Anda di halaman 1dari 27

SMF OBSTETRI & GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM


RSUD EMBUNG FATIMAH BATAM
BAB I
STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. W

Nama Suami : Tn. P

Umur

: 34 tahun

Umur

: 39 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Wiraswasta

Paritas

: G4P3A0H3

Agama

: Islam

Alamat

: Komp. Permata Laguna

Agama

: Islam

Pekerjaan

: IRT

B. ANAMNESIS
1. Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa tanggal 27 juni 2016
pukul 17.00 wib.
2. Keluhan Utama
Os seorang perempuan sedang hamil anak keempat mengeluh
keluar darah dalam jumlah banyak dari kemaluan sejak pagi jam 06.00
wib SMRS.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RSUD dengan rujukkan kimia farma.
Pasien diantar oleh suaminya dengan keluhan adanya darah yang keluar
dari vagina bercampur lendir yang dimulai dari pukul 06.00 wib, dengan
jumlah kurang lebih 6 kali ganti pembalut dari pukul 06.00 wib hingga
pukul 14.00 wib, disertai keluarnya darah bergumpal disertai rasa nyeri
dan mules pada perut bagian bawah, nyeri pinggang (+), pusing (+), mual
(+), riwayat jatuh (-), riwayat keguguran sebelumnya (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Hipertensi

: disangkal

b. Diabetes Melitus

: disangkal
1

c. Penyakit Jantung

: disangkal

d. Penyakit Tumor atau Kanker


e. Alergi

: disangkal
: disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Hipertensi

: disangkal

b. Diabetes Melitus

: disangkal

c. Penyakit Jantung

: disangkal

d. Penyakit Tumor atau Kanker

: disangkal

e. Alergi

: disangkal

6. Pola Haid
a. Menarche
b. Siklus
c. Lamanya
d. Nyeri haid

: usia 14 tahun
: 28 hari
: 5-7 hari
: tidak

7. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x tahun 2009
8. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. G4 P3 A0 H3
Anak Pertama : Lk, 2800 gr, PN, dokter
Anak kedua
: Lk, 2800 gr, PN, dokter
Anak ketiga
: Pr, 2900 gr, PN, dokter
Anak keempat : hamil saat ini
b. HPHT
: 25 Maret 2016
c. Usia Kehamilan
: 12-13 minggu
d. Riwayat ANC
: Di Puskesmas 6 kali
e. Riwayat KB
: Tidak KB
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan Gizi : Tampak Gizi Baik


GCS

: E4 ; V5 ; M6

BB

: 55 kg

TB

: 150 cm

2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 130/90 mmHg
Nadi

: 82 x/menit

Frek. napas

: 20 x/menit

Suhu Tubuh

: 37.0 0C

3. Status Generalis
a. Kepala : Normocepali, rambut berwarna hitam lebat
b. Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi
konjungtiva (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor (+/+).
c. Hidung : Deformitas (-) , darah (-), sekret (-).
d. Telinga : Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-), tinitus (-/-).
e. Mulut
: Sianosis (-), anemis (-), lidah kotor (-), faring hiperemis
(-), Tidak ada pembesaran pada kedua tonsil.
f. Leher
: Leher simetris, deviasi trakea (-), JVP meningkat (-),
pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
g. Thoraks
Paru
Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri, retraksi(-)

Palpasi

: Pergerakan simetris kiri=kanan, sela iga tidak melebar

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas( +/+) vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)


Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra

Perkusi

: Batas jantung dalam batasan normal

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)


h. Abdomen
Inspeksi
: tampak sedikit membuncit, tanda hamil (-)
Palpasi
: teraba massa di regio simpisis pubis
Perkusi
: pekak diatas massa
Auskultasi
: bising usus (+) normal
i. Ekstremitas
Superior : akral hangat, clubbing finger (-), CRT < 3
3

Inferior

: akral hangat, atrofi otot (-), edema (-)

4. Status Obstetri
Abdomen
Leopold I
Leopold II
Leopold III
Leopold IV
P/V

: Soepel, tidak teraba massa, nyeri tekan (-)


: TFU tidak teraba
: Tidak dapat dinilai
: Tidak dapat dinilai
: Tidak dapat dinilai
: (+)

5. Status Ginekologis
Inspeksi
Inspekulo

: P/V (+)
: Portio : licin, erosi (-), lividae (+), fluksus (+) dari
kanalis servikalis, terbuka 1 cm.
Vagina : laserasi (-), fluksus (+), tampak gumpalan darah
di introitus vagina, dibersihkan kesan tidak

VT

mengalir.
: Portio teraba terbuka 1cm, portio teraba lunak, nyeri
goyang serviks (-).

