

Urin
Warna
: kuning
Kekeruhan
: keruh
Protein
: Reduksi
: Bilirubin
: Urobilinogen
: Ceton
: PH
: 6,5

Kolesterol total
Albumin
Ureum
Kreatinin
GDS
Elektrolit

Nitrit
Berat jenis
Leukosit
Eritrosit
Epitel
Silinder
Kristal

:36 mg/dl
: 2,9 g/dl
: 11 mg/ dl
: 0,8 mg/dl
::-

: positif 1
: 1010
: 20-25/LPB
: 15-20/LPB
:::

RESUME

Anamnesis :

Pasien datang dengan keluhan sejak 2 minggu bengkak pada dedua kaki,
perut buncit, badan kurus , nafsu makan berkurang, batuk berdahak 2
minggu, batuk dan demam hilang timbul, asupan nutrisi kurang, sosial
ekonomi kurang, sanitasi kurang baik, asi tidak ada, susu formula juga tidak
ada, imunisasi tidak pernah, BAB lunak berulang, dan lemas.

Pemeriksaan fisik:

Di dapat keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis,


tanda vital dalam batas normal, hipotermi (-), latergis (-), tanda dehidrasi (-),
rambut merah (+), perut buncit dan edema tungkai (+), dermatosis (+),
deskuamasi (+), dan dari data antropometri z score dengan BB/TB < -3SD,
lingar lengan atas 8 cm (<11,5cm), tanpak sangat kurus.

Pemeriksaan penunjang :

Laboratorium darah

Kesan: leukositosis

Urin

Kesan : Susp. Infeksi saluran kemih.

Diagnosis Kerja:
Gizi buruk tipe marasmik-kwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi Saluran
kemih + infeksi saluran pernafasan atas

Gizi buruk tipe marasmus kondisi 5


Sindroma nefrotik
Sirosis hepatis

Diagnosis banding

Pemeriksaan Anjuran :
Pemeriksaan kadar glukosa darah & elektrolit
Pemeriksaan feses makroskopis dan mikroskopis.
HIV test
Uji Tuberkulin

Penatalaksanaan

F75 12x 90 cc
Vitamin A 200.000 IU 1x1
Davit Syr 1x cth
Asam Folat 5 mg 1x1

Prognosis
-

Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP

Hari/
Tangg
Follow up
al
27-7 S: Bengkak pada kaki (+), perut
16
buncit (+), Demam (+), Batuk

berdahak (+), sesak (-), BAB lunak


BB:
(+), 6x, BAB berlendir (-), BAB
6,5 kg
kehitaman (-), Makan (+), minum

susu (+), BAK baik

O : KU : tampak sakit sedang,


LLA:8 Kes : compos mentis
TTV :
cm
LK:
RR : 24x/menit
41 cm
HR : 109 kali / menit
LPD:4
T : 37,6oC
1cm
Turgor kulit baik, mukosa bibir
LPB:4
kering(-), mata cekung (-), ubun2cm

ubun cekung (+),


Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai +/+
A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi

Terapi

O2 2l/i
IV plug
Ampisilin 4x300 g IV
Gentamisin 2x24 g IV
F75 12x75ml
As.folat 5mg 1x1
Paracetamol syr 4x0,8 ml
p.r.n
Vit A 200.000 IU
Dhavit syr 1x1/2 cth
Cek darah rutin, GDR,
Elektrolit

Saluran kemih + infeksi saluran


pernafasan atas
28-7 S: Bengkak pada kaki (+), perut
16
buncit sudah berkurang (+), Batuk
berdahak (+), sesak (-), BAB lunak
BB:
(+), 5x, BAB berlendir (-), BAB
6,9 kg
kehitaman (-), Makan tidak mau,
minum susu F75 mau (+), BAK baik
O : KU : tampak sakit sedang,
LLA:8 Kes : compos mentis
TTV :
cm
LK:
RR : 26x/menit
41 cm
HR : 112 kali / menit
LPD:4
T : 37,5oC
0cm
Turgor kulit baik, mukosa bibir
LPB:4
kering(-), mata cekung (-), ubun1cm
ubun cekung (+).
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai +/+
A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas.
29-7 S: demam (-), Bengkak pada kaki (+),
16
perut buncit sudah berkurang (+),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB:
lunak (+), 3x, BAB berlendir (-),
6,9 kg
BAB kehitaman (-), Makan tidak
mau, minum susu F75 mau (+), BAK
baik
LLA:9 O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
cm
LK:
TTV :
41 cm
RR : 30x/menit
LPD:4
HR : 100 kali / menit
0cm
T : 36,7oC
LPB:4

