Anda di halaman 1dari 10

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1

Andesit

3.1.1

Pengertian Andesit
Andesit termasuk jenis batuan beku kategori menengah sebagai hasil

bentukan lelehan magma diorit. Nama andesit sendiri diambil berdasarkan


tempat ditemukan, yaitu di daerah Pegunungan Andes, Amerika Selatan.
Peranan bahan galian ini penting sekali di sektor konstruksi, terutama dalam
pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, gedung, jembatan, saluran
air/irigasi dan lainnya. Dalam pemanfaatannya dapat berbentuk batu belah, split
dan

abu

batu.

Sebagai

negara

yang

sedang

membangun,

Indonesia

membutuhkan bahan galian ini yang terus setiap tahun.


3.1.2

Keterbentukan dan Mineralogi Andesit


Jenis magma diorit merupakan salah satu magma terpenting dalam

golongan kapur alkali sebagai sumber terbentuknya andesit. Lelehan magma


tersebut merupakan kumpulan mineral silikat yang kemudian menghablur akibat
pendinginan magma pada temparatur antara 1500 2500 C membentuk andesit
berkomposisi mineral felspar plagioklas jenis kalium felspar natrium plagioklas,
kuarsa, felspatoid serta mineral tambahan berupa hornblenda, biotit dan
piroksen. Andesit bertekstur afanitik mikro kristalin dan berwarna gelap.
Mineral yang ada dalam andesit ini berupa kalium felspar dengan jumlah
kurang 10% dari kandungan felspar total, natrium plagioklas, kuarsa kurang dari
10%, felspatoid kurang dari 10%, hornblenda, biotit dan piroksen. Penamaan

andesit berdasarkan kepada kandungan mineral tambahannya yaitu andesit


hornblenda, andesit biotit dan andesit piroksen.
3.1.3 Sifat Kimia dan Fisika Andesit
Komposisi kimia dalam batuan andesit terdiri dari unsur-unsur, silikat,
alumunium, besi, kalsium, magnesium, natrium, kalium, titanium, mangan, fosfor
dan air.

Prosentasi kandungan unsur-unsur tersebut sangat berbeda di

beberapa tempat. Andesit berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan warna


dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan. Berbutir halus sampai
kasar, andesit mempunyai kuat tekan berkisar antara 600 2400 kg/cm 2 dan
berat jenis antara 2,3 2,7, bertekstur porfiritik, keras dan kompak. Contoh
komposisi kimia andesit seperti pada tabel 3.1.
Tabel 3.1
Komposisi Kimia Andesit
Senyawa

Komposisi (%)

SiO2

47,55

Al2O3

18,37

Fe2O3

8,19

CaO

7,11

MgO

2,25

Na2O

1,70

K2O

2,16

TiO2

0,59

MnO

0,22

P2O5

0,30

H2O

0,52

Sumber : Hasil Analisis Komposisi Kimia Andesit di Desa Kalirejo,


Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

3.2

Pengolahan Andesit

3.2.1

Alur Pengolahan Andesit


Pengolahan andesit yaitu bertujuan untuk mereduksi ukuran yang sesuai

dengan berbagai kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui unit


peremukan (crushing plant).

Tabel 3.2
Klasifikasi Crushing

Klasifikasi

1. Primay Crushing

Alat/mesin

Ukuran feed

Ukuran product

1. Jaw Crusher

12 60 inci

4 6 inci

2. Gyratory Crusher

12 60 inci

4 6 inci

6 8 inci

1/2 - 3/8 inci

3 inci

50 200 mesh

2.Secondary Crushing1. Cone Crusher


2. Roll Crusher
3. Gravity Stamp Mill
4. Hammer Mill

3.Tertiary
1. Ball Mill
Crushing/Fine Grinding
2. Tube Mill
3. Rod Mill

Sumber : Ir., H. S.L. Tobing Pengolahan Bahan Galian

Sedangkan secara singkat, tahapan pengolahan meliputi :


Peremukan dengan primary crusher seperti jaw crusher, cone crusher
atau gyratory crusher yang dilanjutkan dengan Secondary crusher.
Setelah

melalui

tahap

peremukan,

dilanjutkan

dengam

proses

pengangkutan menggunakan ban berjalan;


Pemisahan menggunakan pengayak (screen);
Penghalus ukuran dengan rotopactor.
3.2.2
a.

