Anda di halaman 1dari 43

FUNGSI-FUNGSI KHUSUS INTEGRAL

(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Matematika II)

Kelas C

Dosen Pembimbing :
Dr. I Ketut Mahardika, M.Si.

Kelompok 3
disusun oleh :
Nicky Anggraini

(120210102046)

Didin Dyah Handayani

(120210102049)

Yayan Mega Lusiana

(120210102051)

Dea Ayu Kharisma

(120210102106)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER

2014

FUNGSI-FUNGSI KHUSUS
A. FUNGSI FAKTORIAL
Dalam kalkulus dasar kita telah mempelajari perhitungan sebuah fungsi.
Sekarang kita akan membahas integral tertentu di bawah ini

ex dx
0

Untuk > 0, maka


e
( e 0 )

ex dx= 1

ex dx= 1
0

Bila kedua ruas diturunkan terhadap , maka

d
1
ex dx=

d 0

xex dx= 1
2
0

atau

xex dx= 12 = 1!2


0

Diturunkan lagi terhadap , maka

d
1
x ex dx= 2

d 0

2!
= 3
x 2 ex dx= 1.2
3

0

Turunan selanjutnya,

d
1.2 2!
x 2 ex dx= 3 = 3

d 0

3!
= 4
x 3 ex dx= 1.2.3
4

Sehingga didapatkan persamaan umum sebagai berikut

x n ex dx= n(n+1! )!
0
Untuk

=1 , rumus umum menghasilkan

x n ex dx= n(n+1! )!
0

x n e1 x dx= 1(nn +1! ) !


0

x n ex dx= 1(nn+1! ) ! =n ! , dengan n=1,2, 3 ..


0

Dengan demikian, terdapat integral tertentu yang nilainya n! ( dibaca n


faktorial), dengan n bilangan bulat positif. Yang dikenal sebagai fungsi
faktorial.
Untuk n = 0, memberikan hasil

x 0 ex dx=0 !
0

ex dx=e( e0 )=0+1=1
0

Hal ini menunjukkan bukti sederhana bahwa 0!=1


Untuk n bilangan bulat positif, kita selalu dapat menentukan bentuk integral
dalam fungsi faktorial.

CONTOH SOAL
Tentukan nilai dari
Pembahasan
Diketahui:
n= 5 ; = 1

LATIHAN SOAL
Tentukan nilai dari

1.

2.

Pembahasan
1. Diketahui:
n= 9 ; =1

2. Diketahui:

n= 7 ; =2

B. FUNGSI GAMMA
Fungsi Gamma merupakan generalisasi dari fungsi faktorial, yaitu n tidak
selalu bilangan bulat positif. Biasanya kita mengatakan fungsi faktorial jika n
bilangan bulat positif dan funsi Gamma () jika n bukan bilangan bulat.
Dalam kasus ini n boleh benilai sembarang, kita menggantikan n dengan p
sehingga fungsi Gamma didefinisikan sebagai

( p )= x p1 ex dx , p> 0
0

Untuk 0 < p < 1akan menjadi integral tak sebenarnya, sebab

p1

menjadi tak hingga pada batas bawah meskipun demikian dapat dibuktikan
bahwa untuk sembarang p > 0 integralnya konvergen. Untuk p 0 integralnya
divergen sehingga tidak dapat digunakan untuk mendefinisikan

( p ).

Pada

pembahsan selanjutnya kita akan melihat cara menentukan (p) untuk p 0.


Hubungan antara fungsi faktorial dan fungsi Gamma dapat diperoleh melalui
persamaan sebagai berikut:

( n )= x n1 ex dx=( n1 ) !
0

( n+1 )= x n ex dx=( n ) !
0

Dengan demikian,
(1)= 0!=1, (2)=1!=1, (3)=2!=2 dan seterusnya

Mengganti p dengan (p+1), kita akan memperoleh

( p +1 )= x p ex dx= ( p ) ! , p>1
0

Selanjutnya kita akan menerapkan integral parsial sehingga diperoleh

( p +1 )= x p ex dx= ( p ) !
0

x e ( ex ) p x p 1 dx
p x

( p+1 )=

( p +1 )= p x p 1 ex dx
0

( p +1 )= p( p)
Jadi,
( p +1 )= p( p)

disebut hubungan rekursif

Dengan menggunakan hubungan rekursif, kita dapat menghitung fungsi


gamma pecahan

( p)
Untuk p 0, dapat memberikan pemecahan
dengan menggunakan hubungan rekursif.

