Anda di halaman 1dari 14

PERBEDAAN UU No. 4 Tahun 2009 Dengan UU No.

11 Tahun 1967

Dalam UU No, 11 Tahun 1967, penggolongan bahan galian lebih ditekankan pada
pertimbangan aspek politis dikaitkan dengan kepentingan ketahanan dan pertahanan nasional,
dan terbagi dalam tiga golongan. Sedangkan dalam UU No. 4 Tahun 2009, penggolongan bahan
galian lebih rnenitikberatkan pada aspek teknis, yaitu berdasarkan pada kelompok atau jenis
bahan galian, yang penggolongannya terbagi dalam empat golongan.
UU No, 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, sesungguhnya tidak secara
tegas mengatur secara khusus tentang pembagian golongan bahan galian sebagaimana dalam UU
No. 11 Tahun 1967. Penggolongan bahan galian diatur bedasarkan pada kelompok usaha
pertambangan, sesuai Pasal 4, yaitu:
1. Usaha Pertambangan dikelompokkan atas:
a. Pertambangan mineral;
b. Pertambangan batubara.
2. Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
a. Pertambangan mineral radio aktif;
b. Pertambangan mineral logam;
c. Pertambangan mineral bukan logam;
d. Pertambangan batuan.
Lebih lanjut, detail pengaturan tentang tata cara pengusahaan masing-masing kelompok
dimaksud, dilakukan dengan pengaturan sebagai berikut:
1. Pasal 50, khusus mengatur mengenai, pengusahaan mineral radioaktif;
2. Pasal 51, 52, dan 53, mengatur mengenai pengusahaan mineral logam;
3. Pasal 54, 55, dan 56, mengatur mengenai pengusahaan mineral bukan logam;
4. Pasal 57, 58, 59, 60, 61, 62, dan 63, mengatur mengenai pengusahaan batu bara.

Pengelompokan bahan galian, juga dapat dilihat dari pengaturan tentang izin pertambangan
rakyat, sebagaimana diatur dalam Pasal,66, yaitu: kegiatan Pertambangan Rakyat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pertambangan mineral logam;
2. Pertambangan mineral bukan logam;
3. Pertambangan batuan; dan/atau
4. Pertambangan batu bara.
Secara substansi, terdapat perbedaan mendasar antara UU No. 11 Tahun 1967 dengan UU
No. 4 Tahun 2009, baik dalam hal penggolongan bahan galian, maupun dalam kaitannya dengan
sistem pengelolaannya. Perbedaan mendasar tersebut dapat dilihat dari sisi muatan UU No. 4
Tahun 2009 yang lebih baik dari muatan UU No. 11 Tahun 1967. Materi muatan yang di anggap
cukup baik dalam UU No. 4 Tahun 2009, di antaranya:
Lelang wilayah potensi bahan galian. Adanya ketentuan tentang lelang wilayah yang
berpotensi mengandung bahan galian. Setiap perusahaan atau pihak yang akan melakukan
pengusahaan bahan galian logam dan batu bara khususnya, untuk dapat memperoleh konsesi
pertambangan harus melalui proses lelang. Cara ini, dipandang sebagai suatu kemajuan dalam
dunia usaha pertambangan nasional. Ada beberapa keuntungan sistem penetapan konsesi melalui
mekanisme lelang, yaitu:
Menekan timbulnya mafia izin tambang. Belakangan ini berkembang kecenderungan praktikpraktik jual beli konsesi tambang yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang biasanya
mempunyai kedekatan atau akses dengan oknum pemda, yakni hanya dengan bermodalkan
memboyar retribusi izin memperoleh sejumlah konsesi, tetapi bukan untuk diusahakan,
melainkan untuk dijual kembali. Mekanisme lelang diharapkan efektif dalam menekan praktik
jual beli izin konsesi pertambangan yang selama ini terjadi. praktik jula beli izin tambang
mendorong tumbuh suburnya mafia pertambangan. Akibat tindakan ini, tidak sedikit pihak yang
semula benar-benar berniat berusaha di bidang pertambangan menjadi korban penipuan yang
secara firansial sangat besar jumlahnya.

