Anda di halaman 1dari 18

RFLEKSI KASUS

DESEMBER 2015

HIPERTIROID

NAMA

: AMELIA ANGELIN LIGIANTO

STAMBUK

: N 111 15 002

PEMBIMBING

: dr. EFFENDY SALIM, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2015

PENDAHULUAN

Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari


produksi tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang
berlebihan.

Hipertiroidisme

(Hyperthyrodism)

adalah

keadaan

disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan sehingga


menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah

(Schteingart,2012)
Hipertiroidisme dapat timbul spontan atau akibat asupan hormon
tiroid yang berlebihan. Terdapat dua tipe hipertiroidisme spontan yang
paling sering dijumpai yaitu penyakit Graves dan goiter nodular
toksik. Pada penyakit Graves terdapat dua kelompok gambaran utama
yaitu tiroidal dan ekstratiroidal, dan keduanya mungkin tak tampak.
Ciri-ciri tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid, dan
hipertiroidisme akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Pasien
mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak
bila panas, kulit lembab, berat badan menurun, sering disertai dengan
nafsu makan yang meningkat, palpitasi dan takikardi, diare, dan
kelemahan serta atropi otot. Manifestasi ekstratiroidal oftalmopati
ditandai dengan mata melotot, fisura palpebra melebar, kedipan
berkurang, lig lag, dan kegagalan konvergensi. Goiter nodular toksik,
lebih sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagai komplikasi
1

goiter nodular kronik, manifestasinya lebih ringan dari penyakit


Graves (Schteingart,2012)

STATUS PASIEN
2

Identitas pasien
Nama

: An. B

Umur

: 11 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Keluhan utama

: Muntah

Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang pasien anak perempuan


berusia 11 tahun datang ke poli anak RSUD Undata dengan keluhan
mata perih dan sakit saat melihat cahaya terang, dan terkadang pada
saat disekolah pandangannya menjadi kabur secara tiba-tiba namun
baik kembali. Pasien juga mengeluhkan gemetaran saat lelah. Orang
tua pasien juga mengeluhkan anaknya malas makan. Sesak(-)
Bengkak pada bagian leher(-) sakit menelan (-)
Riwayat penyakit terdahulu

: Tidak ada.

Riwayat penyakit keluarga

: Tidak

ada

keluarga

yang

mengalami hal yang sama.


Riwayat sosial-ekonomi

: Menengah

Kebiasan dan lingkungan

: Anak aktif namum

Riwayat kehamilan dan persalinan :

Ibu

tidak

pernah

melakukan ante natal care di puskesmas. Anak lahir normal di rumah

dan dibantu dukun, berat badan lahir dan panjang badan tidak
diketahui.
Kemampuan dan kepandaian

: Anak tengkurap usia 3 bulan.


Berjalan usia 1 tahun.

Anamnesis Makanan

Asi dan Susu formula 0-8 bulan


Bubur sun 3-8 bulan
Nafsu makan anak kurang

Riwayat imunisasi

: Imunisasi dasar lengkap

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sakit ringan
Berat badan

: 30 kg

Panjang badan : 141 cm


Status gizi

: CDC 80% (Gizi Kurang)

Tanda Vital
Kesadaran

: Compos mentis

Denyut jantung : 112 kali/menit


Pernapasan

: 23 kali/menit

Suhu

: 36,70C

Pemeriksaan Sistemik

Kulit

: sianosis (-), pucat (-), kuning (-), turgor baik, keringat


(-)

Kepala

: 42 cm bentuk bulat, simetris, tidak ada deformitas,


rambut

lebat,

berwarna

hitam,

eksoftalmus

(-),

rhinorrhea (-), otorrhea (-), konjungtiva hiperemis (-).


Leher

: pembesaran getah bening (-), nyeri tekan kelenjar getah


bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), T1/T1 tidak
hiperemis

Paru
Inspeksi

: pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri

Palpasi

: pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri

Perkusi

: sonor kanan dan kiri

Auskultasi : bronkovesikuler kanan dan kiri, Ronki (-), wheezing (-)


Jantung
Inspeksi

ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

ictus cordis teraba di SIC V midclavicula sinistra

Perkusi

batas jantung normal

Auskultasi :

bunyi jantung I dan II murni, reguler, murmur (-)

Abdomen
Inspeksi

abdomen tampak datar,

Auskultasi :

peristaltik usus kesan normal

Palpasi

Massa tumor(-), Nyeri tekan(-)

Perkusi

timpani (+), pekak hepar (+) batas normal.