CONTOH SOAL
Tentukan nilai dari (7)
Pembahasan

Diketahui n=7

LATIHAN SOAL

Tentukan nilai dari:


1.
2.

3.
Pembahasan

1.

Diketahui n=5

2. Diketahui n=9

3.

Diketahui n=12

C. NILAI (1/2)
Khusus untuk p = 1/2 , kita dapat menghitungnya secara analitis sebagai
berikut. Berdasarkan definisinya:

1
1 x
1
=
e dx= et dt
2 0 x
0 t

()

1
1
= et dt
2 0 t

()

1
= t t /2 et dt
2 0

()

1
1
= 1 /2 et dt , misalt= y 2 ; dt=2 y dy
2 0 t

()

1
1
y
= 2 1/ 2 e 2 y dy
2 0 (y )

()

1
=2 e y dy
2
0

()

Misal y2 = x2

1
=2 ex dx
2
0

()

Dengan mengalikan kedua peryataan (1/2) diatas, diperoleh integral lipat


dua, yaitu
1/2

1/2

Ini merupakan integral pada kuadran pertama dalam sistem koordinat


kartesian. Dengan melakukan transformasi ke dalam sistem koordinat polar,
integral di atas menjadi
1/2

Misal:
u = r2
du = 2r dr
du
=r dr
2
Jadi
1/2

1/2

1/2

1/2

(1/2)

(1/2)

1/2

1/2

1/2

Dengan demikian
(1/2)=

CONTOH SOAL
1. Tentukan nilai dari
Pembahasan
Ingat
( p +1 )
( p )=
p
3 2
+
3
2 2

=
2
3
2

( )

( 32 )

( 32 )= 23 ( 12 )

1 2
+
3 2
2 2

2
3
1
2

( )

( 32 )= 23 . 21 ( 12 )

( 32 )= 43

LATIHAN SOAL

1.

Tentukan nilai dari

2. Tentukan nilai dari

Pembahasan

1.

( 11
2 )

( p )=

( p +1 )
p

5 2
+
5
2 2

=
2
5
2

( )

( 52 )= 25 32

3 2
+
5 2
2 2

2
5
3
2

( )

( 52 )= 25 . 23 12

1 2
+
5 2 2
2 2

=
.
2
5
3
1
2

( )

( 52 )= 25 . 23 21 12

( 52 )= 815

2. Tentukan nilai dari

( 11
2 )

Pembahasan
( p +1 )
( p )=
p
11 2
+
11
2 2

=
2
11
2

( )

2 9
=

( 11
2 ) 11
2

9 2
+
11 2
2 2

2
11
9
2

( )

2 2 7
=

( 11
)
2
11 9
2

7 2
+
11 2 2
2 2

=

2
11 9
7
2

( )

2 2 2 5
=
. .
( 11
)
2
11
9 7
2

5 2
+
11 2 2 2
2 2

=
.
2
11 9 7
5
2

( )

2 2 2 2 3
=
. . .
( 11
)
2
11
9 7 5
2

3 2
+
11 2 2 2 2
2 2

=
. .
2
11 9 7 5
3
2

( )

2 2 2 2 2 1
=
. . . .
( 11
)
2
11
9 7 5 3
2

1 2
+
11 2 2 2 2 2
2 2

=
. . .
2
11 9 7 5 3
1
2

( )

2 2 2 2 2 2 1
=
. . . . .
( 11
)
2
11
9 7 5 3 1 2

64
=

( 11
)
2
10395

D. FUNGSI BETA
Berikut kita akan meninjau definisi fungsi beta.
DEFINISI 1
Untuk p > 0, q > 0, fungsi beta didefinisikan oleh integral tertentu :
1

B ( p , q)= x p1( 1x)q 1 dx


0

Dengan melakukan penggantian variabel sederhana terhadap variabel x


pada persamaan diatas sehingga kita dapat menyatakan fungsi beta ini dalam
beberapa pernyataan bermanfaat lainnya.
1. Mengubah daerah integrasi
Bila kita mengambil :
x = y/a, sehingga x = 1 berkaitan dengan y = a, maka persamaan 1
beralih pernyataan menjadi :
a
1
B ( p , q)= p+ q1 y p1 (a y)q1 dy
a
0
Pembuktian :
X=

y
a

dx 1
=
dy a

B ( p , q )= x p 1 (1x)q1 dx
0

a
0

p1

y
a

p1

q 1

1
dy
a

a y
a

q1

1
dy
a

() ( )

