Anda di halaman 1dari 52

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Manajemen Keperawatan
II.1.1 Pengertian Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan adalah penggunaan waktu yang efektif, karena
manajemen adalah pengguna waktu yang efektif, keberhasilan rencana perawat
manajer klinis, yang mempunyai teori atau sistematik dari prinsip dan metode
yang berkaitan pada instusi yang besar dan organisasi keperawatan didalamnya,
termasuk setiap unit. Teori ini meliputi pengetahuan tentang misi dan tujuan dari
institusi tetapi dapat memerlukan pengembangan atau perbaikan termasuk misi
atau tujuan devisi keperawatan. Dari pernyataan pengertian yang jelas perawat
manajer mengembangkan tujuan yang jelas dan realistis untuk pelayanan
keperawatan (Swanburg, 2000).
Menurut Swanburg (2000), ketrampilan manajemen dapat diklasifikasikan
dalam tiga tingkatan yaitu:
a. Keterampilan intelektual, yang meliputi kemampuan atau penguasaan
teori, keterampilan berfikir.
b. Keterampilan teknikal meliputi: metode, prosedur atau teknik.
c. Keterampilan interpersonal, meliputi kemampuan kepemimpinan dalam
berinteraksi dengan individu atau kelompok.
II.1.2 Peran Manajer
Peran Manajer dapat mempengaruhi faktor motivasi dan lingkungan.Tetapi
faktor lain yang mungkin mempengaruhi tergantungnya tugas,khususnya
bagaimana manajer bekerja dalam suatu organisasi. Secara umum peran manajer
dapat dinilai dari kemampuannya dalam memotivasi dan meningkatkan kepuasan
staf. Kepuasan kerja staf dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan fisik, psikis,
dimana kebutuhan psikis tersebut dapat terpenuhi melalui peran manajer dalam
memperlakuka n stafnya. Hal ini dapat ditanamkan kepada manajer agar
diciptakan suasana keterbukaan dan memberikan kesempatan kepada staf untuk
melaksanakan tugas dengan sebaikbaiknya. Manajer mempunyai lima dampak
terhadap faktor lingkungan dalam tugas professional sebagaimana dibahas
sebelumnya:
a. Komunikasi
b. Potensial perkembangan
6

c. Kebijaksanaan
d. Gaji dan Upah
e. Kondisi kerja (Nursalam, 2002).
Menurut Rewland & Rewland (1997), ada dua belas kunci utama dalam
kepuasan

kerja

yaitu:

input,

hubungan manajer

dengan

staf, disiplin

kerja,lingkungan tempat kerja, istirahat dan makanan yang cukup, diskriminasi,


kepuasan kerja, penghargaan penampilan, klarifikasi kebijaksanaan, prosedur, dan
keuntungan, mendapatkan kesempatan, pengambilan keputusan, dan gaya
manajer.
II.1.3 Peran Kepala Ruangan
Adapun tanggung jawab kepala ruangan menurut Gillies (1994) adalah
peran kepala ruangan harus lebih peka terhadap anggaran rumah sakit dan kualitas
pelayanan keperawatan, bertanggung jawab terhadap hasil dari pelayanan
keperawatan yang berkwalitas, dan menghindari terjadinya kebosanan perawat
serta menghindari kemungkinan terjadinya saling melempar kesalahan. Kepala
ruangan disebuah ruangan keperawatan, perlu melakukan kegiatan koordinasi
kegiatan unit yang menjadi tanggung jawabnya dan melakukan kegiatan evaluasi
kegiatan penampilan kerja staf dalam upaya mempertahankan kualitas pelayanan
pemberian asuhan keperawatan.Berbagai metode pemberian asuhan keperawatan
dapat dipilih disesuaikan dengan kondisi dan jumlah pasien, dan kategori
pendidikan serta pengalaman staf diunit yang bersangkutan (Arwani, 2005).
II.1.4 Fungsi Kepala Ruangan
Adapun fungsi kepala ruangan menurut Marquis dan Houston (2000)
sebagai berikut:
a. Perencanaan : dimulai dengan penerapan filosofi, tujuan, sasaran,
kebijaksanaan, dan peraturanperaturan : membuat perencanaan jangka
pendek dan jangka panjang untuk mencapai visi, misi, dan tujuan,
organisasi,

menetapkan

biayabiaya

untuk

setiap

kegiatan

serta

merencanakan dan pengelola rencana perubahan.


b. Pengorganisasian: meliputi pembentukan struktur untuk melaksanakan
perencanaan, menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan kepada
pasien yang paling tepat, mengelompokkan kegiatan untuk mencapai
tujuan unit serta melakukan peran dan fungsi dalam organisasi dan
menggunakan power serta wewengan dengan tepat.

c. Ketenagaan: pengaturan ketegagaan dimulai dari rekruetmen, interview,


mencari, dan orientasi dari staf baru, penjadwalan, pengembangan staf,
dan sosialisasi staf.
d. Pengarahan : mencangkup tanggung jawab dalam mengelola sumber daya
manusia

seperti

motivasi

untuk

semangat,

manajemen

konflik,

pendelegasian, komunikasi, dan memfasilitasi kolaborasi.


e. Pengawasan meliputi penampilan kerja, pengawasan umum, pengawasan
etika aspek legal, dan pengawasan professional.Seorang manajer dalam
mengerjakan kelima fungsinya tersebut seharisehari akan bergerak dalam
berbagai bidang penjualan, pembelian, produksi, keuangan, personalia dan
lainlain.
II.1.5 Kepala Ruangan Sebagai Manager Keperawatan
Sebagai manajer keperawatan, uraian tugas kepala ruangan menurut depkes
(1994), adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi:
1) Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta tenaga lain
sesuai kebutuhan.
2) Merencanakan jumlah jenis peralatan perawatan yang diperlukan.
3) Merencanakan dan menentukan jenis kegiatan/ asuhan keperawatan
yang akan diselenggarakan sesuai kebutuhan pasien.
b. Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan, meliputi:
1) Mengatur dan mengkoordinasi seluruh kegiatan pelayanan di ruang
rawat.
2) Menyusun dan mengatur daftar dinas tenaga perawatan dan tenaga lain
sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan/peraturan yang berlaku
(bulanan, mingguan, harian)
3) Melaksanakan program orientasi kepada tenaga keperawatan satu atau
tenaga lain yamg bekerja di ruang rawat.
4) Memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga perawatan untuk
melaksanakan asuhan perawatan sesuai standart.
5) Mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada dengan cara bekerja
sama dengan sebagai pihak yang terlibat dalam pelayanan ruang rawat.
6) Mengenal jenis dan kegunaan barang peralatan serta mengusahakan
pengadaannya sesuai kebutuhan pasien agar tercapainya pelayanan
optimal.
8

7) Menyusun permintaan rutin meliput i kebutuhan alat, obat, dan bahan


lain yang diperlukan di ruang rawat.
8) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan agar selalu
dalam keadaan siap pakai.
9) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan inventaris peralatan.
10) Melaksanakan program orientasi kepada pasien dan keluarganya
meliputi tentang peraturan rumah sakit, tata tertib ruangan, fasilitas
yang ada dan cara penggunaannya
11) Mendampingi dokter selama kunjungan keliling untuk memeriksa
pasien dan mencatat program.
12) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat
untuk tingkat kegawatan, injeksi dan non injeksi, untuk memudah
pemberian asuhan keperawatan.
13) Mengadakan pendekatan kepada setiap pasien yang dirawat untuk
mengetahui keadaan dan menampung keluhan serta membantu
memecahkan masalah berlangsung.
14) Menjaga perasaan pasien agar merasa aman dan terlindungi selama
pelaksanaan pelayanan berlangsung.
15) Memberikan penyuluhan kesehatan terhadap pasien / keluarga dalam
batas wewenangnya.
16) Menjaga perasaan petugas agar merasa aman dan terlindungi selama
pelaksanaan pelayanan berlangsung
17) Memelihara dan mengembangkan sistem pencatatan data pelayanan
asuhan keperawatan dan kegiatan lain yang dilakuakan secara tepat
dan benar.
18) Mengadakan kerja sama yang baik dengan kepala ruang rawat inap
lain, seluruh kepala seksi, kepala bidang, kepala instansi, dan kepala
UPF di Rumah Sakit.
19) Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik antara petugas,
pasien dan keluarganya, sehingga memberi ketenangan.
20) Memberi motivasi tenaga nonkeperawatan dalam

memelihara

kebersihan ruangan dan lingkungan


21) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien ruangan.
22) Memeriksa dan meneliti pengisi daftar pemintaan

makanan

berdasarkan macam dan jenis makanan pasien kemudian memeriksa /


meneliti ulang saat pengkajiannya
23) Memelihara buku register dan bekas catatan medis

24) Membuat laporan harian mengenai pelaksanaan kegiatan asuhan


keperawatan serta kegiatan lain di ruangan rawat.
c. Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penelitian, meliputi:
1) Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah
ditentukan, melaksanakan penilaian terhadap uapaya peningkatan
pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan.
2) Melaksanakan penilaian dan mencantumkan kedalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai (D.P.3) bagi pelaksana keperawatan
dan tenaga lain di ruang yang berada di bawah tanggung jawabnya
untuk berbagai kepentingan (naik pangkat / golongan, melanjutkan
sekolah) mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan peralatan
perawatan serta obatobatan secara efektif dan efisien.
3) Mengawasi pelaksanaan system pencatatan dan pelaporan kegiatan
asuhan keperawatan serta mencatat kegiatan lain di ruang rawat.
II.1.6 Perawat Pelaksana
Dalam asuhan keperawatan sebagai perawat yang profesional salah satu
peran sebagai perawat pelaksana. Perawat sebagai pelaksana secara langsung
maupun tidak langsung memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
individu,keluarga, dan masyarakat. Peran perawat sebagai perawat pelaksana
perawat sebagai perawat pelaksana disebut Care Giver yaitu perawat
menggunakan metode pemecahan masalah dalam membantu pasien mengatasi
masalah kesehatan. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara
langsung atau tidak langsung (Praptianingsi, 2006) . Dalam melaksanakan peran
sebagai perawat pelaksana bertindak sebagai:
a. Comferter
Perawat mengupayakan kenyamanan dan rasa aman pasien (Praptianingsi,
2006). Menurut Potter & Perry (2005),peran sebagai pemberi kenyamanan
yaitu memberikan pelayanan keperawatan secara utuh bukan sekedar fisik
saja, maka memberikan kenyamanan dan dukungan emosi sering kali
memberikan kekuatan kepada klien untuk mencapai kesembuhan. Dalam
memberikan kenyamanan kepada klien, perawat dapat mendemonstrasikan
dengan klien.
b. Protector dan Advocat
10