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 27 Juni 2016
Pemeriksaan
Darah
Hb
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
MCH
MCV
MCHC
Neutrofil Segment
GDS
PP Test/HCG Test
HbsAg
HIV

Hasil

Nilai Rujukan

12,3
9.900
38%
4,5
257
27,2
84,5
32,2
65%
82 mg/dl
Positif
Negatif
Non Reaktif

11-16,5 gr/dl
3500-10.000 /ul
35-50 %
3,6 5,3 Juta/ul
150.000-500.000/ul
26,5-33,5 pg
80,0-97,0 fl
31,5-35,0 g/dl
46-73%
< 200
Negatif
Negatif
Non Reaktif

E. DIAGNOSA
G4 P3 A0 H3 gravid 12-13 minggu + abortus inkomplit
F. Therapi Tindakan :
IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3 x 1 tab
Rencana USG dan kuretase
FOLLOW UP
Tanggal 27/06/2016 (kamar bersalin)

S :

pasien masuk via ugd dengan

keluhan keluar flek dari kemaluan,


ketika dirumah pagi tadi sebelum
masuk rumah sakit keluar darah yang
banyak disertai gumpalan darah yang
diikuti oleh perut mules (+), nyeri
pinggang (+), pusing (+), riwayat jatuh
(-), riwayat keguguran (-).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Compos mentis
BP : 140/100 mmHg
HR : 76x/menit
RR : 20x/menit
T : 37,0 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (+)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : G4P3A0 gravid 12-13 minggu +
abortus inkomplit
P : IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3x1 tab
Rencana USG besok
S : keluar darah dari kemaluan (+),

Tanggal 28/06/2016

perut mules (+), nyeri pinggang (+),

pusing (+).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Compos mentis
BP : 130/70 mmHg
HR : 80x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,2 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : G4P3A0 gravid 12-13 minggu +
abortus inkomplit
P : IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3x1 tab
USG hari ini
S : os mengatakan lemas (+), mual (-),

Tanggal 28/06/2016 (ruang nifas)

pusing (-), nyeri perut bagian bawah (-),


keluar flek (+).
O : KU : Baik
Kes : Composmentis
BP : 120/80 mmHg
HR : 80x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,2 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : post kuretase a/i abortus inkomplit
P : IVFD RL 20 tpm
Amoxylin 3x1 tab

Asam mefenamat 3x1


Methyl ergometrin 3x1 tab
Sulfas ferosus 2x1 tab
S : os mengatakan lemas (-), mual (-),

Tanggal 29-06-2016

pusing (-), nyeri perut bagian bawah (-),


keluar flek (+).
O : KU : Baik
Kes : Composmentis
BP : 130/70 mmHg
HR : 85x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,5 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : post kuretase a/i abortus inkomplit
P : IVFD RL 20 tpm
Amoxylin 3x1 tab
Asam mefenamat 3x1
Methyl ergometrin 3x1 tab
Sulfas ferosus 2x1 tab
Boleh pulang aff infuse
Terapi oral lanjut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kemampuan kandungan, dan sebagai batasan
digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan anak kurang
dari 500 gram.(terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)
2. Epidemiologi
Dari 210 juta kehamilan, 75 juta dianggap tidak direncanakandi
mana sekitar 15% kehamilan akan berakhir pada aborsi. Sekitar 500.000
wanita meninggal akibat komplikasi persalinan, 7 juta wanita mengalami
gangguan kesehatan setelah melahirkan. Pada negara berkembang,
prevalensi abortus mencapai 160 per 100000 kelahiran hidup dan paling
tinggi terdapat di Afrika yaitu 870 per 100000 kelahiran hidup.

Guttmacher, et al. (2003) menunjukkan bahwa angka abortus di AS


mencapai 1278.000 kasus dengan rasio 20,8 per 1000 kelahiran pada
wanita usia produktif (15-49 tahun). Di Indonesia, ditunjukkan prevalensi
abortus sebesar 2 juta kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000
kelahiran pada wanita usia produktif pada 6 wilayah. Motif sebagian besar
kasus abortus adalah abortus kriminalis.
Sekitar 75% abortus spontan ditemukan pada usia gestasi kurang dari 16
minggu dan 62% sebelum usia gestasi 12 minggu. Insidensi abortus

inkomplit belum diketahui secara pasti, namun demikian disebutkan


sekitar 60% dari wanita hamil dirawat di rumah sakit dengan perdarahan
akibat mengalami abortus inkomplit. Inisidensi abortus spontan secara
umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan.
Risiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya
paritas di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu dan ayah. Frekuensi
abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12% pada wanita yang
berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26% pada wanita yang berumur di
atas 40 tahun. Untuk usia paternal yang sama, kenaikannya adalah dari
12% menjadi 20%. Insiden abortus bertambah pada kehamilan yang belum
melebihi umur 3 bulan.
Penelitian Basama, et al. (2009) pada 182 dengan abortus
imminens menunjukkan bahwa 29% janin akan keluar pada usia gestasi 56 minggu; 8,2% pada usia gestasi 7-12 minggu; dan 5,6% pada usia
gestasi 13-20 minggu. Biasanya abortus imminens akan berlanjut menjadi
abortus komplit 10-14 minggu setelah pasien mengeluhkan keluar bercakbercak darah. Pada penelitian Johns et al. (2006) ditunjukkan bahwa risiko
abortus komplit pada pasien abortus imminens atau insipiens dengan usia
gestasi rata-rata 8 minggu adalah 9,3%.
3. Klasifikasi
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
a. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa
disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
medisinalis, sematamata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
b. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja
tanpa indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun
dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi:
a. Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena
tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat

membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu


mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
b. Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan
biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :
a. Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman
terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih
tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
b. Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam ditandai
dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.
c. Abortus Inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.
d. Abortus Komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang
dari 500 gram.
e. Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau
fetus telah meninggal dalam kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu
dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
f. Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut-turut.
g. Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat
genitalia.
h. Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis.
4. Etiologi
a.
Faktor janin
1) Faktor Genetik.
Paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas
kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus spontan yang terjadi
pada trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitas
genetik.
2) Kelainan telur, blighted ovum, kerusakan embrio

10

3) Embrio dengan kelainan lokal


4) Kelainan pada plasenta
Endometritis dapat terjadi dalam villi korialis dan menyebabkan
oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan
pertumbuhandan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak
kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.
b. Faktor maternal
1) Kelainan anatomis ibu
Abnormalitas anatomi maternal yang dihubungkan dengan
kejadian abortus spontan yang berulang termasuk inkompetensi
serviks, kongenital dan defek uterus yang didapatkan (acquired).
Lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang
sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi
terganggu.
2) Infeksi
Infeksi intrauterin sering dihubungkan dengan abortus spontan
berulang. Organisme-organisme yang sering diduga sebagai
penyebab antara lain Chlamydia, Ureaplasma, Mycoplasma,
Cytomegalovirus, Listeria monocytogenes dan Toxoplasma gondii.
3) Pengaruh endokrin
Hipertiroidismus, diabetes melitus dan defisiensi progesteron.
4) Penyakitkronisyang melemahkan, misalnya penyakit tuberkulosis
atau karsinomatosis, namun keadaan ini jarang menyebabkan
abortus; sebaliknya pasien meninggal dunia karena penyakit ini
tanpa melahirkan. Penyakit kronis lain (diabetes melitus, hipertensi
kronis, penyakit liver/ ginjal kronis).
5) Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling
besar menjadi predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum
ditemukan bukti yang menyatakan bahwa defisiensi salah satu/
semua nutrien dalam makanan merupakan suatu penyebab abortus
yang penting.
11

6) Faktor

imunologis

yang

telah

terbukti

signifikan

dapat

menyebabkan abortus spontan yang berulang antara lain: antibodi


antinuklear,

antikoagulan

lupus

dan

antibodi

cardiolipin.

Inkompatibilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen


antibodi dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan
histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas
kapiler.
7) Faktor psikologis
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang
dengan keadaan mental akan tetapi belum dapat dijelaskan
sebabnya. Yang peka

terhadap terjadinya abortus ialah wanita

yang belum matang secaraemosional dan sangat penting dalam


menyelamatkan kehamilan.

c.

Faktor eksternal
1) Radiasi
Dosis 1-10 rad bagi janin UK 9 minggu pertama dapat merusak
janin, dan pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan
kematian.
2) Obat-obatan
Antagonis asam folat, antikoagulan, dll.
3) Bahan kimia lain (arsen & benzena)
Rokok juga mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat
sirkulasi uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurunkan
pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin. Dengan
adanya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi
gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.

12

5. Faktor Resiko
Faktor risiko abortus yaitu:
a. Bertambahnya usia ibu.
Abortus meningkat dengan pertambahan umur, setelah usia 30 tahun.
Risiko berkisar 13,3% pada usia 12-19 tahun; 11,1% pada usia 20-24
tahun; 11,9% pada usia 25-29 tahun; 15% pada usia 30-34 tahun;
24,6% pada usia 35-39%; 51% usia 40-44 tahun; 93,4% pada usia 45
tahun ke atas. Baru-baru ini peningkatan usia ayah dianggap sebagai
suatu faktor risiko terjadinya abortus. Suatu penelitian yang dilakukan
di Eropa melaporkan bahwa risiko abortus tertinggi ditemukan pada
pasangan dimana usia wanita 35 tahun dan pria 40 tahun.
b. Riwayat reproduksi abortus.
Risiko pasien dengan riwayat abortus untuk kehamilan berikutnya
ditentukan dari frekuensi riwayatnya. Pada pasien yang baru
mengalami riwayat 1 kali berisiko 19%, 2 kali berisiko 24%, 3 kali
berisiko 30%, dan 4 kali berisiko 40%. Menurut Malpas dan Eastman
kemungkinan terjadinya abortus lagi pada seorang wanita yang
mengalami abortus habitualis ialah 73% dan 83,6%. Sebaliknya
Warton dan Fraser memberikan prognosis yang lebih baik yaitu 25,9%
dan 39%.
c. Kebiasaan orang tua
Merokok dihubungkan dengan peningkatan risiko abortus. Risiko
abortus meningkat 1,2-1,4 kali lebih besar untuk setiap 10 batang
rokok yang dikonsumsi setiap hari. Asap rokok mengandung banyak
ROS yang akan mendestruksi organel seluler melalui kerusakan
mitokondria, nukleus, dan membran sel. Selain itu, secara tidak
langsung ROS akan menyebabkan kerusakan sperma. Hal ini
menyebabkan fragmentasi DNA rantai tunggal maupun ganda sperma.
Plasentasi normal diatur oleh invasi arteri spiral uterina yang diatur
oleh genomik tropoblas yang normal. Pada organogenesis embrionik
dalma menjamin invasi tropoblas, tekanan oksigen rendah, dan
metabolisme cenderung anaerob. Oleh karena itu, produksi ROS
biasanya menurun. Keadaan ini diatur aktivitas integrin yang

