Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KABUPATEN GIANYAR

DINAS KESEHATAN
Jln Ciung Wenara No 6 Gianyar

PROSEDUR TETAP
PENGENDALIAN PENYAKIT
TIDAK MENULAR
DINAS KESEHATAN KABUPATEN
GIANYAR

Telp (0361 943436)

No. Dokumen
Revisi
Tanggal Berlaku
Halaman

PENGESAHAN
DIPERIKSA OLEH

DISETUJUI OLEH

DITETAPKAN OLEH

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit

Kepala Bidang P2PL Kab. Gianyar

Kepala Dinas Kesehatan Kab. Gianyar

Nama
NIP
Tanggal

A.A. Istri Sri Laksmi P. Dewi,ST


1620113 198603 2 011
2 Januari 2012

Dasar Hukum

Kebijakan

Nama
NIP
Tanggal

Dr. Ida Komang Upeksa


19620909 198911 1 001

Nama
NIP
Tanggal

Dr .Pd. Pt. Wirbuana,SH. M.Kes

19591201 198410 1 003

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja


Undang-undang Nomor 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Undang-undang Nomor 14 tahun 199 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
Undang-undang no. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional
Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan
Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
dan Pengelolaan Keuangan Negara
h. Undang-undang no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
i. Undang-undang no. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
j. Undang-undang no. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah
k. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas Jalan
l. Peraturan Pemerintah no. 44 tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi
m. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
n. Peraturn Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional
o. Keputusam Menteri Kesehatan RI Nomor : 1116/Menkes/SK/VIII/2003, tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan
p. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457 /Menkes/SK/X/2003, tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota
q. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/Menkes/SK/X/2003, tentang Penyelenggaraan
Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu
r. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor: 949/Menkes/SK/VIII/2004, tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) Kejadian Luar Biasa
s. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/XI/2005, tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Kesehatan RI
t. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 331/Menkes/SK/V/2006 tentang Rencana Strategis
Departemen Kesehatan Tahun 2005-2009
u. Surat Kesepakatan bersama Menteri Kesehatan RI Nomor 1391/Menkes/SKB/IX/2003 dan
Menteri Perhubungan RI Nomor KM 42 Tahun 2003 tentang Pembinaan Kesehatan Kerka pada
Pekerja Transportasi

Kabupaten sebagai titik berat manajemen program yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring

dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (Dana , tenaga, sarana dan prasarana).
Pengertian

Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak menular dan bukan karena proses infeksi yang
mempunyai faktor resiko utama dan mengakibatkan kecacatan dan kematian, tetapi merupakan penyakit
yang dapat dicegah bila faktor resiko dikendalikan

Ruang Lingkup

Ruang lingkup penyakit tidak menular


1. Penyakit jantung dan pembuluh darah
2. Penyakit kanker
3. Penyakit kronik dan degeneratif lainnya
4. Penyakit diabetes militus dan penyakit metabolik
5. Gangguan akibat kecelakaan dan cidera

Tujuan

Tujuan Umum :
Menurunkan angka kesakitan , kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular
secara terpadu, efisiensi dan efektif dengan melibatkan komponen pemerintah, swasta dan masyarakat.
Tujuan Khusus
a. Terkendalinya faktor resiko PTM di masyarakat
b. Terdeteksinya kasus PTM secara dini dan terselenggaranya tatalaksana kasus PTM
c. Terselenggaranya kegiatan surveilans epidemiologi PTM
d. Terselenggaranya kegiatan komunikasi, informasi , Edukasi (KIE) PTM
e. Terjalinnya kemitraan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian PTM

Prosedur

I. Peningkatan komunikasi , informasi dan edukasi (KIE) dan jejaring kerja


-

Melaksanakan penyuluhan /KIE tentang PTM melalui berbagai media


Meningkatkan kerjasama aktif seluruh potensi di lingkungan pemerintah dan masyarakat dalam
berbagai upaya yang efektif dan efisien untuk menekan kecendrungan peningkatan kejadian penyakit
tidak menular dan pajanan factor risikonya.
Melakukan pertemuan berkala di antara anggota jejaring
Melakukan komunikasi berkala dengan fasilitas komunikasi
Menyediakan data dasar tentang aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian PTM

II. Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko PTM dan Perlindungan Khusus
A. Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko PTM
- Penyusunan peraturan perundangan pencegahan dan penanggulangan factor risiko
- Melaksanakan sosialisasi metode pencegahan dan penanggulangan factor risiko
- Penerapan metode pencegahan dan penanggulangan factor risiko
B. Perlindungan Khusus
- Penerapan peraturan perundangan , misalnya Perda tentang pengendalian masalah merokok.
- Penerapan peraturan daerah tentang (udara bersih/langit biru) dan monitoring
- Sosialisasi penggunaan alat pelindung diri PTM pada individu atau kelompok yang berisiko tinggi
- Sosialisasi ventilasi dan cerobong asap dapur rumah tangga, fasilitas umum dan industry yang
memenuhi syarat.
III. Penemuan dan Tata Laksana Penderita
- Melaksanakan sosialisasi pedoman penemuan dan tatalaksana penderita
- Pelaksanaan penemuan dan tatalaksana penderita
- Mengadakan dan mendistribusikan bahan/ alat deteksi dini / diagnostic dan tatalaksana PTM
IV. Surveilans Epidemiologi
A. Surveilans Kasus
- Melaksanakan sosialisasi pedoman surveilans kasus
- Pelaksanaan surveilans kasus

Pengumpulan data penyakit tidak menular


Pengolahan dan analisis data penyakit tidak menular
Diseminasi informasi hasil kajian / analiisis kasus penyakit tidak menular
Rencana tindak lanjut

B. Surveilans Faktor Risiko


- Melaksanakan sosialisasi pedoman surveilans factor risiko
- Pelaksanaan surveilans factor risiko

Pengumpulan data factor risiko penyakit tidak menular


Pengolahan dan analisis data factor risiko penyakit tidak menular
Diseminasi informasi hasil kajian / analiisis factor risiko penyakit tidak menular
Rencana tindak lanjut
C. Surveilans Penyebab Kematian
- Melaksanakan sosialisasi pedoman surveilans penyebab kematian
- Pelaksanaan surveilans penyebab kematian

Pengumpulan data kasus penyebab kematian di pelayanan kesehatan dan masyarakat


Pengolahan dan analisis kasus penyebab kematian di pelayanan kesehatan dan masyarakat
Diseminasi informasi hasil kajian / analiisis kasus penyebab kematian penyakit tidak menular
Rencana tindak lanjut

D. Registrasi Kanker dan Jantung


- Melaksanakan sosialisasi pedoman registry penyebab kanker, jantung
- Pelaksanaan registry kanker dan jantung
V. Monitoring dan Evaluasi
- Memantau kemajuan pelaksanaan program dan memberikan koreksi atas penyimpangan
berdasarkan atas indicator input, proses, output dan outcome.
- Mengevaluasi dan analisis seluruh kegiatan (input, proses, outout, dan outcome)

Unit Terkait

1. Jejaring PTM Puskesmas


2. Lintas Program
3. Lintas Sektor.

PEMERINTAH KABUPATEN GIANYAR


DINAS KESEHATAN
Jln Ciung Wenara No 6 Gianyar

Telp (0361
943436)

PROSEDUR TETAP
SURVEILANS ACUTE FLACCID
PARALYSIS (AFP)

No. Dokumen
Revisi
Tanggal Berlaku
Halaman

PENGESAHAN
DISIAPKAN OLEH

DIPERIKSA OLEH

DISETUJUI OLEH

Nama
NIP
Tanggal

Putu Antika Dewi,SKM


19740402 199803 2 007
2 Januari 2012

Nama
NIP
Tanggal

A.A.I Sri Laksmi P. Dewi,ST


19620113 198603 2 011

Nama
NIP
Tanggal

Dr Ida Komang Upeksa


19600909 198911 1 001

Dasar Hukum

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 483/MENKES/IV/2007

Pengertian

Merupakan suatu kegiatan pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus


lumpuh layuh akut (AFP) pada anak usia kurang dari 15 tahun (<15 tahun) yang
merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit polio

Tujuan

1.

2.

Kebijakan

1.
2.
3.
4.
5.

6.
Prosedur

1.

