Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

ANTI INFLAMASI

NAMA

CITRA SYAHRIANI DAMANIK

NPM

14-18-010

PROGRAM STUDI

FARMASI

KELOMPOK/HARI

B / RABU

DOSEN /ASISTEN

Drs.PALAS TARIGAN .,MM.APT

TANGGAL PERCOBAAN :

20 JULI 2016

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


PROGRAM STUDI FARMASI S1
STIKES DELIHUSADA
DELITUA
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar Pengesahan Laporan Praktikum Farmakologi Dan Toksikologi


Judul Percobaan : AKTIVITAS OBAT BERDASARKAN DOSIS, RUTE
PEMBERIAN OBAT, DAN VARIASI BIOLOGI

Delitua, 15 Juni 2016


Asisten / Dosen

Drs.PALAS TARIGAN.,MM.APT

Praktikan

CITRA SYAHRIANI DAMANIK

Perbaikan :
Koreksi I
Tanggal

Koreksi II
Tanggal

Koreksi III
Tanggal

:
Nilai

ACC
Tanggal

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.latar belakang
Radang merupakan respon fisiologi lokal terhadap cedera jaringan. Radang bukan suatu
penyakit, melainkan suatu manifestasi terhadap suatu penyakit. Radang dapat mempunyai
pengaruh yang menguntungkan, seperti penghancuran mikroorganisme yang masuk dan
pembuatan dinding pada rongga abses, sehingga akan mencegah penyebaran infeksi. Secara
seimbang, radang juga memproduksi penyakit, misalnya abses otak akan bertindak sebagai lesi
ruangan yang menekan bangunan vital di sekitarnya, atau fibrosis akibat radang kronis dapat
mengakibatkan terjadinya distorsi jaringan yang permanen dan menyebabkan gangguan
fungsinya
(Underwood,
J.C.E.,
1999).
Radang
biasanya
diklasifikasikan
berdasarkan
waktu
kejadiannya,
sebagai:
Radang akut, reaksi jaringan yang segera dan hanya dalam waktu yang tidak lama, terhadap
cederajaringan.
Radang kronis, reaksi jaringan selanjutnya yang diperlama mengikuti respons awal
(Underwood,
J.C.E.,
1999).
NSAIDs berkhasiat analgetis, antipiretis, serta antiradang (antiflogistis), dan sering sekali
digunakan untuk menghalau gejala penyakit rema, seperti A.R., artrosis, dan spondylosis. Obat
ini efektif untuk peradangan lain akibat trauma (pukulan, benturan, kecelakaan), juga misalnya
setelah pembedahan, atau pada memar akibat olahraga. Obat ini dipakai pula untuk mencegah
pembengkakan bila diminum sedini mungkin dalam dosis yang cukup tinggi. Selanjutnya
NSAIDs juga digunakan untuk kolik saluran empedu dan kemih, serta keluhan tulang pinggang
dan nyeri haid (dysmenorroe). Akhirnya NSAIDs juga berguna untuk nyeri kanker akibat
metastase tulang. Yang banyak digunakan untuk kasus ini adalah zat-zat dengan efek samping
relatif sedikit, yakni ibuprofen, naproksen, dan diklofenak (Tjay, T.H., dan Raharja, K., 2002).