Primary Crusher, Giratory Crusher dan Secondary Crusher


Primary crusher (Jaw crusher)
Pengertian Jaw Crusher
Terdiri dari dua plat (crushing face) yang terbuat dari pelat baja, yang
berhadap-hadapan, membentuk sudut kecil ke arah bawah, dimana
salah satu pelat diam dan yang satu lagi dapat bergerak membuka dan
menutup seperti rahang binatang (jaw). Pelat jaw yang diam ditahan
pada crusher frame (rangka jaw crusher) disebut : fix crusher. Pelat
jaw yang satu lagi ditahan pada sumbunya sebelah atas dan dapat
bergerak sedikit mendekat dan menjauh dari fix jaw, disebut swing
jaw. Sedangkan Pengaturan Jaw Crusher meliputi lebar discharge,
throw dan kecepatan. Cara paling baik untuk menaksir biaya operasi
alat jaw crusher adalah dari data yang diberikan oleh pemakaian
power,perawatan dan keausan. Ketiga komponen tersebut mencakup
kurang lebih 90% dari biaya total. Efisiensi alat jaw crusher dinyatakan
dengan HP per ton atau KWH per ton produksi atau sebaliknya Ton
produksi per HP atau KWH.
Pengelompokan Jaw Crusher

Blake Type jaw Crusher : Swing Jaw tertahan pada porosnya


sebelah atas, sehingga apabila swing jaw bergerak membuka dan
menutup, maka amplitudo terbesar terdapat sebelah bawah.
Lubang penerimaan di bagian atas tetap ukurannya,sedang
lobang pengeluaran sebelah bawah berubah-ubah, sehingga
produk nya bervariasi.

Dodge Type Jaw Crusher : Swing jaw tertahan pada porosnya


sebelah bawah, sehingga amplitudo terbesar sebelah atas. Jadi
lobang

penerimaannya

berubah-ubah,sehingga

lobang

pengeluaran hampir tetap ukurannya,sehingga produknya pun


lebih rata ukurannya.

Universal Type jaw Crusher : Swing jaw tertahan dan berporos


dibagian tengah, sehingga lobang pengeluaran dapat berubahubah (sudah tidak dipakai).

Karakteristik jaw crusher

Ukuran jaw crusher biasanya ditentukan oleh ukuran dari receiving


opening (lobang penerimaan), yaitu gape x panjang receiving
opening (dalam inci, kecuali disebutkan satuan yang lain )

Semua jaw crusher mempunyai lobang pengeluaran (discherge


opening) yang dapat di atur, minimum closed setting biasanya 1/6
sampai 1/8 gape.

Ukuran umpan yang masuk ke dalam jaw crusher ditentukan oleh


ukuran gape, dimana tebal bongkahan terbesar yangmasuk ke
lubang penerimaan sebaiknya tidak melebihi 80 90 % dari gape
agar tidak ada proses pengeluaran,lepas dari gigitan jaws.

Kapasitas Jaw crusher ialah produk hasil pemecahan yang melalui


discharge opening per satuan waktu, dinyatakan dalam ton per
jam.

Faktor faktor yang memengaruhi kapasitas jaw crusher

Luas discharge opening pada open set

Sifat-sifat batuan

Moisture content (kadar air)

Throw

Frekwensi dari swing jaw

Nip anggle

Bentuk dan sifar permukaan Jaw plate

Cara memberi umpan (feeding)

Size reduction

b. Gyratory Crusher
Pengertian Gyratory Crusher
Tahap ini digunakan untuk memecah batuan berbongkah besar
maupun kecil, yaitu sebagai primary crushing dan secondary crushing,
mempunyai kapasitas yang lebih besar dibanding jaw crusher.
Gyratory crusher terdiri dari 2 conical shells (dinding berbentuk kerucut
terpancung) yang berdiri vertikal; dinding luar (outher shell) yang diam
tidak dapat bergerak dengan puncak kerucutnya di sebelah bawah,
sedang dinding dalam (inner shell) dengan puncaknya sebelah atas
dapat dibuat berkisar sambil berputar pada as - nya.
Gaya-gaya yang bekerja :

Gaya putaran dari crushing head

Gaya gesekan oleh berkisarnya crushing head

Gaya gesekan sesama butiran batuan

Gaya berat material

Beberapa keuntungan gyratory crusher dibanding jaw crusher :

Lubang bukaan (receiving opening) dan pengeluaran (discharge


opening) lebih luas, jadi kapasitasnya lebih besar.