O2 1L/i
IV plug
ReSoMal 50-100 cc /
tiap diare
Picyn 4x300mg IV
Gentamisin 2x24 g
IV
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg
F75 12x60ml
As.folat 5mg 1x1
Paracetamol
syr
4x0,8 ml p.r.n
Vit A 200.000 IU
Dhavit syr 1x1/2 cth
Lab Darah :
Hb : 10,3 g/dl
Leu : 14,5 k/ul
Rbc : 4,31 M/ul
Hct : 31,8%
PLT : 270 k/ul
GDs : 84mg/dl
Na+ :144
K+ : 1,4
Cl -: 110

IV plug
Keb Kalori 100-150
kkal/kgBB/hari
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Bubur susu 3x sehari
Picyn 4x300mg IV
Gentamisin 2x24 g IV
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg
F75 12x80ml
As.folat 5mg 1x1

1cm

Vit A 200.000 IU
Dhavit syr 1x1/2 cth
rencana mantoux test

IV plug
Kalori
100-150
BB:
kkal/kgBB/hari
7,2 kg
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Bubur susu 3x sehari
LLA:
Zink 1x20mg

9cm
Lacto B 2x1 sachet
LK:

Picyn 4x300mg IV
41 cm
Gentamisin 2x24 g IV
RR : 22x/menit
LPD:4
Bromheksin 3x2mg
HR : 105 kali / menit
0cm
KCL 3x150 mg
T : 36,5oC
LPB:4
F100 12x90ml
Turgor kulit baik, mukosa bibir As.folat 1mg 1x1
1cm
kering(-), mata cekung (-), ubun- Vit A 200.000 IU
ubun cekung (+),
Baca
mantoux
test
Thorax : cor DBN
setelah 48-72 jam
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai +/+
A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
31-7 S: Bengkak pada kaki mulai ReSoMal 50-100 cc / tiap
30-716

Turgor kulit baik, mukosa bibir


kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai +/+
A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
S: Bengkak pada kaki (+), perut
buncit sudah berkurang (+), demam
(-), Batuk berdahak (+), sesak (-),
BAB sedikit cair (+), 6x, BAB
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan tidak mau, minum susu F75
mau (+), BAK baik
O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
TTV :

16
BB:
6,9 kg

berkurang (+), perut buncit sudah


berkurang (+), demam (-), Batuk
berdahak (+), sesak (-), BAB sedikit
cair (+), 4x, BAB berlendir (-), BAB
kehitaman (-), Makan mau, minum
susu F75 mau (+), BAK baik
O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
TTV :

LLA:1

0cm
LK:

41 cm
RR : 24x/menit
LPD:4
HR : 110 kali / menit
0cm
T : 36,5oC
LPB:4
Turgor kulit baik, mukosa bibir
1cm
kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai +/+
A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
01-8 S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit
16
sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB:
sudah mulai lunak (+), 3x, BAB
6,5 kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1 O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
0cm
LK:
TTV :
41 cm
RR : 28x/menit
LPD:4
HR : 115 kali / menit
0cm
T : 36,6oC
LPB:4
Mantoux test (-),
2cm
Turgor kulit baik, mukosa bibir

diare
Bubur susu 3x sehari
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Picyn 4x300mg IV
Gentamisin 2x24 g IV
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg
F100 12x100ml
As.folat 1mg 1x1

F100 12x100ml
MLTS 650 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg
As.folat 1mg 1x1
Rencana periksa feses &
urin