2.1.Tujuan percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa diharpkan dapat mengevaluasi
aktifitas antiinflamasi obat / sedian uji .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Peradangan dapat didefinisikan sebagai reaksi jaringan terhadap cedera, yang secara
khas terdiri atas respon vascular dan selular, yang bersama-sama berusaha menghancurkan
substansi yang dikenali sebagai asing untuk tubuh. Jaringan itu kemudian dipulihkan
sediakala atau diperbaiki sedemikian rupa agar jaringan atau organ itu dapat tetap bertahan.
(Tamanyong, 2000).
Penyebab-penyebab peradangan banyak dan berfariasi, dan penting untuk memahami
bahwa peradangan dan infeksi tidak sinonim dengan demikian infeksi (adanya
mikroorganisme hidup di dalam jaringan) hanya merupakan salah satu penyebab peradangan.
Perdangan dapat terjadi dengan mudah dalam keadaan yang benar-benar steril. Karena
banyaknya keadaan yang mengakibatkan peradangan (Price dan Wilson, 2005).
Radang dapat dibagi 3 yaitu :
a. Radang akut
b. Radang sub akut
c. Radang kronik
Gambaran makroskopik peradangan akut, tanda-tanda pokok peradangan mencakup
kemerahan (Rubor), panas (kalor), nyeri (dolor), bengkak (tumor), dan gangguan fungsi
(fungsio laesa).
a. Rubor (kemerahan)
Biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Sering
dengan munculnya reaksi peradangan, arterior yang memasok darah tersebut berdilatasi
sehingga memungkinkan lebih banyak darah mengalir kedalam mikrosirkulasi darah lokal.
b. Kolor (panas)
Kolor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan pad reaki peradangan akut. Daerah
peradangan dikulit menjadi lebih hangat dibanding dengan sekelilingnya karena lebih banyak
darah (pada suhu 370 C) dialirkan dari dalam tubuh kepermukaan daerah yang terkena
dibandingkan dengan daerah yang normal.
c.

Dolor (nyeri)
Pada suatu nyeri peradangan tampaknya ditimbulkan dalam berbagai cara. Perubahan pH
lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang
sama, pelepasan zat-zat kimia bioaktif lain dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan
jaringan yang meradang menyebabkan peningkatan tekanan lokal yang tidak diragukan lagi
dapat menimbulkan nyeri.

d. Tumor (pembengkakan)
Pembengkakan lokal yang dihasilkan oleh cairan dan sel-sel yang berpindah dari aliran darah
kejaringan intestisial. Campuran cairan dan sel-sel ini yang tertimbun didaerah peradangan
disebit eksudat.
e. Fungsio laesa (perubahan fungsi)
Perubahn fungsi merupaka bagian yang lazim pada reaksi peradangan. Sepintas mudah
dimengerti, bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dan lingkungan kimiawi
lokal yang abnormal, seharusnya berfugsi secara abnormal.
Penyebab-penyebab peradangan meliputi agen-agen fisik, kimia, reaksi imunologik, dan
infeksi oleh organism-organisme patogenik. Infeksi tidak sama dengan peradangan dan
infeksi hanya merupakan salah satu penyebab peradangan. (Price dan Wilson, 2005).
Obat antiinflamasi dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu :
a. Glukokortikoid (golongan steroidal) yaitu antiinflamasi steroid.
Anti inflamasi steroid memiliki efek pada konsentrasi, distribusi dan fungsi leukosit perifer
serta penghambatan aktivitas fosfolipase. Contohnya golongan predinison.
b. NSAIDs (Non Steroid Anti Inflamasi Drugs ) juga dikenal dengan AINS (Anti Inflamasi Non
Steroid). NSAIDs bekerja dengan menhhambat enzim siklooksigenase tetapi tidak
Lipoksigenase
NSAIDs bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase (COX), dan
dengan melakukan hal ini, NSAIDs juga bekerja untuk menurunkan produksi prostaglandin
dan Leukotriena. Prostaglandin COX-1 merangsang fungsi fisiologis tubuh, seperti
produksi mukus lambung yang bersifat protektif dan maturasi trombosit.
Sebaliknya, lintasan COX-2 diinduksi oleh kerusakan jaringan/ inflamasi, dan
prostaglandin yang dihasilkan merupakan substansi proinflamasi, inhibisi lintasan COX-2
akan mengurangi respon inflamasi, mengurangi udema dan meredahkan nyeri.
Obat kortikosteroid anti-inflamasi, seperti kortisol dan prednisone menghambat
pengaktifan fosfolipase A2 dengan menyebabkan sintesis protein inhibitor yang disebut
lipokortin. Lipokortin menghambat aktifitas fosfolipase sehingga membatasi produksi PG.
Preparat steroid juga mengganggu fungsi limfosit sehingga produksi IL menjadi lebih sedikit.
Keadaan ini mengurangi komunikasi antar limfosit dan proliferasi limfosit. Oleh karena itu,
pasien uang menggunakan steroid dalam jangka pnjang lebih rentang terkena infeksi. (Chang
dan Daly, 2009).