Genitalia

: normal

Ekstremitas

: akral hangat, edema (-), tremor (-)

Pemeriksaan Penunjang :
T4

: 86,4 (60-120)

TSH

: 1,2 (0,4-4,2)

Diagnosis kerja

: Suspek Hipertiroid

Terapi

: (-)

Follow up (9 Oktober 2015)


S :

Pasien mengeluh sesak dan susah tidur, mata perih saat melihat
cahaya, berkeringat(-), gemetar(-)

O:

tanda-tanda vital
1
2
3
4

Denyut jantung
Respirasi
Suhu
Tekanan Darah

Mata

:
:
:
:

81 kali/menit
22 kali/menit
36,80C
110/60 mmHg

: Konjungtiva hiperemis(-), air mata (-), mata


berair(-), eksofthalmus(-)

Kulit

: Keringat (-)

Thorax

: Wheezing (-)

Abdomen : timpani, peristaltik usus kesan normal BAB/BAK


biasa
A:

Gizi kurang

P :

Memenuhi kebutuhan gizi sesuai umur. Melakukan pemeiksaan

T4, TSH, dan EKG.

FOLLOW UP
Follow up (10 Oktober 2015)
S :

Sesak (+), mata perih saat melihat cahaya, berkeringat(-),


gemetar(-),

O:

tanda-tanda vital
1.
2.
3.
4.

Denyut jantung
Respirasi
Suhu
Tekanan Darah

Laboratorium

:
:
:
:

72 kali/menit
20 kali/menit
36,50C
110/70 mmHg

: TSH 86,4
T4 1,2

EKG

: Normal

Mata

: turgor baik

Kepala

: mata berair(-), eksofthalmus(-)

Kulit

: Keringat (-)

Thorax

: Wheezing (-)

Abdomen : timpani, peristaltik usus kesan normal BAB/BAK


biasa
A:

Gizi kurang

P :

Memenuhi kebutuhan gizi sesuai umur. Konsul spesialis

jantung.

Follow up (11 Oktober 2015)


S :

Sesak ada pagi ini, berkeringat (+), gemetar (-), mata perih (+)

O:

tanda-tanda vital
1.
2.
3.
4.

Denyut jantung
Respirasi
Suhu
Tekanan Darah

:
:
:
:

85 kali/menit
25 kali/menit
36,80C
110/70 mmHg

Mata

: turgor baik

Kepala

: mata berair(-), eksofthalmus(-)

Kulit

: Keringat (-)

Thorax

: Wheezing (-)

Abdomen : timpani, peristaltik usus kesan normal BAB/BAK


biasa

A:

Gizi kurang

P :

Memenuhi kebutuhan gizi sesuai umur. Konsul spesilis

kejiwaan.
Follow up (12 Oktober 2015)
S :

Pasien mengeluh sesak dan susah tidur

O:

tanda-tanda vital
1.
2.
3.
4.

Denyut jantung
Respirasi
Suhu
Tekanan Darah

:
:
:
:

81 kali/menit
22 kali/menit
36,80C
110/60 mmHg

Mata

: turgor baik

Kepala

: mata berair(-), eksofthalmus(-)

Kulit

: Keringat (-)

Thorax

: Wheezing (-)

Abdomen : timpani, peristaltik usus kesan normal BAB/BAK


lancar
Konsul jiwa : Gangguan disosiatif
A:

Gizi kurang

P :

Memenuhi kebutuhan gizi sesuai umur.


Vitamin B-Comp 1x1 tab.
Vitamin C 2X1 tab.

Follow up (13 November 2015)


S :

Sesak(-), Berkeringat(-), Mata perih(-), Gemetar (-)

O:

tanda-tanda vital
1.
2.
3.
4.

Denyut jantung
Respirasi
Suhu
Tekanan Darah

:
:
:
:

88 kali/menit
20 kali/menit
36,50C
110/60 mmHg

Mata

: turgor baik

Kepala

: mata berair(-), eksofthalmus(-)

Kulit

: Keringat (-)

Thorax

: Wheezing (-)

Abdomen : timpani, peristaltik usus kesan normal BAB/BAK


biasa
A:

Gangguan disosiatif + gizi kurang

P :

Vitamin B-Comp 1x1 tab. Vitamin C 2X1 tab.