13

merangsang tropoblas untuk proliferasi. Tekanan oksigen rendah


membantu implantasi sedangkan tekanan tinggi membantuk proliferasi
sel tropoblas.
Transisi trimester 1 ke 2 membawa banyak perubahan metabolisme.
Pada akhir trimester satu, ada peningkatan tekanan oksigen dari <20
mmHg menjadi >50 mmHg menyebabkan stress oksidatif. Pada
abortus, stres oksidatif juga dipicu oleh zymosan opsonisasi dan
stimulai N-formil-metionil-leucil-fenilalanin.
Dengan faktor pemicu asap rokok, stres oksidatif akan semakin buruk.
Stres

oksidatif

sendiri

dapat

menyebabkan

apoptosis

yang

mengganggu invasi plasenta dan abortus dini. ROS akan bereaksi


dengan molekul pada berbagai sistem biologi sehingga dapat terjadi
kerusakan sel yang ekstensif dan disrupsi fungsi sel. Dengan risiko
stres oksidatif, pasien tidak pernah mengkonsumsi vitamin yang
berperan sebagai antioksidan sehingga meningkatkan risiko abortus.
Selain itu, Vural, et al. menunjukkan adanya peningkatan radikal bebas
superoksida oleh PMN pada trimester satu kehamilan.
d. Konsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Tingkat aborsi
spontan dua kali lebih tinggi pada wanita yang minum alkohol
2x/minggu dan tiga kali lebih tinggi pada wanita yang mengkonsumsi
alkohol setiap hari. Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa risiko
abortus meningkat 1,3 kali untuk setiap gelas alkohol yang dikonsumsi
setiap hari.
e. Kafeindosis rendah tidak mempunyai hubungan dengan abortus. Akan
tetapi pada wanita yang mengkonsumsi 5 cangkir (500 mg kafein) kopi
setiap hari menunjukkan tingkat abortus yang sedikit lebih tinggi.
f. Radiasi juga dapat menyebabkan abortus pada dosis yang cukup. Akan
tetapi, jumlah dosis yang dapat menyebabkan abortus pada manusia
tidak diketahui secara pasti.
g. Alat kontrasepsi dalam rahim yang gagal mencegah kehamilan
menyebabkan risiko abortus, khususnya abortus septik meningkat.
h. psikologis seperti ansietas dan depresi.
6. Patofisiologi

14

Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau


seluruh bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua
yang menyebabakan nekrosis jaringan. Kegagalan fungsi plasenta yang
terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya
kontraksi uterus dan mengawali adanya proses abortus. Karena hasil
konsepsi tersebut terlepas dapat menjadi benda asing dalam uterus yang
menyebabkan uterus kontraksi dan mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau cacat
yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis
cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di kanalis servikalis.
Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi.
Pada kehamilan 8-14 minggu biasanya diawali dengan pecahnya selaput
ketuban dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta
masih tertinggal dalam cavum uteri. Jenis ini sering menimbulkan
perdarahan pervaginam banyak. Pada kehamilan minggu ke 14-22, janin
biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam
uterus sehingga menimbulkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi
perdarahan pervaginam banyak. Perdarahan pervaginam umumnya lebih
sedikit namun rasa sakit lebih menonjol.
Pada abortus hasil konsepsi yang dikeluarkan terdapat dalam
berbagai bentuk yaitu kantong amnion kosong, di dalam kantung amnion
terdapat benda kecil yang bentuknya masih belum jelas (blighted ovum),
atau janin telah mati lama. Plasentasi tidak adekuat sehingga sel tropoblas
gagal masuk ke dalam arteri spiralis. Akibatnya, terjadi peredaran darah
prematur dari ibu ke anak.
7. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut,
dan mules-mules. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya
berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada

15

abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang
dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda
infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus
membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam
untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadangkadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum
uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.