Media filter. Hanya perusahaan yang benar benar siap secara finansial, dan benar-benar berniat
melakukan kegiatan usaha pertambangan yang akan mengikuti proses lelang, sehingga
mekanisme lelang merupakan proses alamiah bagi perusahaan yang hanya bermaksud coba-coba
atau hanya bertindak sebagai broker izin.
Meningkatkan pendapatan negara. Melalui lelang, negara akan memperoleh dua keuntungan
sekalligus. Pertama, memperoleh pemasukan bagi kas negara. Kedua, memperoleh perusahaan
yang secara kualifikasi memang siap untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan.
Lebih akomodatif, yaitu dengan masuknya aturan yang berpihak kepada kepentingan, rakyat,
bandingkan ketentuan tentang pertambangan rakyat. UU No. 11 Tahun 1967 dengan ketentuan
yang tertuang dalam UU No. 4 Tahun 2009.
Pertimbangan teknis strategis suatu bahan galian lebih ditentukan berdasarkan
pertimbangan kepentingan nasional, bukan pada jenis bahan galian. Artinya, apabila suatu
bahan galian secara teknis, ekonomis, kepentingan, dan dari sisi pertahanan keamanan negara
keberadaannya strategis dan vital, maka pengelolaannya menjadi kewenangan Negara
pemerintah.
Adanya pembagian kewenangan pengelolaan yang jelas antara tiap tingkatan
pemerintahan.
Adanya upaya pengelolaan secara terintegrasi, mulai dari eksplorasi sampai penanganan
pasca tambang.
Sejalan dengan itu, sesuai dengan yang tertuang dalam penjelasan umum, UU No. 4
Tahun 2009 ini berusaha untuk mengakomodasi suara-suara sumbang yang selama ini
mengemuka, berkaitan dengan pengelolaan dan pengusahaan bahan galian. Oleh karena itu,
undang-undang baru ini, selain berusaha mengakomodasi persoalan yang selama ini
berkembang, juga menyesuaikan dengan perkembangan perubahan pembangunan pertambangan
baik yang bersifat nasional maupun internasional. Pemikiran akomodasi persoalan, dan
perkembangan itu tertuang dalam pokok-pokok pikiran, sebagai berikut:

Mineral dan batu-bara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai oleh negara dan
pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah
bersama dengan pelaku usaha. pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan
usaha yang berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat
untuk melakukan pengusahaan mineral dan batu bara berdasarkan izin, yang sejalan dengan
otonomi daerah, diberikan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya masing-masing.
Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan prinsip eksternalitas,
akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan pemerintah dan pemerintah daerah. Usaha
pertambangan harus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi sebesar-besarnya
kesejahteraan rakyat. Usaha pertambangan harus mempercepat pengembangan wilayah dan
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/ pengusaha kecil dan menengah serta mendorong
tumbuhnya industri penunjang pertambangan.
Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan
harus dilaksanakan dengan memerhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi
masyarakat.
PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 4 TAHUN
2009 (TENTANG PERTAMBANGAN)
Undang-Undang pertambangan No, 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara, sesungguhnya
tidak secara tegas mengatur secara khusus tentang pembagian golongan bahan galian
sebagaimana dalam UU No. 11 Tahun 1967. Penggolongan bahan galian diatur bedasarkan pada
kelompok usaha pertambangan, sesuai Pasal 4, yaitu:
1. Usaha Pertambangan dikelompokkan atas:
a. Pertambangan mineral;

b. Pertambangan batubara.
2. Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
a. Pertambangan mineral radio aktif;
b. Pertambangan mineral logam;
c. Pertambangan mineral bukan logam;
d. Pertambangan batuan.
Lebih lanjut, detail pengaturan tentang tata cara pengusahaan masing-masing kelompok
dimaksud, dilakukan dengan pengaturan sebagai berikut:
1. Pasal 50, khusus mengatur mengenai, pengusahaan mineral radioaktif;
2. Pasal 51, 52, dan 53, mengatur mengenai pengusahaan mineral logam;
3. Pasal 54, 55, dan 56, mengatur mengenai pengusahaan mineral bukan logam;
4. Pasal 57, 58, 59, 60, 61, 62, dan 63, mengatur mengenai pengusahaan batu bara.
Pengelompokan bahan galian, juga dapat dilihat dari pengaturan tentang izin
pertambangan rakyat, sebagaimana diatur dalam Pasal,66, yaitu: kegiatan Pertambangan Rakyat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pertambangan mineral logam;
2. Pertambangan mineral bukan logam;
3. Pertambangan batuan; dan/atau
4. Pertambangan batu bara.
PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN
1967
Menurut undang-undang No 11 Tahun 1967, tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan,
pada Bab II pasal 3, mengenai Penggolongan Dan Pelaksanaan Penguasaan Bahan Galian,
dimana bahan galian dibagi atas tiga golongan, yaitu:
a.

golongan bahan galian strategis

b.

golongan bahan galian vital

c.

golongan yang tidak termasuk golongan a atau b

Rincian tentang penggolongan bahan galian dijelaskan pada PP No. 27/1980, dimana, :
a.

