Anda di halaman 1dari 9

Fertilization Strategies, and Larval Supply and

Dispersal

MATA KULIAH:

Ekologi Sistem dan Konservasi Pesisir dan Lautan
Dosen : Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc

Zulfikar Afandy/C252140141

PROGRAM STUDI
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN (SPL)
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

Broadcast Spawning : gamet jantan dan betina dilepaskan dan pembuahan terjadi  secara eksternal di laut. gastropoda. karena ketidakmampuan mereka untuk berkumpul dan bergerak mencari tempat yang ideal untuk pembuahan. Beberapa istilah yang digunakan dalam part ini antara lain :  Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus   atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus.2014 PART 10 FERTILIZATION STRATEGIES Pendahuluan Untuk biota laut yang hidup melekat di substrat yang keras. seperti bulu babi. antara lain adalah Proximity of Conspesifics (kedekatan residen). . kesuburan gamet merupakan hal yang sangat penting dalam siklus hidupnya. Gamet : merupakan sel yang diproduksi organisme untuk tujuan reproduksi. Copulatory Fertilization : gamet jantan dan betina bertemu di dalam individu betina  (internal fertilization). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan reproduksi. keberhasilannya bisa mendekati 100 %. Sebagian besar biota yang menyemburkan gametnya ke kolom perairan. pada Crustacea dan Gastropoda. Spermcast Mating : gamet jantan dilepaskan dan pembuahan sel telur ditahan oleh  individu betina. dimana pada saat itu mereka mengembangkan adaptasi dan strategi yang memaksimalkan keberhasilan pembuahan. Penyuburan internal mesti cukup rapat (settle density) untuk menjamin keberhasilan pembuahan. Egg Brooding : retensi (penyempanan) telur dalam individu ibu sampai proses pembuahan. Sparck (1927) and Mortensen (1938) menyatakan bahwa keberhasilan fertilisasi eksternal mungkin rendah karena dilusi gamet. Ruang Lingkup dan Definisi Fokus pada organisme pantai berbatu yang bersifat sesil dan slow moving. keberhasilan pembuahannya jauh lebih berkesinambungan dan haphazard (serampangan). Sedangkan yang menyebabkan kegagalan reproduksi adalah Isolation.

sifat-sifat ini termasuk ukuran sel. ukuran struktur aksesori. Ciri-ciri Gamet yang Mempengaruhi Kesuksesan Pembuahan In Broadcast Spawner Untuk sel telur. dan chemoattractants sperma. contoh ukuran telur yang lebih besar. Beberapa topik paper tersebut dapat dilihat pada tabel 1.Topik Utama Studi Ekologi Pembuahan pada Organisme Pantai Berbatu Dalam 20 tahun ini. memberikan ruang yang besar . telah terpublikasi sebanyak 100 paper yang memuat topik Ekologi pembuahan pada organisme laut.

umur sperma bervariasi. . sehingga pembuahan lebih mudah terjadi. 2001). salah satu bentuk adaptasinya adalah mereka menghindari proses pemijahan selama periode gerak air tinggi. salah satunya cirinya :  Berumur panjang. 1996b). spermcasters mempertahankan telur yang belum dibuahi. dan menyerap sperma dari kolom air sebelum menggunakannya untuk pembuahan  Mekanisme penyerapan sperma belum diketahui (Bishop dan Pemberton 2006) . et al.bagi sperma. studi ini pada model ini masih sangat jarang sehingga informasi yang dapat disampaikan sangat terbatas. Bishop Johnson andYund 2004) and bryozoans (e. 1982). 1998 . Gamet Mixing Beberapa faktor yang berperan dalam Gamet Mixing :  Hydrodynamics (peran hidrodinamika)  Pennington (1985) menemukan berkurangnya keberhasilan pembuahan pada bulu babi pada arus dengan kecepatan >0. Namun untuk Invertebrata. pada Spermcaster keberhasilan pembuahan sebagian besar dipengaruhi oleh sperma. hal ini merupakan adaptasi penting untuk memungkinkan penyebaran sperma ke wilayah yang jauh  Dalam semua kasus lain. Denny and Shibata 1989) adveksi dan turbulensi menyebabkan keberhasilan pembuahan rendah.  (Denny 1988. Untuk sperma.2 m/s-1. seperti echinodermata hanya berumur menit sampai beberapa jam (Yund 1990. pada Ascidian (In Copulatory Fertilizer (e. Benzie and Dixon 1994) In Spermcaster Tidak seperti pada Broadcast spawner.2 m/s-1 dibandingkan < 0. sehingga keberhasilan pembuahan alami tinggi (Serrao. Vogel et al. Manríquez et al.g. tetapi sperma bisa ditangkap dari cairan encer yang tersuspensi (rendah 10 ml -1 . umur dan kecepatan sangat mempengaruhi keberhasilan pembuahan (Rothschild and Swann 1951.  Pada alga. Bishop 1998) dan disimpan dan digunakan beberapa minggu sesudahnya (Bishop dan Ryland 1991) In Copulatory fertilizer Tidak seperti dengan BS dan Spermcaster.g.

