Anda di halaman 1dari 3

Dasar Kas pengakuan metode ini mensyaratkan bahwa biaya jaminan dibebankan pda saat

terjadinya suatu transaksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jaminan diakui pada saat
penjual menempati jaji kepada konsumen atas perjanjian yang dilaksanakan. Metode ini
merupakan metode yang diakui dalam perpajakan perusahaan. Seringkali dibenarkan untuk
akuntansi atas dasar kecepatan pemprosesan bila jaminan jumlahnya tidak material dan waktu
jaminan relatif pendek. Metode dasar kas disyaratkan bila kewajiban tidak diakrualkan dalam
tahun berjalan karena tidak mungkin kewajiban tersebut terjadi dan jumlah kewajiban
tersebut tidak dapat diperkirakan dengan layak.
Dasar Akrual dapat digunakan apabila pelanggan akan mengajukan tuntutan berdasarkan
jaminan berkenaan dengan produk atau jasa yang telah dijual dan taksiran yang layak atas
biaya yang terlibat didalamnya.Menurut metode akrual, biaya jaminan dibebankan dalam
biaya operasi pada tahun berjalan. Metode akrual merupakan metode yang diterima secara
umum. Penggunaan metode akrual dikalsifikasikan lagi menjadi dua pendekatan yaitu
metode beban dan metode penjualan. Apabila perusahaan tidak memisahkan antara produk
dengan jaminan maka perusahaan dapat menggunakan metode beban. Namun apabla
perusahaan memisahkan harga antara harga jual dan jaminan maka pendekatan yang
dilakukan adalah pendekatan penjualan.
Apabila jaminan merupakan bagian yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan dari penjualan
dan dipandang sebagai kerugian kontijensi maka metode yang digunakan adalah metode
beban sebagai berikut:
Kas
Rp xxx,Penjualan
Rp xxx,(Jurnal untuk mencatat penjualan barang dengan kewajiban jaminan yang diakui)
Beban Jaminan
Rp xxx,Kas
Rp xxx,(Jurnal untuk mencatat pembayaran jaminan oleh perusahaan)
Beban Jaminan
Rp xxx,Kewajiban Kontijensi atas Jaminan
Rp xxx,(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)
Metode kedua yang digunakan dalam mencatat jaminan adalah pendekatan penjualan.
Pendekatan ini dicirikan dengan pemisahan antara jaminan dengan harga penjualan yang
dilakukan oleh perusahaan. Adapun jurnal adalah sebagai berikut:
Kas
Rp xxx,Penjualan
Rp xxx,Pendapatan Jaminan yang belum dihasilakan
Rp xxx,(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)
Pendapatan jaminan yang belum dihasilkan Rp xxx,Pendapatan Jaminan
Rp xxx,(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)

Pengertian Kontinjensi

Kontinjensi adalah suatu kondisi, situasi atau serangkaian situasi yang ada yang
melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan atau kerugian perusahaan yang pada
akhirnya akan diketahui ketika satu atau lebih kejadian di masa depan terjadi atau tidak
terjadi.

Keuntungan Kontinjensi
Keuntungan kontinjensi adalah hak atau klaim menerima aktiva yang keberadaannya
tidak pasti tetapi pada akhirnya mungkin akan menjadi sah. Jenis keuntungan kontinjensi
yang khas adalah :
Penerimaan yang mungkin atas uang dari hadiah, sumbangan, bonus dan lain sebagainya
Kemungkinan pengembalian dana dari pemerintah atas kelebihan pajak
Penundaan kasus pengadilan yang hasilnya mungkin menguntungkan
Kerugian pajak yang dikompensasi ke depan

Kerugian Kontinjensi
Kerugian Kontinjensi melibatkan kemungkinan terjadinya kerugian. Kewajiban yang
terjadi sebagai akibat dari kerugian kontinjensi menurut definisinya sebagai kewajiban
kontinjensi. Apabila terdapat kerugian kontinjensi, maka kemungkinan bahwa kejadian di
masa depan akan menguatkan terjadinya kewajiban dari sangat mungkin ke kurang mungkin.
Suatu estimasi kerugian dari kerugian kontinjensi harus diakrualkan dengan
mebebankannya ke beban dan kewajiban yang dicatathanya jika kedua kondisi tersebut
dipenuhi:
1. Informasi yang tersedia sebelum penerbitan laporan keuangan menunjukkan bahwa
kemungkinan besar suatu kewajiban telah terjadi pada tanggal laporan keuangan
2. Jumlah kerugian dapat diestimasi secara layak
Pengakuan Akuntansi atas Kewajiban Penghentian Aktiva
Sebuah perusahaan harus mengakui kewajiban penghentian aktiva (assets retiremet
obligation-ARO) ketika perushaan mempunyai kewajiban hukum terkait dengan sebuah
aktiva jangka panjang dan ketika perusahaan dapat secara layak mengestimasi jumlah
kewajiban itu.

