Anda di halaman 1dari 7

Senin, 17 Desember 2013

PRAKTIKUM FRAKSINASI

Disusun Oleh :
KELOMPOK 5 (LIMA)
KONVERSI 2012 XA
M.SIDIK ASHARI NIM 1204017021
PUTRI MUTIARA LESTARI NIM 1204017041
SELVI DWI CAHYANINGSIH NIM 1204017044

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA 2012

I.TUJUAN PRAKTIKUM:
Memisahkan golongan-golongan senyawa pada tumbuhan hingga diperoleh zat murni
menggunakan metode fraksinasi corong pisah dan kromatografi kolom
II.TINJAUAN PUSTAKA
Fraksinasi
Fraksinasi merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk memisahkan golongan
utama kandungan yang satu dari kandungan golongan utama yang lainnya. Fraksinasi merupakan
prosedur pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan kepolaran tergantung dari
jenis senyawa yang terkandung dalam tumbuhan.
Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa yang terdapat dalam ekstrak akan
sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh karena itu, jika digunakan air sebagai
pengekstraksi maka senyawa yang terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang
bermuatan listrik. Jika digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang
terekstraksi bersifat non polar dalam ekstrak. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi
digunakan dua metode yaitu dengan menggunakan corong pisah dan kromatografi kolom.
Corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk
memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan
densitas yang berbeda yang tak tercampur.
Umunya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa organiklipofilik seperti eter,
MTBE, diklorometana, kloroforom, ataupun etilasetat. Kebanyakan pelarut organik berada di
atas fase air kecuali pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen. Pemisahan ini didasarkan
pada tiap bobot dari fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada pada bagian dasar sementara
fraksi yang lebih ringan akan berada di atas. Tujuannya untuk memisahkan golongan utama
kandungan yang satu dari kandungan yang lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke
pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar.
Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola, mempunyai penyumbat di
atasnya dan di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca
borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi
antara 50 ml sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan
dipasang sentrifuge.

Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan kedalam corong dari atas
dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk
membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk
melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan
antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan
ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.
Kromatografi Kolom
II.A. Terjadinya proses pemisahan dapat dengan cara :
1. Adsorpsi - Adsorpsi komponen atau senyawa diantara permukaan padatan dengan cairan (solid
liquid interface) - Agar terjadi pemisahan dengan baik, maka komponen-komponen tersebut
harus mempunyai afinitas yang berbeda terhadap adsorben dan ada interaksi antara komponen
dengan adsorben
2. Partisi - Fase diam dan fase gerak berupa cairan yang tidak saling bercampur - Senyawa yang
akan dipisahkan akan berpartisi antara fase diam dan fase gerak. Karena fase diam memberikan
daerah yang sangat luas bagi fase gerak, maka pemisahan berlangsung lebih baik.
Penyiapan kolom
Pemilihan ukuran kolom a. Tergantung jumlah sampel yang akan dipisahkan, perbandingan
adsorben-cuplikan (30:1) b. Perbandingan panjang dengan diameter kolom (10-15:1) c. Untuk
sampel yang multikomponen yang mempunyai afinitas yang sama terhadap adsorben maka
dipilih kolom yang panjang, sedangkan untuk komponendengan afinitas yang berbeda terhadap
adsorben maka dipilih kolom yang pendek.
II.B. Cara melakukan adsorben ke dalam kolom:
1. Metode kering
2. Metode basah
3. Metode bubur/lumpuran
Penggunaan kolom
1. Sebelum dilakukan elusi, kolom dibasahi dulu dengan sejumlah fase gerak yang akan
digunakan.

2. Sampel dimasukkan ke dalam kolom dalam bentuk padat maupun cair Sampel bentuk padat :
Dicampur dengan adsorben sampai merata, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam
kolom yang sudah berisi adsorben Pada kromatografipartisi, sampel dilarutkan dalam fase
diam, kemudian dicampur dengan bahan penyangga, baru ditempatkan di atas adsorben Sampel
bentuk cair : Dilarutkan/dicampur dengan fase gerak, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke
dalam kolom yang sudah berisi adsorben.
3. Setelah sampel masuk kolom, biasanya dilakukan pencucian terlebih dahulu baru dielusi
dengan fase gerak. Untuk mendapatkan hasil elusi yang baik, umunya kecepatan fase gerak
diatur 1-5 ml/menit.
4. Setelah elusi selesai, kromatogram dapat dideteksi dengan : - Berdasarkan warna sampel, bila
yang dielusi berwarna - Dengan sinar UV 366nm - Disemprot dengan larutan/reagen penampak
bercak
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat:
1. Corong pisah
2. Kolom kromatografi 3. Gelas ukur
4. Beaker glass
5. Erlenmeyer
6. Batang pengaduk
7. Kapas
8. Pipet 9. Botol vial
B. Bahan: 1. Ekstrak Temu Giring (Curcuma heyneana val.)
2. Metanol
3. Pelarut n-heksan
4. Pelarut etil asetat
5. NH4OH
6. Eluen (n-heksan:etil asetat = 1:1)
7. Adsorben silika gel GF 60
8. H2SO4
9. CHCl3