contohnya Mytilus edulis gonadnya menjadi dewasa selama pasang purnama dan pemijahannya berlangsung pada saat pasang perbani. 2001 . hidrodinamika (misalnya Serrão et al . Marshall et al. 2004). tunicates. Levitan et al 2004) . Sedang Littorina neritoides mengeluarkan telurnya pada saat pasang purnama (Nybakken 1988)  Density/Aggregation Spawning  Densitas populasi merupakan salah satu penentu utama konsentrasi gamet dalam kolom air. Keberhasilan pembuahan pada bulu babi berbanding terbalik dengan jarak antar pasangan (Penngington 1985). 2) Keterbatasan dan kompetisi sperma dan memainkan peran penting dalam mendorong ekologi dan evolusi pembuahan pada spesies pantai berbatu. 1990) Kesimpulan Dari pemaparan di atas. Counihan et al. anthozoans. 1996b) . maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1) Organisme Pantai berbatu menunjukkan banyaknya proses adaptasi spesies untuk meningkatkan kemampuan reproduksinya. Sinkronisasi pemijahan disebabkan oleh komunikasi langsung (via feromon) yang terjadi pada beberapa spesies termasuk karang lunak (Slattery et al .g.  Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang tertentu. Beberapa spesies intertidal diketahui membatasi pemijahan pada saat periode air surut (e. gastropods. . 1999 )  Sinkronisasi pada skala yang lebih luas dapat terjadi sebagai respon untuk satu atau kombinasi tanda dari lingkungan seperti fase bulan atau pasang surut (misalnya Counihan et al 2001. 2006)  Spawning Synchrony  Sinkronisasi pemijahan adalah kunci untuk memaksimalkan kemungkinan pertemuan gamet di laut dan telah terbukti untuk berbagai macam organisme pantai berbatu. Ukuran agregasi mempengaruhi keberhasilan pembuahan secara keseluruhan (Gaudette et al. suhu (misalnya Olive 1995) atau ketersediaan makanan seperti fitoplankton (misalnya Starr et al . Marshall 2002 .

Variasi dalam pasokan larva dapat mendorong dinamika komunitas dan populasi laut (Underwood dan Fairweather 1989). meliputi kuantitas dan kualitas telur) dan 2) Variasi dalam keberhasilan pembuahan (meliputi konsentrasi lokal sperma. Beberapa organisme laut yang memiliki fase larva planktonik Variabilitas dalam Produksi Larva Variabilitas besar dalam produksi larva oleh setiap spesies dapat berasal dari berbagai sumber dengan dua elemen dasar : 1) Variasi dalam kesuburan ( produksi gamet. dan periode plankton larva telah lama dipandang sebagai sumber terbesar dari kematian untuk organisme dengan siklus hidup biphasic (Thorson 1950).PART 11 LARVAL SUPPLY AND DISPERSAL Pendahuluan Kebanyakan organisme laut memiliki fase larva planktonik yang menghabiskan waktu antara menit dan bulan di kolom air sebelum menetap (settlemen). pada Broadcast Spawner) Mortalitas Plankton Ukuran yang kecil dan kemampuan berenang yang buruk membuat larva rentan terhadap berbagai predator dan arus laut. kita harus terlebih dahulu memahami faktor yang mempengaruhi pasokan dan penyebaran larva. population density berkorelasi positif dgn keberhasilan pembuaahan à efek Allee . Gambar 1. . Untuk memahami bagaimana variasi komunitas dan populasi biota laut dalam ruang dan waktu .