1.
2.
3.
4.

Kejadian yang membebankan kewajiban


Contoh dari kewajiban hukum yang ada, yang memerlukan pengakuan kewajiban, meliputi
tetapi tidak terbatas pada :
Penutupan pabrik/fasilitas nuklir
Pembongkaran, pemulihan, dan reklamasi property minyak dan gas
Biaya penutupan, reklamasi, dan pembongkaran faslitas pertambangan
Biaya penutupan dan pasca penutupan tempat pembuangan sampah padat
Untuk memproleh manfaat dari aktiva jangka panjang ini, perusahaan biasanya berkewajiban
secara hukum terhadap biaya-biaya yang terkait dengan penghentian aktiva tersebut, apakah
aktivitas penghentian itu dilakukan dengan tenaga kerja dan peralatan sendiri atau dilakukan
oleh pihak lain.
Pengukuran
Perusahaan pada awalnya mengukur ARO pada nilai wajar, yang didefinisikan sebagai
jumlah yang akan dibayar perushaan di dalam pasar aktif. Karena pasar aktif tidak begitu
banyak tersedia bagi ARO, maka perushaan mengestimasi nilai wajarnya berdasarkan
informasi terbaik yang ada seperti informasi harga pasar dan kewajiban serupa jika ada.

Pengakuan dan Alokasi


Untuk mencatat sebuah ARO dalam laporan keuangan, sebuah perusahaan memasukkan
biaya yang terkait dengan ARO dalam jumlah yang tercatat aktiva berjangka panjang tersebut
dan mencatat kewajiban dengan jumlah yang sama. Biaya penghentian akan dicatat sebagai
bagian dari aktiva tersebut karena biaya-biaya ini terikat pada kegiatan operasi aktiva itu dan
diperlukan untuk menyiapkan aktiva itu agar sebagaimana mestinya. Perusahaan tidak boleh
mencatat biaya penghentian aktiva yang dikapitalisasi di akun terpisah karena tidak ada
manfaat ekonomis nasa depan yang dapat dikaitkan dengan biay-biaya-biaya ini saja.
Pada periode-periode setelahnya, perusahaan mengalokasikan biaya ARO untuk dibebankan
selama periode umur manfaat aktiva tersebut. Perusahaan dapat menggunakan metode garis
lurus untuk alokasi ini.
Penyajian Kewajiban Lancar
Dalam praktek kewajiban lancar biasanya dicatat dalam catatan akuntansi dan
dilaporkan dalam laporan keuangan pada nilai penuh jatuh temponya. Karena singkatnya
periode waktu yang terlibat, yang sering kali kurang dari satu tahun, maka perbedaan antara
nilai sekarang kewajiban lancar dan nilai jatuh tempo biasanya tidak besar. Penilaian
kewajiban yang sedikit terlalu tinggi akibat pencatatan kewajiban lancar pada nilai jatuh
temponya dianggap sebagai tidak material.
Terdapat pengecualianpenting apabila kewajiban yang jatuh tempo saat ini harus
dibayar dari aktiva yang diklasifikasikan sebagai jangka panjang. Jika kewajiban jangka
pendek dikeluarkan dri kewajiban lancar karena pendanaan kembali, maka catatan laporan
keuangan harus mencakup :
1. Penjelasan umum mengenai perjanjian pendanaan
2. Persyaratan dari setiap kewajiban bary yang terjadi dan akan terjadi
3. Persyaratan dari setiap sekurittas ekuitas yang diterbitkan atau akan diterbitkan.
Penyajian Kontinjensi
Perusahaan mencatat kerugian kontinjensi dan kewajiban jika kerugiannya adalah
mungkin dan dapat diestimasi. Akan tetapi. Jika kerugiannya sangat mungkin atau dapat
diestimasi tetapi tidak keduanya, dan jika terdapat paling sedikit kemungkinan yang layak
bahwa suatu kewajiban telah terjadi, maka pengungkapan berikut diperlukan dalam catatan :
1. Sifat Kontinjensi
2. Stimasis mengenai kemungkinan kerugian atau rentang kerugian atau suatu pernyataan
bahwa estimasi tidak dapat dilakukan
Beberapa kewajiban kontinjensi lain yang harus diungkapkan meskipun perusahaan
kemungkinan kerugiannya sangat kecil adalah sebagai berikut :
1. Jaminan atas hutang pihak lain
2. Kewajiban Bank komersial
3. Jaminan untuk membeli kembali piutang yang telah dijual atau diberikan