() ( )

q1
y p1 (a y )
1
dy
p1
q1
a
a
a

( )(

y p1 (a y )q1
dy
p+q +1
a

1
a

y
a

y p 1 .(a y )q1 .1
dy
a( p 1 )+(q 1 )+1

B ( p , q )=

y
a

p+q 1

y p 1 (a y )q1 dy
0

2. Pernyataan dalam fungsi trigonometri sin dan cos


Bila kita mengambil,
2
2
2
x = sin , maka (1 x) = 1 - sin = cos ,
dan dx = 2sin cos d, x = 1 berkaitan dengan = /2
dengan melakukan substitusi ini, maka akan menjadi :
/2

B ( p , q)=2 ( sin)2 p1 (cos)2 q1 d


0

Pembuktian :
1

B ( p , q )= x p 1 (1x)q1 dx
0

/2

(sin 2 )p1 (1sin 2 )q1 2 sin cos d


0

/2

( ( sin )2)

p1

q1

( cos 2 )

2 sin cos d

/2

/2

/2

(sin2 ) p (cos 2 )q
2 sin cos d
2
1
2
1
( sin ) (cos )
(sin 2 ) p (cos2 )q
2 sin cos d
(sin . cos)( cos . cos)
(sin2 ) p (cos 2 )2
2 d
sin
cos

/2

2 (sin2 ) p1( cos2 ) q1 d


0

B ( p , q )= x p 1 (1x)q1 dx
0

/2

(sin 2 )p1 (1si n2 )q1 dx


0

/2

(( sin2 )

2 p1

) ( cos2 )q 1 2 sin cos d

/2

sin 2 p . sin2 . cos 2q . cos2 .2 sin cos d


0

/2

sin 2 p cos 2q
0

/2

sin 2 p cos 2q
0

1
2 sin cos d
sin . cos 2
2

1
2 sin cos d
( s in . sin)(cos . cos)

/2

2 sin 2 p cos2 q ( sin)1 (cos )1 d


0

/2

2 sin 2 p1 cos 2 q1 d
0

Contoh Soal :
Hitunglah integral berikut ini :
/2

sin3 x cos xdx


0

Penyelesaian :
2p 1 = 3

p=2

2q 1 = 1

q=1
/2

B ( p , q )=2 ( sin )2 p 1 ( cos )2 q1 d


0

/2

1
B ( p , q ) = ( sin )2 p1 ( cos )2q 1 d
2
0
Jadi,
/2

sin3 x cos xdx= 12 B ( 2,1 )= 12


0

(2) (1) 1 1! 0 ! 1
=
=
(3)
2 2!
2

3. Pernyataan nisbah
Bila kita mengambil x = y/(y+1), kita peroleh :

y p1
B ( p , q)=
dy
p+q
0 (1+ y )
Pembuktian :
Substitusi x = y/(y+1) maka
Batas x = 0
x=1

y=0
y=

dx=

1
dy
2
(1+ y )

B ( p , q )= x p 1 (nx )q1 dx
0

y
y +1

p1

( ) (
p1

y
y +1

q 1

1
dy
(1+ y )2

q1

1
dy
2
( y +1)

y
y+ 1 y
p1
y +1
( y +1)

(1)q1
y p1
1

dy
p1
q1
( y+1) ( y +1)2
0 ( y +1)

y p 1 . 1q1 .1
dy
( y +1)( p1)+( q1)+2

y p1

dy
(
) (
)
( y +1) p1 + q1 +2
Contoh Soal.
Hitunglah integral berikut ini.

y3
(1+ y )5 dy
0
Penyelesaian :
P1=3

p=4

P+q=5

q=1

Jadi,

(4) (1)
(1+y y )5 dy=B ( 4,1 ) = (5) = 3 4! 0! ! = 12
0

4. Sifat simetri
Dapat diperlihatkan bahwa fungsi beta memiliki sifat simetri :
B ( p , q )=B (q , p)
Pembuktian :
Dengan substitusi 1- x = y maka dx = -dy
0