golongan bahan galian strategis adalah:

minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi dan gas alam;

bitumen padat, aspal;

antrasit, batubara, batubara muda;

uraniuam, radium, thorium dan bahan galian radioaktif lainnya;

nikel, kobalt ;

timah;

b.

golongan bahan galian vital adalah:

besi, mangaan. Molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;

bauksit, tembaga, timbal, seng;

emas, platina, perak, air raksa, intan ;

arsen, antimon, bismut;

ytrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;

berilium, korondum, zirkon, kristal kuarsa;

kriolit, flourspar, barit;

yodium, brom, klor, belerang;

c.

golongan bahan galian yang tidak termasuk a atau b adalah:

nitrai-nitrat, posfat-posfat, garam batu (halit);

asbes, talk, mika, grafit, magnesit;

yarosit, leusit, tawas (alum), oker;

batu permata, batu setengah permata;

pasir kuarsa, kaolin, felspar, gips, bentonit;

batuapung, tras, obsidian, perlit, tanah diatomae, tanah serap (fuller s earth);

marmer, batu tulis;

batu kapur, dolomit, kalsit;

granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur

mineral golongan a maupun b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi
pertambangan.
Maka, sebagian besar bahan galian industri termasuk bahan galian tidak termasuk a atau
b atau lebih dikenal sebagai Golongan C yang juga sering disebut bahan galian industri dan di
lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral termasuk dalam Mineral Non Logam,
yang di dalamnya termasuk batuan.
Definisi di atas sekarang ini sudah tidak tepat lagi, karena dengan semakin
berkembangnya teknologi industri manufaktur menuntut produk-produk bahan galian industri
sebagai bahan baku yang mempunyai spesifikasi tertentu (uniform berderajad tinggi), yang untuk
memperolehnya kadang-kadang memerlukan proses pengolahan yang panjang dan komplek.
Demikian pula dengan batas-batas bahan galian industri sangat sukar ditetapkan, sebagai contoh,
bahan galian kromit, zirkon, bauksit, mangan, dan tanah jarang yang merupakan bahan galian
logam, namun dapat pula diklasifikasikan sebagai bahan galian industri bila produknya
berbentuk mineral yang telah diolah dan digunakan langsung sebagai bahan baku dalam industri
manufaktur. Dalam industri manufaktur dan konstruksi, peranan bahan galian industri sebagai
bahan baku sangat penting, yang pada umumnya berfungsi untuk memperbaiki mutu ataupun
untuk memperoleh produk akhir dengan spesifikasi tertentu. Tidak sama halnya dengan bahan
galian logam, dalam bahan galian industri tidak dikenal adanya proses daur-ulang dari produk
padat mineral (kecuali gelas), serta tidak ada bahan substitusi selain di antara bahan galian itu
sendiri.
Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
sedang mengajukan Undang-Undang mengenai pengaturan Mineral dan Batubara, yang masih
berupa konsep dan sudah diajukan ke DPR, dengan terbitnya undang-undang tersebut
diharapkan penggolongan bahan galian akan sesuai dengan perkembangan teknologi dan industri
yang menggunakan bahan baku bahan galian non logam. Di Indonesia secara geologi mineral
non logam (bahan galian industri) terdapat dalam semua formasi batuan, mulai dari formasi

batuan berumur Pra-Tersier sampai Kuarter, baik yang berasosiasi dengan batuan beku dalam
dan batuan volkanik maupun berasosiasi dengan batuan sedimen dan batuan malihan.
Mineral non logam sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dapat
dikatakan bahwa manusia hidup tidak terlepas dari bahan galian itu. Dengan kata lain bahwa
mineral non logam sebenarnya sangat vital bagi kehidupan manusia, hampir semua peralatan
rumah tangga, gedung, bangunan air, obat, kosmetik, alat tulis dan gambar, barang pecah belah
dan lain-lain, dibuat langsung atau dari hasil pengolahan bahan galian tersebut
Sebenarnya mineral non logam tersebar luas di Indonesia, namun pengelolaannya belum
berkembang sebagai mana mestinya. Meskipun demikian pengelolaan bahan galian industri di
Indonesia mengalami kemajuan cukup pesat. Hal ini sejalan dengan kemudahan dan
kebijaksanaan Pemerintah dalam menggalakkan pemanfaatan mineral non logam, baik untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk komoditi ekspor non-migas, sudah banyak
pengusahaan mineral non logam yang memberikan sumbangan besar bagi pembangunan
nasional, seperti: industri semen, walaupun industrinya masih banyak terkonsentrasi di Pulau
Jawa, yaitu: PT Semen Gresik, Indocement, Semen Kujang, Semen Cibinong (HOLCIM),dan
Semen Nusantara; di Pulau Kalimantan: Indo-Kodeco, patungan Indonesia Korea; di Pulau
Sulawesi: Semen Tonnasa dan Bosowa; di Pulau Sumatera: Semen Padang, Baturaja dan Semen
Andalas (kena bencana tsunami, Aceh) dan Pulau Timor: Semen Kupang. Industri lainnya yang
banyak membantu pembangunan nasional adalah dengan bahan baku mineral non logam adalah:
industri keramik, industri agregat batuan untuk kontruksi, dari skala kecil sampai skala besar.
Serta masih banyak lagi industri, yang mempergunakan bahan baku mineral non logam.
Dengan terbitnya UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah
No.25/1999 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan pemerintah daerah sebagai daerah
otonom, maka daerah memiliki kewenangan untuk mengelola sumber daya alam agar dapat
mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan
pelaku dan potensi ekonomi yang tentunya dalam rangka memberikan manfaat yang lebih luas
kepada masyarakat dan pemerintah daerah.