Perawat berupaya melindungi pasien, mengupayakan terlaksananya hak


dan kewajiban pasien dalam pelayanan kesehatan (Praptianingsi, 2006).
Menurut Potter & Perry (2005),sebagai pelindung perawat membantu
mempertahankan lingku ngan yang aman bagi klien dan mengambil
tindakan untuk mencegah terjadi nya kecelakaan dan melindungi klien dari
kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik
atau pengobatan. Utnuk menjalankan tugas sebagai advokat, perawat
melindungi hak dan kewajiban klien sebagai manusia secara hukum, serta
membantu klien dalam menyatakan hakhaknya bila dibutuhkan. Perawat
juga melindungi hakhak klien melalui caracara yang umum dengan
penolakan aturan atau tindakan yang mungkin membahayakan kesehatan
klien atau menetang hakhak klien.
c. Communication
Perawat sebagai mediator antara pasien dan anggota tim kesehatan, hal ini
terkait dengan keberadaan perawatyang mendampingi pasien selama 24
jam untuk memberikan asuhan keperawatan dalam rangka upaya
pelayanan kesehatan di rumah sakit (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter
& Perry (2005), peran sebagai komunikator merupakan pusat dari seluruh
peran perawat pelaksana yang lain. Keperawatan mencakup komunikasi
dengan klien, keluarga, antara sesama perawat san profesi kesehatan
lainnya, sumber informasi dan komunitas. Memberikan perawatan yang
efektif, pembuatan keputusan dengan klien dan keluarga, memberikan
perlindungan

pada

klien

dari

ancaman

terhadap

kesehatannya,

mengokordinasi dan mengatur asuhan keperawatan dan lainlain tidak


mungkin dilakukan tanpa komunikasi yang jelas.
d. Rehabilitator
Perawat memberikan asuhan keparawatan adalah mengembalikan fungsi
organ atau bagian tubuh agar sembuh dan berfungsi normal. Rehabilitas
merupakan proses dimana individu kembali ketingkat fungsi maksimal
setelah

sakit,

kecelakaan,

atau

kejadian

yang

menimbulkan

ketidakberdayaan lainnya. Rentang aktivitas rehabilitas dan restoratif

11

mulai dari mangajar klien berjalan dengan menggunakan alat pembantu


berjalan sampai membantu klien mengatasi perubahan gaya hidup yang
berkaitan dengan penyakit kronis (Potter & Perry, 2005)
II.2 Kepemimpinan
II.2.1 Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh
kepada perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun tidak. Seorang
manajer ingin kepemimpinan lebih efektif, ia harus mampu memotivasi diri
sendiri untuk bekerja dan banyak membaca, memiliki kepekaan yang tinggi
terhadap permasalahan organisasi, menggerakkan stafnya agar mereka mampu
melaksanakan tugastugas pokok organisasi sesuai dengan kewenangan yang
diberikan kepadanya dan tanggung jawab yang melekat pada setiap tugas
(Muninjaya, 1999). Menurut Gillies (1994), dalam Arwani (2006), mendefinisikan
kepemimpinan berdasarkan kata kerjanya, yaitu to lead,yang mempunyai arti
beragam, seperti untuk memandu (to guide), untuk menjalankan dalam arah
tertentu (to run in a specific direction), untuk mengarahkan (to direct), berjalan
didepan (to go at the head of), menjadi yang pertama (to be first),membuka
permainan (to open play), dan cenderung kehasil yang pasti (to tend toward a de).
Pemimpin yang efektif adalah seorang katalisator dalam memudahkan
interaksi yang efektif di antara tenaga kerja, bahan, dan waktu. Seorang pemimpin
yang efektif adalah seorang pembangkit tenaga (sinergis) yang menyatukan usaha
banyak pekerja dengan bermacammacam ketrampilan. Kepemimpinan adalah
sebuah hubungan dimana satu pihak memiliki kemampuan lebih besar untuk
menunjukkan dan mempengaruhi perilaku yang lain dibandingkan dengan
dia,jadi, fungsi pemimpin berdasarkan pada perbedaan kekuasaan antara pihak
pihak yang terlibat. Dalam setiap perusahaan kerja sama memerlukan usaha
banyak orang atau pekerja, pemimpin dibutuhkan untuk meluruskan pegawai
dalam rangka mendukung tujuan organisasional. Untuk memulai usaha kelompok
kepada akhir yang diinginkan, mencampur dan menipang usaha berbagai tenaga
ahli (Gillies, 1989).
Kepemimpinan adalah perpaduan berbagai perilaku yang dimiliki seseorang
sehingga orang tersebut mempunyai kemampuan untuk mendorong orang lain
bersedia dan dapat menyelesaikan tugas-tugas tertentu yang dipercayakan
12

kepadanya (Ordway Tead). Kepemimpinan adalah hubungan yang tercipta dari


adanya pengaruh yang dimiliki seseorang terhadap orang lain sehingga orang lain
tersebut secara sukarela mau dan bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan
yang diinginkan (Georgy R. Terry).Kepemimpinan adalah suatu proses yang
mempengaruhi aktifitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu situasi tertentu (Paul Hersay, Ken
Blanchard).
Dapat dipahami dari empat batasan diatas bahwa kepemimpinan akan
muncul apabila ada seseorang yang karena sifat-sifat dan perilakunya mempunyai
kemampuan untuk mendorong orang lain untuk berpikir, bersikap, dan ataupun
berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dikutip dari Swanburg (2001) menyatakan ada empat variabel besar yang
diketahui sekarang untuk memahami kepemimpinan:
a. Karakteristik pimpinan
b. Sikap, kebutuhan dan karakteristik lainnya dari bawahan
c. Karakteristik dari organisasi, seperti tujuan, sruktur organisasi, keadaan
asli, keadaan organisasi yang akan dibentuk
d. Keadaan sosial,ekonomi, dan politik lingkungan. Mc Gregor menyatakan
bahwa kepemimpinan merupakan hubungan yang sangat kompleks yang
selalu berubah dengan waktu seperti perubahan yang terjadi pada
manajemen, serikat kerja, atau kekuatan dari luar.
II.2.2 Teori-teori Kepemimpinan
a. Teori Trait (Bakat)
Teori ini menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin (pimpinan
dibawa sejak lahir bukan didapatkan) dan mereka mempunyai karakteristik
tertentu yang membuatmereka lebih baik dari orang lain, teori ini disebut
dengan Great Man Theory. Banyak peneliti tentang riwayat kehidupan
Great Man Theory. Tetapi menurut teori kontemporer, kepemimpinan
seseorang dapat dikembangkan bukan hanya pembawa sejak lahir, dimana
teori trait mengabaikan dampak atau pengaruh dari siapa pengasuh.
Situasi, dan lingkungan lainnya (Marqus dan Huston,1998 dalam Arwani
2006). Swanburg (2001) menyatakan ciriciri pemimpin menurut teori
bakat adalah:
1) Inteligensi : Sifat yang berhubungan dengan inteligensi termasuk
pengetahuan, ketegasan, dan kelancaran berbicara. Menyadari bahwa

13

pengetahuan dan kompetensi dalam pekerjaan tertentu adalah salah


satu faktor terpenting dalam keefektifan pemimpin
2) Kepribadian : sifat kepribadian seperti kemampuan beradaptasi,
kepercayaan diri, kreativitas dan integritas personal dihubungkan
dengan kepemimpinan yang efektif. Seorang pemimpin adalah orang
yang efektif mengetahui bagaimana memotivasi semangat kerja para
pekerja untuk mencapai tujuan organisasi
3) Kemampuan : Seorang pemimpin mempunyai cukup kepopuleran,
kemasyuran, dan keterampilan interpersonal untuk memberikan
symbol, memperluas, memperdalam kesatuan kolektif diantara
anggotanya dalam system tersebut.
b. Teori Perilaku Nursalam (2002)
Menyatakan bahwa teori perilaku lebih menekankan kepada apa yang
dilakukan pemimpin dan bagaimana seorang manajer menjalankan
fungsinya. Perilaku sering dilihat sebagai suatu rentang dari sebuah
perilaku otoriter ke demokrat atau dari fokus suatu produksi ke fokus
pegawai. Tentang teori prilaku terdapat teori X dan teori Y dari McGregor
yang dihubungkan dengan motivasi dari Moslow yang menyatakan bahwa
setiap manusia merupakan kehidupan individu secara keseluruhan yang
mengadakan interaksi dengan dunia individu lain (Swanburg, 2000).
c. Teori situasi
Bertolak belakang dengan teori bakat ialah teori situasi (situasional
theory). Teori ini muncul sebagai hasil pengamatan, dimana seseorang
sekalipun bukan keturunan pemimpin, ternyata dapat pula menjadi
pemimpin yang baik. Hasil pengamatan tersebut menyimpulkan bahwa
orang biasa yang jadi pemimpin tersebut adalah karena adanya situasi
yang menguntungkan dirinya, sehingga ia memiliki kesempatan untuk
muncul sebagai pemimpin.
d. Teori Ekologi.
Sekalipun teori situasi kini banyak dianut, dan karena itu masalah
kepemimpinan banyak menjadi bahan studi, namun dalam kehidupan
sehari-hari sering ditemukan adanya seorang yang setelah berhasil
dibentuk menjadi pemimpin, ternyata tidak memiliki kepemimpinan yang

14

baik. Hasil pengamatan yang seperti ini melahirkan teori ekologi, yang
menyebutkan bahwa seseorang memang dapat dibentuk untuk menjadi
pemimpin, tetapi untuk menjadi pemimpin yang baik memang ada bakatbakat tertentu yang terdapat pada diri seseorang yang diperoleh dari alam.
II.2.3 Kegiatan Kepemimpinan
Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencakup banyak hal.
Kegiatan

tersebut

mencakup

cara

mengarahkan,

menunjukkan

jalan,

mensupervisi, mengawasi tindakan anak buah, mengkoordinasikan kegiatan yang


sedang atau akan dilakukan, dan mempersatukan usaha dari berbagai individu
yang memiliki karakteristik yang berbeda. Dari semua aktivitas, mengarahkan
adalah yang paling sulit. Untuk memimpin bawahan sepanjang jalan tindakan
yang telah ditetapkan, seorang pemimpin harus memiliki pandangan gambaran
akhir yang jelas, harus terbiasa dengan kemampuan dan memotivasi bawahan, dan
harus menghargai pengeluaran waktu dan usaha mengikuti jalan yang telah
ditetapkan.
Mengarahkan orang lain adalah transaksi yang rumit karena hal ini
menempatkan si pemimpin di dalam peran otoriter. Mengawasi merupakan
kegiatan yang termudah karena tanggung jawab supervisor sendiri mendatangkan
keingintahuan dan perhatian mengenai kontribusi bawahan. Akhirnya koordinasi
merupakan kegiatan kepemimpinan yang sangat penting karena kecuali usaha
semua pegawai disatukan dan difokuskan jelas pada tujuan kelembagaan, tenaga
ahli yang bermacammacam bias bekerja pada maksud yang sama satu sama lain
(Gillies, 1989)
II.2.4 Gaya Kepemimpinan
Gaya adalah sebagai cara penampilan karakteristik atau tersendiri /khusus.
Follet (1940) mendefinisikan gaya sebagai hak istimewa tersendiri dari si ahli,
dengan hasil akhirnya tanpa menimbulkan isu sampingan. Gillies (1970) dalam
Nursalam (2000) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat diidentifikasikan
berdasarkan perilaku pimpinan itu sendiri. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh
adanya pengalaman bertahuntahun dalam kehidupannya. Oleh karena itu,
kepribadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan.
Gaya kepemimpinan cenderung sangat bervariasi dan berbedabeda.