Umum:
a. Mengidentifikasi daerah resiko tinggi, untuk mendapatkan informasi
tentang adanya transmisi VPL,VDPV, dan daerah dengan kinerja
surveilans yang tidak memenuhi standar/indikator
b. Memantau kemajuan program eradikasi polio. Surveilans AFP
memberikan informasi dan rekomendasi kepada para pengambil
keputusan dalam rangka keberhasilan program eradikasi polio
(ERAPO)
c. Membuktikan Indonesia bebas polio. Untuk menyatakan bahwa
Indonesia bebas polio, harus dibuktikan bahwa:
Tidak ada lagi penyebaran virus polio liar maupun Vaccine
Derived Polio Virus (cVDPV) di Indonesia
Sistem surveilans terhadap polio mampu mendeteksi setiap
kasus polio paralitik yang mungkin terjadi
Khusus:
a. Menemukan semua kasus AFP yang ada di suatu wilayah
b. Melacak semua kasus AFP yang ditemukan di suatu wilayah
c. Mengumpulkan dua spesimen semua kasus AFP sesegera mungkin
setelah kelumpuhan
d. Memeriksa spesimen tinja semua semua kasus AFP yang ditemukan
di Laboratorium Polio Nasional
e. Memeriksa spesimen kontak terhadap Hot Case untuk mengetahui
adanya sirkulasi VPL
Satu kasus AFP merupakan suatu Kejadian Luar Biasa (KLB)
Semua kasus yang terjadi pada tahun yang sedang berjalan harus
dilaporkan.
Laporan rutin mingguan termasuk laporan nihil, memanfaatkan laporan
mingguan PWS-KLB (W2) untuk puskesmas dan surveilans aktif rumah
sakit (FP-PD)
Mengintegrasikan laporan rutin bulanan dengan penyakit yang dapat
dicegah denga imunisasi (PD3I)
Kasus AFP yang tidak bisa diklasifikasikan secara laboratoris dan atau
masih terdapat sisa kelumpuhan pada kunjungan ulang 60 hari, maka
klasifikasi final dilakukan oleh Kelompok Kerja Ahli Surveilans AFP
Propinsi/Nasional.
Melakukan Pemeriksaan tinja terhadap 5 orang kontak Hot Case
Penemuan Kasus: Surveilans AFP harus dapat menemukan semua kasus
AFP dalam satu wilayah yang diperkirakan minimal 2 kasus AFP diantara
100.000 penduduk usia <15 tahun per tahun (Non Polio AFP rate minimal
2/100.000 pertahun )
Strategi penemuan kasus AFP dilakukan melalui:
a. Sistem surveilans aktif rumah sakit (Hospital Based
Surveillance=HBS)
b. Sistem surveilans masyarakat (Community Based Surveillance=CBS)

2.

Pelacakan Kasus AFP: Setiap kasus AFP yang ditemukan harus segera
dilacak dan dilaporkan ke unit pelaporan yang lebih tinggi selambatlambatnya dalam waktu 24 jam setelah laporan diterima.
Pelacakan bertujuan:
a. Memastikan apakah kasus yang dilaporkan benar-benar kasus AFP
b. Mengumpulkan data epidemiologis
c. Mengumpulkan spesimen tinja sedini mungkin dan mengirimkannya
ke Laboratorium
d. Mencari kasus tambahan
e. Memastikan ada/tidaknya sisa kelumpuhan (residual Paralysis) pada
kunjungan ulang 60 hari kasus AFP dengan spesimen tidak adekuat
atau virus polio vaksin positif
f. Mengumpulkan resume medik dan hasil pemeriksaan penunjang
lainnya, sebagai bahan kajian klasifikasi final oleh Kelompok Kerja Ahli
Nasional
a.

b.
c.
d.

e.

f.

3.

