Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan cukup
lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 50
ml/menit. Gagal ginjal kronik sesuai dengan tahapannya, dapat ringan, sedang
atau berat.1
Angka kejadian GGK di dunia tahun 2012 lebih dari 500 juta orang dan
yang harus menjalani hidup dengan bergantung pada cuci darah ( hemodialisis)
1,5 juta orang. Di negara-negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan
sekitar 40-60 kasus per satu juta penduduk pertahun.2
Menurut data dari Persatuan Nefrologi Indonesia (Pernefri) 2010,
diperkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal di Indonesia, namun yang
terdeteksi yang mengalami gagal ginjal kronik tahap terminal yang menjalani
hemodialisa hanya sekitar empat ribu sampai lima ribu. Di Indonesia penyakit
gagal ginjal kronik merupakan masalah besar. Prevalensi meningkat 10% per
tahun.2

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini dilakukan di ruang hemodialisa RSPBA dan Laboratorium
klinik RSPBA. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2016. Pada
periode tersebut didapatkan sampel sebanyak 20 orang sesuai dengan sampel yang
dibutuhkan dan telah memenuhi kriteria inklusi serta tidak termasuk kriteria
eksklusi. Responden merupakan pasien GGK yang sedang menjalani hemodialisa
di RSPBA, responden diambil sampel darah pre dan post hemodialisis dan diteliti
kadar kalsium serum pre dan post hemodialisis. Lamanya proses hemodilaisis
berlangsung 4-5 jam.
4.1.1 Karakteristik Responden
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Rumah
Sakit Pertamina Bintang Amin Lampung
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Frekuensi
11
9
20

Persentase (%)
55,0
45,0
100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa sebagian besar responden yang


menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin

Lampung

berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 11 orang (55,0%) sedangkan yang


berjenis kelamin perempuan sebanyak 9 orang (45,0%).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai perbandingan kadar kalsium serum penderita
GGK pre dan post hemodialisis, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Nilai rata-rata kadar kalsium serum pre hemodialisis adalah 8,515 mg/dl
dengan srandar deviasi sebesar 0,6580.
2. Nilai rata-rata kadar kalsium serum post hemodialisis adalah 10,465 mg/dl
dengan srandar deviasi sebesar 0,4030
3. Terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara kadar kalium serum pre
dan post hemodialisis, dengan mean pre hemodialisa

8,5gr/dl sedangkan

mean post hemodialisis 10,5 gr/dl.


5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis menyarankan agar :
1. Pada semua pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSPBA provinsi
Lampung disarankan untuk melakukan pemeriksaan kadar kalsium serum
rutin sebelum dan sesudah dilakukan hemodialisa untuk mengetahui dan
mengontrol kadar kalsium serum.
2. Kepada pihak RSPBA dharapkan untuk lebih memperhatikan konsentrasi
kalsium dan komponen lainnya dalam cairan dialisat, untuk mencegah
komplikasi yang tidak diinginkan.