8. Diagnosa
Abortus diduga pada wanita yang pada masa reproduktif mengeluh
tentang perdarahan pervaginam setelah terlambat haid. Hipotesis dapat
diperkuat pada pemeriksaan bimanual dan tes kehamilan. Harus
diperhatikan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, adanya jaringan
dalam kavum uteri atau vagina.
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya sedikit-sedikit dan
berlangsung lama, sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai
gumpalan, dan akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun
atau syok. Disebut pendarahan ringan-sedang bila doek bersih selama 5
menit, darah segar tanpa gumpalan, darah yang bercampur dengan mukus.
Pendarahan berat bila pendarahan yang banyak, merah terang, dengan atau
tanpa gumpalan, doek penuh darah dalam waktu 5 menit, dan pasien
tampak pucat.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi berupa pada usia
gestasi di bawah 14 minggu dimana plasenta belum terbentuk sempurna
dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi, di atas 16 minggu,
dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban
pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan dengan
pengeluaran plasenta, berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan
persalinan immaturus, dan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari

16

6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan


pembekuan darah.
Diagnosis abortus dilakukan berdasarkan jenisnya, yaitu:
1. Abortus Iminens adalah pendarahan dari uterus pada kehamilan
kurang dari 20 minggu, hasil konsepsi masih di dalam uterus dan
tidak ada dilatasi serviks. Pasien akan atau tidak mengeluh mulesmules, uterus membesar, terjadi pendarahan sedikit seperti bercakbercak darah menstruasi tanpa riwayat keluarnya jaringan terutama
pada trimester pertama kehamilan. Pada pemeriksaan obstetrik
dijumpai tes kehamilan positif dan serviks belum membuka. Pada
inspekulo dijumpai bercak darah di sekitar dinding vagina, porsio
tertutup, tidak ditemukan jaringan.
2. Abortus Insipiens adalah perdarahan kurang dari 20 minggu karena
dilatasi serviks uteri meningkat dan hasil konsepsi masih dalam
uterus. Pasien akan mengeluhkan mules yang sering dan kuat, keluar
darah dari kemaluan tanpa riwayat keluarnya jaringan, pendarahan
biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan, darah berupa
darah segar mengalir. Pada inspekulo, ditemukan darah segar di
sekitar dinding vagina, porsio terbuka, tidak ditemukan jaringan.
3. Abortus inkomplit adalah pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih terdapat sisa hasil konsepsi
tertinggal dalam uterus. Pada anamnesis, pasien akan mengeluhkan
pendarahan berupa darah segar mengalir terutama pada trimester
pertama dan ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir.
4. Abortus Komplit adalah keadaan di mana semua hasil konsepsi telah
dikeluarkan. Pada penderita terjadi perdarahan yang sedikit, ostium
uteri telah menutup dan uterus mulai mengecil. Apabila hasil konsepsi
saat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semua sudah keluar
dengan lengkap. Pada penderita ini disertai anemia sebaiknya
disuntikan sulfas ferrosus atau transfusi bila anemia. Pendarahan
biasanya tinggal bercak-bercak dan anamnesis di sini berperan
penting dalam menentukan ada tidaknya riwayat keluarnya jaringan

17

dari jalan lahir. Pada inspekulo, ditemukan darah segar di sekitar


dinding vagina, porsio terbuka, tidak ditemukan jaringan
5. Missed Abortion ditandai dengan kematian embrio atau fetus dalam
kandungan >8 minggu sebelum minggu ke-20. Pada anamnesis akan
ditemukan

uterus

berkembang

lebih

rendah

dibanding

usia

kehamilannya, bisa tidak ditemukan pendarahan atau hanya bercakbercak, tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir. Pada
inspekulo bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina,
portio tertutup, tidak ditemukan jaringan.
6. Abortus rekuren adalah abortus spontan sebanyak 3x/ lebih berturutturut. Pada anamnesis akan dijumpai satu atau lebih tanda-tanda
abortus di atas, riwayat menggunakan IUD atau percobaan aborsi
sendiri, dan adanya demam.
7. Abortus Septik ditandai penyebaran infeksi pada peredaran darah
tubuh atau peritonium. Hasil diagnosis ditemukan: panas, lemah,
takikardia, sekret yang bau dari vagina, uterus besar dan ada nyeri
tekan dan bila sampai sepsis dan syok (lelah, panas, menggigil)
8. Blighted ovum adalah suatu keadaan di mana embrio tidak terbentuk
tetapi terdapat kantung gestasi. Konfirmasi tidak ada embrio pada
kantung gestasi (diameter minimal 25 mm) dengan USG.
9. Penatalaksanaan
Abortus inkomplit dapat ditatalaksana dengan rawat ekspektatif,
pembebahan, maupun medikamentosa. Efektivitas rawat ekspektatif
berkisar antara 52%-81% setelah follow up 2 minggu. Terapi
medikamentosa dengan misoprostol menunjukkan efektivitas 80% ke atas.
Namun, tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara keduanya.
Reynold et al. (2005) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan statistik
yang signifikan mengenai efikasi medikamentosa dan pembedahan dalam
penatalaksanaan abortus inkomplit. Namun, terdapat peningkatan risiko
infeksi pelvik pada penatalaksanaan secara surgikal. Hal ini berlaku saat
kantung gestas <24 mm. Setelahnya, efikasi medikamentosa dibanding
pembedahan akan berkurang 85%. Penelitian Weeks et al. Dengan 600