Hasil Feses:
Warna : kuning
Bau : khas

kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),


Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas

S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit


sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB: 6
sudah mulai lunak (+), 6x, BAB
kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1 O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
0cm
LK:
TTV :
41 cm
RR : 26x/menit
LPD:4
HR : 100 kali / menit
0cm
02-816

Konsistensi : lunak
Darah :Lendir :Cacing dewasa :Telur cacing :Amuba :Eritrosit :Leukosit :Lemak :Sisa makanan :

Urin :
Warna : kuning
Kekeruhan : jernih
Protein
: Reduksi
: Bilirubin
: Urobilinogen
: Ceton
: PH
:
5,5
Nitrit
: Berat jenis
:
1.005
Leukosit : 0-1/LPB
Eritrosit : 0-1/LPB
Epitel : (+)
Cylinder : Kristal : F100 12x100ml
MLTS 650 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Feroglobin syr 2x1/2 cth
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg

T : 36,8oC
Mantoux test (-),
Turgor kulit baik, mukosa bibir
kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/ A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
03-8 S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit
16
sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB: 6
sudah mulai lunak (+),
BAB
kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1 O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
1cm
LK:
TTV :
41 cm
RR : 22x/menit
LPD:4
HR : 106 kali / menit
0cm
T : 36,4oC
LPB:4
Mantoux test (-),
2cm
Turgor kulit baik, mukosa bibir
kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/ A : Gizi buruk tipe marasmikLPB:4
2cm

F100 6x200ml
ML 650 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Feroglobin syr 2x1/2 cth
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg

kwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi


Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas

S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit


sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB:
sudah mulai lunak (+),
BAB
6,2 kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1
O : KU : tampak sakit sedang,
1cm
LK:
Kes : compos mentis
41 cm TTV :
LPD:4
RR : 20x/menit
0cm
HR : 100 kali / menit
LPB:4
T : 37,0oC
2cm
Mantoux test (-),
Turgor kulit baik, mukosa bibir
kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/ A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
05-8 S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit
16
sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB:
sudah mulai lunak (+),
BAB
6,5 kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1
04-816

F100 12x200ml
ML 750 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Feroglobin syr 2x1/2 cth
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg

F100 12x200ml
ML 750 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Feroglobin syr 2x1/2 cth
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg

1cm
O : KU : tampak sakit sedang,
LK:
Kes : compos mentis
41 cm TTV :
LPD:4
RR : 24x/menit
0cm
HR : 111 kali / menit
LPB:4
T : 36,5oC
2cm
Mantoux test (-),
Turgor kulit baik, mukosa bibir
kering(-), mata cekung (-), ubunubun cekung (+),
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi
dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)
Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/ A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas
06-8 S: Bengkak pada kaki (-), perut buncit
16
sudah berkurang (+), demam (-),
Batuk berdahak (+), sesak (-), BAB
BB:
sudah mulai lunak (+),
BAB
6,7 kg
berlendir (-), BAB kehitaman (-),
Makan mau, minum susu F75 mau
(+), BAK baik
LLA:1 O : KU : tampak sakit sedang,
Kes : compos mentis
1cm
LK:
TTV :
41 cm
RR : 23x/menit
LPD:4
HR : 110 kali / menit
0cm
T : 36,8oC
LPB:4
Mantoux test (-),
2cm
Turgor kulit baik, mukosa bibir
kering(-), mata cekung, ubun-ubun
cekung (+)
Thorax : cor DBN
Pulmo : Vesikular +/+, retraksi

KCL 3x150 mg

F100 12x200ml
ML 750 kkal
ReSoMal 50-100 cc / tiap
diare
Feroglobin syr 2x1/2 cth
Zink 1x20mg
Lacto B 2x1 sachet
Bromheksin 3x2mg
KCL 3x150 mg

dinding dada -/ Abd : tampak cembung (+), Bu (+)


Ekstremitas akral hangat (+), CRT <
2, edema tungkai -/ A : Gizi buruk tipe marasmikkwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi
Saluran kemih + infeksi saluran
pernafasan atas

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus di atas pasien didiagnosis gizi buruk tipe marasmik-

kwashiorkor kondisi 5 dengan Infeksi Saluran kemih dan infeksi saluran


pernafasan atas berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.

