Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI

KLINIK
KADAR LEUKOSIT

KELAS KELOMPOK IV

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Pemeriksaan hitung sel darah terutama leukosit dan trombosit banyak diminta di
klinik. Hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya kebutuhan akan data tersebut dalam
upaya membantu membuat diagnosa. Dengan meningkatnya permintaan pemeriksaan hitung
sel darah maka pemeriksaan hitung sel secara manual tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan
tersebut.Oleh karena itu dibuatlah alat hitung sel otomatis. Dengan alat hitung sel otomatis
maka perhitungan sel menjadi lebih mudah, cepat, dan teliti di bandingkan dengan cara
manual. Walaupun demikian hitung sel secara manual masiah dipertahankan. Hal ini
disebabkan hitung sel darah cara manual masih merupakan metode rujukan.Keuntungan lain
ialah hitung sel cara manual dapat dilakukan di laboratorium yang tidak ada aliran listrik.
Disamping itu harga sebuah alat hitung sel otomatis cukup mahal (Prof. Dr. Arjatmo
Tjokronegoro. Ph. D,1996).
Sel darah putih atau leukosit adalah sel lain yang terdapat dalam darah dengan
fungsinya yang berbeda dari eritrosit. Sel darah putih atau leukosit ini umumnya berperan
dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing yang dipandang mempunyai
kemungkinan untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu (Sadikin
Muhammad,2002).
Menghitung sel-sel darah dari ketiga jenis sel darah leukosit, eritrosit, dan trombosit
dihitung jumlahnya persatuan volume darah. Upaya itu biasanya dilakukan dengan
menggunakan alat hitung elektronik. Pada dasarnya alat semacam itu yang lazimnya dipakai
bersama alat pengencer otomatik memberi hasil yang sangat teliti dan tepat. Harga alat
penghitung elektronik mahal dan mengharuskan pemakaian dan pemeliharaan yang sangat
cermat. Selain itu perlu ada upaya untuk menjamin tepatnya alat itu bekerja dalam satu
program jaminan mutu (quality control). Cara-cara menghitung sel darah secara manual
dengan memakai pipet dan kamar hitung tetap menjadi upaya dalam laboratorium
(Gandasoebrata,R. 2007).
Pada hitung jumlah leukosit cara automatik sampel yang digunakan sangat sedikit dan
ada kemungkinan kesalahan dalam pengenceran dan sampling. Karena darah mengandung
lebih sedikit leukosit dibanding eritrosit, pengencerannya lebih kecil dan volume sampel yang
digunakan lebih besar. Hampir semua laboratorium besar menggunakan cara automatik untuk
menghitung leukosit, baik dengan cara menghitung partikel secara elektronik maupun dengan

prinsip pembauran cahaya, yang disebut dengan prinsip impedensi elektrik yaitu metode
impedansi untuk penentuan WBC(White Blood Cell) (Mindray. 2006). Akan tetapi cara
manual dengan menggunakan haemositometer masih tetap dapat dipercaya bila dilakukan
dengan teliti (Frances,K.Widman 1995).
Tujuan Praktikum
v Menghitung jumlah leukosit secara manual
v Membandingkan hasil literature dan hasil pengamatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian leukosit
leukosit (bahasa Inggris: white blood cell, WBC, leukocyte) adalah sel yang
membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan
berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak
berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding
kapiler / diapedesis. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x10 9 hingga 11x109 sel darah
putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes.
Dalam setiap milimeter kubik darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata 8000) sel darah
putih. Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes.
Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan
tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu
bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau
mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi
dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic
pluripotent yang ada pada sumsum tulang. Leukosit turunannya meliputi: sel NK, sel biang,
eosinofil, basofil, dan fagosit termasuk makrofaga, neutrofil, dan sel dendritik.
Fungsi leukosit
Granulosit dan Monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan
terhadap mikroorganisme. dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago- memakan), mereka
memakan bakteria hidup yang masuk ke sistem peredaran darah. melalui mikroskop
adakalanya dapat dijumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertelan oleh sebutir granulosit.
pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. dengan kekuatan gerakan
amuboidnya ia dapat bergerak bebas didalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan
mengitari seluruh bagian tubuh. dengan cara ini ia dapat mengepung daerah yang terkena
infeksi atau cidera, menangkap organisme hidup dan menghancurkannya,menyingkirkan
bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan-serpihan dan lainnya, dengan cara yang sama
granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak
jaringan hidup, menghancurkan dan membuangnya dengan cara ini jaringan yang sakit atau
terluka dapat dibuang dan penyembuhannya yang diinginkan.

Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan. Bila
kegiatannya tidak berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah. Nanah dari kawan
dan lawan - fagosit yang terbunuh dalam kinerjanya disebut sel nanah. demikian juga terdapat
banyak kuman yang mati dalam nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar jaringan
yang sudah mencair. dan sel nanah tersebut akan disingkirkan oleh granulosit yang sehat yang
bekerja sebagai fagosit.
PEMERIKSAAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT
Terdapat dua cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi.Yang pertama adalah
cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop. Cara kedua adalah
cara semi automatik dengan memakai alat elektronik. Cara kedua ini lebih unggul dari cara
pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang diperlukan lebih singkat dan
kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang pada cara pertama kesalahannya sampai 10%.
Keburukan cara kedua adalah harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen
karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini. Jumlah leukosit
dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan asal dan lain-lain. Pada bayi baru lahir
jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.00030.000/l. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12
jam yaitu antara 13.000 38.000 /l. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan
pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 11.000/ l. Pada keadaan asal
jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 10.0004/1. Jumlah leukosit
meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang,tetapi jarang lebih dari 11.000/l.
Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut
leukositosis. Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang
fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi
paroksismal, partus dan haid. Leukositosis yang terjadi sebagai akibat peningkatan yang
seimbang dari masing-masing jenis sel,disebut balanced leoko- cytosis. Keadaan ini jarang
terjadi dan dapat dijumpai pada hemokonsentrasi. Yang lebih sering dijumpai adalah
leukositosis yang disebabkan peningkatan dari salah satu jenis leukosit sehingga timbul
istilah neutrophilic leukocytosis atau netrofilia, lymphocytic leukocytosis atau limfositosis,
eosinofilia dan basofilia. Leukositosis yang patologik selalu diikuti oleh peningkatan absolut
dari salah satu atau lebih jenis leukosit. Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit
kurang dari 5000/0 darah. Karena pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling
tinggi persentasinya hampir selalu leukopenia disebabkan oleh netropenia.

Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System


International Units = SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya 4000 - 11000 / mmk.
Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan elektronik. Pada umumnya
metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin baru di laboratorium besar,
sehingga cara manual masih memegang peranan penting.

BAB III
METODOLOGI
Alat dan reagen :

Objek glass, darah manusia

Lanset steril

Kapas alkohol 70%

Pipet thoma leukosit (haemocytometer)

Reagen Turk
asam asetat glacial 2 ml
gentian violet 1 ml
aquades 100 ml

Kamar hitung Improved Neubauer

Mikroskop

d. Perhitungan untuk leukosit


Jumlah leukosit (/l darah) = n x Fp
vb
Vb = 4 x P x L x T
= 4 x 1 x 1 x 0,1
= 0,4 l darah
Fp =

10
Volume leukosit yang diambil

Keterangan :
n

= jumlah leukosit (sel darah putih) yang dihitung pada kamar hitung

Fp = factor pengenceran
Vb = volume bidang yang dihitung

BAB IV
HASIL dan PERHITUNGAN
Hasil
NO
1
2
3
4
5

Nama Mahasiswa
Detik
Novalia
Tri Winarni
Widaningsih
Sally Miranda

Perhitungan
FP =

10

Vol leukosit yang diambil


=
10
= 20
0,5
1. n x FP
Vb
126x20 =6300/l darah
0,4
2. 87x20 =4350/l darah
0,4
3.

147x20 =7350/ l darah


0,4

4. 122x20 =6100/ l darah

0,4
5. 106x20 =5200/ l darah
0,4

BAB V
PEMBAHASAN

Kadar Eritrosit
6300 /l darah
4350/l darah
7350/ l darah
6100/ l darah
5200/ l darah

Sel darah putih atau leukosit (bahasa Inggris: white blood cell, WBC, leukocyte)
adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu
tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Dalam
setiap millimeter kubik darah terdapat 6000 sampai 10000 (rata-rata 8000) sel darah putih.
Sel darah putih (leukosit) ternyata jumlahnya 0,5% dari jumlah total darah dalam
tubuh manusia. Dalam millimeter kubik darah normal terdapat 5000 sampai 10000 sel darah
putih. Sel darah putih mempunyai bentuk yang tidak tetap hal ini dikarenakan sel darah putih
selalu berubah bentuk untuk memudahkan bertempur melawan bakteri karena sifatnya
sebagai fagosit. Karena adakalanya bakteri tidak masuk kedalam pembuluh darah, melainkan
hidup menumpang diselaput bagian dalam lambung, paru-paru, usus ataupun organ lainnya.
Didalam keadaan seperti itulah leukosit dapat berubah menjadi sangat lembut dan menembus
keluar dari pembuluh darah untuk mengepung bakteri dan membasminya hingga tuntas. Sel
darah putih dibentuk disumsum merah dan kelenjar limfa. Leukosit mempunyai rupa bening
dan tidak berwarna, dan bentuknya lebih besar dari sel darah merah. Sel darah putih memiliki
beberapa jenis, yaitu granulosit yang terdiri dari basofil, neutrofil, eosinofil; dan agranulosit
yang terdiri dari limfosit dan monosit.
Hitung sel darah putih (white blood cell count/ WBC) adalah jumlah total sel darah
putih. Terdapat 2 cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi, yaitu :
1)

Cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskopik.