Prosedur Pelacakan:
Mengisi format pelacakan (FP-1) antara lain:
Menanyakan riwayat sakit dan vaksinasi polio serta data lain
yang diperlukan
Melakukan pemeriksaan fisik kasus AFP
Mengumpulkan 2 spesimen tinja dari setiap kasus AFP yang
kelumpuhannya kurang dari 2 bulan
Menjelaskan kepada orang tua tentang pentingnya rehabilitasi medik
dan cara-cara perawatan sederhana untuk mengurangi/ mencegah
kecacatan akibat kelumpuhan yang diderita
Mengupayakan agar semua kasus AFP mendapatkan perawatan
tenaga medis terdekat. Bila diperlukan dapat dirujuk ke dokter
spesialis anak (DSA) atau dokter spesialis saraf(DSS) untuk
rehabilitasi medik sedini mungkin
Mencari kasus tambahan. Pencarian kasus tambahan dilakukan
dengnan menanyakan kemungkinan adanya anak berusia <15 tahun
yang mengalami kelumpuhan pada daerah tersebut kepada:
Orang tua penderita
Tokoh masyarakat setempat
Kader
Guru, dll
Melakukan follow up (kunjungan ulang) 60 hari terhadap virus AFP
dengan spesimen tidak adekuat atau hasil laboratorium positif virus
polio vaksin

Pengumpulan Spesimen: spesimen yang dikumpulkan adalah spesimen


tinja, tetapi tidak semua kasus AFP yang dilacak harus dikumpulkan
spesimen tinjanya, tergantung dari lamanya kelum puhan pada kasus AFP.
a. Bila kelumpuhan terjadi < 2 bulan pada saat ditemukan, maka:
Isi formulir FP-1
Kumpulkan 2 spesimen penderita AFP
b.

Bila kelumpuhan terjadi>2 bulan pada saat ditemukan, maka:


Isi formulir FP-1 dan KU 60 hari
Tidak perlu dilakukan pengumpuilan spesimen tinja penderita
AFP
Membuat resume medik
Kelengkapan untuk pengumpulan spesimen setiap kasus AFP:
2 buah pot bertutup ulir di bagian luarnya yang dapat ditutup
rapat, terbuat dari bahan transparan, tidak mudah pecah, tidak
bocor, bersih dan kering (pot tinja)
2 buah kantong plastik bersih ukuran kecil untuk membungkus
masing-masing pot tinja
1 buah kantong plastik besar untuk membungkus ke2 pot tinja

yang telah dibungkus dengan kantong plastik kecil


1 buah kantong plastik besar untuk membungkus FP-1 dan
formulir pengiriman spesimen carrier
2 buah kertas label auto adhesive (pada umumnya sudah
tertempel di pot yang tersedia)
Pena dengan tinta tahan air untuk menulis label
Formulir pelacakan (FP-1) dan pengiriman spesimen (FP-S1)
Spesimen Carrier dengan 5 cold pack:
Suhu harus terjaga antara 2C - 8C
Harus diberi label: KHUSUS SPESIMEN POLIO
Tidak boleh digunakan untuk transportasi
vaksin atau keperluan lainnya
Lakban untuk merekatkan tutup pot dengan
badan pot
Formulir Pemnatauan Rantai dingin Spesimen
Lembar tata cara pengumpulan spesimen

Prosedur Pengumpulan Spesimen


Segera dilakukan pengumpulan spesimen tinja dengan tenggang
waktu pengumpulan antara spesimen pertama dan kedua
minimal 24 jam
Pengumpulan 2 spesimen diupayakan dalam kurun waktu 14
hari pertama setelah kelumpuhan
Pengumpulan spesimen dengan menggunakan pot tinja
Penderita diminta buang air besar diatas kertas atau bahan
lainnya yang bersih agar tidak terkontaminasi dan mudah diambil.
Ambil tinja sebanyak + 8 gram. Bila penderita AFP sedang diare,
spesimen diambil kira-kira 1 sendok makan
Masukkan tiap spesimen ke dalam pot tinja yang telah disiapkan,
tutup rapat, kemudian rekatkan denga cellotape pada batas tutup
badan pot tinja
Beri label masing-masing pot tinja dengan menggunakan tinta
tahan air
Lapisi label dengan cellotape agar tidak mudah lepas, tetapi tetap
terbaca
Setiap pot tinja dimasukkan dalam kantong plastik kecil,
kemudian keduanya dibungkus dalam 1 kantong plastik besar
Spesimen dimasukkan ke dalam spesimen carrier yang diberi
cold pack sehingga suhu dapat dipertahankan antara 2C-8C
sampai di laboratorium atau propinsi
Letakkan spesimen sedemikan rupa sehingga spesimen tidak
terguncang-guncang
Tutup spesimen carrier dan rekatkan dengan lackban agar tutup
tidak terbuka
Tempelkan pada badan spesimen carrier, alamat laboratorium
yang dituju
Spesimen dikirim ke laboratorium polio nasional/Dinas Kesehatan
Propinsi
Bila diperkirakan akan dikirim <3 hari setelah pengemasan, maka
disimpan pada suhu 2C - 8C
Bila diperkirakan baru dapat dikirim > 3 hari setelah pengemasan,
maka simpanlah di freezer
4.