Untuk kapasitas yang sama mesinnya lebih kecil.

Pemakaian tenaga lebih kecil.

Pemecahan/penghancuran terhadi terus menerus.

Kapasitas gyratory crusher 2 kapasitas jaw crusher untuk gape


yang sama.

Gyratory

crusher

dapat

menerima

umpan

dari

semua

arah,sedangkan jaw crusher hanya dari satu arah.

c. Secondary Crusher
Pada tahap Secondary Crusher dapat dilakukan dengan menggunakan
alat seperti dibawah ini :

Gyratory Cone Crusher : Merupakan modifikasi dari gyratory crusher,


perbedaan terdapat pada permukaan dari dinding luar yang tadinya
lurus, dibuat berbentuk cone dengan maksud untuk menambah fine
crushing zone dan memperbesar tempat pengeluaran. Selain itu

dinding

luar

penghancuran

sendiri

menjadi

sebelah

atas)

upper
yang

crushing
dapat

surface

terangkat

(daerah
jika

ada

penghalang yang tidak dapat dihancurkan masuk ke dalam alat.


Roll Crusher : Gaya yang bekerja yaitu gaya tangensial karena
perputaran silinder, gaya normal, gaya berat butiran. Sedangkan
kapasitas dihitung dengan rumus :
Gravity stamp mill
Hammer mills

3.3

Effisiensi Kerja
Effisiensi kerja adalah perbandingan antara waktu kerja efektif dengan

waktu yang tersedia. Waktu kerja produkti adalah waktu yang digunakan untuk
mengahasilkan produksi, berarti terdapat waktu-waktu yang seharusnya karena
adanya hambatan.
Pada umumnya efisiensi kerja dipengaruhi oleh keahlian operator,
keadaan peralatan, keadaan medan kerja, cuaca dan keadaan material. Adapun
hambatan yang tidak bias dihindari seperti melumasi kendaraan, memperbaiki
kerusakan kecil alat, memindahkan peralatan dan mempersiapkan front kerja.
Effisiensi kerja selalu berubah-ubah tergantung factor-faktor di atas dan jarang
sekali waktu yang digunakan dengan sebenar-benarnya.
Dengan demikian untuk menghitung effisiensi kerja dapat menggunakan
rumus sebagai berikut :

We
Wp
E =

x 100 %

Keterangan :
We

= Waktu kerja efektif (menit/hari)

Wp

= Waktu kerja Produktif (menit/hari)

Untuk mencari waktu kerja efektif bisa dihitung dengan menggunakan


rumus sebagai berikut :
We = Wp (Wn + Wu)
Keterangan :
We

= Waktu kerja efektif (menit/hari)

Wp

= Waktu kerja Produktif (menit/hari)

Wn

= Waktu hambatan yang disebabkan oleh faktor alat (menit/hari)

Wu

= Waktu hambatan yang disebabkan oleh faktor manusia (menit/hari)

Tabel 3.3
Klasifikasi Effisiensi Operator

Klasifikasi
Baik Sekali
Baik
Cukup
Buruk

Effisiensi Operator (%)


> 83
75-82
65-74
<64

Sumber : Ir. Partanto , Pemindahan Tanah Mekanis

3.4

Produksi Jaw Crusher dan Efektifitasnya


Untuk mengetahui jumlah suatu produk yang dihasilkan oleh suatu alat

jaw crusher maka dibawah ini adalah contoh perhitungan produksi jaw crusher
dapat dipakai dengan menggunakan rumus :

Produksi =

Tot al Ritase x Kapasitas Truck (ton/hari)


Waktu Kerja Efektif ( jam/hari)

Untuk menghitung efektifitas alat jaw crusher pada unit crushing plant ini
dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

EU=

3.5

Produksi Aktual
Produksi Teoritis

x 100%

Produksi Cone Crusher


Sedangkan untuk mengetahui produksi yang didapatkan oleh hasil

peremuk cone crusher dapat dihitung menggunakan rumus :

Produksi/hari = We x Kv (cone)
Dimana :
P

= produksi

We

= waktu kerja efektif (jam/hari)

Kv (cone) = Kapasitas cone crusher (ton/jam).