B ( p , q )= (1 y)p1 ( y )q1 dy
1

(1 y ) p1 y q 1 dy
1

(1 y) p1 ( y )q1 dy
0

B ( p , q )= y q (1 y) p 1 dy
0

Contoh Soal.
1

x 2 (1x )3 dx
0

Penyelesaian :
P1=2

p=3

Q1=3

q=4

Jadi,

x 2 (1x )3 dx=B ( 3,4 )=


0

(3) (4) 2! 3! 1
=
=
(7)
6!
60

E. HUBUNGAN ANTARA FUNGSI BETA DAN GAMMA


Fungsi beta ternyata dapat pula diungkapkan dalam fungsi gamma.
Hubungannya adalah :
B ( p , q )=

( p) (q)
( p+q)

Dari persamaan diatas kita dapat menghitung pula nilai fungsi beta untuk
p<0, dan q<0. Pembuktiannya dapat kita perlihatkan dengan memanipulasi
ruas kanan. Untuk itu kita tinjau kembali definisi integral tentu dari fungsi
gamma.
Pembuktiannya menggunakan teknik seperti yang kita terapkan untuk
menghitung nilai (1/2). dengan melakukan substitusi x =

ke dalam

Persamaan kita peroleh :

( p)=2 eu u2 p1 du
0

Karena u adalah variabel integral, sehingga dapat diganti dengan huruf apa
saja, maka :

( p)=2 ev v 2q 1 dv
0

Dengan memperkalikan kedua pernyataan ini kemudian ubah integral lipat


duanya kedalam koordinat polar (r,) :

er (r cos )2 p1(r sin )2q 1 rdrd


0

=4

0 0

/2

=4

e(u + v ) u 2 p1 v 2 q1 du dv

( p) (q) = 4

2 p+2 q1

dr ( cos )2 p1 ( sin )2 q1 d
0

Dengan menggunakan definisi fungsi gamma, pada integral pertama, dan


pernyataan trigonometri fungsi beta pada integral kedua, kita peroleh :

( p ) ( q )=4 e(u + v ) u2 p1 v 2 q1 du dv
0 0

Dengan demikian, dari tabel nilai fungsi gamma, kita dapat pula
menghitung nilai fungsi beta yang bersangkutan. Dengan selalu mengingat
bentuk bentuk fungsi beta yang kita sajikan di atas, kita dapat langsung
menghitung beraneka macam integral yang terkait.

F. FUNGSI ERROR
Fungsi kesalahan dijumpai pada teori probabilitas.
Persamaan umum:
x

Erf (x)

et dt

Terdapat

beberapa bentuk integral yang berkaitan dengan persamaan

(3.37). nilai dari bentuk-bentuk integral ini dapat dibaca pada tabel. Untuk
menentukan nilai fungsi kesalahan menggunakan tabel dari integral yang

berkaitan. Beberapa bentuk integral yang berkaitan dengan (3.37) adalah


sebagai berikut. Pertama fungsi Gaussian atau distribusi normal standart yang
didefinisikan sebagai,
p ( , x ) =

t
2

1
1 1
e 2 dt = + erf

2 2
2

x
2

( )

Pembuktian :
1
P ( , x ) =
e
2

1 1
dt= + erf
2 2

( x2 )

1
e 2 dt

P ( , x ) =

Misalkan: t= 2u

dan

t 2 =2u 2 , dt= 2 du ,

Sehingga,
x

P ( , x ) =

1
eu 2 du

2
2

1
2 eu du
2
2

1
eu du

x
0

eu + eu

du

Integral kedua menyatakan fungsi error

u=

x
, dengan t=x
2

eu du= 2 erf x2
0

( )

erf ( )=1

Jadi,

( )]

+ erf x
2
2
2

[ ( )]

1
1+erf
2

1 1
+ erf
2 2

x
2

( x2 )

Untuk P(0,x)
x

1
1
p(0, x)=
e 2 dt = erf

2
2 0

( x2 )

Untuk P(a,b)yaitu
b

et dt= 2 erf ( b ) 2 erf ( a )


2

Menurut teorema kalkulus


d
2 t
erf ( x )=
e
dt

Sehingga,

et dt = 2 dtd erf ( x ) dt
2

[ erf ( b )erf ( a ) ]
2

Kedua Fungsi kesalahan pelengkap

erfc ( x )=

1
et dt=1erf ( x )

2 x
2

Pembuktian fungsi error pelengkap

2
erfc ( x )= et dt=1erf ( x )
x
2

2
erfc ( x )= et dt
x

et + et dt
x

2
et + et dt
0
0

2
erf ( x ) +1

1erf ( x )
Atau,

(3.40)

2
x
e 2 dt =erfc

x
2

( )