15

Gaya yang dikembangkan oleh seorang pemimpin dipengaruhi oleh tiga


faktor utama. Ketiganya akan menentukan sejauh mana ia akan melakukan
pengawasan terhadap kelompok yang dipimpin. Faktor kekuatan yang pertama
bersumber pada dirinya sendiri sebagai pemimpin. faktor kedua bersumber pada
kelompok yang dipempin, dan faktor yang ketiga tergantung pada situasi
(Muninjaya, 1999). Secara mendasar gaya kepemimpinan dibedakan atas empat
macam berdasarkan kekuasaan dan wewenang, yaitu otokratik, demokratik,
participation, dan laisezfaire atau free rain
a. Gaya kepemimpinan autokratis
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau pekaryaan.
Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam memimpin dengan
cara otoriter, mempertanggung jawab untuk semua perencanaan tujuan dan
pembuatan keputusan serta memotivasi bawahannya dengan menggunakan
sanjungan, kesalahan, dan penghargaan. Pemimpin menetukan semua
tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan (Gillies, 1986).
Seorang pemimpin yang menggunakan gaya ini biasanya akan
menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan seluruh kegiatannya
dan

memerintah

seluruh

anggotanya

untuk

mematuhi

dan

melaksanakannya (DepKes, 1990).


b. Gaya kepemimpinan demokratis
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap
staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong
ideide dari staf, memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri.
Membuat

perencanaan,mengontrol

dalam

penerapannya,

informasi

diberikan seluasluasnya dan terbuka (Nursalam, 2002). Prinsipnya


pemimpin melibatkan kelompok dalam pengambilan keputusan dan
memberikan tanggung jawab pada karyawannya (La Monica, 1986).
c. Gaya kepemimpinan Partisipatif
Merupakan gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan
demokratis. Dalam pemimpin partisipatif manajer menyajikan analisa
masalah dan mengusulkan tindakan kepada

para anggota kelompok,

mengundang kritikan dan komentar mereka. Dengan menimbang jawaban

16

bawahan atas usulannya, manajer selanjutnya membuat keputusan final


bagi tindakan oleh kelompok tersebut (Gillies, 1986).
d. Gaya kepemimpinan Laisserz Faire disebut juga bebas tindak atau
membiarkan
Merupakan pimpinan ofisial, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa
pangarah, supervisi, dan koordinasi. Staf / bawahan mengevaluasi
pekaryaan sesuai dengan cara sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber
informasi dan pengendali secara minimal atau sebagai fasilitator
(Nursalam.2002).
II.2.5 Kepemimpinan yang Efektif
Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pemimpin yang dapat
mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sama untuk mencapai hasil yang
memuaskan bagi terjadinya perubahan yang bermanfaat. Ada beberapa
kepemimpinan yang efektif antara lain menurut :
a. Ruth M. Trapper (1989) membagi menjadi 5 komponen :
1) Menentukan tujuan yang jelas, cocok, dan bermakna bagi kelompok.
Memilih pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan dan dalam
bidang profesinya.
2) Memiliki kesadaran diri dan menggunakannya untuk memahami
kebutuhan sendiri serta kebutuhan orang lain.
3) Berkomunikasi dengan jelas dan efektif.
4) Mengerahkan energi yang cukup untuk kegiatan kepemimpinan.
5) Mengambil tindakan.
b. Hellander (1974)
Dikatakan efektif apabila pengikutnya melihat pemimpin sebagai seorang
yang bersama-sama mengidentifikasi tujuan dan menentukan alternatif
kegiatan.
c. Bennis (Lancaster dan Lancaster, 1982)
1) Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem
manusia (hubungan antar manusia)
2) Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan
bawahan.

17

3) Mempunyai kemampuan hubungan antar manusia, terutama dalam


mempengaruhi orang lain
4) Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan
seseorang mengenal orang lain dengan baik.
d. Gibson (Lancaster dan Lancaster, 1982).
Seorang pemimpin harus mempertimbangkan hal berikut, yaitu :
1) Kewaspadaan diri
Kewaspadaan diri berarti menyadari bagaimana seorang pemimpin
mempengaruhi orang lain. Kadang seorang pemimpin merasa ia sudah
membantu orang lain, tetapi sebenarnya justru telah menghambatnya.
2) Karakteristik kelompok
Seorang pemimpin harus memahami karakteristik kelompok meliputi :
norma, nilai-nilai kemampuannya, pola komunikasi, tujuan, ekspresi dan
keakraban kelompok.
3) Karakteristik individu.
Pemahaman tentang karakteristik individu juga sangat penting karena
setiap individu unik dan masing-masing mempunyai kontribusi yang
berbeda.
II.2.6 Pimpinan dan Kekuasaan
Menurut Gardner yang dikutip oleh Russel (2000) mendefinisikan
kekuasaan sebagai suatu kapasitas uuntuk memastikan hasil dari suatu keinginan
dan untuk menghambat mereka yang tidak mempunyai keinginan.
Dasar-dasar kekuasaan Franch dan Raven mengemukakan lima dasar
kekuasaan interpersonal, yaitu :
a. Kekuasaan legitimasi.
Kekuasaan yang sah adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
sehubungan dengan posisinya. Kekuasaan legitimasi tidak tergantung
kepada bawahan. Seseorang dengan posisi yang lebih tinggi dalam
organisasi mempunyai kekuasaan pada orang-orang yang di bawahnya.
b. Kekuasaan penghargaan.
Pimpinan yang menggunakan kekuasaan legitimasi dapat menggunakan
penghargaan untuk memperoleh kerja sama dari bawahan. Bawahan
mungkin akan menanggapi petunjuk atau permintaan apabila pimpinan
18

dapat menyediakan penghargaan yang bernilai, misalnya: kenaikan gaji,


pemberian bonus, pemberian hari libur dan lain-lain
c. Kekuasaan paksaan
Kekuasaan paksaan adalah kekuasaan dengan hukuman. Bawahan akan
tunduk karena ketakutan. Walaupun kekuasaan paksaan mungkin digunakan
untuk memperbaiki perilaku yang tidak produktif dalam organisasi, namun
seringkali menghasilkan akibat yang sebaliknya
d. Kekuasaan kharisma
Seseorang pemimpin yamg kharismatik dapat mempengaruhi orang karena
benar-benar dari pribadi dan tingkah laku dari pimpinan tersebut
e. Kekuasaan ahli.
Seseorang yang mempunyai keahlian khusus mempunyai nilai yang lebih
tinggi.
II.2.7 Pimpinan dan kepemimpinan
Manajer atau kepemimpinan adalah orang yang bertugas melakukan proses
atau fungsi manajemen. Berdasarkan hierarki tugasnya pimpinan dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Pimpinan tingkat pertama (Lower Manager)
Pimpinan yang langsung berhubungan dengan para pekerja yang
menjalankan mesin peralatan atau memberikan pelayanan langsung pada
konsumen. Pimpinan ini diutamakan memiliki proporsi peranan technical
skill yang terbesar dan konseptual skill yang terkecil.
b. Pimpinan tingkat menengah (Middle Manager).
Pimpinan yang berada satu tingkat diatas Lower Manager. Pimpinan ini
menjadi saluran informasi dan komunikasi timbal balik antara Lower
Manager dan Top Manager, yakni pimpinan puncak (diatas Middle
Manager) sehingga pimpinan ini diutamakan memiliki kemampuan
mengadakan hubungan antara keduanya.
Konseptual skill adalah keterampilan dalam penyusunan konsep-konsep,
identifikasi, dan penggambaran hal-hal yang abstrak. Sedangkan
techmnical skill adalah ketrampilan dalam melakukan pekerjaan secara

19

teknik. Hubungan antara manusia merupakan ketrampilan dalam


melakukan komunikasi dengan sesama manusia lain.
c. Pimpinan puncak (Top Manager)
Pimpinan puncak adalah manajer yang menduduki kewenangan organisasi
tertinggi dan sebagai penanggung jawab utama pelaksanaan administrasi.
Pimpinan ini memiliki proporsi peranan konseptual skill yang terbesar dan
technical skill yang terkecil.
II.3 Pasien Safety
II.3.1 Keselamatan Pasien
Sejak awal tahun 1900 Institusi rumah sakit selalu meningkatkan mutu pada
3 (tiga) elemen yaitu struktur, proses dan outcome dengan bermacam-macam
konsep dasar, program regulasi yang berwenang misalnya antara lain penerapan
Standar Pelayanan Rumah Sakit, penerapan Quality Assurance, Total Quality
Management,

Countinuos

Quality

Improvement,

Perizinan,

Akreditasi,

Kredensialing, Audit Medis, Indikator Klinis, Clinical Governance, ISO, dan lain
sebagainya. Harus diakui program-program tersebut telah meningkatkan mutu
pelayanan rumah sakit baik pada aspek struktur, proses maupun output dan
outcome. Namun harus diakui, pada pelayanan yang telah berkualitas tersebut
masih terjadi KTD yang tidak jarang berakhir dengan tuntutan hukum. Oleh sebab
itu perlu program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena KTD
sebagian dapat merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya
dapat dicegah melalui rencana pelayanan yang komprehensif dengan melibatkan
pasien berdasarkan hak-nya. Program tersebut yang kemudian dikenal dengan
istilah keselamatan pasien (patient safety).
Dengan meningkatnya keselamatan pasien rumah sakit diharapkan
kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit dapat meningkat. Selain
itu keselamatan pasien juga dapat mengurangi KTD, yang selain berdampak
terhadap peningkatan biaya pelayanan juga dapat membawa rumah sakit ke arena
blamming, menimbulkan konflik antara dokter/petugas kesehatan dan pasien,
menimbulkan sengketa medis, tuntutan dan proses hukum, tuduhan malpraktek,
blow-up ke mass media yang akhirnya menimbulkan opini negatif terhadap
pelayanan rumah sakit, selain itu rumah sakit dan dokter bersusah payah
melindungi dirinya dengan asuransi, pengacara dsb. Tetapi pada akhirnya tidak

20

ada pihak yang menang, bahkan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap


pelayanan rumah sakit.
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana
rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi :
assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan
risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan
tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko.
Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan
yang seharusnya dilakukan.
Tujuan keselamatan pasien (Pasien Safety) yaitu terciptanya budaya
keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatnya akutanbilitas rumah sakit
terhadap pasien dan masyarakat, menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di
rumah sakit, terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
II.3.2 Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu
ditangani segera di rumah sakit di Indonesia maka diperlukan standar keselamatan
pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di Indonesia untuk
melaksanakan kegiatannya. Standar keselamatan pasien rumah sakit yang disusun
ini mengacu pada Hospital Patient Safety Standards yang dikeluarkan oleh
Joint Commision on Accreditation of Health Organizations, Illinois, USA, tahun
2002, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia.
II.3.3
a.
b.
c.
d.

Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu :


Hak pasien
Mendidik pasien dan keluarga
Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan

evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien


e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien
II.3.4 Uraian tujuh standar tersebut diatas adalah sebagai berikut :

21

Standar I. Hak pasien


Standar :
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang
rencana dan hasil
pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan.
Kriteria :
a. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.
b. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
c. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara
jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan.
Standar II. Mendidik pasien dan keluarga
Standar :
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien
Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan
pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di rumah
sakit harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang
kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.


Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit.
Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan


Standar :
Rumah Sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar
tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria :

22

a. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien


masuk,

pemeriksaan,

diagnosis,

perencanaan

pelayanan,

tindakan

pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit


b. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien
dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada
seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan
lancar.
c. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi
untuk memfasilitasidukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan
sosial, konsultas dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut
lainnya.
d. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan
efektif.
Standar IV. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Standar :
Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis
secara intensif Kejadian tidak Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria :
a. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik,
mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas
pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan
faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
b. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara
lain terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen risiko,
utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
c. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan semua
Kejadian tidak diharapkan, dan secara proaktif melakukan evaluasi satu
proses kasus risiko tinggi.