18

mcg misoprostol oral dengan aspirasi vakum manual menunjukkan bahwa


lebih baik dengan misoprostol, tetapi tidak bermakna.
a. Perbaiki keadaan umum: volume intravaskuler

efektif

harus

dipertahankan untuk memberikan perfusi jaringan yang adekuat.


b. Infeksi harus dikendalikan dengan antibiotik yang tepat.
Sekitar 13% abortus bersifat infeksius baik pre dan post operasi.
Fawcus et al. (1997) menunjukkan 49,5% wanita hamil dengan abortus
inkomplit diberikan terapi antibiotik dan transfusi. Penelitian Chow et
al. (1997) pada 77 pasien abortus menunjukkan penatalaksanaan
dengan

penicillin

chloraphenicol

lebih

baik

dibanding

chloramphenicol tunggal. Seeras (1989) menunjukkan tidak ada


perbedaan insidensi sepsis antara kelompok kontrol dengan kelompok
yang menerima tetrasiklin kapsul 500 mg 4 kali sehari. Pada RCT yang
menilai profilaksis doksisiklin sebelum kuretase, ditunjukkan tidak ada
efek yang bermakna terhadap penurunan mortalitas infeksi pasca
kuretase.
c. Hasil konsepsi dalam uterus harus dievakuasi, bila perlu dilakukan
laparotomi eksplorasi, sampai pengangkatan rahim.
Pada perdarahan ringan dan kehamilan <16 minggu, dapat
dilakukan pengeluaran hasil konsepsi yang terjepit pada serviks
dengan jari atau forceps cincin. Bila perdarahan sedang-berat dan usia
kehamilan <16 minggu, dilakukan evakuasi hasil konsepsi dari uterus
dengan pilihan aspirasi vakum. Indikasi aspirasi vakum manual adalah
pada kasus abortus insipien atau inkomplit <16 minggu. Bila evakuasi
tidak memungkinkan untuk segera dilakukan, berikan ergometrin
0,2mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila diperlukan) atau
misoprostol 400 g oral (dapat diulang setelah 4 jam bila diperlukan).
Pada kehamilan >16 minggu, dilakukan induksi ekspulsi janin infus
oksitosin 40 IU dalam 1 L kristaloid dengan kecepatan 40 tetes per
menit sampai ekspulsi hasil konsepsi terjadi. Bila perlu, dapat
diberikan misoprostol 200 g per vaginam tiap 4 jam hingga terjadi
ekspulsi, dosis total tidak lebih dari 800 g. Setelah itu, mengevakuasi
sisa hasil konsepsi yang tersisa dari uterus.
19

Penelitian Gulmezoglu menunjukkan bahwa metode operatif


yang dipilih untuk abortus inkomplit adalah aspirasi vakum dengan
efek samping yang rendah: kehilangan darah minimal, nyeri minimal,
waktu lebih singkat (-1,2 menit) dibanding kuretase tajam. Di samping
itu, prosedur ini tidak memerlukan anestesi umum dan memiliki
efektivitas yang cukup baik (persentase evakuasi komplit rata-rata
>98%).

Walaupun

begitu,

perhitungan

statistik

menunjukkan

perbedaan yang tidak bermakna. Heath et al. menunjukkan bahwa tidak


ada manfaat pemeriksaan histopatologi jaringan kuretase. Akan tetapi,
hal ini tetap saja diperiksakan untuk mencegah kemungkinan KET.
Beberapa studi menganjurkan terapi misoprostol. Efikasi
misoprostol

berkisar

13%-96%

dengan

banyak

faktor

yang

mempengaruhinya misal, abortus, dan ukuran kantung gestasi. Angka


keberhasilan tinggi (70%-96%) ditemukan pada kasus abortus
inkomplit dengan misoprostol dosis tinggi (1200 mcg-2400 mcg) yang
berikan pervaginam.

Chung et al. menunjukkan bahwa 400 mcg misoprostol oral setiap 4


jam menunjukkan efikasi yang baik dengan dosis maksimum 1200
mcg. Gonlund yang membandingkan rawat ekspektatif dengan
misoprostol vaginal 400 mcg menunjukkan keberhasilan 90% lebih
baik dengan evaluasi pada hari 8 dan 14. Studi yang membandingkan
rute oral dan vaginal menunjukkan bahwa vaginal lebih baik. 98 Meka et
20

al. menganjurkan penatalaksanaan dengan 600 mcg misoprostol


pervaginam dan kontrol tes kehamilan urin setelah 3 minggu
tatalaksana.
Mengenai efektivitas melalui rute apa misoporstol harus diberikan
masih

kontroversial.

Berbagai

penelitian

menunjukkan bahwa

misoprostol lebih efektif diberikan per bukal atau per vaginam agar
tidak perlu melalui proses first pass metabolism. Meta analisis pada 15
penelitian (2118 wanita) menunjukkan tidak ada perbedaan yang
bermakna kejadian abortus pada kelompok yang diberikan progestogen
oral/im/vaginal dan plasebo. Mittal et al. (2004) juga menunjukkan
efikasi misoprostol yang sama antarakedua kelompok.Wiebe et al
(2004) pada wanita aborsi menunjukkan bahwa terapi misoprostol
vaginal lebih efektif dibanding bukal setelah terapi metroteksat.Akan
tetapi, Middleton et al. (2005) pada 442 wanita menunjukkan bahwa
efikasi terapi misoprostol bukal lebih baik dibanding vaginal setelah
mifepriston.