Dengan mengingat tabel distribusi normal standart diperoleh, (dari 3.39)


erf ( x )=2 P ( 0, x 2 ) =2 P ( , x 2)1

Pembuktian:

( ( ))
)
( ( ) )

erf ( x )=2 P ( 0, x 2 ) =2

1
x 2
erf
=erf ( x )
2
2

erf ( x )=2 P ( , x 2 1=2

1 1
x 2
+ erf
1
2 2
2

11 erf ( x )=erf ( x )

Fungsi error merupakan Fungsi ganjil, berada di daerah kurva lonceng.


erf (x )=erf ( x )
Dengan definisi(3.37) persaam utana, maka dapat menghitung erf ( )

erf ( )=

2
et dt

0
2

(3.43)

Karena variabel t pada 3.43 merupakan variabel dami sehingga boleh


sembarang diganti.
Dengan persamaan pada fungsi gamma, makan 3.43 didapatkan:
erf ( )=

2 1
1

=1
2
2

()

Pembuktian:

2
erf ( )=
et dt

=2 e y dy
2
0

()

Gamma

Ket:

( 12 )=

Agar nilainya tetap maka:


erf ( )=

2
1 1

2 2

erf ( )=

2
1
=1
2

()

Untuk x yang sangat kecil atau dibawah tabel, dapat diuraikan dalam deret
pangkat dengan mengganti nilai x=-t2
e x =1+x+

x x
+ +,
2! 3!

Maka,
e x =1t 2 +

t
x
+ ,
2! 3 !

Subtitusi persamaan terhadap persamaan utama fungsi error.


x

Erf ( x )=

4
2
x6
2 t
1t
+

+ , dt

2 ! 3!
0

2
x3 x5
x7
x +

+,
3 5.2 ! 7.3 !

1erf ( x )=erfc ( x )
Hitunglah:
2

a.

ex

b.

2
ex dx

1,5

dx

Penyelesaian
a. Dengan definisi (3.37) dan persamaan(3.42)
2
ex dx= 2 erf ( 2 )= 2 [ 2 P ( 0, 2 2 ) ] = P ( 0,2,83 )
0
2

Dari tabel distribusi normal standart, kita dapat menentukan P(0, 2,83).
Caranya pada x=2,8 baca nilainya pada kolom angka 3. Kita memperoleh
P(0, 2,83) = 0,4976 jadi,
2
ex dx= 2 erf ( 2 )= 2 [ 2 P ( 0, 2 2 ) ] = P ( 0,2,83 ) =0,8820
0
2

b. Dengan menggunakan definisi (3,40), diperoleh:

2
ex dx=1erf ( 1,5 )

1,5
2

Seperti pada pembahasan (a) , kita akan memperoleh


erf ( 1,5 )=2 P ( 0, 1,5 2 ) =0,9652

Jadi,

2
ex dx=1erf ( 1,5 )=0,0348

1,5
2

G. INTEGRAL ELIPTIK
Dengan menggunakan tabel integral, integral sebuah fungsi dapat
diselesaikan dengan mudah. Integral eliptik merupakan bentuk integral yang
nilainya dapat dibaca pada tabel. Tabel ini dikenal sebagai Tabel Integral
Eliptik. Selama ini dikenal tiga macam integral eliptik, yaitu integral eliptik
jenis pertama, kedua, dan ketiga. Dalam makalah ini hanya akan dibahas
integral eliptik jenis pertama dan kedua, yaitu tentang definisi dan sifat-sifat
dasarnya. Pada akhir pembahasan ini akan diberikan contoh penerapan
integral eliptik dalam fisika.
Integral eliptik tak lengkap jenis pertama dan kedua berturut-turut
didefinisikan sebagai berikut.

F ( k , )=
0

d
1k 2 sin2

E ( k , )= 1k 2 sin 2 d
0

Dimana,

0 k 1 atauk =sin , 0

Dengan k disebut modulus dan

(4.1)

disebut amplitudo. Deskripsi (4.1)

dikenal sebagai integral eliptik bentuk legendre. Nilai integral (4.1) dapat
dibaca pada tabel, yaitu dengan melihat harga

(0<< )
2

=arcsin k

dan

lihat pada tabel integral eliptik. Biasanya, dari bentuk integral

eliptik diketahui harga

k 2 , sehingga perlu mengambil nilai akarnya untuk

memperoleh k.
Contoh soal

1.

Hitunglah integral berikut.