23

d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil
analisis untuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja
dan keselamatan pasien terjamin.
Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Standar :
a. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan
pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit .
b. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi
Kejadian tidak diharapkan.
c. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
d. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan
keselamatan pasien.
e. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.
Kriteria :
a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis Kejadian yang
memerlukan perhatian, mulai dari Kejadian Nyaris Cedera (Near miss)
sampai dengan Kejadian Tidak Diharapkan ( Adverse event).
c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari
rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan
pasien.
d. Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan
kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain
dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan
insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang

24

Analisis Akar Masalah (RCA) Kejadian Nyaris Cedera (Near miss) dan
Kejadian Sentinel pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan.
f. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya
menangani Kejadian Sentinel (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif
untuk memperkecil risiko, termasuk mekanisme untuk mendukung staf
dalam kaitan dengan Kejadian Sentinel.
g. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan
antar pengelola pelayanan di dalam rumah sakit dengan pendekatan antar
disiplin.
h. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien,
termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut.
i. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan
kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah
sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan
implementasinya.
Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standar :
a. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas
b. Rumah sakit

menyelenggarakan

pendidikan

dan

pelatihan

yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta


mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
Kriteria :
a. Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan
orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai
dengan tugasnya masing-masing.
b. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien
dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas
tentang pelaporan insiden.

25

c. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama


kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan
kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai


keselamatan pasien
Standar :
a. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal.
b. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
Kriteria :
a. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait
dengan keselamatan pasien.
b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada
II.3.5 Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Mengacu kepada standar keselamatan pasien pada bab III, maka rumah sakit
harus mendesign (merancang) proses baru atau memperbaiki proses yang ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis
secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Proses perancangan tersebut harus
mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas
pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktorfaktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan Tujuh Langkah
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Berkaitan hal tersebut diatas maka perlu ada
kejelasan perihal tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit tersebut.
Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah
sebagai berikut :
1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
26

Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.


Langkah penerapan:
a.

Bagi Rumah Sakit :


1) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang mejabarkan apa yang
harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden, bagaimana langkahlangkah pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang
harus diberikan kepada staf, pasien dan keluarga
2) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang menjabarkan peran dan
akuntabilitas individual bilamana ada insiden
3) Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang terjadi di
rumah sakit.
4) Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian keselamatan

pasien.
b. Bagi Unit/Tim :
1) Pastikan rekan sekerja anda merasa mampu untuk berbicara mengenai
kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana ada insiden
2) Demonstrasikan kepada tim anda ukuran-ukuran yang dipakai di
rumah sakit anda untuk memastikan semua laporan dibuat secara
terbuka

dan

terjadi

proses

pembelajaran

serta

pelaksanaan

tindakan/solusi yang tepat.


2. Pimpin dan dukung staf anda
Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan
Pasien di rumah sakit anda.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Pastikan ada anggota Direksi atau Pimpinan yang bertanggung jawab
atas Keselamatan Pasien
2) Identifikasi di tiap bagian rumah sakit, orang-orang yang dapat
diandalkan untuk menjadi penggerak dalam gerakan Keselamatan
Pasien
3) Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda rapat Direksi/Pimpinan
maupun rapat-rapat manajemen rumah sakit

27

4) Masukkan Keselamatan Pasien dalam semua program latihan staf


rumah sakit anda dan pastikan pelatihan ini diikuti dan diukur
efektivitasnya.
a. Untuk Unit/Tim :
1) Nominasikan penggerak dalam tim anda sendiri untuk memimpin
Gerakan Keselamatan Pasien
2) Jelaskan kepada tim anda relevansi dan pentingnya serta manfaat bagi
mereka dengan menjalankan gerakan Keselamatan Pasien
3) Tumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan insiden.

3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko


Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan
asesmen hal yang potensial bermasalah.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Telaah kembali struktur dan proses yang ada dalam manajemen risiko
klinis dan non klinis, serta pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi
dengan Keselamatan Pasien dan Staf
2) Kembangkan indikator-indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko
yang dapat dimonitor oleh Direksi/Pimpinan rumah sakit
3) Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem
pelaporan insiden dan asesmen risiko untuk dapat secara proaktif
meningkatkan kepedulian terhadap pasien.
b. Untuk Unit/Tim :
1) Bentuk forum-forum dalam rumah sakit untuk mendiskusikan isu-isu
Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik kepada manajemen
yang terkait
2) Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses asesmen
risiko rumah sakit
3) Lakukan proses asesmen risiko secara teratur, untuk menentukan
akseptabilitas setiap risiko, dan ambillah langkah-langkah yang tepat
untuk memperkecil risiko tersebut
4) Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai masukan ke proses
asesmen dan pencatatan risiko rumah sakit.
4. Kembangkan sistem pelaporan

28

Pastikan staf Anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian/ insiden, serta
rumah sakit mengatur pelaporan kepada Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(KKPRS).
Langkah penerapan :
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden ke dalam
maupun ke luar, yang harus dilaporkan ke KPPRS - PERSI.
b. Untuk Unit/Tim :
1) Berikan semangat kepada rekan sekerja anda untuk secara aktif
melaporkan setiap insiden yang terjadi dan insiden yang telah dicegah
tetapi tetap terjadi juga, karena mengandung bahan pelajaran yang penting.
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.
Langkah penerapan :
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang secara jelas menjabarkan
cara-cara komunikasi terbuka tentang insiden dengan para pasien dan
keluarganya
2) Pastikan pasien dan keluarga mereka mendapat informasi yang benar dan
jelas bilamana terjadi insiden
3) Berikan dukungan, pelatihan dan dorongan semangat kepada staf agar
selalu terbuka kepada pasien dan keluarganya.
b. Untuk Unit/Tim :
1) Pastikan tim anda menghargai dan mendukung keterlibatan pasien dan
keluarganya bila telah terjadi insiden
2) Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga bilamana terjadi
insiden, dan segera berikan kepada mereka informasi yang jelas dan benar
secara tepat
3) Pastikan, segera setelah kejadian, tim menunjukkan empati kepada pasien
dan keluarganya.
II.4 Prinsip Pemberian Obat Penerapan Tujuh Benar Dalam Menunjang
Medication Safety (bagi dokter, farmasis dan perawat)
II.4.1 Benar Pasien

29

Sebelum obat diberikan identitas pasien harus diperiksa (papan identitas


ditempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau
keluarga pasien. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non
verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup
mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari
identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarga pasien. Bayi
harus selalu diidentifikasi dari gelang identitas.
II.4.2 Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generic. Setiap obat dengan nama
dagang yang asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa dengan nama
generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan generiknya atau
kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau
kemasannya harus diperiksa 3 kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan
botolnya diambil dari rak obat, kedua, label botol dibandingkan dengan obat yang
diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika label tidak terbaca, isinya tidak
boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi. Jika pasien meragukan
obatnya, perawat harus memriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat
untuk apa obat itu diberikan ini membantu nama obat dan kerjanya.

II.4.3 Benar Dosis Obat


Sebelum memberi obat, Perawat harus memberikan dosisnya. Jika ragu
perawat harus berkonsultasi dengan dokter menulis resep atau apoteker sebelum
dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksa
lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda
tiap ampul atau tabletnya seperti ondansentron 1 Ampul dosisnya berapa? Ini
penting karena 1 ampul ondansentron dosisnya ada 4 mg dan 8 mg. Ada antibiotic
1 vial dosisnya 1 gr, ada juga vial 500 mg jadi perawat harus hati-hati dan teliti.
II.4.4 Benar Cara atau Rute
Obat dapat diberikan melalui rute yang berbeda. Faktor yang menentukan
pemberian rute yang terbaik adalah ditentukan oleh keadaan umun pasien,
kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dam fisik obat, serta tempat kerja

30

yang diinginkan. Obat dapat diberikan per oral, sublingual, parenteral, topical,
rektal, inhalasi.
a. Oral adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai,
karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat juga dapat di absorpsi
melalui rongga mulut (sublingual atau bukal seperti tablet ISDN).
b. Parenteral adalah kata ini berasa dari yunani para berati disamping, Enteron
berarti usus, jadi Parenteral berarti diluar usus atau tidak melalui saluran
cerna, yaitu vena ( preset/perinfus)
c. Topical yaitu pemberian obat melalui kulit atau membrane mukosa.
Misalnya salep, lotion krim, tetes mata, spray.
d. Rektal, obat dapat diberikan melalui rutew rektal berupa enema atau
supositoria yang akan mencair pada suhu badan tubuh.
II.4.5 Benar Waktu
a. Sesuai waktu yang ditentukan: sebelum makan, setelah makan, saat makan.
perhatikan waktu pemberian:
3x sehari tiap 8 jam
2x sehari tiap 12 jam
Sehari sekali tiap 24 jam
Selang sehari tiap 48 jam
b.
Obat segera diberikan setelah diinstruksikan oleh dokter.
c.
Belum memasuki masa kadaluarsa obat.
II.4.6 Benar Dokumentasi
a. Setiap perubahan yang terjadi pada pasien setelah mendapat obat harus
didokumentasikan.
b. Setiap dokumen klinik harus ada bukti nama dan tanda tangan/ paraf yang
melakukan.
c. Setelah memberikan obat, langsung di paraf dan diberi nama siapa yang
memberikan obat tersebut.
d. Setiap perubahan jenis/ dosis/ jadwal/ cara pemberian obat harus diberi
nama & paraf yang mengubahnya.
e. Jika ada coretan yang harus dilakukan: buat hanya satu garis dan di paraf di
ujungnya:
Contoh:
Lasix tab, 1 x 40 mg Jcmd Lasix inj, 1 x 40 mg iv.
f. Dokumentasikan respon pasien terhadap pengobatan: Efek Samping Obat
(ESO) dicatat dalam rekam medik & Form Pelaporan Insiden + Formulir
31

Pelaporan Efek Samping Obat. Pelaporan Insiden dikirim ke Tim


Keselamatan Pasien di Unit Pelayanan Jaminan Mutu. Pelaporan Efek
Samping Obat dikirim ke Komite Farmasi dan Terapi.
g. Dokumentasikan Kejadian Nyaris Cedera terkait pengobatan Form
Pelaporan Insiden ke Tim Keselamatan Pasien.
h. Dokumentasikan Kejadian Tidak Diharapkan Form Pelaporan Insiden ke
Tim Keselamatan Pasien.
II.4.7 Benar Informasi
a. Semua rencana tindakan/ pengobatan harus dikomunikasikan pada pasien &
atau keluarganya, termasuk pasien di ICU (hak pasien!).
b. Jelaskan tujuan & cara mengkonsumsi obat yang benar.
c. Jelaskan efek samping yang mungkin timbul.
d. Rencana lama terapi juga dikomunikasikan pada pasien.
e. Tips: semua informasi yang telah diberikan pada pasien & keluarganya ini
ditulis dalam Form Penjelasan & Pendidikan Dokter kepada Pasien yang
ada di dalam paket rekam medik dan ditandatangani oleh dokter dan pasien/
keluarga pasien.
II.5 Infeksi Nosokomial
II.5.1Pengertian Infeksi Nosokomial
Menurut Paren (2006) pasien dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika
pada saat masuk belum mengalami infeksi kemudian setelah dirawat selama 48-72
jam klien menjadi terinfeksi. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang
bersumber dari rumah sakit atau infeksi yang terdapat di sarana kesehatan,
Sabarguna (2007).
Ciri-ciri infeksi nosokomial antara lain: saat masuk rumah sakit tidak ada
tanda gejala atau tidak dalam masa inkubasi infeksi tersebut, infeksi terjadi
minimal 3x24 jam setelah pasien di rumah sakit. Lokasi yang disebabkan oleh
mikroorganisme berbeda, Sabarguna (2007).
II.5.2 Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial
Penyebab utama yang menyebabkan

infeksi

nosokomial

adalah

Streptococcus alpha herniolyticus dan Staphylococcus epidermidis. Dalam

32

beberapa dekade ini infeksi nosokomial disebabkan oleh Staphylococcus


epidermidis makin sering terjadi, terutama pada pasien yang diberi terapi
kortikosteroida, bakteri ini bersifat oportunitis (Reksodipuro, et.al, 1996). Bakteri
escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih,
sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit kebanyakan disebabkan oleh
gram negatif. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang
menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru,
jantung, dan infeksi pembuluh darah serta resisten terhadap antibiotika
(Utama,2006).