Pengiriman Spesimen: Sebelum dikirim ke laboraturium, yakinkan bahwa


spesimen dalam keadaan baik (Volume cukup, tidak kering, dan tidak
bocor).
Pengiriman spesimen ke laboratorium dilakukan oleh tim pelacak yang ada
di kabupaten /kota atau propinsi
Kabupaten/kota dapat langsung mengirim ke laboratorium polio nasional
yang ditunjuk, tetapi apabila tidak memungkinkan kabupaten/kota dapat
mengirim ke dinas kesehatan propinsi.

Spesimen dikirim ke laboratorium melalui jasa pengiriman paket yang dapat


menyampaikan paket spesimen tersebut ke alamat laboratorium yang dituju
dalam waktu 1-2 hari.
5.

Survey Status Imunisasi Polio


Survey status imunisasi polio dilakukan pada kasus AFP usia 6 bulan s/d 5
tahun dengan status imunisasi polio 3 kali terhadap 20-50 anak usia balita
disekitar rumah penderita.

6.

Nomor EPID (Nomor Identitas Kasus AFP): Merupakan suatu nomor yang
khas bagi setiap penderita AFP dan ditentukan sesuai dengan tata cara
penentuan nomor EPID
a. Tujuan pemberian nomor epid:
Memberikan kode identitas yang khas bagi setiap penderita AFP
untuk kepentingan kunjungan ulang 60 hari dan pengelolaan
spesimen
Untuk menghubungkan data klinis, epideiologis, demografis dan
laboratorium
Mengetahui penyebaran penderita AFP
Menghindari kemungkinan duplikasi dalam pencatatan dan
pelaporan kasus AFP
b. Yang harus memberikan nomor EPID
Pemberian nomoe EPID dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota yang membawahi wilayah domisili/tempat tinggal
penderita AFP satu bulan sebelum kelumpuhan
Apabila seseorang penderita AFP karena suatu alasan berobat
ke fasilitas kesehatan di kabupaten/kota yang tidak membawahi
wilayah tempat tinggal kasus, maka:
Penanganan medis tetap dilakukan oleh fasilitas kesehatan
dimana penderita berobat, kabupaten/kota dimana penderita AFP
dirawat harus menginformasikan dan mengkoordinasikan dengan
kabupaten/kota yang membawahi wilayah tempat tinggal kasus.
Bila nomor EPID belum bisa ditentukan pada saat spesimen
dikirim ke laboratorium, FP-1 tetap harus dikirim tanpa nomor
EPID
Daftar nomor EPID harus disimpan di kabupaten/kota di wilayah
tempat tinggal kasus AFP. Bila nomor EPID sudah digunakan
atau salah diberikan nomor tersebuat tidak boleh dipakai lagi
c. Tata Cara Pemberian nomor EPID kasus AFP: Setiap kasus AFP
diberi nomor identitas yangb terdiri dari 9 digit, dengan rincian:
Digit ke 1-2: Kode Propinsi
Digit ke 3-4: Kode kabupaten/kota
Digit ke 5-6: tahun kelumpuhan
Digit ke 7-9: Kode penderita

7.

Kunjungan Ulang 60 Hari : Kunjungan ulang 60 hari dimaksudkan untuk


mengetahui adanya sisa kelumpuhan setelah 60 hari sejak terjadi
kelupuhan . Terdapat 2 kemungkinan hasil pemeriksaan kelumpuhan pada
KU 60 hari:
a. Tidak ada sisa kelumpuhan
b. Ada sisa kelumpuhan
Apabila

Unit Terkait

4. Lintas Program
5. Jejaring Surveilans (Puskesmas, Lab, Rumah Sakit)
6. Lintas Sektor.

Anda mungkin juga menyukai