Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Toluena


Toluena adalah suatu senyawa tidak berwarna, cairan berbau aromatik
yang khas dimana tidak setajam benzena. Asal kata toluena diambil dari sebuah resin
alami, kata Tolu, merupakan sebuah nama dari sebuah kota kecil di Colombia,
Amerika Selatan. Toluena ditemukan antara produk degradasi dengan cara pemanasan
resin tersebut. Toluena dikenal juga sebagai metilbenzena ataupun fenilmetana yaitu
cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer
cat dan berbau harum seperti benzena. Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang
digunakan secara luas dalam stok umpan industri dan juga sebagai bahan pelarut bagi
industri lainnya. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga digunakan sebagai obat
inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan. Toluena juga mudah sekali terbakar.
Sebelum perang dunia pertama, sumber utama dari toluena adalah
pemanasan batu arang. Pada waktu itu, trinitrotoluena (TNT) menghasilkan daya
ledak yang tinggi dan produksi toluena dalam jumlah besar diperlukan untuk
pembuatan TNT tersebut.
Toluena secara umum diproduksi bersama dengan benzene, xylene, dan
senyawa aromatik C9 dengan pembentukan katalitik dari nafta. Hasil pembentukan
kasar ini diekstraksi, kebanyakan terjadi dengan sulfolane atau tetraetilena glikol dan
zat terlarut, ke dalam sumur campuran dari benzene, toluena, xylena dan senyawa C9aromatik dimana dipisahkan dengan cara fraksinasi. Struktur toluena seperti pada
gambar 2.2 berikut ini merupakan senyawa turunan benzena dengan gugul metana
berada pada cincin benzena.

Toluena, sebelumnya dikenal sebagai toluol, metil benzena, dan fenil metana
merupakan cairan jernih tidak larut dalam air dengan bau khas pengencer cat. Ini
adalah turunan benzena di mana atom hidrogen tunggal dari sekelompok enam atom
dari molekul benzena telah digantikan oleh sekelompok grup univalen, dalam hal ini
CH3. Toluena terjadi secara alami dalam minyak mentah dan di pohon tolu. Juga
diproduksi dalam proses pembuatan bensin dan bahan bakar lainnya dari minyak
mentah serta pembuatan kokas dari batubara.

Gambar 1.1 Struktur molekul toluena


1.2 Sifat-sifat Toluena
1.2.1 Sifat-sifat Fisik Toluena
Rumus kimia

: C6H5CH3 (C7H8)

Bentuk

: Cair ( 30 oC,1 atm )

Warna

: Jernih tidak berwarna

Berat molekul

: 92,141 g/mol

Titik lebur

: -94,97 oC

Titik didih

: 110,63 oC

Densitas (20 oC)

: 0,8665 g/ml

Viskositas (25 oC)

: 0,548 cp

Suhu kritis

: 318,65 oC

Tekanan kritis

: 41,8 atm

Panas pembentukan (25 oC)

: 50,17 kJ/mol

Panas pencampuran (25 oC)

: 6,62 kJ/mol

Energi bebas pembentukan (25 oC)

: 122,2 kJ/mol

1.2.2 Sifat Kimia Toluena


1. Reaksi hidrogenasi, dengan katalis nikel, platinum atau paladium dapat
menjenuhkan cincin aromatik sebagian maupun keseluruhan, menghasilkan benzena,
metana dan bifenil.
2. Reaksi oksidasi, dengan katalis kobalt, mangan atau bromida pada fase cair
menghasilkan asam benzoat.
C6H5CH3 + 3/2 O2