21

DISKUSI
Kasus
Anamnesis :
Pasien datang ke UGD
RSUD dengan rujukkan
kimia farma. Pasien
diantar oleh suaminya
dari anamnesa pasien
mengeluh adanya darah
yang keluar dari vagina
bercampur lendir yang
dimulai dari pukul 06.00
wib, dengan jumlah
kurang lebih 6 kali ganti
pembalut dari pukul
06.00 wib hingga pukul
14.00 wib, setelah itu
keluar darah bergumpal.
Pasien mengaku dirinya
tidak haid sejak bulan
Maret 2016. Pasien
melakukan pemeriksaan
tes pack urin merek
Sensitif
dan
mendapatkan hasil yang
positif. Akan tetapi,

Teori
Pendarahan
pervaginam
adalah suatu kondisi di
mana keluarnya darah dari
vagina.
Pendarahan
pervaginam terdiri dari
mayoritas
pendarahan
antepartum,
pendarahan
postpartum,
maupun
pendarahan
akibat
abnormalitas ginekologi
tertentu sehingga harus
diketahui status gestasi
pasien.

Analisis Kasus
Pasien ini mengalami
pendarahan pervaginam.
Riwayat abortus (-).
Riwayat persalinan :
a. G4 P3 A0 H3
1. Lk, 2800 gr, PN, dr
2. Lk, 2800 gr, PN, dr
3. Pr, 2900 gr, PN, dr
4. hamil saat ini

Tanda-tanda
kehamilan
meliputi
amenorrhea,
hiperemesis,
dan
perubahan fisiologis tubuh
ibu hamil. Tanda pasti
adalah bila pemeriksa
merasakan gerakan janin
dan adanya denyut jantung

Pasien ini kemungkinan


mengalami
abortus
walau status gestasi
pasien
harus
dikonfirmasi
dengan
pemeriksaan USG untuk
menyingkirikan
kemungkinan penyebab

22

pasien belum pernah


konfirmasi
hasil
kehamilan ini ke dokter
kandungan.
HPHT : 25 Maret 2016

janin.
Akan tetapi, kondisi ini
tetap harus dikonfirmasi
dengan pemeriksaan USG
transvaginal
maupun
transabdominal.

Darah
yang
keluar
berwarna
merah
kehitaman
disertai
gumpalan
darah,
frekuensi >6 kali ganti
pembalut
per
hari.
Keluhan ini disertai
dengan nyeri perut hebat
dan nyeri pinggang.

Jenis
abortus
harus
dibedakan
karena
penatalaksanaan
untuk
setiap jenisnya berbeda.
Pada abortus imminens,
darah
yang
keluar
biasanya berupa bercakbercak tanpa keluarnya
jaringan dan nyeri perut
ringan.
Pada
abortus
insipiens,
pendarahan
pervaginam sedang sampai
banyak tanpa disertai
keluarnya jaringan dan
nyeri perut berat. Pada
abortus
inkomplit,
pendarahan
pervaginam
sedang sampai banyak
disertai keluarnya sebagian
jaringan. Pada abortus
komplit,
pendarahan
biasanya
sedikit
atau
bahkan tidak ada disertai
riwayat keluar darah yang
banyak disertai jaringan,
dan nyeri perut cenderung

23

pendarahan pervaginam
lainnya
seperti
kehamilan
ektopik,
laserasi jalan lahir atau
mola hidatidosa. Tanda
pasti
adalah
bila
pemeriksa
merasakan
gerakan janin dan adanya
denyut jantung janin
belum dapat menjadi
patokan karena tanda ini
secara
normal
baru
dirasakan pada usia
kehamilan >20 minggu.
Pasien pada kasus ini
kemungkinan mengalami
jenis abortus inkomplit.
Ditandai dengan adanya
darah keluar dari vagina
berwarna
merah
kehitaman
disertai
gumpalan
darah.
Keluhan ini disertai nyeri
perut
dan
nyeri
pinggang.

Status praesens dan


status generalisata dalam
batas normal. Dijumpai
hiperpigmentasi
mammae pada inspeksi
toraks depan.

Pada
pemeriksaan
obstetrikus,
dijumpai
abdomen seopel, nyeri
tekan tidak dijumpai,
TFU tidak teraba, dan
terdapat
perdarahan
pervaginam disertai sisa
jaringan.

tidak dirasakan lagi.


Status
praesens
yang
normal
menunjukkan
pasien dalam kondisi yang
stabil. Status generalisata
dalam
batas
normal
memberikan
informasi
bahwa tidak ada penyulit
dalam kehamilan dengan
batasan pemeriksaan fisik.
Hiperpigmentasi
aerola
mammae merupakan salah
satu perubahan fisiologis
pada wanita hamil.
Pada abortus inkomplit,
pemeriksaan fisik yang
dapat dijumpai adalah
pendarahan
pervaginam
dan sisa jaringan.