Contoh obat yang termasuk antiinflamasi non steroid :


Na. Diklofenak
Indikasi

:nyeri pasca bedah, nyeri dan radang pada penyakit artritis dan

gangguan otot rangka lainnya, nyeri pada gout dan dismenoria.


Kontraindikasi

: Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah,

angioudema, tukak lambung aktif.


Efek samping

: Pencernaan

: gabgguan saluran cerna bagian atas (20 %), tukak

lambung, perdsarahan saluran cerna.


Saraf

: Sakit kepala (3-9 %), depresi, insomia, cemas

Ginjal

: (kurang dari 1 %), terganggu fungsi ginjal

Kardiofaskuler : retensi cairan, hipertensi (3-9 %)


Pernapasan

: asma (kurang dari 1 %)

Darah

: Lekopenia, trombosipetomia, hemolitik anemia (kurang dari 1%).

Hati

:Hepatitis, sakit kuning (jarang), peningkatan SGOT terjadi pada 2%

pasien.
Lain-lain
Cara Kerja

:Ruam, Pruritus, tinnitus, reaksi sensivitas


: Menghambat sintesis prostaglandin dengan menghambat COX1 dan COX-2.

Contoh obat yang merangsang terjadinya inflamasi


Karagenan merupakan suatu istilah yang telah disepakati bersama untuk polisakarida
yang diperoleh dengan ekstraksi dalam suasana basa (dan modifikasi) dari ganggang merah
(Rhodophycae), yang pada umumnya berasal dari famili Chondrus, Eucheuma, Gigartina dan
Iridaea. Ganggang yang berbeda akan menghasilkan karagenan yang berbeda pula.
Karagenan merupakan suatu polimer linier yang terdiri dari 25.000 galaktosa yang mirip
dengan regularnya, namun dalam struktur yang tidak akurat, tergantung pada sumber dan
kondisi
saat
melakukan
ekstraksi
(Anonim,2004,PERKEMBANGANANTIRADANGBUKAN
STEROID,http://acta.fa.itb.ac.id/pdf_dir/issue_27_4_7.pdf).
Obat antiradang bukan steroid telah digunakan dalam pengobatan sejak lebih dari satu
abad yang lalu. Penemuan mekanisme kerja golongan obat ini, yaitu penghambatan enzim
siklooksigenase yang terdapat dalam dua isoform - siklooksigenase-1 dan -2, telah
mempercepat upaya pengembangan obat ini terutama penghambat selektif enzim
siklooksigenase-2. Disamping itu, dengan diketahuinya efek protektif radikal oksida nitrat
(NO) pada saluran cerna, telah membuka strategi lain dalam pengembangan golongan obat
ini, yaitu melalui penambahan moieties donor NO pada molekul obat antiradang bukan
steroid klasik. Penambahan donor NO dimaksudkan untuk mengkompensasi efek samping
merugikan pada saluran cerna yang disebabkan oleh penghambatan biosintesis prostaglandin.