Berdasarkan anamnesis pada pasien di atas terjadi penurunan berat

badan sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien semakin kurus, selera
makan berkurang, riwayat asupan nutrisi pasien juga kurang baik yang sudah
berlangsung lama, selain pasien terlihat sangat kurus juga terdapat bengkak pada
kedua tungkai disertai perut buncit, lalu dilakukan Perhitungan gizi berdasarkan
growth chart WHO pada pasien ini, didapatkan hasil pengukuran BB/U, TB/U,
dan BB/TB <-3SD (zscore WHO 2006),selain itu lingkar lengan atas pasien ini 8
cm, lingkar lengan atas < 115 mm termasuk pada kategori pita merah dan
merupakan indikator nutrisi yang paling unggul untuk seleksi kasus penderita gizi
buruk, sehingga pada pasien ini ditegakkan diagnosis gizi buruk.

Gizi buruk merupakan akibat dari konsumsi makanan yang tidak

memadai dari protein dan energi, baik karena kekurangan asupan makanan yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan normal atau karena kebutuhan untuk pertumbuhan

lebih besar daripada yang disediakan. Gizi buruk dibagi dalam tiga bentuk.
Marasmus (nonedematous) akibat kekurangan energi, kwashiorkor (edematous),
karena kekurangan protein, dan marasmus kwashiorkor karena kekurangan energi
dan protein.

Berdasarkan pemeriksaan fisik yang ditemukan pada pasien ini

didapat tanda dan gejala gizi buruk tipe marasmik-kwashiorkhor yaitu gejala
campuran kwashiorkor dan marasmus. Didapatkan badan kurus, otot artrofi
sehingga kontur tulang terlihat jelas dengan edema pada kedua tungkai, perut
membuncit, rambut berwarna kemerahan dan mudah rontok, terdapat perubahan
kulit (dermatosis), kulit kering, dingin dan mengendor, keriput , lemak subkutan
menghilang hingga turgor kulit berkurang.

Ketika datang ke IGD RSUD Tengku Rafian, pasien ini tidak

mengalami keadaan syok, letargi, 53


maupun muntah/diare/dehidrasi, sehingga
pasien ini dikategorikan sebagai gizi buruk tipe marasmik-kwashiorkor kondisi 5.

Pada pasien gizi buruk juga dapat terjadi beberapa penyakit

sebagai penyulit seperti infeksi saluran pernafasan atas. Pasien ini mengalami
batuk berdahak sejak 2 minggu, terdapat keluhan batuk berulang dan demam
berulang, pada pasien gizi buruk dapat kita curigai adanya tuberkulosis sebagai
diagnosis banding penyakit penyulit saat pemeriksaan awal. Pada pasien yang
dicurigai mengalami TB paru, perlu dilakukan scoring. Pada pasien ini dilakukan
skoring TB, batuk 2 minggu (skor 0), riwayat kontak TB tidak jelas (skor 0), uji
tuberkulin belum dilakukan (skor 0), status gizi tampak sangat kurus gizi buruk
(skor 2), demam tanpa sebab jelas sering dialami (skor 1), tidak ada pembesaran
KGB (skor 0), tidak ada pembengkakan tulang dan sendi (skor 0), foto thoraks
belum dilakukan (skor 0), sehingga jumlah skor pada pasien untuk sementara
hanya 3. Skor tersebut belum memenuhi kriteria TB pada anak, lalu direncanakan
pemeriksaan uji tuberkulin pada pasien ini. Pada hari ke 4 rawatan pasien
dilakukan uji tuberkulin dan setelah 48-72 jam didapat hasil negatif. Sehingga
diagnosis TB pada anak ini dapat disingkirkan.

Pada pasien ini juga terdapat keluhan demam berulang, buang air

kecil sering, lalu pada pemeriksaan penunjang darah rutin ditemukan leukosit
16.300 / mm3 (leukositosis) yang menunjukkan adanya proses infeksi, dan pada

anak ini dilakukan pemeriksaan urin dengan hasil pH

6,5, nitrit positif 1,

berat jenis 1010, leukosit 20-25/LPB, eritrosit 15-20/LPB sehingga diduga adanya
infeksi saluran kemih pada pasien ini.