(Pasien dipulangkan)
DISKUSI KASUS
Menurut American Thyroid Association dan American
Association

of

Clinical

Endocrinologists,

hipertiroidisme

didefinisikan sebagai kondisi Berupa peningkatan kadar hormon


tiroid yang disintesis dan disekresikan oleh kelenjar tiroid

10

melebihi normal. Hipertiroidisme merupakan salah satu bentuk


thyrotoxicosis atau tingginya kadar hormon tiroid, T4, T3 maupun
kombinasi keduanya, di aliran darah.
Hipertiroidisme adalah sindrom yang dihasilkan dari efek
metabolic yang beredar secara berlebihan oleh hormone tiroid T4,
T3 atau keduanya. Subklinis hipertiroidisme mengacu pada
kombinasi konsentrasi serum TSH yang tidak terdeteksi dan
konsentrasi serum T3, T4 normal, terlepas dari ada atau tidak
adanya tanda-tanda gejala klinis. Pada kasus ini hasil pemeriksaan
T4 dan TSH normal, hal ini menandakan tidak adanya kelainan
yang menunjang untuk penegakkan diagnosis hipertiroid (Pauline,
2013).
Hipertiroid ialah suatu sindroma klinik yang terjadi karena
pemaparan jaringan terhadap hormone tiroid berlebihan. Penyakit
tiroid merupakan penyakit yang banyak ditemui di masyarakat, 5%
pada pria dan 15% pada wanita. Penyakit Graves di Amerika sekitar
1% dan di Inggris 20-27/1000 wanita dan 1.5-2.5/1000 pria, sering
ditemui di usia kurang dari 40 tahun. Pada kasus ini pasien adalah
seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang menandakan bahwa

(Schteingart,2012).
11

Anamnesa pada pasien dengan hipertiroidisme meliputi tanda


dan gejala yang dirasakan pasien. Antara gejala yang biasa
dirasakan pasien adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang
jelas, hal ini dikarenakan terjadinya penigkatan kadar metabolic
dalam badan. Hal ini terjadi meskipun pasien juga mengeluhkan
bahwa nafsu makan semakin meningkat. Walau bagaimanapun pada
hampir 5% kasus, pasien turut merasakan adanya peningkatan berat
badan atas sebab nafsu makan yang meningkat itu tadi (Harrison,
2009). Pada pasien ini didapatkan penurunan berat badan yang
disebabkan oleh penurunan nafsu makan pada anak.
Kulit pada pasien dengan hipertiroid juga senantiasa basah
akibat keringat yang berlebihan dan pasien merupakan orang yang
tidak toleransi terhadap suhu tinggi. Peristaltic lambung juga
meningkat sehingga mengakibatkan terjadinya diare dan steatorrhea
yang ringan (Harrison, 2009). Pada pasien ini didapatkan kulit
yang tidak berkeringat dan suhu badan yang normal.
Selain itu, pasien juga akan mengeluhkan perasaan seperti
palpitasi. Hal ini merupakan manifestasi gangguan pada system
kardiovaskuler atas akibat sinus takikardi (supraventrikular
takikaria).

Cardiac

output

yang

meningkat

mengakibatkan

terjadinya nadi yang kuat, memanjang, dan aortic murmur dan


12

dapat mengakibatkan angina maupun gagal jantung yang sudah


terdeteksi sebelumnya menjadi lebih parah. Pada kasus ini pasien
mengeluhkan perasaan berdebar-debar tanpa didahului perasaan
yang tidak enak atau lainnya, namun pada pemeriksaan EKG
tampat normal dan hasil konsul spesialis jantung mengatakan tidak
ada keabnormalan pada pemeriksaan jantung. (Harrison, 2009).
Manifestasi klinis yang menonjol lain antaranya adalah
hiperaktivitas, mudah lelah, kurang daya tumpuan dan juga tremor.
Tremor dapat dideteksi dengan mudah yaitu dengan meminta pasien
untuk menegangkan jari-jari tangan dan tremor dirasakan sendiri
oleh pemeriksa dengan telapak tanagan. Kelainan neurologic yang
dapat menyertai hipertiroidisme adalah hiperreflexia, atropi otot,
miopati proximal tanpa adanya fascikulasi. Hipokalemia juga turut
menyertai masalah hipertiroidisme yang dimanifestasikan dalam
bentuk periodic paralisis dan biasanya terjadi pada kebanyakkan
priya asia. Pada pasien ini mengeluhkan bahwa badannya gemetar
saat kelelahan namun pada pemeriksaan jari-jari tangan tidak
didapatkan tremor (Harrison, 2009).
Eksoftalmus disebabkan karena limfosit sitotoksik dan antibodi
sitotoksik yang bersintesis dengan antigen serupa seperti TSH
reseptor yang ditemukan di orbital fibroblast, otot orbital, dan
13