II.5.3 Jenis Infeksi Nosokomial


Muhlis (2006) dan Isselbacher, et.at (1999) dalam bukunya menyebutkan
infeksi nosokomial yang sering ditemukan antara lain:
a. Infeksi saluran kemih
Merupakan infeksi nosokomial yang paling sering sekitar 40% dari infeksi
nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin,
bakteri yang menginfeksinya adalah E.coli.
b. Infeksi pada saluran operasi
Infeksi luka operasi menyebabkan sekita 25-30% infeksi nosokomial tetap
berperan sampai 57% hari perawatan tambahan dirumah sakit dan 42%
biaya tambahan. Infeksi ini biasanya desebabkan karena flora mukosa dan
kulit yang didapatkan dari rumah sakit atau endogen dan kadang-kadang
dengan penyebaran sisik kulit lewat udara yang mungkin dilepaskan ke luka
dar anggota tim ruang operasi.
c. Bakteriemia
Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5% dari total infeksi nosokomial. Tetapi
dengan resiko kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh
bakteri yang resisten antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida.
d. Infeksi saluran nafas bagian bawah atau pneumonia
Pneumonia menyebabkan 15-20% infeksi nosokomial tetapi menyebabkan
24% hari-hari tambahan perawatan dirumah sakit dan 39% biaya tambahan.
Hampir semua pneumonia nosokomial bakterial disebabkan karena aspirasi
flora lambung dan orofaring yang didapatkan dari rumah sakit atau endogen.
Pneumonia nosokomial menyebabkan angka kematian sampai 50% di Unit
Perawatan Intensif.
33

II.5.4Faktor Yang Dapat Mempermudah Terjadinya Infeksi Nosokomial


Pelaksanaan pengendalian dan pencegahan perlu diketahui epidemologi
infeksi nosokomial, terdapat tiga faktor yang menentukan terjadinya infeksi
nosokomial, Utji (1996).
a. Sumber infeksi nosokomial
Sumber infeksi dapat berupa kuman, virus, protozoa dan parasit yang
terdapat di alam. Bahkan manusia sehat juga penuh dengan kuman yang
dianggap normal. Untuk penderita yang imunokompromi, kuman normal
dapat menjadi patogen karena daya tahan tubuh yang berkurang.
Lingkungan kita terkenal dengan sumber kuman patogen yang paling besar.
Beberapa sumber infeksi nosokomial menurut Hidayat (2006) :
1) Pasien
Merupakan unsur utama terjadinya infeksi nosokomial yang dapat
menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas kesehatan,
pengunjung atau benda dan alat kesehatan lainnya.
2) Petugas kesehatan
Petugas kesehatan merupakan agen penyebaran infeksi melalui kontak
langsung yang dapat menularkan bebagai kuman ke tempat lain.
3) Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapatkan dari luar ke
dalam lingkungan rumah sakit atau sebaliknya yang didapat dari dalam
rumah sakit ke luar rumah sakit.
4) Sumber lain
Sumber lain yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang
meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat
yang ada di rumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas
kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.
5) Penderita
Penderita merupakan sasaran bibit penyakit karena biasanya keadaan
tubuh yang lemah. Langkah pertolongan yang diberikan eumah sakit
dalam perawatan penderita serba sulit karena perawatan yang kurang
akan melemahkan daya tahan penderita.
Dalam pengendalian infeksi nosokomial, penderita harus menjadi objek
paling utama. Kita harus cepat dalam menanggulangi atau mencegah infeksi
dari luar maupun dari dalam. Keadaan yang paling optimal adalah kalau

34

penderita dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus oleh
perawat tertentu.
b. Cara penularan
Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan sebagai penyebab yang
paling utama infeksi nosokomial. Penularan melalui tangan perawat dapat
secara langsung melalui peralatan yang invasif. Dengan tindakan mencuci
tangan secara benar saja, infeksi nosokomial dapat dikurangi 50%. Peralatan
yang kurag steril, air yang terkontaminasi kuman, cairan desinfektan yang
mengandung kuman, sering meningkatkan resiko infeksi nosokomial.
c. Pencegahan infeksi
Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit.
1) Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang
terintegrasi, monitoring dan program yang termasuk:
a) Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara
mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan , tindakan septik dan
aseptik, sterilisasi dan desinfektan.
b) Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
c) Melindungi psien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat,
nutrisi yang cukup dan vaksinasi.
d) Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur
invasif.
e) Pengawasan

infeksi,

identifikasi

penyakit

dan

mengontrol

penyebarannya.
2) Dekontaminasi tangan
Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga
hygiene dari tangan, tetapi dalam kenyataannya hal ini sulit dilakukan
dengan benar, karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan,
alergi produk pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan mengenai
pentingnya hal ini, dan waktu mencuci tangan yang lama. Selain itu,
penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan
tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit infeksi.
Hal yang perlu diingat adalah memakai sarung tangan ketika akan
mengalami atau menyentuh darah, cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin,
membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi, dan
segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. Sarung tangan
sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah, cairan tubuh,

35

feses maupun urin. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap
pasiennya. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor, sarung
tangan harus segera diganti.
3) Instrumen yang sering digunakan rumah sakit
a) Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan
b) Pergunakan jarum steril
c) Penggunaan alat suntik yang disposabel
Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian
selama kita melakukan tindakan untuk mencegah percikan darah,
cairan tubuh, urin dan feses (Wenxel, 2002).
4) Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah
sakit sangat bersih dari debu, minyak dan kotoran. Pengaturan udara
yang baik dengan mengusahakan pemakaian penyaring udara, terutama
bagi penderita dengan status imun dan penderita yang menyebabkan
penyakit melalui udara. Selain itu, rumah sakit juga harus membangun
fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan proses serta filternya
untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri, toilet juga harus dijaga
kebersihannya serta diberikan desinfektan untuk membunuh kuman
(Pohan, 2002).
Desinfeksi yang dipakai harus mempunyai kriteria membunuh kuman
dan mempunyai efek sebagai detergen selain itu desinfeksi yang dipakai
dapat melarutkan minyak dan protein.
5) Ruangan isolasi
Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat
suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk
penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis dan
SARS yang menyebabkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan
virus contohnya DHF dan HIV. Biasanya, pasien yang mempunyai
resistensi rendah seperti leukemia dan pengguna obat immunospresan
juga perlu diisolasi agar terhindar dari

infeksi. Ruang isolasi harus

tertutup dan ventilasi udara selalu menuju keluar, sebaiknya satu pasien
berada dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedng terjadi kejadian luar
biasa dan penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu
ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.

36

Dalam mencegah atau mengendalikan infeksi nosokomial, ada tiga hal yang
perlu dalam program pengendalian infeksi nosokomial yaitu:
a. Adanya sistem surveillance yang mantap

Surveillance suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang sistematik


dan dilaukan terus menerus terhadap penyakit tersebut yang terjadi pada
suatu populasi tertentu dengan tujuan untuk dapat melakukan pencegahan
dan pengendalian. Tujuan dari surveillance

adalah untuk menurunkan

resiko terjadinya infeksi nosokomial. Dalam pelaksanaan surveillance ini,


perawat sebagai petugas lapangan digaris paling depan, mempunyai peran
yang sangat menentukan.
b. Adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi nosokomial
Peraturan ini merupakan standar yang harus dijalankan setelah dimengerti
semua petugas, standar ini merupakan diagnosis ataupun standar
pelaksanaan tugas. Dalam pelaksanaan dan pengawasan pelaksanaan
peraturan ini, peran perawat sangat besar sekali.
c. Adanya program pendidikan yang terus menerus bagi semua petugas rumah
sakit dengan tujuan mengembalikan sikap mental benar dalam merawat
penderita
Menurut hidayat (2006) tindakan pencegahan infeksi nosokomial dapat
dilakukan beberapa cara antara lain:
a. Aseptik merupakan tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan.
Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan untuk
mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemingkinan
besar akan mengakibatkan infeksi. Tujuan akhirnya adalah mengurangi atau
menghilangkan jumlah mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup
maupun benda mati agar alat-alat kessehatan dapat dengan aman digunakan.
b. Antiseptik yaitu upaya untuk pencegahan infeksi dengan cara membunuh
atau menghambat petumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan
tubuh lainnya.
c. Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan agar benda mati dpat
ditangani oleh petugas kesehatan secara aman, terutama petugas
pembersihan medis sebelum pencucian dilakukan, caranya dengan
dibersihkan menggunakan cairan Lysol.

37

d. Pencucian yaitu tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau


setiap benda asing seperti debu dan kotoran.
e. Sterilisasi yaitu tindakan menghilangkan mikroorganisme (bakteri, jamur,
virus) termasuk bakteri endospora dari benda mati dengan cara pembakaran
alat dengan menggunakan alcohol menggunakan alat sterilisator.
f. Desinfeksi yaitu tindakan menghilangkan sebagian besar (tidak semua)
mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati. Desinfeksi tingkat
tinggi dilakukan dengan merebus atau menggunakan larutan kimia.
II.5.5 Faktor Yang Mempengaruhi Peran Perawat
Menurut Hendarwati (2008) ada 2 faktor yang mempengaruhi peran perawat
antara lain:
a. Faktor lingkungan kerja yang meliputi motivasi kerja, proses manajemen,
penghargaan profesi, teknik kominukasi, kepekaan hati nurani, rasa percaya
diri, dan kreativitas perawat sangat mempengaruhi perawat dalam
melaksanakan perannya.
b. Faktor lingkungan keluarga yag meliputi kemampuan orang tua, tanggung
jawab keluarga da beban hidup biaya keluarga, semua itu turut serta
mempengaruhi pekerjaan perawat sehari-hari di rumah sakit.

II.5.6 Peran Perawat Dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial


a. Pengertian peran perawat
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Perawat
adalah tenaga profesional yang mempunyai pendidikan dalam sistem
pelayanan kesehatan (Kozier Barbara, 1995).
Peran perawat adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam
praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui
dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan
tanggung jawab keperawatan secara profesional dalam penyelenggaraan
pelayanan keperawatan.
b. Peran perawat dalam pengendalian infeksi nosokomial
Menurut Roeshadi (1996) peran perawat dalam pengendalian infeksi
nosokomial ada tiga yang harus diperhatikan, yaitu:

38

c. Sebagai pelaksana lapangan dalam melaksanakan pengendalian infeksi


nosokomial mempunyai tugas melakukan proses keperawatan mulai dari
pengkajian sampai evaluasi pada kasus infeksi nosokomial yang terjadi di
ruang

perawatan.