Secara teori, ada 10 langkah tata laksana gizi buruk, yaitu (1)

mencegah dan mengatasi hipoglikemia, (2) mencegah dan mengatasi hipotermia,


(3) mencegah dan mengatasi dehidrasi, (4) memperbaiki gangguan elektrolit, (5)
mengobati infeksi, (6) memperbaiki kekurangan zat gizi mikro, (7) memberikan
makanan untuk stabilisasi (8) memberikan makanan untuk transisi dan
rehabilitasi, (9) stimulasi sensorik dan dukungan emosional pada anak, dan (10)
tindak lanjut di rumah.

Pada pasien ini tatalaksana awal sudah sesuai dengan tatalaksana

gizi buruk kondisi 5, lalu terapi nutrisi pasien juga sesuai dengan fase. Pada fase
stabilisasi hari 1-3 rawatan pasien mendapat F75, pada fase transisi hari ke 3-7
F100. Dan fase rehabilitasi minggu ke 2 berat anak masih < 7 kg mendapat 12x F
100 yaitu 1200 Kkal, hal ini sesuai kebutuhan kalori pasien dengan berat pasien
saat berap pasien turun menjadi 6 kg, 6 kg x 200 Kkal/KgBB/hr, sehingga
dibutuhkan 1200 Kkal.

Pada masa rawatan pasien terjadi penurunan berat badan saat

edema tungkai menghilang, dan di duga juga terjadi karena pada masa rawatan
pasien BAB lunak mencapai 6x sehari, diduga gangguan gastrointestinal pada
pasien dapat terjadi karena malabsorbsi dapat terjadi karena artrofi vili-vili usus
akibat malnutrisi yang berlangsung lama.

Pada langkah 5 dilakukan pencegahan infeksi dapatdiberikan

antibiotik spektrum luas, sesuai dengan terapi pasien diberikan ampisilin 4x300 g
IV dan gentamisin 2x24 g IV.

Gangguan elektrolit juga sering terjadi pada pasien dengan gizi

buruk. Pada pasien ini kadar natrium 144 mEq/l, kalium 1,4 mEq/l, dan klorida
110 mEq/l, pasien ini mengalami hipokalemia, sehingga pada pasien ini diterapi
dengan KCL 3 kali 150mg.

Pada pasien ini batuk berdahak diterapi dengan Bromheksin 3x2

mg, bromheksin merupakan mukolitik yang mengurangi kekentalan dahak dan


membantu mengeluarkan dahak dari saluran nafas.

Pasien juga mengeluhkan buang air besar lunak beberapa hari

selama di rawat. Pasien kemudian diberi zink dan probiotik. Zink diberikan 20
mg/hari selama 10 hari. Zink merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting
untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Zink bermanfaat untuk reepitelisasi usus
pada pasien diare. Sementara itu probiotik diberikan 2x1/2 saset. Probiotik
menghasilkan asam organik yang menghambat bakteri merugikan, sehingga dapat
membantu memperbaiki ketidakseimbangan flora usus ketika diare terjadi.

Selain mengatasi infeksi, pada pasien ini perlu dilakukan koreksi

kekurangan zat gizi mikro. Pasien mendapatkan beberapa tambahan zat gizi mikro
berupa vitamin A sebanyak 1x 200.000 IU, Asam Folat 1 x 5 mg pada hari
pertama kemudian dilanjutkan dengan pemberian asam folat 1 x 1 mg perhari
pada hari selanjutnya.

Pada pasien dengan gizi buruk perlu diberi stimulasi sensorik dan

dukungan emosional berupa kasih sayang, terapi bermain terstruktur 15-30


menit/hari, peningkatan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain).
Selain itu, harus dilakukan persiapan untuk tindak lanjut di rumah. Bila gejala
klinis dan BB/TB-PB anak sudah berada di garis warna kuning (-2 SD), anak
dinyatakan sembuh dan dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga
kesehatan puskesmas/bidan di desa.