Tidak ada komplikasi


lain dalam kehamilan.
Hiperpigmentasi
mammae menunjukkan
kemungkinan
dalam
kondisi gestasi.

Hasil
pemeriksaan
obstetrikus pasien ini
menunjukkan diagnosis
lebih ke arah abortus
inkomplit
dibanding
abortus komplit karena
dijumpai
perdarahan
pervaginam disertai sisa
jaringan.
Penatalaksanaan
pada Abortus inkomplit dapat Sarana yang tersedia
kasus
ini
adalah ditatalaksana dengan rawat untuk kasus ini kuretase
kuretase.
ekspektatif, pembedahan, secepatnya jika keadaan
maupun medikamentosa.
stabil.
Menurut SPM POGI, bila
perdarahan ringan dan
kehamilan <16 minggu,
dapat
dilakukan
pengeluaran hasil konsepsi
yang terjepit pada serviks
dengan jari atau forseps
cincin. Bila perdarahan
sedang-berat dan usia
kehamilan <16 minggu,
dilakukan evakuasi hasil
konsepsi
dari
uterus
dengan pilihan aspirasi
vakum atau kuretase tajam
24

(sumber lain menyebutkan


batasan usia kehamilan
<12-14 minggu).
Penelitian
Gulmezoglu
menunjukkan
bahwa
metode operatif yang
dipilih
untuk
abortus
inkomplit adalah aspirasi
vakum
dengan
efek
samping yang rendah:
kehilangan darah minimal,
nyeri minimal , waktu
lebih singkat (-1,2 menit).
Walaupun
begitu,
perhitungan
statistik
menunjukkan perbedaan
yang tidak bermakna.
Selain itu, prosedur ini
hanya
memerlukan
anestesi lokal.

25

BAB III
KESIMPULAN
Ny. W, 34 tahun, Pasien datang ke UGD RSUD dengan rujukkan kimia
farma. Pasien diantar oleh suaminya dengan keluhan adanya darah yang keluar
dari vagina bercampur lendir yang dimulai dari pukul 06.00 wib, dengan jumlah
kurang lebih 6 kali ganti pembalut dari pukul 06.00 wib hingga pukul 14.00 wib,
setelah itu keluar darah bergumpal disertai rasa nyeri dan mules pada perut bagian
bawah, nyeri pinggang (+), pusing (+), mual (+), riwayat jatuh (-), riwayat
keguguran sebelumnya (-).
Status praesens dalam batas normal. Status generalisata menunjukkan
hiperpigmentasi mammae yang merupakan perubahan fisiologis saat hamil. Pada
pemeriksaan obstetrikus, dijumpai abdomen seopel, nyeri tekan tidak dijumpai,
TFU tidak teraba, dan terdapat perdarahan pervaginam. Pada pemeriksaan
ginekologis, dari inspekulo tampak gumpalan darah di introitus vagina. Pada VT
dijumpai serviks l cm; portio teraba lunak; nyeri goyang serviks (+). Pasien
didiagnosis dengan abortus inkomplit. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah
kuretase.

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham. Recurrent Miscarriage: Abortion. Mark E (editor), In: Williams
Obstetrics 23rd Edition. New York: McGraw-Hil Companies, Inc. 2010.

26

Evans & Arthur T. Manual of Obstetric 7 th. Lippincott Williams and Wilkins.
2007.
Hadijanto B. Perdarahan pada Kehamilan Muda. Saifuddin AB, Rachimhadhi
T, Wiknjosastro GH (editor),In: Ilmu Kebidanan, Edisi Keempat. Jakarta:
PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2010.
Mochtar, Rustam., S., Amru. 2012. Abortus. Dalam: Sinopsis Obstetri
(Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Norwitz, E.R., Schorge, J.O, 2008. At a Glance Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta: Penerbit Erlangga; Sastrawinata, S., Martaadisoebrata, D.,
Wirakusumah, F.F., 2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi.
Ed. 2. Jakarta : EGC
Pernoll ML. Habitual Abortion. Dalam: Benson and Pernolls Handbook of
Obstetrics and Gynecology. New York: McGraw-Hill Companies, 2001.
POGI. Standar Pelayanan Medik. POGI, 2006.
Prawirohardjo,S. Abortus. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006.
Tang OS, Lau WNT, Ng EHY, Lee SWH,& Ho PC. A prospective randomized
study to comparethe use of repeated doses of vaginal with sublingual
misoprostol in the management of firsttrimester silent miscarriages.2003.
Tien JC& Tan TYT. Non-surgical Interventions for Threatened and Recurrent
Miscarriages.2007.
World Health Organization. Managing incomplete abortion. WHO, 2008.
Zhang J, Giles JM, Barnhart K, Creinin MD,Westhoff C, Frederick MM. A
comparison ofmedical management with misoprostol and surgical
management for early pregnancy failure. 2005.

27