Sebagai

pelaksana

lapangan

perawat

harus

mendokumentasikann secara tertuis hasil proses keperawatan ke bagian


rekam medis. Disamping itu perawat harus melakukan konsultasi kepada
kepala tim serta melaporkan hasil pelaksanaan ke kepala ruangan
mengenai kasus infeksi nosokomial serta melakukan perawatan kepada
pasien sesuai dengan protap ayang ada di rumah sakit melakukan
pencegahan dengan cara membatasi transmisi organisme dari atau antar
pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan,
tindakan septik dan aseptik: sterilisasi da desinfektan, melindungi pasien
dengan penggunaan antibiotika yang adekuat: nutrisi yang cukup dan
vaksinasi. Melakukan dekontaminasi tangan, melakukan pencegahan
penularan dari lingkungan rumah sakit dengan cara pembersihan yang
rutin dari debu, minyak dan kotoran. Serta melakukan pencegahan dengan
membuat suatu pemisahan pasien terutama untuk penyakit yag
penularannya melalui udara yang menyebabkan kontaminasi berat,
memakai alat pelindung selama melakukan tindakan keperawatan.
Melakukan evaluasi melalui dokumentasi terhadap setiap tindakan
perawatan kepada pasien yang terinfeksi nosokomial serta melakukan
evaluasi tentang respon pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
d. Sebagai tim kontrol infeksi dalam pengendalian infeksi nosokomial,
perawat mempunyai tugas yaitu melakukan surveilan suatu penyakit
secara sistematik dan dilakukan terus menerus terhadap penyakit yang
terjadi pada pasien atau penderita yang terkena infeksi sehingga dengan
adanya tindakan pengamatan resiko terjadinya infeksi akan menurun. Dan
ikut serta dalam koordinasi atau rapat pengendalian infeksi nosokomial.
Perawat sebagai tim kontrol infeksi juga membuat laporan kegiatan dan
hasil dalam pengendalian infeksi nosokomia, mengumpulkan data yang
diperlukan dalam pengendalian infeksi nosokomial sesuai prosedur tetap
dan juga mengumpulkan beberapa data untuk mengklasifikasikan jenis
infeksi nosokomial serta melakukan identifikasi pasien yang mempunyai
39

penyakit infeksi dengan pasien yang tidak mempunyai penyakit infeksi


dengan cara melakukan isolasi setiap pasien di ruangan khusus.
Melaporkan kejadian infeksi nosokomial secara menyeluruh.
e. Sebagai pendidik dalam pengendalian infeksi nosokomial dimana
tugasnya memberikan bimbingan dan pengajaran tentang cara pencegahan
ataupun pengendalian infeksi nosokomial yang ada di rumah sakit kepada
tenaga keperawatann lain yang dinilai bahwa perawat tersebut mengenai
pengetahuan

infeksi

nosokomial

masih

kurang

dengan

tujuan

mengembalikan sikap mental yang benar dalam merawat penderita.


Sebagai pendidik perawat harus memberikan bimbingan dan pengajaran
tentang pengendalian infeksi nosokomial pula kepada mahasiswa perawat
dalam rangka praktek lapangan. Memberika pendidikan kesehatan kepada
pasien tentang pencegahan infeksi nosokomial serta memberikan
informasi kepada keluarga pasien bila berkunjung untuk mentaati
peraturan berkunjung yang dibuat oleh rumah sakit untuk mencegah
penularan infeksi nosokomial.
II.6 Limbah Rumah Sakit
II.6.1 Karakteristik Limbah Rumah Sakit
Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang
dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Apabila
dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis
sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks. Secara umum
sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah
atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair.
Limbah klinis adalah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi,
veterinari, farmasi atau sejenis, pengobatan, perawatan, penelitian atau pendidikan
yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius berbahaya atau bisa
membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Bentuk limbah klinis
bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Limbah benda tajam

40

Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi,
ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit
seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan
gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan
dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan. Benda-benda
tajam yang terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh,
bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radioaktif.
b. Limbah infeksius
Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut:
1) Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi
penyakit menular (perawatan intensif)
2) Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi
dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.
c. Limbah jaringan tubuh
Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan
tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi.
d. Limbah sitotoksik
Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin
terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau
tindakan terapi sitotoksik. Limbah yang terdapat limbah sitotoksik
didalamnya harus dibakar dalam incinerator dengan suhu diatas 1000oc
e. Limbah farmasi
Limbah farmasi ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat
yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan
yang terkontaminasi, obat-obat yang dibuang oleh pasien atau dibuang oleh
masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh institusi yang
bersangkutan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat-obatan.
f. Limbah kimia
Limbah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia
dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset.
g. Limbah radioaktif

41

Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop


yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida. Limbah ini
dapat berasal dari antara lain : tindakan kedokteran nuklir, radioimunoassay dan bakteriologis; dapat berbentuk padat, cair atau gas. Limbah
cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik
fisik, kimia dan biologi.
h. Limbah Plastik
Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit
dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang
terbuat dari plastik dan juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis.
Selain sampah klinis, dari kegiatan penunjang rumah sakit juga menghasilkan
sampah non klinis atau dapat disebut juga sampah non medis. Sampah non medis
ini bisa berasal dari kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa karton,
kaleng, botol), sampah dari ruang pasien, sisa makanan buangan; sampah dapur
(sisa pembungkus, sisa makanan/bahan makanan, sayur dan lain-lain). Limbah
cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik,
kimia dan biologi. Limbah rumah sakit bisa 4 mengandung bermacam-macam
mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang
dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik dll).
Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebut ada yang bersifat patogen.
Limbah rumah sakit seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan
organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji
air kotor pada umumnya seperti BOD, COD, TTS, pH, mikrobiologik, dan lainlain.
Melihat karakteristik yang ditimbulkan oleh buangan/limbah rumah sakit
seperti tersebut diatas, maka konsep pengelolaan lingkungan sebagai sebuah
sistem dengan berbagai proses manajemen didalamnya yang dikenal sebagai
Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental Managemen System) dan
diadopsi Internasional Organization for Standar (ISO) sebagai salah satu
sertifikasi internasioanal di bidang pengelolaan lingkunan dengan nomor seri ISO
14001 perlu diterapkan di dalam Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit.
II.6.2 Pengaruh Limbah Rumah Sakit
42

Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan


dapat menimbulkan berbagai masalah seperti
a. Gangguan kenyamanan dan estetika
Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi
dan rasa dari bahan kimia organik.
b. Kerusakan harta benda
Dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air yang
berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan di
sekitar rumah sakit.
c. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang
Ini dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam
nutrien tertentu dan fosfor.
d. Gangguan terhadap kesehatan manusia
Ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawa-senyawa
kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian
kedokteran gigi.
e. Gangguan genetik dan reproduksi
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti,
namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan
genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif.
II.6.3 Pengelolaan Limbah Rumah Sakit
a. Limbah padat
Untuk memudahkan mengenal jenis limbah yang akan dimusnahkan, perlu
dilakukan penggolongan limbah. Dalam kaitan dengan pengelolaan,
limbah klinis dikategorikan menjadi 5 golongan sebabagi berikut :
Golongan A :
1) Dressing bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi dari kamar
bedah.
2) Bahan-bahan kimia dari kasus penyakit infeksi.
3) Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun tidak),
bangkai/jaringan hewan dari laboratorium dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan swab dan dreesing.

43

Golongan B :
Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda-benda tajam
lainnya.
Golongan C :
Limbah dari ruang laboratorium dan postpartum kecuali yang termasuk
dalam golongan A.
Golongan D :
Limbah bahan kimia dan bahan-bahan farmasi tertentu.
Golongan E :
Pelapis Bed-pan Disposable, urinoir, incontinence-pad, dan stomach.
II.6.4 Pelaksanaan pengelolaan
Dalam pelaksanaan pengelolaan limbah klinis perlu dilakukan pemisahan
penampungan, pengangkutan, dan pengelolaan limbah pendahuluan.
a. Pemisahan
Golongan A
Dressing bedah yang kotor, swab dan limbah lain yang terkontaminasi dari
ruang pengobatan hendaknya ditampung dalam bak penampungan limbah
klinis yang mudah dijangkau bak sampah yang dilengkapi dengan pelapis pada
tempat produksi sampah Kantong plastik tersebut hendaknya diambil paling
sedikit satu hari sekali atau bila sudah mencapai tiga perempat penuh.
Kemudian diikat kuat sebelum diangkut dan ditampung sementara di bak
sampah klinis.
Bak sampah tersebut juga hendaknya diikat dengan kuat bila mencapai tiga
perempat penuh atau sebelum jadwal pengumpulan sampah. Sampah tersebut
kemudian dibuang dengan cara sebagai berikut :
1) Sampah dari haemodialisis
Sampah

hendaknya

dimasukkan

dengan incinerator. Bisa

juga

digunakanautoclaving, tetapi kantung harus dibuka dan dibuat sedemikian


rupa sehingga uap panas bisa menembus secara efektif.
(Catatan: Autoclaving adalah pemanasan dengan uap di bawah tekanan
dengan tujuan sterilisasi terutama untuk limbah infeksius).
44

2) Limbah dari unit lain :


Limbah hendaknya dimusnahkan dengan incinerator. Bila tidak mungkin
bisa menggunakan cara lain, misalnya dengan membuat sumur dalam yang
aman.
Prosedur yang digunakan untuk penyakit infeksi harus disetujui oleh
pimpinan yang bertanggungjawab, kepala Bagian Sanitasi dan Dinas
Kesehatan c/q Sub Din PKL setempat.
Semua jaringan tubuh, plasenta dan lain-lain hendaknya ditampung pada
bak limbah klinis atau kantong lain yang tepat kemudian dimusnahkan
denganincinerator.
Perkakas

laboratorium

yang

terinfeksi

hendaknya

dimusnahkan

denganincinerator. Incinerator harus dioperasikan di bawah pengawasan


bagian sanitasi atau bagian laboratorium.
Golongan B
Syringe, jarum dan cartridges hendaknya dibuang dengan keadaan tertutup.
Sampah ini hendaknya ditampung dalam bak tahan benda tajam yang bilamana
penuh (atau dengan interval maksimal tidak lebih dari satu minggu) hendaknya
diikat dan ditampung di dalam bak sampah klinis sebelum diangkut dan
dimasukkan dengan incinerator.
b. Penampungan
Sampah klinis hendaknya diangkut sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan.
Sementara

menunggu

pengangkutan

untuk

dibawa

ke incinerator atau

pengangkutan oleh dinas kebersihan (atau ketentuan yang ditunjuk), sampah


tersebut hendaknya :
1) Disimpan dalam kontainer yang memenuhi syarat.
2) Di lokasi/tempat yang strategis, merata dengan ukuran yang disesuaikan
dengan frekuensi pengumpulannya dengan kantong berkode warna yang
telah ditentukan secara terpisah.
3) Diletakkan pada tempat kering/mudah dikeringkan, lantai yang tidak
rembes, dan disediakan sarana pencuci.

45

4) Aman dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab; dari binatang, dan


bebas dari infestasi serangga dan tikus.
5) Terjangkau oleh kendaraan pengumpul sampah (bila mungkin)
6) Sampah yang tidak berbahaya dengan penanganan pendahuluan (jadi bisa
digolongkan dalam sampan klinis), dapat ditampung bersama sampah lain
sambil menunggu pengangkutan.
c. Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan
eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke
tempat

pembuangan

atau ke incinerator

(pengolahan on-site). Dalam

pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong.


Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus
didesain sedemikian rupa sehingga :
1) Permukaan harus licin, rata dan tidak tembus
2) Tidak akan menjadi sarang serangga
3) Mudah dibersihkan dan dikeringkan
4) Sampan tidak menempel pada alat angkut
5) Sampan mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali
Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ke tempat
lain :
1) Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk
pengangkut. Dan harus dilakukan upaya untuk men-cegah kontaminasi
sampah lain yang dibawa.
2) Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi
kebocoran atau tumpah.
b. Limbah Cair
Limbah rumah sakit mengandung bermacam-macam mikroorganisme, bahanbahan organik dan an-organik. Beberapa contoh fasilitas atau Unit Pengelolaan
Limbah (UPL) di rumah sakit antara lain sebagai berikut:
1) Kolam Stabilisasi Air Limbah (Waste Stabilization Pond System)

46

Sistem pengelolaan ini cukup efektif dan efisien kecuali masalah lahan,
karena kolam stabilisasi memerlukan lahan yang cukup luas; maka
biasanya dianjurkan untuk rumah sakit di luar kota (pedalaman) yang
biasanya masih mempunyai lahan yang cukup. Sistem ini terdiri dari
bagian-bagian yang cukup sederhana yakni :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Pump Swap (pompa air kotor).


Stabilization Pond (kolam stabilisasi) 2 buah.
Bak Klorinasi
Control room (ruang kontrol)
Inlet
Incinerator antara 2 kolam stabilisasi
Outlet dari kolam stabilisasi menuju sistem klorinasi.

2) Kolam oksidasi air limbah (Waste Oxidation Ditch Treatment System)


Sistem ini terpilih untuk pengolahan air limbah rumah sakit di kota, karena
tidak memerlukan lahan yang luas. Kolam oksidasi dibuat bulat atau elips,
dan air limbah dialirkan secara berputar agar ada kesempatan lebih lama
berkontak dengan oksigen dari udara (aerasi). Kemudian air limbah
dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan benda padat dan lumpur.
Selanjutnya air yang sudah jernih masuk ke bak klorinasi sebelum dibuang
ke selokan umum atau sungai. Sedangkan lumpur yang mengendap diambil
dan dikeringkan padaSludge drying bed (tempat pengeringan Lumpur).
Sistem kolam oksidasi ini terdiri dari :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Pump Swap (pompa air kotor)


Oxidation Ditch (pompa air kotor)
Sedimentation Tank (bak pengendapan)
Chlorination Tank (bak klorinasi)
Sludge Drying Bed ( tempat pengeringan lumpur, biasanya 1-2 petak).
Control Room (ruang kontrol)

3) Anaerobic Filter Treatment System


Sistem pengolahan melalui proses pembusukan anaerobik melalui
filter/saringan,

air

limbah

tersebut

sebelumnya

mengalami pretreatment

dengan

septic

tank

tank). Proses anaerobic

filter

treatment biasanya

telah
(inchaff
akan

menghasilkan effluent yang mengandung zat-zat asam organik dan senyawa

47

anorganik yang memerlukan klor lebih banyak untuk proses oksidasinya.


Oleh sebab itu sebelum effluent dialirkan ke bak klorida ditampung dulu di
bak stabilisasi untuk memberikan kesempatan oksidasi zat-zat tersebut di
atas, sehingga akan menurunkan jumlah klorin yang dibutuhkan pada
proses klorinasi nanti.
Sistem Anaerobic Treatment terdiri dari komponen-komponen antara lain
sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Pump Swap (pompa air kotor)


Septic Tank (inhaff tank)
Anaerobic filter.
Stabilization tank (bak stabilisasi)
Chlorination tank (bak klorinasi)
Sludge drying bed (tempat pengeringan lumpur)
Control room (ruang kontrol)

Sesuai dengan debit air buangan dari rumah sakit yang juga tergantung dari
besar

kecilnya

rumah

sakit,

atau

jumlah

tempat

tidur,

maka

kontruksi Anaerobic Filter Treatment System dapat disesuaikan dengan


kebutuhan tersebut, misalnya:
a)

Volume septic tank

b)

Jumlah anaerobic filter

c)

Volume stabilization tank

d)

Jumlah chlorination tank

e)

Jumlah sludge drying bed

f)

Perkiraan luas lahan yang diperlukan

Secara singkat pengelolaan pengelolaan dan pembuangan limbah medis


adalah sebagai berikut :
a. Penimbulan ( Pemisahan Dan Pengurangan )
Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang
kontinyu yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan : kelancaran
penanganan dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan
perlakuan pemisahan limbah B3 dan non B3 serta menghindari
penggunaan bahan kimia B3, pengemasan dan pemberian label yang jelas

48

dari berbagai jenis sampah untuk efisiensi biaya, petugas dan


pembuangan.
b. Penampungan
Penampungan sampah ini wadah yang memiliki sifat kuat, tidak mudah
bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup
dan tidak overload. Penampungan dalam pengelolaan sampah medis
dilakukan perlakuan standarisasi kantong dan kontainer seperti dengan
menggunakan kantong yang bermacam warna seperti telah ditetapkan
dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992 dimana kantong berwarna
kuning dengan lambang biohazard untuk sampah infeksius, kantong
berwarna ungu dengan simbol citotoksik untuk limbah citotoksik, kantong
berwarna merah dengan simbol radioaktif untuk limbah radioaktif dan
kantong berwarna hitam dengan tulisan domestik
c. Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan
eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke
tempat pembuangan atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam
pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong sebagai yang
sudah diberi label, dan dibersihkan secara berkala serta petugas pelaksana
dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja khusus.
Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat
pembuangan di luar (off-site). Pengangkutan eksternal memerlukan
prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat.
Prosedur tersebut termasuk memenuhi peraturan angkutan lokal. Sampah
medis diangkut dalam kontainer khusus, harus kuat dan tidak bocor.
d. Pengolahan dan Pembuangan
Metoda yang digunakan untuk megolah dan membuang sampah medis
tergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi yang
berkaitan dengan peraturan yang berlaku dan aspek lingkungan yang
berpengaruh terhadap masyarakat. Teknik pengolahan sampah medis
(medical waste) yang mungkin diterapkan adalah :
1) Incinerasi

49

2) Sterilisasi dengan uap panas/ autoclaving (kondisi uap jenuh bersuhu


121 C)
3) Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene oxide/
formaldehyde)
4) Desinfeksi zat kimia dengan menggunakan cairan kimia sebagai
desinfektan
5) Inaktivasi suhu tinggi
6) Radiasi (dengan ultraviolet atau ionisasi radiasi seperti Co60
7) Microwave treatment
8) Grinding dan shredding (proses homogenisasi bentuk atau ukuran
sampah)
9) Pemampatan/ pemadatan, dengan tujuan untuk mengurangi volume
yang terbentuk.
II.6.5 Upaya penanggulangan dan Pencegahan
a. Tindakan Pencegahan (tindakan prefentif)
Pencegahan limbah secara alami. Saat air limbah mengalir di dalam
sungai, tersimpan dalam waduk, perubahan air terjun, kemdian meresap
kedalam tana. Selanjut nya terjadi proses sedimentasi, filterasi, proses
biologis, oksidasi, dll.
Pengolah air limbah secara fisik dapat di lakukan dengan teruji
penyaringan sampah dan penghancuran sampah(comminutor) atau
gritremofal.
b. Tindakan Penanggulangan (tindakan kuratif)
Penghasil, pengepul, pengaangkut, pengolah, pemanfaatan, penimbun
limbah B3 wajib segera melaporkan tumpahmnya bahan berbahaya dan
beracun (B3) dan limbah B3 kelingkungan, pada instansi yang
bertanggung jawab/kepalah daerah tingkat 1,2,3
c.

Peningkatan upaya pencegahan dan penanggulngan


Untuk upaya penanggulngannya diperlukan pengnawasan Penghasil,
pengepul, pengaangkut, pengolah, pemanfaatan, penimbun limbah B3
wajib memiliki sistem tannggap darurat. Penanggung jawab pengelolaan
limbah B3 jawib memiliki sistem tanggap darurat kepada masyarakat.
50

Penghasil limbah B3 bertanggung jawab atas penanggulangan pencemaran


lingkungan akibat lepas/tumpahnya limbah B3 yang menjadi tanggung
jawabnya.

Faktor yang
mempengaruhi peran
II.7 Cuci Tangan
II.7.1 Pengertian Cuci Tangan
perawat:
Kebersihan tangan (cuci tangan ) merupakan proses membuang kotoran dan
1. Faktor lingkungan
debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air
kerja
(Tietjen, L. 2004). Menurut Sumurti (2008), cuci tangan dilakukan dengan tujuan
2. Faktor lingkungan
keluarga
untuk mengangkat mikroorganisme yang terdapat di tangan, mencegah infeksi
silang (cross infection), menjaga kondisi steril, melindungi diri dan pasien dari
infeksi dan memberikan perasaan segar dan bersih. Mikro organisme yang sering
ditemukan antara lain bakteri gram (-) dan stafilokokus, Stafilokokus aureus
Akibat
infeksi
koagulase, pseudomonas, enterobakter dan asinetobakter
membentuk
fibrin di
nosokomial:
dinding kateter beberapa hari setelah pemasangan. Pada tahun 2009, WHO
1. Penderita
bertambah
mencetuskan global patien safety challenge dengan clean
care is safe
care, yaitu
2. Biaya meningkat
merumuskan inovasi strategi penerapan hand hygiene3. untuk
kesehatan
Lama petugas
hari perawatan
bertambah
panjang
dengan five moments for hand hygiene adalah melakukan mencuci
tangan:
4.
Kecacatan
a. Sebelum kontak dengan pasien
5. kematian
b. Sebelum melakukan prosedur bersih/steril
c. Setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien resiko tinggi
d. Setelah bersentuhan dengan pasien
e. Setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien.
Persatuan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin,2010) menyatakan
kebersihantangan

(cuci

tangan)

merupakan

suatu

prosedur

tindakan

membersihkan tangan dengan menggunakan sabun/antiseptik dibawah air


mengalir

atau

dengan

menggunakan

handrub

yang

bertujuan

untuk

menghilangkan kotoran dari kulit secara mekanis dan mengurangi jumlah


mikroorganisme.
II.7.2 Tujuan Mencuci Tangan
a. Untuk memutus transmisi kuman melalui tangan;
b. Untuk mencegah kolonisasi dan infeksi pada petugas kesehatan;

51

c. Untuk mencegah kolonisasi pathogen pada pasien (termasuk yang


multiresisten);
d. Untuk mencegah penyebaran pathogen ke area perawatan;
e. Mencegah infeksi yang disebabkan oleh kuman endogen;
II.7.3 Kriteria pencucian tangan atau penggunaan penggosok tangan
antiseptik
Dasar pemilihan untuk membersihkan kedua tangan (Tietjen, L. 2004 hal 32) tergantung pada:
a. Intensitas kontak dengan pasiendan atau darah;
b. Kemungkinan penularan mikroba;
c. Kerentanan pasien terhadap infeksi;
d. Tindakan yang akan di lakukan.
II.7.4 Transmisi Kuman
Tangan adalah sumber transmisi kuman pathogen.Transmisi kuman
pathogen dari pasien ke pasien lain dapat terjadi melalui 5 tahap (WHO, 2009):
a. Transmisi kuman tahap 1:
Kuman terdapat di kulit pasien dan lingkungan sekitar pasien. Pasien
terbaring di tempat tidur mempunyai koloni bakteri di hidung, perineal,
inguinal, aksila, dan lengan atas. Permukaan dilingkungan sekitar pasien
terkontaminasi oleh bakteri.
b. Transmisi kuman tahap 2:
Kuman berpindah dari pasien ke petugas kesehatan.
Kontak antara tenaga kesehatan dan pasien menyebabkan transmisi silang
bakteri dari pasien ke tangan petugas kesehatan.
c. Transmisi kuman tahap 3:
Kuman bertahan dan memperbanyak di tangan petugas kesehatan. Setelah
kontak dengan pasien dan/atau lingkungan yang terkontaminasi, kuman
dapat bertahan di tangan selama beberapa waktu (2-60 menit). Bila kondisi
pertumbuhan optimal (temperature, kelembaban, cuci tangan tidak
dilakukan, adanya friksi) bakteri dapat tumbuh terus, kontaminasi bakteri
akan meningkat secara linier dan terus menerus selama adanya kontak.
d. Transmisi kuman tahap 4:
Pembersihan tangan yang tidak benar dapat menyebabkan tangan tetap
terkontaminasi.
e. Transmisi kuman tahap 5:
Tangan yang terkontaminasi memindahkan kuman dari tangan petugas
kesehatan ke pasien dan lingkungan sekitar pasien.