I =
0

d
10,0303sin 2

Penyelesaian:
Integral ini merupakan bentuk integral eliptik tak lengkap jenis pertama,

dengan
k =sin

I =
0

k 2=0,0303

atau

k =0,174

dan

d
=F ( 0,174,100 )
2
10,0303sin

diperoleh

I =
0

Tetapi

0
maka =arcsin 0,174=10 . Jadi,

Dengan menggunakan tabel integral eliptik untuk

= =600
.
3

=10 0

dan

=60 0 ,

F=( 0,174, 600 )=1,0519 . Dengan demikian,

d
=F ( 0,174,600 ) =1,0519
2
10,0303sin

Integral eliptik lengkap merupakan keadaan khusus dari definisi rumus (4.1),

yaitu jika

2 . Dengan demikian, integral eliptik lengkap jenis pertama

dan kedua berturut-turut didefinisikan sebagai

d
K ( k )=F (k , )=
2
2
2
0 1k sin

( 2 )= 1k sin d
2

E ( k )=E k ,

(4.2)

Nilai integral lengkap ini dapat dibaca pada pada tabel integral eliptik.
Menurut definisi (4.1), harga k dibatasi pada interval

amplitudo

terbatas pada interval

eliptik juga hanya memuat harga

antara

0 k 1

sehingga

2 . Di sisi lain, tabel integral

2 . Sementara, harga

dapat bernilai sembarang, baik negative maupun positive. Personalannya,


bagaimanakah menentukan nilai integral eliptik untuk harga

yang tidak

ada dalam tabel?


1
1k 2 sin2

Integral persamaan (4.1) berturut-turut berbentuk

1k 2 sin2

. Jadi, keduanya merupakan fungsi

Diandaikan kita mempunyai grafik


gambar 4.1.

f (sin2 )

sin atau

dan

f (sin2 ) .

sebagaimana disajikan pada

sin

Harga

dari

ke

sama pada kuadran I dan II sehingga grafik

grafik antara 0 dan

merupakan pencerminan terhadap garis

2 . Baik

F( k ,)

maupun

merupakan luas daerah di bawah kurva, yaitu

>

ke

f (sin2 )

dari

E( k ,) , nilai integral

f ( sin2 ) d

. Untuk harga

2 , nilai integralnya dapat ditentukan berdasarkan batas integral dari 0

ditambah (atau dikurangi) luasan lain yang ekuivalen dengan integral

dari nol ke sudut

<

2 . Sehingga ilustrasi, dengan menggunakan gambar

4.1 dapat diperoleh integral berikut.


9
4

+ luas A= + 4 +
0

7
2

luas A=4
0

dan

7
4

Perhatikan bahwa

3
2

+
0

, sebab luas A tidak sama dengan luas B.

Dengan mengunakan definisi integral eliptik lengkap, diperoleh sifat-sifat


berikut.
F ( k , n )=2 nK F (k , ) ,

E ( k , n ) =2nE E ( k , ) .

(4.3a)

Jika batas integral eliptik tidak sama dengan nolmaka digunakan hubungan
berikut ini.
2

d
d
d
=

=F ( k ,2 ) F( k ,1 ) .

2
2
2
2
2
2
1k sin
0 1k sin
0 1k sin
1

(4.4)
Jika batas integralnya negatif, dengan menggunakan kenyataan bahwa
F( k ,)

dan

E(k ,)

F ( k , )=F( k ,) dan

F=( k , )=
0

merupakan

fungsi

gasal

maka

E= ( k , ) =E (k , ) .

d
d
=
=F ( k , ) .
2
2
1k sin 0 1k 2 sin2

Dari definisi integral eliptik, harga

k 2 sin2 <1

untuk

(4.3b)

k <1 . Oleh

karena itu, integralnya dapat diuraikan ke dalam deret pangkat (deret


binomial) dan selanjutnya dapat di integralkan suku demi suku. Untuk k kecil,
deret ini konvergen dan merupakan metode untuk menghitung integral eliptik
untuk harga k di bawah nilai tabel.