Br/Co/Mn

C6H5COOH + H2O

3. Reaksi substitusi oleh metil, pada temperatur tinggi dan reaksi radikal bebas.
Klorinasi pada 100oC atau dengan ultraviolet membentuk benzil klorida, benzal
klorida dan benzotriklorida.
4. Reaksi substitusi oleh logam alkali menghasilkan normal-propil benzena, 3-fenil
pentana, dan 3-etil-3-fenil pentana.
Toluena dalam jumlah yang kecil tidak terlalu berbahaya ketika ikut terhirup
dengan udara ke dalam saluran pernafasan. Kebanyakan toluena yang menjadi gas ini
berasal dari emisi kendaraan bermotor yang dilepas ke udara dan sisa pembakaran bahan
bakar pesawat. Merokok juga dapat meningkatkan konsentrasi toluena. Penelitian
mengenai toluena dapat juga membahayakan jiwa sang peneliti jika tidak dengan hatihati ditangani. Pada beberapa tingkat dan level yang lebih tinggi dari level standar,
toluena dapat menyebabkan beberapa dampak antara lain:

Jika orang terhirup toluena, hal tersebut dapat menyebabkan gangguan


pernafasan hingga membuat suplai oksigen ke otak dan bagian-bagian tubuh

lain terhambat.
Dapat menyebabkan iritasi mata
Dapat menyebabkan radang tenggorokan
Menyebabkan gangguan pada paru-paru
Tertelan toluena dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan sakit pada

perut.
Dapat

pandangan berbayang, keseimbangan tubuh berkurang


Gangguan pada otak yang menyebabkan kehilangan memori dan rusaknya

saraf otak
Jika terhirup dalam jumlah yang banyak dan secara cepat dapat merusak

sistem saraf
Menyebabkan masalah hati (lever).
Menyebabkan koma
Kadang-kadang jika dalam kandungan yang terlalu banyak dan berbahaya

dapat menyebabkan kematian.


Pada ibu hamil, jika toluena terkonsumsi dalam jumlah yang banyak

menyebabkan

pusing,sakit

kepala,kepala

berkunang-kunang,

seperti pada penggunaannya sebagai obat bius,maka ada kemungkinan


bayi tersebut akan lahir cacat dan mungkin beberapa organ tidak bekerja
dengan baik.
1.3 Kegunaan Toluena
Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang banyak digunakan sebagai bahan
baku industri dan sebagai pelarut. Penggunaan industri terbesar toluena adalah dalam
produksi benzena, bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik dan serat
sintetis. Toluena juga digunakan untuk meningkatkan oktan bensin. Ada tiga jenis
berdasarkan kemurnian toluena yang tersedia di pasar: TDI (diisosianat toluena)
grade kemurnian lebih dari 99%; nitrasi grade (98,5-100%), disebut demikian karena
banyak digunakan untuk membuat nitrotoluene, tapi sekarang digunakan sebagai
pelarut dan HAD (hidrodealkilasi)/TDP (toluena disproporsionasi) tanaman; dan
kelas komersial (96%) untuk campuran bensin dan bahan baku HAD.

Toluena jenis TDI digunakan untuk membuat isosianat yang dikombinasikan


dengan poliol dalam pembuatan poliuretan. Pada akhirnya, poliuretan digunakan
dalam berbagai barang konsumen seperti busa untuk furniture dan tempat tidur,
pelapis untuk lantai dan furnitur, trek olahraga buatan, baju ski dan pakaian tahan air.
Toluena jenis nitrasi banyak digunakan di pasar pelarut dan juga dalam produksi
fenol, khususnya di Eropa.
Kedua jenis nitrasi dan komersial yang digunakan sebagai umpan dalam proses
hidrodealkilasi, yang mengambil grup metil dari toluena untuk membuat benzena.
Jenis ini juga digunakan dalam proses disproporsionasi, yang menghilangkan gugus
metil dari satu molekul toluena dan menempatkan ke yang lain, menghasilkan
molekul satu benzene dan satu ksilena.
Penggunaan utama dari toluena adalah sebagai campuran yang ditambahkan ke
bensin untuk meningkatkan nilai oktan. Toluena juga digunakan untuk memproduksi
benzena dan sebagai pelarut dalam cat, pelapis, pengharum sintetis, lem, tinta, dan
agen-agen pembersih. Toluena juga digunakan dalam produksi polimer yang
digunakan untuk membuat nilon, botol soda plastik, dan poliuretan serta untuk obatobatan, pewarna, produk kosmetik kuku, dan sintesis kimia organik. Toluen dapat
digunakan sebagai solven dalam industri cat, campuran tinta printer, desinfektan,
bahan baku industri dalam pembuatan toluen sulfonat, toluen diicocyanate dan lainlain. Selain untuk industri, toluen juga bisa digunakan sebagai reagen untuk
pengujian di laboratorium yang mempunyai syarat tertentu, selain untuk sintesa dan
kromatografi. Berikut ini adalah kegunaan produk toluene di berbagai industri besar.