52

II.7.5 Persiapan cuci tangan


Menurut WHO, 2009
a. Sebelum melakukan cuci tangan pastikan tangan tidak mengenakan
perhiasan seperti cincin, gelang, arloji.
b. Kulit di bawah perhiasan sulit di bersihkan sehingga dapat menimbulkan
c.
d.
e.
f.

kolonisasi berat.
Jagalah kuku agar tetap pendek.
Daerah di bawah kuku mengandung banyak kuman.
Jangan menggunakan cat kuku.
Kuman dapat bersembunyi di sela-sela cat kuku yang rusak.

II.7.6 Waktu yang diperlukan untuk mencuci tangan


Menurut WHO, 2009 mencuci tangan dengan sabun dan air memerlukan
waktu 40-60 detik,sedangkan mencuci tangan dengan menggunakan handrub
(cairan berbahan dasar alkohol) adalah 20-30 detik.
Penggunaan air dan sabun tetap penting pada kedua tangan yang terlihat
kotor. Untuk kebersihan dan kesehatan tangan rutin walaupun tanpa adanya
kotoran atau debu, khususnya bila penyediaan air bersih terbatas, alternative lain
seperti menggosok tangan dengan penggosok tangan antiseptik yang murah,
mudah dibuat, dan bertindak cepat telah dapat diterima.
Dari sudut pandang pencegahan infeksi,praktek kesehatandan kebersihan
tangan (cuci tangan dan cuci tangan bedah) dimaksudkan untuk mencegah infeksi
yang ditularkan melalui tangan dan menyingkirkan kotoran dan debu serta
menghambat dan membunuh mikroorganisme pada kulit. Hal ini tidak hanya
terdiri dari sebagin besar organisme yang ditularkan melalui kontak dengan pasien
dan lingkungan,tetapi juga sebagian organisme tetap yang hidup pada lapisanlapisan kulit yang lebih dalam. Selain memahami pedoman dan anjuran kesehatan
dan kebersihan tangan,petugas kesehatan juga harus memahami tujuannya.
Langkah pertama pada proses ini adalah mendidik petugas kesehatan
mengenai;
a. Pentingnya kesehatan dan kebersihan tangan,bagaimana melakukan
langkah cuci tangan dan menggosok tangan dengan benar dan bukti yang
mendukung langkah ini dalam mengurangi penularan mikroorganisme
sehingga mengurangi frekwensi penularan infeksi pada pasien seperti
phlebitis.
b. Air bersih. Air yang secara alami atau kimiawi dibersihkan dan disaring
sehingga aman untukdipakai seperti cuci tangan karena telah memenuhi

53

standar

kesehatan

masyarakat.

Standar

tesebut

meliputi;

bebas

mikroorganisme, bakteri, (misalnya koliform faeces dan eseseria koli),


parasit, (misalnya giardia lamblia) dan virus (misalnya hepatitis A atau E).
II.7.7 Langkah-langkah cuci tangan
Langkah cuci tangan menurut WHO, 2009
Basahi tangan dengan air kemudian tuangkan sabun secukupnya
telapaktangan.
Langkah 1 : Ratakan sabun pada kedua telapak tangan.
Langkah 2 : Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan
dan sebaliknya.
Langkah 3 : Gosok kedua telapak dan sela-sela jari.
Langkah 4 : Gosok kedua jari-jari kedua tangan dengan posisi saling mengait.
Langkah 5: Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan,dan
sebaliknya.
Langkah 6: Gosok ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dengan
gerakan memutar,kemudian sebaliknya.
Prosedur handrub:
Tuangkan 3-5 cc antiseptic berbasis alkohol ke telapak tangan
a. Gosok kedua telapak tangan hingga merata.
b. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan
sebaliknya.
c. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari.
d. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci.
e. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan, dan
sebaliknya.
f. Gosok ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dengan gerakan
memutar, kemudian sebaliknya.
g. Saat kering tangan sudah aman
II.7.8 Cuci Tangan Bedah
Cuci tangan bedah merupakan persiapan tangan bedah untuk mengurangi
pelepasan bakteri kulit tangan petugas kamar operasi dari sarung tangan bedah
yang rusak ke luka terbuka selama prosedur bedah.
Cuci tangan bedah dapat di lakukan dengan cara
a. Cuci tangan bedah (Handrub)
b. Handrub bedah
Prosedur cuci tangan bedah
a. Basahi tangan hingga siku dengan air mengalir.Jaga posisi tangan lebih
tinggi dari lengan untuk menghindari kontaminasi ulang oleh air dari arah
siku dan mencegah kontaminasi tangan dari bakteri pada sabun dan air.
54

b. Lakukan prosedur cuci tangan


c. Tuangkan 3-5 ml sabun cair antiseptic pada tangan kanan.
d. Lanjutkan dengan menggosok sisi lengan kiri dari pergelangan ke arah
siku dengan gerakan memutar selama satu menit.
e. Ulangi langkah 3-4 pada lengan yang lain (sebaliknya), jaga posisi tangan
tetap di atas siku setiap saat. Jika tangan menyentuh sesuatu saat prosedur
cuci tangan bedah, maka pencucian harus di perpanjang satu menit pada
bagian yang terkontaminasi.
f. Bilas tangan dan lengan dengan mengalirkan air satu arah dari ujung jari
kearah siku dengan meninggikan tangan tanpa menyentuh tangan yang
satu dengan yang lain.
g. Jangan menurunkan tangan lebih rendah dari siku di aliran air. Selama
prosedur cuci tangan bedah, usahakan agar air tidak menciprat ke pakaian
bedah.
h. Lanjutkan ke ruang operasi dengan posisi tangan tetap di atas siku.
i. Setibanya di ruang operasi, keringkan tangan dengan menggunakan
handuk steril.
j. Saat tangan kering, maka siap menggunakan pakaian operasi maupun
sarung tangan steril/sarung tangan bedah.
k. Cara lain adalah cuci tangan dengan sabun biasa dan air yang diikuti
dengan penggunaan penggosok dengan bahan dasar alkohol tanpa air yang
mengandung klorhesidin menunjukan pengurangan yang lebih besar pada
jumlah microbial pada tangan,meningkatkan kesehatan kulit

dan

mereduksi waktu dan sumber daya. (Larson dkk, 2001).


Langkah-langkah cuci untuk melakukan tehnik cuci tangan bedah yang
lebih sederhana dan pendek adalah:
a. Lepaskan cincin, jam tangan dan gelang;
b. Basahi seluh tangan dan lengan bawah hingga siku denga sabun dan air
bersih;
c. Bersihkan kuku dengan pembersih kuku;
d. Cucilah tangan dan lengan bawah seluruhnya dengan air dan

keringkan

dengan lap kering dan bersih atau dikeringkan dengan di angin-anginkan;


e. Gunakanlah 5 ml, (sekitar satu sendok teh penuh) penggosok antiseptik
kedua tangan, jari-jemari dan lengan bawah dan gosoklah hingga
kering;ulangi penggunaanya dan gosok 2 kali lagi selama total sekurangkurangnya 2 menit dengan mempergunakan total sekitar 15 ml 3 sendok
teh) cairan penggosok tersebut;

55

f. Tegakkanlah kedua tangan dan jauhkandari badan,jangan sentuh


permukaan atau benda apapun sebelum memasang sarung tangan bedah
steril pada kedua tangan tersebut.
II.7.9 Antisepsis tangan
Tujuan anti sepsis tangan adalah menghilangkan kotoran debu serta
mengurangi baik flora sementara maupun tetap.Tehnik antisepsis tangan sama
dengan tehnik mencuci tangan biasa.Hal ini terdiri dari mencuci kedua tangan
dengan air dan sabunatau deterjen (jenis batangan atau cair) yang mengandung
bahan antiseptik (klorheksidin,iodofor atau triklosan) selain sabun biasa.
Antisepsis tangan harus dilakukan sebelum:
a. Memeriksa atau merawat pasien rentan (misalnya bayi premature,pasien
manula, atau penderita penyakit AIDS stadium lanjut;
b. Melakukan prosedur invasive,seperti pemasangan alat intravaskuler;
c. Meninggalkan ruang kewaspadaan kontak (misalnya hepatitis A) atau
penderita infeksi yang kebal terhadap obat misalnya Stafilokokus aureus
resisten methisilin.
Pierce, (1990) mengatakan penggosok tangan antiseptik yang bersipat non
iritasi dapat dibuat dengan menambahkan baik gliserin, propilen glikol atau
sorbitol dengan alkohol (2 ml pada 100 ml dari 60-90). Gunakan 5 ml untuk setiap
penggunaan dan lanjutkan menggosokan larutan itu diatas kedua tangan hingga
kering.
Cuci tangan dengan sabun yang mengandung obat atau deterjen lebih
menimbulkan iritasi kulit daripada menggunakan penggosok antiseptik.
Penggunaan penggosok antiseptik lebih efektif membunuh flora sementara dan
tetap daripada mencuci dengan bahan antimikroba atau sabun biasa dan air, lebih
cepat dan lebih mudah dilakukan ,serta mengurangi flora tangan lebih besar
(Girou dkk 2002). Penggosok antoiseptik ini juga mengandung emolien yang
lebih sedikit seperti gliserin propilen, glikol atau sorbitol yang melindungi dan
mempertahankan kulit.Tehnik untuk melakukan penggosokan tangan antiseptik
adalah:
Langkah 1

: Gunakan penggosok antiseptik secukupnya untuk melumuri


seluruh permukaan tangan dan jari jemari ( kira-kira satu sendok
teh).

56

Langkah 2

: Gosokanlah larutan tersebut dengan cara menekan pada kedua


belah tangan, khususnya diantara jari dan dibawah kuku hingga
kering.Karena penggosokantiseptik tidak menghilangkan kotoran
atau zat organik, apabila kedua tangan terlihat kotoratau
terkontaminasi darah atau cairan tubuh, maka pertama-tama harus
dilakukan cuci tangan dengan air dan sabun. Selain itu agar
mengurangi menumpuknya emolien pada kedua belah tangan
setelah penggunaan penggosok antiseptik yang berulang-ulang
,maka di anjurkan mencuci kedua belah tangan dengan sabun dan
air sesudah setiap 5-10 kali penggunaan.
Gambar 2.1 Cuci Tangan

57