Topografi pantai mungkin memiliki efek langsung dan sangat kuat terhadap penyebaran dan pasokan larva melalui interaksi dekat dengan pantai oseanografi (Gaylord dan Gaines 2000.Mortalitas plankton tidak hanya mempengaruhi jumlah larva yang bisa berubah menjadi populasi tetapi juga dapat mempengaruhi seberapa jauh larva dapat menyebar (larva yang sangat tinggi tingkat kematiannya akan menghasilkan sangat sedikit larva penyebarannya jauh). karena meningkatnya persaingan intra spesifik dapat menurunkan hasil reproduksi individu. Namun pada organisme bentik biasanya menunjukkan hubungan negatif antara densitas populasi dan fekunditas. predasi pada larva. pasokan larva mempengaruhi sejauh mana komunitas atau populasi terbentuk oleh persaingan untuk mendapatkan ruang (Gaines dan Roughgarden 1985). Teluk dan pantai terbuka memiliki perbedaan setlement rate. dan faktor-faktor yang mengatur settlemen dan perekrutan. Perbedaan antara Larval Transport dan Larval Dispersal Pemahaman tentang suplai larva memiliki arti penting untuk desain daerah perlindungan laut (misalnya Stobutzki 2001. Pasokan larva dipengaruhi oleh beberapa faktor yang beroperasi di ruang yang berbeda dan skala temporal. Pada tahun 2000 . Jessopp dan McAllen 2007). oseanografi fisik. Studi tentang penyebaran larva membutuhkan pemahaman tentang strategi reproduksi ikan. karena interaksi topografi dengan angin dan pasang (Gaines dan Bertness 1992 ) menghasilkan kelimpahan larva yang berbeda. tahap perkembangan larva. Warner et al meneliti efek akumulasi dan pola retensi larva dihubungkan dengan . ancaman seperti pembatasan makanan dan gangguan. Webster et al . 2005. Skala Penyebaran dan Suplai Larva Secara ekologis. Gambar 2. Roughan et al . 2007).

penyebaran ikan muda dan dewasa dari dalam kawasan larang-ambil ke wilayah perikanan di sekitarnya. kualitas dan penyebaran di antara populasi. Kerangka simulasi baru untuk memprediksi / menganalisa penyebaran larva dan aliran gen dalam populasi laut dan pesisir (Sotka dan Palumbi 2006) juga merupakan prospek yang menarik. Kesimpulan Dari pemaparan di atas. Beberapa fungsi KKL menurut (Roberts & Hawkins. 2000) terkait dengan suplai dan penyebaran larva adalah: 1) spill-over. Warner et al menunjukkan perilaku larva. Proses transport dipengaruhi oleh hidrodinamika yang berinteraksi dengan perilaku larva 2) Pasokan larva dapat dan memang sangat bervariasi.menunjukkan diferensiasi di skala yang lebih luas (Hedgecock 1986). Konsekuensi Variasi Genetik Pada Produksi larva dan Penyebaran Studi awal menunjukkan bahwa organisme dengan fase larva yang singkat atau tidak ada menunjukkan diferensiasi genetik pada skala yang relatif kecil . 2) ekspor telur dan/atau larva yang bersifat planktonik dari wilayah larang-ambil ke wilayah perikanan di sekitarnya dan 3) mencegah hancurnya perikanan tangkap secara keseluruhan jika pengelolaan perikanan di luar kawasan larang-ambil mengalami kegagalan. dan larva benar-benar dapat berkumpul di daerah-daerah tertentu sebelum setlement dan kembali ke populasi sumber dekat pantai dalam jumlah besar. Studi mereka memegang implikasi penting untuk penggunaan konservasi perairan dalam pengelolaan perikanan. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1) Variasi dalam jumlah larva yang dihasilkan dalam suatu populasi muncul karena beberapa individu menghasilkan/melepaskan propagul lebih sedikit di suatu tempat. terutama karena seperti model potensial dapat disesuaikan untuk memperhitungkan pola realitas oseanografi dan besarnya variasi output larva. dengan konsekuensi kritis terhadap ekologi dan evolusi organisme laut. karena gamet tidak dibuahi. Proses ini sangat menentukan dalam variasi produksi larva dan penyebarannya 3) Pemahaman akan suplai dan penyebaran larva sangat penting dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan . bahkan setelah jangka waktu yang panjang.keberhasilan Kawasan Konservasi Laut (KKL). sementara organisme dengan fase larva yang panjang . atau karena larva mati atau tidak diangkut ke tempat yang sesuai.