Tabel 1.1 Kegunaan produk toluene di beberapa industri besar


No

Nama Produk

Manfaat

1.

Solvent

Sebagai pelarut alami atau


buatan untuk bahan kimia
lainnya

pewarna

Sebagai bahan
pewarna lainnya

3.

Octane booster

Menaikkan angka
pada bahan bakar

Antiseptik Luka

Sebagai bahan kandungan


untuk
membuat
luka
menjadi steril

RPE

Sebagai
retina

Toluena di isosianat

Larutan pembersih

Lubrizol

Sebagai minyak pelumas

Packaging ink

Sebagai pewarna menarik


untuk membungkus sesuatu

Architectural coatings

Sebagai
bahan
untuk
menambah perkakas dan
perabot rumah

10

Avtur/Avigas

Bahan
terbang

11

Fenol

Digunakan
pembersihan
dokter gigi

sel

cat/bahan
oktan

fotoreseptor

bakar

pesawat

gigi

pada
atau

12

Paint Thinners

Pembersih cat

13

Polyvinil acetate

Zat pembuat lem

14

Synthetic resin

Sebagai penukar ion

15

Surface cleaner ( aerosol )

Sebagai pembersih lantai

16

Wall covering

Pelapis dinding dan cat

17

Water proofing compound

Melindungi bahan
terpaan air agar awer

18

Kutex

Pembersih kuku

dari

BAB II
RANCANGAN PROSES
2.1 Ketersediaan Bahan Baku
Sumber utama toluena adalah katalis konversi minyak bumi dan aromatik dari
hidrokarbon alifatik, dan sebagai produk sampingan dari industri oven arang.

Sebagian produksi dalam bentuk campuran benzene toluene xilene yang di


gunakan pada blending bensin untuk meningkatkan nilai oktan.
2.2 Proses Pembuatan Toluena
2.2.1 Catalytic Reforming

Methyl cyclohexane

toluene ( 80 %-90% konversi )

Gambar 2.1 Reaksi pembentukan toluena


Reaksi pembentukan toluena berawal dari isomerisasi hidrokarbon dimetil
siklopentana yang disusul dengan dehidrogenasi.

Gambar 2.2 Pembentukan toluene dari cincin benzena


1. Reaksi Dehydrogenasi
Reaksi dehydrogenasi sangat endothermis atau memerlukan panas, dipromote oleh
fungsi metal dari katalis dan mudah terjadi pada suhu tinggi dan tekanan rendah.
Reaksi ini bisa terlihat pada penurunan/beda temperatur reaktor terutama reaktor
pertama. Bila penurunan temperatur reaktor yang besar, produksi hidrogen tinggi per
bbl feed dan kemurnian hidrogen tinggi menunjukkan reaksi dehidrogenasi yang baik.
Reaksi dehidrogenasi merupakan reaksi yang paling cepat dalam reaksi reforming,
maka diperlukan penggunaan interheater di antara catalyst bed untuk menjaga suhu
yang tetap cukup tinggi agar reaksi berlangsung lebih cepat. Contoh reaksi
dehydrogenasi yang terjadi :
Alkyl cyclo hexane aromatic
2. Reaksi Dehidrosiklisasi