Obat antiradang bukan steroid atau yang lazim dinamakan non streroidal antiinflammatory
drugs (NSAIDs) adalah golongan obat yang terutama bekerja perifer, memiliki aktivitas
penghambat radang dengan mekanisme kerja menghambat biosintesis prostaglandin melalui
penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase. Pada tahun 1899 asam asetil salisilat sebagai
obat anti radang bukan steroid sintetik dengan kerja antiradang yang kuat untuk pertama
kalinya digunakan dalam pengobatan simptomatis penyakit-penyakit rematik. Pada tahuntahun berikutnya mulai digunakan obat-obat lain untuk tujuan pengobatan yang sama, antara
lain fenilbutazon (1949), indometasin (1963), dan ibuprofen (1969). Obat antiradang bukan
steroid diindikasikan pada penyakit-penyakit rematik yang disertai radang seperti rheumatoid
dan osteoartritis untuk menekan reaksi peradangan dan meringankan nyeri
(Anonim,2004,PERKEMBANGANANTIRADANGBUKAN
STEROID,http://acta.fa.itb.ac.id/pdf_dir/issue_27_4_7.pdf).
Mekanisme kerja obat ini dapat diterangkan dengan mengikuti alur biosintesis
prostaglandin. Prostaglandin merupakan kelompok senyawa turunan asam lemak prostanoat
(C20) yang rantai atom karbonnya pada nomor 8-12 membentuk cincin siklopentan. Saat ini
dikenal prostaglandin A sampai I yang dibedakan oleh substituen yang terikat pada cincin
siklopentan. Struktur asam prostanoat dan beberapa contoh prostaglandin. Pada manusia,
asam arasidonoat (asam 5,8,11,14-Eikosatetraenoat) merupakan prazat terpenting untuk
mensintesis prostaglandin. Terdapat dua jalur utama reaksi-reaksi yang dialami oleh asam
arasidonoat pada metabolismenya, yaitu jalur siklooksigenase yang bermuara pada
prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan serta jalur lipoksigenase yang menghasilkan
asam-asam
hidroperoksieikosatetraenoat
(HPETE)
(Anonim,2004,PERKEMBANGANANTIRADANGBUKAN
STEROID,http://acta.fa.itb.ac.id/pdf_dir/issue_27_4_7.pdf).
Zat antiradang diyakini bekerja dengan memutuskan rangkaian asam arakidonat. Obat
golongan ini banyak dipakai untuk mengobati rasa nyeri lemah dan juga untuk mengobati
edema dan kerusakan jaringan akibat artritis. Beberapa di antaranya adalah antipiretika
(mengurangi demam) di samping mempunyai kerja analgetik dan antiradang
(Nogrady,T.,1992).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.ALAT DAN BAHAN
3.1.1.Alat
1. Alat suntik
2. Oral sonde
3. Plestimometer atau digital diganti dengan benang
3.1.2.bahan
1. Tikus putih tiga(3) ekor
2. Larutan karangenan 0.5%
3. Aqua pro ijeksi sebagai kontrol
4. Natrium diklofenak 0.5%

3.2.PROSEDUR PERCOBAAN
1. Tikus dipuasakan (tetap diberi minum) sejak 18 jam sebelum percobaan .
2. Tikus ditimbang lalu diberikan tanda pada sandi kaki belakang sebelah kiri untuk
setiap tikus.
3. Volume kaki tikus diukur dengan cara mengukur lingkar kaki yang bengkak pada kaki
tikus
4. Pemberian obat , disuntikan larutan karengenan dengan volume ke telapak kaki
sebelah kiri .
5. Pada menit ke 30 Tikus diberikan suspensi obat Na-diklofenak secara oral dengan
variasi dosis masing-masing 15mg/kgBB dan 20 mg/kgBB , dan aqua pro injeksi
sebagai kontrol .
6. 30 menit kemudian volume kaki yang telah disuntikan obat diukur dan di catat .
pengukuran dilakukan selama 3 jam dengan interval waktu 30 menit sekali.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perhitungan Bahan:
1. Larutan Karagenan 1 %

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Mencit (Online). (http: //id.m.wikipedia.org/wiki/mencit).Diakses


20 September 2010.
Chan, E dan Daly J. 2009. Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan.
EGC : Jakarta.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Depkes RI : Jakarta.
Dirjen POM. 2007. Pelayanan Informasi Obat. Depkes : Jakarta.
Price, S. A dan Wilson. 2005. Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses-Proses
penyakit. EGC : Jakarta.
Tambayong J. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. EGC : Jakarta.
Tjay. T. H dan Raharja. K. 2007. Obat-Obat Penting. Gramedia : Jakarta.

LAMPIRAN

Penimbangan tikus sebelum pemberian bahan obat

Pemberian larutan Na-diklofenak secara oral sonde

Penyuntikan larutan karangenan dengan cara intraplantar pada kaki sebelah kiri

Pengamatan setela pemberian obat .