2)

Cara semi automatic dengan memakai alat elektronik, dengan kelebihan teknik ini adalah
lebih mudah, waktu lebih singkat dan tingkat kesalahan yang lebih rendah yaitu 2% namun
kerugiannya adalah alatnya mahal.
Pada praktikum dilakukan ialah cara pertama dengan menggunakan alat
haemocytometer. Hitung leukosit memiliki prinsip bahwa darah diencerkan dengan larutan
asam lemah yang menyebabkan sel-sel eritrosit hemolisis serta darah menjadi encer sehingga
sel-sel leukosit mudah dihitung. Prosesnya dilakukan dengan cara memipet darah darah dari
salah satu jari (dilakukan dengan cara aseptis) dengan pipet leukosit hingga batas 0,5
kemudian dengan pipet tersebut dihisap larutan Turk hingga batas 11. Larutan Turk terdiri
dari asam asetat 2%, gentian violet 1% dan aquadest ad 100 ml. Kemudian larutan campuran
dalam pipet tersebut dikocok menyerupai angka 8 sampai homogeny. Lalu diteteskan 2-3
tetes larutan campuran tersebut kedalam kamar hitung Neubauer melalui tepi kamar hitung

tersebut. Kemudian amati dan hitung leukosit dengan menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 40.
Adapun hasil dari praktikum jumlah nilai leukositnya tidak normal dikarenakan
misalnya penyakit leucopenia atau leukositosis, atau mungkin kesalahn prosedur dalam
praktikum. Misalnya ketidaktelitian dalam melihat leukosit dibawah mikroskop ataupun
disebabkan oleh factor lain.

BAB VI
KESIMPULAN

Sel darah putih adalah sel yang membentuk komponen darah


Fungsi sel darah putih sebagai membantu melawan berbagai penyakit infeksi dan sebagai
system kekebalan tubuh.

Hitung sel darah putih (white blood cell count/ WBC) adalah jumlah total sel darah
putih. Terdapat 2 cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi, yaitu :

o Cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskopik.
o Cara semi automatic dengan memakai alat elektronik, dengan kelebihan teknik ini adalah
lebih mudah, waktu lebih singkat dan tingkat kesalahan yang lebih rendah yaitu 2% namun
kerugiannya adalah alatnya mahal.

Nilai leukosit normal menurut Dacie, yaitu:


Dewasa pria : 4 - 11 ribu/mm3
Dewasa wanita : 4 - 11 ribu/mm3
Bayi : 10 -25 ribu/mm3
1 tahun: 6 - 18 ribu/mm3
12 tahun : 4,5 - 13 ribu/mm3

DAFTAR PUSTAKA
1. Dacie, S.J.V. dan Lewis S.M., 1991, Practical Hematology, 7th ed., Longman
Singapore Publishers Ptc. Ltd., Singapore.
2. Gandasoebrata, R., 1992, Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat, Bandung.
3. Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry

4. Kee, Joyce LeFever, 2007, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik,


Edisi 6, EGC, Jakarta.
5. Koepke, J.A., 1991, Practical Laboratory Hematology, 1st ed., Churchill Livingstone,
New York.
6. Laboratorium Patologi Klinik FK-UGM, 1995, Tuntunan Praktikum Hematologi,
Bagian Patologi Klinik FK-UGM, Yogyakarta.
7. Oesman, Farida & R. Setiabudy, 1992, Fisiologi Hemostasis dan Fibrinolisis, dalam :
Setiabudy, R. (ed.), 1992, Hemostasis dan Trombosis, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
8. Ratnaningsih, T. dan Setyawati, 2003, Perbandingan Antara hitung Trombosit Metode
Langsung dan Tidak Langsung Pada Trombositopenia, Berkala Kesehatan Klinik,
Vol. IX, No. 1, Juni 2003, RS Dr. Sardjito, Yogyakarta.
9. Ratnaningsih, T. dan Usi Sukorini, 2005, Pengaruh Konsentrasi Na2EDTA Terhadap
Perubahan Parameter Hematologi, FK UGM, Yogyakarta.
10. Sacher, Ronald A. dan Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U. Pendit dan
Dewi Wulandari, editor : Huriawati Hartanto, 2004, Tinjauan Klinis Hasil
Pemeriksaan Laboratorium, Edisi 11, EGC, Jakarta.
11. Widmann, Frances K., alih bahasa : S. Boedina Kresno dkk., 1992, Tinjauan Klinis
Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi 9, cetakan ke-1, EGC, Jakarta, hlm. 117132.