Dalam rangka nilai manfaat pertambangan secara keseluruhan dan menghindari tumpang
tindih lahan, lingkungan dan banyak hal lainnya, pemerintah mengeluarkan UU No 4 tahun
2009, Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang merupakan penyempurnaan UU No 11
tahun 1967. Pada BAB VI Pasal 34, Usaha pertambangan :
(1) Dikelompokkan atas:
a.

pertambangan mineral; dan

b. pertambangan batubara.
(2) Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
a.

pertambangan mineral radioaktif;

b. pertambangan mineral logam;


c.

pertambangan mineral bukan logam; dan

d. pertambangan batuan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu komoditas tambang ke dalam suatu
golongan pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan
pemerintah.
Dalam PP No 23 Tahun 2010 dijelaskan mineral bukan logam meliputi intan, korundum,
grafit, arsen, pasir kuarsa, fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes,
talk, mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin, feldspar, bentonit,
gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon, wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit,
garam batu, clay, dan batu gamping untuk semen, dan batuan meliputi pumice, tras, toseki,
obsidian, marmer, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit,
andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon,
chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, topas, batu
gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa
pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah),
urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak

mengandung unsur mineral logam atau unsure mineral bukan logam dalam jumlah yang berarti
ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
Potensi bahan galian industri (mineral non logam) hampir dijumpai di semua wilayah
Indonesia, dari jenis komoditinya mungkin lebih dari 100 jenis, dengan waktu kurang lebih 3-4
jam, baik itu berupa ceramah umum dan diskusi sangat sulit untuk dapat memahami keseluruhan
mengenai mineral non logam, untuk itu bahan diklat dibuat secara ringkas, tanpa mengabaikan
tujuan dari diklat ini, yaitu peserta (aparatur pemda) memiliki kompetensi dalam evaluasi
laporan eksplorasi untuk pelaksanaan tugas fungsinya.
Secara garis besar perbedaan perbedaan pada UU 11 tahun 1967 dan UU 4 tahun 2009
dapat kita jabarkan menjadi tabel seperti berikut :
UU No.11 Tahun
1967

Materi

UU No.4 Tahun
2009

1
. Judul

Ketentuan2 Pokok Pertambangan

Pertambangan Mineral dan


Batubara

2
. Prinsip Hak

Penguasaan bahan galian


diselenggarakan Negara

Penguasaan minerba oleh


Negara, diselenggara-

Penguasaan
Negara

(psl. 1)

kan oleh Pemerintah dan/atau


Pemda (psl.4)
Pemerintah dan DPR menetapkan
kebijakan

(HPN)

pengutamaan minerba bagi


kepentingan nasional
(psl.5)

3.
Penggolongan/

Penggolongan bahan galian:


strategis, vital, non

Pengelompoka
n
strategis-non vital (psl.3)

Pengelompokan usaha
pertambangan: mineral
dan batubara
Penggolongan tambang mineral:

radioaktif, logam, bukan logam, batuan


(psl.34)

4. Kewenangan
PengeloLaan

Bahan galian strategis (gol.A)


dan vital (gol.B)
oleh Pemerintah
Bahan galian non strategis-non
vital oleh Pemda
I/Propinsi (psl.4)

5. Wilayah
Pertambangan

Secara terinci tidak diatur, kecuali


bahwa usaha

21 kewenangan berada di tangan


pusat
14 kewenangan berada di tangan
propinsi
12 kewenangan berada di tangan
kabupaten/kota
(psl. 6-8)