Contoh soal.
7
3 ).
E

0,13,

Hitunglah

Penyelesaian:
k =0,13

Ini merupakan integral eliptik tak lengkap jenis kedua dengan

dan

7
3 . Jadi,

E 0,13,

7
3

7
= 10,132 sin2 d .
3
0

Sebagaimana telah diuraikan di depan,


7
3

7
3

+ 4 +
0

Oleh karena itu,

E 0,13,

=4 E 0,13, + E 0,13, =4 E ( 0,13 )+ E (0,13, ) ,


3
2
3
3

Dengan

) (

) (

=arcsin 0,13=7,50 . Berdasarkan tabel integral eliptik

lengkap,diperoleh

nilai

E ( 0,13 )

untuk

E ( 0,13 )=1,5640 . Selanjutnya, kita akan menghitung

=7,5 0 ,

E 0,13,

yaitu

. Ini

merupakan integral eliptik taklengkap jenis kedua dengan

=7,5 0

dengan

k =0,13

atau

0
= =60
. Berdasarkan tabel integral eliptik taklengkap,
3

dan

metode

interpolasi

diperoleh

E 0,13,

p
=1,044
.
3

Dengan

demikian,

E 0,13,

p
=( 4 x 1,5640 ) +1,044=7,30 .
3

Sekarang kita akan membahas bentuk lain dari integral


eliptik.

d =

Dengan

subtitusi

dx
dx
=
cos 1x 2

ke

sin =x ,

persamaan

(4.1)

dx=cos d ,

dan

(4.2)

atau

serta

mengubah batas-batas integral, diperoleh


x

F ( k , )=
0

dx

( 1x ) (1k
2

E= ( k , ) =
0

(4.5a)

(4.5b)

dx
=
2
2 2
,
2
0 ( 1x )( 1k x )
1

1k 2 x2
=
dx .
2
1x 2
0

( )

E ( k )=E k ,

x 2) ,

1k 2 x 2
dx ,
1x 2

( )

K ( k )=F k ,

(4.5c)

(4.5d)

Deskripsi (4.5) dikenal sebagai integral eliptik dalam


bentuk Jacobi. Kita dapat mereduksi sebuah integral menjadi
salah satu kombinasi dari beberapa bentuk integral eliptik.
Sebagai contoh,

I =
0

105 x
dx= 10
1x 2
0

1
1 x2
2
1
dx= 10 k ( ,) .
2
1x
2

Contoh soal
1. Sebuah elips mempunyai persamaan parameter
y=b cos , dengan

x=a sin

dan

a>b . Tentukan panjang busur dari elips

tersebut.
Penyelesaian:
Panjang busur s dinyatakan dengan persamaan
2

ds =dx +dy

ds=a cos d

Dengan

dan

dy=b sin d . Oleh karena itu,

ds= a2 cos2 +b2 sin2 d

Dengan subtitusi

diperoleh

s=a 1

cos =1sin

a 2b2 2
sin d .
a2

serta mengingat

a b >0 ,

Deskripsi ini merupakan bentuk integral eliptik jenis kedua


k 2=

dengan

eksentrisitas

a 2b2 2
=e ,
a2
elips.

dengan

Untuk

sering

menghitung

dikenal

keliling

sebagai

elips,

batas

=2 , dan integral terakhir dapat

integralnya adalah

=0

dituliskan sebagai

4 ae(k , ) . Untuk panjang busur yang lebih


2

ke

kecil, kita dapat menentukan sendiri batas-batas integral

dan

, sehingga diperoleh

k ,1
E ( k , 2 )E ).

2. Untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan integral


eliptik pada fisika, kita akan melanjutkan pembahasan tentang
ayunan sederhana yang telah dibahas sebelumnya. Kita mulai
dengan persamaan berikut.
2g
2=
cos +c .
l
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, jika sudut simpangan

awal

maka

=0

dan tetapan c persamaan di atas

sama dengan nol.


Sekarang kita akan membahas ayunan sederhana untuk sudut
simpangan awal sembarang, misalnya

, sehingga pada saat

=0

maka

dan tetapan

2 g cos

. Dengan demikian,

c=

persamaan diatas menjadi

cos cos

2g

,
l
d
=
dt
Atau

d
2g
=
dt .
l
cos cos

(4.6)

Dengan demikian,

d
=
cos cos
4
0

Symbol

simpangan awal

2g
l .

menunjukan

(4.7)

periode

ayunan

dengan

sudut

. Batas atas integral ruas kanan (4.6) adalah

T
4 . Sebab pada saat perubahan dari 0 ke , pada saat itu
pula ayunan menempuh seperempat periode. Bentuk integral
(4.7) dapat diubah menjadi integral eliptik dalam bentuk Jacobi,
yaitu dengan melakukan beberapa subtitusi dengan berikut.