Siklisasi dari paraffin ke naphthene adalah reaksi yang paling sulit. Reaksi ini lebih
baik pada tekanan rendah, temperature tinggi dengan metal/acid function. Naphthene
dengan ring lebih kecil dari 6 atom karbon (misal 5) akan diisomerisasi menjadi 6
terlebih dahulu sebelum didehirogenasi ke aromatic. Contoh :
dehidrosiklisasi Heptane metyl cyclohexane + H2
3. Reaksi Isomerisasi
Formula molekulnya sama tetapi berbeda dalam struktur internalnya, lebih mudah
terjadi pada temperatur rendah. Isomerisasi paraffin dan cyclopentane biasanya
menghasilkan produk dengan angka oktan yang lebih rendah selain terbentuknya
aromatic.
Contoh :

Methyl cyclopentane (RON 91) cyclohexane (RON 83) (isomerisasi

dengan bantuan Cl-)


Cyclohexane (RON 83) Benzene (RON >100>(dehidrogenasi dengan
bantuan Pt)

4. Reaksi Hidrokraking
Reaksi hidrokraking adalah eksotermis yaitu reaksi memecah paraffin dengan
molekul besar menjadi paraffin yang lebih ringan dan gas. Reaksinya memerlukan
hidrogen sehingga menyebabkan penurunan kemurnian hidrogen, memperkecil
penurunan delta temperatur pada reaktor terakhir serta menurunkan jumlah produk
reformat. Reaksi yang terjadi tergantung pada jenis paraffin yang terdapat dalam feed
dan kondisi operasi.
2.2.2 Toluena dapat dibentuk dari reaksi antara substitusi golongan
kloro alkana dengan senyawa grup metil
Biasanya bahan yang digunakan adalah benzene dengan katalis AlCl3
CH3Cl + AlCl3 CH3+ + AlCl4-

C6H5H + CH3+ + AlCl4- C6H5CH3 + HCl + AlCl 3


Katalis yang bisa digunakan untuk menggantikan posisi AlCl3antara lain
AlCl 3 > SbCl3 > SnCl4 > BF3 > ZnCl2 > HgCl2
Dengan catatan keberhasilan pembentukan reaksi bergantung pada kereaktifan dari
katalis dan reaktan. Tingkat kereaktifan yang semakin tinggi akan membuat Toluena
semakin mudah tertentu.
2.2.3 Toluena dapat dibentuk dari Reaksi wurtz fittig

Reaksi wurtz-Fittig adalah reaksi antara aril halide dengan alkil halida dengan
bantuan logam Sodium untuk memberika substitusi senyawa aromatic. Ketika
bromobenzena dan metal bromide direaksikan dengan Natrium dalam pelarut eter
maka akan dihasilkan Toluena.

.
2.2.4 Pembentukan Toluena dari Toluic acid dengan cara dekarboksilasi
Ketika garam natrium dari Toluic acid (o-,m-,p-) dipanaskan dengan senyawa
basa maka dihasilkan Toluena.
C6H4CH3COONa (sodium toluate) + NaOH C6H5CH3 (toluena) +
Na2CO3
2.2.5 Pembentukan Toluena dari Cresol
Ketika Cresol (o-,m-,p-) dicampur dengan serbukan zinc maka reaksinya akan
menghasilkan Toluena.
C6H4CH3OH (cresol) + Zn C6H5CH3 (toluena) + ZnO
2.2.6 Pembentukan Toluena dari asam toluena sulfonat
Reaksi ini terjadi ketika asam toluena sulfonat dipanaskan dalam superheated
steam atau dengan HCl,hasil reaksinya akan didapatkan Toluena. CH 3C6H4SO3H
(toluenasulfonic acid) + HOH (steam) C6H5CH3 (toluena) + H2SO4
2.2.7 Pembentukan Toluena dari Toluidine
Toluidine awalnya direaksikan dengan Natium nitrit dengan HCl pada
temperature rendah. Hasil antaranya berupa diazonium. Diazonium kemudian
dipanaskan dengan alkaline SnCl2. Reaksi ini akan menghasilkan Toluena.
2.2.8 Pembentukan Toluena dengan reagen Grignard
Ketika Fenil Magnesium Bromida direaksikan dengan metal bromide,maka
akan dihasilkan Toluena.
2.2.9 Pembentukan toluena dari senyawa keton aromatic
Masih menggunakan reaksi Friedel-Crafts, ketika asam klorida direaksikan
dengan senyawa aromatik hidrokarbon di dalam katalis AlCl 3 , campurannya akan
menghasilkan senyawa keton aromatic. Keton kemudian direduksi menggunakan zinc
dan HCl yang konsentrasinya tinggi sehingga dihasilkan Toluena.