BAB V
PENUTUP

Gizi buruk adalah masalah kesehatan utama di berbagai wilayah di

beberapa negara di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang


termasuk indonesia. Klasifikasi gizi buruk terdiri dari kwashiorkor, marasmus,
dan gabungan yaitu marasmik-kwashiorkor, yang diakibatkan oleh defisiensi
protein berat dari pemasukan kalori yang sedikit atau tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi.

Manifestasi marasmik-kwashiorkor yang sering ditemukan yaitu

terhambatnya pertumbuhan, hilangnya jaringan lemak bawah kulit, atrofi otot,


perubahan tekstur dan warna rambut, kulit kering dan memperlihatkan alur yang
tegas dalam, pembesaran hati, anemia, anoreksia, edema, dan lain-lain.

Diagnosis marasmik-kwashiorkor ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan


fisik, dan penunjang yang dapat di temukan seperti penurunan albumin,
kolesterol, glukosa, gangguan keseimbangan elektrolit, hemoglobin, serta
defisiensi mikronutrien yang penting bagi tubuh.

Penatalaksanaan gizi buruk secara umum memiliki 10 prinsip

penatalaksanaan yaitu mencegah/mengatasi hipoglikemia, mencegah/mengatasi


hiponatremia, mencegah/mengatasi dehidrasi, koreksi gangguan keseimbangan

elektrolit, obati dan cegah infeksi, mulai pemberian makanan, fasilitasi tumbuhkejar, koreksi defisiensi mikronutrient, stimulasi sensorik dan dukungan emosi/
mental. Persiapkan dan rencanakan tindak lanjut.

57
DAFTAR PUSTAKA

Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan. Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina


Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Sistem Kewaspadaan
Dini (SKD) KLB-Gizi Buruk. Departemen Kesehatan RI, 2008.
Soetjiningsih.2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta:
Sagung seto.

Depkes RI. 1999. Pedoman Tatalaksana Kurang Energi Protein Pada Anak di
Puskesmas dan di Rumah Tangga. Depkes, Jakarta
Syam Fahrial. Malnutrisi. Dalam: Sudojo A, Bambang S, Alwi I, Simbadibrata
M,Setiadi S, Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 Edisi V. Jakarta:
InternaPublishing. 2009;355- 652.

Direktorat Gizi Masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB. Gizi


Buruk.Jakarta: Depkes RI Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. 2008;
Yaszero.MengenalKwashiorkor
http://epiders.blogspot.com/2011/11/mengenal-kwashiorkor.html

Yaszero.Epidemiologi Penanggulangan Marasmus


http://epiders.blogspot.com/2011/11/epidemiologipenanggulanganmarasmus.h
tml
Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

10 Riset Kesehatan Dasar Provinsi Riau. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

11 Emedicine. Protein Energy Malnutrition. Diunduh pada tanggal 25 November


2012 dari : http://emedicine.medscape.com/article/1104623-overview#a0101

12 Pudjiadi, HA. Et all. 2010. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.

13 Kementerian Kesehatan RI. 2011. Buku Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak


Gizi Buruk. Buku I. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.

14 Kementerian Kesehatan RI. 2011. Buku Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak


58
Gizi Buruk. Buku II. Jakarta: Direktorat
Bina Gizi Masyarakat, Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.

15 Susanto JC., Mexitalia m., Nasar SS. 2011. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan
Penyakit Metabolik. Jilid I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

16 Indonesian Nutrition Network. Pedoman Tata Laksana KEP pada Anak di


Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Diunduh tanggal 30 November 2012 dari :
http://gizi.depkes.go.id/pedoman-gizi/pd-kep-kab-kota.shtml

17 Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (kurang Energi dan Protein) dari Ilmu Gizi
Klinis pada Anak. Edisi keempat. Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia.
Jakarta. 2005 : 95-137.

18 Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stenton BF. Nelson Textbook of
Pediatrics.18th Edition. United States of America : Sunders Elsevier Inc.2007.
Hal : 229-232.