IV. PROSEDUR KERJA


IV.A. Corong pisah
1. Cara kerja seperti pada bagan : 2. Semua proses dilakukan dalam corong pisah
3. Setelah didapat beberapa fraksi, fraksi-fraksi tersebut disimpan dalam botol vial
4. Simpan di lemari es.
IV.B. Kromatografi Kolom
1.Siapkan kolom kromatografi, lalu bagian bawah kolom dimampatkan dengan kapas
secukupnya
2.Masukkan adsorben ke dalam kolom dengan cara kering yaitu dengan memasukkan silika gel
GF 60 sedikit demi sedikit ke dalam kolom sampai padat
3.Masukkan pelarut/eluen n-heksan:etil asetat (1:1) sebanyak 9 ml ke dalam kolom perlahanlahan jangan sampai terbentuk rongga
4.Kemudian masukkan ekstrak ke dalam kolom, akan terjadi elusi hingga senyawa terpisahkan
dan terbentuk pita-pita senyawa yang berwarna
5.Pita senyawa dikeluarkan dari kolom kemudian tampung ke dalam vial masing-masing
sebanyak 3 ml
6.Simpan di lemari es.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa Fraksi I didapat cairan keruh berwarna kuning kehijauan
dengan volume 10 mL. Fraksi II didapat cairan bening berwarna merah darah dengan volume 20
mL. Fraksi III didapat cairan bening berwarna kuning kehijauan dengan volume 15 mL.

Berdasarkan tabel 4.1.3 terlihat bahwa Fraksi I didapat Cairan berwarna merah darah atau merah
tua, Fraksi II didapat Cairan berwarna merah agak orange, Fraksi III didapat cairan berwarna
orange, Fraksi IV didapat cairan berwarna kuning tua, Fraksi V, VI, VII didapat cairan berwarna
kuning muda, dengan jumlah volume masing-masing fraksi sebanyak 3 ml.
Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa Fraksi I didapat cairan keruh berwarna kuning kehijauan
dengan volume 10 mL. Fraksi II didapat cairan bening berwarna merah darah dengan volume 20
mL. Fraksi III didapat cairan bening berwarna kuning kehijauan dengan volume 15 mL. Fraksi I
didapat dengan cara menambahkan ekstrak yang terdapat di corong pisah dengan penambahkan 5
mL H2SO4, 5 mL n-heksan, dan 5 mL Etil Asetat. Fraksi I didapat setelah dilakukan pengocokan
selama 15 menit kemudian corong pisah didiamkan sehingg terdapat dua lapisan. Lapisan atas
merupakan lapisan n-heksan yang berwarna kuning susu kehijauan bersifat non polar karena nheksan tersebut akan melarutkan atau menarik zat-zat yang bersifat non polar. Sesuai literature
metode penapisan fitokimia bahwa fraksi hasil ekstrak adalah senyawa terpenoid dan fenol.
Fraksi II diperoleh dengan mengekstraksi lapisan asam atau lapisan bagian bawah dari hasil
ekstraksi pertama yang berwarna kuning jernih dengan cara menambahkan NH4OH hingga
diperoleh pH 10, tambahkan n-heksan dan methanol (3:1). Fraksi II didapat setelah dilakukan
pengocokan selama 15 menit. Setelah itu akan terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah merupakan
lapisan air-asam yang berwarna merah darah. Dalam literatur penapisan fitokimia, ekstrak
tersebut adalah ekstrak yang bersifat polar yaitu alkaloid kuartener dan n-oksida. Fraksi III
diperoleh dari lapisan yang berada di atas yang merupakan lapisan n-heksan methanol
berwarna kuning kehijauan bening. Dalam literatur penapiasan fitokimia, ekstrak tersebut adalah
ekstrak basa yang bersifat semi polar yang kebanyakan adalah alkaloid.
Berdasarkan table 4.1.3 terlihat bahwa Fraksi I didapat Cairan berwarna merah darah atau merah
tua, Fraksi II didapat Cairan berwarna merah agak orange, Fraksi III didapat cairan berwarna
orange, Fraksi IV didapat cairan berwarna kuning tua, Fraksi V, VI, VII didapat cairan berwarna
kuning muda, dengan jumlah volume masing-masing fraksi sebanyak 3 ml. Dari hasil yang

diperoleh dapat dilihat bahwa Fraksi I merupakan fraksi yang memiliki daya kelarutan yang
tinggi terhadap fase gerak dan kurang terserap atau terabsorbsi pada fase diam sehingga fraksi
tersebut lebih cepat bergerak keluar melalui kolom. Dan sebaliknya untuk Fraksi VII merupakan
fraksi yang kurang larut dalam fase gerak dan lebih kuat terserap atau terabsorbsi pada fase diam
sehingga fraksi tersebut lebih lambat bergerak keluar melalui kolom.
Fraksi-fraksi tersebut didapat dengan metode pemisahan menggunakan kromatografi kolom
secara basah yaitu dengan cara cairan fase gerak dimasukkan terlebih dahulu ke dalam kolom
kemudian ditambahkan fase diam berupa zat padat. Setelah itu masukan ekstrak temugiring yang
ingin dipisahkan dan diamkan sampai terbentuk fraksi atau pita-pita dalam kolom tersebut. Pada
praktikum kali ini kami menggunakan cara basah agar meminimalkan resiko terjadinya
keretakan fase diam akibat kekeringan atau kurang ratanya penyerapan fase gerak bila
dibandingkan cara kering maupun bubuh atau lumpuran. Pada saat menuangkan fase diam ke
dalam corong usahakan agar serbuk tersebut tidak menempel pada dinding kolom dan tidak
terbentuk rongga udara yang mengakibatkan pemisahan berjalan tidak sempuna.