Wilayah pertambangan adalah


bagian dari tata

pertambangan tidak berlokasi di


tempat suci,

ruang nasional, ditetapkan


pemerintah setelah

kuburan, bangunan, dll (psl.16 ayat


3)

koordinasi dgn Pemda dan


konsultasi dgn DPR
(psl.10)
Wilayah pertambangan tdd:
wilayah usaha
pertambangan/WUP, wilayah
pertambangan
rakyat/WPR dan wilayah
pencadangan nasional/
WPN (psl.14-33)

6. Legalitas
Usaha

Rezim kontrak (psl.10,15), berupa:

Rezim perijinan (psl. 35), berupa:

Kontrak karya/KK

Ijin usaha pertambangan/IUP

Kuasa pertambangan/KP

Ijin pertambangan rakyat/IPR

Surat ijin pertambangan


daerah/SIPD

Ijin usaha pertambangan


khusus/IUPK

Surat ijin pertambangan


rakyat/SIPR

7. Tahapan
Usaha

Enam tahapan, berkonsekuensi


pada adanya 6 jenis

Dua tahapan, berkonsekuensi pada


adanya 2

kuasa pertambangan: penyelidikan


umum,
tingkatan perijinan:
eksplorasi, eksploitasi, pengolahan Eksplorasi, meliputi: penyeldikan
& pemurnian,
umum,
pengangkutan, penjualan (psl.14)

eskplorasi, studi kelayakan.


Operasi produksi, meliputi:
konstruksi,
penambangan, pengolahan &
pemurnian,
pengangkutan & penjualan
(psl.36)

8. Klasifikasi
Investor &
Jenis
Legalitas
Usaha

Investor domestik (PMDN),


berupa: KP, SIPD,

PKP2B
Investor asing (PMA), berupa:
KK, PKP2B

IUP bagi badan usaha


(PMA/PMDN), koperasi,

perseorangan (psl.38)
IPR bagi penduduk lokal,
koperasi (psl.67)
IUPK bagi badan usaha berbadan
hukum
Indonesia, dengan prioritas bagi
BUMN/D
(psl.75)

9. Kewajiban
Pelaku
Usaha

Kewajiban keuangan bagi


Kewajiban keuangan bagi negara negara: pajak dan
KP sesuai aturan berlaku:
iuran tetap & royalti

PNBP. Tambahan utk IUPK:


pembayaran 10%

(merujuk PP No.45/2003 ttg


PNBP DESDM)

keuntungan bersih.

KK/PKP2B sesuai kontrak,


yakni KK: iuran
tetap & royalti, PKP2B: iuran
tetap & DHPB

Pemeliharaan lingkungan:
konservasi, reklamasi
(psl.96-100).

(merujuk Keppres No.75/1996 ttg Kepentingan nasional:


pengolahan dan
Ketentuan
PKP2B)

pemurnian di dalam negeri


(psl.103-104)

Minimalnya bahkan tak diaturnya Pemanfaatan tenaga kerja


kewajiban soal
setempat, partisipasi
lingkungan, kemitraan dgn pelaku
usaha lokal,

pengusaha lokal pada tahap


produksi, program

pemanfaatan tenaga kerja


setempat, program

pegembangan masyarakat
(psl.106-108)

pengembangan masyarakat

Penggunaan perusahan jasa


pertam-bangan lokal
dan/atau nasional (psl.124)

10. Pembinaan
&
Pengawasan

Pengawasan terpusat di tangan


pemerintah atas
pemegang KK, KP, PKP2B

Pusat: terhadap propinsi dan


kab/kota terkait
penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan
dilakukan oleh pusat
Pusat, propinsi, kab/kota sesuai
kewenangan:
terhadap pemegang IUP
dilakukan
Kab/kota: terhadap IPR (psl.139142)

11. Ketentuan
Peralihan
(terkait
status
hukum

Psl 35: semua hak pertambangan


dan KP

Psl. 169: pada saat UU ini mulai


berlaku

perusahaan Negara, swasta, badan


lain atau

a. KK dan PKP2B yang telah ada


sebelum

investasi
existing)

perseorangan berdasarkan
peraturan yang ada

berlakunya UU ini tetap


diberlakukan sampai

sebelum saat berlakunya UU ini,


tetap dijalankan

jangka waktu berakhirnya


kontrak/perjanjian.

sampai sejauh masa berlakunya,


kecuali ada
penetapan lain menurut PP yang
dikeluarkan
berdasarkan UU ini.

b. Ketentuan yang tercantum


dalam pasal KK dan
PKP2B dimaksud disesuaikan
selambatlambatnya 1 tahun sejak UU ini
diundangkan,
kecuali mengenai penerimaan
negara.