jaringan tyroid. Sitokin yang berasal dari limfosit yang disintesis


menyebabkan inflamasi di orbital fibroblast dan otot ekstraokular,
dan hasilnya adalah pembengkakan pada otot orbital (Amory,2011).
Pada

hipertiroidisme

imunogenik,

eksoftalmus

dapat

ditambahkan terjadi akibat peningkatan hormone tiroid, penonjolan


mata dengan diplopia, aliran air mata yang berlebihan, dan
peningkatan fotofobia juga terjadi. Penyebabnya terletak pada
reaksi imun terhadap antigen retrobulbar yang tampaknya sama
dengan reseptor TSH. Akibatnya terjadi pembengkakan otot mata,
infiltrasi

limfosit,

akumulasi

asam

mukopolisakarida,

dan

peningkatan jaringan ikat retrobulbar (Silbernagl, et al., 2011).


Pengamatan eksoftalmus dapat dimilai menggunakan suatu
metode yang dinamakan NO SPECS:
0 = No signs or symptom
1 = Only signs (lid retraction or lag)
2 = Soft tissue involvement (periorbital edema)
3 = Proptosis (>22 mm)
4 = Extraocular muscle involvement (diplopia)
5 = Corneal involvement
6 = Sight loss
Tidak setiap orang dengan mata yang menonjol mengalami
proptosis. Beberapa orang memang memiliki mata yang menonjol
dimana bagian putih mata lebih terlihat dibandingkan orang pada

14

umumnya. Beratnya penonjolan mata bisa diukur dengan penggaris


biasa atau dengan exoftalmometer. Kedudukan bola mata di dalam
orbita baru dianggap eksoftalmus, jika ukurannya melebihi 20 mm.
Pada pasien ini bola mata nampak menonjol namun tidak melebihi
20 mm. (Semiardji, 2010)

15

Selain itu dalam menegakkan diagnosa hipertiroid, penggunaan


Indeks Wayne mungkin dapat digunakan. Indeks Wayne sendiri
merupakan suatu checklist yang berisi ada atau tidaknya gejala-

gejala, seperti palpitasi, mudah lelah, berat badan turun, dan lainlain, dengan skor tersendiri untuk masing-masing gejala. Seorang
pasien didiagnosis menderita hipertiroid apabila skor Inseks Wayne
lebih dari 19. Di bawah ini telah dilampirkan Indeks Wayne
(Harrison, 2009).

16

Pada pemeriksaan indeks wayne didapatkan total skor -2. Yang


menandakan tidak adanya tanda klinis untuk mengarah pada
diagnosis hipertiroid. Maka oleh dokter anak pasien dilakukan
konsul kejiwaan untuk menilai apakah ada gangguan kejiwaan anak
karena pasien mengeluh sakit namum tidak didapatkan gejala klinis
dan pemeriksaan normal.

DAFTAR PUSTAKA
Amory, JK., Irl BH. 2011. Hyperthyroidism from Autoimmune Thyroiditis in a
Man with Type 1 Diabetes Mellitus: a Case Report. Journal of Medical
Case Reports 2011, 5:277
Ghozi, M. 2012. Eksoftalmetri Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Harrison, Tinsley R. 2009. Harrisons Principles of Internal Medicine 16th
Edition. United States of America: McGraw-Hill Companies.
Pauline, M. Chamacho., Hossein, Gharib., Glen, W. Sizemore. 2013. EvidenceBased Endocrinology.

Schteingart, D.E. 2012. Gangguan Kelenjar Tiroid. Dalam Huriawati H., Natalia
S., Pita W., Dewi A.M (Editors). Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Dalam. Penerbit Buku Kedokteran: EGC. Hal: 1225-36
Semiardji, G. 2010. Penyakit Kelenjar Tiroid: Gejala Diagnosis dan Pengobatan.
Balai Penerbit FKUI : Jakarta

17