C6H6 + ClCOCH3 C6H5COCH3 (acetophenone) + HCl C6H5COCH3 +


4H C6H5CH2CH3
Biasanya metode ini persentase menghasilkan Toluena lebih kecil karena harus
bersaing dengan konsentrat lainnya, reaksi ini sebenarnya lebih mengarah baik pada
pembentukan etil benzene.
2.3 Tingkatan Kemurnian Toluena
1. Toluena yang memiliki nilai kemurnian 99+%
2. Toluena yang memiliki tingkat kemurnian 98,5-99%. Toluena dalam golongan ini
sering dipakai untuk membuat nitro Toluena,tetapi sekarang kebanyakan digunakan
sebagai pelarut murni.
3. Toluena yang memiliki tingkat kemurnian di bawah 96%. Toluena ini biasa
digunakan untuk campuran bahan bakar dan cadangan laju umpan pada reactor
industri.

2.4 Kondisi Operasi Pembentukan Toluena


Hidrokarbon aromatik (Benzene-Toluene-Xylene) dihasilkan melalui proses
catalytic reforming, dengan nafta sebagai bahan baku dan katalis platina, pada suhu
450-500oC. Untuk mendapatkan jumlah aromatic yang lebih banyak, pengaturan
kondisi operasi Catalytic Reforming akan berkontribusi untuk tujuan ini. Umumnya
aromatic dapat diaakan bertambah dengan :
1. Kenaikan temperatur (menaikkan kecepatan reaksi tetapi sebaliknya akan
mempengaruhi keseimbangan reaksi)
2. Tekanan rendah (menggeser keseimbangan reaksi ke kanan)
3. Low space velocity (mempercepat pencapaian keseimbangan)
4. Rasio H2/HC rendah (menggeser keseimbangan reaksi ke kanan, tetapi tekanan
parsial H2 harus dijaga untuk mencegah pembentukan coke yang berlebihan).

2.5 Diagram Alir Proses Pembentukan Toluena

Gambar 2.3 Diagram alir (Flow Diagram) Pada Proses Pembentukan Toluena

Gambar 2.4 Proses Detail Pembentukan Toluena dengan kondisi operasi

Gambar 2.5 Kondisi operasi proses Pembentukan Toluena

Gambar 2.6 Proses Pembentukan BTX (hidrokarbon aromatic)

Proses pembuatan toluene dengan cara mereaksikan heptana dalam reaktor


Fixed Bed multi tube menggunakan katalis activated alumina (Al2O3) dan platinum
pada suhu 450 oC dan tekanan 20 atm. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi
endothermis, sehingga reaktor perlu menggunakan pemanas Hitec untuk menjaga
suhu dalam reaktor pada kondisi operasi, yaitu antara 450 550 oC. Hasil keluaran
dari reaktor berupa uap dilewatkan pada kondenser untuk diembunkan, kemudian fasa
uap dan cairan dipisahkan dengan menggunakan separator. Hasil atas separator
berupa 99% gas hidrogen digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan hasil bawah
separator diumpankan ke menara distilasi I untuk dipisahkan antara produk Toluena
dan nafta sisa reaksi. Hasil atas menara distilasi I yang merupakan 99% nafta di
recycle kedalam reaktor sedangkan hasil bawah menara distilasi 1 diumpankan

kemenara striper untuk dimurnikan hingga didapatkan hasil atas menara striper
berupa toluene kemurnian 99% dan hasil bawah berupa inert digunakan sebagai
bahan bakar.