2
=12 sin2 () ,
cos

cos =12sin 2( ) ,
2

( )

sin 2 )
cos cos =2 sin ( ) 1
2
sin
(2)
2

(4.8)

Dari hasil (4.7) selanjutnya dilakukan subtitusi

( 2 ) =x

sin ( )
2
sin

atau

sin

(
2)
d=
dx

1x sin ( 2 )

( 2 )=x sin ( 2 )

(4.9)

2 sin
2

(4.10)

Dengan batas integral

x=0

ke

x=1 . Substitusi (4.8),(4.9),dan

(4.10) ke (4.7), diperoleh


x

d
= 2
cos cos

0
0

(4.11)

dx

( 2 ))

( 1x2 ) 1x 2 sin 2

Persamaan (4.11) merupakan bentuk Jacobi dari integral eliptik

jenis pertama dengan

k =sin

( 2 )

jadi persamaan (4.11) dapat

ditulis sebagai
x

= 2 F
cosd
cos
0

[ () ]
sin

[ ( )]

, = 2 K sin
2 2
2

(4.12)

Substitusi (4.12) ke (4.7), diperoleh


T =4

[ ( )] [ ( )]

=4
K sin
2 F sin
2g
2
g
2

(4.13)

Mengingat definisi (4.2) maka deskripsi (4.13) menjadi

l
d
l (
2
2
2
T a=4
=4
1k sin ) d .

2
2
g 0 1k sin
g 0

(4.14)

Pengenbangan deret binomial integral persamaan (4.14) akan


menghasilkan

T =4

l
1+ 12 k 2 sin 2 + 38 k 4 sin4 + d
g 0

(4.15)

Dengan menggunakan tabel integral, deskripsi (4.15)menjadi

{ (
2

T =4

l
k sin2 3 k
+

+
g
2 2
4
8

( 38 sin42 + sin324 )+}|0/2

l
1 2 1.3 4
2
1+
k +
k +
g
2
2.4

()

(4.16)

k =sin /2

Karena

T =2

maka

l
1
1.3
1+
sin2 ( /2 ) +
sin4 ( /2 ) +
g
2
2.4

()

(4.17)

Persamaan (4.17) merupakan rumus periode ayunan bandul


untuk sembarang sudut simpangan. Jika sudut simpangan kecil
sin ( /2 ) 0

maka

dan persamaan (4.17) tereduksi menjadi

persamaan yang telah dijelaskan pada betta.


H. FUNGSI ELIPTIK
Dalam kalkulus dasar, kita

mempunyai bentuk

integral

berikut.
x

u=
0

dx
=sin1 x
2
1x

(4.18)

Secara sederhana, persamaan (4.18) menyatakan bahwa


x=sin u . Deskripsi (4.18) ini pula dapat diterapkan pada
integral eliptik. Hal ini dapat dilakukan dengan menuliskan
u=F ( k , )

pada definisi (4.5a), yaitu


x

u=F ( k , )=
0

dx
=sn1 u .
2 2
1x 1k x
2

Deskripsi (4.19) sering ditulis singkat,


x=snu .

(4.20)

(4.19)

=amp u

Karena

menunjukan amplitudodari integral eliptik

u=F ( k , )
maka deskripsi (4.20) menjadi
x=snu=sin =sin ( amp u ) .
Fungsi

sn u

(4.21)

dikenal sebagai fungsi eliptik. Definisi fungsi-

fungsi eliptik yang lain adalah


cn u=cos =cos ( ampu ) = 1sin2 ( ampu )= 1sn2 u= 1x 2 . (4.22)
Dan
dn u=

d
1
=
du du/d .

(4.23)

Dengan menuliskan

u=F ( k , )=
0

d
1k 2 sin2

atau

du
1
=
d 1k 2 sin 2

(4.24)
Maka
dn u= 1k 2 sin 2 =1k 2 sn 2 u= 1k 2 x 2 .

(4.25)

Ada beberapa rumus yang dapat dikembangkan berkaiatan


dengan fungsi eliptik. Misalnya, mengingat
d
d
d
( sn u )= ( sin ) =cos =cn u dn u .
du
du
du

sn u=sin

maka

(4.26)

DAFTAR PUSTAKA

Boas, M. L. 1983. Mathematical Methods in The Physical Sciences. New


York : John wiley and sons.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/19690817199
4031-ANDI_SUHANDI/Fungsi_khusus_integral_
%5BCompatibility_Mode%5D.pdf
Wospakrik,

Hans

J.

Bandung: ITB

1994.

Dasar

DasarMatematikaUntukFisika.