2.6 Toluena Sebagai Bahan Baku Beberapa Produk Kimia

2.6.1 Pembuatan Xylene dari Toluena

Gambar 2.7 Diagram Alir Proses Pembuatan Xyelene Dari Toluena


Toluene cair dari tangki penyimpan dipompa bersama dengan arus recycle
yang berasal dari hasil atas menara distilasi 02 yang sebagian besar mengandung

toluene, diumpankan ke dalam vaporizer pada tekanan 22 atm. Hasil uap dengan suhu
275C dan tekanan 21,5 atm kemudian dicampur dengan gas hydrogen dengan
perbandingan mol H2 dan toluene sebesar 5 : 1 untuk mencegah terbentuknya coke di
reaktor. Campuran gas kemudian dipanaskan di preheater furnace sampai suhu
460C. Reaktan diumpankan ke dalam Reaktor melalui tumpukan katalisator
sehingga terjadi reaksi disproporsionasi membentuk xylene dan benzene dengan
konversi total toluene sebesar 45%, 40% untuk reaksi pertama dan 5% untuk reaksi
kedua.
Hasil reaksi keluar Reaktor melalui beberapa pendinginan sebelum
didinginkan di condenser parsial. Condensor parsial mendinginkan gas-uap sampai
suhu 40C, sehingga senyawa dengan titik didih di atas itu akan mengembun,
sedangakan gas H2 dan CH4 tidak mengembun sehingga dapat dipisahkan di
Separator. Gas keluar hasil atas separator sebagian direcycle dan sebagian dipurging,
dan hasil embunan yang terdiri atas benzene, toluene dan xylene kemudian
diumpankan ke dalam menara distilasi 01.
Menara distilasi 01, benzene akan dipisahkan sehingga diperoleh sebagai hasil
atas dengan kemurnian 98%. Hasil bawah yang terdiri dari senyawa toluene dan
xylene diumpankan ke dalam menara distilasi 02. Menara distilasi 01dijalankan
dalam tekanan atmosferis dengan suhu puncak 81C dan suhu bawah sekitar 125C.
Di dalam menara distilasi 02, toluene dipisahkan sebagai hasil atas yang
kemudian direcycle kembali ke dalam reaktor. Xylene yang diperoleh sebagai hasil
bawah MD-02 mempunyai kemurnian 98% dan ditampung ke dalam tangki produk.
2.6.2 Pembuatan Mononitrotoluena dari Campuran Toluena dan Asam
Secara keseluruhan proses pembuatan MNT dari toluena dan asam
campuran dengan proses kontinyu dapat dilaksanakan melalui tiga tahap:
1. Proses Penyiapan Bahan Baku

Bahan baku dipanaskan dengan tujuan menyesuaikan kondisi operasi dalam


reaktor karena reaktor beroperasi secara isotermis. Mula-mula bahan baku toluena
yang berasal dari tangki penyimpan (T-03) pada suhu lingkungan sebesar 30 C
o

dinaikkan suhunya dengan heat exchanger (E-02) menjadi suhu 50 C dipompakan


o

menuju Reaktor (R-01). Di dalam mixer (M-01), asam nitrat dari tangki penyimpan
(T-01) dicampur dengan asam sulfat yang dipompa dari tangki penyimpan (T-02) dan
hasil rekonsentrasi asam sulfat di mana bahan-bahan tersebut bersuhu 30 C.
o

Rekonsentrasi asam sulfat dilakukan dengan menggunakan evaporator (V-01).


Dimana Komposisi asam campuran adalah 30% HNO3, 56% H2SO4, 12% H2O.
Perbandingan mol asam nitrat dan toluena di dalam reactor adalah 1 : 1 Dialirkan
secara kontinyu dengan suhu 50 C.
o

2. Proses Reaksi Nitrasi


Bahan baku yang masuk ke reaktor melalui puncak reaktor pada kondisi 30 C dan
o

tekanan 1 atm. Reaksi nitrasi antara toluena dan asam nitrat bersifat eksotermis dan
berlangsung pada reaktor alir tangki berpengaduk (RATB). Untuk menjaga suhu
reaktor agar tidak lebih dari 50 C maka diperlukan pendingin. Pendingin reaktor
o

menggunakan air yang masuk pada suhu 30 C dan keluar pada suhu 40 C. Produk
o

yang diperoleh dari reaktor adalah MNT, produk samping berupa air dan sisa reaktan
berupa toluena dan asam campuran. Produk reaktor selanjutnya diumpankan keunit
pemurnian.
3. Proses Pemurnian Hasil
Pada proses pemurnian ada tiga tahapan yaitu:
a. Pemisahan fase organik dan anorganik
Produk reaktor dimasukkan di dalam dekanter (X-01) untuk memisahkan fase
organik dan anorganik pada tahap pertama. Dekantasi dapat dilakukan karena kedua
fase cair tidak saling melarutkan.
b. Netralisasi

Fase organik dari dekanter (X-01) dipompakan ke netralizer (A-01) untuk


menetralkan asam nitrat dan asam sulfat yang terikut dalam fase organik. Natrium
hidroksida yang digunakan sebagai penetral mempunyai kadar 40% dipompakan dari
tangki penyimpan (T-04). Hasil netralisasi dimasukkan ke dalam Dekanter (X-02)
untuk memisahkan garam Na2SO4 dan NaNO3 yang terbentuk dengan produk.
c. Pemurnian dengan distilasi
Larutan dari Dekanter (X-02) dinaikkan suhunya dengan HE-02 dari suhu 50 C
o

menjadi 160,89 C dan diumpankan ke menara distilasi (MD-01). Menara distilasi


o

berfungsi untuk memisahkan produk MNT dari impuritasnya. Hasil bawah menara
distilasi dengan suhu 198,42 C dilewatkan pendingin untuk diturunkan suhunya
o

menjadi 40 C dan selanjutnya disimpan dalam tangki penyimpan.


o

BAB III
KESIMPULAN
Toluena merupakan senyawa aromatik yang diproduksi dari nafta dengan proses
catalytic reforming, maupun isomerasi dari beberapa senyawa. Reaksi pembentukan
toluena yaitu isomerisasi hidrokarbon dimetil siklopentana disusul dengan
dehidrogenasi. Namun, ada banyak jenis reaksi pembentukan Toluena ini.Proses
catalytic reforming pembentukan toluene dengan nafta sebagai bahan baku
menggunakan katalis platina, pada suhu 450-500oC. Kondisi Operasi pada proses
pembentukan Toluena adalah bertekanan rendah, bersuhu tinggi, Low Space Velocity
agar reaksi cepat mencapai kesetimbanngan, dan rasio mol reaktan yang bereaksi.
Toluen dapat digunakan sebagai solven dalam industri cat, campuran tinta printer,
desinfektan, bahan baku industri dalam pembuatan toluen sulfonat, toluen
diicocyanate dan lain-lain. Kebanyakan toluene digunakan sebagai bahan baku
pembuatan bahan kimina lainnya seperti mononitrotoluena, dinitrotoluena, xylene,
dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
A Moulijn, Jacob; Makkee,Michiel; Van Diepen, Annelies. Chemical Process
Technology. 2001. New York : John Wiley & Sons Ltd.
Austin, George T. Shreves Chemical Process Industries 5thed. 1984. New York :
Mc-Graw Hill
Imamkhasani, Soemanto, Dr. Material Safety Data Sheet (MSDS) Lembar Data
Keselamatan bahan Vol. I. 1999. Puslitbang Kimia Terapan LIPI.
en.wikipedia.org/wiki/Toluene
www.icis.com/v2/chemicals/9076551/toluene/process.htm
www.scribd.com/doc/.../Toluene-and-Benzoic-Acid-Production
archivos.labcontrol.cl/HYSYS_DOCUS/SimpleTolueneHYSYS.doc
www.chemguide.co.uk/organicprops/arenes/fc.html
www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1008235
http://putrisucimawariza.blogspot.com/2010/11/industri-petrokimia.html
http://etd.eprints.ums.ac.id/3531/1/D500040049.pdf